Anda di halaman 1dari 35

Gereja Orthodox dan Ajaran-ajarannya

Oleh : Arkhimandrit Rm. Bambang Dwi Byantoro

Gereja Kristus yang Satu dan untuk Selama-lamanya

Di dunia masakini begitu banyak aliran keagamaan yang menamakan dirinya Kristen atau Gereja. Namun
demikian sering kita jumpai bahwa dalam masalah ajaran, aliran-aliran yang satu amat berbeda dengan
aliran yang lain. Belum lagi bagi banyak orang hanya mengenal Kekristenan dalam dua bentuk saja yaitu:
Katolik Roma dan denominasi-denominasi Protestan. Dua bentuk inipun sementara masing-masing
menyatakan dirinya sebagai ajaran Injil yang benar dan sejati atau sebagai Gereja Kristus yang benar,
dalam realitanya banyak praktek dan ajarannya itu saling bertentangan satu dengan yang lain. Demikian
pula dalam apa yang kita sebut dengan denominasi-denominasi Protestan, begitu banyak aliran yang satu
sungguh-sungguh berbeda akidah dan ajarannya dengan yang lain. Dan semuanya itu mengaku sebagai
Gereja yang benar. Kita yang mencintai kebenaran dan mencari kebenaran dijadikan bingung karenanya.
Mungkinkah dengan Kitab Suci yang satu, Allah yang Satu, Yesus yang satu, Roh Kudus yang Satu, terdapat
Iman atau pengajaran dan Gereja yang bermacam-macam dan saling bertentangan dan kontradiksi satu
dengan lainnya itu?

Menurut Kitab Suci, jikalau yang dimaksudkan adalah Gereja Kristus dan ajaran Injil Kristus yang sejati
jelas tidak mungkin, karena Kitab Suci mengatakan :”…….satu tubuh…..” ( Efesus 4:4), “satu Tuhan, satu
Iman….” (Efesus 4:5). Surat Efesus yang sama ini menegaskan bahwa yang disebut Tubuh Kristus itu adalah
Jemaat (Ekklesia, Iglesia, Igreja, Gereja): ”Jemaat (Ekkelsia= Gereja) yang adalah TubuhNya….” ( Efesus
1:23). Jikalau hanya ada satu tubuh, dan yang dimaksud dengan Tubuh itu adalah Gereja, jadi menurut
Alkitab Gereja itu hanya satu saja. Gereja yang satu itu yang bagaimana, yatu yang memiliki “satu Iman”
karena memiliki “satu Tuhan”. Berarti jikalau imannya tidak satu, ajarannya tidak satu, pemahamannya
tentang Tuhan yang satu itu tidak satu, pastilah itu bukan bagian dari “satu Tubuh” atau Gereja yag
dimaksud itu. Demikianlah kesimpulan yang dapat kita ambil mengenai adanya macam-macam aliran
ajaran yang semuanya mengaku Kristn dan semuanya mengaku Gereja, tak mungkin semuanya itu benar
dan tak mungkin semuanya itu Gereja Kristus. Sebab jikalau mereka itu adalah bagian dari Gereja Kristus
yang hanya satu pastilah ajarannya itu satu dan sama dimana-mana. Lalu mengapa ada macam-macam
aliran pengajaran seperti itu. Kitab Suci mengajarkan bahwa ada Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh
yang lain ( II Korintus 11:4).

Dan Kitab Suci juga mengatakan tentang adanya Injil yang lain dan yang berbeda dari Injil yang diberitakan
oleh Rasul dan yang diterima oleh Gereja ( Galatia 1: 8-9), dan Kitab Suci juga mengajarkan tentang adanya
ajaran-ajaran bidat ( Titus 3:10-11). Itulah sebabnya terjadi munculnya ajaran-ajaran-ajaran yang
bermacam-macam itu. Dan menurut Kitab Suci ajaran yang bermacam-macam yang tak sesuai dengan
ajaran Rasul dan Iman Gereja Kristus yang benar itu membawa kutuk ( Galatia 1:8-9), mendatangkan dosa
dan hukuman ( Titus 3:10-11). Padahal mengenai ajaran Imanl yang benar itu Kitab Suci mengatakan
demikian:”…….iman yang sudah sekali bagi sekalian (Yunani: “apax”)dikaruniakan kepada segala orang
suci” ( Yudas 1:3, TL). Sayang terjemahan baru Alkitab bahasa Indonesia tak menterjemahkan kata
penting “apax” ini dalam Alkitab terjemahan sekarang. Padahal kata ini bermakna bahwa Iman Kristen
yang benar itu adalah “sudah sekali” yaitu sekali pada jaman rasul itu saja diberikan kepada segala orang
suci (Gereja), dan iman yang sekali diberikan kepada Gereja itulah, iman “bagi sekalian” orang dan bagi
sekalian jaman. Berarti sampai kapanpun Gereja itu imannya hanya satu itu dan tak akan pernah berubah.

Jadi jika ada ajaran yang selalu berubah-ubah dan berbeda dengan iman rasuliah sepanjang segala jaman
pastilah itu bukan Injil yang satu itu yang diajarkan. Dan kelompok yang mengaku dirinya Gereja dan
mengikuti ajaran yang beurbah-ubah dan saling kontradiksi itu pastilah bukan Gereja yang benar yaitu
Tubuh Kristus yang hanya satu itu. Tidak ada Wahyu yang bermacam-macam diluar Wahyu di dalam Yesus
Kristus yang satuu itu, dan tak ada ajaran yangbeubah-ubah diluar ajaran yang : sudah sekali bagi sekalian
“ itu, serta tak Gereja yang bermacam-macam kecualiu Tubuh Kristus yang hanya satu sejak jaman Rasul
itu. Padahal mengikuti ajaran yang berbeda dengan ajaran rasul yaitu ajaran yang diterima dan dipelihara
oleh Gereja Kristus yang satu dari jaman purba tanpa perubahan itu menyebabkan orang tertimpa kutuk,
dosa dan hukuman ( Galatia 1:8,9, Titus 3:10-11).

Untuk mengetahui keberadaan Gereja Kristus yang berasal dari jaman para Rasul dan tetap memelihara
Iman Rasuliah tak berubah itu, kita perlu melakukan pelacakan Sejarah Umat Awal dari jaman permulaan
sampai kini, dan kita mengambil kesimpulan dari pelacakan ini. Banyak orang telah diberi informasi yang
keliru mengenai keberadaan Gereja Kristus yang Rasuliah dan satu itu dengan pemahaman bahwa Gereja
Purba selalu dianggap berada dibawah ketundukan dengan Sri Paus, dan hanya merupakan bagian dari
Gereja Roma Katolik saja, sedangkan dari pihak denominasi-denominasi Protestan memiliki anggapan yang
serupa pula mengenai segala sesuatu sebelum munculnya Protestantisme dan sesudah zamannya para
rasul, karena latar-belakang sejarahnya yang memang merupakan protes terhadap Gereja Roma Katolik.
Dan segala sesuatu sebelum munculnya Reformasi Protestan dianggap masih termasuk dalam Zaman
Kegelapan. Dalam cara pandang yang demikian ini tentulah orang hanya melihat Kekristenan sebagai
termasuk dalam Katolik Roma atau jika tidak pasti itu termasuk dalam salah satu denominasi-denominasi
Protestan. Itulah sebabnya banyak orang tak dapat meletakkan keberadaan Gereja Rasuliah Purba yang
hanya satu itu secara tepat dalam spektrum Roma Katolik atau Protestan ini.

Gereja Kristus yang Rasuliah dan hanya satu itu bukan bagian dari sejarah Gerakan Reformasi, karena itu
harus berasal dari jaman purba dari awal Kekristenan itu sendiri Itulah sebabnya Gereja Rasuliah Purba
itu bukan termasuk denominasi Protestan. Juga Gereja Purba yang Rasuliah itu tak pernah merupakan
bagian sejarah dan pemikiran yang mempengaruhi benua Eropa Barat yang sangat besar dipengaruhi oleh
ajaran Santo Agustinus, filsafat Skolastikisme sebagaimana yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas
dalam Gereja Roma Katolik, dan yang kemudian juga dikembangkan oleh Martin Luther dan Calvin dalam
sejarah Protestantisme. Yang juga dipengaruhi oleh pemusatan lembaga kepausan, sejarah Rennaisance,
Pencerahan, Reformasi Protestan dan Kontra-Reformasi Roma Katolik serta Revolusi Perancis. Dan oleh
pengaruh-pengaruh itu munculnya pemahaman-pemahaman Iman Gereja Barat baik yang berpusat di
Roma maupun dalam komunitas Protestan. Karena Kristus adealah orang Yahudi dan para RasulNya juga
orang-orang Yahudi, mereka berasal dari Timur Tengah, bukan dari Eropa. Maka Gereja yang Rasuliah
pastilah berasal dari Timur Tengah ini juga.

Maka Gereja Rasuliah ini tak turut ambil bagian dari sejarah Gereja Barat itu, sehingga bukan merupakan
bagian dari Gereja Roma Katolik ataupun komunitas Protestan modern. Jadi bukan termasuk kategori
Gereja Barat. Apalagi secara geografis yang dimaksud Gereja Barat adalah wilayah Gereja sekitar Eropa
Barat, baik sekitar daerah Mediterania maupun daerah-daerah Skandinavia. Sedangkan secara etnis yang
termasuk dalam lingkup Gereja Barat adalah bangsa-bangsa Latin (Itali, Spanyol, Perancis) dan bangsa-
bangsa Anglo-Saxon (Jerman, Belanda, Inggris) serta bangsa-bangsa Skandinavia (Denmark, Swedia,
Skandinavia). Dan jika kita masukkan aliran-aliran Protestan, maka termasuk pula bangsa Amerika dan
Kanada. Padahal jika kita lihat dalam Perjanjian Baru umat dalam Gereja Purba itu adalah bangsa Syria,
Yahudi, Etiopia, dan Yunani, sehingga Gerejanya bukan termasuk Gereja Barat baik secara geografis, etnis
maupun historis dan aqidahnya. Gereja Rasuliah Purba inilah yang disebut Gereja Orthodox dan berasal
dari zaman awal munculnya Kekristenan itu sendiri. Gereja Orthodox adalah Gereja Purba yaitu Gereja
Perjanjian Baru itu sendiri yang masih hadir di dunia ini tanpa berubah baik dalam ajaran, ibadah, maupun
ethos dan cara pemerintahan Gerejanya sejak zaman para Rasul itu sendiri. Sejarah Gereja Orthodox lebih
berlatar-belakangkan zaman Patristik Purba, Zaman Konsili-Konsili Ekumenis dalam lingkup Kerajaan
Byzantium, Munculnya Islam, Penyebaran ke Eropa Timur dan Rusia, Penjajahan Turki, Penyerangan
Bangsa Tartar, Penjajahan Komunis, Kemerdekaan negara-negara Balkan, dan sampai kepada zaman
modern ini.

Yang ikut ambil bagian dalam latar-belakang sejarah Gereja Orthodox di Timur ini adalah Gereja-Gereja
Timur lainnya yaitu Gereja-Gereja yang disebut Monofisit atau Oriental Orthodox atau Non-Kalsedon
(Koptik, Syria-Yakobit: di Indonesia ini dipromosikan dengan Nama Kanisah Orthodox Syria oleh
“YAYASAN Study Orthodox Syria” pimpinan sdr. Bambang Noorsena S.H. yang tadinya adalah mantan
anggota Gereja Orthodox Indonesia; kemudian Armenia, Ethiopia, dan Thomas India) serta Gereja yang
disebut Nestorian (“Gereja Timur Assyria”, “Pre-Efesus”).
Istilah “Orthodox” bukanlah nama aliran Gereja, karena sebenarnya Gereja Orthodox tak
mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani “orthos = lurus, benar” dan “doxa =
pengajaran, pendapat, kemuliaan.” Jadi “orthodoxa” artinya adalah “ajaran yang lurus.”

Untuk mengetahui Gereja Orthodox ini secara baik kita harus melacak 2000 tahun sejarah Gereja itu sampai
kini. Dengan demikian kita dapat melokasikannya secara benar dalam spektrum Roma Katolik-Protestan
itu.

Agar kita dapat mengetahui lebih jelas dan mendalam tentang Gereja Kristus yang sejati ini, marilah kita
membahas mengenai sejarah Gereja Orthodox selama 2000 tahun itu dalam bagiannya yang pertama.
Namun sebelumnya akan kita bicarakan latar-belakang sejarah keselamatan yang direncanakan Allah sejak
zaman Adam sampai dengan datangNya Yesus Kristus di dunia itu. Kemudian pembahasan sejarah itu akan
kita bagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah awal perkembangan Iman Kristen sebagai fondasi dari
keberadaan Gereja Orthodox selanjutnya. Bagian kedua akan membahas masa perumusan theologi Kristen
yang Orthodox mengenai dua-kodrat dari Kristus yang satu dalam Konsili-Konsili Ekumenis Gereja Purba.
Bagian Ketiga akan membicarakan situasi Gereja Orthodox sesudah Konsili-Konsili Ekumenis, sampai
jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki. Bagian Keempat adalah Masa penjajahan Turki atas ummat
Orthodox sampai akhir masa penjajahan Turki itu. Dan Bagian kelima akan membahas situasi Gereja
Orthodox di abad kedua puluh dan kedua puluh satu ini serta munculnya Gereja Orthodox di Indonesia.

Disamping tentang sejarahnya, buku ini dalam bagiannya yang kedua juga akan membahas tentang aqidah
dan keyakinan Iman Gereja Orthodox berdasarkan Syahadat (Pengakuan Iman ) Nikea, yang dirumuskan
pada Konsili Ekumenis Pertama tahun 325 dan yang diratifikasikan pada Konsili Ekumenis Kedua tahun
381. Rumusan yang mana mrupakan garis besar dari ajaran Rasuliah sebagaimana yang tercatat dalam
Alkitab dan yang selalu dipercayai oleh Gereja Universal yang Orthodox. Dalam bagian tentang aqidah atau
pengajaran dan keyakinan iman itu pembahasan akan dibagi dalam bagian-bagian mengenai : Allah, karya
Allah, Ciptaan: Malaikat, Iblis dan roh-roh jahat, serta penciptaan manusia. Kemudian dilanjutkan dengan
pembahasan mengenai Yesus Kristus dan karyaNya, makna keselamatan yang diakibatkan oleh karya
Yesus Kristus, serta Roh Kudus dan karyaNya, termasuk makna Gereja, sakramen-sakramen, kehidupan
sesudah mati dan hari kiamat yang ditandai dengan dengan kedatangan Yesus Kristus yang kedua untuk
menegakkan Kerajaan yang kekal.

Bagian yang ketiga dari pembahasan buku ini adakah mengenai kehidupan Ibadah dari Gereja Orthodox
itu. Termasuk di dalamnya adalah mengenai simbolisme Gedung gereja Orthodox, simbolisme kedudukan
para rohaniwan Orthodox. Makna Sakramen-Sakramen Gereja Orthodox, Sholat harian tujuh kali sehari,
Puasa dalam Gereja Orthodox serta zakat persepuluhan. Dan tertib-tertib ibadah lainnya, termasuk yang
menyangkut kelahiran, kematian, pengudusan rumah, serta doa-doa yang menyangkut seluruh kebutuhan
kehidupan.

Bagian yang keempat atau yang terakhir dari buku ini akan membahas tentang kehidupan akhlak dan moral
Orthodox sebagai akibat suatu praktek kehidupan yang diakibatkan oleh iman kepada aqidah serta
pelaksanaan ibadah dalam kehidupan.

Dengan demikian buku ini akan menjadi timba yangmenolong orang dapat mengambil air kebenaran yang
sulit dan dalam dari Sumur Kitab Suci, agar orang menemukan kebenaran sejati, dengan demikian
diselamatkan.

