Anda di halaman 1dari 16

Teori Akuntansi

Paper

Impairment of Asset dan Kaitannya dengan Konservatisme Akuntansi

Disusun oleh :

Putri Utami Wulandari 1410531026

Sesty Regiani Ladirum 1410531030

Ramadhanil Aldy 141053

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Andalas

2017
1. Pendahuluan

Laporan keuangan merupakan media yang paling penting bagi pihak-pihak yang
berkepentingan di dalamnya karena menyediakan informasi untuk menilai prestasi dan kondisi
ekonomis perusahaan. Untuk menyajikan informasi-informasi terebut, maka laporan perusahaan
disajikan dalam bentuk neraca, laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas yang disusun
berdasarkan dasar akrual (accrual basis) serta laporan arus kas yang disusun berdasarkan dasar kas
(cash basis).

Prinsip akuntansi yang berterima umum (Generally Accepted Accounting Principles)


memberikan fleksibilitas bagi akuntan dalam menentukan metode maupun estimasi akuntansi
yang dapat digunakan. Fleksibilitas tersebut akan mempengaruhi perilaku akuntan dalam
melakukan pencatatan akuntansi dan pelaporan transaksi keuangan perusahaan. Dalam kondisi
keragu-raguan, seorang akuntan harus menerapkan prinsip akuntansi yang bersifat konservatif.

Pelaporan suatu aset dalam laporan posisi keuangan akan memiliki kendala manakala nilai
yang dilaporkan berdasarkan nilai historisnya tidak lagi dapat digunakan dan malah akan
menyesatkan si pembaca laporan keuangan. Untuk itu, akuntansi harus menjawab permasalahan
tersebut dengan membuat satu basis pengukuran jika suatu aset tidak dapat lagi diukur dengan nilai
historis.

Pada prinsipnya, setiap asset yang diperoleh diasumsikan akan menghasilkan cash inflow di
masa datang sebagai kompensasi atas cash outflow untuk memperolehnya sehingga ketika asset
tersebut dinilai tidak lagi memenuhi hal ini, maka dilakukan pengakuan suatu impairment
(kerugian/kegagalan).

Di Indonesia, perlakuan akuntansi penurunan nilai aset (impairment of asset) telah diatur
dalam PSAK No. 48 (revisi 2013, 29 April 2014) tentang Penurunan Nilai Aset, PSAK No. 48 terakhir
direvisi pada tanggal 29 April 2014 untuk berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2015. Adapun
indikasi yang dikemukakan IAS No. 36 dan PSAK No. 48 (revisi 2013) dibagi dalam dua kelompok
yaitu indikasi yang merupakan informasi dari luar perusahaan dan dari dalam perusahaan.

Penurunan nilai akan membuat aset entitas mencerminkan manfaat ekonomi di masa depan
dan tidak akan dicatat melebihi potensi manfaat ekonomi yang akan diterima entitas di masa
mendatang. Penurunan nilai aset harus didasarkan pada konsep konservatif, kehati-hatian dan
relevansi informasi.
Prinsip konservatisme (conservatism principle) adalah suatu prinsip pengecualian atau
modifikasi dalam hal bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian data
akuntansi yang relevan dan andal. Prinsip konservatisme mengharuskan bahwa akuntan
menampilkan sikap pesimistis secara umum ketika memilih teknik akuntansi untuk pelaporan
keuangan. Konservatisme adalah nilai yang dijunjung tinggi di masa lalu dibandingkan di masa ini.
Nilai tersebut mengarah pada provinsi atau kewajiban atau keduanya yang arbitrer dan tidak
konsisten.

Konservatisme dalam kaitannya dengan penurunan nilai aset (impairment asset) merupakan
suatu keharusan dalam rangka memastikan aset entitas mencerminkan manfaat ekonomi di masa
depan dan tidak akan dicatat melebihi potensi manfaat ekonomi yang akan diterima entitas di masa
mendatang. Dengan kata lain disimpulkan bahwa dalam prosedur agar aset tidak dicatat melebihi
jumlah terpulihkannya impairment asset maka harus memperhatikan dan menerapkan prinsip
konservatisme akuntansi.
2. Pembahasan
2.1. Aset

Aset atau aktiva adalah sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha di
kemudian hari. Aset dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal debit. Menurut SAK ETAP
(2009:6), aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas. Pengertian aset
menurut SAK ETAP ini selaras dengan pengertian aset menurut FASB dalam rerangka konseptualnya,
SFAC no.6, prg 25, di mana aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang
diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa
lalu (Suwardjono, 2005).

