Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dasarnya sastra merupakan merupakan hasil karya cipta manusia. Di satu pihak, karya
sastra dibangun atas dasar rekaan, dienergisasikan oleh imajinasi, sehingga berhasil untuk
mengevokasi kenyataan-kenyataan, yang khususnya mengalami stagnasi sehingga tampil
kembali ke permukaan sebagai aktualitas.

Di pihak lain, kebudayaanlah yang memberikan isi, sehingga kenyataan yang dimaksudkan dapat
dipahami secara komprehensif. Di samping itu, teori kontemporer menunjukkan adanya
keraguan terhadap identitas fakta. Keraguan tersebut akan terjawab justru melalui hakikat fiksi.

Fiksi dan fakta, rekaan dan kenyataan menurut pemahaman masyarakat biasa, merupakan isu-isu
penting dalam teori-teori postruktularisme, studi kultural khususnya. Fiksi dan fakta, sebagai
hakikat sastra dan sejarah, seolah-olah dapat dipertukarkan. Menurut paradigma
postrukturalisme, kenyataan dalam sejarah bukan kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan
dalam sejarah adalah kenyataan yang dibangun, kenyataan yang memperoleh kekuatan melalui
wacana. Pada dasarnya sastra dan sejarah berbagi wilayah yang sama, yaitu cerita.

Secara umum, istilah dalaam karya seni di Indonesia diambil dari bahasa Latin, Inggris,
Sansekerta, dan Arab. Topik ini diambil agar lebih mampu untuk mengetahui dan memahami
mengenai sejarah sastra Indonesia, yakni pembagian periodesasinya, sampai pada
perkembangannya dimasa kini.
BAB II

PEMBAHASAN

6.1 Sejarah LahirnyaAngkatan ‘50

Slamet Muljono pernah menyebut bahwa sastrawan Angkatan ‘50 hanyalah pelanjut
(successor) saja, dari angkatan sebelumnya (’45). Tinjauan yang mendalam dan menyeluruh
membuktikan bahwa masa ini pun memperlihatkan ciri-cirinya, yaitu:

a) Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakan pada
tahun 1945.

b) Masa ‘50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai nasional
lebih lanjut). Periode ‘50 tidak hanya pengekor (epigon) dari angkatan ‘45, melainkan
merupakan survival, setelah melalui masa-masa kegonjangan.

Adapun ciri-cirinya yang lebih rinci adalah sebagai berikut:

1) Pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya dan makin meluas daerahnya hampir
di seluruh Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta dan Yogyakarta.

2) Terdapat pengungkapan yang lebih mendalam terhadap kebudayaan daerah dalam


menuju perwujudan sastra nasional Indonesia.

3) Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan kepada kekuasaan asing, tetapi lebih
kepada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing dengan perasaan dan
ukuran nasional.

6.2 Ciri-ciri Angkatan 50-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jasin.
Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan kumpulan puisi.
Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya.
Kemudian angkatan ini dikenal dengan karyanya berupa sastra majalah. Pada angkatan ini
muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan yang bergabung dalam Lembaga
Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang berkonsep sastra realisme sosialis. Timbullah
perpecahan antara sastrawan sehingga menyebabkan mandegnya perkembangan sastra,
karena masuk ke dalam politik praktis, sampai berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya
G30 S/PKI di Indonesia.
Adapun ciri-ciri dari periode ini antara lain:

a) Umumnya karya sastrawan sekitar tahun 1950-1960-an;

b) Sampai tahun 1950-1955, sastrawan angkatan ‘45 juga masih menerbitkan karyanya;

c) Corak karya cukup beragam, karena pengaruh faktor politik/idiologi partai;

d) Terjadi peristiwa G 30 S/PKI sehingga sastrawan Lekra disingkirkan.

6.3 Masalah yang Dihadapi Angkatan 50

a) Angkatan ’50 mengalami kendala dalam menerbitkan karya-karyanya, dikarenakan Balai


Pustaka sebagai penerbit utama buku-buku sastra, kedudukannya tidak menentu. Penerbit ini
bernaung dibawah P dan K dan pergantian status yang dilakukan hanya dalam waktu yang
singkat dan tidak menentu, di tambah penempatan pemimpin yang bukan ahli, sehingga
tidak dapat mengelola anggaran yang tersedia yang berakibat macetnya produksi karya.

b) Setelah Balai Pustaka yang mengalami kesulitan penerbitan, penerbit yang lainnya
pun mengalami nasib serupa, seperti penerbit seperti Pembangunan dan Tintamas.

