Anda di halaman 1dari 24

Laporan Fisiologi

Mekanisme Sensorik
Kelompok F6

Fakultas Kedokteran UKRIDA


Jalan Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat, 11510

Nama Kelompok
1. Dian Anugrah Palin 102016025

2. Lisa Lestari 102016059

3. Joshua Armando Sitompul 102016103

4. Marjeane Ndoen 102016105

5. Tia Tamara 102016163

6. Nurul Laylatul Musyifa 102016203

7. Merry Beatrix Da Clama Nusa 102016241

8. Mariella Valerie Bolang 102013433

1
Pendahuluan
Kali ini akan dilakukan kegiatan praktikum mengenai mekanisme sensorik, yang
meliputi: perasaan subjektif panas dan dingin, titik-titik panas, dingin, tekanan dan nyeri pada
kulit, lokalisasi taktil, diskriminasi taktil, perasaan iringan, kemampuan membedakan berbagai
sifat benda, dan tafsiran sikap. Untuk dapat memahaminya, diperlukan pemahaman tentang
neuron dan kontribusinya bagi tubuh. Seperti yang telah kita ketahui bersama, neuron
merupakan suatu sel yang berfungsi mengirimkan sinyal-sinyal pada sel lain atau pun pada
sesama sel neuron. Neuron membentuk sistem saraf.1 Sistem saraf adalah jaringan komunikasi
utama di dalam tubuh manusia.2 Sistem saraf melakukan kontrolnya terhadap hampir sebagian
besar aktivitas otot dan kelenjar tubuh, yang sebagian besar ditujukan untuk mempertahankan
homeostasis.1
Dalam sistem sensorik, integrasi itu berarti terjadinya korelasi antara impuls-impuls saraf
yang timbul sebagai akibat rangsangan pada permukaan atau bagian dalam tubuh jasad
tersebut, sedangkan dalam sistem motorik, integrasi itu meliputi koordinasi impuls-impuls
motorik, sehingga kegiatan-kegiatan otot dan kelenjar dapat diatur secara harmonis dan
efisien.3 Dari sistem-sistem inilah berasal segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan,
bahasa, sensasi, dan gerakan. Jadi kemampuan untuk dapat memahami, belajar, dan memberi
respon terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja integrasi dari sistem saraf yang
puncaknya dalam bentuk kepribadian dan tingkah laku individu.4 Dalam praktikum
mekanisme sensorik ini, akan ditunjukkan bagaimana saraf-saraf yang tersebar merata dalam
tubuh manusia saling berkoordinasi dengan jaringan-jaringan tubuh lainnya dalam menerima
rangsangan dan proses penanggapannya.

Dasar Teori

Kulit terdiri atas Eperdermis yaitu terletak dibagian terluar, Dermis terdapat kelenjar dan
saluran keringat, bulbus rambut, folikel rambut dan akar rambut yang terletak di kelenjar
sebaseus, dan Subcutaneous ada pembuluh darah, saraf cutaneous dan jaringan otot.5 Kulit
memiliki fungsi sebagai Mekanoreseptor, Thermoreseptor, reseptor nyeri dan
Khemoreseptor. Mekanoreseptor berkaitan dengan indra peraba, tekanan, getaran dan
kinestesi, Thermoreseptor berkaitan dengan pengindraan yang mendeteksi panas dan dingin,
Reseptor nyeri, berkaitan dengan mekanisme protektif bagi kulit. Khemoreseptor, mendeteksi

2
rasa asam, basa, dan garam. Pada Epidermisterdapat Merkel’s disc, yaitu sentuhan oleh orang
yang tidak dikenal dan Meisners corpuscle, yaitu sentuhan orang yang dikenal. Sedangkan
pada Dermis, terdapat tiga reseptor, yaitu : Reseptor ruffini’s yaitu reseptor panas, Reseptor
end Krause, yaitu reseptor untuk mendeteksi dingin dan Reseptor paccini’s corpuscle, untuk
mendeteksi tekanan, bisa berupa pijat.6

Reseptor kulit dan hantaran impuls terdapat di saraf perifer.Stratum germinativum


mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar
rambut.Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan
oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf.Pada setiap pangkal akar rambut
melekat otot penggerak rambut.Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut
dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi
sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.6
Sensasi taktil yang terdiri dari raba, tekanan dan getaran sering di golongkan sebagai
sensasi terpisah, mereka semua dideteksi oleh jenis reseptor yang sama. Satu – satunya
perbedaan diantara ketiganya adalah :

1. Sensasi raba, umumnya disebabkan oleh reseptor taktil di dalam kulit atau di dalam
jaringan tepat dibawah kulit.
2. Sensasi tekanan biasanya disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan yang lebih dalam.
3. Sensasi getaran, disebabkan oleh sinyal sensori yang berulang dengan cepat, tetapi
menggunakan beberapa jenis reseptor yang sama seperti yang digunakan untuk raba dan
tekanan.

