Anda di halaman 1dari 71

I.

Sosialisme Utopis
Sosialisme modern adalah, dalam esensinya, produk
langsung dari pengakuan, di satu pihak, akan
antagonisme kelas dalam masyarakat hari ini antara para
pemilik [alat-alat produksi] dan para non-pemilik, antara
kaum kapitalis dan kaum buruh-upahan; di lain pihak,
pengakuan akan anarki yang terdapat dalam produksi.
Tetapi, dalam bentuk teorinya, Sosialisme modern
awalnya tampil seakan-akan sebagai perluasan yang
lebih logis dari prinsip-prinsip yang telah dikembangkan
sebelumnya oleh para filsuf besar Prancis abad ke-18.
Seperti setiap teori baru, Sosialisme modern mesti, pada
mulanya, menghubungkan dirinya dengan gagasan-
gagasan intelektual yang sudah tersedia sebelumnya,
betapapun dalamnya akarnya tertanam dalam fakta-fakta
ekonomi yang materiil.

Para tokoh besar, yang di Prancis menyiapkan pikiran


manusia untuk revolusi yang akan datang, adalah kaum
revolusioner ekstrem. Mereka tidak mengakui otoritas
eksternal macam apapun. Agama, ilmu pengetahuan
alam, masyarakat, lembaga-lembaga politik – semuanya
dikritik dengan tanpa ampun. Segala sesuatu mesti
membenarkan eksistensinya di hadapan pengadilan
nalar, dan kalau ia tidak bisa maka ia tidak layak untuk
eksis. Nalar menjadi satu-satunya alat ukur untuk semua
hal ihwal. Ini adalah jaman dimana, seperti yang
dikatakan Hegel, dunia berdiri di atas kepalanya[1];
pertama dalam pengertian bahwa pikiran manusia, dan
prinsip-prinsip yang dicapai lewat pikirannya, diklaim
sebagai dasar dari semua perbuatan dan relasi manusia;
tetapi juga dalam pengertian yang lebih luas bahwa
realitas yang berkontradiksi dengan prinsip-prinsip ini
harus dijungkirbalikkan. Setiap bentuk masyarakat dan
pemerintahan yang ada, setiap paham tradisional yang
tua, dihempaskan ke dalam gudang barang-barang tua
sebagai sesuatu yang irasional; dunia hingga kini telah
membiarkan dirinya dipimpin oleh prasangka-prasangka;
segala sesuatu yang ada di masa silam hanya layak
dikasihani dan dibenci. Kini, untuk pertama kalinya,
muncul cahaya terang, yakni kerajaan nalar; dan sejak itu
takhayul, ketidakadilan, privilese, penindasan, akan
diganti dengan kebenaran abadi, Hak abadi, persamaan
yang berdasarkan Alam dan hak-hak manusia yang
paling hakiki.

Hari ini kita tahu bahwa kerajaan nalar ini tidak lain
adalah kerajaan borjuasi yang diidealisasi; bahwa Hak
abadi ini menemukan realisasinya dalam keadilan borjuis;
bahwa persamaan ini mereduksi dirinya menjadi
persamaan borjuis di depan hukum; bahwa hak milik
borjuis diproklamirkan sebagai salah satu hak asasi
manusia; dan bahwa pemerintahan nalar, Kontrak
Sosialnya Rousseau[2], lahir, dan hanya dapat lahir,
sebagai republik borjuis demokratik. Para pemikir besar
abad ke-18, seperti halnya para pendahulu mereka, tidak
dapat melampaui batas-batas dari epos dimana mereka
berada.

Tetapi, berdampingan dengan antagonisme antara


kaum bangsawan feodal dan kaum burgher,[3] yang
mengklaim mewakili seluruh masyarakat, terdapat
antagonisme umum antara kaum penghisap dan yang
terhisap, antara kaum kaya yang tak-bekerja dan kaum
buruh miskin. Keadaan inilah yang memungkinkan para
perwakilan borjuasi untuk mengedepankan diri mereka
sebagai perwakilan bukan dari suatu kelas istimewa,
tetapi dari keseluruhan kemanusiaan yang menderita.
Lebih jauh lagi. Sejak awal kaum borjuasi dibebani oleh
antitesisnya: kaum kapitalis tidak bisa eksis tanpa kaum
buruh-upahan, dan, dalam proporsi yang sama
sebagaimana kaum burgher abad-pertengahan dari gilda
berkembang menjadi borjuasi modern, kaum
journeyman[4] gilda dan pekerja-harian di luar gilda
berkembang menjadi proletariat. Dan walaupun kaum
borjuasi, dalam perjuangan mereka melawan kaum
bangsawan, dapat mengklaim mewakili sekaligus
kepentingan berbagai kelas pekerja pada periode itu,
namun dalam setiap gerakan borjuis yang besar dapat
kita temui letupan-letupan independen dari kelas yang
menjadi pendahulu proletariat modern. Misalnya, pada
saat Reformasi Jerman[5] dan Perang Tani[6], kaum
Anabaptis[7] dan Thomas Muntzer[8]; pada saat Revolusi
besar Inggris[9], kaum Leveller[10]; pada saat Revolusi besar
Prancis, Babeuf[11].

Di setiap pemberontakan revolusioner dari sebuah


kelas yang belum berkembang ini dapat kita temui
pemaparan teori yang bersesuaian dengannya; pada
abad ke-16 dan ke-17, teori Utopis mengenai kondisi-
kondisi sosial yang ideal[12]; di abad ke-18, teori-teori
komunis (Morelly dan Mably)[13]. Tuntutan untuk
persamaan tidak lagi terbatas pada hak-hak politik; ia
juga diperluas ke kondisi-kondisi sosial dari tiap-tiap
individu. Tidak hanya privilese kelas yang mesti dihapus,
tetapi perbedaan kelas itu sendiri. Sebuah komunisme,
yang asketis, yang menolak semua kesenangan
kehidupan, yang bersifat Spartan, adalah bentuk pertama
dari ajaran baru ini. Kemudian datang tiga kaum Utopis
besar: 1) Saint-Simon; baginya gerakan kelas menengah,
yang berdampingan dengan gerakan proletar, masih
memiliki signifikansi tertentu; 2) Fourier; 3) Owen; di
negeri di mana produksi kapitalis paling berkembang, dan
di bawah pengaruh antagonisme-antagonisme yang lahir
darinya, ia merancang sejumlah proposal untuk
menyingkirkan perbedaan kelas secara sistematik dan
dalam hubungan langsung dengan materialisme Prancis.
Ada satu hal yang sama di antara ketiga kaum Utopis
ini. Tidak satu pun dari mereka tampil sebagai perwakilan
dari kepentingan proletariat yang pada saat itu telah
dilahirkan oleh perkembangan sejarah. Seperti kaum filsuf
Prancis mereka tidak mengklaim ingin membebaskan
sebuah kelas tertentu sebagai awalnya, tetapi seluruh
kemanusiaan seketika. Seperti mereka pula, ketiga kaum
Utopis ini ingin mendirikan kerajaan nalar dan keadilan
abadi. Tetapi kerajaan yang mereka bayangkan ini
sangatlah berbeda jauh dari kerajaan yang diimpikan oleh
para filsuf Prancis, seperti halnya Surga jauh dari Bumi.

Karena, bagi ketiga kaum reformis sosial kita ,


masyarakat borjuis, yang didasarkan atas asas-asas para
filsuf Prancis, adalah irasional dan tidak adil seperti
halnya feodalisme, dan oleh karenanya akan terhempas
ke tong sampah sebagaimana feodalisme dan semua
tahapan masyarakat sebelumnya. Jika nalar dan keadilan
yang suci hingga kini belum menguasai dunia, maka ini
hanya karena manusia belum memahaminya dengan
benar. Yang diperlukan adalah seorang individu yang
jenius, yang kini telah tiba dan memahami kebenaran.
Bahwa kini ia telah tiba, bahwa kebenaran itu kini telah
dipahami dengan jernih, ini bukanlah sebuah peristiwa
yang tak terelakkan, yang mengikuti keniscayaan dalam
rangkaian perkembangan historis, tetapi sekedar
kebetulan saja. Individu jenius ini bisa saja dilahirkan 500
tahun lebih dini, dan dengan begitu dapat menghindarkan
kemanusiaan dari 500 tahun kesalahan, perselisihan, dan
penderitaan.

Kita telah melihat bagaimana para filsuf Prancis abad


ke-18, para pelopor Revolusi, menggunakan nalar
sebagai satu-satunya hakim dari segala yang ada.
Sebuah pemerintahan yang rasional, masyarakat yang
rasional, akan dibangun; segala sesuatu yang
bertentangan dengan nalar abadi mesti disingkirkan tanpa
belas kasihan. Kita juga telah melihat bagaimana nalar
abadi ini pada kenyataannya tidak lain adalah
pemahaman para warga abad ke-18 yang diidealisasikan,
yang saat itu baru saja berkembang menjadi borjuasi.
Revolusi Prancis telah merealisasikan masyarakat dan
pemerintahan rasional ini.

Tetapi, tatanan yang baru ini, yang cukup rasional jika


dibandingkan dengan kondisi-kondisi sebelumnya,
ternyata tidaklah mutlak rasional. Negara yang
didasarkan pada nalar ambruk sama sekali. Kontrak
Sosial Rousseau telah menemukan realisasinya dalam
Pemerintahan Teror[14]. Kaum borjuasi, yang telah
kehilangan kepercayaan pada kemampuan politik mereka
sendiri, berlindung dari Kekuasaan Teror ini mula-mula
lewat Pemerintahan Direktorat yang korup, dan, akhirnya,
di bawah sayap despotisme Napoleon.[15] Perdamaian
abadi yang dijanjikan berubah menjadi peperangan
penaklukan yang tiada habisnya. Masyarakat yang
didasarkan pada nalar ternyata tidak berjalan dengan
lebih baik. Antagonisme antara yang kaya dan yang
miskin, alih-alih meluluh menjadi kemakmuran, menjadi
semakin intensif dengan disingkirkannya gilda dan
privilese-privilese lainnya, yang pada tingkatan tertentu
telah menjembataninya, dan dengan dibubarkannya
lembaga-lembaga amal Gereja. “Kebebasan hak milik”
dari belenggu feodal, yang kini telah tercapai
sepenuhnya, ternyata menjadi, bagi kaum kapitalis kecil
dan kaum pemilik kecil, kebebasan untuk menjual
propertinya yang sedikit itu. Mereka remuk di bawah
persaingan kaum kapitalis dan tuan tanah besar yang
menguasai segalanya. Dan, sejauh menyangkut para
kapitalis kecil dan kaum tani yang memiliki tanah,
kebebasan ini telah menjadi “kebebasan dari hak milik”.
Perkembangan industri di atas basis kapitalis membuat
kemiskinan dan kesengsaraan massa pekerja menjadi
syarat bagi keberadaan masyarakat kapitalis.
Pembayaran uang tunai semakin hari semakin menjadi,
dalam ungkapan Carlyle[16], satu-satunya relasi antara
manusia dan manusia. Jumlah kejahatan meningkat dari
tahun ke tahun. Sebelumnya, kejahatan feodal terjadi
secara terbuka di siang hari bolong; sekalipun tidak
dilenyapkan, mereka kini telah didesak ke latar belakang.
Sebagai gantinya, kejahatan-kejahatan borjuis, yang
hingga kini dipraktekkan secara rahasia, mulai mekar
dengan berlimpah-limpah. Perdagangan menjadi
penipuan besar yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Semboyan “persaudaraan” dari Revolusi Prancis[17] telah
direalisasikan menjadi penipuan dan persaingan.
Penindasan dengan kekerasan diganti dengan korupsi;
pedang, sebagai pengungkit sosial yang utama, diganti
dengan emas. Hak atas malam pertama[18] dipindah dari
tuan-tuan feodal ke para manufaktur borjuis. Prostitusi
meningkat sampai ke tingkatan yang tak pernah
dibayangkan. Perkawinan sendiri tetap, seperti
sebelumnya, merupakan bentuk legal yang diakui dan
kedok resmi prostitusi, dan, lebih lanjut lagi, ditemani
dengan banyak perzinaan.

Singkat kata, dibandingkan dengan janji-janji indah dari


para filsuf, institusi-institusi sosial dan politik yang
dilahirkan dari “kemenangan nalar” adalah karikatur yang
teramat mengecewakan. Yang kurang adalah orang-
orang yang mampu merumuskan kekecewaan ini, dan
mereka tiba bersamaan dengan pergantian abad. Pada
1802 surat-surat Jenewa Saint-Simon muncul[19]; pada
1803 muncul karya pertama Fourier, sekalipun karya
dasar teorinya sudah dikerjakannya sejak 1799[20]; pada 1
Januari 1800, Robert Owen memulai mengelola New
Lanark[21].
Namun pada saat itu mode produksi kapitalis, dan
dengannya antagonisme antara borjuasi dan proletariat,
masih belum berkembang sepenuhnya. Industri Modern
yang baru saja lahir di Inggris masih belum dikenal di
Prancis. Tetapi Industri Modern mengembangkan, di satu
pihak, konflik tidak hanya antara kelas-kelas yang
dilahirkan olehnya tetapi juga antara kekuatan produksi
dan bentuk pertukaran yang diciptakan olehnya. Konflik-
konflik ini membuat revolusi dalam mode produksi dan
penyingkiran karakter kapitalisnya menjadi sesuatu yang
niscaya. Di pihak lain, Industri Modern mengembangkan,
lewat kekuatan produksi yang maha besar ini, sarana
untuk mengakhiri konflik-konflik ini. Oleh karenanya, jika
pada sekitar tahun 1800, konflik-konflik yang timbul dari
tatanan sosial yang baru ini baru saja mulai mengambil
bentuk, maka ini bahkan lebih benar bagi sarana untuk
mengakhirinya. Selama Pemerintahan Teror massa Paris
“yang tidak memiliki apapun”[22] mampu berkuasa untuk
sejenak, dan dengan demikian memimpin revolusi borjuis
mencapai kemenangan tanpa membutuhkan kaum
borjuasi itu sendiri. Tetapi, dalam melakukan itu, mereka
hanya membuktikan betapa mustahilnya bagi mereka
untuk terus berkuasa di bawah kondisi-kondisi yang
berlaku pada saat itu. Kaum proletariat, yang ketika itu
untuk pertama kalinya tumbuh berkembang dari massa
“yang tidak memiliki apapun” sebagai inti dari sebuah
kelas yang baru, masih belum mampu meluncurkan aksi
politik yang mandiri. Mereka tampil sebagai sebuah kelas
yang tertindas dan menderita, yang dalam
ketidakmampuannya untuk menolong dirinya sendiri
hanya bisa mendapatkan pertolongan paling-paling dari
luar atau dari atas.

Keadaan historis ini juga mendominasi para pendiri


Sosialisme. Teori yang belum matang berkorespondensi
dengan kondisi produksi kapitalis yang belum matang dan
kondisi kelas yang belum matang pula. Para pemikir
Utopis berusaha mencari solusi untuk problem-problem
sosial yang ada dalam benak manusia, padahal solusi ini
masih tersembunyi dalam kondisi ekonomi yang belum
berkembang. Masyarakat hanya menyajikan kesalahan-
kesalahan saja; untuk menyingkirkan kesalahan-
kesalahan ini adalah tugas nalar. Oleh karenanya kita
hanya perlu menemukan sebuah sistem tatanan sosial
yang baru dan lebih sempurna, dan dari luar
memaksakan sistem ini pada masyarakat lewat
propaganda, dan, kapan dan di mana saja hal itu
mungkin, dengan contoh dari eksperimen-eksperimen
sosial. Sistem-sistem sosial baru ini ditakdirkan menjadi
Utopia belaka. Semakin lengkap dan terperinci mereka
dirancang, semakin mereka menjadi fantasi murni.

Dengan terbuktinya fakta-fakta ini, kita tidak perlu lagi


menghabiskan waktu barang sedetik pun berbicara
mengenai persoalan ini, yang sudah menjadi barang
masa lalu. Kita bisa meninggalkannya untuk para
intelektual ikan teri untuk secara khidmat berdalih-dalih
dengan fantasi-fantasi ini, yang dewasa ini hanya
membuat kita tersenyum, dan untuk berkoak-koak atas
keunggulan penalaran mereka sendiri yang gersang itu,
jika dibandingkan dengan “kegilaan” seperti itu. Untuk diri
kita sendiri, kita bersukacita dengan pemikiran-pemikiran
luar biasa dan benih-benih pemikiran yang di mana-mana
merangsek keluar dari bungkus fantasi mereka, dan yang
tidak bisa dilihat oleh kaum filistin ini.

Saint-Simon adalah putra dari Revolusi Besar Prancis.


Ketika Revolusi pecah ia baru menginjak umur 30.
Revolusi Prancis merupakan kemenangan estate
ketiga[23] – yakni massa besar seluruh nasion,
yang bekerja dalam produksi dan perdagangan – atas
kelas-kelas “yang tidak bekerja” yang berprivilese, para
bangsawan dan para pendeta. Tetapi kemenangan estate
ketiga ini segera mengungkapkan dirinya sebagai
kemenangan hanya untuk selapisan kecil “estate” ini saja,
sebagai penaklukan kekuasaan politik oleh satu seksi dari
estate ketiga yang memiliki privilese sosial, yakni kaum
borjuasi. Dan kaum borjuasi telah dengan pasti
berkembang secara pesat selama Revolusi, sebagian
lewat spekulasi tanah milik kaum bangsawan dan milik
Gereja, yang disita dan kemudian dijual, dan sebagian
lewat penipuan terhadap bangsa dengan kontrak-kontrak
militer. Di bawah pemerintahan Direktorat, dominasi para
penipu ini mendorong Prancis dan Revolusi ke tepi jurang
kehancuran, dan dengan demikian memberi Napoleon
dalih untuk meluncurkan kudetanya.