Conceptual Framework of International Accouting Standards Boards (IASB) menekankan


terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendifinisikan aset, yaitu terdapatnya
kendali atas sumber daya (resources) oleh entitas, berasal dari transaksi masa lalu, terdapat manfaat
ekonomi di masa mendatang yang diharapkan mengalir ke entitas pemilik (future benefit). Aset
menunjukkan kekuatan operasional perusahaan karena aset memiliki nilai ekonomi (economic
value), nilai komersial (commercial value), maupun nilai tukar (exchange value). Aset digunakan oleh
suatu entitas untuk mendukung kegiatan operasional, pembiayaan, maupun untuk investasi. Aset
juga sangat berhubungan erat dengan kewajiban dan ekuitas perusahaan karena cara
memperolehnya tidak dapat dipisahkan. Aset, kewajiban, maupun ekuitas berada dalam elemen
neraca dalam sebuah entitas.

Karakteristik yang melekat pada akun aset dalam laporan keuangan ini membedakan akun
aset dengan akun lain yang muncul dalam laporan keuangan. Beberapa karakteristik mengenai aset
adalah (Kieso, 2011). Aset merupakan hasil dari transaksi ekonomi entitas yang dilakukan di masa
lalu. Aset merupakan sumber daya yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan kendali manajemen
entitas. Dan aset digunakan oleh entitas untuk melaksanakan kegiatan operasional bisnis entitas
untuk bisa menghasilkan pendapatan atau manfaat bagi entitas di masa mendatang.

Secara garis besar, aset diklasifikasikan sebagai aset lancar (current assets) dan aset tidak
lancar (non current assets), (PSAK No.1). Namun, jika dilakukan pengklasifikasian dengan lebih rinci,
maka aset terbagi dalam klasifikasi, yaitu: aset tetap, properti investasi, aset tidak berwujud, aset
keuangan, investasi dengan menggunakan metode ekuitas, persediaan, piutang dagang dan piutang
lainnya, kas dan setara kas. Aset lancar merupakan aset yang berupa kas dan aset lainnya yang
diharapkan akan dapat diubah menjadi kas, atau dikonsumsi dalam satu tahun atau dalam satu
siklus operasi, tergantung mana yang paling lama (Kieso, 2011). Akun turunan aset lancar yang
kedua adalah akun investasi jangka panjang. Akun ini merupakan akun tempat di mana entitas bisa
menampilkan beragam bentuk investasi entitas yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai investasi
jangka pendek. Selanjutnya, untuk kelompok akun aset tetap, merupakan kelompok akun yang
terdiri dari rincian aset entitas berupa aset berwujud yang memiliki umur ekonomis lebih dari satu
tahun. Aset tidak berwujud adalah aset entitas yang tidak memiliki substansi fisik dan umur
ekonomisnya lebih dari satu tahun. Akun turunan dari aset yang terakhir adalah akun aset lain-lain.
Secara umum, akun ini terdiri dari aset entitas yang tidak dapat dimasukkan dalam keempat
klasifikasi aset yang sebelumnya.

2.2. Penurunan Nilai Aset (Impairment of Asset)

Penurunan nilai aset (Impairment of Asset) adalah penurunan nilai aset akibat penggunaan
aset selama umur waktu tertentu dimana harga pencatatan lebih tinggi dari pada nilai terpulihkan.
Nilai terpulihkan adalah nilai wajar dikurangi biaya penjualan atau nilai pakai (PSAK No. 48). Yang
dinilai sebagai nilai terpulihkan adalah mana yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi dengan
penjualan atau nilai pakai apabila aset tersebut masih digunakan. Kerugian penurunan nilai
merupakan selisih antara nilai tercatat dikurangi dengan nilai terpulihkan. Kerugian tersebut diakui
dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya. Pemulihan terhadap penurunan nilai dapat dilakukan.

Tujuan utama ditetapkannya PSAK No. 48 adalah untuk menetapkan prosedur yang
diterapkan entitas agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya. Suatu aset dikatakan
melebihi jumlah terpulihkan jika jumlah tercatat aset melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui
penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset mengalami penurunan nilai dan
disyaratkan entitas untuk mengakui rugi penurunan nilai. PSAK No. 48 juga bertujuan menentukan
kapan entitas dapat membalik rugi penurunan nilai dan menetapkan pengungkapan terkait rugi
penurunan nilai tersebut.

Identifikasi aset yang mungkin mengalami penurunan nilai, entitas minimal harus
mempertimbangkan hal berikut, yakni informasi dari sumber eksternal, dimana terdapat indikasi
yang dapat diobservasi bahwa nilai aset telah turun secara signifikan selama periode tersebut lebih
dari yang diharapkan sebagai akibat berjalannya waktu atau pemakaian normal. (PSAK No. 48).

Aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan (value through sales) dan penggunaan
(value through sales). Jika aset tersebut dijual maka entitas akan mendapatkan nilai wajar dikurangi
dengan biaya penjualan. Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset
atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara
pelaku pasar pada tanggal pengukuran. (Lihat PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar) atau nilai yang
dihasilkan dari penjualan suatu aset atau unit penghasil kas dalam transaksi yang mengerti dan
berkehendak beban tanpa tekanan. Nilai pakai adalah nilai aset jika digunakan terus sampai akhir
masa manfaat. Nilai pakai dihitung dari nilai sekarang dari taksiran arus kas yang dapat diharapkan
akan diterima aset atau unit penghasil kas di masa mendatang. Biaya pelepasan adalah tambahan
tambahan yang secara langsung terkait dengan pelepasan aset atau unit penghasil kas.

Dalam penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat diperoleh
kembali dengan nilai yang digunakan. Sebagai ilustrasi suatu kendaraan nilai tercatatnya 400 juta,
nilai jual dikurangi biaya penjualan 350 juta dan nilai pakainya 300 juta. Manajer akan memilih
menjual aset tersebut dengan harga 350 juta daripada terus memakainya, karena nilai pakai aset
tersebut hanya 300 juta. Namun jika nilai pakainya 370 juta dan nilai jual dikurangi biaya penjualan
310 juta, maka manajer akan memilih terus menggunakan aset tersebut sampai akhir masa
manfaatnya.

2.3. Pengukuran Impairment of Asset atau Penurunan Nilai Aset

Pada setiap akhir periode pelaporan, entitas harus menilai apakah terdapat indikasi suatu
aset mengalami penurunan nilai. Pengujian adanya indikasi penurunan nilai merupakan tahapan
awal dalam menentukan penurunan nilai. Pada saat menilai indikasi penurunan nilai, entitas
mempertimbangkan faktor ekternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor di luar entitas yang
mengindikasikan dan mempengaruhi penurunan nilai aset seperti, penurunan nilai pasar aset yang
sangat signifikan melebihi penurunan nilai akibat pemakaian atau berlalunya waktu, perubahan
lingkungan seperti teknologi, ekonomi, teknologi, suku bunga pasar dan lingkup operasi entitas.
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam entitas dan faktor teknis terkait aset tersebut seperti,
keusangan dan kerusakan fisik, kinera aset yang buruk dan perubahan signifikan dalam perusahaan
yang menyebabkan aset tidak dimanfaatkan (Martani, 2012).

Jika tidak ada indikasi, maka aset tidak mengalami penurunan nilai sehingga tidak perlu
melakukan pengukuran penurunan nilai. Namun jika aset tersebut memiliki indikasi penurunan nilai,
maka dalam pengukuran penurunan nilai dapat dipastikan bahwa nilai tercatat lebih tinggi dari pada
nilai terpulihkan.

2.3.1. Pengukuran Nilai Terpulihkan


Sebelumnya telah dijelaskan bahwa nilai terpulihkan adalah selisih nilai wajar aset saat ini
dengan biaya penjualan/pelepasan aset. Metode ini bukannya tanpa kelemahan, selisih nilai wajar
dengan biaya penjualan atau pelepasan terkadang tidak dapat memberikan estimasi andal atas
harga dalam transaksi yang dilakukan secara teratur untuk penjualan aset akan terjadi antara pelaku
pasar pada tanggal pengukuran pada kondisi pasar saat ini (PSAK No. 48).

Nilai wajar aset dikurangkan dengan biaya penjualan dapat digunakan sebagai nilai
terpulihkan apabila nilai pakai aset tidak melebihi dari nilai selisih antara nilai nilai wajar aset dengan
biaya penjualannnya. Dan sebaliknya apabila nilai pakai lebih tinggi dari nilai wajar dikurangkan
dengan biaya penjualan, maka yang dipakai adalah nilai pakai. Sehingga diperoleh kesimpulan, nilai
yang lebih tinggi diantara kedua faktor tersebut akan digunakan sebagai nilai terpulihkan.

Pengukuran untuk penurunan nilai dapat dilakukan untuk satu unit aset tunggal atau
maupun satu kelompok aset. Pembedaan dari keduanya adalah ada aset yang dapat menghasilkan
arus kas independen dari aset atau satu kelompok aset. Apabila aset menghasilkan arus kas
independen maka pengukuran penurunan nilai dilakukan berdasarkan unit tersebut. Untuk
beberapa aset yang dapat menghasilkan arus kas apabila ditempatkan pada satu kelompok aset,
penurunan nilai dilakukan untuk satu unit penghasil kas. Contohnya adalah investasi pada anak
perusahaan, suatu unit pabrik dll. Hal ini dapat digunakan apabila :
a. nilai wajar dikurangi biaya pelepasan aset tersebut lebih besar dari jumlah tercatatnya; atau
b. nilai pakai aset tersebut diestimasikan mendekati nilai wajarnya dikurangi biaya pelepasan,
dan nilai wajar dikurangi biaya pelepasan tersebut dapat diukur (PSAK No. 48 ).