Kepekaan kulit yang berambut terhadap stimulus besar, sehingga diduga bahwa akhiran
syaraf yang mengelilingi foliculus rambut adalah reseptor taktil.Kita dapat membedakan
benda – benda tanpa melihat bentuknya.Disini yang berperan adalah reseptor
kinaesthesi.Bentuk dan berat benda dapat dibedakan dengan reseptor tekanan yang
digeserkan.Pada tempat di mana tidak ada rambut, tetapi dengan kepekaan yang besar
terdapat stimulus taktil, ternyata banyak corpuscullum tactus.Perasaan taktil dapat dibedakan
menjadi perasaan taktil kasar dan perasaan taktil halus. Impuls taktil kasar dihantarkan oleh

3
tractus spinothalamicus anterior, sedangkan impuls taktil halus dihantarkan melalui
faciculus gracilis dan faciculus cunneatus.1
Fungsi sistem saraf adalah:

1. Pusat koordinasi segala aktivitas tubuh


2. Pusat kesabaran, memory, dan intelegensi.
3. Pusat highermental process (Reasoning, thinking, dan judgement).

Gerak terjadi begitu saja.Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak
bagian tubuh.Terdapat banyak komponen – komponen tubuh yang terlibat dalam gerak ini
baik itu disadari maupun tidak disadari.

Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari
luar tubuh.Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan
penghantaran impuls oleh saraf.

Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh kita tak lepas dari peranan sistem
saraf.Sistem saraf ini tersusun atas jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau
neuron.Meskipun sistem saraf tersusun dengan sangat kompleks, tetapi sebenarnya hanya
tersusun atas 2 jenis sel,yaitu sel saraf dan sel neuroglia.

Adapun berdasarkan fungsinya sistem saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis:

1. Sel saraf sensorik

Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berupa rangsangan dari reseptor
(penerima rangsangan), ke sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf
sensorik disebut juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra

4
2. Sel saraf motorik

Sel saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat
(otak atau sumsum tulang belakang) menuju ke kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut
juga dengan sel saraf penggerak,karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.

3. Sel saraf penguhubung

Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor,hal ini disebabkan karena
fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.

Namun pada hakikatnya sebenarnya sistem saraf terbagi menjadi dua kelompok besar :

a. Sistem saraf sadar

Adalah sistem saraf yang mengaturatau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat
diatur menurut kemauan kita. Contohnya, melempar bola, berjalan, berfikir, menulis,
berbicara dan lain-lain.

Saraf sadar pun terbagi menjadi dua :

1) Saraf pusat, terdiri dari :

a. Otak: Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak.


b. Sumsum tulang belakang: Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls
(rangsangan) dari dan ke otak, serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada
ruas-ruas tulang belakang, yakni dari ruas-ruas tulang leher hingga ke ruas-ruas
tulang pinggang yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul-simpul gerak
refleks.

5
2) Saraf Tepi

Sistem saraf tepi terdiri dari saraf-saraf yang berada di luar sistem saraf pusat (otak dan
sumsum ulang belakang).Artinya sistem saraf tepi merupakan saraf yang menyebar
pada seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubuh tertentu, sepeti kulit,
persendian, otot, kelenjar, saluran darah dan lain-lain.

b. Susunan saraf tak sadar

1. Susunan saraf simpatis


2. Susunan saraf parasimpatis

Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa
disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari
reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil
olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus
dilaksanakan oleh efektor.
Sensasi adalah perasaan yang timbul sebagai akibat adanya stimulus suatu reseptor.
Sensasi yang berlangsung secara terus-menerus disebut sensasi beriringan ( after image ).

Ciri-ciri sensasi antara lain:

a. Modalitas ( Modal )

Contoh: Alat indera, melihat cahaya modalnya mata.

b. Kualitas ( Mutu )

Contoh: Mata mampu membedakan warna merah dan biru.

c. Adaptasitas

Contoh: Wanita yang menggunakan anting beratnya menjadi konstan karna adaptasi.

6
d. Intensitas ( Kekuatan )

Contoh: Membedakan antara merah muda dengan merah tua.

e. Durasitas ( Lama )

Contoh: 1 bulan atau 1 tahun.

Proses pendeteksian hadirnya stimulus sederhana, perasaan, kesan yang timbul sebagai
akibat prasangka suatu reseptor.

Syarat-syarat sensasi:

1. Adanya stimulus yang mampu menimbulkan respon.


2. Adanya alat indera atau respon yang dapat mengadakan respon terhadap stimulus.
3. Ada saraf sensoris yang menghantarkan implus dari alat indera ke otak (sistem saraf
pusat).
4. Ada bagian dari otak yang mampu mengolah atau menterjemahkan implus menjadi
sensasi.

Sensasi merupakan hasil dari suatu proses didalam otak sebagai akibat adanya impuls
yang datang ke otak. Seseorang dapat memilih beberapa implus yang datang serta
mengabaikannya merupakan dasar dari konsentrasi dan atensi. Sensasi dapat bertahan lama
didalam otak dan dapat didasari kembali dasar memori.1

Reseptor taktil adalah mekanoreseptor. Mekanoreseptor berespons terhadap perubahan


bentuk dan penekanan fisik dengan mengalami depolarisasi dan menghasilkan potensial
aksi.Apabila depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akan
melepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor
taktil yang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda
pula.Dikriminasi titik adalah kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung
benda dari dua ujung disebut diskriminasi dua titik.Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam
kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi. Normalnya

7
dua titik terpisah 2– 4 mm dpt dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan
pada dorsum pedis. Tes dapat menggunakan kompas, jepitan rambut.1