Oleh karenanya, bagi Saint-Simon antagonisme antara


estate ketiga dan kelas-kelas berprivilese mengambil
bentuk antagonisme antara “yang bekerja” dan “ yang
tidak bekerja”. Kaum yang tidak bekerja bukan hanya
terbatas pada kelas-kelas lama yang berprivilese, tetapi
juga semua orang yang, tanpa mengambil sesuatu bagian
apapun dalam produksi atau distribusi, hidup dari
penghasilan mereka. Dan kaum yang bekerja tidak hanya
kaum buruh-upahan saja, tetapi juga para pengusaha
manufaktur, para pedagang, para bankir. Revolusi telah
membuktikan bahwa kaum yang tidak bekerja telah
kehilangan kapasitas kepemimpinan intelektual dan
supremasi politik, dan masalah ini telah akhirnya
diselesaikan oleh Revolusi. Pengalaman Pemerintahan
Teror, bagi Saint-Simon, telah membuktikan bahwa kelas-
kelas yang tidak-bermilik tidak mempunyai kapasitas ini.
Lalu, siapakah yang mesti memimpin dan memerintah?
Menurut Saint-Simon, sains dan industri, kedua-duanya
disatukan oleh sebuah ikatan religius baru, ditakdirkan
untuk memulihkan kesatuan ide-ide religius yang telah
hilang sejak jaman Reformasi [Jerman] – sebuah
“Kekristenan baru” yang tidak bisa tidak mistis dan
teramat hierarkis. Tetapi sains, yang adalah kaum
terpelajar; dan industri, yang adalah, pertama-tama, kaum
borjuasi yang bekerja, kaum pengusaha manufaktur,
pedagang, bankir. Saint-Simon tentunya menginginkan
agar para borjuasi ini mengubah diri mereka menjadi
semacam pejabat publik, semacam wali sosial; tetapi
mereka masih akan memegang posisi memerintah dan
memiliki privilese ekonomi terhadap kaum buruh. Kaum
bankir terutama akan diminta untuk mengarahkan seluruh
produksi sosial dengan regulasi perkreditan. Konsepsi ini
bersesuaian dengan sebuah epos di mana Industri
Modern di Prancis baru saja lahir, dan bersamaan
dengannya jurang antara borjuasi dan proletariat juga
baru saja muncul. Tetapi yang terutama ditekankan oleh
Saint-Simon adalah ini: yang dia perhatikan pertama-
tama, di atas segalanya, adalah nasib kelas yang
jumlahnya paling banyak dan yang paling miskin (la
classe la plus nombreuse et la plus pauvre).

Dalam surat-surat Jenewanya Saint-Simon sudah


mengajukan proposisi bahwa “semua orang mesti
bekerja”. Dalam karya yang sama ia juga mengakui
bahwa Pemerintahan Teror adalah pemerintahan massa
yang tak memiliki properti. Ia berkata pada mereka: “Lihat
apa yang terjadi di Prancis ketika kawan-kawan kalian
berkuasa di sana. Mereka menyebabkan kelaparan.”[24]

Tetapi untuk bisa memahami sedini tahun 1802 bahwa


Revolusi Prancis adalah sebuah peperangan kelas, dan
bukan sekedar peperangan kelas antara antara kaum
bangsawan dan kaum borjuasi tetapi antara kaum
bangsawan, kaum borjuasi, dan kaum yang tidak memiliki
apa-apa adalah sebuah penemuan yang sangat luar
biasa. Pada 1816 ia menyatakan bahwa politik adalah
sains mengenai produksi, dan meramalkan penyerapan
sepenuhnya ilmu politik oleh ilmu
ekonomi.[25]Pemahamannya bahwa kondisi-kondisi
ekonomi merupakan dasar dari institusi-institusi politik
masih dalam bentuk embrio. Namun, Saint-Simon sudah
secara jelas memaparkan gagasan mengenai
transformasi kekuasaan politik atas manusia menjadi
sistem administrasi atas segala sesuatu dan pengarahan
proses-proses produksi – dalam kata lain “penghapusan
negara”, yang baru-baru ini diributkan banyak orang.

Saint-Simon menunjukkan superioritas yang sama di


atas orang-orang sezamannya, ketika pada 1814, setelah
masuknya pasukan sekutu ke Paris[26], dan lagi pada
1815, selama Peperangan Seratus Hari[27], ia menyatakan
bahwa aliansi antara Prancis dengan Inggris, dan
kemudian kedua negeri ini dengan Jerman, adalah satu-
satunya jaminan bagi perkembangan kemakmuran dan
perdamaian Eropa. Berkhotbah pada orang-orang Prancis
pada 1815 mengenai persekutuan dengan para
pemenang Waterloo [Inggris dan Prancis] tidak hanya
memerlukan kemampuan meninjau sejarah tetapi juga
keberanian yang besar.

Apabila dalam diri Saint-Simon kita temui cara pandang


yang komprehensif dan luas, dimana hampir semua
gagasan dari kaum Sosialis di kemudian hari – tidak
hanya gagasan ekonomik saja – dapat ditemukan dalam
bentuk embrio, maka dalam diri Fourier kita temui kritik
mengenai kondisi-kondisi masyarakat yang ada, yang
murni Prancis dan pintar, tetapi tidak kalah menyeluruh.
Fourier memperlakukan apa-apa saja yang diucapkan
oleh kaum borjuasi, oleh para nabi mereka sebelum
Revolusi, oleh para penyanjung mereka setelah Revolusi,
sebagaimana adanya. Tanpa belas kasihan dia ekspos
kesengsaraan materiil dan moral dari dunia borjuis. Dia
pertentangkan dunia borjuis ini dengan janji-janji yang
menyilaukan mata dari para filsuf sebelumnya, yang
menjanjikan sebuah masyarakat dimana hanya nalar
yang berkuasa, sebuah peradaban dimana kebahagiaan
adalah universal, sebuah masyarakat dengan
kesempurnaan manusia yang tak terbatas, dan dengan
fraseologi berwarna-warni dari para ideolog borjuis
zamannya. Dia tunjukkan bagaimana realitas dunia yang
memilukan hati tidak sesuai dengan puja-puji yang paling
muluk, dan dan dia serang kegagalan yang menyedihkan
dari puja-puji ini dengan sarkasmenya yang pedas.

Fourier bukan hanya seorang pengkritik. Wataknya


yang tenang dan tak tergoyahkan menjadikannya seorang
satiris, dan salah satu satiris terbesar dalam sejarah. Ia
melukiskan, dengan kekuatan dan daya tarik yang sama,
spekulasi penipuan yang tumbuh subur di atas reruntuhan
Revolusi, dan semangat tukang-kelontong yang
mendominasi dan menjadi karakter dari perdagangan
Prancis pada masa itu. Lebih piawai lagi adalah kritiknya
mengenai bentuk borjuis dari relasi antar laki-laki dan
perempuan, dan kedudukan kaum perempuan dalam
masyarakat borjuis. Ia adalah orang pertama yang
menyatakan bahwa dalam masyarakat manapun tingkat
emansipasi perempuan merupakan indikator alamiah dari
tingkat emansipasi secara umum.[28]

Tetapi puncak pemikiran Fourier dapat ditemui dalam


konsepsinya mengenai sejarah masyarakat. Ia membagi
keseluruhan proses sejarah masyarakat, sampai saat ini,
ke dalam empat tahapan evolusi – kebiadaban,
barbarisme, patriarkat, peradaban. Yang terakhir ini
identik dengan yang dewasa ini disebut masyarakat sipil
atau borjuis – yakni tatanan sosial yang lahir pada abad
ke-16. Ia membuktikan “bahwa tahapan peradaban
mengubah setiap keburukan yang dipraktekkan secara
sederhana oleh barbarisme menjadi sebuah bentuk
eksistensi yang kompleks, ambigu, samar-samar,
munafik” – bahwa peradaban bergerak “dalam sebuah
lingkaran mati”, dalam kontradiksi-kontradiksi yang terus-
menerus direproduksinya tanpa mampu
memecahkannya; oleh karenanya ia selalu tiba pada
kebalikan dari apa yang hendak dicapainya, atau pura-
pura hendak dicapainya, sehingga, misalnya, “di bawah
peradaban kemiskinan dilahirkan dari keberlimpahan itu
sendiri.”[29]

Fourier, seperti kita ketahui, menggunakan metode


dialektika dengan cara piawai yang sama seperti Hegel.
Dengan menggunakan dialektika yang sama ini, ia
berargumen melawan semua pembicaraan mengenai
kesempurnaan manusia yang tiada batas, bahwa setiap
tahapan sejarah mempunyai periode naik dan juga
periode menurunnya, dan ia menerapkan pengamatan ini
pada masa depan seluruh umat manusia. Seperti Kant
yang memperkenalkan ke dalam ilmu pengetahuan alam
gagasan mengenai kehancuran akhir Bumi, Fourier
memperkenalkan ke dalam ilmu sejarah gagasan
mengenai kehancuran akhir umat manusia.

Sementara di Prancis ada badai Revolusi yang


menyapu negeri itu, di Inggris sebuah revolusi yang lebih
tenang, tetapi tidak kalah dahsyatnya, sedang
berlangsung. Tenaga uap dan mesin pembuat-alat baru
sedang mentransformasi manufaktur menjadi industri
modern, dan dengan demikian merevolusionerkan
seluruh landasan masyarakat borjuis. Derap langkah
periode manufaktur yang lamban berubah menjadi badai
besar periode produksi. Dengan kepesatan yang semakin
cepat, masyarakat semakin terpecah menjadi kaum
kapitalis besar di satu sisi dan kaum proletar yang tidak
memiliki apapun di sisi lain. Di antara kedua kelas ini,
alih-alih kelas menengah yang stabil, kita dapati massa
kaum artisan dan tukang kelontong kecil, yang adalah
bagian populasi yang paling berfluktuasi, yang kini
menjalani sebuah keberadaan yang penuh kerentanan.

Mode produksi yang baru ini masih pada awal periode


kenaikannya; masih merupakan metode produksi yang
normal dan lazim sampai saat itu – satu-satunya metode
produksi yang mungkin di bawah kondisi-kondisi yang
ada. Meskipun demikian ia telah menimbulkan kejahatan-
kejahatan sosial yang mencolok: digiringnya para
gelandangan ke kampung-kampung yang terburuk di
kota-kota besar; melonggarnya semua ikatan moral
tradisional, kepatuhan patriarkal, dan relasi keluarga;
kerja berlebihan yang parah, terutama di antara kaum
perempuan dan anak-anak; demoralisasi sepenuhnya di
antara kelas buruh, yang tiba-tiba dihempaskan ke dalam
kondisi yang sama sekali baru, dari pedesaan ke
perkotaan, dari pertanian ke industri modern, dari kondisi
kehidupan yang stabil ke kondisi kehidupan yang tidak
menentu dan berubah dari hari ke hari.

Pada titik ini tampil seorang pengubah, seorang


pengusaha manufaktur berusia 29 tahun – seorang pria
dengan kesederhanaan dan kenaifan yang hampir seperti
anak kecil, yang sublim, dan pada saat yang sama adalah
salah satu dari sedikit pemimpin yang lahiriah. Robert
Owen telah mengadopsi ajaran para filsuf materialis:
bahwa karakter seseorang adalah di satu sisi produk
keturunan; di sisi lain produk lingkungan individu itu
sepanjang hidupnya, dan khususnya selama masa
perkembangan dirinya. Dalam revolusi industri
kebanyakan orang dari kelasnya hanya melihat chaos
dan kekacauan, dan kesempatan untuk mengail dalam air
keruh dan meraup secepat mungkin kekayaan berlimpah.
Ia melihat dalam revolusi industri peluang untuk
mempraktekkan teori favoritnya, dan dengan demikian
melahirkan keteraturan dari kekacauan. Ia telah
mencobanya dengan berhasil, sebagai mandor dari lebih
dari lima ratus orang di sebuah pabrik di Manchester. Dari
1800 hingga 1829, sebagai mitra pengelola ia memimpin
pabrik katun besar di New Lanark, Skotlandia, dengan
cara yang sama, tetapi dengan kebebasan yang lebih
besar dan dengan kesuksesan yang memberinya reputasi
di Eropa. Sebuah populasi, yang awalnya terdiri atas
unsur-unsur yang paling beragam dan sebagian besar
sangat terdemoralisasi, sebuah populasi yang secara
berangsur tumbuh menjadi 2.500 orang, diubahnya
menjadi sebuah koloni panutan, di mana tidak akan kita
temui kemabukan, polisi, hakim, perkara hukum, undang-
undang kemiskinan, sedekah. Dan semuanya itu dicapai
hanya dengan menempatkan manusia dalam kondisi
yang layak untuk manusia, dan khususnya dengan
menaruh perhatian yang besar pada generasi yang baru.
Ia adalah pendiri sekolah taman kanak-kanak, dan
memperkenalkannya pertama kalinya di New Lanark.
Pada usia dua tahun anak-anak masuk sekolah, di mana
mereka dapat bermain dengan begitu bahagianya
sampai-sampai mereka sulit diajak pulang. Sementara
para pesaingnya mempekerjakan buruh mereka 13 atau
14 jam sehari, di New Lanark jam kerja hanya sepuluh
setengah jam. Ketika krisis kapas menghentikan
pekerjaan selama empat bulan, para pekerjanya
menerima upah penuh mereka. Kendati semua ini
bisnisnya tumbuh lebih dari dua kali lipat, dan hingga
akhir menghasilkan profit yang besar untuk para
pemiliknya.

Sekalipun begitu, Owen tidak puas. Kehidupan yang


telah ia jamin bagi para pekerjanya, di matanya, masih
jauh dari layak bagi manusia. “Mereka adalah budak yang
tergantung pada belas kasihanku.” Kondisi yang relatif
lebih baik yang telah dia jamin bagi para pekerjanya
masih jauh dari yang diperlukan untuk memungkinkan
perkembangan watak dan intelek yang rasional dan
menyeluruh, apalagi penggunaan yang bebas dari
seluruh kapasitas mereka.

“Namun, lapisan yang bekerja dari populasi sebesar


2.500 orang ini setiap harinya memproduksi kekayaan riil
yang sama banyaknya dengan yang dihasilkan oleh
populasi 600.000 kurang dari setengah abad yang lalu.
Saya bertanya pada diri saya sendiri, kemana selisih
antara kekayaan yang dikonsumsi oleh 2.500 orang dan
yang dikonsumsi oleh 600.000 orang?” [30]

Jawabannya jelas. Selisih ini digunakan untuk


membayar para pemilik perusahaan 5 persen dari kapital
yang telah mereka investasi, ditambah 300.000 pound
Inggris laba bersih. Dan yang berlaku di New Lanark
berlaku bahkan lebih besar di semua pabrik di Inggris.

“Seandainya kekayaan baru ini tidak diciptakan oleh


mesin, biarpun telah diterapkan secara tidak sempurna,
peperangan Eropa untuk melawan Napoleon, dan untuk
mendukung aristokrasi, tidak mungkin bisa
dipertahankan. Namun kekuatan yang baru ini adalah
ciptaan kelas pekerja.”

Oleh karenanya buah hasil dari kekuatan yang baru ini


adalah milik mereka. Kekuatan produksi raksasa yang
baru ini, yang hingga kini hanya dipakai untuk
memperkaya segelintir orang dan memperbudak massa,
memberi Owen fondasi untuk rekonstruksi masyarakat.
Kekuatan produksi ini ditakdirkan untuk menjadi hak milik
bersama dan digarap demi kebaikan bersama.

Komunismenya Owen sepenuhnya didasarkan atas


pertimbangan bisnis, yang boleh dikatakan merupakan
hasil perhitungan komersial. Dalam keseluruhannya ia
mempertahankan sifat praktis ini. Dengan itu, pada 1823,
Owen mengajukan proposal untuk memecahkan masalah
kelaparan di Irlandia dengan membentuk koloni-koloni
Komunis. Ia menghitung semua biaya yang diperlukan
untuk mendirikan koloni-koloni ini, pengeluaran tahunan,
dan kemungkinan sumber pemasukannya. Dia menyusun
rincian-rincian teknis dari rencananya dengan
pengetahuan yang begitu praktis dan dengan
mempertimbangkan semua aspek dari segala sudut,
sehingga bila kita menerima metode reformasi sosial
Owen, dari sudut pandang teknis tidak banyak yang bisa
kita katakan.

Langkahnya ke arah Komunisme merupakan titik balik


dalam kehidupan Owen. Selama ia hanya seorang
dermawan, ia dihujani dengan kekayaan, tepuk tangan,
kehormatan dan kemuliaan. Ia adalah orang yang paling
terkenal di Eropa. Tidak hanya orang-orang dari kelasnya
sendiri, tetapi para negarawan dan pangeran
mendengarkannya dengan anggukan setuju. Tetapi ketika
ia mengajukan teori-teori Komunisnya, maka jadi lain
soal. Menurutnya ada tiga rintangan besar di jalan menuju
reformis sosial: kepemilikan pribadi, agama, dan bentuk
perkawinan yang ada.

Ia tahu apa konsekuensi yang harus dia hadapi jika ia


menyerang ketiga hal itu. Ia akan berdiri di luar hukum,
dikucilkan dari masyarakat, dan kehilangan seluruh
kedudukan sosialnya. Tetapi semua ini tidak membuatnya
takut. Setelah dikucilkan dari masyarakat, dibungkam
oleh konspirasi pers, dibangkrutkan oleh eksperimen-
eksperimen Komunisnya yang gagal di Amerika, di mana
ia mengorbankan seluruh hartanya, ia lalu memalingkan
pandangan ke kelas buruh dan terus bekerja di tengah-
tengah mereka selama tiga puluh tahun. Setiap gerakan
sosial dan setiap pencapaian riil kelas buruh di Inggris
ada sangkut pautnya dengan nama Robert Owen. Pada
1819, setelah lima tahun berjuang, ia berhasil
memenangkan undang-undang pertama yang membatasi
jam kerja bagi kaum perempuan dan anak-anak di
pabrik.[31] Ia menjadi presiden dari Kongres pertama di
mana semua Serikat Buruh Inggris bersatu dalam sebuah
asosiasi serikat buruh besar.[32]Sebagai langkah-langkah
transisional untuk menuju masyarakat yang sepenuhnya
diorganisir secara komunistik, ia mengajukan di satu
pihak pembentukan koperasi perdagangan eceran dan
produksi. Koperasi ini setidaknya sampai hari ini telah
menyediakan kepada kita bukti praktis bahwa kaum
pedagang dan kaum pengusaha manufaktur secara sosial
tidak terlalu diperlukan. Di pihak lain ia memperkenalkan
bazar kerja untuk pertukaran produk-produk kerja melalui
medium surat kerja, yang unitnya adalah satu jam kerja.
Bazar kerja ini adalah sebuah institusi yang tidak bisa
tidak ditakdirkan untuk gagal, tetapi sepenuhnya
mengantisipasi sistem bank pertukaran yang diajukan
oleh Proudhon di kemudian hari. Perbedaannya adalah,
tidak seperti Proudhon, Owen tidak mengklaim ini sebagai
obat mujarab untuk semua penyakit sosial, tetapi hanya
sebagai langkah pertama menuju sebuah revolusi sosial
yang jauh lebih radikal.

