Anda di halaman 1dari 454

METODOLOGI PENELITIAN

ILMU KEPERAWATAN
Pendekatan Praktis

Edisi 4

Nursalam
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis
Edisi 4

Nursalam

General Manager: Suwartono


Senior Editor: Aklia Suslia
Editor: Peni Puji Lestari
Tata Letak: Hilda Yunita
Desain Sampul: Deka Hasbiy

Hak Cipta © 2015, 2013, 2008, 2003, Penerbit Salemba Medika


Jln. Raya Lenteng Agung No. 101
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12610
Telp. : (021) 781 8616
Faks. : (021) 781 8486
Website : http://www.penerbitsalemba.com
E-mail : info@penerbitsalemba.com

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara
elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin
tertulis dari Penerbit.

UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA


1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk
itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau
barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pengetahuan medis senantiasa berubah. Oleh karena itu, standar tindakan pencegahan serta perubahan dalam perawatan dan
terapi wajib diikuti seiring dengan penelitian dan pengalaman klinis baru yang memperluas pengetahuan. Pembaca disarankan untuk
memeriksa informasi terbaru yang disediakan oleh produsen masing-masing obat (yang akan diberikan) untuk memverifikasi dosis,
metode, dan interval pemberian yang direkomendasikan serta kontraindikasinya. Merupakan tanggung jawab dari praktisi dengan
memperhatikan pengalaman dan pengetahuan pasien untuk menentukan dosis dan perawatan terbaik bagi masing-masing pasien.
Penerbit maupun penulis tidak bertanggung jawab atas kecelakaan dan/atau kerugian yang dialami seseorang atau sesuatu yang
diakibatkan oleh penerbitan buku ini.

Nursalam

Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi 3/Nursalam

—Jakarta: Salemba Medika, 2015

1 jil., 454 hlm., 19 × 26 cm

ISBN 978-602-7670-27-3

1. Keperawatan 2. Riset Keperawatan


I. Judul   II. Nursalam
Kata Pengantar iii

tentang penulis

Dr. Nursalam, M.Nurs., (Hons.) adalah staf pengajar di Fakultas


Keperawatan Universitas Airlangga. Penulis menempuh pendidikan
D-3 Ilmu Keperawatan di Akademi Keperawatan Sutomo Surabaya
lulus tahun 1988. Pada tahun1991, penulis mendapatkan Graduate
Certificate Medical Surgical Nursing di Lambton College Sarnia,
Ontario, Kanada. Kemudian penulis menyelesaikan S-2 Keperawatan
(Coursework tahun 1996) di University of Wollongong, New South
Wales, Australia, dan mendapatkan gelar Honours Master of Nursing
di universitas yang sama pada tahun 1998. Pada tahun 2005, penulis menyelesaikan
pendidikan S-3 Ilmu Kedokteran di Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Selain
sebagai pengajar, penulis juga aktif di berbagai seminar keperawatan. Penulis telah
menulis beberapa buku keperawatan dan menulis artikel di berbagai jurnal, baik jurnal
nasional maupun internasional.
METODOLOGI PENELITIAN
ILMU KEPERAWATAN
Pendekatan Praktis

Edisi 3

Nursalam
Kata Pengantar

Peran sebagai peneliti yang dilakukan kalangan perawat masih sering terlupakan dan
terabaikan, meski telah menjadi hal yang takterpisahkan dalam melakukan kegiatan
sehari-hari. Hal ini terjadi karena perawat masih belum mempunyai kemampuan yang
memadai dalam penelitian, khususnya pemahaman tentang lingkup masalah penelitian
ilmu keperawatan dan penerapan metodologi penelitian keperawatan yang sesuai.
Buku Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi 4 ini
merupakan upaya penulis untuk mendorong para teman-teman sejawat untuk bersama-
sama belajar tentang metodologi penelitian ilmu keperawatan dan menyosialisasikan
kepada profesi kesehatan lain maupun pemerhati tentang keperawatan khususnya tentang
kaidah ilmu: ontologi dan epistemologi ilmu keperawatan. Sekiranya akan terdapat suatu
pengakuan profesional bahwa “Nursing is as a science in which separated with medical
science”.
Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung
saya untuk dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan
kepada Seluruh Pengelola dan Staf PSIK FK UNAIR, Rekan-rekan Perawat (PPNI) di
Jawa Timur, Institusi Pendidikan Akademi Keperawatan & Kebidanan. Taklupa saya
sampaikan terima terima kasih kepada keluarga saya tercinta: istri dan anak-anak yang
telah memberikan inspirasi kepada saya untuk menulis buku ini.
Saya menyadari buku ini masih jauh dari sempurna. Sebagai manusia yang memiliki
keterbatasan, saya sebagai penulis mohon masukan dan saran yang bersifat membangun.
Saya juga mohon maaf mungkin ada beberapa pernyataan yang saya tulis dari para pakar
yang tidak sesuai, untuk itu saya mohon maaf dan rasa terima kasih serta hormat kepada
semua pihak.

Surabaya, Mei 2013

Nursalam
vi Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis
DAFTAR ISI

TENTANG PENULIS III


KATA PENGANTAR V
DAFTAR ISI VII

BAGIAN 1 TREN PENELITIAN KEPERAWATAN 1


BAB 1 Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Ilmiah 3
PENDAHULUAN 3
BERPIKIR LOGIS 3
KAJIAN TENTANG ILMU DAN METODE ILMIAH 4
Ilmu 4
Penggolongan Ilmu 5
Syarat Ilmu 6
DAFTAR PUSTAKA 11

BAB 2 Kajian Ilmu Keperawatan 13


PENGANTAR FILSAFAT ILMU KEPERAWATAN 13
ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI 15
KOMPONEN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI 16
Manusia 16
Keperawatan 20
Konsep Sehat—Sakit 21
Konsep Lingkungan 21
Aplikasi pada Asuhan Keperawatan: Proses Keperawatan 21
DAFTAR PUSTAKA 25

BAGIAN 2 MASALAH PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEP 27


BAB 3 Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 29
MASALAH 29
Menyeleksi Masalah Riset Keperawatan 30
Lingkup Masalah Penelitian Keperawatan menurut Nursalam (2002) 31
Kajian Masalah/Sumber Masalah Penelitian Keperawatan 31
RUMUSAN MASALAH ATAU PERTANYAAN PENELITIAN 32
Faktor-faktor yang Mendasari Perumusan Masalah 33
viii Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

MENYUSUN RUMUSAN DAN TUJUAN PENELITIAN 36


LAMPIRAN 39
Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan 39
Contoh: Penelusuran Masalah/Topik Penelitian 42
Spider Web 43
Keaslian Penulisan 44
DAFTAR PUSTAKA 47

BAB 4 Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 49


MENYUSUN KERANGKA KONSEP 49
Penyusunan Kerangka Konseptual dalam Penelitian 49
MENYUSUN HIPOTESIS PENELITIAN 50
Langkah Penyusunan 50
Syarat Hipotesis 52
Tujuan Hipotesis 52
Sumber Hipotesis 52
Tipe Hipotesis 53
KONSEP SELF-CARE 54
KONSEP SELF-CARE AGENCY 54
Pengukuran Self-Care Agency 57
Contoh Kerangka Konsep Berbasis Self-Care (Orem) Self-Care Agency
(Kemandirian Orem) Penerapan pada Ibu Nifas dengan Menggunakan
Pendekatan Teori Self Care Model 58
DAFTAR PUSTAKA 59
KONSEP MODEL INTERAKSI MANUSIA (IMOGENE M. KING) 60
Kerangka Konsep Imogene M. King (Fadilah, 2009) 61
Konsep Interaksi Manusia Imogene M. King 62
Sistem Interpersonal 63
DAFTAR PUSTAKA 65
FAMILY-CENTERED NURSING (FIEDMAN, 2003) 65
DAFTAR PUSTAKA 71
TEORI CULTURE CARE DARI LEININGER (TRANSCULTURAL CARE = SUNRISE) 71
DAFTAR PUSTAKA 75
HEALTH PROMOTION MODEL (HPM) 75
DAFTAR PUSTAKA 80
PRECEDE PROCEED MODEL 80
Perilaku Kesehatan Berdasarkan Teori Lawrence Green 80
Kualitas Hidup (Quality of Life) 82
DAFTAR PUSTAKA 86
TEORI PERILAKU TERENCANA (THEORY OF PLANNED BEHAVIOR) 87
Sejarah Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior) 87
DAFTAR PUSTAKA 96
SELF REGULATION MODEL 97
DAFTAR PUSTAKA 98
TEORI MODEL PENCEGAHAN PRIMER (CAPLAN, 2001) 98
Daftar Isi ix

PENGEMBANGAN MUTU PELAYANAN/PRODUKTIVITAS (KOPELMEN) 100


DAFTAR PUSTAKA 103
MODEL MAKP (METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL)
DAN ATAU MPKP 103
Kepuasan Perawat 103
Model Kesenjangan (The Expectancy–Disconfirmation Model)
(Woodruff & Gardial, 2002) 104
Theory of Servqual 104
DAFTAR PUSTAKA 115
KONSEP KINERJA & TEAM WORK 116
Definisi Kinerja 116
Team Work 118
Semangat Kerja 122
DAFTAR PUSTAKA 125
TEORI MOTIVASI McCLELLAND 125
BURNOUT SYNDROME TEORI MASLACH 127
Konsep Dasar Burnout Syndrome 127
DAFTAR PUSTAKA 131
CONTOH KERANGKA KONSEPTUAL BERBASIS INTEGRASI MODEL
(LAWRENCE GREEN) 132
DAFTAR PUSTAKA 133
STRES, APPRAISAL, AND COPING STRATEGY IN TRANSACTIONAL THEORY
(LAZARUS & FOLKMAN, 1984) 134
DAFTAR PUSTAKA 135
MATERNAL ROLE ATTAINMENT dan BECOMING MOTHER (MERCER) 136
Pencapaian Peran Ibu: Mercer’s Original Model 136
Becoming a Mother : Model Revisi 137
DAFTAR PUSTAKA 138
MODEL STRUCTURE OF CARING (SWANSON, 1993) 138
DAFTAR PUSTAKA 139

BAB 5 Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 141


ILMU KEPERAWATAN DASAR DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN 141
ILMU KEPERAWATAN ANAK 143
ILMU KEPERAWATAN MATERNITAS 146
ILMU KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN GAWAT DARURAT 147
Ilmu Keperawatan Medikal Bedah 147
Ilmu Keperawatan Gawat Darurat 150
ILMU KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA 151
ILMU KEPERAWATAN KOMUNITAS, KELUARGA, DAN GERONTIK 152
Komunitas 152
Keluarga 153
Gerontik 153
DAFTAR PUSTAKA 153
x Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis

BAGIAN 3 METODOLOGI PENELITIAN 155


BAB 6 Rancangan Penelitian 157
PENDAHULUAN 157
PEMILIHAN RANCANGAN PENELITIAN 158
JENIS RANCANGAN PENELITIAN 160
Rancangan Penelitian Non–Eksperimen 160
Rancangan Penelitian Eksperimental 165
DAFTAR PUSTAKA 168

BAB 7 Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel 169


POPULASI 169
Pembagian Populasi 169
Kriteria Populasi 170
SAMPEL DAN SAMPLING 171
Sampel 171
Sampling 173
DAFTAR PUSTAKA 175

BAB 8 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 177


VARIABEL 177
Definisi 177
Jenis Variabel 177
DEFINISI OPERASIONAL 180
Konsep Pengertian dan Definisi 180
DAFTAR PUSTAKA 182

BAB 9 Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 183


PENYUSUNAN INSTRUMEN 183
Prinsip: Validitas dan Reliabilitas 183
Jenis-jenis Instrumen 185
PENGUMPULAN DATA 191
Tugas Peneliti dalam Pengumpulan Data 191
Karakteristik Metode Pengumpulan Data 192
Masalah-masalah pada Pengumpulan Data 193
Prinsip Etis dalam Penelitian (Pengumpulan Data) 194
DAFTAR PUSTAKA 195

BAB 10 Analisis Data Penelitian Kuantitatif 197


PENDAHULUAN 197
Ciri-ciri Pokok Statistik 197
Jenis Landasan Kerja Pokok yang Digunakan oleh Statistik 198
PERAN STATISTIK DALAM TAHAPAN Penelitian 198
ANALISIS DATA 199
Klasifikasi Skala Pengukuran 199
Langkah-langkah Analisis Data 200
Daftar Isi xi

INTERPRETASI HASIL ANALISIS DATA 202


DAFTAR PUSTAKA 205

BAB 11 Penulisan Hasil Penelitian 207


PENDAHULUAN 207
PENULISAN ISI HASIL PENELITIAN 207
Bagian Pendahuluan 208
Bagian Metodologi 208
Instrumen dan Metode Pengumpulan Data 209
Penulisan Analisis Data 209
Bagian Penulisan Hasil Penelitian 210
DAFTAR PUSTAKA 211

BAGIAN 4 CONTOH PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN 213

BAGIAN 5 PEDOMAN PENULISAN USULAN PENELITIAN DAN SKRIPSI 387

PENDAHULUAN 388
PEDOMAN PENULISAN 388
PEDOMAN PENULISAN USULAN PENELITIAN (PROPOSAL) 390
PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI DAN TESIS 397
PENULISAN DAPUS 412

Lampiran L-1
Indeks I-1
xii Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis
Bagian 1
Tren Penelitian
Keperawatan

• Bab 1 Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode


Ilmiah
• Bab 2 Kajian Ilmu Keperawatan
2 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan
Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian 3

Bab 1
Kajian Ilmiah: Berpikir
Logis dan Metode Ilmiah

PENDAHULUAN
Kajian ilmiah tentang ilmu keperawatan merupakan suatu keharusan bagi para perawat
Indonesia saat ini. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum terdapat kejelasan
tentang ilmu yang secara empiris dapat diterima secara ilmiah oleh masyarakat
nonkeperawatan. Realitasnya, suatu ilmu dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: proses,
produk, dan paradigma etis. Proses merupakan suatu kegiatan untuk memahami alam
semesta dan isinya didasarkan pada tuntutan metode keilmuan (rasionalitas dan objektif).
Produk adalah segala proses keilmuan yang harus menjadi milik umum dan selalu
terbuka untuk dikaji oleh orang lain. Paradigma etis artinya ilmu harus mengandung
nilai-nilai moral dan etika yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ada di
masyarakat.
Pada bab ini, penulis hanya akan memfokuskan bahasan pada kajian ilmiah ilmu
keperawatan dengan penekanan dalam pembahasan berpikir logis dan ilmiah. Berpikir
logis adalah berpikir lurus dan teratur terhadap sesuatu hal yang diyakini dari suatu objek
atau fenomena. Objek atau fenomena tersebut berupa suatu pokok permasalahan yang
dikaji untuk membedakan antara benar dan salah. Berpikir ilmiah adalah cara berpikir
dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah, yaitu melalui metode ilmiah yang merupakan
alat/sarana penjelasan dalam mempelajari prosedur tertentu untuk mendapatkan ilmu.
Metode ilmiah mempelajari cara identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan, hipotesis,
metode, hasil, dan kesimpulan yang berdasarkan atas kaidah ilmiah.

BERPIKIR LOGIS
Berpikir logis merupakan proses berpikir yang didasari oleh konsistensi terhadap
keyakinan-keyakinan yang didukung oleh argumen yang valid. Pengertian lain dari
berpikir logis adalah berpikir lurus, tepat, dan teratur sebagai objek formal logika. Suatu
pemikiran disebut lurus, tepat, dan teratur apabila pemikiran itu sesuai dengan hukum,
aturan, dan kaidah yang sudah ditetapkan dalam logika. Mematuhi hukum, aturan,
4 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

dan kaidah logika berguna untuk menghindari pelbagai kesalahan dan penyimpangan
(bias) dalam mencari kebenaran ilmiah. Pada hakikatnya, pikiran manusia terdiri atas
tiga unsur, yaitu:

a. Pengertian (informasi tentang fakta).


b. Keputusan (pernyataan benar-tidak benar).
c. Kesimpulan (pembuktian-silogisme).

Dalam logika ilmiah, tiga unsur pikiran manusia tersebut harus dinyatakan dalam
kata (kalimat tulisan).
Tiga pokok kegiatan akal budi manusia, yaitu:

a. Menangkap sesuatu sebagaimana adanya, yang berarti menangkap sesuatu tanpa


mengakui atau memungkiri (pengertian atau pangkal pikir, disebut juga premis).
b. Memberikan keputusan, yang berarti menghubungkan pengertian yang satu dengan
pengertian yang lain atau memungkiri hubungan tersebut.
c. Merundingkan, yang berarti menghubungkan keputusan satu dengan keputusan
yang lain sehingga sampai pada satu kesimpulan (pernyataan baru yang diturunkan
berdasarkan premis).

KAJIAN TENTANG ILMU DAN METODE ILMIAH

ILMU
Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah.
Makna ilmu menunjukkan sekurang-kurangnya tiga hal (Gambar 1.1):

a. Kumpulan pengetahuan (produk).


b. Aktivitas ilmiah dan proses berpikir ilmiah (proses).
c. Metode ilmiah (metode).

Proses

ILMU

Produk Metode

Gambar 1.1 Makna ilmu

a.  Ilmu sebagai Produk


Ilmu sebagai produk, merupakan kumpulan informasi yang telah teruji kebenarannya dan
dikembangkan berdasarkan metode ilmiah dan pemikiran logis (Kemeny, 1961).
Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian 5

Struktur ilmu adalah sebagai berikut.

1. Paradigma
2. Teori
3. Konsep dan asumsi
4. Variabel dan parameter

b.  Ilmu Sebagai Proses


Ilmu sebagai proses, merupakan cara mempelajari suatu realitas (kejadian) dan upaya
memberi penjelasan tentang suatu mekanisme (jawaban terhadap pertanyaan mengapa
dan bagaimana) (Adib, 2011).
Karakteristik ilmu:

1. Logico-emperical-verifikatif
2. Generalized understanding
3. Theoritical construction
4. Menjawab pertanyaan mengapa (why) dan bagaimana (how)

c.  Ilmu sebagai Metode


Ilmu sebagai metode, merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan yang
objektif dan dapat diuji kebenarannya (Adib, 2011). Metode adalah rangkaian cara dan
langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan, sering kali disebut
metode ilmiah. Metode ilmiah berkaitan erat dengan logika, metode penelitian, metode
pengambilan sampel, pengukuran, analisis, penulisan hasil, dan kesimpulan. Pendekatan
adalah pemilihan area kajian.

PENGGOLONGAN ILMU
Pendapat mengenai pengelompokan ilmu sangat banyak, bergantung pada kriteria
penggolongannya. Secara umum, ilmu hampir selalu dikelompokkan menjadi dua kategori,
yaitu: (a) ilmu nomotetik dan (b) ilmu idiografik (Putra, 2010).

a. Ilmu Nomotetik (Deduktif)


Ilmu Nomotetik merupakan suatu ilmu yang didasarkan pada kajian-kajian makro
(kasus-kasus) yang luas dan banyak terjadi, kemudian dijabarkan pada hal-hal yang
khusus. Pendekatan penelitian dapat digolongkan pada metode kuantitatif. Misalnya,
semua klien yang masuk rumah sakit akan mengalami stres hospitalisasi. Klien anak,
klien remaja, dan klien dewasa yang masuk rumah sakit akan mengalami stres.

b. Ilmu Idiografik (Induktif)


Ilmu Idiografik merupakan suatu kajian ilmu yang didasarkan pada hal-hal yang
mikro, unik, khusus, dan bersifat individual, kemudian ditarik suatu kesimpulan
secara umum. Pendekatan penelitian digolongkan pada metode kualitatif. Contoh,
penyanyi A berambut keriting, penyanyi B rambutnya keriting, penyanyi C dan
penyanyi lainnya juga berambut keriting, semuanya pandai bernyanyi. Jadi dapat
ditarik kesimpulan bahwa orang yang memiliki rambut keriting pandai bernyanyi.
6 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

SYARAT ILMU
Terdapat beberapa persyaratan bahwa suatu pengetahuan dianggap sebagai ilmu:

a. Memenuhi Syarat sebagai Ilmu Pengetahuan Ilmiah


1. Logis: Dapat dinalar dan masuk akal
Misalnya, pada ilmu keperawatan. Klien yang masuk rumah sakit mengalami stres,
di samping keadaan sakitnya, klien harus beradaptasi terhadap lingkungan baru
(orang/perawat, peraturan-peraturan, dan lain-lain).
2. Empiris: Data dapat diamati dan diukur
Misalnya, data tentang respons klien yang mengalami stres, dapat diamati dan diukur
dari ketidakmampuan klien untuk beradaptasi terhadap stresnya. Secara psikologis
(kognator), klien stres mengalami gangguan afek dan emosi (cemas, marah-marah,
depresi, dan menolak peraturan baru). Hal ini karena klien tidak mampu beradaptasi
terhadap lingkungan baru. Secara fisik (regulator), kondisi klien dapat diukur dengan
terjadinya peningkatan tanda-tanda vital klien dan peningkatan hormon-hormon
stres (kortisol dan katekolamin).
3. Diperoleh melalui metode ilmiah
Pendekatan yang digunakan berdasarkan langkah-langkah dalam metode ilmiah
(penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam pembahasan tentang metode sains).

Memenuhi Komponen Ilmu (Science Building Blocks):

TEORI ADAPTASI
Konsep: Stres Konsep: Manusia Proposisi

Proposisi Konsep: Sakit

Konsep: Koping Konsep: Lingkungan Konsep: Keperawatan


(regulator & kognator) (rumah Sakit)

HIPOTESIS
FAKTA EMPIRIS:

• Belum diterapkannya model


asuhan keperawatan di
rumah sakit
• Perawat belum menunjukkan
HUKUM, PRINSIP: kinerja yang optimal
• Klien sering mengalami stres
HUMANISTIK hospitalisasi
HOLISTIK
CARE

Gambar 1.2 Science building blocks pada ilmu keperawatan (teori adaptasi)
Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian 7

Keterangan:
• Teori adaptasi terdiri atas komponen-komponen ilmu, yaitu terbentuk dari beberapa konsep:
1). Konsep stres akibat masuk rumah sakit (stres hospitalisasi)
2). Konsep koping (regulator dan kognator)
3). Konsep manusia
4). Konsep keperawatan
5). Konsep sakit
6). Konsep lingkungan
• Adanya sekelompok pengetahuan yang dirangkai dengan penambahan pernyataan lain sehingga
terbentuk suatu informasi tentang hubungan antarpengetahuan. Minimal pada penelitian ini akan
menghasilkan suatu proposisi-proposisi.

b. Memenuhi Metode Ilmiah: Mekanisme Stimulus-Respons


Stimulus

Logika Respons

Gambar 1.3 Mekanisme stimulus-respons pada kajian ilmu

1. Stimulus
(a) Masalah:
Fakta/empiris yang dapat diamati dan diukur berdasarkan hasil suatu pengamatan
yang cermat dan teliti.
(b) Perumusan masalah penelitian:
Masalah yang sudah ditemukan kemudian dirumuskan dalam suatu masalah
penelitian, perumusan masalah. Di dalam penelitian dituliskan sebagai pertanyaan
penelitian.

2. Logika
(a) Kajian teoretis/konseptual
Misalnya dalam ilmu keperawatan, sakit pada manusia disebabkan oleh
ketidakmampuan manusia untuk beradaptasi yang melibatkan unsur fisik, psikis,
dan sosial yang merupakan perwujudan terimplikasi adanya integrasi satu dengan
yang lain. Objek utama dalam ilmu keperawatan, yaitu:
(1) Manusia (individu yang mendapatkan asuhan keperawatan),
(2) Konsep lingkungan,
(3) Konsep sehat, dan
(4) Keperawatan.
8 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

(1). Stimulus/Intervensi Keperawatan


Stimulus yang diberikan perawat berupa intervensi/asuhan keperawatan dalam
meningkatkan respons adaptasi berhubungan dengan empat mode respons
adaptasi.
Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
1) Membantu memenuhi kebutuhan klien dengan gangguan dalam pemenuhan
kebutuhan fisiologis dan ketergantungan.
2) Memperlakukan klien secara manusiawi.
3) Melaksanakan komunikasi terapeutik.
4) Mengembangkan hubungan terapeutik.

(2). Konsep Lingkungan


Lingkungan merupakan semua kondisi internal dan eksternal yang memengaruhi
dan berakibat terhadap perkembangan dan perilaku seseorang atau kelompok.
Lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa
pengalaman, kemampuan emosional, dan kepribadian) serta proses pemicu stres
biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu. Lingkungan
eksternal dapat berupa keadaan/faktor fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang
diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman.

(3). Konsep Sehat


Sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya menjadikan dirinya
terintegrasi secara keseluruhan, fisik, mental, dan sosial. Integritas adaptasi
individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi tujuan
dalam mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi. Sakit adalah suatu keadaan
ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap rangsangan yang berasal dari
dalam dan luar individu.
Kondisi sehat dan sakit dipersepsikan secara berbeda-beda oleh individu.
Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping) bergantung dari latar belakang
individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat/sakit, misalnya
tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya, dan lain-lain.

(4). Keperawatan
Keperawatan adalah model pelayanan profesional dalam memenuhi kebutuhan
dasar yang diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit yang mengalami
gangguan fisik, psikis, sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Bentuk pemenuhan kebutuan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang
ada pada individu, mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu
keadaan yang dipersepsikan sakit oleh individu.

(b). Perumusan hipotesis


Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu pertanyaan atau
tujuan penelitian. Syarat hipotesis yang baik adalah:
(1) Berupa pernyataan.
(2) Layak uji.
Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian 9

(3) Berdasarkan teori/konsep.


(4) Adanya hubungan antarvariabel (proposisi antara konsep adaptasi dan
kinerja).

(c). Identifikasi dan operasionalisasi variabel


Berikut ini merupakan contoh dalam penjelasan variabel dan definisi operasional
ilmu keperawatan (adaptasi).

Variabel Dimensi Indikator/Definisi Operasional


Tingkat Adaptasi Regulator Suatu proses fisiologis:
(Proses) • Peningkatan hormon-hormon stres: kortisol dan katekolamin.
• Peningkatan tanda-tanda vital: denyut jantung dan laju pernapasan.
Kognator Tingkat koping psikologis klien yang konstruktif:
• Learning (imitasi, reinforcement, dan pemahaman diri).
• Judgement (penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan)
terhadap lingkungan baru.
• Emotion: Suatu tindakan klien dalam merespons keputusan yang
telah dibuat. Klien diharapkan dapat menggunakan koping yang
konstruktif:
1). Menerima kenyataan sakitnya.
2). Berhubungan dengan orang lain.
3). Kooperatif terhadap tindakan yang diberikan.
Tingkat Efektor • Fisiologis • Tingkat fisiologis:
Tingkat kebutuhan oksigen, nutrisi, cairan, serta istirahat dan tidur.
• Psikologis • Tingkat psikologis:
1). Pandangan terhadap fisik
i). Penurunan konsep seksual
ii). Agresi; kehilangan
2). Pandangan terhadap personal
i). Cemas
ii). Tidak berdaya
iii). Merasa bersalah
iv). Harga diri rendah
• Peran • Tingkat peran
Transisi peran; peran berbeda; konflik peran; kegagalan peran
• Tingkat ketergantungan
• Ketergantungan Kecemasan berpisah; merasa ditinggalkan/terisolasi.
Tingkat Output • Adaptif • Adaptif: Koping konstruktif (menerima, berhubungan dengan orang
• Maladaptif lain, melakukan aktivitas sehari-hari; dan terpenuhi kebutuhan fisik).
(koping tidak • Koping tidak efektif: Marah-marah, menyendiri, merasa tidak berguna,
efektif) sedih, dan peningkatan hormon-hormon stres (kortisol, katekolamin)
Tingkat Stimulus: • Membantu Terpenuhinya kebutuhan fisiologis:
kinerja perawat memenuhi • Makan dan minum
(Berdasarkan gangguan • Oksigenasi
paradigma pemenuhan • Cairan
keperawatan: kebutuhan • Istirahat dan tidur
humanistik, holistik, fisiologis dan • Nutrisi
dan care) ketergantungan • Perawatan diri
• Memperlakukan Memperlakukan klien sebagai mitra/manusiawi:
klien secara • Sopan
manusiawi • Tidak diskriminasi
• Melibatkan klien dan keluarga secara aktif
• Sabar
• Tanggap dan cepat dalam bertindak
10 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Variabel Dimensi Indikator/Definisi Operasional


• Melaksanakan Komunikasi terapeutik:
komunikasi • Memanggil nama klien
terapeutik • Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
• Komunikasi secara tepat dan benar (sesuai kontrak)
• Mendengarkan dan menampung
• Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan
pandangannya
• Meluangkan waktu untuk bicara, setiap ada kesempatan
• Mengembangkan Hubungan terapeutik dengan klien:
hubungan • Menciptakan hubungan timbal balik
terapeutik • Memelihara hubungan yang harmonis
dengan klien • Mencegah konflik dengan klien
• Mencegah sikap pilih kasih
• Menilai dampak dari tindakan
• Berpenampilan rapi dan tenang
• Menepati janji
• Jujur dan terbuka

(d). Penyusunan penelitian


Noneksperimental (bersifat observasi) dan eksperimental: True-eksperimental; quasy
–eksperimental; pre-eksperimental. Contoh rancangan quasy-eksperimental: Peran
teori adaptasi terhadap perbaikan kinerja perawat.

Perlakuan Kontrol

Pengukuran variabel Pengukuran variabel


Dibandingkan:
dependen: indikator kinerja dependen: indikator kinerja
apakah sama?
(pra) (pra)

Penerapan
Variabel Independen
Teori Adaptasi

Pengukuran ulang variabel Pengukuran ulang variabel


Dibandingkan:
dependen: indikator kinerja dependen: indikator kinerja
apakah beda?
(pasca) (pasca)

Gambar 1.4 Diagram quasy-eksperimental.

3. Respons
Respons dalam kajian ilmiah dapat digolongkan sebagai berikut.
(a). Penyusunan instrumen penelitian (validitas dan reliabilitas).
(b). Melakukan sampling (randomisasi) dan estimasi ukuran sampel.
(c). Analisis data dan pengujian hipotesis (regresi).
(d). Mengambil kesimpulan dan memberikan saran.
Bab 1  •  Kajian Ilmiah: Berpikir Logis dan Metode Penelitian 11

DAFTAR PUSTAKA
Adib, M. 2011. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Alligood, MR, & Tomey, AM, 2006, Nursing theorists and their work, 7th ed. Missouri:
Mosby.
Babbie, E. 1999. The Basics of Social Research. Belmont: Wadsworth Pub. Co.
Nursalam. 2002. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung
Seto.
Nursalam & Kurniawati, ND. 2007. Asuhan Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV/AIDS.
Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Polit, D.E. dan B.P. Hungler. 1993. Essential of Nursing Research. Methods, Appraisal, and
Utilization. 3rd ed. Philadelphia: J.B. Lippincott Co.
Putera, S.T. 2010. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan
Unair.
Sastroasmoro, S. dan S. Ismail. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Soeparto, O., S.T. Putra, dan Haryanto. 2000. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: GRAMIK
dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
12 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan
Bab 2
Kajian Ilmu
Keperawatan

PENGANTAR FILSAFAT ILMU KEPERAWATAN


Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab pertanyaan hakikat ilmu
(Adib, 2011). Hakikat ilmu dapat dibedakan menjadi tiga; yaitu ontologis, epistemologis,
dan aksiologis. Semua pengetahuan—ilmu (sains), seni, atau pengetahuan apa saja—pada
dasarnya mempunyai ketiga landasan tersebut. Ketiga hakikat tersebut saling berkaitan,
yang berbeda adalah materi perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan ketiga
hakikat ini dikembangkan dan dilaksanakan.
Batas lingkup ilmu menjadi karakteristik objek ontologis ilmu yang membedakan
ilmu (sains) dari pengetahuan-pengetahuan lain. Dapat dikatakan bahwa ilmu hanya
membatasi hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman karena fungsi ilmu dalam
kehidupan manusia adalah membantu manusia dalam mengatasi masalah sehari-hari
(seperti memerangi penyakit) dan menyusun indikator kebenaran karena telah teruji
secara empiris. Ilmu juga perlu bimbingan moral (agama) karena kebutaan moral dari
ilmu dapat membawa manusia ke jurang malapetaka.
Pada praktiknya, harus ada kejelasan batas disiplin ilmu, misalnya batas disiplin ilmu
antara perawat dan dokter. Tanpa kejelasan batas, maka pendekatan multidisiplin tidak akan
bersifat konstruktif tetapi berubah menjadi sengketa kapling (Alligood & Tomey, 2012).
Ciri khas yang paling menyolok dari ilmu kemanusiaan adalah objek penyelidikannya,
yaitu manusia yang dilihat bukan hanya sebagai benda jasmani saja tetapi manusia secara
keseluruhan. Sementara itu manusia sebagai subjek penyelidikan ilmu kemanusiaan dilihat
dalam dua arti. Pertama dalam arti bahwa secara hakiki manusia melampaui status objek
benda-benda sekitarnya, kedua dalam arti bahwa si penyelidik subjek berada pada taraf
yang sama dengan objeknya. Arti pertama agak berbau filsafat. Arti kedua secara khas
berasal dari suatu uraian empiris mengenai ilmu-ilmu kemanusiaan, jika dibandingkan
dengan ilmu-ilmu lainnya.
Bagaimana dengan halnya makhluk hidup termasuk manusia sendiri? Hal ini
terutama terjadi di tatanan klinik yang objeknya adalah manusia. Fenomena-fenomena
klinik yang kita amati adalah aspek fisik yang berupa gejala-gejala penyakit dengan tingkat
14 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

biomolekuler yang mendasarinya; aspek psikis; dan aspek sosial. Ketiga aspek tersebut
merupakan fokus kajian objek ilmu keperawatan, yang mempunyai empat komponen, yaitu
manusia sebagai makhluk yang unik; keperawatan; konsep sehat-sakit; dan lingkungan
yang memengaruhi keadaan manusia.
Banyak pengertian yang membahas tentang ilmu keperawatan, sebagaimana
Nursalam (2008) menjabarkan tentang ilmu keperawatan adalah “…. suatu ilmu yang
mencakup ilmu-ilmu dasar, perilaku, biomedik, sosial, dan ilmu keperawatan sendiri
(dasar, anak, maternitas, medikal bedah, jiwa, dan komunitas). Aplikasi ilmu keperawatan
yang menggunakan pendekatan dan metode penyelesaian masalah secara ilmiah ditujukan
untuk mempertahankan, menopang, memelihara, dan meningkatkan integritas seluruh
kebutuhan dasar manusia”. Pengertian tersebut membawa dampak terhadap isi kurikulum
program pendidikan tinggi keperawatan. Institusi pendidikan tinggi keperawatan sejauh
ini belum mampu mengenalkan ilmu keperawatan secara jelas kepada peserta didik.
Sehingga peserta didik mendapatkan orientasi ilmu dasar yang hampir sama dengan
yang diajarkan pada program pendidikan kesehatan lain (kedokteran umum, dokter gigi,
dan kesehatan masyarakat). Hal ini mengakibatkan ketidakjelasan peran perawat dalam
memberikan asuhan kesehatan kepada klien. Pertanyaan yang muncul adalah apakah isi
kurikulum ilmu-ilmu dasar yang diajarkan kepada mahasiswa keperawatan sama dengan
yang diajarkan kepada mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, dan kesehatan masyarakat?
Hal ini perlu dipertanyakan mengingat: 1) belum jelasnya perbedaan ilmu keperawatan
dan kedokteran dan 2) dosen sering mengajarkan materi yang sama dengan mahasiswa
kedokteran kepada mahasiswa keperawatan. Dengan perkataan lain, tidak adanya fokus/
penekanan kompetensi wajib yang dimiliki lulusan keperawatan (Nursalam, 2008b).
Tujuan ilmu keperawatan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu: (1) Sebagai
dasar dalam praktik keperawatan; 2) Komitmen dalam praktik keperawatan terhadap
pengembangan ilmu keperawatan; 3) Sebagai dasar penyelesaian masalah keperawatan
yang kompleks agar kebutuhan dasar klien terpenuhi; dan 4) Dapat diterimanya intervensi
keperawatan secara ilmiah dan rasional oleh profesi kesehatan lain dan masyarakat. Tujuan
yang terakhir disebutkan akan dapat diterima oleh masyarakat jika perawat mampu
menjelaskan objek ilmu keperawatan (Chitty, 1997).
Berdasarkan tujuan ilmu keperawatan tersebut, Chitty (1997) menerjemahkan ilmu
keperawatan sebagai suatu ilmu yang aplikasinya dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah sesuai dengan kaidah dan nilai-nilai keperawatan. Chitty (1997) menekankan
nilai-nilai ilmu keperawatan pada tiga unsur utama, yaitu: holistik, humanistik, dan
care dengan menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang sehat
maupun sakit. Pemenuhan kebutuhan manusia merupakan objek ilmu keperawatan yang
meliputi membantu meningkatkan, mencegah, dan mengembalikan fungsi kesehatan yang
terganggu akibat sakit yang diderita.
Peran utama profesional perawat adalah memberikan asuhan keperawatan
kepada manusia (sebagai objek utama kajian filsafat ilmu keperawatan: ontologis) yang
meliputi:

a. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan dan kebutuhan klien.


b. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi masalah
keperawatan, mulai dari pemeriksaan fisik, psikis, sosial, dan spiritual.
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 15

c. Memberikan asuhan keperawatan kepada klien (klien, keluarga, dan masyarakat)


mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Pelayanan yang diberikan oleh perawat harus dapat mengatasi masalah-masalah


fisik, psikis, dan sosial-spiritual pada klien dengan fokus utama merubah perilaku klien
(pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya) dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga
klien dapat mandiri.
Misalnya, jika klien anak dengan asma bronkial dirawat di rumah sakit dengan kondisi
sedang diberi infus dan tidak boleh bergerak ke mana-mana, maka anak tersebut akan
mengalami stres fisik akibat keluhan sakitnya dan psikis akibat dari tindakan pemasangan
infus serta larangan untuk bergerak. Stres psikis yang terjadi akan berdampak terhadap
koping anak tersebut sehingga menurunkan imunitasnya. Keadaan tersebut justru akan
memperlambat kesembuhan klien. Ilmu keperawatan yang ada harus dapat memfasilitasi
bagaimana anak tersebut dapat merasa “at home” (tidak seperti di rumah sakit), tidak
merasa tertekan, dan merasa diperhatikan oleh orang terdekat. Bukan justru menambah
stres psikologis dengan suasana lingkungan yang menakutkan dan petugas yang bersikap
kurang ramah serta memaksakan setiap melakukan tindakan keperawatan/medis (misalnya
menyuntik). Keadaan yang demikian akan berdampak dalam proses penyembuhan klien.
Hasil penelitian yang dilaksanakan di Amerika menyebutkan bahwa memperlakukan anak-
anak yang dirawat di rumah sakit seperti di rumah sendiri, memberi kebebasan bagi anak
untuk bermain sebatas kemampuannya, dan merasa diperhatikan menunjukkan angka
yang signifikan dalam percepatan penyembuhan klien dibandingkan dengan anak yang
mengalami stres psikologis akibat suasana/lingkungan yang tidak kondusif.

ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI


Dalam disiplin biologi yang merupakan induk utama dari filsafat ilmu kedokteran dan ilmu
keperawatan, terdapat 4 doktrin biologi organisme yang mencerminkan upaya para ahli
biologi dalam mengatasi realitas biologi, yaitu (1) doktrin pendekatan holistik; (2) doktrin
teleologik; (3) Doktrin kesejajaran historis dalam perkembangan organisme; dan (4) doktrin
otonomi (Soeparto Putra, Haryanto, 2000). Doktrin pertama tampak pada pendekatan
holistik yang digunakan oleh ahli biologi dalam mempersepsikan organisme. Artinya
meskipun tubuh organisme tersusun dari komponen-komponen yang mencerminkan
tingkat agregasi bahan kimia pembentuknya dengan ciri-ciri fisikokimia yang bervariasi,
para ahli biologi memandang wujud organisme sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi.
Doktrin kedua tampak pada sifat diskriptif penjelasan biologi yang berorientasi tujuan.
Penjelasan biologi yang menekankan pentingnya hubungan antara struktur dengan fungsi
dan penjelasan pelestarian fungsi reproduksi, adaptasi, dan evolusi dalam organisme biologi
dipengaruhi oleh doktrin ini. Doktrin ketiga menegaskan bahwa ciri-ciri perkembangan
organisme menimbulkan permasalahan metodologi khas dalam perkembangan teori
biologi. Doktrin keempat merupakan konsekuensi logis dari ketiga doktrin sebelumnya.
Doktrin ini menegaskan bahwa organisme harus diteliti tanpa prasangka, peranggapan,
dan bias yang tak disadari, sehingga informasi yang terhimpun memberikan realitas
apa adanya. Sistem biologi memperlihatkan ciri-ciri perwujudan dirinya sebagai suatu
16 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

totalitas (holistik). Dalam totalitas perwujudannya terimplikasi adanya integrasi yang


mengendalikan interelasi antara ciri satu dengan lainnya (Soparmo, 1984).
Keempat doktrin tersebut mempunyai kesamaan dalam filsafat ilmu keperawatan,
yaitu terjadinya suatu sakit pada manusia karena adanya ketidakmampuan beradaptasi
antara unsur fisik, psikis, dan sosial karena unsur-unsur tersebut merupakan perwujudan
terimplikasi integrasi satu dengan yang lain. Misalnya jika manusia mengalami nyeri dada
(pada kasus infark miokard akut), maka akan berdampak terhadap stres psikis karena
ketakutan terhadap kematian, dan terjadi gangguan sosialisasi dengan individu lainnya.
Selama individu mampu menjaga integrasi antara unsur-unsur tersebut, maka gejala sakit
tidak akan termanifestasikan dan individu akan bertahan.

KOMPONEN ILMU KEPERAWATAN: TEORI ADAPTASI


Menurut Roy terdapat 5 objek utama dalam ilmu keperawatan, yaitu (1) Manusia (individu
yang mendapatkan asuhan keperawatan); (2) Keperawatan; (3) Konsep sehat; (4) Konsep
lingkungan; dan (5) Aplikasi: Tindakan keperawatan. (Nursalam & Kurniawati, 2007)

Input Proses Efektor Output Stimulus

Adaptasi Primer Model


(Mekanisme Koping) Adaptif
Stimulus
Integritas
Tingkat Adaptasi
Fisiologi Zona
Kognator (Intelektual Maladaptif
Integritas
dan sebagainya) Fokal
Psikologi
(Konsep Diri)
Kontekstual
Integritas
Sosiologi
(Mungsi Peran) Residual
Regulator (Sistem
Saraf Otonom) Zona
Ketergantungan Maladaptif

Gambar 2.1 Diagram model adaptasi dari Roy (dikutip oleh Nursalam, 2007).

MANUSIA
Roy menyatakan bahwa penerima jasa asuhan keperawatan adalah individu, keluarga,
kelompok, komunitas, atau sosial. Masing-masing diperlakukan oleh perawat sebagai sistem
adaptasi yang holistik dan terbuka. Sistem terbuka tersebut berdampak terhadap perubahan
yang konstan terhadap informasi, kejadian, dan energi antarsistem dan lingkungan.
Interaksi yang konstan antara individu dan lingkungan dicirikan oleh perubahan internal
dan eksternal. Dengan perubahan tersebut, individu harus mempertahankan integritas
dirinya yaitu beradaptasi secara kontinu.
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 17

a. Input
Sistem adaptasi mempunyai input yang berasal dari internal individu. Roy
mengidentifikasi input sebagai suatu stimulus. Stimulus merupakan suatu unit
informasi, kejadian, atau energi yang berasal dari lingkungan. Sejalan dengan
adanya stimulus, tingkat adaptasi individu direspons sebagai suatu input dalam
sistem adaptasi. Tingkat adaptasi tersebut bergantung dari stimulus yang didapat
berdasarkan kemampuan individu. Tingkat respons antara individu sangat unik
dan bervariasi bergantung pada pengalaman yang didapatkan sebelumnya, status
kesehatan individu, dan stresor yang diberikan.

b. Proses
1. Roy menggunakan istilah mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol dari
individu sebagai suatu sistem adaptasi. Beberapa mekanisme koping dipengaruhi oleh
faktor kemampuan genetik, misalnya sel-sel darah putih saat melawan bakteri yang
masuk dalam tubuh. Mekanisme lainnya adalah dengan cara dipelajari, misalnya
penggunaan antiseptik untuk mengobati luka. Roy menekankan ilmu keperawatan
yang unik untuk mengontrol mekanisme koping. Mekanisme tersebut dinamakan
regulator dan kognator.
2. Subsistem regulator mempunyai sistem komponen input, proses internal, dan output.
Stimulus input berasal dari dalam atau luar individu. Perantara sistem regulator
berupa kimiawi, saraf, atau endokrin. Reflekss otonomi sebagai respons neural berasal
dari batang otak dan korda spinalis, diartikan sebagai suatu perilaku output dari
sistem regulasi. Organ target (endoterin) dan jaringan di bawah kontrol endokrin
juga memproduksi perilaku output regulator, yaitu terjadinya peningkatan Andreno
Cortico Tyroid Hormone (ACTH) kemudian diikuti peningkatan kadar kortisol darah.
Banyak proses fisiologis yang dapat diartikan sebagai perilaku subsistem regulator.
Misalnya, regulator tentang respirasi. Pada sistem respirasi akan terjadi peningkatan
oksigen, yang menginisiasi metabolisme agar dapat merangsang kemoreseptor pada
medula untuk meningkatkan laju pernapasan. Stimulasi yang kuat pada pusat tersebut
akan meningkatkan ventilasi lebih dari 6–7 kali.
3. Contoh proses regulator tersebut terjadi ketika stimulus eksternal divisualisasikan
dan ditransfer melalui saraf mata menuju pusat saraf otak dan bagian bawah pusat
saraf otonomi. Saraf simpatetik dari bagian ini mempunyai dampak yang bervariasi
pada viseral, termasuk peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.
4. Stimulus terhadap subsistem kognator juga berasal dari faktor internal dan eksternal.
Perilaku output subsistem regulator dapat menjadi umpan balik terhadap stimulus
subsistem kognator. Proses kontrol kognator berhubungan dengan fungsi otak yang
tinggi terhadap persepsi atau proses informasi, pengambilan keputusan, dan emosi.
Persepsi proses informasi juga berhubungan dengan seleksi perhatian, kode, dan
ingatan. Belajar berhubungan dengan proses imitasi dan penguatan (reinforcement).
Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan merupakan proses internal yang
berhubungan dengan keputusan dan khususnya emosi untuk mencari kesembuhan,
dukungan yang efektif, dan kebersamaan.
5. Dalam mempertahankan integritas seseorang, kognator dan regulator bekerja secara
bersamaan. Sebagai suatu sistem adaptasi, tingkat adaptasi seseorang dipengaruhi
18 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

oleh perkembangan individu dan penggunaan mekanisme koping. Penggunaan


mekanisme koping yang maksimal akan berdampak baik terhadap tingkat adaptasi
individu dan meningkatkan tingkat rangsangan sehingga individu dapat merespons
secara positif.

c. Efektor
Sistem adaptasi proses internal yang terjadi pada individu didefinisikan Roy
sebagai sistem efektor. Empat efektor atau model adaptasi tersebut meliputi (1)
fisiologis; (2) konsep diri; (3) fungsi peran; dan (4) ketergantungan (interdepeden).
Mekanisme regulator dan kognator bekerja pada model adaptasi. Perilaku yang
berhubungan dengan mode adaptasi merupakan manifestasi dari tingkat adaptasi
individu dan mengakibatkan digunakannya mekanisme koping. Saat mengobservasi
perilaku seseorang dan menghubungkannya dengan model adaptasi, perawat dapat
mengidentifikasi adaptif atau ketidakefektifan respons sehat dan sakit.

1.  Fisiologis
Efektor secara fisiologis dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

• Oksigenasi: menggambarkan pola penggunaan oksigen yang berhubungan


dengan respirasi dan sirkulasi.
• Nutrisi: menggambarkan pola penggunaan nutrisi untuk memperbaiki kondisi
dan perkembangan tubuh klien.
• Eliminasi: menggambarkan pola eliminasi.
• Aktivitas dan istirahat: menggambarkan pola aktivitas, latihan, istirahat, dan
tidur.
• Integritas kulit: menggambarkan fungsi fisiologis kulit.
• Rasa: menggambarkan fungsi sensori perseptual yang berhubungan
dengan panca indra: penglihatan, penciuman, perabaan, pengecapan, dan
pendengaran.
• Cairan dan elektrolit: menggambarkan pola fisiologis penggunaan cairan dan
elektrolit.
• Fungsi neurologis: menggambarkan pola kontrol neurologis, pengaturan, dan
intelektual.
• Fungsi endokrin: menggambarkan pola kontrol dan pengaturan termasuk
respons stres dan sistem reproduksi.

Masalah-masalah keperawatan yang dapat diidentifikasi pada keempat mode


dijabarkan pada tabel 2.1.

2. Konsep Diri (Psikis)


Konsep diri mengidentifikasi pola nilai, kepercayaan, dan emosi yang berhubungan
dengan ide diri sendiri. Perhatian ditujukan pada kenyataan keadaan diri sendiri
tentang fisik, individual, dan moral-etik.
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 19

Tabel 2.1 Masalah gangguan adaptasi (George, 1990: 247 dikutip dari Roy, S.C)

MASALAH
FISIOLOGIS KONSEP DIRI FUNGSI PERAN INTERDEPENDEN
1. Oksigenasi: Pandangan terhadap fisik: • Transisi peran Kecemasan
• Hipoksia • Penurunan konsep • Peran berbeda berpisah
• Syok seksual • Konflik peran merasa
• Overload • Agresi • Kegagalan peran ditinggalkan/isolasi
• Kehilangan
2. Nutrisi: Pandangan terhadap
• Malnutrisi personal:
• Mual • Cemas
• Muntah • Tidak berdaya
• Merasa bersalah
• Harga diri rendah
3. Eliminasi
• Konstipasi
• Diare
• Kembung
• Inkontinen
• Retensi urine
4. Aktivitas dan istirahat
• Aktivitas fisik yang tidak
adekuat
• Risiko kesalahan akitivitas
• Istirahat yang tidak adekuat
• Insomnia
• Gangguan tidur
• Kelebihan istirahat
5. Integritas kulit
• Gatal-gatal
• Kekeringan
• Dekubitus

3. Fungsi Peran (Sosial)


Fungsi peran mengidentifikasi tentang pola interaksi sosial seseorang yang
berhubungan dengan orang lain akibat dari peran ganda yang dijalankannya.

4. Ketergantungan (Interdependen)
Interdependen mengidentifikasi pola nilai-nilai manusia, kehangatan, cinta,
dan memiliki. Proses tersebut terjadi melalui hubungan interpersonal terhadap
individu maupun kelompok.

d. Output
Perilaku seseorang berhubungan dengan metode adaptasi. Koping yang tidak
efektif berdampak terhadap respons sakit (maladaptif). Jika klien masuk pada zona
maladaptif maka klien mempunyai masalah keperawatan (adaptasi).
20 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

KEPERAWATAN
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kebutuhan dasar
yang diberikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalami gangguan
fisik, psikis, dan sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Bentuk
pemenuhan kebutuhan dasar dapat berupa meningkatkan kemampuan yang ada pada
individu, mencegah, memperbaiki, dan melakukan rehabilitasi dari suatu keadaan yang
dipersepsikan sakit oleh individu (Alligood & Tomey, 2006).
Roy mendefinisikan bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan respons
adaptasi yang berhubungan dengan empat model respons adaptasi. Perubahan internal,
eksternal, dan stimulus input bergantung dari kondisi koping individu. Kondisi koping
menggambarkan tingkat adaptasi seseorang. Tingkat adaptasi ditentukan oleh stimulus
fokal, kontekstual, dan residual. Stimulus fokal adalah suatu respons yang diberikan secara
langsung terhadap input yang masuk. Penggunaan fokal pada umumnya bergantung pada
tingkat perubahan yang berdampak terhadap seseorang. Stimulus kontekstual adalah
semua stimulus lain yang merangsang seseorang baik internal maupun eksternal serta
memengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur, dan secara subjektif disampaikan
oleh individu. Stimulus residual adalah karakteristik/riwayat seseorang dan timbul secara
relevan sesuai dengan situasi yang dihadapi tetapi sulit diukur secara objektif.

Kasus: Klien Tn. Sigit mengalami nyeri dada. Stimulus yang secara langsung pada
klien dinamakan fokal, yaitu kekurangan oksigen pada otot jantungnya. Stimulus
kontekstual meliputi: suhu 40o C, sensasi nyeri, penurunan berat badan, kadar gula
darah, dan derajat kerusakan arteri. Stimulus residual meliputi riwayat merokok dan
stres yang dialaminya.

Tindakan keperawatan yang diberikan adalah meningkatkan respons adaptasi pada situasi
sehat dan sakit. Tindakan tersebut dilaksanakan oleh perawat dalam memanipulasi stimulus
fokal, kontekstual, atau residual pada individu. Dengan memanipulasi semua stimulus
tersebut, diharapkan individu akan berada pada zona adaptasi. Jika memungkinkan,
stimulus fokal yang dapat mewakili semua stimulus harus dirangsang dengan baik.
Misalnya klien dengan nyeri dada, stimulus fokalnya adalah ketidakseimbangan antara
kebutuhan oksigen tubuh dan persediaan oksigen yang dapat disediakan oleh jantung.
Untuk mengubah stimulus fokal, perawat perlu memanipulasi stimulus kebutuhan
agar respons adaptif dapat terpenuhi. Jika stimulus fokal tidak dapat diubah, perawat
harus meningkatkan respons adaptif dengan memanipulasi stimulus kontekstual dan
residual.
Perawat perlu mengantisipasi bahwa klien mempunyai risiko adanya ketidakefektifan
respons pada situasi tertentu. Oleh karena itu perawat harus mempersiapkan individu
untuk mengantisipasi perubahan melalui penguatan mekanisme kognator, regulator,
atau koping yang lainnya. Tindakan keperawatan yang diberikan pada teori ini meliputi
mempertahankan respons yang adaptif dengan mendukung upaya klien secara kreatif
menggunakan mekanisme koping yang sesuai.
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 21

KONSEP SEHAT—SAKIT
Roy mendefinisikan sehat sebagai suatu kontinum dari meninggal sampai dengan tingkatan
tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam
upaya menjadikan dirinya terintegrasi secara keseluruhan, yaitu fisik, mental, dan sosial.
Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi
tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi.
Sakit adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk beradaptasi terhadap
rangsangan yang berasal dari dalam dan luar individu. Kondisi sehat dan sakit sangat
relatif dipersepsikan oleh individu. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping)
bergantung pada latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan
sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya, dan lain-lain.

KONSEP LINGKUNGAN
Stimulus dari individu dan stimulus sekitarnya merupakan unsur penting dalam
lingkungan. Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari
internal dan eksternal, yang memengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan
perilaku seseorang dan kelompok. Lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi,
ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman.
Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu
(berupa pengalaman, kemampuan emosional, kepribadian) dan proses stresor biologis
(sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu. Manifestasi yang tampak
akan tercermin dari perilaku individu sebagai suatu respons. Pemahaman klien yang baik
tentang lingkungan akan membantu perawat meningkatkan adaptasi klien tersebut dalam
merubah dan mengurangi risiko akibat dari lingkungan sekitarnya.

APLIKASI PADA ASUHAN KEPERAWATAN:


PROSES KEPERAWATAN
Model ilmu keperawatan dari adaptasi Roy memberikan pedoman kepada perawat
dalam mengembangkan asuhan keperawatan melalui proses keperawatan. Unsur proses
keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, dan
evaluasi seperti yang digambarkan berikut ini (Nursalam, 2008a):

Pengkajian
Intervensi
Diagnosis

Perencanaan

Pelaksanaan

Evaluasi

Gambar 2.2 Diagram hubungan antara tahap proses keperawatan (Nursalam, 2001).
22 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

a.  Pengkajian
Pengkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku klien sebagai suatu sistem
adaptif yang berhubungan dengan masing-masing model adaptasi: fisiologis, konsep diri,
fungsi peran, dan ketergantungan. Oleh karena itu, pengkajian pertama diartikan sebagai
pengkajian perilaku, yaitu pengkajian klien terhadap masing-masing model adaptasi secara
sistematik dan holistik. Pelaksanaan pengkajian dan pencatatan pada empat model adaptif
tersebut akan memberikan gambaran keadaan klien kepada tim kesehatan lainnya.
Setelah pengkajian pertama, perawat menganalisa pola perubahan perilaku klien
tentang ketidakefektifan respons atau respons adaptif yang memerlukan dukungan
perawat. Jika ditemukan ketidakefektifan respons (maladaptif), perawat melaksanakan
pengkajian tahap kedua. Pada tahap ini, perawat mengumpulkan data tentang stimulus
fokal, kontekstual, dan residual yang berdampak terhadap klien. Proses ini bertujuan
untuk mengklarifikasi penyebab dari masalah dan mengidentifikasi faktor kontekstual
dan residual yang sesuai. Menurut Martinez, faktor yang memengaruhi respons adaptif
meliputi genetik; jenis kelamin, tahap perkembangan, obat-obatan, alkohol, merokok,
konsep diri, fungsi peran, ketergantungan, dan pola interaksi sosial; mekanisme koping
dan gaya; stres fisik dan emosi; budaya; serta lingkungan fisik.

b.  Perumusan Diagnosis Keperawatan


Diagnosis keperawatan adalah respons individu terhadap rangsangan yang timbul dari
diri sendiri maupun luar (lingkungan). Sifat diagnosis keperawatan adalah (1) berorientasi
pada kebutuhan dasar manusia; (2) menggambarkan respons individu terhadap proses,
kondisi dan situasi sakit; dan (3) berubah bila respons individu juga berubah (Nursalam,
2001). Unsur dalam diagnosis keperawatan meliputi problem/respons (P); etiologi (E);
dan signs/symptom (S), dengan rumus diagnosis = P + E + S. Diagnosis keperawatan dan
diagnosis medis mempunyai beberapa perbedaan, sebagaimana tersebut pada tabel di
bawah ini:

Tabel 2.2  Perbedaan diagnosis medis dan keperawatan

DIAGNOSIS MEDIS DIAGNOSIS KEPERAWATAN


1. Fokus: faktor-faktor pengobatan penyakit 1. Fokus: respons klien, tindakan medis, dan
faktor lain
2. Orientasi: keadaan patologis 2. Orientasi: kebutuhan dasar manusia (KDM)
3. Cenderung tetap mulai masuk sampai pulang 3. Berubah sesuai perubahan respons klien
4. Mengarah tindakan medis (pengobatan) yang 4. Mengarah pada fungsi mandiri perawat
sebagian dilimpahkan kepada perawat
5. Diagnosis medis melengkapi diagnosis 5. Diagnosis keperawatan melengkapi diagnosis
keperawatan medis

Roy mendefinisikan tiga metode untuk menyusun diagnosis keperawatan:

(1) Menggunakan tipologi diagnosis yang dikembangkan oleh Roy dan berhubungan
dengan 4 model adaptasi (tabel masalah gangguan adaptasi). Dalam mengaplikasikan
metode diagnosis ini, diagnosis pada kasus Tn. Sigit adalah “hipoksia”.
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 23

Tabel 2.3  Kriteria standar intervensi keperawatan menurut teori adaptasi (Nursalam, 2002)

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN FISIOLOGIS

1. Memenuhi kebutuhan oksigen


Kriteria:
a. Menyiapkan tabung oksigen dan flowmeter
b. Menyiapkan homidifier berisi air
c. Menyiapkan selang nasal/masker
d. Memberikan penjelasan kepada klien
e. Mengatur posisi klien
f. Memasang slang nasal/masker
g. Memerhatikan reaksi klien

2. Memenuhi kebutuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit


Kriteria:
a. Menyiapkan peralatan dalam dressing car
b. Menyiapkan cairan infus/makanan/darah
c. Memberikan penjelasan pada klien
d. Mencocokkan jenis cairan/darah/diet makanan
e. Mengatur posisi klien
f. Melakukan pemasangan infus/darah/makanan
g. Mengobservasi reaksi klien

3. Memenuhi kebutuhan eliminasi


Kriteria:
a. Menyiapkan alat pemberian huknah/gliserin/dulkolac dan peralatan pemasangan
kateter
b. Memerhatikan suhu cairan/ukuran kateter
c. Menutup pintu dan memasang selimut
d. Mengobservasi keadaan feses/urine
e. Mengobservasi reaksi klien

4. Memenuhi kebutuhan aktivitas dan istirahat/tidur


Kriteria:
a. Melakukan latihan gerak pada klien tidak sadar
b. Melakukan mobilisasi pada klien pascaoperasi

5. Memenuhi kebutuhan integritas kulit (kebersihan dan kenyamanan fisik)


Kriteria:
a. Memandikan klien yang tidak sadar/kondisinya lemah
b. Mengganti alat-alat tenun sesuai kebutuhan/kotor
c. Merapikan alat-alat klien

6. Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis


Kriteria:
a. Mengobservasi tanda-tanda vital sesuai kebutuhan
b. Melakukan tes alergi pada pemberian obat baru
c. Mengobservasi reaksi klien

(2) Menggunakan pernyataan dari perilaku yang tampak dan berpengaruh terhadap
stimulusnya. Dengan menggunakan metode diagnosis ini maka diagnosisnya adalah
“nyeri dada disebabkan oleh kekurangan oksigen pada otot jantung berhubungan
dengan cuaca lingkungan yang panas.”
24 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan

Tabel 2.3
Kriteria standar intervensi keperawatan menurut teori adaptasi (Nursalam, 2002), (lanjutan).

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN KONSEP DIRI (PSIKIS)

Memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual


Kriteria:
1. Melaksanakan orientasi pada klien baru
2. Memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
3. Memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana
4. Memerhatikan setiap keluhan klien
5. Memotivasi klien untuk berdoa
6. Membantu klien beribadah
7. Memerhatikan pesan-pesan klien

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN PERAN (SOSIAL)

1. Meyakinkan klien bahwa dia adalah tetap sebagai individu yang berguna bagi kelu-
arga dan masyarakat
2. Mendukung upaya kegiatan atau kreativitas klien
3. Melibatkan klien dalam setiap kegiatan terutama dalam pengobatan pada dirinya
4. Melibatkan klien dalam setiap mengambil keputusan menyangkut diri klien
5. Bersifat terbuka dan komunikatif kepada klien
6. Mengizinkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
7. Perawat dan keluarga selalu memberikan pujian atas sikap klien yang positif dalam
perawatan
8. Perawat dan keluarga selalu bersikap halus dan menerima jika ada sikap klien yang
negatif

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN INTERDEPENDENCE (KETERGANTUNGAN)

1. Membantu klien memenuhi kebutuhan makan dan minum


2. Membantu klien memenuhi kebutuhan eliminasi (urine dan alvi)
3. Membantu klien memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi)
4. Membantu klien berhias atau berdandan

(3) Berhubungan dengan stimulus yang sama. Misalnya jika seorang petani mengalami
nyeri dada saat ia bekerja di luar pada cuaca yang panas. Pada kasus ini, diagnosis yang
sesuai adalah “Kegagalan peran berhubungan dengan keterbatasan fisik (miokardial)
untuk bekerja saat cuaca yang panas”.

c. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah suatu perencanaan dengan tujuan merubah atau
memanipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Pelaksanaannya juga ditujukan
kepada kemampuan klien dalam menggunakan koping secara luas, supaya stimulus secara
keseluruhan dapat terjadi pada klien.
Tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai kondisi yang optimal dengan
menggunakan koping yang konstruktif. Tujuan jangka panjang harus dapat menggambarkan
Bab 2  •  Kajian Ilmu Keperawatan 25

penyelesaian masalah adaptif dan ketersediaan energi untuk memenuhi kebutuhan tersebut
(mempertahankan, pertumbuhan, dan reproduksi). Tujuan jangka pendek mengidentifikasi
harapan perilaku klien setelah manipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual.
Pengembangan kriteria standar intervensi keperawatan menurut adaptasi akan
digunakan oleh peneliti sebagai instrumen untuk mengukur kinerja perawat dalam
menerapkan teori adaptasi pada asuhan keperawatan anak.

d. Evaluasi
Penilaian terakhir proses keperawatan didasarkan pada tujuan keperawatan yang ditetapkan.
Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku
dari kriteria hasil yang telah ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada individu.

DAFTAR PUSTAKA
Adib, M. 2011. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Alligood, MR, & Tomey, AM, 2006, Nursing Theorists and Their Work, 7th ed. St. Louis,
Missouri: Mosby.
Chitty, K.K. 1997. Professional Nursing. Concepts & Challenges. 2nd ed. Philadelphia: W.B.
Saunders Company.
Nursalam & Kurniawati, ND. 2007. Asuhan Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV / AIDS.
Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional.
Jakarta: Salemba Medika.
. 2008a. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktis. Edisi 2.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika
. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Putera, S.T. 2010. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan
Unair.
Soeparmo HA. (1984) Struktur Keilmuan dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam. Surabaya:
Airlangga University Press.
26 Bagian 1: Tren Penelitian Keperawatan
Bagian 2
MASALAH PENELITIAN DAN
KERANGKA KONSEP

• Bab 3 Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan


Penelitian
Lampiran Contoh Rumusan Masalah
• Bab 4 Kerangka Konsep Hipotesis Penelitian
• Bab 5 Lingkup Masalah Penelitian Ilmu
Keperawatan
28 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep
Bab 3
Masalah, Rumusan Masalah,
dan Tujuan Penelitian

MASALAH
Masalah penelitian merupakan langkah awal yang harus dipikirkan dan disusun
berdasarkan suatu fakta empiris di lapangan. Pada tahap awal pelaksanaan penelitian,
kegiatan yang perlu dilakukan adalah memahami konsep masalah berdasarkan kajian
kepustakaan yang dapat dipercaya. Kegiatan tersebut meliputi berpikir, membaca teori,
dan review dengan teman sejawat dan pembimbing. Selama tahap ini, seorang peneliti
perlu memahami pelaksanaan deductive reasoning dan memilih topik yang diminati dari
hasil riset yang telah dilaksanakan orang lain.

TOPIK JUDUL

Fakta
Kesenjangan berdasar pada
MASALAH konsep masalah (K. I)
Harapan

Konsep yang digunakan dalam


paradigma penelitian/konsep
RUMUSAN
paradigma (konsep I atau II)
MASALAH
sebagai sumber variabel untuk
menjawab rumusan masalah

TUJUAN
PENELITIAN

MANFAAT

Gambar 3.1 Bagan alur pikir ilmiah sekonsep (Soeparto, Putra, Haryanto, 2000)
30 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Masalah penelitian adalah suatu kondisi yang memerlukan pemecahan atau alternatif
pemecahan. Baik buruknya suatu penelitian sangat ditentukan oleh masalah penelitian
(research problem) (Polit & Hungler, 1999). Masalah penelitian biasanya didapat dari topik
yang secara luas berhubungan dengan keperawatan. Mengingat dalam topik sudah terdapat
suatu masalah, maka dalam melakukan identifikasi masalah hendaknya tidak keluar dari
area masalah yang telah dicantumkan dalam topik. Masalah penelitian diupayakan yang
orisinil, mempunyai kontribusi terhadap perkembangan ilmu, urgensi dan baru.

Menyeleksi Masalah Riset Keperawatan


Saat memilih masalah penelitian keperawatan, peneliti dituntut untuk menguasai lingkup
masalah dan konsep keperawatan. Gambar berikut ini menjelaskan alur pikir tentang
langkah-langkah memilih masalah penelitian keperawatan.

NANDA P: Problem Proses Sumber: SYARAT:


(9 pola E: ? (Faktor/ Keperawatan: • klinik/ • F: Feasibility
perubahan Independen) Diagnosis komunitas • I: Interesting
S: Signs & keperawatan • literatur: • N: Novel
GORDON Symptoms buku/jurnal • E: Ethics
(11 pola fungsi • diskusi/ • R: Relevant
kesehatan) seminar

MASALAH DAN
RUMUSAN MASALAH

Pengembangan Kerangka
Konseptual
(Teori/Ilmu Keperawatan:
ROY; OREM; KING; dll)

Gambar 3.2 Penentuan masalah riset keperawatan (Nursalam, 2002 & Nursalam, 2008)

Keterangan:
Alur perumusan masalah penelitian keperawatan tersebut berdasar pada masalah-masalah
keperawatan yang berasal dari diagnosis keperawatan, yang terdiri atas rumus PES. P (problem)
adalah respons/masalah yang dirasakan oleh klien, baik fisik, psikis, maupun sosio-spiritual.
Dalam menentukan P, merujuklah pada masalah keperawatan yang dikemukakan oleh North
American Nurses Diagnosis (NANDA), sebagai acuan penentuan masalah keperawatan di
dunia. E (Etiology) adalah penyebab dari masalah, dapat berupa patofisiologi suatu penyakit,
situasi lingkungan atau tempat tinggal. S (Sign & Symptoms) adalah tanda dan gejala yang
biasanya memberikan kontribusi terhadap timbulnya masalah. Keterangan tersebut dapat
dianalogikan, bahwa PES dapat dipergunakan sebagai suatu variabel penelitian, yaitu P
sebagai variabel dependen; E sebagai variabel independen; dan S dapat berperan sebagai
variabel independen, dependen, moderator, atau variabel lainnya.
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 31

Sedangkan syarat masalah riset keperawatan, menurut Sastroasmoro dan Ismail


(1995), harus mengandung unsur = FINER

F = Bisa dijalankan (FEASIBLE)


• Tersedia subjek penelitian
• Tersedia dana
• Tersedia waktu, alat, dan keahlian
I = Menarik (INTERESTING)
• Masalah hendaknya menarik untuk diteliti
N = Hal baru (NOVEL)
• Membantah atau mengonfirmasikan penemuan terdahulu
• Melengkapi dan mengembangkan hasil penelitian terdahulu
• Menemukan sesuatu yang baru
E = Etika (ETHICAL)
• Tidak bertentangan dengan etika, khususnya etika keperawatan
R = Relevan (RELEVANT)
• Bermanfaat bagi perkembangan IPTEK
• Dapat digunakan untuk meningkatkan asuhan keperawatan dan kebijaksanaan
kesehatan
• Sebagai dasar penelitian selanjutnya

Contoh lingkup riset keperawatan terlampir (diambil dari hasil riset peneliti dan
mahasiswa)

Lingkup Masalah Penelitian Keperawatan


menurut Nursalam (2002)
Prioritas/lingkup riset keperawatan berdasarkan kelompok ilmu keperawatan
dikembangkan menjadi:

1. Prioritas kesehatan dan pencegahan penyakit pada masyarakat.


2. Pencegahan perilaku dan lingkungan yang berakibat buruk pada masalah kesehatan.
3. Menguji model praktik keperawatan di komunitas.
4. Menentukan efektivitas intervensi keperawatan pada infeksi HIV-AIDS.
5. Mengkaji pendekatan yang efektif pada gangguan perilaku.
6. Evaluasi intervensi keperawatan yang efektif pada penyakit kronis.
7. Identifikasi faktor-faktor bioperilaku yang berhubungan dengan kemampuan
koping.
8. Mendokumentasikan efektivitas pelayanan kesehatan/keperawatan.
9. Mengembangkan masalah dan metodologi riset pelayanan kesehatan/keperawatan.
10. Menentukan efektivitas biaya perawatan klien.