Sensasi taktil dibawa ke korda spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik: serat
tipe A beta yang besar, serat tipe A delta yang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil.
Kedua jenis serat tipe A mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi dengna sangat
cepat; semakin besar serat semakin cepat transmisinya dibanding serat yang lebih kecil.
Informasi taktil yang dibawa dalam serat A biasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak
mengandung mielin dan menyalurkan potensial aksi ke korda spinalis jauh lebih lambat
daripada serat A.1

Hampir semua informasi mengenai sentuhan, tekanan, dan getaran masuk ke korda
spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yang sesuai. Setelah bersinaps di spinal, informasi
dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A yang melepaskan potensial aksi dengan cepat
(beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistem lemniskus kolumna dorsalis. Serat-serat saraf
dalam sisitem ini menyeberang dari kiri ke kanan di batang otak sebellum bersinaps di
talamus.Informasi mengenai suhu dan sentuhan yang lokalisasi kurang baik di bawa ke korda
spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensial aksi secara lambat. Info tersebut
dikirim ke daerah retikularis di batang otak dan kemudian ke pusat-pusat yang lebih tinggi
melalui serat di sistem anterolateral.1

8
I . Percobaan 1 (Perasaan Subyektif Panas dan Dingin )
Cara Kerja:
1. Sediakan 3 waskom yang masing-masing berisi air dengan suhu kira-kira 20, 30, dan 40
derajat.
2. Masukkan tangan kanan ke dalam air bersuhu 20 derajat dan tangan kiri ke dalam air
bersuhu 40 derajat untuk kira-kira 2 menit.
3. Catat kesan apa yang saudara alami.
4. Kemudian masukkan segera kedua tangan itu serentak ke dalam air bersuhu 30 derajat.
Catat kesan apa yang dialami.
5. Tiup perlahan-lahan kulit punggung tangan yang kering dari jarak kira-kira 10 cm.
6. Basahi sekarang kulit punggung tangan tersebut dengan air dan tiup sekali dengan
kecepatan seperti di atas. Bandingkan kesan yang dialami hasil tiupan-tiupan itu.
7. Olesi sebagain kulit punggung tangan dengan alcohol atau eter. Catat kesan yang dialami.
OP: Tia Tamara
Hasil Percobaan
Tangan dalam air
Percobaan Tangan kanan Tangan kiri
Tangan kanan suhu 20°
0 menit : - Dingin sekali
1 menit : - Dingin
2 menit : - Biasa saja
Tangan kiri suhu 40°
0 menit : Hangat
1 menit : Tidak begitu hangat
2 menit : Kesemutan
Kedua tangan dalam air suhu 30°
( OP merasa lebih baik )
0 menit : Hangat -Dingin
1 menit : Hangat - Dingin
2 menit : Hangat ( tidak - Dingin ( keriput pada
keriput kulitnya) kulitnya )

9
Peniupan Tangan dan Pengolesan Alkohol

Tangan kering ditiup : sejuk


Tangan basah ditiup : lebih sejuk/dingin
Tangan diolesi alcohol 70% : sangat dingin
Pembahasan
Manusia ketika dirangsang akan memberikan respon. Rangsangan itu dapat berupa rangs
ang gerak, rangsang cahaya, rangsang panas, dsb. Ketika rangsang sampai ke tempat tertentu di
tubuh kita, rangsang itu diterima oleh suatu reseptor. Tiap reseptor dispesialisasikan untuk beres
pon terhadap jenis rangsangan yang spesifik. Misalnya reseptor di mata sensitive terhadap rangsa
ngan cahaya, reseptor di telinga untuk suara, dan lain sebagainya. Ada beberapa jenis reseptor da
lam tubuh kita, salah satunya adalah thermoreceptors yang sensitive terhadap rangsangan panas
dan dingin.1
Apakah anda pernah merasakan misalnya ketika berada di ruangan dingin selama satu ja
m, lalu anda keluar dari ruangan itu dan misalnya mencuci kaki di kamar mandi, airnya terasa ha
ngat, padahal biasanya air itu terasa dingin. Hal itu membuktikan bahwa sensasi panas dan dingi
n kita adalah subyektif dan tidak bisa dipercaya sebagai pengukur temperature. Reseptor panas/h
angat spesifik belum teridentifikasi, saat ini reseptor ini dikenal sebagai ujung saraf bebas.Sinyal
panas/hangat disalurkan melalui serat sensorik tipe C. Reseptor dingin diidentifikasi sebagai ujun
g saraf halus. Reseptor dingin berjumlah lebih banyak daripada reseptor panas.2
Stimulus bagi thermoreceptor adalah temperature jaringan di sekitarnya atau perubahan s
uhu.3 Baik reseptor panas maupun reseptor dingin memiliki komponen phasic dan tonic di respon
nya.Respon phasic beradaptasi secara cepat dan berespon salah satunya untuk perubahan suhu. R
espon tonik tergantung dari temperature local/sekitar.4
Reseptor merangsang terjadinya potensial aksi dengan frekuensi yang relative kecil pada
temperature yang stabil.Ketika terjadi perubahan suhu sekecil apapun dapat mengakibatkan peru
bahan frekuensi firing.Reseptor panas sebagai contoh berespon pada suhu ruangan konstan denga
n frekuensi yang rendah, tapi pada pemanasan permukaan kulit sedikit saja akan meningkatkan ti
ngkat firing. Responnya cepat jika pemanasan terjadi secara cepat pula.3 Oleh karena itu ketika
OP mengangkat tangan kanannya dari air bersuhu 20 derajat lalu dimasukkan ke dalam air bersu

