Anda di halaman 1dari 26

ABSTRAK

Apeksifikasi adalah suatu perawatan saluran akar untuk membantu pertumbuhan


penutupan apeks gigi yang belum sempurna pada pulpa non-vital tanpa kelainan periapeks, dengan
pembentukan osteodentin atau substansi lain. Perawatan apeksifikasi adalah suatu perawatan
endodontik yang bertujuan untuk merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses
pembentukan apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudah mengalami kematian pulpa
dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut.
Apeksogenesis merupakan salah satu perawatan pada gigi permanen muda dengan
mempertahankan pulpa yang vital dan atau menyingkirkan pulpa yang terinflamasi reversibel
dengan bertujuan agar pembentukan akar dan pematangan apeks dapat dilanjutkan. Perawatan
apeksogenesis hampir sama dengan perawatan pulpotomi vital pada gigi sulung, namun
apeksogenesis di indikasikan untuk gigi yang dalam masa pertumbuhan dengan foramen apical
yang belum tertutup sempurna, adanya kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa
radicularnya dalam keadaan sehat.
Kata kunci : Apeksifikasi, apeksogenesis, pulpa, pulpotomi

1
ABSTRACT

Apexification is a root canal treatment to help the growth of the tooth apex closure of
immature non-vital pulp without periapical abnormalities, with the formation of osteodentin or
other substances. Apexification treatment is an endodontic treatment that aims to stimulate further
development or continue the process of forming the apex of the tooth that has not fully grown but
has experienced the death of the pulp by forming a hard tissues of the tooth apex.
Apexogenesis is one treatment in young permanent teeth with vital pulp retain and or get
rid of the inflamed pulp with the aim that the reversible formation and maturation of the root apex
can be resumed. Treatment is similar to treatment apexogenesis vital pulpotomy in primary teeth,
however apexogenesis is indicated for teeth in its infancy with the apical foramen is not closed
perfectly, the damage to the pulp coronal radicular pulp, while in a healthy state.
Keywords : Apexification, apexogenesis, pulp, pulpotomy

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Apeksifikasi adalah suatu perawatan saluran akar untuk membantu
pertumbuhan penutupan apeks gigi yang belum sempurna pada pulpa non-vital
tanpa kelainan periapeks, dengan pembentukan osteodentin atau substansi
lain.Perawatan apeksifikasi adalah suatu perawatan endodontik yang bertujuan
untuk merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses
pembentukan apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudah mengalami
kematian pulpa dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut.
Apeksogenesis merupakan salah satu perawatan pada gigi permanen muda
dengan mempertahankan pulpa yang vital dan atau menyingkirkan pulpa yang
terinflamasi reversibel dengan bertujuan agar pembentukan akar dan pematangan
apeks dapat dilanjutkan. Perawatan apeksogenesis hampir sama dengan perawatan
pulpotomi vital pada gigi sulung, namun apeksogenesis di indikasikan untuk gigi
yang dalam masa pertumbuhan dengan foramen apical yang belum tertutup
sempurna, adanya kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radicularnya
dalam keadaan sehat.

1.2 Tujuan penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengerti secara lebih mendalam mengenai apeksifikasi
2. Mengerti indikasi dan kontraindikasi dari perawatan apeksifikasi
3. Mengerti penyebab apeks terbuka
4. Mengerti bahan yang digunakan untuk perawatan apeksifikasi
5. Mengerti teknik perawatan apeksifikasi
6. Mengerti tentang apeksogenesis
7. Mengerti indikasi dan kontraindikasi apeksogenesis
8. Mengerti cara perawatan apeksogenesis

3
1.3 Manfaat penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk mendalami mengenai
apeksifikasi dan apeksogenesis, serta menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru
yang dapat diteliti lebih lagi dalam perawatan apeksifikasi dan apeksogenesis.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian perawatan apeksifikasi


Apeksifikasi adalah suatu perawatan saluran akar untuk membantu
pertumbuhan penutupan apeks gigi yang belum sempurna pada pulpa non-vital
tanpa kelainan periapeks, dengan pembentukan osteodentin atau substansi lain.
Salah satu penyebab kematian pulpa pada gigi dewasa muda yang foramen
apikalnya masih terbuka lebar adalah trauma.Untuk itu perlu dilakukan perawatan
saluran akar dengan tujuan penutupan atau penyempitan pada apeks gigi, yang
merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan hasil perawatan endodonti yang
baik sehingga memudahkan penutupan daerah yang hermetis (M.Rafter, 2005).
Perawatan apeksifikasi adalah suatu perawatan endodontik yang bertujuan
untuk merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses
pembentukan apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudah mengalami
kematian pulpa dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut.
Apeksifikasi merupakan suatu perawatan pendahuluan pada perawatan endodontik
dengan dengan menggunakan Kalsium Hidroksida sebagai bahan pengisian
saluran akar yang bersifat sementara pada gigi non-vital dengan apeks gigi yang
terbuka atau belum terbentuk sempurna.Setelah dilakukan apeksifikasi diharapkan
terjadinya penutupan saluran akar pada bagian apikal.Dengan diperolehnya
keadaan tersebut selanjutnya dapat dicapai pengisian saluran akar yang sempurna
dengan bahan pengisian saluran akar yang tetap (gutta percha)(J. Camilien, 2006).