Kaidah menentukan nilai wajar mengikuti hirarki umum penentuan nilai wajar mulai dari
menggunakan harga dalam perjanjian penjualan mengikat, pasar aktif, nilai pasar aset pada transaksi
terkini dan nilai pasar aset serupa. Standar tidak menjelaskan perlunya penilai untuk menentukan
nilai wajar dalam penurunan nilai, namun entitas dapat menggunakan informasi penilai untuk
menentukan nilai wajar jika harga pasar aktif tidak tersedia.

Biaya penjualan adalah seluruh biaya untuk melepaskan aset tersebut. Contoh biaya
penjualan adalah biaya hukum, biaya pajak transaksi, biaya pemindahan, biaya tambahan untuk
menjadikan aset dalam keadaan siap dijual. Namun biaya pemutusan hubungan kerja dan biaya
terkait regorganisasi bisnis setelah pelepasan aset bukan bagian dari biaya penjualan (Martani,
2012).

Nilai pakai adalah nilai kini arus kas di masa depan yang diharapkan akan diperoleh entitas
dari pemakaian aset tersebut. Untuk memperoleh nilai pakai langkah yang harus dilakukan adalah
mengestimasi arus kas masuk dan arus kas keluar di masa depan dari pemakaian dan pelepasan aset
serta menerapkan tingkat diskonto yang tepat atas arus kas masa depan tersebut. Estimasi arus kas
masa depan harus memperhatikan faktor ketidakpastian, kondisi ekonomi, tingkat dan suku bunga.
Asumsi yang digunakan dalam proyeksi harus mencerminkan estimasi terbaik manajemen mengenai
kemungkinan yang akan terjadi selama penggunaan aset tersebut. Estimasi arus dan tingkat diskonto
harus menggambarkan asumsi yang konsisten mengenai kenaikan harga yang dikaitkan pada inflasi
umum (Martani, 2012).

Tarif diskonto yang digunakan mencerminkan penilaian pasar atas nilai waktu uang dan
risiko spesifik. Diskonto yang digunakan mencerminkan tingkat pengembalian yang disyaratkan
investor jika mereka memilih suatu investasi yang menghasilkan arus kas dengan jumlah, waktu,
profil risiko yang sama dengan aset tersebut (Martani, 2012).

Dalam praktik tidak mudah menghitung nilai pakai suatu aset. Arus kas entitas dihasilkan
dari kegiatan operasi yang merupakan gabungan dari sumber daya entitas yang tidak mudah untuk
dipisahkan kontribusinya. Untuk aset investasi di perusahaan asosiasi atau anak perusahaan, arus
lebih mudah untuk diidentifikasi, namun aset secara individu atau kelompok aset sulit untuk
mengidintifikasi dan menghitung arus kas. Sebagai contoh arus kas angkutan pariwisata tidak dapat
dilepaskan dari fungsi pemasaran dan kesediaan sumber daya pendukung. Terkadang sulit untuk
menentukan secara spesifik arus kas dari sumber daya pendukung, aktivitas tidak langsung dan
aktivitas yang dimanfaatkan bersama beberapa aset.

Entitas akan menentukan nilai terpulihkan dengan memilih nilai yang lebih tinggi antara nilai
wajar dikurangi biaya penjualan atau nilai pakai. Dalam kondisi khusus, jika tidak tersedia keduanya
atau tersedia namun nilainya tidak dapat diandalkan maka nilai yang tersedia dan dapat diandalkan
tersebut merupakan nilai terpulihkan.

2.3.2. Penentuan Penurunan Nilai Aset

Langkah selanjutnya adalah menentukan apakah aset mengalami penurunan nilai atau tidak
dengan membandingkan nilai tercatat dengan nilai terpulihkan. Jika nilai tercatat lebih rendah dari
nilai terpulihkan, aset tidak mengalami penurunan nilai. Entitas akan mengakui penurunan nilai
sebesar selisih nilai tercatat dengan nilai pakai. Aset akan disesuaikan/diturunkan nilainya sebesar
nilai pakai. Kerugian penurunan nilai disajikan dalam laporan laba rugi periode berjalan. Entitas
harus mengungkapkan aset yang mengalami penurunan nilai dalam catatan atas laporan keuangan
(Martani, 2012).
2.4. Rugi Penurunan Nilai Unit Penghasil Kas

Penurunan nilai untuk unit penghasil kas dalam bentuk investasi pada anak perusahaan atau
investasi asosasi dialokasikan ke aset dari unit penghasil kas tersebut. Penurunan nilai pertama kali
dialokasikan untuk menurunkan nilai goodwill, jika masih tersisa akan dialokasikan prorate atas aset
tetap atau aset tak berwujud selain goodwill yang dimiliki entitas (PSAK No. 48).