10
hu 30 derajat, tangan kanan OP akan terasa lebih hangat. Disitu terjadi peningkatan frekuensi sti
mulus yang akan lebih merangsang reseptor panas.
Sama halnya dengan hasil percobaan yang dilakukan ketika tangan kiri yang tadinya dala
m air bersuhu 40 derajat dimasukkan ke air yang bersuhu 30 derajat akan merasakan merasakan
sensasi lebih dingin.Ketika terpajan penurunan suhu mendadak pada tangan kiri), pada awalnya
reseptor dingin akan terangsang secara kuat, tetapi kemudian setelah beberapa detik pertama pem
bentukan potensial aksi turun drastis. Beberapa menit kemudian, penurunan potensial aksi ini me
njadi jauh lebih lambat. Hal ini berarti bahwa reseptor dingin dan hangat berespon terhadap suhu
keadaan mantap/konstan/stabil serta perubahan suhu. Perubahan suhu sekitar 0,2 derajat saja sud
ah dapat menyebabkan perubahan firing rate dari thermoreseptor. mekanisme stimulatorik dalam
reseptro suhu diperkirakan berkaitan dengan perubahan laju metabolic di serat saraf yang dipicu
oleh perubahan suhu. Telah dibuktikan bahwa untuk setiap perubahan 10 derajat celcius terjadi p
erubahan 2 kali lipat laju reaksi kimia intraseluler.2 Hal ini membuktikan hermoreseptor tidak me
mberikan pengukuran yang objektif terhadap temperature kulit yang nyata, melainkan memberik
an penilaian yang subyektif. 3

II. Percobaan 2 ( Titik Panas, Dingin, Tekan, dan Nyeri di Kulit )


Cara Kerja:
4. Letakkan punggung tangan kanan di atas sehelai kertas dan tarik garis pada pinggir
tangan dan jari-jari sehingga terdapat lukisan tangan.
5. Pilih dan gambarkan di telapak tangan itu suatu daerah seluas 3 x 3 cm dan gambarkan
pula daerah itu di lukisan tangan pada kertas. Kotak 3 x 3 cm dibuat lagi menjadi 12 x 12
kotak, jadi jumlah kotak 144 kotak kecil.
6. Tutup mata OP dan letakkan punggung tangan kanannya santai di meja.
7. Selidikilah secara teratur menurut garis-garis sejajar titik-titik yang memberikan kesan
panas yang jelas pada telapak tangan tersebut dengan menggunakan kerucut kuningan
yang telah dipanasi. Cara memenasi kerucut yaitu dengan menempatkannya dalam bejana
berisi kikiran kuningan yang direndam air panas bersuhu 50 derajat. Tandai titik-titik
panas yang diperoleh dengan tinta.
8. Ulangi penyelidikan yang serupa dengan kerucut kuningan yang telah didinginkan. Cara
mendinginkan kerucut kuningan yaitu dengan menempatkannya dalam bejana berisi

11
kikiran kuningan yang direndam dalam air es.
9. Selidikilah pula menurut cara di atas titik-titik yang memberikan kesan tekan dengan
menggunakan estesiometer rambut Frey dan titik-titik yang memberikan kesan nyeri
dengan jarum.
10. Gambarkan dengan symbol yang berbeda semua titik yang diperoleh pada lukisan tangan
di atas.

OP: Mariella Valerie


Hasil Percobaan

12
Pembahasan

Dalam praktikum kedua, terdapat rangsangan panas, dingin, tekan dan nyeri. Pertama ada
lah reseptor nyeri atau disebut dengan nosiseptor. Reseptor tersebut merupakan reseptor dengan
daerah penerimaannya yang luas. Sehingga terlihat pada percobaan hampir semua daerah kotak –
kotak tersebut mendeteksi rangsangan nyeri. Nyeri terutama berfungsi sebagai mekanisme prote
ktif bagi tubuh karena nyeri bukan merupakan sensasi murni tetapi lebih merupakan respon terha
dap cedera jaringan yang tercipta dalam sitem saraf. Perasaan nyeri tidak hanya terdapat di perm
ukaan kulit saja, tetapi juga di tempat-tempat lain. Rasa nyeri yang terjadi karena rangsangan di
permukaan tubuh disebut nyeri superfisial, sedangkan rangsangan pada otot, persendian, ljairnga
n penyambung sering diesbut nyeri dalam (deep pain). Rasa nyeri dirasakan oleh kelompok resep
tor yang dinamakan nocireceptor. Semua reseptor nyeri adalah ujung saraf bebas. Reseptor-resept
or ini ditemukan dalam jumlah dan kepadatan tertinggi di kulit, periosteum, dinding arteri, permu
kaan sendi, dura, dan refleksinya di bagian dalam kubah cranium. Rasa nyeri dapat diakibatkan o
leh rangsangan mekanis, suhu, dan kimiawi.Rangsangan mekanis dan suhu cenderung mengakib
atkan nyeri cepat.rangsangan kimiawi cenderung menimbulkan nyeri lambat. Rasa nyeri juga da
pat diakibatkan oleh suhu dingin atau panas yang terlalu ekstrim. 2Untuk itu dalam percobaan ya
ng dilakukan perangsangan menggunakan jarum harus dilakukan dengan cepat untuk membuktik
an apakah nyeri itu merupakan nyeri cepat atau nyeri lambat. Karena OP merasakan nyeri denga
n perangsangan yang cepat, dan terjadi di kulit maka nyeri itu dikategorikan sebagai nyeri cepat.
Lalu terdapat reseptor temperatur atau thermoreseptor. Reseptor tersebut aktif bisa terjadi
perubahan suhu pada kulit. Reseptor yang menerima rangsang dingin lebih banyak dibandingka
n dengan reseptor yang menerima rangsang panas. Maka terlihat pada hasil percobaan, daerah ko
tak – kotak pada percobaan rangsang dingin lebih banyak terdeteksi dibandingkan dengan resept
or yang menerima rangsang panas. Dan reseptor tekan, yaitu mekanoreseptor. Reseptor yang me
nerima rangsangan akibat perubahan bentuk dan penekanan fisik. Pada percobaan terlihat penyeb
aran mekanoreseptor tersebut.