2.1.1 Indikasi perawatan apeksifikasi


Indikasi perawatan apeksifikasi adalah sebagai berikut:
- Gigi dalam masa pertumbuhan dengan foramen apikalis belum sempurna
tertutup,
- Korona dapat direstorasi,
- Pulpa nekrosis,
- Gigi nonvital,
- Usia pasien tua/muda,

5
- Apeks terbuka (C.O. Andreasen, 2006)

2.1.2 Kontraindikasi perawatan apeksifikasi


Kontra indikasi perawatan apeksifikasi adalah sebagai berikut:
- Semua fraktur akar, baik vertikal maupun horizontal,
- Resorbsi penggantian (ankilosis),
- Akar yang sangat pendek,
- Kerusakan pada periodontium,
- Pulpa vital. (C.O. Andreasen, 2006)

2.1.3 Kemungkinan yang dapat terjadi pada perawatan apeksifikasi


Pada perawatan apeksifikasi ada kemungkinan kegagalan perawatan.
Kegagalan tersebut disebabkan antara lain:
- Ada kontaminasi bakteri
- Tidak ada penutupan apikal
- Gejala sakit, sensitif terhadap tekanan
- Tanda – tanda saluran sinus, bengkak, kerusakanprobing, radiolusen periapikal.
- Diikuti hilangnya Ca-Hydroxide dari ruangansaluran.
- Pertumbuhan jaringan granuloma lebih kebawah, sehingga file yang lebih
pendek saja menyebabkan pendarahan. (J. Camilien, 2006)

2.1.4 Penyebab apeks terbuka


Apeks terbuka tampak pada gigi – gigi dengan pulpa nekrosis sebelum
pertumbuhan akarnya selesai sehingga pembentukan dentin akan terhenti dan
pertumbuhan akarnya akan terhenti pula. Akibatnya saluran akar tetap lebar dan
apeks terbuka, kadang – kadang akar mungkin juga lebih pendek.Dinding saluran
akar dengan apeks terbuka lebih tipis dari pada dinding saluran akar yang
matang.Dinding saluran akar berbentuk divergen, sejajar atau sedikit konvergen,
namun hal ini tergantung pada stadium pembentukan akarnya.
Penyebeb apeks terbuka adalah sebagai berikut:
- Resorpsi berlebihan dari apeks gigi yangbelum matang setelah
perawatanortodonti.

6
- Inflamasi periradikuler.
- Sebagai bagian dari penyembuhansetelah trauma (S.Cohen, 2006)

2.1.5 Prognosis
Pada umumnya, prosedur apeksifikasi memiliki tingkat keberhasilan yang
baik.Meskipun demikian gigi yang sangat belum sempurna(dinding dentinnya
tipis) mempunyai resiko fraktur akar yang sangat tinggi baik selama maupun
setelah perawatan.Dengan demikian, resiko fraktur bergantung pada tahap
perkembangan akarnya. Juga, pembentukan barier akan terjadi lebih mudah jika
lubang akarnya tidak begitu besar(S.Cohen, 2006).

2.2 Bahan untuk apeksifikasi

Telah dipakai berbagai macam material yang berhasil merangsang


apeksifikasi. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang masih popular
digunakan sampai saat ini untuk apeksifikasi karena kemampuannya menstimulasi
jaringan keras disekitar apeks (Walton, 2003).
Pada tahun 1964 Kaiser pertama kali melaporkan penggunaan kalsium
hidroksida sebagai bahan apeksifikasi, sedangkan teknik apeksifikasi
diperkenalkan oleh Frank. Dalam penggunaannya kalsium hidroksida telah dicoba
untuk dicampur dengan berbagai bahan seperti CMCP, Cresanol, larutan salin,
larutan Ringer, larutan anestetikum dan air destilata.Semua campuran bahan-
bahan tersebut dilaporkan dapat menginduksi pembentukan jaringan keras di
daerah apeks. (Cohen, 2001)
Torabinejad memperkenalkan suatu bahan penutup apeks yaitu Mineral
Trioxide Aggregate (MTA).MTA merupakan terobosan baru dalam teknik
apeksifikasi.Teknik ini tetap menggunakan kalsium hidroksida untuk disinfeksi
saluran akar sebelum penempatan MTA pada ujung apeks. (Walton,2003)
Apeksifikasi umumnya dilakukan dengan menggunakan kalsium
hidroksida (Ca(OH)2). Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran gigi, apeksifikasi juga dapat dilakukan dengan Mineral Trioxide
Aggregate (MTA), Tricalcium phosphate (TCP), dan gel kolagen kalsium fosfat.

7
1. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
Pada tahun 1838 Nygren memperkenalkan penggunaan kalsium hidroksida
dalam perawatan endodontik.Kalsium hidroksida adalah garam dasar putih,
berkristal, mudah larut yang terpisah menjadi ion kalsium dan ion hidroksil dalam
larutan dan kandungan alkali yang tinggi (pH 11). Bahan ini digunakan dalam
bentuk Setting dan Non-setting pada kedokteran gigi. Ion hidroksil diketahui dapat
memberikan efek antimikroba dan mampu melarutkan jaringan.Codman adalah
yang pertama menggunakan kalsium hidroksida karena sifat antimikrobanya dan
kemampuannya merangsang pembentukan jaringan keras. (Grossman, 1995)
Mekanisme pembentukan jaringan keras oleh kalsium hidroksida belum
diketahui secara pasti.Tornstad dkk memperkirakan sifat basa kuat dari kalsium
hidroksida dan pelepasan ion kalsium membuat jaringan yang berkontak menjadi
alkalis. Dalam suasana basa, resorpsi atau aktifitas osteoklas akan terhenti dan
osteoblas menjadi aktif mendeposisi jaringan terkalsifikasi. Asam yang dihasilkan
oleh osteoklas akan dinetralisiroleh kalsium hidroksida dan kemudian terbentuk
komplek kalsium fosfat. Kalsiumhidroksida juga dapat mengaktifkan ATP, yang
mempercepat mineralisasi tulang dandentin, dan TGF-ß yang berperan penting
pada biomineralisasi. (Soedjono, 2009; Walton, 2003)
Perawatan kalsium hidroksi juga telah menunjukkan penurunan efek
bakteri dihubungkan dengan lipopolisakarida (LPS).Hal ini dapat menghidrolisis
lipid dari bakteri LPS dan dapat mengeliminasi kemampuan LPS menstimulasi
produksi nekrosis tumor faktor alpha pada monosit darah perifer.Aksi ini
menurunkan kemampuan bakteri merusak jaringan.Kemampuan untuk mencegah
penetrasi bakteri ke dalam pulpa mempengaruhi pertahanan pulpa secara
signifikan.
Untuk efek antimikroba dari kalsium hidroksida berhubungan dengan
kemampuan bahan membunuh bakteri yang ada dan mencegah bakteri masuk lagi
dari rongga mulut ke dalam pulpa.Sifat antimikroba dari kalsium hidroksida
berasal dari beberapa faktor.pH yang tinggi menghasilkan lingkungan yang tidak
baik untuk pertumbuhan bakteri. Ada tiga mekanisme kalsium hidroksida
merangsang lisis bakteri, ion hidroksil menghancurkan phospholipids sehingga