Cara pandang Utopis ini telah lama mendominasi


gagasan-gagasan Sosialis pada abad ke-19, dan masih
mendominasi beberapa dari mereka. Sampai baru-baru
ini, semua kaum sosialis Inggris dan Prancis masih
memegang cara pandang ini. Kaum Sosialis Jerman
awal, termasuk Weitling[33], juga sama. Bagi mereka
semua Sosialisme adalah ekspresi kebenaran, nalar, dan
keadilan yang absolut, dan hanya perlu ditemukan untuk
bisa menaklukkan seluruh dunia dengan kekuatannya
sendiri. Dan karena kebenaran absolut tidaklah terikat
oleh waktu, ruang, dan perkembangan historis manusia,
maka hanya kebetulan belaka kapan dan dimana ia akan
ditemukan. Dengan cara berpikir seperti ini, para pendiri
dari berbagai mazhab yang beraneka ragam ini
menemukan kebenaran, nalar dan keadilan absolut yang
beraneka ragam pula. Dan karena kebenaran, nalar, dan
keadilan absolut dari tiap-tiap pendiri yang berbeda ini
memiliki keunikannya tersendiri, yang dikondisikan oleh
pemahamannya yang subjektif, kondisi-kondisi
keberadaannya, ukuran pengetahuan dan pelatihan
intelektualnya, maka konflik antara berbagai kebenaran
absolut ini tidak mungkin akan ada akhirnya dan mereka
harus menjadi eksklusif dari satu sama lain. Oleh
karenanya, dari semua ini hanya bisa kita dapati
semacam sosialisme rata-rata yang eklektik, yang sampai
saat ini mendominasi pikiran dari kebanyakan buruh
sosialis di Prancis dan Inggris. Kita dapati sebuah ideologi
gado-gado yang bisa menampung bermacam rupa opini;
sebuah gado-gado pernyataan-pernyataan kritis, teori-
teori ekonomi, beragam gambaran masyarakat masa
depan oleh para pendiri dari berbagai sekte, yang paling
sopan dan tidak menyinggung; sebuah gado-gado yang
semakin mudah digodok bila tiap-tiap sudut tajam
konstituennya semakin ditumpulkan oleh arus
perdebatan, seperti batu-batu bulat di anak sungai.

Untuk membuat Sosialisme menjadi ilmiah, ia harus


terlebih dahulu diletakkan di atas sebuah landasan yang
riil.

II. Dialektika
Sementara itu, sejalan dengan dan setelah filsafat
Prancis abad ke-18, telah lahir filsafat Jerman yang baru,
yang memuncak pada Hegel.
Jasanya yang terbesar adalah mengangkat kembali
dialektika sebagai bentuk penalaran tertinggi. Semua
filsuf Yunani kuno dilahirkan sebagai ahli dialektika yang
alamiah, dan Aristoteles, yang paling ensiklopedik di
antara mereka semua, sudah menganalisis bentuk-bentuk
pemikiran dialektik yang paling dasar. Filsafat yang lebih
baru, di sisi lain, sekalipun di dalamnya kita temui juga
para pendukung dialektika yang cemerlang (misalnya
Descartes dan Spinoza), telah, khususnya lewat
pengaruh Inggris, semakin hari semakin terpatri secara
kaku di dalam mode penalaran yang disebut metafisika,
yang hampir sepenuhnya juga mendominasi orang-orang
Prancis abad ke-18, terutama dalam karya filsafat
mereka. Di luar filsafat, dalam pengertian yang terbatas,
orang Prancis telah menghasilkan karya-karya besar
dialektika. Kita hanya perlu mengingat karya Diderot, Le
Neveu de Rameau, dan karya Rousseau, Discours sur
l'origine et les fondements de l'inegalite parmi less
hommes. Di sini kita sajikan secara singkat karakter
esensial dari kedua bentuk penalaran ini.

Bila kita memandang dan merenungkan Alam secara


keseluruhan, atau sejarah umat manusia, atau kegiatan
intelektual kita sendiri, awalnya kita melihat sebuah
benang kusut tanpa-akhir dari relasi-relasi dan reaksi-
reaksi, permutasi-permutasi dan kombinasi-kombinasi, di
mana tiada yang tetap sebagaimana ia adanya, di mana
dan seperti yang ia adanya, tetapi segala sesuatunya
bergerak, berubah, lahir dan pupus melenyap. Oleh
karenanya, awalnya kita melihat hal-hal dalam
keseluruhannya, dimana bagian-bagian individu yang
menyusunnya kurang lebih masih di latar belakang; kita
amati gerakan, transisi, relasi, dan bukannya benda-
benda yang bergerak, berpadu dan berkait itu sendiri.
Konsepsi yang primitif dan naif tetapi secara intrinsik
tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani Kuno, dan untuk
pertama kalinya dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus:
segala sesuatu itu ada dan tiada, karena segala sesuatu
itu mengalir, terus menerus berubah, terus menerus
menjadi dan pupus.

Walaupun konsepsi ini tepat karena ia mengungkapkan


karakter umum dari gambaran keseluruhan, ia tidaklah
memadai untuk menjelaskan detil-detil yang merupakan
bagian dari gambaran ini. Selama kita tidak memahami
detil-detil ini, kita tidak mempunyai pemahaman yang
jernih akan keseluruhan gambaran itu. Untuk memahami
detil-detil ini kita harus memisahkan mereka dari sebab-
sebab dan pengaruh-pengaruh alamiah dan khusus
mereka. Ini adalah, terutama, tugas penelitian ilmu
pengetahuan alam dan sejarah: cabang-cabang ilmu
pengetahuan yang oleh orang Yunani Kuno, untuk alasan
yang sangatlah baik, diletakkan dalam posisi yang
subordinat, karena mereka pertama-tama sekali harus
mengumpulkan bahan-bahan untuk dikerjakan oleh ilmu-
ilmu ini. Sejumlah materi alam dan sejarah tertentu harus
dihimpun sebelum kita bisa melakukan analisa kritis,
perbandingan, dan penataan dalam kelas-kelas,
golongan-golongan, dan spesies. Fondasi-fondasi ilmu
pengetahuan alam eksak, oleh karenanya, awalnya
dikerjakan oleh orang-orang Yunani dari periode
Alexandrian[34], dan kemudian pada Abad Pertengahan
oleh orang-orang Arab. Ilmu pengetahuan alam yang
sesungguhnya berasal-muasal dari paruh kedua abad ke-
15, dan sejak itu ia telah berkembang dengan laju yang
terus-menerus meningkat. Analisis Alam ke dalam
bagian-bagian individualnya, pengelompokan berbagai
proses-proses dan obyek-obyek alam ke dalam kelas-
kelas tertentu, studi mengenai anatomi internal dari tubuh
organik dalam keragaman bentuknya – inilah syarat
fundamental yang melandasi kemajuan besar ilmu
pengetahuan Alam selama 400 tahun terakhir. Tetapi
metode kerja ini juga telah memberi kita warisan
kebiasaan mengamati obyek-obyek dan proses-proses
alam dalam keterisolasian mereka, terpisah dari
keterkaitan mereka dengan keseluruhan; kebiasaan
mengamati benda dalam keadaan diam mereka, dan
bukan dalam keadaan gerak mereka; dalam konstan dan
bukan dalam variabel; dalam kematian mereka, dan
bukan dalam kehidupan mereka. Dan ketika Bacon dan
Locke mentransfer metode pengamatan ini dari ilmu
pengetahuan alam ke filsafat, ini melahirkan metode
pemikiran metafisika yang sempit, yang khas dari abad
yang lalu.

Bagi ahli metafisika, benda dan refleks mental mereka


(atau gagasan) adalah obyek yang terisolasi dari satu
sama lain, dan mesti dipertimbangkan satu demi satu dan
terpisah satu dari yang lainnya. Mereka adalah obyek
yang harus diteliti dalam keadaannya yang diam, kaku,
dan abadi. Ia berpikir dalam antitesis yang secara mutlak
tak terdamaikan. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya,
jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih
dari pada itu berasal dari si jahat.” [Matius 5:37] Baginya
sesuatu itu eksis atau tidak eksis; sesuatu itu tidak dapat
menjadi dirinya sendiri dan pada waktu bersamaan
menjadi sesuatu lainnya. Positif dan negatif mutlak
terpisah satu sama lain; sebab dan akibat berada dalam
sebuah antitesis yang kaku.

Sekilas cara berpikir seperti ini tampak sangat jernih,


karena ia adalah apa yang disebut akal sehat yang logis.
Akal sehat yang logis ini, seperti seorang tuan terhormat
di rumahnya yang nyaman, akan segera mengalami
petualangan yang luar biasa seketika ia melangkah keluar
ke dunia penelitian yang luas. Metode berpikir metafisika
dapat dibenarkan dan diperlukan dalam sejumlah domain,
dalam tingkatan yang tergantung pada sifat dari obyek
yang diteliti. Namun cepat atau lambat metode metafisika
akan mencapai limitnya, dan di luar limit ini ia menjadi
berat-sebelah, terbatas, abstrak, hilang dalam kontradiksi-
kontradiksi yang tak terpecahkan. Dalam merenungkan
hal-hal secara individual, ia melupakan kaitan di antara
mereka; dalam merenungkan keberadaan mereka, ia
melupakan awal dan akhir dari keberadaan itu; dalam
kediaman mereka, ia melupakan gerak mereka. Ia tidak
bisa membedakan hutan dari pohon-pohon.

Untuk kebutuhan sehari-hari kita tahu dan dapat


mengatakan, misalnya, apakah seekor binatang itu hidup
atau mati. Tetapi bila kita teliti lebih dekat, kita mendapati
bahwa masalah hidup atau mati adalah sebuah
pertanyaan yang sangatlah kompleks, sebagaimana yang
diketahui dengan sangat baik oleh para ahli hukum.
Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk
menentukan batas rasional kapan menggugurkan janin
dalam kandungan ibunya adalah pembunuhan. Adalah
sama mustahilnya untuk menentukan secara absolut saat
kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian
bukanlah sebuah fenomena yang sesaat dan sementara,
melainkan sebuah proses yang berkepanjangan.

Begitu juga setiap makhluk organik setiap saat adalah


sama dan tidak sama; setiap saat ia mengasimilasi materi
yang disuplai dari luar dan membuang materi lain; setiap
saat sejumlah sel tubuhnya mati dan yang lain
membangun kembali dirinya; dalam satu jangka waktu
tertentu materi tubuhnya telah diperbarui sepenuhnya,
dan digantikan oleh molekul-molekul materi lainnya,
sehingga setiap makhluk organik selalu adalah dirinya
sendiri, dan juga sesuatu yang lain daripada dirinya
sendiri.
Setelah penelitian yang lebih cermat kita juga
mendapati bahwa kedua kutub dari sebuah antitesis,
misalnya positif dan negatif, adalah tak terpisahkan
seperti halnya mereka berlawanan, dan kendati
bertentangan, mereka saling merasuki. Dan kita temui,
dengan cara yang sama, bagaimana sebab dan akibat
adalah konsepsi yang hanya berlaku bila diterapkan pada
kasus-kasus individual. Tetapi begitu kita
mempertimbangkan kasus-kasus individual itu dalam
keterhubungan umum mereka dengan alam semesta
secara keseluruhan, mereka saling bertubrukan. Mereka
menjadi kacau ketika kita merenungkan aksi dan reaksi
universal itu di mana sebab dan akibat selalu berganti
tempat, sehingga apa yang adalah akibat di satu tempat
dan satu waktu akan menjadi sebab di lain tempat dan
lain waktu, dan sebaliknya.

Kerangka penalaran metafisika tidak mengikutsertakan


proses dan metode berpikir seperti ini. Dialektika, di sisi
lain, memahami materi dan representasi mereka, yakni
gagasan, dalam keterkaitan, keterangkaian, gerak, awal
dan akhir mereka yang esensial. Proses-proses yang
disebut di atas ini oleh karenanya adalah pembenaran
bagi metode prosedurnya sendiri.

Alam adalah bukti dari dialektika, dan kita harus


katakan kalau sains modern telah menyediakan bukti ini
dengan materi-materi yang sangat kaya, yang jumlahnya
hari demi hari meningkat, dan dengan demikian telah
menunjukkan bahwa, pada analisa terakhir, Alam bekerja
secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa Alam
tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari sebuah
lingkaran yang terus-menerus mengulang, tetapi bergerak
melalui sebuah evolusi historis yang riil. Dalam hal ini,
nama Darwin mesti disebut sebelum menyebutkan nama-
nama lainnya. Ia telah menghantarkan pukulan terbesar
terhadap konsepsi metafisika mengenai alam dengan
pembuktiannya bahwa semua makhluk organik, tanam-
tanaman, binatang, dan manusia sendiri, adalah produk
dari sebuah proses evolusi yang berlangsung selama
jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar
berpikir secara dialektik tidaklah banyak, dan konflik
antara hasil-hasil penemuan dengan prasangka berpikir
ini menjelaskan kekacauan tanpa akhir yang kini
merajalela dalam ilmu teori alam, keputusasaan para guru
dan juga para pelajar, para penulis dan juga para
pembaca.

Sebuah representasi yang tepat dari alam semesta, dari


evolusinya, dari perkembangan umat manusia, dan dari
refleksi evolusi ini dalam benak manusia, oleh karenanya
hanya dapat diperoleh dengan metode dialektika, yang
terus-menerus memperhatikan aksi dan reaksi dari
kehidupan dan kematian, perubahan progresif atau
retrogresif, yang jumlahnya tak terhitung. Inilah semangat
yang terkandung dalamfilsafat Jerman yang baru. Kant
memulai kariernya dengan memecahkan sistem tata
suryanya Newton yang stabil dan keberlangsungan
abadinya setelah impuls awal yang termasyhur itu
diberikan. Kant menjelaskannya sebagai hasil dari
sebuah proses historis, dimana matahari dan semua
planet terbentuk dari sebuah kabut nebula yang
berputar.[35] Dari sini ia sekaligus menarik kesimpulan
bahwa, berdasarkan asal-usul sistem Tata Surya ini,
maka kematiannya di hari depan adalah sebuah
keniscayaan. Teorinya, setengah abad kemudian,
dibuktikan secara matematika oleh Laplace, dan
setengah abad setelah itu spektroskop membuktikan
keberadaan kabut gas pijar seperti itu dalam berbagai
tahap pengembunan di ruang angkasa.
Filsafat baru Jerman ini berkulminasi dalam sistem
Hegelian. Dalam sistem ini – dan di sini kita temui jasa
besarnya – untuk pertama kalinya seluruh dunia, alam,
sejarah, gagasan, disajikan sebagai sebuah proses, yakni
sebagai sesuatu yang terus menerus dalam gerak,
perubahan, transformasi, perkembangan; dan usaha
dilakukan untuk menyusur keterkaitan internal yang
menjadikan semua gerak dan perkembangan ini satu
keutuhan yang bersinambungan. Dari sudut pandang ini
sejarah umat manusia tidak lagi tampak seperti sebuah
kekacauan liar dari kekerasan-kekerasan yang tak masuk
di akal, yang terkutuk di hadapan pengadilan nalar yang
filsafati dan dewasa, yang sebaiknya dilupakan secepat
mungkin. Sejarah umat manusia tidak lain adalah bagian
dari proses perkembangan manusia itu sendiri. Sekarang
menjadi tugas dari akal manusia untuk menelusuri derap
gradual dari proses ini melalui semua alurnya yang
berliku-liku, dan untuk menyusuri hukum-hukum internal
yang mengatur semua fenomenanya yang seakan-akan
kebetulan.

Bahwa sistem Hegelian tidak memecahkan problem


yang dikemukakannya tidaklah penting. Jasanya yang
bersejarah adalah bahwa ia telah mengemukakan
problem itu. Ini adalah problem yang tidak akan pernah
dapat dipecahkan oleh seorangpun. Sekalipun Hegel
adalah – bersama dengan Saint-Simon – pemikir yang
paling ensiklopedik di zamannya, namun ia dibatasi,
pertama, oleh keterbatasan yang tak terelakkan dari
pengetahuannya sendiri dan, kedua, oleh keterbatasan
dari pengetahuan dan konsepsi di zamannya. Selain
kedua keterbatasan ini, kita harus tambahkan yang
ketiga. Hegel adalah seorang idealis. Baginya pikiran
dalam benaknya bukanlah gambaran abstrak dari hal-hal
dan proses-proses yang aktual, tetapi sebaliknya, semua
hal dan evolusi mereka hanyalah gambaran yang
direalisasikan oleh “Ide”, yang eksis di satu tempat sejak
kekekalan sebelum adanya dunia. Cara berpikir ini
menjungkirbalikkan semuanya, dan sepenuhnya memutar
balik keterkaitan yang sesungguhnya dari segala sesuatu
dalam dunia. Setepat-tepatnya dan sepintar-pintarnya
Hegel memahami sekumpulan fakta, namun karena
alasan-alasan yang baru saja kita kemukakan, banyak
sekali hal ihwal yang ceroboh, artifisial, dibuat-buat, atau
dalam kata lain keliru dalam hal rinciannya. Sistem
Hegelian, dalam dirinya sendiri, merupakan sebuah
keguguran yang besar – tetapi ia juga adalah yang
terakhir dari jenisnya.