13
III. Percobaan 3 (Lokalisasi Taktil)

Cara Kerja:

1. Tutup mata orang percobaan dan tekankan ujung pensil pada suatu titik di kulit ujung
jarinya.
2. Suruh sekarang orang percobaan melokalisasi tempat yang baru dirangsang tadi dengan
ujung sebuah pensil pula.
3. Tetapkan jarak antara titik rangsang dan titik yang di tunjuk.
4. Ulangi percobaan ini sampai 5 kali dan tentukan jarak rata-rata untuk kulit ujung jari,
telapak tangan, lengan bawah, lengan atas dan tengkuk.

OP: Merry Beatrix


Hasil Percobaan

Bagian yang di Percobaan Percobaan Percobaan Percobaan Percobaan Rata-Rata


tekan 1 2 3 4 5

Jari-jari 0,5 cm 0,2 cm 0,3 cm 0,4cm 0,4 cm 0,36 cm

Telapak 0,3 cm 0,5 cm 0,4 cm 0,6cm 0,7 cm 0,5 cm

Lengan bawah 0,2 cm 1 cm 0,7 cm 1 cm 0,8 cm 0,74 cm

Lengan atas 0,9 cm 1 cm 1,3 cm 1,2cm 0,9 cm 1,06 cm

Tengkuk 0,4 cm 0,4 cm 0,5 cm 0,3 cm 0,6 cm 0,44 cm

Pembahasan :

Dalam percobaan yang telah dilakukan berdasarkan hasil pada syaraf ujung jari memiliki
jarak yang lebih pendek dibandingkan yang lain. Hal ini diakibatkan karena pada bagian ujung
jari memiliki kepekaan yang besar terhadap rangsangan sehingga kita dapat mengetahui lebih
tepat dibagian mana yang terkena rangsangan terhadap ujung jari kita. Sedangkan pada tengkuk
PS tidak dapat menandai titik rangsang secara spesifik dibandingkan dengan ujung jari hal ini
disebabkan karena titik kepekaan pada tengkuk lebih kecil dibandingkan dengan ujung jari. Jaras
utama dari trasmisi sinyal somatosensorik adalah system kolumna dorsalis lemniskus medialis

14
dan system lateral. Meskipun sebagian rangsangan nyeri dapat di ketahui lokasinya lebih jelas
tetapi presisi titik demi titik di system kolumna dorsalis lemniskus medial dan sifat system
anterolateral menyebabkan dibagian beberapa daerah tersebut kurang efektif dalam
melokasikannya.2

IV. Percobaan 4 ( Diskriminasi Taktil)


Cara Kerja:
1. Tentukan secara kasar ambang membedakan dua titik untuk ujung jari dengan
menempatkan kedua ujung sebuah jangka secara serentak (simultan) pada kulit ujung
jari.
2. Dekatkan kedua ujung jangka itu sampai di bawah ambang dan kemudian jauhkan
berangsur-angsur sehingga kedua ujung jangka itu tepat dapat dibedakan sebagai 2
titik.
3. Ulangi latihan ini dari suatu jarak permulaan di atas ambang. Ambil angka ambang
terkecil sebagai ambang diskriminisasi taktil tempat itu.
4. Lakukan latihan di atas sekali lagi, tetapi sekarang dengan menempatkan kedua ujung
jangka secara berturut-turut (suksesif).
5. Tentukan dengan cara yang sama (simultan dan suksesif) ambang membedakan dua
titik ujung jari, tengkuk dan pipi.
6. Catat apa yang saudara alami.

