Anda di halaman 1dari 10

BAB II

DASAR TEORI

2.1. Sensor Tegangan AMC 1100DUBR


Untuk memudahkan penginderaan tegangan digunakan IC
AMC1100. AMC1100 merupakan suatu komponen elektronika yang
dapat digunakan untuk mengukur besaran tegangan dan arus pada sistem
dengan memiliki 8 kaki.

Gambar 2.1 Pin Out Diagram AMC1100(1)

Konfigurasi disetiap pin tersebut memiliki fungsi yang berbeda


seperti tampak pada gambar 2. 1 dan pin deskripsinya akan ditunjukan
pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Pin Deskripsi AMC1100


PIN Nama Fungsi Deskripsi
1 VDD1 Power Sisi tinggi power supply (5V)
2 VIN P Analog Input Non Inverting analog input
3 VIN N Analog Input Inverting analog input
4 GND 1 Power Ground Sisi tinggi
5 VDD2 Power Sisi rendah power supply (3V)
6 VOUTP Analog Output Non Inverting analog output
7 VOUTN Analog Output Inverting analog output
8 GND2 Power Ground Sisi rendah

Selain digunakan untuk alat bantu penginderaan tegangan, AMC


juga berfungsi sebagai pengaman microcontroller karena sifatnya yang

1 AMC1100 Datasheet
7
8

isolated. Sehingga apabila terjadi gangguan pada sisi penginderaan, tidak


akan mengganggu sistem.

2.2. Sensor Arus (ACS 712)


ACS712 merupakan suatu IC terpaket yang digunakan untuk
sensing arus menggantikan trafo arus yang relatif besar dalam hal ukuran.
Pada prinsipnya ACS712 sama dengan sensor efek hall lainnya yaitu
dengan memanfaatkan medan magnetik di sekitar arus kemudian
dikonversi menjadi tegangan yang linier dengan perubahan arus. Nilai
variabel dari sensor ini merupakan input untuk mikrokontroller yang
kemudian diolah.
Keluaran dari ACS712 masih berupa sinyal tegangan AC, agar
dapat diolah oleh mikrokontroller maka sinyal tegangan AC ini di
searahkan oleh rangkaian penyearah.
Sensor ACS712 mempunyai rating 20 A membutuhkan supply
tegangan untuk VCC sebesar +5 volt. Sedangkan kapasitor digunakan
sebgai filter dari tegangan supply VCC dan output dari sensor. Adapun
penjelasan mengenai pin dari ACS712 terdapat pada Tabel 2.2.

Tabel 2. 1 Tabel Pin Sensor Arus ACS712

Pin Nama Keterangan


1 dan 2 IP+ Terminal untuk arus yang akan disensor
3 dan 4 IP- Terminal untuk arus yang akan disensor
5 GND Terminal Ground
6 Filter Terminal untuk kapasitor eksternal
7 Viout Sinyal analog output
8 VCC Power supply

Untuk melakukan kerja Allegro IC ACS712 membutuhkan tegangan 5


Volt pada kaki 8 (pin VCC). Kapasitor 0,1 uF yang menghubungkan pin
8 dan pin jarang diaplikasikan karena hanya fasilitas tambahan untuk
mengurangi riak.
9

2.3. Mikrokontroller ARM STM32F407VG


ARM STM32F407VG merupakan mikrokontroler dengan berbasis
Digital Signal Processing (DSP) yang dilengkapi dengan hardware
Floating Point Unit (FPU) sehingga memiliki kemampuan clock atau
perhitungan bilangan yang lebih cepat dibanding mikrokontroler tanpa
FPU. Mikrokontroler ARM STM32F4 dilengkapi dengan hardware yang
mendukung aplikasi motor control seperti 2 channel ADC dan 15
channel timer.
Umumnya dipasaran ARM STM32F4 dijual dalam bentuk modul
kit seperti yang terlihat pada gambar 2.15, sehingga lebih dimudahkan
dalam penggunaannya.

Gambar 2.2. Mikrokontroller ARM STM32F407VG(2)

Pada gambar 2.16 menampilkan hardware dari keluarga ARM


STM32F4. Kemampuan ARM STM32F4 didukung oleh processor
ARM-Cortex-M dengan kemampuan sampai dengan 168 MHz. Untuk
mikrokontroller ARM STM32F407VG tipe processor yang terpasang
adalah ARM-Cortex M4, dimana terdapat layer struktur pemprograman
tunggal yaitu Cortex Microcontroller Software Interface Standard
(CMSIS). Sedangkan fitur yang disediakan oleh ARM STM32F4 berupa:
a. STM32F407VGT6 microcontroller featuring32-bit ARM Cortex-
M4F core, 1 MB Flash, 192KB RAM in an LQFP100 package.

