Anda di halaman 1dari 8

1.

Hubungan Moral, Susila, Budi Pekerti, Akhlak, dan Etika

Etika (ilmu akhlak) bersifat teoritis sementara moral, susila, akhlak lebih bersifat
praktis. Artinya moral itu berbicara soal mana yang baik dan mana yang buruk, susila
berbicara mana yang tabu dan mana yang tidak tabu, akhlak berbicara soal baik buruk,
benar salah, layak atau tidak layak. Sementara etika lebih berbicara kenapa perbuatan itu
dikatakan baik atau kenapa perbuatan itu buruk. Etika menyelidiki, memikirkan, dan
mempertimbangkan tentang yang baik dan buruk, moral menyatakan ukuran yang baik
tentang tindakan itu dalam kesatuan sosial tertentu. Moral itu hasil dari penelitian etika.

Akhlak karena bersumber pada wahyu maka ia tidak bisa berubah. Meskipun
akhlak dalam Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah sementara etika, moral, dll.
bersumber pada akal atau budaya setempat, tetap saja bahwa semuanya mempunyai
keterkaitan yang sangat erat. Dalam hal ini akhlak Islam sangat membutuhkan terhadap
etika, moral, dan susila karena Islam mempunyai penghormatan yang besar terhadap
penggunaan akal dalam menjabarkan ajaran-ajaran Islam, dan Islam sangat menghargai
budaya suatu masyarakat.

Kalaupun adat local menyimpang, Islam mengajarkan kepada umatnya agar


mengubahnya tidak sekaligus melainkan secara bertahap.

A. AGAMA SEBAGAI SUMBER MORAL

Agama dalam bahasa Indonesia, religion dalam bahasa Inggris, dan di dalam bahasa
Arab merupakan sistem kepercayaan yang meliputi tata cara peribadatan hubungan manusia
dengan Sang Mutlak, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan
alam lainnya yang sesuai dengan kepercayaan tersebut.

Dalam studi agama, para ahli agama mengklasifikasikan agama ke dalam berbagai
kategori. Menurut al-Maqdoosi agama diklasifikasikan menjadi 3 kategori:

1). agama wahyu dan non-wahyu

2). agama misionaris dan non-misionaris, dan

3). agama lokal dan universal. Berdasarkan klasifikasi manapun diyakini bahwa agama
memiliki peranan yang signifikan bagi kehidupan manusia karena di dalamnya terdapat
seperangkat nilai yang menjadi pedoman dan pegangan manusia. Salah satunya adalah
dalam hal moral.

Moral adalah sesuatu yang berkenaan dengan baik dan buruk. Tak jauh berbeda
dengan moral hanya lebih spesifik adalah budi pekerti. Akhlak adalah perilaku yang
dilakukan tanpa banyak pertimbangan tentang baik dan buruk. Adapun etika atau ilmu akhlak
kajian sistematis tentang baik dan buruk. Bisa juga dikatakan bahwa etika adalah ilmu
tentang moral. Hanya saja perbedaan antara etika dan ilmu akhlak (etika Islam) bahwa yang
pertama hanya mendasarkan pada akal, sedangkan yang disebut terakhir mendasarkan pada
wahyu, akal hanya membantu terutama dalam hal perumusan.

Di tengah krisis moral manusia modern (seperti dislokasi, disorientasi) akibat


menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber moral, agama bisa berperan lebih aktif dalam
menyelamatkan manusia modern dari krisis tersebut. Agama dengan seperangkat moralnya
yang absolut bisa memberikan pedoman yang jelas dan tujuan yang luhur untuk membimbing
manusia ke arah kehidupan yang lebih baik.

Hubungan Agama dan Moral

Berbicara tentang moral asosiasinya akan tertuju pada penentuan baik dan buruk
sesuatu. Dengan rasio atau tradisi dapat juga dengan lainnya seseorang dapat menentukan
baik atau buruk.

Aliran rasionalisme berpendapat bahwa rasiolah yang menjadi sumber moral


bukanlah yang lain. Yang menentukan baik dan buruknya sesuatu adalah akal dan pikiran
manusia semata.

Aliran hedonisme berpendapat bahwa sumber kebaikan dan keburukan adalah


kebahagiaan. Sesuatu dikatakan baik jika mendatangkan kebahagiaan dan sebaliknya sesuatu
dikatakan buruk jika mendartangkan keburukan. Kebahagiian yang dimaksud adalaj
kebahagiaan individu aliran ini disebut egoistik hednisme, aliran ini antara lain digagas oleh
Epicurus (341-270).