c) Oleh sebab itu, karya-karya sastra hanya banyak bermunculan di majalah-majalah seperti
Gelanggang/Siasat, Mimbar Indonesia, Zenith, dan Pudjangga Baru. Oleh sebab itu pula karya
yang banyak ditampilkan terutama sajak, cerpen, dan karangan-karangan lain yang pendek-
pendek, sesuai dengan kebutuhan majalah-majalah tersebut, maka tak anehlah kalau para
pengarang pun lantas hanya mengarang cerpen, sajak dan karangan-karangan lain yang
pendek-pendek. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya istilah sastra majalah.
Istilah ini dilansir dan diperkenalkan oleh Nugroho Notosusanto dalam tulisannya Situasi
1954 yang dimuat di majalah Kompas yang dipimpinnya.

6.4 Sastrawan Angkatan ‘50 dan Karyanya

1) W.S. Rendra

Willibrordus Surendra Rendra, lahir di Solo pada 7 November 1935. Setelah menamatkan
sekolah SMA nya di Solo, Ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra Jurusan Sastra
Inggris di Universitas Gajah Mada.Sejak tahun 1954 beliau aktif menulis sajak, cerpen, esai,
lakon, dan bermain drama. Selain itu beliau juga belajar seni diNew York, Amerika Serikat.
Setelah pulang dari New York, beliau mendirikan bengkel teater di Indonesia dengan karyanya
Sekda, Dunia Azwar, Perjuangan Suku Naga, Qasidah Barzanji, Bipbop, Mastodon Dan Burung
Kondor, Penembahasa Reso.
Karya sastra W.S. Rendra adalah:

a) Balada orang-orang tercinta (1957)

b) Empat (kumpulan sajak, 1961)

c) Ia sudah bertualang (1963)

(H.B. Jassin, 1976: 27)

2) Ajip Rosidi

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Cirebon (Jawa Barat) pada tanggal 31 Januari 1938. Pendidikan:
SMP, SMA kemudian Taman Madya Taman Siswa bagian Budaya, Jakarta. Sewaktu sekolah
memimpin majalah Suluh Pelajarpada tahun 1953-1955, kemudian menerbitkan
majalah Prosa (1955).Masuk bekerja beberapa bulan di Balai Pustaka (November 1955-Februari
1956).

Karyanya yang telah terbit adalah:

a) Tahun-tahun Kematian (1955),

b) Pesta (1956),

c) Di Tengah Keluarga (1956),

d) Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1968),

e) Perjalanan Penganten (1958),

f) Cari Muatan (1959),

g) Cerita Pendek Indonesia (1958),

h) Surat Cinta Endaj Rasidin (1960).

( H.B. Jassin, 1976: 45)

3) A.A Navis

Ali Akbar Navis lahir dilahirkan di Padang Panjang 17 November 1924 .Tamat Perguruan INS di
KayuTanamtahun 1943.Tahun 1950 mulai mengikuti perkembangan kesusastraan secara aktif,
mengarang cerita pendek, dan sandiwara radio. Cerita-ceritanya dimuat dalam Mimbar
Indonesia, Siasat, Kisah, Sastra, dll.

Karya karya A.A Navis adalah:

a) Robohnya surau kami (1956)


b) Bianglala (1963)

c) Hujan panas (1963)

d) Kemarau (1967)

(H.B. Jassin, 1976: 222)

4) Trisnojuwono

Trisnojuwono lahir di Jogya pada tanggal 5 Desember 1929. Tamat SMA tahun 1947. Mula-
mula mengarang sajak tapi gagal, kemudian cerita-cerita pendek dan berhasil tahun 1955 lolos
masuk dalam majalah-majalah terkemuka. Seperti Kisah, Siasat, Prosa dan lain-lain. Pemenang
hadiah majalah Kisah tahun 1956.Hadiah sastra, BMKN tahun 1960 untuk kumpulan cerpennya
yang berjudul “Laki-Laki dan Mesiu” (1957).

Cerpennya yang lain adalah:

a) Angin laut (1958)

b) Di Medan Perang (1962)

c) Madu (1962)

d) Kisah-kisah Revolusi (1965)

e) Biarkan Tjahaja Matahari Membersihkanku dulu (1966)

( H.B. Jassin, 1976: 235)

5) N.H. Dini

Nama lengkapnya Nurhajati Sri Hardini.Beliau dilahirkan di Semarang tanggal 29 Februari


1936.Sejak di SMA senang deklamasi dan main sandiwara di depan RRI Semarang. Mulai
dengan menulis sajak, ia kemudian lebih banyak menulis cerita dan novel yang dimuat dalam
berbagai majalah, antara lain Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia dan Sastra.

