Anda di halaman 1dari 46

Percobaan I

Derajat Flokulasi

I. Tujuan Percobaan
Menghitung derajat flokulasi.

II. Dasar Teori


Suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung bahan obat
padat dalam bentukhalus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan
pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak coleh cepat
mengendap. Jika dikocok pelahan-lahan harus segera terdispersi
kembali.
Suatu sediaan obat dibuat dalam bentuk suspensi karena :
1. Bahan obat tidak larut tapi masih dikehendaki dalam bentuk cair,
misalnya: untuk pasien yang tidak bisa menelan tablet atau kapsul.
2. Untuk obat tertentu, dalam suspensi lebih stabil daripada larutan,
misalnya: Tetracyclyn Hcl yang dibuat dalam bentuk larutan akan
mudah rusak, sedangkan dalam bentuk suspensi jadi lebih stabil.
3. Untuk obat tertentu, rasa dalam bentuk suspensi lebih enak
daripada dalam larutan, misal: Chloramphenicol dalam bentu larutan
rasanya pahit, dalam bentuk suspensi rasanya lebih enak.
4. Untuk tujuan, misal depo therapi, contoh: injeksi chloramphenikol

Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi, antara lain :


1. Ukuran partikel
2. Sedikit banyaknya pergerakan partikel
3. Tolak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik pada
partikel
4. Konsentrasi suspensoid
Sediaan suspensi dalam farmasi digunakan sebagai :
1. Injeksi Intramuscular
2. Tetes mata
3. Sediaan Peroral
4. Sediaan rectum

Pembuatan suspensi pada umumnya ada 2 cara :


1. Dengan pengendapan ( presipitasi)
2. Secara langsung ( dispersi)

Dalam pembuatan suspensi pun ada 2 sitem pembuatan yakni:


1. Sistem flokulasi
Partikel yang terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap,
dan pada penyimpanan tidak terjadi cake serta mudah tersuspensi
kembali
Sifat-sifatnya :
a. Partikelnya merupakan agregat yang bebas
b. Sedimentasi terjadi cepat, partikel yang mengendap sebagai flok
(kumpulan partikel)
c. Sedimen dalam keadaan terbungkus dan bebas, tidak
membentuk cake yang keras dan padat, mudah terdispersi
kembali
d. Ujud suspensi kurang bagus karena sedimentasi cepat
terbentuk dan diatasnya terdapat cairan yang jernih dan nyata.
Dalam sistem ini biasanya mencegah pemisahan tergantung pada
partikel padat dan derajat flokulasinya.
2. Sistem deflokulasi
Partikel terdeflokulasi mengendap perlahan sampai membentuk
cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.
Sifat-sifatnya :
a. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain
b. Sedimentasi lambat terjadi, masing-masing partikel mengendap
terpisah dan ukuran partikelnya miminal
c. Sedimen akan membentuk cake dan sukar terdispersi kembali
d. Ujud suspensi bagus karena zat tersuspensi dalam waktu relatif
lama, terlihat ada endapan dan cairan diatas kabut.

Tekhnologi pembuatan obat suspensi dibedakan menjadi 4 fase, yakni:


1. Pendistribusian atau penghalusan fase terdispersi
2. Pencampuran dan pendispersian fase terdispersi dalam bahan
pendispersi
3. Stabilitas untuk mencegas dan mengurangi pemisahan fase
4. Homogenisasi, yakni pemerataan fase terdispersi dalam bahan
pendisperersi

Pengujian terhadap suspensi


1. Uji ukuran partikel
Melalui pengukuran mikroskopik dengan menggunakan mikroskop
proyeksi ( Lanameter )
2. Dispersitas
Dengan cara microskopik atau menggunakan pipet andreas atau
menggunakan perhitungan elektrolit ( coulter atau granuloter )
3. Pengujian lain
Penentuan orientasi partikel dengan menggunakan greendometer,
hasil pengukuran rheologis
Sifat-sifat suspensi yang diinginkan dalam suatu suspensi farmasi
Yang menjadi pertimbangan dari pengembangan dan pembuatan
suspensi farmasi adalah
1. Khasiat terapeutik
2. Stabilitas kimia
3. Komponen-komponen formulasi
4. Kelenggangan sediaan
5. Bentuk sediaan
6. Sifat-sifat sediaan yang diinginkan

Adapun yang diharapkan dari sediaan suspensi farmasi adalah:


1. Suspensi farmasi dibuat dengan tepat, mengendap secara lambat
dan harus rata bila dikocok kembali
2. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran
partikel suspensi tetap konstan untuk wakyu yang lama dalam
penyimpanan
3. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan tetap
homogen

Dalam pelaksanaan pembuatan suspensi ada beberapa cara,


tergantung pada partikel yang
diinginkan, terflokulasi atau terdeflokulasi. Cara itu adalaha:
1. Menggunakan structured vehicle yang berfungsi menjaga agar
partikel tetap terdeflokulasi dalam suspensi
2. Menngunakan sistem flokulasi untuk embuatan terbentuknya cake
3. Kombinasi kedua cara diatas yang menghasilkan suatu suspensi
dengan stabilitas yang bagus.
Dalam suatu suspensi yang terflokulasi, fase yang terdispersi akan
mengendap secara cepat dan menghasilkan endapan dan cairan yang
jernih. Untuk menilai suatu suspensi dapat mempergunakan
perbandingan volume endapan suatu saat dengan volume endapan
mula-mula yang merupakan harga volume pengendapan
Vu
F=
Vo
Dimana :
F = Volume pengendapan
Vu = Volume endapan setelah proses pengendapan
Vo = Volume suspensi sebelum pengendapan

Robinson dkk menggunakan perbandingan yang sama tetapi dengan


tinggi endapan
Hu
F=
Ho
Dimana :
F = Volume endapan
Hu = Tinggi endapan setelah proses pengendapan
Ho = Tinggi suspensin mula-mula sebelum pengendapan

Suatu parameter yang baik dalam menilai suspensi adalah


menggunakan derajat flokulasi (B) yang menerangkan hubungan antara
volume pengendapan suspensi terflokulasi (B) dengan volume
pengendapan suspensi yang sama jika suspensi tersebut dalam
keadaan terdeflokuasi (F Inf). Suspensi terdeflokulasi sempura akan
mempunyai endapan yang relatif kecil dengan ditandai V~. Volume
pengendapan suspensi tersebut berdasarkan persamaan (1) menjadi :
V~
F>
Vo
Perbandingan antara F dengan F~ adalah derajat flokulasi.
F
B=
F~
Substitusi harga F dan F~ dari persamaan (1) dari (3) ke persamaan (4)
menjadi :
𝐹
− 𝑉𝑢
𝐵= 𝐹~
𝑉~𝑉𝑜 − 𝑉~
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa :
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑠𝑢𝑠𝑝𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑓𝑙𝑜𝑘𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖
𝐵=
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑠𝑢𝑠𝑝𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑒𝑓𝑙𝑜𝑘𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖
Apabila harga B =1 maka tidak terjadi flukulasi dalam suspensi tersebut