Ia menderita, pada kenyataannya, dari sebuah


kontradiksi internal yang tak dapat disembuhkan. Di satu
pihak, dalil pokoknya adalah konsepsi bahwa sejarah
manusia merupakan sebuah proses evolusi, yang, karena
wataknya ini, tidak akan bisa menemukan ekspresi
intelektualnya yang paling akhir lewat penemuan apa-
yang-disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia
mengklaim dirinya sebagai hakikat kebenaran absolut itu
sendiri. Sebuah sistem pengetahuan alam dan sejarah,
yang mencakup segala sesuatu, dan yang final untuk
selamanya, adalah sebuah kontradiksi terhadap hukum
dasar penalaran dialektika.

Hukum ini, memang, sama sekali tidak mengecualikan,


tetapi sebaliknya, mencakup gagasan bahwa
pengetahuan sistematik mengenai alam semesta
eksternal dapat mengambil langkah maju yang besar dari
masa ke masa.

Persepsi mengenai kontradiksi fundamental dalam


idealisme Jerman mau tak mau berpulang pada
materialisme, tetapi, notabene, bukan materialisme abad
ke-18 yang semata-mata metafisika dan mekanik.
Materialisme Tua melihat seluruh sejarah masa lalu
sebagai seonggok besar kekerasan dan hal-hal yang
irasional, sementara Materialisme Modern melihat dalam
sejarah proses evolusi kemanusiaan dan berusaha
menemukan hukum-hukum dari proses evolusi tersebut.
Para filsuf Prancis abad ke-18, dan bahkan Hegel,
memegang konsepsi bahwa Alam secara keseluruhan
bergerak dalam lingkaran yang sempit, dan selama-
lamanya kekal, dengan benda-benda langitnya yang
abadi, seperti yang diajarkan oleh Newton, dan dengan
spesies organiknya yang tak dapat berubah,
sebagaimana diajarkan oleh Linnaeus. Materialisme
Modern mencakup penemuan-penemuan ilmu
pengetahuan alam yang terbaru, yang menyatakan
bahwa Alam juga memiliki sejarah, bahwa benda-benda
langit, seperti halnya makhluk-makhluk organik yang
menghuninya di bawah kondisi-kondisi yang
memungkinkannya, lahir dan musnah. Dan bahkan bila
Alam, sebagai satu keseluruhan, masih bergerak dalam
lingkaran yang mengulang, lingkaran ini memiliki dimensi
yang besarnya tak terhingga. Dalam kedua aspek ini,
Materialisme Modern pada dasarnya bersifat dialektik,
dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari semacam
filsafat yang, seperti sang Ratu, berpura-pura berkuasa di
atas seluruh sains. Ketika tiap-tiap cabang sains harus
membuat posisinya jelas dalam totalitas besar dari segala
sesuatu dan pengetahuan kita mengenai segala sesuatu,
maka sebuah cabang sains yang khusus untuk
mempelajari totalitas ini sudah tidak lagi berguna dan
tidak lagi diperlukan. Dari semua filsafat yang ada
sebelumnya, hanya sains mengenai penalaran dan
hukumnya – yakni logika formal dan dialektika – yang
masih akan bertahan. Yang lainnya akan tenggelam
dalam ilmu pengetahuan positif mengenai Alam dan
sejarah.
Walaupun revolusi dalam ilmu pengetahuan Alam
hanya dapat dicapai dalam proporsi yang sama dengan
bahan-bahan yang disediakan oleh penelitian, jauh
sebelumnya sejumlah fakta sejarah tertentu telah terjadi
yang menyebabkan perubahan yang menentukan dalam
konsepsi mengenai sejarah. Pada 1831, pemberontakan
kelas buruh yang pertama terjadi di Lyon[36]; antara 1838
dan 1842, gerakan kelas buruh nasional yang pertama,
yakni gerakan Chartisme di Inggris, mencapai puncaknya.
Perjuangan kelas antara proletariat dan borjuasi tampil ke
depan dalam sejarah negeri-negeri kapitalis termaju di
Eropa, dalam proporsi yang sama dengan perkembangan
industri modern di satu sisi dan perkembangan supremasi
politik kaum borjuasi yang baru saja mereka raih di sisi
lain. Realitas semakin hari semakin mengekspos
kebohongan dari ajaran-ajaran ekonomi borjuis yang
mengatakan bahwa kepentingan modal dan buruh adalah
sama, bahwa kompetisi bebas akan membawa
keharmonisan dan kemakmuran untuk semua orang.
Semua ini sudah tidak bisa lagi diabaikan, seperti halnya
kita tidak bisa lagi mengabaikan Sosialisme Inggris dan
Prancis yang merupakan ekspresi teori dari realitas ini,
walaupun mereka adalah ekspresi yang sangat tidak
sempurna. Tetapi konsepsi idealis mengenai sejarah,
yang masih mendominasi, tidak mengenal perjuangan
kelas yang berdasarkan kepentingan ekonomi, tidak
mengenal kepentingan ekonomi; baginya produksi dan
semua relasi ekonomi adalah semata-mata elemen-
elemen yang insidental dan subordinat dalam “sejarah
peradaban”.

Fakta-fakta yang baru mengharuskan kita untuk


memeriksa kembali semua sejarah masa lalu. Dari situ
kita melihat bahwa semua sejarah masa lalu, kecuali
tahapan primitif, adalah sejarah perjuangan kelas, bahwa
semua kelas-kelas yang bertentangan selalu merupakan
produk dari mode produksi dan pertukaran, dalam kata
lain, produk dari kondisi-kondisi ekonomi zamannya;
bahwa struktur ekonomi dari sebuah masyarakat selalu
menjadi landasan riil dari masyarakat tersebut, dan hanya
dari struktur ekonomi tersebut kita bisa menyusun
penjelasan mengenai keseluruhan bangunan-atas
(superstruktur) lembaga-lembaga hukum dan politik, dan
juga gagasan-gagasan religius, filsafat, dan lainnya yang
ada di sebuah epos sejarah tertentu. Hegel telah
membebaskan sejarah dari metafisika – dia telah
membuatnya dialektis; tetapi konsepsinya mengenai
sejarah pada hakikatnya adalah idealis. Tetapi hari ini
idealisme telah diusir dari tempat persembunyian
terakhirnya, yaitu filsafat sejarah; hari ini metode
pembedahan sejarah secara materialis telah
dikedepankan, yakni sebuah metode yang menjelaskan
“pengetahuan” manusia lewat “keberadaan”nya, alih-alih
“keberadaan”nya lewat “pengetahuan”nya.

Sejak saat itu Sosialisme sudah bukan lagi sebuah


penemuan yang aksidental oleh otak pintar yang ini atau
yang itu, tetapi hasil yang niscaya dari perjuangan antara
dua kelas yang berkembang secara historis – proletariat
dan borjuasi. Tugas Sosialisme sudah bukan lagi
menghasilkan sebuah sistem kemasyarakatan yang
sesempurna mungkin, tetapi memeriksa rangkaian
peristiwa historico-ekonomik yang niscaya menghasilkan
kelas-kelas ini dan antagonisme di antara mereka, dan
menemukan di dalam kondisi-kondisi ekonomi yang
terciptakan ini sarana untuk memecahkan konflik ini.
Tetapi Sosialisme Awal tidaklah kompatibel dengan
konsepsi materialis ini, seperti halnya konsepsi Alam
kaum materialis Prancis tidak kompatibel dengan
dialektika dan ilmu alam modern. Sosialisme Awal jelas
mengkritik mode produksi kapitalis yang ada dan
konsekuensi-konsekuensinya. Tetapi ia tidak mampu
menjelaskannya, dan oleh karenanya tidak mampu
menguasainya. Ia hanya bisa menolaknya sebagai
sesuatu yang buruk. Semakin keras Sosialisme Awal
mengutuk eksploitasi terhadap kelas buruh, yang tak
terelakkan di bawah Kapitalisme, semakin ia tidak mampu
menjelaskan secara terang benderang apa eksploitasi ini
dan bagaimana eksploitasi ini muncul. Untuk bisa
melakukan ini, kita harus 1) menjelaskan mode produksi
kapitalis dalam keterkaitan historisnya dan
keniscayaannya dalam sebuah epos sejarah tertentu, dan
oleh karenanya juga menjelaskan keruntuhannya yang
tak terelakkan; 2) menelanjangi karakter esensialnya,
yang sampai tempo hari masihlah tersembunyi. Ini
dilakukan lewat ditemukannya nilai-lebih.

Telah dibuktikan bahwa apropriasi kerja yang tak


dibayar adalah landasan dari mode produksi kapitalis dan
eksploitasi kaum buruh yang berlangsung di bawahnya;
bahwa bahkan bila kaum kapitalis membeli tenaga kerja
dari buruhnya dengan nilai penuh sebagai komoditas di
pasar, dia akan tetap meraup lebih banyak nilai darinya
daripada yang dibayarkannya; dan pada analisa terakhir,
nilai-lebih ini membentuk jumlah total nilai dari kapital
yang terus menumpuk di tangan kelas-kelas bermilik.
Asal-muasal produksi kapitalis dan produksi kapital
kedua-duanya dijelaskan di sini.

Kita berhutang pada Marx kedua penemuan besar ini,


konsepsi materialis mengenai sejarah dan penyingkapan
rahasia produksi kapitalis melalui nilai-lebih. Dengan
penemuan-penemuan ini, Sosialisme menjadi ilmiah. Hal
selanjutnya adalah mengerjakan semua rinciannya dan
relasi-relasinya.

III. Materialisme Historis


Konsepsi materialis tentang sejarah dimulai dari
proposisi bahwa produksi kebutuhan untuk mendukung
kehidupan manusia dan, setelah produksi, pertukaran dari
barang-barang yang diproduksi, adalah landasan dari
semua struktur sosial; bahwa di setiap masyarakat yang
telah muncul dalam sejarah, cara bagaimana kekayaan
didistribusikan dan bagaimana masyarakat terpecah
menjadi kelas-kelas atau kelompok-kelompok sosial
tergantung pada apa yang diproduksi, bagaimana barang
itu diproduksi, dan bagaimana produk-produk itu
dipertukarkan. Dari sudut pandang ini, sebab-musabab
final dari semua perubahan sosial dan revolusi politik
harus dicari bukan dalam benak manusia, bukan dalam
kemampuan manusia untuk memahami kebenaran dan
keadilan abadi, tetapi dalam perubahan mode produksi
dan pertukaran. Ia harus dicari, bukan dalam filsafat,
tetapi dalam ekonomi dari tiap-tiap epos. Persepsi yang
terus tumbuh bahwa institusi-institusi sosial yang ada
tidaklah masuk akal dan tidak adil, bahwa nalar telah
menjadi absurd, dan benar telah menjadi salah[37],
hanyalah bukti bahwa ada perubahan-perubahan yang
sedang berlangsung secara diam-diam dalam mode
produksi dan pertukaran, yang sudah tidak lagi sesuai
dengan tatanan sosial yang ada. Ini juga berarti bahwa
sarana untuk memecahkan kontradiksi yang telah muncul
ini sudah bisa ditemui dalam mode produksi yang telah
berubah ini, dalam bentuk yang kurang lebih matang.
Sarana ini tidak diciptakan oleh deduksi dari prinsip
fundamental, tetapi ditemui dalam fakta-fakta yang keras
kepala dari sistem produksi yang ada.

Apa posisi Sosialisme modern sehubungan dengan ini?

Situasi dalam masyarakat sekarang – yang sudah


diakui secara umum – adalah ciptaan kelas penguasa
hari ini, yakni kelas borjuasi. Mode produksi yang khas
bagi borjuasi, yang dikenal juga sejak Marx sebagai mode
produksi kapitalis, tidaklah kompatibel dengan sistem
feodal, yang mengaruniakan privilese-privilese pada
individu-individu, pada kelompok-kelompok sosial dan
entitas-entitas lokal, dan juga ikatan-ikatan subordinasi
yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi
kerangka dari organisasi sosialnya. Kaum borjuasi
menghancurkan sistem feodal dan mendirikan di atas
reruntuhannya tatanan masyarakat kapitalis, kerajaan
persaingan bebas, kebebasan pribadi, persamaan di
muka hukum, dari semua pemilik komoditas, dan semua
karunia kapitalis lainnya. Sejak itu mode produksi kapitalis
dapat berkembang dengan bebas. Sejak tenaga uap,
permesinan, dan pembuatan mesin dengan mesin
mentransformasi manufaktur lama menjadi industri
modern, kekuatan produksi, yang berkembang di bawah
panduan kaum borjuasi, tumbuh dengan kecepatan yang
tak pernah terlihat sebelumnya. Tetapi seperti halnya
manufaktur lama, pada jamannya, dan pertukangan, yang
menjadi lebih berkembang di bawah pengaruhnya, telah
berbenturan dengan batas-batas gilda feodal, maka hari
ini industri modern, dalam perkembangannya yang telah
sempurna, berbenturan dengan batas-batas mode
produksi kapitalis. Kekuatan produksi yang baru telah
tumbuh melampaui mode produksi kapitalis yang
menggunakannya. Dan konflik antara kekuatan produksi
dan mode produksi bukanlah sebuah konflik yang lahir
dari dalam benak manusia, seperti konflik antara dosa
awal dan keadilan ilahi. Konflik ini eksis secara objektif di
luar kita, terlepas dari kehendak dan tindakan bahkan dari
orang-orang yang telah menyebabkannya. Sosialisme
Modern tidak lain dan tidak bukan adalah refleks dalam
benak manusia dari konflik yang nyata ini; refleksi
idealnya dalam benak kelas yang secara langsung
menderita di bawahnya, yakni kelas buruh.
Apa yang melandasi konflik ini?

Sebelum produksi kapitalis, yakni pada Abad


Pertengahan, sistem industri kecil secara umum berlaku,
yang berdasarkan kepemilikan pribadi dari para pekerja
atas alat-alat produksi mereka; di pedesaan, pertanian
dari kaum tani kecil, kaum orang-bebas, atau kaum
hamba; di kota, pertukangan yang terorganisasi dalam
gilda. Instrumen-instrumen kerja – tanah, alat-alat
pertanian tani, bengkel, perkakas – adalah instrumen
kerja dari tiap individu, yang diadaptasi untuk digunakan
oleh seorang pekerja, dan oleh karenanya tidak bisa tidak
instrumen ini kecil, kerdil, dan terbatas. Tetapi, justru
karena alasan ini, instrumen ini lazimnya adalah miliknya
para pekerja. Tugas mengkonsentrasikan alat-alat
produksi yang terpencar-pencar dan terbatas ini,
memperluas mereka, mengubah mereka menjadi tuas
produksi yang kuat seperti yang kita saksikan hari ini –
inilah tugas historis dari produksi kapitalis dan kelas yang
menegakkannya, kelas borjuasi. Pada bagian keempat
buku Capital, Marx menjelaskan secara detil bagaimana
sejak abad ke-15 tugas ini diselesaikan melalui tiga fase:
koperasi sederhana, manufaktur, dan industri modern.
Tetapi kelas borjuasi, seperti yang telah kita lihat, tidak
dapat mentransformasi alat-alat produksi kecil ini menjadi
kekuatan produksi yang besar tanpa mentransformasi
mereka, pada saat yang sama, dari alat-alat produksi
individual menjadi alat-alat produksi sosial yang hanya
bisa dikerjakan oleh sebuah kolektivitas manusia. Roda
pemintal, alat tenun tangan, palu tukang besi, digantikan
dengan mesin pemintal, mesin tenun, dan palu tenaga
uap; bengkel individual digantikan dengan pabrik, yang
berarti kerja sama dari ratusan dan ribuan pekerja.
Dengan cara yang sama, produksi sendiri berubah dari
serangkaian aksi individual menjadi serangkaian aksi
sosial, dan dari produk individual menjadi produk sosial.
Benang, kain, dan produk-produk metal yang sekarang
keluar dari gerbang pabrik adalah produk bersama dari
banyak buruh, dan barang-barang ini harus beralih dari
tangan mereka semua sebelum menjadi barang jadi.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mengatakan:
“Saya sendiri yang membuat ini; ini adalah produk saya.”

Tetapi dimana, dalam sebuah masyarakat tertentu,


bentuk fundamental produksi adalah pembagian kerja
yang spontan yang merangkak masuk secara berangsur-
angsur dan bukan berdasarkan rencana yang
dipersiapkan sebelumnya, maka di sana barang-barang
hasil produksi ini mengambil bentuk komoditas, yang
mana pertukarannya dengan satu sama lain, pembelian
dan penjualannya, memungkinkan tiap-tiap produsen
memuaskan kebutuhan mereka yang beraneka ragam.
Dan demikianlah bentuk produksi Abad Pertengahan.
Misalnya kaum tani menjual produk pertanian ke para
artisan dan membeli darinya produk kerajinan tangan. Ke
dalam masyarakat produsen komoditas perorangan ini,
mode produksi yang baru merangsek masuk. Di tengah
pembagian kerja yang lama, yang berkembang secara
spontan dan tanpa rencana yang definit, yang telah
mendominasi seluruh masyarakat, kini lahir pembagian
kerja yang berdasarkan rencana yang definit, yang
terorganisir di dalam pabrik; bersandingan dengan
produksi perorangan muncul produksi sosial. Produk dari
kedua mode produksi ini dijual di pasar yang sama, dan
oleh karenanya memiliki harga yang kurang lebih sama.
Tetapi organisasi produksi yang berdasarkan rencana
yang definitif lebih kuat daripada pembagian kerja yang
spontan. Pabrik-pabrik yang bekerja dengan kekuatan
sosial terpadu dari kolektivitas para individu memproduksi
komoditas yang jauh lebih murah daripada para produsen
perorangan yang kecil. Para produsen perorangan takluk
dari satu cabang industri ke cabang industri lainnya.
Produksi sosial merevolusionerkan semua metode
produksi lama. Tetapi karakter revolusionernya, pada saat
yang sama, begitu kurang dihargai, sehingga ia
sebaliknya diperkenalkan sebagai cara untuk
meningkatkan dan mengembangkan produksi komoditas.
Ketika produksi sosial muncul, ia menemukan organisasi
produksi dan pertukaran komoditas yang sudah siap-
pakai, yakni kapital pedagang, kerajinan tangan, upah-
kerja, dan ia menggunakannya secara liberal. Dengan
demikian produksi sosial memperkenalkan dirinya
sebagai sebuah bentuk produksi komoditas yang baru,
dan tentu saja di bawahnya bentuk apropriasi yang lama
tetap berlaku sepenuhnya, dan diaplikasikan juga pada
produknya.

