Anda di halaman 1dari 11

CASE REPORT SESSION

ASTIGMATISM

Preceptor:
dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes

Disusun oleh:
Sheila Sumargo
Sri Hudaya Widhihasta
Hario Prabhantio

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT MATA CICENDO
BANDUNG
2014
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn. A
 Jenis kelamin : Laki-laki
 Umur : 19 tahun
 Pekerjaan : Pelajar
 Alamat : Bandung
 Tgl. Pemeriksaan : 9 Desember 2014

ANAMNESIS
Keluhan Utama: Pandangan kabur
Pasien datang ke poli mata RSM Cicendo dengan keluhan pandangan terasa kabur sejak
tiga bulan yang lalu, pasien mengatakan pandangan kabur dirasakan pada saat melihat jauh dan
akan jelas bila melihat dekat. Pasien juga mengeluhkan mata terasa pegal. Selain itu pasien
mengeluh saat melihat jauh pasien sulit untuk memfokuskan penglihatan karena menglihat benda
tersebut terlihat ganda. Kacamata yang digunakan pasien saat ini dirasakan sudah kurang jelas
sejak tiga bulan SMRS. Pasien menyangkal adanya sakit kepala. Mata merah atau berair juga
disangkal. Penglihatan berkabut juga disangkal
Pasien pernah memakai kacamata sebelumnya selama 2 tahun. Tidak ada riwayat trauma,
mendapat tindakan operasi maupun dirawat di RS karena sakit tertentu. Riwayat alergi obat –
obatan dan makanan, hipertensi, diabetes dan penyakit mata sebelumnya disangkal.
Anggota keluarga tidak ada yang menggunakan kacamata selain pasien. Riwayat alergi obat –
obatan dan makanan, hipertensi, diabetes dan penyakit mata sebelumnya pada keluarga
disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
a. Keadaan umum : tidak tampak sakit
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Pemeriksaan fisik lain : dalam batas normal

STATUS LOKALIS
Pemeriksaan Visus
Snellen chart:
VOD: 0,20
VOS: 0,32
Koreksi dengan lensa sferis dan silindris:
OD: 0,20  S – 2,00 C – 3,00 X 100  1,0
OS: 0,32  S – 1,25 C – 0,50 X 1800  1,0

Inspeksi
OD OS
Muscle Balance ortotropia
Pergerakan Bola Mata duksi: baik ke segala arah duksi: baik ke segala arah

Versi: baik ke segala arah


Tekanan intraokuler Palpasi normal Palpasi normal
Palpebra superior tenang tenang
Palpebra inferior tenang tenang
silia krusta (-) krusta (-)
Konjunctiva tarsalis tenang tenang
superior
Konjunctiva tarsalis tenang tenang
inferior
Konjunctiva bulbi tenang tenang
Kornea jernih jerninh
COA sedang sedang
Iris tenang tenang
Pupil Bulat, d: 4mm, RC +/+ Bulat,d: 4 mm, RC +/+
Lensa Jernih Jernih
Palpasi Normal Normal

RESUME
Pasien lak-laki 19 tahun datang dengan keluhan pandangan kabur sejak 3 bulan SMRS
saat melihat jauh dan jelas saat melihat dekat. Saat melihat jauh sulit memfokuskan penglihatan
karena terlihat ganda.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada pemeriksaan
oftalmologi didapatkan: Visus OD 0,2 OS 0,32. Visus membaik dengan penggunaan pinhole dan
dikoreksi dengan lensa sferis dan dikoreksi dengan lensa silindris:
OD: 0,20  S – 2,00 C – 3,00 X 100  1,0
OS: 0,32  S – 1,25 C – 0,50 X 1800  1,0

DIAGNOSIS KERJA
ASTIGMATISM MYOPIA COMPOSITUS ORBITAL DEXTRA SINISTRA

PENATALAKSANAAN
Umum
- Edukasi untuk kontrol tiap 6 bulan
Khusus
- Penggunaan kacamata:
OD: S – 2,00 C – 3,00 X 100
OS: S – 1,25 C – 0,50 X 1800
- Protagenta eye drop 1x4 gtt prn