III. Alat
1. Alat-alat volumetri
2. Sejumlah tabung reaksi 20 ml (minimal 20 buah)

IV. Bahan
1. Sulfadiazina
2. Dioktil Sodium Sulfosuksinat (DSS)
3. AlCl3
4. Aquadest / Air Suling

V. Cara Percobaan
Formula A B C D E
Sulfadiazina 2 2 2 2 2 gram
DSS 10 10 10 10 10 mg
AlCl3 - 2 4 6 10 mg
Aquadest 20 20 20 20 20 ml
Cara Pembuatan :
a. Larutkan DSS dalam sebagian air
b. Serbuk sulfadiazina didispersikan dalam larutan yang mengandung
DSS, aduk sampai semua serbuk terbasahi. Jika perlu tambahkan
sedikit aquadest
c. Tambahkan larutan AlCl3 secara seksama pada formula-formula B,
C, D, dam E. Aduk sampai homogen dan terjadi suatu dispersi
terflokulasi
d. Dispersi kemudian dituang kedalam tabung reaksi berskala,
tambahkan aquadest sampai 20ml, digojog homogen
e. Tempatkan tabung dalam rak. Catat tinggi pengendapan pada
waktu tertentu, yakni 0; 5; 10; 15; 20; 25; 30 dan 60 menit. Amati
pula supernatan-nya.
f. Tentukan suspensi yang deflokulasi dan suspensi yang flokulasi
serta gambarkan grafik waktu vs harga F untuk kelima formila
tersebut.
g. Hitunglah derajat flokulasi suspensi dengan rumus :
𝐹
𝐵=
𝐹~
B = derajat flokulasi
F = volume pendapan suspensi flokulasi
F~= volume pendapan suspensi deflokulasi
Maka :
Formula A Formula B

Menit 0 = 4,5 → F0 Menit 0 = 3 → F0


3 2,7
Menit 5 = 3 → F5 = 0,67 Menit 5 = 2,7 → F5 = 0,9
4,5 3
2,5 2,5
Menit 10 = 2,5 → F10 = 0,56 Menit 10 = 2,5 → F10 = 0,63
4,5 3
2,5 2,5
Menit 15 = 2,5 → F15 = 0,56 Menit 15 = 2,5 → F15 = 0,63
4,5 3
2,5 2,5
Menit 20 = 2,5 → F20 = 0,56 Menit 20 = 2,5 → F20 = 0,57
4,5 3
2,5 2,5
Menit 25 = 2,5 → F25 = 0,56 Menit 25 = 2,5 → F25 = 0,57
4,5 3
2,5 2,5
Menit 30 = 2,5 → F30 = 0,56 Menit 30 = 2,5 → F30 = 0,57
4,5 3
Formula C Formula D

Menit 0 = 3 → F0 Menit 0 = 3 → F0
2,7 2
Menit 5 = 2,7 → F5 = 0,9 Menit 5 = 2 → F5 = 0,67
3 3
2,7 1,9
Menit 10 = 2,7 → F10 = 0,9 Menit 10 = 1,9 → F10 = 0,83
3 3
2,7 1,9
Menit 15 = 2,7 → F15 = 0,9 Menit 15 = 1,9 → F15 = 0,83
3 3
2,7 1,7
Menit 20 = 2,7 → F20 = 0,9 Menit 20 = 1,7 → F20 = 0,83
3 3
2,7 1,7
Menit 25 = 2,7 → F25 = 0,9 Menit 25 = 1,7 → F25 = 0,83
3 3
2,7 1,7
Menit 30 = 2,7 → F30 = 0,9 Menit 30 = 1,7 → F30 = 0,83
3 3

Formula E

Menit 0 = 3 → F0
1,2
Menit 5 = 1,2 → F5 = 0,4
3
1
Menit 10 = 1 → F10 = 0,33
3
1
Menit 15 = 1 → F15 = 0,33
3
1
Menit 20 = 1 → F20 = 0,33
3
1
Menit 25 = 1 → F25 = 0,33
3
1
Menit 30 = 1 → F30 = 0,33
3
VI. Pembahasan
Pada praktikum 1, perhitungan derajat flokulasi dari sediaan suspensi
yang kami lakukan, dengan menggunakan 5 formula, yakni A, B, C, D,
dan E yang terdiri dari Sulfadiazine, DSS, AlCl3 dan aquadest. AlCl3
yang ditambahkan pada formula B, C, D, dan E dengan jumlah
bertingkat, sedangkan untuk formula A tanpa penambahan ALCl3.
AlCl3 sendiri berfungsi sebagai bahan pembentuk flokulasi,
Sulfadiazine sebagai zat aktif, DSS sebagai pembentuk suspensi
sedangkan aquadest sebagai medium suspensinya.
Formula A, merupakan suspensi terdeflokulasi karenal tanpa
penambahan ALCl3, sehingga akan mengendap pelahan-lahan dan
membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi kembali.
Sedangkan formula B, C, D, dan E merupakan suspensi yang
terflokulasi sehingga cepat mengendap, tidak menimbulkan cake dan
mudah terdispersi kembali.
Perhitungan derajat flokulasi untuk menilai kestabilan suspensi
selama proses penyimpanan. Bila derajat flokulasi (B) = 1 berarti tidak
terjadi flokulasi. Dari hasil praktikum 1 formula A, B, C, D, dan E
diperoleh derajat flokulasi (B) > 1 Sehingga semua formula diatas
tidak sesuai dengan teori suspensi yang diinginkan sebagai sediaan
farmasi

VII. Kesimpulan
Semakin banyak ALCl3 yang digunakan akan semakin banyak
endapan yang terbentuk.
Formula A merupakan suspensi terdeflokulasi karena tanpa
penggunaan flucolating agen (pembentuk flukolasi) sedangkan
formula formula B, C, D, dan E termasuk suspensi terflokulasi.
Hasil perhitungan derajat flokulasi dari 5 formula tersebut B > 1
VIII. Daftar Pustaka
1. Buku panduan praktikum tekhnologi sediaan cair dan semi padat,
Anna L Yusuf, M.Farm.,Apt, Nia Kurniasih, M.Sc.,Apt, STIKes
Muhammadiyah Ciamis
2. Ansel Howard C, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi,
Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Moh.Anief, 1993, Farmasetika, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
4. Voight.R, 1971, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Percobaan II
Pengaruh HLB Terhadap Stabilitas Emulsi

I. Tujuan
Mengetahui pengaruh HLB terhadap stabilitas emulsi.

II. Dasar Teori


Emulsi adalah suatu sistem dispersi yang terdiri dari 2 cairan yang tidak
tercampurkan, yang satu terdispersi di dalam, yang lain dalam bentuk
tetes-tetes kecil yang mempunyai diameter pada umumnya kurang dari
0,1 mikron.
Umumnya emulsi terdiri dari fase minyak dan fase air, dimana suatu
campuran minyak dan air. Bila dikocok akan memperoleh campuran
yang homogen. Sistem yang demikian mempunyai stabilitas minimal
dan dalam waktu singkat akan memisah kembali. Stabilitas sistem ini
dapat diperbesar, dengan bantuan suatu bahan penolong yang disebut
emulgator.
Dalam sistem dispersi tersebut, cairan yang terdispersi disebut fase
dispers atau fase intern. Sedangkan cairan dimana fase dispers disebut
medium dispers atau fase ekstern/fase kontinnu. Kedua fase tersebut
yang berair dapat terdiri dari air atau campuran sejumlah substansi
hidrofil, seperti: alkohol, glikol, gula, garam mineral, garam organik dan
lain-lain. Fase yang lain adalah fase organik yang pada umumnya
berminyak, dapat terdiri dari substansi lipofil seperti asam lemak,
alkohol asam lemak, lilin, zat-zat aktif liposolubel dan lain-lain.
Pengemulsi merupakan salah satu bahantambahan makanan yang
paling berperan dalamproses pembuatan emulsi, karena memiliki
kemampuan menurunkan tegangan antarmuka antaradua fase yang
dalam keadaan normal tidak saling bercampur, sehingga keduanya
dapat bercampur dengan baik (Suryani et al., 2002). Secara struktural,
pengemulsi adalah molekul amfifilik, yaitu molekul yang memiliki gugus
hidrofilik (suka air) dan lipofilik (suka lemak). Daya larut pengemulsi
dalam air mengikuti peringkat Hydrophile-Lyphophile Balance
(Chemmunique, 1980).
Nilai Hydrophile-Lyphophile Balance (HLB) pengemulsi berkisar antara
1 sampai 20. Nilai HLB antara 1-10 bersifat lipofilik sedangkan 10-20
bersifat hidrofilik. Bagian hidrofilik dari pegemulsi memiliki gugus yang
kompatibel dengan air karena memiliki bagian yang bersifat polar yang
dapat berikatan dengan air dan molekul yang larut dalam air. Bagian
lipofiliknya memiliki gugus yang kompatibel dengan minyak yang
tersusun dari hidrokarbon, yang tercampur dengan minyak dan tidak
larut dalam air (Joshi et al., 2012).
HLB merupakan perangkat yang bermanfaat untuk mendapatkan
sistem emulsi yang cocok. Pengemulsi dengan nilai HLB rendah (4-6)
larut dalam minyak dan meningkatkan emulsi air dalam minyak (W/O),
sedangkan pengemulsi dengan nilai HLB tinggi (8-18) larut dalam air
dan meningkatkan emulsi minyak dalam air (O/W) (Chemmunique,
1980).