OP: Merry Beatrix

Hasil Percobaan

1. simultan suksesif

Ujung jari 1 mm (1 titik) 1 mm ( 1 titik)


2 mm (1 titik)
2 mm ( 2 titik)
3 mm (1 titik) 3 mm ( 2 titik)
4 mm (2 titik)

15
5 mm (2 titik)

simultan suksesif

Pipi 1 mm (1 titik) 1 mm (1 titik)

3 mm (1 titik) 4 mm (1 titik)

4 mm (1 titik) 5 mm (2 titik)

5 mm (2titik) 6 mm (2 titik)

simultan suksesif
Tengkuk 1 mm (1 titik) 1 mm (1 titik)
2 mm (1 titik) 2 mm (2 titik)
3 mm (2 titik) 3 mm (2 titik)

Pembahasan

Dalam praktikum keempat, diskriminasi taktil agak sedikit berbeda dari praktikum ketiga
karena memakai dua titik yang terkadang akan menyebabkan kesulitan dalam
pembedaanya.Hal tersebut disebabkan karena berbagai daerah tubuh bervariasi dalam
kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan bervariasi.Kemampuan
panca indra untuk membedakan keberadaan 2 titik yang mendapat rangsangan sangat
dipengaruhi oleh mekanisme inhibition lateral yang meningkatkan derajat kontras pada pola
spasial yang disadari. Setiap jaras sensorik bila dirangsang secara simultan akan
menghasilkan sinyal inhibitorik lateral. Normalnya dua titik terpisah 2– 4 mm dapat
dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40 mm dapat dibedakan pada dorsum pedis.Dari hasil
percobaan, terlihat pada tengkuk dan pipi hanya satu kali OP dapat membedakan kedua titik
secara tepat. Berdasarkan literatur, disimpulkan bahwalokalisasi dua titik lebih peka pada
bagian yang menonjol, seperti bibir, hidung, mata, ujung jari dan telinga. Selain itu, waktu
juga mempengaruhi sehingga ada penyebaran sensasi.

16
V. Perasaan Iringan (After Image)

Cara Kerja:

1. Letakkan sebuah pensil antara kepala dan daun telinga dan biarkan di tempat itu selama
saudara melakukan percobaan VI.
2. Setelah saudara selesai dengan percobaan VI, angkatlah pensil dari telinga saudara dan
apakah yang saudara rasakan setelah pensil itu diambil?

OP: Merry Beatrix


Hasil Percobaan

Ketika OP tidak sadar, pensil yang tadinya ada di telinganya diambil, ketika ditanya dimana pen
silnya, OP menjawab bahwa pensil itu masih di telinganya padahal pensil itu sudah diambil.
Pembahasan

Menurut Warren, perasaan iringan/after image adalah perlamaan atau pembaharuan pengalaman
sensoris setelah stimulus eksternal tiada. Warren menggarisbawahi bahwa istilah after-image itu
untuk segala sesuatu yang berhubungan dari sistem saraf pusat, sedangkan istilah after sensation
untuk segala sesuatu yang berasal dari saraf tepi.Definisi after-sensation adalah perlamaan atau p
embaruan pengalaman sensoris setelah stimulus eksternal tiada, tetapi reseptor-reseptor rangsang
an masih aktif.5 Stimulus yang diberikan harus lama agar dapat menciptakan fenomena after
image ini.
After image (perasaan ikutan) tidak hanya terjadi di bagian telinga saja.After image ini se
ring terjadi pada bagian mata. Pada setiap alat indera, rangsangan yang berulang akan mengakiba
tkan sensasi yang berulang pula. After-image terjadi karena adanya suatu sirkuit neuronal yang
bersifat berulang (reverberating). Pada jalur ini neuron akan bersinaps secara kolateral dengan int
erneuron. Sinaps antara interneuron dan neuron ini akan mengirimkan impuls baru melalui sirkui
t. Impuls baru dapat dibentuk lagi dan lagi sampai sinaps lelah (karena kekurangan neurotransmit
ter) atau diberhentikan oleh inhibisi lainnya.Reverberating circuit ini berguna untuk aktivitas yan
g ritmis seperti bernapas, kesadaran mental, dan memori jangka pendek.6 Hal inilah yang menye
babkan perasaan iringan setelah pensil diambil dari telinga.Stimulus oleh pensil ke telinga itu la
ma/terjadi secara berulang. Yang bekerja disini adalah reverberating circuit karena rangsangnya
terjadi secara berulang. Ketika stimulus dihilangkan (pensil diambil), reseptor tetap aktif

17
sehingga akan tetap meneruskan informasi ini ke medulla spinalis kemudian ke otak. Pada sirkuit
reverberating, impuls sensori akan terus-menerus/berulang sehingga OP masih bisa merasakan
ada pensil di telinganya.

VI. Percobaan 6 (Daya Membedakan Berbagai Sifat Benda)


Cara Kerja ;
a. Kekasaran Permukaan Benda
1. Dengan mata tertutup, suruh OP meraba-raba permukaan ampelas yang mempunyai
derajat kekasaran yang berbeda-beda.
2. Perhatikan kemampuan OP untuk membedakan derajat kekasaran ampelas.

b. Bentuk Benda
1. Dengan mata tertutup suruh OP memegang-megang benda-benda kecil yang
diberikan (pensil, penghapus, rautan, koin,dll).
2. OP menyebutkan nama/bentuk benda-benda aitu.

c. Bahan Pakaian
1. Dengan mata tertutup, OP meraba-raba bahan-bahan pakaian yang diberikan.
2. OP menyebutkan jenis/sifat bahan yang dirabanya itu.Apa nama kemampuan
membedakan benda menurut bendanya?
Hasil Percobaan
OP : Nurul Laylatul Musyifa
a. Kekasaran Permukaan Benda
OP dapat membedakan derajat kekasaran benda dengan baik.
Keterangan : > = lebih kasar . point 1-4
3>1 - 4>1 -5>1
4>3 -4>5 -3>5
4>5 -4>1 -4>5

b. Bentuk Benda
OP dapat menyebutkan benda-benda yang dipegangnya dengan mata tertutup.