Pada tahapan Abad-Pertengahan dari evolusi produksi


komoditas, masalah mengenai siapa yang menjadi
pemilik dari produk hasil kerja tidak bisa muncul. Sang
produsen perorangan biasanya memproduksi barang
dengan bahan mentah miliknya sendiri, dengan
keahliannya sendiri, dengan alat-alatnya sendiri, dengan
kerja dari tangannya sendiri atau keluarganya. Ia tidak
perlu mengapropriasi produknya. Produk ini sepenuhnya
adalah miliknya. Kepemilikannya akan produk itu oleh
karenanya didasarkan pada kerjanya sendiri. Bahkan bila
ada bantuan dari luar, ini biasanya kecil sekali
signifikansinya, dan umumnya dikompensasi dengan
sesuatu selain upah. Para tukang
magang (apprentice) dan para pekerja-
tukang (journeyman) di dalam gilda bekerja bukan untuk
upah dan sesuap nasi semata, tetapi terutama untuk
pendidikan supaya mereka sendiri akhirnya bisa menjadi
kepala tukang (master craftsman).[38]

Kemudian hadir konsentrasi alat-alat produksi dan para


produsen ke dalam pabrik-pabrik raksasa, dan
transformasi mereka menjadi alat-alat produksi sosial dan
para produsen sosial. Tetapi para produsen dan alat-alat
produksi serta produk-produk mereka yang
disosialisasikan masih diperlakukan, setelah perubahan
ini, seperti sebelumnya, yakni sebagai alat-alat produksi
dan produk-produk individual. Sampai pada saat itu, para
pemilik alat-alat produksi mengapropriasi produk untuk
dirinya sendiri, karena ini umumnya adalah hasil kerjanya
sendiri dan bantuan yang diterimanya dari orang lain
adalah pengecualian. Sekarang, pemilik alat-alat produksi
mengapropriasi produk untuk dirinya sendiri walaupun ini
sudah bukan lagi hasil kerjanya tetapi sepenuhnya
adalah hasil kerja orang lain. Dengan demikian, produk-
produk yang kini diproduksi secara sosial sudah tidak lagi
diapropriasi oleh mereka-mereka yang sesungguhnya
menggerakkan alat-alat produksi dan sesungguhnya
memproduksi komoditas, tetapi diapropriasi
oleh kapitalis. Alat-alat produksi, dan produksi itu sendiri,
pada hakikatnya telah menjadi sosial. Tetapi mereka
dikenakan bentuk apropriasi yang mengandaikan
produksi perorangan, dimana setiap orang adalah pemilik
dari produk hasil kerjanya sendiri dan membawanya ke
pasar. Mode produksi sosial dikenakan bentuk apropriasi
individual, walaupun mode produksi tersebut telah
melenyapkan kondisi-kondisi yang melandasi apropriasi
individual.[39]

Kontradiksi ini, yang memberi mode produksi baru ini


karakter kapitalistiknya, mengandung benih dari seluruh
antagonisme sosial hari ini. Semakin mode produksi yang
baru ini menguasai semua cabang produksi penting dan
di semua negeri manufaktur, maka semakin ia membuat
produksi perorangan menjadi residu yang tidak signifikan,
dan semakin menjadi jelas ketidaksesuaian antara
produksi sosial dengan apropriasi kapitalis.
Seperti yang telah kita jabarkan, kaum kapitalis awal,
bersandingan dengan bentuk-bentuk kerja lainnya,
menemukan kerja-upahan yang sudah siap-pakai untuk
mereka di pasar. Tetapi kerja-upahan ini adalah
pengecualian, komplementer, tambahan, dan transisional.
Buruh tani, yang dari waktu ke waktu menjual tenaga
kerjanya per harian, masih memiliki beberapa hektar
tanah miliknya sendiri yang selalu bisa memberinya
penghidupan yang paling minim. Gilda-gilda diorganisir
sedemikian rupa sehingga seorang yang hari ini
adalah journeyman esok hari akan menjadi master
craftsman. Tetapi semua ini berubah seketika alat-alat
produksi menjadi tersosialisasikan dan terkonsentrasikan
di tangan kaum kapitalis. Alat-alat produksi serta produk-
produk dari para produsen perorangan kian hari kian
menjadi tidak berharga. Tidak ada lagi yang bisa
dilakukannya kecuali menjadi buruh upahan untuk
kapitalis. Kerja-upahan, yang sebelumnya adalah
pengecualian dan bersifat tambahan, sekarang menjadi
hal yang lazim dan menjadi basis dari semua produksi;
sebelumnya komplementer, ia sekarang telah menjadi
satu-satunya fungsi yang tersisa dari kaum buruh. Buruh
upahan sementara menjadi buruh upahan seumur hidup.
Jumlah buruh upahan permanen kian bertambah banyak
dengan dihancurkannya sistem feodal yang terjadi
berbarengan, dengan dibebaskannya kaum hamba dari
kaum bangsawan feodal, terusirnya kaum tani dari
kampung halaman mereka, dsb. Pemisahan ini menjadi
sempurna, dengan alat-alat produksi terkonsentrasikan di
tangan kaum kapitalis di satu sisi, dan kaum produsen
yang tidak memiliki apapun selain tenaga-kerja mereka di
sisi lain. Kontradiksi antara produksi sosial dan apropriasi
kapitalis memanifestasikan dirinya sebagai antagonisme
antara proletariat dan borjuasi.
Kita telah saksikan bagaimana mode produksi kapitalis
merangsek masuk ke dalam sebuah masyarakat
produsen-komoditas perorangan, yang ikatan sosialnya
adalah pertukaran produk-produk mereka. Tetapi setiap
masyarakat yang berdasarkan produksi komoditas
memiliki keunikan ini: bahwa sang produsen kehilangan
kendali atas relasi-relasi sosial mereka sendiri. Setiap
orang memproduksi untuk dirinya sendiri dengan alat-alat
produksi yang ia miliki, dan mereka melakukan
pertukaran seadanya guna memenuhi kebutuhannya
yang lain. Tidak ada yang tahu berapa banyak barangnya
yang akan masuk ke pasar, dan juga berapa banyak yang
dibutuhkan. Tidak ada yang tahu apakah produknya akan
memenuhi permintaan, apakah dia akan bisa
mendapatkan untung dari ongkos produksinya atau
bahkan menjual komoditasnya. Anarki berkuasa dalam
produksi sosial.

Tetapi produksi komoditas, seperti setiap bentuk


produksi lainnya, mempunyai hukum inherennya sendiri
yang unik, yang tak terpisahkan darinya; dan hukum ini
bekerja, terlepas dari anarki, dalam dan melalui anarki.
Hukum ini mengungkapkan dirinya dalam satu-satunya
bentuk relasi sosial yang keras kepala, yakni pertukaran,
dan di sini mereka mempengaruhi tiap-tiap produsen
sebagai hukum kompetisi yang wajib. Awalnya hukum ini
tidak diketahui oleh para produsen itu sendiri, dan harus
ditemukan oleh mereka perlahan-lahan lewat
pengalaman. Oleh karenanya hukum ini bekerja secara
independen dari para produsen, dan dalam antagonisme
dengan mereka, sebagai hukum alami yang tidak bisa
ditawar dan datang dari bentuk produksi mereka yang
khas. Produk menguasai para produsen.

Di masyarakat Abad Pertengahan, terutama pada abad-


abad yang lebih awal, produksi terutama diarahkan untuk
memuaskan kebutuhan individual. Ia memuaskan,
terutama, hanya kebutuhan dari sang produsen dan
keluarganya. Dimana hubungan ketergantungan personal
eksis, seperti halnya di pedesaan, ia juga membantu
memuaskan kebutuhan kaum bangsawan feodal. Di
dalam semua ini, oleh karenanya, tidak ada pertukaran;
sebagai konsekuensinya produk tidak mengambil karakter
komoditas. Keluarga sang petani memproduksi hampir
semua barang yang mereka butuhkan: pakaian dan
perabotan, dan juga kebutuhan penghidupan. Hanya
setelah ia mulai memproduksi lebih daripada yang
diperlukan untuk menyuplai kebutuhannya dan untuk
upeti kaum bangsawan feodal, hanya setelah itu maka ia
juga memproduksi komoditas. Surplus ini, yang
dilemparnya ke dalam pertukaran yang disosialisasikan
dan ditawarkan untuk dijual, menjadi komoditas.

Benar kalau kaum artisan di kota memproduksi untuk


pertukaran. Tetapi mereka juga menyuplai sendiri
sebagian besar kebutuhan pribadi mereka. Mereka punya
kebun dan sebidang tanah. Mereka menggembalakan
ternak mereka ke hutan komunal, yang juga menyediakan
kayu dan api untuk mereka. Kaum perempuan memintal
serat linen, wol, dan sebagainya. Produksi untuk tujuan
pertukaran, yakni produksi komoditas, masih belum
tumbuh berkembang. Oleh karenanya pertukaran
terbatas, pasar sempit, dan metode produksi stabil; ada
kekhususan lokal dari luar, dan kesatuan lokal di dalam;
di pedesaan dengan “Mark”[40]; di kota dengan gilda.

Tetapi dengan meluasnya produksi komoditas, dan


terutama dengan diperkenalkannya mode produksi
kapitalis, hukum produksi-komoditas, yang sampai saat
itu laten, berlaku dengan lebih luas dan dengan kekuatan
yang lebih besar. Relasi-relasi lama menjadi longgar,
batas-batas lama yang eksklusif dihapus, kaum produsen
semakin hari semakin diubah menjadi produsen
komoditas yang terisolasi dan independen. Menjadi jelas
bahwa produksi dalam masyarakat diperintah oleh
ketiadaan rencana, oleh aksiden, oleh anarki; dan anarki
ini tumbuh semakin hari semakin besar. Namun bantuan
utama yang digunakan oleh mode produksi kapitalis
dalam mengintensifkan anarki produksi sosial ini adalah
kebalikan dari anarki, yakni dengan semakin
terorganisirnya produksi, di atas basis sosial, di setiap
cabang industri. Dengan ini kondisi lama yang stabil dan
damai diakhiri. Dimanapun organisasi produksi ini
diperkenalkan ke dalam sebuah cabang industri, ia tidak
menolerir metode produksi lainnya. Lapangan kerja
menjadi medan perang. Penemuan-penemuan geografi
yang besar, dan kolonialisasi yang menyusulnya,
melipatgandakan pasar dan mempercepat transformasi
kerajinan tangan menjadi manufaktur. Perang tidak hanya
meledak di antara para produsen dari daerah-daerah
tertentu. Pergulatan lokal pada gilirannya menghasilkan
konflik-konflik nasional, seperti perang-perang komersial
pada abad ke-17 dan ke-18.[41]

Akhirnya, industri modern dan dibukanya pasar dunia


membuat pergulatan ini menjadi universal, dan pada saat
yang sama memberinya karakter meledak-ledak yang tak
pernah terlihat sebelumnya. Keunggulan dalam kondisi
produksi yang alami atau artifisial sekarang menentukan
eksistensi dan non-eksistensi dari tiap-tiap kapitalis, dan
juga dari seluruh industri dan negeri. Yang tersungkur
dengan kejam disingkirkan. Ini adalah pergulatan
Darwinian yang ditransfer dari Alam ke masyarakat
dengan kekerasan yang dipertajam. Kondisi-kondisi
eksistensi yang alami bagi binatang tampil sebagai
bentuk akhir dari perkembangan manusia. Kontradiksi
antara produksi sosial dan apropriasi kapitalis kini
mengekspresikan dirinya sebagai antagonisme antara
organisasi produksi di tiap-tiap pabrik dan anarki produksi
dalam masyarakat umumnya.

Mode produksi kapitalis mengandung dua bentuk


antagonisme ini, yang inheren sejak kelahirannya. Mode
produksi kapitalis tidak pernah bisa keluar dari “lingkaran
mati” yang ditemukan oleh Fourier. Namun Fourier tidak
bisa melihat bahwa lingkaran ini perlahan-lahan semakin
mengecil; bahwa gerakan memutar ini kian hari kian
menjadi spiral, dan harus berakhir, seperti gerak planet
yang akan menubruk pusatnya. Kekuatan anarki dalam
produksi mengubah mayoritas orang menjadi proletariat,
dan massa proletariat ini pada gilirannya akan mengakhiri
anarki dalam produksi. Kekuatan anarki dalam produksi
sosial mengubah kesempurnaan tak-terbatas dari mesin
di bawah industri modern menjadi sebuah hukum, dan
hukum ini mewajibkan setiap kapitalis industrial untuk
menyempurnakan mesinnya. Bila ia gagal, maka ia akan
bangkrut.

Tetapi penyempurnaan mesin membuat kerja manusia


tidak diperlukan. Bila pengenalan dan peningkatan
penggunaan mesin menyebabkan digantikannya jutaan
buruh manual dengan segelintir buruh mesin, maka
penyempurnaan mesin berarti semakin sedikit buruh
mesin yang dibutuhkan. Pada akhirnya ini berarti akan
tersedia lebih banyak buruh upahan dibandingkan dengan
yang rata-rata dibutuhkan oleh kapital. Ini berarti
terbentuknya pasukan buruh cadangan, yang tersedia di
saat industri tumbuh pesat dan dihempaskan ke jalanan
ketika keruntuhan ekonomi yang tak terelakkan tiba.
Pasukan buruh cadangan adalah beban mati yang
menekan kelas buruh dalam perjuangannya melawan
kapital, dengan menekan upah ke level yang sesuai
dengan kepentingan kapital.
Dengan cara demikian, untuk mengutip Marx, mesin
menjadi senjata terkuat kapital dalam melawan kelas
buruh; alat produksi terus merampas sumber
penghidupan dari tangan buruh; hasil kerja buruh itu
sendiri diubah menjadi alat yang menindasnya.

Dengan cara demikian, penghematan yang diperoleh


dari penyempurnaan alat produksi pada saat yang sama
menjadi pemborosan tenaga kerja yang paling sembrono,
dan perampokan yang berdasarkan kondisi dimana kerja
lazimnya berfungsi. Mesin, “yang merupakan instrumen
yang paling hebat untuk memperpendek waktu kerja,
menjadi alat yang paling handal untuk memberikan setiap
detik waktu buruh dan keluarganya kepada kaum kapitalis
untuk memperbesar nilai kapitalnya.” (Kapital, Marx)

Dengan cara demikian, kerja berlebihan dari sejumlah


buruh membuat buruh-buruh lainnya menganggur.
Industri modern, yang memburu konsumen baru ke
seluruh penjuru dunia, menekan konsumsi di negeri
asalnya sampai ke batas minimum, dan dengan demikian
menghancurkan pasarnya sendiri.

“Hukum [kapitalis] yang selalu menyeimbangkan


surplus relatif populasi, atau pasukan buruh cadangan,
dengan tingkatan dan energi akumulasi; hukum ini
mengikat buruh pada kapital, lebih kuat daripada rantai
yang ditempa oleh dewa Vulcan untuk mengikat
Prometheus pada puncak gunung batu.[42] Hukum ini
menghasilkan akumulasi kemelaratan yang bersandingan
dengan akumulasi kapital. Akumulasi kekayaan di satu
kutub, oleh karenanya, berarti pada saat yang sama
akumulasi kesengsaraan, penderitaan, perbudakan,
pembodohan, kekejaman, degradasi mental, di kutub
lainnya, yakni di sisi kelas yang memproduksi produknya
sediri dalam bentuk kapital.” (Capital, Marx)
Mengharapkan adanya pembagian produk yang lain
dari mode produksi kapitalis adalah sama dengan
mengharapkan elektrode baterai tidak akan mengurai air
asam, tidak akan melepaskan oksigen di elektrode positif
dan hidrogen di elektrode negatif, selama kedua elektrode
ini terhubungkan dengan baterai.

Kita telah melihat bahwa penyempurnaan terus-


menerus dari mesin modern, oleh anarki produksi sosial,
diubah menjadi sebuah hukum wajib yang memaksa tiap-
tiap kapitalis industrial untuk selalu menyempurnakan
mesinnya dan untuk selalu meningkatkan kekuatan
produksinya. Peluang yang terbuka untuk memperluas
daerah produksi diubahnya menjadi hukum wajib yang
serupa. Ekspansi kekuatan industri modern yang luar
biasa ini membuat ekspansi gas seperti mainan anak-
anak. Ekspansi ini menjadi sebuah keharusan, secara
kuantitatif maupun kualitatif. Semua rintangan tampak
kecil di depan matanya. Rintangan ini datang dari
konsumsi, penjualan, dan pasar untuk produk hasil
industri modern. Tetapi kapasitas untuk perluasan pasar,
secara ekstensif dan intensif, terutama diatur oleh hukum
yang berbeda, yang bekerja dengan kekuatan yang lebih
lemah. Perluasan pasar tidak dapat mengejar perluasan
produksi. Benturan antara keduanya menjadi tak
terelakkan. Karena tidak ada solusi untuk permasalahan
ini selama mode produksi kapitalis utuh, maka benturan
ini akan terjadi secara periodik. Produksi kapitalis telah
terjebak dalam “lingkaran mati”.

Sejak 1825, ketika krisis kapitalis yang pertama


meledak, seluruh dunia industrial dan komersial, produksi
dan pertukaran di antara semua orang-orang beradab
dan orang-orang barbar yang bergantung pada mereka,
terjerembab dalam krisis setiap kira-kira 10 tahun sekali.
Perdagangan terhenti; pasar berkelimpahan; produk-
produk terakumulasi begitu banyak sehingga tak terjual;
uang kontan menghilang; kredit lenyap; pabrik berhenti
mengepul; massa buruh kehilangan sumber
penghidupan, karena mereka memproduksi terlalu
banyak sumber penghidupan; kebangkrutan datang susul
menyusul. Stagnasi berlangsung bertahun-tahun;
kekuatan produksi dan produk dibuang dan dihancurkan
dalam jumlah besar, sampai akhirnya massa komoditas
yang tertimbun berkurang, atau nilainya turun, dan
sampai produksi dan pertukaran perlahan-lahan mulai
bergerak kembali. Sedikit demi sedikit lajunya bertambah
cepat. Industri, kredit komersial, dan spekulasi awalnya
berlari dengan lambat, lalu menjadi cepat, kemudian
menjadi kencang seperti kuda pacu, dan akhirnya
melompat begitu tinggi untuk berakhir ke tempat dimana
ia mulai, yakni kembali terjerembab ke parit krisis. Dan
lagi dan lagi. Sejak 1825 kita sudah mengalami ini lima
kali, dan kini (1877) kita sedang melalui krisis yang
keenam. Karakter dari krisis-krisis ini begitu jelas di mata
Fourier dan dia menggambarkan krisis ini sebagai “crise
plethorique”, atau krisis yang timbul akibat
keberlimpahan.