Kajian Masalah/Sumber Masalah Penelitian Keperawatan


Masalah riset bisa didapatkan dari berbagai sumber. Akan tetapi pemilihan sumber harus
selektif, aktif, dan imajinatif dalam penggunaannya.
32 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Praktik keperawatan
Praktik keperawatan harus berdasarkan pada ilmu yang diperoleh dari suatu hasil
penelitian, karena praktik tersebut sangat penting untuk mengetahui sumber permasalahan
(Polit & Back, 2012). Permasalahan atau topik riset dapat diperoleh dari observasi klinik
(perilaku klien dan keluarga dalam situasi krisis dan bagaimana perawat mengatasi masalah
tersebut; review status klien; proses keperawatan; dan prosedur atau tindakan perawatan
yang mungkin menimbulkan masalah atau pertanyaan dalam pelaksanaannya). Misalnya,
prosedur apakah yang bisa diberikan dalam perawatan mulut pada klien kanker mulut atau
klien dengan pemasangan endotrakeal? Tindakan efektif apakah yang dilakukan untuk
mengobati luka? Tindakan keperawatan apakah yang berhubungan dengan komunikasi
klien dengan stroke? Apakah dampak kunjungan rumah dan pelaksanaannya setelah klien
pulang dari rumah sakit?
Beberapa mahasiswa perawat dan perawat mengumpulkan suatu jurnal atau data
mengenai permasalahan yang berhubungan dengan pengalaman praktiknya (Burns &
Grove, 1999). Mereka mencatat pengalaman, ide, dan observasinya dalam melaksanakan
asuhan keperawatan. Analisis dalam hal tersebut sering kali membantu penyusunan suatu
pola dalam mengidentifikasi peran perawat. Mengapa pemberian asuhan keperawatan
pada emosional dan spiritual klien lebih sedikit dibandingkan dengan perawatan fisik?
Apakah anggota keluarga perlu dilibatkan atau tidak dalam pemberian asuhan keperawatan
kepada klien?

RUMUSAN MASALAH ATAU PERTANYAAN PENELITIAN


Burns dan Grove (1999) mengemukakan lima pertanyaan yang perlu dijawab sebelum
merumuskan masalah penelitian: (1) Apa yang salah atau yang perlu diperhatikan pada
situasi ini?; (2) Di mana letak kesenjangannya?; (3) Informasi apa yang dibutuhkan untuk
mencari masalah ini?; (4) Perlukah melakukan tindakan pelayanan di klinik?; dan (5)
Perubahan apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Sedangkan menurut Polit dan Hungler (1993) pertanyaan yang perlu dijawab sebelum
merumuskan masalah penelitian: (1) Apakah pertanyaan penelitian ini berhubungan
dengan teori atau praktik? (substansi); (2) Bagaimana pertanyaan akan bisa dijawab?
(metodologis); (3) Apakah tersedia sarana dan prasarana yang memadai (practical
dimensions); dan (4) Dapatkah pertanyaan ini dijelaskan secara konsisten yang berdasarkan
pada isu etik? (ethical dimensions).
Riset keperawatan terutama ditujukan pada masalah-masalah keperawatan di klinik
dan komunitas atau keluarga (misalnya, sesuai 11 pola fungsi kesehatan dari Gordon; 9
pola respons kesehatan dari NANDA; dan lain-lain); masalah keperawatan pada bidang
pendidikan; dan masalah pada sistem pelayanan kesehatan lain (Nursalam, 2008).
Pertanyaan suatu penelitian adalah suatu pernyataan yang singkat, jelas, dan
interogatif, yang ditulis dalam bentuk saat sekarang dan melibatkan satu atau lebih variabel.
Pertanyaan penelitian berguna untuk menjelaskan suatu variabel, menguji hubungan
antarvariabel, dan menentukan perbedaan antara dua atau lebih kelompok sehubungan
dengan variabel tertentu.
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 33

Contoh:
a. Bagaimana peran orang tua dalam perawatan tali pusat pada bayi baru lahir?
(deskriptif)
b. Adakah hubungan antara variabel x dan variabel y? (crossectional: asosiasi/
korelasi)
c. Adakah pengaruh pemberian terapi bermain pada anak prasekolah selama
masuk rumah sakit terhadap penerimaan selama tindakan invasif? (pengaruh–
experiment)

Faktor-faktor yang Mendasari Perumusan Masalah


Penyusunan rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada pemahaman yang
dimiliki peneliti tentang masalah yang ada dan berkembang saat itu. Hal-hal yang harus
diperhatikan oleh peneliti meliputi faktor-faktor tersebut di bawah ini;

a. Mendefinisikan permasalahan/topik (fakta empiris—induktif)


Seorang peneliti biasanya memulai pencarian topik secara umum, misalnya asuhan
keperawatan (askep) klien dengan nyeri, pola komunikasi keluarga pada perawatan
klien lanjut usia (lansia), atau asuhan keperawatan klien dengan inkontinensia urine?
Kemudian timbul suatu pertanyaan: Mengapa perlu dilakukan tindakan? Apa yang
akan terjadi seandainya diberikan tindakan? atau Ciri-ciri khas apakah yang ada
hubungannya dengan masalah tersebut?

b. Mulai mencari sumber kepustakaan (kajian teori—deduksi)


Kepustakaan dapat memberikan gambaran kepada seorang peneliti pemula
terhadap suatu topik yang diminati. Dengan melakukan kajian masalah, peneliti
akan mampu mengidentifikasi apa yang sudah diketahui dan belum diketahui pada
suatu topik. Perbedaan pendapat akan membantu penentuan permasalahan di masa
mendatang.
Teori merupakan sumber yang sangat penting dalam mendapatkan suatu
permasalahan karena disusun berdasarkan ide atau gambaran situasi sekarang
dan bersifat nyata serta telah dilakukan suatu pengujian mengenai kebenarannya.
Permasalahan/topik dapat disusun untuk menjelaskan tentang konsep, misalnya
teori perawatan diri dari Orem.
Replikasi meliputi suatu prosedur atau pengulangan riset untuk menentukan
apakah hasil penemuan akan sama atau berbeda. Beberapa peneliti melakukan
replikasi pada penelitiannya karena mereka setuju dengan penemuan tersebut dan
ingin menguji apa yang akan terjadi jika penelitian tersebut dilaksanakan pada desain,
tempat, dan subjek yang berbeda.
Berikut ini adalah contoh penyusunan rumusan masalah berdasarkan kajian
teori, dimulai adanya suatu ide/pendapat yang ada pada pikiran peneliti.

c. Interaksi antarteman sejawat atau anggota tim


Interaksi dengan peneliti atau anggota tim sangat bermanfaat untuk menentukan
permasalahan penelitian. Seorang peneliti yang berpengalaman memberikan
pengalamannya kepada pemula ataupun seorang dosen memberikan pengalaman
34 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

1 Kelompok ilmu keperawatan:


anak, maternitas, dll

2 Seleksi kasus:
G. E, natal, dll

3
Masalah keperawatan

Ide (masalah – empiris ) P–E


Keterlambatan pembukan KALA I pada wanita in partu

Brainstorming
Faktor apakah yang menyebabkan keterlambatan tersebut?

Kajian masalah (kepustakaan)


Berdasarkan literatur, terdapat lima faktor penyebab keterlambatan pembukaan Kala I pada
wanita in partu yang telah diidentifikasi sebagai suatu stresor. Faktor tersebut adalah kekuatan
mengejan (power), anatomi jalan lahir (passage), berat bayi (passenger), kejiwaan (psyche),
dan provider (?). Namun belum ada penelitian mengenai faktor-faktor tersebut, kecuali faktor
kejiwaan, khususnya pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan Kala I.

Identifikasi: potensial variabel


Kecemasan
Kekuatan mengejan
Usia ibu
Paritas (melahirkan dengan selamat)
Status sosial ekonomi
Tipe dukungan keluarga-suami
Stres psikologis
Waktu masuk rumah sakit

4 Rumusan masalah
Apakah ada pengaruh pendampingan suami terhadap
percepatan pembukaan KALA I persalinan?

5 Tujuan
Menjelaskan pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan
perubahan KALA I persalinan

6 Judul
Pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan pembukaan KALA I

Gambar 3.3 Alur perumusan masalah penelitian keperawatan (Nursalam, 2000)


Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 35

kepada mahasiswanya dalam menyeleksi dan menyusun suatu permasalahan. Jika


memungkinkan, seorang mahasiswa melakukan penelitian pada topik yang sama
dengan dosennya. Dosen dapat memberikan keahliannya berhubungan dengan
program penelitian dan mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuannya pada
topik tertentu (Polit & Back, 2012). Tipe hubungan ini bisa dikembangkan antara
ahli peneliti dengan perawat di rumah sakit ataupun klinik.

d. Layak dijabarkan (feasibility)


Kelayakan suatu penelitian untuk dilakukan ditentukan oleh berbagai pertimbangan,
yaitu (1) waktu; (2) dana; (3) keahlian peneliti; (4) tersedianya responsden; (5) fasilitas
dan alat; (6) kerja sama dengan tim lain; dan (7) pertimbangan etika (Nursalam,
2008).

1) Waktu
Suatu penelitian sering kali memerlukan waktu yang lebih lama dari yang telah
ditentukan, sehingga menjadi kendala bagi semua peneliti terutama peneliti pemula untuk
memperkirakan waktu yang diperlukan. Pertimbangan perkiraan penentuan waktu dapat
ditentukan oleh berbagai faktor:

a. Tipe responsden yang diperlukan


b. Jumlah dan kompleksnya variabel yang akan digunakan
c. Metode pengukuran variabel (apakah instrumen sudah tersedia ataukah harus
mengembangkan sendiri)
d. Metode pengumpulan data
e. Proses analisis data

Seorang peneliti sering memperkirakan waktu yang diperlukan tiap selesainya tahap
proses penelitian.

2) Dana
Perumusan masalah dan tujuan yang dipilih sangat dipengaruhi oleh alokasi dana yang
tersedia. Potensial sumber dana harus dipertimbangkan pada saat penyusunan masalah
atau tujuan. Untuk memperkirakan dana yang diperlukan, beberapa pertanyaan berikut
ini perlu dipertimbangkan:

a. Literatur: Apakah akan diperlukan komputer, fotokopi artikel, atau pembelian


buku?
b. Subjek: Apakah subjek/responsden perlu diberi biaya dalam partisipasinya?
c. Peralatan: Alat-alat apakah yang diperlukan untuk penelitian? Apakah alat-alat
tersebut bisa diperoleh dengan cara meminjam, menyewa, membeli, ataukah
disediakan oleh donatur? Apakah bisa menggunakan alat-alat yang tersedia,
ataukah perlu membangun/membuat sendiri? Berapakah biaya untuk pengukuran
instrumen?
d. Personel: Apakah asisten/konsultan perlu diberikan biaya pengetikan dan analisis
data?
e. Komputer: Apakah pemakaian komputer diperlukan saat menganalisis data? Jika ya,
berapa biaya yang diperlukan?
36 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

f. Transportasi: Berapa biaya transportasi untuk melakukan penelitian dan menyajikan


hasil?
g. Pendukung: Apakah akan diperlukan alat-alat seperti amplop, prangko, pena, kertas,
dan fotokopi? Apakah perlu biaya telpon untuk jarak jauh (interlokal)?

3) Keahlian peneliti
Permasalahan/topik dan tujuan penelitian harus diseleksi berdasarkan kemampuan peneliti.
Hal ini biasanya menuntut seorang peneliti untuk memahami suatu proses penelitian baru
kemudian melakukan penelitian berdasarkan pengalamannya. Memilih permasalahan
yang sulit dan kompleks akan mengakibatkan frustrasi bagi peneliti pemula.

4) Ketersediaan Responsden
Dalam menentukan suatu tujuan penelitian, yang perlu dipertimbangkan adalah tipe dan
jumlah responsden yang diperlukan. Sampel biasanya sulit jika penelitian meliputi populasi
yang unik dan jarang. Misalnya quadriplegic yang hidup sendirian. Semakin spesifik suatu
populasi, semakin sulit mendapatkannya. Dana dan waktu yang tersedia akan berakibat
terhadap responsden yang dipilih. Dengan keterbatasan waktu dan dana, seorang peneliti
perlu menentukan responsden yang tersedia yang tidak memerlukan biaya (upah).

5) Ketersediaan fasilitas dan peralatan


Peneliti perlu mempertimbangkan apakah riset memerlukan fasilitas tertentu. Apakah
ruangan khusus diperlukan untuk program pendidikan, wawancara, atau observasi? Jika
riset dilaksanakan di rumah sakit, klinik, atau sekolah perawat, apakah diperlukan seorang
agen? Tindakan atau tes di laboratorium akan sangat mahal dan mungkin membutuhkan
dana dari sumber lain. Riset perawatan biasanya dilaksanakan di rumah sakit, klinik,
rumah klien, dan tempat lainnya.

6) Kerja sama dengan tim lain


Suatu penelitian tidak akan dapat berjalan dengan lancar tanpa kerja sama dengan tim
yang lain. Hampir semua riset keperawatan melibatkan subjek manusia dan dilaksanakan
di rumah sakit, klinik, sekolah perawat, kantor, atau rumah. Adanya hubungan yang baik
dengan individu di tempat penelitian akan sangat membantu. Orang sering berharap
dapat terlibat dalam suatu penelitian jika permasalahan dan tujuan penelitian ada
hubungannya dengan permasalahan yang ada atau mereka tertarik secara individu terhadap
permasalahannya. Misalnya seorang perawat di rumah sakit mungkin tertarik dengan
penelitian yang ada hubungannya dengan efektivitas penggunaan biaya institusi terhadap
program kesejahteraan perawat.

7) Pertimbangan etika
Tujuan suatu penelitian harus etis, dalam arti hak responsden dan yang lainnya dilindungi.
Jika suatu tujuan penelitian akan berakibat jelek terhadap hak reponden, maka penelitian
tersebut harus dievaluasi ulang dan mungkin harus dihindari.

MENYUSUN RUMUSAN DAN TUJUAN PENELITIAN


Tujuan penelitian diperoleh dari rumusan masalah penelitian yang telah ditetapkan
sebagai indikator terhadap hasil yang diharapkan. Tujuan dari penelitian berguna untuk
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 37

mengidentifikasi, menjelaskan, mempelajari, membuktikan, mengkaji, dan memprediksi


alternatif pemecahan masalah terhadap masalah penelitian. Tujuan tersebut biasanya
menandakan tipe dari riset, misalnya deskriptif: studi kasus, cross sectional, kohort, case
control dab experiment: trust-experiment, quasy-experiment, dab praexperiment. Dengan
adanya tujuan tersebut akan mempermudah untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Tujuan penelitian, pertanyaan penelitian (rumusan masalah), dan hipotesis disusun
untuk menjembatani kesenjangan antara permasalahan penelitian yang masih abstrak.
Kejelasan dari objektivitas biasanya difokuskan pada satu atau dua variabel. Kadang-
kadang fokusnya untuk mengidentifikasi suatu hubungan diantara dua atau lebih variabel
atau untuk menentukan perbedaan di antara dua kelompok dari suatu variabel (Polit &
Back, 2012).
Tujuan penelitian harus jelas, ringkas, dan berupa pernyataan yang deklaratif, yang
biasanya dituliskan dalam bentuk kalimat aktif. Agar tujuan menjadi jelas, biasanya tujuan
penelitian difokuskan pada satu atau dua variabel dan mengidentifikasi apakah variabel
perlu dijabarkan lebih lanjut. Fokus tersebut bisa dalam bentuk identifikasi hubungan atau
asosiasi di antara variabel atau untuk menentukan perbedaan di antara dua kelompok
dengan variabel.

Agar lebih jelas, cermati contoh berikut ini.

Rumus Penulisan Tujuan Penelitian

Bloom + Tujuan Penelitian + Variabel-variabel


C2-C6 Contoh
Contoh Gambaran/deskripsi
Menjelaskan Perbedaan
Mengidentifikasikan Hubungan
Menganalisis Pengaruh/dampak
Membuktikan Sebab akibat
(diupayakan
tidak menggunakan mengetahui)

(1) Mengidentifikasi karakteristik variabel X (identification).


(2) Menjelaskan keberadaan variabel X (description).
(3) Menentukan atau mengidentifikasi hubungan antara variabel X dengan variabel Y
(relational).
(4) Menentukan perbedaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sehubungan dengan
variabel X (differences).

•  Masalah/kajian masalah
Dari hasil studi yang dilakukan peneliti pada 15 orang mahasiswa reguler Program Profesi
Ners Fakultas Keperawatan pada tanggal 2 – 9 Maret 2013 dapat diketahui bahwa pada
dimensi kelelahan emosional, 26,7% mahasiswa mengalami kelelahan emosional ditingkat
rendah, 40% menengah dan 33,3% pada rentang berat. Dimensi yang kedua depersonalisasi,
86,7% mahasiswa mengalami depersonalisasi di tingkat rendah dan sekitar 13,3% di tingkat
menengah. Kemudian dimensi penurunan prestasi diri, 33,3% mengalami penurunan
prestasi diri di tingkat rendah, 46,7% menengah dan 20% mengalami penurunan prestasi
diri tingkat berat. Hal ini didukung dengan data penelitian sebelumnya oleh Irawati
38 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

(2012) yang menyebutkan bahwa mahasiswa regular angkatan genap 2011/2012 program
profesi Ners Fakultas Keperawatan dari jumlah 63 orang responsden penelitian terdapat
61,9% mahasiswa mengalami kelelahan emosional di level sedang. 60,3% mengalami
depersonalisasi tingkat menengah dan 71,4% mengalami penurunan prestasi level
rendah.

Rumusan Masalah
1. Apakah ada hubungan antara sumber stres (stresor) personal terhadap burnout
syndrome yang dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?
2. Apakah ada hubungan antara sumber stres (stresor) lingkungan terhadap burnout
syndrome yang dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?
3. Apakah ada hubungan antara relational meaning terhadap burnout syndrome yang
dialami oleh mahasiswa regular program Profesi Ners?
4. Apakah ada hubungan antara coping strategy terhadap burnout syndrome yang dialami
oleh mahasiswa reguler Program Profesi Ners?

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Menganalisis hubungan antara sumber stres (stresor): personal dan lingkungan, relational
meaning dan coping strategy terhadap kejadian burnout syndrome pada mahasiswa reguler
Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman dan konsep
Maslach Burnout Inventory.

Tujuan Khusus

1. Menganalisis hubungan sumber stres (stresor) personal dengan burnout syndrome


pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory
Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory
2. Menganalisis hubungan sumber stres (stresor) lingkungan dengan burnout syndrome
pada mahasiswa reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory
Lazarus & Folkman dan Konsep Maslach Burnout Inventory
3. Menganalisis hubungan relational meaning dengan burnout syndrome pada mahasiswa
reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman
dan Konsep Maslach Burnout Inventory
4. Menganalisis hubungan coping strategy dengan burnout syndrome pada mahasiswa
reguler Program Profesi Ners berdasarkan Transactional Theory Lazarus & Folkman
dan Konsep Maslach Burnout Inventory.
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 39

Lampiran

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan


Penelitian Keperawatan
Penelitian Judul Penelitian Masalah dan Rumusan Masalah (Pertanyaan Penelitian)
Maternitas Pengaruh • Masalah
(Penelitian dasar) pendampingan suami Keterlambatan pembukaan pada KALA I sering ditemukan pada
terhadap percepatan proses persalinan. Percepatan KALA I merupakan unsur utama
pembukaan KALA I dalam proses persalinan pada ibu in partu. Keterlambatan
persalinan dalam pembukaan merupakan ancaman bagi nyawa ibu
(Quasy eksperimental di maupun bayinya. Wanita yang mengalami keterlambatan
RS Adi Husada) pembukaan pada KALA I berdampak juga terhadap
Peneliti: psikologisnya. Penyebab dari keterlambatan dipengaruhi oleh
1. Nursalam, M.Nurs banyak faktor. Faktor yang penting adalah kecemasan dan
(Honours). kurangnya rasa nyaman klien (nyeri) karena tidak ditunggui
2. Sumiati, S. Kep. oleh keluarganya khususnya suaminya. Pendampingan saja
ternyata tidak cukup, tetapi peran suami saat mendampingi
merupakan kunci sukses yang utama. Beberapa sumber
telah menetapkan bahwa kehadiran suami berpengaruh
terhadap percepatan KALA I, tetapi di Indonesia belum pernah
dilaksanakan penelitian bagaimana pendampingan yang efektif
dapat mempercepat pembukaan persalinan pada KALA I.
• Rumusan masalah/pertanyaan penelitian
Adakah pengaruh pendampingan suami terhadap percepatan
pembukaan pada KALA I?

Maternitas Motivasi ibu untuk tetap • Masalah


(Kajian wanita) menyusui pada saat Sebagian ibu sering berhenti menyusui bayinya karena nyeri
nyeri pascasalin (studi saat menyusui pascasalin, tetapi ibu yang lain tetap menyusui
cross-sectional di RSUD meskipun nyeri yang dirasakan terasa berat. Nyeri saat
DR. Soetomo) menyusui pada ibu setelah melahirkan merupakan masalah
Peneliti: utama yang perlu mendapatkan perhatian serius. Keadaan
1. Nursalam, M.Nurs tersebut akan berdampak terhadap kesehatan ibu dan bayinya,
(Honours). ibu-ibu akan mengalami gangguan proses fisiologis setelah
2. Nurhikmah, SST. melahirkan dan hal ini berdampak terhadap kesehatan bayinya.
Bayi akan menjadi mudah terkena penyakit karena penurunan
kekebalan dan masalah-masalah lain berupa pertumbuhan dan
perkembangan.
Belum ada data-data yang pasti tentang faktor apa saja yang
berpengaruh secara signifikan dalam mendorong ibu-ibu untuk
tetap menyusui bayinya pada saat “afterpain” pascasalin.
Faktor paritas menurut Soetjiningsih (1997) sebagai faktor
pendorong utama, yaitu ibu-ibu yang baru mempunyai anak
pertama akan tetap menyusui bayinya. Hal ini dilakukan
sebagai bukti kasih sayang ibu dan rasa tanggung jawab
wanita terhadap perkembangan anaknya. Wanita sering
diposisikan sebagai orang yang paling bertanggung jawab dan
disalahkan apabila tidak bisa menyusui bayinya, di lain pihak
mereka tidak tahan terhadap nyeri yang dirasakan. Di satu
sisi masih ditemukan suami melarang istrinya untuk menyusui
karena alasan feminisme dan kebutuhan seksual belaka.
Sedangkan faktor-faktor lain seperti pengetahuan, sikap, sosial
ekonomi, dan dukungan keluarga belum pernah dikaji.
• Pertanyaan penelitian
1. Faktor-faktor apakah yang mendorong ibu untuk tetap
menyusui saat afterpain?
2. Bagaimanakah dukungan keluarga dalam meningkatkan
motivasi untuk tetap menyusui?
3. Bagaimanakah efektivitas pelaksanaan menyusui pada ibu
pascasalin?
40 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan


Maternitas Sindroma klimaktorium pada • Masalah
(kajian wanita) wanita menopause Wanita sering mengalami distres psikologis dalam
(Studi eksploratif di Pamekasan— berumah tangga karena adanya sindroma klimaktorium.
Madura) Sindroma yang dialaminya berdampak terhadap
Peneliti: gangguan-gangguan psikis berupa ketidakharmonisan
1. Nursalam, M.Nurs (Honours). rumah tangga akibat tidak terpenuhinya kebutuhan
2. Adi Sutrisni SST. seksual suami, gangguan interaksi sosial, gangguan
konsep diri, dan lain-lain. Sedangkan gangguan
fisik meliputi gangguan pada kulit, produksi hormon
kewanitaan, pencernaan, jantung, dan perkemihan.
Gangguan tersebut telah dijabarkan oleh Manuaba dan
Prayitno (1997). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
sindroma adalah (1) sosial budaya, (2) faktor keluarga,
(3) persepsi dan pengetahuan wanita atau suami
yang salah. Tetapi, belum pernah dilakukan penelitian
mengenai faktor-faktor apakah yang paling berpengaruh
terhadap sindroma klimaktorium tersebut. Masalah
tersebut sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.
• Pertanyaan penelitian
1. Bagaimanakah perilaku pengetahuan dan sikap
wanita tentang sindoma klimaktorium?
2. Faktor-faktor apakah yang paling berpengaruh
terhadap sindroma klimaktorium?

Gerontik Pengaruh senam “Kegel” • Masalah


(penelitian terhadap pemenuhan kebutuhan Lansia ditemukan sering mengalami gangguan dalam
dasar) eliminasi urine klien lansia pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. Keadaan ini
yang tinggal di panti (pra- akan bertambah buruk apabila lansia kurang atau tidak
eksperimental) melakukan latihan yang dapat menyebabkan penurunan
Peneliti: tonus otot kandung kemih, peningkatan stasis urine
1. Nursalam, M.Nurs (Honours). pada ginjal dan peningkatan risiko terjadinya batu ginjal.
2. I Ketut Dira, S.Kep. Lansia sering mengompol di celana dan terganggu
tidurnya karena sering terasa mau kencing. Keadaan
ini cenderung tidak dilaporkan karena lansia merasa
malu dan menganggap tidak ada yang dapat diperbuat
untuk menolongnya. Penelitian-penelitian tentang peran
perawat dalam mengatasi pemenuhan kebutuhan
eliminasi di luar negeri masih jarang ditemukan, demikian
juga di Indonesia. Hasil penelitian yang dilaksanakan
oleh Wayan Suardana hanya menyebutkan bahwa senam
Tera dapat membantu mengurangi keluhan sakit pada
lansia secara umum.
• Pertanyaan Penelitian
Apakah ada pengaruh pemberian latihan atau senam
kegel terhadap pemenuhan kebutuhan eliminasi urine
(beser) pada lansia?
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 41

Rumusan Masalah: Masalah dan Pertanyaan Penelitian Keperawatan


Medikal bedah Peran serta keluarga • Masalah
(penelitian dasar) pada rehabilitasi fisik klien Keluarga belum berperan secara optimal dalam
pascastroke dalam upaya melakukan rehabilitasi fisik pada klien pascaserangan
mencegah kecacatan dan stroke di rumah. Peran tersebut khususnya dalam
kekambuhan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan
(Studi eksploratif di ruang perawatan diri: makan-minum; berdandan-berpakaian;
saraf RSUD Dr. Soetomo mandi dan kebutuhan eliminasi; serta risiko terjadinya
Surabaya) “dekubitus: karena imobilisasi yang lama; pneumonia
Peneliti: akibat penumpukan sekret, dan gangguan-gangguan
1. Nursalam, M.Nurs organ tubuh lainnya. Keadaan tersebut akan berakibat
(Honours). terhadap suatu kondisi yang sangat fatal apabila
2. Ah. Yusuf, S.Kp. perawat dan khususnya keluarga tidak berperan serta
3. Yoseph Tueng, SST. dalam melakukan aktivitas fisik berupa rehabilitasi
baik selama klien dirawat di rumah sakit maupun di
rumah. Menurut Carpenito (2000: 240) gangguan
aktivitas tersebut harus ditangani untuk pemulihan atau
pencegahan penurunan fungsi yang berkelanjutan.
Upaya rehabilitasi dapat berupa suatu latihan pasif
dan aktif dengan bantuan yang dimulai sejak klien
dirawat di rumah sakit sampai pulang. Roper (1996:
43) menekankan bahwa keterlibatan keluarga sebagai
anggota tim rehabilitasi mutlak diperlukan, mengingat
rehabilitasi tersebut memerlukan waktu yang sangat
lama. Sering ditemukan klien stroke yang dirawat
di rumah mengalami dekubitus pada stadium yang
paling parah. Keadaan tersebut tidak akan terjadi
kalau keluarga mengerti dan ikut terlibat aktif dalam
melakukan aktivitas fisik. Di Indonesia belum pernah
dilakukan pengkajian bagaimanakah efektivitas peran
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan rehabilitasi fisik
khususnya selama klien dirawat di rumah sakit maupun
setelah pulang.
• Pertanyaan penelitian
1. Faktor-faktor apakah yang berhubungan
terhadap peran serta keluarga dalam melakukan
rehabilitasi pada klien pascaserangan stroke di
rumah?
2. Bagaimanakah peran keluarga dalam
pelaksanaan rehabilitasi pada klien stroke?
42 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Contoh: Penelusuran Masalah/Topik Penelitian

Oleh: S-N-S
NIM. 131111161 (B14)

1. Bidang Keahlian: Keperawatan Gerontik


2. Kasus: Activity Daily Living (ADL) Lansia
3. Kajian Masalah:

F-1

a. Empat puluh lima (45 %) lansia (< 65 th) mengalami kemunduran ADL seiring
pertambahan usia.
b. Kemunduran ADL dan ketergantungan lansia pada orang lain menjadi pemicu adanya
gangguan psikologis dan faktor pencetus terjadinya depresi pada lansia (Hawari,
2007).
c. Dengan kondisi yang sehat para lansia dapat melakukan aktivitas apa saja tanpa
meminta bantuan orang lain, atau sesedikit mungkin tergantung kepada orang lain.
(Suhartini, 2004).
d. Dengan menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial, seseorang
dapat memilih masa tua yang lebih membahagiakan, terhindar dari masalah
kesehatan. (Astuti, 2007).
e. Apabila ketergantungan tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan beberapa
akibat seperti gangguan sistem tubuh, timbulnya penyakit, menurunnya Activity
of Daily Living (ADL). Penurunan Activity of Daily Living (ADL) disebabkan oleh
persendian yang kaku, pergerakan yang terbatas, waktu bereaksi yang lambat,
keseimbangan tubuh yang jelek, gangguan peredaran darah, keadaan yang tidak
stabil bila berjalan, gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran (Setiabudi
dan Hardywinoto, 1999).
f. Permasalahan yang berkaitan dengan lansia antara lain, pengaruh proses menua dapat
menimbulkan masalah secara fisik karena semakin lanjut usia seseorang, maka akan
mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik. Selain kemunduran
kemampuan fisik juga mengakibatkan penurunan pada peranan – peranan sosialnya
(Nugroho, 2000).

F-2
a. Olahraga usia lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan, antara lain beban
kerja ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik dan atau kalistenik,
tidak kompetitif atau bertanding. (Bandiyah, 2009)
b. Senam lansia adalah senam dengan gerakan ringan, dilakukan secara
berkesinambungan, dan lazimnya disarankan untuk usia 40 tahun ke atas. (Ismawati,
2010)
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 43

c. Prinsip olahraga usia lanjut sama dengan prinsip olahraga pada umumnya, yang
membedakan adalah berkaitan dengan reaksi tubuh yang relative lebih lamban,
oleh karena itu, maka jangka waktu dan beban latihan harus disesuaikan (kusmana,
2002)
d. Faktor yang murni milik lanjut usia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh
adalah muskuloskeletal. Senam lansia ditujukan untuk penguatan, daya tahan, dan
kelenturan tulang dan sendi, sehingga sistem muskuloskeletal yang menurun dapat
diperbaiki. Selain itu senam lansia bermanfaat untuk memelihara kebugaran jantung
dan paru (Reuben, 1996).

Spider Web

SPIDER WEB ADL pada Lansia

? KEBERSIHAN?

AKTIVITAS MAKAN DAN


MINUM ?
? ? AKTIVITAS-
JENIS (SENAM
DM, JALAN
KAKI, DLL)
ADL

?
DE PE ?
? GE NY
NE AKI P RE
SI
RA T DE
TI
F
Tema Utama
LANSIA
AL
SI
SO

? ?
? ? ?
?
?
44 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Keaslian Penulisan
Penelitian tentang Senam lansia dan Activity Daily Living / Aktivitas Kehidupan Sehari-
hari telah beberapa kali dilakukan, sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

No Judul Karya Ilmiah& Penulis Variabel Jenis Penelitian Hasil


1 Hubungan Senam Lansia -senam lansia kuantitatif Ada hubungan signifikan
dengan Kebugaran Lansia - vital sign lansia antara senam lansia
(Palestin, 2006) dengan tingkat kebugaran
lansia
2. Pengaruh Senam Aerobik -Latihan Senam Aerobik Kuantitatif Pra Senam Aerobik memiliki
terhadap Peningkatan - Peningkatan Kebugaran eksperimental pengaruh yang signifikan
Kebugaran Wanita Menopause pada peningkatan
(Hartini, 2007) kebugaran (stabilisasi
nadi, RR, tekanan darah &
menopause syndrome)
3. Pengaruh Senam Lansia - Senam Lansia Observational Ada Hubungan Senam
terhadap Kebugaran Jasmani - Kebugaran (stabilisasi rancangan analitik Lansia dengan kebugaran
pada Lansia (Rochman, 2009) nadi, RR, tekanan darah) jasmani
4. Manfaat Senam terhadap - Senam Tera Kuantitatif pra Senam Tera berpengaruh
Kebugaran Lansia (Kartinah, - Kebugaran eksperimental dalam menstabilkan kadar
2008) immunoglobulin
5. Perbedaan Pengaruh Senam Senam Otak Quasi eksperimen Senam otak dan senam
Otak dan Senam Lansia Senam Lansia lansia memberikan hasil
terhadap Keseimbangan pada Keseimbangan yang positif terhadap
Orang Lanjut Usia (Herawati, keseimbangan Lansia
2008)
6. Hubungan karakteristik personal Inferestial analitik karakteristik personal
antara Karakteristik Personal kemandirian dalam eksperimen memiliki hubungan
dengan Kemandirian dalam Activiy of Daily yang signifikan dengan
Activiy of Daily Living kemandirian dalam Activiy
Living (ADL) pada Lansia (Fathur, of Daily
2007) Living (ADL)
7. Hubungan Tingkat Depresi Deskriptif analitik ada hubungan yang
Antara Tingkat Depresi Dengan Dengan Kemampuan kolerasi signifikan dengan
Kemampuan Aktivitas Dasar Aktivitas Dasar Sehari- interpretasi
Sehari-Hari Hari korelasi negatif antara
Pada Lansia (Firmannulah, 2010) tingkat depresi dengan
kemampuan aktivitas
seharihari
pada lanjut usia
8. Pengaruh Pemberian Penyuluhan Deskriptif dengan penyuluhan kesehatan
Pemberian Penyuluhan Kesehatan pendekatan dapat meningkatkan
Kesehatan Terhadap Perubahan Perubahan Pengetahuan eksperimen pengetahuan lansia
Pengetahuan dan Activity of Daily Living korelasional tentang ADL
Sikap Tentang Activity of Daily Sikap Activity of Daily
Living (ADL) pada lansia Living
(Setyowati, 2009)
9. Pengaruh Pembelajaran - Pembelajaran Kuantitatif Pre Pembelajaran Terbimbing
Terbimbing terhadap Tingkat Terbimbing Eksperimental memiliki pengaruh yang
Kemandirian ADL LAnsia - Kemandirian ADL signifikan terhadap Tingkat
(Kusrumentahingtyas,2010) Kemandirian ADL LAnsia
10. Hubungan antara Tingkat tingkat depresi Studi korelasi Ada hubungan antara
Depresi dengan Ketergantungan ketergantungan dalam tingkat depresi dengan
dalam ADL ADL ketergantungan dalam ADL
(Activity of Daily Living) pada (Activity of Daily Living) (Activity of Daily Living)
Lansia (Aprinia, 2006) pada lansia
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 45

No Judul Karya Ilmiah& Penulis Variabel Jenis Penelitian Hasil


11. Hubungan antara Gaya Hidup gaya hidup Quasi eksperiment Terdapat hubungan antara
dengan Tingkat Ketergantungan tingkat ketergantungan gaya hidup dengan tingkat
dalam Aktivitas Kehidupan dalam aktivitas ketergantungan dalam
Sehari – hari Lansia kehidupan aktivitas kehidupan
sehari – hari sehari – hari lansia
12. Hubungan Karateristik Demografi Karateristik Demografi Studi korelasi, Ada hubungan antara
dengan Kemandirian kemandirian Karateristik Demografi
dalam Activity Daily Living (ADL) dalam Activity Daily dengan kemandirian
pada Lansia Living (ADL) dalam Activity Daily Living
(Sawika, 2005) (ADL) pada Lansia

Sementara itu penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah tentang pengaruh
Senam Lansia (lama waktu pelaksanaan, intensitas dan frekuensi) terhadap peningkatan
kemandirian ADL lansia. Variabel penelitian adalah lama waktu pelaksanaan senam lansia,
Intensitas senam lansia, frekuensi senam lansia dan ADL lansia. Jenis penelitian yang akan
dilakukan yaitu kuantitatif pra eksperiment.

1. Masalah
Pengaruh senam lansia terhadap kemandirian ADL lansia belum dapat dijelaskan
2. Rumusan Masalah:
a. apakah ada pengaruh durasi pelaksanaan senam lansia terhadap kemandirian
ADL lansia?
b. apakah ada pengaruh intensitas senam lansia terhadap kemandirian ADL
lansia?
c. apakah ada pengaruh frekuensi senam lansia terhadap kemandirian ADL
lansia?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum: Menjelaskan pengaruh senam lansia terhadap kemandirian ADL
lansia
Tujuan Khusus:
a. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap durasi senam lansia
b. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap intensitas senam lansia
c. Mengukur kemandirian ADL lansia terhadap frekuensi senam lansia
4. Manfaat
Manfaat Teoritis
Hasil penelitian dapat menjelaskan pengaruh senam lansia terhadap peningkatan
kemandirian ADL pada lansia.
Manfaat Praktis
Senam lansia diharapkan dapat dilakukan sebagai usaha promotif, preventif dan
rehabilitatif bagi lansia dalam menghadapi kemunduran ADL seiring bertambahnya
usia.
46 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

5. Judul
Pengaruh senam lansia terhadap peningkatan kemandirian Activity Daily Living
(ADL) lansia atau peningkatan kemandirian lansia dalam adl dengan senam.
6. Kerangka Konseptual

Proses Penuaan

Penurunan
Kemampuan
Fisik Lansia

Faktor Kondisi Aktivitas Status Gizi Faktor mental


Fisik emosional

Teori Penuaan Havighurst


Aktivitas
Latihan Pemeliharaan
Aerobik aktivitas,
peran,
pencarian
sosial teratur
Senam Lansia

Interaksi sosial

Afiliasi kelompok
usia
Frekuensi Durasi Senam Intensitas
Senam Lansia Lansia Senam Lansia

kekuatan otot↑ tonus otot↑ Koordinasi ↑ Keseimbangan↑ ROM sendi↑ Kognitif

Proprioseptif

Persepsi visual

Kemandirian ADL ↑
Bab 3  •  Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian 47

Daftar Pustaka
Burns & Grove. (1999). The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co.
Nursalam. (2002). Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
. 2008a. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktis. Edisi 2.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika
. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit, D.F. & Hungler, BP. (1999). Nursing Research. Principle and Method. Philadelphia: J.B.
Lippincott.
Polit DF & Back, CT. (2012). Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Soeparto P, Putra ST, Haryanto. (2000). Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: GRAMIK &
RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Sastroasmoro, S. dan S. Ismail. (1995). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
48 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 49

Bab 4
Kerangka Konsep dan
Hipotesis Penelitian

MENYUSUN KERANGKA KONSEP


Tahap yang penting dalam satu penelitian adalah menyusun kerangka konsep. Konsep
adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu
teori yang menjelaskan keterkaitan antarvariabel (baik variabel yang diteliti maupun yang
tidak diteliti). Kerangka konsep akan membantu peneliti menghubungkan hasil penemuan
dengan teori.
Untuk memudahkan, suatu konsep dari suatu istilah dapat dicermati pada batasan
istilahnya. Misalnya, untuk memahami konsep keperawatan maka perlu dicermati batasan
keperawatan. Keperawatan merupakan ilmu yang mempelajari sebab tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yang menurut MASLOW adalah FAKHA: Fisiologis, Aman,
Kasih sayang, Harga diri, dan Aktualiasasi diri serta upaya untuk membantu memenuhi
kebutuhan dasar tersebut sebagai respons sakit yang dialami oleh klien. Konsep ilmu
keperawatan selalu didasarkan pada kajian paradigma tentang 4 hal, yaitu manusia, sehat/
sakit, lingkungan, dan keperawatan.

Penyusunan Kerangka Konseptual dalam Penelitian


Dasar penyusunan kerangka konsep
Cara penyusunan kerangka konseptual penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Harus dibedakan pengertian kerangka konsep dan kerangka operasional.


• Kerangka konsep: konsep yang dipakai sebagai landasan berpikir dalam kegiatan
ilmu.
• Kerangka operasional (kerangka kerja): langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah,
mulai dari penetapan populasi, sampel, dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal
dilaksanakannya penelitian.
2) Mengumpulkan semua sumber dan menyeleksi penelitian yang telah dipublikasikan,
konsep, atau teori (melalui theoretical mapping).
50 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

3) Mengidentifikasi dan mendefinisikan semua variabel riset, mengategorikan ke dalam


kelompok (independent, dependent, intervening, confounding, control and random
variable).

Langkah Penyusunan
a. Seleksi dan definisikan konsep yang dimaksudkan
b. Identifikasikan teori yang digunakan sebagai dasar penelitian
1) Peneliti ingin meneliti perilaku klien dalam perawatan, maka dapat dipilih teori
Lawrance Green, yang meliputi: predisposing, enabling, dan reinforcing.
2) Pemenuhan kebutuhan pada perawatan diri: makan, minum, berpakaian, eliminasi,
mandi, maka ditetapkan teori yang dipilih adalah dari Orem tentang self care
deficit.
c. Gambarkan hubungan antarvariabel dengan garis berarah
• Arah (Direction). Dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.

• Tempat (Position). Variabel A Y (A ditulis terlebih dulu, karena A)


B
lebih besar pengaruhnya terhadap Y dibandingkan B)
• Tanda dan simbol (Sign & Symbol). Digaris putus-putus untuk yang diteliti ( );
digaris jelas untuk variabel dalam kotak yang diteliti ( ); dan digaris putus-putus
untuk variabel yang tidak diteliti ( )
• Keterangan setiap tujuan penelitian:
• Hubungan/hipotesis (A B)
• Pengaruh (A B)
• Sebab akibat (A B)

Contoh:
Kerangka Konsep
Pengaruh Penerapan Teori Adaptasi terhadap Peningkatan Kinerja Perawat pada Klien
Anak dengan Asma Bronkial (Nursalam, 2003)
Peneliti perlu menjelaskan tentang pengaruh penerapan teori adaptasi dalam
meningkatkan kinerja perawat anak dan meningkatkan sistem imunitas anak dengan
asma bronkial serta keterkaitan beberapa variabel.

MENYUSUN HIPOTESIS PENELITIAN


Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian.
Menurut La Biondo-Wood dan Haber (2002) hipotesis adalah suatu pernyataan asumsi
tentang hubungan antara dua atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab suatu
pertanyaan dalam penelitian. Setiap hipotesis terdiri atas suatu unit atau bagian dari
permasalahan.
Hipotesis disusun sebelum penelitian dilaksanakan karena hipotesis akan bisa
memberikan petunjuk pada tahap pengumpulan, analisis, dan interpretasi data. Uji
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 51

Kerangka Konseptual dan Hipotesis

Faktor penyebab enuresis primer: Faktor penyebab enuresis


•  Keterlambatan matangnya fungsi susunan saraf pusat (SSP) sekunder:
•  Faktor genetik

•  Gangguan tidur •  Stres kejiwaan

•  Kadar ADH dalam tubuh yang kurang •  Kondisi fisik yang terganggun
•  Kelainan anatomi: ukuran kandung kemih yang kecil •  Alergi

Enuresis (+)
Pembelajaran
Bladder-retention
training

Proses belajar: perception,


learning, judgments, emotion

Kognisi ↔ Emosi (+)

Persepsi (+)

Koping (+)

Kemampuan bladder-retention training (+)

Pengetahuan (↑) Sikap (+) Praktik (↑)

Rangsangan Rangsangan Rangsangan


Kimiawi Neuromuskuler Muskuler
(↑) (↑) Otot Polos (↑)

Aktin + Miosin Metabolisme pada


Rangsangan pada
Mitokondria
serat otot polos →
Acetil Cholin
Ion kalsium & ATP

ATP
ADP Otot polos kandung
kemih meregang →
Kapasitas fungsional
Energi kandung kemih Energi

Kontraksi & tonus otot kandung kemih (↑)

: Diukur Frekuensi enuresis (↓)

: Tidak diukur

Gambar 4.1 Kerangka konseptual pengaruh bladder-retention training terhadap perubahan


kemampuan dan enuresis pada anak usia sekolah (Walida, 2007)
52 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

hipotesis artinya menyimpulkan suatu ilmu melalui suatu pengujian dan pernyataan secara
ilmiah atau hubungan yang telah dilaksanakan penelitian sebelumnya.
Untuk mengetahui signifikansi (p) dari suatu hasil statistik (Hypothesis test), maka
kita dapat menentukan tingkat signifikansi: (p) 0,05 (1 kemungkinan untuk 20); 0,01 (1
untuk 100); dan 0,001 (1 untuk 1000). Adapun yang sering digunakan adalah signifikansi
level 0,05. Dengan menentukan signifikansi ini maka kita dapat mentukan apakah hipotesis
akan diterima atau ditolak (jika p < 0,05) (Voelker & Orton, Adam 2011).

Syarat Hipotesis
a. Relevance: Hipotesis harus relevan dengan fakta yang akan diteliti.
b. Testability: Memungkinkan untuk dilakukannya observasi dan bisa diukur.
c. Compatibility: Hipotesis baru harus konsisten dengan hipotesis di lapangan yang
sama dan telah teruji kebenarannya, sehingga setiap hipotesis akan membentuk
suatu sistem.
d. Predictive: Artinya hipotesis yang baik mengandung daya ramal tentang apa yang
akan terjadi atau apa yang akan ditemukan.
e. Simplicity: Harus dinyatakan secara sederhana, mudah dipahami, dan mudah
dicapai.

Tujuan Hipotesis
a. Untuk menghubungkan antara teori dan kenyataan, dalam hal ini hipotesis
menggabungkan dua domain.
b. Sebagai suatu alat yang ampuh untuk pengembangan ilmu selama hipotesis bisa
menghasilkan suatu penemuan (discovery).
c. Sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dengan menginterpretasi suatu
hasil.

Sumber Hipotesis
Hipotesis didapatkan dari suatu fenomena atau masalah yang nyata, analisis teori, dan
mengulas literatur.

a. Pengalaman praktik
Diagnosis keperawatan bisa menjadi suatu dasar pengembangan hipotesis. Misal,
hubungan teoretis yang diidentifikasi Orem tahun 1985 dalam Polit & Back (2012),
tentang teori perawatan diri dan kurangnya kebersihan dalam melakukan perawatan
luka sehubungan dengan adanya nyeri pada sendi dan keterbatasan pergerakan/
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 53

mobilitas. Pertama, kita dapat menguji tentang efektivitas dari tindakan dalam
mengurangi nyeri sendi dan meningkatkan mobilitas dan dampak perawatan
individual. Contoh penulisan hipotesis meliputi: Klien artritis yang menggunakan
pengobatan relaksasi akan mengalami penurunan rasa nyeri dan membutuhkan
waktu yang relatif lebih sedikit dalam pengobatannya dibandingkan dengan klien
yang tidak mendapatkan terapi relaksasi.

b. Teori
Hubungan yang digunakan dalam suatu teori dapat menjadi dasar penyusunan
hipotesis. Jika seorang peneliti tertarik melakukan pengujian terhadap suatu
pernyataan dalam teori, akan membawa pengaruh yang besar terhadap perkembangan
praktik perawatan.

c. Kajian literatur
Pada kajian literatur, peneliti menganalisis dan mensintesis hasil dari berbagai
penelitian. Hubungan yang diidentifikasi dari sintesis dalam suatu penemuan sangat
berguna untuk penyusunan hipotesis. Nursalam tahun 2007, meneliti pengaruh
pendakatan Asuhan keperawatan terhadap respons pasien terinfeksi HIV and AIDS,
hipotesis yang digunakan berdasarkan konsep teori Psikoneuroimunologi dan
Adaptasi.

Tipe Hipotesis
Perbedaan tipe hubungan dan jumlah variabel diidentifikasi dalam hipotesis. Penelitian
mungkin mempunyai satu, tiga, atau lebih hipotesis, bergantung pada kompleksnya suatu
penelitian.

a. Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang digunakan untuk pengukuran statistik dan
interpretasi hasil statistik. Hipotesis nol dapat sederhana atau kompleks dan bersifat
sebab atau akibat. Misal pengaruh teori adaptasi terhadap perbaikan kinerja perawat
anak. Maka dalam Ho; tidak adanya pengaruh penerapan teori adaptasi dalam asuhan
keperawatan terhadap perbaikan kinerja perawat anak.
b. Hipotesis alternatif (Ha/H1) adalah hoptesis penelitian. Hipotesis ini menyatakan
adanya suatu hubungan, pengaruh, dan perbedaan antara dua atau lebih variabel.
Hubungan, perbedaan, dan pengaruh tersebut dapat sederhana atau kompleks, dan
bersifat sebab-akibat. Misalnya, ada pengaruh antara senam nifas dan proses involusi
pada ibu pascasalin. Ada perbedaan tingkat kecemasan antara klien laki-laki dan
perempuan pada infark miokard akut (IMA).
54 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Konsep Self-care
Teori keperawatan self-care dikemukakan oleh Dorothea E. Orem pada tahun 1971 dan
dikenal dengan teori self-care deficit nursing theory (SCDNT) (DeLaune & Ladner, 2002).
Teori SCDNT sebagi grand teori mempunyai komponen teori yaitu teori self-care, teori
self-care deficit, dan teori nursing system (Alligood & Tomey, 2006). Orem (1985) dalam
Richardson (1992) menyebutkan bahwa:

“Self-care is the production of actions directed to self or to the environment in order to regulate
one’s functioning in the interest of one’s life, integrated functioning and well-being”

Dari pernyataan di atas, self-care diartikan sebagai wujud perilaku seseorang dalam
menjaga kehidupan, kesehatan, perkembangan dan kehidupan disekitarnya (Baker
& Denyes, 2008). Self-care merupakan perilaku yang dipelajari dan merupakan suatu
tindakan sebagai respons atas suatu kebutuhan (DeLaune & Ladner, 2002). Pada konsep
self-care, Orem menitikberatkan bahwa seseorang harus dapat bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan self-care untuk dirinya sendiri dan terlibat dalam pengambilan keputusan
untuk kesehatannya (Alligood & Tomey, 2006). Kebutuhan seseorang untuk terlibat
dalam perawatan dirinya dan mendapatkan perawatan disebut sebagai therapeutic self-care
demand (DeLaune & Ladner, 2002). Self-care berkembang seiring dengan perkembangan
kehidupan individu, bergantung pada kebiasaan seseorang, kepercayaan yang dimiliki,
dan budaya, termasuk biopsikososial-spiritual (Becker, Gates, & Newsom, 2004; Larsen
& Lubkin, 2009).
Self-care dalam konteks pasien dengan penyakit kronis merupakan hal yang kompleks,
dan sangat dibutuhkan untuk keberhasilan manajemen serta kontrol dari penyakit kronis
tersebut (Larsen & Lubkin, 2009). Self-care dapat digunakan sebagai tehnik pemeecahan
masalah dalam kaitannya dengan kemampuan koping dan kondisi stresful karena penyakit
kanker. Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa self-care meningkatkan kualitas
hidup dengan menurunkan nyeri, kecemasan, dan keletihan; meningkatkan kepuasan
pasien, serta menurunkan penggunaan tempat pelayanan kesehatan dengan menurunkan
jumlah kunjungan ke dokter, kunjungan rumah, penggunaan obat, dan lama rawat inap
di rumah sakit.

Konsep Self-care agency


Self-care agency adalah kemampuan atau kekuatan yang dimiliki oleh seorang individu
untuk mengidentifikasi, menetapkan, mengambil keputusan dan melaksanakan self-care
(Alligood & Tomey, 2006; Taylor & Renpenning, 2011). Orem mengidentifikasi sepuluh
faktor dasar yang memengaruhi self-care agency (basic conditioning factor) yaitu usia,
gender, tahap perkembangan, tingkat kesehatan, pola hidup, sistem pelayanan kesehatan,
sistem keluarga, dan lingkungan eksternal (Alligood & Tomey, 2006). Perawat harus bisa
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 55

mengidentifikasi self-care therapeutic demand dan perkembangan serta tingkat self-care


agency dari seorang individu karena self-care therapeutic demand dan self-care agency
berubah secara dinamis (Parker, 2001). Ketidakseimbangan antara self-care therapeutic
demand dengan self-care agency berdampak self-care deficit pada seorang individu (gambar
2.3) (Richardson, 1992). Interaksi antara perawat dengan klien akan dapat terjadi jika klien
mengalami self-care deficit, disinilah muncul suatu nursing agency (DeLaune & Ladner,
2002). Conditining factors

Selfcare
R R

Selfcare R Selfcare
agency < demand

Selfcare
deficit
Conditining factors

R R

Nursing
agency

Gambar 4.2 Konsep self-care (Alligood & Tomey, 2006)

Self-care agency perlu ditingkatkan oleh individu karena pelaksanaan self-care


membutuhkan pembelajaran, pengetahuan, motivasi dan skill (Taylor & Renpenning,
2011). Self-care agency mengacu pada kemampuan kompleks dalam melaksanakan self-care.
Contoh dari self-care agency antara lain pengetahuan tentang jenis makanan, pengetahuan
tentang menjaga jalan napas tetap bebas, dan penggunaan sistem bantuan untuk bersihan
jalan napas (Baker & Denyes, 2008). Kesadaran akan kebutuhan mendapatkan pengetahuan
dan kemampuan untuk mencari pengetahuan akan memengaruhi tindakan yang diambil
oleh seorang individu (Taylor & Renpenning, 2011).
Struktur Self-care agency (Gambar 2.4) terdiri atas tiga karakteristik manusia yang
saling berhubungan, namun berbeda secara hierarki yaitu: 1) foundational capabilities
and dispositions (kemampuan dasar), 2) power components (komponen kekuatan), dan 3)
capabilities to perform self-care operation (kemampuan melaksanakan self-care) (Baker &
Denyes, 2008; Meleis, 2011; Taylor & Renpenning, 2011).
56 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Treraupeutic self-care demand


Determination Decisions Meeting
of about
Level Estimative Transional Productive
1.1 self-care operations self-care operations self-care operations

Specific abilities enabling for


Level performance of self-care operations
1.2

Dispositions Significant
affecting goals sought orientative capabilities
and dispotions

Knowling and going


capabilities

Selected Selected
basic capabilities I basic capabilities II
Level
1.2 Sets of capabilities adn dispositions
foundational for action

Level Conditioning factors and states


1.3

Gambar 4.3 Struktur self-care agency (Taylor & Renpenning, 2011)

Foundational capabilities and disposition merupakan pondasi dari self-care agency,


sedangkan pengetahuan tentang conditioning factors serta komponen power berasal dari
berbagai keilmuan dan penelitian. Self-care operation merupakan proses pelaksanaan
self-care, terdiri atas 1) estimative operation yang merupakan kegiatan identifikasi atau
investigasi; 2) transitional operation yaitu proses penilaian dan pengambilan keputusan;
dan 3) productive operation yaitu proses pelaksanaan self-care, termasuk di dalamnya proses
kognitif dan kemampuan psikomotor (Taylor & Renpenning, 2011).
Contoh dari karakteristik kemampuan dasar yang dimaksud dalam struktur self-care
agency salah satunya adalah intelegensia seseorang, sedangkan contoh karakteristik power
adalah kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan dalam melaksanakan self-care
(Baker & Denyes, 2008). Orem menjelaskan bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh
penilaian mereka tentang hal yang tepat untuk suatu situasi dan keadaan. Seseorang yang
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 57

melaksanakan tindakan harus mempunyai “sensory knowledge” dan “awareness” tentang


situasi tersebut sehingga mengacu pada pengetahuan tersebut maka seseorang dapat
mengambil keputusan untuk bertindak (Meleis, 2011). Bagi orang yang menderita penyakit
kronis, tindakan self-care operation tercermin dalam aktivitas mereka dalam mentaati terapi
medis, dan gaya hidup yang direkomendasikan, melaksanakan aktivitas sehari-hari yang
disarankan, melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran, menjalankan kegiatan
ibadah yang meningkatkan spiritualitas, serta melakukan kegiatan yang menyenangkan
(Larsen & Lubkin, 2009).

Pengukuran Self-Care Agency


Pengukuran terhadap komponen dari SCDNT telah berkembang lebih dari dua puluh
tahun. Pengukuran self-care agency yang valid dan terpercaya merupakan hal yang
vital bagi perkembangan SCDNT sebagai salah satu teori keperawatan (Parker, 2001).
Berbagai penelitian tentang self-care agency dilakukan oleh para ahli keperawatan dengan
menggunakan berbagai instrumen. Beberapa diantaranya adalah Appraisal of Self-Care
Agency (ASA) Scale, Self-as-Carer Inventory (SCI), Denyes self-care agency instrument
(DSCAI) (Alligood & Tomey, 2006), The Exercise of Self-Care Agency (ESCA), The Perception
of Self-Care Agency Questionnaire, The Appraisal of Self-Care Agency Scale (ASA-S), dan The
Mental Health Self-Care Agency Scale (MH-SCA) (Sousa, Zauszniewski, Zeller, & Neese,
2008; Taylor & Renpenning, 2011).
Denyes self-care agency instrument (DSCAI) dirancang untuk individu agar dapat
mengukur kekuatan dan keterbatasan yang dimiliki sehingga mampu mengambil keputusan
tentang hal yang harus dilakukan untuk memenuhi self-care-nya (Waltz, Strickland, & Lenz,
2010). Instrumen ini dikembangkan oleh Denyes pada tahun 1988 dan pada awalnya
digunakan untuk mengukur self-care agency pada populasi remaja (Campbell & Soeken,
1999). Pada perkembangannya DSCAI digunakan untuk mengukur self-care agency pada
populasi orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki, serta pada beberapa penyakit
kronis seperti diabetes dan penyakit jantung koroner. (Sousa et al., 2008). DSCAI terdiri
atas 34 pertanyaan yang mengukur enam faktor Foundational capabilities and disposition
(FCD) dan tujuh komponen power. Partisipan akan diminta untuk memilih diantara skala
0 (tidak sama sekali) sampai 100 (seluruhnya) atau memberi jawaban dengan persentase
(Anderson, 2001). Terdapat 6 kategori skala dalam DSCAI yaitu: Ego strength, Valuing of
health, Health knowledge and decision making capability, Energy, Feelings, dan Attention
to health (Denyes, 1990).
58 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Contoh Kerangka Konsep Berbasis Self-Care (Orem) Self-


Care Agency (Kemandirian Orem) Penerapan pada Ibu Nifas
dengan Menggunakan Pendekatan Teori Self Care Model

Self Cares
Faktor dasar/
predisposisi
Self Cares Self Cares
(predisposing factor)
Agency meningkat Demand
- Pengetahuan

- Sikap
- Keyakinan Self care
- Pendidikan Defisit
- Pekerjaan
Nursing
agency
Faktor pemungkin
(enabling factor) Supportive
Educative system:
Sarana prasarana/ 1. Guidance
fasilitas pelayanan kes 2. Teaching
- Jarak dengan
pelayanan

Faktor pendorong/penguat
(rainforcing factor) Meningkatkan kemandirian ibu post
partum dalam perawatan diri
Dukungan keluarga a. Memenuhi nutrisi,
b. Ambulasi,
-Kelompok, tenaga kes
c. Eliminasi (Miksi & Defeksi),
d. Perawatan payudara,
e. Perawatan perinium, dan
f. Kebersihan diri


Gambar 4.4 Kerangka konsep penelitian meningkatkan kemandirian ibu nifas dengan
menggunakan pendekatan teori self care model Orem (Mardiatun, 2012).

Berdasarkan teori keperawatan Self Care yang dikemukakan oleh Dorothea Orem,
manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam merawat dirinya sendiri yang di
sebut Self Care Agency. Self Care Agency dapat berubah setiap waktu yang di pengaruhi oleh
faktor predisposisi (predisposing factor) yang terdiri atas pengetahuan, sikap, keyakinan
pendidikan dan pekerjaan. Yang kedua yaitu faktor pemungkin (Enabling factor) yang
terdiri atas sarana prasarana dan jarak dengan pelayanan kesehatan. Yang ketiga yaitu;
faktor pendorong (Reinforcing factor) yang berupa peran dukungan keluarga dan adanya
aturan-aturan. Ketika terjadi defisit perawatan diri, peran perawat sebagai Nursing
Agency membantu untuk memaksimalkan kemampuan pelaksanaan perawatan diri ibu
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 59

post partum melalui tindakan asuhan keperawatan mandiri perawat berupa bantuan
Supportif –Educative System dengan memberikan Guidance (Booklet) and Teaching, untuk
meningkatkan kemampuan atau kemandirian pelaksanaan perawatan diri ibu (Self Care
Agency) terhadap kebutuhan perawatan diri ibu (Self Care Demand), seperti kemampuan
memenuhi nutisi dan cairan, ambulasi, kebersihan diri, perawatan perinium, perawatan
payudara, miksi, dan defekasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, J. A. ( 2001). Understanding Homeless Adults by Testing the Theory of Self-
Care. Nursing Science Quarterly, 14(1), 59-67
Alligood, M.R. and Tomey, A. M. (2006). Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri
: Mosby
Baker. L. K., & Denyes, M. J. (2008). Predictors of Self-Care in Adolescents with Cystic
Fibrosis: A Test of Orem’s Theories of Self-Care and Self-Care Deficit. Journal of
Pediatric Nursing, 23(1), 37–48.
Becker G., Gates, R. J., & Newsom E. (2004). Self-Care among Chronically Ill African
Americans: Culture, Health Disparities, and Health Insurance Status. American
Journal of Public Health, 94(12), 2066-2073.
Campbell, J. C., & Soeken, K. (1999). Forced Sex and Intimate Partner Violence: Effects
on Women’s Health. Violence Against Women, 5(9), 1017–1035
DeLaune, S. C., & Ladner, P. K. (2002). Fundamentals of nursing: Standards and practice.
2nd Ed. New York: Thomson Delmar Learning
Denyes, M.J. (1980). Development of An Instrument to Measure Self-Care Agency in
Adolescents. Doctoral Dissertation, Wayne State University
Larsen, P. D., & Lubkin, I. M. (2009). Chronic Illness: Impact and Intervention. 7th Ed.
Sudbury: Jones and Bartlett Publishers
Meleis, A.I. (2011). Theoretical Nursing: Development and Progress. 5th Ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins
Parker, M. E. (2001). Nursing Theories and Nursing Practice. Philadelphia: Davis
Company
Sousa V. D., Zauszniewski J. A., Zeller R. A., & Neese J. B. (2008). Factor Analysis of The
Appraisal of Self Care Agency Scale in American Adults with Diabetes Mellitus. The
Diabetes Educators, 34, 98-108.
Taylor, s., & Renpenning, k. (2011). Self Care Science, Nursing Theory and Evidence Based
Practice. New York: Springer Publishing Company, LLC.
Waltz, C. F., Strickland, O. L., and Lenz, E. R. (2010). Measurement in Nursing and Health
Research, 4th ed. New York: Springer Publishing Company
60 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

KONSEP MODEL INTERAKSI MANUSIA (IMOGENE M. KING)


King mengidentifikasi kerangka kerja konseptual (Conceptual Framework) sebagai
sebuah kerangka kerja sistem terbuka, dan teori ini sebagai suatu pencapaian tujuan.
King mempunyai asumsi dasar terhadap kerangka kerja konseptualnya, bahwa manusia
seutuhnya (Human Being) sebagai sistem terbuka yang secara konsisten berinteraksi
dengan lingkungannya. Asumsi yang lain bahwa keperawatan berfokus pada interaksi
manusia dengan lingkungannya dan tujuan keperawatan adalah untuk membantu individu
dan kelompok dalam memelihara kesehatannya. Kerangka kerja konseptual (Conceptual
Framework) terdiri atas tiga sistem interaksi yang dikenal dengan Dynamic Interacting
Systems, meliputi: Personal systems (individual), interpersonal systems (grup) dan social
systems (keluarga, sekolah, industri, organisasi sosial, sistem pelayanan kesehatan, dan
lain-lain).
Konsep Human Interaction Model ini dikembangkan pertama kali oleh Imogene M.
King pada tahun 1971 yang diawali dengan mengembangkan “Theory of Goal Attainment
(teori pencapaian tujuan). Teori pencapaian tujuan merupakan teori yang bersifat terbuka
dan dinamis, dengan sembilan konsep utama yang meliputi interaksi, persepsi, komunikasi,
transaksi, peran, stres, tumbuh kembang, waktu dan ruang (Alligood dan Tomey, 2006).
Asumsi dasar King tentang manusia seutuhnya (Human Being) meliputi sosial,
perasaan, rasional, reaksi, kontrol, tujuan, orientasi kegiatan dan orientasi pada waktu.
Dari keyakinannya tentang human being ini, King telah menderivat asumsi tersebut lebih
spesifik terhadap interaksi perawat – klien:

1. Persepsi dari perawat dan klien memengaruhi proses interaksi.


2. Tujuan, kebutuhan-kebutuhan dan nilai dari perawat dan klien memengaruhi proses
interaksi.
3. Individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
4. Individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
dan hal tersebut memengaruhi kehidupan dan kesehatan mereka serta pelayanan
masyarakat
5. Profesional kesehatan mempunyai tanggung jawab terhadap pertukaran informasi
sehingga membantu individu dalam membuat keputusan tentang pelayanan
kesehatannya.
6. Individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan kesehatan.
7. Tujuan dari profesional kesehatan dan tujuan dari penerima pelayanan kesehatan
dapat berbeda.

Human being mempunyai tiga dasar kebutuhan kesehatan yang fundamental:

1. Kebutuhan terhadap informasi kesehatan dan dapat dipergunakan pada saat


dibutuhkan.
2. Kebutuhan terhadap palayanan kesehatan bertujuan untuk pencegahan penyakit.
3. Kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan ketika individu tidak
mampu untuk membantu dirinya sendiri.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 61

Perawat dalam posisinya, membantu: apa yang mereka ketahui, apa yang mereka
pikirkan, bagaimana mereka merasakan dan bagaimana mereka melakukan kegiatan
untuk memelihara kesehatannya.

Kerangka Konsep Imogene M. King (Fadilah, 2009)


King mengemukakan dalam kerangka konsepnya, hampir setiap konsep yang dimiliki
oleh perawat dapat digunakan dalam asuhan keperawatan.

FEEDBACK

PERSEPTION

NURSE JUDGEMENT

ACTION
REACTION INTERACTION TRANSACTION
PERSEPTION

PATIENT JUDGEMENT

ACTION

FEEDBACK

Gambar 4.5 Kerangka konsep Imogene M. King

Berdasarkan kerangka kerja konseptual (Conceptual Framework) dan asumsi dasar


tentang human being, King menderivatnya menjadi teori Pencapaian Tujuan (Theory of
Goal Attainment). Elemen utama dari teori pencapaian tujuan adalah interpersonal systems,
di mana dua orang (perawat-klien) yang tidak saling mengenal berada bersama-sama di
organisasi pelayanan kesehatan untuk membantu dan dibantu dalam mempertahankan
status kesehatan sesuai dengan fungsi dan perannya. Dalam sistem interpersonal
perawat-klien berinteraksi dalam suatu area (space). Menurut King intensitas dari sistem
interpersonal sangat menentukan dalam menetapkan dan pencapaian tujuan keperawatan.
Dalam interaksi tersebut terjadi aktivitas-aktivitas yang dijelaskan sebagai sembilan konsep
utama, di mana konsep-konsep tersebut saling berhubungan dalam setiap situasi praktik
keperawatan, meliputi:

1. Interaksi, King mendefinisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan
komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu
dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal
dalam mencapai tujuan.
2. Persepsi diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan
dengan pengalaman yang lalu, konsep diri, sosial ekonomi, genetika dan latarbelakang
pendidikan.
62 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

3. Komunikasi diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang


kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
4. Transaksi diartikan sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam
pencapaian tujuan. Transaksi yang dimaksud adalah pengamatan perilaku dari
interaksi manusia dengan lingkungannya.
5. Peran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya
dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya.
Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektivitas
pelayanan keperawatan.
6. Stres diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia
dengan lingkungannya. Stres melibatkan pertukaran energi dan informasi antara
manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stresor.
7. Tumbuh kembang adalah perubahan yang kontinu dalam diri individu. Tumbuh
kembang mencakup sel, molekul dan tingkat aktivitas perilaku yang kondusif untuk
membantu individu mencapai kematangan.
8. Waktu diartikan sebagai urutan dari kejadian/peristiwa kemasa yang akan datang.
Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai
pengalaman yang unik dari setiap manusia.
9. Ruang adalah sebagai suatu hal yang ada di manapun sama. Ruang adalah area di
mana terjadi interaksi antara perawat dengan klien (Fadilah, 2009)

Konsep Interaksi Manusia Imogene M. King


King mendefinisikan interaksi sebagai suatu proses dari persepsi dan komunikasi antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang
dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam mencapai tujuan (Alligood
dan Tomey, 2006).
Di dalam arti kamus interaksi berarti sebagai tingkah laku yang dapat diobservasi
oleh dua orang atau lebih di dalam hubungan timbal balik (King, 2006).
Menurut king setiap individu adalah sistem personal (sistem terbuka). Untuk sistem
personal konsep yang relevan adalah persepsi, diri, pertumbuhan dan perkembangan,
citra tubuh, dan waktu.

1. Persepsi
Persepsi adalah gambaran seseorang tentang objek, orang dan kejadian- kejadian.
Persepsi berbeda dari satu orang dan orang lain dan hal ini tergantung dengan
pengalaman masa lalu, latar belakang, pengetauhan dan status emosi. Karakteristik
persepsi adalah universal atau dialami oleh semua, selekltif untuk semua orang,
subjektif atau personal.
2. Diri
Diri adalah bagian dalam diri seseorang yang berisi benda-benda dan orang lain.
Diri adalah individu atau bila seseorang berkata “AKU”. Karakteristik diri adalah
individu yang dinamis, system terbuka dan orientasi pada tujuan.
3. Pertumbuhan dan perkembangan
Tumbuh kembang meliputi perubahan sel, molekul dan perilaku manusia. Perubah ini
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 63

biasnya terjadi dengan cara yang tertib, dan dapat diprediksiakan walaupun individu
itu berfariasi, dan sumbangan fungsi genetic, pengalam yang berarti dan memuaskan.
Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses diseluruh kehidupan seseorang
di mana dia bergerak dari potensial untuk mencapai aktualisasi diri.
4. Citra tubuh
King mendefinisikan citra diri yaitu bagaimana orang merasakan tubuhnya dan
reaksi-reaksi lain untuk penampilanya.
5. Ruang
Ruang adalah universal sebab semua orang punya konsep ruang, personal atau
subjektif, individual, situasional, dan tergantung dengan hubunganya dengan situasi,
jarak dan waktu, transaksional, atau berdasarkan pada persepsi individu terhadap
situasi. Definisi secara operasioanal, ruang meliputi ruang yang ada untuk semua
arah, didefinisikan sebagai area fisik yang disebut territory dan perilaku oran yang
menempatinya.
6. Waktu
King mendefisikan waktu sebagai lama antra satu kejadian dengan kejadian yang
lain merupakan pengalaman unik setiap orang dan hubungan antara satu kejadian
dengan kejadian yang lain

Sistem Interpersonal
King mengemukakan sistem interpersonal terbentuk oleh interkasi antra manusia. Interaksi
antar dua orang disebut DYAD, tiga orang disebut TRIAD, dan empat orang disebut
GROUP. Konsep yang relefan dengan sistem interpersonal adalah interkasi, komunikasi,
transaksi, peran dan stres.

