Anda di halaman 1dari 5

Volume 7 / No.

2 / Desember 2015

STUDI PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA


SELAMA MASA NIFAS
(Di Desa Pomahan Janggan Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan 2015)

Sumiyati*
Hetti Latifah**

*Dosen Program Studi D III Kebidanan Universitas Islam Lamongan


**Mahasiswa Program Studi D III Kebidanan Universitas Islam Lamongan

ABSTRAK
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu, masa nifas masih
beresiko mengalami perdarahan atau infeksi yang dapat menyebabkan kematian
ibu. Pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahaya selama masa nifas sangat minim
sehingga paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas untuk menilai status ibu
dan bayinya untuk melaksanakan screening yang komprehensif, mendeteksi
masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayi.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan
menggunakan metode consecutive sampling. Sampling diambil dari jumlah
populasi yaitu 15 ibu nifas dengan menggunakan alat ukur kuesioner.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berpengetahuan
kurang yaitu reponden dan sebagian kecil berpengetahuan baik yaitu responden
tentang tanda bahaya selama masa nifas.
Baik kurangnya pengetahuan ibu nifas di pengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu pendidikan, umur, pekerjaan, pengalaman, lingkungan, informasi, sosial
ekonomi dan sosial budaya.
Dari penelitian diatas diharapkan ibu nifas lebih peka dalam mendeteksi
tanda bahaya selama masa nifas. Selain itu bagi petugas kesehatan agar
mengoptimalkan perannya sebagai konselor sehingga mencegah komplikasi
selama masa nifas.
Kata kunci : Pengetahuan, ibu nifas, tanda bahaya

PENDAHULUAN cakupan pelayanan nifas berdasarkan


Masa nifas berlangsung selama indikator pelayanan neonatal/KN
kira-kira 6-8 minggu (Sarwono (kunjungan neonatal) dengan asumsi
Prawirohardjo, 2005). Setelah pada saat melakukan pemeriksaan
melahirkan, ibu masih perlu neonatal juga melakukan
mendapat perhatian. Masa nifas pemeriksaan terhadap ibunya.
masih beresiko mengalami Pelayanan kunjungan nifas juga tidak
perdarahan atau infeksi yang dapat berarti ibu nifas yang mendatangi
mengakibatkan kematian ibu. Untuk tenaga kesehatan atau fasilitas
menjaga kesehatan ibu nifas dan bayi kesehatan namun di definisikan
baru lahir baik persalinannya di sebagai kontak ibu nifas dengan
tolong oleh tenaga kesehatan atau tenaga kesehatan baik di dalam
tidak harus mendapat post natal care gedung maupun di luar gedung
(pelayanan nifas). Menurut program fasilitas kesehatan (termasuk bidan di
safe motherhood ( Depkes, 2002) desa/polindes/poskesdes dan