8
membran sel dihancurkan, adanya kadar alkali yang tinggi merusak ikatan ion
sehingga protein bakteri dirubah, dan ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri,
menghambat replikasi. (Tarigan, 2002)

Kelebihan dan kekurangan


Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang sering digunakan
dalam perawatan resorbsi dan perforasi akar. Kelebihan pasta kalsium hidroksida
yang berhubungan dengan kerapatan penutupan apeks adalah mudahnya cara
penggunaan dan baik adaptasinya. Menurut Goldberg, penggunaan pasta dengan
bahan dasar kalsium hidroksida dapat beradaptasi dengan baik pada dentin
maupun permukaan guttap point. Kemudian Sleder menyatakan bahwa kalsium
hidroksida dapat merangsang penutupan biologis pada daerah apikal sehingga
menghasilkan penutupan apeks yang lebih rapat dan meningkatkan keberhasilan
perawatan. Kelebihan lain dari kalsium hidroksida adalah dapat merangsang
pembentukan jaringan keras. Menurut penelitian Holland et al, penggunaan bahan
kalsium hidroksida dalam proses pengisian saluran akar dapat mengurangi
kebocoran foramen apikal. pH-nya yang tinggi dapat meningkatkan aktifitas alkali
fosfatase yang meningkatkan mineralisasi selain itu juga karena dapat membuhuh
mikroba yang merusak jaringan apikal sehingga mempermudah pembentukan
cementum reparatif. Lingkungan alkali akan menghambat aktivitas osteoklas
sehingga proses reabsorbsi akan dihambat dan proses perbaikan jaringan akan
terus berjalan. (Soedjono, 2009; Walton, 2003; Kennedy, 1992)
Bahan kalsium hidroksida dapat digunakan untuk jangka waktu panjang
dalam penyembuhan lesi periapikal dengan membentuk barier kalsifik pada
apeks.Sebagai obat antar kunjungan kalsium hidroksida memberikan efek
penyembuhan kelainan periapeks pada gigi non-vital.Kemampuan bahan ini
sebagai antibakteri dan penginduksi pembentukan jaringan keras gigi menjadi
dasar bagi perawatan endodontik konvensional pada gigi dengan lesi periapeks
yang luas (Sidharta, 1997). Kurimoto (1960) mengemukakan terjadinya aposisi
sementum pada lesi periapeks setelah penggunaan kalsium hidroksida.Sedangkan
Kaiser (1964) mengemukakan kemampuan kalsium hidroksida untuk
menginduksi pembentukan jaringan keras pada apeks yang terbuka setelah

9
penggunaan kalsium hidroksida jangka panjang. Pernyataan Kaiser ini diperkuat
oleh temuan Kitamura (1960), Peters et al. (2002) melaporkan kemampuan
kalsium hidroksida dalam mengeliminasi infeksi pada gigi tanpa pulpa (Sidharta,
1997).
Kennedy dkk, dan Kennedy dan Simpson membuktikan kemampuan
kalsium hidroksida dalam penyembuhan lesi periapeks dengan membentuk barier
kalsifik pada apeks.Kalsium hidroksida diaplikasikan ke dalam saluran akar untuk
jangka waktu yang lama, yaitu antara 6-24 bulan, sampai terbentuk barier apikal
yang cukup kuat untuk dilakukan obturasi saluran akar. (Kennedy, 1992)
Namun selain memiliki kelebihan, kalsium hidroksida juga memiliki
beberapa kelemahan yaitu: (Raji, 2013)
1. Secara khusus tidak merangsang dentinogenesis
2. Secara khusus merangsang dentin reparatif
3. Dapat terlarut setelah setahun
4. Dapat berkurang selama pengetsaan
5. Kegagalan marginal pada kondensasi amalgam
6. Tidak berikatan dengan dentin atau restorasi resin

Kelemahan lain dari kalsium hidroksida adalah sifat dari barrier yang
terbentuk, walaupun tampak terkalsifikasi, sebenarnya porus dan bahkan
terkadang ditemukan sejumlah kecil kandungan dari jaringan lunak oleh beberapa
peneliti.Barrier berporusyang dibentuk oleh apeksifikasi kalsium hidroksida telah
dilaporkan oleh penulis dalam penelitian mereka, memiliki penampilan seperti
keju Swiss yang memungkinkan infiltrasi apikal. (Raji, 2013)

Komposisi
Kalsium hidroksida tersedia dalam 4 sediaan yaitu:
1. Dalam 2 jenis pasta yaitu base dan katalis
2. Sistem light cured
3. Single pasta dalam bentuk suntikan
4. Dalam bentuk bubuk

10
Akhir-akhir ini, kalsium hidroksida light cured base material dan kalsium
hidroksida pelindung saluran akar berbentuk pasta telah diperkenalkan
(Manappallil, 2003). Komposisi kalsium hidroksida pasta dan katalis adalah
sebagai berikut (Manappallil, 2003):
1. Base Paste
 Glikol Salisilat 40%, Bereaksi dengan (Ca(OH)2) dan ZnO
 Kalsium sulfat
 Titanium dioksida, sebagai inert filler, pigmen
 Kalsium tungstate atau barium sulfat, provides radiopacity