2.5. Pembalikan Rugi Penurunan Nilai

Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui atas aset
(selain goodwill) pada periode sebelumnya mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun,
entitas mempertimbangkan minimal indikasi berikut ini:

Informasi dari sumber eksternal

(a) Terdapat indikasi yang dapat diobservasi bahwa nilai pasar aset telah meningkat secara
signifikan selama periode.

(b) Perubahan signifikan yang berdampak menguntungkan bagi entitas telah terjadi selama
periode, atau akan terjadi dalam waktu dekat, dalam hal teknologi, pasar, kondisi ekonomi maupun
hukum tempat entitas beroperasi atau pasar tempat aset itu digunakan.

(c) Suku bunga pasar atau tingkat pengembalian investasi pasar yang lain telah turun selama
periode itu, dan penurunan itu akan mempengaruhi tingkat diskonto yang digunakan dalam
menghitung nilai pakai aset sehingga meningkatkan jumlah terpulihkan secara material (PSAK No.
48).

2.6. Penurunan Nilai Aset Tertentu

Aset keuangan menurut PSAK No. 55 juga dapat mengalami penurunan nilai. Untuk aset
keuangan yang diukur dengan nilai wajar, penurunan nilai akan otomatis tercermin dalam nilai aset
dan disajikan sebagai kerugian. Untuk aset keuangan yang diukur dengan biaya perolehan dan nilai
diamortisasi dapat mengalami penurunan nilai. Aset keuangan mengalami penurunan nilai jika nilai
tercatat lebih besar daripada nilai diperoleh kembali. Evaluasi dilakukan setiap tanggal neraca untuk
menilai apakah terdapat bukti obyektif penurunan nilai. Jika terdapat bukti obyektif, maka entitas
harus melakukan estimasi nilai yang dapat diperoleh kembali. Perbedaan dengan PSAK No. 48,
terletak pada bagaimana menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali.

Persediaan bukan aset yang menjadi subyek penurunan nilai. Namun dalam PSAK No. 14
Persediaan disebutkan persediaan dinilai sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan dan
nilai realisasi bersih. Penilaian persediaan sebenarnya didasarkan pada prinsip konservatisme seperti
halnya penurunan nilai. Nilai terpulihkan kembali untuk persediaan adalah nilai realisasi bersih. Nilai
realisasi bersih dapat menggunakan nilai penggantian atau nilai jual dikurangi dengan biaya
penjualan.

Aset tidak lancar tersedia untuk dijual (PSAK No. 58) juga mengalami penurunan nilai,
namun untuk menentukan nilai terpulihkan hanya menggunakan nilai wajar dikurangi biaya
penjualan. Aset untuk dijual sehingga tidak relevan menggunakan nilai pakai untuk menentukan nilai
terpulihkan.

Properti investasi (PSAK No. 13), yang dinilai dengan menggunakan model nilai wajar (fair
value model) penurunan nilai akan terjadi secara otomatis pada saat penyesuaian nilai wajar. Untuk
aset tetap (PSAK No. 16) yang dinilai dengan menggunakan model revaluasi, secara otomatis akan
mengalami penurunan saat penilaian aset menunjukkan nilai yang lebih rendah dari tercatat.
Pengakuan dalam laba rugi akan diakui sebesar nilai wajar dikurangi dengan nilai buku. Untuk aset
pajak tangguhan (PSAK No. 46), penentuan nilai dipulihkan kembali dilakukan secara khusus karena
terkait apakah manfaat pajak tersebut dapat direalisasikan di masa depan.

2.7. Prinsip Konservatisme Akuntansi

Hendriksen (1982) yang mendefinisikan konservatisme dengan melaporkan nilai yang


terendah dari beberapa nilai yang mungkin untuk aktiva dan pendapatan serta nilai yang tertinggi
dari beberapa nilai yang mungkin untuk kewajiban dan beban yang menyiratkan bahwa beban harus
diakui sedini mungkin dan pendapatan diakui selambat mungkin. Lalu, Smith dan Skousen (1987)
menyatakan bahwa konservatisme didefinisikan sebagai sebuah aturan, ketika terdapat keragu-
raguan akan beberapa alternatif pilihan pelaporan akuntansi, maka hendaklah dipilih alternatif yang
paling memberikan dampak paling rendah terhadap ekuitas pemilik.