27
Volume 7 / No. 2 / Desember 2015

kunjungan rumah (Buku PWS KIA, Pada wanita atau ibu nifas
Depkes, 2003) (Riskesdas 2010) penjelasan mengenai tanda-tanda
Memperhatikan angka bahaya masa nifas sangat penting
kematian ibu dan perinatal dapat dan perlu, oleh karena masih banyak
diperkirakan bahwa sekitar 60% ibu atau wanita yang sedang hamil
kematian ibu akibat kehamilan atau pada masa nifas belum
terjadi setelah persalinan dan 50% mengetahui tentang tanda-tanda
kematian masa nifas terjadi dalam 24 bahaya masa nifas, baik yang
jam pertama. (Prawirohardjo, 2002). diakibatkan masuknya kuman
Berdasarkan penelitian di kedalam alat kandungan seperti
BPS Ny Nurbani, Amd. Keb selama eksogen (kuman datang dari luar),
bulan Mei sampai Juni 2015 terdapat autogen (kuman masuk dari tempat
sebanyak 15 orang ibu nifas yang ada lain dalam tubuh) dan endogen (dari
di Polindes Pomahan Janggan jalan lahir sendiri)
Kecamatan Turi Kabupaten (Rostam Muchtar, 1998)
Lamongan dari bulan Januari-Maret Faktor dominan yang
2015 dan dari 15 orang ibu nifas mempengaruhi adalah kurang
yang mengalami bahaya masa nifas 1 terdeteksinya faktor-faktor
orang mengalami bendungan ASI, 1 komplikasi secara dini. Untuk itu
orang mengalami bengkak pada diperlukannya peran serta
seluruh tubuh, 1 orang mengalami masyarakat terutama ibu-ibu nifas
sub involusi uteri yang di sebabkan untuk memiliki pengetahuan tentang
tidak mau melakukan mobilisasi dini. tanda-tanda bahaya pada masa nifas
Berdasarkan uraian di atas di sehingga ibu dapat mengetahui dan
dapatkan 3 orang yang mempunyai mengenal secara dini tanda-tanda
masalah bahaya masa nifas. Data bahaya masa nifas, apabila ada
tersebut merupakan sebagian data kelainan dan komplikasi dapat segera
dari ibu nifas dengan masalah bahaya terdeteksi.
masa nifas yang di ketahui atau Asuhan pada masa nifas
terdeteksi oleh tenaga kesehatan. sangat diperlukan dalam periode ini
Tapi sebenarnya masih banyak ibu karena masa nifas merupakan masa
nifas yang mengalami masalah kritis untuk ibu dan bayinya. Paling
bahaya masa nifas, yang tidak di sedikit 4 kali kunjungan pada masa
ketahui atau terdeteksi oleh tenaga nifas sehingga dapat menilai status
kesehatan. Penyebab tidak di ibu dan bayinya, untuk
ketahuinya masalah bahaya masa melaksanakan skreening yang
nifas yaitu kurangnya pengetahuan komprehensif mendeteksi masalah,
ibu nifas. Dimana yang mengobati atau merujuk bila terjadi
mempengaruhi pengetahuan dari ibu komplikasi pada ibu dan bayi,
nifas yaitu faktor yang sehingga ibu-ibu nifas dapat
mempengaruhi pengetahuan mencegah komplikasi yang terjadi
(pendidikan, usia, pekerjaan, pada masa nifas (Prawirohardjo,
informasi, pengalaman, lingkungan, 2002).
sosial ekonomi, sosial budaya) dan Apabila ibu nifas mengerti
juga konseling dari tenaga kesehatan tentang tanda-tanda bahaya masa
selama kehamilan dan setelah nifas, maka apabila terjadi masalah-
persalinan (Notoadmodjo, 2010). masalah seperti infeksi nifas maka
ibu akan mengerti dan segera

28
Volume 7 / No. 2 / Desember 2015

memeriksakan diri ke petugas berpendidikan rendah 3 (20%)