Adalagi aliran hedoisme universal yang berpandangan bahwa kebaikan dan


keburukan diukur oleh kebahagiaan. Aliran ini digagas oleh John Stuart Mill (1806-1873). Ia
mengatakan ebaikan tertinggi (summmun bonum), adalah utility is happiness for the greates
number of sentimen being (kebahagiaan untuk jumlah kebanyakan manusia yang sebesar-
besarnya).

Aliran tradisionalisme berpendapat bahwa sumber kebaikan atau keburukan adalah


tradisi atau adat istiadat. Karena peradaban Barat mengalami trauma historis berkenaan
dengan agama, maka peradaban Barat berusaha menyingkirkan agama dalam kehidupan
mereka. Agama tidakhanya sekedar ritual peribadatan semata-mata, diluar itu agama tidak
berperan apa-apa. Sumber utama moral adalah akal dengan variasi yang berbeda satu sama
lain, karena akal manusia terbatas dan relatif manusia moderen kehilangan pegangan mutalk.
Dalam kondisi demikian, ia mengalami risis moral yang dalam bentuknya ekstrim berakhir
dengan bunuh diri. Dalam hubungannya dengan ini Muhammad Qhutb menulis, janganlah
mudah kita ditipu oleh gagasan yang canggih dan tidak tahu persoalan sebenarnya, sebab
sepanjang moral telah diputuskan ikatannya dengan akidah terhadap Allah, maka tidak akan
kokoh (kuat) berpijak dimuka bumi ini serta memiliki tempat bergantung terhadap akibat-
akibat yang mengiringinya.

Atas dasar itulah, maka agama memiliki peranan penting usaha dalam mengahpus
krisis moral tersebut dengan menjadikan agama sebagai sumber moral. Allah SWT telah
memberikan agama sebagi pedoman dalam menjalani kehidupan didunia ini agar mendapat
kebahagiaan sejati, salah satunya adalah pedoman moral. Melalui kitab suci dan para rosul,
Allah telah mejelaskan prinsip-prinsip moral yang harus dijadian pedoman oleh umat
manusia. Dalam konteks islam sumber moral itu adalah Al-Quran dan Hadist.

Mukti Ali mantan mentri agam pernah menyatakan, ‘agama menurut kami antar lain memberi
petunjuk bagaimana moral itu harus dijalankan, agamalah yang memberikan hukum-hukum
moral. Dan karenanya agamalah sanksi terakhir bagi semua tindakan moral, sanksi agamalah
yang membantu dan mempertahankan cita-cita etik.’

Hamka menyatakan bahwa ‘agama ibarat tali kekang, yaitu tali kekang dari penguburan
pikiran (yang liar / binar), tali kekang dari penguburan hawa nafsu (yang angkara murka), tali
kekang daripada ucapan dan perilaku (yang keji).

Menurut kesimpulan A.H. Muhaimin dalam bukunya Cakrawala Kuliah Agama bahwa
ada beberapa hal yang patut dihayati dan penting dari agama, yaitu:
A. Agama itu mendidik manusia menjadi tenteram, damai, tabah, dan tawakal

B. Agama itu dapat membentuk dan mencetak manusia menjadi: berani berjuang
menegakkan kebenaran dan keadilan, sabar, dan takut berbuat dosa

C. Agama memberi sugesti kepada manusia agar dalam jiwanya tumbuh sifat-sifat mulia
dan terpuji, toleransi, dan manusiawi.

Dengan demikian peran agama sangat penting dalam kehidupan manusia, salah
satunya, sebagai sumber akhlak. Agama yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan sangat
efektif dan memiliki daya tahan yang kuat dalam mengarahkan manusia agar tidak
melakukan tindakan amoral.

Akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai dengan ketentuan-ketentuanan yang


diajarkan Allah dan Rasul-Nya sedangkan akhlak tercela ialah yang tidak sesuai dengan
ketentuan-ketentuan Allah dan rasul-Nya

Menurut Imam Al-Ghazali ada empat sendi yang menjadi dasar bagi perbuatan-
perbuatan baik, yaitu:

A. Kekuatan ilmu yang berwujud hikmah, yaitu bisa menentukan benar dan salah

B. Kekuatan amarah yang wujudnya adalah berani, keadaan kekuatan amarah yang tunduk
kepada akal pada waktu dinyatakan atau dikekang.