Tipe Emulsi
Dalam fasrmasi zat cair yang pada umumnya digunakan dalam
formulasi sediaan emulsi adalah minyak dan air, maka tipe emulsi
dapat dibagi menjadi :
a. Emulsi tipe minyak/air (m/a) atau oleum/water (o/w)
Adalah emulsi dimana minyak terdispersi dalam bentuk tetes tetes
kecil di dalam air.
b. Emulsi tipe air.minyak (a/m) atau water/oleum (w/o)
Emulsi dimana air terdispersi dalam minyak.

Penggunaan Emulsi
Sediaan farmasi maupun kosmetika bentuk emulsi banyak sekali
dijumpai baik untuk pemakaian topikal maupun sistemik, misalnya :
Per-oral : kebanyakan adala tipe o/w, bentuk ini mempunyai banyak
keuntungan selain mudah diabsorbsi, homogenitas dosis mudah
didapat.
Topikal : dalam sediaan farmasi topikal maupun kosmetika, tipe emulsi
baik o/w maupun w/o banyak sekali digunakan tergantung maksud
penggunaannya.

Kontrol Emulsi
Kontrol emulsi dimaksudkan untuk mengetahui sifat fisika dari emulsi
dan dipergunakan untuk mengevaluasi kestabilan emulsi.
Ada beberapa cara kontrol emulsi :
1. Determinasi tipe emulsi
- Metode pengenceran : beberapa tetes emulsi ditambahkan
dalam tabung yang berisi air, bila campuran homogen atau
emulsi terencerkan oleh air maka emulsi bertipe o/w dan
sebaliknya.
- Metode pewarnaan : emulsi tipe o/w akan terwarnai oleh zat
warna yang larut dalam air dan sebaliknya emulsi tipe w/o dapat
diwarnai oleh zat warna yang larut dalam minyak.
- Konduktibilitas elektrik : air pada umumnya merupakan
konduktor yang lebih baik dibanding minyak. Bila emulsi dapat
menghantar listrik maka emulsi tersebut bertipe w/o.
- Pencucian
- Percobaan cincin.
2. Distribusi granulometrik
Dalam mengetahui disiribusi granulometrik dari partikel fase dispers
dan diameter rata-ratanya, maka ini bisa untuk mengevaluasi
kestabilan emulsi vs waktu. Distribusi granulometrik juga
menunjukan tingkat dispersitas yang dapat diketahui melalui
pengamatan secara mikroskopis atau mikrofotografik. Bila terjadi
peristiwa koalesensi/pengapungan, diameter rata-rata partikel akan
berubah menjadi besar.
3. Determinasi sifat rheologi
Kontrol sifat rheologi adalah penting, karena perubahan sifat
tersebut dapat disebabkan proses fabrikasi maupun penyimpanan
sehingga dapat mempengaruhi pemakaiannya.
4. Tes penyimpanan yang dipercepat
Tes ini dimaksudakan untuk memperpendek waktu pengamatan
kestabilan suatu sediaan suspensi. Dalam prakteknya agar
diperoleh gambaran yang lebih mendekati keadaan yang
sesungguhnya perlu dicari korelasi antara kondisi pengamatan yang
dipercepat dengan pengamatan sesungguhnya dalam kondisi
normal.
III. Alat
1. Blender
2. Alat Gelas

IV. Bahan
1. Oleum arachidis
2. Tween
3. Span
4. Aquadest / Air Suling

V. Cara Percobaan
a. Formula R/ Oleum arachidis 10 gm
Tween 2,5 gm
Aquadest ad 50 gm
b. Buatlah 3 formula seperti diatas dengan mempergunakan tween dan
span dengan perbandingan sebagai berikut :
I II III
Tween 75 50 25 bagian
Span 25 50 75 bagian
c. Pembuatan sebagai berikut :
1. Oleum arachidis ditambah tween dan span, panaskan dalam
bekerglas sampai 70oC.
2. Sementara itu siapkan air yang telah dipanasi 70oC.
3. Tuangkan bagian air ke dalam bagian minyak bagian per bagian
sambil diaduk.
4. Masukkan cairan ke dalam blender, putarlah selama 30 detik.
Kemudian masukkan ke dalam bekker glass besar sambil diaduk
sampai dingin (dengan meletakkan bekkerglass di dalam cawan
yang berisi air).
5. Masukkan emulsi ke dalam tabung yang berskala dan amatilah
pemisahan yang terjadi (bila perlu lakukan sentrifugasi).
6. Terhadap sisa cairan, tentukan viskositasnya dengan
viskosimeter stromer (tentukan dulu dua cairan, yang telah
diketahui viskositasnya pada suhu tertentu).
7. Hitung masing-masing harga HLB campuran tween-span yang
dipakai.
8. Bandingkan nilai HLB dengan stabilitas emulsi, pertimbangkan
pula viskositasnya.
Percobaan III
Pengaruh Penggunaan Alat Terhadap Stabilitas Emulsi

I. Tujuan Percobaan
Mengetahui pengaruh penggunaan alat terhadap stabilitas emulsi.

II. Dasar Teori


Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan
obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi adalah suatu sistem
heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari
paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah
satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan–tetesan
kecil yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan
emulgator/surfaktan yang cocok.
Emulsi berasal dari kata emulgeo yang ertinya menyerupai milk, warna
emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-
bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini
disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai
protein yang terdapat dalam bij tersebut. Pada pertengahan abad XVIII,
ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum
olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan
penambahan gom arab, tragakan dan kuning telur. Emulsi yang
terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi
spuria atau emulsi buatan.