1. Interaksi
Interaksi didefinisakan sebagai tingkah laku yang dapat diobservasi oleh dua orang
atau lebih di dalam hubungan timbal balik.
2. Komunikasi
King mendefinisikan komunikasi sebagai proses diman informasi yang diberikan
dari satu orang keorang lain baik langsung maupun tidak langsung, misalnya
melalui telpon, televisi atau tulisan kata. ciri-ciri komunikasi adalah verbal,non
verbal, situasional, perceptual, transaksional, tidak dapat diubah, bergerak
maju dalam waktu, personal, dan dinamis. Komunikasi dapat dilakukan secara
lisan maupun tertulis dalam menyampaikan ide- ide satu orang keorang lain.
Aspek perilaku nonverbal yang sangat penting adalah sentuhan. Aspek lain dari
perilaku adalah jarak, postur, ekspresi wajah, penampilan fisik dan gerakan tubuh.
3. Transaksi
Ciri-ciri transaksi adalah unik, karena setiap individu mempunyai realitas personal
berdasarkan persepsi mereka. Dimensi temporal-spatial, mereka mempunyai
pengalaman atau rangkaian-rangkaian kejadian dalam waktu.
4. Peran
Peran melibatkan sesuatu yang timbal balik di mana seseorang pada suatu saat
sebagai pemberi dan disat yang lain sebagai penerima ada 3 elemen utama peran
64 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

yaitu, peran berisi set perilaku yang di harapkan pada orang yang menduduki posisi
di sistem sosial, set prosedur atau aturan yang ditentukan oleh hak dan kewajiban
yang berhubungan dengan prosedur atau organisasi, dan hubungan antara 2 orang
atau lebih berinteraksi untuk tujuan pada situasi khusus.
5. Stres
Definisi stres menurut King adalah suatu keadaan yang dinamis di manapun manusia
berinteraksi dengan lingkungannya untuk memelihara keseimbangan pertumbuhan,
perkembangan dan perbuatan yang melibatkan pertukaran energi dan informsi antara
seseorang dengan lingkungannya untuk mengatur stresor. Stres adalah suatu yang
dinamis sehubungan dengan sistem terbuka yang terus-menerus terjadi pertukaran
dengan lingkunagn, intensitasnya berfariasi, ada diemnsi yang temporal-spatial yang
dipengaruhi oleh pengalaman lalu, individual, personal, dan subjektif.
7. Sistem sosial
King mendefinisikan sistem sosial sebagai sistem pembatas peran organisasi
sosisal, perilaku, dan praktik yang dikembangkan untuk memelihara nilai-nilai dan
mekanisme pengaturan antara praktk-praktik dan aturan (George, 1995). Konsep
yang relevan dengan sistem sosial adalah organisasi, otoritas, kekuasaan, status dan
pengambilan keputusan.
1) Organisasi
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktivitas yang
berhubungan dengan pengaturan formal dan informal seseorang dan kelompok
untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
2) Otoritas
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif, proses
transaksi yang timbal balik di mana latar belakang, persepsi, nilai-nilai dari
pemegang memengaruhi definisi, validasi dan penerimaan posisi di dalam
organisasi berhubungan dengan wewenang.
3) Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal, esensial
dalam organisasi, dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu situasi, dinamis dan
orientasi pada tujuan.
4) Pembuatan keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap
kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif,
situasional, proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.
5) Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergantungan, dapat diubah. King
mendefinisikan status sebagai posisi seseorang di dalam kelompok atau
kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi dan
mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa, tugas-tugas,
dan kewajiban.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 65

Daftar Pustaka
Alligood, M.R. & Tomey, A. M. (2006). Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri:
Mosby
George, J. B. 1995. Nursing Theories: A Base for Professional Nursing Practice. Connecticut:
Appleton and Lange.
King, I.M. 2006. Part One: Imogene M. King’s Theory of Goal Attainment. Dalam M.E.
Parker, Nursing theories and nursing practice (2nd ed., Hlm. 235-243). Philadelphia:
F.A. Davis.

FAMILY-CENTERED NURSING (Fiedman, 2003)


Praktik keluarga sebagai pusat keperawatan (family-centered nursing) didasarkan pada
perspektif bahwa keluarga adalah unit dasar untuk perawatan individu dari anggota
keluarga dan dari unit yang lebih luas. Keluarga adalah unit dasar dari sebuah komunitas
dan masyarakat, mempresentasikan perbedaan budaya, rasial, etnik, dan sosioekonomi.
Aplikasi dari teori ini termasuk mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, politik dan
budaya ketika melakukan pengkajian dan perencanaan, implementasi, dan evaluasi
perawatan pada anak dan keluarga (Hitchcock, Schubert, Thomas, 1999).
Penerapan asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan family-centered
nursing salah satunya menggunakan Friedman Model. Pengkajian dengan model ini
melihat keluarga sebagai subsistem dari masyarakat (Allender & Spradley, 2005).
Proses keperawatan keluarga meliputi: pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi,
implementasi, dan evaluasi.
Keluarga merupakan entry point dalam pemberian pelayanan kesehatan di
masyarakat, untuk menentukan risiko gangguan akibat pengaruh gaya hidup dan
lingkungan. Potensi dan keterlibatan keluarga menjadi makin besar, ketika salah satu
anggota keluarganya memerlukan bantuan terus menerus karena masalah kesehatannya
bersifat kronik, seperti misalnya pada penderita pascastroke. Praktik keluarga sebagai
pusat keperawatan (family-centered nursing), didasarkan pada perspektif bahwa keluarga
unit dasar untuk keperawatan individu dari anggota keluarga. Keluarga adalah unit dasar
dari sebuah komunitas dan masyarakat, mempresentasikan perbedaan budaya, relasi,
lingkungan, dan sosioekonomi.
Aplikasi dari teori ini termasuk mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi,
lingkungan, tipe keluarga dan budaya ketika melakukan pengkajian dan perencanaan,
implementasi dan evaluasi perawatan pada anak dan keluarga (Hitchcock, Schubert &
Thomas 1999; Friedman dkk, 2003). Penerapan asuhan keperawatan keluarga dengan
pendekatan family-centered nursing, salah satunya menggunakan pendekatan proses
keperawatan yang didasarkan pada Friedman model. Pengkajian dengan model ini, melihat
66 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

keluarga dengan subsistem dari masyarakat (Friedman dkk, 2003; Allender dan Spradley
2005). Proes keperawatan keluarga dengan fokus pada keluarga sebagai klien (family-
centered nursing) , meliputi: pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi
dan evaluasi.

(1) Asuhan keperawatan keluarga, difokuskan pada peningkatan kesehatan seluruh


anggota keluarga, melalui perbaikan dinamika hubugan internal keluarga, struktur dan
fungsi keluarga yang terdiri atas efeksi, sosialisasi, reproduksi, ekonomi dan perawatan
kesehatan bagi anggota keluarga, untuk dapat merawat anggota keluarganya yang
sakit dan bagi anggota keluarga yang lain agar tidak tertular penyakit, serta adanya
interdependensi antaranggota keluarga sebagai suatu sistem, dan meningkatkan
hubungan keluarga dengan lingkungannya (Friedman dkk, 2003)
(2) Tujuan dari asuhan keperawatan keluarga memandirikan keluarga dalam melakukan
pemeliharaan kesehatan para anggotanya, untuk itu keluarga harus melakukan 5 tugas
kesehatan keluarga, diantaranya yaitu: mampu memutuskan tindakan kesehatan yang
tepat bagi keluarga, mampu merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan
kesehatan, mampu mempertahankan suasana di rumah yang sehat atau memodifikasi
lingkungan untuk menjamin kesehatan anggota keluarga; mampu memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga (Bailon dan Maglaya dalam
Freeman, 1981).
Keluarga merupakan suatu sistem, di mana jika salah satu anggota keluarga
bermasalah, akan mempengaruh sistem anggota keluarga yang lain, begitupun
sebaliknya (Stanhope & Lancaster, 2004). Masalah individu dalam keluarga
diselesaikan melalui intevensi keluarga diselesaikan melalui keterlibatan aktif anggota
keluarga lain. Dengan demikian, melaluai intervensi keluarga, yakini keluarga yang
sehat, maka akan membuat komunitas atau masyarakat menjadi sehat, karena
keluarga merupakan subsistem dari komunitas (Friedman dkk, 2003; Stanhope &
Lancaster, 2004).
(3) Ada beberapa alasan mengapa keluarga menjadi salah satu sentral dalam perawatan
yaitu: (1) keluarga sebagai sumber dalam perawatan kesehatan; (2) masalah kesehatan
individu akan berpengaruh pada anggota keluarga yang lainnya; (3) keluarga
merupakan tempat berlangsungnya komunikasi individu sepanjang hayat, sekaligus
menjadi harapan bagi setiap anggotanya; (4) penemuan kasus-kasus suatu penyakit
sering diawali dari keluarga; (5) anggota keluarga lebih mudah menerima suatu
informasi, jika informasi tersebut didukung oleh anggota keluarga lainnya, dan (6)
keluarga merupakan support system bagi individu (Friedman dkk, 2003).
Pendekatan yang dilakukan dalam asuhan keperawatan keluarga adalah
proses keperawatan, yang terdiri atas pengkajian individu dan keluarga, perumusan
diagnosis keperawatan, penyusunan rencana asuhan keperawatan, pelaksanaan dan
evaluasi dari tindakan yang telah dilaksanakan (Friedman dkk, 2003).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 67

a. Pengkajian
Adalah suatu tahapan di mana seorang perawat mendapatkan informasi secara
terus-menerus, terhadap anggota keluarga yang dibinanya.
b. Diagnosis keperawatan
Data yang telah dikumpulkan pada tahap pengkajian, selanjutnya dianalisis,
sehingga dapat dirumuskan diagnosis keperawatannya. Rumusan diagnosis
keperawatan keluarga ada tiga jenis, yaitu diagnosis aktual, risiko dan potensial.
Etiologi dalam diagnosis keperawatan keluarga didasarkan pada pelaksanaan
lima tugas kesehatan (Friedman dkk, 2003).
c. Perencanaan
Perencanaan keperawatan keluarga terdiri atas, penetapan tujuan yang mencakup
tujuan umum dan tujuan khusus, dilengkapi dengan kriteria dan standar serta
rencana tindakan. Penetapan tujuan dan rencana tindakan dilakukan bersama
dengan keluarga, karena diyakini bahwa keluarga bertanggung jawab dalam
mengatur kehidupannya, dan perawat mambantu menyediakan informasi yang
relevan untuk memudahkan keluarga mengambi keputusan (Carey, dikutip dalam
Friedman dkk, 2003).
d. Implementasi
Implementasi keperawatan dinyatakan untuk, mengatasi malasah kesehatan
dalam keluarga dan ditujukan pada, lima tugas kesehatan keluarga dalam
rangka menstimulasi kesadara atau penerimaan keluarga mengenai malasalah
kesehatannya. Disamping itu menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara
perawatan yang tepat, memberi kemampuan dan kepercayaan diri pada keluarga,
dalam merawat anggota keluarga yang sakit, serta membantu keluarga menemukan
bagaimana cara membuat lingkungan menjadi sehat, dan memotivasi keluarga
untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yag tersedia (Bailon & Magalaya, dikutip
dalam Freman 1981; Friedman dkk, 2003).
e. Evaluasi
Evaluasi pada asuhan keperawatan keluarga dilakukan untuk menilai tingkat
kognitif, afektif dan psikomotor keluarga (Friedman dkk, 2003). Evaluasi perlu
pada setiap tindakan, untuk mengetahui apakah suatu tindakan keperawatan
tidak diperlukan lagi, menambah ketepat-gunaan dari tindakan yang dilakukan
dan perlunya tndakan keperawtan lain untuk menyelesaikan masalah. Proses
evaluasi yang digunakan peneliti untuk menilai tingkat kemandirian keluarga,
berdasarkan kriteria keluarga mandiri dari Depkes RI (2006). Kriteria ini akan
dibahas lebih mandalam pada konsep kemandirian keluarga merawat anggota
keluarga yang menderita pascastroke.
68 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Pengkajian terhadap keluarga Pengkajian anggota keluarga


Mengidentifikasi data sos-bud, data secara individual
lingkungan, struktur dan fungsi, stres Mental, fisik, emosional, sosial
keluarga dan koping strategis dan spiritual.

Identifikasi masalah-masalah
keluarga dan individu

Diagnosis keperawatan

Rencana keperawatan
Sususan tujuan, identifikasi sumber
daya, definisikan pendekatn alternatif,
pilih intervensi keperawatan, susun
prioritas

Intervensi; implementasi renacana

Evaluasi keperawatan

Gambar 4.6 Model family-centered nursing (Friedman dkk, 2003)

Model integrasi self care model dan family-centered nursing model


Fokus pengkajian pada family centered nursing untuk mendapat informasi, sejauh mana
peran keluarga (care giver) dalam merawat anggota keluarga pascastroke. Pengkajian
yang dilakukan adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam melakukan terapi
latihan/latihan mobilisasi pada anggota keluarga yang pascastroke. Sedangkan fokus self
care ditujukan untuk mendapatkan informasi sejauh mana peran keluarga (care giver)
mengetahui tanda dan gejala stroke, risiko stroke, dampak stroke, cara pencegahan
agar tidak terjadi serangan stroke ulangan dan kemampuan merawat anggota keluarga
pascastroke dalam melakukan aktivitas sehari-hari (ADL).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 69

Setelah dilakukan pengkajian terhadap anggota keluarga sebagai care giver, maka
perawat akan menetukan ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan fungsi kesehatan
keluarga, dari hal tersebut perawat sebagai nursing agency akan melakukan perencanaan
dan berespons pada keluarga berupa: (1) mempertahankan hubungan interpersonal (2)
berespons pada pertanyaan kelarga dan (3) koordiasi dan integrasi keperawatan dengan
kegiatan sehari-hari.
Tahap selanjutnya perawat melakukan implementasi dengan cara edukasi suportif.
Pada tahap ini peran perawat adalah sebagai pendidik/trainer, dalam meningkatkan
kemampuan keluarga sebagai self care agency/care giver. Dengan demikian baik pasien,
keluarga (care giver) maupun perawat komunitas akan bersama-sama menyelesaikan
masalah kesehatan melalui pendekatan proses keperawatan. Pada fase ini keluarga (care
giver) belajar melakukan tindakan merawat anggota keluarga yang pascastroke yang
diaplikasikan kedalamkegitan sehari-hari.
Fase selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap kemampuan keluarga,
berdasarkan 5 (lima) tugas kesehatan keluarga yaitu: (1) mengenal masalah keehatan
setiap anggota keluarganya (2) mampu memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi
keluarganya (3) merawat anggota keluarganya yang mengalami masalah kesehatan,(4)
mempertahankan suasana rumah yang sehat atau memodifikasi lingkungan untuk
menjamin kesehatan keluarga (5) memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnay
(Bailon dan Maglaya dalam Freeman,1981). Namun pada tahap evaluasi ini digunakan
dengan mengintegrasikan indikator keluarga mandiri yang dikeluarkan d oleh Depkes
tahun 2006, hal ini disebabkan oleh karena indikator tersebut tahap-tahapnya hampir
sama dengan 5(lima) tugas kesehatan keluarga namun ditambah dengan menerima petugas
kesehatan, karena keluarga akan meningkat kemandiriannya dalam mengenal masalah
kesehatan anggota keluarga lainnya jika terlebih dahulu menerima petugas kesehatan.
Integrasi dari kedua model ini merupakan suatu program yang memberdayakan
anggota keluarga melalui pendidikan kesehatan dan pelatihan yang diberikan oleh
perawat komuntas kepada anggota keluarga yag bertanggung jawab dalam merawat
anggota keluarganya yang pascastroke. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa keyakinan
untuk melakukan perawatan rutin timbul karena merasakan manfaat dari tindakan
tersebut, sehingga keluarga (care giver) dengan anggota keluarga yang pascastroke dapat
melaksanakan perawatan diri secara teratur.
Fokus utama model integrasi self care dan family centered nursing adalah care giver
dapat merawat anggota keluarganya yang pascastroke, melakukan latihan untuk mobilisasi
dan memotivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Model ini merupakan cara terbaik
dalam upaya memandirikan keluarga merawat anggota keluarga pascastroke di rumah.
Integrasi model self care dan family-centered nursing dalam meningkatkan kemandirian
keluarga merawat keluarga yang pascastroke dapat dijelaskan sebagai berikut:
70 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Family-centered nursing model


Pengkajian
Kemampuan melakukan latihan modelisasi

Self care model


Ketidakmampuan keluarga melaksanakan
Self care agency: fungsi kesehatan keluarga
• Pengetahuan
tentang dampak
stroke Perencanaan
• Kemampuan
memotivasi
Nursing agency
melakukan ADL
1. Mempertahankan hubugan interpersonal
Conditioning factor 2. Berespons pada pertanyaa keluarga
• Umur 3. Koordinasi dan integrasi keperawatan
• Jenis kelamin dengan kegiatan sehari-hari
• Kepercayaan
• Dukungan keluarga
Nursing system

Implementasi Dalam bentuk edukasi suportif

Trainer

Keluarga

Pasien

Evaluasi
1. Kemampuan keluarga untuk merawat dan memotivasi
untuk ADL
2. Kemampuan keluarga untuk melakukan mobilisasi

Keluarga mandiri dalam merawat


anggota keluarga yang pascastroke

Gambar 4.7 Integrasi model self care dan family-centered nursing (diadaptasi dari
Orem 2001; Tomey dan Alligood 2002, 2006; Friedman dkk, 2003).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 71

DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M.R. dan Tomey, A. M. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 6th Ed. Missouri:
Mosby
Allender, J. A., & Spradley, B. W. 2005. Community Health Nursing: Concept and Practice.
6th Ed. Philadelphia: Lippincott
Freeman, R., & Heirinch, J. 1981. Community Nursing Practice. Philadelphia: W.B.
Saunders.
Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. 2003. Family Nursing: Research, Theory
and Practice (5th ed.). New Jersey: Prentice Hall.
Departemen Kesehatan RI. 2006. Pedoman Kegiatan Perawat Kesehatan Masyarakat di
Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Pelayanan Medik.
Hitchcock, J. E., Schubert, P. E., & Thomas, S. A. 1999. Community Health Nursing: Caring
in Action. Albany: Delmar.
Stanhope, M. & Lancaster, J. 2000. Community and Public Health Nursing, 5th Ed. St. Louis:
Mosby.

TEORI CULTURE CARE DARI LEiNINGER (TRANSCULTURAL


CARE = sunrise)
Teori ini berorientasi pada sistem, yaitu pembentukkan sistem pelayanan kesehatan
dengan berbasis budaya individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Target utama adalah
pelembagaan yang permanen untuk penanganan klien dengan masalah alkohol. Teori ini
mengatakan pelayanan keperawatan kepada klien, perlu memperhatikan nilai-nilai budaya
dan konteks sehat sakit. Menurut Leininger, setiap orang dari masing-masing budaya
mengetahui dan dapat mendefinisikan cara-cara sesuai pengalaman dan persepsi mereka
terhadap dunia keperawatan dan dapat menghubungkan pengalaman dan persepsi mereka
terhadap keyakinan sehat secara umum dan praktiknya. Maka, teori ini dikembangkan dari
konteks budaya. Kultur yang dimaksud adalah pembelajaran, pertukaran dan transmisi
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, norma-norma dan praktik hidup dari suatu kelompok
khusus yang menjadi petunjuk berpikir, mengambil keputusan, dan tindakan-tindakan
dalam pola-pola tertentu.
Menurut Madeleine M Leininger dan Marilyn R. Mc.Farland, (2006), dalam tulisan
memberi nama model dari teori Culture Care “Sunrise model”. Model ini mempunyai 4
level pandangan, level pertama, lebih abstrak, bagaimana pandangan dunia dan level
sistem sosial, mengenai dunia diluar budaya, suatu suprasistem, dalam sistem umum. Level
dua, menyediakan pengetahuan tentang individu, keluarga, kelompok dan institusi pada
sistem pelayanan kesehatan. Pada level ini unsur budaya mulai tampak jelas, khususnya
budaya tertentu, ekspresi dan hubungannya dengan pelayanan kesehatan yang sudah
ada. Level tiga, fokus pada sistem adat istiadat, tradisi, yang ada dimasyarakat, sistem
72 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

pelayanan professional, medis dan keperawatan. Informasi pada level ini menunjukkan
karakteristik tiap sistem termasuk kekhususan masing-masing, kesamaan dan perbedaan
pelayanan berdasarkan budaya profesi yang bervariasi dan pelayanan universal. Level
empat, ada pengambilan keputusan keperawatan dan tindakan-tindakan, melibatkan kultur
penyediaan atau mempertahankan pelayanan, kultur pelayanan akomodasi/ negosiasi &
kultur pelayanan dipola kembali atau restrukturisasi.
Empat konsep utama dari teori Leininger adalah kemanusiaan, kesehatan, masyarakat/
lingkungan dan keperawatan. Manusia dipercaya memberikan pelayanan kepada sesama
manusia dan mampu memperhatikan kebutuhan, kesejahteraan dan ketahanan kepada
orang lain. Pelayanan kemanusiaan bersifat universal, terhadap semua kultur, bertahan
dalam kultur yang bervariasi, mampu memberikan pelayanan bersifat universal dalam
berbagai cara, terhadap kultur yang berbeda, kebutuhan dan kondisi. Fokusnya pada
individu, kelompok kepada institusi kesehatan untuk mengembangkan kebijakan dan
praktik keperawatan universal. Sehat atau status sejahtera menurut kultur tertentu,
nilai dan praktik yang mereflekssikan kemampuan individu-individu atau kelompok
untuk menampilkan peran sehari-hari dalam cara yang memuaskan kultur. Sehat dalam
pengertian lintas budaya, didefinisikan oleh kultur masing-masing sesuai cara, reflekssi,
nilai dan praktik khusus.
Sehat dikatakan bersifat universal dan beragam. Masyarakat/lingkungan,
menyangkut pandangan dunia, struktur sosial dan konteks lingkungan. Lingkungan
sebagai total kejadian, situasi atau pengalaman, dengan berfokus pada kelompok khusus
dan pola tindakan, berpikir, dan keputusan sebagai hasil dari pembelajaran, sharing dan
pemindahan nilai, keyakinan, norma dan praktik hidup sehari-hari. Keperawatan, adalah
suatu fenomena yang perlu dijelaskan. Leininger mengasumpsikan keperawatan sebagai
profesi yang turut menentukan keharmonisan kultur dalam pelayanan kesehatan kepada
masyarakat yang berbeda budaya.
Ada tiga tipe tindakan keperawatan yang diangkat Leininger yaitu berdasarkan
budaya dengan demikian akan harmonis dengan kebutuhan dan nilai-nilai klien.
Mempertahankan budaya lokal, memperhatikan cara-cara atau negosiasi budaya lokal,
dan melakukan restruktur atau membuat pola baru sesuai budaya lokal. Melalui tiga
tindakan ini akan menurunkan stres kultur dan potensial konflik antar klien dan petugas
kesehatan (Goerge, Yulia B, 1990).
Transkultural nursing dalam model sunrise, dikenalkan oleh Leininger tahun 1978
(Alligood & Tomey, 2006). Leininger seorang perawat pendidik dan senang mempelajari
keperawatan dengan antropologi. Teorinya sangat cocok dipakai di keperawatan komunitas.
Perawat penting menyadari pengetahuan lintas budaya dan kebutuhannya. Budaya bukan
hanya pedoman hidup bagi seseorang tetapi untuk menghubungkan seseorang dengan
orang lain, sehinggsa dapat mengetahui kebutuhan atau keinginan orang tersebut. Latar
belakang budaya seseorang perlu dipelajari untuk mengetahui keyakinan nilai dan perilaku
dalam bertransaksi satu sama lain.
Dalam keperawatan seseorang dengan gangguan jiwa dan masalah emosional sering
menjadi kompleks permasalahannya karena perbedaan budaya. Jika budaya perawat
dan pasien berbeda, dapat memperberat sakit/masalah kesehatan jiwa seseorang. Sering
ditemukan perilaku tertentu pada suatu budaya dianggap harus dihukum atau sakit,
sementara dalam budaya lain orang bisa bertoleransi terhadap perilaku tersebut. Maka
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 73

untuk menangani masalah kesehatan jiwa, perawat penting mengenal budaya pasien dan
keluarga (Mery Ann, 1998).
Asumsi dasar dari teori Leininger, pertama, perawatan kepada manusia merupakan
fenomena universal, tetapi ekspresi, proses dan polanya bervariasi pada setiap kultur.
Kedua, tindakan keperawatan dan proses penting untuk kelahiran manusia, perkembangan,

CULTURE CARE
Worldview

Cultural & Social Structure Dimensions

Cultural Values,
Kinship Beliefs & Political &
& Social Lifeways Legal Factors
Factors
Environtment Context,
Language & Ethnohistory

Religious & Economic


Philosophical Factors
Factors Influences

Care Expressions
Technological
Pattern & Practices
Factors Educational
Factors

Holistic Heath/Illnes/Death

Focus: Individuals, Families, Groups, Communities or Institutions


in Diverse Heath Context of

Generie (Folk) Profesional Care-


Care Nursing Care Cure Practices
Practices

Transcultural Care Dicisons & Actions

Culture Care Presenvation/ Maintance


Culture Care Accomodation/Negotiation
Code Acute viral discase
Culture Care Repattening/Restructurineg
caused by the human
© M. Leininger 2001

Culturally Congruent Care for Health, Well-being or Dying

URE 1. Leininger’s Sunrise Model to Depict Dimentions of the theory of cylture Diversity and Universalty

Keterangan: saling memengaruhi

Gambar 4.8 Model sunrise (Leininger dalam Alligood & Tomey (2006)
74 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

pertumbuhan dan survival, dan untuk kematian yang damai. Ketiga, Caring adalah esensi
dan dimensi unik dari intelektual dan praktis profesi keperawatan. Keempat, caring meliputi
dimensi biofisikal, cultural, psikologi, sosial dan lingkungan. Maka perlu memberikan
perawatan holistik kepada masyarakat. Kelima, tindakan keperawatan bersifat lintas
budaya oleh karena itu perawat perlu mampu mengidentifikasi dan membina hubungan
perawat-klien interkultur dan data sistem. Keenam, perilaku dalam perawatan, tujuan dan
fungsi yang bervariasi dengan struktur budaya dan nilai khusus dari orang dengan beda
kultur. Ketujuh, praktik mandiri atau praktik lain bervariasi pada budaya yang berbeda dan
sistem pelayanan yang berbeda. Kedelapan, mengidentifikasi universal dan non universal
tradisi dan perilaku professional, keyakinan dan praktik penting untuk pengembangan
pengetahuan keperawatan. Kesembilan, perawatan syarat berbagai kultur, dan butuh
pengetahuan dasar tentang budaya dan ketrampilan yang ampuh. Kesepuluh, tidak bisa
ada pengobatan tanpa keperawatan, tetapi juga tidak ada keperawatan tanpa pengobatan
(Marriner Ann, 1998).
Penerapan kerangka konsep berbasis Transcultural nursing (Sabina, 2013).

Pelayanan Pencegahan pada


Dimensi Transkultural Care
individu, keluarga, kelompok,
sekolah, komunitas
1. Faktor Demografi
  a. Usia, b.Jenis kelamin, c.Suku 1. Tingkat Primer

2. Faktor Pendidikan: 2. Tingkat Sekunder


a. Pengetahuan ttg ‘moke’ 3.Tingket Tersier
b. Tingkat pendidikan
c. Peran Guru/pendidik
d. Peran keluarga
3. Faktor teknologi :
a. Teknik minum ‘moke’
b. Kadar alkohol‘moke’
4. Faktor Sosial : Konsekuensi
a. Kesempatan minum moke masalah
b. Tempat-tempat minum ‘moke’ kesehatan
c. Peran Toma masyarakat
5. Faktor Politik & Hukum: 1. Kejadian
a. Aturan terkait ‘moke’ Lakalantas
b. Kasus² ‘moke’ di masy. 2. Kejadian KDRT
Perilaku Peminum ‘moke’ 3. Kejadian kriminal
6. Faktor ekonomi:
1. Zona 1: risiko rendah 4. Kejadian sakit
a. ’Moke’ terkait pendapatan
atau tidak ada mental
b. Kemampuan beli’moke’
2. Zona 2: Pengguna 5. Kejadian sakit fisik
c. Pekerjaan, 6. Kejadian masalah
Alkohol,risiko kecil
d. Penghasilan psikososial
3. Zona 3: Ada gejala
7. Faktor nilai budaya: 7. Kejadian remaja
ketergantungan
a. Keyakinan minum moke’ putus sekolah
4. Zona 4: Ada gejala
b. Gaya hidup t’kait ‘moke’
merugikan tubuh
c. Norma² dl. masyarakat
8. Faktor Religius:
a. Peran Toga
b. Pendidikan agama dl.kel
c. Agama

Gambar 4.9 Kerangka konsep (Sabina, 2013)

Penjelasan kerangka konsep teoritis. Teori utama dalam penelitian ini dikembangkan
dari sunrise model dari Leninger, (2004). Model ini mengambarkan dimensi-dimensi dari
teori Culture Care, dengan karakteristik keaneka ragaman dan kesemestaan/keseluruhan.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 75

Dimensi struktur sosial budaya dalam suatu masyarakat, saling memengaruhi sehingga
terbentuk pola dan praktik hidup di masyarakat. Pelayanan kesehatan yang ada melayani
kebutuhan masyarakat akan dikembangkan sesuai masalah kesehatan yang ada dalam
masyarakat. Oleh karena itu, selain mengukur model sunrise dari Leninger yang ada
dalam masyarakat, akan diukur pula pelayanan kesehatan yang ada dalam masyarakat
tersebut.
Pelayanan kesehatan yang diukur sehubungan dengan teori ini adalah public health
model dari Caplan. Model ini menyebutkan tentang tiga tingkat pencegahan dalam
pelayanan kesehatan di masyarakat, khusus untuk masalah kesehatan jiwa. Caplan
berasumpsi bahwa masalah kesehatan jiwa di masyarakat dapat dicegah terjadinya.
Pencegahan yang disebutkan dalam model ini meliputi pencegahan primer, sekunder dan
tersier. Ketiga tingkat pencegahan ini mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Pencegahan
primer bertujuan mengintervensi potensial masalah kesehatan melalui promosi kesehatan
dan perlindungan khusus. Pencegahan sekunder bertujuan mengintervensi masalah
kesehatan aktual melalui diagnosis dini dan terapi tepat waktu. Pencegahan tersier
bertujuan mengintervensi keterbatasan dan ketidakmampuan akibat penyakit kronis
dan rehabilitasi, melalui rehabilitasi keterbatasan dan mencegah komplikasi. Terhadap
peminum alkohol ‘moke’ akan diukur pencegahan primer.
Pelayanan pencegahan ini intervensinya ditujukan pada individu, keluarga, kelompok,
sekolah dan komunitas. Khusus untuk pelayanan pencegahan tingkat primer, intervensinya
dapat dilakukan oleh profesi keperawatan, yang jumlah tenaganya paling banyak pada unit
pelayanan kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M.R. dan Tomey, A. M. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri:
Mosby.
Marriner Ann. 1998. Nursing Theorist and Their Work. Fourth Ed. St Louis Missouri:
Mosby.
Sabina. 2013. Pengembangan model Perilaku Minum Moke pada Masyarakat Sikka, NTT.
Disertasi. Prodi Doktor. FKM. Unair. Tidak dipublikasikan.

HEALTH PROMOTION MODEL (HPM)


Model Promosi Kesehatan adalah suatu cara untuk menggambarkan interaksi manusia
dengan lingkungan fisik dan interpersonalnya dalam berbagai dimensi. Health Promotion
Model atau model promosi kesehatan pertama kali dikembangkan oleh Nola J. Pender pada
tahun 1987. HPM  lahir dari penelitian tentang 7 faktor persepsi kognitif dan 5 faktor
modifikasi tingkah laku yang memengaruhi dan meramalkan tentang perilaku kesehatan.
Model ini menggabungkan dua teori yaitu dari teori  Nilai Pengharapan  (Expectancy-Value)
dan Teori Pembelajaran sosial (Social Cognitive Theory) dalam perspektif keperawatan
manusia dilihat sebagai fungsi yang holistik. Adapun secara singkat elemen dari teori ini
adalah sebagai berikut.
76 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Pengembangan Teori Dasar Model Promosi Kesehatan (Pender, 2006)


Revisi Model Promosi Kesehatan (HPM) tahun 2006, terdapat beberapa variabel HPM,
yaitu : 1) Sikap yang berhubungan dengan aktivitas, 2) Komitmen pada rencana tindakan
dan 3) Adanya kebutuhan yang mendesak.

Kerangka Konsep Teori


INDIVIDUAL BEHAVIOR SPECIFIC BEHAVIORAL
CHARACTERISTICS COGNITIONS OUTCOME
AND EXPERIENCES AND EFFECT

PERCEIVED
BENEFITS OF
ACTION

PERCEIVED
BARRIERS TO
ACTION IMMEDIATE COMPETING
PIOR DEMAND
RELATED (low control)
BEHAVIOR AND PREFERENCES
PERCEIVED SELF- (high control)
EFFECACY

PERSONAL ACTIVITY-RELATED
FACTORS AFFECT
Biological COMMITMENT HEALTH
Psychological TO A PROMOTING
Socio-cultural PLAN OF ACTION BEHAVIOR
INTERPERSONAL
INFLUENCE
(Family, Peers,
Provider); Norms,
Support, Models

SITUATION
INFLUENCE
Options, Demand
Character
Aesthethics


Gambar 4.10 Model promosi kesehatan yang telah direvisi (Pender, N. 2006. Health
promotion in nursing practice. 5th ed. New Jersey: Prentice Hall).

Penjelasan tentang variable dari HPM  dapat diuraikan di bawah ini (Alligood & Tomey,
2006).

1. Karakteristik individu dan  pengalaman individu


Setiap manusia mempunyai karakteristik yang unik dan pengalaman yang dapat
memengaruhi tindakannya. Karakteristik individu atau aspek pengalaman dahulu
lebih fleksibel sebagai variabel karena lebih relevan pada perilaku kesehatan utama
atau sasaran populasi utama
a.  Perilaku sebelumnya
Perilaku terdahulu mempunyai efek langsung dan tidak langsung pada perilaku
promosi kesehatan yang dipilih, membentuk suatu efek langsung menjadi
kebiasaan perilaku dahulu, sehingga predisposisi dari perilaku yang dipilih dengan
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 77

sedikit memperhatikan pilihannya itu. Kebiasaan muncul pada setiap perilaku


dan menjadi suatu pengulangan perilaku. Sesuai dengan teori sosial kognitif,
perilaku dahulu mempunyai pengaruh tidak langsung pada perilaku promosi
kesehatan melalui persepsi terhadap self efficacy, keuntungan, rintangan dan
pengaruh aktivitas. Perilaku nyata berkaitan dengan feed back adalah sumber
pemanfaatan yang terbesar atau skill. Keuntungan dari pengalaman dar perilaku
yang diambil disebut sebagai hasil yang diharapkan. Jika hasilnya memuaskan
maka akan menjadi pengulangan perilaku dan jika gagal menjadi pelajaran untuk
masa depan. Setiap insiden perilaku juga disertai oleh emosi atau pengaruh sikap
positif atau negatif sebelum, selama dan sesudah perilaku dilakukan menjadi
pedoman untuk selanjutnya. Perilaku sebelum ini menjadi kognitif dan menjadi
spesifik. Perawat membantu klien dengan melihat riwayat perilaku positif dengan
berfokus pada pemanfaatan perilaku, mengajar klien bagaimana bertindak dan
menimbulkan potensi  dan sikap yang positif melalui pengalaman yang sukses
dan feed back positif.
b. Faktor personal
1) Biologi- usia, indeks massa tubuh, status pubertas, status menopause, kapasitas
aerobik, kekuatan, ketangkasan atau keseimbangan
2) Psikologi- self esteem, motivasi diri dan status kesehatan
3) Sosiokultural- suku, etnis, akulturasi, pendidikan dan status sosio ekonomi
2. Kognitif behaviour spesifik dan sikap
a. Manfaat tindakan
Manfaat tindakan secara langsung memotivasi perilaku dan tidak langsung
mendetermin rencana kegitanan untuk mencapai manfaat sebagai hasil. Manfaat
tadi menjadi gambaran mental positif atau reinforcement positif bagi perilaku.
Menurut teori nilai ekspentansi motivasi penting untuk mewujudkan hasil
seseorang dari pengalaman dahulu melaui pelajaran observasi dari orang lain
dalam perilaku. Individu cenderung untuk menghabiskan waktu dan hartanya
dalam beraktivitas untuk mendapat hasil yang potsitif. Keuntungan dari
penampilan perilaku bisa intrinsik atau ekstrinsik. Intrinsik-bertambah kesadaran,
berkurang rasa kelelahan
Ekstrinsik-reward keuangan atau interaksi potitif. Manfaat ekstrinsik
perilaku kesehatan menjadi motivasi yang tinggi di mana manfaat intrinsik lebih
memotivasi untuk berlangsungnya perilaku sehat. Manfaat penting yang paling
diharapkan dan secara tempo berhubungan dengan potensi. Kepercayaan tentang
manfaat atau hasil positif dari harapan.
b. Hambatan tindakan
Misalnya: ketidaksediaan, tidak cukup, mahal, sukar atau waktu yang terpakai
dari suatu kegiatan utama. Rintangan sering dipandang sebagai blok rintangan
dan biaya yang dipakai. Hilangnya kepuasan dari perilaku tidak sehat seperti
merokok, makan tinggi lemak juga disebut rintangan. Biasanya muncul motif-
motif yang dihindari/dibatasi dalam hubungan dengan perilaku yang diambil.
Kesiapan melakukan rendah dan rintangan tinggi, tindakan tidak terjadi.
Rintangan adalah sikap yang langsung menghalangi kegiatan melalui pengurangan
komitmen rencana kegiatan.
78 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

c. Self efficacy
Menurut Bandura: kemampuan seseorang untuk mengorganisasi dan
melaksanakan tindakan utama menyangkut bukan hanya skill yang dimiliki
seseorang tetapi keputusan yang diambil seseorang dari skill yang dia miliki.
Keputusan efficacy seseorang diketahui dari hasil yang diharapkan yaitu
kemampuan seseorang menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu di mana hasil
yang diharapkan adalah suatu keputusan dengan konsekuensi keuntungan biaya
misalnya: perilaku yang dihasilkan. Skill dan kompetensi memotivasi individu
untuk melakukan tindakan secara unggul. Perasaan manjur dan ahli dalam
perbuatan seseorang akan mendorong seseorang untuk melaksanakan perilaku
yang diinginkan lebih sering dari pada rasa tidak layak/tidak trampil. Pengetahuan
seseorang tentang efficacy diri didasarkan pada 4 tipe info:
1) Feed back eksternal yang diberi orang lain. Pencapaian hasil dari perilaku dan
evaluasi yang sesuai dengan standar diri (self efficacy).
2) Pengalaman orang lain dan evaluasi diri dan feed back dari mereka.
3) Ajakan orang lain.
4) Status psikologis: kecemasan, ketakutan, ketenangan dari orang yang menilai
kompetensi mereka.
Self efficacy dipengaruhi oleh aktivitas yang berhubungan dengan:
Pengaruh positif, persepsi efficacy lebih besar. Kenyataannya hubungan ini
berlawanan dengan persepsi efficacy terbesar, bertambahnya pengaruh positif.
Efficacy diri memengaruhi rintangan bertindak, efficacy tinggi- persepsi barier
yang rendah. Efficacy diri memotivasi perilaku promosi kesehatan secara langsung
oleh harapan efficacy dan tidak langsung pleh hambatan dan ditentukan level
komitmen dan rencana kegiatan.
d. Sikap yang Berhubungan dengan Aktivitas
1) Emosi yang timbul pada kegiatan itu
2) Tindakan diri
3) Lingkungan di mana kegiatan itu berlangsung
Pengaruh terhadap perilaku menunjukkan suatu reaksi emosional langsung dapat
positif atau negatif, lucu, menyenangkan, menjijikkan, tidak menyenangkan.
Perilaku yang memberi pengaruh positif sering diulangi. Sedangkan perilaku yang
berpengaruh negatif dibatasi atau dikurangi. Berdasarkan teori kognitif sosial
ada hubungan antara efficacy diri dan pengaruh aktivitas. Mc avley dan Courney
menemukan bahwa respons afek positif selama latihan signifikan menjadi prediksi
dari efficacy pascalatihan. Respons emosional dan status fisiologis selama perilaku
sebagai sumber dari informasi efficacy. Sikap pengaruh aktivitas diajukan sebagai
memengaruhi perilaku kesehatan secara langsung atau tidak langsung melalui
efficacy diri dan komitmen pada rencana kegiatan.
e. Pengaruh interpersonal
Pengaruh interpersonal adalah kognisi tentang perilaku, kepercayaan atau sikap
orang lain. Sumber utama interpersonal adalah keluarga (familiy at sibling peer)
kelompok dan pemberi pengaruh pelayanan kesehatan. Pengaruh interpersonal
terdiri atas norma (harapan orang lain), dukungan sosial (instrumental dan
dorongan emosional) dan model (belajar dari pengalaman orang lain.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 79

Norma sosial menjadi standar untuk performance individu. Model yang


digambarkan menjadi strategi penting untuk perubahan perilaku dalam teori
kognitif sosial misalnya adanya tekanan sosial atau desakan untuk komitmen
pada rencana kegiatan. Individu sensitif pada harapan contoh dan pujian orang
lain. Motivasi yang cukup menjadi cara yang konsisten yang memengaruhi seperti
orang yang dipuji dan dikuatkan secara sosial.
f. Pengaruh situasional
Persepsi personal dan kognisi dari situasi dapat memfasilitasi atau menghalangi
perilaku misalnya pilihan yang tersedia, karakteristik deman dan ciri-ciri
lingkungan estetik seperti situasi/lingkungan yang cocok, aman, tentram dari
pada yang tidak aman dan terancam. Situasi dapat memengaruhi perilaku dengan
mengubah lingkungan misalnya “no smoking”. Pengaruh situasional dapat menjadi
kunci untuk pengembangan strategi efektif yang baru untuk memfasilitasi dan
mempertahankan perilaku promosi kesehatan dalam populasi.
3. Komitmen rencana tindakan
Proses kognitif yang mendasari
a. Komitmen untuk melaksanakan tindakan spesifik sesuai waktu dan tempat dengan
orang-orang tertentu atau sendiri dengan mengabaikan persaingan
b. Identifikasi strategi tertentu untuk mendapatkan, malaksanakan atau penguatan
terhadap perilaku.
Rencana kegiatan dikembangkan oleh perawat dan klien dengan pelaksanaan yang
sukses. Misalnya strategi dengan kontrak yang disetujui bersama-sama di mana satu
kelompok komit dengan pengertian bahwa kelompok lain memberi nyata reward
atau penguatan jika komitmen itu didukung. Komitmen sendiri tanpa strategi yang
berhubungan sering menghasilkan tujuan baik tetapi gagal dalam membentuk suatu
nilai perilaku kesehatan.
4. Kebutuhan yang Mendesak
Kebutuhan  mendesak (pilihan menjadi perilaku alternatif yang mendesak masuk
ke dalam kesadaran sehingga tindakan yang mungkin dilakukan segera sebelum
kejadian terjadi (suatu rencana perilaku promosi kesehatan). Perilaku alternatif ini
menjadikan individu dalam kontrol rendah karena lingkungan tak terduga seperti
kerja atau tanggung jawab merawat keluarga. Kegagalan merespons permintaan
berakibat tidak menguntungkan bagi diri atau orang lain. Pilihan permintaan sebagai
perilaku alternative dengan penguatan di mana individu mempunyai level kontrol
yang tinggi. Misalnya memilih makanan tinggi lemak dari pada rendah lemak karena
pilihan rasa, bau/selera. Permintaan yang mendesak dibedakan dari hambatan di
mana individu seharusnya melaksanakan suatu alternatif perilaku berdasarkan
permintaan eksternal yang tidak disangka atau hasil yang tidak sesuai. Dibedakan
karena kurang waktu, karena tuntutan itu mendorong berdasarkan hierarki sehingga
keluar dari rencana tindakan kesehatan yang positif. Beberapa individu cenderung
sesuai perkembangan secara biologis lebih mudah dipengaruhi selama tindakan dari
pada orang lain. Hambatan pilihan copating menghendaki latihan dari regulasi diri
dan kemampuan kontrol. Komitmen yang kuat terhadap rencana tindakan sangat
dibutuhkan.
80 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

5. Hasil perilaku
Perilaku promosi kesehatan adalah tindakan akhir atau hasil tindakan. Perilaku ini
akhirnya secara langsung ditujukan pada pencapaian hasil kesehatan positif untuk
klien. Perilaku promosi kesehatan terutama sekali terintegrasi dalam gaya hidup sehat
yang menyerap pada semua aspek kehidupan seharusnya mengakibatkan peningkatan
kesehatan, peningkatan kemampuan fungsional dan kualitas hidup yang lebih baik
pada semua tingkat perkembangan.

Daftar Pustaka
Alligood, M.R. & Tomey, A. M. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri:
Mosby
Marriner Ann. 1998. Nursing Theorist and Their Work. Fourth Ed. St Louis Missouri:
Mosby-Year Book.
Pender. N.J., Carolyn., Mary Aan. 2010. Health Promotion in Nursing Practice. Fourth Ed.
Micingan: Prentice Hall.

PRECEDE PROCEED MODEL

Perilaku Kesehatan Berdasarkan Teori Lawrence Green


Lawrence Green mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan
seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku
(behavior causes) dan faktor luar lingkungan (nonbehavior causes). Untuk mewujudkan
suatu perilaku kesehatan, diperlukan pengelolaan manajemen program melalui tahap
pengkajian, perencanaan, intervensi sampai dengan penilaian dan evaluasi. Proses
pelaksanaannya Lawrence Green menggambarkan dalam bagan berikut ini:

Phase 5 Phase 4 Phase 3 Phase 2 Phase 1


Administrarive and Educational and Behavioral and Epidemological Social diagnosis
policy diagnosis organizational environmental diagnosis
diagnosis diagnosis

Predisposing
HEALTH factors
PROMOTION

Health Reinforcing Behavior and


Education factors livestyle
Quality
Health
of life
Policy Enabling Environment
Regulation factors
Organization

Phase 6 Phase 7 Phase 8 Phase 9


Implementation Process evaluation Impact evaluation Outcome evaluation

Gambar 4.11 Precede proceed model (Green LW. & Kreuter MW, 1991)
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 81

Selanjutnya dalam program promosi kesehatan dikenal adanya model pengkajian dan
penindaklanjutan (Precede Proceed model) yang diadaptasi dari konsep Lawrence Green.
Model ini mengkaji masalah perilaku manusia dan faktor-faktor yang memengaruhinya,
serta cara menindaklanjutinya dengan berusaha mengubah, memelihara atau meningkatkan
perilaku tersebut kearah yang lebih positif. Proses pengkajian atau pada tahap precede dan
proses penindaklanjutan pada tahap proceed. Dengan demikian suatu program untuk
memperbaiki perilaku kesehtan adalah penerapankeempat proses pada umumnya ke
dalam model pengkajian dan penindaklanjutan.

1. Kualitas hidup adalah sasaran utama yang ingin dicapai di bidang pembangunan
sehingga kualitas hidup ini sejalan dengan tingkat sesejahteraan. Diharapkan semakin
sejahtera maka kualitas hidup semakin tinggi. kualitas hidup ini salah satunya
dipengaruhi oleh derajat kesehatan. Semakin tinggi derajat kesehatan seseorang
maka kualitas hidup juga semakin tinggi.
2. Derajat kesehatan adalah sesuatu yang ingin dicapai dalam bidang kesehatan,
dengan adanya derajat kesehatan akan tergambarkan masalah kesehatan yang sedang
dihadapi. Pengaruh yang paling besar terhadap derajat kesehatan seseorang adalah
faktor perilaku dan faktor lingkungan.
3. Faktor lingkungan adalah faktor fisik, biologis dan sosial budaya yanglangsung/tidak
memengaruhi derajat kesehatan.
4. Faktor perilaku dan gaya hidup adalah suatu faktor yang timbul karena adanva aksi
dan reaksi seseorang atau organisme terhadap lingkungannya. Faktorperilaku akan
terjadi apabila ada rangsangan, sedangkan gaga hidup merupakanpola kebiasaan
seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan karena jenis pekerjaannya
mengikuti trend yang berlaku dalam kelompok sebayanya, ataupunhanya untuk
meniru dari tokoh idolanya
Dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku
tertentu. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor:

Predisposing Factor: Enabling factors: Reinforcing factors:


1. Knowledge 1. Availibility of health resources 1. Family
2. Beliefs 2. Accessibility of health 2. Peers
3. Values resources 3. Teachers
4. Attitudes 3. Community/goverment laws, 4. Employers
5. Confidence proirity, and commitment to 5. Health provider
health 6. Community leaders
4. Health-related skill 7. Decision makers

Specific behavior Enviroment


by individuals or by (conditions of
organizations living)

Health

Gambar 4.12 Faktor yang memengaruhi perilaku kesehatan (Green lw dan Kreuter Mw, 1991)
82 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), merupakan faktor internal yang


ada pada diri individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang mempermudah
individu untuk berperilaku yangterwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
2. Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan.
3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) merupakan faktor yang menguatkan
perilaku, yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, teman sebaya,
orang tua, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

Ketiga faktor penyebab tersebut di atas dipengaruhi oleh faktor penyuluhan dan
faktor kebijakan, peraturan serta organisasi. Semua faktor faktor tersebut merupakan
ruang lingkup promosi kesehatan.
Faktor lingkungan adalah segala faktor baik fisik, biologis maupun sosial budaya yang
langsung atau tidak langsung dapat memengaruhi derajat kesehatan. Dapat disimpulkan
bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan,
sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan.
Di samping itu, ketersediaan fasilitas,sikap, dan perilaku para petugas kesehatan terhadap
kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.

KUALITAS HIDUP (QUALITY OF LIFE)


Kualitas hidup (Quality of Life) merupakan konsep analisis kemampuan individu untuk
mendapatkan hidup yang normal terkait dengan persepsi secara individu mengenai
tujuan, harapan, standar dan perhatian secara spesifik terhadap kehidupan yang dialami
dengan dipengaruhi oleh nilai dan budaya pada lingkungan individu tersebut berada
(Adam,2006).
Kualitas hidup (Quality of Life) digunakan dalam bidang pelayanan kesehatan untuk
menganalisis emosional seseorang, faktor sosial, dan kemampuan untuk memenuhi
tuntutan kegiatan dalam kehidupan secara normal dan dampak sakit dapat berpotensi
untuk enurunkan kualitas hidup terkait kesehatan (Brooks & Anderson, 2007).
Pembahasan kualitas hidup menjadi semakin semakin penting bagi dunia kesehatan,
terkait kompleksitas hubungan biaya dan nilai dari pelayanan perawatan kesehatan yang
didapatkan. Institusi pemberi pelayanan kesehatan diharapkan dapat membuat kebijakan
ekonomi sebagai perantara yang menghubungkan antara kebutuhan dengan perawatan
kesehatan (Brooks & Anderson, 2007).
Kualitas hidup yang menggambarkan kelompok pasien atau daerah juga relevan di
dalam penilaian kebutuhan kesehatan populasi. Indikator kesehatan secara konvensional
tidak memasukkan analisis mengenai keadaan yang tidak sehat atau distorsi oleh
permintaan klinis dan faktor persediaan. Evaluasi efektivitas dan penilaian kebutuhan
kesehatan sering diperlukan memotong area program dan perawatan yang luas, terkait
dengan alokasi sumber daya (Brooks & Anderson, 2007).
Kualitas hidup memiliki maksud sebagai usaha untuk membawa penilaian
memperoleh kesehatan. Pandang ketentuan klinis, kualitas hidup telah menjadi pokok
bahasan sehubungan dengan penggunaan instrumen terkait keadaan kesehatan yang
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 83

mengukur kepuasan pasien dan manfaat fisiologis. Suatu konsep total kesehatan manusia
menggabungkan keduanya yakni factor fisik dan mental.
Kualitas instumen kehidupan sepeti usaha pengaturan untuk meningkatkan pada
pengukuran klinis sederhana yang sulit untuk mencerminkan kualitas kehidupan, akibat
yang merugikan dari perawatan kesehatan yang didapatkan, gaya hidup pasien tertentu yang
mungkin perlu penyesuaian dan pembatasan terkait dengan kondisi kesehatan yang ada.
Kualitas hidup terkait kesehatan yang terdahulu, memiliki konsep untuk mengetahui
situasi individu secara aktual yang dihubungkan dengan harapan individu tersebut
mengenai kesehatannya. Pemakaian konsep yang terdahulu, memiliki variasi hasil jawaban
yang tinggi, dan bersifat reaktif terhadap pengaruh eksternal terhadap lama menderita
penyakit dan dukungan sekitar (Beaudoin & Edgar, 2003).
Kualitas hidup dengan konsep yang saat ini digunakan secara umum, merupakan
analisis dari hasil kuesioner yang dilakukan pada pasien, yang bersifat multidimensi dan
mencakup keadaan secara fisik, sosial, emosional, kognitif, hubungan dengan peran atau
pekerjaan yang dijalani, dan aspek spiritual yang dikaitkan dengan variasi gejala penyakit,
terapi yang didapatkan beserta dengan dampak serta kondisi medis, dan dampak secaa
financial (John et al, 2004).

Quality of Life (QoL)


Penilaian kualitas hidup WHOQOL-100 dikembangkan oleh WHOQOL Group bersama
lima belas pusat kajian (field centres) internasional, secara bersamaan, dalam upaya
mengembangkan penilaian kualitas hidup yang akan berlaku secara lintas budaya.
Prakarsa WHO untuk mengembangkan penilaian kualitas hidup muncul karena
beberapa alasan:

a. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi perluasan focus pada pengukuran
kesehatan, di luar indikator kesehatan tradisional seperti mortalitas dan morbiditas
serta utuk memasukkan ukuran dampak penyakit dan gangguan pada aktivitas dan
perilaku sehari-hari. Hal ini memberikan ukuran dampak penyakit , tidak menilai
kualitas hidup semata, yang telah tepat digambarkan sebagai “pengukuran yang
hilang dalam kesehatan”.
b. Sebagian besar upaya dari status kesehatan ini telah dikembangkan di Amerika
Utara dan Inggris, dan penjabaran langkah-langkah tersebut yang digunakan dalam
situasilain banyak menyita waktu, dan tidak sesuai karena sejumlah alasan.
c. Model kedokteran yang semakin mekanistik yang hanya peduli dengan pemberantasan
penyakit dan gejalanya, memperkuat perlunya pengenalan unsure humanistic
ke perawatan kesehatan. Dengan memperbaiki assessment kualitas hidup dalam
perawatan kesehatan, perhatian difokuskan pada aspek kesehatan, dan intervensi
yang dihasilkan akan meningkatkan perhatian pada aspek kesejahteraan pasien.

Prakarsa WHO untuk mengembangkan assesmen kualitas hidup timbul dari


kebutuhan akan ukuran internasional terhadap kualitas hidup dan komitmen yang sebenar-
benarnya untuk promosi terus-menerus dari pendekatan holistic terhadap kesehatan dan
perawatan kesehatan.
84 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

a. Pengertian
Quality of Life yang selanjutnya disebut QoL didefinisikan sebagai berikut.

“ Quality of life is defined as individuals’ perceptions of their position in life in the


context of the culture and value systems in which they live and relation to their goals,
expectations, standards and concerns”

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai posisi mereka


dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan
dalam kaitannya denga tujuan, harapan standar dan perhatian mereka.
Definisi ini mencerminkan pandangan bahwa kualitas hidup mengacu pada
evaluasi subjektif yang tertanam dalam konteks bu daya, sosial, dan lingkungan.
Karena definisi kualitas hidup terfokus pada kualitas hidup yang “diterima”
responsden, definisi ini tidak diharapkan untuk menyediakan cara untuk mengukur
gejala, penyakit atau kondisi dengan pola terperinci, melainkan efek dari penyakit
dan intervensi kesehatan terhadap kualitas hidup. Dengan demikian, kualitas hidup
tidak dapat disamakan hanya dengan istilah status kesehatan, gaya hidup, kepuasan
hidup, kondisi mental atau kesejahteraan. Pengakuan sifat multidimensi kualitas
hidup tercermin dalam struktur WHOQOL-100.
a. Usulan penggunaan WHOQOL-100 dan WHOQOL-BREF
Perlu diantisipasi bahwa penilaian WHOQOL akan digunakan dalam cara yang
berskala luas. Cara-cara tersebut akan digunakan dengan dengan skala cukup
besar dalam uji klinis, dalam menetapkan nilai di berbagai bidang, dan alam
mempertimbangkan perubahan kualitas hidup selama intervensi. Penilaian
WHOQOL juga diharapkan akan menjadi nilai di mana prognosis penyakit
cenderung hanya melibatkan pengurangan atau pemulihan parsial, dana di mana
perawatan mungkin lebih pariatif daripada kuratif.
Untuk penelitian epidemiologi, penilaian WHOQOL akan memungkinkan data
rinci mengenai kualitas hidup dikumpulkan pada populasi tertentu, memfasilitasi
pemahaman akan penyakit, dan mengembangkan metode pengobatan. Penelitian
epidemiologi internasional yang akan diaktifkan oleh instrument seperti WHOQOL-
100 dan WHOQOL-BREF memungkinkan untuk melakukan penelitian multi-field
centers tentang kualitas hidup, dan membandingkan hasil yang diperoleh dari
field centers yang berbeda. Penelitian tersebut memiliki manfaat penting, yang
memungkinkan pengajuan pertanyaan yang tidak bias digunakan dalam penelitian
situs tunggal (single site) (Sartorius dan Helmchen, 1981). Sebagai contoh, studi
banding dalam dua atau lebih Negara pada hubungan antara penyediaan layanan
kesehatan dan kualitas hidup memerlukan penilaian yang menghasilkan skor
lintas-budaya yang sebanding. Kadang-kadang akumulasi kasus pada studi kualitas
hidup, terutama ketika mempelajari gangguan yang langka terjadi, dibantu dengan
mengumpulkan data dalam beberapa setting. Studi kolaboratif multi-field centers juga
dapat menyediakan ulangan berganda secara simultan dari temuan yang didapat,
yang memperkuat keyakinan diterimanya temuan tersebut.
Dalam praktik klinis, penilaian WHOQOL akan membantu dokter dalam
membuat penilaian mengenai daerah-daerah di mana pasien adalah yang paling
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 85

terpengaruh oleh penyakit, dan dalam membuat keputusan pengobatan Di beberapa


Negara berkembang di mana sumber daya untuk perawatan kesehatan mungkin
terbatas, pengobatan ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup, misalnya melalui
paliasi, yang dapat menjadi efektif dan murah. Bersama dengan langkah-langkah lain,
WHOQOL-BREF akan memungkinkan para professional kesehatan untuk menilai
perubahan kualitas hidup selama pengobatan.
Perlu juga diantisipasi bahwa di masa depan WHOQOL-100 dan WHOQOL-
BREF akan terbukti berguna dalam penelitian kebijakan kesehatan, dan akan
membuat sebuah aspek penting dari audit rutin kesehatan dan pelayanan sosial.
Krena instrument dikembangkan secara lintas-budaya, penyedia layanan kesehatan,
pemerintah dan anggota legislatif di negara-negara di mana tidak ada kualitas
hidup yang dilakukan, bisa memastikan bahwa data yang dihasilkan oleh kerja yang
melibatkan asesmen WHOQOL akan benar-benar sensittif bagi setting mereka.
b. Pengukuran QoL
The WHOQOL-BREF menghasilkan kualitas profil hidup adalah mungkin untuk
menurunkan empat skor domain. Keempat skor domain menunjukkan sebuah
persepsi individu tentang kualitas kehidupan di setiap domain tertentu. Domain
skor berskalakan kea rah yang positif (yaitu skor yang lebih tinggi menunjukkkan
kualitas hidup lebih tinggi). Biasanya seperti cakupan index antara 0 (mati) dan 1
(kesehatan sempurna).
Semua skala dan factor tunggal diukur dalam rentang skor 0-100. Nilai skala
yang tinggi mewakili tingkat respons yang lebih tinggi. Jadi nilai tinggi untuk mewakili
skala fungsional tinggi atau tingkat kesehatan yang lebih baik; nilai yang tinggi untuk
status kesehatan umum atau QoL menunjukkan QoL yang tinggi; tetapi nilai tinggi
untuk skala gejala menunjukkan tingginya symtomatology atau masalah. Dengan
menggunakan teknik Tem Trade Off (TTO) di mana 0 menunjukkan kematian dan
100 menunjukkan lebih buruk dari mati.
Rating scale (RS) mengukur QoL dengan cara yang sangat mudah, RS
menanyakan QoL, secara langsung sebagai sebuah titik dari 0 yang berhubungan
dengan kematian. Dan kurang dari 100, yang berhubungan ndengan kesehatan yang
sempurna. Gambar 2.4 di bawah ini mengindikasikan sebuah contoh dari RS yang
menggunakan thermometer. Metode ini mudah dimengerti dan sudah digunakan
secara luas.
c. Domain QoL menurut WHOQOL-BREF
Menurut WHO (1996), ada empat domain yang dijadikan parameter untuk
mengetahui kualitas hidup. Setiap domain dijabarkan dalam beberapa aspek,
yaitu:
1. Domain kesehatan fisik, yang dijabarkan dalam beberapa aspek, sebagai berikut :
a) Kegiatan kehidupan sehari-hari
b) Ketergantungan pada bahan obat dan bantuan medis
c) Energi dan kelelahan
d) Mobilitas
e) Rasa sakit dan ketidaknyamanan
f) Tidur dan istirahat
g) Kapasitas kerja
86 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

2. Domain psikologis, yang dijabarkan dalam beberapa aspek, sebagai berikut :


a) Bentuk dan tampilan tubuh
b) Perasaan negatif
c) Perasaan positif
d) Penghargaan diri
e) Spiritualitas agama atau keyakinan pribadi
f) Berpikir, belajar, memori dan konsentrasi
3. Domain hubungan sosial, yang dijabarkan dalam beberapa aspek, sebagai
berikut:
a) Hubungan pibadi
b) Dukungan sosial
c) Aktivitas seksual
4. Domain lingkungan, yang dijabarkan dalam beberapa aspek, sebagai berikut :
a) Sumber daya keuangan
b) Kebebasan, keamanan dan kenyamanan fisik
c) Kesehatan dan kepedulian sosial : aksesbilitas dan kualitas
d) Lingkungan rumah
e) Peluang untuk memperoleh informasi dan keterampilan baru
f) Partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi dan keterampilan baru
g) Lingkungan fisik (polusi atau kebisingan atau lalu lintas atau iklim)
h) Transportasi

Nilai kualitas hidup penderita TB dapat dinilai berdasarkan domain dan aspek dari
WHOQOL, dengan memperhatikan sign and symthom dari penyakit TBC sehingga bias
didapat gambaran kualitas hidup dari penderita TBC.

DAFTAR PUSTAKA
Beaudoin, L. E., Edgar, L.(2003). Their Importance to Nurses’ Quality of Work Life. Nursing
Economics, May-June, pp. 106 -113.
Brooks, B. A., Anderson, B.,(2007). Assesing The Nursing Quality of Work Life. Nursing
Administration Quarterly, pp. 152-157.
Green LW. & Kreuter MW. 1991. Health Promotion Planning. An educational and
Environmental Approach. 2nd. Ed. Mountain View: Mayfield Publishing Co.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 87

Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned


Behavior)
Theory of Planned Behavior (TPB) atau teori perilaku terencana merupakan pengembangan
lebih lanjut dari Theory of Reasoned Action (TRA). Ajzen (1988) menambahkan konstruk
yang belum ada dalam TRA, yaitu perceived behavioral control (PBC). Penambahan satu
faktor ini dalam upaya memahami keterbatasan yang dimiliki individu dalam rangka
melakukan perilaku tertentu.

Sejarah Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior)


TRA dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen (1975) memberikan bukti ilmiah bahwa intensi
untuk melakukan suatu tingkah laku dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: sikap terhadap
perilaku (attitude toward behavior) dan norma subjektif (subjective norms). Penelitian di
bidang sosial telah banyak membuktikan bahwa TRA ini adalah teori yang cukup memadai
untuk memprediksi tingkah laku. Namun setelah beberapa tahun, Ajzen melakukan meta
analisis terhadap TRA. Hasil yang didapatkan dari meta analisis tersebut adalah TRA hanya
berlaku bagi tingkah laku yang berada di bawah kontrol penuh individu, dan tidak sesuai
untuk menjelaskan tingkah laku yang tidak sepenuhnya di bawah kontrol individu, karena
ada faktor yang dapat menghambat atau mempermudah/ memfasilitasi realisasi intensi ke
dalam tingkah laku. Berdasarkan analisis ini, lalu Ajzen pada tahun 1988 menambahkan
perceived behavioral control (PBC) sebagai satu faktor anteseden bagi intensi yang berkaitan
dengan kontrol individu. Dengan penambahan satu faktor ini kemudian mengubah TRA
menjadi Theory of Planned Behavior, yang selanjutnya disebut sebagai TPB.
Penjelasan lain bahwa TRA dan TPB berfokus pada konstruksi teoritis yang berkaitan
dengan faktor intensi individu sebagai penentu dari kemungkinan melakukan perilaku
tertentu. Baik TRA maupun TPB menganggap predictor terbaik perilaku adalah niat
terhadap perilaku, yang pada gilirannya ditentukan oleh sikap terhadap perilaku dan
persepsi sosial normatif mengenai itu (perceived behavioral control). TPB merupakan
perluasan dari TRA dengan menambah konstruksi perceived behavioral control.
Theory of Planned Behavior (TPB) menyampaikan bahwa perilaku yang ditampilkan
oleh individu timbul karena adanya intensi/ niat untuk berperilaku. Sedangkan munculnya
niat berperilaku ditentukan oleh 3 faktor penentu yaitu:

1) behavioral beliefs, yaitu keyakinan individu akan hasil dari suatu perilaku (beliefs
strength) dan evaluasi atas hasil tersebut (outcome evaluation),
2) normative beliefs, yaitu keyakinan tentang harapan normatif orang lain (normative
beliefs) dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (motivation to comply),
dan
3) control beliefs, yaitu keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau
menghambat perilaku yang akan ditampilkan (control beliefs) dan persepsinya tentang
seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat perilakunya tersebut
(perceived power). Hambatan yang mungkin timbul pada saat perilaku ditampilkan
dapat berasal dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan.
88 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Bagan Theory of Planned Behavior

Behavior
beliefs
Attitude toward
behavior

Evaluation of
behavioral outcome

Normative
beliefs
Subjective Behavioral
Norm intention Behavioral

Motivation to
comply

Control
beliefs
Perceived Behavioral
control

Perceived

Gambar 4.13 Bagan theory of planned behavior (National Cancer Institute, 2005)

Behavioral attitude toward


Background factors
Beliefs the behavioral
Personal
General , attitudes
Personality
Values, Emotions
Intelligence Normative Subjective
Intention Behavior
Beliefs Norm
Social
Age, gender
Race, Ethnicity
Income , Religion

Information Perceived
Experience Control Beliefs Behavioral
Knowledge Control
Media exposure

Gambar 4.14 Peran background factor pada teori planned behavior (Ajzen, 2005)

Secara berurutan, behavioral beliefs menghasilkan sikap terhadap perilaku positif


atau negatif, normative beliefs menghasilkan tekanan sosial yang dipersepsikan (perceived
social pressure) atau norma subjektif (subjective norm) dan control beliefs menimbulkan
perceived behavioral control atau kontrol perilaku yang dipersepsikan (Ajzen, 2002).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 89

Bagan di atas dapat menjelaskan empat hal yang berkaitan dengan perilaku
manusia, yaitu:

1) Hubungan yang langsung antara tingkah laku dan intensi. Hal ini dapat berarti bahwa
intensi merupakan faktor terdekat yang dapat memprediksi munculnya tingkah laku
yang akan ditampilkan individu.
2) Intensi dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu sikap individu terhadap tingkah laku yang
dimaksud (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norm), dan persepsi
terhadap kontrol yang dimiliki (perceived behavioral control).
3) Masing-masing faktor yang memengaruhi intensi di atas (sikap, norma subjektif
dan PBC) dipengaruhi oleh anteseden lainnya, yaitu beliefs. Sikap dipengaruhi oleh
behavioral beliefs, norma subjektif dipengaruhi oleh normative beliefs, dan PBC
dipengaruhi oleh beliefs tentang kontrol yang dimiliki yang disebut control beliefs.
Baik sikap, norma subjektif dan PBC merupakan fungsi perkalian dari masing-masing
beliefs dengan faktor lainnya yang mendukung.
4) PBC merupakan ciri khas teori ini dibandingkan dengan TRA.
Pada bagan di atas dapat dilihat bahwa ada 2 cara yang menghubungkan tingkah laku
dengan PBC. Cara pertama diwakili oleh garis penuh yang menghubungkan PBC
dengan tingkah laku secara tidak langsung melalui perantara intensi. Cara kedua
adalah hubungan secara langsung antara PBC dengan tingkah laku yang digambarkan
dengan garis putus-putus, tanpa melalui intensi (Ajzen, 2005).