2http://id.mouser.com/STMicroelectronics/Semiconductors/Embedded-

Processors-Controllers/Microcontrollers-MCU/ARM-Microcontrollers-
MCU/STM32F407VG-Series/_/N-a85pcZ1ywzpw7Z1z0zpef
10

b. On-board ST-LINK/V2 with selection mode switch to use the kit as


a standalone ST-LINK/V2 (with SWD connector for programming
and debugging).
c. Board power supply: through USB bus or froman external 5 V
supply voltage.
d. External application power supply: 3Volt and 5Volt.
e. LIS302DL, ST MEMS motion sensor, 3-axisdigital output
accelerometer.
f. MP45DT02, ST MEMS audio sensor, omnidirectional digital
microphone.
g. CS43L22, audio DAC with integrated class Dspeaker driver.
h. Eight LEDs:
1. LD1 (red/green) for USB communication.
2. LD2 (red) for 3.3 V power on.
3. Four user LEDs, LD3 (orange), LD4 (green), LD5 (red) and
LD6 (blue).
4. 2 USB OTG LEDs LD7 (green) VBus and.
i. LD8 (red) over-current.
j. Extension header for all LQFP100 I/Os for quick connection to
prototyping board and easyprobing.
11

Gambar 2.3. Blok Diagram ARM STM32F407VG(3)

2.4. LCD + Touchscreen TFT 3,2 inch


TFT LCD (Liquid Thin Film Transistor Crystal Display) memiliki
struktur seperti sandwich dengan kristal cair diisi antara dua pelat kaca,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.17 merupakan komponen
elektronika yang berfungsi sebagai tampilan suatu data, baik karakter,
huruf, angka ataupun grafik. TFT (Thin Film Transistor) adalah tipe layar
jenis yang menggunakan teknologi LCD yang berwarna terbaru sehingga
mampu menghadirkan ketajaman warna lebih baik, jenis teknologi layar
ini disebut Active-Matrix Color Display. TFT menempatkan transistor di
setiap piksel layar yang mampu dinyalakan dan dimatikan secara

3http://id.mouser.com/STMicroelectronics/Semiconductors/Embedded-

Processors-Controllers/Microcontrollers-MCU/ARM-Microcontrollers-
MCU/STM32F407VG-Series/_/N-a85pcZ1ywzpw7Z1z0zpef
12

individual. Kelemahan yang dimiliki layar LCD jenis TFT ini adalah
relatif lebih mahal dan konsumsi baterai lebih besar ketimbang
AMOLED (Active Matrix Organic Light Emitting Diode).

Gambar 2.4 Bentuk Fisik TFT LCD(4)

Pada gambar 2.17 menunjukkan bentuk fisik dari LCD touchscreen


TFT dengan lebar layar 3,2 inch dan memiliki konfigurasi 40 pin.
Teknologi TFT LCD berupa liquid crystal yang diisikan di antara dua
pelat gelas, yaitu colour filter glass dan TFT glass. Colour filter glass
mempunyai filter warna yang bertugas memancarkan warna, sedangkan
TFT glass mempunyai Thin Film transistor sebanyak pixel yang
ditampilkan. Liquid crystal bergerak sesuai dengan perbedaan voltase
antara colour filter glass dengan TFT glass. Jumlah cahaya yang dipasok
oleh back light ditentukan oleh jumlah pergerakan liquid crystal yang
pada gilirannya akan membentuk warna.

2.5. Fast Fourier Transform (FFT)


Pada tahun 1965 sebuah makalah diterbitkan oleh Cooley dan
Tukey menjelaskan algoritma yang sangat efisien untuk menerapkan
DFT Cooley, J. & Tukey, J. 1965. An Algorithm for the Machine
Calculation of Complex Fourier Series. Mathematics of Computation. pp.
297-301. Algoritma yang sekarang dikenal sebagai Fast Fourier
Transform (FFT). Sebelum munculnya FFT, seribu titik DFT
membutuhkan waktu begitu lama untuk melakukan perhitungan yang
pada saat itu masih terbatas pada komputer-komputer berspesifikasi
rendah. Gagasan Cooley dan Tukey, dan perkembangan industri
semikonduktor menjadikan jumlah N-titik DFT semisal 1024- titik, dapat

4 http://magictale.com/1119/tft-lcd-module-test-run/
13

dilakukan dalam beberapa detik saja pada komputer berspesifikasi


rendah. 5

Gambar 2.5. Penjumlahan 4 sinyal berbeda

Gambar 2.6. Hasil FFT

Tampak dengan menggunakan FFT isyarat yang merupakan hasil


penjumlahan dari 4 buah isyarat dengan frekuensi yang masing-masing
berbeda, dapat dipisahkan dengan baik. Sehingga ketiga komponen
frekuensi bisa dideteksi. Sedangkan data lain yang tidak menjadi bagian
dari ketiga komponen frekuensi tadi, akan ditampilkan sebagai spektrum
frekuensi yang nilai magnitude nya sangat kecil atau mendekati nol.
FFT beroperasi dimulai dengan menguraikan (dekomposisi) sinyal
domain waktu titik N ke N sinyal domain waktu hingga masing-masing
terdiri dari satu titik. Selanjutnya menghitung N frekuensi spektrum yang
berkorespondensi dengan N sinyal domain waktu. Terakhir, spektrum N
disintesis menjadi spektrum frekuensi tunggal.