PROGNOSIS
Ad Vitam: bonam
Ad Fungsionam:
OD: dubia ad bonam
OS: ad bonam
PEMBAHASAN
Optik dan refraksi
Ketika cahaya dari udara menabrak suatu permukaan media lain yang tegak lurus dengan arah datangnya
cahaya, maka cahaya akan diteruskan, namun kecepatan dan panjang gelombangnya berubah. Jika cahya
datang dengan membentuk sudut, maka cahaya akan dibelokan jika indeks refraktif antara 2 media
refraktif berbeda, derajat pembelokan cahaya tergantung dari perbedaan indeks refraksi dari media
refraktif.

Ketika cahaya parallel masuk lensa konveks (plus), maka cahaya akan dibelokan semakin ke arah pusat
dari lengkungan lensa pada 1 titik, atau kovergens. Jika cahaya masuk lensa konkaf (minus), maka cahaya
yang masuk akan disebarkan menjauhi pusat lengkungan lensa atau divergensi.

Lensa silindris hanya akan membelokan cahaya dari 2 sisi lensa, namun tidak dari atas ataupun bawah.
Maka cahaya parallel difukuskan ke garis focus (buka titik focus seperti lensa sferis). Jadi, lensa silindris
konkaf akan mennyebarkan (divergen) cahaya parallel pada 1 bidang saja, begitu pula lensa silindris
konveks akan memusatkan cahaya parallel pada 1 bidang.
Kekuatan(Power) lensa diukur dengan satuan Dioptri. Power (D) adalah 1/f di mana f adalah focus lensa
untuk cahaya paralel. Permukaan lensa di mana tempat masuknya cahaya harus regular untuk
mendapatkan suatu garis atau titik focus.
Mata adalah kamera pada tubuh kita, Mata mengatur agar cahaya yang masuk akan difokuskan untuk
jatuh tepat di titik focus pada retina (bintik kuning). Mata memiliki sistem lensa, aperture(pupil) dan
retina sebagai film. Sistem lensa mata terdiri dari 4 media refraktif:
- Kornea  index refraktif 1,38
- Aqueous humor  index refraktif 1,33
- Lensa  index refraktif 1,40
- Vitrous humor  index refraktif 1,34

Kekuatan sistem lensa ini adalah 60 D, dengan 40 D berasal dari kornea dan 20D berasal dari lensa. Pada
anak-anak refractive power lensa dapat ditingkatkan hingga 34 D. Hal ini dikarenakan oleh kemampuan
akomodasi. Lensa dapat ditingkatkan kecembungannya akibat kendornya Zonule karena kontraksi otot
silier sekitarnya. Mata akan berakomodasi jika cahaya yang masuk bukanlah cahaya parallel, melainkan
terpusat (cahaya yang datang < 5 meter). Akomodasi membuat bayangan jatuh tepat di retina, jika tidak
ada proses akomodasi maka cahaya akan jatuh di belakang retina. Cahaya yang masuk ke mata dianggap
parallel jika lebih dari 5 meter, maka saat inilah mata tidak berakomodasi dan dalam keadaan relaksasi.

Astigmatism
Definisi
Astigmatism adalah suatu kondisi di mana adanya suatu kelainan refraktif mata akibat adanya perbedaan
derajat refraksi di suatu meridian media refraksi, sehingga cahaya akan difokuskan pada beberapa titik
berbeda.
Epidemiologi
Sekitar 42% populasi manusia memiliki astigmatisme lebih atau sama dengan 0.5 D. Sekitar 20% dari
populasi ini, astigmatisme nya >1D dan perlu koreksi.

Etiologi
Kelainan pada kurvatur kornea bertanggung jawab untuk sebagian besar kasus astigmatisme, di mana
sebagian kecilnya disebabkan oleh kelainan kurvatur lensa mata.