Variabel Lain yang Memengaruhi Intensi


Menurut Ajzen, 2005 dalam Ramadhani, 2009 bahwa variabel lain yang memengaruhi
intensi selain beberapa faktor utama tersebut (sikap terhadap perilaku, norma subjektif
dan PBC), yaitu variabel yang memengaruhi atau berhubungan dengan belief. Beberapa
variabel tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Faktor personal
Faktor personal adalah sikap umum seseorang terhadap sesuatu, sifat kepribadian
(personality traits), nilai hidup (values), emosi, dan kecerdasan yang dimilikinya.
2. Faktor sosial
Faktor sosial antara lain adalah usia, jenis kelamin (gender), etnis, pendidikan,
penghasilan, dan agama.
1) Usia
Secara fisiologi pertumbuhan dan perkembangan seseorang dapat digambarkan
dengan pertambahan usia. Pertambahan usia diharapkan terjadi pertambahan
kemampuan motorik sesuai dengan tumbuh kembangnya. Akan tetapi
pertumbuhan dan perkembangan seseorang pada titik tertentu akan mengalami
kemunduran akibat faktor degeneratif. Umur adalah rentang kehidupan yang
diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 tahun sampai
40 tahun, dewasa madya adalah 41 sampai 60 tahu, dewasa lanjut > 60 tahun.
Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Usia
yang lebih tua umumnya lebih bertanggung jawab dan lebih teliti dibanding usia
yang lebih muda. Hal ini terjadi kemungkinan karena yang lebih muda kurang
berpengalaman.
90 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Menurut umur/usia berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan atau maturitas


seseorang. Kedewasaan adalah tingkat kedewasaan teknis dalam menjalankan
tugas-tugas, maupun kedewasaan psikologis. Azjen (2005) menyampaikan
bahwa pekerja usia 20-30 tahun mempunyai motivasi kerja relatif lebih rendah
dibandingkan pekerja yang lebih tua, karena pekerja yang lebih muda belum
berdasar pada landasan realitas, sehingga pekerja muda lebih sering mengalami
kekecewaan dalam bekerja. Hal ini dapat menyebabkan rendahnya kinerja dan
kepuasan kerja, semakin lanjut usia seseorang maka semakin meningkat pula
kedewasaan teknisnya, serta kedewasaan psikologisnya yang akan menunjukkan
kematangan jiwanya. Usia semakin lanjut akan meningkatkan pula kemampuan
seseorang dalam mengambil keputusan, mengendalikan emosi, berpikir rasional,
dan toleransi terhadap pandangan orang lain sehingga berpengaruh juga terhadap
peningkatan motivasinya.
2) Jenis Kelamin
Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin
manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu.
Misalnya, bahwa manusia jenis kelamin laki-laki adalah manusia yang memiliki
atau bersifat seperti daftar berikut ini: laki-laki adalah manusia yang memiliki
penis, memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan
perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan,
memproduksi telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui.
3) Pendidikan
Azjen (2006) menyebutkan bahwa latar belakang pendidikan seseorang akan
memengaruhi kemampuan pemenuhan kebutuhannya sesuai dengan tingkat
pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda yang pada akhirnya memengaruhi
motivasi kerja seseorang. Dengan kata lain bahwa pekerja yang mempunyai
latar belakang pendidikan tinggi akan mewujudkan motivasi kerja yang berbeda
dengan pekerja yang berlatar belakang pendidikan rendah. Latar belakang
pendidikan memengaruhi motivasi kerja seseorang. Pekerja yang berpendidian
tinggi memiliki motivasi yang lebih baik karena telah memiliki pengetahuan
dan wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan pekerja yang memiliki
pendidikan yang rendah. Menurut Notoatmodjo (1992) menyebutkan bahwa
dengan pendidikan seseorang akan dapat meningkatkan kematangan intelektual
sehingga dapat membuat keputusan dalam bertindak.
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktifitas atau kinerja perawat
adalah pendidikan formal perawat. Pendidikan memberikan pengetahuan
bukan saja yang langsung dengan pelaksanaan tugas, tetapi juga landasan untuk
mengembangkan diri serta kemampuan memanfaatkan semua sarana yang ada
di sekitar kita untuk kelancaran tugas. Semakin tinggi pendidikan semakin tinggi
produktivitas kerja, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia
yang diperlukan untuk pengembangan diri. Semakin tinggi tingkat pendidikan,
semakin mudah mereka menerima serta mengembangkan pengetahuan dan
teknologi, sehingga akan meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya akan
meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 91

Pendidikan keperawatan di Indonesia mengacu kepada Undang-undang


No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan demikian jenis
pendidikan keperawatan di Indonesia mencakup pendidikan vokasi, akademik
dan profesi:
(1) Pendidikan vokasi adalah jenis pendidikan diploma sesuai jenjangnya untuk
memiliki keahlian ilmu terapan keperawatan yang diakui oleh pemerintah
Republik Indonesia.
(2) Pendidikan akademik adalah jenis pendidikan tinggi program sarjana
dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu
pengetahuan tertentu
(3) Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang
mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan
khusus.
Sedangkan jenjang pendidikan keperawatan mencakup program pendidikan:
diploma, sarjana, magister, spesialis dan doctor.
3. Faktor informasi
Faktor informasi adalah pengalaman, pengetahuan dan ekspose pada media.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan,
pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan.
Variabel-variabel dalam background factor ini memengaruhi belief dan pada
akhirnya berpengaruh juga pada intensi dan tingkah laku.

Keberadaan faktor tambahan ini memang masih menjadi pertanyaan empiris


mengenai seberapa jauh pengaruhnya terhadap belief, intensi dan tingkah laku. Namun,
faktor ini pada dasarnya tidak menjadi bagian dari TPB yang dikemukakan oleh Ajzen,
melainkan hanya sebagai pelengkap untuk menjelaskan lebih dalam determinan tingkah
laku manusia.

Intensi
Ajzen (1988, 1991) mengungkapkan bahwa intensi merupakan indikasi seberapa kuat
keyakinan seseorang akan mencoba suatu perilaku, dan seberapa besar usaha yang akan
digunakan untuk melakukan sebuah perilaku. Hartono (2007) mendefinisikan intensi (niat)
sebagai keinginan untuk melakukan perilaku. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa,
seseorang berperilaku karena faktor keinginan, kesengajaan atau karena memang sudah
direncanakan. Niat berperilaku (behavioral intention) masih merupakan suatu keinginan
atau rencana. Dalam hal ini, niat belum merupakan perilaku, sedangkan perilaku (behavior)
adalah tindakan nyata yang dilakukan.
Intensi merupakan faktor motivasional yang memiliki pengaruh pada perilaku, sehingga
orang dapat mengharapkan orang lain berbuat sesuatu berdasarkan intensinya (Ajzen
1988, 1991). Pada umumnya, intensi memiliki korelasi yang tinggi dengan perilaku, oleh
karena itu dapat digunakan untuk meramalkan perilaku. Menurut Fishbein dan Ajzen
92 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

(1975), intensi diukur dengan sebuah prosedur yang menempatkan subjek di dimensi
probabilitas subjektif yang melibatkan suatu hubungan antara dirinya dengan tindakan.
Menurut Theory of Planned Behavior, intensi memiliki 3 determinan, yaitu: sikap, norma
subjektif, dan kendala-perilaku-yang-dipersepsikan (Ajzen, 1988). Untuk melihat besar/
bobot pengaruh masing-masing determinan digunakan perhitungan analisis multiple
regresi, dengan persamaan sebagai berikut:

B ~ I = ( AB )W1 + ( SN )W2 + (PBC) W3

Keterangan: B = behavior = perilaku


I = intention = intensi melakukan perilaku B
Ab = attitudes = sikap terhadap perilaku B
SN = subjective norms = norma subjektif
PBC = perceived behavior control = kendali perilaku yang dipersepsikan
W1,2,3 = weight = bobot pengaruh

Keakuratan intensi dalam memprediksi tingkah laku tentu bukan tanpa syarat,
karena ternyata ditemukan pada beberapa studi bahwa intensi tidak selalu menghasilkan
tingkah laku yang dimaksud. Pernyataan ini juga diperkuat oleh pernyataan Ajzen (2005).
Menurutnya, walaupun banyak ahli yang sudah membuktikan hubungan yang kuat antara
intensi dan tingkah laku, namun pada beberapa kali hasil studi ditemukan pula hubungan
yang lemah antara keduanya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan intensi
dalam memprediksi tingkah laku yaitu:

1. Kesesuaian antara intensi dan tingkah laku.


Pengukuran intensi harus disesuaikan dengan perilakunya dalam hal konteks dan
waktunya.
2. Stabilitas intensi
Faktor kedua adalah ketidakstabilan intensi seseorang. Hal ini bisa terjadi jika
terdapat jarak/jangka waktu yang cukup panjang antara pengukuran intensi dan
dengan pengamatan tingkah laku. Setelah dilakukan pengukuran intensi, sangat
mungkin ditemui hal-hal/ kejadian yang dapat mencampuri atau mengubah intensi
seseorang untuk berubah, sehingga pada tingkah laku awal yang ditampilkannya
tidak sesuai dengan intensi awal. Semakin panjang interval waktunya, maka semakin
besar kemungkinan intensi akan berubah.
3. Literal inconsistency
Pengukuran intensi dan tingkah laku sudah sesuai (compatible) dan jarak waktu
antara pengukuran intense dan tingkah laku singkat, namun kemungkinan terjadi
ketidaksesuaian antara intense dengan tingkah laku yang ditampilkannya masih
ada. Penjelasan literal inconsistency ini adalah individu terkadang tidak konsisten
dalam mengaplikasikan tingkah lakunya sesuai dengan intense yang sudah
dinyatakan sebelumnya. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya
individu tersebut merasa lupa akan apa yang pernah mereka ucapkan. Maka untuk
mengantisipasi hal ini dapat dilakukan strategi implementation intention, yaitu dengan
meminta individu untuk merinci bagaimana intensi tersebut akan diimplementasikan
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 93

dalam tingkah laku. Rincian mencakup kapan, di mana dan bagaimana tingkah laku
akan dilakukan.
4. Base rate
Base rate adalah tingkat kemungkinan sebuah tingkah laku akan dilakukan oleh orang.
Tingkah laku dengan base rate yang tinggi adalah tingkah laku yang dilakukan oleh
hampir semua orang, nisalnya mandi, makan. Sedangkan tingkah laku dengan base
rate rendah adalah tingkah laku yang hampir tidak dilakukan oleh kebanyakan orang,
misal bunuh diri. Intensi dapat memprediksi perilaku aktualnya dengan baik jika
perilaku tersebut memiliki tingkat base rate yang sedang, misal pendokumentasian
asuhan keperawatan.

Pengukuran intensi dapat digolongkan ke dalam pengukuran belief. Sebagaimana


pengukuran belief, pengukuran intensi terdiri atas 2 hal, yaitu pengukuran isi (content)
dan kekuatan (strength). Isi dari intensi diwakili oleh jenis tingkah laku yang akan diukur,
sedangkan kekuatan responsnya dilihat dari rating jawaban yang diberikan responsden
pada pilihan skala yang tersedia. Contoh pilihan sekalanya adalah mungkin-tidak mungkin
dan setuju-tidak setuju.

Sikap
Menurut Ajzen (2005) sikap merupakan besarnya perasaan positif atau negatif terhadap
suatu objek (favorable) atau negatif (unfavorable) terhadap suatu objek, orang, institusi,
atau kegiatan. Eagly dan Chaiken (1993) dalam Aiken (2002) mendefinisikan sikap sebagai
kecenderungan psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi suatu entitas dalam
derajat suka dan tidak suka. Sikap dipandang sebagai sesuatu yang afektif atau evaluatif.
Konsep sentral yang menentukan sikap adalah belief. Menurut Fishbein dan Ajzen
(1975), belief merepresentasikan pengetahuan yang dimiliki seseorang terhadap suatu
objek, di mana belief menghubungkan suatu objek dengan beberapa atribut. Kekuatan
hubungan ini diukur dengan prosedur yang menempatkan seseorang dalam dimensi
probabilitas subjektif yang melibatkan objek dengan atribut terkait.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), sikap seseorang terhadap suatu objek sikap
dapat diestimasikan dengan menjumlahkan hasil kali antara evaluasi terhadap atribut
yang diasosiasikan pada objek sikap (belief evaluation) dengan probabilitas subjektifnya
bahwa suatu objek memiliki atau tidak memiliki atribut tersebut (behavioral belief). Atau
dengan kata lain, dalam theory of planned behavior sikap yang dimiliki seseorang terhadap
suatu tingkah laku dilandasi oleh belief seseorang terhadap konsekuensi (outcome) yang
akan dihasilkan jika tingkah laku tersebut dilakukan (outcome evaluation) dan kekuatan
terhadap belief tersebut (belief strength). Belief adalah pernyataan subjektif seseorang yang
menyangkut aspek-aspek yang dapat dibedakan tentang dunianya, yang sesuai dengan
pemahaman tentang diri dan lingkungannnya (Ajzen, 2005).
Dikaitkan dengan sikap, belief mempunyai tingkatan atau kekuatan yang berbeda-
beda, yang disebut dengan belief strength. Kekuatan ini berbeda-beda pada setiap orang
dan kuat lemahnya belief ditentukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap tingkat
keseringan suatu objek memiliki atribut tertentu (Fishbein & Ajzen, 1975). Sebagai salah
94 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

satu komponen dalam rumusan intensi, sikap terdiri atas belief dan evaluasi belief (Fishbein
& Ajzen, 1975 dalam Ismail & Zain, 2008), seperti rumus berikut ini:

AB = Σ b i e i

Keterangan:
AB = Sikap terhadap perilaku tertentu (
b = Belief terhadap perilaku tersebut yang mengarah pada konsekuensi i
e = Evaluasi seseorang terhadap outcome i (outcome evaluation)

berdasarkan rumus di atas, sikap terhadap perilaku tertentu (AB) didapatkan dari
penjumlahan hasil kali antara kekuatan belief terhadap outcome yang dihasilkan (bi) dengan
evaluasi terhadap outcome (ei). Dengan kata lain, seseorang yang percaya bahwa sebuah
tingkah laku dapat menghasilkan sebuah outcome yang positif, maka ia akan memiliki
sikap yang positif. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang memiliki keyakinan bahwa dengan
melakukan suatu tingkah laku akan menghasilkan outcome yang negatif, maka seseorang
tersebut juga akan memiliki sikap yang negative terhadap perilaku tersebut.
Pengukuran sikap tidak bisa didapatkan melalui pengamatan langsung, melainkan
harus melalui pengukuran respons. Pengukuran sikap ini didapatkan dari interaksi antara
belief content- outcome evaluation dan belief strength. Belief seseorang mengenai suatu objek
atau tindakan dapat dimunculkan dalam format respons bebas dengan cara meminta subjek
untuk menuliskan karakteristik, kualitas dan atribut dari objek atau konsekuensi tingkah
laku tertentu. Fishbein & Ajzen menyebutnya dengan proses elisitasi. Elisitasi digunakan
untuk menentukan belief utama (salient belief) yang akan digunakan dalam penyusunan
alat ukur atau instrument.

Norma Subjektif
Norma subjektif merupakan kepercayaan seseorang mengenai persetujuan orang lain
terhadap suatu tindakan (Ajzen, 1988), atau persepsi individu tentang apakah orang lain
akan mendukung atau tidak terwujudnya tindakan tersebut. Norma subjektif adalah
pihak-pihak yang dianggap berperan dalam perilaku seseorang dan memiliki harapan
pada orang tersebut, dan sejauhmana keinginan untuk memenuhi harapan tersebut. Jadi,
dengan kata lain bahwa norma subjektif adalah produk dari persepsi individu tentang
belief yang dimiliki orang lain. Orang lain tersebut disebut referent, dan dapat merupakan
orangtua, sahabat, atau orang yang dianggap ahli atau penting. Terdapat dua faktor yang
memengaruhi norma subjektif: normative belief, yaitu keyakinan individu bahwa referent
berpikir ia harus atau harus tidak melakukan suatu perilaku dan motivation to comply,
yaitu motivasi individu untuk memenuhi norma dari referent tersebut.
Rumusan norma subjektif pada intensi perilaku tertentu, dirumuskan sebagai berikut
(Fishbein & Ajzen, 1975):

SN = Σ b i m i
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 95

Keterangan:
SN = Norma Subjektif
bi = Normative belief
mi = Motivasi untuk mengikuti anjuran (motivation to comply)

Berdasarkan rumusan tersebut, dapat dikatakan bahwa norma subjektif adalah


persepsi seseorang terhadap orang-orang yang dianggap penting bagi dirinya untuk
berperilaku atau tidak berperilaku tertentu, dan sejauhmana seseorang ingin mematuhi
anjuran orang-orang tersebut. Norma subjektif secara umum dapat ditentukan oleh
harapan spesifik yang dipersepsikan seseorang, yang merupakan referensi (anjuran) dari
orang-orang yang di sekitarnya dan oleh motivasi untuk mengikuti referensi atau anjuran
tersebut.
Berdasarkan rumus di atas, norma subjektif (SN) didapatkan dari hasil penjumlahan
hasil kali normative belief tentang tingkah laku i (bi) dan dengan motivation to comply/
motivasi untuk mengikutinya (mi). Dengan kata lain bahwa, seseorang yang yang memiliki
keyakinan bahwa individu atau kelompok yang cukup berpengaruh terhadapnya (referent)
akan mendukung ia untuk melakukan tingkah laku tersebut, maka hal ini akan menjadi
tekanan sosial untuk seseorang tersebut melakukannya. Sebaliknya, jika seseorang percaya
bahwa orang lain yang berpengaruh padanya tidak mendukung tingkah laku tersebut,
maka hal ini menyebabkan ia memiliki norma subjektif untuk tidak melakukannya.
Pengukuran norma subjektif sesuai dengan antesedennya, yaitu berdasarkan 2
skala: normative belief dan motivation to comply. Maka pengukurannya juga diperoleh
dari penjumlahan hasil perkalian keduany. Norma subjektif sama halnya dengan sikap,
belief tentang pihak-pihak yang mendukung atau tidak mendukung didapatkan dari hasil
elisitasi untuk menentukan belief utamanya.

Perceived Behavioral Control (PBC)


Kendali-perilaku-yang-dipersepsikan (perceived behavior control) merupakan persepsi
terhadap mudah atau sulitnya sebuah perilaku dapat dilaksanakan. Variabel ini diasumsikan
mereflekssikan pengalaman masa lalu, dan mengantisipasi halangan yang mungkin
terjadi (Ajzen, 1988). Atau perceived behavioral control adalah persepsi seseorang tentang
kemudahan atau kesulitan untuk berperilaku tertentu.
Terdapat dua asumsi mengenai kendali-perilaku-yang-dipersepsikan. Pertama,
kendali-perilaku-yang-dipersepsikan diasumsikan memiliki pengaruh motivasional
terhadap intensi. Individu yang meyakini bahwa ia tidak memiliki kesempatan untuk
berperilaku, tidak akan memiliki intensi yang kuat, meskipun ia bersikap positif, dan
didukung oleh referents (orang-orang di sekitarnya) (Ajzen 1988). Kedua, kendali-perilaku-
yang-dipersepsikan memiliki kemungkinan untuk memengaruhi perilaku secara langsung,
tanpa melalui intensi, karena ia merupakan substitusi parsial dari pengukuran terhadap
kendali aktual (Ajzen, 1988).
Perceived behavioral control sama dengan kedua faktor sebelumnya yaitu dipengaruhi
juga oleh beliefs. beliefs yang dimaksud adalah tentang ada/ hadir dan tidaknya faktor yang
menghambat atau mendukung performa tingkah laku (control belief). Berikut adalah rumus
yang menghubungakan antara perceived behavioral control dan control belief:
96 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

PBC = Σ c i p i

Keterangan:
PBC = Perceived Behavioral Control
ci = Contol Belief
pi = power belief

Kendali perilaku yangdipersepsikan/PBC didapat dengan menjumlahkan hasil kali


antara keyakinan mengenai mudah atau sulitnya suatu perilaku dilakukan (control belief)
dan kekuatan faktor i dalam dalam memfasilitasi atau menghambat tingkah laku (power
belief). Dengan kata lain, semakin besar persepsi seseorang mengenai kesempatan dan
sumber daya yang dimiliki (faktor pendukung), serta semakin kecil persepsi tentang
hambatan yang dimiliki, maka semakin besar perceived behavioral control yang dimiliki
seseorang.
Pengukuran perceived behavioral control yang dapat dilakukan hanyalah mengukur
persepsi individu yang bersangkutan terhadap kontrol yang ia miliki terhadap beberapa
faktor penghambat atau pendukung tersebut. Beberapa faktor yang dipersepsi sebagai
penghambat atau pendorong tersebut didapatkan dari proses elisitasi untuk mendapatkan
belief yang utama.

DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I. 1988. From Intentions to Actions, Attitudes, Personality and Behavior. London:
Open University Press, England.
Ajzen, I. 1991. The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior and Human
Decision Processes. Academic Press, University of Massachusetts.
Ajzen, I. 2002. Constructing a TPB Questionnaire: Conceptual and Methodological
Considerations. September (Direvisi pada Januari 2006).
Ajzen, I. 2005. Attitude, Personality, and Behavior. Buckingham: Open University Press,
Milton Keynes.
Ajzen, I. 2006. Constructing a TPB Questionnaire: Conceptual and Methodological
Considerations. Revisi.
Fishbein, M & Ajzen, I. 1975. Belief, Attitude, Intention, and Behavior: An Introduction to
Theory & Research. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company.
Fishbein, M & Ajzen, I. 2010 Predicting and Changing Behavior: The reasoned action
approach. New York: Psychology Press.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 97

SELF REGULATION MODEL


Penyakit kanker terutama stadium lanjut berdampak berat pada aspek psikologis, sosial,
fisik, ekonomi, dan kultural individu. Seseorang dengan diagnosis kanker cenderung
berusaha beradaptasi semampu mereka, namun tidak jarang mereka tidak mempunyai
cukup pengetahuan dan keterampilan untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai
yang seharusnya. Sebuah penelitian di Korea Selatan mengungkapkan bahwa ketika
pasien kanker serviks membutuhkan informasi tentang penyakitnya, maka perilaku
mencari informasi akan meningkat. Leventhal berpendapat bahwa berbagai informasi
diperlukan untuk memengaruhi sikap dan tindakan terhadap ancaman kesehatan maupun
keberlangsungan hidup seseorang. Berdasarkan salah satu model dari Self-Regulatory yang
terkait dengan ancaman kesehatan yaitu Common Sense model, adanya stimulus kesehatan
seperti informasi tentang penyakit tertentu akan memunculkan respons emosional bagi
pasien dan pada akhirnya akan meningkatkan kesadaran (awareness) akan penyakit
tersebut. Hal ini terbukti hasil penelitian AV Sri S (2012) tentang kemandirian dan regulasi
pada pasien stroke.
Self-regulation adalah kapasitas atau kemampuan seseorang untuk mengubah
perilakunya (Baumeister). Istilah self-regulation secara luas digunakan untuk menjelaskan
usaha perubahan pemikiran, perasaan, keinginan, dan tindakan yang dilakukan oleh
individu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Self-regulation memandang individu
sebagai agen yang aktif dan pengambil keputusan karena kedua hal tersebut merupakan
aspek penting dari adaptasi manusia terhadap kehidupan. Self-regulation muncul ketika

Organizational Characteristics

Respresentation of health
threat
Identity
Cause
Consequenses
Time line
Cure/control

Stage 1: Interpresentation
Symptom Stage 2: Coping Stage 3: Appraisal
Social messages Approach coping Was my coping strategy
→ deviation from norm Avoidance coping effective?

Emotional response to
health threat
Fear
Anxienty
Depression

Gambar 4.15 Model self-regulation (Ogden, 2007)


98 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

seseorang memotivasi dan memandu tindakan mereka secara proaktif sesuai dengan
harapan yang mereka miliki. Setelah seseorang mencapai tujuan atau harapan yang
mereka inginkan maka orang dengan self-efficacy tinggi akan meningkatkan tujuan yang
lebih besar. Self-efficacy dalam konteks self-care agency merupakan komponen dasar atau
foundational capability and dispositions.
Model self-regulation sebenarnya mengacu pada proses pemecahan masalah.
Pemecahan masalah kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemecahan masalah
yang lain. Dalam model self-regulation terdapat proses intepretasi masalah, koping, dan
appraisal atau penilaian keberhasilan koping (Ogden, 2007).
Situmulus atau ancaman kesehatan akan dipersepsikan oleh seseorang dalam tahap
interpretasi, ancaman ini kemudian akan menimbulkan respons emosional antara lain
ketakutan, cemas dan depresi. Tahapan selanjutnya dalam proses self-regulation adalah
koping yaitu saat seseorang berusaha menghadapi masalah sesuai dengan kemampuannya,
sedangkan tahapan yang terakhir adalah appraisal yaitu saat seseorang menilai apakah
koping yang ia lakukan berhasil (Ogden, 2007). Dalam tahap interpretasi terdapat prroses
representasi dari ancaman. Proses representasi ini terdiri atas lima domain penting yaitu
identity, cause, timeline, consequences, dan controllability. Domain identity melibatkan
nilai atau kepercayaan seseorang akan ancaman kesehatan atau perjalanan penyakit yang
akan dihadapi. Domain cause adalah faktor individu atau lingkungan yang menyebabkan
seseorang mengalami ancaman kesehatan, sedangkan domain timeline adalah waktu saat
ancaman itu datang atau lama penyakit itu akan berlangsung. Domain keempat adalah
consequences mengacu pada beberapa hal yang akan terjadi karena penyakit yang dialami,
dan domain controllability adalah beberapa hal yang dapat menjadi solusi atau penanganan
penyakit yang diderita (Alligood & Tomey, 2006). Serangkaian representasi kognitif dari
suatu stimulus masalah akan memberikan arti dari masalah tersebut, dan menyebabkan
seseorang mengembangkan serta mempertimbangkan strategi koping yang sesuai untuk
masalah tersebut (Ogden, 2007).

Daftar Pustaka
Alligood, M.R. & Tomey, A. M. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 6th Ed. Missouri:
Mosby.
Ave S S & Nursalam. 2012. “Peningkatan Self Care Agency Pasien dengan Stroke Iskemik
setelah Penerapan Self Care Regulation Model”. Jurnal ners. Vol. 7. No. 1, hlm. 13-24
Ogden, J. 2007. Health Psychology 4th Ed. England: Open University.

TEORI MODEL PENCEGAHAN PRIMER (Caplan, 2001)


Model ini dikembangkan oleh Gerald Caplan, yang membicarakan tentang 3 (tiga) level
intervensi pencegahan pada klien dengan gangguan emosional dan sakit jiwa. Model
Caplan ini lebih diperuntukkan untuk psikiari komunitas/masyarakat dan pelayanan
kesehatan jiwa yang berhubungan dengan masyarakat, pusat pelayanan pengobatan dasar
di komunitas seperti Puskesmas, pendekatan tim multidisiplin, perawatan berlanjut melalui
pencegahan, perlindungan dan pengobatan, dan menghindari rawat nginap di Rumah
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 99

Sakit. Tiga level intervensi pencegahan psikiatri meliputi, pencegahan primer, pencegahan
sekunder dan pencegahan tersier.
Pencegahan primer, bertujuan 1) mengurangi kasus baru melalui mengidentifikasi
kelompok risiko tinggi, situasi stres, kejadian stres dalam kehidupan yang berpotensi
sakit jiwa; 2) pendidikan kepada komunitas dengan memanfaatkan strategi koping untuk
mengatasi stres atau cara mengatasi masalah, memecahkan masalah; 3) menguatkan
kemampuan individu dengan menurunkan stres, tekanan, cemas, yang bisa menyebabkan
sakit jiwa. Komponen dalam pencegahan primer adalah promosi kesehatan dan
perlindungan khusus.
Karakteristik pencegahan primer untuk promosi kesehatan, membangun adaptasi,
gunakan sumber-sumber koping untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Perhatikan
total populasi, khususnya fokus pada melayani kelompok risiko tinggi. Alat utama untuk
pencegahan primer adalah pendidikan dan perubahan sosial. Pemanfaatan agen-agen di
masyarakat yang menjaga kesejahteraan masyarakat, seperti penyembuh tradisional, tenaga
sukarela, dll. membekali diri dengan sumber-sumber dari diri dan lingkungan terutama
strategi koping. Efektifkan hubungan interpersonal, tingkatkan tugas-tugas yang sesuai
kelompok umur, kembangkan kemampuan kontrol dalam kelompok. Peroleh kepuasan
dengan diri sendiri dan keberadaannya, pendidikan kesehatan, motivasi untuk melakukan
aktivitas untuk mengurangi stres, bekali diri dengan dukungan psikososial. Tingkatkan
pola hidup sehat, pertahankan standar hidup yang tinggi dan implementasi kebijakan
Kementerian Kesehatan dalam hal pencegahan.
Komponen perlindungan khusus dalam pencegahan primer dengan cara
mengembangkan kompetensi sosial, ajarkan tehnik pencegahan dan kontrol masalah sosial,
hindari kejadian dari kondisi sosial yang patologi, tingkatkan kontrol diri dan kemampuan
pengambilan keputusan sosial. Memberdayakan sistem asuhan yang ada, kembangkan
interaksi dan pola prilaku; kembangkan partisipasi sebagai warga, tingkatkan kontrol
dan buat keputusan-keputusan kritis dalam hidup. mengefektifkan strategi koping untuk
menangani situasi stres. Hindari stres dengan cara kenali stres kalau ada dan hilangkan
atau modifikasi. Tangani kelompok berisiko untuk menghindari atau atasi stres dengan
strategi koping. Melakukan manajemen stres, dan beri dukungan sosial dan emosional
untuk menolong orang dalam situasi stres.
Komponen dalam pencegahan sekunder adalah diagnosis dini dan penemuan kasus
serta program skrining. Pencegahan untuk diagnosis dini dan penemuan kasus berupa
memberi pendidikan kepada masyarakat tentang manifestasi dini sakit jiwa. Memberi
motivasi kepada pemimpin masyarakat, LSM dan swasta lainnya di masyarakat untuk
terlibat aktiv dalam mengidentifikasi orang yang sakit jiwa. mengadakan lokakarya,
pelatihan atau program kampanye kepada kelompok-kelompok tentang pentingnya
identifikasi dini kasus jiwa untuk skrining dan pengobatan sejak periode awal sakit.
Program skrining massal sakit jiwa menggunakan kuisioner dalam bahasa lokal untuk
mengidentifikasi sakit jiwa.
Pencegahan tersier, meliputi rehabilitasi ketidakmampuan, keterbatasan dan
mencegah komplikasi. Komponen dalam pencegahan tertier adalah mengurangi prevalensi
gejala sisa atau ketidakmampuan. Mengurangi lama rawat inap di RS-Jiwa, mencegah
keretakan keluarga. Membuat klien berguna bagi diri sendiri secara fisik, mental, sosial,
kerja, ekonomi. Mendidik keluarga dan masyarakat agar mengobati klien secara individual.
100 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Meningkatkan motivasi klien untuk kontrol dan mendapatkan terapi (termasuk terapi
kerja). Rujuk klien ke agent kesehatan jiwa professional. Pasien dibekali untuk mampu
merawat diri sehari-hari dan merencanakan aktivitas harian. Sosialisasi pasien sakit jiwa
kronik di masyarakat. Gunakan sumber yang ada dalam keluarga dan masyarakat (Neeraja
2009).

       Tabel 2.3  Level prevention menurut model public health

Primary Prevention
(By intervening potential health problem melalui promosi kesehatan
& perlindungan khusus)
Secondary prevention
( by interventing aktual health
PREVENTIVE
problem: diagnosis dini & pengobatan
MEASURES
tepat waktu)
Tertiary Prevention
( by interventing limit disability by chronic illness and rehabilitation:
rehabilitasi keterbatasan dan ketidakmampuan & mencegah
komplikasi)

Sumber : Neeraja, KP. 2009, hlm. 95.


Melihat semua uraian diatas, model Public health dari Caplan untuk pencegahan psikiatri lebih
berhubungan dengan keluarga dan masyarakat, intervensi-intervensi untuk klien pada tiga level
pencegahan, meminta perawat sebagai tenaga kesehatan utama.

PENGEMBANGAN MUTU PELAYANAN/PRODUKTIVITAS


(KOPELMEN)
Menurut Kopelman (1986) faktor penentu organisasi yakni kepemimpinan dan sistem
imbalan berpengaruh ke kinerja individu atau organisasi melalui motivasi, sedangan
faktor penentu organisasi lainnya, yakni pendidikan berpengaruh ke kinerja individu atau
organisasi melalui variabel pengetahaun, keterampilan atau kemampuan. Kemampuan
dibangun oleh pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja.

1. Organizational characteristics
a. Reward system
Pemberian penghargaan merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan apa
yang diinginkan rumah sakit dalam jangka panjang untuk mengembangkan
dan menerapkan kebijakan, praktik dan proses pemberian penghargaan yang
mendukung pencapaian tujuan dan memenuhi kebutuhan (Brown, 2001).
Penghargaan diartikan sebagai suatu stimulus terhadap perbaikan kinerja perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan
b. Goal setting dan MBO
Visi adalah pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk
dan pelayanan yang ditawarkan, kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok
masyarakat yang dilayani, nilai-nilai yang diperoleh serta aspirasi dan cita-cita
masa depan. Tenaga keperawatan sebagai perpanjangan tangan dari rumah sakit
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 101

Environment

Organizational Characteristics

1. Reward system
2. Goal setting and MBO
3. Selection
4. Training and
development
5. Leadership
6. Organization structure

Individual (nurse)
Characteristics

1. Knowledge,
2. Skills, Organizational
3. Ability, Work behavior Job Performance effectiveness
4. Motivation
Caring & ASKEP Nurse & patient
5. Attitudes MAKP
Satisfaction
6. Value & Norm

Work Characteristics

1. Objective performance
2. Feedback
3. Correction
4. Job design
5. Work schedule

Gambar 4.16 Faktor penentu produktivitas dalam organisasi (Koperlman, 1986)

dalam menerjemahkan visi dan misi. Untuk itu perlu memahami dan menerapkan
visi dan misi organisasi dalam memberikan pelayanan keperawatan.
c. Selection
Seleksi tenaga harus didasarkan pada prinsip the right man, on the right place and
on the right time.
d. Training dan development
Pelatihan (training) adalah proses pendidikan jangka pendek dengan menggunakan
prosedur yang sistematis dan terorganisir dalam pembelajaran kepada tenaga
keperawatan.
e. Leadership
Pengertian kepemimpinan  yaitu kegiatan atau seni memengaruhi orang lain
agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut
untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan
kelompok.
f. Organization structure dan culture
Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan pekerjaan
antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi
dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan
wewenang siapa melapor kepada siapa.
102 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

2. Nurse characteristics
a. Knowledge
Pengetahuan dapat diartikan sebagai actionable information atau information
yang dapat ditindaklanjuti atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar
untuk bertindak, untuk mengambil keputusan dan untuk menempuh arah atau
strategi tertentu.
b. Skills
Kopelmen (2006) mendefinisikan skill sebagai kapasitas yang dibutuhkan
dalam melaksanakan beberapa tugas. Hard skills merupakan penguasaan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan
bidang ilmunya.
c. Ability
Kemampuan seorang untuk melakukan sesuatu, ada banyak aspek yang dapat
dinilai dari variabel kemampuan, diantaranya kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotor (Perry and Potter,2003). Perawat perlu terus mengembangkan diri
melalui uji kompetensi, pndidikan formal dan non formal.
d. Motivation
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang
individu untuk mencapai tujuannya (Muhith & Nursalam, 2013). Tiga elemen
utama dalam motivasi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Perawat perlu
dipupuk motivasi yang tinggi sebagai bentuk pengabdian dan altruisme pada
kebutuhan pasien untuk kesembuhan.
e. Attitudes
Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Komponen sikap, struktur sikap terdiri atas 3 komponen
yang saling menunjang yaitum kognitif, afektif, dam konatif.
f. Value & Norm
Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping
sistem sosial dan karya. Nilai berperan sebagai pedoman menentukan kehidupan
setiap manusia. Norma adalah perwujudan martabat manusia sebagai mahluk
budaya, moral, religi, dan sosial. Perawat perlu memperhatikan aspek nilai dan
norma dalam melayani pasien.
3. Work characteristics
a. Objective performance
Tujuan dari manajemen kinerja adalah (Armstrong & Baron, 2005; Wibisono,
2006); mengatur kinerja, mengetahui seberapa efektif dan efisien suatu kinerja
organisasi, membantu penentukan keputusan organisasi yang berkaitan dengan
kinerja organisasi, kinerja tiap bagian dalam organisasi, dan kinerja individual,
meningkatkan kemampuan organisasi dan mendorong karyawan agar bekerja
sesuai prosedur, dengan semangat, dan produktif sehingga hasil kerja optimal.
b. Feedback
Umpan balik adalah hal yang penting dalam perbaikan kinerja perawat. Hal
ini karena membetulkan (memperbaiki) kesalahan: salah satu tugas pemimpin
(Nursalam, 2013).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 103

c. Job design
Desain pekerjaan (job design) adalah fungsi penetapan kegiatan kerja seorang
atau sekelompok karyawan secara organisasional. Tujuannya untuk mengatur
penugasan kerja supaya dapat memenuhi kebutuhan organisasi.
d. Work schedule
Dalam proses berjalan suatu organisasi dapat eksis dibidangnya, perlu pengaturan
waktu yang efektif sehingga memeperoleh hasil sesuai tujuan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Kopelman R.E., 1986. Managing productivity in organizations, Mc Graw-Hill Book
Company, New York.
Muhith A & Nursalam. 2012. “Mutu Asuhan Keperawatan Berdasarkan Analisis kinerja
Perawat dan Kepuasan Perawat dan Pasien.” Jurnal Ners. Vol 7. No. 1. Hlm. 49-58.
Nursalam. 2012. Development Model of Quality in Nursing Care. International Nursing
Conference. Mei. FKP Unair. Surabaya. Mei 2012.

MODEL MAKP (METODE ASUHAN KEPERAWATAN


PROFESIONAL) DAN ATAU MPKP
Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah suatu sistem (struktur, proses dan
nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut
(Nursalam, 2011). Pada MAKP memungkinkan pelayanan keperawatan yang
menyeluruh; mendukung pelaksanakaan proses keperawatan; dan memungkinkan
komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada
anggota tim dan pelanggan. Jenis MAKP yang diterapkan sangat bergantung dari visi
misi Rumah sakit, dapat diterpkannya proses keperawatan, memperhatikan kepuasan
perawat dan pasien serta komunikasi dan kolaborasi yang jelas antar petugas kesehatan.
Jenis yang digunakan untuk rawat inap dan jalan; MAKP Tim, primer, moduler MAKP
rawat darurat adalah MAKP kasus.

Kepuasan Perawat
Kinerja bentuknya dapat berupa kecepatan, kemudahan, dan kenyamanan bagaimana
perawat dalam memberikan jasa pengobatan terutama keperawatan pada waktu
penyembuhan yang relatif cepat, kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pasien
dan kenyamanan yang diberikan dengan memperhatikan kebersihan, keramahan dan
kelengkapan peralatan rumah sakit.
104 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Model Kesenjangan (The Expectancy–Disconfirmation


Model) (Woodruff & Gardial, 2002)
Woodruff dan Gardial (2002) mendefinisikan kepuasan sebagai model kesenjangan
antara harapan (standar kinerja yang seharusnya) dengan kinerja aktual yang diterima
pelanggan. Comparison standard ialah standar yang digunakan untuk menilai ada tidaknya
kesenjangan antara apa yang dirasakan pasien dengan standar yang ditetapkan. Standar
dapat berasal dari:

Perceived
Disconfirmation

Perceived Satisfaction Satisfaction


Performance Feeling Outcome

Comparison
Standard

Gambar 4.17 Teori kepuasan pelanggan Woodruff dan Gardial (2002).

a. Harapan pasien, bagaimana pasien mengharapkan produk atau jasa seharusnya


dia terima.
b. Pesaing, pasien mengadopsi standar kinerja pesaing rumah sakit untuk kategori
produk atau jasa yang sama sebagai standar perbandingan.
c. Kategori produk atau jasa lain.
d. Janji promosi dari rumah sakit.
e. Nilai jasa pelayanan kesehatan yang berlaku.

Kepuasan perawat lebih dipengaruhi penerapan standar asuhan keperawatan dapat


dilaksanakan dan adanya dukungan organisasi (fasilitas, gaji, promosi dan keseuaian jenis
pekerjaan). Nilai yang dirasakan perawat pada penerapan standar asuhan keperawatan
dalam pengkajian, diagnosis, perencanaan adalah tinggi (100% dapat dilaksanakan dengan
baik), sedangan untuk impelemtasi dan evaluasi belum bisa dilaksanak 100%. Dukungan
organisasi dirasakan oleh perawat sampai sebatas cukup puas. Perawat masih perlu di
tingkatkan kemampuan melaksanakan standar asuhan keperawatan melalui peningkatan
kompetensi (knowledge and skill). Demikian pula dukungan organisasi yang kondusif
dan fasilitatif agar perawat dapat menerapkan standar asuhan keperawatan secara penuh.
Mutu kinerja profesional perawat dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan baik
on atau off the training tentang komunikasi terapeutik yang benar; yaitu komunikasi yang
menghasilkan kepuasan semua pihak yang terlibat (win-win solution bagi dokter, perawat,
pasien).

Theory of Servqual
Tinjauan mengenai konsep kualitas layanan sangat ditentukan oleh berapa besar
kesenjangan (gap) antara persepsi pelanggan atas kenyataan pelayanan yang diterima,
dibandingkan dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang harus diterima. Kelima
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 105

kesenjangan (gap) tersebut disajikan dalam skema grand theory Parasuraman, Zeithaml
dan Berry (1985) dan diuraikan berikut ini:

Words of mouth Personal Past


communication needs experiences

Expected
service

GAP 5

Perceived
service

CUSTOMER
MARKETER

Service Delivery
External
GAP 4 communications
GAP 3 to customers

Translation of perceptions
into service quality
specifications

GAP 2

Management perceptions
of customers expectations

Gambar 4.18 The integrated gaps model of service quality (Parasuraman, Zeithaml, Berry, 1985)

Grand teori yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam
Muninjaya (2011), penyampaian jasa oleh pihak penyedia jasa bisa terancam gagal kalau
berbagai kesenjangan dibiarkan berkembang tanpa ada intervensi untuk mencegahnya,
atau tidak ada upaya khusus untuk mengurangi dampak buruknya. Penjelasan mengenai
kelima kesenjangan tersebut yaitu:

1. Kesenjangan antara harapan pengguna jasa dan persepsi manajemen


Manajemen institusi pelayanan kesehatan belum mampu secara tepat mengidentifikasi
dan memahami harapan (ekspektasi) para pengguna jasa pelayanan kesehatan.
2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas jasa
Kesenjangan akan terjadi jika pemahaman manajemen RS (Puskesmas) tentang
harapan pengguna jasa pelayanan kesehatan tidak diterjemahkan menjadi aksi nyata
yang spesifik. Misalnya, standar prosedur pelayanan atau pelaksanaan penyampaian
jasa belum dikemas sesuai dengan harapan pengguna jasa yang semakin menuntut
pelayanan yang bermutu (cepat, ramah, tepat, dan biaya terjangkau).
3. Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaiannya
Standar pelayanan dan cara penyampaian jasa sudah tersusun dengan baik, tetapi
muncul kesenjangan karena staf pelaksana pelayanan di garis depan (front line staff)
106 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

seperti perawat, bidan dan dokter umum di sebuah rumah sakit belum mendapat
pelatihan khusus tentang teknik penyampaian jasa pelayanan tersebut. Akibatnya,
jasa pelayanan kesehatan yang ditawarkan kepada pasien tidak sesuai dengan standar
yang sudah ditetapkan oleh komite medik rumah sakit tersebut.
4. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan harapan pihak eksternal
Harapan pengguna jasa sangat dipengaruhi oleh cara staff dan manajemen rumah
sakit berkomunikasi dengan masyarakat calon pengguna jasanya. Cara seperti ini
akan memunculkan kesenjangan. Harapan pengguna jasa pelayanan kesehatan
yang sudah mulai terbentuk melalui pemasaran tidak dapat terpenuhi karena
pelayanan teknis medis dan kelengkapan mutu pelayanan berbeda dengan ekspektasi
mereka.
5. Kesenjangan antara jasa yang diterima pengguna dan yang diharapkan
Kesenjangan ini terjadi jika konsumen mengukur kinerja institusi pelayanan
kesehatan dengan cara yang berbeda, termasuk persepsi pengguna yang berbeda
terhadap kualitas jasa pelayanan kesehatan yang diharapkan.
Menurut Parasuraman (2001:162) bahwa konsep kualitas layanan yang
diharapkan dan dirasakan ditentukan oleh kualitas layanan. Kualitas layanan tersebut
terdiri atas daya tanggap, jaminan, bukti fisik, empati dan kehandalan. Selain itu,
pelayanan yang diharapkan sangat dipengaruhi oleh berbagai persepsi komunikasi
dari mulut ke mulut, kebutuhan pribadi, pengalaman masa lalu dan komunikasi
eksternal, persepsi inilah yang memengaruhi pelayanan yang diharapkan (Ep =
Expectation) dan pelayanan yang dirasakan (Pp = Perception) yang membentuk
adanya konsep kualitas layanan. Lebih jelasnya dapat ditunjukkan pada gambar di
bawah ini:

Komunikasi dari Kebutuhan Pengalaman Komunikasi


Mulut ke Mulut Pribadi Masa Lalu Eksternal

Pelayanan yang
Dimensi Kualitas Kualitas layanan
Diharapkan
Pelayanan yang Dirasakan
(Ep)

Kehandalan 1. Melebihi harapan


Ep < Pp (Bermutu)
Daya tanggap
2. Memenuhi harapan
Jaminan Ep = Pp (Memuaskan)
3. Tidak memenuhi
Empati Pelayanan yang
harapan Ep > Pp (Tidak
Dirasakan
Bukti Langsung Bermutu)
(Pp)

Gambar 4.19 Penilaian pelanggan terhadap kualitas layanan (Parasuraman, 2001)

Parasuraman (2001:165) menyatakan bahwa konsep kualitas layanan adalah


suatu pengertian yang kompleks tentang mutu, tentang memuaskan atau tidak
memuaskan. Konsep kualitas layanan dikatakan bermutu apabila pelayanan yang
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 107

diharapkan lebih kecil daripada pelayanan yang dirasakan (bermutu). Dikatakan


konsep kualitas layanan memenuhi harapan, apabila pelayanan yang diharapkan
sama dengan yang dirasakan (memuaskan). Demikian pula dikatakan persepsi
tidak memenuhi harapan apabila pelayanan yang diharapkan lebih besar daripada
pelayanan yang dirasakan (tidak bermutu).
Konsep kualitas layanan dari harapan yang diharapkan seperti dikemukakan
di atas, ditentukan oleh empat faktor, yang saling terkait dalam memberikan suatu
persepsi yang jelas dari harapan pelanggan dalam mendapatkan pelayanan. Keempat
faktor tersebut adalah:
1) Komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth communication, WOM), faktor
ini sangat menentukan dalam pembentukan harapan pelanggan atas suatu jasa/
pelayanan. Pemilihan untuk mengkonsumsi suatu jasa/pelayanan yang bermutu
dalam banyak kasus dipengaruhi oleh informasi dari mulut ke mulut yang
diperoleh dari pelanggan yang telah mengkonsumsi jasa tersebut sebelumnya.
Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program
pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu produk ataupun jasa, bila konsumen
belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk tersebut dapat
berguna, maka konsumen tidak akan pernah membeli produk tersebut. Salah satu
alat promosi yang paling ampuh adalah dengan sistem WOM (Word of Mouth)
(Trarintya, 2011).
Harrison-Walker dalam Brown et al. (2005) menyatakan bahwa WOM
merupakan sebuah komunikasi informal diantara seorang pembicara yang
tidak komersil dengan orang yang menerima informasi mengenai sebuah
merek,produk, perusahaan atau jasa. WOM dapat diartikan sebagai aktivitas
komunikasi dalam pemasaran yang mengindikasikan seberapa mungkin customer
akan bercerita kepada orang lain tentang pengalamannya dalam proses pembelian
atau mengkonsumsi suatu produk atau jasa. Pengalaman customer tersebut dapat
berupa pengalaman positif atau pengalaman negatif. Seperti yang dinyatakan
Davidow (2003):

”That word of mouth is actually an U shaped relationship, where satisfied complainers


spread positive word of mouth valance, and dissatisfied complainers spread negative
word of mouth valance”

Bahwa sebenarnya hubungan dari mulut ke mulut berbentuk U, di mana apabila


seseorang puas maka ia akan menyebarkan berita positif dari mulut ke mulut, tapi
apabila mengeluh tidak puas maka ia akan menyebarkan berita negatif dari mulut
ke mulut. Pengalaman yang kurang memuaskan pada customer dapat memunculkan
berbagai respons kepada perusahaan. Perusahaan dapat menanggapi respons
tersebut dengan berbagai cara yang dinamis. Peluang meningkatnya aktivitas WOM
tersebut dapat memberikan pengaruh yang hebat.
Menurut Setyawati (2009) dalam usaha WOM, memuaskan pelanggan adalah
hal yang sangat wajib. Karena dalam sebuah studi oleh US Office of Consumer
Affairs (Kantor Urusan Pelanggan Amerika Serikat) menunjukkan bahwa
WOM memberikan efek yang signifikan terhadap penilaian pelanggan. Dalam
108 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

studi tersebut disebutkan bahwa secara rata-rata, satu pelanggan tidak puas
akan mengakibatkan sembilan calon pelanggan lain yang akan menyebabkan
ketidakpuasan. Sedangkan pelanggan yang puas hanya akan mengabarkan kepada
lima calon pelanggan lain.
2) Kebutuhan pribadi (personal need), yaitu harapan pelanggan bervariasi bergantung
pada karakteristik dan keadaan individu yang memengaruhi kebutuhan
pribadinya.
3) Pengalaman masa lalu (past experience), yaitu pengalaman pelanggan merasakan
suatu pelayanan jasa tertentu di masa lalu yang memengaruhi tingkat harapannya
untuk memperoleh pelayanan jasa yang sama di masa kini dan yang akan
datang.
4) Komunikasi eksternal (company’s external communication) yaitu komunikasi
eksternal yang digunakan oleh organisasi jasa sebagai pemberi pelayanan melalui
berbagai bentuk upaya promosi juga memegang peranan dalam pembentukan
harapan pelanggan.

Berdasarkan pengertian di atas terdapat tiga tingkat konsep kualitas layanan yaitu:
1) Bermutu (quality surprise), bila kenyataan pelayanan yang diterima melebihi
pelayanan yang diharapkan pelanggan.
2) Memuaskan (satisfactory quality), bila kenyataan pelayanan yang diterima sama
dengan pelayanan yang diharapkan pelanggan.
3) Tidak bermutu (unacceptable quality), bila ternyata kenyataan pelayanan yang
diterima lebih rendah dari yang diharapkan pelanggan.

Parasuraman (2001:26) mengemukakan konsep kualitas layanan yang berkaitan


dengan kepuasan ditentukan oleh lima unsur yang biasa dikenal dengan istilah
kualitas layanan “RATER” (responsiveness, assurance, tangible, empathy dan reliability).
Konsep kualitas layanan RATER intinya adalah membentuk sikap dan perilaku
dari pengembang pelayanan untuk memberikan bentuk pelayanan yang kuat dan
mendasar, agar mendapat penilaian sesuai dengan kualitas layanan yang diterima.

Inti dari konsep kualitas layanan adalah menunjukkan segala bentuk aktualisasi
kegiatan pelayanan yang memuaskan orang-orang yang menerima pelayanan sesuai
dengan daya tanggap (responsiveness), menumbuhkan adanya jaminan (assurance),
menunjukkan bukti fisik (tangible) yang dapat dilihatnya, menurut empati (empathy)
dari orang-orang yang memberikan pelayanan sesuai dengan kehandalannya (reliability)
menjalankan tugas pelayanan yang diberikan secara konsekuen untuk memuaskan yang
menerima pelayanan.
Berdasarkan inti dari konsep kualitas layanan “RATER” kebanyakan organisasi
kerja yang menjadikan konsep ini sebagai acuan dalam menerapkan aktualisasi layanan
dalam organisasi kerjanya, dalam memecahkan berbagai bentuk kesenjangan (gap) atas
berbagai pelayanan yang diberikan oleh pegawai dalam memenuhi tuntutan pelayanan
masyarakat. Aktualisasi konsep “RATER” juga diterapkan dalam penerapan kualitas
layanan pegawai baik pegawai pemerintah maupun non pemerintah dalam meningkatkan
prestasi kerjanya.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 109

Lebih jelasnya dapat diuraikan mengenai bentuk-bentuk aplikasi kualitas layanan


dengan menerapkan konsep “RATER” yang dikemukakan oleh Parasuraman (2001:32)
sebagai berikut.

1. Daya tanggap (Responsiveness)


Setiap pegawai dalam memberikan bentuk-bentuk pelayanan, mengutamakan aspek
pelayanan yang sangat memengaruhi perilaku orang yang mendapat pelayanan, sehingga
diperlukan kemampuan daya tanggap dari pegawai untuk melayani masyarakat sesuai
dengan tingkat penyerapan, pengertian, ketidaksesuaian atas berbagai hal bentuk
pelayanan yang tidak diketahuinya. Hal ini memerlukan adanya penjelasan yang
bijaksana, mendetail, membina, mengarahkan dan membujuk agar menyikapi segala
bentuk-bentuk prosedur dan mekanisme kerja yang berlaku dalam suatu organisasi,
sehingga bentuk pelayanan mendapat respons positif (Parasuraman, 2001:52).
Tuntutan pelayanan yang menyikapi berbagai keluhan dari bentuk-bentuk
pelayanan yang diberikan menjadi suatu respek positif dari daya tanggap pemberi
pelayanan dan yang menerima pelayanan. Seyogyanya pihak yang memberikan
pelayanan apabila menemukan orang yang dilayani kurang mengerti atas berbagai syarat
prosedur atau mekanisme, maka perlu diberikan suatu pengertian dan pemahaman
yang jelas secara bijaksana, berwibawa dan memberikan berbagai alternatif kemudahan
untuk mengikuti syarat pelayanan yang benar, sehingga kesan dari orang yang mendapat
pelayanan memahami atau tanggap terhadap keinginan orang yang dilayani.
Pada prinsipnya, inti dari bentuk pelayanan yang diterapkan dalam suatu instansi
atau aktivitas pelayanan kerja yaitu memberikan pelayanan sesuai dengan tingkat
ketanggapan atas permasalahan pelayanan yang diberikan. Kurangnya ketanggapan
tersebut dari orang yang menerima pelayanan, karena bentuk pelayanan tersebut
baru dihadapi pertama kali, sehingga memerlukan banyak informasi mengenai syarat
dan prosedur pelayanan yang cepat, mudah dan lancar, sehingga pihak pegawai
atau pemberi pelayanan seyogyanya menuntun orang yang dilayani sesuai dengan
penjelasan-penjelasan yang mendetail, singkat dan jelas yang tidak menimbulkan
berbagai pertanyaan atau hal-hal yang menimbulkan keluh kesah dari orang yang
mendapat pelayanan. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, berarti pegawai
tersebut memiliki kemampuan daya tanggap terhadap pelayanan yang diberikan
yang menjadi penyebab terjadinya pelayanan yang optimal sesuai dengan tingkat
kecepatan, kemudahan dan kelancaran dari suatu pelayanan yang ditangani oleh
pegawai (Parasuraman, 2001:63).
Suatu organisasi sangat menyadari pentingnya kualitas layanan daya tanggap
atas pelayanan yang diberikan. Setiap orang yang mendapat pelayanan sangat
membutuhkan penjelasan atas pelayanan yang diberikan agar pelayanan tersebut
jelas dan dimengerti. Untuk mewujudkan dan merealisasikan hal tersebut, maka
kualitas layanan daya tanggap mempunyai peranan penting atas pemenuhan berbagai
penjelasan dalam kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Apabila pelayanan daya
tanggap diberikan dengan baik atas penjelasan yang bijaksana, penjelasan yang
mendetail, penjelasan yang membina, penjelasan yang mengarahkan dan yang bersifat
membujuk, apabila hal tersebut secara jelas dimengerti oleh individu yang mendapat
pelayanan, maka secara langsung pelayanan daya tanggap dianggap berhasil, dan ini
110 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

menjadi suatu bentuk keberhasilan prestasi kerja. Margaretha (2003:163) kualitas


layanan daya tanggap adalah suatu bentuk pelayanan dalam memberikan penjelasan,
agar orang yang diberi pelayanan tanggap dan menanggapi pelayanan yang diterima,
sehingga diperlukan adanya unsur kualitas layanan daya tanggap sebagai berikut.
1) Memberikan penjelasan secara bijaksana sesuai dengan bentuk-bentuk pelayanan
yang dihadapinya. Penjelasan bijaksana tersebut mengantar individu yang
mendapat pelayanan mampu mengerti dan menyetujui segala bentuk pelayanan
yang diterima.
2) Memberikan penjelasan yang mendetail yaitu bentuk penjelasan yang substantif
dengan persoalan pelayanan yang dihadapi, yang bersifat jelas, transparan, singkat
dan dapat dipertanggungjawabkan.
3) Memberikan pembinaan atas bentuk-bentuk pelayanan yang dianggap masih
kurang atau belum sesuai dengan syarat-syarat atau prosedur pelayanan yang
ditunjukkan.
4) Mengarahkan setiap bentuk pelayanan dari individu yang dilayani untuk
menyiapkan, melaksanakan dan mengikuti berbagai ketentuan pelayanan yang
harus dipenuhi.
5) Membujuk orang yang dilayani apabila menghadapi suatu permasalahan yang
dianggap bertentangan, berlawanan atau tidak sesuai dengan prosedur dan
ketentuan yang berlaku.
Uraian-uraian di atas menjadi suatu interpretasi yang banyak dikembangkan
dalam suatu organisasi kerja yang memberikan kualitas layanan yang sesuai dengan
daya tanggap atas berbagai pelayanan yang ditunjukkan. Inti dari pelayanan daya
tanggap dalam suatu organisasi berupa pemberian berbagai penjelasan dengan
bijaksana, mendetail, membina, mengarahkan dan membujuk. Apabila hal ini dapat
diimplementasikan dengan baik, dengan sendirinya kualitas layanan daya tanggap akan
menjadi cermin prestasi kerja pegawai yang ditunjukkan dalam pelayanannya.
2. Jaminan (Assurance)
Setiap bentuk pelayanan memerlukan adanya kepastian atas pelayanan yang
diberikan. Bentuk kepastian dari suatu pelayanan sangat ditentukan oleh jaminan
dari pegawai yang memberikan pelayanan, sehingga orang yang menerima pelayanan
merasa puas dan yakin bahwa segala bentuk urusan pelayanan yang dilakukan atas
tuntas dan selesai sesuai dengan kecepatan, ketepatan, kemudahan, kelancaran dan
kualitas layanan yang diberikan (Parasuraman, 2001:69).
Jaminan atas pelayanan yang diberikan oleh pegawai sangat ditentukan oleh
performance atau kinerja pelayanan, sehingga diyakini bahwa pegawai tersebut
mampu memberikan pelayanan yang handal, mandiri dan profesional yang
berdampak pada kepuasan pelayanan yang diterima. Selain dari performance tersebut,
jaminan dari suatu pelayanan juga ditentukan dari adanya komitmen organisasi yang
kuat, yang menganjurkan agar setiap pegawai memberikan pelayanan secara serius
dan sungguh-sungguh untuk memuaskan orang yang dilayani. Bentuk jaminan yang
lain yaitu jaminan terhadap pegawai yang memiliki perilaku kepribadian (personality
behavior) yang baik dalam memberikan pelayanan, tentu akan berbeda pegawai
yang memiliki watak atau karakter yang kurang baik dan yang kurang baik dalam
memberikan pelayanan (Margaretha, 2003: 201).
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 111

Inti dari bentuk pelayanan yang meyakinkan pada dasarnya bertumpu kepada
kepuasan pelayanan yang ditunjukkan oleh setiap pegawai, komitmen organisasi yang
menunjukkan pemberian pelayanan yang baik, dan perilaku dari pegawai dalam
memberikan pelayanan, sehingga dampak yang ditimbulkan dari segala aktivitas
pelayanan tersebut diyakini oleh orang-orang yang menerima pelayanan, akan
dilayani dengan baik sesuai dengan bentuk-bentuk pelayanan yang dapat diyakini
sesuai dengan kepastian pelayanan.
Melihat kenyataan kebanyakan organisasi modern dewasa ini diperhadapkan
oleh adanya berbagai bentuk penjaminan yang dapat meyakinkan atas berbagai
bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh suatu organisasi sesuai dengan
prestasi kerja yang ditunjukkannya. Suatu organisasi sangat membutuhkan adanya
kepercayaan memberikan pelayanan kepada orang-orang yang dilayaninya. Untuk
memperoleh suatu pelayanan yang meyakinkan, maka setiap pegawai berupaya
untuk menunjukkan kualitas layanan yang meyakinkan sesuai dengan bentuk-bentuk
pelayanan yang memuaskan yang diberikan, bentuk-bentuk pelayanan yang sesuai
dengan komitmen organisasi yang ditunjukkan dan memberikan kepastian pelayanan
sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan. Margaretha (2003:215) suatu organisasi
kerja sangat memerlukan adanya kepercayaan yang diyakini sesuai dengan kenyataan
bahwa organisasi tersebut mampu memberikan kualitas layanan yang dapat dijamin
sesuai dengan:
1) Mampu memberikan kepuasan dalam pelayanan yaitu setiap pegawai akan
memberikan pelayanan yang cepat, tepat, mudah, lancar dan berkualitas, dan
hal tersebut menjadi bentuk konkret yang memuaskan orang yang mendapat
pelayanan.
2) Mampu menunjukkan komitmen kerja yang tinggi sesuai dengan bentuk-bentuk
integritas kerja, etos kerja dan budaya kerja yang sesuai dengan aplikasi dari visi,
misi suatu organisasi dalam memberikan pelayanan.
3) Mampu memberikan kepastian atas pelayanan sesuai dengan perilaku yang
ditunjukkan, agar orang yang mendapat pelayanan yakin sesuai dengan perilaku
yang dilihatnya.

Uraian ini menjadi suatu penilaian bagi suatu organisasi dalam menunjukkan
kualitas layanan asuransi (meyakinkan) kepada setiap orang yang diberi pelayanan
sesuai dengan bentuk-bentuk kepuasan pelayanan yang dapat diberikan, memberikan
pelayanan yang sesuai dengan komitmen kerja yang ditunjukkan dengan perilaku
yang menarik, meyakinkan dan dapat dipercaya, sehingga segala bentuk kualitas
layanan yang ditunjukkan dapat dipercaya dan menjadi aktualisasi pencerminan
prestasi kerja yang dapat dicapai atas pelayanan kerja.
3. Bukti Fisik (Tangible)
Pengertian bukti fisik dalam kualitas layanan adalah bentuk aktualisasi nyata secara
fisik dapat terlihat atau digunakan oleh pegawai sesuai dengan penggunaan dan
pemanfaatannya yang dapat dirasakan membantu pelayanan yang diterima oleh
orang yang menginginkan pelayanan, sehingga puas atas pelayanan yang dirasakan,
yang sekaligus menunjukkan prestasi kerja atas pemberian pelayanan yang diberikan
(Parasuraman, 2001:32).
112 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Berarti dalam memberikan pelayanan, setiap orang yang menginginkan


pelayanan dapat merasakan pentingnya bukti fisik yang ditunjukkan oleh
pengembang pelayanan, sehingga pelayanan yang diberikan memberikan kepuasan.
Bentuk pelayanan bukti fisik biasanya berupa sarana dan prasarana pelayanan yang
tersedia, teknologi pelayanan yang digunakan, performance pemberi pelayanan
yang sesuai dengan karakteristik pelayanan yang diberikan dalam menunjukkan
prestasi kerja yang dapat diberikan dalam bentuk pelayanan fisik yang dapat dilihat.
Bentuk-bentuk pelayanan fisik yang ditunjukkan sebagai kualitas layanan dalam
rangka meningkatkan prestasi kerja, merupakan salah satu pertimbangan dalam
manajemen organisasi.
Arisutha (2005:49) menyatakan prestasi kerja yang ditunjukkan oleh individu
sumberdaya manusia, menjadi penilaian dalam mengaplikasikan aktivitas kerjanya
yang dapat dinilai dari bentuk pelayanan fisik yang ditunjukkan. Biasanya bentuk
pelayanan fisik tersebut berupa kemampuan menggunakan dan memanfaatkan
segala fasilitas alat dan perlengkapan di dalam memberikan pelayanan, sesuai dengan
kemampuan penguasaan teknologi yang ditunjukkan secara fisik dan bentuk tampilan
dari pemberi pelayanan sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan. Dalam banyak
organisasi, kualitas layanan fisik terkadang menjadi hal penting dan utama, karena
orang yang mendapat pelayanan dapat menilai dan merasakan kondisi fisik yang
dilihat secara langsung dari pemberi pelayanan baik menggunakan, mengoperasikan
dan menyikapi kondisi fisik suatu pelayanan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu organisasi modern dan maju,
pertimbangan dari para pengembang pelayanan, senantiasa mengutamakan bentuk
kualitas kondisi fisik yang dapat memberikan apresiasi terhadap orang yang memberi
pelayanan.
Nursalam (2011) menyatakan bahwa kualitas layanan berupa kondisi fisik
merupakan bentuk kualitas layanan nyata yang memberikan adanya apresiasi dan
membentuk imej positif bagi setiap individu yang dilayaninya dan menjadi suatu
penilaian dalam menentukan kemampuan dari pengembang pelayanan tersebut
memanfaatkan segala kemampuannya untuk dilihat secara fisik, baik dalam
menggunakan alat dan perlengkapan pelayanan, kemampuan menginovasi dan
mengadopsi teknologi, dan menunjukkan suatu performance tampilan yang cakap,
berwibawa dan memiliki integritas yang tinggi sebagai suatu wujud dari prestasi
kerja yang ditunjukkan kepada orang yang mendapat pelayanan.
Selanjutnya, tinjauan Gibson, Ivancevich, Donnelly (2003) ( yang melihat
dinamika dunia kerja dewasa ini yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan
pelayanan masyarakat maka, identifikasi kualitas layanan fisik mempunyai peranan
penting dalam memperlihatkan kondisi-kondisi fisik pelayanan tersebut. Identifikasi
kualitas layanan fisik (tangible) dapat tercermin dari aplikasi lingkungan kerja
berupa:
1) Kemampuan menunjukkan prestasi kerja pelayanan dalam menggunakan alat
dan perlengkapan kerja secara efisien dan efektif.
2) Kemampuan menunjukkan penguasaan teknologi dalam berbagai akses data dan
inventarisasi otomasi kerja sesuai dengan dinamika dan perkembangan dunia
kerja yang dihadapinya.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 113

3) Kemampuan menunjukkan integritas diri sesuai dengan penampilan yang


menunjukkan kecakapan, kewibawaan dan dedikasi kerja.
Uraian ini secara umum memberikan suatu indikator yang jelas bahwa
kualitas layanan sangat ditentukan menurut kondisi fisik pelayanan, yang inti
pelayanannya yaitu kemampuan dalam menggunakan alat dan perlengkapan
kerja yang dapat dilihat secara fisik, mampu menunjukkan kemampuan secara
fisik dalam berbagai penguasaan teknologi kerja dan menunjukkan penampilan
yang sesuai dengan kecakapan, kewibawaan dan dedikasi kerja.
4. Empati (Empathy)
Setiap kegiatan atau aktivitas pelayanan memerlukan adanya pemahaman dan
pengertian dalam kebersamaan asumsi atau kepentingan terhadap suatu hal yang
berkaitan dengan pelayanan. Pelayanan akan berjalan dengan lancar dan berkualitas
apabila setiap pihak yang berkepentingan dengan pelayanan memiliki adanya rasa
empati (empathy) dalam menyelesaikan atau mengurus atau memiliki komitmen
yang sama terhadap pelayanan (Parasuraman, 2001:40).
Empati dalam suatu pelayanan adalah adanya suatu perhatian, keseriusan,
simpatik, pengertian dan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dengan
pelayanan untuk mengembangkan dan melakukan aktivitas pelayanan sesuai dengan
tingkat pengertian dan pemahaman dari masing-masing pihak tersebut. Pihak
yang memberi pelayanan harus memiliki empati memahami masalah dari pihak
yang ingin dilayani. Pihak yang dilayani seyogyanya memahami keterbatasan dan
kemampuan orang yang melayani, sehingga keterpaduan antara pihak yang melayani
dan mendapat pelayanan memiliki perasaan yang sama.
Artinya setiap bentuk pelayanan yang diberikan kepada orang yang dilayani
diperlukan adanya empati terhadap berbagai masalah yang dihadapi orang yang
membutuhkan pelayanan. Pihak yang menginginkan pelayanan membutuhkan
adanya rasa kepedulian atas segala bentuk pengurusan pelayanan, dengan merasakan
dan memahami kebutuhan tuntutan pelayanan yang cepat, mengerti berbagai bentuk
perubahan pelayanan yang menyebabkan adanya keluh kesah dari bentuk pelayanan
yang harus dihindari, sehingga pelayanan tersebut berjalan sesuai dengan aktivitas
yang diinginkan oleh pemberi pelayanan dan yang membutuhkan pelayanan.
Berarti empati dalam suatu organisasi kerja menjadi sangat penting dalam
memberikan suatu kualitas layanan sesuai prestasi kerja yang ditunjukkan oleh
seorang pegawai. Empati tersebut mempunyai inti yaitu mampu memahami orang
yang dilayani dengan penuh perhatian, keseriusan, simpatik, pengertian dan adanya
keterlibatan dalam berbagai permasalahan yang dihadapi orang yang dilayani.
Margaretha (2003:78) bahwa suatu bentuk kualitas layanan dari empati orang-orang
pemberi pelayanan terhadap yang mendapatkan pelayanan harus diwujudkan dalam
lima hal yaitu:
1) Mampu memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk pelayanan yang
diberikan, sehingga yang dilayani merasa menjadi orang yang penting.
2) Mampu memberikan keseriusan atas aktivitas kerja pelayanan yang diberikan,
sehingga yang dilayani mempunyai kesan bahwa pemberi pelayanan menyikapi
pelayanan yang diinginkan.
114 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

3) Mampu menunjukan rasa simpatik atas pelayanan yang diberikan, sehingga yang
dilayani merasa memiliki wibawa atas pelayanan yang dilakukan.
4) Mampu menunjukkan pengertian yang mendalam atas berbagai hal yang
diungkapkan, sehingga yang dilayani menjadi lega dalam menghadapi bentuk-
bentuk pelayanan yang dirasakan.
5) Mampu menunjukkan keterlibatannya dalam memberikan pelayanan atas berbagai
hal yang dilakukan, sehingga yang dilayani menjadi tertolong menghadapi
berbagai bentuk kesulitan pelayanan.
Bentuk-bentuk pelayanan ini menjadi suatu yang banyak dikembangkan oleh
para pengembang organisasi, khususnya bagi pengembang pelayanan modern,
yang bertujuan memberikan kualitas layanan yang sesuai dengan dimensi empati
atas berbagai bentuk-bentuk permasalahan pelayanan yang dihadapi oleh yang
membutuhkan pelayanan, sehingga dengan dimensi empati ini, seorang pegawai
menunjukkan kualitas layanan sesuai dengan prestasi kerja yang ditunjukkan.
5. Keandalan (Reliability)
Setiap pelayanan memerlukan bentuk pelayanan yang handal, artinya dalam
memberikan pelayanan, setiap pegawai diharapkan memiliki kemampuan dalam
pengetahuan, keahlian, kemandirian, penguasaan dan profesionalisme kerja yang
tinggi, sehingga aktivitas kerja yang dikerjakan menghasilkan bentuk pelayanan
yang memuaskan, tanpa ada keluhan dan kesan yang berlebihan atas pelayanan yang
diterima oleh masyarakat (Parasuraman, 2001:48).
Tuntutan kehandalan pegawai dalam memberikan pelayanan yang cepat,
tepat, mudah dan lancar menjadi syarat penilaian bagi orang yang dilayani dalam
memperlihatkan aktualisasi kerja pegawai dalam memahami lingkup dan uraian
kerja yang menjadi perhatian dan fokus dari setiap pegawai dalam memberikan
pelayanannya.
Inti pelayanan kehandalan adalah setiap pegawai memiliki kemampuan
yang handal, mengetahui mengenai seluk belum prosedur kerja, mekanisme kerja,
memperbaiki berbagai kekurangan atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan
prosedur kerja dan mampu menunjukkan, mengarahkan dan memberikan arahan
yang benar kepada setiap bentuk pelayanan yang belum dimengerti oleh masyarakat,
sehingga memberi dampak positif atas pelayanan tersebut yaitu pegawai memahami,
menguasai, handal, mandiri dan profesional atas uraian kerja yang ditekuninya
(Parasuraman, 2001:101).
Kaitan dimensi pelayanan reliability (kehandalan) merupakan suatu yang sangat
penting dalam dinamika kerja suatu organisasi. Kehandalan merupakan bentuk ciri
khas atau karakteristik dari pegawai yang memiliki prestasi kerja tinggi. Kehandalan
dalam pemberian pelayanan dapat terlihat dari kehandalan memberikan pelayanan
sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, kehandalan dalam terampil
menguasai bidang kerja yang diterapkan, kehandalan dalam penguasaan bidang kerja
sesuai pengalaman kerja yang ditunjukkan dan kehandalan menggunakan teknologi
kerja.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 115

Sunyoto (2004:16) kehandalan dari suatu individu organisasi dalam memberikan


pelayanan sangat diperlukan untuk menghadapi gerak dinamika kerja yang terus
bergulir menuntut kualitas layanan yang tinggi sesuai kehandalan individu pegawai.
Kehandalan dari seorang pegawai yang berprestasi, dapat dilihat dari:
1) Kehandalan dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan tingkat
pengetahuan terhadap uraian kerjanya.
2) Kehandalan dalam memberikan pelayanan yang terampil sesuai dengan tingkat
keterampilan kerja yang dimilikinya dalam menjalankan aktivitas pelayanan yang
efisien dan efektif.
3) Kehandalan dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan pengalaman kerja
yang dimilikinya, sehingga penguasaan tentang uraian kerja dapat dilakukan
secara cepat, tepat, mudah dan berkualitas sesuai pengalamannya.
4) Kehandalan dalam mengaplikasikan penguasaan teknologi untuk memperoleh
pelayanan yang akurat dan memuaskan sesuai hasil output penggunaan teknologi
yang ditunjukkan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa kualitas


layanan dari kehandalan dalam suatu organisasi dapat ditunjukkan kehandalan
pemberi pelayanan sesuai dengan bentuk-bentuk karakteristik yang dimiliki oleh
pegawai tersebut, sesuai dengan keberadaan organisasi tersebut. Seorang pegawai
dapat handal apabila tingkat pengetahuannya digunakan dengan baik dalam
memberikan pelayanan yang handal, kemampuan keterampilan yang dimilikinya
diterapkan sesuai dengan penguasaan bakat yang terampil, pengalaman kerja
mendukung setiap pegawai untuk melaksanakan aktivitas kerjanya secara handal
dan penggunaan teknologi menjadi syarat dari setiap pegawai yang handal untuk
melakukan berbagai bentuk kreasi kerja untuk memecahkan berbagai permasalahan
kerja yang dihadapinya secara handal.