5Lyons, Richard G. 1997. Understanding Digital Signal Processing. Prentice


Hall PTR
14

Dalam proses dekomposisi diperlukan tahapan Log2N. Sebagai


contoh, sinyal 16 titik (24) memerlukan 4 tahapan, sinyal 512 titik (29)
membutuhkan 9 tahap, sinyal 4096 titik (212) membutuhkan 12 tahapan.
Dalam Gambar1, sinyal 16 titik terurai melalui empat tahap yang
terpisah. Tahap pertama memisahkan sinyal 16 titik menjadi dua sinyal
masing-masing terdiri dari 8 titik. Tahap kedua menguraikan data
menjadi empat sinyal terdiri dari 4 titik. Pola ini berlanjut sampai sinyal
N terdiri dari satu titik. Dekomposisi digunakan setiap kali sinyal
dipecah menjadi dua, yaitu sinyal dipisahkan menjadi sampel genap dan
sample ganjil.

Gambar 2.7. Contoh dekomposisi sinyal domain waktu yang digunakan di FFT6

Setelah dekomposisi, dilakukan Pengurutan Pembalikan Bit (Bit


Reversal Sorting), yaitu menata ulang urutan sampel sinyal domain
waktu N dengan menghitung dalam biner dengan bit membalik dari kiri
ke kanan. Asumsi N adalah kelipatan dari 2, yaitu N = 2r untuk beberapa
bilangan bulat r=1, 2, dst. Algoritma FFT memecah sampel menjadi dua
bagian yaitu bagian genap dan bagian ganjil.

๐‘ ๐‘—2๐œ‹(2๐‘›๐‘š) ๐‘—2๐œ‹(2๐‘›๐‘š) ๐‘
( )โˆ’1 ( )โˆ’1
2
๐‘‹(๐‘š) = โˆ‘๐‘›=0 ๐‘ฅ[2๐‘›]๐‘’ โˆ’ ๐‘ +๐‘’ ๐‘ 2
โˆ‘๐‘›=0 ๐‘ฅ[2๐‘› + 1]
๐‘—2๐œ‹(2๐‘›๐‘š)
๐‘’โˆ’ ๐‘
Dimana :
N = jumlah Sampel input
X(m) = urutan ke-m komponen output FFT

6Smith, Steven W. 1997. The Scientist and Engineer's Guide to Digital Signal
Processing. (Online) http://www.dspguide.com (20 Februari 2013).
15

m = indeks output FFT dalam domain frekuensi


x(2n) = urutan sampel genap ke-ntinja
x(2n+1)=urutan sampel ganjil ke-n
n = indeks sampel input dalam domain waktu
j = konstanta imajiner (โˆšโˆ’1)
ฯ€ = derajat 180หš
e = basis logaritma natural

Karena rumusan yang didapat panjang, sehingga digunakan


notasi standar untuk menyederhanakannya.
Didefenisikan WN = ๐‘’โˆ’๐‘—2๐œ‹/๐‘ yang merepresentasikan root of unity.
Persamaan diatas dapat ditulis:

๐‘ ๐‘
( )โˆ’1 ( )โˆ’1
2 2

๐‘‹(๐‘š) = โˆ‘ ๐‘ฅ[2๐‘›]๐‘Š๐‘2๐‘›๐‘š + ๐‘Š๐‘๐‘˜ โˆ‘ ๐‘ฅ[2๐‘› + 1]๐‘Š๐‘2๐‘›๐‘š


๐‘›=0 ๐‘›=0

๐‘
Karena ๐‘Š๐‘2๐‘›๐‘š = ๐‘’ โˆ’๐‘—2๐œ‹2/๐‘ = ๐‘’ โˆ’๐‘—2๐œ‹/( 2 ) , kemudian substitusikan ๐‘Š๐‘2 =
๐‘Š๐‘/2 sehingga menjadi :
๐‘ ๐‘
( )โˆ’1 ( )โˆ’1
2 2
๐‘›๐‘š ๐‘›๐‘š
๐‘‹(๐‘š) = โˆ‘ ๐‘ฅ[2๐‘›]๐‘Š๐‘/2 + ๐‘Š๐‘๐‘˜ โˆ‘ ๐‘ฅ[2๐‘› + 1]๐‘Š๐‘/2
๐‘›=0 ๐‘›=0
16

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Anda mungkin juga menyukai