Anda di halaman 1dari 5

DKP Jabar bentuk Raperda

Perlindungan Petambak Garam


Jumat, 28 Juli 2017 21:32 WIB

Petani menjajakan garam di Penggaraman Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (27/7/2017). Harga garam
melonjak tajam dari rata-rata Rp3.000 menjadi Rp8.000 per kilogram atau dari rata-rata Rp150 ribu menjadi
Rp400 ribu per karung karena kurangnya produksi akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sejak beberapa pekan
terakhir ini. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Sukabumi (ANTARA News) - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat tengah
berupaya membentuk rencana peraturan daerah (Raperda) tentang Perlindungan Petambak
Garam sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 tahun 2016.

"UU 7/2016 tersebut tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan
dan Petambak Garam. Untuk Perda Perlindungan Nelayan dan Pembudida Ikan kita sudah
punya, sehingga tinggal membuat Perda Perlindungan Petambak Garam," kata Kepala DKP
Jawa Barat Jafar Ismail di sela acara Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Bidang
Kelautan dan Perikanan di PPN Palabuhanraru, Kabupaten Sukabumi, Jumat.

Menurutnya, potensi tambak garam di Jabar cukup tinggi, sehingga diperlukan adanya Perda
yang mendukung keberadaan para petambak kecil mulai dari ketersediaan alat/teknologi
hingga pasarnya.

Perlindungan tidak hanya kepada objek garamnya saja, tetapi kepada para petambaknya
mulai dari keterdediaan bantuan, keselamatan hingga adanya asuransi bagi para petambak
garam.

Diharapkan raperda ini bisa segera terbentuk dan sahkan menjadi perda yang definitif agar
keberadaan petambak garam di Jabar terjamin yang tujuan akhirnya adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan.

"Dibentuknya raperda ini juga sebagai tindak lanjut UU 7/2016 dan kami pun berharap bisa
masuk progam legislasi daerah (Prolegda Jabar," tambahnya.

Japar mengatakan jumlah nelayan di Jabar mencapai 104.528 jiwa. Dengan adanya dua perda
yang melindungi baik nelayan maupun petambak garam sehingga kedua profesi yang
menyangkut tentang kelautan bisa saling terkait.

Salah satunya, jika hasil tangkapan ikan menurun, nelayan juga bisa menambak garam.
Apalagi DPR RI mendorong pemberdayaan petambak garam dengan cara membuatkan
industri rumah tangga

Produksi perikanan Jabar capai 1,28 juta ton

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan atau Aher menuturkan salah satu keberhasilan di bidang
perikanan di Jawa Barat selama tahun 2015 adalah poduksi perikanan (produksi budidaya ikan dan
produksi tangkap) mencapai 1,28 juta ton.

"Jumlah tersebut terdiri atas produksi budidaya ikan sebesar 1,06 ton dan produksi tangkap sebesar
252,22 ribu ton," kata Ahmad Heryawan di Bandung, Rabu (6/4).

Ia menuturkan aspek perikanan dan Kelautan di Jawa Barat dilaksanakan melalui berbagai kegiatan
seperti produksi perikanan budidya, revitalisasi budidaya tambak di Pantai Utara Jawa Barat, revitalisasi
budidaya di Pantai Selatan Jawa Barat.

"Kemudian pengembangan teknologi budidaya perikanan air tawar, fasilitasi peningkatan sarana dan
prasarana perikanan tangkap, peningkatan pengelolaan pelabuhan perikanan pantai, pengelolaan
sumber daya perikanan dan kelautan di 27 kabupaten/kota.
Menurut dia, keberhasilan lainnya di bidang perikanan dan kelauatan tahun lalau ada penetapan
jaminan sistem mutu olahan perikanan di 20 kelompok nelayan.

"Dan alhamdulillah produksi penetapan jaminan mutu olahan perikanan di 20 kelompok tahun 2015
kemarin mencapai 10,8 ribu ton," kata dia.

Sementara untuk produksi garam di Provinsi Jawa Barat sepanjang tahun lalu, lanjut Aher, mencapai
758,68 ribu ton.

Dengan keberhasilan tersebut maka produksi perikanan Jawa Barat tahun 2016 ini ditargetkan bisa
mencapai 1,43 juta ton.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat Jafar Ismail mengatakan, target itu terbagi atas 1,2 juta
ton produksi perikanan budidaya dan 230.000 ton produksi perikanan tangkap.

Daftar potensi garam

AKARTA - Indonesia tengah mengalami kelangkaan stok garam konsumsi. Kondisi inilah yang membuat
pemerintah memutuskan untuk membuka keran importasi garam konsumsi dari Australia sebqnayak
75.000 ton.