DAFTAR PUSTAKA
Armstrong & Baron. 2005. Productivity in Organization. London: Philadelphia.
As’ad, M. 2003. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty. hlm 45−64.
Azwar, S. 2000. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi ke-3. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
hlm 287−321.
Brown, D. 2001. Reward Strategies: Dari Intent to Impact. http://www.amazon.co.uk/
Reward-Strategies-Intent-Duncan-Brown/dp/0852929056
Gibson, J.L., J.M. Ivancevich, J.H. Donnelly, Jr. 2003. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses,
Jakarta: Bina Rupa Aksara. Hlm 119−275.
Gordon. 2004. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Hlm
119−275 .
Kopelman, R.E, 1986. Managing Productivity in Organizations. New York: McGraw-Hill.
116 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

McCaffery, J., Heerey, M & Bose, K. P. 2003. Refining Performance Improvement Tools and
Methods: lessons and Challenges, www.ispi.org.
Muhith, A. 2012. “Pengembangan model mutu asuhan keperawatan berdasarkan analisis
kinerja perawat dan kepuasan perawat serta pasien di RS Kabupaten Gresik.” Disertasi
tidak dipublikasikan. Program Pasca-Sarjana. Universitas Airlangga.
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Hlm 36−54.
Nursalam. 2011. Managemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keerawatan Profesional.
Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Parasuraman A, Zeithamal V, Berry L. 1985. “A conceptual model of service quality and
its impact for future research.” Journal of Marketing (Musim Gugur). Hlm. 41−50.
Perry dan Potter. 2003. Pocket And Giude Basic Skill and Procedure. 3rd edition. Missouri:
Mosby.
Ruky, A.S. 2006. Sistem Manajemen Kinerja. Perfomence Management System Panduan
Praktis Untuk Merancang dan Meraih Kinerja Prima. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Sudarsono. 2006. Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Woodruff dan Gardial. 2002. Practical-people Oriented Prespective. Canada: McGraw Hill.
Hlm. 36−45.

KONSEP KINERJA & Team work

Definisi Kinerja
Kinerja dalam organisasi diartikan sebagai keberhasilan menyelesaikan tugas atau
memenuhi target yang ditetapkan. Definisi kinerja (Irawan, 2003), adalah keluaran yang
dihasilkan oleh fungsi atau indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu
tertentu. Kinerja atau prestasi kerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya.
Kinerja bila dikaitkan dengan kata benda adalah terjemahan dari kata performance,
maka pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh
seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab individu atau kelompok dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan
secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika
(Irawan, 2003).
Kinerja mengandung 2 komponen penting yaitu : (1) kompetensi berarti individu
atau organisasi memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan tingkat kinerjanya,
(2) produktifitas yaitu kompetensi tersebut dapat diterjemahkan kedalam tindakan atau
kegiatan yang tepat untuk mencapai hasil kinerja (outcome). Penentuan kinerja sangat
diperlukan agar suatu lembaga atau individu dapat mengetahui apakah mereka telah
berhasil dalam mencapai tujuan.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 117

Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah
prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai selama
periode waktu tertentu dalam menjalankan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya.
Prestasi atau kinerja individu memberikan kontribusi pada prestasi kelompok dan
kinerja kelompok memberikan kontribusi pada kinerja organiasi. Kinerja individu adalah
dasar dari kinerja organisasi (Gibson, James L., Ivancevich, John M., dan Donelly JR, James
H., 1997). Kinerja yang tidak efektif dari tiap tingkatan merupakan tanda bagi manajemen
untuk segera melakukan perbaikan.

Faktor yang Memengaruhi Kinerja


Menurut (Gibson, James L., Ivancevich, John M., dan Donelly JR, James H., 1997) ada
3 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja yaitu faktor individu, faktor psikologis dan
faktor organisasi, seperti tampak dalam Gambar 4.9 berikut.

Psikologi:
1. Persepsi
2. Siap
3. Kepribadian
4. Belajar
5. motivasi
Variabel Individu
1. Kemampuan dan ketrampilan
a. Mental
b. Fisik Perilaku Individu
2. Latar belakang (Apa yang dikerjakan)
a. Keluarga Kinerja
b. Tingkat sosial (Hasil yang
c. Pengalaman diharapkan)
3. Demografis
a. Umur
b. Etnis
c. Jenis Kelamin Variabel Organisasi
1. Sumber daya
2. Kepemimpinan
3. Imbalan
4. Struktur
5. Desain pekerjaan

Gambar 4.20 Diagram skematis teori perilaku dan kinerja (Gibson, James
L.,Ivancevich, John M., dan Donelly JR, James H., 1997)

Kelompok variabel individu terdiri atas variabel kemampuan dan keterampilan, latar
belakang pribadi dan demografis. Menurut (Gibson, James L., Ivancevich, John M., dan
Donelly JR, James H., 1997) dalam Ilyas (2002) variabel kemampuan dan keterampilan
merupakan faktor utama yang memengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu.
Kelompok variabel psikologis terdiri atas variabel persepsi, sikap, kepribadian, belajar,
dan motivasi. Variabel ini banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman
kerja sebelumnya, dan variabel demografis. Kelompok variabel organisasi menurut (Gibson,
James L., Ivancevich, John M., dan Donelly JR, James H., 1997) terdiri atas variabel sumber
daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
118 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Indikator Kinerja
Ada beberapa pengertian tentang indikator yang disampaikan oleh para pakar yaitu : (1)
indikator adalah pengukuran tidak langsung suatu peristiwa atau kondisi, (2) indikator
adalah variabel yang mengindikasikan atau menunjukkan satu kecenderungan situasi,
yang dapat dipergunakan untuk mengukur perubahan, (3) indikator adalah variabel untuk
mengukur suatu perubahan baik langsung maupun tidak langsung.
Karakteristik suatu indikator antara lain : (1) sahih (valid): artinya indikator dapat
dipakai untuk mengukur aspek yang akan dinilai, (2) dapat dipercaya (reliable): mampu
menunjukkan hasil yang sama pada saat yang berulang kali, untuk waktu sekarang maupun
yang akan datang, (3) peka (sensitive): cukup peka untuk mengukur sehingga jumlahnya
tidak perlu banyak, (4) spesifik (specific) memberikan gambaran prubahan ukuran yang
jelas dan tidak tumpang tindih, (5) relevan: sesuai dengan aspek kegiatan yang akan diukur
dan kritikal.
Untuk mengukur tingkat hasil suatu kegiatan digunakan indikator sebagai alat atau
petunjuk untuk mengukur prestasi suatu pelaksanaan kegiatan. Monitoring dilakukan
terhadap indikator kunci guna dapat mengetahui penyimpangan atau prestasi yang
dicapai. Dengan demikian setiap individu akan dapat menilai tingkat prestasinya sendiri
(self assessment).

Team Work
Pengertian Team Work
Kelompok kerja adalah kelompok atau dua atau lebih yang berinteraksi dalam berbagi
informasi dan saling bergantung untuk mencapai tujuan. Kinerja kelompok hanya merupakan
jumlah kinerja sumbangan individual dari tiap kelompok (Wahjono, TSI , 2010).
Team work dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang bekerjasama untuk
mencapai suatu tujuan. Kumpulan individu tersebut memiliki aturan dan mekanisme
kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain. Tim kerja (team
work) menghasilkan sinergi yang positif melalui usaha yang terkoordinasi (Robbins,
2002). Team work merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai
talenta dan dapat memberikan solusi inovatif suatu pendekatan yang lebih baik, selain
itu kompetensi anggota tim yang beraneka ragam juga merupakan nilai tambah yang
membuat team work lebih menguntungkan bahkan jika dibandingkan dengan seorang
individu yang sangat ahli. Sebuah team work, ada dua hal yang perlu diingat yaitu (1)
adanya tugas (task), dan masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, (2)
proses yang terjadi di dalam team work.

Siklus Hidup sebuah Tim


Secara umum perkembangan suatu tim dapat dibagi dalam 5 tahap (Robbins, 2002).

1. Tahap pembentukan (forming stage), adalah tahapan di mana para anggota setuju
untuk bergabung dalam suatu tim. Karena kelompok baru dibentuk maka setiap orang
membawa nilai, pendapat, dan cara kerja sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap
orang masih sungkan, malu, bahkan ada anggota yang merasa gugup. Kelompok
cenderung belum dapat memilih pemimpin.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 119

2. Tahap timbulnya konflik (storming stage), adalah tahapan di mana kekacauan


mulai timbul di dalam tim. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan
kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu untuk mengganti pemimpin yang
dinilai tidak mampu. Pertentangan terjadi karena masalah pribadi, semua bersikeras
dengan pendapat sendiri, komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena setiap orang
tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara
terbuka.
3. Tahap normalisasi (norming stage), adalah tahapan di mana individu yang ada dalam
tim mulai merasakan manfaat bekerja bersama dan berjuang agar tim tetap solid.
Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas
untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota tim.
Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja
dan aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.
4. Tahap keempat adalah berkinerja (performing stage), tahapan di mana tim sudah
berhasil membangun sistem yang memungkinkan untuk dapat bekerja secara
produktif dan efisien.
5. Tahap pembubaran (adjourning stage), tahap ini untuk kelompok kerja yang kerjanya
tidak permanen, misalnya tim, komisi atau panita.

Perilaku Individu dalam Tim


Tim atau kelompok kerja memiliki beberapa faktor yang membentuk perilaku anggota
sehingga dapat menjelaskan dan meramalkan perilaku individu dalam tim dan kinerja tim,
dan faktor tersebut meliputi peran, norma, status, ukuran tim, dam tingkat kekohesifan
tim atau kelompok (Robbins, 2002).

1. Peran
Setiap anggota tim mempunyai peran yang berkaitan yang terdiri atas perilaku
yang diharapkan (role expectation) dari peran tersebut. Perilaku yang diharapkan
ini umumnya disepakati oleh seluruh angggota tim. Ketika peran yang dimainkan
oleh anggota tim menyimpang dari peran yang diharapkan, maka akan timbul reaksi
negatif dalam kinerja atau kepuasan anggota atau bahkan memutuskan meninggalkan
tim/kelompok
2. Norma
Norma adalah sebuah standar perilaku yang dapat diterima dalam sebuah tim yang
dianut oleh semua anggota tim. Norma mempunyai karakteristik penting bagi anggota
tim, apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang.
3. Status
Status adalah sebuah posisi atau pangkat yang didefinisikan secara sosial yang
diberikan kepada tim atau kelompok oleh orang lain. Status adalah faktor penting
dalam memahami perilaku karena ini merupakan sebuah motivator signifikan yang
memiliki konsekuensi perilaku yang besar ketika individu menerimanya. Interaksi
antar anggota tim dipengaruhi oleh status, ketika terjadi ketidaksetaraan akan
menimbulkan ketidakseimbangan yang dapat menghasilkan berbagai jenis perilaku
korektif.
120 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

4. Ukuran tim
Ukuran tim atau kelompok yang lebih kecil cenderung lebih cepat dalam
menyelesaikan tugas dan anggota tim berkinerja lebih baik dibanding kelompok
yang besar. Bila kelompok terlalu besar akan terjadi suatu kemalasan sosial (social
loafing) yaitu kecenderungan para individu untuk melakukan usaha yang kurang
optimal ketika bekerja secara kolektif dibanding ketika bekerja individual.
5. Kekohesifan
Suatu tingkat di mana anggota tim atau kelompok saling tertarik satu sama lain
dan termotivasi untuk tinggal di dalam kelompok tersebut, memiliki kedekatan
atau kesamaan dalam sikap, perilaku dan prestasi yang hampir sama. Kedekatan
ini disebut juga kekompakan. Kelompok atau tim yang sangat kohesif terdiri atas
individu yang mempunyai motivasi untuk bersama, maka dapat diharapkan kinerja
kelompok efektif. Tim atau kelompok sangat kohesif dengan tujuan yang sejalan
dengan organisasi maka tim akan berperilaku yang positif dan mempunyai kinerja
yang efektif.

Efektivitas
Efektivitas individu akan menentukan efektivitas kelompok, dan efektivitas kelompok
menentukan efektivitas organisasi (Gibson, James L., Ivancevich, John M., dan Donelly
JR, James H., 1997). Efektivitas individu dipengaruhi oleh kemampuan, keterampilan,
pengetahuan, sikap, motivasi dan stres. Efektivitas kelompok disebabkan oleh keterpaduan,
kepemimpinan, struktur, status, peran dan norma yang berlaku. Sedangkan efektivitas
organisasi dipengaruhi oleh lingkungan, teknologi, pilihan startegi, struktur, proses dan kultur
organisasi. Hubungan ketiga efektivitas tersebut digambarkan dalam Gambar 2.5 berikut.

Efektivitas Efektivitas Efektivitas


Individual Kelompok Organisasi

Faktor penyebab: Faktor penyebab: Faktor penyebab:

1. Kemampuan 1. Keterpaduan 1. Lingkungan


2. Ketrampilan 2. Kepemimpinan 2. Teknologi
3. Pengatahuan 3. Struktur 3. Pilihan Strategi
4. Sikap 4. Status 4. Struktur
5. Motivasi 5. Peran 5. Proses
6. Stres 6. Norma-norma 6. Kultur


Gambar 4.21 Sebab efektivitas (Gibson, James L., Ivancevich, John
M., dan Donelly JR, James H., , 1997)

Dalam suatu team work yang terdiri atas berbagai macam individu dari latar belakang
yang berbeda, dengan keahlian yang berbeda maka diperlukan suatu kerja sama yang
baik dan kompak (solid) agar tujuan organisasi dapat tercapai. Suatu kelompok dikatakan
sebagai team work dan menghasilkan suatu hasil yang optimal (kinerja tim yang efektif)
sangat dipengaruhi oleh peran individu.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 121

Agar kinerja tim efektif, sebuah tim membutuhkan tiga jenis ketrampilan yang
berbeda. Tim memerlukan individu dengan keahlian teknis, individu dengan ketrampilan
memecahkan masalah dan membuat keputusan, serta individu yang trampil dalam
mendengarkan, memberikan umpan balik, menyelesaikan konflik dan mempunyai
ketrampilan interpersonal lain yang baik.
Tim yang paling efektif bukan tim yang sangat kecil (di bawah 4 atau 5), bukan
pula tim yang sangat besar (lebih dari 12 orang). Tim yang sangat kecil mungkin tidak
mempunyai keragaman pandangan, dan tim yang lebih dari 12 orang akan kesulitan untuk
berbuat banyak.
Tim yang terbentuk dari individu fleksibel memiliki anggota yang dapat melengkapi
tugas satu sama lain. Ini jelas merupakan nilai tambah bagi suatu tim, karena fleksibilitas
sangat memperbaiki kemampuan adaptis tim dan membuat tim tidak tergantung hanya
pada satu anggota saja.
Empat faktor yang menyebabkan suatu team work dapat bekerja dengan efektif
meliputi.

1. Goal setting: suatu kelompok kerja akan dapat secara efektif menghasilkan suatu
tujuan apabila memiliki goal setting atau tujuan tim yang sama;
2. Komitmen: seberapa besar setiap komponen kelompok memiliki komitmen;
3. Effective role: setiap anggota kelompok harus memiliki peran tersendiri dan dituntut
untuk sinergis dalam melakukan usaha;
4. Leadership: komponen penting suatu kelompok akan menjadi efektif banyak
dipengaruhi oleh kepemimpinan.

Menurut Kazemak dalam Stott, K dan Walker, A, 1995 dalam (Rochmah, TN, 2006)
menyebutkan kriteria tim yang efektif adalah sebagai berikut.

1. Mempunyai tujuan organisasi yang dapat dimengerti dan disetujui oleh semua
anggota tim.
2. Konflik yang ada harus bersifat membangun.
3. Setiap anggota diharapkan terlibat secara aktif dalam proses kepemimpinan.
4. Kemampuan individu dihargai.
5. Komunikasi bersifat terbuka dan semua anggota tim dapat ikut berpartisipasi secara
aktif.
6. Semua anggota tim mendukung kebijakan dan prosedur organisasi.
7. Masalah yang ada diselesaikan secara baik berdasarkan proses pengambilan keputusan
yang tepat.
8. Adanya dukungan terhadap semua kreatifitas yang sifatnya membangun.
9. Melakukan proses evaluasi secara berkala untuk mengetahui kinerja individu anggota
tim dan kinerja tim secara keseluruhan; setiap anggota tim mengerti akan peranan,
tanggung jawab dan batasan wewenang yang diberikan oleh organisasi. Penilaian
semangat kerja melalui kinerja.
122 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Semangat Kerja
Menurut, “semangat kerja (morale) adalah perasaan seorang individu terhadap pekerjaan
dan organisasinya”. Mengukur semangat kerja berarti mengukur sikap atau perilaku yang
cenderung kualitatif berupa indikasi. Misalnya, indikasi turunnya semangat kerja dapat
dilihat dari tolak ukur yang ditampilkan sebagai berikut.

a. Turunnya produktivitas kerja atau kinerja


b. Tingkat absensi yang tinggi
c. Labour turnover yang tinggi
d. Tingkat kerusakan bahan yang tinggi
e. Kegelisahan di setiap unit kerja
f. Pihak karyawan sering menuntut
g. Pemogokan

Semangat kerja merupakan daya dorong bagi seseorang untuk berkinerja, sehingga
dapat juga dikatakan bahwa kinerja merupakan turunan langsung dari semangat kerja.
Hal ini dikarenakan naik-turunnya kinerja tidak terlepas dari naikturunnya semangat
kerja. Dengan demikian penilaian semangat kerja dapat juga dilakukan melalui penilaian
kinerja.
Sistem penilaian kinerja dalam suatu organisasi mencakup beberapa elemen.
Elemen pokok sistem penilaian kinerja mencakup kriteria yang ada hubungannya dengan
pelaksanaan kerja, ukuran-ukuran kriteria, dan pemberian umpan balik kepada pekerja
dan manajer personalia. Meskipun manajer personalia merancang sistem penilaian kinerja,
tetapi yang melakukan penilaian kinerja pada umumnya adalah atasan langsung pekerja
yang bersangkutan.
Di dalam sistem penilaian, di samping faktor penilai, ukuran-ukuran penilaian ikut
menentukan objektivitas penilaian. Ukuran-ukuran tersebut tentunya yang diandalkan,
sehingga secara keseluruhan dapat membentuk suatu sistem penilaian yang seobjektif
mungkin. Untuk mencapai objektivitas penilaian tersebut, sistem penilaian harus
mempunyai hubungan dengan pekerjaan (job-related), praktis dan mempunyai standar
pelaksanaan kerja menggunakan ukuran-ukuran kinerja yang dapat diandalkan.
Secara ringkas eleman-eleman pokok sistem penilaian kinerja dapat digambarkan
seperti dalam Gambar 4.21 berikut ini.
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 123

Prestasi Kerja Penilaian Prestasi Umpan Balik


Pekerja Kerja Bagi Pekerja

Ukuran-ukuran
Prestasi Kerja

Kriteria yang ada hubungannya


dengan pelaksanaan prestasi kerja

Catatan-catatan Catatan-catatan
tentang pekerja tentang pekerja

Gambar 4.22 Elemen-elemen pokok sistem penilaian kinerja (Handoko, 2011)

Menurut (Handoko, 2001) guna mengetahui kinerja pekerja diperlukan kegiatan-


kegiatan khusus, yaitu:

1. Identifikasi dimensi kerja yang mencakup semua unsur yang akan dievaluasi dalam
pekerjaan masing-masing pekerja dalam suatu organisasi.
2. Penetapan standar kerja, penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah suatu
proses melalui di mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja
pekerjanya..

Selanjutnya (Dharma, Agus, 1992) mengemukakan bahwa standar dalam penilaian


prestasi kerja mencakup:

1. Kuantitas/jumlah yang harus diselesaikan


2. Kualitas/mutu yang dihasilkan
3. Ketepatan waktu kerja/sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.

Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan output dari proses atau pelaksanaan


kegiatan. Hal ini berkaitan dengan jumlah output yang dihasilkan. Pengukuran ketepatan
waktu merupakan jenis khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan ketepatan
waktu dari suatu kejadian
Pengukuran kualitatif output mencerminkan pengukuran tingkat kepuasan yaitu
seberapa baik penyelesaian pekerjaan yang telah dilaksanakan, sering juga dinyatakan
dalam indikasi. Namun apabila diperlukan pengukuran kualitatif dapat juga dikuantitatifkan
misalnya dengan cara mengukur frekuensi terjadinya indikasi tertentu per satuan waktu
tertentu atau per siklus.
(Bernadin, H. John dan Joyce E. Russel, 1995) mengemukakan 6 kriteria primer
dapat digunakan untuk mengukur kinerja pekerja sebagai berikut:
124 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

a. Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan yang
mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
b. Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit,
jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan
c. Timeliness, merupakan lamanya kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki,
dengan memperhatikan jumlah output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan
yang lain.
d. Cost effectiveness, besarnya penggunaan sumber daya organisasi guna mencapai hasil
yang maksimal atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber
daya.
e. Need for supervision, kemampuan seseorang pekerja untuk melaksanakan suatu
fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah
tindakan yang kurang diinginkan.
f. Interpersonal impact, kemampuan seseorang pegawai untuk memelihara harga diri,
nama baik dan kemampuan bekerjasama diantara rekan kerja dan bawahan.

Sedangkan menurut (Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu, 2001) bahwa pengukuran


kinerja dapat dilakukan melalui:

a. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas yaitu kesanggupan karyawan


menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
b. Penyelesaian pekerjaan melebihi target yaitu apabila karyawan menyelesaikan
pekerjaan melebihi target yang ditentukan oleh organisasi
c. Bekerja tanpa kesalahan yaitu tidak berbuat kesalahan terhadap pekerjaan merupakan
tuntutan bagi setiap karyawan.

Berdasarkan pendapat di atas, diperlukan adanya suatu ukuran standar yang


ditetapkan terlebih dahulu untuk membandingkan apakah prestasi kerja telah sesuai
dengan keinginan yang diharapkan, sekaligus untuk melihat besarnya penyimpangan
yang terjadi dengan membandingkan antara hasil kerja pekerja secara aktual dengan
ukuran standarnya.
Penilaian prestasi kerja atau kinerja banyak bergantung pada bagaimana sumber
daya manusia dipandang dan diperlakukan di dalam organisasi. Jika organisasi percaya
bahwa orang tidak bekerja kecuali jika mereka diawasi dan dikendalikan dengan ketat, ia
cenderung mempunyai cara penilaian dalam bentuk laporan rahasia.
Dalam program Quality of Work Life penilaian cenderung terbuka dan apa adanya
(fair) untuk menggugah pekerja menggali lebih dalam potensi yang ada pada dirinya
untuk berkembang dan berprestasi lebih baik secara fair. Dengan penilaian dan pemberian
reward & consequencies yang sesuai dengan kenerja diharapkan akan mendorong pekerja
untuk bekerja lebih bersemangat dan bersedia mengeluarkan segala kreatifitas dan inovasi
yang dimiliki.
Jika organisasi percaya bahwa setiap individu mempunyai potensi dan kekuatan-
kekuatan serta beranggapan bahwa kemampuan manusia dapat dipertajam dalam suatu
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 125

iklim yang sehat, maka dari itu organisasi akan mempunyai sistem penilaian yang berusaha
mengenali, mempertajam, mengembangkan dan memanfaatkan potensi serta kemampuan
karyawannya.

DAFTAR PUSTAKA
Gibson, James L., John M., Ivancevich dan james H., Donnely, 1996. Organisasi dan
manajemen, Erlangga, Jakarta.
Handoko, 2001. Manajemen personalia dan sumber daya manusia, BPFE., Press,
Jogjakarta.
Herzberg F., 1977. One more time: how do you Motivate employee? The manajement proces,
Edisi 2, New York; Macmillan.
Irawan H., 2003. Indonesian customer satisfaction, PT. Gramedia, Jakarta.
Robbins S.P., 2002. Organizational behavior, 10th ed. Oct 16., Prentice Hall Internationa
Inc, San Diago State University.
Siagia, S.P., 2002. Manajemen sumber daya manusia, Bumi Aksara ,Jakarta.

TEORI MOTIVASI McCLELLAND


Pada tahun 1961 bukunya ‘The Achieving Society’, David McClelland menguraikan
tentang teorinya. Dia mengusulkan bahwa kebutuhan individu diperoleh dari waktu ke
waktu dan dibentuk oleh pengalaman hidup seseorang. Dia menggambarkan tiga jenis
kebutuhan motivasi. Dalam sebuah Teori Motivasi McClelland (Alligood & Tomey, 2006)
mengemukakan adanya tiga macam kebutuhan manusia yaitu:

1. Need for Achievement (Kebutuhan untuk berprestasi)


Kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan reflekssi dari dorongan akan tanggung
jawab untuk pemecahan masalah. Untuk mengungkap kebutuhan akan prestasi.
Ini dapat diungkap dengan teknik proyeksi. Penilitian menunjukkan bahwa orang
yang mempunyai Need for Achievement tinggi akan mempunyai performance yang
lebih baik daripada orang yang mempunyai Need for Achievement rendah. Dengan
demikian dapat dikemukakan bahwa untuk memprediksi bagaimana performance
seseorang dapat dengan jalan mengetahui Need for Achievement (kebutuhan akan
prestasinya). Teori McClelland ini penting karena ia berpendapat bahwa motif prestasi
dapat diajarkan. Hal ini dapat dicapai dengan belajar. Menurut McClelland, setiap
orang memiliki motif prestasi sampai batas tertentu. Namun, ada yang terus-menerus
lebih berorientasi prestasi daripada yang lain. Kebanyakan orang akan menempatkan
lebih banyak upaya ke dalam pekerjaan mereka jika mereka ditantang untuk berbuat
lebih baik.
Ciri orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi (Siagian, 2002):
• Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif
• Mencari feedback tentang perbuatannya
126 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

• Memilih risiko yang sedang di dalam perbuatannya.


• Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya

Masyarakat dengan keinginan berprestasi yang tinggi cenderung untuk


menghindari situasi yang berisiko terlalu rendah maupun yang berisiko sangat
tinggi. Situasi dengan risiko yang sangat kecil menjadikan prestasi yang dicapai akan
terasa kurang murni, karena sedikitnya tantangan. Sedangkan situasi dengan risiko
yang terlalu tinggi juga dihindari dengan memperhatikan pertimbangan hasil yang
dihasilkan dengan usaha yang dilakukan. Pada umumnya mereka lebih suka pada
pekerjaan yang memiliki peluang atau kemungkinan sukses yang moderat, peluangya
50%-50%. Motivasi ini membutuhkan feed back untuk memonitor kemajuan dari
hasil atau prestasi yang mereka capai. Ibu yang memiliki kebutuhan prestasi tinggi
dalam melengkapi status imunisasi anak, akan berusaha mengimunisasikan anaknya
sesuai jadwal imunisasi yang ada dan menunjukkan partisipasinya mengikuti program
yang ada di masyarakat. Karena ibu tidak menginginkan anaknya terkena penyakit
menular akibat tidak diimunisasi. Sehingga performanceyang ditunjukkan oleh ibu
yang memiliki motivasi tinggi berbeda dengan ibu yang memiliki motivasi yang
rendah.
2. Need for Affiliation (Kebutuhan untuk berafiliasi)
Afiliasi menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan berhubungan dengan
orang lain. Kebutuhan untuk berafiliasi merupakan dorongan untuk berinteraksi
dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang
merugikan orang lain. Seseorang yang kuat akan kebutuhan berafiliasi, akan selalu
mencari orang lain, dan juga mempertahankan akan hubungan yang telah dibina
dengan orang lain tersebut. Sebaliknya, apabila kebutuhan akan berafiliasi ini rendah,
maka seseorang akan segan mencari hubungan dengan orang lain, dan hubungan
yang telah terjadi tidak dibina secara baik agar tetap dapat bertahan.
Ciri orang yang memiliki kebutuhan afilasi yang tinggi (Siagian, 1999):
• Lebih memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaan daripada
tugas yang ada dalam pekerjaan tersebut.
• Melakukan pekerjaan lebih efektif apabila bekerjasama dengan orang lain dalam
suasana yang lebih kooperatif
• Mencari persetujuan atau kesepakatan dari orang lain
• Lebih suka dengan orang lain daripada sendirian
• Selalu berusaha menghindari konflik

Mereka yang memiliki motif yang besar untuk bersahabat sangat menginginkan
hubungan yang harmonis dengan orang lain dan sangat ingin merasa diterima oleh
orang lain. Mereka akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sistem norma
dan nilai dari lingkungan mereka berada. Mereka akan memilih pekerjaan yang
memberikan hasil positif yang signifikan dalam hubungan antar pribadi. Mereka
akan sangat senang menjadi bagian dari suatu kelompok dan sangat mengutamakan
interaksi sosial. Ibu yang memiliki kebutuhan afilasi tinggi akan selalu berusaha
mematuhi norma dan nilai yang ada di lingkungannya untuk mengimunisasikan
anaknya secara lengkap. Karena ingin membangun interaksi yang baik dengan
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 127

masyarakat sekitar dan berusaha mencegah konflik akibat tidak mengikuti norma
yang ada atau program yang ada di masyarakat.
3. Need for Power (Kebutuhan untuk berkuasa)
Kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan reflekssi dari dorongan untuk
mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain. Dalam interaksi
sosial seseorang akan mempunyai kebutuhan untuk berkuasa (power). Orang yang
mempunyai power need tinggi akan mengadakan kontrol, mengendalikan atau
memerintah orang lain, dan ini merupakan salah satu indikasi atau salah satu
menefestasi dari power need tersebut.
Ciri orang yang memiliki kebutuhan berkuasa yang tinggi (Siagian, 2002):
• Menyukai pekerjaan di mana mereka menjadi pemimpin
• Sangat aktif dalam menentukan arah kegiatan dari sebuah organisasi di manapun
dia berada
• Mengumpulkan barang-barang atau menjadi anggota suatu perkumpulan yang
dapat mencerminkan prestise
• Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau
organisasi.

Seseorang dengan motif kekuasaaan dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:

1. Personal power: mereka yang mempunyai personal power motive yang tinggi
cenderung untuk memerintah secara langsung, dan bahkan cenderung memaksakan
kehendaknya.
2. Institutional power: mereka yang mempunyai institutional power motive yang tinggi,
atau sering disebut social power motive, cenderung untuk mengorganisasikan usaha
dari rekan-rekannya untuk mencapai tujuan bersama.

Ibu yang memiliki kebutuhan berkuasa yang tinggi akan berusaha melengkapi status
imunisasi anaknya, karena orang tua memiliki pengaruh dan kontrol terhadap anaknya.
Jika orang tua saja melakukan imunisasi secara lengkap maka anak juga harus mendapatkan
imunisasi secara lengkap.

BURNOUT SYNDROME TEORI MASLACH

Konsep Dasar Burnout Syndrome


Pengertian Burnout Syndrome
Burnout syndrome adalah keadaan lelah atau frustasi yang disebabkan oleh terhalangnya
pencapaian harapan (Freundenberger, 1974). Pines dan Aronson melihat bahwa burnout
syndrome merupakan kelelahan secara fisik, emosi dan mental karena berada dalam
situasi yang menuntut emosional mengemukakan bahwa burnout syndrome sebagai
suau perubahan sikap dan perilaku dalam bentuk reaksi menarik diri secara psikologis
dari pekerjaan. Burnout syndrome adalah suatu kondisi psikologis pada seseorang yang
tidak berhasil mengatasi stres kerja sehingga menyebabkan stres berkepanjangan dan
128 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

FAKTOR PERSONAL:

1. Kepribadian
2. Harapan
3. Demografi
BURNOUT SYNDROME

4. control focus MBI (Maslach Burnout Inventory)


5. tingkatefisiensi 1. Kelelahan emosional
2. Depersonalisasi/Sinisme
3. Prestasipribadi
   (Maslach 2004)
FAKTOR LINGKUNGAN:

1. Beban kerja
2. Penghargaan

3. Kontrol
4. Kepemilikan
5. Keadilan
6. Nilai

Diukur
Tidak Diukur

Gambar 4.23 Faktor-faktor yang memengaruhi burnout syndrome (Maslach, 2001)

mengakibatkan beberapa gejala seperti kelelahan emosional, kelelahan fisik, kelelahan


mental dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Selama dekade terakhir, beberapa istilah telah diusulkan dalam upaya untuk
menjelaskan burnout syndrome, dan definisi yang paling dapat diterima adalah yang ditulis
oleh Maslach, di mana burnout syndrome ditandai dengan tiga dimensi yaitu kelelahan
emosional, depersonalisasi dan menurunnya prestasi diri (Pouncet, 2007). Dampak
yang paling telihat dari kelelahan adalah menurunnya kinerja dan kualitas pelayanan.
Individu yang mengalami burnout syndrome akan kehilangan makna dari pekerjaan yang
dikerjakannya karena respons yang berkepanjangan dari kelelahan emosional, fisik dan
mental yang mereka alami. Akibatnya, mereka tidak dapat memenuhi tuntutan pekerjaan
dan akhirnya memutuskan untuk tidak hadir, menggunakan banyak cuti sakit atau bahkan
meninggalkan pekerjaan nya (Felton, 1998; Maslach, 2001; Poncet, 2008).
Burnout syndrome lebih sering terjadi pada kategori profesi tertentu yang menuntut
interaksi dengan orang lain seperti guru, profesi dibidang kesehatan, pekerja sosial, polisi
dan hakim. Selain bekerja dengan masyarakat, individu yang bekerja dalam lingkungan
lain yang melibatkan tanggung jawab berbahaya, presisi pada kinerja tugas, konsekuensi
berat, shift kerja atau tugas dan tanggung jawab yang tidak disukai, berada pada risiko yang
berbeda untuk berkembangnya kelelahan (Felton, 1998; Poncet, 2008; Bakker, 2000).
Penelitian telah menunjukan bahwa perawat yang bekerja di rumah sakit berada
pada risiko tertinggi kelelahan. Beberapa alasan menjadi poin utama dalam perkembangan
sindrom ini, seperti tuntutan pasien, kemungkinan bahaya dalam asuhan keperawatan,
beban kerja yang berat atau tekanan saat harus memberikan banyak perawatan bagi banyak
pasien saat shift kerja, kurangnya rasa hormat dari pasien, ketidaksukaan dan dominasi
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 129

dokter dalam sistem pelayanan kesehatan, kurangnya kejelasan peran, serta kurangnya
dukungan dari lingkungan kerja. Faktor lain yang sangat terkait dengan pengembangan
burnout syndrome adalah jenis kepribadian yang mencerminkan kapasitas individu untuk
tetap bertahan pada pekerjaannya (Felton, 1998; Poncet, 2008; Bakker, 2000).
Burnout syndrome telah dinyatakan menjadi bahaya profesi yang sangat erat
hubungannya dengan individu dan institusi tempat bekerja (Fraudenberg, 1974).
Burnout syndrome didefinisikan sebagai jumlah energi psikologis dan fisik, bertambah
atau berkurangnya kelelahan bergantung pada beberapa faktor stres pribadi dan juga
stres organisasi (Maslach, 2003). Dari dua kalimat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
burnout syndrome merupakan sebuah hal yang negatif dari interaksi antara orang lain
dan lingkungan kerjanya.
Kelelahan emosional dinanggap sebagai elemen inti dari kelelahan yang mengakibatkan
depersonalisasi terhadap pekerjaan dan juga pada rekan kerja.Depersonalisasi yang dialami
oleh seseorang, dapat memengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan pada pasien, sehingga
bisa menurunkan prestasi diri (Leiter, Harvie &Frizzel, 1998; Leiter & Maslach, 2004).

Etiologi
Penyebab terjadinya kelelahan dapat diklasifikasikan menjadi faktor personal dan atau
faktor lingkungan. Faktor personal diantaranya kepribadian, harapan, demografi, control
fokus dan tingkat efisiensi. Faktor lingkungan yang berperan diantaranya adalah beban
kerja, penghargaan, control, kepemilikan, keadilan dan nilai (Cavus, 2010).
Terlepas dari beberapa faktor tersebut diatas, ada beberapa faktor yang dianggap
mempunyai hubungan yang signifikan yaitu status perkawinan, lamanya pekerjaan,
dukungan sosial, struktur keluarga, tanggung jawab, kejelasan stabilitas emosional dan
kelelahan.

Dimensi
Sudah dijelaskan diatas, bahwa burnout syndrome tidak hanya terkait dengan faktor tunggal,
melainkan muncul sebagai hasil dari interaksi antara beberapa faktor yang ada.Burnout
syndrome pada seseorang muncul sebagai akibat dari kelelahan emosional yang meningkat,
depersonalisasi dan penurunan prestasi diri (Pouncet, 2007).

1. Kelelahan emosional
Kelelahan emosional merupakan sisi yang mengekspresikan kelelahan fisik dan
emosional yang dialami sebagai dasar dan dimulainya burnout syndrome.Kelelahan
emosional, sebagian besar berhubungan dengan stres pekerjaan (Akcamete, Kaner
& Sucuoglu, 2001; Yildmm, 1996). Hasil dari kelelahan emosional yang dialami oleh
seseorang, orang tersebut tidak responsif terhadap orang-orang yang mereka layani,
dan juga merasa bahwa pekerjaannya sebagai penyiksaan karena ia berpikir bahwa
dirinya sendiri tidak mampu menanggung hari-hari berikutnya dan selalu merasa
tegang(Leiter & Maslach, 1988; Ergin, 1995; Maslach, Schaufeli & Leiter, 2001; Cimen
& Ergin, 2001).
130 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

2. Depersonalisasi
Depersonalisasi merupakan sikap yang menunjukan perilaku kers/kasar, perilaku negatif
dan acuh tak acuh terhadap orang lain. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa beberapa
orang menunjukan perilaku seperti kehilangan tujuan bekerja dan kehilangan antusiasme
sebagai akibat dari semakin menjauh dari dirinya sendiri dan pekerjaannya, menjadi acuh
tak acuh terhadap orang yang dilayani, menunjukan reaksi negative dan bermusuhan.
3. Rendahnya prestasi diri
Rendahnya prestasi diri menjadi dimensi evlusi diri dari burnout syndrome, timbul
fakta bahwa orang mulai melihat dirinya sebagai seseorang yang tidak berhasil. Dengan
kata lain, seseorang cenderung mengevaluasi dirinya sendiri sebagai hal yang negative
(Maslach, 2003).Orang yang mengalami kecenderungan ini berpikir bahwa mereka tidak
membuat kemajuan dalam pekerjaan mereka, sebaliknya mereka berpikir bahwa mereka
jatuh kebelakang, pekerjaan mereka tidak berhasil dan tidak memberikan kontribusi
pada perubahan lingkungan mereka (Leiter & Maslach, 1998; Singh et al., 1994).

Burnout syndrome adalah situasi yang sangat sulit dihindari.Namun, tingkat keparahan
burnout syndrome dapat dikurangi dengan aplikasi pribadi maupun perubahan aplikasi pada
organisasi tempat melaksanakan tugas. Pada tingkat organisasi dilakukan dengan pernyataan
tugas yang jelas, partisipasi pemula untuk program orientasi dan on the job training, perencanaan
personal yang efisien dalam hubungannya dengan departemen, pertemuan tim regular dengan
saran dan kritik, akses ke dukungan sosial dan lingkungan partisipatif dapat membantu dalam
mencegah burnout syndrome(Kacmaz 2005; Schulz, Greenley & Brown, 1995; Lundy & Muda,
1994, Poulin & Wlter, 1993). Pada tingkat pribadi dengan cara mendorong karyawan untuk
mengambil tujuan yang lebih realistis, sehingga membantu mereka untuk menurunkan
ekspektasi diri agar dapat membantu dalam menurunkan burnout syndrome.
Burnout syndrome adalah respons terhadap adanya stresor (misalnya beban kerja)
yang ditempatkan pada karyawan. Hal ini dibedakan menjadi bentuk lain dari stres karena
merupakan satu set respons ke tingkat tinggi tuntutan pekerjaan yang kronis, meliputi kewajiban
pribadi dan tanggung jawab yang sangatn penting. Karena karakteristik dari profesi kesehatan
seperti kecenderungan untuk focus pada masalah, kurangnya umpan balik yang positif,
tingkat stres emosional dan kemungkinan merasakan perubahan sikap terhadap beberapa
orang tempat bekerja, profesi kesehatan memiliki risiko lebih tinggi untk mengalami burnout
syndrome (Maslach & Jackson, 1982). Tiga dimensi Maslach yang didefinisikan dari burnout
syndrome sering digunakan untuk tujuan penelitian.

1. Kelelahan emosional : ditandai dengan kelelahan dan perasaan bahwa sumber daya
emosional telah habis digunakan.
2. Depersonalisasi : ditandai bahwa intervensi kepada klien yang dirasa hanya sebagai objek
saja, bukan sebagai orang yang harus benar-benar diperhatikan. Adanya sinisme terhadap
rekan kerja, klien bahkan dengan organisasi tempat bekerja.
3. Penurunan prestasi diri :ditandai dengan kecenderungan untuk mengevaluasi diri sendiri
secara negatif. Mencakup pengalaman penurunan kompetensi kerja dan prestasi dalam
pekerjaan/interaksi dengan orang/kurangnya kemajuan.

Bukti empiris menunjukan bahwa burnout syndrome dapat menimbulkan dampak


negatif diberbagai tingkatan termasuk tingkat individu, organisasi dan pelayanan. Pada
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 131

tingkat individu, burnout syndrome dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan fisik
dan mental negatif (Maslach & Jackson, 1982).Konsekuensi emosional termasuk konflik
dan kerusakan perkawinan hubungan keluarga dan sosial (Jackson et al., 1986).Pada tingkat
organisasi, dapat menyebabkan penurunan komitmen organisasi (Leiter dan Maslach 1988)
dan kepuasan kerja (Burke et al, 1984). Pada perawat dapat terjadi tingginya angka turn over
dan ketidakhadiran (Courage dan Williams, 1987; Stechmiller, 1990), kecenderungan untuk
menarik diri dari pasien dan beristirahat panjang termasuk kinerja secara keseluruhan yang
menurun dalam kualitas dan kuantitas kinerja. Dengan demikian, organisasi dapat mengalami
pemborosan sumber daya dan penurunan produktivitas. Pada tingkat pelayanan, penelitian
menunjukan bahwa burnout syndrome dapat mengarah ke penurunan kualitas perawatan
atau pelayanan dari pasien (Maslach dan Jackson, 1981).Pelayanan pelanggan yang buruk
dapat menyebabkan pelangan tidak puas dan mengakibatkan turunnya kemampuan untuk
mempertahankan pelanggan.
MBI (Maslach Burnout Inventory) merupakan instrument yang terdiri atas 22 item yang
digunakan untuk mengukur frekuensi dari tiga aspek burnout syndrome, kelelahan emosional,
depersonalisasi dan yang terakhir adalah penurunan prestasi diri.Burnout syndrome tercermin
pada skor yang lebih tinggi pada kelelahan emosional dan subscale depersonalisasi dan skor
rendah pada prestasi subscale pribadi.
Dari perumusan kepribadian di atas disimpulkan bahwa kepribadian berubah, berkembang
terus sesuai dengan cara penyesuaian terhadap lingkungan sehingga dapat dikatakan bahwa
kepribadian merupakan suatu hasil dari fungsi keturunan dan lingkungan. Setiap perubahan
yang terjadi pada lingkungan juga akan diikuti dengan berubahnya kepribadian.
Dalam usaha mengerti seseorang, mengerti kepribadiannya perlu kita mengikuti
lingkungan manakah yang berperan pada proses perkembangan dan masa hidupnya.
Kalinya dipakai oleh Achille Guillard dalam karangannya berjudul “Elements de Statistique
Humaine on Demographic Compares” pada tahun 1885.

DAFTAR PUSTAKA
Burke, RL & Leiter, MP. 1998. Contemporary Organizational Realities and Professional
Efficacy: Downsizing, Reorganization and Transition. Dalam T. Cox, P. Dewe, dan
M. Leiter (ed). Coping and Health in Organizations. Washington, DC: Taylor and
Francis.
Cavus. 2010. “The Impacts of Structural and Psychological Empowerment on Burnout”. A Research
on Staff Nurses in Turkish State Hospitals. Canadian Social Science. Hlm. 63−72.
Freudenberger , J. 1974. Staff Burnout, Journal of Social Issues. Hlm. 159−165.
Maslach, C, Jackson, S & Leiter, M. 2003. Maslach Burnout Inventory Manual. California: CPP.
Maslach, C. 1982. Understanding Burnout: Definition Issues in Analysing a Complex
Phenomenon. Dalam W. S. Pain Job Stres Burnout. Beverly Hills: Sage Publication.
Maslach, C. 2001, “Job Burnout”. Annual Review of Psychology, diakses 14 November 2003,
findarticles.com.
Maslach, C. 2004. Different Perspectives on Job Burnout. Contemporary Psychology. APA
Review of Books. Hlm. 168−170.
132 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

contoh KERANGKA KONSEPTUAL berbasis integrasi


model (lawrence green)
Need for Achievement
(Kebutuhan untuk berprestasi):
• menghindari risiko berat
• puas dan bangga dengan
hasil yang dicapai
• tanggung jawab
• menerima saran dan
Motivasi Ibu melengkapi status kritikan orang
Faktor Predisposisi
(Predisposing factors): imunisasi dasar pada anak
1. Pengetahuan (Teori Mc.Clelleand)
2. Kepercayaan
3. Sikap
4. Nilai dan norma
Need for Affiliation
(Kebudayaan)
(Kebutuhan untuk berafiliasi):
• mematuhi nilai dan norma
• menghindari konflik
• berusaha membangun
interaksi yang baik
Faktor Pendukung
(Enabling factors):
1. Adanya sarana
kesehatan Perilaku Ibu
2. Terjangkaunya sarana mengimunisasikan Need for Power
kesehatan anak (Kebutuhan untuk kekuasaan):
3. Peraturan kesehatan • mempunyai kontrol
4. Keterampilan terkait • aktif
kesehatan • peka terhadap
permasalahan

Faktor Pendorong Peningkatan


(Reinforcing factors): Kesehatan anak kualitas hidup
1. Keluarga anak
2. Guru
3. Sebaya
4. Petugas kesehatan
5. Tokoh masyarakat
6. Pengambil keputusan
Lingkungan

Keterangan
: Diukur

: Tidak diukur

Gambar 4.24 Kerangka konseptual motivasi ibu dalam melengkapi status imunisasi dasar pada
anak berbasis integrasi model Lawrance Green dan McClelleand (Eka Irawati, 2012)

Menurut Teori Lawrence Green, ada 3 faktor yang memengaruhi perilaku kesehatan
seseorang. Perilaku seorang ibu dalam memberikan imunisasi pada anaknya berdasarkan
pendekatan Teori Lawrence green dipengaruhi oleh 3 faktor, antara lain: faktor predisposisi
(predisposing factors) yaitu: sikap, keyakinan, pengetahuan, kepercayaan, nilai dan
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 133

norma. Sedangkan faktor pendukung (enabling factors) yaitu: adanya sarana kesehatan,
terjangkaunya sarana kesehatan, peraturan kesehatan, dan keterampilan terkait kesehatan.
Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu: keluarga, guru, sebaya, petugas kesehatan,
tokoh masyarakat, dan pengambil keputusan. Dan faktor predisposisi merupakan faktor
yang paling berpengaruh terhadap motivasi ibu melengkapi status imunisasi dasar pada
anak. Banyak ibu yang tidak bersedia untuk mengimunisasikan anaknya dengan alasan
yang sangat sederhana yaitu ibu-ibu sibuk dengan urusan rumah tangga dan ketakutan ibu
akan efek samping dari pemberian imunisasi yang disertai pengetahuan ibu yang rendah
tentang imunisasi (Ayubi, D, 2009). Imunisasi yang diberikan pada anak mencakup 5
imunisasi dasar yang harus diberikan, yaitu: imunisasi BCG, DPT, campak, polio, dan
hepatitis. Tujuan dari imunisasi dasar adalah tercapainya kekebalan penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada masyarakat (Depkes RI, 2005). Berdasarkan
pendekatan integrasi model Lawrance Green dan McClelleand diperoleh suatu kesimpulan
mengenai motivasi ibu dalam melengkapi status imunisasi dasar pada anak. Ini dapat
dilihat dari angka cakupan imunisasi dasar. Jika angka cakupan imunisasi dasar pada anak
tinggi berarti motivasi ibu baik. Tapi jika angka cakupan imunisasi dasar pada anak rendah
berarti motivasi ibu buruk dalam melengkapi status imunisasi dasar pada anak.

Hipotesis:

H1 : Ada pengaruh faktor predisposisi: pengetahuan terhadap motivasi ibu dalam


melengkapi status imunisasi dasar pada anak
H1 : Ada pengaruh faktor predisposisi: kepercayaan terhadap motivasi ibu dalam
melengkapi status imunisasi dasar pada anak
H1 : Ada pengaruh faktor predisposisi: sikap terhadap motivasi ibu dalam melengkapi
status imunisasi dasar pada anak
H1 : Ada pengaruh faktor predisposisi: nilai dan norma (kebudayaan) terhadap motivasi
ibu dalam melengkapi status imunisasi dasar pada anak

DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M.R. & Tomey, A. M. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 6th ed. Missouri:
Mosby
Ayubi, D., (2009). Kontribusi Pengetahuan Ibu Terhadap Status Imunisasi Anak di Tujuh
Provinsi di Indonesia. Skripsi. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Eka Irawati. 2012. Burnout syndrome pada mahasiswa profesi berdasarkan analisis faktor
person dan faktor lingkungan dari teori maslach. Skripisi. FKp. Unair
Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika
Siagia, S.P. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
134 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

STRESS, APPRAISAL, AND COPING STRATEGY IN


TRANSACTIONAL THEORY (Lazarus & Folkman, 1984)
Konsep dari stres berkembang dari definisi fisiologis terhadap stres sebagai konsep umum
yang paling banyak diterima (Selye, 1956).

PROSES OUTCOME

Antecedents Primary Appraisal Secondary Appraisal R Coping Effort Relational Coping Effort
(Stresors) e Meaning
“Am I okay?” “What, if anything, can l Coping Effort Revisited Adaptation
a
From person, “Am I in trouble be done about the t • Problem • Emotional well-being
environment, or being stresor?” i focused coping • unctional Status
and an benefited, now or o • Emotion • Health behaviors
in the future, and n
interaction of a focused coping
both in what way?” l (Anger, inhibited, anger,
righteous, anger, pouting,
M hostility, envy, jealousy,
e
a anxiety-fright, guilt shame,
n relief, hope, sadness-
i depression, gratitude,
n compassion, happiness-joy,
g
pride and love)

Resources

• Psychological, social, material,


& physiological health


Gambar 4.25 Stres, appraisal and coping strategy in transactional
theory (Lazarus & Folkman, 1984)

Setiap individu pasti akan mengalami stimulus atau peristiwa dalam hidupnya. Setiap
stimulus atau peristiwa terkadang menimbulkan stres bagi individu. Stimulus ini kemudian
disebut sebagai Antecedents of stresor. Lazarus & Folkman (1984) mengklasifikasikan
stresor ke dalam dua domain yakni Personal Stresor (komitmen dan kepercayaan) dan
Environmental Stresor (setiap aspek di luar personal yang dapat menjadi ancaman bagi
kondisi personal seseorang). Dalam penilaian awal (primary appraisal), individu akan
menentukan makna dari peristiwa yang dialaminya. Primary appraisal merupakan proses
penentuan makna dari suatu peristiwa yang dialami oleh individu, apakah peristiwa
tersebut dipersepsikan positif, netral ataukah negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai
negatif kemudian dicari kemungkinan adanya persepsi harm, threat atau challenge.
Harm adalah penilaian mengenai bahaya yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat
adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari peritiwa
yang terjadi, dan Challenge adalah tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan
mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang terjadi pentingnya primary appraisal
digambarkan dalam sebuah studi klasik mengenai stres oleh Lazarus. Primary appraisal
memiliki tiga komponen yakni:

1) Goal relevance: yakni penilaian yang mengacu kepada tujuan yang dimiliki seseorang,
yakni bagaimana hubungan peristiwa yang terjadi dengan tujuan personalnya
2) Goal congruence or incongruence: yakni penilaian yang mengacu pada apakah
hubungan antara peristiwa di lingkungan dan individu tersebut konsisten dengan
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 135

keinginan individu atau tidak, apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi
tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya maka disebut goal incongruence.
Apabila hal tersebut memfasilitasinya disebut goal congruence.
3) Type of ego involvement: yakni penilaian yang mengacu kepada berbagai macam
aspek dari identitas ego atau komitmn seseorang

Jika individu merasa adanya ancaman dari suatu peristiwa tersebut tetapi situasi
tersebut tidak dirasa merugikan, maka akan berlanjut ke penilaian kedua (secondary
appraisal) yang merupakan penilaian kemampuan individu dalam melakukan koping.
Individu yang merasakan adanya ancaman dalam penilaian kedua, tergantung bagaimana
individu tersebut melakukan koping. Secondary appraisal memiliki tiga komponen:

1) Blame and credit : yakni penilaian siapa yang bertanggung jawab atas situasi yang
menekan yang terjadi astas diri individu
2) Coping potential : yakni penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi
situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen pribadinya
3) Future expectancy: penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu
mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi lebih baik ataukah lebih buruk.

Pengalaman subjektif atas stres merupakan keseimbangan antara primary


dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup besar sedangkan
kemampuan untuk mengadakan koping tidak memadai, maka stres yang besar akan
dirasakan oleh seorang individu. Sebaliknya, ketika kemampuan koping besar, stres dapat
diminimalkan.
Coping strategy terdiri atas PFC (Problem Focused Coping) yakni strategi yang
digunakan untuk mengatasi situasi yang menimbulkan stres dan EFC (Emotion focused
coping) yakni strategi untuk mengatasi emosi negatif yang menyertai. Jika individu
memiliki mekanisme koping yang cukup baik maka individu tersebut akan terbebas dari
stres. Sebaliknya, apabila mekanisme koping yang dimiliki dirasa kurang, maka individu
tersebut akan mengalami stres.

DAFTAR PUSTAKA
Lazarus, RS. 1996. Psychological Stres and the Coping Process. New York: McGraw Hill.
Lazarus, RS Folkman, S. 1984. Stres, Appraisal and Coping. New York: Springer.
Lazarus & Taylor. 1991. Emotion and Adaptation. London: Oxford University Press.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. 1987. ‘Transactional theory and research on emotions and
coping.” European Journal of Personality.Vol.1. Hlm.141−170.
Lazarus, RS & Folkman S. 1988. Ways of Coping Questionnaire. Consulting Psychologist, Inc.
136 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

MATERNAL ROLE ATTAINMENT Dan BECOMING A MOTHER


(MERCER)

Microsystem

Microsystem

Microsystem

Mother-Father Relationship

Mother

Empathy–sensitivity to cues Child


Self-esteemself-concept
Parenting received as child Temperament
Maturity/flexibility Ability to give cues
Attitudes Appearence
Pregnancy/birth experience Characteristics
Health/depressions/anxiety Responsiveness

Stres
Role conflict/strain Health

Maternal Role/Identity child’s Outcome

Competence/confidence in role Cognitive/ mental


Grafication/satisfaction development
Attachment to child Behavior/attachment
Health

lo
Social competence

ho
Sc
ay g
D

ca So nin
re cia nc tio
l su
ppo i ly f u
rt Fam

Parent’s work settings

Transm cies
itted cultural consisten

Gambar 4. 26 Model of maternal role attainment.


Dimodifikasi dari Mercer, R. T. 1991. Maternal role: Models and consequences. Paper
dipresentasikan pada International Research Conference yang disponsori oleh the Council
of Nurse Researchers and the American Nurses Association, Los Angeles, CA. Hak cipta
Ramona T. Mercer, 1991. Catatan: Gambar ini telah dimodifikasi melalui komunikasi
personal dengan R. T. Mercer, Kata eksosistem telah diubah menjadi mesosistem
agar lebih konsisten dengan sumber awalnya Bronfenbrener pada 4 Januari 2000.


Pencapaian Peran Ibu: Mercer’s Original Model
Maternal Role Attainment yang dikemukakan oleh Mercer merupakan sekumpulan siklus
mikrosistem, mesosistem dan makrosistem. Model ini dikembangkan oleh Mercer sejalan
pengertian yang dikemukakan Bronfenbrenner’s, yaitu:
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 137

1. Mikrosistem adalah lingkungan segera di mana peran pencapaian ibu terjadi.


Komponen mikrosistem ini antara lain fungsi keluarga, hubungan ibu-ayah,
dukungan sosial, status ekonomi, kepercayaan keluarga dan stresor bayi baru lahir
yang dipandang sebagai individu yang melekat dalam sistem keluarga. ) Keluarga
dipandang sebagai sistem semi tertutup yang memelihara batasan dan pengawasan
yang lebih antar perubahan dengan sistem keluarga dan sistem lainnya. Gambar 2.1
Mikrosistem dalam model pencapaian peran ibu (Aligood & Tomey, 2006 )
2. Mesosistem meliputi, memengaruhi dan berinteraksi dengan individu di mikrosistem.
Mesosistem mencakup perawatan sehari-hari, sekolah, tempat kerja, tempat ibadah
dan lingkungan yang umum berada dalam masyarakat.
3. Makrosistem adalah budaya pada lingkungan individu. Makrosistem terdiri atas
sosial, politik. Lingkungan pelayanan kesehatan dan kebijakan sistem kesehatan yang
berdampak pada pencapaian peran ibu.

Maternal Role Attainment adalah proses yang mengikuti empat tahap penguasaan peran,
yaitu sebagai berikut.

1. Antisipatori : tahapan antisipatori dimulai selama kehamilan mencakup data sosial,


psikologi, penyesuaian selama hamil, harapan ibu terhadap peran, belajar untuk
berperan, hubungan dengan janin dalam uterus dan mulai memainkan peran.
2. Formal : tahapan ini dimuai dari kelahiran bayi yang mencakup proses pembelajaran
dan pengambilan peran menjadi ibu. Peran perilaku menjadi petunjuk formal,
harapan konsesual yang lain dalam sistem sosial ibu.
3. Informal merupakan tahap dimulainya perkembangan ibu dengan jalan atau cara
khusus yang berhubungan dengan peran yang tidak terbawa dari sistem sosial.
Wanita membuat peran barunya dalam keberadaan kehidupannya yang berdasarkan
pengalaman masa lalu dan tujuan ke depan.
4. Personal atau identitas peran yang terjadi adalah internalisasi wanita terhadap
perannya. Perngalaman wanita yang dirasakan harmonis, percaya diri, kemampuan
dalam menampilkan perannya dan pencapaian peran ibu.

Becoming a Mother: Model Revisi


Pada tahun 2003, Mercer merevisi model maternal role attainment menjadi becoming a
mother. Pada model ini ditempatkan interaksi antara ibu, bayi dan ayah sebagai sentral
interaksi yang tinggal dalam satu lingkungan.
138 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep

Society at large

Community

Family and friend

Father or
intimate

Mother Infant

Gambar 4.27 Becoming a mother : a Revised Model (Dari R. T. Mercer, personal


communication, September 3, 2003; Tomey, MA & Alligood, 2006)

Dalam model ini dijelaskan variabel lingkungan keluarga dan teman meliputi
dukungan sosial, nilai dari keluarga, budaya, fungsi keluarga dan stresor. Lingkungan
komunitas meliputi perawatan sehari-hari, tempat kerja, sekolah, rumah sakit, fasilitas
rekreasi dan pusat kebudayaan. Lingkungan yang lebih besar dipengaruhi oleh hukum
yang berhubungan dengan perempuan dan anak-anak, termasuk ilmu tentang bayi baru
lahir, kesehatan reproduksi, budaya terapan dan program perawatan kesehatan nasional.
Perawat berperan besar membantu bayi lahir menjalani masa transisi dengan aman dan
membantu ibu dan orang terdekat untuk menjalani masa transisi menjadi orang tua
(Boback,1995)

Daftar Pustaka
Alligood, MR, & Tomey, AM. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 7th Ed. Missouri:
Mosby. Hlm. 605−619.

Model Structure of Caring (Swanson, 1993)


Model Stucture of Caring (Swanson, 1993) berkaitan dengan perilaku filosofis perawat, yaitu
selalu memberikan informasi, memahami, menyampaikan pesan, melakukan tindakan
terapeutik, serta selalu mengharapkan hasil akhir yang baik, seperti yang digambarkan
pada Gambar 4.28. (Dari Swanson, K. M. [1993]. Nursing as informed caring for well-being
of others. Image: The Journal of Nursing Scholarship, 25 [4], 352-357.)
Bab 4  •  Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian 139

Maintaining Being Doing Client well-


Knowing Enabling
belief with for being

Informed
Philosophical understanding
attitudes of the clinical Intended
towards persons condition (in Therapeutic actions outcome
(ingeneral) and general) and the Message
the designated situation and client conveyed
client (in specific (in specific) to client

Gambar 4.28 Model Structure of Caring (Swanson, 1993)

daftar PUSTAKA
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Pedoman
Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
LoBiondo-Wood, G., dan Haber, J. (2002). Nursing Research: Methods, Critical Appraisal,
and Utilization. 5th ed. St. Louis: Mosby
Polit DF & Back, CT. (2012). Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for
Nursing Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Voelker, D. H., & Orton, P. Z., & Adams, S. (2011). Cliff Quick Statistics Quick Review 2nd
ed. New York: Wiley Publications, Inc.
140 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konsep
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 141

Bab 5
Lingkup Masalah Penelitian
Ilmu Keperawatan

Pada bagian ini, penulis hanya ingin berfokus pada identifikasi masalah penelitian ilmu
keperawatan. Masalah-masalah tersebut dapat digunakan sebagai stimulus bagi para
peneliti ilmu keperawatan saat menerjemahkan fakta empiris yang ada di lapangan.
Penjabaran lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan akan dibagi menjadi
6 lingkup masalah penelitian, meliputi: (1) Ilmu Keperawatan Dasar dan Manajemen
Keperawatan, (2) Ilmu Keperawatan Anak, (3) Ilmu Keperawatan Maternitas, (4) Ilmu
Keperawatan Medikal-Bedah dan Gawat Darurat, (5) Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa,
serta (6) Ilmu Keperawatan Komunitas, Keluarga, dan Gerontik.

Ilmu Keperawatan Dasar Dan Manajemen Keperawatan


Fokus masalah penelitian ilmu keperawatan dasar adalah (1) Pengembangan konsep dan
teori keperawatan; (2) Kebutuhan dasar manusia (sebab tidak terpenuhinya kebutuhan
dasar manusia) melalui pendekatan proses keperawatan, yang meliputi faktor-faktor
yang memengaruhi pemenuhan kebutuhan, mekanisme fisiopatobiologis, dan masalah-
masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia; (3) Pendidikan
keperawatan; (4) Manajemen keperawatan; dan (5) Peran organisasi profesi (Persatuan
Perawat Nasional Indonesia—PPNI).

1. Lingkup Masalah Penelitian Pengembangan Konsep dan Teori Keperawatan


(Nursalam, 2008)
Masalah penelitian difokuskan pada kajian teori-teori yang sudah ada dalam upaya
meyakinkan masyarakat bahwa keperawatan adalah suatu ilmu yang berbeda dari
ilmu profesi kesehatan lain serta kesesuaian penerapan ilmu tersebut dalam bidang
keperawatan. Konsep dan teori keperawatan yang diteliti dan dikembangkan
bersumber pada:
a. Teori adaptasi dari S.C. Roy
b. Teori kesehatan lingkungan dari Florence Nightingale
c. Teori hubungan antarmanusia dari H.E. Peplau
142 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

d. Teori 14 kebutuhan dasar manusia dari V. Henderson dan 21 masalah kebutuhan


manusia dari F.G. Abdellah
e. Teori hubungan antara ‘care, core, dan cure’ dari L. Hall
f. Teori defisit perawatan diri dari D.E. Orem
g. Teori model sistem perilaku dari D.E. Johnson
h. Teori hubungan dinamis antara perawat dan keluarga
i. Teori keperawatan klinik, suatu seni membantu dari E. Wiedenbach
j. Teori intervensi keperawatan pada respons adaptasi dan penyakit dari M.E.
Levine
k. Teori model sistem terbuka dari I.M. King
l. Teori prinsip ‘homeodynamics’ dari M. E. Rogers
m. Teori konsep model untuk praktik keperawatan dari B. Neuman
n. Teori filosofi dan ilmu dalam keperawatan dari J. Watson
o. Teori cultural shock diversity dari M. Lininger
p. Teori structure caring dari Swanson
q. Teori menjadi ibu dari R. Mercer (Polit & Back, 2012; Alligood & Tomey, 2006)

2. Lingkup Masalah Penelitian Kebutuhan Dasar Manusia


Lingkup masalah penelitian tentang kebutuhan dasar manusia meliputi identifikasi
sebab dan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang meliputi:
a. Oksigenasi
b. Nutrisi
c. Cairan dan elektrolit
d. Eliminasi
e. Mobilisasi
f. Istirahat dan tidur
g. Kenyamanan dan nyeri
h. Keamanan dan keselamatan
i. Psikososial-spiritual dan seksualitas.

