Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN & MEDICATION ERROR DI


RUMAH SAKIT

Oleh :
REFIKA ASTIKA SURI
153145261012
DOSEN PENGAMPUH : DEWI ASTUTI, SKM., M. KES

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI RUMAH SAKIT


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR............................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 6
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 7
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................... 8
2.1 STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN ................................................................ 8
A. Definisi Pelayanan kefarmasian .......................................................................... 8
B. Ruang Lingkup Pelayanan Kefarmasian .............................................................. 8
2.2 MEDICATION ERROR ......................................................................................... 15
A. Definisin Medication error ................................................................................ 15
B. Tujuan ............................................................................................................... 16
C. Kategori Medication Error ................................................................................ 16
D. Bentuk Kejadian Medication Error .................................................................... 17
E. Pemantauan dan Pengelolaan Medication Errors ............................................ 18
F. Respon setelah terjadi medication error: ......................................................... 19
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 20
KESIMPULAN ................................................................................................................. 20
Daftar Pustaka................................................................................................................... 21
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Swt Yang Maha Pengasih Dam Maha
Penyayang, saya panjatkan puja dan puji syukut atas kehadiratnya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-nya kepada saya, sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Standar Pelayanan Kefarmasian &
Medication Error Di Rumah Sakit “ makalah ini saya susun dengan baik,
Terlepas dari semua itu saya menyadari sepenuhnya masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. oleh karna itu dengan tangan
terbuka saya menerima segala saran dan kritksdari pembaca agar saya dapat
memperbaiki makalah tersebut.

Makassar, 12 November 2018


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan
karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan
kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang
harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau
oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (UU
No.44 tahun 2009).
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dari pasien.
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar dapat melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien. Perkembangan tersebut juga dapat menjadi
peluang sekaligus merupakan tantangan bagi Apoteker untuk maju meningkatkan
kompetensinya sehingga dapat memberikan Pelayanan Kefarmasian secara
komprehensif dan simultan baik yang bersifat manajerial maupun farmasi klinik.
Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah melaksanakan pemberian
informasi, monitoring penggunaan obat untuk mengetahui tujuan akhirnya sesuai
harapan dan terdokumentasi dengan baik. Apoteker harus memahami dan
menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam
proses pelayanan.
Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktek harus sesuai standar.
Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam
menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional. Sebagai
upaya agar para apoteker dapat melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan baik,
Ditjen Yanfar dan Alkes, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan
Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) menyusun standar pelayanan kefarmasian di
apotek. Hal ini sesuai dengan standar kompetensi apoteker di apotek untuk