Alat Untuk Membuat Emulsi


1. Blender
Blender dilengkapi dengan pengadukan pisau, melalui pengadukan
dengan kecepatan tinggi akan memberikan energi kinetik yang
dapat menggerakkan cairan dalam wadah sehingga dapat
mendispersikan fase dispersi ke dalam medium dispersinya. Selain
itu blender juga dapat menghomogenkan campuran dan
memperkecil ukuran partikel. Dengan adanya pengadukan
mengakibatkan terjadinya tumbukan antar partikel dispers. Bila
tumbukan terjadi terus-menerus maka terjadi transfer massa
sehingga ukuran partikel menjadi semakin kecil. Ukuran partikel
yang kecil biasanya sukar homogen karena gaya kohesivitasnya
tinggi sehingga cendrung memisah. Namun kelemahan alat ini
adalah muah terbentuk buih/ busa yang dapat menggangu
pengamatan selanjutnya. Penggunaan emulgator hidrokarbon akan
membuat makromolekul dari hidrokarbon terpotong-potong
sehingga dapat mempengaruhi kestabilan emulsi yang terbentuk.

2. Homogenizer
Paling efektif dalam memperkecil ukuran fase dispers kemudian
meningkatkan luas permukaan fase minyak dan akhirnya
meningkatkan viskositas emulsi sehingga mengurangi
kemungkinan terjadinya ”creaming”. Homogenizer bekerja dengan
cara menekan cairan dimana cairan tersebut dipaksa melalui suatu
celah yang sangat sempit lalu dibenturkan ke suatu dinding atau
ditumbuhkan pada peniti-peniti metal yang ada di dalam celah
tersebut. Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan
tekanan dispersi pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu
lubang yang dilalui cairan dan mengenai katup penghomogenan
yang terdapat pada tempat katup dengan suatu spiral yang kuat.
Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi
tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada
titik ini, energi yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan
dilepaskan secara spontan sehingga produk menghasilkan
turbulensi yang kuat dan shear hidroulik.Cara kerja homogenizer ini
cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata
kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan
temperatur emulsi sehingga dibutuhkan pendinginan.

3. Mixer
Memiliki sifat menghomogenkan sekaligus memperkecil ukuran
partikel tapi efek menghomogenkan lebih dominan. Mixer biasanya
digunakan untuk membuat emulsi tipe batch. Terdapat berbagai
macam mikser yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan
semi padat. Dalam hal ini sangat penting untuk merancang dan
memilih mikser sesuai dengan jenis produk yang diproduksi atau
sedang dicampur. Sebagai contoh : salah satu aspek desain mikser
yang penting adalah seberapa baik/tahan dinding internal dari
mikser. Hal ini karena terdapat beberapa permasalahan dengan
baja tahan karat dari mikser sebab mata pisau pengikis harus
fleksibel cukup untuk memindahkan/mengaduk bagian dalam
dinding mikser. Atau dengan kata lain, mata pisau atau pengaduk
harus mampu mengaduk atau memindahkan bahan yang melekat
pada dinding mikser tanpa merusak dinding mikser. Jika proses
pengadukan tidak berjalan dengan baik (masih banyak bahan yang
menempel/tersisa pada dinding mikser), maka hasil
pencampurannya tidak akan homogeny.Oleh karena mixer
mempunyai aksi planetary mixing maka kemampuannya untuk
mencampur fase air, fase minyak dan emulgator sangat tergantung
pada macam pengaduk yang digunakan. Selain spesifikasi untuk
tiap alatnya, harus diperhatikan pula agar tidak terlalu banyak udara
yang ikut terdispersi ke dalam cairan karena akan membentuk buih
atau bisa yang menggangu saat melakukan pembacaan volume
sedimentasi.
Pada kasus lain, mikser memiliki zona mati (dead spots) sehingga
proses pencampuran tidak baik, akibatnya campuran tidak
homogeny. Dalam hal ini, perlu upaya untuk menghilangkan zona
mati misal dengan desain ulang terhadap pengaduk. Idealnya,
semua permasalahan yang mungkin terjadi dalam pencampuran
telah diantisipasi serta kondisi dan system operasinya telah
divalidasi.

III. Alat
1. Mixer
2. Blender
3. Homogenizer

IV. Bahan
1. Oleum arachidis
2. CMC-Na
3. Aquadest

VI. Cara Percobaan


a. Formula R Oleum arachidis 300
CMC-Na 1,5%
Aquadest ad 1.500
b. Buatlah larutan CMC-Na 1,5% dalam air dengan cara melarutkan
dalam sebagian air panas. Setelah larut, tambahkan air dingin
sambil diaduk.
c. Siapkan mixer (Erweka). Masukan oleum arachidis ke dalamnya,
tambahkan larutan CMC-Na sediki demi sedikit sambil diaduk.
Teruskan pengadukan selam 1 menit.
d. Bagilah cairan menjadi 3 :
I. 800 ml
II. 300 ml
III. 400 ml
e. Masukkan bagian I ke dalam mixer kembali, lanjutkan pengadukan
selam 2 menit.
f. Masukkan bagian II ke dalam blender, aduklah selama 10 detik.
g. Masukkan bagian III ke homogenizer, lakukan penghomogenan
sebanyak 3 kali.
h. Simpanlah masing-masing emulsi dalam tabung-tabung berskala
untuk pengamatan stabilitasnya pada waktu-waktu tertentu. Sisanya
ditempatkan untuk pengamatan.
i. Ukurlah diameter rata-rata 20 partikel tiap emulsi dengan
mikrometer.
j. Bandingkan stabilitas emulsi dengan berbagai tipe alat pembuatan
yang dipergunakan tersebut.
Percobaan IV
Pembuatan Suppositoria dan Evaluasinya

I. Tujuan Percobaan
Membuat suppositoria Na-salisilat dengan basis suppositoria berlemak
dan basis larut dalam air serta Evaluasinya.

II. Dasar Teori


Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk,
yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh,
melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositorias dapat bertindak
sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik
yang bersifat lokal atau sistemik.
Bahan dasar suppositoria pada umumnya yang digunakan adalah
lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi,
campuran polietilen glikol berbagai macam bobot molekul dan ester
asam lemak polietilen glikol.
Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada
pelepasan zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh
dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu
menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang
diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk
beberapa anti septik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih
baik menggunakan sistem ionik dari pada non-ionik, agar diperoleh
ketersediaan hayati yang maksimum.
Bahan pembawa berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan
dalam persediaan vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat
diserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui
rektal karena dissolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya
(lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada
sediaan untuk hemoroid internal.
Persyaratan bagi Basis Suppositoria dan Suppositoria.
Persyaratan berikut harus terpenuhi :
1. Secara fisiologis netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus,
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat)
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (dengan
demikian pembekuan massa berlangsung cepat dalam cetakan,
kontraksibilitasnya baik, mencegah pendinginan mendadak dalam
cetakan).
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir dengan titik lebur
jernih (sangat penting artinya bagi kemantapan bentuk dan juga
daya penyimpanannya, khususnya pada suhu yang tinggi).
6. Viskositas yang memadai (mampu mengurangi sedimentasi bahan
tersuspensi, tingginya ketepatan takaran).
7. Suppositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu
tubuh atau melarut (persyaratan untuk kerja obat).
8. Pembebasan dan resorpsi obat yang baik.
9. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan,
pewarnaan, pengerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang
baik dan stabilitas yang memadai dari cairan obat).
10. Daya serap terhadap cairan liporfil dan hidrofil.

Macam-macam Basis Suppositoria :

1. Basis berlemak, contohnya: oleum cacao.


Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan,
memiliki bau yang khas dan bersifat polimorf (mempunyai banyak
bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30°C akan
mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 34°-35°C, sedangkan
dibawah 30°C berupa massa semipadat. Jika suhu
pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna
seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao:
 Dapat melebur pada suhu tubuh.
 Dapat memadat pada suhu kamar.
Kerugian oleum cacao:
 Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan
pengeluaran).
 Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun
apabila ditambahkan dengan bahan tertentu.