3. Lingkup Masalah Penelitian Pendidikan Keperawatan


Lingkup masalah penelitian tentang pendidikan keperawatan meliputi:
a. Perkembangan pengelolaan pendidikan keperawatan
b. Penerapan dan pengembangan kurikulum
c. Proses pembelajaran di kelas, laboratorium, dan klinik serta lapangan
(komunitas)
d. Sarana dan prasarana pendidikan
e. Mahasiswa dan staf pengajar
f. Metode pembelajaran
g. Sistem evaluasi

4. Lingkup Masalah Penelitian Manajemen Keperawatan


a. Sistem pengelolaan pelayanan keperawatan
b. Peran dan kinerja bidang keperawatan
c. Peran dan kinerja komite keperawatan
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 143

d. Peran dan kinerja perawat


e. Model asuhan keperawatan profesional yang diterapkan
f. Model sistem pencatatan dan pelaporan
g. Administrasi klien masuk rumah sakit
h. Pengembangan instrumen penilaian kualitas pelayanan keperawatan
i. Pengembangan instrumen penilaian kepuasan klien
j. Standar praktik keperawatan profesional

5. Lingkup Masalah Penelitian Organisasi Profesi Keperawatan PPNI


a. Peran organisasi dalam sistem regulasi praktik keperawatan (registrasi, lisensi,
dan legalisasi)
b. Peran organisasi dalam penetapan standar praktik keperawatan
c. Peran organisasi dalam pelanggaran praktik anggotanya
d. Peran organisasi dalam peningkatan pendidikan anggota dan sosialisasi profesi
e. Peran organisasi dalam pengembangan pendidikan tinggi keperawatan

ILMU KEPERAWATAN ANAK


Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan anak didasarkan pada filosofi keperawatan
anak yang menekankan pada masalah biopsikososial anak akibat hospitalisasi dan peran
keluarga dalam asuhan keperawatan anak (Wong, 1995). Lingkup masalah penelitian ilmu
keperawatan anak meliputi:
1. Stres akibat dampak hospitalisasi pada anak

2. Penerapan konsep asuhan keperawatan anak dengan paradigma perawatan


atraumatik

3. Masalah deteksi dini tumbuh kembang (DDST) oleh petugas maupun orang tua
Mengkaji dan menilai tahap perkembangan pada bayi/anak menggunakan format
DDST

4. Masalah stimulasi yang sesuai tahap tumbuh kembang bayi/anak


• Penilaian tumbuh kembang bayi/anak yang mengalami keterlambatan
• Intervensi stimulasi untuk mencapai tahap tumbuh kembang yang optimal
• Penyuluhan tentang cara menstimulasi bayi/anak kepada orang tua

5. Masalah pengelolaan bermain sesuai tahap tumbuh kembang anak dan jenis penyakit
pada anak yang dirawat di RS (peran petugas kesehatan/perawat dan orang tua)
dalam mempercepat proses penyembuhan anak
• Menentukan jenis permainan sesuai tahap tumbuh kembang anak dan jenis
penyakit
• Menyusun dan membuat rencana permainan
• Melaksanakan rencana permainan di setiap ruang perawatan anak
• Mengevaluasi tindakan bermain yang telah dilakukan pada bayi/anak
144 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

6. Masalah pelaksanaan imunisasi


• Mengidentifikasi kebutuhan imunisasi sesuai kebutuhan yang berlaku
• Mengidentifikasi persepsi orang tua tentang imunisasi
• Memantau pemberian imunisasi pada bayi dan anak
• Memberi penyuluhan kepada orang tua tentang efek samping dan penanganan
bayi/anak yang diimunisasi
• Memotivasi orang tua untuk memberikan imunisasi pada anaknya

7. Masalah asuhan keperawatan pada bayi/anak dengan gangguan tumbuh kembang

• Melakukan pengkajian
• Menentukan diagnosis keperawatan
• Membuat rencana tindakan
• Mengevaluasi tindakan
• Mampu mengkaji/mengidentifikasi tumbuh kembang bayi/anak
• Mampu menilai pertumbuhan bayi dan balita berdasarkan pedoman
antropometri
• Mampu menerapkan konsep bermain pada klien

8. Masalah pelaksanakan asuhan keperawatan pada klien bayi/anak yang dirawat di RS


dengan gangguan sistem tubuh yang sering terjadi pada anak

a. Gangguan sistem pernapasan:


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan berikut
ini:
a. Pemberian posisi
b. Membersihkan hidung
c. Memberikan O2
d. Resusitasi jantung paru
e. Merawat anak dengan pemakaian ETT dan ventilator
f. Menghisap lendir
g. Memberikan nebulizer
h. Drainase postural/fisioterapi dada
i. Pengambilan AGD dan elektrolit
j. Perawatan trakeostomi
k. Perawatan anak dengan water sealed drainase (WSD)

b. Gangguan sistem kardiovaskular


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan berikut
ini:
a. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG)
b. Mengukur intraventricular pressure (IVP)
c. Mengukur tekanan vena sentral (CVP)
d. Pemasangan infus
e. Perawatan pra dan pascaoperasi
f. Disease shock
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 145

c. Gangguan sistem pencernaan


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan berikut
ini:
a. Memelihara kebersihan mulut
b. Pemasangan NGT
c. Melakukan bilas lambung
d. Pemberian makan lewat oral/NGT/parenteral
e. Memberikan huknah/gliserin/barium enema/obat suppositoria
f. Mengambil usapan rektum
g. Mengukur lingkar abdomen

d. Gangguan sistem hematologi dan onkologi


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Merawat klien untuk tindakan transfusi
b. Pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium
c. Mengambil darah untuk pemeriksaan gula darah
d. Memberikan cairan melalui vena dengan jarum bersayap
e. Menolong klien dengan perdarahan hidung dan gangguan pada sistem
hematologi
f. Menolong klien bayi dengan perdarahan tali pusat
g. Memberikan injeksi melalui intramuskular (IM)
h. Memberikan injeksi melalui intravena (IV)
i. Merawat anak yang mendapat tindakan bone marrow
j. Penyuluhan kepada keluarga tentang perawatan anak yang menerima tindakan
kemoterapi, radiasi
k. Perawatan luka

e. Gangguan sistem imunitas


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Melakukan uji kulit (skin test)
b. Melakukan uji mantoux (mantoux test)
c. Tes tuberkulin

f. Gangguan sistem perkemihan


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Mengukur asupan dan keluaran
b. Pemasangan kateter
c. Mangambil urine untuk pemeriksaan melalui kateter
d. Menyiapkan klien untuk tindakan pemeriksaan BNO/IVP

g. Gangguan sistem endokrin dan metabolik


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
146 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

a. Pemberian insulin
b. Mengambil darah untuk pemeriksaan gula darah acak/post prandial

h. Gangguan sistem persarafan


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Melakukan pemeriksaan neurologis
b. Mengidentifikasi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial
c. Pemberian posisi untuk mengurangi peningkatan tekanan intrakranial
d. Menyiapkan klien untuk tindakan lumbal fungsi
e. Menyiapkan klien untuk tindakan EEG, CT scan
f. Merawat anak dengan trepanasi
g. Merawat anak dalam keadaan kejang

i. Gangguan sistem persepsi sensori


Melakukan perawatan hidung, mata, telinga

j. Gangguan sistem integumen


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Melakukan perawatan luka
b. Merawat bayi/anak dengan varisela
c. Merawat bayi/anak dengan morbili
d. Merawat anak dengan infeksi jamur

k. Masalah pelaksanakan MTBS


Manfaat, efektivitas tindakan, dan masalah-masalah lain pada tindakan di bawah
ini:
a. Mengenal gejala awal penyakit yang mengancam kehidupan
b. Klasifikasi penyakit

ILMU KEPERAWATAN MATERNITAS


Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan maternitas difokuskan pada wanita pada
masa pranatal, natal, pascalahir, dan gangguan reproduksi yang sering terjadi pada
wanita.
1. Lingkup masalah penelitian pada ibu hamil
• Pendidikan kesehatan dan tindakan pada ibu hamil
• Senam hamil
• Perawatan payudara
• Imunisasi tetanus pada ibu hamil
• Kegiatan sehari-hari
• Kebutuhan nutrisi dan pemeriksaan kehamilan
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 147

2. Lingkup masalah penelitian ibu intrapartum (kala I–IV) dan asuhan keperawatan
bayi baru lahir (pengkajian–evaluasi):
• Pemenuhan kebutuhan psikososial ibu inpartum
• Peran perawat dalam memonitor kemajuan persalinan (partograf)
• Peran perawat dalam menolong persalinan normal minimal tiga orang
• Peran perawat pada perawatan bayi setelah lahir (menghisap lendir, perawatan
tali pusat, menentukan apgar score, memandikan bayi, menimbang berat badan
(BB) mengukur panjang badan (PB), lingkar kepala, serta lingkar dada bayi)

3. Lingkup masalah penelitian keperawatan ibu pascapersalinan


• Perawatan vulva hygiene (W)
• Perawatan payudara (W)
• Peran perawatan pada pengelolaan perdarahan pascapersalinan
• Pendidikan kesehatan
1. Senam nifas
2. Cara menyusui yang benar
3. Perawatan nifas sehari-hari
4. Konseling KB dan pemberian kontrasepsi

4. Lingkup masalah penelitian keperawatan ibu dengan gangguan kesehatan sistem


reproduksi
• Faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan deteksi dini gangguan sistem
reproduksi
• Peran perawat dalam pemeriksaan diagnostik (pemeriksaan pap smear)
• Memberikan pendidikan kesehatan
• Pengembangan model asuhan keperawatan pada ibu dengan gangguan sistem
reproduksi
• Sindroma klimaktorium pada wanita menopause
• Dukungan sosial perawat dan keluarga pada tindakan pembedahan dan
kemoterapi

ILMU KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN GAWAT DARURAT


Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan medikal bedah difokuskan pada asuhan
keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan. Topik masalah didasarkan pada
gangguan sistem tubuh yang umum terjadi pada klien dewasa.

Ilmu Keperawatan Medikal Bedah


a. Sistem kekebalan tubuh
1) Pengaruh program latihan fisik secara teratur terhadap fungsi imunitas
2) Pengaruh pemberian vitamin terhadap peningkatan populasi leukosit tertentu
3) Hubungan antara berpikir positif dengan fungsi imunitas
148 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

4) Tindakan pengurangan nyeri apakah yang paling efektif pada nyeri sendi
5) Apakah ada perbedaan kebutuhan psikososial pada klien HIV pada berbagai
stadium
6) Keefektifan intervensi nonfarmakologi dalam mengurangi mual dan muntah
pada klien kanker

b. Sistem respirasi dan oksigenasi


1) Pengaruh frekuensi perawatan trakeostomi terhadap rata-rata kejadian infeksi
2) Frekuensi kejadian aspirasi pada klien kanker kepala leher
3) Tindakan keperawatan apa yang paling efektif untuk mengurangi dispnea pada
klien dengan gangguan pernapasan bawah
4) Apakah metode pengukuran sesak dapat diterapkan pada klien kritis dan
kronis
5) Bagaimana keefektifan strategi khusus untuk mengurangi sesak seperti relaksasi,
latihan, koping, strategi perawatan diri sendiri?
6) Strategi apakah yang paling efektif untuk mengurangi sesak?

c. Sistem kardiovaskular
1) Keefektifan persiapan kulit terhadap penempatan elektroda untuk memperkecil
artefak
2) Pengaruh prosedur keperawatan tertentu terhadap disritmia
3) Keakuratan teknik pengukuran tekanan darah di berbagai letak
4) Apakah ada perbedaan manifestasi penyakit koroner antara pria dan wanita
5) Bagaimana faktor risiko penyakit arteri koroner pada klien dengan penyakit
vaskular
6) Cara yang terbaik apakah yang dapat membantu merubah kebiasaan gaya hidup
klien untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit kardiovaskular
7) Apakah metode terapi oksigen nasal atau masker lebih efektif untuk
mempertahankan keadekuatan nilai PaO2
8) Mengapa perdarahan lebih banyak terjadi pada wanita setelah terapi
trombolitik
9) Apakah terapi relaksasi lebih efektif daripada imajinasi terbimbing dalam
pengendalian mual pada klien kemoterapi
10) Apakah pendidikan meningkatkan ketaatan pada sejumlah klien dengan penyakit
jantung

d. Sistem persarafan
1) Alat pengkajian neurologi apa yang paling sesuai untuk mengkaji neurologi secara
cepat
2) Intervensi keperawatan apakah yang paling baik untuk mencegah gelisah dan
agitasi pada klien dengan penyakit Alzheimer
3) Efek frekuensi pengisapan pada klien trauma kepala terhadap peningkatan TIK
4) Alat pengkajian apakah yang paling baik untuk deteksi dini penurunan
kesadaran
5) Kombinasi intervensi apa yang terbaik pada klien dengan nyeri akut setelah
pembedahan
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 149

6) Apakah sifat perawat menentukan intervensinya pada klien yang mengalami


nyeri
7) Intervensi keperawatan nonfarmakologi apa yang dapat membantu mengurangi
nyeri dan kecemasan klien
8) Intervensi keperawatan apa yang paling bermanfaat dalam mengurangi nyeri
selama prosedur penggantian balutan

e. Sistem perkemihan
1) Apakah modifikasi pendidikan dan diet menghambat serangan gagal ginjal
2) Perbedaan stresor psikologi dan stresor fisiologi pada klien hemodialisis dan
dialisis peritoneal
3) Metode koping apakah yang paling efektif atau yang lazim digunakan pada klien
gagal ginjal/hemodialisis

f. Sistem pencernaan
1) Metode apakah yang efektif untuk mengurangi nyeri stomatitis
2) Adakah peran pengelolaan stres dan pengobatan stomatitis
3) Hubungan antara ketaatan diet, minum antasida, dan perubahan gaya hidup
terhadap serangan tukak peptik
4) Peran perawat dalam membantu penyesuaian klien terhadap ostomi (misalnya
hubungan sosial, seksual)
5) Pengaruh intervensi keperawatan klien hepatitis yang mengalami isolasi sosial
6) Intervensi keperawatan apa yang paling baik untuk mengurangi gatal yang disertai
ikterus
7) Intervensi keperawatan apa yang paling baik untuk mencegah diare pada klien
yang memperoleh tube feeding

g. Sistem endokrin
1) Keefektifan biaya pada pemberian terapi antitiroid dan pengobatan tetap iodin
(I131)
2) Kondisi yang paling tepat untuk penyimpanan insulin
3) Apakah penggunaan ulang spuit insulin mengontaminasi insulin dan apa efek
metabolismenya

h. Sistem sensori persepsi


1) Adakah perbedaan mekanisme koping pada klien penurunan penglihatan akut
dan kronis
2) Apakah klien dengan penurunan penglihatan mengalami peningkatan risiko
isolasi sosial selama hospitalisasi
3) Pengetahuan klien tentang kerja obat yang memengaruhi pendengaran

i. Sistem muskuloskeletal
Intervensi keperawatan apa yang paling sesuai pada klien dengan frustrasi dan depresi
akibat imobilisasi dan hospitalisasi yang berkepanjangan
150 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

j. Lanjut usia
1) Teknik pengkajian spesifik apakah yang mereflekssikan status hidrasi pada klien
lanjut usia
2) Apakah pendekatan video pada penyuluhan penghitungan asupan natrium efektif
pada populasi lanjut usia

Ilmu Keperawatan Gawat Darurat


a. Lingkup masalah penelitian kegawatan sistem pernapasan
1) Identifikasi tanda-tanda gawat napas
2) Peran perawat pada tindakan terhadap klien gawat napas
3) Pengembangan teknik fisioterapi dada
• Latihan napas
• Menepuk
• Melakukan vibrasi
• Posisi drainase
• Mengisap
• Nebulizing

b. Lingkup masalah penelitian kegawatan sistem kardiovaskular


1) Identifikasi indikator gawat jantung
2) Peran perawat pada tindakan terhadap klien gawat jantung

c. Lingkup masalah penelitian pada syok

d. Lingkup masalah penelitian kegawatan sistem persarafan


1) Peran perawat pada monitor peningkatan TIK
2) Peran perawat pada tindakan gangguan sistem persarafan

e. Lingkup masalah kegawatan pada sistem muskuloskeletal


Pengembangan model pananganan kegawatan gangguan sistem muskuloskeletal
(fraktur; melakukan teknik pembidaian; melakukan teknik pembalutan; serta
mengenal; menyiapkan dan melaksanakan prosedur pemasangan gips).

f. Lingkup masalah penelitian kegawatan akibat intoksikasi


Pengembangan model tindakan asuhan keperawatan kegawatan akibat intoksikasi:
• Insektisida,
• Napza,
• Makanan dan minuman,
• Obat-obatan,
• Kimia,
• Sengatan serangga, dan
• Gigitan ular.
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 151

g. Lingkup masalah penelitian kegawatan jiwa


1) Peran perawat pada perawatan kegawatan psikiatri, seperti:
• Mengamuk
• Percobaan bunuh diri
• Depresi
2) Menyiapkan, melakukan prosedur pengikatan

ILMU KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA


Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan jiwa ditujukan pada seluruh komponen,
meliputi klien, keluarga, dan masyarakat serta pengembangan model asuhan keperawatan
kesehatan jiwa mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. (Barkway,
2009; Muir Cochrane, Barkway, Nizette, 2010)

a. Lingkup masalah pada penerapan proses keperawatan


1) Pengembangan teknik komunikasi terapeutik
2) Pengembangan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga
3) Pengembangan terapi modalitas keperawatan
4) Peran perawat dalam memfasilitasi klien dan keluarga menggunakan fasilitas dan
sarana pelayanan kesehatan
5) Peran perawat pada kolaborasi dalam penatalaksanaan pengobatan dengan
memerhatikan prinsip (5B IW) serta mendeteksi dan menangani efek samping
obat

b. Lingkup masalah penelitian pada analisis proses interaksi (API)


1) Penyusunan API
2) Efektivitas penerapan API

c. Lingkup masalah penelitian pada kedaruratan psikiatri


1) Gaduh Gelisah
• Masalah indikasi dan prinsip pengekangan fisik pada klien yang mengamuk
• Masalah pengekangan fisik yang benar

b. Penelantaran Diri
• Masalah tingkat kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi pada klien yang
mengalami masalah penelantaran diri
• Masalah pemenuhan kebutuhan dasar klien dengan penelantaran diri

c. Bunuh Diri
• Masalah pelaksanaan pengkajian tingkat risiko bunuh diri pada klien
• Masalah identifikasi kategori perilaku bunuh diri: ancaman bunuh diri, upaya
bunuh diri, dan bunuh diri
• Masalah intervensi keperawatan pada klien dengan masalah risiko bunuh
diri
d. Lingkup masalah penelitian pada terapi keluarga
• Masalah pendidikan kesehatan pada keluarga berdasarkan kasus kelolaan
(individu)
152 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

• Masalah pendidikan kesehatan pada keluarga (kelompok) mengenai peran


keluarga dalam perawatan klien:
- Selama dirawat di rumah sakit
- Selama klien cuti
- Setelah klien pulang dari rumah sakit
- Masalah Penyuluhan Kesehatan Masyarakan Rumah Sakit (PKMRS) secara
rutin disesuaikan dengan jadwal ruangan jiwa

e. Lingkup masalah penelitian terapi lingkungan/manipulasi lingkungan


• Masalah kunjungan rumah pada klien kelolaan
• Masalah penyuluhan pada keluarga/masyarakat sekitar

f. Lingkup masalah penelitian terapi modalitas


1) Psikofarmaka
• Masalah penerapan asuhan prinsip 5 B I W dalam pemberian obat
• Masalah farmakokinetik dan farmakodinamik obat yang diberikan
• Masalah identifikasi dan menangani efek samping obat
2) Terapi elektrokonvulsif (Electroconvulsi therapy—ECT)
• Persiapan alat
• Persiapan klien dan pengaturan posisi
• Observasi masalah pada pascaECT dan penanganannya
3) Terapi okupasi
• Memfasilitasi dan mengoordinasikan klien dalam pelaksanaan terapi
okupasi
• Kerja sama dengan terapis yang ada di ruangan
4) Terapi aktivitas kelompok (TAK): merencanakan TAK, melaksanakan TAK, dan
melaporkan hasil TAK

ILMU KEPERAWATAN KOMUNITAS, KELUARGA, DAN GERONTIK


Lingkup masalah penelitian keperawatan komunitas adalah pengkajian tentang kondisi
kesehatan dari suatu masyarakat, yang meliputi: pemeliharaan kesehatan di masyarakat,
peran serta masyarakat dalam kesehatan, peningkatan kesehatan lingkungan, pendekatan
multisektoral, dan pengembangan penggunaan teknologi tepat guna untuk masyarakat.

Komunitas
a. Pengkajian tentang pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan
kesehatannya melalui upaya pokok puskesmas yang ada di Indonesia.
b. Pengkajian tentang pelayanan kesehatan di dalam dan luar gedung puskesmas.
c. Identifikasi masalah kesehatan prioritas di wilayah kerja puskesmas.
d. Menyusun rencana strategi untuk menghentikan kendala terhadap pencapaian
program kesehatan di puskesmas.
e. Pendekatan peran serta masyarakat secara aktif.
Bab 5  •  Lingkup Masalah Penelitian Ilmu Keperawatan 153

f. Masalah penerapan proses keperawatan di komunitas (pengkajian, diagnosis,


perencanaan, dan evaluasi).
g. Identifikasi dan pemberdayaan sumber-sumber yang ada di masyarakat dalam konteks
asuhan keperawatan komunitas.
h. Penerapan model asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosis, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi) kepada kelompok khusus yang ditemui di wilayah kerja
asuhan keperawatan komunitas.

Keluarga
a. Komunikasi terapeutik setiap berhubungan dengan keluarga.
b. Identifikasi keluarga yang perlu mendapat asuhan keperawatan.
c. Identifikasi kemampuan, kelemahan, kesempatan, dan bahaya yang dimiliki oleh
keluarga binaannya.
d. Penerapan proses keperawatan (pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi).
e. Menyusun media dan strategi pendidikan kesehatan yang tepat bagi keluarga
binaannya sesuai dengan masalah kesehatan.
f. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga binaannya sesuai dengan
masalah kesehatan.
g. Mendayagunakan kemampuan keluarga sebagai upaya promotif dan preventif.
h. Melakukan evaluasi terhadap hasil asuhan keperawatan keluarga yang telah
dilakukan.

Gerontik
a. Identifikasi masalah-masalah kesehatan lansia di keluarga, komunitas, dan institusi
layanan (depresi, ketergantungan, gangguan fisik, demensia, dll).
b. Pengembangan model asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosis, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi) kepada lansia sebagai individu yang tinggal dalam
keluarga; panti/institusi pelayanan kesehatan.
c. Pemanfaatan sumber-sumber yang ada di masyarakat untuk meningkatkan derajat
kesehatan lansia.

DAFTAR PUSTAKA
Alligood, MR, & Tomey, AM. 2006. Nursing Theorists and Their Work. 7th Ed. St. Louis,
Missouri: Mosby.
Barkway P. 2009. Psychology for Health Professionals. London: Churchill Livingstone
Elsevier.
Muir Cochrane E., Barkway P, Nizette D. 2010. Mosby’s Pocket Book of Mental Health.
Sydney: Mosby.
Nursalam. 2000. Pendekatan Paktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
154 Bagian 2: Masalah Penelitian dan Kerangka Konseptual

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Wong, D.L. 1995. Nursing Care of Infant and Children. 8th ed. St. Louis: Mosby
Company.
Bagian 3
METODOLOGI
PENELITIAN

• Bab 6 Rancangan Penelitian


• Bab 7 Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar
Sampel
• Bab 8 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
• Bab 9 Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan
Data
• Bab 10 Analisis Data Penelitian Kuantitatif
• Bab 11 Penulisan Hasil Penelitian
156 Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bab 6
Rancangan Penelitian

PENDAHULUAN
Bab ini akan membahas tentang rancangan penelitian yang sering digunakan pada
penelitian ilmu keperawatan. Pembahasan akan difokuskan pada rancangan deskriptif
dan eksperimen. Rancangan penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mengkaji suatu
fenomena berdasarkan fakta empiris di lapangan. Sedangkan rancangan eksperimen lebih
ditekankan pada pembuktian dan pengembangan model penerapan ilmu keperawatan
di lapangan melalui suatu intervensi keperawatan dan observasi dari intervensi yang
diberikan.
Rancangan atau rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam
penelitian, memungkinkan pengontrolan maksimal beberapa faktor yang dapat
memengaruhi akurasi suatu hasil. Istilah rancangan penelitian digunakan dalam
dua hal; pertama, rancangan penelitian merupakan suatu strategi penelitian dalam
mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data; dan
kedua, rancangan penelitian digunakan untuk mendefinisikan struktur penelitian yang
akan dilaksanakan.
Rancangan juga dapat digunakan peneliti sebagai petunjuk dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan
penelitian. Oleh karena itu, kemampuan dalam menyeleksi dan mengimplementasikan
rancangan penelitian sangat penting untuk meningkatkan kualitas penelitian dan hasilnya
akan dapat dimanfaatkan.
Rancangan penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang
dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan.
Rancangan sangat erat dengan kerangka konsep sebagai petunjuk perencanaan pelaksanaan
suatu penelitian. Sebagai “blueprint”, rancangan adalah suatu pola atau petunjuk secara
umum yang dapat diaplikasikan pada beberapa penelitian. Dengan adanya permasalahan
penelitian yang jelas, kerangka konsep, dan definisi variabel yang jelas, suatu rancangan
dapat digunakan sebagai gambaran tentang perencanaan penelitian secara rinci dalam hal
pengumpulan dan analisis data.
158 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Pada tahap ini, peneliti harus mempertimbangkan beberapa keputusan sehubungan


dengan metode yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan harus
secara cermat merencanakan pengumpulan data. Peneliti harus menyadari bahwa setiap
metode yang digunakan mempunyai dampak terhadap kualitas, kesatuan, dan interpretasi
dari suatu hasil. Oleh karena itu, peneliti harus dapat mengevaluasi keputusan untuk
menentukan berapa banyak kebenaran yang akan disajikan pada hasil penelitian.
Menurut Buns & Groves (1999) ada beberapa pertanyaan yang perlu dikaji pada
bagian penentuan rancangan penelitian, seperti berikut ini:

• Apakah tujuan utama penelitian untuk menjelaskan variabel dan kelompok


berdasarkan situasi penelitian, menguji suatu hubungan, atau menguji sebab akibat
pada situasi tertentu?
• Apakah akan menggunakan suatu perlakuan (treatment)?
• Jika ya, apakah perlakuan akan dikontrol oleh peneliti?
• Apakah akan dilakukan pra-tes pada sampel perlakuan?
• Apakah sampel akan diseleksi secara acak (random)?
• Apakah sampel akan diteliti sebagai satu kelompok atau dibagi menjadi beberapa
kelompok?
• Berapa besar kelompok yang akan diteliti?
• Berapa jumlah masing-masing kelompok?
• Apakah tiap kelompok akan dikontrol?
• Apakah tiap kelompok akan diberi tanda secara acak?
• Apakah pengukuran variabelnya akan diulang?
• Apakah menggunakan pengumpulan data cross-sectional atau cross-time?
• Apakah variabel sudah diidentifikasi?
• Apakah data yang sedang dikumpulkan memiliki banyak variabel?
• Strategi apakah yang digunakan untuk mengontrol variabel yang bervariasi?
• Strategi apakah yang digunakan untuk membandingkan suatu variabel atau
kelompok?
• Apakah suatu variabel akan dikumpulkan secara singkat atau bertingkat (multiple)?

Penyusunan rancangan penelitian memerlukan suatu pertimbangan yang matang


dan rinci sebagaimana tersebut di atas. Semakin hati-hati dalam berpikir secara rinci,
rancangan penelitian akan semakin kuat.

PEMILIHAN RANCANGAN PENELITIAN


Pemilihan dan penetapan rancangan penelitian dilakukan setelah perumusan hipotesis
penelitian. Hal ini penting karena rancangan penelitian pada dasarnya merupakan
strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis
atau untuk menjawab pertanyaan penelitian serta sebagai alat untuk mengontrol atau
mengendalikan pelbagai variabel yang berpengaruh dalam penelitian. Dengan demikian,
rancangan penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan
penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti
pada seluruh proses penelitian.
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 159

Apakah ada intervensi/rekayasa dari peneliti?

Tidak Ya

Deskriptif, analitik, hubungan,


Eksperimen
komparasi

Apakah semua memiliki:


Apakah tujuan utama mencari (1) Kelompok Kontrol, (2)
hubungan? Randomisasi, (3) Pengendalian
Ketat pada Variabel

Tidak
Tidak Ya (hanya 2 saja Ya

Desain Desain
deskriptif studi deskriptif studi Quesi- True-
kasus dan kasus dan Experimental Experimental
survei survei

Tidak Ya Random atau Kelompok Kontrol

Pra-experimental
Desain cross-sectional
-  One-shot case study
Komparatif
-  One group pre-post test design
(cohort & case kontrol)
-  Static group comparasion

Gambar 6.1 Diagram alur penetapan rancangan penelitian ilmu keperawatan

Unsur-unsur yang terpenting dalam menentukan rancangan penelitian mencakup:


(1) ada/tidaknya pengobatan, (2) jumlah sampel dalam populasi, (3) frekuensi dan waktu
pengukuran, (4) metode sampling, (5) instrumen untuk pengumpulan data, dan (6) kontrol
yang dipilih untuk mengendalikan variabel-variabel perancu.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini penting saat menyusun suatu rancangan
penelitian:

(1) Apakah akan ada suatu intervensi keperawatan yang perlu dilakukan kepada
responsden?
(2) Perbandingan tipe apakah yang akan digunakan?
(3) Prosedur apakah yang akan digunakan untuk mengontrol variabel?
(4) Kapan dan berapa kali data akan dikumpulkan dari responsden?
(5) Dalam situasi yang bagaimanakah penelitian akan dilaksanakan, di klinik, di rumah
atau di tempat yang lainnya?
(6) Berapakah jumlah responsden untuk setiap kelompok?
(7) Apakah setiap kelompok akan diseleksi secara random?
(8) Apakah data dikumpulkan secara cross-sectional dan cross-time?
160 Bagian 3: Metodologi Penelitian

JENIS RANCANGAN PENELITIAN


Jenis rancangan penelitian keperawatan dibedakan menjadi empat (Nursalam, 2008),
yaitu:

1. Deskriptif. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan, memberi suatu nama, situasi,


atau fenomena dalam menemukan ide baru.
2. Faktor yang berhubungan (relationship). Penelitian ini dilaksanakan untuk
mengembangkan hubungan antarvariabel dan menjelaskan hubungan yang
ditemukan. Penelitian ini disebut juga penelitian tahap kedua setelah suatu fenomena
ditemukan.
Hubungan tersebut tidak selalu memiliki mekanisme yang menjelaskan (secara
ko-insiden/kebetulan timbul bersamaan). Rancangan yang sering digunakan adalah
cross sectional.
3. Faktor yang berhubungan (asosiasi). Penelitian ini disebut juga explanatory atau
correlational, bertujuan untuk menentukan faktor apakah yang terjadi sebelum
atau bersama-sama tanpa adanya suatu intervensi dari peneliti. Rancangan yang
dipergunakan bisa menggunakan cross-sectional atau jenis rancangan lainnya (kohort,
case control)
4. Pengaruh (causal). Penelitian ini ditujukan untuk menguji pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
Karakteristik rancangan pengaruh (causal) adalah sebagai berikut:
• Intensitas variabel independen menentukan intensitas variabel dependen (VD)
misalnya dosis
• Dapat dijelaskan mekanisme perubahannya
• (Tetapi) bukan sebagai penyebab (causation)
• Jenis rancangan yang dipergunakan adalah eksperimental. Jenis rancangan
eksperimental adalah:
(1) True experimental (satu kelompok tidak dilakukan intervensi)
(2) Quasy experimental (satu kelompok dilakukan intervensi sesuai dengan
metode yang dikehendaki, kelompok lainnya dilakukan seperti biasanya)
(3) Pre-experimental: post only atau pre-post. Satu kelompok dilakukan intervensi
X dan kelompok lainnya dilakukan intervensi Y

Secara umum, penelitian dapat diklasifikasikan menjadi (1) non-eksperimental


dan (2) eksperimental. Penjelasan berikut ini akan menguraikan mengenai dua kategori
rancangan yang sering digunakan dalam penelitian keperawatan.

Rancangan Penelitian Non–Eksperimen


a. Rancangan penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa
penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis
dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan. Fenomena disajikan
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 161

secara apa adanya tanpa manipulasi dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana
dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, oleh karena itu penelitian jenis ini tidak
memerlukan adanya suatu hipotesis. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan atau
dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik.
Hubungan antarvariabel diidentifikasi untuk menggambarkan secara keseluruhan
suatu peristiwa yang sedang diteliti, tetapi pengujian mengenai tipe dan tingkat hubungan
bukan merupakan tujuan utama dari suatu penelitian deskriptif. Cara menghindari
bias dalam suatu penulisan dilakukan dengan: (1) menghubungkan antara konsep dan
operasional definisi variabel, (2) seleksi sampel dan besarnya sampel, (3) instrumen
yang valid dan reliabel, dan (4) prosedur pengambilan data dengan adanya suatu kontrol
lingkungan.
Rancangan ini digunakan untuk menguji suatu karakteristik dari sampel (Polit &
Back (2012):

Klarifikasi Pengukuran Deskripsi


Interpretasi variabel 1 deskripsi
variabel 1
Interpretasi variabel 2 deskripsi
variabel 2
Makna/Arti Peristiwa variabel 3 deskripsi
variabel 3
Menyusun hipotesis variabel 4 deskripsi
variabel 4

Rancangan penelitian meliputi identifikasi suatu peristiwa, identifikasi variabel, serta


mengembangkan teori dan operasional definisi dari variabel. Deskripsi variabel mampu
menginterpretasi makna suatu teori yang ditemukan dan populasi yang dapat digunakan
untuk penelitian selanjutnya. Jenis rancangan penelitian deskriptif adalah:

1) Rancangan penelitian studi kasus


Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit
penelitian secara intensif misalnya satu klien, keluarga, kelompok, komunitas, atau
institusi. Meskipun jumlah subjek cenderung sedikit namun jumlah variabel yang
diteliti sangat luas. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui semua variabel
yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Rancangan dari suatu studi kasus bergantung pada keadaan kasus namun tetap
mempertimbangkan faktor penelitian waktu. Riwayat dan pola perilaku sebelumnya
biasanya dikaji secara rinci. Keuntungan yang paling besar dari rancangan ini adalah
pengkajian secara rinci meskipun jumlah responsdennya sedikit, sehingga akan
didapatkan gambaran satu unit subjek secara jelas. Misalnya, studi kasus tentang
asuhan keperawatan klien dengan infark miokard akut pada hari pertama serangan
di RS. Peneliti akan mengkaji variabel yang sangat luas dari kasus di atas mulai dari
menemukan masalah bio-psiko-sosio-spiritual.
162 Bagian 3: Metodologi Penelitian

2) Rancangan penelitian survei


Survei adalah suatu rancangan yang digunakan untuk menyediakan informasi yang
berhubungan dengan prevalensi, distribusi, dan hubungan antarvariabel dalam
suatu populasi. Pada survei, tidak ada intervensi. Survei mengumpulkan informasi
dari tindakan seseorang, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai.
Terdapat tiga metode yang sering digunakan dalam mengumpulkan data survei: (1)
wawancara melalui telepon, (2) wawancara langsung—tatap muka, dan (3) tanya
jawab dengan penyebaran kuesioner melalui surat. Keuntungan survei adalah dapat
menjaring responsden secara luas dan dapat memperoleh berbagai informasi serta
hasil informasi dapat dipergunakan untuk tujuan lain. Akan tetapi informasi yang
didapat dari survei seringkali cenderung bersifat superfisial. Oleh karena itu, pada
penelitian survei akan lebih baik jika dilaksanakan analisis secara bertahap.

b. Rancangan penelitian korelasional (hubungan/asosiasi)


Penelitian korelasional mengkaji hubungan antara variabel. Peneliti dapat mencari,
menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, dan menguji berdasarkan teori yang ada.
Sampel perlu mewakili seluruh rentang nilai yang ada. Penelitian korelasional bertujuan
mengungkapkan hubungan korelatif antarvariabel. Hubungan korelatif mengacu pada
kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain. Dengan
demikian, pada rancangan penelitian korelasional peneliti melibatkan minimal dua
variabel. Contoh penelitian deskriptif korelasional dalam keperawatan meneliti tentang
hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan klien kanker serviks yang menjalani
radioterapi. “Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara dukungan
sosial dan kecemasan klien kanker serviks yang menjalani radioterapi”.

Skema Penelitian Deskriptif Korelasional

Pengukuran

Variabel Deskripsi
1 variabel

Uji Interpretasi
Hubungan    makna/arti

Variabel Deskripsi
2 variabel

Penelitian korelasional biasanya dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti dapat


diukur secara serentak dari suatu kelompok subjek. Hubungan antarvariabel ditunjukkan
dengan koefisien korelasi yang bergerak dari –1 sampai dengan +1. Korelasi –1 berarti
korelasi negatif sempurna, sedangkan korelasi +1 berarti positif sempurna. Variabel
dikatakan berkorelasi positif apabila variasi suatu variabel diikuti sejajar oleh variabel
yang lain. Pada contoh kasus di atas, makin tua usia pemberi perawatan, maka makin
tinggi risiko merasa jenuh. Bila variasi suatu variabel diikuti terbalik oleh variasi variabel
lainnya, maka kedua variabel tersebut berkorelasi negatif.
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 163

Cross Sectional (Hubungan dan Asosiasi)


Penelitian cross-sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/
observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Pada
jenis ini, variabel independen dan dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi
tidak ada tindak lanjut. Tentunya tidak semua subjek penelitian harus diobservasi pada
hari atau pada waktu yang sama, akan tetapi baik variabel independen maupun variabel
dependen dinilai hanya satu kali saja. Dengan studi ini, akan diperoleh prevalensi atau efek
suatu fenomena (variabel dependen) dihubungkan dengan penyebab (variabel dependen).
Misalnya, peneliti ingin mempelajari hubungan antara sikap perawat dan tingkat kecemasan
klien infark miokard akut yang dirawat di ruang UGD. Peneliti pada saat itu menilai atau
menanyakan sikap perawat (sebagai variabel independen) kemudian menilai tentang
kecemasan klien pada saat itu juga, misalnya dengan menggunakan instrumen kecemasan
dari Hamilto Anxiety Rating Scale (HARS) (Nursalam, 2008).

c. Rancangan penelitian komparatif


Istilah rancangan penelitian non-eksperimen: komparatif dalam ilmu keperawatan sering
digunakan pada penelitian klinis maupun komunitas. Jenis rancangan ini mempunyai
makna yang hampir sama dengan yang dilakukan dalam epidemiologi, yang dikenal
dengan istilah kohort dan kasus kontrol. Rancangan ini difokuskan untuk mengkaji
perbandingan terhadap pengaruh (efek) pada kelompok subjek tanpa adanya suatu
perlakuan dari peneliti.

1) Kohort
Menurut Sastroasmoro & Ismail (1995) istilah kohort berasal dari Romawi kuno yang
berarti sekelompok tentara yang maju berbaris ke medan perang. Jenis penelitian
ini merupakan penelitian epidemiologik noneksperimental yang mengkaji antara
variabel independen (faktor risiko) dan variabel dependen (efek/kejadian penyakit).
Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian kohort adalah pendekatan
waktu secara longitudinal atau time period approach. Sehingga jenis penelitian ini
disebut juga penelitian prospektif. Menurut Sastroasmoro & Ismail (1995) peneliti
mengobservasi variabel independen terlebih dahulu (faktor risiko), kemudian subjek
diikuti sampai waktu tertentu untuk melihat terjadinya pengaruh pada variabel
dependen (efek atau penyakit yang diteliti).
Pada Gambar 7.2, pembagian antara variabel risiko dan nonrisiko terbagi secara
alamiah tanpa adanya suatu intervensi dari peneliti. Kemudian peneliti mengikuti
secara prospektif terhadap efek yang ditimbulkan. Misalnya, peneliti ingin menilai
bayi yang secara alamiah diberi susu buatan dan ASI. Peneliti mengikuti sampai batas
waktu tertentu (misalnya 1 tahun), kemudian mengobservasi kejadian asma bronkial
pada kedua kelompok tersebut. Ternyata ditemukan bahwa angka kejadian asma
bronkial pada kelompok subjek yang diberi susu buatan lebih tinggi dibandingkan
pada bayi berusia kurang dari 1 tahun yang mendapatkan ASI.
164 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Peneliti mengobservasi PROSPEKTIF Menilai Efek


pada waktu ini

Faktor Risiko Efek +/-

Tanpa risiko & ASMA


efek

Faktor Nonrisiko Efek +/–

Gambar 6.2 Rancangan penelitian Kohort (prospektif) (Sastroasmoro & Ismail, 1995)

2) Kasus Kontrol (Case Control)


Jenis penelitian ini merupakan kebalikan dari penelitian kohort, yaitu peneliti
melakukan pengukuran pada variabel dependen terlebih dahulu (efek, misalnya
asma bronkial), sedangkan variabel independen ditelusuri secara retrospektif untuk
menetukan ada tidaknya faktor (variabel independen) yang berperan, misalnya
minum susu buatan.

Peneliti mengobservasi
Menilai Faktor Risiko RETROSPEKTIF
pada waktu ini

Faktor Risiko Kasus:


Asma

ASMA

Faktor Risiko Kontrol: Tidak


Asma

Gambar 6.3 Skema rancangan penelitian kasus kontrol

Sebagai kontrol pada jenis penelitian kasus kontrol, dipilih kelompok subjek yang
berasal dari populasi yang karakteristiknya sama dengan kasus dan hanya berbeda dalam
hal terdapatnya penyakit atau kelainan (asma bronkial).
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 165

Rancangan Penelitian Eksperimental


Penelitian eksperimental adalah suatu rancangan penelitian yang digunakan untuk
mencari hubungan sebab-akibat dengan adanya keterlibatan penelitian dalam melakukan
manipulasi terhadap variabel bebas. Eksperimen merupakan rancangan penelitian yang
memberikan pengujian hipotesis yang paling tertata dan cermat, sedangkan pada penelitian
kohort atau kasus kontrol hanya sampai pada tingkat dugaan kuat dengan landasan teori
atau telaah logis yang dilakukan peneliti. Akan tetapi studi ini pada umumnya mahal dan
pelaksanaanya rumit, sehingga penggunaannya terbatas.
Dilihat dari kemampuannya dalam mengontrol variabel-variabel penelitian, rancangan
penelitian eksperimental dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) pra-eksperimental; (2)
eksperimental semu; dan (3) eksperimental sungguhan.

Rancangan penelitian pra-eksperimental


Menurut Babbie (1999) rancangan penelitian pra-eksperimental dibedakan menjadi
tiga, yaitu (a) one-shot case study; (b) one-group pre-post test design; dan (c) static-group
comparison design.

1) One–shot case study


Penelitian ini dilakukan dengan melakukan intervensi/tindakan pada satu kelompok
kemudian diobservasi pada variabel dependen setelah dilakukan intervensi. Misalnya,
peneliti melakukan observasi pada percepatan penyembuhan luka pascaoperasi
(dependen) setelah dilakukan mobilisasi (independen)

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


– I O
Waktu 1 Waktu 2 Waktu 3
Keterangan
- :  tidak diobservasi sebelum tindakan
I :  intervensi
O :  observasi setelah intervensi

b. Rancangan pra-pascates dalam satu kelompok (One-group pra-post test design)


Ciri tipe penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan
cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum
dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi. Misalnya, peneliti
mengobservasi proses involusi ibu pascasalin sebelum melakukan senam nifas,
kemudian keadaan involusi uterinya diobservasi setelah senam.

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


K O I OI
Waktu 1 Waktu 2 Waktu 3
Keterangan
K :  subjek (pascasalin)
O :  observasi involusi uteri sebelum senam
I :  intervensi (senam nifas)
O1 :  observasi involusi uteri sesudah senam
166 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Suatu kelompok sebelum dikenai perlakukan tertentu (I) diberi pra-tes,


kemudian setelah perlakuan, dilakukan pengukuran lagi untuk mengetahui akibat
dari perlakukan. Pengujian sebab akibat dilakukan dengan cara membandingkan
hasil pra-tes dengan pasca-tes. Namun tetap tanpa melakukan pembandingan
dengan pengaruh perlakuan yang dikenakan pada kelompok lain. Penelitian ini
dipandang masih sangat lemah karena tidak melibatkan kelompok kontrol dan
temuan penelitian sangat ditentukan oleh karakteristik subjek. Apabila ditemukan
atau tidak ditemukan perbedaan antara pra-tes dan pasca-tes, maka tidak dapat
dipastikan apakah perbedaan itu memang disebabkan oleh perlakuan yang diberikan
ataukah tidak.

c. Static-group comparison design


Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari suatu tindakan pada
kelompok subjek yang mendapat perlakuan, kemudian dibandingkan dengan
kelompok subjek yang tidak mendapatkan perlakuan.

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


K-A O I O1-A
K-B - - O1-B
Waktu 1 Waktu 2 Waktu 3
Keterangan
K-A :  subjek (pascasalin) perlakuan
K-B :  subjek (pascasalin) kontrol
- :  tidak diobservasi dan tidak dilakukan intervensi
O :  observasi involusi uteri sebelum senam (kelompok perlakuan)
I :  intervensi (senam nifas)
O1(A+B) :  observasi involusi uteri sesudah senam (kelompok perlakuan dan kontrol)

Rancangan penelitian eksperimen semu (quasy-experiment)


Rancangan ini berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara
melibatkan kelompok kontrol di samping kelompok eksperimental. Tapi pemilihan kedua
kelompok ini tidak menggunakan teknik acak. Rancangan ini biasanya menggunakan
kelompok subjek yang telah terbentuk secara wajar (teknik rumpun), sehingga sejak awal
bisa saja kedua kelompok subjek telah memiliki karakteristik yang berbeda. Apabila pada
pasca-tes ternyata kedua kelompok itu berbeda, mungkin perbedaannya bukan disebabkan
oleh perlakukan tetapi karena sejak awal kelompok awal sudah berbeda.

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


K-A O I O1-A
K-B O - O1-B
Time 1 Time 2 Time 3
Keterangan
K-A :  subjek (pascasalin) perlakuan
K-B :  subjek (pascasalin) kontrol
- :  aktivitas lainnya (selain senam nifas yang telah diprogramkan)
O :  observasi involusi uteri sebelum senam (kelompok perlakuan)
I :  intervensi (senam nifas)
O1(A+B) :  observasi involusi uteri sesudah senam (kelompok perlakuan dan kontrol)
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 167

Dalam rancangan ini, kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok


kontrol tidak. Pada kedua kelompok perlakuan diawali dengan pra-tes, dan setelah
pemberian perlakuan diadakan pengukuran kembali (pasca-tes)

Rancangan eksperimental sungguhan (true-experiment)


Ciri penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan
kelompok kontrol di samping kelompok eksperimental yang dipilih dengan menggunakan
teknik acak. Pada kelompok perlakuan dilakukan suatu intervensi tertentu kemudian
kelompok kontrol tidak dilakukan tindakan. Penelitian ini biasanya dilakukan pada
binatang percobaan. Misalnya, peneliti ingin meneliti pengaruh pemberian obat A
terhadap penyembuhan penyakit pada kelompok perlakuan yang telah diberi bakteri
penyakit tertentu. Kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberi bakteri
penyakit tertentu, tetapi tidak diberikan obat jenis A (hanya plasebo). Pada penelitian ilmu
keperawatan jenis penelitian ini jarang dipergunakan.
Ada beberapa jenis rancangan penelitian eksperimental yang dapat digolongkan ke
dalam kelompok ini:

• Pasca-tes dengan kelompok eksperimen dan kontrol yang diacak


• Pra-tes dan pasca-tes dengan kelompok eksperimen dan kontrol yang diacak
• Gabungan keduanya (Rancangan Solomon)

1) Pasca-tes dengan pemilihan


Pada rancangan ini, kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok
kontrol tidak. Pada kedua kelompok tidak diawali dengan pra-tes. Pengukuran hanya
dilakukan setelah pemberian perlakuan selesai.

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


R - I O
R - - O
R :  random (acak)
I :  intervensi (senam nifas)
O :  observasi involusi uteri sebelum senam

2) Pra-tes dan pasca-tes dengan pemilihan


Dalam rancangan ini, kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok
kontrol tidak. Pada kedua kelompok diawali dengan pra-tes, dan setelah pemberian
perlakuan selesai diadakan pengukuran kembali (pasca-tes). Rancangan penelitian
ini mengikuti urutan prosedural yang sama dengan rancangan eksperimental semu
sejenis. Perbedaan terletak pada pemilihan subjek dengan menggunakan teknik
acak.
168 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


R 0 I O
R 0 – O
R : random (acak)
X : variabel bebas atau perlakuan
0 : observasi (pengukuran)

c. Rancangan Solomon

Subjek Pra Perlakuan Pasca-tes


R - I O
R - - O
R 0 I O
R 0 - O
R :  random (acak)
X :  variabel bebas atau perlakuan
0 :  observasi (pengukuran)
I :  intervensi (senam nifas)

Rancangan ini pada dasarnya menggabungkan dua rancangan eksperimental


sebelumnya sehingga terbentuk rancangan yang melibatkan empat kelompok. Dua
kelompok sebagai kelompok eksperimen dan dua lainnya sebagai kelompok kontrol. Pada
kedua kelompok eksperimen diberi perlakuan sedangkan pada kedua kelompok kontrol
tidak. Pada satu pasangan kelompok eksperimen dan kontrol diawali dengan pra-tes,
sedangkan pada pasangan yang lain tidak. Setelah pemberian perlakuan selesai diadakan
pengukuran atau pasca-tes pada keempat kelompok.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang kuat dan cermat terhadap
hasil penelitian dibandingkan penelitian lainnya, dan memungkinkan adanya suatu
perbandingan yang kompleks antara kelompok dan pengkajian efek dari pra-tes pada nilai
pasca-tes. Rancangan ini juga mampu menetralkan kelemahan-kelemahan rancangan
sebelumnya. Misalnya, untuk rancangan eksperimental sungguhan yang kedua, dengan
memasukkan langkah pemberian pra-tes dapat membuat subjek menjadi peka dalam
memberikan jawaban dalam pasca-tes.

DAFTAR PUSTAKA
Burns & Grove. 1999. The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Sastroasmoro S. & Ismail S. 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Bab 7  •  Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel 169

Bab 7
Populasi, Sampel, Sampling,
dan Besar Sampel

Pada bab ini akan diuraikan tentang penentuan populasi, sampel, dan sampling (cara
pengambilan sampel), serta penentuan jumlah sampel. Setiap penelitian harus memiliki
subjek, bisa berupa manusia, hewan, barang-barang, dan atau tumbuhan. Pada penelitian
keperawatan, subjek penelitian hampir selalu menggunakan subjek manusia.

POPULASI
Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia; klien) yang memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan. Contoh: Semua klien yang telah menjalani operasi jantung
di rumah sakit.

Pembagian Populasi
Pembagian populasi menurut Sastroasmoro & Ismail (1995) meliputi: populasi target dan
populasi terjangkau.

a. Populasi target
Populasi target adalah populasi yang memenuhi kriteria sampling dan menjadi sasaran
akhir penelitian. Populasi menurut Polit dan Hungler (1999) target bersifat umum
dan biasanya pada penelitian klinis dibatasi oleh karakteristik demografis (meliputi
jenis kelamin atau usia). Misalnya, kita mempunyai kelompok populasi target pada
klien diabetes melitus di Surabaya.
b. Populasi terjangkau (Accessible Population)
Populasi terjangkau adalah populasi yang memenuhi kriteria penelitian dan biasanya
dapat dijangkau oleh peneliti dari kelompoknya. Misalnya, semua klien diabetes
melitus yang menjadi anggota Askes di Surabaya. Peneliti biasanya menjadikan sampel
pada populasi target tersebut dan diharapkan dapat dipergunakan untuk mewakili
kelompok populasi klien diabetes melitus yang ada di Surabaya.
170 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Subjek Penelitian Karakteristik Contoh

Dibatasi oleh Stres hospitalisasi


karakteristik klinis dan pada anak (jumlah
Populasi target demografis tidak terbatas)

Dibatasi oleh tempat Anak stres hospitalisasi


Populasi terjangkau dan di RSUD Dr. Soetomo
Sampling: waktu (58/bulan)
Probabiliti/acak
1. simple
2. cluster
3. sistematik Dipilih secara acak 30 anak stres
4. stratified Sampel hospitalisasi

Gambar 7.1 Hubungan antara populasi, sampel, sampling, dan besar sampel
(Sastroasmoro & Ismail: 1995, dimodifikasi oleh Nursalam 2008)

Kriteria Populasi
Dalam mendefinisikan populasi, peneliti harus berfokus pada kriteria yang telah ditetapkan.
Dasar pertimbangan penentuan kriteria populasi, meliputi:

a. Biaya. Jika kita ingin meneliti pada populasi suku Madura, maka peneliti harus belajar
budaya dan bahasa Dayak agar dapat terjadi interaksi dengan baik. Keadaan tersebut
memerlukan waktu yang lama sehingga juga memerlukan biaya tambahan.
b. Praktik. Kesulitan dalam melibatkan populasi sebagai subjek karena berasal dari
daerah yang sulit dijangkau (misalnya, masyarakat Dayak yang tinggal terpencil di
pegunungan).
c. Kemampuan orang untuk berpartisipasi dalam penelitian. Kondisi kesehatan
seseorang yang menjadi subjek harus dijadikan bahan pertimbangan dalam
penentuan populasi. Misalnya orang dengan gangguan mental, tidak sadar, dan
kondisi mental yang tidak stabil perlu dikeluarkan sebagai kriteria populasi.
d. Pertimbangan rancangan penelitian. Pada penelitian dengan menggunakan
rancangan eksperimen, maka diperlukan populasi yang mempunyai kriteria
homogenitas dalam upaya untuk mengendalikan variabel random, perancu, dan
variabel lainnya yang akan mengganggu dalam penelitian.

Penggunaan kriteria tersebut dapat digunakan untuk mendefinisikan suatu populasi


dalam penelitian dan mempunyai dampak dalam menginterpretasi dan melakukan
generalisasi hasil.
Bab 7  •  Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel 171

SAMPEL DAN SAMPLING


Sampel terdiri atas bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek
penelitian melalui sampling. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari
populasi yang dapat mewakili populasi yang ada.

Sampel
a. Syarat-syarat sampel
Pada dasarnya ada dua syarat yang harus dipenuhi saat menetapkan sampel, yaitu
representatif (mewakili) dan (2) sampel harus cukup banyak.

1) Representatif
Sampel yang representatif adalah sampel yang dapat mewakili populasi yang ada.
Untuk memperoleh hasil/kesimpulan penelitian yang menggambarkan keadaan
populasi penelitian, maka sampel yang diambil harus mewakili populasi yang ada.
Untuk itu dalam “sampling” harus direncanakan dan jangan asal saat mengambil
sampel. Misalnya, kita ingin meneliti hubungan antara pengetahuan klien dan
ketaatan diet pada klien diabetes. Dasar pendidikan klien ada yang tidak sekolah,
tidak lulus SD, Lulus SD, SMP, SMU, akademi, perguruan tinggi, dan lain-lain. Semua
tingkat pendidikan tersebut harus terdapat dalam sampel. Istilahnya terwakili dalam
sampel penelitian kalau semua tingkat pendidikan klien yang ada dalam populasi
telah terwakili.

2) Sampel harus cukup banyak


Semakin banyak sampel, maka hasil penelitian mungkin akan lebih representatif.
Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili, kalau jumlahnya kurang
memenuhi, maka kesimpulan hasil penelitian kurang atau bahkan tidak bisa
memberikan gambaran tentang populasi yang sesungguhnya. Sebenarnya tidak ada
pedoman umum yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel untuk suatu
penelitian. Besar kecilnya jumlah sampel sangat dipengaruhi oleh rancangan dan
ketersediaan subjek dari penelitian itu sendiri. Polit dan Hungler (1999) menyatakan
bahwa semakin besar sampel yang dipergunakan semakin baik dan representatif hasil
yang diperoleh. Dengan kata lain semakin besar sampel, semakin mengurangi angka
kesalahan. Prinsip umum yang berlaku adalah sebaiknya dalam penelitian digunakan
jumlah sampel sebanyak mungkin. Namun demikian, penggunaan sampel sebesar
10%–20% untuk subjek dengan jumlah lebih dari 1000 dipandang sudah cukup.
Makin kecil jumlah populasi, persentasi sampel harus semakin besar. Terdapat
beberapa rumus yang dapat dipergunakan untuk menentukan besar sampel.
172 Bagian 3: Metodologi Penelitian

PENENTUAN BESAR SAMPEL

N.z2 p.q.
n =
d2 (N-1) + z2 . p.q

48 (1,96)2 .05 . 0.5
=
(0,05) (48 – 1) + (1,96)2 . 0,5 . 0,5

=  42,7
=  43 responsden

• Populasi infinit (populasi tidak diketahui)

Za2 .p.q
n=
d2

Keterangan:
n =  perkiraan besar sampel
N =  perkiraan besar populasi
z =  nilai standar normal untuk α = 0,05 (1,96)
p =  perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50%
q =  1 – p (100% – p)
d =  Tingkat kesalahan yang dipilih (d = 0,05)

atau

N
n=
1 + N (d)2

Keterangan (untuk prediksi):


n =  Besar sampel
N =  Besar populasi
d =  Tingkat signifikansi (p)

Penentuan dengan rumus tersebut di atas tidak mutlak, khususnya jika tujuan
penelitian tidak untuk generalisasi.

b. Kriteria sampel: inklusi dan eksklusi


Penentuan kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil
penelitian, khususnya jika terhadap variabel-variabel kontrol ternyata mempunyai
pengaruh terhadap variabel yang kita teliti. Kriteria sampel dapat dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu: inklusi dan eksklusi (Nursalam, 2008)

1) Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu popolusi target
yang terjangkau dan akan diteliti. Pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman saat
menentukan kriteria inklusi. Misalnya, kita akan meneliti tentang pengaruh mobilisasi
pada klien pascaoperasi terhadap percepatan peristaltik usus, maka yang menjadi
bahan pertimbangan dalam kriteria inklusi adalah jenis anestesi yang digunakan dan
umur klien, karena kedua faktor tersebut sangat memengaruhi hasil dari intervensi
yang dilakukan.

2) Kriteria ekslusi
Kriteria ekslusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria
inklusi dari studi karena pelbagai sebab, antara lain:
Bab 7  •  Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel 173

• Terdapat keadaan atau penyakit yang mengganggu pengukuran maupun


interpretasi hasil. Misalnya, dalam studi komparatif (kasus kontrol) yang mencari
hubungan suatu faktor risiko dengan kejadian penyembuhan luka pascaoperasi
laparastomi, maka subjek dengan kelainan imunologis tidak boleh diikutsertakan
dalam kelompok kasus.
• Terdapat keadaan yang mengganggu kemampuan pelaksanaan, seperti subjek
yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap sehingga sulit ditindaklanjuti.
• Hambatan etis
• Subjek menolak berpartisipasi

Penetapan kriteria sampel (inklusi dan eksklusi) diperlukan dalam upaya untuk
mengendalikan variabel penelitian yang tidak diteliti, tetapi ternyata berpengaruh
terhadap variabel dependen.

Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi.
Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar
memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian
(Sastroasmoro & Ismail, 1995 & Nursalam, 2008). Cara pengambilan sampel dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu: probability sampling dan nonprobability sampling.

a. Probability sampling
Prinsip utama probability sampling adalah bahwa setiap subjek dalam populasi mempunyai
kesempatan untuk terpilih atau tidak terpilih sebagai sampel. Setiap bagian populasi
mungkin berbeda satu dengan lainnya tetapi menyediakan populasi parameter, mempunyai
kesempatan menjadi sampel yang representatif. Dengan menggunakan sampling random,
peneliti tidak bisa memutuskan bahwa X lebih baik dari pada Y untuk penelitian. Demikian
juga, peneliti tidak bisa mengikutsertakan orang yang telah dipilih sebagai subjek karena
mereka tidak setuju atau tidak senang dengan subjek atau sulit untuk dilibatkan.

1) Simple random sampling


Pemilihan sampel dengan cara ini merupakan jenis probabilitas yang paling
sederhana. Untuk mencapai sampling ini, setiap elemen diseleksi secara acak. Jika
sampling frame kecil, nama bisa ditulis pada secarik kertas, diletakkan di kotak,
diaduk, dan diambil secara acak setelah semuanya terkumpul. Misalnya, kita ingin
mengambil sampel 30 orang dari 100 populasi yang tersedia, maka secara acak kita
mengambil 30 sampel melalui lemparan dadu atau pengambilan nomor yang telah
ditulis.

2) Stratified random sampling


Stratified artinya strata atau kedudukan subjek (seseorang) di masyarakat. Jenis
sampling ini digunakan peneliti untuk mengetahui beberapa variabel pada populasi
yang merupakan hal yang penting untuk mencapai sampel yang representatif.
Misalnya, jika kita merencanakan ada 100 sampel, peneliti mengelompokkan 25
174 Bagian 3: Metodologi Penelitian

subjek dengan tingkat pendidikan: tidak sekolah dan SD tidak tamat; dasar (SD dan
SMP); SLTA; dan perguruan tinggi. Pada jenis sampling ini harus diyakinkan bahwa
semua variabel yang diidentifikasi akan mewakili populasi.

3) Cluster sampling
Cluster berarti pengelompokan sampel berdasarkan wilayah atau lokasi populasi.
Jenis sampling ini dapat dipergunakan dalam dua situasi. Pertama jika simple
random sampling tidak memungkinkan karena alasan jarak dan biaya; kedua peneliti
tidak mengetahui alamat dari populasi secara pasti dan tidak memungkinkan
menyusun sampling frame. Misalnya, peneliti ingin meneliti anak yang mengalami
stres hospitalisasi. Maka peneliti mengambil sampel pada klien anak berdasarkan
tempat klien dirawat (di rumah sakit A, B, C) yang mempunyai karakteristik yang
berbeda.

4) Systematic sampling
Pengambilan sampel secara sistematik dapat dilaksanakan jika tersedia daftar subjek
yang dibutuhkan. Jika jumlah populasi adalah N= 1200 dan sampel yang dipilih=
50, maka setiap kelipatan 24 orang akan menjadi sampel (1200:50 = 24). Maka
sampel yang dipilih didasarkan pada nomor kelipatan 24, yaitu sampel no. 24, 48,
dan seterusnya.

b. Nonprobability sampling
1) Purposive sampling
Purposive sampling disebut juga judgement sampling. Adalah suatu teknik penetapan
sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi sesuai dengan yang
dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut
dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya. Misal, kita ingin
meneliti peran keluarga dalam perawatan klien skizofrenia di rumah, maka peneliti
memilih subjek pada keluarga klien yang mempunyai anak dengan skizofrenia.

2) Consecutive sampling
Pemilihan sampel dengan consecutive (berurutan) adalah pemilihan sampel dengan
menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian
sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi
(Sastroasmoro & Ismail, 1995: 49). Jenis sampling ini merupakan jenis non-probability
sampling yang terbaik dan cara yang agak mudah. Untuk dapat menyerupai probability
sampling, dapat diupayakan dengan menambahkan jangka waktu pemilihan klien.
Misalnya, terjadinya wabah demam berdarah selama kurun waktu tertentu di mana
waktu tersebut menunjukkan terjadinya puncak insiden demam berdarah. Jenis
sampling ini sering dipergunakan pada penelitian epidemiologi di komunitas.

3) Convinience sampling
Pemilihan sampel convinience adalah cara penetapan sampel dengan mencari subjek
atas dasar hal-hal yang menyenangkan atau mengenakkan peneliti. Sampling ini
dipilih apabila kurangnya pendekatan dan tidak memungkinkan untuk mengontrol
bias. Subjek dijadikan sampel karena kebetulan dijumpai di tempat dan waktu
Bab 7  •  Populasi, Sampel, Sampling, dan Besar Sampel 175

secara bersamaan pada pengumpulan data. Dengan cara ini, sampel diambil tanpa
sistematika tertentu, sehingga tidak dapat dianggap mewakili populasi sumber,
apalagi populasi target. Misalnya, pada waktu peneliti praktik di ruangan kebetulan
menjumpai klien yang diperlukan (sesuai masalah penelitian), maka peneliti langsung
menetapkan subjek tersebut untuk diambil datanya. Kemudian peneliti cuti dan tidak
melanjutkan. Setelah beberapa lama, peneliti melanjutkan lagi pemilihan subjek,
demikian seterusnya.

4) Quota sampling (Judgement sampling)


Teknik penentuan sampel dalam kuota menetapkan setiap strata populasi berdasarkan
tanda-tanda yang mempunyai pengaruh terbesar variabel yang akan diselidiki. Kuota
artinya penetapan subjek berdasarkan kapasitas/daya tampung yang diperlukan
dalam penelitian. Misal, dalam suatu penelitian didapatkan adanya 50 populasi yang
tersedia, peneliti menetapkan kuota 40 subjek untuk dijadikan sampel, maka jumlah
tersebut dinamakan kuota.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit. DE & Hungler, BP. 1999. Nursing Research. Principles and Methods. 6 th Ed.
Philadelphia: JB Lippincott.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Sastroasmoro S. & Ismail S. 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
176 Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bab 8  •  Variabel dan Definisi Operasional 177

Bab 8
Variabel Penelitian dan
Definisi Operasional

VARIABEL

Definisi
Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu
(benda, manusia, dan lain-lain) (Soeparto, Putra, & Haryanto, 2000). Ciri yang dimiliki
oleh anggota suatu kelompok (orang, benda, situasi) berbeda dengan yang dimiliki oleh
kelompok tersebut (Rafii, 1985). Dalam riset, variabel dikarakteristikkan sebagai derajat,
jumlah, dan perbedaan. Variabel juga merupakan konsep dari berbagai level abstrak
yang didefinisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran dan atau manipulasi suatu
penelitian. Konsep yang dituju dalam suatu penelitian bersifat konkret dan secara langsung
bisa diukur, misalnya denyut jantung, hemoglobin, dan pernapasan tiap menit. Sesuatu
yang konkret tersebut bisa diartikan sebagai suatu variabel dalam penelitian.

Jenis Variabel
Jenis variabel diklasifikasikan menjadi bermacam-macam tipe untuk menjelaskan
penggunaannya dalam penelitian. Beberapa variabel dimanipulasi, yang lainnya sebagai
kontrol. Beberapa variabel diidentifikasi tetapi tidak diukur dan yang lainnya diukur
dengan pengukuran sebagian. Macam-macam tipe variabel meliputi: (1) independen; (2)
dependen; (3) moderator (intervening); (4) perancu (confounding); (5) kendali/kontrol;
dan (6) (Nursalam, 2008).

(1) Variabel independen (bebas)


Variabel yang memengaruhi atau nilainya menentukan variabel lain. Suatu kegiatan
stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel
dependen. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati, dan diukur untuk diketahui
hubungannya atau pengaruhnya terhadap variabel lain. Dalam ilmu keperawatan,
variabel bebas biasanya merupakan stimulus atau intervensi keperawatan yang
diberikan kepada klien untuk memengaruhi tingkah laku klien.
178 Bagian 3: Metodologi Penelitian

(2) Variabel dependen (terikat)


Variabel yang dipengaruhi nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel respons
akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel-variabel lain. Dalam ilmu
perilaku, variabel terikat adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organisme
yang dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat adalah faktor yang diamati
dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel
bebas.

(3) Variabel moderator (intervening)


Variabel yang dapat berperan sebagai variabel bebas dan terikat. Variabel moderator
(seringkali disebut sebagai variabel bebas kedua) adalah variabel yang diangkat untuk
menentukan apakah ia memengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel
terikat. Dengan kata lain, variabel moderator adalah faktor yang diukur, dimanipulasi
atau dipilih peneliti untuk mengungkapkan apakah faktor tersebut mengubah
hubungan antara variabel bebas dan terikat. Jika peneliti ingin mempelajari pengaruh
variabel bebas X terhadap variabel terikat Y tetapi ragu-ragu apakah hubungan antara
X dan Y tersebut berubah karena variabel Z, maka Z dapat dianalisis sebagai variabel
moderator (bebas atau terikat).

Contoh: Peneliti ingin meneliti efektivitas penyuluhan kesehatan dengan metode
visual dan audio kepada klien terhadap pengetahuan pengobatan yang diberikan.
Lebih lanjut peneliti curiga bahwa ada klien tertentu yang lebih cocok dengan metode
visual sedang klien lainnya lebih cocok dengan metode audio. Jika klien yang cocok
dengan metode visual dan audio dipisahkan, kemudian dianalisa sendiri-sendiri
maka perbedaan pengetahuan pengobatan kelompok metode visual dan kelompok
metode audio akan terlihat nyata. Dalam hal ini karakteristik klien (kecocokan
metode) merupakan variabel moderator terhadap hubungan antara variabel bebas
(metode visual dan audio) dan variabel terikat (pengetahuan pengobatan).

Konsep: A _____ (moderator) ______ B. Untuk mengetahui pengaruh yang lebih
jelas, biasanya dilakukan analisis jalur (path analysis).

(4) Variabel perancu (confounding)


Adalah variabel yang nilainya ikut menentukan variabel baik secara langsung maupun
tidak langsung. Variabel perancu merupakan jenis variabel yang berhubungan
(asosiasi) dengan variabel bebas dan berhubungan dengan variabel terikat, tetapi
bukan merupakan variabel antara. Identifikasi variabel perancu ini amat penting,
karena bila tidak ia dapat membawa kita pada kesimpulan yang salah, misalnya
ditemukan terdapat hubungan antarvariabel padahal sebenarnya tidak ada atau
sebaliknya, tidak ditemukan hubungan antarvariabel padahal hubungan itu ada.
Misalnya dalam contoh penelitian medis (dikutip dari Sastroasmoro dan Ismail,
1995): peneliti ingin mencari hubungan antara kebiasaan minum kopi dan kejadian
penyakit jantung koroner. Dalam hal ini variabel bebasnya adalah kebiasaan minum
kopi dan variabel tergantungnya adalah insiden penyakit jantung koroner. Kebiasaan
Bab 8  •  Variabel dan Definisi Operasional 179

merokok dapat merupakan variabel perancu, oleh karena ia berhubungan dengan


kebiasaan minum kopi (bebas) dan berhubungan pula dengan kejadian penyakit
jantung (variabel terikat).

Konsep = A B

C

Uji statistik yang dipilih adalah ANOVA (analysis of variance)

Cara menyingkirkan perancu:

• Restriksi, menyingkirkan variabel perancu dari setiap subjek penelitian dengan


memperketat kriteria sampel.
• Matching, proses menyamakan variabel perancu diantara dua kelompok.
• Randomisasi merupakan cara efektif untuk menyingkirkan pengaruh variabel
perancu. Dengan melakukan randomisasi maka variabel perancu akan terbagi
secara seimbang di antara kelompok.

(5) Variabel kendali (kontrol)


Adalah variabel yang nilainya dikendalikan dalam penelitian (baik seluruhnya
ataupun sebagian saja). Tidak semua variabel di dalam suatu penelitian dapat
dipelajari sekaligus dalam waktu yang sama. Beberapa di antara variabel tersebut
harus dinetralkan pengaruhnya untuk menjamin agar variabel tersebut tidak
mengganggu hubungan antara variabel bebas dan terikat. Variabel-variabel yang
pengaruhnya harus dinetralkan tersebut disebut variabel-variabel kontrol. Jadi
variabel kontrol adalah faktor-faktor yang dinetralkan pengaruhnya oleh peneliti
karena jika tidak demikian diduga ikut memengaruhi hubungan antara variabel
bebas dan terikat. Variabel kontrol berbeda dengan variabel moderator. Penetapan
suatu variabel menjadi suatu variabel moderator adalah untuk dipelajari (dianalisis)
pengaruhnya, sedangkan penetapan suatu variabel menjadi variabel kontrol adalah
untuk dinetralkan/disamakan pengaruhnya.

Contohnya: Pada penelitian tentang pengaruh senam nifas pada ibu pascasalin
terhadap involusi uteri, maka paritas bisa dianggap sebagai variabel kontrol.
Pengontrolan dapat dilakukan dengan (1) membatasi sampel pada ibu-ibu pascasalin
dengan paritas satu saja (mengendalikan sebagian) dan (2) mengendalikan dengan
analisis statistik, artinya variabel paritas dibiarkan ada kemudian dikelompokkan
menjadi paritas 1, paritas 2, dan seterusnya.

6) Variabel random
Variabel yang tanpa diduga ternyata berperan di dalam mekanisme yang sedang
kita pelajari. Atau dengan kata lain variabel yang dengan sengaja kita abaikan
keberadaannya, meskipun kita ketahui variabel tersebut ikut berperan dalam
mekanisme tersebut.
180 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Konsep

X1
X2
X3 Y
X4
X5

X6 (tidak diukur)
X6 dalam hal ini berperan sebagai variabel acak

DEFINISI OPERASIONAL

Konsep Pengertian dan Definisi


a. Pengertian
Ada beberapa pemahaman tentang ‘pengertian,’ yaitu:

• Pengertian merupakan bagian dari keputusan. Di dalam ilmu logika merupakan


urutan kedua (yaitu pengertian tentang fakta; kemudian keputusan: pernyataan
benar atau tidak; dan penyimpulan: pembuktian/silogisme)
• Pengertian mengandung aspek isi dan luas.

1) Isi sering disebut juga komprehensi; semua unsur dan ciri yang termuat dalam
pengertian atau realitas;
2) Luas juga disebut sebagai ekstensi, semua realitas yang dapat dinyatakan oleh
pengertian tertentu (contoh kuda: hewan). Luas dapat dibagi menjadi tiga unsur,
yaitu:

• terminologi singular (menunjukkan suatu arti),


• terminologi partikular (sebagian dari seluruh luas), dan
• terminologi universal (menunjukkan seluruh luas).

b. Definisi
Definisi berasal dari kata definition (latin). Ada dua macam definisi, yaitu definisi nominal
dan definisi riil. Definisi nominal menerangkan arti kata; hakiki; ciri; maksud; dan
kegunaan; serta asal muasal (sebab). Definisi riil menerangkan objek yang dibatasinya,
terdiri atas dua unsur: unsur yang menyamakan dengan hal yang lain dan unsur yang
membedakan dengan hal lain.
Bab 8  •  Variabel dan Definisi Operasional 181

Aturan membuat definisi:

1. Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan hal yang didefinisikan (luas keduanya
harus sama)
2. Definisi tidak boleh negatif. Misal, kepuasan adalah tidak senang
3. Apa yang didefinisikan tidak boleh masuk dalam definisi. Misalnya, kepuasan adalah
rasa puas yang dirasakan seseorang terhadap ………
4. Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang kabur (ambigious). Misalnya,
kepuasan adalah rasa batin yang bersifat individual ………………..