Pemahaman lain juga mengungkapkan konsep konservatisme yang sama dengan cara yang
berbeda adalah Godfrey et al. (2010), yaitu “Recording expenses, losses and liabilities as soon as
possible, eventhough the evidence may be weak; however, it requires that revenues, gains and
assets be supported by more substantial evidence before they are recorded” (mencatat beban,
kerugian dan kewajiban secepat mungkin, walaupun bukti yang dimiliki mungkin lemah; namun
bagaimanapun juga, untuk mencatat pendapatan, keuntungan dan aset harus didukung dengan
bukti yang lebih subtansial sebelum dapat dilakukan pencatatan).
Konservatisme akuntansi merupakan prinsip yang mempengaruhi cara akuntansi dibuat.
Konservatisme memang merupakan implementasi dari kehati-hatian pembuat laporan keuangan
untuk tidak berlebihan dalam melaporkan hal-hal yang mungkin mempunyai risiko cukup besar
untuk menyesatkan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan suatu keputusan. Understated
untuk hal-hal yang menguntungkan di dalam laporan keuangan dan overstated untuk hal-hal yang
merugikan di dalam laporan keuangan dianggap lebih aman bagi pembuat laporan keuangan karena
dengan demikian pengguna laporan keuangan akan terhindarkan dari kemungkinan melakukan
pengambilan keputusan yang terlalu optimistik berdasarkan laporan keuangan yang apabila
optimistme tersebut ternyata tidak mencapai tujuannya akan menimbulkan risiko dilakukannya
litigasi kepada pembuat laporan keuangan yang menyediakan laporan tersebut (Handojo, 2012).

PSAK sebagai standar pencatatan akuntansi di Indonesia menjadi pemicu timbulnya


penerapan prinsip konservatisme. Pengakuan prinsip konservatisme di dalam PSAK tercermin
dengan terdapatnya berbagai pilihan metode pencatatan di dalam sebuah kondisi yang sama. Hal
tersebut akan mengakibatkan angka-angka yang berbeda dalam laporan keuangan yang pada
akhirnya akan menyebabkan laba yang cenderung konservatif. Beberapa pilihan metode pencatatan
di dalam PSAK yang dapat menimbulkan laporan keuangan konservatif diantaranya adalah:

1. PSAK No. 14 tentang persediaan yang menyatakan bahwa perusahaan dapat mencatat biaya
persediaan dengan menggunakan salah satu metode yaitu FIFO (first in first out) atau masuk
pertama keluar pertama dan metode rata-rata tertimbang.
2. PSAK No. 16 tentang aktiva tetap dan aktiva lain-lain yang mengatur estimasi masa manfaat
suatu aktiva tetap. Estimasi masa manfaat suatu aktiva didasarkan pada pertimbangan
manajemen yang berasal dari pengalaman perusahaan saat menggunakan aktiva yang
serupa. Estimasi masa manfaat tersebutharuslah diteliti kembali secara periodik dan jika
manajemen menemukan bahwa masa manfaat suatu aktiva berbeda dari estimasi
sebelumnya maka harus dilakukan penyesuaian atas beban penyusutan saat ini dan di masa
yang akan datang. Standar ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah masa manfaat
aktiva yang digunakan dan dapat mendorong timbulnya laba yang konservatif.
3. PSAK No. 19 tentang aset tidak berwujud yang berkaitan dengan metode amortisasi.
Dijelaskan bahwa terdapat beberapa metode amortisasi untuk mengalokasikan jumlah
penyusutan suatu aset atas dasar yang sistematis sepanjang masa manfaatnya.
4. PSAK No. 20 tentang biaya riset dan pengembangan yang menyebutkan bahwa alokasi biaya
riset dan pengembangan ditentukan dengan melihat hubungan antara biaya dan manfaat
ekonomis yang diharapkan perusahaanakan diperoleh dari kegiatan riset dan
pengembangan. Apabila besar kemungkinan biaya tersebut akan meningkatkan manfaat
ekonomis di masa yang akan datang dan biaya tersebut dapat diukur secara handal, maka
biaya-biaya tersebut memenuhi syarat untuk diakui sebagai aktiva.

Dengan adanya pilihan metode tersebut akan berpengaruh terhadap angka-angka yang
disajikan dalam laporan keuangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung konsep
konservatisme ini akan mempengaruhi hasil dari laporan keuangan tersebut. Penerapan konsep ini
juga akan menghasilkan laba yang berfluktuatif akan mengurangi daya prediksi laba untuk
memprediksi aliran kas perusahaan pada masa yang akan datang (Sari dan Adhariani, 2009).