2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak: campuran tween


dengan gliserin laurat.

3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya: gliserin-


gelatin, PEG (polietien glikol).
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot
molekul antara 300-6000. Dipasaran terdapat PEG 400
(carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000), PEG 1500
(carbowax 1500), PEG 4000 (carbowax 4000), dan PEG 6000
(carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair, sedangkan
di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, :
 Tidak mengiritasi atau merangsang.
 Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan
oleum cacao.
 Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada
suhu tubuh.

Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain:

 Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga


timbul rasa yang menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara
mencelupkan supositoria ke dalam air dahulu sebelum digunakan.
 Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat
pelepasan obat. Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan
dengan melelehkan bahan dasar, lalu dituangkan ke dalam
cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak
coklat.
Bentuk-bentuk Suppositoria
1. Suppositoria Vagina
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya
berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai kompendik
resmi beratnya 5 g, apabila basisnya oleum cacao.

2. Suppositoria Uretra
Suppositoria uretra yang disebut inserts adalah bentuk yang paling
sering digunakan ini adalah batang silinder , berdiameter 3-6 mm,
fleksibel cukup untuk dimasukkan. Untuk uretra pria panjangnya
100-150 mm dan untuk wanita 60-75 mm.
Suppositoria Uretra banyak digunakan sebagai antibakteri dan
sebagai sediaan anastetik lokal untuk pemeriksaan uretra.

3. Suppositoria Rectal
Suppositoria rektal biasanya panjangnya sekitar 32 mm (1½ inchi),
bentuk silinder dan salah satu atau keduanya runcing. Beberapa
suppositoria mempunyai bentuk seperti peluru, torpedo atau jari
kecil. Bergantung pada kerapatan dari basis dan zat obat yang ada
dalam suppositoria, bobot suppositoria rektal dapat bervariasi.
Suppositoria dewasa berkisar antara 2 gr jika lemak coklat yang
digunakan sebagai basis suppositoria.

4. Suppositoia untuk hidung dan telinga


Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut
telinga, keduanya berbentuk sama dengan suppositoria saluran urin
hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. Suppositoria
telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang
mengandung gliserin.
Kecepatan Pelarutan
Secara sederhana kecepatan pelarutan didefinisikan sebagai jumlah
zat yang terlarut dari bentuk sediaan padat dalam medium tertentu
sebagai fungsi waktu. Penelitian tentang disolusi telah dilakukan oleh
Noyes-Whiteney dan dalam penelitiannya telah diperoleh persamaan
sebagi berikut :
𝑑𝐶
= k. S. (Cs − C)
𝑑𝑇
dengan :
dC/dt = Jumlah zat padat yang terlarut tiap satuan waktu
k = Tetapan kecepatan pelarutan
S = Luas permukaan spesifik
Cs = Kadar zat padat keadaan jenuh (setara dengan kelarutan)
C = Kadar zat dalam medium pada saat t.

Dalam persamaan tersebut dapat dilihat bahwa kecepatan pelarutan


tergantung pada perbedaan kadar jenuh (Cs) dan kadar zat dalam
medium pada saat t (C). Selain itu dipengaruhi pula oleh tetapan
kecepatan pelarutan (k) dan luas permukaan spesifik (S).
Cara pengujian kecepatan pelepasan obat dari suppositoria sama
persis dengan uji pelepasan obat pada salep dengan sedikit modifikasi
untuk suppositoria.

III. Alat
1. Alat-alat pembuat suppositoria
2. Alat penetapan waktu hancur suppositoria

IV. Bahan
1. Na-salisilat
2. Oleum cacao
3. Cera flava
4. PEG 400
5. PEG 6000

V. Cara Pembuatan (1)


1. Formula
I II
Na-salisilat 0,1 0,1 gram
Oleum cacao 2,9 2,81 gram
Cera flava - 0,09 gram
Buatlah masing-masing formula suppositoria sebanyak 6
(penimbangan untuk 8 suppositoria).
2. Pembuatan dilakukan dengan cara sebagai berikut : (formula I)
a. Lelehkan 1/3 ol Cacao dalam cawan porselin diatas water bath
dan dijaga jangan sampai jernih, lalu diangkat dari water bath
dan tambahkan sisa ol. Cacao serta aduk hingga homogen.
b. Massa ol. Cacao dipindahkan ke dalam mortir hangat dan
tambahkan Na. Salisilat diaduk hingga homogen.
c. Pindahkan campuran ke dalam cawan porselin dan hangatkan
hingga dapat dituang ke dalam cetakan (dijaga agar tidak
sampai jernih).
d. Tuangkan massa kedalam cetakan yang telah diolesi dengan
parafin cair, kemudian dinginkan beberapa saat pada suhu
kamar, kemudian bekukan didalam lemari es sampai beku.
e. Lepas soppositoria dari cetakan dan digunakan untuk percobaan
berikutnya.
3. Untuk formula II
a. Lelehkan cera flava dalam cawan porselin diatas water bath.
Tambahkan 1/3 ol. Cacao sedikit demi sedikit sambil terus
diaduk hingga homogen dan dijaga jangan sampai jernih, lalu
diangkat dari water bath, lalu tambahkan sisa ol. Cacao dan
aduk hingga homogen.
b. Lanjutkan cara kerja seperti pada formula I (b).

Cara Pembuatan (II)


1. Formula :
III IV
Na. Salisilat 0,1 0,1 gram
PEG 6000 2,61 2,32 gram
PEG 400 0,29 0,58 gram
Buatlah masing-masing formulla 12 suppositoria (penimbangan
untuk 8 suppositoria).
2. Pembuatan dilakukan dengan cara :
a. Lelehkan kedua macam PEG, aduk hingga homogen dalam
cawan panas.
b. Campurkan di dalam mortir hangat Na. Slisilat dan campuran
PEG tersebut. Sambil digilas hingga homogen (benar-benar
homgen!)
c. Kembalikan massa ke dalam cawan panas, aduk hingga
homogen dan tuangkan ke dalam cetakan suppositoria.
Dinginkan sampai beku.
d. Keluarkan suppositoria dari cetakan dan simpan dalam lemari es
untuk percobaan berikutnya.
3. Lakukan pemeriksaan keseragaman bobot.

VI. Evaluasi
Cara Percobaan (I)
1. Siapkan suppo yang akan ditetapkan waktu hancurnya.
2. Hubungkan semua sistem sirkulasi air pada alat tersebut.
3. Alirkan air 25% hingga ruang untuk suppo mempunyai suhu 25 oC.
4. Letakkan suppo pada tempat pemeriksaan (jangan dibebani
apapun) dan biarkan beberapa waktu hingga suppo mencapai
temperatur ruangan.
5. Siapkan pencatat waktu. Mulailah memberi beban (600 gram) pada
suppo dan pada saat yang sama hidupkan pencatat waktu.
6. Tambahkan beban 200 gram tiap internal waktu 1 menit selam
suppo belum hancur.
7. Hentikan pencatat waktu bila suppositoria telah hancur (beban telah
sampai batas yang telah ditentukan).
8. Lakukan percobaan tersebut pada masing-masing suppo sebanyak
2 kali.
9. Catatlah berapa waktu dan beban yang diperlukan sehingga
masing-masing suppo tersebut hancur.
Pembaca beban sbb :
Antara 0 – 20 detik : beban tambahan dianggap tidak ada.
Antara 21 – 40 detik : beban tambahan dihitung setengahnya.
Antara 41 – 60 detik : beban tambahan dihitung penuh.
10. Tetapkan pengaruh formulasi terhadap waktu hancur suppositoria.