Tabel 8-1 Langkah-langkah penyusunan definisi (Jika definisi suatu istilah sangat kompleks)

Konsep Dimensi Indikator Definisi


Kepuasan Perasaan senang seseorang yang berasal dari
perbandingan antara kesenangan terhadap
aktivitas dan suatu produk dan harapannya
Meningkatnya Pencapaian kesenangan seseorang terhadap
kepuasan suatu aktivitas yang dilakukan
Persepsi 1. Kehandalan 1. Sesuai, akurat, dan Tanggapan seseorang (pelanggan: klien,
terhadap 2. Daya tanggap konsisten keluarga, masyarakat) terhadap suatu kegiatan
pelayanan 3. Kepastian 2. Cepat, mendengar, yang diterima dari produser (Institusi: RS,
4. Empati mengatasi keluhan pendidikan, dll)
5. Berwujud 3. Keyakinan, kepercayaan
4. Peduli, dan perhatian
5. Penampilan fisik:
peralatan, materi, dan
SDM

Variabel yang telah didefinisikan perlu dijelaskan secara operasional, sebab setiap
istilah (variabel) dapat diartikan secara berbeda-beda oleh orang yang berlainan. Penelitian
adalah proses komunikasi dan komunikasi memerlukan akurasi bahasa agar tidak
menimbulkan perbedaan pengertian antarorang dan agar orang lain dapat mengulangi
penelitian tersebut. Jadi definisi operasional dirumuskan untuk kepentingan akurasi,
komunikasi, dan replikasi. Contoh operasional dalam penulisan definisi operasional pada
skripsi dan tesis dapat dibaca pada bagian pedoman penulisan skripsi.
Ada berbagai cara untuk mendefinisikan suatu variabel. Ada kalanya definisi
tersebut sekadar sinonim atau konseptual. Sinonim dari suatu variabel biasanya dapat
ditemukan di kamus, sedangkan definisi yang konseptual merupakan deskripsi mengenai
apa dan mengapa, biasanya dapat ditemukan di buku teks. Definisi operasional adalah
definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut.
Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi
operasional. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi
atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena yang kemudian
dapat diulangi lagi oleh orang lain (Nursalam, 2002). Sebaliknya definisi konseptual
menggambarkan sesuatu berdasarkan kriteria konseptual atau hipotetik dan bukan pada
ciri-ciri yang dapat diamati.
Contoh definisi operasional lengkap sebagaimana contoh pada pedoman skripsi
dan tesis (terlampir).
182 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Daftar PUSTAKA
Babbie, E. 1999. The Basics of Social Research. Belmont: Wadsworth Pub. Co.
Nursalam. 2002. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung
Seto.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9th Ed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Rafii’. 1993. Metode Statistik analisis untuk Penarikan Kesimpulan. Jakarta: Penerbit Bina
Cipta Anggota IKAPI.
Sastroasmoro S. & Ismail S. 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Soeparto O, Putra ST, Haryanto. 2000. Filsafat Ilmu Kedokteran. Surabaya: GRAMIK &
RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Wilson, HS. 1993. Introducing Research in Nursing. 2nd ed. Redword, California: Addison-
Wesley Nursing.
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 183

Bab 9
Penyusunan Instrumen
dan Pengumpulan Data

Pada bab ini akan dibahas tentang dua pokok bahasan. Pokok bahasan pertama membahas
tentang penyusunan instrumen pada penelitian ilmu keperawatan, yang meliputi
pengkajian teori keperawatan sebagai kerangka penyusunan instrumen, penggunaan, dan
pengembangannya. Contoh-contoh operasional tentang instrumen pada penelitian ilmu
keperawatan dapat dilihat pada bagian contoh-contoh instrumen. Pokok bahasan kedua
membahas tentang prosedur pengumpulan data, yang meliputi dasar-dasar karakteristik
pengumpulan data: struktur, pengukuran, objektivitas, dan tidak melanggar etika.

PENYUSUNAN INSTRUMEN
Pada bagian ini penulis menekankan pada prinsip-prinsip penyusunan instrumen dan
jenis-jenis instrumen yang sering dipergunakan pada penelitian ilmu keperawatan. Dua
karakteristik alat ukur yang harus diperhatikan peneliti adalah validitas dan reliabilitas.
Validitas (kesahihan) menyatakan apa yang seharusnya diukur. Sedangkan reliabilitas
(keandalan) adalah adanya suatu kesamaan hasil apabila pengukuran dilaksanakan oleh
orang yang berbeda ataupun waktu yang berbeda.

Prinsip: Validitas dan Reliabilitas


Pada pengamatan dan pengukuran observasi, harus diperhatikan beberapa hal yang
secara prinsip sangat penting, yaitu validitas, realibilitas, dan ketepatan fakta/kenyataan
hidup (data) yang dikumpulkan dari alat dan cara pengumpulan data maupun kesalahan-
kesalahan yang sering terjadi pada pengamatan/pengukuran oleh pengumpul data.
Pada suatu penelitian, dalam pengumpulan data (fakta/kenyataan hidup) diperlukan
adanya alat dan cara pengumpulan data yang baik sehingga data yang dikumpulkan
merupakan data yang valid, andal (reliable), dan aktual. Berikut ini akan dibahas tentang
validitas, reliabilitas, dan akurasi dari data yang dikumpulkan (Nursalam, 2008).
184 Bagian 3: Metodologi Penelitian

a. Prinsip validitas (kesahihan)


Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan
instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang
seharusnya diukur. Misalnya bila kita akan mengukur tinggi badan balita maka tidak
mungkin kita mengukurnya dengan timbangan dacin. Jadi validitas disini pertama-pertama
lebih menekankan pada alat pengukur/pengamatan.
Ada dua hal penting yang harus dipenuhi dalam menentukan validitas pengukuran,
yaitu instrumen harus (1) relevan isi dan (2) relevan cara dan sasaran.

1) Relevan isi instrumen


Isi instrumen harus disesuaikan dengan tujuan penelitian (tujuan khusus) agar dapat
mengukur apa yang seharusnya diukur. Isi tersebut biasanya dapat dijabarkan dalam
definisi operasional. Misalnya, seorang peneliti ingin mengukur tingkat pengetahuan
klien tentang perawatan luka pascaoperasi, maka isi instrumen yang harus ada adalah
pengertian, tujuan, alat-alat apa yang diperlukan, cara merawat luka, dan akibat jika
tidak dirawat.

2) Relevan sasaran subjek dan cara pengukuran


Instrumen yang disusun harus dapat memberikan gambaran terhadap perbedaan
subjek penelitian. Misalnya, peneliti ingin meneliti “harapan” subjek yang baru
menikah dibandingkan dengan harapan subjek pascapercobaan bunuh diri (tentamen
suicide).
Pada prinsip ini, peneliti harus dapat mempertimbangkan kepada siapa ia
bertanya. Misalnya peneliti ingin mengamati kepuasan keluarga terhadap pelayanan
keperawatan. Peneliti harus bertanya pada keluarga (termasuk suami, istri, dan anggota
keluarga yang lain) tentang pelayanan keperawatan tersebut. Tidak diperbolehkan
hanya menanyakan kepada suami atau istri saja. Bila peneliti mengukur kadar suatu
zat atau ukuran (tinggi badan, berat badan, dll), perlu dibuatkan petunjuk cara
pengukuran. Demikian juga kalau peneliti memakai alat pengumpul data dengan
kuesioner. Hal ini sebetulnya selain untuk mendapat data yang valid, juga dipakai
untuk mendapat data yang reliabel.

b. Reliabilitas (keandalan)
Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan
hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara
mengukur atau mengamati sama-sama memegang peranan yang penting dalam waktu
yang bersamaan. Perlu diperhatikan bahwa reliabel belum tentu akurat. Dalam suatu
penelitian nonsosial, reliabilitas suatu pengukuran ataupun pengamatan lebih mudah
dikendalikan daripada penelitian keperawatan, terutama dalam aspek psikososial.
Biasanya, dalam penelitian nonsosial sudah ada standar internasional untuk pengukuran
atau pengamatan. Misalnya perlu alat yang andal untuk mengukur temperatur, tekanan
darah, dan lain-lain.
Sedangkan dalam penelitian keperawatan (psikosial), walaupun sudah ada beberapa
pertanyaan (kuesioner) yang sudah distandardisasi secara nasional maupun internasional,
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 185

peneliti perlu menyeleksi instrumen yang dipilih dengan mempertimbangkan keadaan


sosial budaya dari area penelitian.
Ada beberapa cara pengukuran yang dapat dipakai untuk melihat reliabilitas dalam
pengumpulan data di bidang kedokteran, yaitu prinsip (1) stabilitas: mempunyai kesamaan
bila dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang berbeda; (2) ekuivalen: pengukuran
memberikan hasil yang sama pada kejadian yang sama; (3) homogenitas (kesamaan):
instrumen yang dipergunakan harus mempunyai isi yang sama.
Ketiga prinsip reliabilitas tersebut dapat dijelaskan seperti berikut ini:

(1) Dalam menanyakan suatu fakta/kenyataan hidup pada sasaran penelitian harus
memerhatikan relevansi pertanyaan bagi responsden, artinya menanyakan sesuatu
yang dikenal responsden. Misalnya jika akan menanyakan adanya mastitis pada masa
kala nifas pada ibu-ibu. Sangat mungkin subjek mastitis itu dikenal dengan istilah
yang lain. Kalau si penanya bertanya pernahkah ibu menderita mastitis, pasti semua
ibu menjawab tidak pernah. Akan tetapi kalau penanya menanyakan pernahkah lecet
pada puting susu, semua ibu akan menjawab pernah.
(2) Pertanyaan yang diajukan harus cukup jelas berdasarkan kemampuan responsden. Ini
penting mengingat tingkat intelektualitas responsden dan penanya belum tentu sama.
Untuk itu pewawancara perlu dilatih dan disamakan interprestasi pertanyaan antara
peneliti dan petugas pengumpul data, sehingga petugas dapat menjelaskan secara
rinci maksud dan tujuan pengukuran atau pengamatan pada sasaran penelitian.
(3) Perlu adanya suatu penekanan atau pengulangan. Kadang-kadang peneliti/petugas
dapat menanyakan satu pertanyaan dengan lebih dari satu kali dalam waktu yang
berbeda. Jawaban responsden harusnya sama walau ditanyakan pada waktu yang
berbeda. Perlu sekali peneliti mengukur fakta/kenyataan hidup berkali-kali pada
waktu yang berbeda (misal mengukur tekanan darah penderita dapat dilakukan tiga
hari berturut-turut tiap pagi atau diukur waktu pagi, siang, dan malam). Selain itu,
dapat juga orang yang mengukur yang berbeda sehingga tekanan darah penderita
itu diukur oleh sejumlah orang.
(4) Standardisasi. Peneliti memakai ukuran atau pengamatan yang sudah distandardisasi
keandalannya. Ini mudah dalam penelitian nonkeperawatan dan nonsosial, tetapi
kurang tepat untuk penelitian keperawatan mengingat masalah keperawatan
yang terjadi pada klien lebih banyak ditemukan pada masalah-maslah klien yang
berhubungan dengan psiko-sosial-spiritual, selain juga ada faktor fisiologis.

Jenis-jenis Instrumen
Jenis instrumen penelitian yang dapat dipergunakan pada ilmu keperawatan dapat
diklasifikasikan menjadi 5 bagian, yang meliputi pengukuran (1) biofisiologis; (2) observasi;
(3) wawancara, (4) kuesioner, dan (5) skala (Nursalam, 2008).
Pada penyusunan instrumen penelitian tahap awal perlu dituliskan data-data tentang
karakteristik responsden: umur, pekerjaan, sosial ekonomi, jenis kelamin, dan data
demografi lainnya. Meskipun data tersebut tidak dianalisis, tetapi akan sangat membantu
peneliti jika sewaktu-waktu dibutuhkan daripada harus kembali mencari responsden
lagi.
186 Bagian 3: Metodologi Penelitian

a. Pengukuran Biofisiologis
Pengukuran biofisiologis adalah pengukuran yang dipergunakan pada tindakan
keperawatan yang berorientasi pada dimensi fisiologi. Contoh, pengukuran aktivitas dasar
klien, perawatan kebersihan mulut, perawatan dekubitus, infeksi kontrol sehubungan
dengan pemasangan kateter, dan perawatan trakeostomi. Meskipun pengukuran tersebut
sangat sederhana, untuk mendapatkan hasil yang valid membutuhkan waktu dan biaya
yang tinggi. Instrumen pengumpulan data pada fisiologis dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu:

1) In-vivo: Observasi proses fisiologis tubuh, tanpa pengambilan bahan/spesimen


dari tubuh klien. Misalnya pengukuran penurunan tekanan darah pada penelitian
pengaruh penggunaan obat jenis anestesi X terhadap penurunan tekanan darah pada
klien selama laparostomi.
2) In-vitro: Pengambilan suatu bahan/spesimen dari klien. Misalnya tingkat stres pada
klien IMA laki-laki dan perempuan (pengambilan urine untuk memeriksa kadar
hormon stres: kortisol, katekolamin, dan penurunan imun).

b. Pengukuran Observasi: Tidak Terstruktur dan Terstruktur


Beberapa jenis masalah keperawatan memerlukan suatu pengamatan atau observasi untuk
mengetahuinya. Pengukuran tersebut dapat dipergunakan sebagai fakta yang nyata dan
akurat dalam membuat suatu kesimpulan. Jenis pengukuran observasi dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu terstruktur dan tidak terstruktur.

1) Tidak terstruktur
Pada pengukuran observasi ini peneliti secara spontan mengobservasi dan mencatat
apa yang dilihat dengan sedikit perencanaan. Metode observasi ini meliputi penjelasan
informasi yang lebih banyak dipergunakan untuk menganalisis data secara kualitatif
daripada kuantitatif. Peneliti (observer) menggunakan pedoman sesuai pertanyaan
penelitian tetapi peneliti tidak hanya mengobservasi pada hal-hal yang ada pada
pedoman.
Pada penelitian keperawatan biasanya peneliti ikut terlibat sebagai peserta
dalam suatu kelompok yang diobservasi. Pada jenis penelitian partisipasi observasi,
peneliti ikut terlibat secara penuh dan berhubungan dengan subjek khususnya
terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masalah penelitian. Contoh
jenis pengukuran ini dapat dilihat pada Focus Group Discussion (FGD).

2) Terstruktur
Pengukuran observasi secara terstruktur berbeda dari jenis observasi yang tidak
terstruktur yaitu peneliti secara cermat mendefinisikan apa yang akan diobservasi
melalui suatu perencanaan yang matang. Peneliti tidak hanya mengobservasi fakta-
fakta yang ada pada subjek, tetapi lebih didasarkan pada perencanaan penelitian
yang sudah disusun sesuai pengelompokannya, pencatatan, dan pemberian kode
terhadap hal-hal yang sudah ditetapkan.
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 187

Instrumen observasi: Checklist dan Rating Scale


Pada suatu pengukuran, peneliti menggunakan pendekatan berdasarkan kategori sistem
yang telah dibuat oleh peneliti untuk mengobservasi suatu peristiwa dan perilaku dari
subjek. Hal yang sangat penting pada teknik pengukuran dengan adanya sistem kategori
adalah adanya definisi secara hati-hati terhadap perilaku yang diobservasi. Setiap kategori
harus dijelaskan secara mendalam dengan definisi operasional supaya observer dapat
mengkaji kejadian yang timbul. Menurut Polit & Back (2012) yang mengembangkan
instrumen observasi pada posisi tubuh dan aktivitas motorik terdiri atas suatu sistem
kategori. Misalnya, pengamatan kinerja perawat dalam pemasangan infus. Hal-hal yang
perlu diobservasi adalah kemampuan perawat dalam komunikasi, memasukan jarum,
memberikan cairan parenteral serta kompetensi lainnya.

Tabel 9.1  Kategori analisis tanda pada activity daily of living (ADL)

Aktivitas Frekuensi atau bisa dituliskan: total, partial,


dan mandiri
Makan
• Makan dengan tangan
• Makan dengan sendok atau garpu
• Memotong makanan halus
• Memotong daging
• Minum dari sedotan
• Minum dari cangkir

Kebersihan
• Mencuci tangan atau anggota ekstremitas lain
• Menggosok gigi
• Mencuci kuku
• Menyisir rambut
• Mencukur jambang/kumis

Berpakaian/berdandan
• Mengancingkan atau melepas sabuk
• Menaikkan atau menurunkan celana
• Mengikat atau melepas tali sepatu
• Memasang dan melepas kacamata
• Memasang atau melepas cincin

c. Wawancara
1) Tidak terstruktur
Jenis pengukuran ini dipergunakan pada penelitian deskriptif dan kualitatif.
Pertanyaan yang diajukan mencakup permasalahan secara luas yang menyangkut
kepribadian, perasaan, dan emosi seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk
menggali emosi dan pendapat dari subjek terhadap suatu masalah penelitian.
Terdapat beberapa jenis pengukuran pada jenis wawancara ini:

(a) Wawancara secara langung tanpa adanya suatu topik khusus yang dibicarakan.
Tujuan dari wawancara adalah untuk menggali persepsi subjek secara umum tanpa
adanya intervensi jawaban dari peneliti. Misalnya penelitian Robertson (1992)
188 Bagian 3: Metodologi Penelitian

tentang pendapat 23 ras Afrika yang tinggal di Amerika “Apa arti ketidakpatuhan
klien terhadap program pengobatan pada klien dengan penyakit kronis” (Polit
dan Back, 2012).
(b) Focus interview. Jenis ini dipergunakan oleh peneliti kepada subjek yang
menggunakan pertanyaan secara luas. Jenis pertanyaan biasanya berhubungan
dengan suatu dorongan agar subjek bersedia berbicara secara terbuka, tidak hanya
pertanyaan ya dan tidak. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Flaskerud &
Calvillo (1991) dalam Polit dan Back (2012) tentang pendapat 59 wanita Latin
dengan sosial ekonomi rendah tentang “Apa kepercayaaan wanita Latin tentang
penyebab dan pengobatan penderita yang mengidap AIDS”.
(c) Focus Group Discussion (FGD) adalah suatu teknik penelitian kualitatif yang
bertujuan untuk mendapatkan informasi (perasaan, pikiran) berdasarkan
pengamatan subjektif dari sekelompok sasaran terhadap suatu situasi/produk
tertentu. Sasaran diskusi biasanya homogen dengan jumlah kelompok berkisar
6-12 orang, diskusi berakhir 1-2 jam dipimpin oleh moderator. Moderator
berusaha menjalin hubungan yang akrab dengan responsden sehingga responsden
dapat mengemukakan secara jujur/terbuka terhadap hal-hal yang menyangkut
kepribadian, perasaan, dan emosi yang sesungguhnya. Jenis pengukuran
ini juga digunakan pada penelitian di perusahaan/instansi. Jumlah subjek
biasanya cenderung sedikit (pimpinan atau orang yang dianggap dapat mewakili
kelompoknya) (Nursalam, 2008).
(d) Riwayat hidup. Jenis penelitian ini merupakan penjabaran tentang pengalaman
hidup seseorang.
(e) Catatan kehidupan (diaries)
Penelitian ini digunakan untuk menanyakan kepada subjek tentang kehidupan
yang terjadi selama ini berdasarkan catatan kehidupannya.

(2) Terstruktur
Pengukuran wawancara terstruktur meliputi strategi yang memungkinkan adanya
suatu kontrol dari pembicaraan sesuai dengan isi yang diinginkan peneliti. Daftar
pertanyaan biasanya sudah disusun sebelum wawancara dan ditanyakan secara urut.
Untuk jenis wawancara terstruktur yang lebih ketat, peneliti hanya diperkenankan
bertanya apa adanya sesuai dengan pertanyaan yang telah disusun. Jika responsden
tidak jelas, peneliti hanya boleh mengulang pertanyaan yang sama.
Tahapan penyusunan wawancara terstruktur meliputi a) menyusun pertanyaan,
b) pilot testing, c) latihan, d) persiapan, e) pengulangan (probing), dan f) recording.

d. Kuesioner
Pada jenis pengukuran ini peneliti mengumpulkan data secara formal kepada subjek untuk
menjawab pertanyaan secara tertulis. Pertanyaan yang diajukan dapat juga dibedakan
menjadi pertanyaan terstruktur, peneliti hanya menjawab sesuai dengan pedoman yang
sudah ditetapkan dan tidak terstruktur, yaitu subjek menjawab secara bebas tentang
sejumlah pertanyaan yang diajukan secara terbuka oleh peneliti. Pertanyaan dapat diajukan
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 189

secara langsung kepada subjek atau disampaikan secara lisan oleh peneliti dari pertanyaan
yang sudah tertulis. Hal ini dilakukan khususnya kepada subjek yang buta huruf, lanjut
usia, dan subjek dengan kesulitan membaca yang lain.

Macam kuesioner adalah sebagai berikut.

1) Open ended questions


Misal: Apa yang Anda lakukan apabila Anda diketahui terkena AIDS?

2) Closed ended questions


(a) Dichotomy question
Misal: Apakah Anda pernah masuk rumah sakit?
( ) Ya
( ) Tidak

(b) Multiple choice


Seberapa pentingkah bagi Anda untuk menghindari hamil pada saat sekarang
ini?
( ) Sangat penting
( ) Penting
( ) Biasa saja
( ) Tidak penting

3) Rating question
Misal: Pada skala 1 sampai dengan 10, di mana 0 menandakan sangat tidak puas dan
10 sangat memuaskan, bagaimanakah kepuasan tanggapan Anda terhadap pelayanan
keperawatan di rumah sakit selama dirawat disini?

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4) Cafetaria questions
Misal: Setiap orang memiliki perbedaan dalam hal penggunaan terapi estrogen-
replacement pada menopause. Pernyataan di bawah ini manakah yang mewakili
pendapat Anda?
( ) Estrogen-Replacement (E-R) sangat berbahaya dan harus dilarang
( ) E-R mempunyai efek samping sehingga memerlukan pengawasan yang ketat
dalam pemakaiannya
( ) Saya tidak mempunyai pendapat tentang penggunaan E-R

(5) Rank order question


Misal: Orang hidup mempunyai pandangan yang berbeda. Berikut ini daftar
tentang prinsip-prinsip hidup. Silahkan menuliskan angka sesuai prioritas yang
menurut Anda benar, 1 yang Saudara anggap sangat penting, 2 kurang penting, dan
seterusnya.
(  ) Karier dan sukses
(  ) Berhasil dalam berkeluarga
190 Bagian 3: Metodologi Penelitian

(  ) Baik hati dan sosial


(  ) Sehat
(  ) Uang/materi
(  ) Agama

(6) Forced-choiced question


Misal: Pernyataan manakah yang mewakili perasaan Anda sekarang?
(  ) Apa yang sedang terjadi dengan saya saat ini?
(  ) Kadang-kadang saya merasa tidak bisa mengendalikan diri dalam hidup saya

e. Skala Pengukuran
Skala psikososial merupakan jenis instrumen self-report yang digunakan oleh peneliti
perawat yang dikombinasikan dengan jenis pengukuran wawancara dan kuesioner. Skala
merupakan bagian dari desain penilaian penomoran terhadap pendapat subjek mengenai
hal-hal yang dirasakan ataupun keadaan fisiologis subjek.
Jenis pengukuran ini sering dipergunakan kepada subjek tentang kecemasan, konsep
diri, koping, depresi, harapan, distres menstruasi, nyeri, kepuasan, dukungan sosial,
dan stres (contoh-contoh instrumen dapat dilihat pada bagian pembahasan tentang
instrumen).

(1) Visual Analog Scale (VAS) dan Pengukuran Nyeri Lainnya (Nursalam, 2011)
Jenis pengukuran ini dipergunakan untuk mengukur pengalaman subjektif, misalnya
nyeri, mual dan sesak. Jenis ini dapat diukur dengan menggunakan suatu garis
dimulai dari garis paling awal (paling ringan) sampai garis paling akhir (paling berat).
Pengunaan VAS pada nyeri biasanya digambarkan seperti di bawah ini dengan nilai
mulai dari 0 sampai 100:

Nyeri sangat berat

100

Garis ukur
sampai 100

Tidak nyeri

(2) Likert Scale


Responsden diminta pendapatnya mengenai setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu
hal. Pendapat ini dinyatakan dalam berbagai tingkat persetujuan (1 - 5) terhadap
pernyataan yang disusun oleh peneliti.
Contoh: Riset merupakan salah satu tugas perawat.
(  ) Sangat tidak setuju
(  ) Tidak Setuju
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 191

(  ) Tidak tahu
(  ) Setuju
(  ) Sangat Setuju

(3) Semantic Differential (SD)


Responsden diminta untuk memberikan tanda (v) pada skala yang sesuai pada 7
poin skala.

Contoh:
Riset Keperawatan
Penting !_7_!___!___!___!____!____!_1_! Tidak penting
Menyenangkan !_7_!___!___!___!____!____!_1_! Membosankan
Mudah !_7_!___!___!___!____!____!_1_! Sulit
Murah !_7_!___!___!___!____!____!_1_! Mahal

PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan
karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian. Langkah-langkah dalam
pengumpulan data bergantung pada rancangan penelitian dan teknik instrumen
yang digunakan (Burns dan Grove, 1999). Selama proses pengumpulan data, peneliti
memfokuskan pada penyediaan subjek, melatih tenaga pengumpul data (jika diperlukan),
memerhatikan prinsip-prinsip validitas dan reliabilitas, serta menyelesaikan masalah-
masalah yang terjadi agar data dapat terkumpul sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan.

Tugas Peneliti dalam Pengumpulan Data


Pada penelitian kualitatif dan kuantitatif, peneliti harus melaksanakan lima tugas dalam
proses pengumpulan data. Tugas tersebut berhubungan dan dilaksanakan secara simultan,
dengan kata lain tidak secara berurutan. Tugas tersebut meliputi (1) memilih subjek,
(2) mengumpulkan data secara konsisten, (3) mempertahankan pengendalian dalam
penelitian, (4) menjaga integritas atau validitas, dan (5) menyelesaikan masalah.

a. Memilih subjek
Subjek dapat dipilih selama proses pengumpulan data. Penentuan pemilihan subjek
bergantung pada rancangan penelitian yang digunakan peneliti. Penetapan subjek biasanya
direncanakan secara cermat karena analisis data dan interpretasi hasil bergantung pada
akurasi jumlah subjek yang dipilih. Peneliti harus mempertimbangkan faktor-faktor
yang terjadi selama proses pengumpulan data untuk menghindari terjadinya suatu bias
penelitian. Faktor-faktor penghambat dalam pemilihan subjek antara lain (1) semakin
meningkatnya perawat yang melakukan riset, sehingga jumlah subjek juga terbatas, (2)
melibatkan klien atau perawat sebagai subjek berarti juga menjadi masalah bagi perawatan
dan institusi, dan (3) klien dilindungi secara hukum dari berbagai kegiatan penelitian
yang mungkin dapat merugikan klien.
192 Bagian 3: Metodologi Penelitian

b. Mengumpulkan data secara konsisten


Konsep agar pengumpulan data dapat akurat adalah perlunya suatu konsistensi. Konsistensi
tersebut perlu untuk mempertahankan pola pengumpulan data pada setiap tahap
berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi
perbedaan hasil antara waktu pengumpulan data yang satu dengan yang lainnya.

c. Mempertahankan pengendalian dalam penelitian


Tujuan pengendalian penelitian adalah untuk meminimalisasi terjadinya bias pada hasil
penelitian. Peneliti perlu memerhatikan dan mengendalikan adanya variabel-variabel
yang tidak diteliti tetapi mempunyai pengaruh terhadap variabel yang diteliti. Variabel-
variabel tersebut sering timbul pada saat proses pengumpulan data dilaksanakan. Jika
variabel-variabel yang tidak diprediksikan (variabel acak) terjadi, maka peneliti harus
menuliskan dalam hasil untuk dijadikan kajian penelitian lebih lanjut atau sebagai suatu
keterbatasan dalam penelitian.

d. Menjaga integritas/validitas penelitian


Mempertahankan konsistensi dan pengendalian selama pengumpulan data berarti
mempertahankan adanya suatu integritas atau validitas penelitian. Untuk dapat
melaksanakannya, peneliti harus selalu cermat terhadap adanya setiap perubahan
atau upaya mengubah suatu rencana yang telah ditetapkan agar tidak terjadi
ketidaksinambungan.

e. Memecahkan masalah
Masalah dapat dipersepsikan sebagai suatu frustrasi atau sebagai suatu tantangan. Tugas
yang terpenting dalam pengumpulan data adalah menyelesaikan masalah-masalah yang
terjadi. Jalan yang bisa ditempuh untuk dapat menyelesaikan masalah pada pengumpulan
data adalah perlu adanya orang lain untuk memberikan masukan dan berdiskusi untuk
mencari jalan keluar yang terbaik, agar tujuan penelitian dapat dicapai.

Karakteristik Metode Pengumpulan Data


Karakteristik metode pengumpulan terdiri atas beberapa dimensi, yaitu:

a. Struktur. Pengumpulan data penelitian sering disusun berdasarkan struktur tertentu,


yaitu pengumpulan data yang benar-benar sesuai pada semua subjek.
b. Kuantitatif. Data yang dikumpulkan pada penelitian kuantitatif harus disusun
berdasarkan penghitungan sehingga dapat dianalisis secara statistik. Sebaliknya,
data pada penelitian kualitatif dapat dianalisis secara kualitatif dan dikumpulkan
berdasarkan format narasi.
c. Obstrusiveness. Pengumpulan data harus didasarkan pada kemampuan status subjek.
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 193

Pengumpulan data yang diketahui oleh subjek biasanya cenderung memperoleh


feedback yang tidak normal. Tetapi jika dilaksanakan tanpa pengetahuan subjek,
maka akan berdampak terhadap masalah etika.
d. Objektif. Pengumpulan data sebaiknya dilaksanakan secara objektif, sejauh mungkin
menghindari unsur subjektivitas. Tetapi pada penelitian sosial, pengambilan
keputusan secara subjektif jauh lebih bermakna.

Masalah-masalah pada Pengumpulan Data


Masalah-masalah yang akan dijumpai peneliti selama proses pengumpulan data sangat
bervariasi, tetapi pada prinsipnya dapat dibedakan menjadi dua sumber masalah, yaitu
masalah yang berasal dari subjek dan masalah dari peneliti sendiri.

a. Masalah pada subjek


1) Keterbatasan jumlah subjek
Peneliti mungkin menemui hambatan karena hanya sedikit jumlah subjek yang
tersedia atau mereka menolak untuk menjadi peserta. Kesalahan tersebut terjadi
karena peneliti kurang dapat memprediksi jumlah subjek yang tersedia.
2) Subject mortality
Subjek mungkin setuju untuk menjadi responsden, akan tetapi salah dalam
pengisian ataupun tidak lengkap, ataupun beberapa subjek tidak ada di tempat pada
waktu wawancara yang kedua kalinya atau tidak mengembalikan daftar isian dari
kuesioner atau terganggu kesehatannya sehingga dia dikeluarkan dari penelitian.
Pada kesalahan ini mutlak bukan suatu kesengajaan, tetapi suatu insiden. Untuk tetap
mempertahankan akurasi maka peneliti harus melaporkan dalam hasil penelitian
tentang masalah yang dihadapi.
3) Subjek sebagai objek
Peneliti pada tahap pengumpulan data ini mungkin bersifat kurang sopan ataupun
menakut-nakuti sehingga isian ataupun jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan
kehendak reponden. Peneliti memperlakukan responsden sebagai suatu objek
dari subjek seperti halnya kita memperlakukan responsden sebagai orang yang
membutuhkan perawatan.
4) Pengaruh dari luar
Semua jawaban dari subjek dipengaruhi oleh orang di sekitarnya ataupun subjek
dikeluarkan dari penelitian karena sang istri/suami pada pertengahan penelitan tidak
setuju menjadi responsden secara mendadak.
5) Passive resisten
Tidak adanya tanggapan yang baik dari tenaga kesehatan (dokter dan perawat)
lain terhadap riset yang kita laksanakan, sehingga pengumpulan data yang kita
laksanakan tidak akurat. Misal, seorang peneliti sedang melakukan eksperimen
dengan memberikan pengobatan pada kulit, akan tetapi perawat yang lain merasa
bahwa tindakan tersebut akan mengganggu kegiatan rutinitas, khususnya dalam hal
mandi dan lain-lain.
194 Bagian 3: Metodologi Penelitian

b. Masalah pada peneliti


1) Interaksi
Peneliti kurang dapat melakukan interaksi dengan baik kepada subjek, sehingga
informasi yang diterima dari subjek kurang akurat.
2) Kurangnya ketrampilan
Kurangnya ketrampilan ataupun pengalaman dalam pengumpulan data berdampak
terhadap data yang dikumpulkan. Hal ini bisa dilihat pada peneliti pemula yang
biasanya hanya menekankan pada data-data yang dapat dilihat tanpa adanya upaya
lain untuk menggali/menghubungkan dengan data lain. Sebenarnya di balik semua
data yang diberikan terdapat informasi yang sangat diperlukan untuk menjawab
pertanyaan penelitian.
3) Konflik peran dari peneliti
Sebagai seorang peneliti kadang kita merasa sebagai seorang petugas di lapangan,
sehingga pada waktu melakukan pengumpulan data kita melakukan intervensi
keperawatan secara emosional. Akibatnya hasil yang kita harapkan akan bias, karena
kita terlalu dominan memengaruhi pendapat dari klien (subjek).

Prinsip Etis dalam Penelitian (Pengumpulan Data)


Masalah etika pada penelitian yang menggunakan subjek manusia menjadi isu sentral
yang berkembang saat ini. Pada penelitian ilmu keperawatan, karena hampir 90% subjek
yang dipergunakan adalah manusia, maka peneliti harus memahami prinsip-prinsip
etika penelitian. Jika hal ini tidak dilaksanakan, maka peneliti akan melanggar hak-hak
(otonomi) manusia yang kebetulan sebagai klien. Peneliti yang sekaligus juga perawat,
sering memperlakukan subjek penelitian seperti memperlakukan kliennya, sehingga subjek
harus menurut semua anjuran yang diberikan. Padahal pada kenyataannya, hal ini sangat
bertentangan dengan prinsip-prinsip etika penelitian.
Secara umum prinsip etika dalam penelitian/pengumpulan data dapat dibedakan
menjadi tiga bagian, yaitu prinsip manfaat, prinsip menghargai hak-hak subjek, dan
prinsip keadilan.

a. Prinsip manfaat
1) Bebas dari penderitaan
Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada subjek,
khususnya jika menggunakan tindakan khusus.
2) Bebas dari eksploitasi
Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keadaan yang tidak
menguntungkan. Subjek harus diyakinkan bahwa partisipasinya dalam penelitian
atau informasi yang telah diberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang
dapat merugikan subjek dalam bentuk apa pun.
3) Risiko (benefits ratio)
Peneliti harus hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang akan
berakibat kepada subjek pada setiap tindakan.
Bab 9  •  Penyusunan Instrumen dan Pengumpulan Data 195

b. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)


1) Hak untuk ikut/tidak menjadi responsden (right to self determination)
Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Subjek mempunyai hak memutuskan
apakah mereka bersedia menjadi subjek ataupun tidak, tanpa adanya sangsi apa pun
atau akan berakibat terhadap kesembuhannya, jika mereka seorang klien.
2) Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to full
disclosure)
Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci serta bertanggung jawab
jika ada sesuatu yang terjadi kepada subjek.
3) Informed consent
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian
yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak
menjadi responsden. Pada informed consent juga perlu dicantumkan bahwa data
yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu.

c. Prinsip keadilan (right to justice)


1) Hak untuk mendapatkan pengobatan yang adil (right in fair treatment)
Subjek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan sesudah
keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi apabila ternyata mereka
tidak bersedia atau dikeluarkan dari penelitian.
2) Hak dijaga kerahasiaannya (right to privacy)
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan,
untuk itu perlu adanya tanpa nama (anonymity) dan rahasia (confidentiality).

Daftar PUSTAKA
Burns N & Grove, S.K. 1999. Understanding Nursing Research. 2nd ed. Philadelphia: W.B.
Saunders.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9thed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Sastroasmoro, S. & Ismail, S. 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Nursalam & Siti Pariani. 2000. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta:
Sagung Seto.
196 Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bab 10  •  Analisis Data Penelitian Kuantitatif 197

Bab 10
Analisis Data Penelitian
Kuantitatif

PENDAHULUAN
Pada bab ini akan diuraikan tahapan dan berbagai macam uji statistik yang sesuai pada
analisis data. Analisis data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan
pokok penelitian, yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang mengungkap
fenomena. Data mentah yang didapat, tidak dapat menggambarkan informasi yang
diinginkan untuk menjawab masalah penelitian.
Statistik merupakan alat yang sering dipergunakan pada penelitian kuantitatif.
Menurut Windu Purnomo (2002), salah satu fungsi statistik adalah menyederhanakan data
penelitian yang berjumlah sangat besar menjadi informasi yang sederhana dan mudah
dipahami oleh pembaca. Di samping itu, uji statistik dapat membuktikan hubungan,
perbedaan, atau pengaruh hasil yang diperoleh pada variabel-variabel yang diteliti.
Karena statistik akan digunakan sebagai ilmu bantu untuk menelaah berbagai
cabang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu keperawatan, maka perlu diperhatikan beberapa
kaidahnya. Kaidah yang harus diingat bahwa statistik merupakan sekumpulan metode
untuk membuat keputusan yang bijaksana pada keadaan yang tidak menentu atau
ketidakpastian. Untuk membuat keputusan, statistik memberikan metode bagaimana
memperoleh dan menganalisis data dalam proses mengambil suatu kesimpulan
berdasarkan data tersebut.
Tujuan mengolah data dengan statistik adalah untuk membantu menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian dari kegiatan praktis maupun keilmuan. Dalam hal
ini, statistika berguna saat menetapkan bentuk dan banyaknya data yang diperlukan. Di
samping itu, juga terlibat dalam pengumpulan, tabulasi, dan penafsiran data.

Ciri-Ciri Pokok Statistik


a. Bekerja dengan angka. Statistika berhadapan dengan data kuantitatif atau data yang
dikuantifikasi.
198 Bagian 3: Metodologi Penelitian

b. Bersifat objektif. Statistika sebagai alat penilai kenyataan yang berbicara apa
adanya.
c. Bersifat universal. Statistika dapat digunakan hampir dalam semua bidang
penelitian.

Jenis Landasan Kerja Pokok yang Digunakan oleh Statistik


a. Variasi. Landasan yang didasarkan pada kenyataan bahwa seorang peneliti selalu
menghadapi berbagai macam gejala dalam hal jenis maupun dalam tingkat besar-
kecilnya.
b. Reduksi. Landasan kerja ini memberi kesempatan kepada peneliti untuk mengamati
hanya sebagian dari seluruh gejala yang diamati.
c. Generalisasi. Pengamatan dilakukan hanya terhadap sebagian dari keseluruhan
gejala atau kejadian, tetapi kesimpulan akan dikenakan bagi keseluruhan dari mana
gejala atau kejadian itu diambil.

PERAN STATISTIK DALAM TAHAPAN Penelitian


Sebagaimana telah dijelaskan tentang tahap-tahap penelitian, maka statistika mempunyai
peran pada setiap tahap kegiatan keilmuan atau penelitian.
Dalam kegiatan keilmuan, kedelapan tahap tersebut saling berkaitan, sehingga
kadang-kadang sulit untuk menggambarkan perkembangan suatu penyelidikan keilmuan
dalam skema yang kaku tersebut. Kadang-kadang tahap yang satu bergabung dengan tahap
lainnya, atau tahap-tahap itu tidak terlihat jelas perbedaannya, dan sering kali tahap-
tahap itu tidak timbul dalam urutan seperti yang digambarkan. Secara umum statistika
mempunyai peran yang sangat penting pada tahap kelima (pengumpulan data); keenam
(manajemen dan analisis data); ketujuh (generalisasi dan kesimpulan); dan kadang-kadang
dalam batas tertentu penting pada tahap ketiga (formulasi hipotesis) dan tahap keempat
(penentuan model untuk menguji hipotesis).
Tahap pengumpulan data sampai dengan tahap generalisasi disebut sebagai tahap
pengujian kebenaran. Pada tahap ini, sebuah hipotesis dianggap telah teruji kebenarannya
jika ramalan yang dihasilkan didukung oleh fakta. Dalam ilmu biologi, termasuk ilmu
keperawatan suatu ramalan baru teruji setelah diikuti lama baik secara prospektif dan
retrospektif.
Bab 10  •  Analisis Data Penelitian Kuantitatif 199

1. Masalah & rumusan


masalah

2. 8.
Studi pustaka S Laporan ilmiah
T
A
T
3. I 7.
Formulasi hipotesis S Generalisasi & kesimpulan
T
I
K
4. 6.
Model pengujian hipotesis Manajemen & analisis data

5.
Pengumpulan data

Gambar 10.1 Posisi statistika dalam penelitian

ANALISIS DATA
Analisis statistik digunakan pada data kuantitatif atau data yang dikuantifikasi. Sedangkan
data tekstular mungkin hanya dianalisis, misalnya berdasarkan isi yang disebut dengan
content analysis, yaitu analisis data yang didasarkan pada kualitas isi berdasarkan kode/
kata kunci yang telah ditetapkan oleh peneliti. Penelitian yang metode analisisnya seperti
tersebut dimasukkan dalam kategori metode kualitatif. Pada penelitian bidang ilmu
keperawatan, metode tersebut sering dipergunakan khususnya saat menggali pendapat
masyarakat atau klien tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan penyakitnya (Windu
Purnomo, 2002).
Pada proses kuantifikasi, data maupun variabel dapat diklasifikasikan dalam empat
jenis skala pengukuran.

Klasifikasi Skala Pengukuran


a. Nominal. Data ditetapkan atas dasar proses penggolongan. Data tersebut hanya
mempunyai sifat membedakan. Misalnya, jenis kelamin perawat laki-laki dan
perempuan serta golongan darah. Angka-angka yang digunakan ini hanyalah
sebagai kategori dan tidak mempunyai makna dan tidak bisa dipergunakan untuk
penghitungan secara matematis dalam arti 1 lebih kecil daripada 2.
Misalnya, skor yang dituliskan untuk mempermudah dalam menganalisis
data pada variabel pengelompokan sikap yaitu sikap positif dan negatif (nominal
dikotom).
200 Bagian 3: Metodologi Penelitian

b. Ordinal. Data yang disusun atas dasar jenjang dalam atribut tertentu. Menurut Rafii’,
1993; Polit & Back 2012; Burns & Grove 1999) data ordinal merupakan himpunan
yang beranggotakan pangkat, jabatan, tingkatan, atau order. Pada pengukuran ini,
peneliti tidak hanya mengategorikan pada persamaan, tapi bisa menyatakan lebih
besar dari atau lebih kecil dari. Misalnya dalam pengetahuan klien tentang diet pada
kasus diabetes melitus 0= jelek; 1= cukup; 2= baik; 3= sangat baik. Skor yang sering
digunakan untuk mempermudah dalam mengategorikan jenjang/peringkat dalam
penelitian biasanya dituliskan dalam persentase. Misalnya, Pengetahuan: baik = 76-
100%; cukup = 56-75; dan kurang < 56.
c. Interval. Data dihasilkan dari pengukuran yang bersifat kontinu dan dalam
pengukuran itu diasumsikan terdapat pengukuran yang sama. Pada data interval
dapat memberikan nilai interval antara ukuran kelas. Dalam pengukuran ini
tiap anggota dalam kelas mempunyai persamaan nilai interval, demikian juga
terkandung nilai lebih besar atau lebih kecil dari. Misal, pengukuran suhu badan
dapat membentuk variabel interval jika tiga buah objek A, B, dan C berturut-turut
memberikan variabel suhu dengan skala interval 36o C - 37o C; 37,1o C - 38o C; 38,1o
C – 39o C dan seterusnya.
d. Rasio. Skala rasio hampir sama dangan skala interval, yang membedakannya adalah
bahwa skala pengukuran rasio mempunyai nilai nol mutlak sedangkan interval tidak.
Pada pengukuran ini nilai 0 mutlak dipergunakan dan menandakan adanya atau
tidak adanya variabel yang sedang diukur. Angka-angka ini dipergunakan untuk
menyatakan jarak dari asal murninya. Misal: berat badan, umur, kadar glukosa darah
puasa, kadar oksigen, dan sebagainya.

Langkah-langkah Analisis Data


a. Analisis deskriptif
Analisis deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan
dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. Data-data yang
disajikan meliputi frekuensi, proporsi dan rasio, ukuran-ukuran kecenderungan pusat
(rata-rata hitung, median, modus), maupun ukuran-ukuran variasi (simpangan baku,
variansi, rentang, dan kuartil). Salah satu pengamatan yang dilakukan pada tahap
analisis deskriptif adalah pengamatan terhadap tabel frekuensi. Tabel frekuensi terdiri
atas kolom-kolom yang memuat frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.
Beberapa ukuran frekuensi kejadian yang dapat dianalis dengan deskriptif
adalah:

1). Jumlah mutlak kejadian. Misal jumlah penderita AIDS pada tahun 2002 di Jawa
Timur adalah 4000 orang.
2). Proporsi. Disebut proporsi apabila pembilang merupakan bagian dari penyebut.
Misal proporsi perawat yang menggunakan sarung tangan di Instalasi Rawat
Darurat adalah 20%, berarti 20 orang dari 100 perawat menggunakan sarung
tangan saat memberikan asuhan keperawatan pada klien gawat darurat.
Bab 10  •  Analisis Data Penelitian Kuantitatif 201

3). Rasio. Rasio adalah perbandingan dari dua bilangan. Misalnya rasio pendidikan
perawat di Rumah Sakit X adalah 1,3, berarti perbandingan banyaknya pendidikan
Ners dibandingkan Akper adalah 13: 10.
4). Angka (rate). Rate dipakai untuk menyatakan banyaknya kejadian pada suatu
populasi dalam jangka waktu tertentu. Misal angka kejadian demam berdarah di
Indonesia 0,25% menggambarkan bahwa perkembangan penyakit demam berdarah
di Indonesia munculnya 25 kasus baru per 10.000 orang dalam setahun.

b. Analisis inferensial (uji signifikansi)


Dalam pengujian inferensial, uji yang digunakan harus sesuai dengan rancangan
penelitian. Pengujian statistik yang tidak sesuai akan menimbulkan penafsiran yang
salah dan hasil yang tidak dapat digeneralisasi (Windu Purnomo, 2002). Terdapat
beberapa macam uji signifikansi yang dapat diaplikasikan bergantung pada tujuan
analisis dan jenis data yang ada, antara lain (1) uji korelasi: pearson, spearmen, atau
kendali tau; (2) regresi: binomial logistik, linier, ordinal, dan berganda; (3) uji chi-
kuadrat; (4) uji komparasi data kuantitatif: interval/rasio dengan uji t dan untuk
data peringkat dengan uji Mann-Whitney/Wilcoxon; dan (5) uji-uji lain yang sesuai
(penjelasan lebih lengkap pada lampiran).

1). Dasar-dasar pemilihan uji statistik adalah (Nursalam, 2008):


(a) Tujuan penelitian
(b) Skala pengukuran data
(c) Sampel, yang dituliskan meliputi distribusi populasi; jenis sampel: bebas atau
perpasangan; jumlah kelompok sampel; dan ukuran atau besar sampel
(e) Banyaknya Variabel yang dianalisis

2). Dari uji statistik akan diperoleh 2 kemungkinan hasil uji, yaitu:
(a) Signifikan/bermakna. Adanya hubungan, perbedaan atau pengaruh antara
sampel yang diteliti, pada taraf signifikansi tertentu. Misalnya 1% (0,01); 5%
(0,05).
(b) Tidak signifikan/tidak bermakna. Artinya tidak ada hubungan, perbedaan,
atau pengaruh sampel yang diteliti.

Dalam kemungkinan hasil yang pertama (ada hubungan/perbedaan/pengaruh),


hipotesis penelitian (hipotesis alternatif: H1/Ha) diterima, dan hipotesis penelitian/
nihil (Ho) ditolak. Sebaliknya, dalam kemungkinan hasil yang kedua (tidak ada
hubungan atau perbedaan atau pengaruh) dinyatakan bahwa hipotesis nihil tidak
terbukti (Ho diterima).
Statistika dalam pengolahan data hasil penelitian hanya merupakan alat,
bukan tujuan dari analisis. Karena itu, statistika tidak boleh dijadikan tujuan yang
menentukan komponen-komponen penelitian yang lain, karena yang mempunyai
peran penting dalam penelitian adalah masalah dan tujuan penelitian.
202 Bagian 3: Metodologi Penelitian

INTERPRETASI HASIL ANALISIS DATA


Interpretasi hasil analisis data merupakan bagian yang penting dalam pengolahan data.
Sebelum menarik suatu kesimpulan, hasil analisis yang masih faktual terlebih dahulu harus
diinterpretasikan dan diberi makna oleh peneliti. Hasil analisis biasanya dibandingkan
dengan hipotesis penelitian (kalau ada), kemudian dibahas dengan menghubungkannya
dengan hasil penelitian lain serupa atau terdahulu, kemudian diberi kesimpulan
(Sastroasmoro & Ismail, 1995).

a. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada interpretasi hasil adalah:

1). Kesimpulan penelitian harus dibatasi pada jawaban tujuan penelitian. Penemuan-
penemuan yang diperoleh secara kebetulan selama penelitian tidak dapat
dijadikan kesimpulan, tetapi dapat dijadikan bahan bahasan dan bisa menjadi
hipotesis untuk penelitian berikutnya.
2). Adanya korelasi antarvariabel tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya
hubungan kausal. Adanya hubungan kausal harus mempunyai landasan teori
yang kuat.
3). Hasil suatu penelitian terutama berlaku untuk populasi yang diwakili oleh sampel
yang bersangkutan.

b. Beberapa penyebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian (Ho diterima) atau bias
suatu hasil, yaitu:

1). Sampel tidak representatif. Bisa terjadi bila pemilihan sampel dengan
nonprobabilitas, distribusi yang tidak normal, dan ukuran sampel yang terlalu
kecil.
2). Instrumen tidak valid dan reliabel. Sehingga data yang dikumpulkan tidak
mencerminkan hal yang sebenarnya (palsu).
3). Tidak dikendalikannya variabel luaran/variabel random. Variabel luaran
(extraneous & confounding variable) tidak memperhitungkan adanya variabel
tersebut padahal memberikan pengaruh yang besar terhadap sampel yang
diteliti.
4). Desain penelitian yang tidak tepat. Desain penelitian merupakan hal yang
penting dalam menentukan jenis uji statistik yang digunakan dalam penelitian.
5). Metode analisis statistik yang tidak sesuai. Ketidaktepatan dalam metode analisis
statistik maupun perhitungan yang salah akan memberikan kesimpulan yang
salah.
6). Landasan teori/tinjauan pustaka sudah tidak sesuai.

Apabila peneliti sudah cermat dalam merancang dan menerapkan metodologi


penelitian dengan memperkecil terjadinya bias, ternyata hipotesis penelitiannya tetap tidak
terbukti kebenarannya, maka tidak berarti penelitiannya gagal. Disini peneliti dituntut
untuk memberikan alasan yang rasional mengenai tidak terbuktinya hipotesis tersebut.
Bab 10  •  Analisis Data Penelitian Kuantitatif 203

Lampiran
Dikutip dari Afifi A.A. & Clark V. (1990) diadopsi oleh Windu Purnomo (2002).

Tabel 10.1  Cara pemilihan uji statistik univariat dan bivariat

Tujuan Jumlah Sampel Jenis Variabel


uji sampel/ bebas/
Kuantitatif (rasio- Semi kuantitatif Kualitatif (nominal)/
jumlah Berpasangan
interval) populasi (ordinal)/kuantitatif kategori
pasangan
berdistribusi normal distribusi populasi
tak normal
2 Bebas Uji 2 sampel bebas - Uji Mann-Whitney - Uji chi-kuadrat (X2)
- Uji jumlah - Uji eksak dari
peringkat dari Fisher
Wilcoxon
Komparasi
Berpasangan Uji t sampel Uji peringkat Uji McNemar (untuk
berpasangan bertanda dari kategori dikotomik)
Wilcoxon
>2 Bebas Anova 1 arah Uji Kruskall-wallis Uji chi-kuadrat
Berpasangan Anova untuk subjek Uji Friedman Uji Cochran’s Q
yang sama (untuk kategori
dikotomi)
Korelasi - Korelasi dari - Uji Korelasi dari Koefisien kontigensi
Pearson (r) Spearman (rs) (C)
- (Regresi) - Korelasi Kappa (K) Koefisien Phi
Koefisien Kappa
Tabel 10.2  Cara Pemilihan Uji Statistik Multivariat
204

Variabel Tergantung Variabel Bebas


Rasio/Interval Ordinal Nominal (kategorikal)
1 variabel > 1 variabel 1 variabel > 1 variabel 1 variabel > 1 variabel
Uji t sampel Uji Analisis faktor Uji kolomogorof Model longlinear Uji chi-kuadrat 1 Model longlinear
normalitas (G) Uji t Analisis kluster Smirnov 1 sampel uji sampel
0 Variabel
sampel berpasangan Komponen prinsipal peringkat bertanda Uji binomial/McNemar
Matriks korelasi dari Wicoxon
Korelasi Korelasi ganda Korelasi Spearman Anova multifaktor Uji t 2 sampel bebas Analisis multifaktor
Regresi Regresi ganda Korelasi Kendall’s tau Regresi ganda ANOVA 1 faktor Regresi ganda
1 Variabel Analisis survival Analisis survival multiple classification Analisis survival Multiple clasfication
analysis analysis
Analisis survival Analisis survival
Rasio
Korelasi kanonikal Korelasi Kanonikal Multivariatanava Multivariatanava Multivariatanava Multivariatanava
Analisis jalur Anava pada Anava pada Anava pada Anava pada
> 1Variabel Model struktural komponen prisipal komponen prisipal komponen prinsipal komponen prinsipal
Hotteling’s T Analisis
profil
Korelasi Fungsi diskriminan Korelasi Model loglinier Uji tanda Model loglinier
Spearman Regresi logistik ganda Spearman Koefisien konkordans Uji Median Regresi logistik ganda
Korelasi Kendall’s tau Korelasi Kendall’s tau regresi logistik ganda Uji Jumlah peringkat
1 Variabel
Korelasi Kappa dari Wicoxon
Ordinal Uji Mann-Whitney
Uji Kruskall Wallis
Fungsi diskriminan Fungsi diskriminan Model loglinier Model loglinier Model loglinier Model loglinier
> 1 Variabel
Koefisien konkordas
Uji t 2 sampel bebas Fungsi diskriminan Uji tanda Regresi logistik ganda Uji chi-kuadrat Regresi logistik ganda
Anava 1 faktor Regresi logistik ganda Uji Median Model loglinier Uji pasti Fisher Model loglinier
Uji Jumlah peringkat Koefisien Phi
Nominal 1 Variabel
dari Wicoxon Korelasi Kappa
(Kategorikal) Uji Mann-Whitney
Uji Kruskall Wallis
> Variabel Fungsi diskriminan Model loglinier Model loglinier Model loglinier Model loglinier Model loglinier
Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bab 10  •  Analisis Data Penelitian Kuantitatif 205

Daftar PUSTAKA
Burns & Grove. 1999. The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9thed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Rafii’. 1993. Metode Statistik analisis untuk Penarikan Kesimpulan. Jakarta: Penerbit Bina
Cipta Anggota IKAPI.
Windu Purnomo. 2002. Pengolahan dan Analisis Data pada Riset Kuantitatif. Makalah
Seminar Disampaikan pada Pelatihan Metodologi Riset Keperawatan. PPNI Jawa
Timur, Surabaya, 25−28 Maret 2002.
206 Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bab 11  •  Penulisan Hasil Penelitian 207

Bab 11
Penulisan Hasil Penelitian

PENDAHULUAN
Pada bab ini hanya akan dibahas penulisan laporan skripsi atau tesis dari hasil penelitian
jenis kuantitatif. Penulisan ditekankan pada konsistensi tulisan dan konsistensi penulisan
metodologi. Konsistensi tulisan meliputi penggunaan istilah, penomoran, penggunaan
huruf/angka, dan lain-lain. Konsistensi penulisan metodologi meliputi kerangka
konseptual, desain, populasi dan sampel, variabel dan definisi operasional, pengumpulan
dan analisis data, penyajian hasil dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran.
Penulisan hasil penelitian merupakan suatu cara mengkomunikasikan atau
menyosialisasi hasil temuan ilmiah kepada orang lain seperti perawat, tenaga kesehatan
lain, dan pengguna layanan kesehatan (Burns & Grove, 1999). Desiminasi hasil penelitian
menyediakan banyak keuntungan bagi peneliti, profesi keperawatan, dan pengguna layanan
kesehatan. Dengan menyajikan dan menerbitkan hasil penelitian, peneliti akan mampu
meningkatkan disiplin ilmu tertentu, pengakuan individu, meningkatkan eksistensi profesi
keperawatan, dan pengakuan profesionalisasi keperawatan.
Kedalaman informasi yang disajikan bergantung pada jenis penelitian (skripsi,
tesis, atau desertasi), keinginan pembaca, dan mekanisme desiminasi dari laporan hasil
penelitian.

PENULISAN ISI HASIL PENELITIAN


Penulisan hasil penelitian dipersiapkan untuk tujuan dan sasaran yang berbeda. Skripsi
maupun tesis tidak hanya mengomunikasikan hasil suatu penelitian, tetapi juga menyediakan
informasi kepada orang lain atau mahasiswa dalam menelaah dan mempelajari fakta-fakta
empiris yang ditemukan. Oleh karena itu, bahasa yang dipergunakan harus menggunakan
bahasa yang sudah baku menganut aturan tata bahasa yang standar.
Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam penulisan hasil penelitian, pada prinsipnya
isi penulisan secara umum adalah sama. Isi penulisan laporan hasil penelitian meliputi
(1) pendahuluan; (2) bagian metodologi; (3) bagian hasil; (4) bagian pembahasan; dan (5)
kesimpulan dan saran (Nursalam, 2008).
208 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Bagian Pendahuluan
Tujuan dari pendahuluan adalah membawa pembaca untuk mengenal masalah penelitian;
pentingnya masalah yang didukung oleh data-data dari jurnal dan daftar pustaka yang
sesuai; kronologis/penyebab terjadinya masalah; dan konsep solusi yang ditawarkan
oleh peneliti. Tahapan pada pendahuluan termasuk gambaran singkat tentang tinjauan
pustaka, kerangka konseptual, pernyataan masalah, serta hipotesis dan beberapa asumsi
yang mendasari penelitian serta pembahasan yang rasional dalam pengkajian masalah
penelitian.
Peneliti harus menjelaskan secara jelas dan ringkas dengan menggunakan bahasa yang
benar dan baik pada latar belakang permasalahan, agar pembaca dapat mengerti dengan
mudah bahwa masalah penelitian tersebut adalah hal yang penting dan perlu dilakukan
penelitian. Secara ideal, justifikasi masalah penelitian keperawatan harus mengandung
dua hal utama, yaitu praktik dan teoretis. Tetapi pada kenyataannya, banyak penelitian
yang hanya menekankan pada kepentingan praktik atau teoretis saja.
Pernyataan masalah dalam pendahuluan harus disertai ringkasan hasil penelitian
yang sesuai supaya penelitian yang dilakukan sesuai dengan kontekstual yang berkembang
saat ini. Memperbanyak sumber dari tinjauan pustaka akan membantu peneliti memperjelas
dasar-dasar teoretis dan praktik masalah penelitian.
Dalam pendahuluan juga harus membahas tentang variabel dan definisi operasional
secara ringkas. Meskipun penjelasan secara lengkap terdapat pada bagian metodologi,
tetapi penjelasan singkat pada tahap pendahuluan tentang konsep/definisi penting akan
membantu pembaca untuk mengenal istilah-istilah sejak awal, apa yang akan dilakukan
dalam penelitian tersebut.
Kesimpulannya adalah pendahuluan harus memuat penjelasan apa yang sudah
dilaksanakan dan apa yang sudah ditemukan sebelumnya. Pendahuluan juga harus
menjawab pertanyaan: Apa yang telah diketahui oleh peneliti? Apa yang ingin diketahui
oleh peneliti? Dan signifikansi apa yang berdampak terhadap teori dan praktik dalam
penelitian tersebut (Polit dan Back, 2012).

Bagian Metodologi
Penulisan pada bagian metodologi difokuskan pada bagaimana penelitian dilaksanakan
agar tujuan/masalah penelitian dapat dijawab. Ada beberapa hal penting yang harus
dituliskan pada bagian metodologi penelitian, yaitu (1) rancangan penelitian, (2) subjek
penelitian, (3) definisi operasional variabel penelitian, dan (4) instrumen dan metode/
prosedur pengumpulan data, dan (5) analisis data.

1) Penulisan rancangan penelitian


Penulisan rancangan dalam penelitian harus secara jelas menggambarkan jenis rancangan
apa yang dipilih dalam penelitian. Jenis rancangan eksperimen biasanya ditulis secara
jelas dan rinci dibandingkan jenis rancangan non-eksperimen. Pada jenis rancangan
eksperimen, peneliti harus menuliskan variabel apa yang dilakukan manipulasi/perlakuan,
Bab 11  •  Penulisan Hasil Penelitian 209

bagaimana mengelompokkan subjek, dan prosedur perlakuan apa yang digunakan. Pada
bagian ini juga perlu dituliskan tentang kerangka operasional (pentahapan) penelitian
dilaksanakan, sehingga mempermudah pembaca memahami langkah-langkah yang diikuti
tentang pelaksanaan penelitian.

2) Penulisan subjek penelitian (populasi dan sampel)


Pertama kali yang ingin diketahui oleh pembaca adalah siapa subjek penelitian. Penjelasan
tentang subjek penelitian biasanya meliputi dari mana populasi diambil dan bagaimana
sampel dipilih. Metode tentang pengambilan sampel, rasionalisasi sampling, dan
jumlah sampel harus dituliskan supaya pembaca dapat mengerti/menilai kelebihan dan
keterbatasan dari rancangan sampling. Pada bagian ini juga disarankan untuk dituliskan
dasar karakteristik subjek, misalnya usia, jenis kelamin, dan hal-hal lain yang sesuai.

3) Penulisan variabel dan definisi operasional


Variabel yang perlu dituliskan adalah variabel yang diteliti, biasanya berupa variabel
independen dan dependen serta variabel kendaliss. Kemudian isi penulisan definisi
operasional, meliputi jenis variabel, parameter, alat ukur/jenis instrumen, skala data, dan
skor yang ditetapkan.

4) Penulisan instrumen dan metode pengumpulan data


Penulisan pada bagian pengumpulan data merupakan komponen yang penting. Hal yang
perlu dituliskan adalah instrumen yang digunakan merupakan hasil pengembangan/
modifikasi atau dari standar instrumen yang sudah baku. Perlu juga dituliskan tentang
validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan. Jika instrumen ternyata kurang
memenuhi persyaratan, maka peneliti harus secara jujur menuliskan kelemahan instrumen
tersebut. Kedua, perlu dituliskan tentang lokasi penelitian dan waktu pelaksanaan penelitian.
Ketiga, hal yang tidak kalah pentingnya adalah langkah-langkah/prosedur pengambilan
data. Pada jenis rancangan eksperimen, perlu dituliskan kapan pelaksanaan intervensi,
berapa kali intervensi dilaksanakan? Pada penelitian dengan instrumen wawancara, di
mana dilaksanakan, siapa yang melakukan wawancara, berapa lama waktu rata-rata yang
diperlukan untuk setiap satu subjek? Pada instrumen observasi, bagaimanakah peran
observer, apa yang diobservasi? Pada instrumen kuesioner, kapan kuesioner diberikan,
bagaimana cara memberikannya, apakah ada tindak lanjutnya? Kejelasan penulisan pada
bagian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi pembaca tentang kualitas pelaksanaan
penelitian.

5) Penulisan analisis data


Pada penelitian kuantitatif, perlu dituliskan tentang jenis statistik yang dipergunakan dalam
pengolahan data. Alasan penetapan penggunaan statistik yang dipilih, sumber rujukan yang
dipergunakan. Pada bagian ini, biasanya rumus statistik tidak terlalu penting dituliskan,
justru nilai signifikan yang perlu diketahui oleh pembaca.
210 Bagian 3: Metodologi Penelitian

ASPEK METODOLOGI CONTOH

1. Rancangan penelitian Desain pra-eksperimental jenis post test only (one shot case study) digunakan
pada penelitian tentang pengaruh TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) terhadap
peningkatan sosialisasi pada klien menarik diri.

2. Subjek penelitian Subjek diseleksi dengan menggunakan random: stratified random sampling
pada kelompok subjek ibu hamil dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/
lulus SD dengan pendidikan SMP atau di atasnya.

3. Variabel dan definisi Perawatan diri pada klien pascaserangan stroke adalah kemampuan klien
operasional (DO) dalam memenuhi kebutuhan makan/minum, mandi, berpakaian, dan eliminasi
(urine/alvi). Contoh lain, respons imun adalah reaksi yang terjadi pada tingkat
sel/gen pada individu melalui tahap alarm, adaptasi, dan exaustion.

4. Instrumen dan metode Instrumen yang digunakan adalah tingkat kecemasan responsden, menurut
pengumpulan data HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale).
Setelah mendapatkan informed consent, data dikumpulkan melalui observasi
tingkat kecemasan klien yang akan dilakukan Sectio Cesaria (SC) sebelum
diberikan penyuluhan (kelompok perlakuan dan kontrol) kemudian penyuluhan
dilakukan selama 2 kali pada kelompok perlakuan, setelah itu diukur kembali
tingkat kecemasan pada kelompok perlakuan dan kontrol sebelum klien
dilakukan SC.

5. Analisa Data Rata-rata dan standar deviasi dihitung pada dukungan sosial yang diberikan
keluarga pada klien dengan penyakit terminal (skala 76 – 100 – dukungan yang
baik), kemudian untuk mengetahui pengaruh dukungan terhadap penurunan
stres hospitalisasi menggunakan uji regresi linier dengan nilai signifikansi 0,05.

Bagian Penulisan Hasil Penelitian


1) Penulisan hasil
Pada bagian penulisan hasil penelitian, peneliti harus secara hati-hati melaporkan semua
hasil secara akurat dan selengkap mungkin, baik hasil tersebut menerima hipotesis,
maupun menolak hipotesis. Bagian awal penulisan hasil adalah tentang gambaran lokasi
penelitian yang meliputi karakteristik tempat penelitian dilaksanakan dan karakteristik
subjek penelitian. Tahap berikutnya adalah menuliskan hasil dalam tabel atau gambar
disertai dengan penjelasan. Yang perlu diingat dalam menuliskan tabel atau gambar harus
terdapat komponen 3 W (What, Where, When), yaitu tabel tentang apa, di mana, kapan
dilaksanakan penelitian. Misalnya, tabel hubungan antara pengetahuan dan peran keluarga
dalam perawatan anak selama di rumah sakit (apa) di Ruang Anak RSUD Dr. Soetomo
(tempat) Bulan Maret-Mei 2013 (waktu). Tabel atau gambar tersebut kemudian diberi
penjelasan tentang hasil uji statistik yang signifikan dan penulisan angka-angka yang
mencolok. Tidak perlu dituliskan semua angka pada setiap item variabel yang ada.
Penulisan persentase biasanya dikelompokkan menjadi mayoritas = apabila
hasil menunjukkan 90-100%; sebagian besar = 66-89%; lebih dari 50% (51-69) dan
seterusnya.

2) Penulisan pembahasan
Penulisan pembahasan merupakan unsur yang penting pada bagian ini. Isi dari penulisan
pembahasan didasarkan pada tujuan penelitian, format penulisannya bisa dituliskan
Bab 11  •  Penulisan Hasil Penelitian 211

sesuai yang ada di tujuan khusus atau bisa langsung dituliskan dalam beberapa paragraf
(Anderson & Poole, 1993). Isi tersebut meliputi penulisan (1) interpretasi hasil penelitian
(fakta); (2) mencantumkan literatur/tinjauan pustaka yang mendukung (Teori), dan (3)
opini/justifikasi ilustrasi dari peneliti tentang rekomendasi implikasi hasil temuannya
baik dalam hal akademik maupun praktik. Pada penelitian kuantitatif, interpretasi hasil
meliputi penjelasan hasil temuan statistik yang dihubungkan dengan makna konsep dan
praktik. Peneliti juga harus membuat suatu justifikasi tentang hasil temuannya, mengapa
hasil yang ditemukan mendukung atau bertentangan dengan hasil kajian/konsep yang
ada. Pada bagian ini juga perlu dituliskan tentang keterbatasan penelitian, khususnya
ketidaksesuaian dengan konsep atau temuan yang sudah ada.

daftar PUSTAKA
Anderson, J & Poole, M. 1993. Thesis and Assignment Writing. 2nd ed. Brisbane: John
Willey & Sons.
Burns & Grove. 1999. The Practice of Nursing Research. Philadelphia: W.B. Saunders Co.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Pedoman
Skripsi, Tesis, dan Instrumen. Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Polit DF & Back, CT. 2012. Nursing Research. Generating and Assessing Evidence for Nursing
Practice. 9thed. Philadelphia: JB. Lippincott.
Polit DF & Hngle, BP. 1999. Nursing Research. Principles and Methods. 6th ed. Philadelphia:
JB Lippincott.
212 Bagian 3: Metodologi Penelitian
Bagian 4
Contoh Penyusunan
Instrumen Penelitian

1. Standar Kinerja Perawat pada Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori Keperawatan—


Adaptasi Roy
2. Penilaian Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Berdasarkan Pendekatan Proses
Keperawatan
3. Instrumen Beban Kerja
4. Instrumen Hubungan antara Imbalan Jasa dan Motivasi Kerja Perawat Pelaksana di
Rumah Sakit
5. Kepuasan Kerja Perawat (Aplikasi Teori Kebutuhan Maslow [Nursalam, 2002]).
6. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Berdasarkan 11 Kebutuhan Dasar Manusia dari
Henderson
7. Penampilan Dosen Keperawatan menurut Penilaian Mahasiswa
8. Beck Depression Inventory (BDI)
9. Respons Psikologis-Sosial-Spiritual (Nursalam, 2005)
10. Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Klien (Berdasarkan Teori D. Orem: Defisit
Perawatan Diri)
11. Hubungan Dukungan Keluarga dan Tingkat Depresi pada Lansia
12. Kebutuhan Psikososial Keluarga—CCFNI (Critical Care Family Need Inventory), oleh
Motter & Leske, 1996
13. Pengaruh Terapi Bermain terhadap Sosialisasi selama Dirawat di Rumah Sakit
14. Perubahan Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Urine Sebelum dan Sesudah Latihan
Kegel
15. Tingkat Kecemasan–Hars (Hamilton Anxiety Rating Scale)
16. Dimensi Tingkat Kepuasan Klien terhadap Pelayanan Keperawatan
17. Instrumen Autisme (Childhood Autism Rating Scale)
18. Instrumen Kemampuan Bladder-Retention Training, Frekuensi Enuresis, Skala Tingkat
Stres dan Gangguan Tidur Pada Anak
19. Instrumen Stres Kerja dan Circadian Rhythm
20. Instrumen Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42)
21. Instrumen Motivasi Mahasiswa Mengikuti Perkuliahan, Hambatan, dan Harapan
Mahasiswa dalam Mencapai Prestasi Belajar
22. Instrumen Pengetahuan Ibu tentang Manajemen Laktasi
23. Instrumen Pengaruh Teknik Pernapasan Active Cycle of Breathing terhadap Peningkatan
Aliran Ekspirasi Maksimum pada Penderita Tuberkulosis
24. Gaya Koping, Tes Orientasi Kehidupan, dan Dukungan Sosial
214 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

25. Instrumen Respons Pengendalian Halusinasi Dengar TAK Stimulasi Persepsi Modifikasi, Observasi
Sesi 1-2-3 TAK dan Observasi TAK Stimulasi Persepsi Modifikasi Halusinasi Dengar (Iskandar,
2006).
26. Mutu Pelayanan (Variabel–Kopelman) (Muhith, 2012)
a. Kuesioner Budaya Organisasi (Skor OCAI)
b. Kuesioner Kepemimpinan (Hersey and Blanchard)
c. Kuesioner Karakteristik Pekerjaan: Komitmen, Mental Model, Motivasi, Sikap
d. Kuesioner Mutu Asuhan Keperawatan: Standar Asuhan Keperawatan, Standar Kinerja
Profesional Perawat, Kepuasan Kerja Perawat
e. Kuesioner Kepuasan Pasien
27. Iklim Organisasi
28. Contoh Penghitungan Beban Kerja (Time and Motion Study) di Ruang Rawat Inap
29. Kepuasan Pasien dalam Caring
30. Kuesioner Terkait Burn Out pada Mahasiswa atau Karyawan
31. Ingatan atau Memori pada Lansia Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ)
32. Kuesioner Quality of Work Life
33. Instrumen Denyes Self-Care Agency (DSCAI-90)
34. Kuesioner Tingkat Kemandirian Pasien dalam Memenuhi Kebutuhan Perawatan Diri
Postpartum
35. The World Health Organization Quality of Life (WHOQOL)-BREF
36. Instrumen TPB-AJZEN (2006) (Dikembangkan oleh Erna Dwi Wahyuni, 2012)
a. Pengetahuan
b. Sikap
c. Norma Subjektif
d. Intensi
36a. Lembar Observasi: Pendokumentasian Keperawatan
37. Thermometer Distres
38. Pengembangan Instrumen Survqual
39. Risiko Jatuh
40. Instrumen Nyeri
41. Instrumen Prosedur Pencegahan Infeksi
42. Kuesioner Kepribadian
43. Kuesioner Komitmen
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 215

Contoh 1

STANDAR KINERJA PERAWAT PADA ASUHAN KEPERAWATAN


BERDASARKAN TEORI KEPERAWATAN–ADAPTASI ROY

Ruangan :………………………… Umur : .……………………………


Inisial perawat :…..…………………..… Status perkawinan : ……...…………….……….
Pendidikan : ………………………… Jumlah anak : ….…………..……………..