Dalam krisis-krisis ini, kontradiksi antara produksi sosial


dan apropriasi kapitalis berakhir dalam ledakan yang
besar. Sirkulasi komoditas, untuk sementara, berhenti.
Uang, yang merupakan medium sirkulasi, menjadi
penghalang sirkulasi. Semua hukum produksi dan
sirkulasi komoditas terjungkir balik. Benturan ekonomi
mencapai puncaknya. Mode produksi memberontak
melawan mode pertukaran.

Organisasi produksi sosial di dalam pabrik telah


berkembang begitu jauh sehingga ia sudah tidak lagi
kompatibel dengan anarki produksi dalam masyarakat,
yang eksis bersamanya dan mendominasinya. Fakta ini
disadari oleh kaum kapitalis sendiri lewat konsentrasi
kapital yang berlangsung selama krisis, melalui
bangkrutnya banyak kapitalis besar, dan lebih banyak lagi
kapitalis kecil. Seluruh mekanisme mode produksi
kapitalis roboh di bawah tekanan kekuatan produksi, yang
merupakan ciptaannya sendiri. Mode produksi kapitalis
sudah tidak bisa lagi mengubah semua alat produksi
menjadi kapital. Alat-alat produksi menganggur, dan
sebagai konsekuensinya pasukan buruh cadangan juga
harus menganggur. Alat-alat produksi, sumber
penghidupan, buruh, semua elemen produksi dan
kekayaan umumnya ada dalam jumlah yang
berkelimpahan. Tetapi “keberlimpahan menjadi sumber
penderitaan dan kemiskinan” (Fourier), karena
keberlimpahan adalah hal yang menghalangi transformasi
alat-alat produksi dan sumber penghidupan menjadi
kapital. Karena dalam masyarakat kapitalis, alat-alat
produksi hanya dapat berfungsi bila mereka melalui
transformasi awal menjadi kapital, menjadi alat untuk
mengeksploitasi tenaga-kerja manusia. Keharusan
transformasi alat-alat produksi dan sumber penghidupan
menjadi kapital berdiri seperti hantu di antara kapital dan
buruh. Keharusan ini sendiri menghalangi kesatuan
antara tuas produksi material dan personal; keharusan ini
sendiri merintangi berfungsinya alat-alat produksi dan
merintangi buruh untuk bekerja dan hidup. Oleh
karenanya di satu sisi mode produksi kapitalis terbukti
tidak mampu mengarahkan lebih lanjut kekuatan-
kekuatan produksi ini. Di sisi lain, kekuatan-kekuatan
produksi ini sendiri, dengan energi yang terus bertambah,
terus melangkah maju ke penghapusan kontradiksi yang
ada, ke penghapusan kualitas mereka sebagai kapital,
ke pengakuan akan karakter mereka sebagai kekuatan
produksi sosial.
Seiring dengan pertumbuhannya yang semakin hari
semakin bertambah besar, kekuatan produksi
memberontak melawan karakternya sebagai kapital dan
semakin menuntut agar karakter sosialnya diakui. Ini
memaksa kelas kapitalis itu sendiri untuk semakin hari
semakin memperlakukan kekuatan produksi ini sebagai
kekuatan produksi sosial, selama ini memungkinkan di
bawah kondisi kapitalis. Periode aktivitas industri yang
tinggi, dengan inflasi kreditnya yang tak terbatas, seperti
halnya krisis kapitalis yang disertai bangkrutnya
perusahaan-perusahaan kapitalis besar, cenderung
menghasilkan bentuk sosialisasi alat-alat produksi yang
kita saksikan dalam berbagai perusahaan-perusahaan
saham gabungan. Banyak alat produksi dan distribusi ini
yang sejak awal begitu besar, seperti perusahaan rel
kereta api, sehingga mereka mengecualikan bentuk-
bentuk ekspansi kapitalis lainnya. Di tahapan
perkembangan selanjutnya bentuk ini juga menjadi tidak
memadai. Para kapitalis skala-besar di sebuah cabang
industri tertentu dan di sebuah negeri tertentu bersatu
dalam sebuah “Trust”[43], sebuah persekutuan bisnis yang
dibentuk dengan tujuan mengatur produksi. Mereka
menentukan jumlah barang yang akan diproduksi dan
membaginya di antara mereka sendiri, dan dengan
demikian menetapkan harga jual. Tetapi trust macam ini,
ketika bisnis memburuk, biasanya pecah, dan dengan
demikian mendorong konsentrasi produksi yang semakin
besar. Keseluruhan industri diubah menjadi satu
perusahaan saham-gabungan yang luar biasa besar.
Kompetisi internal digantikan dengan monopoli internal
dari satu perusahaan ini. Ini telah terjadi pada 1890
dengan industri alkali di Inggris, dimana setelah 48
perusahaan merger menjadi satu
perusahaan trust industri ini dijalankan dengan satu
rencana tunggal dan dengan kapital 6.000.000 pound.
Di dalam trust kebebasan kompetisi berubah menjadi
kebalikannya – monopoli; dan produksi kapitalis tanpa
rencana yang definit tunduk pada produksi dengan
rencana yang definit dari masyarakat sosialis yang
sedang merangkak masuk. Tentunya ini dilakukan selama
masih menguntungkan kapitalis. Tetapi dalam monopoli
eksploitasi menjadi begitu mencolok, sehingga ia mau
tidak mau harus roboh. Tidak ada satu pun negeri yang
mau menerima produksi yang dikuasai oleh trust, dengan
eksploitasi yang begitu terbuka terhadap seluruh
masyarakat oleh segelintir pemungut dividen.

Bagaimanapun juga, dengan atau tanpa trust,


perwakilan resmi dari masyarakat kapitalis – yaitu Negara
– pada akhirnya harus mengambil kendali pengarahan
produksi.[44] Keharusan mentransformasi alat produksi
menjadi milik Negara pertama kali dirasakan di institusi-
institusi besar untuk transportasi dan komunikasi – kantor
pos, telegraf, rel kereta api.

Bila krisis kapitalisme mendemonstrasikan bagaimana


kaum borjuasi sudah tidak lagi mampu mengelola
kekuatan produksi modern, maka transformasi badan-
badan produksi dan distribusi besar menjadi perusahaan
saham-gabungan, trust, dan perusahaan milik negara
menunjukkan bagaimana kaum borjuasi sudah tidak lagi
dibutuhkan untuk menjalankan produksi. Semua fungsi
sosial kelas kapitalis sudah tidak lagi memiliki fungsi
apapun selain mengantongi dividen, meraup bunga
pinjaman, dan berjudi di Bursa Saham, dimana tiap-tiap
kapitalis saling menjatuhkan satu sama lain. Awalnya
mode produksi kapitalis mengusir kaum buruh. Sekarang
ia mengusir kaum kapitalis dan mereduksi mereka,
seperti halnya ia mereduksi kaum buruh, menjadi bagian
dari surplus populasi, walaupun tidak segera menjadi
bagian dari pasukan buruh cadangan.
Tetapi transformasi menjadi perusahaan saham-
gabungan dan trust, atau perusahaan milik negara, tidak
menghilangkan watak kapitalis dari kekuatan produksi
yang ada. Ini jelas dalam perusahaan saham-gabungan
dan trust. Negara modern tidak lain adalah organisasi
yang digunakan oleh masyarakat borjuis untuk
menyokong kondisi-kondisi eksternal yang dibutuhkan
oleh mode produksi kapitalis, supaya tidak dilanggar oleh
buruh atau kapitalis secara individual. Negara modern,
apapun bentuk yang diambilnya, pada hakikatnya adalah
aparatus kapitalis, negaranya kaum kapitalis,
personifikasi ideal dari total kapital nasional. Semakin
Negara mengambil alih kekuatan produksi, semakin ia
sungguh-sungguh menjadi kapitalis nasional, dan
semakin banyak penduduk yang dieksploitasinya. Buruh
tetap menjadi buruh-upahan – proletariat. Relasi kapitalis
tidak menghilang. Justru relasi kapitalis semakin
diperkuat, sampai pada titik dimana ia menjadi tidak
stabil. Kepemilikan Negara terhadap kekuatan produksi
bukanlah solusi untuk kontradiksi kapitalis. Tetapi
tersembunyi dalam kepemilikan Negara adalah kondisi-
kondisi teknis yang membentuk elemen dari solusi yang
diperlukan.

Satu-satunya solusi adalah pengakuan akan watak


sosial dari kekuatan produksi modern, dan oleh
karenanya pengakuan akan perlunya mengharmoniskan
karakter sosial dari alat-alat produksi. Dan ini hanya bisa
dicapai bila masyarakat mengambil alih secara terbuka
dan langsung kekuatan produksi yang telah tumbuh
melampaui semua kendali, kecuali kendali dari
masyarakat secara keseluruhan. Karakter sosial dari alat-
alat produksi dan produk kini memberontak melawan para
produsen, secara periodik mengacaukan semua produksi
dan pertukaran, dan bertindak seperti Hukum Alam yang
bekerja dengan membabi buta, memaksa dan merusak.
Tetapi bila kekuatan produksi diambil alih oleh
masyarakat, maka karakter sosial dari alat-alat produksi
dan produk akan digunakan oleh para produsen dengan
pemahaman penuh akan wataknya. Alih-alih menjadi
sumber kekacauan dan keruntuhan periodik, karakter
sosial ini akan menjadi tuas produksi yang paling kuat.

Kekuatan-kekuatan sosial yang aktif bekerja persis


seperti kekuatan-kekuatan alam: dengan membabi buta,
memaksa dan merusak, selama kita tidak memahami dan
mengakui mereka. Tetapi segera setelah kita memahami
mereka, mengerti tindakan mereka, arah mereka,
pengaruh mereka, maka tinggal tergantung pada kita
bagaimana kita ingin mengendalikan mereka sesuai
dengan kehendak kita sendiri, dan dengan demikian
menggunakan mereka untuk tujuan kita sendiri. Dan ini
terutama benar untuk kekuatan produksi yang maha
besar dewasa ini. Selama kita bersikeras menolak
memahami watak dan karakter sosial dari alat-alat
produksi – dan pemahaman ini bertentangan dengan
kecenderungan mode produksi kapitalis dan para
pembelanya – maka kekuatan-kekuatan ini bekerja
terlepas dari kita, bertentangan dengan kita, dan
menguasai kita, seperti yang telah kita rinci di atas.

Tetapi segera setelah kita memahami watak mereka,


maka mereka dapat ditransformasi dari tuan yang jahat
menjadi pelayan yang patuh. Perbedaannya adalah
seperti perbedaan antara listrik tak terkendali dari badai
petir yang merusak dengan listrik yang terkendali untuk
telegraf dan bohlam; perbedaan antara api kebakaran
dengan api yang digunakan untuk melayani manusia.
Dengan pengakuan terhadap karakter sesungguhnya dari
kekuatan produksi hari ini, anarki sosial digantikan
dengan regulasi sosial atas produksi yang berdasarkan
rencana yang definit, sesuai dengan kebutuhan
komunitas dan setiap individu. Dengan demikian mode
apropriasi kapitalis, dimana produk memperbudak
produsen, digantikan dengan mode apropriasi produk
yang berdasarkan watak alat-alat produksi modern;
berdasarkan di satu sisi apropriasi sosial langsung untuk
mempertahankan dan memperluas produksi, di sisi lain
apropriasi individual langsung untuk sumber penghidupan
dan kesenangan.

Mode produksi kapitalis semakin hari semakin


mengubah mayoritas besar penduduk menjadi proletariat,
dan dengan demikian ia menciptakan kekuatan yang
akan terdorong untuk memenuhi revolusi ini. Mode
produksi kapitalis semakin hari semakin mendorong
transformasi alat-alat produksi – yang sudah
tersosialisasikan – menjadi milik Negara, dan dengan
demikian ia menunjukkan untuk dirinya sendiri jalan untuk
mencapai revolusi ini. Revolusi ini adalah kaum proletariat
merebut kekuatan politik dan mengubah alat-alat produksi
menjadi milik Negara.

Tetapi dengan melakukan ini, kaum proletariat


menghapus dirinya sebagai proletariat, menghapus
semua perbedaan kelas dan antagonisme kelas,
menghapus juga Negara sebagai Negara. Masyarakat,
sampai saat ini, adalah masyarakat yang berdasarkan
antagonisme kelas dan oleh karenanya membutuhkan
Negara. Negara adalah sebuah organisasi dari kelas
tertentu, yakni kelas penindas; sebuah organisasi yang
bertujuan mempertahankan kondisi-kondisi produksi yang
ada dari gangguan dari luar, dan oleh karenanya
terutama bertujuan menundukkan kelas-kelas yang
tereksploitasi di bawah kondisi-kondisi penindasan yang
sesuai dengan mode produksi tertentu (perbudakan,
feodalisme, kerja-upahan). Negara adalah perwakilan
resmi dari keseluruhan masyarakat; perhimpunannya
menjadi sebuah pengejawantahan yang nyata. Tetapi
Negara adalah demikian hanya selama ini adalah Negara
dari kelas yang, untuk kurun waktu tertentu, mewakili
keseluruhan masyarakat: di jaman kuno, Negaranya
kaum pemilik budak; di Abad Pertengahan, Negaranya
kaum bangsawan feodal; di jaman kita sekarang,
Negaranya kaum borjuasi.

Ketika, pada akhirnya, Negara menjadi perwakilan yang


sesungguhnya dari keseluruhan masyarakat, maka ia
sudah tidak lagi diperlukan. Segera setelah tidak ada lagi
kelas yang harus ditundukkan; segera setelah kekuasaan
kelas, dan pergulatan eksistensi individual[45] di bawah
anarki produksi hari ini, dengan benturan-benturan dan
ekses-ekses yang muncul darinya, telah disingkirkan,
maka tidak ada lagi yang tersisa untuk ditindas, dan
sebuah kekuatan penindas khusus, yakni Negara, sudah
tidak lagi diperlukan. Tindakan pertama dari Negara yang
sungguh-sungguh merupakan perwakilan dari
keseluruhan masyarakat adalah mengambil alih alat-alat
produksi atas nama masyarakat. Tindakan pertama ini
pada saat yang sama adalah tindakan independen
terakhirnya sebagai Negara. Intervensi Negara dalam
relasi-relasi sosial, dari satu domain ke domain lain,
menjadi tak dibutuhkan, dan lalu Negara pupus dengan
sendirinya. Pemerintahan terhadap manusia (government
of people) digantikan dengan administrasi terhadap hal-
hal (administration of things), digantikan dengan metode
proses produksi. Negara tidak “dihapuskan”. Ia pupus. Ini
membuat kita bisa mengukur nilai dari frase “Negara
bebas”, yang penggunaannya kadang-kadang
diperbolehkan untuk keperluan agitasi saja, serta
keterbatasan ilmiah dari frase “Negara bebas”.[46] Ini juga
menunjukkan keterbatasan dari tuntutan kaum anarkis
yang ingin menghapus Negara dalam sekejap.
Sejak munculnya mode produksi kapitalis dalam
sejarah, apropriasi seluruh alat-alat produksi oleh
masyarakat telah sering diimpikan – walau dengan agak
samar – oleh sejumlah individu dan sekte. Tetapi ini
hanya menjadi mungkin dan menjadi keniscayaan historis
ketika syarat-syarat untuk realisasinya telah tiba. Seperti
setiap kemajuan sosial lainnya, ini menjadi mungkin,
bukan karena manusia memahami bahwa keberadaan
kelas-kelas adalah sesuatu yang bertentangan dengan
keadilan, persamaan, dsb., bukan juga karena kehendak
semata untuk menghapus kelas-kelas, tetapi karena
hadirnya kondisi-kondisi ekonomi yang baru. Perpecahan
masyarakat menjadi kelas yang menindas dan kelas yang
tertindas, kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai,
adalah konsekuensi niscaya dari perkembangan produksi
yang tidak memadai dan terbatas pada masa
sebelumnya. Selama total kerja sosial hanya
menghasilkan produk yang sedikit melebihi apa yang
dibutuhkan untuk eksistensi dari semua orang; selama,
oleh karenanya, kerja menyita semua atau hampir semua
waktu mayoritas besar penduduk – maka masyarakat ini
akan terbagi ke dalam kelas-kelas. Bersandingan dengan
mayoritas besar, yang adalah budak kerja, muncul
sebuah kelas yang bebas dari kerja produktif langsung,
yang mengelola hal ihwal umum masyarakat: pengarahan
kerja, masalah Negara, hukum, sains, kesenian, dsb.
Hukum pembagian kerja oleh karenanya melandasi
pembagian kelas. Tetapi ini tidak menghalangi
penggunaan kekerasan, perampokan, dan tipu daya
untuk mempertahankan pembagian kelas. Ini tidak
menghalangi kelas penguasa, setelah naik ke tampuk
kekuasaan, untuk mengkonsolidasikan kekuatannya
dengan menindas kelas buruh. Ini tidak menghalanginya
untuk mengubah kepemimpinan sosialnya menjadi
eksploitasi massa yang intensif.
Tetapi bila pembagian kelas memiliki justifikasi historis
tertentu, ini hanya berlaku untuk satu masa tertentu, dan
hanya di bawah kondisi-kondisi sosial yang tertentu pula.
Yang menjadi landasan pembagian kelas adalah produksi
yang tidak memadai. Oleh karenanya pembagian kelas
akan tersapu oleh perkembangan penuh kekuatan
produksi modern. Dan, pada kenyataannya, penghapusan
kelas-kelas dalam masyarakat mensyaratkan sebuah
perkembangan sejarah tertentu dimana keberadaan kelas
penguasa – bukan hanya kelas penguasa ini atau itu,
tetapi kelas penguasa secara umum – dan dengan
demikian keberadaan perbedaan kelas itu sendiri telah
menjadi sebuah anakronisme yang usang. Oleh
karenanya ini mensyaratkan perkembangan produksi
yang telah mencapai tingkatan yang demikian tinggi
sehingga apropriasi pribadi atas alat-alat produksi dan
produknya, dominasi politik, monopoli kebudayaan, serta
kepemimpinan intelektual oleh sebuah kelas tertentu tidak
hanya telah menjadi tak berguna tetapi juga secara
ekonomi, politik dan intelektual telah menjadi rintangan
bagi perkembangan umat manusia.