Sejarah Gereja Ortodox Sejak Abad Pertama : Zaman Rasul-rasul Sampai Kini

A. Zaman Purba

Masa Pembentukan: Tiga Abad yang pertama : dari Yesus Kristus s/d Konstantinus Agung

Abad 1 s/d Awal Abad 4:


Gereja mulai muncul diatas dunia ini sejak Yesus Kristus diturunkan Allah dari sorga, sebagai Kalimatullah
( Firman Allah ) yang menjelma menjadi manusia ( Yohanes 1:14, Galtia 4:4). Selama lebih kurang tiga
setengah tahun Beliau mengajar dan berkarya, dan berpuncak pada peristiwa sengsara, penyaliban,
kematian, penguburan, kebangkitanNya secara jasmani dari antara orang mati, serta kenaikanNya ke sorga.
Peristiwa sengsara s/d kebangkitan ini akhirnya menjadi isi pokok berita (kerygma) dari para murid
setiaNya yang disebut Para Rasul, yang menyebarkannya sesudah peritiwa turunNya Roh Kudus yang
dijanjikan Almasih atas mereka, pada hari Pentakosta ( Kisah 2). Dan kesengsaraan s/d kebangkitan Sang
Kristus itulah inti Injil, yang semula diberitakan secara lisan.Karena Kristus tak pernah menulis Kitab
ataupun menerima Kitab dari sorga, maka Dia tak meninggalkan Kitab apapun pada para rasulNya ini,
karena Dia sendiri adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah secara lisan itu mula-
mula disebarkan hanya disekitar daerah Palestina saja, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang
baru, yang disebut sebagai : Ekklesia, yang dari sinilah timbul kata Gereja ( berasal dari bahasa Portugis
Igreja, sepadan dengan kata Spanyol : Iglesia, yang jelas berasal dari kata Ekklesia itu).

Para Rasul itu akhirnya menyebar kemana-mana, mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian
ke seluruh Siria, dan Asia Kecil ( kini negara Turki) serta Yunani dan Afrika Utara terutama di Alexandria
(Mesir) dan Karthago ( Libia). Inilah batas sebelah barat dunia Timur pada saat itu. Sedangkan ke Timur
lagi Injil tersebar ke Edesa, Mesopotamia ( Irak, Babilon), dan Persia, yaitu daerah Siria Timur, karena yang
menerima Injil di daerah timur ini adalah suku-suku yang berbahasa Siria, sampai ke India Selatan.
Sedangkan ke Barat lagi Injil diterima di benua Eropa Barat dari Roma di Itali, Spanyol, dan yang nantinya
akan berkembang ke seluruh Eropa.

Dengan demikian kita melihat Injil tersebar dari Timur ke Barat dan di seluruh benua: Asia, Afrika dan
Eropa. Memang Iman Kristen itu pada dasarnya adalah Agama Timur ( Timur Tengah). Pada saat inilah
dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru mulai dituliskan oleh para rasul
sebagai pemimpin Gereja itu kepada Gereja-Gereja ( Roma. Korintus, Galatia, Efesus, dll.) dan para
pemimpin Gereja sebagai murid mereka secara langsung ( Titus, Timotius, Filemon, dll) yang telah mereka
dirikan dan mereka pilih itu. Gereja ( Ekklesia) telah ada lebih dulu sebelum Kitab Suci ( Perjanjian Baru)
dipakemkan. Pada saat ini orang-orang non-Yahudi mulai diterima sebagai anggota ummat Allah, setelah
penyelesaian masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis mengenai kedudukan
Taurat, dalam Rapat Agiung (Konsili) para Rasul yang pertama di Yerusalem (Kisah 15). Konsili segenap
Gereja inilah yang menjadi landasan adanya Konsili-Konsili di sepanjang sejarah Gereja itu. Orang-orang
yang berobat itu hanya perlu beriman kepada Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti
ritus-ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang dipimpin/ digembalakan oleh para
“Presbyter” (“Penatua”) dan “Episkop (“Penilik Jemaat”) –Kisah 20:17,28 -, yang mereka ini menerima
pentahbisan dari para Rasul sendiri ( Kisah 14:23), sebagai mata-rantai pelanjut-ganti pelayanan rasuliah.

Para Rasul sendiri tidak menjadi “Gembala” ( “Episkop/Presbyter”) secara lokal dari Gereja lokal tertentu
secara permanen dimanapun. Masing-masing kelompok ekklesia itu memiliki ciri khasnya dan masalah-
masalahnya sendiri, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Perjanjian Baru. Namun seluruh ekklesia
diapnggil untuk memegang doktrin yang sama dan melaksanakan akhlak hidup dan ibadah yang sama pula.
Pada zaman awal ini Gereja harus menghadapi ajaran sesat pen-Taurat-an Injil yang segera dapat
diselesaikan, serta pe-mythologi-an Injil dalam wujud aliran “gnostikisme” yang hendak mencampur-
adukkan Injil dengan ajaran kafir Yunani-Romawi. Dengan keras para Rasul harus melawan ini
sebagaimana yang kita lihat dari tulisan-tulisan Rasul Yohanes dan Rasul Paulus. Dengan kematian para
rasul semuanya menjadi martyr (syuhada), kecuali Rasul Yohanes yang meninggal karena umur tua, Gereja
berlanjut dipimpin oleh para murid rasul itu.

Penganiayaan yang sudah dimulai oleh Nero pada zaman Rasul Paulus dan Petrus berlanjut sampai abad
kedua. Saat ini Iman Kristen dianggap “Agama Tidak Sah “ (“Religio Illicita”) di seluruh Kekaisaran Roma.
Mereka adalah penjahat dimata pemerintah Roma,karena menolak menyembah kaisar sebagai “tuhan” dan
“ilah”. Sedangkan orang Kristen yang berada disebelah timur Mesopotamia yaitu dibawah Kerajaan Agung
Persia, juga mengalami aniaya karena cemburu dari para pendeta agama Zoroaster, agama resmi negera
Persia. Orang Kristen di Kekaisaran Roma dituduh” memberontak terhadap negera, pembunuh bayi-bayi
dan memakan daging dan minum darah mereka (“ Makan dan Minum Daging dan Darah Anak Manusia”).
Penganiayaan ini bersifat sporadis, mereka tak perlu dikejar-kejar namun jika ketahuan mereka harus
dihukum.

Diantara para pemimpin yang menderita dari aniaya abad ini adalah : Ignatius dari Antiokia, pengganti
ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria, sebagai Episkop ( 110 Masehi), Polykarpus, Episkop dari
Smyrna, yang adalah murid Rasul Yohanes ( 156 Masehi) dan Yustinus Martyr(Syuhada). Yustinus Martyr
ini memiliki seorang murid dari Syria bernama Tatianus. Dia pulang ke Syria setelah kematian Yustinus
dan menterjemahkan Injil dari bahasa asli Yunani ke bahasa Syria, dalam bentuk yang diurutkan sesuai
dengan urutan cerita, bukan empat bentuk terpisah seperti yang kita kita kenal, dan terjemahan ini terkenal
sebagai “Diatessaron” , dan inilah Injil yang digunakan oleh Gereja Syria untuk waktu yang lama sampai
akhirnya diganti dengan keempat Injil seperti seluruh Gereja lainnya, dalam bentuk terjemahan “Peshitta”,
yang menjadi Kitab Suci Gereja Syria sampai sekarang.

Disamping itu Gereja Syria menggunakan Perjanjian Lama bukan dari terjemahan Ibrani atau Septuaginta,
namun dari Targum Aramia dari Perjanjian Lama yang berlaku di Babilonia. Ajaran Tatianus ini
dipengaruhi oleh aliran gnostik “enkraitisme” yang menekankan pelajangan, dan asketisisme. Para
pemimpin Kristen awal ini meninggalkan tulisan-tulisan yang bersama dengan “Didakhee”, “Surat
Kepada Diognetus”, “Surat-Surat Klemen dari Roma” , “Surat Barnabas” (bukan Injil Palsu Barnabas
yang dipromosikan Islam!!!), “Gembala Hermas” , serta tulisan-tulisan pembelaan iman (apologetik)
dari Athenagoras dari Athena, Melito dari Sardis, serta Theofilus dari Antiokia serta dari theoloog
yang terbesar dari abad kedua Ireneus dari Lyons, semuanya tadi memberikan gambaran yang jelas sekali
mengenai iman dan kehidupan dari Gereja Perjanjian Baru yang berlanjut sampai abad kedua itu.

Perkembangan yang paling penting pada abad kedua ini adalah munculnya para pembela iman
( “apologist” ), yang membela Iman Kristen dari serangan Agama Yahudi, Agama Kafir Berhala, serta Bidat-
bidat yang muncul di sekitar Gereja. Juga berkembangnya Aqidah (Doktrin) Gereja serta permulaan
Theologia sesudah zaman Rasuliah, ditegakkannya pemerintahan Gereja bagi masing-masing jemaat lokal
yang dipimpin oleh Episkop (”Penilik Jemaat” ), Presbyter(“Penatua”) dan Diakon. Zaman ini pula
fondasi pertama dari Ibadah dan Liturgi Kristen serta kehidupan Sakramental Gereja yang berlandaskan
dari Ibadah Israel namun yang sudah terpisah dari Synagoga (Rumah Ibadah Yahudi) dan mulainya
pembentukan Kitab Suci dari Gereja Perjanjian Baru itu terjadi.

Pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua banyak tulisan palsu mengenai Kristus bermunculan.
Tulisan-tulisan ini disebut tulisan-tulisan ‘apokrifa” ( jangan dikacaukan dengan “Anaginoskomena’ dari
Perjanjian Lama!!) serta tulisan-tulisan “pseudopigrafa” . Biasanya tulisan-tulisan memakai nama salah
seorang rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Yesus Kristus, kehidupan
Perawan Maryam dan kegiatan-kegiatan karya para rasul. Dan sebagaian daripadanya menjadi kisah dalam
Al-Qur’an terutama tentang masa kecil Kristus. Bersama dengan itu, muncul pula aliran “gnostikisme” ,
yaitu suatu bidat Kristen yang mengubah iman Kristen menjadi semacam ajaran kebatinan.

Dalam melawan ajaran bidat gnostik inilah Gereja yang Rasuliah itu menyebut ajaran asli yang rasuliah itu
sebagai ajaran (“doxa”) yang “lurus” (“orthos”) , Ortho+ doxa = Orthodox.

Sedangkan ajaran “gnostik” itu sebagai ajaran (“doxa”) yang berbeda atau menyimpang
(“heteros”), hetero+ doxa = Heterodox. Akibat dari melawan ajaran gnostik inilah munculnya theologia
dari para “apologis” (“pembela-iman”). Jauh di sebelah timur di dearah Syria, Bardaisan adalah penulis
yang terkenal mengenai masalah theologi. Namun dia mencampur-adukkan Injil dengan astrology dan
mythologi, dan ajarannya tentang Allah kedengaran sangat aneh. Allah adalah satu yaitu Bapa, Roh Kudus
adalah berjenis wanita sebagai “Bunda Kehidupan”, dan Anak Allah adalah keturunan dari Bapa dan Roh
Kudus, Sang Bunda Kehidupan.Sehingga akhirnya Bardaisan dari Syria inipun dikucilkan dari Gereja.

Akibat dari ajaran Gnostik ini pada para apologis adalah penekanan “ mata-rantai rasuliah” (“suksesi
apostolik”, “silislah rasuliah”) sebagai penjamin ajaran yang benar dan tak terputus dari para rasul, yang
diterus-sampaikan secara tak terputus dari gereja kepada gereja, dari generasi kepada generasi, dari
tempat ke tempat, dan penerus-sampaian tanpa putus dari zaman rasuliah ini disebut sebagai “Paradosis”
atau “Traditio”.
Dan penyampaiannya itu dilakukan melalui pentahbisan dari para Episkop yang dapat dilacak dari mata
rantai pentahbisan sejak zaman rasul-rasul. Dan para Episkop ini pengajaran dan prakteknya itu identik
antara satu dengan yang lain, dan secara bersama ajaran mereka itu identik dengan ajaran para rasul Yesus
Kristus sendiri. Sebagai akibat yang lain, Gereja mulai kokoh dalam keputusannya tulisan-tulisan mana
yang menjadi bagian kanon Kitab Suci berdasarkan :

1. tulisan-tulisan itu harus berasal dari zaman rasul.

2. harus ditulis oleh rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka

3. harus sesuai dengan ajaran rasuliah tanpa putus yang disampaikan sebagai paradosis dalam
Gereja

4. harus digunakan secara merata di seluruh gereja sejak awal

5. harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik.

Dari kriteria inilah akhirnya tersaring dari tulisan-tulisan rasuliah purba itu 27 kitab yang akhirnya kita
kenal sebagai “Kitab Suci Perjanjian Baru” itu. Dan Kitan Suci Perjanjian Baru inilah yang berisi “Berita
Gembira” (“Evanggelion”, “Evanggel”, “Injil”) tentang Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia
itu. Karena memang Injil itu pada mulanya bukanlah suatu Kitab macam apapun namun peristiwa dan
karya Almasih yang diberitakan secara lisan oleh para muridNya yang diberi gelar
sebagai “apostolos” (“orang yang diutus” atau “rasul”) itu.

Dalam tulisan-tulisan para apologis, para martyr (syuhada) dan para kudus dari abad kedua ini kita ketahui
bahwa masing-masing jemaat Kristen lokal itu dipimpin oleh seorang Episkop/Uskup ( Penilik Jemaat)
yang dilaksanakan oleh para Presbyter/ Imam ( “Penatua”) dan dilayani oleh Para Diakon. Terutama dalam
tulisan-tulisan Ignatius ( Magnesia 6:1, Filadelfia 4, Smyrna 8:2). Ignatius juga mulai menggunakan istilah
“Katholik” untuk menyebut sifat Gereja. Ini berasal dari kata “ Kath’ (menurut, sesuai dengan) dan “holon “
( sepenuhnya, kepenuhan). Ini adalah kwalitas sifat yang menjelaskan bagaimana Gereja itu, jadi bukan
nama suatu agama, misalnya:Roma Katolik, Anglo-Katolik, Katolik Bebas, Katolik Lama,dll. Dan kata ini
(Katholik =Kath + Holon) bermakna kwalitas sifat gereja itu adalah penuh, sempurna, lengkap, utuh, tanpa
kekurangan apapun di dalamnya dari kepenuhan kasih-karunia, kebenaran dan kekudusan Allah.
Demikianlah Gereja Rasuliah Perjanjian Baru pada abad yang kedua itu mulai menyebut dirinya sebagai
Gereja yang “katholik” artinya bukan sekte-sekte yang main comot sana-sini dari kepenuhan dan keutuhan
ajaran Rasuliah itu. Demikian juga Gereja purba itu disebut sebagai “Orthodox” artinya bukan yang
menyimpang dari ajaran Rasul tadi.

Dalam “Didakhee” dan “Pembelaan dari Yustinus Martyr” dan “Ireneus” ditemukan juga penjelasan
mengenai bagaimana ibadah Kristen zaman abad kedua itu dilakukan, terutama ibadah hari Minggu yang
berpusat pada kotbah dan Perjamuan Kudus, dan juga tentang baptisan.

Menginjak pertengahan abad ketiga, yaitu tahun 249 Kaisar Desius naik tahta, dia mengadakan
penganiayaan secara universal, dan penganiayaan itu dilanjutkan sampai zaman Kaisar Valerianus (253-
260). Orang Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “tuhan” dan “ilah”,
para rohaniwan Kristen harus dikejar dan dibunuh, harta milik Gereja harus disita. Baru di zaman
Gallenius, anak dari Valerianuslah penganiayaan dihentikan .Pada saat itu perkembangan yang luar biasa
terjadi dalam Gereja. Namun penganiayaan yang berat itu mengakibatkan suatu krisis besar dalam Gereja.
Timbul pertanyaan dalam Gereja mengenai bagaimana memperlakukan orang-orang yang selama masa
aniaya itu karena diancam rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, mereka ini disebut kaum
“lapsi”. Ada yang melarang mereka masuk Gereja lagi, ada yang bersikap agak lunak. Akibatnya terdapat
beberapa kelompok garis-keras yang menganggap Gereja terlalu lunak akan masalah para “lapsi” itu yang
memisahkan diri dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang “Orthodox” dan “Katholik” itu.