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN FISIOLOGIS

a. Memenuhi kebutuhan oksigen


Kriteria:
1. Menyiapkan tabung oksigen dan flowmeter ya tidak
2. Menyiapkan humidifier berisi air ya tidak
3. Menyiapkan slang nasal/masker ya tidak
4. Memberikan penjelasan kepada klien ya tidak
5. Mengatur posisi klien ya tidak
6. Memasang selang nasal/masker ya tidak
7. Memerhatikan reaksi klien ya tidak

b. Memenuhi kebutuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit


Kriteria:
1. Menyiapkan peralatan dalam dressing car ya tidak
2. Menyiapkan cairan infus/makanan/darah ya tidak
3. Memberikan penjelasan pada klien ya tidak
4. Mencocokkan jenis cairan/darah/diet makanan ya tidak
5. Mengatur posisi klien ya tidak
6. Melakukan pemasangan infus/darah/makanan ya tidak
7. Mengobservasi reaksi klien ya tidak

c. Memenuhi kebutuhan eliminasi


Kriteria:
1. Menyiapkan alat pemberian huknah/gliserin/
dulkolac dan peralatan pemasangan kateter ya tidak
2. Memerhatikan suhu cairan/ukuran kateter ya tidak
3. Menutup pintu dan memasang selimut ya tidak
4. Mengobservasi keadaan feses/urine ya tidak
5. Mengobservasi reaksi klien ya tidak

d. Memenuhi kebutuhan aktivitas dan istirahat/tidur


Kriteria:
1. Melakukan latihan gerak pada klien tidak sadar ya tidak
2. Melakukan mobilisasi pada klien pascaoperasi ya tidak
3. Mengatur posisi yang nyaman pada klien ya tidak
4. Menjaga kebersihan lingkungan ya tidak
5. Mengatur jam berkunjung ya tidak

e. Memenuhi kebutuhan integritas kulit (kebersihan dan kenyamanan fisik)


Kriteria:
1. Memandikan klien yang tidak sadar/kondisi yang lemah ya tidak
2. Mengganti alat-alat tenun sesuai kebutuhan/kotor ya tidak
3. Merapikan alat-alat klien ya tidak

216 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 1

6. Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis


Kriteria:
1. Mengobservasi tanda vital sesuai kebutuhan ya tidak
2. Melakukan tes alergi pada pemberian obat baru ya tidak
3. Mengobservasi reaksi klien ya tidak

STANDAR TINDAKAN GANGGUAN KONSEP DIRI (PSIKIS)

Memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual


Kriteria:
1. Melaksanakan orientasi pada klien baru ya tidak
2. Memberikan penjelasan tentang tindakan
yang akan dilakukan ya tidak
3. Memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana ya tidak
4. Memerhatikan setiap keluhan klien ya tidak
5. Memotivasi klien untuk berdoa ya tidak
6. Membantu klien beribadah ya tidak
7. Memerhatikan pesan-pesan klien ya tidak

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN PERAN (SOSIAL)

1. Meyakinkan kepada klien bahwa dia adalah tetap sebagai individu


yang berguna bagi keluarga dan masyarakat ya tidak
2. Mendukung upaya kegiatan atau kreativitas klien ya tidak
3. Melibatkan klien dalam setiap kegiatan, terutama dalam
pengobatan pada dirinya ya tidak
4. Melibatkan klien dalam setiap pengambilan keputusan menyangkut
diri klien ya tidak
5. Bersifat terbuka dan komunikatif kepada klien ya tidak
6. Mengizinkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien ya tidak
7. Perawat dan keluarga selalu memberikan pujian atas sikap klien
yang dilakukan secara benar dalam perawatan ya tidak
8. Perawat dan keluarga selalu bersikap halus dan menerima
jika ada sikap yang negatif dari klien ya tidak

STANDAR TINDAKAN PADA GANGGUAN INTERDEPENDENCE (KETERGANTUNGAN)

1. Membantu klien memenuhi kebutuhan makan dan minum


2. Membantu klien memnuhi kebutuhan eliminasi (urine dan alvi)
3. Membantu klien memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi)
4. Membantu klien untuk berhias atau berdandan
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 217

Contoh 2

PENILAIAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN


PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN
Nomor perawat (kode) : (L/P)
Penilai (kode) :
Jabatan penilai :
Ruang :
Hari/tanggal :
Petunjuk :
Berilah tanda (√) pada angka :

4 Bila telah dilakukan sepenuhnya dengan tepat


3 Bila dilakukan sepenuhnya namun tidak tepat
2 Bila dilaksanakan hanya sebagian
1 Bila hanya sedikit yang dilaksanakan
0 Bila tidak dikerjakan sama sekali

SKOR
No Hal-hal yang dinilai
0 1 2 3 4
PENGKAJIAN
1 Melaksanakan pengkajian pada klien saat klien masuk rumah sakit
2 Melengkapi format catatan pengkajian klien (buku status klien) dengan tepat
3 Menilai kondisi klien secara terus-menerus
4 Menilai kebutuhan akan klien/keluarga
5 Membuat prioritas masalah

PERENCANAAN
1 Membuat rencana perawatan berdasarkan kebutuhan klien
2 Bekerja sama dengan anggota tim kesehatan yang lain dalam merencanakan
perawatan
3 Membuat penjadwalan dalam melaksanakan rencana perawatan

IMPLEMENTASI
1 Memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh/holistik pada klien yang
menjadi tanggung jawabnya
2 Menghormati martabat dan rahasia klien
3 Mampu berfungsi secara cepat dan tepat dalam situasi kegawatan
4 Melaksanakan program pendidikan kepada klien dan keluarga
5 Bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain dalam memberikan asuhan
keperawatan
218 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 2

SKOR
No Hal-hal yang dinilai
0 1 2 3 4
EVALUASI
1 Mengevaluasi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai kebutuhan klien
2 Mengevaluasi praktik keperawatan dengan dibandingkan standar keperawatan
3 Evaluasi dilakukan secara terus-menerus

KETERAMPILAN KOMUNIKASI
1 Berkomunikasi dengan baik dengan rekan sekerja dan anggota tim perawatan
kesehatan lainnya
2 Mencatat pesanan secara akurat
3 Menanggapi dengan tepat terhadap permintaan dan pertanyaan klien/keluarga

HARAPAN, INSTITUSI, DAN PROFESI


1 Turut mendukung kebijakan, visi, dan misi rumah sakit
2 Terus-menerus membuat dan memperluas pengetahuan dan keterampilan pribadi
3 Menghadiri setiap penyuluhan/seminar/lokakarya yang berhubungan dengan
perawatan
4 Mau berbagi pengetahuan dengan sesama rekan kerja
5 Berpartisipasi dalam panitia keperawatan dan aktivitas lain yang memajukan
pertumbuhan dan perkembangan keperawatan
6 Berpartisipasi dalam belajar pengalaman untuk mahasiswa perawat
7 Membantu orientasi pegawai baru
8 Metampakkan penampilan yang profesional
9 Bersikap disiplin dalam berbagai perbuatan
10 Melakukan tugas-tugas sebagaimana yang diperlukan
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 219

Contoh 3

INSTRUMEN BEBAN KERJA

1. Identitas Responden

ama
N :
Jenis Kelamin :
Status Perkawinan :
Agama :

Latar Belakang Pendidikan Terakhir:


  SPR/SPK
  Akademi Keperawatan
  Sarjana Keperawatan
  Lainnya

2. Riwayat Pekerjaan
Sudah berapa lama Anda bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD)?

…………………………………….

Apakah Anda pernah mendapatkan pendidikan/pelatihan mengenai keperawatan UGD,


baik yang diadakan oleh RSUD Dr. Soetomo Surabaya atau institusi lain?

 Ya/Tidak*)
 Jika ya, berapa kali dan berapa lama, sebutkan!
• ………………………………………………………………….…………
• ………………………………………………………………….…………
• ………………………………………………………………….…………
• ………………………………………………………………….…………
• ………………………………………………………………….…………
• ………………………………………………………………….…………

*) coret yang tidak perlu


220 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 3
LEMBAR KUESIONER

A. Beban Kerja Perawat UGD


Berilah tanda silang (×) pada kolom angka yang ada pada masing-masing pernyataan dengan
pilihan berikut.

Kode : 4 = tidak menjadi beban kerja


3 = beban kerja ringan
2 = beban kerja sedang
1 = beban kerja berat

Jangan memberi tanda apa pun pada kolom skor

NO PERNYATAAN 1 2 3 4 SKOR
1 Melakukan observasi klien secara ketat selama jam kerja
2 Banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan demi
keselamatan klien
3 Beragamnya jenis pekerjaan yang harus dilakukan demi
keselamatan klien
4 Kontak langsung perawat dengan klien di ruang ICU secara
terus-menerus selama jam kerja
5 Kurangnya tenaga perawat ICU dibanding dengan klien kritis
6 Pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki tidak
mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan di ICU
7 Harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang
berkualitas
8 Tuntutan keluarga untuk keselamatan klien
9 Setiap saat dihadapkan pada keputusan yang tepat
10 Tanggung jawab dalam melaksanakan perawatan klien ICU
11 Setiap saat menghadapi klien dengan karakteristik tidak
berdaya, koma, dan kondisi terminal
12 Tugas pemberian obat-obat yang diberikan secara intensif
13 Tindakan penyelamatan klien
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 221

Contoh 3

B. Kondisi Kerja Perawat UGD


Berilah tanda silang (×) pada kolom angka yang ada di sebelah kanan pada masing-masing butir
pernyataan dengan pilihan sebagai berikut.

Kode: 4 = menyenangkan
3 = kurang menyenangkan
2 = tidak menyenangkan
1 = sangat tidak menyenangkan

Jangan memberi tanda apa pun pada kolom skor

NO. PERNYATAAN 1 2 3 4 SKOR


1 Bunyi alat monitor jantung dan suara gelembung air
maupun suara udara pada mesin pengisap (suction) dan
respirator
2 Lingkungan ruang ICU yang tertutup dari dunia luar
3 Dering telepon yang berbunyi tiba-tiba
4 Bunyi mesin AC
5 Banyaknya alat-alat canggih
6 Mendengar suara rintihan/jeritan klien
7 Terdapatnya ekskresi saluran cerna, genitalia, darah,
mukosa, bekas muntahan, urine, dan feses
8 Kondisi klien dengan balutan yang lembap dengan cairan
purulen, darah, dengan pemasangan drainase, infus, slang
oksigen, dan kantong urine
9 Ketatnya aturan kerja yang harus dipatuhi
10 Aturan penggunaan pakaian dinas
11 Terbatasnya waktu untuk berkomunikasi dengan sesama
anggota tim
12 Kerja sama antara anggota tim
13 Kerjasama antara perawat dan tim kesehatan lain
14 Kondisi keluarga yang tidak kooperatif (selalu menuntut
perawat untuk berbuat lebih terhadap klien)
15 Menghadapi keluarga dengan kecemasan yang meningkat
dan selalu ingin tahu
16 Memburuknya kondisi klien secara tiba-tiba
222 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 3
C. Stres Kerja Perawat UGD
Petunjuk: Berilah tanda silang (×) pada kolom angka yang ada di sebelah kanan pada masing-
masing butir pernyataan dengan pilihan sesuai dengan yang Anda alami.

Kode: 4 = tidak pernah


3 = kadang-kadang
2 = sering
1 = selalu

Jangan memberi tanda apa pun pada kolom skor.

NO. PERNYATAAN 1 2 3 4 SKOR


1 Saya merasa sakit kepala saat bekerja
2 Saya bekerja berkeringat dingin
3 Saya merasa jantung berdebar saat bekerja
4 Merasa mual saat bekerja
5 Merasa sakit perut/nyeri ulu hati saat bekerja
6 Merasa sesak napas saat bekerja
7 Merasa otot kaku saat/setelah bekerja (kaku leher)
8 Mulut saya terasa kering
9 Saya merasa ada gangguan penglihatan saat bekerja
10 Saya merasa ada gangguan tidur
11 Merasa nyeri yang tidak spesifik
12 Merasa gatal yang tidak spesifik
13 Diare saat/setelah kerja
14 Merasa telapak tangan berkeringat
15 Merasa telapak tangan dingin
16 Merasa frekuensi pernapasan meningkat
17 Merasa denyut nadi meningkat
18 Merasa cemas/takut
19 Merasa tertekan karena pekerjaan
20 Menyalahkan diri sendiri
21 Hilang harapan
22 Merasa bodoh
23 Merasa tidak cocok dengan pekerjaan
24 Curiga dengan orang lain membicarakan dirinya
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 223

Contoh 3
(Lanjutan)

NO. PERNYATAAN 1 2 3 4 Skor


25 Merasa kehilangan konsentrasi
26 Mudah lupa
27 Merasa tidak cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan
28 Menghindar dari masalah
29 Berganti-ganti rencana
30 Berpikir hal-hal kecil terlalu detail
31 Ketegangan saat berinteraksi dengan teman sejawat
32 Ketegangan saat berinteraksi dengan tim kesehatan lain
33 Mudah tersinggung
34 Mudah marah tanpa sebab yang berarti
35 Menarik diri (menolak berinteraksi dengan sejawat)
36 Menarik diri (menolak berinteraksi dengan tim kesehatan)
37 Merasa tidak suka dengan pekerjaan
38 Kecewa terhadap hasil pekerjaan
39 Merasa jenuh dalam bekerja
40 Merasa bergantung pada orang lain
41 Merasa tidak tertarik terhadap minat yang disukai
42 Merasa lambat terhadap situasi yang membahayakan
43 Makan secara berlebihan
44 Kehilangan nafsu makan
45 Perubahan kesukaan merokok/minuman keras
46 Bingung dalam menghadapi pekerjaan
47 Putus asa pada pekerjaan
48 Penurunan produktivitas kerja
49 Kepuasan terhadap pekerjaan
50 Meninggalkan kerja
224 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 4

INSTRUMEN HUBUNGAN ANTARA IMBALAN JASA DAN MOTIVASI KERJA


PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT

PENILAIAN PERAWAT TERHADAP

A. Imbalan Finansial
1. Gaji (honor bulanan) yang Anda terima dari rumah sakit
a. Kurang dari Rp. 500.000
b. Rp. 500.000–750.000
c. Lebih dari Rp. 750.000

2. Menurut penilaian Anda, honor tersebut adalah....


a. Masih kurang
b. Cukup
c. Lebih dari cukup

3. Tunjangan transportasi (bulanan) yang Anda terima dari rumah sakit....


a. Kurang dari Rp 60.000
b. Rp.60.000–75.000
c. Lebih dari Rp. 75.000

4. Menurut penilaian Anda, honor tersebut adalah


a. Masih kurang
b. Cukup
c. Lebih dari cukup

5. Tunjangan makan (bulanan) yang Anda terima dari rumah sakit....


d. Kurang dari Rp 60.000
e. Rp.60.000–75.000
f. Lebih dari Rp. 75.000
6. Menurut penilaian Anda, honor tersebut adalah....
a. Masih kurang
b. Cukup
c. Lebih dari cukup

7. Tunjangan lain-lain (tahunan) yang Anda terima dari RS (selain tunjangan diatas)
a. Kurang dari Rp. 500.000
b. Rp. 500.000–750.000
c. Lebih dari Rp. 750.000

8. Menurut penilaian Anda, honor tersebut adalah....


a. Masih kurang
b. Cukup
c. Lebih dari cukup
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 225

Contoh 4

B. Imbalan Psikologis dan Sosial

No. JENIS IMBALAN Tidak Perlu Sangat Kode


perlu Perlu
1. Apakah Anda membutuhkan kenaikan jabatan bila
mendapatkan penilaian prestasi baik
2. Apakah kenaikan jabatan memengaruhi semangat
kerja
3. Apakah setelah mendapatkan prestasi, Anda
mendapatkan dukungan selamat dari teman dan
atasan
4. Apakah dukungan dari teman dan atasan diperlukan
untuk mencapai prestasi yang lebih baik
5. Apakah ucapan dan dukungan tersebut memengaruhi
kepuasan Anda bekerja
6. Apakah teman-teman dan atasan Anda menghargai
kerja keras Anda
7. Apakah Anda berpikir pengawasan dalam bekerja
diperlukan

C. Motivasi Kerja
1. Bila Anda dinyatakan berprestasi dan perlu mendapatkan imbalan, maka imbalan yang paling
Anda inginkan adalah....
a. Uang
b. Pengakuan atau kepercayaan dari teman dan atasan
c. Piagam
d. Kenaikan jabatan

2. Bila pada saat Anda hendak berangkat tugas turun hujan dan kendaraan mogok, maka tindakan
Anda...
a. Tidak jadi berangkat
b. Menelpon teman untuk menggantikan
c. Berangkat setelah hujan reda dan kendaraan selesai diperbaiki
d. Tetap berangkat dengan kendaraan apapun

3. Apabila saat Anda beristirahat di rumah, kemudian Anda diminta masuk tugas untuk
menggantikan teman yang berhalangan, maka tindakan Anda....
a. Tidak mau, karena itu bukan tugas saya
b. Mau datang, bila ada imbalan
c. Datang sebentar saja terus pulang
d. Berangkat tugas dan pulang sesuai jam dinas
226 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 4

4. Apabila pada saat Anda bertugas, ada klien baru datang (bukan klien Anda) maka tindakan
Anda....
a. Diamkan saja menunggu teman datang dan perintah dokter
b. Menerima klien saja dan melanjutkan pekerjaan lainnya
c. Membuat sebagian catatan keperawatan
d. Menerima klien, kemudian melakukan anamnesis dan observasi

5. Apabila jam tugas Anda sudah berakhir, tetapi pekerjaan Anda belum selesai apa yang Anda
lakukan?
a. Pulang
b. Meneruskan pekerjaan tersebut esok hari
c. Menitipkan kepada pengganti jaga
d. Menyelesaikan tugas sampai tuntas

6. Apabila sudah lama Anda menunggu daftar pengganti jaga, namun belum juga datang, maka
tindakan Anda....
a. Pulang saja, karena waktu tugas jaga sudah selesai
b. Menitipkan pesan kepada petugas jaga atau perawat di ruangan lainnya
c. Menunggu pengganti jaga datang, tetapi tidak mengobservasi keadaan klien
d. Menunggu sampai pengganti jaga datang, tetap mengobservasi, dan melakukan tindakan
keperawatan yang diperlukan kepada klien
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 227

Contoh 5

Kepuasan Kerja Perawat


Aplikasi Teori Kebutuhan Maslow (Nursalam, 2002)

No. PERNYATAAN STP TP CP P SP KODE


(1) (2) (3) (4) (5)
1 Jumlah gaji yang diterima dibandingkan pekerjaan yang
Anda lakukan
2 Sistem penggajian yang dilakukan institusi tempat Anda
bekerja
3 Jumlah gaji yang diterima dibandingkan pendidikan
Anda
4 Pemberian insentif tambahan atas suatu prestasi atau
kerja ekstra
5 Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang
mendukung pekerjaan
6 Tersedianya fasilitas penunjang seperti kamar mandi,
tempat parkir, dan kantin
7 Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan dengan
ventilasi udara, kebersihan, dan kebisingan
8 Adanya jaminan atas kesehatan/keselamatan kerja
9 Perhatian institusi rumah sakit terhadap Anda
10 Hubungan antar karyawan dalam kelompok kerja
11 Kemampuan dalam bekerja sama antar karyawan
12 Sikap teman-teman kerja terhadap Anda
13 Kesesuaian antara pekerjaan dan latar belakang
pendidikan Anda
14 Kemampuan dalam menggunakan waktu bekerja
dengan penugasan yang diberikan
15 Kemampuan supervisi/pengawas dalam membuat
keputusan
16 Perlakuan atasan selama Anda bekerja di sini
17 Kebebasan melakukan suatu metode sendiri dalam
menyelesaikan pekerjaan
18 Kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kerja
melalui pelatihan atau pendidikan tambahan
19 Kesempatan untuk mendapat posisi yang lebih tinggi
20 Kesempatan untuk membuat suatu prestasi dan
mendapatkan kenaikan pangkat

Keterangan :
STP = sangat tidak puas P = puas
TP = tidak puas SP = sangat puas
CP = cukup puas
228 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 6

PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN


BERDASARKAN 11 KEBUTUHAN DASAR MANUSIA DARI HENDERSON

Ruangan : ………………………… Umur : …………………………


Inisial perawat : ………………………… Status perkawinan : …………………………
Pendidikan : ………………………… Jumlah anak : …………………………

A. Memenuhi kebutuhan oksigen


Kriteria:
1. Menyiapkan tabung oksigen dan flowmeter ya  tidak 
2. Menyiapkan humidifier berisi air ya  tidak 
3. Menyiapkan selang nasal/masker ya  tidak 
4. Memberikan penjelasan kepada klien ya  tidak 
5. Mengatur posisi klien ya  tidak 
6. Memasang slang nasal/masker ya  tidak 
7. Memerhatikan reaksi klien ya  tidak 

B. Memenuhi kebutuhan nutrisi, cairan, dan elektrolit


Kriteria:
1. Menyiapkan peralatan dalam dressing car ya  tidak 
2. Menyiapkan cairan infus/makanan/darah ya  tidak 
3. Memberikan penjelasan pada klien ya  tidak 
4. Mencocokkan jenis cairan/darah/diet makanan ya  tidak 
5. Mengatur posisi klien ya  tidak 
6. Melakukan pemasangan infus/darah/makanan ya  tidak 
7. Mengobservasi reaksi klien ya  tidak 

C. Memenuhi kebutuhan eliminasi


Kriteria:
1. Menyiapkan alat pemberian huknah/gliserin/
dulcolak dan peralatan pemasangan kateter ya  tidak 
2. Memerhatikan suhu cairan/ukuran kateter ya  tidak 
3. Menutup pintu dan memasang selimut ya  tidak 
4. Mengobservasi keadaan feses/urine ya  tidak 
5. Mengobservasi reaksi klien ya  tidak 

D. Memenuhi kebutuhan keamanan


Kriteria:
1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan ya  tidak 
2. Memakai handschooen pada tindakan pemasangan
alat keperawatan ya  tidak 
3. Memasang alat pengaman pada klien tidak sadar/gelisah ya  tidak 
4. Penerangan ruangan/cahaya cukup terang ya  tidak 
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 229

Contoh 6

E. Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik


Kriteria:
1. Memandikan klien yang tidak sadar/kondisi
yang lemah ya o tidak o
2. Mengganti alat-alat tenun sesuai kebutuhan/kotor ya o tidak o
3. Merapikan alat-alat klien ya o tidak o

F. Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur


Kriteria:
1. Mengatur posisi yang nyaman pada klien ya o tidak o
2. Menjaga kebersihan lingkungan ya o tidak o
3. Mengatur jam berkunjung ya o tidak o

G. Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani


Kriteria:
1. Melakukan latihan gerak pada klien tidak sadar ya o tidak o
2. Melakukan mobilisasi pada klien pascaoperasi ya o tidak o

H. Memenuhi kebutuhan spiritual


Kriteria:
1. Memotivasi klien untuk berdoa ya o tidak o
2. Membantu klien beribadah ya o tidak o

I. Memenuhi kebutuhan emosional


Kriteria:
1. Melaksanakan orientasi pada klien baru ya o tidak o
2. Memberikan penjelasan tentang tindakan
yang akan dilakukan ya o tidak o
3. Memerhatikan setiap keluhan klien ya o tidak o

J. Memenuhi kebutuhan komunikasi


Kriteria:
1. Memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana ya o tidak o
2. Memerhatikan pesan-pesan klien ya o tidak o

K. Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis


Kriteria:
1. Mengobservasi tanda vital sesuai kebutuhan ya o tidak o
2. Melakukan tes alergi pada pemberian obat baru ya o tidak o
3. Mengobservasi reaksi klien ya o tidak o
230 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 6

FORMAT PENILAIAN PELAKSANAAN KERJA PERAWAT

Nomor perawat (kode) : (L/P)


Penilai (kode) :
Jabatan penilai :
Ruang :
Hari/tanggal :
Petunjuk :
Berilah tanda (√) pada angka :

4 Bila telah dilakukan sepenuhnya dengan tepat


3 Bila dilakukan sepenuhnya namun tidak tepat
2 Bila dilaksanakan hanya sebagian
1 Bila hanya sedikit yang dilaksanakan
0 Bila tidak dikerjakan sama sekali

Skor
No Hal-hal yang dinilai
0 1 2 3 4
PENGKAJIAN
1 Melaksanakan pengkajian pada klien saat klien masuk rumah sakit
2 Melengkapi format catatan pengkajian klien (buku status klien) dengan tepat
3 Menilai kondisi klien secara terus-menerus
4 Menilai kebutuhan akan klien/keluarga
5 Membuat prioritas masalah

PERENCANAAN
6 Membuat rencana perawatan berdasarkan kebutuhan klien
7 Bekerja sama dengan anggota tim kesehatan yang lain dalam merencanakan
perawatan
8 Membuat penjadwalan dalam melaksanakan rencana perawatan

IMPLEMENTASI
9 Memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh/holistik pada klien yang
menjadi tanggung jawabnya
10 Menghormati martabat dan rahasia klien
11 Mampu berfungsi secara cepat dan tepat dalam situasi kegawatan
12 Melaksanakan program pendidikan kepada klien dan keluarga
13 Bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain dalam memberikan asuhan
keperawatan
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 231

Contoh 6

Skor
No Hal-hal yang dinilai
0 1 2 3 4
EVALUASI
14 Mengevaluasi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai kebutuhan klien
15 Mengevaluasi praktik keperawatan dengan dibandingkan standar keperawatan
16 Evaluasi dilakukan secara terus-menerus

KETerampilAN KOMUNIKASI
17 Berkomunikasi dengan baik dengan rekan sekerja dan anggota tim perawatan
kesehatan lainnya
18 Mencatat pesanan secara akurat
19 Menanggapi dengan tepat terhadap permintaan dan pertanyaan klien/keluarga

HARAPAN INSTITUSI DAN PROFESI


20 Turut mendukung kebijakan, visi, dan misi rumah sakit
21 Terus-menerus membuat dan memperluas pengetahuan dan keterampilan pribadi
22 Menghadiri penyuluhan/seminar/lokakarya yang berhubungan dengan perawatan
setiap ada acara tersebut
23 Mau berbagi pengetahuan dengan sesama rekan kerja
24 Berpartisipasi dalam panitia keperawatan dan aktivitas lain yang memajukan
pertumbuhan dan perkembangan keperawatan
25 Berpartisipasi dalam belajar pengalaman untuk mahasiswa perawat
26 Membantu orientasi pegawai baru
27 Metampakkan penampilan profesional
28 Bersikap disiplin dalam berbagai perbuatan
29 Melakukan tugas-tugas sebagaimana yang diperlukan
232 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 7

PENAMPILAN DOSEN KEPERAWATAN


MENURUT PENILAIAN MAHASISWA

1. Kemampuan profesional BS B C K Kode

a Penguasaan materi (bahan) yang diajarkan

b Sistematika penyajian materi

c Cara/metode mengajar

d Persiapan mengajar

e Kemampuan membuat media pengajaran

f Kemampuan menggunakan media pengajaran

g Pengaturan ruang belajar

Berilah tanda centang (√) pada kolom yang telah disediakan sesuai pendapat Anda
Ya Tidak
a Sebelum memulai pelajaran guru menjelaskan tujuan pembelajaran

b Merangkum/membuat kesimpulan pada akhir perkuliahan

c Soal-soal yang diujikan relevan dengan materi yang diajarkan

2. Hubungan interpersonal dengan siswa

a Dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif

b Dapat membangkitkan motivasi belajar siswa (hasrat belajar siswa)

c Membatasi hubungan dengan siswa (menjaga jarak)


Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 233

Contoh 7

d Memberikan kebebasan untuk mengajukan pendapat dan pertanyaan

e Menghargai siswa

f Respek terhadap permasalahan yang dialami siswa

g Membeda-bedakan status siswa

h Bersikap adil

i Ada feedback dari guru untuk setiap tugas yang diberikan pada siswa

j Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan perasaannya

3. Kualitas personel

a Pengetahuan/pengalaman/wawasan yang berkaitan dengan bahan yang diajarkan

b Cara berkomunikasi/berbicara

c Semangat/gairah mengajar

d Penampilan/kerapian/kebersihan

e Kontrol diri saat marah

f Keluwesan/fleksibilitas
234 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 7

g Rasa humor

h Kejujuran

i Kemampuan memberi kritik

j Kemampuan menerima kritik dari siswa

k Menciptakan kreativitas mengajar

l Penggunaan bahasa yang tepat dalam mengajar

Keterangan :
BS = Baik Sekali
B = Baik
C = Cukup
K = Kurang
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 235

Contoh 8

BECK DEPRESSION INVENTORY (BDI)

Petunjuk : Pilihlah satu pernyataan dalam masing-masing kelompok yang paling melukiskan
perasaan Anda pada pekan lalu, termasuk hari ini. Berilah tanda silang pada kotak yang terdapat
disamping pertanyaan yang Anda pilih.

Setelah suami/istri saya meninggal, sampai sekarang:

1.  0. Saya tidak merasa sedih.


 1. Saya merasa sedih.
 2. Saya merasa sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat menghilangkannya.
 3. Saya begitu sedih sehingga saya merasa tidak tahan lagi.
2.  0. Saya tidak berkecil hati terhadap masa depan saya.
 1. Saya merasa berkecil hati terhadap masa depan saya.
 2. Saya merasa tidak ada sesuatu yang saya nantikan.
 3. Saya merasa bahwa tidak ada harapan di masa depan, segala sesuatunya tidak dapat
diperbaiki.

3.  0. Saya tidak merasa gagal.


 1. Saya merasa lebih banyak mengalami kegagalan daripada orang lain.
 2. Kalau saya meninjau kembali hidup saya, yang dapat saya lihat hanyalah
kegagalan.
 3. Saya merasa sebagai seorang pribadi yang gagal total.

4.  0. Saya memperoleh kepuasan atas segala sesuatu seperti biasanya.


 1. Saya tidak dapat menikmati segala sesuatu seperti biasanya.
 2. Saya tidak lagi memperoleh kepuasan yang nyata dari segala sesuatu.
 3. Saya merasa tidak puas atau bosan terhadap apa saja.

5.  0. Saya tidak merasa bersalah.


 1. Saya cukup sering merasa bersalah.
 2. Saya sering merasa sangat bersalah.
 3. Saya merasa bersalah sepanjang waktu.

6.  0. Saya tidak merasa bahwa saya sedang dihukum.


 1. Saya merasa bahwa saya mungkin dihukum.
 2. Saya mengharapkan agar dihukum.
 3. Saya merasa bahwa saya sedang dihukum.
236 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 8

7.  0. Saya tidak merasa kecewa terhadap diri saya sendiri.


 1. Saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri.
 2. Saya merasa jijik terhadap diri saya sendiri.
 3. Saya membenci diri saya sendiri.

8.  0. Saya tidak merasa bahwa saya lebih buruk daripada orang lain
 1. Saya selalu mencela diri saya sendiri karena kelemahan/kekeliruan saya.
 2. Saya menyalahkan diri saya sendiri sepanjang waktu atas kesalahan-kesalahan
saya.
 3. Saya menyalahkan diri saya sendiri atas semua hal buruk yang terjadi.

9. 
0. Saya tidak mempunyai pikiran untuk bunuh diri.

1. Saya mempunyai pikiran untuk bunuh diri, tetapi saya tidak akan
melaksanakannya.
 2. Saya ingin bunuh diri.
 3. Saya bunuh diri kalau ada kesempatan.

10.  0. Saya tidak menangis lebih dari biasanya.


 1. Sekarang saya lebih banyak menangis daripada biasanya.
 2. Sekarang saya menangis sepanjang waktu.
 3. Saya biasanya dapat menangis, tetapi sekarang saya tidak dapat menangis meskipun
saya ingin menangis.

11.  0. Sekarang saya tidak merasa lebih jengkel daripada sebelumnya.


 1. Saya lebih mudah jengkel/marah daripada biasanya.
 2. Saya sekarang merasa jengkel sepanjang waktu
 3. Saya tidak dibuat jengkel oleh hal-hal yang biasanya menjengkelkan saya.

12.  0. Saya masih tetap senang bergaul dengan orang lain.


 1. Saya kurang berminat terhadap orang lain dibanding biasanya.
 2. Saya kehilangan sebagian besar minat saya terhadap orang lain.
 3. Saya telah kehilangan seluruh minat saya terhadap orang lain.

13. 
0. Saya mengambil keputusan-keputusan sama baiknya dengan sebelumnya.

1. Saya lebih banyak menunda keputusan daripada biasanya.

2. Saya mempunyai kesulitan yang lebih besar dalam mengambil keputusan daripada
sebelumnya.
 3. Saya sama sekali tidak dapat mengambil keputusan apapun.
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 237

Contoh 8

14. 
0. Saya tidak merasa bahwa saya kelihatan lebih jelek daripada biasanya.

1. Saya merasa cemas jangan-jangan saya tua dan tidak menarik.

2. Saya merasa ada perubahan-perubahan tetap pada penmapilan saya yang membuat
saya kelihatan tidak menarik.
 3. Saya yakin bahwa saya kelihatan jelek.

15.  0. Saya dapat bekerja dengan baik sebelumnya.


 1. Saya membutuhkan usaha istimewa untuk mulai mengerjakan sesuatu.
 2. Saya harus memaksa diri saya untuk mengerjakan sesuatu.
 3. Saya sama sekali tidak dapat mengerjakan apa-apa.

16.  0. Saya dapat tidur nyenyak seperti biasanya.


 1. Saya tidak dapat tidur nyenyak seperti biasanya.
 2. Saya bangun 2−3 jam lebih awal dari biasanya dan sukar tidur kembali.
 3. Saya bangun beberapa jam lebih awal dari biasanya dan tidak dapat tidur
kembali.

17.  0. Saya tidak lebih mudah lelah daripada biasanya


 1. Saya lebih mudah lelah dari biasanya.
 2. Saya hampir selalu merasa lelah dalam mengerjakan sesuatu.
 3. Saya merasa terlalu lelah untuk mengerjakan apa-apa.

18.  0. Nafsu makan saya masih seperti biasanya.


 1. Nafsu makan saya tidak sebesar biasanya.
 2. Sekarang nafsu makan saya jauh lebih berkurang.
 3. Saya tidak mempunyai nafsu makan sama sekali.

19. 
0. Saya tidak merencanakan kesehatan saya melebihi biasanya.

1. Saya cemas akan masalah kesehatan fisik saya.

2. Saya sangat cemas akan masalah kesehatan fisik saya dan sulit memikirkan hal-hal
lain.
 3. Saya begitu cemas akan kesehatan fisik saya sehingga saya tidak dapat berpikir
mengenai hal-hal lain.

20. 
0. Saya tidak merasa ada perubahan dalam minat saya terhadap seks pada akhir-
akhir ini.
 1. Saya kurang berminat terhadap seks kalau dibandingkan dengan sebelumnya.
 2. Sekarang saya sangat kurang berminat terhadap seks.
 3. Saya sama sekali kehilangan minat terhadap seks.
238 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 9
KUESIONER RESPONS PSIKOLOGIS–SOSIAL–SPIRITUAL (NURSALAM, 2005)

PETUNJUK PENGISIAN: BERILAH TANDA (✓) PADA PERNYATAAN

1. RESPONS PSIKOLOGIS

Tidak
Selalu Sering Kadang pernah
No Respons 4 3 2 1 kode
Menyangkal/denial (-)
1 Saya tidak percaya kalau saya menderita HIV
2 Saya berpikir hasil pemeriksaan dokter itu salah
3 Saya harus memeriksakan sakit saya ke dokter atau
orang pintar
4 Saya berusaha untuk merahasiakan sakit saya
kepada orang lain
5 Saya malu bila orang lain mengetahui sakit saya
Marah/anger (-)
1 Saya menyalahkan orang lain mengapa harus saya
yang menderita HIV
2 Saya menyalahkan Tuhan mengapa harus saya yang
menderita HIV
3 Saya marah bila orang lain mengetahui sakit saya
4 Saya menyalahkan tim medis karena kurang cepat
pengobatannya
5 Saya marah dan tersinggung jika ada orang lain yang
membicarakan sakit saya
Tawar-menawar/bargaining (-)
1 Saya berpikir seandainya bukan saya yang
menderita, tentu tidak akan jadi begini
2 Saya berpikir seandainya saya sembuh, saya akan
selalu menjaga kesehatan saya
3 Seandainya sakit saya tidak kambuh lagi, saya akan
berbuat baik dan beramal
4 Seandainya saya hidup teratur dan rajin kontrol maka
saya tidak akan sakit
5 Seandainya saya mengikuti nasihat dokter dan
keluarga saya tidak akan jatuh sakit
Depresi/depression (-)
1 Saya merasa sangat terpukul ketika diberitahu
penyakit saya
2 Saat ini saya merasa tidak berdaya
3 Saya merasa sedih dan menangis jika memikirkan
penyakit saya
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 239

Contoh 9

Tidak
Selalu Sering Kadang pernah
No Respons 4 3 2 1 kode
4 Saya merasa gagal dalam hidup karena tidak bisa
mencapai kebahagiaan
5 Saya kadang berpikir untuk bunuh diri dan mati
dengan tenang daripada mengalami HIV
Menerima/acceptance (-)
1 Saya saat ini berpikir akan menyerahkan sepenuhnya
kepada dokter/perawat tentang perawatan penyakit
saya
2 Saya telah menyediakan semua keperluan untuk
kesembuhan penyakit saya, tapi mana hasilnya
3 Saya tidak akan meminta penjelasan lagi kepada
dokter dan perawat tentang penyakit saya dan
kemungkinan kesembuhannya
4 Saya sudah pasrah dan tidak akan berusaha
semaksimal mungkin untuk kesembuhan
5 Saya berpikir bahwa penyakit yang saya derita adalah
musibah yang tiada akhirnya.

Setiap respons psikologis nilai maksimal adalah 20

2. RESPONS SOSIAL

No RESPONS SOSIAL SS S TS STS Kode


(4) (3) (2 (1)
1 Keluarga sangat berperan aktif dalam setiap pengobatan dan
perawatan sakit saya
2 Keluarga tetap mencintai dan memerhatikan keadaan selama saya
sakit
3 Hampir semua keluarga dan tetangga memaklumi bahwa sakit yang
saya alami sebagai suatu musibah
4 Keluarga memberi perhatian yang baik setiap saya membutuhkan
bantuan
5 Selama saya sakit, jika ada masalah saya sering bimbang dalam
bertindak
6 Saya mencemaskan keadaan penyakit saya yang tidak kunjung
membaik
7 Saya khawatir penyakit saya akan menular kepada keluarga
8 Saya mencemaskan biaya pengobatan penyakit saya yang banyak
9 Sejak dinyatakan positif HIV, istri/suami saya tidak bersedia
berhubungan suami/istri
10 Saya tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan keluarga dan kegiatan
sosial di kampung saya
240 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 9

No RESPONS SOSIAL SS S TS STS Kode


(4) (3) (2 (1)
11 Hampir semua orang sering menghindar jika berpapasan dengan
saya
12 Selama ini tokoh agama dan tokoh masyarakat kurang memberikan
dukungan pada penyakit saya
13 Selama ini hanya LSM yang peduli dan mendukung selama saya
sakit

E: Emosi = No. 1−4 (16) C: Cemas = No. 5−8 (14) S: Sosial (Interaksi sosial) = No. 9−3 (20)

RESPONS PENILAIAN PASIEN TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA (SOSIAL)

No Dukungan Kadang- Tdk


Selalu Sering kadang Pernah Kode
(3) (2) (1) (0)
DUKUNGAN EMOSIONAL & PENGHARGAAN
1 Keluarga selalu mendampingi saya dalam perawatan
2 Keluarga selalu memberi pujian dan perhatian kepada saya
3 Keluarga tetap mencintai dan memerhatikan keadaan saya
selama saya sakit
4 Keluarga dan tetangga memaklumi bahwa sakit yang saya
alami sebagai suatu musibah
DUKUNGAN FASILITAS
1 Keluarga selalu menyediakan waktu dan fasilitas jika saya
memerlukan untuk keperluan pengobatan
2 Keluarga sangat berperan aktif dalam setiap pengobatan
dan perawatan sakit saya
3 Keluarga bersedia membiayai biaya perawatan dan
pengobatan
4 Keluarga selalu berusaha untuk mencarikan kekurangan
sarana dan peralatan perawatan yang saya perlukan

DUKUNGAN INFORMASI/PENGETAHUAN
1 Keluarga selalu memberitahu tentang hasil pemeriksaan
dan pengobatan dari dokter yang merawat kepada saya
2 Keluarga selalu mengingatkan saya untuk kontrol, minum
obat, latihan, dan makan
3 Keluarga selalu mengingatkan saya tentang perilaku-
perilaku yang memperburuk penyakit saya
4 Keluarga selalu menjelaskan kepada saya setiap saya
bertanya hal-hal yang tidak jelas tentang penyakit saya
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 241

Contoh 9
3. RESPONS SPIRITUAL (10 × 3) = 30

Tidak
Selalu Sering Kadang pernah
No Pertanyaan 3 2 1 0 Kode
1 Saya percaya tanpa bantuan Tuhan saya tidak
mungkin sembuh
2 Selama dirawat di rumah sakit saya menggunakan
waktu lebih banyak untuk mendekatkan diri pada
Tuhan
3 Saya yakin dengan usaha keras, sakit yang saya
alami bisa disembuhkan
4 Dengan berdoa saya mendapat semangat untuk
tabah menanggung sakit
5 Kalau saya banyak berdoa saya merasa tenang
dan damai
6 Saya tetap sabar menghadapi cobaan berupa sakit
ini
7 Saya merasa hidup lebih berarti kalau saya tabah
dalam menghadapi cobaan
8 Saya merasa sakit yang saya alami merupakan
peringatan dari Tuhan
9 Sakit yang saya alami merupakan cara dari Tuhan
agar bisa menerima dan memahami diri dan orang
lain
10 Saya percaya bahwa di balik penderitaan ini pasti
ada hikmahnya

Harapan: 1−3 (9); Tabah/Sabar: 4−7 (12); Hikmah: 8−10 (9)


242 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 9
PEDOMAN WAWANCARA/INTERVIU
DAN OBSERVASI PADA PASIEN HIV

DATA BIOLOGIS, PSIKOLOGIS, SOSIAL, SPIRITUAL.

No Variabel Parameter Pertanyaan dan observasi


1 Biologis 1. Cortisol
(IMUN) 2. IFNλ
3. CD4
4. Anti-HIV
2 Psikologis 1. Menyangkal 1. Bagaimana tanggapan Anda ketika pertama kali mendengar
(denial) hasil-hasil pemeriksaan dan penyakit yang Anda derita?
2. Marah (anger) 1. Bagaimana tanggapan Anda bila ada orang yang membicarakan
sakit Anda?
2. Menurut Anda, penyakit ini Anda derita karena salah siapa?
3. Tawar-menawar 1. Andaikata Anda sembuh, apa yang hendak dilakukan atau
(bargaining) punya niat apa?
4. Depresi 1. Adakah perasaan tertekan dengan kondisi saat ini?
2. Bagaimana perasaan Anda bila ingat penyakit dan pengobatan
yang harus Anda jalani?
5. Menerima 1. Apakah Anda bisa menerima apa pun kondisi Anda saat ini dan
yang akan datang?
3 Respons Sosial 1. Emosi Apa yang Anda rasakan terhadap perasaan dicintai, dihargai,
diperhatikan oleh keluarga atau tetangga?
2. Cemas Apa yang Anda cemaskan dengan penyakit ini? (biaya,
kesembuhan?)
2. Interaksi sosial Bagaimanakah interaksi Anda dengan keluarga serumah, tetangga,
dan masyarakat?
Dukungan 1. Dukungan Emosi & 1. Adakah orang yang paling dekat dengan Anda? Siapa?
Sosial Pengharga an 2. Apakah dia selalu menjaga atau mengunjungi?
3. Bagaimana tanggapan mereka terhadap Anda yang sedang
sakit?
4. Apakah keluarga tetap menghormati Anda bagaimanapun
keadaannya?
5. Apakah keluarga memberi pujian bila Anda berhasil dalam
latihan?
2. Instrumen 1. Siapa yang membiayai pengobatan?
2. Apakah keluarga bersedia membelikan alat bantu bila
dibutuhkan?
3. Informasi 1. Apakah keluarga berusaha mencari tahu keadaan Anda?
2. Apakah keluarga mengingatkan Anda, seperti kontrol, minum
obat, aktivitas, dan diet, agar Anda cepat sembuh?
4 Spiritual 1. Harapan yg 1. Bagaimana harapan Anda terhadap kesembuhan penyakit yang
realistis Anda alami?
2. Tabah dan sabar 1. Bagaimanakah kesabaran Anda terhadap penyakit yang Anda
alami?
3. Pandai mengambil 1. Apakah Anda berpikir bahwa dengan sakit ini, ada hikmah
hikmah dibaliknya?
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 243

Contoh 10
KLASIFIKASI TINGKAT KETERGANTUNGAN KLIEN
(BERDASARKAN TEORI OREM: DEFISIT PERAWATAN DIRI)

NO KLASIFIKASI DAN KRITERIA YA TIDAK KET


I. MINIMAL CARE
1 Klien bisa mandiri/hampir tidak memerlukan bantuan
1. Mampu naik-turun tempat tidur
2. Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
3. Mampu makan dan minum sendiri
4. Mampu mandi sendiri/mandi sebagian dengan bantuan
5. Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6. Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7. Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
2 Status psikologis stabil
3 Klien dirawat untuk prosedur diagnostik
4 Operasi ringan

II PARTIAL CARE
1 Klien memerlukan bantuan perawat sebagian
1. Membutuhkan bantuan 1 orang untuk naik-turun tempat tidur
2. Membutuhkan bantuan untuk ambulasi/berjalan
3. Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
4. Membutuhkan bantuan untuk makan (disuap)
5. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
6. Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
7. Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/kamar mandi)
2 Pascaoperasi minor (24 jam)
3 Melewati fase akut dari pascaoperasi mayor
4 Fase awal dari penyembuhan
5 Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
244 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 10

NO KLASIFIKASI DAN KRITERIA YA TIDAK KET


III TOTAL CARE
1 Klien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu
perawat yang lebih lama
1. Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke
kursi roda
2. Membutuhkan latihan pasif
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena (infus)
atau NG Tube (sonde)
4. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
5. Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6. Dimandikan perawat
7. Dalam keadaan inkontinensia, menggunakan kateter
2 Klien tidak sadar
3 Keadaan klien tidak stabil
4 Observasi TTV setiap kurang dari 8 jam
5 Perawatan luka bakar
6 Perawatan kolostomi
7 Menggunakan alat bantu pernapasan (respirator)
8 Menggunakan WSD
9 Irigasi kandung kemih secara terus-menerus
10 Menggunakan alat traksi (skeletal traksi)
11 Faktur dan atau pascaoperasi tulang belakang/leher
12 Gangguan emosional berat, bingung, dan disorientasi
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 245

Contoh 11
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN
TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA

Jawablah dengan memberi tanda (√) pada pilihan yang Anda anggap tepat!

A. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan pada lansia

1. Apakah keluarga menganggap kebiasaan lansia seperti Anda suka menyendiri,


murung, atau sedih sebagai suatu hal yang tidak wajar?
Tidak Ya
2. Apakah keluarga menganggap keluhan lansia seperti tidak bisa tidur, nafsu makan
turun, atau tidak mau makan sebagai hal yang tidak wajar?
Tidak Ya
3. Apakah keluarga tahu atau memerhatikan bila lansia menjadi kehilangan minat/
gairah dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukannya?
Tidak Ya
4. Apakah keluarga menganggap sosialisasi pada lansia seperti membina hubungan
dengan orang lain/tetangga, bercakap-cakap dengan orang yang sebaya, ikut
dalam suatu perkumpulan lansia masih perlu/penting bagi lansia?
Tidak Ya
5. Apakah keluarga menganggap pemenuhan kebutuhan spiritual seperti
melaksanakan ibadah/kegiatan spiritual lain merupakan hal yang masih perlu
diperhatikan dalam kehidupan lansia?
Tidak Ya

B. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat pada lansia

1. Apakah keluarga pernah memberikan aktivitas seperti senam atau kegiatan lain
sesuai kemampuan fisik lansia untuk mempertahankan kebugaran tubuhnya?

Tidak Ya
2. Apakah keluarga menganggap lansia memerlukan tempat tinggal tertentu, seperti
kamar/ruangan khusus untuk lansia?

Tidak Ya
246 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 11
3. Apakah keluarga tahu aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh lansia,
seperti memberi kesempatan kepada lansia untuk beraktivitas sesuai dengan hobi
lansia?
Tidak Ya
4. Apakah keluarga tahu makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh
lansia?
Tidak Ya
5. Apakah keluarga memandang perlu untuk meminta pendapat kepada lansia
terhadap suatu permasalahan?
Tidak Ya

C. Memberikan perawatan kepada lansia yang sakit


Pertanyaan 1−5 di bawah ini ditanyakan pada keluarga bila lansia sakit.

1. Apakah lansia sering mengubah posisi miring kiri-kanan untuk mencegah luka
tekan?
Tidak Ya
2. Apakah keluarga pernah melakukan latihan berkemih pada lansia bila lansia
sering mengompol?
Tidak Ya
3. Apakah keluarga pernah melatih otot-otot lengan dan kaki bila lansia tidak mampu
bergerak sendiri?

Tidak Ya
4. Apakah keluarga selalu/pernah membantu lansia dalam merawat diri seperti
mandi, berpakaian, kebersihan diri?
Tidak Ya
5. Adakah orang lain yang menemani/merawat lansia selain keluarga?

Tidak Ya
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 247

Contoh 11
D. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian lansia

1. Apakah keluarga mampu menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk keperluan


sehari-hari lansia seperti perlengkapan makan, mandi, dan perlengkapan untuk
merawat diri?
Tidak Ya
2. Apakah keluarga mampu menyiapkan dan mengatur jenis-jenis makanan,
menyuapi atau membujuk untuk makan bila lansia tidak mau makan?

Tidak Ya
3. Dalam berkomunikasi apakah keluarga berbicara pelan-pelan dengan suara agak
keras tetapi tetap sopan?

Tidak Ya
4. Apakah keluarga mampu meluangkan waktunya untuk bercakap-cakap bila lansia
sedang sendiri/diam saja?
Tidak Ya
5. Apakah keluarga mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi lansia? (kamar
dan tempat tidur bersih, cukup luas, penerangan cukup, tidak licin, serta terhindar
dari perabotan/benda tajam)?
Tidak Ya

E. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga


kesehatan

1. Apakah keluarga merasakan manfaat dengan adanya lansia di keluarga?


Tidak Ya
2. Apakah keluarga memandang perlu mengajak lansia berobat ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang diinginkannya?
Tidak Ya
3. Apakah keluarga memberi kesempatan kepada lansia untuk memilih sendiri
fasilitas kesehatan yang diinginkan?
Tidak Ya
248 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 11
4. Apakah keluarga tahu jadwal berobat/kontrol lansia di klinik/rumah sakit?
Tidak Ya
5. Apakah keluarga tahu obat-obat yang diminum lansia saat ini?
Tidak Ya

Penilaian:
Masing-masing pertanyaan pada masing-masing item mempunyai skor 1 untuk jawaban
ya dan skor 0 untuk jawaban tidak.

• Skor maksimal = 25
• Skor < 10 = dukungan keluarga kurang
• Skor 11−15 = dukungan keluarga sedang
• Skor 16−25 = dukungan keluarga baik

SKALA DEPRESI GERIATRIK (GDS 15)

Pilihlah jawaban yang paling tepat, yang sesuai dengan perasaan Anda dalam satu minggu
terakhir!

1. Apakah Anda sebenarnya puas dengan kehidupan Anda?


Tidak Ya
2. Apakah Anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan
Anda?

Tidak Ya
3. Apakah Anda merasa kehidupan Anda kosong?
Tidak Ya
4. Apakah Anda sering merasa bosan?
Tidak Ya
5. Apakah Anda mempunyai semangat yang baik setiap saat?
Tidak Ya
6. Apakah Anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Anda?
Tidak Ya
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 249

Contoh 11
7. Apakah Anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup Anda?
Tidak Ya
8. Apakah Anda sering merasa tak berdaya?
Tidak Ya
9. Apakah Anda lebih senang tinggal di rumah daripada keluar dan mengerjakan sesuatu
hal yang baru?
Tidak Ya
10. Apakah Anda merasa mempunyai banyak masalah dengan daya ingat Anda
dibandingkan kebanyakan orang?
Tidak Ya
11. Apakah Anda pikir bahwa hidup Anda sekarang ini menyenangkan?
Tidak Ya
12. Apakah Anda tidak merasa berharga seperti perasaan Anda saat ini?
Tidak Ya
13. Apakah Anda merasa penuh semangat?
Tidak Ya
14. Apakah Anda merasa keadaan Anda tidak ada harapan?
Tidak Ya
15. Apakah Anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya dari Anda?
Tidak Ya

Penilaian:
Jawaban yang mengindikasikan depresi adalah pilihan jawaban yang dicetak tebal dan
miring. Berikan nilai 1 untuk masing-masing jawaban yang dicetak tebal dan miring.

• Skor < 5 menunjukkan tidak depresi


• Skor antara 5−9 menunjukkan kemungkinan besar depresi
• Skor 10 atau lebih menunjukkan depresi

Sumber: Pitt, B (1988) & Lovestone (1999).


250 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 12
Kebutuhan PsikoSOsial Keluarga—CCFNI (Critical Care Family Need
Inventory) OLEH MOTTER & LESKE, 1996

NO KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL Tidak Kurang Penting Sangat Kode


penting penting penting
INFORMASI
1. Mengetahui perkembangan penyakit anak
2. Mengetahui mengapa tindakan tertentu dilakukan pada
anak saya
3. Mengetahui kondisi sesungguhnya mengenai
perkembangan penyakit
4. Mengetahui bagaimana kondisi anak saya setelah
dilakukan tindakan/pengobatan
5. Mendapat informasi paling sedikit sehari sekali
6. Pemberitahuan tentang rencana pindah/keluar dari
ruangan
7. Mendapatkan penjelasan tentang peraturan di ruang ICU

DUKUNGAN MENTAL
1. Mendapatkan jawaban yang tepat dari petugas
2. Merasa ada personel ruang ICU yang memerhatikan saya
3. Berkonsultasi tentang kondisi anak setiap hari dengan
dokter/perawat yang merawat
4. Ada pelayanan rohaniwan di ruang ICU

RASA NYAMAN
1. Mengetahui bahwa anak saya masih bisa mendengarkan
dan mengenali suara saya
2. Ada pemberitahuan ke rumah bila ada perubahan kondisi
secara mendadak pada anak saya
3. Mempunyai kenyamanan dengan peralatan yang ada di
ruang tunggu
4. Mempunyai waktu khusus/istimewa saat menjenguk anak
5. Ada jam kunjung yang tepat waktu

KEDEKATAN DENGAN ANAK


1. Dapat melihat/menjenguk anak di Ruang ICU secara
teratur
2. Bercakap/konsultasi dengan perawat yang sama tentang
anak setiap hari
3. Membantu merawat fisik anak (membersihkan, menyeka,
menyisir rambut, dan lain-lain)
4. Membantu memberi dukungan mental kepada anak saya
di ruang ICU
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 251

Contoh 12

NO KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL Tidak Kurang Penting Sangat Kode


penting penting penting
JAMINAN PELAYANAN
1. Merasakan ada harapan tentang kesembuhan anak
2. Mengetahui bahwa semua tindakan yang dilaksanakan
bertujuan mengurangi/menyembuhkan penyakit anak
saya
3. Mempunyai makanan yang terbaik bermutu untuk anak
saya
4. Ada jaminan bahwa perawatan terbaik telah diberikan
kepada anak saya
5. Perlindungan diri dari anak
252 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 13
PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP SOSIALISASI
SELAMA DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

PROSEDUR BERMAIN DOKTER-DOKTERAN

1. Memberitahukan kepada anak dan orang tua bahwa akan diadakan bermain dokter-
dokteran
2. Menyiapkan dan membawa alat-alat ke dekat tempat tidur klien
3. Menganjurkan anak untuk berkenalan dengan teman bermain lainnya
4. Membagi peran (dokter, perawat, klien)
5. Membuka pembungkus permainan
6. Memperkenalkan alat permainan dokter-dokteran
7. Memperkenalkan fungsi dari masing-masing alat permainan
8. Memperagakan cara menggunakan masing-masing alat
9. Memberi kesempatan anak untuk memegang alat-alat
10. Memberi kesempatan anak untuk memperagakan
11. Mempersilakan orang tua untuk mendampingi dan membantu anak
memperagakan
12. Mengakhiri permainan dan menjelaskan kontrak bermain berikutnya

OBSERVASI SOSIALISASI

No SOSIALISASI Selalu Sering Kadang Tidak


pernah
1. Kerja sama dengan teman dan petugas yang akan melakukan
tindakan
2. Memberi/meminjamkan barang dan makanan kepada teman
lainnya
3. Mengajak bicara dengan teman dan petugas
4. Sikap peduli terhadap teman (membantu jika ada teman yang
memerlukan bantuan)
5. Mengalah kepada teman
6. Berbicara baik dan tidak marah-marah
7. Emosi stabil (menangis, tertawa)
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 253

Contoh 14
PERUBAHAN PEMENUHAN KEBUTUHAN Eliminasi URINE SEBELUM DAN
SESUDAH LATIHAN KEGEL

Berilah tanda silang (×) pada kotak yang telah disediakan sesuai dengan jawaban Anda.

No Responden:

A . Data Demografi

1. Jenis kelamin :

1)
Laki–laki

2) Perempuan

2. Pendidikan :

1) Tidak sekolah

2) SD

3) SMP

4) SMA

5) Pendidikan Tinggi

3. Umur :

1) 45−55 tahun

2) 56−65 tahun

3) 66−75 tahun

4) 75 tahun
254 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 14

4. Status perkawinan :

1) Tidak kawin

2) Janda/Duda

3) Kawin

5. Lama menghuni panti wreda :

1) 0−5 tahun

2) 6−10 tahun

3) Lebih dari 10 tahun

6. Pekerjaan sebelum menghuni panti wreda :



1) Tidak bekerja

2) Pensiunan

3) Petani

4) Nelayan

5) Wiraswasta

6) Lain-lain

7. Agama/kepercayaan :

1) Islam

2) Kristen

3) Hindu

4) Budha

5) Lain-lain
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 255

Contoh 14

8. M
inuman yang diminum dalam minggu ini :

1) Teh

2) Kopi

3) Susu

4) Minuman beralkohol

5) Air putih

9. Obat-obat yang diminum dalam minggu ini :

1) Chlorothiazide

2) Furozemide

3) Ethacimyc acid

10. Riwayat penyakit atau penyakit yang pernah diderita :

1) DM

2) Jantung

3) BPH

4) Infeksi Saluran Perkemihan


256 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 14
B. Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Urine
No Daftar Pernyataan Ya Tidak Kode

1. Apakah ada perasaan sulit menahan kencing saat membuang air kecil?

2. Apakah Anda pernah mengeluarkan urine padahal Anda tidak ingin


berkemih?

3. Apakah Anda mengalami kesulitan untuk memulai mengeluarkan air


kecil?

4. Apakah Anda merasa adanya rangsangan untuk membuang air kecil?

5. Apakah Anda mengompol pada malam hari?

6. Apakah Anda membuang air kecil pada malam hari lebih dari 4 kali?

7. Apakah Anda membuang air kecil setiap jam atau kurang dari 1 jam?

8. Apakah Anda mengompol saat batuk atau tertawa?

9. Apakah saat Anda membuang air kecil keluarnya menetes?

10. Apakah Anda merasa nyeri saat atau setelah membuang air kecil?
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 257

Contoh 15
TINGKAT KECEMASAN—HARS (HAMILTON ANXIETY RATING SCALE)

A. Penilaian :
0: Tidak ada (tidak ada gejala sama sekali)
1: Ringan (satu gejala dari pilihan yang ada)
2: Sedang (separuh dari gejala yang ada)
3: Berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada)
4: Sangat berat (semua gejala ada)

B. Penilaian Derajat Kecemasan


Skor < 6 (tidak ada kecemasan)
6−14 (kecemasan ringan)
15−27 (kecemasan sedang)
> 27 (kecemasan berat)

III. B
erilah tanda (√) jika terdapat gejala yang terjadi selama menderita kanker serviks
(dimulai dari diagnosis kanker serviks)

1) Perasaan cemas


Firasat buruk


Takut akan pikiran sendiri


Mudah tersinggung

2) Ketegangan


Merasa tegang


Lesu


Mudah terkejut


Tidak dapat istirahat dengan nyenyak


Mudah menangis


Gemetar


Gelisah
258 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 15

3) Ketakutan


Pada gelap


Ditinggal sendiri


Pada orang asing


Pada binatang besar


Pada keramaian lalu lintas


Pada kerumunan banyak orang

4) Gangguan tidur


Sukar memulai tidur


Terbangun malam hari


Tidak pulas


Mimpi buruk


Mimpi yang menakutkan

5) Gangguan kecerdasan


Daya ingat buruk


Sulit berkonsentrasi


Sering bingung

6) Perasaan Depresi


Kehilangan minat


Sedih
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 259

Contoh 15


Bangun dini hari


Berkurangnya kesukaan pada hobi


Perasaan berubah-ubah sepanjang hari

7) Gejala somatik (otot-otot)


Nyeri otot


Kaku


Kedutan otot


Gigi gemeretak


Suara tak stabil

8) Gejala sensorik


Telinga berdengung


Penglihatan kabur


Muka merah dan pucat


Merasa lemah


Perasaan ditusuk-tusuk

9) Gejala kardiovaskular


Denyut nadi cepat


Berdebar-debar


Nyeri dada


Denyut nadi mengeras
260 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 15


Rasa lemah seperti mau pingsan


Detak jantung hilang sekejap

10) Gejala pernapasan


Rasa tertekan di dada


Perasaan tercekik


Merasa napas pendek/sesak


Sering menarik napas panjang

11) Gejala gastrointestinal


Sulit menelan


Mual muntah


Berat badan menurun


Konstipasi/sulit buang air besar


Perut melilit


Gangguan pencernaan


Nyeri lambung sebelum/sesudah makan


Rasa panas di perut


Perut terasa penuh/kembung

12) Gejala urogenitalia


Sering kencing


Tidak dapat menahan kencing
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 261

Contoh 15


Amenor/menstruasi yang tidak teratur


Frigiditas

13) Gejala vegetatif/otonom


Mulut kering


Muka kering


Mudah berkeringat


Pusing/sakit kepala


Bulu roma berdiri

14) Apakah Ibu merasakan


Gelisah


Tidak terang


Mengerutkan dahi muka tegang


Tonus/ketegangan otot meningkat


Napas pendek dan cepat


Muka merah

Jumlah skor: …………………

Kesimpulan :  Tidak ada kecemasan




 Kecemasan ringan


 Kecemasan sedang


 Kecemasan berat
262 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 15a

PENILAIAN TINGKAT KECEMASAN

Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS) adalah penilaian kecemasan pada pasien dewasa yang dirancang oleh
William WK Zung, dikembangkan berdasar gejala kecemasan dalam DSM-II (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders). Terdapat 20 pertanyaan, di mana setiap pertanyaan dinilai 1–4 (1: tidak pernah, 2: kadang-kadang, 3: sebagian
waktu, 4: hampir setiap waktu. Terdapat lima belas pertanyaan ke arah peningkatkan kecemasan dan lima pertanyaan ke
arah penurunan kecemasan. (Zung Self-Rating Anxiety Scale [SAS/SRAS] dalam Ian Mcdowell [2006].)

Rentang penilaian 20–80, dengan pengelompokan sebagai berikut.

• Skor 20–44 → Normal/tidak cemas


• Skor 45–59 → Kecemasan ringan
• Skor 60–74 → Kecemasan sedang
• Skor 75–80 → kecemasan berat

Lingkarilah untuk setiap item yang paling menggambarkan seberapa sering Anda merasa atau berperilaku seperti
beberapa pernyataan di bawah ini.

Hampir
Tidak Kadang- Sebagian
No Pernyataan setiap
pernah kadang waktu
waktu
1 Saya merasa lebih gugup dan cemas dari biasanya. 1 2 3 4
2 Saya merasa takut tanpa alasan sama sekali. 1 2 3 4
3 Saya mudah marah atau merasa panik. 1 2 3 4
4 Saya merasa seperti jatuh terpisah dan akan hancur 1 2 3 4
berkeping-keping.
5 Saya merasa bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak 4 3 2 1
ada hal buruk akan terjadi.
6 Lengan dan kaki saya gemetar. 1 2 3 4
7 Saya terganggu oleh nyeri kepala leher dan nyeri 1 2 3 4
punggung.
8 Saya merasa lemah dan mudah lelah. 1 2 3 4
9 Saya merasa tenang dan dapat duduk diam dengan 4 3 2 1
mudah.
10 Saya merasakan jantung saya berdebar-debar. 1 2 3 4
11 Saya merasa pusing tujuh keliling. 1 2 3 4
12 Saya telah pingsan atau merasa seperti itu. 1 2 3 4
13 Saya dapat bernapas dengan mudah. 4 3 2 1
14 Saya merasa jari-jari tangan dan kaki mati rasa dan 1 2 3 4
kesemutan.
15 Saya terganggu oleh nyeri lambung atau gangguan 1 2 3 4
pencernaan.
16 Saya sering buang air kecil. 1 2 3 4
17 Tangan saya biasanya kering dan hangat. 4 3 2 1
Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 263

Hampir
Tidak Kadang- Sebagian
No Pernyataan setiap
pernah kadang waktu
waktu
18 Wajah Saya terasa panas dan merah merona. 1 2 3 4
19 Saya mudah tertidur dan dapat istirahat malam dengan 4 3 2 1
baik.
20 Saya mimpi buruk. 1 2 3 4
264 Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian

Contoh 16
Dimensi Tingkat Kepuasan Klien terhadap
Pelayanan Keperawatan

No PERNYATAAN R JAWABAN KODE

SP P TP STP
Dimensi Reliability (Keandalan)
1. Anda percaya bahwa perawat yang merawat Anda
mampu menangani kasus Anda dengan tepat.
2. Secara keseluruhan pelayanan perawatan klien di rumah
sakit ini baik.
3. Perawat memberitahu dengan jelas, suatu hal yang harus
dipatuhi oleh klien tentang anjuran dalam perawatan.
4. Perawat mampu menangani masalah perawatan klien
dengan tepat dan profesional.
5. Perawat memberitahu dengan jelas sesuatu hal yang
dilarang demi perawatan klien.
6. Perawatan sudah diupayakan agar klien merasa puas
selama dirawat.

No PERNYATAAN A JAWABAN KODE

SP P TP STP

D Tingkat Assurance (Kepercayaan)

1. Pelayanan perawat membuat keluhan Anda makin


berkurang

2. Pelayanan perawatan klien sudah memenuhi standar


asuhan keperawatan.

3. Perawat di ruang rawat ini sudah profesional


Bagian 4: Contoh Penyusunan Instrumen Penelitian 265

Contoh 16

No PERNYATAAN T JAWABAN KODE


SP P TP STP
E Dimensi Emphaty (Empati)
1. Perawat membantu klien pada waktu BAK (Buang Air
Kecil/kencing).
2. Perhatian yang cukup tinggi kepada klien selalu diberikan
oleh perawat.
3. Perawat membantu klien pada waktu BAB (Buang Air
Besar).
4. Perawat selalu berusaha agar klien merasa puas dengan
kepedulian yang baik.
5. Perawat merawat klien dengan penuh kesabaran.

No PERNYATAAN E JAWABAN KODE


SP P TP STP
A X1: Dimensi Tangibles (Kenyataan)
1. Informasi tentang tarif sudah diberitahukan dengan jelas
oleh petugas perawat.
2. Prosedur pelayanan perawatan bagi klien rawat inap
sudah diterapkan dengan baik.
3. Perawat menjaga agar kondisi ruangan rawat inap selalu
bersih.
4. Perawat menjaga agar kondisi peralatan yang digunakan
selalu bersih.
5. Perawat menciptakan agar kondisi kamar mandi dan WC
bersih.

No PERTANYAAN R JAWABAN KODE


SP P TP STP
C X3:  Dimensi Responsiveness (Tanggung jawab)
1. Begitu Anda sampai di RS ini sebagai klien rawat inap,
perawat segera menangani Anda.
2. Perawat membantu Anda untuk memperoleh obat.
3. Perawat membantu Anda untuk memperoleh pelayanan
foto (radiologi) di RS ini.
4. Perawat membantu Anda dalam pelayanan laboratorium
di RS ini.
266 Bagian 4: Contoh