Mantan Komisaris Utama PT Garam, Sudirman Saad mengatakan, Indonesia memiliki sebanyak 29 ribu
hektare lahan yang berpotensi untuk menghasilkan garam. Selain itu ada 6 provinsi yang berpotensi
untuk menghasilkan produksi garam dan bisa menjadi alternatif bagi pemerintah.

BERITA TERKAIT

Menhub Kembangkan Pelabuhan NTT demi Percepatan Produksi Garam

Menko Luhut Panggil Sofyan Djalil dan Investor Bahas Percepatan Produksi Garam

Produksi Garam Industri, BPPT-PT Garam Kerjasama Bangun Pabrik di Kupang

Baca juga: Impor Garam, Produksi Dalam Negeri Harus Diperhatikan

"Di Indonesia itu yang potensial produksi garam Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan," ujarnya dalam diskusi Garam Nasional di Menara
Kadin, Jakarta , Rabu (16/8/2017).

Menurutnya angka tersebut masihlah tidak ada apa-apanya. Lantaran, di Indonesia bertani garam tak
melulu persoalan lahan melainkan kendala cuaca juga.
"Enggak banyak, jadi begitu ke timur Sulawesi curah hujan sudah tinggi. Jadi bukan hanya lahan dan air
laut, tapi perlu matahari bersinar berapa lama dalam setahun," jelasnya.

Sehingga ia juga meminta agar pemerintah bisa mendorong pihak swasta untuk bisa membangun pabrik
garam. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kelangkaan produksi garam konsumsi seperti yang saat ini
terjadi.

"Pemerintah harus realistis untuk memenuhi kebutuhan garam industri. Ciptakan satu iklim investasi
kebutuhan garam industri. Mungkin tahap awal ada insentif yang diberikan paling tidak importasi mesin
segala macan itu ada insentif agar swasta kita bisa bangun pabrik dan teknologi ada dua macan yang
berkembang sekarang," ujarnya.

JPP, CIREBON - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim sebagai wilayah yang memiliki potensi
kemaritiman besar sehingga menempati peran strategis dalam pembangunan Indonesia. Potensi perikanan Jawa
Barat, dengan luas laut sekitar 289.800 Km2 termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

"Jawa Barat punya potensi kemaritiman besar yang tercermin dari panjang pantainya yang terbentang hingga
842,6 kilometer," kata Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, pada Hari Nusantara 2017, di Pelabuhan
Muara Jati Cirebon, Rabu (13/12/2017).

Aher, sebagaimana ia kerap disapa, menjelaskan Jawa Barat juga memiliki hak atas pengelolaan sumber daya
perikanan hingga 12 mil di dua wilayah pengelolaan perikanan yakni di selatan Jawa Barat dan di Laut Jawa.

Termasuk kekayaan kemaritiman adalah potensi kekayaan energi dan mineral di kolong laut dan di bawah
dasar laut.

"Dengan ditetapkannya rencana pembangunan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, tentunya ini akan
semakin memperkuat peran Jawa Barat dalam pergerakan ekonomi kemaritiman nasional sehingga tak ada
pilihan lain bagi kami selain memberikan dukungan terhadap agenda pembangunan infrastruktur strategis
nasional itu," tuturnya.

Lebih lanjut, Aher menyebut meski provinsi yang dipimpinnya bukan wilayah kepulauan, peran dan
kontribusinya dalam ekonomi kemaritiman akan dapat menempati posisi penting dan strategis bagi
pembangunan nasional.

Ia mengakui adanya kendala dan hambatan yang masih harus dihadapi mulai dari armada perikanan yang
masih didominasi kapal berukuran kecil, lemahnya akses permodalan nelayan hingga kerusakan lingkungan di
wilayah pantai yang terus meningkat.

"Untuk itu, program bantuan sarana dan prasarana bagi nelayan, perbaikan sarana dan prasarana serta bantuan
perikanan dan upaya rehabilitasi pantai dan pesisir terus kami lakukan dengan memanfaatkan APBN, APBN
hingga dana investor," katanya.
Aher berharap perhatian yang diberikan kepada masyarakat kecil dapat mendorong peningkatan ekonomi di
wilayah tersebut. Sinergi program dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan ekonomi
kemaritiman juga diharapkan akan semakin kuat.

"Hanya dengan itu, berbagai permasalahan yang kita hadapi saat ini akan dapat kita atasi sebaik-baiknya,"
katanya.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan berbagai cara dengan membangun beberapa dermaga
laut di pantai selatan Jawa Barat seperti di : Cidaun, Cikidang, Cikalong, dan Ranca Buaya.

Saat ini yang menjadi sentra perikanan di Jawa Barat Selatan hanya baru ada di Pangandaran, Kabupaten
Pangandaran, dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Ke depan di Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur,
dan Kabupaten Tasik pun akan dijadikan sentra perikanan laut setelah dibangun beberapa dermaga. (bs/ant)