Diantara mereka yang memisahkan diri dari Gereja adalah Tertulianus (c. 220 ), penulis agung dan peletak
dasar Theologia Latin di Gereja barat dari Afrika utara. Dia menggabung dengan gerakan bidat yang
didirikan Montanus yang telah mulai pada akhir abad kedua, dan menyatakan diri sebagai Gereja “Nubuat
Baru” dari Roh Kudus yang lebih sempurna dari Gereja ‘Perjanjian Kedua” ( Perjanjian Baru) dari Kristus.
Ciri gerakan Montanisme ini adalah penekanan pada “karunia lidah” dan “nubuat-nubuat” serta penekanan
bahwa Kerajaan Seribu Tahun akan segera datang di pulau Frigia, Asia Kecil.

Pembela agung Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik ini pada saat itu adalah Kiprianus dari
Karthago (meninggal tahun 258). Dia meninggal sebagai Martyr setelah membela Gereja Rasuliah yang
Orthodox dan Katholik itu melawan aliran garis keras yang memisah dari Gereja karena masalah kaum
“lapsi” tadi. Aliran yang dilawan dalam tulisan-tulisan Kiprianus ini adalah aliran “Novatianisme” yang
didirikan oleh “Novatianus” yang berada di Roma. Novatianus menyebut alirannya sebagai “ Gereja Murni”.
Kiprianus membela Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu dengan menekankan perlunya “mata-
rantai rasuliah” dalam ajaran dan “mata-rantai rasuliah” dalam pentahbisan para episkop dalam melawan
apa yang disebut sebagai gereja-gereja “murni” yang hanya bersifat rohani yang abstrak dan tak nampak
mata dari orang yang merasa dirinya lebih baik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan Katholik itu,serta
yang mengangkat-angkat diri sendiri ini. Dia menekankan bahwa Gereja Kristus itu ada bagi penyembuhan
orang berdosa, dan Kiprianuslah yang mengatakan juga bahwa “extra ekklesia nulla salus est “ (diluar
Gereja,- yaitu diluar persekutuan kongkrit dari ummat yang percaya secara pribadi kepada Kristus
dibawah pimpinan rohani Episkop dan berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja perjamuan kudus dan
pemberitaan firman oleh presbyter – tidak ada keselamatan ).

Abad ketiga ini menyaksikan juga perkembangan theologi secara formal dengan didirikannya sekolah
theologia di Alexandria, Mesir oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( meninggal kira-kira
tahun 215 ). Yang akhirnya dikepalai oleh seorang penulis, sarjana, dan theoloog termasyhur: Origenes (
meninggal tahun 253). Theologi Alexandria ini menekankan bahwa filsafat Yunani yang non-Kristen itu
dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Injil. Dan ciri khas dari pendekatan Alexandria ini adalah
tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedangkan dalam tradisi Syria-Antiokhia yang tak lama
kemudian akan berkembang adalah tafsiran harafiah berdasarkan tata-bahasa dan sejarah penulisan Kitab
Suci.

Kedua pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik, pada abad-abad berikutnya. Karya Origenes
itu sangat luar biasa dan tak terhitung jumahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian sistimatis
dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia
para bapa-bapa Gereja Yunani pada abad-abad berikutnya. Namun demikian secara ajaran banyak
pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, karena tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili
Ekumenis V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja.

Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan Tertulianus, Kiprianus,
Klemen dan Origenes adalah Dionysius dari Alexandria ( wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat
235) Gregorius Pelaku Mukjizat di Kappadokia ( wafat 270) dan Methodios dari Olympus ( wafat 311)
Orang-orang ini semuanya memperkembangkan theologia Kristen Orthodox terutama meletakkan
landasan bagi pembahasan tentang Allah yang Esa dalam hubunganNya dengan Kalimatullah dan Rohullah
sendiri yang terkenal sebagai ajaran Tritunggal Kudus yang dalam abad berikutnya akan menjadi
pembahasan hangat dalam Gereja. Paulus dari Samosata dan Lukianus (Lusian) dari Antiokia terkenal
akan ajaran bidatnya mengenai sifat ke-Tritunggal-an Allah.

Mereka ini hidup pada akhir abad ketiga. Dari abad ketiga ini kita juga mendapatkan tulisan-tulisan yang
menolong kita untuk melihat kehidupan liturgis dan kanonik dari Gereja Rasuliah yang Orthodox dan
Katholik ini pada abad ketiga itu, yaitu: Pengajaran-Pengajaran Para Rasul dari Siria serta Tradisi
Rasuliah karya Hippolytus dari Roma ( wafat tahun 235). Tulisan yang pertama itu memberikan
peraturan-peraturan mengenal jabatan hirarkis serta praktek-praktek sakramental dalam Gereja Syria,
serta menjelaskan pertemuan liturgis jemaat. Dan tulisan kedua menjelaskan hal yang sama yang berlaku
di Gereja Roma dengan lebih panjang dan detail.

Abad keempat dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan kepada Gereja oleh
Kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. Setelah
surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasan dalam Kerajaan Romawi. Pada tahun
312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan Maxentius. Sebelum peperangan di Jembatan
Milvianus di Roma, Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib Bersinar di langit dengan
tulisan: Dengan Tanda Ini, Kalahkan. Dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengenakan tanda
salib ini pada perisai dan jubah mereka, Konstantinus memenangkan peperangan itu. Konstantinus segera
bergerak untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen, serta menunjukkan
kecenderungannya kepada Iman Kristen. Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota
di Byzantium bagi ibu-kota yang baru dari Kerajaannya itu, dan kota itu
disebut “Konstantinopel“ (kini: ”Istambul” , di Turki) untuk menghormatinya. Konstantinus sendiri baru
dibaptiskan diatas ranjang menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu
Heleni, dia menemukan Salib Asli Kristus di Yerusalem, serta keduanya diakui sebagai orang suci dalam
Gereja Orthodox sampai kini.

Iman Kristen diakui sebagai agama resmi Kerajaan Byzantium pada tahun 380, oleh ketetapan
Kaisar Theodosius. Dengan demikian Kekaisaran Romawi terbagi dalam dua bagian: Romawi Barat
berpusat di Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Pembagian Kerajaan menjadi Barat dan
Timur ini, akhirnya membentuk perkembangan wilayah Gereja menjadi Gereja Barat berpusat di Roma dan
Gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem. Sementara itu ummat
Kristen Syria yang tinggal di Kekaisaran Persia, makin mengalami aniaya karena dicurigai sebagai antek
musuh Kerajaan Persia, karena sekarang Kerajaan Romawi musuh bebuyutan Persia, telah menjadi
Kristen: Kerajaan Byzantium.

B. Zaman Konsili
Masa Konsili –Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah Yang Satu dan Orthodox : abad ke IV ( tahun
325) s/d abad ke VIII (tahun 787).

Pada saat pemerintahan Konstantinus ini Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas dari
aniaya dari luar. Namun ketenteraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal
dari dalam. Pertama adalah munculnya aliran perpecahan Donatisme di Afrika Utara, yang dipimpin oleh
Donatus, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “lapsi” pada saat
penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantinus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri, dia menggunakan kekuatan militer untuk memihak, pada pertama kalinya pihak
Donatis, dalam memaksakan keputusannya. Perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap-punahnya
Gereja Afrika Utara (Libia, Moroko, Aljazair) yang dulu pernah jaya.

1. Konsili Agung Ekumenis Pertama ( 325 Masehi) di Nikea dan Kedua (381) di Konstantinopel

Kemudian muncul masalah dari Alexandria, Mesir. Arius seorang presbiter mengajarkan bahwa Allah yang
Esa itu hanya Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia Yesus Kristus, adalah
makhluk pertama dan yang terluhur yang diciptakan Allah dalam wujud roh. Dibantu oleh ciptaan
pertama ini Allah menciptakan ciptaan yang lain. Dia bukan Firman Allah (Kalimatullah) yang
kekal yang berada satu di dalam Allah sejak kekal. Ajaran ini jelas bertentangan dengan ke-Esa-an Allah,
sebab Allah Yang Esa, tak pernah dan tak mungkin dibantu oleh makhluk siapapun dalam mencipta, karena
Dia mencipta langsung melalui FirmanNya sendiri yang berada satu di dalam DiriNya. Ajaran ini jelas
mempersekutukan Allah dengan makhluk, inilah ajaran musyrik. Ajaran Arius yang disebut Arianisme ini
(yang di zaman modern ini dimunculkan kembali oleh Saksi-Saksi Yehuwah) menimbulkan keresahan
dalam Gereja.

Akhirnya sebagaimana di zaman Para Rasul, Gereja Rasuliah Purba yang Orthodox pada abad keempat
inipun menyelesaikan masalah ini dalam Konsili, yang diadakan di kota Nikea pada tahun 325, dipanggil
oleh raja Konstantinus. Seluruh pemimpin Kristen (dihadiri 318 Episkop) dari segenap “Oikumene” (
“dunia yang beradab”) dari Gereja yang satu dan tidak terpecah-pecah itu, berkumpul mengadakan Konsili
Agung yang pertama ini. Itulah sebabnya Konsili ini disebut “Konsili Ekumenis.” Setelah melalui doa dan
pembahasan theologis yang mendalam berdasarkan iman rasuliah, Konsili menemukan rumusan
berdasarkan data Kitab Suci bahwa“Kalimatullah” (Logos), Firman, atau Anak Allah itu kekal dan ilahi,
Dia diperanakkan(dikeluarkan dari dalam dzaat-hakekat) dari Bapa sendiri sejak kekal, bukan dijadikan
dan bukan diciptakan. Dia berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa yang satu itu. Dia adalah ”homo-
ousios” ( = satu dzat-hakekat, satu essensi) dengan Bapa. Dengan demikian Dia adalah“Allah Sejati” ,
karena Dia adalah Firman Allah/Kalimatullah yang sejati, yang keluar dari “Allah Sejati” (Sang
Bapa), yang melaluiNya (sebagai Firman Allah) segala sesuatu dijadikan oleh Allah. Firman Allah yang
kekal dan yang sama inilah, tanpa meninggalkan kesatuannya dalam Dzat-Hakekat Allah telah diutus turun
ke bumi oleh Allah, mengambil daging kemanusiaan, dan lahir sebagai manusia dari Sang Perawan Maryam
oleh Kuasa Roh Kudus, sebagai manusia Yesus Kristus (Yoshua Ha-Masiah, Isho de-Mesiha, Isa Almasih):
Mesias Israel dan Juru Selamat dunia. Namun keputusan Konsili ini tidak segera diterima oleh seluruh
Gereja sampai masa waktu yang lama. Pertikaian mengenai pribadi Kristus terus berlanjut, sehingga
banyak konsili-konsili lokal diadakan untuk membahas masalah ini. Pihak Arianisme mendapat dukungan
kuat dari kekuasaan pemerintah, sedangkan para pembela Iman Orthodox sebagaimana yang telah
dinyatakan dalam Konsili Nikea itu sangat dianiaya dan dibunuh oleh pemerintah dan pendukung-
pendukung bidat Arianisme ini.

Masalah ini berlanjut sampai tahun 381, ketika diadakan Konsili Ekumenis yang kedua di
Konstantinopel, untuk menyelesaikan masalah bidat baru yang dimunculkan oleh Makedonius, yang
disebut bidat Makedonianisme. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus yang adalah Roh Allah
sendiri itu bukan ilahi dan tidak kekal. Dia hanya daya-aktif Allah saja (seperti yang juga diajarkan Saksi-
saksi Yehuwah). Berdasarkan data-data Kitab Suci dan Iman Rasuliah yang selalu dipelihara Gereja
Orthodox ini, maka Konsili mendeklarasikan bahwa Roh Kudus itu adalah ilahi (“Tuhan”) , yang “keluar
dari Bapa” berarti berada satu di dalam Dzat-Hakekat Bapa bersama Firman Allah sendiri,
sehingga “bersama Bapa dan Putra” artinya sebagaimana Putra sebagai Firman Allah sendiri itu berada
satu dalam Hakekat Bapa, demikianlah Roh Kudus sebagai Roh Allah sendiripun satu bersama kesatuan
Putra dalam Bapa, dalam satu Hakekat Ilahi yang sama “disembah dan dimuliakan” . Demikianlah
keilahian Firman Allah/Putra dan Roh Allah/Roh Kudus ditekankan namun ke-Esa-an Allah tak dilanggar.
Karena baik Firman maupun Roh itu berada satu di dalam hakekat Allah (Bapa) yang hanya satu itu. Pada
saat inilah rumusan Konsili Pertama dan Kedua ini baru diteguhkan kembali menjadi satu rumusan
Pengakuan Iman (Syahadat), yang menjadi Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan
nama “Pengakuan Iman (Syahadat) Nikea”.

Para tokoh spiritual (bapa-bapa Gereja) yang sangat berjasa membela Iman Rasuliah yang Orthodox,
menentang Arianisme dan Makedonianisme pada saat ini adalah Bapa “Aghios Athanasius
Agung” Episkop dari Alexandria,Mesir (meninggal tahun 373) yang banyak mengalami aniaya dari
kelompok Arianisme dan pemerintah, serta tiga Episkop dari Kappadokia (Asia Kecil) Bapa “Aghios
Basilius Agung” (wafat: 379), saudara laki-lakinya Bapa“Aghios Gregorius dari Nyssa” serta sahabat
mereka berdua Bapa “Aghios Gregorius Nazianzus Pakar Theologia” (wafat: 389). Mereka ini banyak
menderita aniaya dari pemerintah dan pengikut Arianisme, namun tanpa takut mereka menjelaskan Iman
Kristen yang sejati tentang Keilahian Kristus dan Roh Kudus di dalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa
(Bapa), yang sampai sekarang tetap menjadi standard aqidah ajaran dan theologia Gereja Orthodox.

Pada saat pertikaian Arianisme ini Gereja tidak berhenti dalam menyebarkan Injil, sehingga seorang
rohaniwan yang bernama Ulfilas dikirim dari Gereja Timur di Konstantinopel untuk menginjili suku-suku
bangsa Jerman dan menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa itu. Namun karena yang mendapat
dukungan pemerintah saat ini adalah kelompok Arianisme, yang diajarkan kepada suku-suku Jerman ini
adalah theologia Arius mengenai Kristus. Baru kemudian ketika suku-suku yang sudah menjadi Kristen
namun yang mengikuti bidat Arianisme ini mulai menyerang Roma, mereka secara pelan-pelan mengikuti
ajaran Orthodox yang waktu itu dipelihara oleh Gereja Roma juga, sehingga pada abad-abad kemudian
mereka menjadi Roma Katolik. Dalam Konsili Nikea itu ditetapkan sebagai “Hukum Kanon” bahwa
Gereja Roma itu menjadi yang utama untuk seluruh Gereja Barat di Eropa barat,
Gereja Alexandria untuk seluruh Afrika, dan Gereja Antiokhia untuk Syria dan seluruh daerah Timur,
jadi termasuk Gereja di Persia dan India (Kanon 6), dan keluhuran Gereja Yerusalem sebagai asal-usul
munculnya Iman Kristen diakui (Kanon 7). Sedangkan dalam Konsili kedua di Konstantinopel suatu Hukum
Kanon ditegaskan bahwa: ”Episkop Konstantinopel akan memiliki prerogatif kehormatan sesudah
Episkop di Roma, karena Konstantinopel adalah Roma Baru” ( Kanon 3).