2. Catalyst Paste
 Kalsium hidroksida 50%
 Zinc oksida 10%
 Zinc stearate 0.5%, sebagai akselerator
 Ethylene toluene
 Sulfonamide 39.5%, senyawa berminyak; bertindak sebagai carrier

Indikasi dan kontraindikasi


Kalsium hidroksida diindikasikan untuk perawatan pulp capping dan
pulpotomi.Perawatan pada gigi non vital yang akarnya masih terbuka, Sebagai
bahan perawatan saluran akar pada gigi dengan kelainan periapeks yang luas,
fraktur akar, perforasi akar dan resorbsi interna dan eksterna (Sidharta, 2000;
435). Sebagai basis dibawah semen yang mengandung asam fosfor untuk
mencegah kerusakan pulpa, Digunakan dibawah tumpatan komposit, Digunakan
dibawah tumpatan glass ionomer
Sedangkan kontraindikasi kalsium hidroksida adalah semua gigi dengan
fraktur akar vertikal dan sebagian besar fraktur akar horizontal, gigi dengan akar
yang sangat pendek, gigi dengan replacement resorption (ankylosis), adanya
kerusakan merginal pada periodontal, gigi dengan pulpa vital.

11
2. Mineral Trioxide Aggregate (MTA)
MTA merupakan material untuk pembentukan plug apikal pada ujung
akar dan membantu untuk mencegah ekstrusi dari bahan pengisi.Material MTA
terdiri dari partikel hidrofilik halus trikalsium silikat, oksida silikat dan oksida
trikalsium.
Penelitian histologis pada MTA menunjukkan sifat osteoconductive dan
osteoinductive dalam regenerasi jaringan periradikular, seperti ligamen
periodontal, tulang, dan sementum, biokompatibilitas dengan jaringan
periodontal, kemampuan pelapisan sangat baik terhadap kelembaban dan sifat
mekanik yang tepat sebagai bahan pelapis apikal.
Mineral trioxide aggregate (MTA) adalah material biokompatibel yang
diperkenalkan oleh Mohmoud Taorabinejad pada aplikasi klinis dalam
endodontik.

Komposisi
MTA terdiri dari partikel halus hidrofilik seperti trikalsium silikat,
trikalsium aluminat, trikalsium oksida, oksida silikat, dan bismut oksida. MTA
juga mengandung 5% calcium sulphatedehydrate dan tetracalcium alumino
ferrite. Kekurangan formula tetracalcium alumino ferrite akan memberikan warna
putih dan kekurangan zat besi ini akan memberikan senyawa dengan tampilan
berwarna putih. (Ravichandra, et al, 2011)

Sifat fisik, kimia, biologi dan histologis


1. pH awal 10,2 kemudian meningkat menjadi 12,5 setelah 3 jam dan setelah itu
tetap konstan.
2. Radiopasitas untuk MTA adalah 7 - 17 mm dengan ketebalan setara
aluminium, karena itu lebih radiopak dari gutta - percha konvensional dan
dentin, harus dapat dibedakan pada radiografi bila digunakan sebagai material
pengisi akar.
3. Waktu setting: keuntungannya yaitu waktu setting MTA yang lama dimana
semakin cepat material setting maka material lebih menyusut.

12
4. Kekuatan tekan: dalam 24 jam MTA memiliki kekuatan tekan terendah (40
Mpa) dan meningkat setelah 21 hari menjadi 67 Mpa.
5. Kelarutan: MTA tidak menunjukkan tanda-tanda kelarutan dalam air, hal ini
merupakan faktor utama penilaian bahan restorasi yang sesuai dalam
kedokteran gigi, karena kurangnya kelarutan dinyatakan sebagai sifat yang
ideal untuk material pengisi ujung akar.
6. Biokompatibilitas: Penerapan MTA sebagai material pengisi ujung akar
merangsang regenerasi jaringan gigi dan tulang, dan dapat menginduksi
sementoblas untuk pembentukan sementum di sekitar MTA.
7. MTA memiliki efek antibakteri.

Pada tahun 1999, Torabinejad dan Chivian memperkenalkan penggunaan


mineral trioxide aggregate (MTA) dan sejak diperkenalkan telah diusulkan
sebagai pilihan yang layak untuk apeksifikasi karena kemampuan pelapisan yang
baik, adaptasi marginal baik dan biokompatibilitasyang baik.Pada tahun 1998, US
Food and Drug Administration menyetujui MTA digunakan pada
endodontik.MTA merupakan salah satu bahan pilihan yang telah disarankan untuk
digunakan dalam perawatan pulpotomi vital, dengan mekanisme reparasi mirip
dengan kalsium hidroksida.Bila dibandingkan dengan kalsium hidroksida, MTA
menghasilkan jembatan dentin lebih signifikan dalam waktu yang lebih singkat
dengan peradangan kurang dan juga menyediakan hard setting, permukaan non-
resorbable tanpa celah di dentin barrier.Banyak studi in vivo dan studi histologis
yang telah melaporkan sifat fisik dan biologis unggul MTA dalam tindak lanjut
waktu singkat.Dalam kasus-kasus yang disajikan di sini, setelah periode tindak
lanjut jangka panjang, cedera gigi diobati dengan MTA menunjukkan hasil klinis
dan radiografi yang sukses.Hasil ini harus dikaitkan dengan kemampuan
penutupan/penyegelan yang sangat baik dari MTA untuk mencegah kebocoran
mikro bakteri dan produk bakteri.
Setelah pengaplikasian, MTA segera membentuk apikal barrier sehingga
dapat segera dilakukan obturasi saluran akar.Oleh karena itu, MTA dapat
mengatasi beberapa kekurangan kalsium hidroksidayang sedang dialami saat ini
dalam prosedur apeksifikasi.