menjamin mutu pelayanan kefarmasian kepada masyarakat.
Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
dinyatakan bahwa Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan,
prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan. Persyaratan
kefarmasian harus menjamin ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang bermutu, bermanfaat, aman, dan terjangkau.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian juga dinyatakan bahwa dalam menjalankan praktek kefarmasian pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan Standar Pelayanan
Kefarmasian yang diamanahkan untuk diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan.
Keputusan penggunaan obat selalu mengandung pertimbangan antara manfaat
dan risiko. Fokus pelayanan kefarmasianbergeser dari kepedulian terhadap obat
(drug oriented) menuju pelayanan optimal setiap individu pasien tentang
penggunaan obat (patient oriented).Untuk mewujudkan pharmaceutical care
dengan risiko yang minimal pada pasien dan petugas kesehatan perlu penerapan
manajemen risiko.
Medication Error adalah jenis Medical Error yang paling umum terjadi di
berbagai rumah sakit. Diperkirakan 7000 orang meninggal pertahun(The Business
Case for Medication Safety, February 2003). Medication Error terjadi dengan
regularitas yangsukar dipercaya. Studi di 36 rumah sakit (dipublikasi 2002)
ditemukan pada setiap kemungkinan terjadi 2 ME setiap hari.
Pada artikel lain (dipublikasi 1970-an dan 1980an) terjadi kematian ganda
akibat kesalahan satu medikasi atau lebih.Awal tahun 1966 University Arkansas
menerbitkan hasil penelitiannnya 66.1% dari 654 terjadi kesalahan pengobatan
serius (tidak termasuk wrong time errors). Kesalahan serius obat berbahaya terjadi
akibat misused sebagai keputusan dua panel farmasis.
Di AS kesalahan pemberian obat di 2 rumah sakit adalah 56% dan 34%
(BATES, 1995), sedangkan di Indonesia menurut Iwan Dwiprahasto MMedSc,
PhD di Jogja, yaitu medication error di ICU mencapai 96% (tak sesuai indikasi, tak
sesuai dosis, polifarmaka tak logis, dll ) dan medication error di puskesmas adalah
sekitar 80 %.
Medication error dapat terjadi dimana saja dalam rantai pelayanan obat kepada
pasien mulai dari produksi dalam peresepan, pembacaan resep, peracikan,
penyerahan dan monitoring pasien. Di dalam setiap mata rantai ada beberapa
tindakan, sebab tindakan mempunyai potensi sebagai sumber kesalahan. Setiap
tenaga kesehatan dalam mata Berdasarkan Laporan Peta Nasional Insiden
Keselamatan Pasien (Konggres PERSI Sep 2007). “ kesalahan dalam pemberian
obat menduduki peringkat pertama (24.8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan.
Jika disimak lebih lanjut, dalam proses penggunaan obat yang meliputi prescribing,
transcribing, dispensing dan administering, dispensing menduduki peringkat
pertama“.
Rumah sakit mempunyai proses untuk mengidentifikasi dan melaporkan
kesalahan obat. Identifikasi medication error dapat menggunakan rekam kesehatan
pasien selama dirawat. Disadari bahwa rekam kesehatan mempunyai peran yang
penting dalam telusur medication error. Telusur ini dapat dilakukan dengan analisis
kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya proses termasuk mendefinisikan suatu
kesalahan obat, menggunakan format pelaporan yang distandarisasi dan
mengedukasi staf tentang proses dan pentingnya pelaporan. Proses pelaporan
adalah bagian dari program mutu dan keselamatan pasien rumah sakit. Program
memusatkan pada pencegahan kesalahan obat melalui pemahaman jenis kesalahan
yang terjadi di rumah sakit maupun di rumah sakit lain dan mengapa MEterjadi.
Perbaikan dalam manajemen pengobatan secara terpadu digunakan untuk
mencegah kesalahan di kemudian hari. rantai ini dapat memberikan kontribusi
terhadap kesalahan ( Cohen, 1999).
1.2 Rumusan Masalah
A. Apa Definisi Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit?
B. Bagaimana Ruang Lingkup Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit?
C. Apa Definisi dari Medication Error Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit?
D. Tujuan Medication Error?
E. Apa Kategori Medication Error?
F. Apa saja Bentuk Kejadian Medication Error?
G. Bagaimana Pemantauan dan Pengelolaan Medication Errors?
H. Apa saja Respon setelah terjadi medication error?