Masing-masing pusat Kekristen yang berjumlah lima (Pentarkhi) ini dipimpin oleh Episkop yang bergelar
Paus,dari kata Pappas = Bapak (terutama Roma dan Alexandria) atau Patriarkh, dari kata Pater =Bapak,
Arkhi = Pemimpin. Kanon tentang Konstantinopel ini nantinya menjadi suatu persaingan kedudukan
antara Gereja Alexandria yang tadinya berada di tingkat kedua sesudah Roma, dan sekarang
Konstantinopel sebagai Ibukota Kerajaan yang baru harus menduduki tempat itu. Pada saat ini di Antiokhia
juga telah berkembang tradisi theologia yang berbeda pendekatannya dari Alexandria. Jika Alexandria
menekankan “alegori”, maka Antiokhia lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan
kesejarahan” atas Kitab Suci. Sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus,
Antiokhia lebih menekankan kemanusiaan Kristus. Sayang Siria dan Mesir harus konflik nantinya, padahal
keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang utuh bagi pendekatan atas Kitab Suci.

Pada saat ini Gereja Syria di Persia sedang mengalami penganiayaan yang hebat di bawah para shah (raja)
Persia ( 340-363, 379-401). Pada abad keempat ini terjadi juga perkembangan liturgis, yaitu dari Liturgi
Yakobus yang awal yang berasal dari Yerusalem danm Siria maka doa-doa telah ditambahkan ke dalamnya
jadilah doa-doa Liturgi Aghios Basilius Agung dan Liturgi Yohanes Krisostomos (wafat: 407), yang
sampai sekarang menjadi Liturgi-Liturgi utama Gereja Orthodox. Dari kotbah katekisasi dari Aghios
Yohanes Krisostomos dan Aghios Kyrillos dari Yerusalem (wafat: 386) terlihat bahwa Sakramen
Baptisan dan Krisma (Pengurapan) yang dirayakan pada abad keempat itu hampir tak berubah sedikitpun
tetap dilaksanakan oleh Gereja Orthodox masakini. Pada saat ini Puasa Paskah 40 hari (Catur
Dasa) dan Perayaan Paskah seperti yang tetap dirayakan oleh Gereja Orthodox masakini itu sudah betul-
betul mapan. Disamping itu kita juga menyaksikan pada abad keempat ini perkembangan kehidupan
kerahiban yang sedang memekar terjadi di Mesir - dipimpin oleh Aghios Antonius Agung – dan di Syria
(rahib-rahib Syria inilah yang nantinya banyak dijumpai Nabi Muhammad di padang-padang gurun dalam
perjalanan perdagangannya dari Mekah ke Syria, dan banyak mempengaruhi pendapatnya mengenai
Kekristenan dan keagamaan pada umumnya) serta Eropa Barat. Diantara para rahib suci dari zaman ini
yang berasal dari Timur adalah: Paulus dari Thebes (Mesir), Pakhomius ( Mesir), Hilarion, Sabbas
(Palestina), Makarius dari Mesir, Epiphanius dari Siprus, dan Efraim dari Syria. Sedangkan rahib suci dari
Barat pada saat ini adalah: Yerome, Yohanes Kassianus, serta Martinus dari Tour. Para Episkop Suci
terkenal dari abad keempat ini adalah: dari Timur Aghios Nikholas dari Myra di Lysia ( yang budaya Barat
mengubah dia menjadi tokoh mythologis “Santa Claus” /Sinter Klaas), Aghios Spyridon, dan dari Barat
adalah Santo Ambrosius dari Milano, Itali.

2. Konsili Agung Ekumenis Ketiga (431) di Efesus dan Keempat (451) di Kalsedonia.

Sejak keputusan Konsili kedua tentang kedudukan Konstantinopel. Alexandria selalu berusaha untuk
menyaingi Konstantinopel. Secara kebetulan pada abad kelima ini yang menjadi Patriarkh di
Konstantinopel adalah seorang Syria dari Antiokhia, bernama: :Nestorius. Sebagai seorang Syria maka
tradisi theologia Antiokhialah yang digunakan untuk memahami Kristologis, yaitu tradisi yang
menekankan kemanusiaan Kristus. Maka Nestorius lebih menekankan kemanusiaan Kristus, sehingga
menolak gelar “Theotokos” ( “Sang Pemberi Lahir Secara Daging kepada Allah” yaitu Kalimatullah yang
menjelma) yang telah beratus tahun digunakan di Gereja untuk menyebut Maryam. Menurut Nestorius
yang dilahirkan Maryam hanyalah seorang “manusia” yang di dalamnya “Kalimatullah/Firman Allah” itu
bersemayam, jadi bukan Kalimatullah/Firman Allah itu sendiri yang menjadi manusia, bertentangan
dengan apa yang telah diakui dalam kedua konsili sebelumnya. Kesempatan ini digunakan oleh Gereja
Alexandria sekaligus untuk menghantam tradisi theologia Antiokhia dan kedudukan Konstantinopel yang
dianggap menggeser kedudukan Alexandria itu, melalui Aghios Kyrillos dari Alexandria. Dia ingin
menjatuhkan Nestorius sebagai Patriarkh Konstantinopel, dengan demikian mempermalukan
Konstantinopel, serta melawan pemahaman theologianya dengan demikian menentang pemahaman Syria,
Antiokhia, yang kebetulan kali ini Kristologi Nestorius itu memang tidak Alkitabiah, dan tidak rasuliah. Dan
inilah kesempatan yang baik.

Jadi sebenarnya konflik ini adalah adalah konflik antara Mesir dan Syria (bukan dengan unsur Yunani
dalam Gereja Timur itu). Aghios Kyrillos menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam
sebagai “Theotokos” ,karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telah
menjadi manusia” (Yohanes 1:1,14). Jadi Firman Allah itu sendirilah yang dilahirkan dalam penjelmaanNya
sebagai manusia, maka Maryam memang melahirkan Firman Allah dalam penjelmaanNya sebagai manusia.
Jadi Maryam memang “Theotokos” . Para pengikut Nestorius menolak tunduk dan bertobat pada
peringatan Aghios Kyrillos ini. Sehingga dipimpin oleh Aghios Kyrillos sendiri pada tahun 431, di Efesus,
sejumlah kecil Episkop mengadakan Konsili untuk meneguhkan ajaran Gereja Alexandria serta menolak
ajaran theologia Syria, dari Nestorius ini. , dimana ditegaskan bahwa Maryam adalah Theotokos, karena
yang dilahirkan Maryam tak lain adalah “Firman Allah” yang sama dan yang satu yang menjelma menjadi
manusia. Baru pada tahun 433 sajalah keputusan Konsili ini diterima oleh segenap Episkop Timur, dan
akhirnya diakui sebagai Konsili Ekumenis Ketiga.

Sementara itu Gereja Syria di Persia akibat penganiayaan para shah yang begitu kejam akibat provokasi
dari para Majus atau pemimpin Agama Zoroaster penyembah api itu, karena dicurigai menjadi antek
Byzantium yang beragama Kristen, musuh bebuyutan Persia itu, memutuskan untuk memiliki Patriarkh
sendiri, lepas dari Antiokhia, karena Antiokhia berada dalam wilayah Byzantium. Dan untuk meyakinkan
Shah Persia bahwa mereka bukan antek Byzantium, maka secara alamiah mereka menerima theologia Syria
dari Nestorius, karena selama ini Gereja Syria, di Persia, memang menghormati tulisan-tulisan Theodoros
dari Mopsuestia, guru dari Nestorius. Demikianlah meskipun Nestorius akhirnya meninggal sebagai rahib
di padang gurun Libia, ajarannya tetap dipertahankan oleh Gereja Syria di Persia.

Maka Gereja Syriapun terpecah menjadi dua, yaitu :

1. di Syria Barat yang mengikuti definisi dari Kyrillos dari Alexandria

2. di Syria Timur yang mengikuti definisi Nestorius, orang Syria itu.

Sejak saat itu Gereja Syria Timur ini terkenal dengan nama Gereja Nestorian, meskipun sebenarnya mereka
sendiri tak pernah menyebut diri mereka demikian. Ajaran mereka sebenarnya tak sejauh Nestorianisme
yang dituduhkan pada mereka, dan praktek-praktek mereka tak beda dengan praktek-praktek Gereja
Orthodox.. Sehingga ada beberapa sarjana modern yang menyebut mereka sebagai Gereja Orthodox Pre-
Kalsedonia. Dan Gereja Persia yang sebenranya merupakan bagian dari Gereja Orthodox Antiokhia ini
menjadi Gereja yang amat misioner, sehingga sampai mengabarkan Injil di China, dan bahkan pada abad
ketujuh di Indonesia : di Pancur dan Barus, Sumatra, bahkan ada berita bahwa mereka juga ada di Kerajaan
Majapahit.

Keputusan dari Konsili Ketiga ini memang tidak langsung diterima oleh semua pihak, karena masih timbul
kontroversi mengenai ajaran Aghios Kyrilos ini. Kebanyakan Episkop di Timur mengkhawatirkan ajaran
Aghios Kyrillos ini tidak secara memadai menyatakan kemanusiaan Kristus yang sejati. Namun setelah
saling berdialog tercapailah pengertian dan persetujuan bersama mengenai apa yang dimaksud oleh
Aghios Kyrillos. Namun sesudah wafatnya, seorang rahib bernama Eutyches, mengajarkan bahwa yang
dimaksud oleh Kyrillos adalah bahwa Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) saja, yaitu
kodrat Ilahi, sebab kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahiNya. Ajaran ini menimbulkan kegelisahan
kembali di dalam Gereja. Para pembela ajaran ini mengadakan Konsilinya sendiri bersama Patriarkh
Dioskoros dari Alexandria dan Eutykhes pada tahun 449 di Efesus, dan mereka menganggap bahwa
mereka pengikut ajaran Kyrillos yang setia. Konsili ini diikuti oleh sejumlah besar Episkop, namun tidak
diterima sebagai Konsili yang sah, malah disebut sebagai “Latrocinium”atau “Konsili Para Perampok” .
Ajaran tentang Kristus hanya memiliki “satu-kodrat” (“mono-physis”) ini akhirnya terkenal sebagai
ajaran Monofisitisme, yang ditolak oleh Gereja dan dinyatakan bidat.

Untuk memecahkan masalah ini maka suatu Konsili yang lain diadakan pada tahun 451, di
kota Kalsedonia, dekat Konstantinopel. Konsili ini dikenal dalam Gereja sebagai Konsili Ekumenis
Keempat, dan berhasil membela ajaran Aghios Kyrillos dari Alexandria serta ajaran Konsili Ekumenis
Ketiga di Efesus tahun 431. Ini juga memuaskan tuntutan para Episkop Timur mengenai kemanusiaan
Kristus yang sejati yang secara jelas harus diakui. Definisi dogmatis dari Konsili Kalsedonia ini mengikuti
secara dekat ajaran yang dirumuskan oleh Paus Santo Leo dari Roma, yang tidak turut hadir dalam
Konsili itu, namun hanya mengirim wakil-wakilnya.

Menurut definisi Konsili Kalsedonia ini Kristus itu memiliki “satu hypostasis” ( menegaskan tradisi
theologia Alexandria) dalam “dua kodrat” ( menegaskan tradisi theologia Syria, Antiokhia) – ilahi dan
manusiawi. Dia sepenuhnya Ilahi. Dia sepenuhnya manusia. Dia Allah sempurna dan manusia sempurna.
Sebagai Allah (yaitu:Firman Allah) Dia “satu Dzat-Hakekat/Essensi” dengan Sang Bapa (Allah yang Esa) dan
dengan Roh Allah sendiri. Dan sebagai manusia, Dia satu “hakekat/ esensi” dengan segenap manusia.
Keilahian dan kemanusiaan Kristus itu menyatu/manunggal dalam satu hypostasis /pribadi namun tidak
campur-baur dan tidak kacau-balau dan tidak terpisah-pisah serta tidak terbagi-bagi. Kristus itu
satu pribadi yang sekaligus Allah dan Manusia.

Para pengikut Kyrillos yang ekstrim menolak definisi Kalsedonia ini karena dianggap berbau
Nestorianisme, suatu tuduhan yang tidak tepat dan tidak fair memang. Mereka menegaskan bahwa Kristus
hanya memiliki “satu kodrat” saja, meskipun kodrat itu telah menjelma, padahal menurut mereka Konsili
ini mengatakan Kristus memiliki “dua kodrat” yang dianggap sebagai kesesatan Nestorius, namun mereka
tidak menggabungkan bahwa “dua kodrat” itu dalam satu pribadi, atau satu hypostasis, yang jelas tak
bersangkutan dengan ajaran Nestorius.

Demikianlah mereka ini akhirnya memisahkan diri dari Gereja Orthodox alur utama. Para pendukung
Konsili Kalsedonia akhirnya mengangkat Patriakh Kalsedonia di Mesir : Proterius (452-457), penentang
Kalsedonia memilih Patriarkh tandingan mereka, yaitu Timotius Si Kucing. Sejak itulah Gereja Mesir
terpecah dua, yang Orthodox Kalsedonia yang tetap bersatu dengan seluruh Gereja universal, dan yang
menolak Kalsedonia, yang kemudian terkenal dengan Gereja Koptik Orthodox, serta mengikuti faham
“satu-kodrat” (monophysis).

Demikian juga di pihak Syria, ada yang mengikuti langkah Gereja Alexandria dalam memeluk faham “satu-
kodrat” ini. namun ada yang tetap dengan Gereja Universal yang menerima Konsili Kalsedonia. Dengan
demikian Gereja Syria sebelah Barat terpecah lagi antara yang “Orthodox” (kaum Monophysit,
menyebut Gereja Syria yang Orthodox ini sebagai: Malkaya/Melkit, atau para pengikut Raja/Malak)
dan yang “Monophysit”.

Pihak Monophysit ini oleh perjuangan Yakub Burdana ( Yakub Baradeus) berhasil mengorganisasi suatu
lembaga kegerajaan Syria Monophysit, yang akhirnya terkenal dengan nama Gereja Syria Orthodox atau
Gereja Yakobit. Gereja Yakobit Syria, inilah yang di Indonesia dipopulerkan dengan nama “Kanisah
Orthodox Syria” oleh Yayasan Study Orthodox Syria, pimpinan saudara Bambang Noorsena, sesudah ia
keluar dari keanggotaannya, yang pada saat itu bersama dengan Pdt. Yusuf Roni, dalam Gereja Orthodox
Indonesia.

Sedangkan yang Orthodox alur utama tetap melanjutkan Kepatriarkhan Syria Antiokhia yang memiliki
hubungan dengan Gereja-Gereja Aleksandria Orthodox, Konstantinopel, Yerusalem, dan Roma. Gereja
Armenia karena sedang menghadapi perang dengan Persia sehingga tak terwakili dalam Konsili
Kalsedonia, menolak hasil Konsili itu serta mengikuti faham “satu-kodrat”, demikian pula Gereja Thomas
India yang terkait dengan Gereja Persia dan Gereja Syria, dan Gereja Ethiopia yang terkait dengan Gereja
Koptik. Lima Gereja ( Koptik, Syria-Yakobit, Armenia, Thomas-India, dan Ethiopia) inilah yang dalam buku-
buku sejarah Gereja terkenal dengan nama : Gereja-Gereja Monofisit, atau pada masakini akibat hubungan-
hubungan ekumenis, untuk menghormati mereka disebut sebagai Gereja-Gereja Oriental Orthodox, atau
Gereja-Gereja Timur Alur Kecil, atau Gereja-Gereja Orthodox Non-Kalsedonia. Sedangkan Gereja Orthodox
Alur Utama, disebut Gereja Orthodox Timur, atau Gereja Orthodox Kalsedonia atau Gereja Orthodox
Yunani. ( - Kata “Yunani” itu tak berarti menunjuk etnik Yunani, sama seperti “Roma” Katolik tak menunjuk
pengikutnya sebagai bangsa Roma, namun untuk menunjuk ekspresi karya sastra theologis utama dari
para bapa Gereja Timur adalah menggunakan bahasa Yunani, meskipun jika mereka itu berkebangsaan
Syria misalnya Efraim dari Syria, Yohanes Khrisostomos, atau berkebangsaan Koptik, misalnya Athanasius
dari Alexandria, Kyrilos dari Alexandria, Klemen dari Alexandria dan lain-lainnya, sebagaimana Gereja
Barat menggunakan bahasa Latin, maka Gereja Baratpun sering disebut “Gereja Latin”.-) Meskipun sudah
berkali-kali ada usaha untuk mempersatukan mereka yang memisah ini baik di zaman purba maupun pada
zaman modern ini, namun mereka masih tetap terpisah dari Gereja Orthodox.