Konservatisme akuntansi memiliki nilai relevansi, dimana laporan keuangan dengan prinsip
ini dapat menunjukkan nilai pasar perusahaan. Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Mayangsari dan Wilopo (2002) yang menggunakan C-score sebagai proksi pengukuran
konservatisme. Pennman dan Zhang (2002) dalam Dewi (2004) melihat konservatisme dari sudut
pandang manajemen atau penyusun laporan keuangan didefinisikan sebagai metode akuntansi
berterima umum yang melaporkan aktiva dengan nilai terendah, kewajiban dengan nilai tertinggi,
menunda pengakuan pendapatan, serta mempercepat pengakuan biaya. Definisi tersebut
menunjukan bahwa akuntansi konservatif tidak saja berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi,
tetapi juga estimasi yang menyebabkan nilai buku aktiva menjadi relatif rendah.

2.8. Infairment of Asset dan Kaitannya dengan Konservatisme Akuntansi

Permasalahan mulai timbul ketika aset yang diharapkan mampu memberikan manfaat
ekonomik di masa mendatang justru mengalami penurunan nilai sehingga menyebabkan kerugian
bagi entitas pemilik aset. Kerugian penurunan nilai aset terjadi ketika nilai aset yang entitas catat
dalam laporan keuangan lebih tinggi daripada nilai pemulihan aset tersebut. Terdapat berbagai hal
yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan nilai sebuah aset, baik disebabkan oleh faktor
eksternal maupun internal.

Penyajian aset secara jujur (representational faithfulness) dalam laporan keuangan menjadi
elemen penting dalam pengambilan keputusan oleh para pihak pengguna dalam mendefinisikan
laporan keuangan, khususnya ketika terjadi penurunan nilai aset yang material bagi perusahaan.
Kesalahan penyajian aset menyebabkan banyak elemen laporan keuangan lain yang ikut
terpengaruh karena terjadinya kesalahan tersebut, baik pada elemen neraca maupun laporan laba
rugi, sehingga analisis fundamental perusahaan akan menjadi kurang tepat. Beban yang timbul
sebagai akibat terjadinya penurunan nilai aset dicatat pada laporan laba rugi entitas sehingga
mengurangi tingkat profitabilitas entitas tersebut. Apabila entitas memilih untuk tidak melakukan
pencatatan kerugian penurunan nilai aset, maka nilai aset yang tercatat tidak mencerminkan kondisi
sebenarnya serta terdapat kemungkinan entitas justru harus mengalami kerugian penurunan nilai
yang lebih besar pada periode berikutnya.

Maka jelas bahwa, kontrol entitas terhadap penurunan nilai aset (didasarkan pada konsep
konservatif, kehati-hatian dan relevansi informasi) akan memberikan efek bahwa nilai aset entitas
mampu mencerminkan manfaat ekonomi yang sebenarnya di masa mendatang. Entitas perlu
memperhatikan konsep konservatif, kehati-hatian, relevansi informasi tersebut terkait penurunan
nilai aset, serta menganalisa berbagai efek internal maupun eksternal yang ditimbulkan akibat
terjadinya penurunan nilai aset tersebut.

Terkait hal ini, dalam penerapan prinsip konservatisme untuk menilai apakah terdapat
indikasi aset mengalami penurunan nilai, PSAK 4 No. 8 paragraf 12 menyebutkan bahwa entitas
wajib mempertimbangkan informasi dari sumber-sumber eksternal, misalnya apakah terdapat
indikasi yang dapat diobservasi bahwa nilai aset telah turun secara signifikan selama periode
tersebut lebih dari yang diperkirakan sebagai akibat dari berjalannya waktu atau pemakaian normal;
perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi, atau lingkup hukum tempat aset
dikaryakan, yang berdampak merugikan entitas; telah terjadi selama periode tersebut, atau akan
terjadi dalam waktu dekat; suku bunga pasar atau tingkat imbal hasil pasar lain atas investasi telah
meningkat selama periode tersebut; jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.

Selain faktor eksternal, entitas juga wajib mempertimbangkan informasi dari sumber-
sumber internal, misalnya apakah terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan fisik aset;
telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat perubahan signifikan yang berdampak merugikan;
serta terdapat bukti dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja ekonomik aset
lebih buruk, atau akan lebih buruk dari yang diperkirakan. Entitas yang mengalami penurunan nilai
aset, akan mengakui penurunan nilai tersebut sebesar selisih nilai tercatat dengan nilai pakai. Aset
tersebut kemudian akan disesuaikan atau diturunkan nilainya sebesar nilai pakai. Kerugian
penurunan nilai disajikan dalam laporan laba rugi periode berjalan. Entitas wajib mengungkapkan
aset yang mengalami penurunan nilai dalam catatan atas laporan keuangan.

Penurunan nilai (infairment) harus didasarkan pada prinsip konservatisme dan kehati-hatian.
Aset tidak boleh dicatat overstated, dari nilai dapat diperoleh kembali. Sesuai definisi aset adalah
manfaat ekonomi yang di masa depan yang diharapkan akan mengalir dalam suatu entitas. Aset
harus disajikan sebesar nilai yang mencerminkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh di masa
depan. Saat nilai yang akan diperoleh di masa depan lebih rendah dari nilai tercatat, maka aset
tersebut harus diturunkan (Martani, 2012).