18
 Name tag : persegi panjang, licin, gepeng, ringan
 Cincin : bulat,licin
 Penghapus : persegi panjang, halus, agak kasar
 Pensil : panjang, halus

c. Bahan Pakaian
OP dapat menyebutkan jenis/sifat bahan yang dirabanya walaupun OP tidak mengeta
hui nama bahan itu, tetapi OP dapat menyebutkan secara jelas bagaimana struktur dan
tekstur bahan-bahan pakaian yang dipegangnya.
Keterangan : A : Hijau toska
B : Blaster
C : Kuning
D : Biru
A&B A&C
2. A > Kasar dari B  C > lembut dari B
3. A > timbul  C> licin dari B
4. B > kasar serat-seratnya
A&D B&C
 D > kaku dar A  C > lembut dari B
 D > lembut dari A  C > licin dari B
C&D B&D
 C > lembut dari D  D > lembut dari B
 C > licin dari D  D > lembut dari B
 D > kaku dari C  B > kasar dari D

Pembahasan

Kemampuan seseorang untuk mengidentifikasikan objek tanpa melihat objek itu dinama
kan stereognosis. Kemampuan ini bergantung pada sensasi sentuhan dan tekanan.7 Untuk mengu
ji kemampuan seseorang dalam mengidentfikasikan benda dapat dilakukan dengan aktif maupun

19
pasif. Pengeksplorasian secara pasif dilakukan ketika misalnya teman kita menggoreskan atau m
enempelkan benda yang akan diidentifikasikan ke tangan kita. Kita tidak boleh menyentuh atau
merabanya, tangan kita dalam keadaan pasif.
Eksplorasi haptic adalah bentuk pengeksplorasian yang aktif, dilakukan untuk mengidenti
fikasikan benda yang dipegang dengan menggunakan sistem sensori (sentuhan, rabaan, temperat
ure, tekstur, dan pererakan dan posisi dari tangan dan jari tangan), sistem motorik (yang melibatk
an menggerakkan tangan pada saat meraba-raba dan merasakan benda yang dipegang) ,dan juga
melibatkan sistem kognitif dimana kita mengolah informasi (berpikir) dari informasi-informasi
yang diberikan oleh sistem sensori mapun motori.
Lobus parietal dari otak berfungsi untuk menerima dan mengolah input sensori. Korteks
somatosensory terletak di lobus parietal ini, tepatnya di gyrus postsentralis. Korteks somatosenso
ry dapat mengenali diskriminasi spatial, jadi korteks somatosensory dapat mengenai bentuk obje
k yang dipegang dan daoat membedakan perbedaan kecil dari objek sama yang berkontak denga
n kulit. Korteks somatosensory kemudain memproyeksikan input sensori ini melalui serat-serat
di white matter ke area sensoris yang lebih tinggi untuk pertimbangan dan analisis lebih lanjut, se
rta integrasi dari semua informasi sensori. Area sensori yang lebih tinggi ini berfungsi untuk men
erima pola yang lebih kompleks dari rangsangan somatosensory, contohnya mengenali tekstur, te
mperature, bentuk benda, posisi, dan lokasi objek yang sedang dipegang.2 Hal ini lah yang meny
ebabkan OP dapat merasakan tekstur, bentuk benda dan bahan pakaian. Hal ini belum tentu cuku
p, OP diminta untuk menyebutkan benda-benda yang dipegangnya itu, tentu hal itu perlu proses
berpikir. Proses berpikir ini terjadi di korteks asosiasi prefrontal.
Bagian lobus frontalis otak memiliki 3 fungsi utama yaitu : aktivitas volunteer motorik
(seperti pada saat meraba-raba benda, menggerakkan tangan untuk merasakan benda yang dipega
ng), kemampuan bicara, dan kemampuan berpikir. Bagian korteks asosiasi prefrontal terletak di
bagian depan lobus frontal otak. Disinilah proses berpikir terjadi. Korteks asosiasi prefrontal adal
ah tempat operasi memori yang bekerja (working memory), dimana otak menyimpan memori te
mporal dan menguunakan memori ini utuk perencanaan dan memberikan jawaban/alasan.Kortek
s asosiasi prefrontal ini menyebabkan kita dapat memberikan alasan/jawaban dengan kerjasama
dengan semua bagian sensori otak.1
Pada percobaan menentukan kekasaran dan bentuk benda OP dapat mengidentifikasikan s
emuanya dengan baik karena korteks somatosensory bekerja dengan baik dan korteks asosiasi pr

20
efrontal memiliki informasi yang cukup bagi otak untuk berpikir dan menyebabkan OP dapat me
ngidentifikasikan benda dengan benar.Pada percobaan menentukan bahan pakaian, OP dapat mer
asakan tekstur dari bahan pakaian yang diberikan tetapi tidak dapat menyebutkan jenis bahan pak
aian yang diberikan.Korteks somatosensory OP bekerja dengan baik karena dapat merasakan tek
stur bahan pakaian tersebut, tetapi korteks asosiasi prefrontal OP mungkin tidak menyimpan me
mori tentang jenis-jensi bahan pakaian karena OP belum pernah mempelajarinya/mengalaminya.