Konsili Ekumenis yang Ketiga dan yang Keempat ini menetapkan beberapa Kanon yang bersifat disipliner
dan bersifat praktis. Dalam Konsili Ketiga di Efesus, ada larangan membuat Pengakuan Iman yang lain, atau
mengarang “Pengakuan Iman Yang Berbeda” (Kanon 7) dari apa yang sudah dirumuskan dalam Konsili I
dan Konsili II. Kanon ini digunakan sebagai dasar bagi menentang penambahan atas Pengakuan Iman Nikea
oleh Gereja Barat dengan kata “filioque” (“dan Sang Putra”) ketika berbicara tentang Roh Kudus. Menurut
aslinya Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa”, tetapi menurut tambahan filioque dari Gereja Barat ini, Roh
Kudus itu keluar dari “ Sang Bapa dan Sang Putra”. Konsili Keempat di Kalsedonia, memberikan
Konstantinopel Ibukota yang baru atau Roma Baru itu “ kehormatan-kehormatan yang sejajar dengan
ibukota Roma yang lama” , karena ibukota yang baru itu dihormati dengan adanya “kaisar dan senat” (
Kanon 28). Pada saat ini kita menyaksikan kemunduran di Gereja Barat dengan jatuhnya Roma ke tangan
bangsa Barbarian.

Masuknya Gereja Barat pada zaman ini ke dalam apa yang disebut “Zaman Kegelapan” sangat cepat
terjadi setelah meninggalnya Agustinus, Episkop dari Hippo ( 430). Agustinus menulis banyak buku yang
sangat mengundang perdebatan terutama di Gereja Timur, yang isinya sangat mempengaruhi seluruh
sejarah Gereja Barat, baik yang Roma (Katolik) maupun yang Reformasi (Protestan), namun yang tak
diterima oleh Gereja Timur. Sementara itu Gereja Timur masih sedang dalam zaman keemasan dan
kejayaannya.

3. Konsili Agung Ekumenis Kelima ( 553) di Konstantinopel dan Konsili Agung Ekumenis Keenam
(680-681) di Konstantinopel

Pada abad keenam ini Kaisar Yustinianus menginginkan kesatuan Gereja dan kesatuan negara sekaligus.
Oleh karena itu dia berusaha agar pihak Monofisit dapat disatukan kembali kepada Gereja Orthodox.
Usahanya ini dengan mengadakan suatu Konsili di Konstantinopel (553) , yang akhirnya diakui
sebagai Konsili Kelima, dimana di dalam Konsili ini suatu tulisan yang disebut sebagai “Tiga Pasal” yang
disenangi pendukung Kalsedonia, namun yang direndahkan oleh mereka yang menolak Kalsedonia,
dikutuk Yustinianus secara resmi. Tulisan ini adalah tulisan dari Theodoret dari Cyrus, Ibas dari Edessa,
serta Theodorus Mopsuestia yang semuanya adalah orang-orang Syria. Tetapi kutukan itu tak bisa
diterima para pendukung Konsili Kalsedonia, sebab meskipun mereka tidak setuju dengan ajaran-ajaran
yang salah dan kabur dari tiga penulis ini, namun tidak ada alasan untuk mengutuk mereka. Usaha
Yustinianus untuk menyatukan pihak Monofisit ini akhirnya tak berbuah, dan pihak Monofisit sendiri tidak
yakin untuk bisa menyatu kembali dengan Gereja Orthodox.

Disamping menolak ajaran yang salah dan kabur dari “Tiga Pasal” , Konsili ini juga menolak beberapa
ajaran Origenes dari Alexandria yang sangat tidak Orthodox, misalnya bahwa jiwa manusia sudah ada
sebelum masuk kedalam tubuh jasmani untuk lahir di dunia ini, dan lain-lain. Dan Konsili ini menegaskan
kembali rumusan Konsili Kalsedonia bahwa Yesus Kristus adalah “satu dari Tritunggal Kudus” (artinya: Dia
Ilahi yang satu hakekat dengan Allah sendiri dan RohNya yang ada di dalam hakekat Allah). Dan Hypostasis
Kalimatullah yang satu dan yang sama inilah telah memanunggalkan secara "hypostatik" dalam DiriNya
sendiri yang satu itu dua kodrat yang saling berlawanan: Allah dan Manusia., tanpa campur-baur (Yang
Ilahi tidak menjadi Manusia, Yang Manusiawi tidan menjadi Ilahi) dan tanpa terpisah-pisah (Yang Ilahi dan
Yang Manusia manunggal secara tak terpisah dalam Satu Hypostasis).

Yustinianus sangat giat menyerang sisa agama kafir Yunani, serta menutup Universitas Athena dari
pengaruh kafir Yunani, serta hanya mempromosikan ilmu-ilmu Kristen saja. Dia membangun banyak
Gereja, terutama di Betlehem, Yerusalem, dan Gunung Sinai. Karyanya yang terbesar adalah Gereja Aghia
Sophia, yang pernah dijadikan Masjid oleh bangsa Turki sejatuhnya Konstantinopel, dan sekarang menjadi
Museum. Gereja Konstantinopel pada saat ini sudah menggunakan praktek-praktek liturgis yang telah
dilakukan di Palestina dan Syria. Praktek Ibadah Gereja Konstantinopel saat ini, digabung dengan Ibadah
Kristen Yahudi dari abad-abad awal Kekristenan, serta sholat-sholat tujuh waktu yang telah berkembang
di biara-biara, dan praktek-praktek Liturgis di Yerusalem. untuk membentuk suatu synthesis agung
pertama kali dari ibadah Liturgis Gereja Orthodox. Sehingga biarpun Gereja Orthodox itu disebut sebagai
Gereja Orthodox “Yunani”, namun ibadahnya dan aqidahnya adalah ibadah dan aqidah “Semitik” dari ujung
kaki sampai ujung rambut. Di dalam pikiran orang-orang Kristen Timur pada abad keenam ini,
Konstantinopel adalah Tahta Ke-Episkop-an yang pertama dalam “Sistim Pentarkhi” , yaitu : pertama
Konstantinopel, sesudah itu baru Roma,Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem.

Sejak saat itu Patriarkh Konstantinopel memakai gelar “Patriarkh Ekumenis” yang tentu saja seperti yang
dapat diduga Episkop Romalah yang menentang akan hal ini, terutama Paus Santo Gregorius Agung, yang
mengkompilasi ‘Liturgi Pra-Sidikara” , yang tetap digunakan Gereja Orthodox sampai sekarang pada saat
Puasa Catur Dasa, namun yang tak dikenal oleh Gereja Roma Katolik.

Di Gereja Barat pada abad keenam ini, disamping Paus Gregorius Agung, Santo Benediktus dari Nursia
(480-542) dan para muridnya sangat mempengaruhi sejarah selanjutnya Gereja Barat. Disamping
itu Santo Columba dan Santo Agustinus dari Canterbury adalah misionaris-misionaris Gereja Barat
yang bekerja di Inggris dan Irlandia. Pada tahun 589 di Toledo, Spanyol, Gereja Barat tanpa persetujuan
Gereja Timur dan bertentangan dengan Kanon ketujuh dari Konsili Ekumenis
Ketiga, menambah kata “filioque” pada Pengakuan Iman Nikea untuk menekankan keilahian Kristus
dalam menghadapi Kaum Barbarian yang mengikuti faham Arianisme, karena penginjilan Ulfilas yang telah
kita sebut sebelumnya. Namun tambahan ini mengakibatkan dampak yang sangat tidak kecil bagi Sejarah
Gereja.

Sementara itu di Semenanjung Arabia Sang Bayi Muhammad yang nantinya akan menjadi Nabi besar bagi
agama Islam telah lahir pada abad keenam ini (tahun 570). Semenanjung yang mana dikelilingi oleh orang-
orang Kristen Timur (Non-Kalsedonia/Monofisit di Mesir maupun Ethiopia yang mempunyai Koloni di
Yemen, serta Monofisit di Syria Barat, dan Pre-Efesus/ Gereja Timur Assyria/ Nestorian di Persia, serta
Orthodox/Kalsedonian yang banyak melakukan perdagangan di Semenanjung Arab) dan orang-orang
Yahudi terutama di Madinah. Ketika lahirnya bayi Muhammad sudah dalam keadaan sebagai anak-yatim,
pada masa kecil dia diasuh oleh kakeknya Abdul-Muttalib, setelah kakeknya meninggal diasuh pamannya
Abu Thalib yang sering berdangang ke Syria. Dan kanak-kanak Muhammadpun diajak dalam perjalanan
dagang ini. Dalam pergaulannya berdagang ini Muhammad yang masih muda itu banyak bertemu dengan
orang-orang Kristen Timur, yang biarpun dalam rumusan Kristologinya berbeda antara Orthodox,
Monofisit, dan Nestorian ini, namun praktek ibadahnya dan ethos kehidupannya tak banyak beda satu sama
lain. Mendengar dan memperhatikan dari mereka inilah akhirnya Muhammad melestarikan banyak hal
dari apa yang dijumpai dari agama-agama terdahulu ini dalam agama Islam, sehingga hal ini menerangkan
banyaknya kemiripan-kemiripan antara praktek-praktek Iman Kristen Orthodox dan agama Islam.

Menginjak abad ketujuh, muncullah tulisan yang mengatas-namakan diri sebagai ditulis oleh Dionysius
dari Areopagus, murid Rasul Paulus. Tulisan ini diterima dengan tangan terbuka baik oleh mereka yang
menolak Konsili Kalsedonia (Monofisit), maupun pembela Konsili Kalsedonia (Orthodox). Namun dalam
tulisan Dionysian ini ada mengandung ajaran yang bermasalah yaitu bahwa Yesus Kristus, Firman
Allah/Anak Allah yang menjelma itu, hanya memiliki satu kehendak dan tindakan insani -ilahiah atau
ilahi-insaniah saja, yang sama sekali membaurkan dua kegiatan dan tindakan yang berbeda dari kodrat
ilahiNya dan kodrat manusiawiNya. Ajaran ini disebut sebagai monothelitisme ( artinya: Kristus hanya
memiliki satu kehendak insani-ilahiah/ilahi -insaniah) atau mononergisme ( artinya: Kristus hanya
memiliki satu tindakan, kegiatan atau energi insani-ilahiah/ilahi-insaniah saja). Banyak yang berharap
bahwa rumusan ini akan mempersatukan kembali perpecahan kaum Monofisit kepada Gereja Orthodox.
Namun harapan itu tak pernah terjadi, karena ajaran ini ditentang mati-matian oleh Aghios Maximos Sang
Pengaku Iman (wafat: 662) dari Konstantinopel, yang umurnya 10 tahun lebih muda dari Muhammad,
serta Paus Santo Martin dari Roma (wafat: 665). Menurut keduanya ini Kristus memiliki kepenuhan
kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan ilahi, yang satu dan sama dengan kehendak Bapa dan RohNya.
Namun Kristus juga memiliki kepenuhan kehendak, energi, tindakan, dan perbuatan manusiawi yang
sama dengan semua manusia lainnya. Keselamatan itu terjadi dalam fakta bahwa Yesus Kristus sebagai
manusia sejati, secara bebas dan secara sukarela menyerahkan kehendak manusiawinya ( yang persis sama
dengan kehendak segenap manusia lainnya) kepada kehendak ilahiNya (yang adalah kehendak Allah
sendiri). Sehingga Anak Allah yang ilahi ini menjadi manusia yang nyata dan sejati dengan kehendak
manusiawi yang nyata dan sejati, sehingga sebagai manusia yang nyata Dia dapat memenuhi “seluruh
kebenaran Allah” dalam ketaatan yang sempurna dan sukarela kepada Sang Bapa. Melalui tindakan
manusiawiNya yang nyata itulah Yesus Kristus membebaskan semua manusia dari dosa dan maut sebagai
Adam yang Baru dan yang terakhir. Aghios Maximos dan Santo Martin sangat menderita sekali dalam
penganiayaan pemerintah karena menentang bidat monothelitisme ini. Mereka dipenjara, disiksa, dan
lidah Maximos dipotong agar tidak bisa berkotbah oleh kekuasaan pemerintah yang sangat ingin
menggunakan monothelitisme sebagai jalan menyatukan kembali kaum Monofisit.

Namun akhirnya ajaran kedua orang suci inilah yang menang. Konsili Ekumenis Keenam yang
diadakan di Konstantinopel tahun 680-681 meneguhkan secara resmi ajaran mereka dan secara resmi
pula menghukumkan Patriarkh Sergius dari Konstantinopel, serta Paus Honorius dari Roma yang
mengajarkan monothelitisme, bersama semua pendukung mereka. Di kalangan ummat Syria ada yang
memegang teguh ajaran ini, terutama yang dipimpin oleh Rahib Maron, dan memisahkan diri dari Gereja,
sehingga mereka disebut ummat Maronit yang sampai sekarang masih banyak kita jumpai di Libanon,
namun yang sudah menggabung dengan Gereja Roma Katolik sejak zaman Perang Salib. Sehingga, makin
terpecah lagilah Gereja Syria ini. Aghios Maximos menulis buku-buku rohani yang mendalam pada saat ini,
demikian pula Aghios Yohanes Klimakus dari Gunung Sinai menulis “Tangga Naik ke Yang
Ilahi” serta Aghios Andreas dari Kreta mencipta Kidung Kanon Pertobatan, yang masih tetap dilagukan
dalam Gereja Orthodox pada saat Masa Puasa Agung Catur Dasa.

Nabi Muhammad sedang ditengah-tengah misinya untuk menyebarkan dan menegakkan agama Islam,
ketika Byzantium dibawah Kaisar Heraklius berperang melawan Persia, serta merebut Salib asli yang
dirampas mereka, lalu dibawa ke Konstantinopel. Kedatangan Salib itu disambut meriah, sehingga
dilestarikan dalam pesta Gereja Orthodox sebagai “Pesta Pengangkatan Salib” setiap tanggal 14
September. Kekaisaran dalam keadaan terkuras habis tenaganya karena perang melawan Persia ini,
sehingga sewafatnya Nabi Muhammad, ketika daerah-daerah Byzantium di Mesir, Palestina dan Syria
direbut Islam tak banyak yang dapat dilakukan. Disamping itu ummat Monofisit yang sangat banyak di
daerah itu memang membenci Byzantium karena Iman Kalsedonian mereka. Sehingga ketika Islam muncul
tak ada perlawanan dari mereka, sebaliknya mereka yang mengundang tentrana Muslim untuk bersama-
sama melawan Byzantium, karena dianggap dengan berada di bawah Islam mereka bebas dari tekanan
Byzantium. Hal yang terbukti salah di kemudian hari, yang effeknya masih dapat dirasakan sampai
sekarang.. Demikian juga sikap ummat Nestorian di Persia. Islam diharapkan membebaskan mereka dari
tekan Shah Persia, dan merekapun ternyata keliru. Dalam tingkat non-politik Byzantium dan Islam
mempunyai hubungan yang baik, misalnya para pedagang Arab justru dibangunkan Mesjid untuk mereka
beribadah di Konstantinopel dan mereka tak pernah dipaksa menjadi Kristen. Kalifah al-Ma’mun
mengadakan hubungan yang baik dengan Kaisar Byzantium terutama dalam hal mendapatkan nashak-
naskah Yunani dan klasik yang akan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Orang-orang Kristen Byzantium
secara tingkat sosial saling mengadakan kontak dengan kaum Muslim. Karena sikap kaum Monofisit dan
Nestorian inilah sebabnya mengapa dengan mudah daerah-daerah Kristen Orthodox itu ditaklukkan Islam
karena memang tidak ada perlawanan dari penduduk setempat, malah mereka diundang oleh kaum
Monofisit di Mesir, Syria, dan Libanon serta kaum Nestorian di Irak dan Persia.