1.3 Tujuan
A. Mengetahui Definisi Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
B. Mengetahui Ruang Lingkup Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
C. Mengetahui Definisi dari Medication Error Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit
D. Mengetahui Tujuan Medication Error
E. Mengetahui Apa Kategori Medication Error
F. Mengetahui Bentuk Kejadian Medication Error
G. Mengetahui Pemantauan dan Pengelolaan Medication Errors
H. Mengetahui Respon setelah terjadi medication error
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN
A. Definisi Pelayanan kefarmasian
Pelayanan kefarmasian adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab
langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien (Menkes RI, 2004). Menurut PP 51 tahun 2009 pelayanan
kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil
yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam
Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang harus diwujudkan
dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait Obat.
Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan
sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien (Menkes RI, 2014).

B. Ruang Lingkup Pelayanan Kefarmasian


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35
tahun 2014, standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi:
1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis
Pakai
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
meliputi (Menkes,RI., 2014):
a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola
penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.
b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan
sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan
peraturan/perundang-undangan.
c. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
d. Penyimpanan
a. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada
wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus
ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-
kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal
kadaluwarsa.
b. Semua obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
c. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk
sediaan dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.
d. Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out)
dan FIFO (First In First Out).
e. Pemusnahan
1) Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan
jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak
yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh
apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh
apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang
memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan.
2) Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun
dapat dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker
disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di apotek dengan
cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan
berita acara pemusnahan resep menggunakan formulir 2
sebagaimana terlampir dan selanjutnya dilaporkan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
f. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem
pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini
bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan,
kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian
pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok
baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-
kurangnya memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah
pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.
g. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat
pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau
struk penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan
internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi
kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
meliputi pelaporan narkotika dan pelaporan psikotropika (Menkes,RI.,
2014).
2. Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan
kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan
dengan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien. Pelayanan farmasi klinik yang dilakukan meliputi:
a. Pengkajian Resep
Kegiatan pengkajian resep meliputi:
1) Kajian administrative, meliputi: nama pasien, umur, jenis kelamin
dan berat badan, nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP),
alamat, nomor telepon dan paraf, tanggal penulisan resep.
2) Kajian kesesuaian farmasetik, meliputi: bentuk dan kekuatan
sediaan, stabilitas dan kompatibilitas (ketercampuran obat).
3) Pertimbangan klinis, meliputi: ketepatan indikasi dan dosis obat,
aturan, cara dan lama penggunaan obat, duplikasi dan/atau
polifarmasi, reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek
samping obat, manifestasi klinis lain), kontra indikasi dan interaksi
(Menkes,RI., 2014).
b. Dispensing
Dispensing terdiri dari:
1) Penyiapan
a) Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan Resep:
b) Melakukan peracikan obat bila diperlukan
c) Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
d) Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah
untuk obat yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan
menghindari penggunaan yang salah.
2) Penyerahan
a) Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan
pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada
etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat
(kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep)
b) Memanggil nama dan nomor tunggu pasien
c) Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien
d) Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat
e) Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang
terkait dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan
minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping,
cara penyimpanan obat dan lain-lain
f) Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan
cara yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat
mungkin emosinya tidak stabil
g) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau
keluarganya
h) Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf
oleh Apoteker (apabila diperlukan)
i) Menyimpan resep pada tempatnya
j) Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan
menggunakan Formulir 5 sebagaimana terlampir.
3) Pemberian informasi obat
Apoteker di apotek juga dapat melayani obat non resep atau
pelayanan swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi
kepada pasien yang memerlukan obat non resep untuk penyakit
ringan dengan memilihkan obat bebas atau bebas terbatas yang
sesuai.
c. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak
memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam
segala aspek penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien
atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat
bebas dan herbal.
Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute
dan metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan
alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui,
efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau
kimia dari obat dan lain-lain.
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat di Apotek meliputi:
1) Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan
2) Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan
masyarakat (penyuluhan)
3) Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien
4) Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa
farmasi yang sedang praktik profesi
5) Melakukan penelitian penggunaan obat
6) Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah
7) Melakukan program jaminan mutu.
d. Konseling
Konseling merupakan proses interaktif antara apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam
penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:
1) Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati
dan/atau ginjal, ibu hamil dan menyusui).
2) Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya:
TB, DM, AIDS, epilepsi).
3) Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus
(penggunaan kortikosteroid dengan tappering down/off).
4) Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit
(digoksin, fenitoin, teofilin).
5) Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk
indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk
pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat
disembuhkan dengan satu jenis obat.
6) Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
e. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home pharmacy care)
Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan dapat melakukan
pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya
untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis
lainnya.
Jenis Pelayanan Kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh
Apoteker, meliputi:
1) Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan
dengan pengobatan
2) Identifikasi kepatuhan pasien
3) Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah,
misalnya cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin
4) Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum
5) Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan
obat berdasarkan catatan pengobatan pasien
6) Dokumentasi pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di rumah
dengan menggunakan Formulir 8 sebagaimana terlampir.
f. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien
mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan
memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.
Kriteria pasien:
1) Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
2) Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis.
3) Adanya multidiagnosis.
4) Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
5) Menerima obat dengan indeks terapi sempit.
6) Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat
yang merugikan.
g. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi
atau memodifikasi fungsi fisiologis. Apoteker di apotek juga dapat
melayani obat non resep atau pelayanan swamedikasi
(Menkes,RI.,2014).

2.2 MEDICATION ERROR


A. Definisin Medication error
(ME) yaitu kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat
selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah
(Anonim, 2004). Menurut The National Coordinating Council for Medication
errors Reporting and Prevention (NCC MREP ), ME merupakan kejadian
yang dapat menyebabkan atau berakibat pada pelayanan obat yang tidak tepat
atau membahayakan pasien ketika obat berada dalam pengawasan tenaga
kesehatan atau pasien.