Titik ini telah tercapai. Kebangkrutan politik dan


intelektual kelas borjuasi sudah bukan lagi rahasia bagi
kelas borjuasi itu sendiri. Kebangkrutan ekonomi terjadi
secara reguler setiap 10 tahun. Setiap kali krisis terjadi
masyarakat dicekik oleh beban kekuatan produksi dan
produknya sendiri, yang tidak dapat digunakannya, dan
menjadi tak berdaya di hadapan kontradiksi absurd
dimana produsen tidak punya apapun untuk dikonsumsi
karena tidak ada konsumen. Kekuatan ekspansi dari alat-
alat produksi mematahkan rantai yang diikatkan oleh
mode produksi kapitalis terhadap alat-alat produksi.
Dipatahkannya rantai ini adalah salah satu prasyarat
untuk perkembangan kekuatan produksi terus-menerus
dan dengan kecepatan yang semakin cepat, dan dengan
demikian adalah prasyarat untuk peningkatan produksi
yang praktis tak terbatas. Tidak hanya itu saja. Apropriasi
sosial atas alat-alat produksi melenyapkan tidak hanya
restriksi-restriksi artifisial terhadap produksi tetapi juga
pemborosan dan penghancuran kekuatan produksi dan
produk yang pada saat ini adalah hasil yang niscaya dari
produksi itu sendiri, dan mencapai puncaknya pada saat
krisis ekonomi. Terlebih lagi, apropriasi sosial atas alat-
alat produksi membebaskan sejumlah besar alat-alat
produksi dan produk untuk komunitas secara
keseluruhan, dengan mengeliminasi penghamburan uang
yang menjijikkan oleh kelas penguasa hari ini dan para
perwakilan politik mereka. Lewat produksi sosial, untuk
pertama kalinya hadir kemungkinan dimana kita dapat
menjamin untuk setiap anggota masyarakat sebuah
eksistensi yang tidak hanya sepenuhnya mencukupi
secara material, dan setiap harinya menjadi lebih penuh,
tetapi juga eksistensi yang menjamin untuk semuanya
perkembangan dan penggunaan semua kapasitas fisik
dan mental mereka secara bebas. Kemungkinan ini
sekarang untuk pertama kali ada di sini[47].

Penyitaan alat-alat produksi oleh masyarakat akan


mengakhiri produksi komoditas, dan pada saat yang
sama mengakhiri dominasi produk atas produsen. Anarki
dalam produksi sosial digantikan dengan
pengorganisasian yang sistematis dan definit. Pergulatan
eksistensi individual akan lenyap. Maka, untuk pertama
kalinya, manusia, dalam makna tertentu, akan
terpisahkan dari kerajaan hewan, dan meninggalkan
kondisi keberadaan hewan untuk memasuki kondisi
keberadaan yang sungguh-sungguh manusia. Seluruh
kondisi kehidupan yang mengepung manusia, dan yang
telah menguasai manusia hingga sekarang ini, kini ada di
bawah dominasi dan kuasa manusia, yang untuk pertama
kalinya menjadi penguasa alam yang sesungguhnya dan
sadar, karena dia sekarang telah menjadi tuan dari
organisasi sosialnya sendiri. Hukum dari tindakan
sosialnya sendiri, yang sampai sekarang ini asing baginya
dan mendominasinya seperti halnya hukum Alam, akan
kemudian digunakan dengan pemahaman dan
penguasaan penuh olehnya. Organisasi sosial manusia,
yang sampai sekarang ini adalah keharusan yang
dipaksakan oleh Alam dan sejarah, sekarang menjadi
hasil dari tindakan bebasnya sendiri. Kekuatan-kekuatan
objektif dari luar yang sampai sekarang ini telah
mengemudikan alur sejarah kini ada di bawah kendali
manusia. Hanya pada titik inilah manusia sendiri, dengan
semakin sadar, akan membuat sejarahnya sendiri. Hanya
pada titik inilah sebab-musabab sosial yang digerakkan
oleh manusia akan memiliki – pada hakikatnya dan dalam
proporsi yang semakin meningkat -- hasil yang
diharapkannya. Manusia akan bangkit dari kerajaan
keharusan ke kerajaan kebebasan.

Mari kita ringkas sketsa perkembangan sejarah kita.

I. Masyarakat Abad Pertengahan – Produksi


perorangan dalam skala kecil. Alat-alat produksi
diadaptasi untuk digunakan secara individual; oleh
karenanya primitif, lamban, kecil, dan aksinya sangat
terbatas. Produksinya untuk konsumsi segera, untuk
produsen sendiri atau tuan feodalnya. Hanya bila
produksi lebih besar daripada konsumsi maka ekses ini
dijual dan masuk ke pertukaran. Produksi komoditas, oleh
karenanya, masih dalam tahapan kanak-kanak. Tetapi ia
sudah mengandung dalam dirinya embrio anarki produksi.

II. Revolusi Kapitalis – transformasi industri, awalnya


melalui koperasi dan manufaktur sederhana. Alat-alat
produksi yang sebelumnya tercerai berai
dikonsentrasikan ke dalam pabrik-pabrik besar. Sebagai
konsekuensinya, alat-alat produksi perorangan
ditransformasi menjadi alat-alat produksi sosial – sebuah
transformasi yang tidak, secara keseluruhan,
mempengaruhi bentuk pertukaran. Bentuk apropriasi
yang lama masih berlaku. Kelas kapitalis muncul. Dalam
kapasitasnya sebagai pemilik alat-alat produksi dia juga
mengapropriasi produk dan mengubahnya menjadi
komoditas. Produksi telah menjadi aksi sosial. Pertukaran
dan apropriasi terus menjadi aksi individual. Produk sosial
diapropriasi oleh kapitalis individual. Kontradiksi
fundamental, yang darinya muncul semua kontradiksi
dalam masyarakat, dan yang dikedepankan oleh industri
modern:

A. Terpisahnya kaum produsen dari alat produksi.


Pekerja terkutuk menjadi buruh-upahan untuk seumur
hidupnya. Antagonisme antara proletariat dan borjuasi.

B. Hukum yang mengatur produksi komoditas semakin


mendominasi dan semakin efektif. Kompetisi yang tak
terkendali. Kontradiksi antara organisasi sosial di dalam
tiap-tiap pabrik dan anarki sosial dalam produksi secara
keseluruhan.

C. Di satu pihak, penyempurnaan mesin, yang


disebabkan oleh kompetisi yang wajib di antara semua
kapitalis, dan disertai dengan dipecatnya semakin banyak
buruh. Pasukan cadangan buruh. Di pihak lain, perluasan
produksi yang tak terbatas, yang juga wajib bagi setiap
kapitalis di bawah kompetisi. Di kedua pihak,
perkembangan kekuatan produksi yang tak pernah
terlihat sebelumnya, ekses penawaran yang melebihi
permintaan, over-produksi dan produk – ekses buruh,
yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki sumber
penghidupan. Tetapi kedua tuas produksi ini dan
kesejahteraan sosial tidak dapat bekerja sama, karena
mode produksi kapitalis menghalangi berfungsinya
kekuatan produksi dan menghambat sirkulasi produk,
kecuali kalau mereka terlebih dahulu diubah menjadi
kapital – yang dihalangi oleh super-keberlimpahan
mereka sendiri. Kontradiksi telah tumbuh menjadi
absurditas. Mode produksi bangkit memberontak
melawan bentuk pertukaran.

D. Kelas kapitalis terpaksa mengakui secara parsial


karakter sosial dari kekuatan produksi. Badan-badan
produksi dan komunikasi besar diambil alih, pertama-
tama oleh perusahaan saham-gabungan, kemudian
oleh trust, dan lalu oleh Negara. Kelas borjuasi terbukti
menjadi kelas yang tidak diperlukan lagi. Semua fungsi
sosialnya kini dilakukan oleh pegawai bergaji.

III. Revolusi Proletarian – Solusi untuk kontradiksi-


kontradiksi yang ada. Kaum proletariat merebut
kekuasaan politik, dan dengannya mentransformasi alat-
alat produksi, yang sudah lepas dari tangan borjuasi,
menjadi milik publik. Dengan tindakan ini, kaum
proletariat membebaskan alat-alat produksi dari karakter
kapital yang sampai sekarang telah diembannya, dan
memberi karakter sosial mereka kebebasan penuh untuk
berfungsi. Produksi sosial berdasarkan sebuah rencana
yang ditentukan sebelumnya sejak saat itu menjadi
mungkin. Perkembangan produksi membuat keberadaan
kelas-kelas menjadi anakronisme. Seiring dengan
lenyapnya anarki dalam produksi sosial, maka otoritas
politik Negara juga akan lenyap dalam proporsi yang
sama. Manusia, yang akhirnya menjadi tuan dari bentuk
organisasinya sendiri, menjadi pada saat yang sama tuan
yang menguasai Alam, tuannya sendiri – bebas.

Untuk memenuhi emansipasi universal ini adalah tugas


historis dari kaum proletariat modern. Untuk memahami
sepenuhnya kondisi-kondisi historis dan dengan demikian
watak sesungguhnya dari tindakan ini, untuk memberi
kelas proletariat yang sekarang tertindas sebuah
pengetahuan yang lengkap akan kondisi-kondisi historis
ini dan makna dari tugas yang harus dipenuhinya, inilah
tugas dari ekspresi teoretis gerakan proletariat,
Sosialisme Ilmiah.

Catatan

[1]Ini yang dikatakan Hegel mengenai Revolusi Prancis:


“Pikiran, konsep hukum, kesemuanya itu seketika menegaskan
keberadaannya, dan merobohkan bangunan lama yang tidak
benar. Dalam konsepsi hukum ini, oleh karenanya, sebuah
konstitusi kini telah ditetapkan, dan sejak itu segala sesuatu
mesti didasarkan padanya. Sejak matahari diam di tempat, dan
planet-planet berkeliling di seputarnya, tidak pernah terlihat
manusia berdiri di atas kepalanya – yakni di atas Ide – dan
membangun realitas menurut citranya. Anaxagoras mula-mula
mengatakan bahwa Nalar memerintah dunia; tetapi sekarang,
untuk pertama kalinya, manusia akhirnya mengakui bahwa Ide
mesti memerintah realitas mental. Dan ini adalah matahari terbit
yang indah. Semua Makhluk yang berpikir telah ikut serta dalam
merayakan hari suci ini. Emosi yang sublim menggerakkan
manusia pada waktu itu, antusiasme akan nalar menyebar ke
seluruh penjuru dunia, sebagaimana ia sekarang telah sampai
pada rekonsiliasi Asas Ilahi dengan dunia.” (Hegel, Philosophie
der Geschichte, 1840, hal. 535). Bukankah sudah waktunya
untuk membenturkan undang-undang Anti-sosialis dengan
ajaran-ajaran dari almarhum Profesor Hegel, yang subversif dan
berbahaya ini? [Engels]

Menurut teorinya Rousseau, manusia awalnya hidup di


[2]

bawah kondisi liar, dimana semua manusia setara. Munculnya


kepemilikan pribadi dan semakin dalamnya ketidaksetaraan
properti memulai transisi dari kondisi liar ke kondisi peradaban,
dan mendorong terbentuknya negara yang berdasarkan kontrak
sosial. Namun, semakin mendalamnya ketidaksetaraan politik
menyebabkan dilanggarnya kontrak sosial dan munculnya
sebuah negara penindas yang baru. Sebuah negara yang
berdasarkan nalar, yang dibangun di atas sebuah kontrak sosial
yang baru, diperlukan untuk menyingkirkan penindasan ini. Teori
ini dipaparkan di Discours sur l’origine el les fondemens de
l'inégalité parmi les hommes (Diskursus mengenai Asal-muasal
dan Fondasi Ketidaksetaraan di antara Manusia), Amsterdam,
1755, dan Du contract social; ou, principes du droit
politique (Kontrak Sosial, atau Prinsip-Prinsip Hak Politik),
Amsterdam, 1762.

Kaum burgher adalah kaum borjuasi awal. Kata borjuasi


[3]

sendiri berasal dari kata “burgher”. Dimulai sejak abad ke-11


kaum pedagang, artisan, dan tukang pengrajin membentuk kota-
kota awal yang disebut Burgh, yang diberi kekuasaan
administrasi dan semacam otonomi oleh Raja. Burgh menjadi
sentra perdagangan dan pertukangan. Para penduduk Burgh
disebut kaum burgher dan dari merekalah kaum borjuasi modern
lahir.

Kaum journeyman adalah seseorang tukang pada Abad


[4]

Pertengahan, yang sudah menyelesaikan latihan magangnya


tetapi masih belum lulus sebagai master craftsman atau guild
master, dan oleh karenanya belumlah menjadi anggota gilda.
Seorang journeyman tidak boleh mempekerjakan orang,
sebaliknya ia bekerja untuk master craftsman dan mendapatkan
upah. Tetapi tujuan utamanya bekerja bukan untuk upah tetapi
untuk terus belajar dan mengasah kemampuannya supaya
akhirnya bisa diangkat menjadi master craftsman. Seiring
dengan berkembangnya kapitalisme, kaum journeyman
berangsur-angsur menghilang dan menjadi proletariat.
Reformasi Jerman atau yang dikenal juga sebagai Reformasi
[5]

Protestan dimulai dengan 95 Tesis yang diterbitkan oleh pendeta


Martin Luther pada 1517, yang mengkritik korupsi, kolusi,
nepotisme dan berbagai penyalahgunaan kekuasaan yang
merajalela dalam Gereja Katolik. Serangan terhadap Gereja
Katolik ini juga secara tidak langsung adalah serangan terhadap
feodalisme. Basis kelas yang melandasi Reformasi Jerman
adalah kemunculan kelas baru, yakni kaum burgher (kaum
borjuasi awal), yang mulai menentang otoritas feodalisme dan
Gereja. Seperti yang dikatakan Engels dalam bukunya Perang
Tani di Jerman: “oposisi terhadap feodalisme menampakkan
dirinya sebagai oposisi terhadap feodalisme religius”. Dalam
perkembangannya, gerakan Reformasi ini terpecah menjadi dua
kamp: kamp yang konservatif yang diwakili oleh Martin Luther,
dan kamp yang radikal yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti
Thomas Muntzer dan kaum Anabaptis lainnya.

Perang Tani Jerman (1524-1525) adalah pemberontakan


[6]

terbesar kaum tani terhadap kaum bangsawan feodal sebelum


Revolusi Prancis 1789, untuk menentang penindasan oleh kaum
bangsawan dan Gereja Katolik. Pemberontakan ini juga dipantik
oleh gerakan Reformasi Jerman yang menentang otoritas dari
rejim autokrasi serta Gereja Katolik. Sejumlah pendeta radikal
seperti Thomas Muntzer mendukung kaum tani yang
memberontak ini, namun Martin Luther yang memulai Reformasi
Jerman justru menentang pemberontakan ini. Pemberontakan ini
gagal dan lebih dari 100 ribu kaum tani dieksekusi. Frederick
Engels menulis buku “Perang Tani di Jerman” yang memeriksa
konflik kelas yang melandasi perang ini.

Kaum Anabaptis adalah kaum reformis radikal dari gerakan


[7]

Reformasi Jerman pada abad ke-16. Kaum Anabaptis dianggap


sebagai penyebar ajaran sesat oleh Gereja Katolik dan oleh
karenanya menderita persekusi.
[8]Thomas Muntzer (1489-1525) adalah pendeta Jerman dan
salah seorang pemimpin Reformasi Jerman yang melawan
Gereja Katolik dan feodalisme. Karena pahamnya yang radikal
dan revolusioner, dia berseberangan dengan Martin Luther,
pemimpin utama Reformasi Jerman, yang berkompromi dengan
otoritas feodal dan gereja. Dia menjadi pemimpin
Pemberontakan Tani pada 1525, ditangkap setelah pertempuran
Frankenhausen, disiksa, dan lalu dieksekusi.

[9] Revolusi Inggris (1640-1660), atau yang dikenal juga


sebagai Perang Sipil Inggris, adalah revolusi borjuis besar
pertama di Eropa. Kelas borjuis Inggris yang dipimpin oleh Oliver
Cromwell meluncurkan perang terhadap Monarki Inggris. Perang
ini dimenangkan oleh kelas borjuis, monarki dihapus dan Raja
Charles I dipancung pada 1849, yang lalu disusul oleh 10 tahun
kekuasaan pemerintahan republik borjuis. Pada 1860 monarki
kembali berkuasa dan Raja Charles II naik ke tampuk
kekuasaan.

Kaum Leveller adalah kaum revolusioner selama Revolusi


[10]

Inggris abad ke-17, yang lahir dari tentara rakyat (New Model
Army) yang terbentuk selama perang sipil. Mereka terdiri dari
kaum artisan, pedagang kecil, petani, dan para tukang pengrajin.
Kaum Leveller berjuang untuk terbentuknya pemerintahan yang
sungguh-sungguh demokratik dan mereka mewakili sayap kiri
radikal dari Revolusi Borjuis Inggris. Mereka lalu memberontak
melawan Oliver Cromwell yang mewakili sayap kanan konservatif
dari Revolusi Borjuis Inggris. Namun pemberontakan mereka
berhasil ditumpas pada 1649 dan para pemimpin mereka
dieksekusi.