Karya sastranya adalah:

a) Dua Dunia (1956)

b) Hati jang Damai (1961)

(H.B. Jassin, 1976:85)


6) Ramadhan K.H

Nama Lengkapnya adalah Ramadhan Karta Hadimadja, beliau lahir di Bandung tanggal 16
Maret 1927.Berpendidikan di Akademi Dinas Luar Negeri Jakarta.Sejak 1952 bergerak di
lapangan sastra; hasil-hasilnya terdapat dalam Zenith, Siasat/Gelanggang, Kisah, Seni, Indonesia,
Mimbar Indonesia.Disamping itu menterjemahkan sastra Spanyol, sajak-sajak dan drama
bersajak Garcia Lorca.Pemenang pertama hadiah sastra untuk puisi tahun 1957/58 yang diadakan
oleh BMKN tahun 1960.

Karyanya adalah:

a) Priangan Sidjelita (1958).

(H.B Jassin, 1976:260).

7) Subagio Sastrowardojo

Beliau lahir di Madiun tanggal 1 Februari tahun 1924.Sekolah HIA Bandung dan Jakarta, HBS-
SMP, SMA, Jogya.Setelah mencapai gelar sarjana tahun 1958 di Fakultas Sastra Universitas
Gajah Mada, dalam tahun 1961 berangkat ke Amerika melanjutkan studi dalam Ilmu
Perbandingan Kesusastraan di Yale University.Kembali di tanah air tahun 1966. Tahun 1954-
1958 ia menjadi dosen dan Kepala Jurusan Bahasa Indonesia Kurus B-I di Jogya. Tahun 1958-
1961 dosen kesusastraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah
Mada.Beliau juga menulis sajak, cerita, kritik danesai dan Siasat, Mimbar Indonesiadan lain-lain.

Karyanya adalah:

a) Simphoni (1957),

b) Kedjantanan di Sumbing (1965).

(H.B Jassin, 1976: 96)

8) Sitor Situmorang

Sitor Situmorang dilahirkan di Harian Boho, Samosir, tanggal 2 Oktober 1923.Setelah lulus
Mulo di Tarutung, ia melanjutkan studinya ke AMS di Jakarta, tetapi tidak tamat.Pada awal masa
revolusi bekerja sebagai wartawan di Medan.Tahun 1948 berangkat ke Yogyakarta.Ketika terjadi
aksi militer 1, Sitor ditawan di Wirogunan, Yogya, oleh Belanda.

Karya- karya Sitor Situmorang adalah:

a) Dalam Sadjak (1950)

b) Dalam Mutiara Kumpulan Tiga Mutiara (1956)


c) Pertemuan dan Salju Di Paris (1956)

d) Surat Kertas Hidjau: Kumpulan Sadjak (1953)

e) Wajah tak Bernama: Kumpulan Sadjak (1955)

(Iskandarwassid, dkk, 1997:90)

9) Pramudya Ananta Toer

Pramudya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari1925.Nama asli Pramoedya
adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-
otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah
Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat
kabar Jepang diJakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Karya-karyanya adalah:

a) Bukan pasar malam (1951)

b) Keluarga gerilya (1951)

c) Mereka yang dilumpuhkan (1951)

d) Perburuan (1950)

e) Cerita dari blora (1952)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer)

10) Bokor Hutasuhut

Nama sebenarnya: Buchari Hutasuhut. Lahir tanggal 2 Juni 1934 di Balige, Tapanuli.Pendidikan
sampai kelas 2 SMA bagian A di Medan, 1956.Cerita-ceritanya dimuat tersebar dalam majalah
Kisah, Mimbar Indonesia, Konfrontasi, Indonesia, Tjerita, Siasat/Gelanggang, Sastra dll.

Karya-karyanya:

a) Datang Malam (1963)

b) Penakluk Udjung Dunia (1964)

c) Tanah Kesajangan (1965)

(H.B. Jassin, 1976:129)


11) Toha Mochtar

Toha Mochtar lahir di Kediri, 17 September1926.Sekolah SMA sampai kelas 2 (1947) di Kediri.
Redaktur majalah Ria, Jakarta (1952-1953), guru Taman Siswa dalam mata pelajaran
menggambar (1953-1957), pembantu majalah Warta Dunia.