Karya Konsili Kelima dan Konsili Keenam ini dilanjutkan lagi di Konstantinopel, di ruangan berkubah
(Trullo) dari istana Kerajaan untuk membahas peraturan 102 buah Hukum Kanon, yang disebut Kanon
Konsili Quinisext (Kelima-Keenam). Dalam Hukum Kanon ini ditegaskan orang menikah boleh ditahbis
jadi diaken dan kemudian presbyter, namun yang sudah ditahbis tak boleh menikah jika tadinya tidak
menikah. Dan hanya orang yang tidak menikah saja yang harus jadi Episkop. Ditetapkan juga batas umur
orang yang akan ditahbis, serta larangan rohaniwan berpartisipasi dalam politik atau dalam
perekonomian. Juga larangan orang awam masuk ke Ruangan Mezbah tanpa perlu, serta melarang
perkawinan campuran, dan masih banyak lagi.

4.Konsili Ekumenis Ketujuh dan Terakhir (787 ) di Konstantinopel

Pada saat abad kedelapan ini kekalifahan Islam sudah tersebar di seluruh Timur Tengah, dan Byzantium
telah sering mengalami serangan tentara kaum Muslimin Arab dari arah selatan. Syria yang berbatasan
dengan Byzantiumpun sudah berada dibawah kedaulatan Islam. Kaum Muslimin tak henti-hentinya
menyerang ajaran Tritunggal Kudus, Keilahian Kristus, Penyaliban, Kebangkitan, dan penggunaan Ikon
(gambar-gambar agamawi) dalam Gereja. Gambar-gambar itu dianggap sebagai berhala, karena Islam
memang anti-gambar. Serangan Islam ini sedikit-banyak mempengaruhi sebagian orang Kristen. Apalagi
saat itu di Byzantium, sedang bangkit diantara kaum intelektual aliran filsafat Neo-Platonisme yang
meremehkan benda jasmani dan menekankan hal yang bersifat “idea”. Ikon adalah benda jasmani, maka
berdasarkan pandangan filsafat kafir ini, maka ikonpun direndahkan dan diremehkan. Kedua faham ini
mempengaruhi Kaisar Leo III dari Isauria ( 717-741) dan Kaisar Konstantinus V ( 741-775), yang sudah
lama ingin menaklukkan Gereja pada kehendak raja. Masalah ini digunakan sebagai alasan untuk menekan
Gereja dan melarang penggunaan Ikon dalam Gereja. Setelah mengadakan sidang tahun 753 dan disitu
dinyatakan bahwa Allah itu tak kelihatan jadi tak dapat digambar, sebagaimana pula argumentasi kaum
Muslimin (dan beberapa ayat Alkitab yang melarang penggunaan patung, yang juga dilarang Gereja
Orthodox) yang mempengaruhi argumentasi sidang tadi, maka perintah dikeluarkan bahwa semua gambar
harus dihapus dan semua ikon dibakar. Perlawanan terhadap Ikon ini dikenal sebagai Gerakan Bidat
Ikonoklasme.

Ikonoklasme

Memang Gereja Timur melarang penggunaan patung dari zaman purba sampai sekarang, namun sejak
zaman katakombe ( terowongan bawah tanah tempat persembunyian mereka dan digunakan untuk
penguburan dan ibadah, pada saat zaman aniaya) telah menyatakan iman mereka dalam wujud simbol-
simbol dan gambar-gambar, dan itulah permulaan ikon, yang asalnya berasal dari perintah Allah kepada
Musa untuk membuat patung kerubim dan gambar-gambar kerubim di Kemah Suci, dan juga dilukisnya
gambar-gambar semacam itu di Bait Allah yang dibangun Salomo (Sulaiman). Orang Kristen Orthodox yang
mempertahankan penggunaan ikon dibunuh dan dianiaya oleh Kaisar ini, sehingga terjadi pertumpahan
darah yang hebat diantara ummat Kristen Orthodox oleh aniaya tentara raja. Para Episkop banyak yang
ditekan untuk secara resmi menentang penggunaan Ikon. Sehingga tahun 762 dan 775, terkenal
sebagai “dekade berdarah” dalam sejarah Gereja Timur ini, karena banyaknya orang Kristen Orthodox,
terutama diantara para rahib yang dipenjara, disiksa, dan dibunuh karena mempertahankan Ikon itu.
Gereja tidak hendak tunduk pada kehendak manusia, karena hanya Kristus, dan bukan Kaisar, itulah Kepala
Gereja. Tuhan tidak berlama-lama membiarkan ummatNya menderita.

Pada tahun 780 Maharatu Theodora naik tahta ( 780-802). Penganiayaan dihentikan dan Konsili diadakan
di kota Nikea pada tahun 787 untuk membahas mengenai masalah Ikon ini. Inilah Konsili Ekumenis
yang Ketujuh dan Terakhir dari Gereja Rasuliah Perjanjian Baru yang satu, yang secara tanpa putus
berjalan dalam sejarah sampai abad kedelapan itu. Konsili ini menjelaskan makna Theologia Ikon,
mengikuti penjelasan yang dilakukan oleh Aghios Yohanes Damaskinos (Yuhana Al-Mansyur) dari
Damaskus Syria. Yuhana Al-Mansyur adalah anak seorang pegawai tinggi dari kalifah Islam di Damaskus,
Syria. Diapun akhirnya diangkat menjadi pegawai tinggi dari kalifah Yazid di Syria ini. Entah karena apa dia
tinggalkan karir duniawinya, dan masuk ke biara, serta akhirnya menjadi presbyter. Pada saat
penganiayaan orang-orang Kristen Orthodox di Byzantium, Aghios Yohanes bebas dari aniaya itu karena
dia hidup dalam wilayah Islam. Sehingga dia bebas menulis dan mengkritik para penentang Ikon tanpa
ditangkap tentara raja. Argumentasi yang berdasarkan Alkitab dan Iman Rasuliah dalam tulisan Aghios
Damaskinos inilah yang diikuti dalam Konsili Ketujuh ini.

Inti terpokok Iman Kristen adalah Yesus Kristus. Dan Dia adalah “Firman yang Menjadi manusia” (Yohanes
1:14). Dengan demikian Yesus Kristus adalah Firman Allah yang ber “Inkarnasi” ( “Mendaging”). Maka
“Inkarnasi Kristus” sebagai Firman Allah itulah inti iman Kristen. Allah memang tak dapat dilihat, jadi tak
dapat digambar apalagi dipatungkan. Itulah sebabnya Perjanjian Lama,- dan dalam hal ini sikap Al Qur’an
juga - serta Iman Orthodox sendiri melarang Allah ( Bapa) digambar. Namun dalam Yesus Kristus, Allah
melalui “FirmanNya” telah menjadi nampak, yaitu menjadi daging. Maka kedagingan dari kemanusiaan
Firman itu sekarang dapat digambar untuk membuktikan bahwa Firman betul-betul jadi manusia. Disitulah
tempatnya Ikon itu. Menolak Ikon berarti menolak bahwa betul-betul Yesus Kristus itu manusia, yaitu
menolak Inkarnasi Firman Allah. Islam hanya percaya Firman Allah yang diturunkan menjadi Kitab: “Al-
Qur’an” . Oleh karena itu penegasan makna Wahyu dalam Islam adalah dalam wujud “Kaligrafi” (“Tulis
Indah Huruf Arab”), membuat ikon atau gambar dalam Islam memang akan bertentangan dengan inti
kewahyuan Firman sebagai tulisan. Namun menolak “ikon” dalam Iman Kristen justru sebaliknya, karena
itu berarti menolak kemanusiaan, kewujud-dagingan, dan Inkarnasi dari Firman Allah yang menjadi
manusia itu. “Kaligrafi” (Tulis Indah Huruf Arab) dalam Islam itulah “Ikonografi” dalam Iman Kristen
Orthodox. Karena yang ditekankan pada “ikonografi” itu justru adalah fakta “inkarnasi” serta fakta
“kemanusiaan kongkrit” dari Penjelmaan Firman Allah/Kalimatullah yang menjadi daging, maka
Konsili dengan tegas mengatakan bahwa Allah (Bapa) dilarang diwujudkan dalam gambar apalagi dalam
patung. Demikian juga berlaku bagi Roh Kudus, serta keberadaan Kristus sebelum jadi manusia. Dengan
kata lain larangan hukum Musa untuk tidak menggambarkan Allah dalam bentuk apapun tetap dijaga
dengan keras, namun fakta Inkarnasi dari Firman Allah menjadi manusiapun dijaga keras dengan ekspresi
yang kongkrit dalam wujud “ikonografi”.

Jelas ikon berbeda dari dan bukan merupakan berhala. Sebab berhala adalah penggambaran Allah secara
bentuk makhluk dan diberi bakti dan sembah sebagai ilah, ikon bukan gambarNya Allah, dan tak diberi
bakti seperti Allah sendiri. Dengan Ikon ditegaskan bahwa oleh Inkarnasi Firman Allah maka segala sesuatu
yang jasmani sekarang dikuduskan oleh Kristus, yang jasmani ini terutama adalah ummat manusia yang
telah ditebus dalam Kristus. Itulah sebabnya isi dari Ikonografi, bukan hanya Kristus saja, namun semua
mereka yang menjadi dampak langsung dari Inkarnasi itu, yaitu para orang-orang yang telah dikuduskan
oleh Kristus dalam Roh Kudus: Theotokos, para Nabi, para Rasul, dan segenap orang suci. Demikianlah
ikonografi menjelaskan bahwa melalui Kristus yang adalah “ikon” (Gambar) dari Allah yang tak kelihatan
(Kolose 1:15), segenap manusia yang ditebus olehNya dikembalikan kepada kodrat asli (“fitrah”) yang
atasnya manusia diciptakan menurut “gambar (eikon, demuth) dan rupa (omoiousin, tselem) Allah“ (
Kejadian 1:26). Jadi pertentangan masalah Ikon bukanlah sekedar pertentangan masalah lukisan, dan
bukan pula masalah berhala, namun masalah betulkah Firman Allah telah menjadi manusia, dan betul-betul
berwujud jasmani, yang dengan begitu dapat dilukis, tanpa melanggar larangan penggambaran Allah dan
keilahian yang tidak nampak itu.

Pada abad ini Aghios Yohanes Damaskinos mencipta Kidung-Kidung Kanon Sembahyang Fajar
Paskah dan Kidung-Kidung Dukacita untuk upacara penguburan dalam Gereja Orthodox serta Kidung
Hasta-Nada yaitu kumpulan kidung-kidung yang menggunakan delapan Irama yang berbeda yang
dilagukan secara berputar dalam tiap minggu, Semuanya ini tetap menjadi bagian ibadah Gereja Orthodox
sampai sekarang. Juga dia menulis buku yang disebut “Exposisi Lengkap Iman Orthodox” yang
merupakan pembahasan sistimatis seluruh doktrin Kekristenan Orthodox sejak zaman purba yang dapat
ditemukan dalam bukunya “Sumber Ilmu-Pengetahuan” . Dia juga menulis buku polemik menyanggah
tuduhan Islam.

Pada saat abad kedelapan ini Gereja Barat mengalami banyak pertobatan dari suku-suku Barbarian.
Pemberita Injil terbesar Gereja Barat pada abad ini adalah Santo Bonafasius ( wafat tahun 754). Untuk
pertama kalinya pada abad Paus Roma menjadi pemimpin-pemimpin duniawi yang menguasai tanah-tanah
di Itali, serta mengadakan hubungan dengan raja-raja yang baru muncul dari keluarga Carolingian yang
berasal dari suku-suku Barbar ini. Dari keluarga inilah Karel Agung muncul, yang pada tanggal 25
Desember 800 dimahkotai untuk mendirikan Kerajaan di Eropa Barat yang telah hilang, dengan nama
Kerajaan Romawi Suci, jadi mengadakan perpecahan politik dengan Kerajaan Byzantium. Agar dapat
mendirikan Kerajaan Baru dengan dukungan Paus Roma ini, maka Karel Agung menyerang keabsahan
Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur. Dia menuduh Gereja Timur sebagai “penyembah berhala” karena
sikapnya terhadap ikon, serta menuduh Gereja Timurlah yang menghilangkan “filioque” dari Pengakuan
Iman yang ditambahkan oleh Konsili Toledo (tahun 589) dari Gereja Barat ini.

Tuduhan-tuduhan ini termaktub dalam buku “Liber Carolini” yang telah diserahkan lebih dahulu kepada
Paus Hadrianus I di Roma oleh Karel Agung, pada tahun 792. Namun pada tahun 808 Paus Leo
III mengadakan reaksi atas tuduhan Karel Agung terhadap Gereja Timur ini, sehingga dia membuat
Pengakuan Iman Nikea tanpa “filioque” diukirkan pada suatu lempeng perak dan di letakkan di pintu
Gereja Santo Petrus.

Sesudah Konsili tahun 787 itu, perlawanan terhadap ikon berlanjut terus di Kerajaan Byzantium. Ketika
Ratu Irini meninggal pada tahun 802, Kaisar Leo dari Armenia menjadi Kaisar. Pada tahun 812 dia
memerintahkan ikon-ikon supaya dijauhkan tempatnya dari jemaat. Pada saat Mingu Palem tahun
815 Aghios Theodoros, mengadakan arak-arakan membawa ikon-ikon di Konstantinopel, namun dicegat
oleh tentara kerajaan , semua orang itu dianiaya dan disiksa serta banyak yang mati dibunuh.. Hanya pada
sat pemerintahan Ratu Theodora pada tahun 843, ikon-ikon betul-betul dikembalikan ke Gereja secara
resmi, pada Minggu Pertama Masa Puasa Catur Dasa, dan disebut sebagai “Kemenangan Orthodoxia”
yang sampai sekarang pada Minggu Pertama Puasa Catur Dasa ini masih diperingati dan dirayakan dalam
Gereja Orthodox.. Pengembalian Ikon ini disebut “Kemenangan Orthodoxia” , karena ini menutup
lingkaran pembahasan Kristologi sejak Nikea (325) sampai pada batasnya yang tertuntas.

Pada saat Nikea dituntaskan keyakinan bahwa Yesus itu betul-betul “Allah sejati yang keluar dari Allah
sejati” dan “Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa”. Konsili kedua (381) menegaskan kesatuan Keilahian
Yesus Kristus ini dengan Bapa dan Roh Kudus, serta Konsili ketiga ( 431) menegaskan bahwa keilahian tadi
tidak hilang ketika Dia berada dalam rahim Maryam, sehingga Maryam disebut Theotokos. Sedangkan
Konsili Keempat (451) menegaskan sifat hubungan dan kesatuan antara keilahian dan kemanusiaanNya,
dan Konsili Kelima (553) meneguhkan apa yang dirumuskan oleh Konsili Keempat. Sedangkan Konsili
Keenam menegaskan dan meneguhkan akan sifat kemanusiaan Kristus yang memiliki kehendak manusia
yang sempurna, sehingga “monothelitisme” ditolak. Integritas kemanusiaan Kristus itu secara lebih
kongkrit dan tak diragukan lagi ditegaskan dalam Konsili Ketujuh dengan bukti bahwa Dia dapat dilukis
dalam Ikon karena Dia betul-betul menjadi manusia yang nampak dan dapat dilihat. Demikianlah dalam
seluruh Konsili yang tujuh buah ditegaskan keilahian penuh dan kemanusiaan penuh dari Kristus yang satu
itu secara tuntas. Dan itulah “inti Iman Kristen Orthodox:”. Oleh karena itu penegasan secara kongkrit dan
tuntas dari kemanusiaan Kristus dalam Ikon itu menutup dan memeteraikan kebenaran Orhodoxia,
sehingga itu disebut “Kemenangan Orthodoxia” yang telah dibuka dan diawali dengan penegasan secara
kongkrit dan penuh akan keilahian Kristus dalam Konsili Petama.