Klasifikasi
Astigmatisme lazim (astigmatism with the rule)
Pada bayi yang baru lahir, biasanya korneanya bulat atau spheris dan dalam perkembangannya terjadi
perubahan kelengkungan kornea, di mana kelengkungan meridian vertical kornea bertambah atau menjadi
lebih kuat atau jari-jari kelengkungannya lebih pendek dibanding kelengkungan meridian horizontal
(sekitar 20o dari horizontal atau vertical). Pada keadaan ini diperlukan lensa silinder negative dengan axis
180o untuk memperbaikinya.
Astigmatisme tidak lazim (astigmatism against the rule)
Suatu keadaan kelainan refraksi astigmat di mana kelengkungan kornea pada meridian horizontal lebih
kuat dibandingkan kelengkungan meridian horizontal(sekitar 20o dari horizontal atau vertical). Hal ini
biasanya ditemukan pada orang berusia lanjut. Lensa yang diperlukan untuk memperbaikinya adalah
silinder negative dengan axis 60-120o atau lensa silinder positif dengan axis 30-150o.

Oblique astigmatism
Axis dari meridian media refraksi nya melebihi 20o dari meridian vertical atau horizontal.

Bentuk astigmatisme
Astigmatisme regular
Astigmatisme dengan kekuatan pembiasan yang bertambah atau berkurang secara perlahan-lahan secara
teratur dari satu meridian ke meridian lainnya. Biasanya hanya ada 2 meridian utama yang saling tegak
lurus. Bayangan yang terjadi akan teratur, berupa garis, lonjong atau lingkaran.
Astigmatisme ireguler
Astigmatisme yang terjadi akibat adanya kelengkungan kornea yang berbeda-beda pada meridian yang
sama, sehingga bayangan menjadi ireguler. Perubahan kelengkungan ini biasanya akibat infeksi atau
ulkus kornea, trauma dan distrofi kornea, serta jika terjadi pada lensa biasanya disebabkan oleh katarak.

Type astigmatisme
Astigmatisme myopia simpleks cth: C -1.00 x 90o
Astigmatisme hipermetropi simpleks cth: C +1.25 x 45o
Astigmatisme myopia composites cth: S -3.00 C-0.50 x 180o
Astigmatisme hypermetropi composites cth: S +2.50 C+0.5x90o
Astigmatisme mixtus cth: S -2.00 C+3.00x90o
Manifestasi klinis
Penglihatan buram, biasanya penglihatan jauh. Bayangan yang dilihat biasanya menjadi berganda.
Keluhan ini tidak disertai keluhan mata lain (mata merah dan atau nyeri)

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan visus, maka ditemukan bahwa visus menurun dan koreksi untuk mencapai visus
maksimal dapat dilakukan bila ada penambahan lensa silindris. Untuk menentukan pada aksis mana perlu
dilakukan koreksi, maka dapat digunakan astigmatism dial chart. Pada pemeriksaan
plasidoskopi(keratoskop), ditemukan gambaran yang ireguler pada astigmatisme ireguler, dan bayangan
lingkaran-lingkaran oval pada regular astigmatism.

Komplikasi
- Refractive amblyopia disebabkan karena perbedaan refraksi antara kedua mata yang sangat
besar yang mengakibatkan mata yang tidak dominan (refraktif error jauh lebih tinggi) menjadi
“diabaikan” oleh otak (lazy eye), sehingga penglihatan mata ini semakin menurun.

Tatalaksana
- Pemakaian kacamata silindris (bisa dikombinasikan dengan sferis) hanya untuk astigmatisme
regular.
- Pada astigmatisme ireguler penggunaan lensa kontak dapat membantu agar permukaan media
refraksi (kornea) menjadi regular dan juga dapat dilakukan terapi pembedahan.
Referensi
1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11 ed: Elsevier Saunders; Philadelphia:
2006.
2. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. 3 ed. Balai Penerbit FKUI; 2009.
3. Riordan-Eva P, Whitcher JP, editors.Vaughan & Asbury general ophthalmology. 17 ed: McGraw-
Hill; 2007.
4. Lang G. Ophthalmology: a pocket textbook atlas. 2 ed: Thieme; Stuttgart: 2006.