13
Proses setting MTA dengan adanya kelembaban memiliki makna klinis.
Terdapatnya eksudat, darah, atau cairan jaringan akan meningkatkan reaksi setting
dan mensimulasikan kondisi yang serupa dengan infeksi periradikular.
Penelitian lebih lanjut telah membuktikan bahwa MTA dalam prosedur
apeksifikasi merupakan primary monoblock. Selama maturasi MTA membentuk
deposit mineral sehingga mengisi kekosongan dan meningkatkan resistensi
friksional MTA pada dinding radikular. Hal ini mengurangi kemungkinan fraktur
akar pada gigiimatur dengan akar tipis karena bahan segera berikatan dengan akar
dan menjadi kuat.
MTA memiliki kekuatan kompresif sama dengan zinc oxide eugenol
dengan penguatan polimer, bahan lining, dan semen (SuperEBA, Harry J.
Bosworth, Skokie, Illinois) tetapi kurang daripada amalgam. MTA tersedia secara
komersial dan pertama kali dianjurkan untuk digunakan dalam terapi pulpa vital.
MTA memiliki biokompatibilitas yang lebih baik dan dengan adanya
kombinasi ion kalsium dan fosfat menghasilkan kapasitas untuk menarik blastic
cells dan meningkatkan kondisi yang menguntungkan untuk jaringan keras seperti
sementum yang berhubungan langsung pada bahan.Sifat osteoconductive bahan
ini dapat membantu untuk adaptasi dan penyembuhan jaringan periapikal. (Raji,
2013)
Berdasarkan instruksi pabrik ketebalan 3-5 mm merupakan apikal plug
yang lebih efektif karena secara signifikan lebih kuat dan menunjukkan kurangnya
kebocoran daripada barrier 2 mm.Selain itu, juga bisa ditempatkan dan lebih
dikondensasi dengan ketebalan 5 mm karena meningkatkan resistensi terhadap
pelepasan melalui apeks yang terbuka seperti yang diamati pada penelitian
terdahulu. (Raji, 2013)
Dalam laporan kasus dilakukan teknik dua langkah dengan apikal plug
MTA 5 mm. Sebelum perawatan MTA, saluran akar dimedikasi dengan kalsium
hidroksidaselama satu minggu untuk meningkatkan desinfeksi saluran seperti
yang disarankan oleh berbagai penulis. Teknik penempatan bahan MTA sangat
sensitif, yang dilakukan dengan radiografi dan kondensasi dengan instrumen
tangan supaya terbentuk resistensi pada apeks.Namun, penelitian telah
menegaskan penempatan MTA di bawah pengamatan mikroskopis membantu

14
untuk memastikan bahwa penempatan benar atau tidak, sehingga tidak terjadi
ekstrusi ke dalam jaringan periapikal. (Raji, 2013)

Keuntungan
 Biokompatibel
 Hidrofilik ( dapat berinteraksi dalam permukaan yang lembab)
 Radiopak
 pH basa (bateriostatik)
 Kemampuan pelapisan yang baik (tingkat kebocoran tepi rendah)
 Kelarutan rendah (Ravichandra, et al, 2011)

Kerugian
 Berpotensi diskolorasi GrayMineralTrioxide Aggregat (GMTA)
 Sulit digunakan saat obturasi saluran akar yang bengkok
 Mahal. (Ravichandra, et al, 2011)

3. Tricalcium phospahate (TCP)


Pada gigi manusia dan primata, TCP menginduksi apeksifikasi sama
halnya
dengan (Ca(OH)2) dalam waktu 6 bulan. Bahan ini juga diaplikasikan ke dalam
apical 2 mm dari ujung apeks (apical stop) untuk bertindak sebagai pertahanan
bagi gutaperca yang akan dikondensasi. Perawatan dengan bahan ini dapat
dilakukan dalam satu kali kunjungan. Berdasarkan temuan radiograf, dilaporkan
bahwa apeksifikasi dengan TCP dalam satu kali kunjungan sama berhasilnya
dengan apeksifikasi dengan (Ca(OH)2) dengan beberapa kali kunjungan. (Cohen,
2001)

4. Gel kolagen kalsium fosfat


Pada tahun 1980, Nevins et al dalam studinya pada primata
mendemonstrasikan gel kolagen dapat menginduksi regenerasi dalam waktu 12
minggu. Alan Nevins dan Paul mengevaluasi penggunaan Zyplast kolegen gel

15
sebagai bahan penginduksi jaringan keras pada kasus fraktur dan gigi permanen
muda, dilaporkan bahwa gel kolagen kalsium fosfat menghasilkan hasil yang baik.
Gel kolagen berfungsi sebagai matriks absorbable yang akan mendukung
pertumbuhan jaringan keras pada saluran akar yang sudah didebridement.
Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan gel kolagen kalsium fosfat menghambat
proses perbaikan, dengan perluasan destruksi pada jaringan periapeks dan tidak
ada bukti dari apeksifikasi. (Cohen, 2001)

2.3 Teknik perawatan apeksifikasi

2.3.1 Teknik perawatan apeksifikasi dengan kalsium hidroksida

Teknik perawatan apeksifikasi dengan kalsium hidroksida menurut


Duggal, 2013 dan Srivastava, 2011, yaitu:

1. Anestesi lokal dan isolasi gigi yang akan dilakukan perawatan


2. Kemudian dilakukan preparasi saluran akar teknik konvensional
3. Jaringan nekrotik diekstirpasi dan preparasi kanal sepanjang 1 mm dari
apeks radiografik secara kemo-mekanis
4. Kanal diirigasi dengan saline
5. Kanal diisi dengan kalsium hidroksida dan camphorated
monochlorophenol
6. Kemudian kanal ditumpat dengan zinc oxide eugenol (ZOE)
7. Dressing perlu untuk diganti setiap 3 bulan dibantu dengan tinjauan
radiografik untuk mengetahui keadaan tahap apeksifikasi
8. Calcific bridge pada umumnya terbentuk sempurna selama 18 bulan
9. Apabila apikal telah tertutup dengan sempurna, kanal dibuka kembali dan
obturasi dengan preparasi saluran akar konvensional
10. Bahan lain yang dapat digunakan untuk perawatan apeksifikasi adalah
Mineral Trioxide Aggregate (MTA)