ME dapat terjadi pada proses pengobatan, antara lain: prescribing


(peresepan), transcribing (penerjemahan resep), dispensing (penyiapan), dan
administration (Anonim, 2015). Kejadian ME terkait dengan praktisi, produk
obat, prosedur, lingkungan atau sistem (Rusmi dkk., 2012). Kesalahan pada
salah satu tahap dapat terjadi secara berantai dan menimbulkan kesalahan
pada tahap selanjutnya.
B. Tujuan
Pengelolaanmedication error sangat penting dilakukan dimanapun medikasi
diberikan, adapun tujuannya adalah sebagai berikut :
1. Menurunkan Insiden Keselamatan Pasien dalam medication error
2. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
3. Meminimalkan potensi terjadinya kerugian
4. Menanggapi pihak yang mengalami cedera dengan segera dan
selayaknya
5. Mengantisipasi dan merencanakan pertanggungjawaban jika terjadi
kerugian.
6. Membantu praktisi kesehatan dan lembaga terkait untuk dapat
menelusuri kesalahan obat

C. Kategori Medication Error


Menurut National Coordinating Council for Medication error Reporting and
Prevention (NCC MERP), kategori medication error adalah sebagai berikut:

Tipe error Kategori Keterangan


NO ERROR A Keadaan atau kejadian yang potensial
menyebabkan terjadinya error
ERROR-NO HARM B Error terjadi, tetapi obat belum mencapai
pasien
C Error terjadi, obat sudah mencapai pasien
tetapi tidak menimbulkan risiko
a) Obat mencapai pasien dan sudah terlanjur
diminum/digunakan
b) Obat mencapai pasien tetapi belum sempat
diminum/digunakan
D Error terjadi dan konsekuensinya diperlukan
monitoring terhadap pasien, tetapi tidak
menimbulkan resiko (harm) pada pasien
ERROR-HARM E Error terjadi dan pasien memerlukan terapi
atau intervensi serta menimbulkan resiko
(harm) pada pasien yang bersifat sementara
F Error terjadi & pasien memerlukan
perawatan atau perpanjangan perawatan di
rumah sakit disertai cacat yang bersifat
sementara
G Error terjadi dan menyebabkan resiko
(harm) permanen
H Error terjadi dan nyaris menimbulkan
kematian (mis. anafilaksis, henti jantung)
ERROR-DEATH I Error terjadi dan menyebabkan kematian
pasien