Sejumlah hasil karyanya adalah:

a) Pulang (1958), yang mendapat Hadiah Sastra Badan Musyawarah Kebudayaan


Nasional (1960)

b) Daerah Tak Bertuan (1963), meraih Hadiah Sastra Yamin (1964)

(H.B. Jassin, 1976:210)

12) Mochtar Lubis

Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret1922. Ia turut mendirikan Kantor
Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah
dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizonbersama-sama kawan-kawannya. Pernah
menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association
for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

Karya-karyanya adalah:

a) Tidak Ada Esok (1951)

b) Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (1950)

c) Perempuan (1956)

d) Harimau! Harimau! (1975)

e) Jalan Tak Ada Ujung (1952, 1968)

f) Musim Gugur (cerpen 1953)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_Loebis)

6.5 Angkatan 60-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-
garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat
beragam dalam aliran sastra, antara lain munculnya karya sastra beraliransurrealistik, arus
kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka
Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini.
Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo
Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad,
Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia,
H.B. Jassin.

1) H.B. Jassin

Hans Bague Jassin, atau lebih sering disingkat menjadi H.B. Jassin (lahir di Gorontalo , 13
Juli1917 – meninggal di Jakarta, 11 Maret2000 pada umur 82 tahun) adalah
seorang pengarang,penyunting, dan kritikus sastra ternama dariIndonesia.

Kritik sastra yang dikembangkan H.B. Jassin umumnya bersifat edukatif dan apresiatif, serta
lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Sedemikian besarnya
pengaruh H.B. Jassin terhadap lingkungan sastra Indonesia, sehingga pernah membuatnya
dijuluki sebagai "Paus Sastra Indonesia". Pada awal periode 1970-an, beberapa sastrawan
beranggapan bahwa kritik sastra H.B. Jassin bergaya konvensional, sedangkan pada saat itu telah
mulai bermunculan para sastrawan yang mengedepankan gaya eksperimental dalam karya-karya
mereka.

H.B. Jassin meninggal dunia pada hari Sabtu, 11 Maret 2000 di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumodalam usia 83 tahun.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Bague_Jassin)

2) Motinggo Boessje

Motinggo Boessje yang bernama asli Bustami Djalidlahir di Kupangkota, TelukBetung, 21


November.sesudah tamat SMA Bukittinggi tahun 1956, ia masuk Fakultas Hukum Gadjah Mada,
Yogya. Giat dalam perdramaan dan menulis dalam berbagaimajalah, antaranya Budaya, Mimbar
Indonesia, Kisah, Minggu Pagi, Sastra.Pemenang pertama Hadiah Sastra tahun 1959 yang
diadakan oleh Bagian Kesenian Kem.PP dan K buat dramanya “Malam Djahanam” dan
pemenang hadiah majalah Sastra tahun 1962, buat cerita pendeknya “Nasehat untuk Anakku”.

Daftar karyanya:

a) Tidak Menjerah (novel, 1962)

b) Badai Sampai Sore (novelet, 1962)

c) Malam Djahanam (novel, 1962)

d) Perempuan Itu Bernama Barabah (novel, 1963)

e) Dosa Kita Semua (Roman, 1963)


f) Hari Ini Tak Ada Tjinta (novel, 1963)

(H.B. Jassin, 1976:69)

3)Djamil Suherman

Djamil Suherman dilahirkan di Surabaya 24 April 1924, pendidikan: SMP Kediri, tamat 1947,
SMA Surabaya, tamat 1950. Kmudian Akademi Administrasi Negeri (AAN), Bandung, tamat
1965. Menjadi guru agama Islam merangkap guru SD di Surabaya (1950-1951) dan sejak tahun
1951 karyawan PN Postel Surabaya, Palembang, Bandung. Anggota redaksi dan pembantu tetap
berbagai majalah, anara lain majalah Tanahair dan majalahGelora. Giat dalam lembaga-lembaga
seni sastra dan pembinaan teater nasional di Surabaya dan Palembang.

Hasil Karya:

a) Muara (sajak bersama Kaswanda, 1958)

b) Umi Kulsum (cerpen, 1963)

c) Perjalanan ke Akhirat (novel, 1963)

(H.B. Jassin, 1976:155)

4) Bur Rasuanto

Bur Rasuanto dilahirkan di Palembang, 6 April 1937,Pendidikan: SMA-B, tamat 1957.


Kemudian bekerja di Stanvac, Palembang1957-1960.Ikut aktif dalam perjuangan mahasiswa
paroh pertama tahun 1966 menuntut keadilan dan kebenaran.

Karyanya:

a) Bumi yang Berpeluh (1963)

b) Mereka Akan Bangkit (1963).

(H.B. Jassin, 1976:1)

5) Goenawan Mohammad

Goenawan Soesatyo Mohamad. Lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang,


Pekalongan.Masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1960.Kemudian studi ke
Eropa tahun 1965-1966.Menulis puisi dan esai dalam harian Abadi, majalah Sastra, Basis,
Gelora, Horison. Sejak tahun 1967 duduk dalam dewan redaksi Horison dan redaksi Harian
KAMI dan Pemim[in Redaksi majalah Tempo.