C. Zaman Penyebaran ke Utara

Masa Pasca-Konsili Ekumenis:

Dari Penginjilan Bangsa Slavia (863) sampai jatuhnya Konstantinopel (1453) ke Tangan Turki

1. Penginjilan Negara-Negara Eropa Timur (863)

Meskipun usaha Karel Agung untuk memasukkan Kerajaan Byzantium dan Gereja Timur dalam Kerajaan
Romawi Suci yang didirikannya itu tak berhasil, Paus di Roma makin memaksakan kuasanya kepada
seluruh Gereja di Barat. Paus-paus yang kuat seperti Nikholas I ( 858-867 ) menekan keras semua pengaruh
awam dan memusatkan semua kekuasaan pada hierarkhi Paus. Usaha sentralisasi pada Paus ini dtunjang
oleh dokumen-dokumen palsu “Dekrit Isidorus Dari Seville” dan “Donasi Konstantinus” yang ternyata
karangan kaum Frankish dan Jermanik itu sendiri, yang menyatakan bahwa Paus di Roma mempunyai
kekuasaan politis atas seluruh wilayah sekitar Roma, sehingga wilayah itu disebut “negara kepausan”.

Sementara itu yang menjadi Patriarkh di Gereja Timur adalah Photius. Dia mengutus dua orang kakak-
beradik (Konstantinus dan Methodius) berbangsa Yunani: untuk menyebarkan Injil ke Moravia diantara
bangsa Slavia. Mereka tiba disana pada tahun 863, dan mereka telah menciptakan alfabet Slavia yang
berdasarkan alfabet Yunani (sekarang disebut alfabet Slavonik Lama atau Bulgaria Lama) untuk
menterjemahkan kitab-kitab Gerejawi ke dalam bahasa Slavia ini. Karena Gereja Orthodox selalu percaya
pasa inkarnasi Injil pada budaya setempat. Misi dari kedua kakak-beradik itu konflik dengan misi Gereja
Barat yang juga ada di Moravia ini. Gereja Barat memaksakan bahwa hanya bahasa Ibrani, Yunani dan Latin
saja yang boleh digunakan sebagai bahasa keagamaan Gereja. Karena para misionaris ini dari Gereja Barat
kedua kakak-beradik ini melaporkan situasi tadi ke Paus Hadrianus II (tahun 869), serta mereka
mendapatkan restu atas usaha mereka dari Paus Roma juga. Konstantinus meninggal pada tahun 869, serta
menjadi rahib sebelum meninggal dengan nama Kyrilos, serta diakui sebagai orang suci Gereja. Karena
itulah alfabet yang mereka ciptakan itu terkenal dengan nama huruf“Kyrilik” ( “Cyrillic”) yang digunakan
di banyak negara-negara Eropa Timur dan Rusia sampai sekarang. Methodius diangkat menjadi Episkop,
dan ketika dia kembali kepada karya misinya, dia ditangkap dan dipenjarakan oleh para misionaris Gereeja
Barat tadi dengan pertolongan Raja Louis Orang Jerman. Ketika Paus Yohanes mengetahui hal itu pada
tahun 873, dia menuntut agar Methodius dibebaskan. Namun ketika Methodius meninggal, semua karyanya
musnah, karena para muridnya banyak yang ditangkap,dibuang atau dijual sebagai budak oleh kekuasaan
negara Romawi Suci Jermanik, yang benci Byzantium, melalui para rohaniwan Gereja Barat itu. Sebagian
lagi ada yang melarikan diri ke Bulgaria dan terjadi banyak pertobatan disana. Dan ummat Bulgaria ini
akhirnya terkait dengan Gereja Konstantinopel. Dari Serbia ini usaha misi Gereja Orthodox di Timur
berkembang ke daerah-derah Serbia, serta pada akhirnya ke Kiev serta Rusia Utara. Inilah sungguh-
sungguh masa gerakan misi yang sangat luar biasa bagi Gereja Timur.

2. Konflik Terbuka Gereja Timur dan Gereja Barat (861-886)

Ketegangan-ketegangan yang sudah kita lihat antara Gereja Timur dan Gereja Barat ini menjadi konflik
terbuka untuk pertama kalinya antara tahun 861-886. Pada saat itu ada dua partai yang saling berebut
pengaruh di Konstantinopel baik secara politis maupun gerejawi, yang satu Partai Konservatif dan lainnya
Partai Moderat. Untuk mencapai perdamian dalam Gereja maka Patriarkh Phtoius yang tadinya orang
awam itulah yang dijadikan pemimpin Gereja. Partai Konservatif yang ekstrim tidak puas akan hal ini, lalu
meminta bantuan Paus di Roma, menggunakan nama baik Ignatius, Patriarkh yang sekarang sudah
pensiun untuk melawan Photius dan pemerintah yang memilih dia. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh
Paus Nikholas untuk ikut campur-tangan pada masalah Gereja Timur ini, karena perkembangan sentralisai
kepausan di Barat itu. Paus Nikholas lalu mengadakan Konsili di kota Konstantinopel pada tahun 861 untuk
menyelesaikan pertikaian kedua partai itu. Namun ketika para utusan Paus tiba di Konstantinopel Photius
memang Patriarkh yang sah, dan semuanya diselesaikan dengan damai. Namun ketika para utusan itu
kembali ke Roma, Paus Nikholas tidak mau menerima hasil keputusan tadi, lalu mengadakan Konsilinya
sendiri di kota Roma pada tahun 863, dia memecat Photius serta menyatakan bahwa Ignatius yang sudah
pensiun itu harus jadi Patriarkh yang sah. Namun pernyataannya ini tak diperdulikan oleh siapapun di
Gereja Timur.

Pada tahun 866 dan 867 Gereja Bulgaria sesuai dengan situasi politiknya kadang-kadang memihak Roma ,
namun kadang-kadang memihak Konstantinopel. Pada tahun 867 Photius mengadakan Konsili yang
dihadiri oleh 500 Episkop yang mengutuk Paus Nikholas karena ikut campur-tangan masalah internal dari
Gereja Bulgaria. Namun pada tahun yang sama itu terjadi suatu perubahan politik di Konstantinopel,
Basilius I menjadi Kaisar dengan membunuh Kaisar sebelumnya, dan untuk alasan politiknya dia memecat
Photius sebagai Patriarkh dan Ignatius yang pensiun diangkat lagi menggantikannya. Pada tahun 869 Paus
Hadrianius II pengganti Paus Nikholas di Roma, mengutuk Photius lagi atas masalah Bulgaria. Namun pada
tahun 877, situasi menjadi berubah ketika Photius harus menjadi Patriarkh lagi karena Ignatius yang saleh
itu meninggal dunia. Pada tahun 879 suatu Konsili yang sangat besar diadakan oleh pimpinan Photius dan
utusan Paus dari Roma juga diundang datang. Dalam Konsili yang dipimpin oleh Photius ini sendiri, maka
dipilah-jelaskan oleh Patriarkh Photius mengenai kedudukan Paus di Roma dalam hubungannya dengan
Patriarkh dan Gereja Konstantinopel. Serta hal itu diterima oleh Paus Yohanes VIII yang menjadi Paus yang
baru di Roma. Konsili tahun 863 dan 869 yang mengutuk Photius dinyatakan batal dan tak berlaku, serta
dengan tegas diakui bahwa Konsili tahun 787 tentang “ikon” diakui sebagai Konsili Ketujuh, serta
Pengakuan Iman Nikea “tanpa filioque” diteguhkan kembali.

Photius secara resmi diakui sebagai orang kudus Gereja. Dia adalah seorang theoloog yang banyak menulis
buku, terutama mengenai masalah “filioque” yang mengajarkan Ke-Esa-an Allah dengan mengatakan
bahwa Roh Kudus itu hanya keluar dari Bapa saja, sebagaimana Firmanpun diperanakkan dari Sang Bapa
yang satu dan yang sama itu. Dia membela Tradisi Gereja yang otentik dalam menentang pernytaan diri
Paus Nikhloas yang berlebih-lebihan itu, dan akhirnya menjaga kesatuan dengan Gereja Roma serta Paus
Yohanes VIII. Dia yang mensponsori misi besar-besaran kepada bangsa Salvia.

Abad kesembilan ini secara umum dapat dikatakan sebagai abad yang sangat penting bagi Gereja Timur.
Ini adalah abad kebangkitan di Gereja Timur, sedang di Gereja Barat ini adalah abad sentralisasi yang makin
bertambah di sekitar diri Paus. Satu-satunya theoloog yang dapat disebut dari Gereja Barat pada saat ini
adalah John Scotus Erigena (wafat 877).

3. Penginjilan Rusia ( 988)

Menginjak abad kesepuluh kita masih berjumpa dengan kebangkitan ilmu di Gereja timur, dimana ilmu-
ilmu dari para penulis non-Kristus Yunani itu mulai dipelajari kembali, tiulisan para Bapa Gereja mulai
dikumpulkan, serta “Kisah Hidup Para Orang Kudus” mulai dikompilasi untuk menjelaskan sisi
kharismatis dari pengalaman Gereja dimana dibuktikan bahwa sepanjang segala zaman Roh Kudus masih
berkarya dengan segala macam mukjizatnya dan pengudusannya seperti yang nampak dalam kehidupan
mereka ini, serta “Lavra Agung” ( Biara Terbesar di Gunung Athos Yunani) didirikan oleh Aghios
Athanasios dari Gunung Athos (960), Aghios Simeon Neos Theologos menulis sangat luas dan
mendalam mengenai makna pengalaman “Dibaptis dalam Roh Kudus” serta pengalaman melihat Terang
Tak Tercipa serta menyatu tenggelam dalam Terang tadi yang adalah tenggelam dalam Roh Kudus. Gereja
dan negara Byzantium makin saling merembesi, terutama Gereja makin mengendalikan masalah-masalah
perkawinan dan keluarga.

Pada tahun 869 Tsar Boris dari Bulgaria dibaptiskan dengan Kaisar Mikhael III dari Konstantinopel
sebagai “ Bapak Baptis” (‘Bapa Selam”, “Papa Serani”). Sehingga dengan demikian Gereja Bulgaria secara
kokoh berada dalam persekutuan dengan Gereja Konstantinopel, terutama pada saat anaknya Tsar
Sumeon Gereja Bulgaria makin berkembang. Pada akhir abad kesembilan suatu sekte Bidat Bogomil,
suatu sekte dualisme yang menolak keilahian Kristus dan Sakramen-Sakramen Gereja sedang berkembang,
namun ditolak Gereja, mereka berkembang sampai ke Serbia, terutama di Bosnia. Kebanyakan dari anggota
sekte ini menjadi Muslim ketika Turki menguasai daerah Bosnia.

Pada tahun 988 para bawahan dari penguasa wilayah Kiev dibaptis di sungai Dnieper dibawah
pimpinan Pangeran Vladimir yang Agung, dengan demikian memulai sejarah Gereja Orthodox di Ukraina
dan Rusia. Valdimir menerima Iman Kristen Orthodox dari Konstantinopel, setelah mengadakan
penyelidikan dari semua agama yang ada, dia menemukan tidak ada agama yang keindahannya melebihi
Kekristenan Orthodox. Dia dibaptis di Konstantinopel dengan Kaisar Basilius sebagai Bapak Baptisnya.
Akhirnya dia menikah dengan Puteri Anna dari Konstantinopel, untukmengokohkan pertalian keluarga
Kerajaan. Sesudah baptisannya itu Vladimir mengalami suatu pengalaman pertobatan yang sungguh-
sungguh, sehingga banyak menanamkan prinsip-prisip Kristen dalam kerajaan yang dipimpinnya, serta dia
mengabarkan Iman Kristen Orthodox kepada seluruh bawahannya. Karena apa yang dilakukan dan
kekudusan hidupnya ini ia telah diakui sebagai orang kudus Gereja bersama dengan neneknya Putri Olga
yang telah menjadi Kristen sebelumnya, dan banyak mempengaruhi dia dalam keputusannya untuk
menjadi Kristen.

Pada akhir abad kesembilan sampai masuk abad kesepuluh Gereja Barat mengalami salah satu periode
yang paling gelap dalam sejarah. Gelombang-gelombang baru penyerbuan menghancurkan keamanan
kekaisaran yang diciptkan Karel Agung. Ggereja Barat menderita dominasi para penguasa-penguasa dari
antara kaum awam. Komunikasi dengan Gereja Timur sama sekali terputus. Namun demikian terjadilah
permulaan gerakan pembaruan di Gereja Barat yang dimulai dari Biara Cluny di Perancis.

D. Zaman Perpecahan

4. Perpecahan ( Skisma ) Besar (1054): Gereja Barat (Roma Katolik) Pecah Dengan Gereja Timur (
Orthodox)

Masuk ke dalam abad kesebelas kita temui peristiwa menyedihkan, yaitu perpecahan besar-besaran antara
Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Konstantinopel). Peristiwa ini dimulai dengan larangan
penggunaan Liturgi Gereja Timur Yunani di Italia Selatan oleh Paus Roma, serta sebagai balasannya
dilaranglah penggunaan Liturgi Gereja Barat Latin di Konstantinopel oleh Patriarkh. Pada tahun 1053 Paus
di Roma mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk bertemu dengan Patriarkh yang sedang
menjabat: Mikhael Kerularios. Tetapi Patriarkh tidak mau menerima mereka, karena dia melihat bahwa
tujuan kedatangan mereka mempunyai motivasi politik. Karena lelah menunggu dan karena jengkel
merasa tidak dihormati,, maka kepala rombongan utusan ini, yaitu: Kardinal Humbert, pada tanggal 16
Juli 1054, menempatkan dokumen “pengkutukan” ( “anathema” ) dan pengkucilan terhadap Patriarkh
Mikhael Kerularius dan semua yang bersimpati kepadanya, diatas mezbah (altar) Gereja Aghia Sophia,
namun dia tetap memuji Konstantinopel sebagai “Kota yang Amat Orthodox”. Kutukan ini landasannya
karena Gereja Timur tidak menggunakan “filioque”, mengijinkan para Presbyter (“Rohaniwan Tertahbis”)
menikah, kesalahan-kesalahan liturgis karena tidak sama dengan yang dipraktekkan dalam Gereja Latin.
Tindakan Kardinal Humbert ini ditanggapi Patriarkh Mikhael Kerularios dengan mengadakan Konsili Para
Patriarkh dan Episkop-Episkop Gereja Timur dengan menyatakan “anathema” dan “pengkucilan” terhadap
semua yang bertanggung jawab atas peristiwa “16 Juli 1054”. Dia mendaftar semua yang dianggap
penyalah-gunaan Gereja Latin. Sejak saat itu usaha untuk menyatukan kembali antara Gereja Barat yang
kemudian dikenal sebagai Gereja Roma Katolik dengan Gereja Timur yang tetap disebut sebagai Gereja
Orthodox atau Orthodox Yunani menjadi tak mungkin lagi. Maka terjadilah skisma (perpecahan) yang
permanen sampai sekarang. Semua usaha untuk persatuan tak satupun membuahkan hasil, bahkan
pengangkatan secara simbolik “anathema tahun 1054” ini yang dilakukan di zaman modern pada tahun
1966 oleh Paus Paulus VI dari Gereja Roma Katolik dan Patriarkh Athenagoras dari Gereja Orthodox itupun
tak berdampak apa-apa dalam usaha kesatuan Gereja ini. Gereja Barat (Roma Katolik) tetap terpisah dari
Gereja Timur ( Orthodox) dan tetap berjalan menurut jalannya sendiri sampai kini.