16
2.3.2 Teknikperawatan apeksifikasi dengan Mineral Trioxide Aggregate
(MTA)

Teknik perawatan apeksifikasi dengan menggunakan Mineral Trioxide


Aggregate (MTA) menurut Walton, 2008 adalah sebagai berikut:

1. Setelah diperoleh anestesia lokal dan isolator karet terpasang, akses yang
lebar dibuat agar dapat dilakukan debridement yang baik dengan instrument
intrakanal dan NaOCl
2. Pasta Ca(OH)2 diletakkan dalam saluran akar selama 1 minggu guna
mendisinfeksi sistem saluran akar
3. Setelah pada kunjungan berikutnya, Ca(OH)2 dibersihkan dan kemudian
campuran bubuk MTA dimasukkan dengan air steril (3:1) ke dalam saluran
akar dengan memakai instrumen pembawa amalgam. Campuran itu
dikondensasikan kearah apeks memakai pemampat atau poin kertas sehingga
terbentuk apical plug setebal 3-4 mm
4. Pemampatan MTA diperiksa dengan radiograf. Jika perluasan idealnya tidak
tercapai, maka MTA harus dibersihkan dengan air steril dan kemudian
diulang kembali prosedurnya
5. Untuk menjamin agar MTA mengeras dengan tepat, pelet kapas basah
diletakkan di atasnya dan tambal sementara
6. Sisa saluran akarnya diisi dengan gutta percha dan semen saluran akar atau
resin komposit adhesif dan kemudian kavitas aksesnya ditutup dengan
restorasi permanen.
Pada gigi yang berhasil dirawat dengan perawatan apeksifikasi dengan
MTA ditandai dengan tidak adanya tanda atau gejala penyakit periradikuler dan
adanya barrier kalsifikasi menutupi apeks yang terlihat pada radiograf (Walton,
2008).

2.4 Apeksogenesis
Apeksogenesis merupakan salah satu perawatan pada gigi permanen muda
dengan mempertahankan pulpa yang vital dan atau menyingkirkan pulpa yang
terinflamasi reversibel dengan bertujuan agar pembentukan akar dan pematangan
apeks dapat dilanjutkan. Perawatan apeksogenesis hampir sama dengan perawatan

17
pulpotomi vital pada gigi sulung, namun apeksogenesis di indikasikan untuk gigi
yang dalam masa pertumbuhan dengan foramen apical yang belum tertutup
sempurna, adanya kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radicularnya
dalam keadaan sehat (Walton, 2008; Barrington, 2012; Mohammadi, 2012).

Gambar 1.Apeksogenesis pada gigi permanen muda, terlihat ujung akar yang terbuka ketika
perawatan awal apeksogenesis

Kerusakan pada gigi permanen muda lebih banyak disebabkan oleh karies
yang luas dan fraktur akibat traumatik injuri.Pada keadaan ini, jaringan pulpa
bagian koronal biasanya telah rusak dan tidak bisa dipertahankan lagi.Jaringan
pulpa bagian koronal yang terinfeksi dan mengalami inflamasi ireversibel
dibersihkan agar vitalitas pulpa radikular dapat dipertahankan, sehingga dapat
terjadi apeksogenesis atau penutupan bagian apeks dan terbentuk jembatan
dentin.Perawatan ini disebut dengan pulpotomi (Walton, 2008; Budiyanti, 2006).

2.5 Indikasi dan kontraindikasi apeksogenesis

Ada beberapa tindakan yang termasuk kedalam apeksogenesis,


diantaranya yaitu (American Academy of Pediatric Dentistry):

1. Protective Liner

Protective liner diindikasi pada gigi dengan pulpa normal, pada saat karies
dihilangkan dan akan dilakukan pemasangan restorasi, bahan protective liner
diletakkan pada daerah terdalam preparasi untuk meminimalkan injuri pada pulpa,

18
mendukung penyembuhan jaringan, dan meminimalkan sensitivitas pasca
perawatan. Dengan tujuan untuk memelihara kevitalan gigi, mendukung
penyembuhan jaringan, dan memfasilitasi pembentukan dentin tersier.

2. Indirect Pulp Treatment


Indirect pulp treatment diindikasikan pada gigi permanen dengan diagnosa
pulpa normal atau pulpitis tanpa keluhan atau dengan diagnosa pulpitis reversibel.
3. Direct Pulp Cap, Partial Pulpotomy For Carious Exposure
Direct pulp cap diindikasikan pada gigi dengan lesi karies kecil atau
terpapar karena tindakan mekanis dengan pulpa yang normal. Hal ini bertujuan
agar vitalitas gigi dapat dipertahankan.
4. Partial Pulpotomy For Traumatic Exposures (Cvek Pulpotomy).
Partial Pulpotomy diindikasi pada gigi permanen muda dengan karies
pulpa terbuka dan perdarahan pulpa dapat dikontrol dalam beberapa menit setelah
menghilangkan jaringan pulpa yang terinflamasi. Hal ini bertujuan agar pulpa
yang tertinggal diharapkan tetap vital setelah pulpotomi parsial

NO. INDIKASI KONTRAINDIKASI


1. Pada kondisi gigi dalam masa Avulsi, replanted, mobility tinggi.
pertumbuhan dengan foramen
apikalis belum tertutup
sempurna.
2. Pada kondisi pulpa korono Fraktur mahkota besar dan memerlukan
rusak tetapi pulpa radikularnya retensi intra radikular.
masih dalam keadaan sehat
(vital).
3. Pada kondisi korona baik dan Fraktur dekat margin gingiva.
dapat direstorasi. Karies yang tidak dapat diperbaiki.
4. Pada kondisi gigi dalam masa Fraktur vertical dan fraktur horizontal.
pertumbuhan dengan foramen
apikalis belum tertutup
sempurna.
5. Nekrosis pulpa. Ankylosis (replacement resorption)

19
6. Korona dapat diretorasi. Kondisi akar gigi yang pendek.