Beberapa karya Goenawan Mohammad antara lain :


a) Almanak (1962)

b) Manifestasi (1963)

c) Hari terakhir seorang penyair, suatu siang (1966)

(H.B. Jassin, 1976:199)

6) Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono lahir tanggal 20 Maret 1940 di Solo. Pendidikan: SD sampai dengan
SMA di Solo. Melanjutkan kuliah ke Yogya dan lulus dari Universitas Gadjah Mada, Fakultas
Sastra dan Kebudayaan, Jurusan Sastra Inggris tahun 1964. Bekerja sebagai Lektor Muda pada
IKIP Malang Cabang Madiun.Ketua Jurusan Basaha dan Sastra Inggris. Menulis dalam Mimbar
Indonesia (1958-1960), Indonesia (1960,1965), Budaya (1961), Sastra (1961), Basis (1959-
1967), Gelanggang (1966), Gelora (1962,1963), Horison (1967-1968)

Beberapa karyanya :

a) Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)

b) Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)

c) Perahu Kertas – (kumpulan puisi)

d) Sihir Hujan – (kumpulan puisi)

e) Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)

f) Arloji – (kumpulan puisi)

g) Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)

(H.B. Jassin, 1976:77)

7) Satyagraha Hoerip Soeprobo

Satyagraha Hoerip Soeprobo dilahirkan di Lamongan 7 April 1934.setelah tamat SMA bagian A
di Malang, mengikuti kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Gajah Mada dan
Universitas Pajajaran, sampai tingkat III. Giat sebagai pengasuh redaksi majalah-majalah
mahasiswa, menulis sajak, cerita pendek, reportase dalam berbagai majalah, antara lain Sastra
dan Horison. Sekretaris Redaksi Harian KAMI, kemudian wartawan Sinar Harapan.

Karya-karyanya:

a) Sepasang Suami Isteri (1963)

b) Seorang Buruan (1961)


c) Tentang Enam Orang

(H.B. Jassin, 1976:196)

6.6 Berakhirnya Angkatan ’50an dan ‘60an

Angkatan 50an berakhir karena pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan
sastrawan yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra), yang berkonsep
sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara
kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya
perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan
pecahnya G30S di Indonesia.
BAB III

PENUTUP

Simpulan

Karya sastra lahir bukan hanya untuk dinikmati namun juga untuk dipelajari. Dalam
rentang waktu tahun 1950-an hingga tahun 1960-an merupakan masa kesuburan penulis pasca
kemerdekaan Indonesia, hal ini dapat dilihat dari banyaknya penulis maupun karya sastra yang
lahir pada rentang tahun tersebut.

Melejitnya jumlah sastrawan maupun jumlah karya sastra ini dapat dipandang sebagai
dampak telah terbebasnya dari masa pergolakan di Indonesia. Para sastrawan pada tahun itu
merasa sudah tidak ada yang dapat menghalanginya untuk berkarya suara dari hatinya. Meskipun
topik pada karya sastra Angkatan’50-‘60an ini lebih cenderung untuk menggunakan akar tradisi
di daerahnya masing-masing. Kecenderungan itu, berdampak besar pada karya-karya sastra yang
mereka lahirkan.

Sikap budaya para sastrawan angkatan’50-‘60an ini merupakan perpaduan dari dua sikap
ekstrim tentang kebudayaan Indonesia yaitu kebudayaan Indonesia akan berkembang
berdasarkan kenyataan-kenyataan dalam masyarakat Indonesia masa kini, yaitu antara
kebudayaan daerah dan adanya pengaruh kebudayaan asing.
DAFTAR PUSTAKA

Iskandarwassid, dkk.1997. Sejarah Sastra Indonesia.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:


Jakarta.

Jassin, H.B. 1983. Angkatan 66 Prosa dan Puisi Jilid Kedua. PT Gunung Agung: Jakarta.

Jassin, H.B. 1976. Angkatan 66 Prosa dan Puisi Jilid Pertama. PT Gunung Agung: Jakarta.

Teeuw, A. 1989.Sastra Indonesia Modern II.Pustaka Jaya: Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Bague Jassin.Diakses pada tanggal 15 Mei 2014

http://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_Loebis. Diakses pada tanggal 15 Mei 2014.

2014.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer. Diakses pada tanggal 15 Mei 2014.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia. Diakses pada tanggal 15 Mei 2014.