D. Bentuk Kejadian Medication Error


Adapun bentuk-bentuk kejadian medication error antara lain:
1. Fase prescribing adalah error yang terjadi pada fase penulisan resep,
meliputi obat yang diresepkan tidak tepat indikasi, tidak tepat pasien
atau kontraindikasi, tidak tepat obat atau ada obat yang tidak ada
indikasinya, tidak tepat dosis dan aturan pakai.
2. Fase transcribing adalah error yang terjadi pada saat pembacaan resep
untuk proses dispensing, antara lain salah membaca resep karena tulisan
yang tidak jelas.
3. Fase dispensing ialah error yang terjadi pada saat penyiapan hingga
penyerahan resep oleh petugas apotek. Salah satu kemungkinan
terjadinya error adalah salah dalam mengambil obat dari rak
penyimpanan karena kemasan atau nama obat yang mirip atau dapat
pula terjadi karena berdekatan letaknya. Selain itu salah dalam
menghitung jumlah tablet yang akan diracik, ataupun salah dalam
memberikan informasi.
4. Fase administrasi adalah error yang terjadi pada proses penggunaan
obat, yaitu proses yang dimana terjadi saat obat diberikan dari petugas
apotek ke pasien atau dari petugas apotek kepada keluarga pasien. Dan
pada proses ini juga meliputi fase digunakannya obat. Fase ini dapat
melibatkan petugas apotek dan pasien atau keluarganya. Biasanya pada
fase ini ketidaklengkapan yang terjadi yaitu salah pemberian informasi
tentang penggunaan obat.
E. Pemantauan dan Pengelolaan Medication Errors
Peningkatan mutu secara terus-menerus diperlukan untuk pemantauan
medication errors. Kesulitan dalam mendeteksi kesalahan telah lama
diketahui sebagai salah satu penghalang untuk meneliti masalah itu dengan
teliti. Berbagai teknik pemantauan kesalahan tersedia (misal dilaporkan
sendiri tanpa nama, pelaporan peristiwa, teknik pengamatan tersembunyi).
Program pemantauan medication errors hendaknya mempertimbangkan :
1. Giliran kerja (laju kesalahan lebih tinggi secara khas terjadi selama
giliran siang)
2. Staf yang tidak berpengalaman dan kurang pelatihan
3. Pelayanan medis (misal kebutuhan khusus untuk populasi pasien
termasuk geriatrik, pediatrik, dan onkologi)
4. Meningkatnya kuantitas obat per pasien
5. Berbagai faktor lingkungan
6. Beban kerja dan keletihan staf
7. Komunikasi yang buruk di antara pelaku pelayan kesehatan
8. Bentuk sediaan
9. Tingkat pengukuran dan perhitungan yang diperlukan
10. Nomenklatur sediaan obat, pengemasan, pengetiketan yang
membingungkan
11. Tulisan tangan yang buruk
12. Kurang berdayanya fungsi berbagai komite, terutama PFT
Langkah-langkah pengelolaan medication errors :
1. Klasifikasikan jenis medication errors yang terjadi.
2. Tentukan penyebab terjadinya medication errors.
3. Medication errors harus didokumentasikan dan dilaporkan segera
kepada dokter, perawat, dan kepala IFRS.
4. Untuk kesalahan yang signifikan secara klinik, pengumpulan fakta dan
investigasi harus segera dimulai. Fakta yang harus ditetapkan dan
didokumentasikan termasuk apa yang terjadi, di mana peristiwa terjadi,
mengapa dan bagaimana peristiwa terjadi, siapa yang terlibat. Bukti
produk (misal etiket dan kemasan) harus dicari dan disimpan untuk
acuan di kemudian hari.
5. Identifikasikan langkah-langkah yang akan dilakukan dengan benar dan
dokumentasikan
6. Terapi perbaikan dan terapi suportif harus diberikan kepada pasien.
7. Kesalahan obat harus dilaporkan kepada program pemantauan rumah
sakit untuk kepentingan perbaikan mutu, peningkatan keamanan pasien
untuk pencegahan kesalahan yang akan datang.

F. Respon setelah terjadi medication error:


1. Meminimalisasi efek dari kesalahan medikasi pada pasien
2. Berikan pasien perhatian penuh
3. Pindahkan pasien ke tempat terpisah jika memungkinkan
4. Cari penyebab terjadinya kesalahan medikasi
5. Meminta maaf kepada pasien dan jelaskan kesalahan yang telah terjadi
6. Perbaiki kesalahan yang terjadi
7. Catat segala tindakan yang dilakukan
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dari pasien. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian juga dinyatakan bahwa dalam menjalankan praktek
kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan
Standar Pelayanan Kefarmasian yang diamanahkan untuk diatur dengan Peraturan
Menteri Kesehatan.
Menurut The National Coordinating Council for Medication errors Reporting
and Prevention (NCC MREP ), ME merupakan kejadian yang dapat menyebabkan
atau berakibat pada pelayanan obat yang tidak tepat atau membahayakan pasien
ketika obat berada dalam pengawasan tenaga kesehatan atau pasien.
Adapun bentuk-bentuk kejadian medication error antara lain:
1. Fase prescribing
2. Fase transcribing
3. Fase dispensing
4. Fase administrasi
Daftar Pustaka
Depkes RI. 2016. Peraturan Pemerintah RI No.72 tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Kesehatan RI, 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor No 436/ MenKes/SK/VI/1993 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek
http://www.hukor.depkes.go.id di askes pada tanggal 12 januari 2018
http://scribd.com di askes pada tanggal 12 Januari 2018
http://www.infokesonline.com/standar-pelayanan-kefarmasian-di-puskesmas/
Siregar, C.J.P. dan Kumolosasi, Endang. (2005). Farmasi Klinik : Teori dan
Penerapan. Jakarta: EGC. Hal.408-411.
Susanti. 2013. Identifikasi Medication Error pada fase Prescribing, Transcibing
dan Dispensing di Depo Farmasi Rawat Inap Penyakit Dalam Gedung Teratai,
Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati Periode 2013 [Skripsi]. UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta.
O'shea, Ellen. (1998). Factors contributing to medication errors: a literature review.
Journal of Clinical Nursing, 8, 496-504.