C. Kekuatan nafsu syahwat (keinginan) yang wujudnya adalah iffah, yaitu keadaan syahwat
yang terdidik oleh akal.

D. Kekuatan keseimbangan di antara yang tiga di atas.

Empat sendi akhlak tersebut akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik, yaitu jujur,
suka memberi kepada sesama, tawadu, tabah, berani membela kebenaran, menjaga diri dari
hal-hal yang haram.

Sementara empat sendi-sendi akhlak tecela adalah :

A. Keji, pintar busuk, bodoh

B. Tidak bisa dikekang


C. Rakus dan statis

D. Aniaya

Keempat sendi akhlak tercela itu akan melahirkan berbagai perbuatan yang tercela
yang dikendalikan oleh nafsu seperti sombong, khianat, dusta, serakah, malas, kikir, dll. yang
akan mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri maupun orang lain.

Manusia harus memiliki moral dan akhlak yang baik karena tanpa moral dan
akhlak yang baik manusia itu akan hancur dan hanya menjadi pengikut dari paham-paham
yang menyimpang di dunia ini.

D. AKHLAK MULIA SEBAGAI SUMBER MORAL

PENGERTIAN AKHLAK

Akhlak berasal dari kata “akhlaq” yang merupakan jama’ dari “khulqu” dari bahasa
Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang
Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau
Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah).

Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana,
memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa
nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan
negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa
bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan
sebagainya.

Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah
pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata
pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak.
Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".
Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak yang baik itu
dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala
perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah
Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar,
seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya “Kamu adalah umat yang
terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan
beriman kepada Allah”

Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub,
dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-
penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam
kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan
lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat
yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai
mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berbunyi:

Artinya

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum: 41).

A. PENGERTIAN AKHLAK MAHMUDAH (TERPUJI)

Akhlak mahmudah (terpuji) adalah perbuatan yang dibenarkan oleh agama (Allah dan
RasulNya). Contohnya : disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun, syukur nikmat, hidup
sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun, tolong-menolong,
hormat dan patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh
pendirian, dermawan, optimis, qana’ah, dan tawakal, ber-tauhiid, ikhlaas, khauf, taubat,
ikhtiyaar, shabar, syukur, tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan ta’aawun, berilmu, kreatif,
produktif, akhlak dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu, adil,
rida, amal salih, persatuan dan kerukunan, akhlak terpuji dalam pergaulan remaja, serta
pengenalan tentang tasawuf.

1. Contoh-Contoh Akhlak Mahmudah


Dalam pembahasan ini kami akan menjabarkan akhlak mahmudah yang meliputi
ikhlas, sabar, syukur, jujur, adil dan amanah.

a. Ikhlas

Kata ikhlas mempunyai beberapa pengertian. Menurut al-Qurtubi, ikhlas pada


dasarnya berarti memurnikan perbuatan dari pengaruh-pengaruh makhluk. Abu Al-Qasim
Al-Qusyairi mengemukakan arti ikhlas dengan menampilkan sebuah riwayat dari Nabi
Saw, “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, “Aku telah
menanyakan hal itu kepada Allah,” lalu Allah berfirman, “(Ikhlas) adalah salah satu dari
rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan
hamba-hamba-Ku.”

Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota


masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan lahir-bathin dan
dunia-akhirat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan,
perdamaian serta kesejahteraan.

b. Amanah

Secara bahasa amanah bermakna al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan)


sedangkan secara definisi amanah berarti memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya.
Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian
untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi
diantara manusia agar menghukumi dengan adil…” (QS 4:58).

Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah


menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka semua
enggan memikulnya karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, maka dipikullah
amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh…” (QS.
33:72).

c. Adil

Adil berarti menempatkan/meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain
ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil kepada
beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/ pimpinan dan
sesama saudara. Nabi Saw bersabda, “Tiga perkara yang menyelamatkan yaitu takut
kepada Allah ketika bersendiriaan dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka
dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang
membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang
dengan dirinya sendiri.” (HR. AbuSyeikh).

d. Bersyukur

Syukur menurut kamus “Al-mu’jamu al-wasith” adalah mengakui adanya kenikmatan dan
menampakkannya serta memuji (atas) pemberian nikmat tersebut.Sedangkan makna syukur
secara syar’i adalah : Menggunakan