Cara Percobaan (II)


1. Siapkan suppo yang akan ditetapkan waktu lelehnya :
a. Suppo formula I pada percobaan II
b. Suppo formula IV pada percobaan II
2. Hubungkan semua sistem sirkulasi air pada alat tersebut.
3. Alirkan air pada suhu 27oC
4. Masukkan suppo yang akan ditentukan waktu lelehnya dalam
bagian spiral dari alat tersebut. Aturlah batang kaca hingga tepat
menyentuh suppo.
5. Masukkan bagian alat tersebut ke dalam tabung untuk air mengalir
sedemikian rupa sehingga skala 0 sejajar dengan permukaan air
diluarnya. Pada waktu air menyentuh suppo, mulailah mencatat
waktu.
6. Pencatat waktu dihentikan bila tidak lagi terlihat bagian suppo yang
berada pada spiral kaca tersebut.
7. Lakukan percobaan untuk masing-masing suppo sebanyak 2x.
8. Tetapkan pengaruh formulasi terhadap waktu leleh suppositoria.

Evaluasi Suppositoria
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat
tercampur rata dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka
akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya
tidak seperti sediaan suppositoria pada umunya, maka seseorang yang
tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah obat
3. Uji waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut
dapat hancur dalam tubuh.
4. Keseragaman bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan
sudah sama atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot
akan mempengaruhi terhadap kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan
zat lain yang ikut tercampur.
5. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang
menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji
elastisitas.
Keseragaman Bobot
Caranya : 1. Timbang 4 suppositoria (A).
2. Hitung bobot rata-rata = A/4 = B
3. Timbang satu persatu (C)
Syarat : Penyimpangan beratnya tidak boleh lebih besar dari 5 – 10%
Rumus penyimpangan : (B-C) / B x 100% = ….%
Bobot 4 suppositoria = 12,042 gram (A)
Bobot rata-rata = 12,042 gram/4 = 3,01 gram (B)
Bobot suppositoria ( C ) = a. 2,933 gram
b. 2,963 gram
c. 2,994 gram
d. 3,00 gram
Penyimpangan :
(B – C)/B x 100%

a. (3,01 – 2,933)/3,01 x 100% = 3,203%


b. (3,01 – 2,963)/3,01 x 100% = 1,56%
c. (3,01 – 2,994)/3,01 x 100% = 0,53%
d. (3,01- 3,00)/3,01 x 100% = 0,033%

Pembahasan
Pada percobaan ini dialakukan pembuatan sediaan suppositoria dengan
menggunakan bahan aktif na salicilat, dan basis suppositoria yang
digunakan adalah oleum cacao dan PEG.
Pada percobaan dibuat suppositoria sebanyak 8, tetapi bahan yang
ditimbang adalah untuk 10 suppositoria. Kelebihan penimbangan bahan
adalah untuk mencukupkan masa suppositoria pada saat pencetakan. Pada
pengisian masa suppositoria ke dalam cetakan, lemak coklat cepat
membeku, dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang
di atas masa, maka pada pengisian cetakan harus diisi lebih, baru setelah
dingin kelebihannya dipotong (Anief, 2004).

Kesimpulan

 Suppositoria yang dibuat berbentuk peluru.


 Bahan dasar suppositoria yang digunakan adalah oleum Cacao
 Suppositoria memenuhi persyaratan evaluasi keseragaman bobot dimana
tidak ada satu suppositoria pun yang penyimpangannya lebih dari 10%.
 Suppositoria memenuhi persyaratan uji homogenitas.
Percobaan V
Pembuatan Salep dan Evaluasinya

I. Tujuan Percobaan
Membuat salep salisilat dengan basis berlemak dan basis yang larut
dalam air beserta Evaluasinya.

II. Dasar Teori


Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaiaan
pengobatan lokal. Walaupun salep dapat pula digunakan untuk sistemik
dengan bentuk salep atau bentuk salep yang berangkat dari sediaan
salep berupa plaster.
Bahan obat atau bahan-bahan obat dapat berada dalam keadaan
terlarut (salep larutan) atau tersuspensi (salep suspensi) di dalam
basisnya. Peracikan air, cairan obat atau larutan bahan obat ke dalam
basis mengandung emulgator menyebabkan terbentuknya salep
emulsi. Salep dengan jumlah bahan padat tinggi dinyatakan sebagai
terbentuknya salep imulsi. Salep dengan jumlah bahan padat tinggi
dinyatakan sebagai pasta. Krim adalah salep yang mengandung air
(sering dibatasi hanya yang berjenis M/A).
Dalam sediaan salep, komposisi basis ini merupakan hal yang penting,
karena akan mempengaruhi kecepatan pelepasan obat dari basisnya
yang secara tidak langsung akan mempengaruhi khasiat dari obat yang
dikandungnya, karena untuk dapat berkhasiat obat harus terlepas
dahulu dari basis salepnya. Kecepatan pelepasan ini dipengaruhi oleh
faktor kimia fisik baik dari basis maupun dari bahan obatnya, misalnya :
Konsentrasi obat, kelarutan obat dalam basis, viskositas massa salep,
ukuran partikel bahan obat, formulasi dll.
Salep dapat digunakan sebagai pelindung, pelunak kulit dan sebagai
vehiculum (pembawa). Salep yang baik seharusnya memenuhi
ketentuan sebagai berikut :
1. Stabil, Selama pemakaian dan penyimpanan harus stabil, karena
akan selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti suhu, kelembaban
dll.
2. Lunak, Karena salep dipergunakan untuk luka yang terbuka. Untuk
itu salep harus memiliki daya menyebar yang baik, namun dapat
memenuhi persyaratan yang lain.
3. Mudah dipakai, Supaya mudah dipakai konsistensi harus tidak
terlalu keras dan tidak perlu pula terlalu encer serta dapat melekat
pada kulit selama waktu yang diperlukan.
4. Protektif, Untuk salep tertentu diperlukan kemampuan melindungi
kulit dari pengaruh luar baik berupa sifat asam, basa, debu, sinar
matahari dll.
5. Basis yang cocok, Tidak boleh menghambat kerja obat yang di
kandungnya. Tidak mengiritasi kulit atau efek samping yang lain.
Basis harus dapat melepaskan obatnya sehingga obatnya dapat
berkhasiat.
6. Homogen, Bahan obat harus terbagi homogen agar setiap
pemakaian mempunyai khasiat yang sama.

Basis dan bahan pembantu salep harus memenuhi persyaratan umum.


Mereka harus memiliki stabilitas yang memuaskan dan tidak tak
tersatukan dengan bahan pembantu lainnya dan juga dengan bahan
obat yang digunakan dalam terapi salep. Basis salep sebaiknya
memiliki daya sebar yang baik dan menjamin pelepasan bahan obat
yang memuaskan. Daya menyerap air yang memuaskan dan sedikit
atau tidak menghambat fungsi-fungsi fisiologis kulit (tidak terjadi
akumulasi panas, tidak ada hambatan pada pernafasan kulit) harus
juga terjamin. Hal lain yang penting adalah tersatukannya secara
fisiologis.
Basis salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4
kelompok, yaitu :
1. Dasar salep hidrokarbon, Dasar salep ini dikenal sebagai dasar
salep berlemak antara lain vaselin putih dan salep putih. Hanya
sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan
kedalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontrak
bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup.
2. Dasar salep serap, dasar salep serap ini dapat dibagi menjadi dua
kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat
bercampur dengan air membentuk emulasi air dalam minyak yang
dapat bercampur dengan sejumlah air tambahan (lanolin).
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air, Dasar salep ini adalah
emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih tepat
disebut “Krim”, keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat
diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi
pada kelainan dermatologik.
4. Dasar salep larut dalam air, Dasar salep ini disebut juga “dasar
dalep tak berlemak” dan terdiri dari konstituen larut air.

Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat


yang diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan
hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.
Pelepasan obat dari dasar salep secara “In-vitro” dapat digambarkan
dengan kecepatan pelarutan obat yang dikandungnya dalam medium
tertentu. Ini disebabkan karena kecepatan pelarutan merupakan
langkah yang menentukan dalam proses berikutnya.

Faktor yang memperngaruhi pelepasan obat dari basisnya adalah :


1. Kelarutan obat dalam basis.
2. Konsentrasi obat.
3. Koefisien obat.
4. Koefisien difusi obat dalam basis.
5. Medium pelepasan.
Pengungkapan data kecepatan pelarutan dapat dilakukan dengan
evaluasi antara lain :
1. Waktu yang diperlukan sejumlah tertentu zat melarut. Misalnya t20
artinya waktu yang diperlukan agar obat larut 20% dalam media.
2. Jumlah obat yang terlarut dalam media pada waktu tertentu.
Misalnya C20 artinya berapa obat terlarut pada 20 menit.
3. Hubungan antara konstanta kecepatan dissolusi (k) vs waktu (t).
4. Metode “dissolution efficiency” (DE) yaitu perbandingan luas daerah
di bawah kurva kecepatan pelarutan dengan luas pada waktu yang
sama yang meunjukkan 100% obat terlarut.

Macam-macam uji pelepasan obat dari basis salep :


In-vitro :
1. Metode difusi pada Galose
2. Cara mikrobiologi.
3. Metode difusi dengan menggunakan membran.
4. Metode difusi tanpa membran.
In-vivo :
1. Metode histologi
2. Metode dengan menggunakan “trace” yang dilabel dengan radio
aktif.
3. Metode penilaian pada aspek fisiologi tertentu.
4. Analisa pada cairan badan atau jaringan.

III. Alat
1. Alat Pembuat Salep
2. Viskometer Stromer
3. Alat untuk tes Daya Sebar Salep
4. Alat untuk Tes Daya Lekat Salep
5. Alat gelas lain
IV. Bahan
1. Asam Salisilat 6. Slaep yang dibuat
2. Vaselin 7. CMC-Na
3. Cera Flava 8. Aquadest
4. PEG 400 9. Kertas saring
5. PEG 4000 10. Lar Fenol Ptialin

V. Cara Pembuatan (A)


1. Formula
I II
Asam Salisilat 10 10 gram
Vaselin 90 85 gram
Cera Flava - 5 gram

2. Dalam sebuah cawan lelehkan vaselin dan cera flava dan aduk
hingga homogen, dinginkan hingga suhu sekitar 50oC.
3. Dalam mortir hangat, masukkan asal salisilat, tambahkan spiritus
fortior beberapa tetes sekedar cukup untuk menghaluskan asam
salisilat, lalu tambahkan sedikit campuran (1) dan aduklah sampai
homogen.
4. Tambahkan sisa campuran (1) dan aduklah sampai homogen.
5. Lanjutkan penggilasan dengan menggunkan Roller-mill, dan diulangi
2-3 kali.
6. Simpanlah salep dalam wadah untuk percobaan selanjutnya.

Cara Pembuatan (B)


1. Formula
III IV
Asam Salisilat 10 10 gram
PEG 4000 50 65 gram
PEG 400 40 25 gram

2. Lelehkan kedua macam PEG dalam cawan porselin.


3. Dalam mortir hangat masukkan asam salisilat, tambahkan spiritus
fortior beberapa tetes secukupnya hingga asam salisilat dapat
halus. Tambahkan sedikit PEG dan aduk sampai homogen dan
biarkan spiritusnya menguap.
4. Tambahkan sisa campuran PEG
5. Lanjutkan pengilasan dengan menggunakan Roller mill, dan ulangi
2-3 kali.
6. Simpanlah salep dalam wadah untuk percobaan selanjutnya.

VI. Evaluasi Salep


A. Tes Daya Menyebar Salep
1. Timbanglah 0,5 gram salep, letakkan ditengah alat (kaca bulat).
2. Timbanglah dahulu kaca penutup, letakkan kaca tersebut diatas
massa salep dan biarkan selama 1 menit.
3. Ukurlah berapa diameter salep yang menyebar (dengan
mengambil panjang rata-rata dari beberapa sisi).
4. Tambahkan 50 gram beban tambahan, diamkan selama 1 menit
dan catatlah diameter salep yang menyebar seperti sebelumnya.
5. Teruskan penambahan 50 gram beban seperti no. 4
6. Gambar dalam grafik antara beban dan luas salep yang
menyebar.
7. Ulangi masing-masing 3x untuk tiap salep yang diperiksa.

B. Tes Daya Melekat Salep


1. Letakkan salep secukupnya diatas objek glass yang telah
ditentukan luasnya.
2. Letakkan objek glass yang lain di atas salep tersebut, tekanlah
dengan beban 1 kg selama 5 menit.
3. Pasanglah objek glass pada alat uji.
4. Lepaskan beban seberat 80 gram dan catat waktunya hingga
kedua objek glass tersebut terlepas.
5. Ulangi sebanyak 3x
6. Lakukan pula pada formula salep yang lain.

C. Kemampuan Proteksi
1. Ambillah sepotong kertas saring (10 x 10 cm). Basahilah dengan
larutan fenolptalein untuk indikator. Setelah itu kertas
dikeringkan.
2. Olesi kertas tersebut dengan salep yang akan dicoba (pada
salah satu muka) seperti lazimnya orang menggunakan salep.
3. Sementara itu pada kertas saring yang lain, buatlah sata area
(3 x 3 cm) dengan parafin padat yang dilelehkan. Setelah
kering/dinginkan didapatkan area yang dibatasi dengan parafin
padat.
4. Tempelkanlah kertas tersebut (no. 3) diatas kertas sebelumnya
(no. 2).
5. Teteskan area ini dengan larutan KOH 0,1 N
6. Lihatlah sebelah kertas yang dibasahi dengan larutan
fenolptalein pada waktu 15; 30; 60 detik; 3 dan 5 menit. Apakah
ada noda merah pada kertas tersebut.
7. Bila tidak ada noda berarti salep dapat memberikan proteksi
terhadap cairan (larutan KOH).
8. Lakukan percobaan untuk salep yang lain.
Percobaan VI

Pembuatan Krim dan Evaluasinya

I. Tujuan Percobaan
Membuat krim Gentamisin beserta Evaluasinya.

II. Dasar Teori


Definisi Krim
1. Menurut FI III
Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi, mengandung
tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
2. Menurut FI IV
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung 1 atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang
sesuai.