2.6 Perawatan apeksogenesis

Perawatan apeksogenesis hampir sama dengan perawatan pulpotomi vital


pada gigi sulung, namun apeksogenesis diindikasikan untuk gigi yang dalam masa
pertumbuhan dengan foramen apikal yang belum tertutup sempurna, adanya
kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radikularnya dalam keadaan sehat.
Saat ini banyak istilah umum yang mengacu pada pemeliharaan pulpa vital yang
memungkinkan berlanjutnya perkembangan seluruh akar, tidak hanya pada apeks
saja.Tujuannya adalah agar pulpa radiler tetap vital.(Barrington, 2003;
Mohammadi, 2011; Walton, 1998).

Namun juga terdapat kontraindikasi dalam perawatan apeksogenesis yaitu


pada gigi yang mengalami avulsi dan replantasi atau sangat goyang, pada gigi
yang fraktur mahkota dan akar yang berat sehingga dibutuhkannya pada
intraradikuler, gigi dengan fraktur akar yang horizontal yang berada dekat dengan
gingival, serta gigi karies yang tidak dapat ditumpat lagi (Barrington, 2003;
Walton, 1998).

Gambar 2.(A) Gambaran radiografi pada karies simptomatik terekspos pada gigi premolar kedua
rahang bawah sebelum perawatan. (B) Gambaran radiografi setelah perawatan apeksogenesis dan

20
restorasi resin komposit. (C) Setelah 2 tahun menunjukkan kelanjutan pertumbuhan akar. (D)
Pasca 3 tahun menunjukkan gigi lebih respon dengan tes pulpa (Audina, 2014).

Ada beberapa tindakan yang termasuk ke dalam apeksogenesis,


diantaranya adalah protective liner, indirect pulp treatment, direct pulp cap,
partial pulpotomy for carious exposure, dan partial pulpotomy for traumatic
exposures (Cvek pulpotomy) ( AAPD, 2005).

Pada protective liner, diindikasi pada gigi dengan pulpa normal, ketika
karies disingkirkan dan akan dilakukan pemasangan restorasi, bahan protective
liner diletakkan pada daerah terdalam preparasi untuk meminimalkan injuri pada
pulpa, mendukung penyembuhan jaringan, dan atau meminimalkan sensitivitas
pasca perawatan. Dengan tujuan untuk memelihara kevitalan gigi, mendukung
penyembuhan jaringan, dan memfasilitasi pembentukan dentin tersier (AAPD,
2005).

Untuk apeksogenesis dengan indirect pulp treatment dapat dilakukan


dengan indikasi gigi permanen dengan diagnosa pulpa normal atau pulpitis tanpa
keluhan atau dengan diagnosa pulpitis reversibel.Penegakan diagnosanya
dilakukan dengan pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan klinis dan prognosis
gigi dapat sembuh dari gangguan karies. Tujuannya yaitu restorasi akhir harus
dapat menjaga bagian interna gigi termasuk dentin dari kontaminasi lingkungan
oral. Kevitalan gigi harus dipertahankan.Tidak ada gambaran resorpsi interna atau
eksterna atau perubahan patologis lainnya. Gigi dengan akar yang belum
sempurna akan melanjutkan perkembangan akarnya dan apeksogenesis.
Sedangkan direct pulp cap diindikasi pada gigi dengan lesi karies kecil atau
terpapar karena tindakan mekanis dengan pulpa yang normal. Tujuannya agar
vitalitas gigi dapat dipertahankan ( AAPD, 2005)

Pulpotomi parsial yang disebabkan oleh karies atau trauma, dapat


diindikasi pada gigi permanen muda dengan karies pulpa terbuka dan perdarahan
pulpa dapat dikontrol dalam beberapa menit setelah penyingkiran jaringan pulpa
yang terinflamasi.Gigi harus vital dengan diagnosis pulpa normal atau pulpitis
reversibel.Tujuan partial pulpotomy ini agar pulpa yang tertinggal diharapkan
tetap vital setelah pulpotomi parsial.Seharusnya tidak ada tanda klinis yang

21
merugikan atau keluhan seperti sensitif, sakit, atau pembengkakan.Tidak ada
perubahan radiografis atau perubahan patologis lainnya. Dan proses
apeksogenesis tidak akan terganggu ( AAPD, 2005).

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

- Perawatan apeksifikasi adalah suatu perawatan endodontik yang bertujuan untuk


merangsang perkembangan lebih lanjut atau meneruskan proses pembentukan
apeks gigi yang belum tumbuh sempurna tetapi sudah mengalami kematian pulpa
dengan membentuk suatu jaringan keras pada apeks gigi tersebut. Apeksifikasi
merupakan suatu perawatan pendahuluan pada perawatan endodontik dengan
dengan menggunakan Kalsium Hidroksida sebagai bahan pengisian saluran akar
yang bersifat sementara pada gigi non-vital dengan apeks gigi yang terbuka atau
belum terbentuk sempurna.

- Indikasi perawatan apeksifikasi adalah gigi dalam masa pertumbuhan dengan


foramen apikalis belum sempurna tertutup, korona dapat direstorasi, pulpa
nekrosis, gigi nonvital, usia pasien tua/muda,apeks terbuka. Kontra indikasi
perawatan apeksifikasi adalah semua fraktur akar, baik vertikal maupun
horizontal, resorbsi penggantian (ankilosis), akar yang sangat pendek, kerusakan
pada periodontium, dan pulpa vital.
- Apeks terbuka tampak pada gigi – gigi dengan pulpa nekrosis sebelum
pertumbuhan akarnya selesai sehingga pembentukan dentin akan terhenti dan
pertumbuhan akarnya akan terhenti pula. Akibatnya saluran akar tetap lebar dan
apeks terbuka, kadang – kadang akar mungkin juga lebih pendek.
- Apeksifikasi umumnya dilakukan dengan menggunakan kalsium hidroksida
(Ca(OH)2). Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran
gigi, apeksifikasi juga dapat dilakukan dengan Mineral Trioxide Aggregate
(MTA), Tricalcium phosphate (TCP), dan gel kolagen kalsium fosfat.
- Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) merupakan bahan yang sering digunakan dalam
perawatan resorbsi dan perforasi akar. Kelebihan pasta kalsium hidroksida yang
berhubungan dengan kerapatan penutupan apeks adalah mudahnya cara
penggunaan dan baik adaptasinya. Kelemahan bahan ini adalah secara khusus
tidak merangsang dentinogenesis, secara khusus merangsang dentin reparative,