Penurunan nilai akan membuat aset entitas mencerminkan manfaat ekonomi di masa depan
dan tidak akan dicatat melebihi potensi manfaat ekonomi yang akan diterima entitas di masa
mendatang. Penurunan nilai didasarkan pada konsep konservatif, kehati-hatian dan relevansi
informasi ini akan menjamin aset entitas yang disajikan dalam laporan keuangan menghasilkan nilai
yang dapat mencerminkan manfaat ekonomi yang diperoleh di masa depan.

Lebih lanjut lagi, Sooriyakumaran (2014) menyatakan, “The effect of impairment of assets on
firms capital structure is being introduced theoretically and tested empirically”. Kerugian penurunan
nilai aset menyebabkan entitas harus mencatat beban kerugian penurunan nilai aset sehingga
mempengaruhi laporan laba rugi dan neraca entitas, menurunkan laba dan nilai aset, dan pada
akhirnya berpengaruh pula terhadap kemampuan entitas untuk mendapatkan pinjaman dana.
Artinya penerepan prinsip konservatisme dalam penurunan nilai aset juga akan memiliki dampak
jangka panjang dan jangka pendek nilai pasar terhadap perusahaan yang melaporkan kerugian
penurunan nilai aset. Lebih tegas, dapat kita ketahui bahwa nilai pasar lebih negatif pada tahun di
mana kerugian penurunan nilai diumumkan ke pasar. Pengaruh pengumuman kerugian penurunan
nilai aset menunjukkan bahwa harga saham akan turun ketika entitas mengumumkan mengalami
kerugian penurunan nilai aset dalam laporan keuangannya.
3. Penutup
3.1. Kesimpulan

Entitas setiap akhir periode pelaporan harus melakukan review apakah aset yang dimilikinya
mengalami penurunan nilai. Sebelum penurunan nilai dilakukan, entitas menguji ada tidaknya
indikasi penurunan nilai. Jika tidak ada indikasi maka penurunan nilai tidak dilakukan. Jika terdapat
indikasi, entitas akan menghitung nilai terpulihkan dengan membandingkan mana yang lebih tinggi
antara nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan nilai pakai. Kerugian akan diakui sebesar selisih nilai
tercatat dengan nilai terpulihkan.

Dalam praktik, perusahaan cenderung menghindari melakukan penurunan nilai. Dampak


penurunan nilai mengurangi laba dan memperkecil nilai aset entitas. Entitas sulit untuk menentukan
nilai terpulihkan. Dalam menentukan nilai pakai banyak menggunakan nilai estimasi dan asumsi yang
dipengaruhi oleh subyektivitas manajemen.

Penurunan nilai akan membuat aset entitas mencerminkan manfaat ekonomi di masa depan
dan tidak akan dicatat melebihi potensi manfaat ekonomi yang akan diterima entitas di masa
mendatang. Penurunan nilai didasarkan pada konsep konservatif, kehati-hatian dan relevansi
informasi.
Daftar Pustaka
Handojo, Irwanto. 2012. Sekulimit Konservatisme Akuntansi. STIE Trisakti. Jakarta.

Kieso, D.E., Jerry J. Weygandt, & Terry D. Warfield. 2011. Pengantar Akuntansi. 14th ed. Jakarta:
Salemba Empat.

Martani, Dwi. 2012. Impairment Aset. Majalah BUMN Track, No. 54 Tahun VI, Hal. 88 – 90.

Mayangsari, Sekar dan Wilopo. 2002. Konservatisme Akuntansi, Value Relevance dan Discretionary
Accruals: Implikasi Empiris Model Feltham-Ohlson (1996), Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 5
(3), 291-310.

Pennman, Stephen H. dan Xiao-Jun Zhang. 1999. Accounting Conservatism, The Quality Of Earnings,
And Stock Returns. Working Paper. SSRN.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 Mengenai Penyajian Laporan Keuangan.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.16 Mengenai Aset Tetap.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.13 Mengenai Properti Investasi.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.14 Mengenai Persediaan.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.46 Mengenai Aset Pajak Tangguhan.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.48 Mengenai Penurunan Nilai Aset.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.55 Mengenai Instrumen Keuangan: Pengakuan
dan Pengukuran.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.58 Mengenai Aset Tidak Lancar Tersedia untuk
Dijual.

Sari, Cynthia dan Desi Adhariani. 2009. Konservatisme Perusahaan di Indonesia dan faktor-faktor
yang Mempengaruhinya. SNA XII : Ikatan Akuntansi Indonesia.

Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).

Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan Edisi Ketiga. Yogyakarta:
BPFE.