kesehatan, Sebaliknya jika ibu tidak responden.
mengerti tanda-tanda bahaya masa
nifas maka ibu tidak akan tahu 3) Pengalaman
apakah ibu dalam bahaya atau tidak. Tabel 3 Distribusi responden
berdasarkan
PEMBAHASAN Pengalaman di Desa
Data Umum Pomahan Janggan
Karakteristik Responden Kecamatan Turi
1) Umur Kabupaten Lamongan
Tabel 1 Distribusi Responden
No. Pengalaman N %
berdasarkan umur di Desa
1. 1 kali melahirkan 11 73,3%
Pomahan Janggan
2. 2 kali melahirkan 1 06,7%
Kecamatan Turi
3. > 2 kali 3 20%
Kabupaten Lamongan
melahirkan
No. Umur N % Total 15 100 %
1. ≤ 20 10 66,7%
2. 21-35 3 20%
Dari tabel 3 di atas diketahui
3. > 35 2 13,3%
sebagian besar responden melahirkan
Total 15 100 %
1 kali/pertama yaitu 11 (73,3%)
responden dan sebagian kecil pernah
Dari tabel 1 di atas diketahui
melahirkan 2 kali yaitu 1 (06,7%)
sebagian besar responden berumur ≤
responden.
20 tahun yaitu (66,7%) responden
dan sebagian kecil responden Data Khusus
berumur > 35 tahun yaitu (13,3 %) Pengetahuan Ibu nifas tentang tanda
responden bahaya selama masa nifas
Tabel 5 Distribusi pengetahuan
2) Pendidikan ibu nifas tentang tanda
Tabel 2 Distribusi responden bahaya selama masa nifas
berdasarkan pendidikan di di Desa Pomahan Janggan
Desa Pomahan Janggan Kecamatan Turi
Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan
Kabupaten Lamongan
No. Pengetahuan N %
No. Pendidikan N % 1. Baik 3 20,%
1. SD 3 20 2. Cukup 4 26,7
2. SMA 12 % 3. Kurang 8 %
3. PT 0 80% 53,3%
0% Total 15 100 %
Total 15 100
% Dari tabel 5 di atas diketahui
kebanyakan responden
Dari tabel 2 di atas diketahui berpengetahuan kurang yaitu 8 ibu
sebagian besar responden nifas (53,3 %) responden dan
berpendidikan Menengah yaitu 12 sebagian kecil berpengetahuan baik
(80%) responden dan sebagian kecil yaitu 3 ibu nifas (20%)

29
Volume 7 / No. 2 / Desember 2015

Pembahasan yang berpendidikan rendah akan


Dari hasil pengumpulan data mengalami hambatan dalam
distribusi responden berdasarkan penyerapan informasi sehingga ilmu
umur seperti pada tabel 1 di dapatkan yang dimiliki juga lebih rendah yang
sebagian besar responden berumur berdampak pada kehidupannya.
≤20 tahun, yaitu sebanyak 10 ibu Hal tersebut juga disebabkan
nifas (66,7%) oleh faktor pengalaman. Dari tabel
Menurut Elizabeth yang di 5.3 hampir sebagian ibu nifas baru
kutip oleh Nur Salam (2003), usia pertama kali melahirkan yaitu
adalah umur individu yang terhitung sebanyak 11 orang (73,3%),
mulai saat di lahirkan sampai saat Menurut Notoadmodjo
berulang tahun, semakin cukup (2010) pengalaman merupakan suatu
umur, tingkat kematangan dan cara untuk memperoleh kebenaran
kekuatan seseorang akan lebih pengetahuan. Pengalaman dapat
matang dalam berfikir dan bekerja. menuntun seseorang untuk menarik
Hal itu selaras dengan kesimpulan dengan benar, sehingga
pernyataan dari Long yang di kutip dari pengalaman yang benar di
oleh Nur Salam (2003), makin tua perlukan berfikir yang logis dan
umur seseorang, makin konstruktif kritis.
dalam menghadapi masalah yang di Hal ini membuktikan bahwa
hadapi. umur, pendidikan dan pengalaman
Semakin banyak umur atau sangat berpengaruh terhadap
semakin tua seseorang maka akan pengetahuan seseorang dimana
mempunyai kesempatan dan waktu semakin tua umur seseorang semakin
yang lebih lama dalam mendapatkan banyak pengetahuan yang di miliki,
informasi dan pengetahuan. Dengan semakin tinggi pendidikan semakin
demikian semakin tua umur banyak pengetahuan yang di dapat
responden maka tingkat pengetahuan dan juga semakin sering pengalaman
ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya ibu melahirkan semakin banyak
masa nifas semakin baik. pengetahuan yang di peroleh tentang
Dari hasil pengumpulan data tanda bahaya selama masa nifas.
distribusi responden menurut
pendidikan, seperti pada tabel 5.2 Keterbatasan
didapatkan bahwa sebagian besar Keterbatasan adalah
responden tingkat pendidikannya kelemahan atau hambatan dalam
menengah yaitu sebanyak 12 ibu penelitian. Dalam hal ini peneliti
nifas (80%) akan melakukan seminimal mungkin
Menurut Kuncoroningrat disebabkan karena hal sebagai
yang dikutip oleh Nursalam (2003), berikut:
bahwa makin tinggi pendidikan a. Pengumpulan data dengan
seseorang, maka makin mudah kuesioner memiliki jawaban lebih
menerima informasi sehingga makin banyak di pengaruhi sikap dan
banyak pula pengetahuan yang harapan-harapan pribadi yang
dimiliki. Responden yang bersifat obyektif. Teknik sampling
berpendidikan tinggi akan mudah non random hasil tidak bisa di
menyerap informasi, sehingga ilmu generalisasi.
pengetahuan yang dimiliki lebih b. Instrumen yang digunakan yaitu
tinggi namun sebaliknya orang tua kuesioner tertutup kelemahannya