[11]Francois-Noel Babeuf (1760-1797) adalah seorang agitator


politik dan jurnalis selama Revolusi Prancis. Dia menerbitkan
koran Le Tribun du Peuple (Tribune Rakyat) yang membela
kaum miskin dan menyerukan pemberontakan terhadap
pemerintahan Direktorat yang diktatorial. Dia adalah komunis
pertama yang memperjuangkan penghapusan kepemilikan
pribadi. Karena perannya dalam usaha menumbangkan
Pemerintahan Direktorat, dia ditangkap, diadili dan dijatuhi
hukuman pancung.

Di sini Engels merujuk pada karya-karya kaum Komunis


[12]

Utopi, Thomas More (abad ke-16) dan Tommasoi Campanella


(abad ke-17).

[13] Étienne-Gabriel Morelly (1717-1778) adalah seorang


pemikir Utopis dan novelis Prancis. Bukunya, Code de la Nature
(Hukum Alam) yang diterbitkan pada 1755 menjadi landasan
pemikiran bagi banyak pemikir sosialis dan komunis di kemudian
hari. Di dalam bukunya ini dia mengajukan sebuah tatanan sosial
yang egaliter, tanpa properti, pernikahan, gereja dan polisi.

Gabriler Bonnot de Mably (1709-1785) adalah filsuf, sejarawan


dan penulis dari Prancis. Dia adalah pemikir komunis awal. Di
dalam bukunya, “Entretiens de Phocion” dan “Des droits et de
devoirs du citoyen”, dia menyokong gagasan penghapusan
kepemilikan pribadi, yang dianggapnya tidak sesuai dengan
altruisme manusia.

Reign of Terror, atau Pemerintahan Teror, adalah periode


[14]

selama Revolusi Prancis dimana kekuatan revolusi menghantam


kekuatan kontra-revolusi dari monarki dan kaum bangsawan,
yang berlangsung dari 6 September 1793 – 28 Juli 1794.
Dipimpin oleh kaum Jacobin, terutama Maximilien Robespierre,
sebuah teror revolusioner diluncurkan. Raja Louis XVI, Ratu
Marie Antoinette dan banyak kaum bangsawan lainnya dipenggal
kepalanya dengan guillotine. Kediktatoran revolusioner Jacobin
akhirnya tumbang dan digantikan dengan Pemerintahan
Direktorat yang kontra-revolusioner, dimana kaum revolusioner
dari Revolusi Prancis ditangkapi dan dieksekusi.

Ini merujuk pada periode kediktatoran demokratik-


[15]

revolusioner Jacobin (Juni 1793 - Juli 1794), ketika Jacobin


menyerang balik kekuatan teror kontra-revolusioner kaum
Girondin dan Royalis dengan teror revolusioner. Direktorat
(sebuah badan dengan lima Direktur, yang tiap anggotanya
harus dipilih ulang setiap tahun secara bergantian) adalah organ
kekuasaan eksekutif di Prancis di bawah Konstitusi 1798 yang
diadopsi setelah rubuhnya kediktatoran revolusioner Jacobin
pada 1794. Direktorat eksis sampai 1799, sebelum dikudeta oleh
Napoleon. Selama Direktorat berkuasa, badan ini
mempertahankan sebuah rejim teror terhadap kekuatan-
kekuatan demokratik dan membela kepentingan borjuasi besar.

[16] Baca Thomas Carlyle, Past and Present, London, 1843

Ini merujuk pada semboyan Revolusi Prancis 1789 “Liberté,


[17]

égalité, fraternité” (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan).

Hak atas malam pertama atau jus primae noctis adalah hak
[18]

tuan tanah feodal di Eropa Abad Pertengahan untuk tidur dengan


pengantin perempuan dari bawahannya atau hambanya pada
malam pengantin.

Lettres
[19] d'un habitant de Genève à ses
contemporains (Surat-surat dari seorang warga Jenewa untuk
orang-orang sejamannya) adalah karya pertama Saint-Simon.
Karya ini ditulisnya di Jenewa pada 1802 dan diterbitkan anonim
di Paris pada 1803 (tempat dan waktu penerbitannya tidak
disebut di edisi ini). Ketika mengerjakan karya Anti-Duhring,
Engels menggunakan edisi ini: G. Hubbard, Saint-Simon, sa vie
et ses travaux. Suivi de fragments des plus célèbres écrits de
Saint-Simon, Paris, 1857. Edisi ini mengandung sejumlah
kesalahan dalam tanggal penerbitan dari berbagai karya Saint-
Simon.

Karya penting pertama Charles Fourier adalah Théorie des


[20]

quatre mouvements et des destinées générales (Teori Empat


Gerakan dan Takdir Secara Umum), yang ditulisnya di awal abad
ke-19 dan diterbitkan anonim di Lyon pada 1808. Untuk
menghindari sensor, halaman muka karya ini menulis Leipzig
sebagai tempat penerbitan.

New Lanark adalah sebuah pabrik katun dengan kampung


[21]

buruh dekat kota Lanark, Skotlandia. Kota ini didirikan pada


1784. Pada 1800 Robert Owen mengambil alih New Lanark dan
membuatnya menjadi model Sosialisme Utopis.

[22] Ini merujuk pada massa sans-cullotes, rakyat miskin pada


akhir abad ke-18 yang menjadi basis massa dari tendensi radikal
(Jacobin) selama Revolusi Prancis 1789.

Estate ketiga adalah kategori kelompok sosial di Prancis


[23]

pada masa Abad Pertengahan yang mencakup semua orang


yang bukan anggota aristokrat (estate kedua) dan gereja (estate
pertama). Di pedesaan, ini adalah kaum tani dan kaum hamba.
Di kota, kaum borjuasi dan kaum pekerja.

Engels mengutip surat kedua dari Lettres d’un habitant de


[24]

Genève à ses contemporains oleh Saint-Simon.

Engels merujuk pada sebuah kalimat dari “Saint-Simon’s


[25]

Letters to an American” (surat ke-8).

Peperangan Paris berlangsung pada 30-31 Maret 1814,


[26]

antara pasukan Koalisi Keenam (yang terdiri dari Rusia, Austria,


dan Prusia) dan Prancis. Setelah seharian pertempuran di
daerah suburban Paris, Prancis menyerah pada 31 Maret.
Pasukan Koalisi Keenam memasuki kota Paris, dengan Tsar,
Raja Prusia, dan Pangeran Schwarzenberg di depan barisan
pasukan. Ini adalah pertama kalinya pasukan asing
menginjakkan kakinya di Paris sejak 400 tahun yang lalu pada
saat Perang Seratus Tahun. Ini mengakhiri Perang Koalisi
Keenam dan memaksa Kaisar Napoleon untuk turun tahta dan
diasingkan ke Pulau Elba.
Peperangan Seratus Hari, atau dikenal juga sebagai
[27]

Seratus Hari Napoleon adalah periode antara kembalinya


Napoleon ke Paris dari pengasingannya pada 20 Maret 1815,
sampai pada kekalahannya dan dinobatkannya Raja Louis XVII
pada 8 Juli 1815. Koalisi Ketujuh lalu dibentuk oleh Inggris,
Prusia, Belanda, Austria, Rusia, Spanyol, dan negeri-negeri
lainnya yang menentang Revolusi Prancis dan Napoleon. Ini
adalah bab terakhir dari Peperangan Napoleon, dan kekalahan
terakhir Napoleon di Peperangan Waterloo. Pasukan Koalisi
Ketujuh mematahkan pasukan Napoleon dan memasuki kota
Paris pada 7 Juli 1815. Napoleon menyerah pada 15 Juli 1815,
diasingkan ke pulau Saint Helena dimana dia meninggal pada 5
Mei 1821.

Gagasan ini dipaparkan di buku pertama Charles


[28]

Fourier, Théorie des quatres mouvements (Teori Empat


Gerakan), yang mengandung tesis umum ini: “Progres sosial dan
perubahan dari sebuah periode diikuti oleh progres kaum
perempuan menuju kebebasan, sementara kebusukan dari
sebuah sistem sosial diikuti dengan pemasungan kebebasan
kaum perempuan.” Dari tesis ini Fourier menarik kesimpulan
berikut ini: “Perluasan hak-hak perempuan adalah prinsip dasar
dari semua progres sosial.”

Théorie de l’unite universelle, Fourier, 1843 dan Le nouveau


[29]

monde industriel et sociétaire, ou invention du procédé


d'industrie attrayante et enaturelle distribuée en séries
passionnées, Fourier, 1845

[30] Dari The Revolution in Mind and Practice, sebuah memorial


yang disampaikan kepada semua “kaum Republikan merah,
kaum Komunis dan Sosialis Eropa,” dan dikirim ke pemerintahan
provisional Prancis pada 1848, dan juga “ke Ratu Victoria dan
para penasihatnya”.
[31]Di sebuah pertemuan publik yang besar di Glasgow pada
Januari 1815, Owen mengajukan serangkaian langkah untuk
memperbaiki kondisi kerja anak-anak dan orang dewasa di
pabrik. RUU ini diajukan atas inisiasi Owen pada Juni 1815, dan
diloloskan oleh Parlemen hanya pada Juli 1819, setelah RUU ini
dipangkas habis-habisan. UU ini mengatur kondisi kerja di
pabrik-pabrik katun dengan melarang mempekerjakan anak-anak
di bawah umur 9 tahun, membatasi jam kerja selama 12 jam
untuk pekerja di bawah umur 18 tahun, dan memberi buruh 2
waktu istirahat, waktu sarapan dan waktu makan siang, selama
45 menit.

Sebuah Kongres Koperasi dan Serikat Buruh, yang dipimpin


[32]

oleh Owen, diselenggarakan di London pada Oktober 1833.


Kongres ini secara formal membentuk Grand National
Consolidated Trades Union. ADRTnya diadopsi pada Februari
1834. Owen membayangkan Serikat ini akan mengambil alih
manajemen produksi dan merekonstruksi masyarakat secara
damai. Rencana Utopis ini segera runtuh. Dihadapi oleh oposisi
dari masyarakat borjuis dan pemerintah, Serikat ini bubar pada
Agustus 1834.

Wilhelm Christian Weiting (1808-1871) adalah seorang


[33]

buruh jahit dan aktivis komunis dari Jerman.

Periode Sains Alexandrian adalah dari abad ke-3 sampai


[34]

ke-7. Namanya datang dari kota Alexandria di Mesir, di


Mediterania, yang pada saat itu adalah sentra utama
perdagangan internasional. Periode Alexandrian menyaksikan
perkembangan pesat dalam ilmu matematika, mekanika (Euclid,
Archimedes), geografi, astronomi, anatomi, fisiologi, dan ilmu-
ilmu lainnya.

Ini merujuk pada Hipotesa Nebula, yang pertama kali


[35]

dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) pada 1734


dan lalu disempurnakan oleh Immanuel Kant pada 1775.
Hipotesa ini menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya
masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es,
dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian
besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan
kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu
kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa
(matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar
semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke
sekeliling Matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut
memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk
planet dalam dan planet luar.

Pemberontakan Canut di Lyon, Prancis, pada 1831 adalah


[36]

pemberontakan kelas buruh yang pertama. Pada 21 November


ratusan buruh mogok dan turun ke jalan untuk menuntut
kenaikan upah. Mereka membangun barikade dan menduduki
kantor polisi. Mereka berhasil merebut kota Lyon pada 23
November setelah pertempuran berdarah-darah melawan
pasukan pemerintah. Pemerintahan Prancis lalu mengirim
20.000 tentara untuk merebut kembali Lyon. Pada 3 Desember,
kota Lyon berhasil direbut kembali oleh pemerintah.

[37] Mephistopheles dalam drama “Faust” oleh Goethe. [Engels]

[38]Pada Abad Pertengahan, kaum tukang pengrajin atau


artisan umumnya dibagi menjadi 3 kelompok: apprentice
(pemagang), journeyman, dan master craftsman atau guild
master. Master craftsman adalah titel tertinggi. Ia adalah anggota
gilda, diperbolehkan membuka toko atau bengkel mereka sendiri,
dan mempekerjakan apprentice atau journeyman. Apprentice
(pemagang) adalah tukang pemula yang harus bekerja di bawah
didikan master craftsman untuk kurun waktu tertentu. Ia biasanya
tidak dibayar upah dan menerima bayaran dalam bentuk
makanan, kamar, dan pelatihan. Setelah lulus magang, dia
menjadi journeyman, yang masih harus bekerja untuk master
craftsman tetapi dia menerima upah untuk kerjanya dan tidak
terikat pada satu master craftsman. Journeyman lalu bisa
menjadi master craftsman setelah melewati ujian tertentu.

Berhubungannya dengan ini sangatlah jelas bahwa, bahkan


[39]

bila bentuk apropriasi tetaplah sama, karakter dari apropriasi ini


juga telah direvolusionerkan seperti halnya mode produksi oleh
perubahan-perubahan yang telah kita paparkan di atas. Tentu
saja adalah hal yang teramat berbeda ketika saya
mengapropriasi untuk diri saya sendiri produk hasil kerja saya
atau produk hasil kerja orang lain. Perlu kita catat di sini bahwa
kerja-upahan, yang merupakan embrio dari seluruh mode
produksi kapitalis, adalah sesuatu yang ada sejak zaman kuno;
dalam bentuk yang sporadis dan terpencar, kerja-upahan telah
eksis selama berabad-abad bersandingan dengan kerja-
perbudakan. Tetapi embrio ini hanya dapat berkembang
sepatutnya ketika semua prasyarat historis yang diperlukannya
telah tersedia. [Engels]

[40] “Mark” atau juga “March” adalah perbatasan tanah di Eropa


pada Abad Pertengahan , atau sebidang tanah pada zaman
feodal yang dikuasai oleh bangsawan atau tuan tanah tertentu.

Pada abad ke-17 dan ke-18 terjadi serangkaian perang


[41]

komersial untuk memperebutkan koloni antara sejumlah negeri


Eropa, seperti Prancis, Inggris, Belanda, Spanyol dan Portugal.
Misalnya Perang Anglo-Dutch antara Inggris dan Belanda.

Prometheus mencuri api dari dewa Jupiter (Zeus) dan


[42]

memberikannya pada manusia. Sebagai hukumannya, dia


dirantai di atas puncak gunung batu untuk selama-lamanya dan
setiap hari burung elang mencabik-cabik perutnya. Dewa pandai-
besi, Vulcan, adalah dewa yang menempa rantai yang mengikat
Prometheus.

Trust, atau yang dikenal juga sebagai kartel atau


[43]

konglomerat, adalah perusahaan monopoli besar yang


mengkonsentrasikan berbagai cabang industri ke dalam dirinya.
Saya katakan di sini “harus”. Hanya ketika alat-alat produksi
[44]

dan distribusi telah sungguh-sungguh tumbuh melampaui bentuk


manajemen perusahaan saham-gabungan, yang lalu membuat
pengambilalihan mereka oleh Negara menjadi sesuatu
yang secara ekonomi tak terelakkan, maka – bahkan bila yang
melakukan ini adalah Negara sekarang ini – akan bisa ada
kemajuan ekonomi. Ini akan menjadi langkah awal dari
pengambilalihan seluruh kekuatan produktif oleh masyarakat itu
sendiri. Tetapi belakangan ini sejak rejim Bismarck menerapkan
kepemilikan Negara atas sejumlah cabang industri, semacam
Sosialisme palsu telah muncul. Sosialisme palsu ini dari waktu ke
waktu mengalami degenerasi menjadi penjilat, yang menyatakan
tanpa basa-basi bahwa semua kepemilikan Negara, bahkan
yang semacam Bismarckian, adalah sosialisme. Tentunya bila
pengambilalihan industri rokok oleh Negara adalah sosialistis
maka Napoleon dan Metternich haruslah diikutsertakan sebagai
salah satu pendiri Sosialisme.

Bila Negara Belgia, untuk alasan-alasan politik dan finansial


yang lazim, membangun rel kereta api; bila rejim Bismarck
mengambil alih industri rel kereta api bukan karena alasan
ekonomi tetapi karena pemerintah ingin bisa menggunakannya
pada saat peperangan, ingin meraup suara dari para pegawai rel
kereta, dan terutama ingin menjamin untuk dirinya pendapatan
yang independen dari parlemen – ini sama sekali bukanlah
kebijakan sosialis, secara langsung ataupun tidak langsung,
secara sadar ataupun tidak sadar. Kalau tidak maka Perusahaan
Maritim Kerajaan, perusahaan manufaktur porselen Kerajaan,
dan bahkan penjahit resimen angkatan bersenjata juga adalah
institusi sosialis, atau bahkan pengambilalihan rumah bordil oleh
Negara seperti yang diajukan oleh seorang anjing licik di
pemerintahan Frederick William III. [Engels]

“The struggle for existence” atau “pergulatan eksistensi”


[45]

adalah konsep pergulatan manusia atau organisme secara


umum, di antara diri mereka sendiri dan/atau dengan alam, untuk
mengamankan sumber penghidupan yang dibutuhkan untuk
eksis. Konsep ini sudah dikembangkan sejak awal oleh filsuf
Heraclitus yang mengatakan bahwa pergulatan adalah bapa dari
segala hal.

Ini merujuk pada karya Marx, “Kritik Terhadap Program


[46]

Gotha”, dimana Marx mengkritik program dari Partai Buruh


Sosial Demokratik Jerman (SDAP). Salah satu tuntutan dari
program SDAP yang dikritik Marx adalah pembentukan “negara
bebas”.

[47]Beberapa figur dapat memberikan gambaran akan kekuatan


ekspansif yang luar biasa besar dari alat-alat produksi modern,
bahkan di bawah tekanan kapitalis. Menurut Tuan Giffen, jumlah
kekayaan Inggris Raya dan Irlandia adalah 2,2 miliar pound
sterling pada 1814; 6,1 miliar pada 1865; 8,5 miliar pada 1875.
Sebagai contoh pemborosan alat-alat produksi dan produk
selama krisis ekonomi, jumlah kerugian di industri besi Jerman
sendiri saja selama krisis 1873-1878, menurut Kongres Industrial
Jerman kedua (Berlin, 21 Februari, 1878) adalah sebesar 22,75
juta pound. [Engels]