VII. Percobaan 7 (Tafsiran Sikap)

Cara Kerja:

a. Suruh pasien simulasi duduk dan tutup mata.


b. Pegang dan gerakkan secara pasif lengan bawah pasien simulasi ke dekat kepalanya, ke
dekat dadanya, ke dekat lututnya dan akhirnya gantungkan di sisi badannya.
c. Tanyakan setiap kali sikap dan lokasi lengan pasien simulasi.
d. Suruh pasien simulasi dengan telunjuknya menyentuh telinga, hidung dan dahinya
dengan perlahan-lahan setelah setiap kali mengangkat lurus lengannya.
e. Perhatikan apakah ada kesalahan.

OP: Merry Beatrix

Hasil Percobaan

Pada hasil percobaan ketujuh, OP dapat menyebutkan lokasi-lokasi dari lengan pasien dengan
baik. Ketika OP disuruh untuk menyentuh telinga, hidung dan dahinya dengan telunjuk OP dapat
melakukannya dengan baik.

Pembahasan

Pada orang yang normal, mereka dapat menentukan ke arah mana tangan harus
digerakkan agar sampai pada bagian tubuh yang diinginkan dan dengan mata tertutup sekalipun
mereka dapat menunjuk bagian tubuhnya sendiri, Pada orang yang tidak dapat melakukannya,
disebut menderita gangguan dysdiadochokinensis dimana itu merupakan suatu kelainan
neurologis yaitu penderita tidak dapat melokalisasikan tempat - tempat yang diminta. Pada hal

21
ini penderita ketika diminta untuk menunjuk salah satu bagian tubuhnya seperti tangan atau
bagian tubuh lainnya, penderita tidak dapat melakukannya dengan baik. Seperti contoh ketika
seseorang mengalami gangguan fungsi cerebellum akan mengalami kesulitan untuk
menggerakkan tangannya sendiri dari posisi lurus kedepan untuk menyentuh hidungnya. Hal ini
menunjukkan bahwa sang penderita telah mengalami disfungsi atau kerusakan cerebellum.

VIII. Percobaan 8 (Waktu reaksi)

Cara Kerja :
a. Menyuruh pasien simulasi duduk dan meletakkan lengan bawah dan tangan kanannya
di tepi meja dengan ibu jari dan telunjuk berjarak 1 cm siap untuk menjepit.
b. Pemeriksa memegang mistar pengukur waktu reaksi pada titik hitam dengan
menempatkan garis tebal di antara dan setinggi ibu jari dan telunjuk OP tanpa
menyentuh jari-jari OP.
c. Dengan tiba-tiba pemeriksa melepaskan mistar tersebut dan OP harus menangkapnya
selekas-lekasnya. Ulangi latihan ini sebanyak 5 kali.
d. Menetapkan waktu reaksi pasien simulasi (rata-rata dari ke 5 hasil yang diperoleh)

OP : Joshua Armando Sitompul

Hasil Percobaan

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan ketika pasien simulasi duduk dan meletakan lengan
bawah dan tangan kanannya di tepi meja dengan ibu jari dan telunjuk berjarak 1cm siap untuk
menjepit. Dari hasil percobaan dapat dilihat kemampuan PS menangkap mistart pengukur waktu
reaksi yang dilepaskan oleh pemeriksa secara mendadak sebanyak 5 kali dan diperoleh

Percobaan Waktu

1 0.20

2 0.16

22
3 0.17

4 0.16

5 0.17

Rata-rata 0.17

Diperoleh hasil rata-rata yaitu 0.17

Pembahasan

Dalam praktikum kedelapan ini tentang percobaan mengenai waktu reaksi. Percobaan ini
dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat saraf seseorang berjalan ke pusat hingga kembali unt
uk berespon dalam beberapa kali percobaan. Kita menganalisa bahwa terdapat perbedaan kecepat
an gerak reflek seseorang. Hal ini sangat terkait dengan saraf-
sarafnya dan pembiasaan diri terhadap lingkungan luar. Hal ini terjadi melalu beberapa proses di
dalamnya yaitu reseptor sensoris berupa reseptor penglihatan, reseptor pendengaran, reseptor tak
til (permukaan tubuh) akan mengirimkan sinyal ke sistim saraf. Sehingga terjadi reaksi segera ter
hadap tubuh untuk beberapa waktu. Di dalam percobaan ini , dapat dikatakan juga bahwa kecepa
tan reaksi OP meningkat sehingga dapat dikatakan bahwa keadaan OP tersebut dalam konsentrasi
yang baik.

23
Daftar Pustaka

1. Sherwood L. Introduction to human physiology. 8th ed. USA : Cengage Learning; 2010.p.
145-97.
2. Hall JE. Buku saku fisiologi kedokteran. 11th ed. Jakarta: EGC; 2009. P.369-78.
3. Brodal P. The central nervous system physiology. 4thed. New York : Oxford University Press;
2010.p.169.
4. Rhoades R, Bell DR. Medical physiology : principles for clinical medicine. 3rd ed. USA :
Lippincott and Williams; 2009.p.71-2.
5. Roeckelein JE. Imagery in physiology : a reference guide. USA: Greenwood Publishing
Group;2004..23.
6. Solomon EP. Berg LR, matin DW. Biology. USA : Cengange Learning; 2005.p.758.
7. Ganong WF. Medical physiology : principles for clinical medicine. 21st ed. USA: McGraw-
Hill Company;2003.p. 143-9.

24