23
dapat terlarut setelah setahun, dapat berkurang selama pengetsaan, kegagalan
marginal pada kondensasi amalgam, dan tidak berikatan dengan dentin atau
restorasi resin.
- MTA merupakan material untuk pembentukan plug apikal pada ujung akar dan
membantu untuk mencegah ekstrusi dari bahan pengisi. Keuntungan penggunaan
MTA adalah biokompatibel, hidrofilik ( dapat berinteraksi dalam permukaan yang
lembab), radiopak, pH basa (bateriostatik), kemampuan pelapisan yang baik
(tingkat kebocoran tepi rendah), dankelarutan rendah. Kerugian penggunaan MTA
adalah berpotensi diskolorisasi Gray Mineral Trioxide Aggregat (GMTA), sulit
digunakan saat obturasi saluran akar yang bengkok, dan mahal.
- TPA diaplikasikan ke dalam apical 2 mm dari ujung apeks (apical stop) untuk
bertindak sebagai pertahanan bagi gutaperca yang akan dikondensasi. Perawatan
dengan bahan ini dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan dan hasilnya sama
dengan Ca(OH)2 yang dilakukan pada beberapa kali kunjungan.
- Gel kolagen berfungsi sebagai matriks absorbable yang akan mendukung
pertumbuhan jaringan keras pada saluran akar yang sudah didebridement.
Sebaliknya, penelitian lain menunjukkan gel kolagen kalsium fosfat menghambat
proses perbaikan, dengan perluasan destruksi pada jaringan periapeks dan tidak
ada bukti dari apeksifikasi.
- Apeksogenesis merupakan salah satu perawatan pada gigi permanen muda
dengan mempertahankan pulpa yang vital dan atau menyingkirkan pulpa yang
terinflamasi reversibel dengan bertujuan agar pembentukan akar dan pematangan
apeks dapat dilanjutkan.
- Perawatan apeksogenesis hampir sama dengan perawatan pulpotomi vital pada
gigi sulung, namun apeksogenesis diindikasikan untuk gigi yang dalam masa
pertumbuhan dengan foramen apikal yang belum tertutup sempurna, adanya
kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radikularnya dalam keadaan sehat.

24
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatric Dentistry.2005 Guideline on Pulp Therapy for


Primary and Immature Permanent Teeth.Available on
http://www.ncbi.nlm.nih.gov. Accessed on 20 Juni 2013

Andreasen, J.O., dkk., Comparation of Fracture Resistence in Root Canals of


Immature Sheep Teeth After Filling with Calcium Hydroxide or MTA., 2006
Audina, F. 2014. Perawatan Apeksogenesis Dengan Minteral Trioxide Aggregate
(MTA) Pada Gigi Permanen Muda. Jurnal Universitas Sumatera Utara

Barrington C. 2003. Apexogenesis in an Incompletely Developed Permanent


Tooth with Pulpal Exposure. Available on http://www.endoexperience.com.
Accessed on 20 Juni 2013

Budiyanti A. Perawatan Endodontik pada Anak. Jakarta: EGC, 2006: 50-55.


Camilien, J. Ford, T.RF.,Mineral Triodixe Aggregate: a Review of the
Constituents and Biologicaly Properties of the Mineral Trioxide Aggregate.,
2006
Camp, J.H. 2001. Pediatric endodontic treatment dalam Cohen S., Burns R.C.,
eds. Pathways of the pulp, 6th ed, Mosby co., St Louis, USA
Vol.4,No.5:633-671.
Cohen, S , Hargreaves, K.M., Pathways of the Pulp., 2006
Duggal, Monthy S. 2013. Pediatric Dentistry at a Glance. UK: Wiley-Blackwell
Publishing, p: 67

Grossman LI. Ilmu Endodontik Dalam Praktek. Alih bahasa. Abyono R. Jakarta:
EGC, 1995: 250-251.

Kennedy DB, Eds 3. Konservasi gigi anak. JakArta;EGC, 1992, 248.


Mohammadi, Dummer. 2011. Properties and applications of Calcium Hydroxide
in Endodontics and Dental Traumatology. Available on
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21535021 accessed on 25 Juni 2013

25
P V, Ravichandra; Reddy S, Jayaprada; V, Harikumar; A,Kavita. Mineral
Trioxide Aggregate.Indian Journal of Dental Advancements, 3(3), July-
September, 2011
Rafter, M., Apexification: a Review., 2005
Raji,VS dkk. Mineral Trioxide Aggregate in Management of immature teeth
with open apices- A report of clinical cases. Journal of Pierre Fauchard
Academy (India section) : Elsevier. 27. 2-8. 2013

Sidharta, W. 2000."Penggunaan Kalsium Hidroksida di Bidang Konservasi


Gigi".Dalam Jurnal Kedokteran Universitas Indonesia.(Edisi Khusus)
Vol.4,No.4:426-437
Soedjono P, Mooduto L, Setyowati L. Penutupan apeks pada pengisian saluran
akar dengan bahan kalsium oksida lebih baik dibanding kalsium hidroksida.
JPDGI. Mei 2009;Vol.58 No.2:1-5.
Srivastava, Vinay K. 2011. Modern Pediatric Dentistry. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers, p: 267.

Tarigan R Eds 2. Perawatan pulpa gigi (endodontic). Jakrta;EGC, 2002, 135-53.


Walton, Richard E. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia. Jakarta: EGC,
pp: 448-449.

26