Penggolongan Cream
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal
asam–asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat
dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakain kosmetika dan
estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui
vaginal. Ada 2 tipe krim yaitu krim tipe minyak dalam air (M/A) dan krim
tipe air dalam minyak (A/M). Pemilihan zat pengemulsi harus
disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim
tipe A/M digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolsterol dan
cera. Sedangkan untuk krim tipe M/A digunakan sabun monovalen,
seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium
stearat. Selain itu juga dipakai tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur,
gelatinum, caseinum, cmc dan emulygidum.
Kestabilan krim akan terganggu/ rusak jika sistem campurannya
terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan
komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara
berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain.
Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencernya
yang cocok dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim yang sudah
diencerkan harus digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai
pengawet pada krim umumnya digunakan metil paraben (nipagin)
dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil paraben (nipasol)
dengan kadar 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan krim dilakukan
dalam wadah tertutup baik atau tube ditempat sejuk, penandaan pada
etiket harus juga tertera “obat luar”

Cara Pembuatan Krim


Bagian lemak dilebur diatas penangas air, kemudian ditambahkan
bagian airnya dengan zat pengemulsi, aduk sampai terjadi suatu
campuran yang berbentuk krim.

Kelebihan dan Kekurangan Krim


Adapun kelebihan dari sediaan krim yaitu:
1. Mudah menyebar rata.
2. Praktis.
3. Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama
tipe M/A(minyak dalam air).
4. Cara kerja langsung pada jaringan setempat.
5. Tidak lengket, terutama pada tipe M/A(minyak dalam air).
6. Bahan untuk pemakaian topikal jumlah yang diabsorpsi tidak cukup
beracun, sehingga pengaruh absorpsi biasanya tidak diketahui
pasien.
7. Aman digunakan dewasa maupun anak–anak.
8. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe A/M(air dalam minyak).
9. Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama
pada bayi, pada fase A/M(air dalam minyak) karena kadar lemaknya
cukup tinggi.
10. Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim
kuku, dan deodorant.
11. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak
menyebabkan kulit berminyak.
Adapun kekurangan dari sediaan krim yaitu:
1. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe A/M (air dalam
minyak) karena terganggu system campuran terutama disebabkan
karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan
penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran
2 tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tersatukan.
2. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan krim harusdalam
keadaan panas.
3. Mudah lengket, terutama tipe A/M(air dalam minyak).
4. Mudahpecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas.
5. Pembuatannya harus secara aseptik

Bahan-bahan Penyusun Krim


Formula dasar krim, antara lain:
1. Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat
asam.
Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin
solidum, minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil
alkohol, dan sebagainya.
2. Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa.
Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA,
NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol,
Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/
Tween, Span dan sebagainya).
Bahan-bahan penyusun krim, antara lain:
 Zat berkhasiat
 Minyak
 Air
 Pengemulsi
 Bahan Pengemulsi
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam sediaan krim disesuaikan
dengan jenis dan sifat krim yang akan dibuat /dikehendaki. Sebagai
bahan pengemulsi dapat digunakan emulgide, lemak bulu domba,
setaseum, setil alkohol, stearil alkohol, trietanolamin stearat, polisorbat,
PEG. Sedangkan, bahan-bahan tambahan dalam sediaan krim, antara
lain: Zat pengawet, untuk meningkatkan stabilitas sediaan.

Bahan Pengawet
Bahan pengawet sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin)
0,12-0,18%, propil paraben (nipasol) 0,02-0,05%. Pendapar, untuk
mempertahankan pH sediaan Pelembab. Antioksidan, untuk mencegah
ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tak jenuh
(Lachman, 1994).

Metode Pembuatan Krim


Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses
emulsifikasi. Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air
seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama di penangas air pada
suhu 70-75°C, sementara itu semua larutan berair yang tahan panas,
komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama
dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara perlahan-
lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk
secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk
mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-
lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai
campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya
dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat,
sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair
(Munson, 1991).

Stabilitas Sediaan Krim


Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu sistem campurannya
terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi
karena penambahan salah satu fase secara berlebihan atau
pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan
satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui
pengencer yang cocok. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan
dalam waktu satu bulan (Anief, 1994).

III. Alat
1. Mortir & Stamper
2. Alat untuk Tes Daya Sebar Krim
3. Alat untuk Tes Daya Lekat Krim
4. Pot krim
5. Cawan penguap
6. Spatel
7. Alat gelas lain

IV. Bahan
1. Kloramfenikol 6. Aquadest
2. Cetyl Alkohol 7. Kertas Saring
3. Paraffin Liquidum 8. Lar Fenol Ptialin
4. Vaselin Album 9. Kertas pH
5. KOH
V. Cara Pembuatan
1. Formula
I II
Kloramfenikol 200 200 Mg
Cetyl Alkohol 1,2 1,2 gram
Paraffin Liquidum 1 1 gram
Vaselin Album 2,5 2,5 gram
KOH 0,1 0,3 gram
Aquadest ad 10 10 gram
2. Timbang semua bahan
3. Cetyl alkohol, Paraffin Liquidum, Vaselin Album dan aKOH di
masukkan kedalam cawan penguap, Panaskan diatas tangas air
hingga mencair.
4. Masukkan aquadest yang telah dipanaskan ke dalam basis no. 2
5. Aduk hingga membentuk massa krim yang baik.
6. Masukkan Kloramfenikol ke dalam mortir gerus sampai halus.
7. Tambahkan massa basis krim sedikit sedikit ke dalm mortir, aduk
sampai homogen.
8. Timbang sebanyak 10 gram masukkan ke dalam pot.

VI. Evaluasi Krim


A. Tes Daya Menyebar Krim
1. Timbanglah 0,5 gram krim, letakkan ditengah alat (kaca bulat).
2. Timbanglah dahulu kaca penutup, letakkan kaca tersebut diatas
massa salep dan biarkan selam 1 menit.
3. Ukurlah berapa diameter krim yang menyebar (dengan
mengambil panjang rata-rata dari beberapa sisi).
4. Tambahkan 50 gram beban tambahan, diamkan selama 1 menit
dan catatlah diameter krim yang menyebar seperti sebelumnya.
5. Teruskan penambahan 50 gram beban seperti no. 4.
6. Gambar dalam grafik antara beban dan luas krim yang
menyebar.
7. Ulangi masing-masing 3x untuk tiap salep yang diperiksa.
B. Tes Daya Melekat Krim
1. Letakkan krim secukupnya diatas objek glass yang telah
ditentukan luasnya.
2. Letakkan objek glass yang lain di atas krim tersebut, tekanlah
dengan beban 1 kg selama 5 menit.
3. Pasanglah objek glass pada alat uji.
4. Lepaskan beban seberat 80 gram dan catat waktunya hingga
kedua objek glass tersebut terlepas.
5. Ulangi sebanyak 3x

C. Kemampuan Proteksi
1. Ambillah sepotong kertas saring (10 x 10 cm). Basahilah dengan
larutan fenolptalein untuk indikator. Setelah itu kertas
dikeringkan.
2. Olesi kertas tersebut dengan krim yang akan dicoba (pada salah
satu muka) seperti lazimnya orang menggunakan krim.
3. Sementara itu pada kertas saring yang lain, buatlah satu area
(3 x 3 cm) dengan parafin padat yang dilelehkan. Setelah
kering/dinginkan didapatkan area yang dibatasi dengan parafin
padat.
4. Tempelkanlah kertas tersebut (no. 3) diatas kertas sebelumnya
(no. 2).
5. Teteskan area ini dengan larutan KOH 0,1 N
6. Lihatlah sebelah kertas yang dibasahi dengan larutan
fenolptalein pada waktu 15; 30; 60 detik; 3 dan 5 menit. Apakah
ada noda merah pada kertas tersebut.
7. Bila tidak ada noda berarti krim dapat memberikan proteksi
terhadap cairan (larutan KOH).
D. Uji pH
1. Ambil krim secukupnya.
2. Oleskan kertas pH pada krim tersebut.
3. Cocokan perubahan warna tersebut dengan standar warna pH
universal.