30
Volume 7 / No. 2 / Desember 2015

bersifat subjektif atau responden Glasier, Anna. 2005. Keluarga


tidak mengerti tentang pertanyaan Berencana dan Kesehatan
yang diberikan. Reproduksi. Jakarta: EGC.
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga
Kesimpulan Berencana dan kontrasepsi.
Setelah menganalisis data dan Jakarta: Puspa Sinar Harapan.
melihat hasil pembahasan maka Hidayat, Alimul Aziz, (2010).
peneliti dapat mengambil kesimpulan Metode Penelitian Kebidanan
sebagai berikut : dan Teknik Analisis Data.
Hampir seluruhnya ibu nifas Jakarta. Salemba Medika.
di Desa Pomahan Janggan Kuntoro, Haji. 2007. Metode
Kecamatan Turi Kabupaten Statistik. Surabaya, Pustaka
Lamonganmempunyai pengetahuan Melati.
kurang tentan tanda bahaya selama Manuaba, IGB, (1998). Ilmu
masa nifas. Kebidanan, Penyakit
kandungan, dan KB. EGC.
Saran Jakarta
Dari kesimpulan diatas, Mochtar, R. (1998). Sinopsis
peneliti dapat memberikan saran Obstetri, Obstetri Fisiologi,
sebagai berikut : Obstetri Patologi, bagian 1.
a. Bagi Responden. Untuk EGC, Jakarta.
responden khususnya ibu nifas Nursalam, (2008). Konsep dan
lebih aktif dalam menanyakan Penerapan Metodologi
hal-hal yang berhubungan dengan Penelitian Ilmu Keperawatan.
kondisinya sehingga dapat mudah Salemba Medika. Jakarta.
mendeteksi adanya kelainan- Nursalam dan Siti Pariani (2001).
kelainan pada ibu. Pendekatan Praktis dan
b. Bagi Tenaga Kesehatan. Bagi Metodologi Riset Keperawatan.
tenaga kesehatan terutama bidan Sagung Seto. Jakarta.
diharapkan senantiasa melakukan Prawirihardjo, W, (1999). Ilmu
konseling agar meningkatkan Kebidanan, Jakarta. YBP-SP.
pengetahuan ibu nifas terutama Prastowo, Andi. 2015. Memahami
tentang tanda bahaya selama masa Metode-Metode Penelitian.
nifas. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya. Purnomo, W. (2002). Metodologi
Hendaknya penelitian ini dapat Penelitian, Hand out dan Bahan
dijadikan data awal penelitian, Kuliah.
untuk dapat dikembangkan lebih Saifuddin, AB, dkk. (2003). Buku
luas dan mengambil sampel lebih panduan Praktis Pelayanan
banyak sehingga hasilnya lebih Kontrasepsi, Jakarta. YBP-SP.
representatif. Soekidjo, Notoatmodjo. (2005),
Metodologi Penelitian
DAFTAR PUSTAKA Kesehatan. Rineka Cipta.
Departemen Kesehatan RI. 2001. Jakarta.
Buku Pedoman Petugas Suharsimi, Arikunto (1998).
Fasilitas Pelayanan keluarga Prosedur Penelitian Suatu
Berencana. Jakarta: Bina Pendekatan Praktek. Jakarta.
Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta

31