5. Masa Perang Salib

Dengan hampir kebanyakan daerah Kristen Orthodox di sebelah timur di kuasai Islam terutama Palestina,
maka sulit bagi orang-orang Kristen di Barat untuk mengadakan ziarah ke Tanah Suci. Maka di Gereja Barat
timbul suatu gerakan untuk merebut Tanah Suci dari tangan musuh. Maka oleh kotbah-kotbah beberapa
pemimpin Gereja di Barat Perang Salib merebut Tanah Suci itu dimulai pada tahun 1096. Mereka bergerak
maju menuju ke Timur dari Eropa Barat dengan dipimpin Uskup dan para pastor serta tentara-tentara
Katolik Barat. Gerakan ini tak terpisah dari apa yang terjadi di Gereja Barat. Pada pertengahan abad
kesebelas ini terjadi pembaharuan di Gereja Barat yang berpusat pada diri Paus. Gerakan ini sering disebut
sebagai“Pembaharuan Gregorian” menggunakan nama dari penggerak utamanya yaitu Paus Gregorius
VII atau Hildebrand.

Tujuan Gerakan ini adalah untuk menegakkan Gereja Katolik Roma kokoh terpisah dari ketergantungan
kepada kekuasaan pemerintah manapun. Akibatnya, ini makin amat sangat memperluas pernyataan diri
Paus di Roma akan kedudukannya. Sehingga usaha untuk berdamai dengan Gereja Timur makin sulit.
Misalnya pada tahun 1089 untuk mengadakan hubungan yang baik, Gereja Timur meminta pengakuan
iman dari Paus Urbanus II, dia menolak melakukannya, sebab dia merasa jika memberikan pengakuan iman
itu berarti Uskup Roma dapat dihakimi oleh orang lain di dalam Gereja. Dan pada saat Perang Salib yang
pertama tahun 1096 itulah kedudukan Paus di Roma sebagai penguasa sudah mapan sekali. Pada akhirnya
para tentara perang salib inilah yang memeteraikan skisma (perpecahan) diantara dua Gereja ini. Para
pasukan Salib itu merebut Yerusalem pada tahun 1099, serta mengusir ummat Islam dari situ, namun juga
mendirikan suatu Hierarkhi Kegerajaan Latin, dan mengusir Patriarkh Timur yang sah baik di Yerusalem
maupun di Antiokhia. Sejak saat itu baik di Palestina maupun di Syria terbentuk suatu Kepatriarkhan Latin
Ritus Timur, sebagai tandingan dari Kepatriarkhan Timur Orthodox yang sah. Kaum Roma Katolik (Latin)
yang menggunakan Ritus Timur, yaitu Tata Ibadah dan Spiritualitas Gereja Orthodox, baik di Palestina
maupun di Syria itu akhirnya dikenal dengan nama kaum “Melkit” , yaitu nama yang tadinya digunakan
oleh kaum “Monofisit” ( Yakobit) di Syria untuk menyebut Ummat Kristen Syria Orthodox yang membela
rumusan Kalsedonia. Sehingga sekarang Gereja dari Tradisi Syria ini terbagi jadi lima bagian, yaitu: Syria-
Antiokhia Orthodox (Kalsedonia) yang tetap bersatu dengan segenap Gereja Orthodox alur utama lainnya
dan meskipun mereka adalah orang Syria asli dan Patriarkhnya yang sekarang (1997) Ignatius IV adalah
orang Syria mereka disebut “Orthodox Yunani”, hasil pemaksaan Hirarkhi Latin pada saat Perang Salib:
Syria-Roma Katolik Ritus Timur : “Maronit” dan “Melkit” , serta kelompok yang memisahkan diri pada
Konsili Kalsedon Syria-Antiokhia Yakobit ( Monofisit, Oriental Orthodox), dan Ummat Syria di Persia yang
memisah dari Gereja Antiokhia dan menerima Nestorius sebagai simbol theologi mereka: Syria-Kaldea
(Pre-Kalsedonian) yang disebut Gereja “Nestorian” atau Gereja Persia.

Sementara itu di Gereja Barat terjadi pembaharuan-pembaharuan Cistercian dari Ordo Benediktin
(sekarang terkenal sebagai “trappist” ). Wakil terbesar dari Gerakan ini adalah Bernard dari Clairvaux.
Dia berkotbah kepada para pasukan Salib dan ikut berperang bersama Abelard. Gerakan Carthusian dari
kebiaraan para petapa juga terjadi pada zaman ini.

Di daerah-daerah yang diduduki Islam terutama di Syria dan Irak, orang-orang Kristen setempat
(Monofisit, Nestorian, Orthodox) yang menjadi kelompok minoritas yang dilindungi (ahlul dzimma)
diminta untuk menterjemahkan karya sastra, dan ilmu-ilmu pengetahuan Kristen Timur, maupun Yunani
klasik dari bahasa Yunani atau terjemahan Syria ke dalam bahasa Arab, oleh para kalifah Islam. Hal ini
terjadi pada saat pemerintahan Kalifah Al-Ma’mun yang mendirikan Balai Terjemahan yang disebut
sebagai Baitul Hikmat. Terjemahan keilmuan dari Gereja Timur ke dalam bahasa Arab itu sangat
membantu perkembangan keilmuan dalam Islam. Terjemahan bahasa Arab ini akhirnya juga tersebar
sampai ke kalifahan Islam di Eropa, Cordova, Spanyol. Disana karya terjemahan bahasa Arab itu
diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Latin. Dari situlah orang-orang Kristen Barat yang selama ini
terkurung dalam zaman kegelapan menemukan kembali keilmuan Kristen dari Gereja Timur melalui Islam,
dan dengan demikian membantu bangkitnya filsafat Skolastikisme di Barat yang berpuncak pada tulisan-
tulisan Thomas Aquinas.

E. Zaman Kesesakan

Ancaman Turki, Perkembangan Orthodoxia di luar Konstantinopel, dan Usaha-usaha Penyatuan


Gereja (abad 12 s/d abad 14)

a. Ancaman Turki
Menginjak abad kedua belas kekaisaran Byzantium dibawah wangsa Comnenus, harus menghadapi tiga
musuh sekaligus. Dari Barat harus menghadapi Pasukan Salib, dari selatan harus menghadapi ancaman
kekalifahan Arab, serta musuh baru yang muncul adalah bangsa Turki yang berasal dari Timur. Mereka
adalah suku Tartar, yang telah memeluk agama Islam ketika mereka menghancurkan Bagdad.
Kaisar Alexios Comnenus menetapkan bahwa Gunung Athos di semenanjung Khalkidiki, Yunani, harus
menjadi pusat kerahiban Gereja Orthodox, dan sampai sekarang menjadi pusat spiritualitas Gereja
Orthodox internasional. Theologia Iman Kristen Orthodox pada saat ini sudah begitu mapan, yang pada
pokoknya merupakan Theologia dari Ketujuh Konsili bersama dengan praktek-praktek awal Gereja Purba,
serta penjelasan-penjelasannya dalm tulisan para Bapa Gereja. Sehingga theologia Iman Kristen Orthodox
bukanlah pendapat perorangan namun Iman segenap Gereja itu sendiri, sikap yang mana tetap menjadi ciri
khas dari Gereja Orthodox masakini juga. Perorangan boleh menggunakan gaya dan caranya sendiri dalam
menyampaikan iman yang satu dan yang sama irtu, namun isinya adalah iman yang tak berbeda dari Iman
yang sejak zaman purba diimani Gereja sejak awal, dibela dan dijelaskan dalam Ketujuh Konsili, serta
dijabarkan oleh para Bapa Gereja dan dihidupi dalam perayaan-perayaan Ibadah dan Liturgi Gereja.

Sementara itu di Kiev, Rusia, Kekristenan Orthodox terus berkembang. Pada tahun 1124 dilaporkan terjadi
kebakaran 600 buah gedung Gereja, menunjukkan banyaknya gedung Gereja saat itu, dan sekaligus
perkembangan Kekristenan disitu. Rusia mewarisi theologia dan liturgi yang sudah mapan dari sejarah
Kekristenan me;lalui Byzantium dan seluruh iman Gereja Purba tanpa dikurangi, diubah ataupun
ditambah. Sehingga Iman Gereja Orthodox Rusia ataupun Gereja Orthodox dimanapun adalah satu dan
sama. Pada awal abad ini Pangeran Vladimir Monomakhos menulis buku “Amanat Untuk Anak-
Anakku” suatu nasihat kepada anak-anaknya bagaimana seharusnya menjadi pemimpin Kristen.

Sementara itu Gereja Serbia pada tahun 1217 mendapat restu dari Konstantinopel untuk menjadi Gereja
mandiri melalui usaha Sava, dan pada tahun 1219 Sava sendiri diangkat menjadi Episkop Agung yang
pertama oleh Patriarkh Manuel dari Konstantinopel. Hal ini terjadi setelah Kaisar Byzantium
memberikan ummat Serbia kerajaan bagi mereka di tanah asli mereka. Ini terjadi atas usaha pemimpin
mereka Nemanya ( 1113-1199). Pada saat abad dimana Gereja Serbia diakui sebagai Gereja mandiri,
demikian pula Gereja Bulgaria, dengan Episkop Agung dari Tvorno sebagai pemimpin Gereja Bulgaria.

Gereja Barat bersama dengan sentralisasi kepausan juga menyaksikan bangkitnya aliran Victoria dari
Theologia Agustinian yang dipimpin oleh Hugo (meninggal 1141) dan Richard dari Santo Victor. Juga
pada saat ini Petrus Lombardus menulis karyanya yang terkenal “Kalimat-Kalimat” .

b. Perang Salib Keempat dan Konsili Lyons

Abad ketiga belas diawali dengan apa yang dianggap sebagai peneguhan terakhir dari Skisma Gereja Barat
dengan Gereja Timur, yaitu peristiwa Perang Salib Keempat. Pada tahun 1204 Pasukan Salib Roma
Katolik itu gagal menyerang Islam, mereka berbalik menyerbu Konstantinopel. Kota Kristen itu dirampok
habis-habisan. Mereka menghancurkan dan mencuri benda-benda suci dari gereja-gereja. Mereka
memporak-porandakan dan menajiskan altar-altar (mezbah-mezbah). Banjir darah memenuhi
Konstantinopel. Diperkirakan orang Kristen Orthodox yang mati dalam Perang Salib Keempat di tangan
ummat Latin ini jauh lebih banyak dari ummat Islam yang mati di tangan mereka selama Perang Salib itu.
Seorang Kardinal Latin Thomas Morosini diangkat sebagai Patriarkh Konstantinople, sementara
Patriarkh yang sah diusir dalam pembuangan. Demikian juga seseorang bernama Frank diangkat jadi
kaisar, sementara bersama Patriarkh yang sah, Kaisar Konstantinopel melarikan diri dari serbuan tadi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, orang-orang Latin Roma Katolik dari Gereja Barat, menjadi musuh
yang terang-terangan di dalam pikiran orang-orang Kristen Orthodox di Timur. Tulisan-tulisan dari Gereja
Orthodox saat ini mulai diarahkan untuk menyerang Kepausan dan Gereja Latin Roma Katolik itu sendiri.
Pemerintahan orang Latin Roma Katolik di Konstantinopel berakhir sampai tahun 1261, ketika
Kaisar Mikhael Paleologos, berhasil merebut Konstantinopel kembali dari tangan ummat Roma Katolik
Latin itu, serta menempatkan kembali Patriarkh yang sah pada tempatnya.

Kaisar Mikhael III dalam situasi yang tak dapat ditahan karena dari Timur diserang Turki, dan dia sendiri
tak dapat menjamin bahwa Pasukan Salib dari Gereja Barat tidak akan kembali menyerang lagi. Oleh
karenanya, demi alasan politik, dia mengrim utusan para Episkop menghadiri Konsili dari Gereja Barat
di Lyons pada tahun 1274 dengan harapan mendapatkan sympathy serta bantuan ekonomi dan militer
bagi kerajaan yang hampir roboh itu. Gereja Barat mengusulkan pada utusan-utusan Kaisar asal mau
mengakui Paus di Roma sebagai penguasa tertinggi, mereka boleh menjalankan tata-ibadah Timur milik
mereka sendiri, dan boleh tanpa menggunakan “filioque” , asal doktrin keluarnya Roh Kudus dari “Bapa
dan Putra” diakui, dan tidak disangkal sebagai bidat. Karena dalam keadaan terdesak maka usulan Konsili
itu diterima oleh para utusan Mikhael, yaitu: Paus di Roma adalah Penguasa Tertingggi, “filioque” harus
diterima – untuk yang pertama kalinya hal ini dituntut dalam sejarah. Namun ternyata janji orang-orang
barat itu kosong belaka. Mikhael tak pernah mendapat bantuan apapun sampai matinya pada tahun 1282.
Melihat fakta ini, maka akta penyatuan Gereja di Lyons ini langsung ditolak oleh semua Episkop dari Timur,
segera setelah Mikhael meninggal. Karena dianggap menyalahi Iman Gereja dengan tindakannya itu, maka
Kaisar Mikhael meninggal tanpa diberikan upacara pemakaman secara Gerejani.

c. Gereja Rusia dan Gereja Barat

Sementara itu pada abad ketiga belas ini Rusia berada dibawah penyerbuan bangsa Mongolpada tahun
1237 dan dijajah oleh kaum Tartar ini. Negara Kiev runtuh pada tahun 1240. Pada tahun 1231 Alexander
Nevsky menjadi Pangeran di Novgorod dan pada tahun 1240 berhasil memimpin bangsa Rusia memukul
mundur orang-orang Roma katolik Swedia yang menyerang Rusia. Dia juga berhasil mengadakan
perundingan dengan Khan Batu, untuk meringankan beban jajahan mereka atas rakyat Rusia, dia rela
membayar upeti kepada orang Mongol asalkan negaranya mendapatkan damai. Dia pulang dari Mongol
dengan mendapat gelar Pangeran Agung Kiev. Dia meninggal pada tahun 1263, dan diakui sebagai orang
suci Gereja karena kekudusan pribadinya, hikmat praktis, dan diplomasinya – yang semuanya itu
didedikasikan demu rakyatnya atas nama Kristus.

Abad ketiga belas ini di Gereja Barat disebut sebagai “abad paling agung.”. Karena Gereja Barat mulai
menemukan lagi keilmuan melalui terjemahan bahasa Latin dari bahasa Arab karya-karya Kristen Timur
yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani dan terjemahan Syria oleh orang-orang Kristen Timur dalam
daulat Islam seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya. Muncullah kegiatan “skolastikisme” yang
menetukan arah theologi Gereja Barat selanjutnya. Diantara tokoh-tokoh skolastis ini adalah Duns Scotus
serta Albertus Magnus dan muridnya Thomas Aquinas yang menulis “Summa Theologia” yang
menggunakan prinsip-prinsip logika dan filsafat daripada prinsip-prinsip Alkitab, yang mendominasi
theologi resmi Gereja Katolik Roma sampai Konsili Vatikan Kedua pada paruhan terakhir abad keduapuluh.
Disinilah yang membedakan cara berteologi Gereja Orthodox dan Roma Katolik. Karena Gereja Orthodox
tetap setia pada prinsip theologia konsili, serta penjabaran para bapa gereja, yang dialami dalam liturgi,
theologia yang mana adalah iman am Gereja dan berlandaskan Alkitab, bukan filsafat.

d. Gregorios Palamas: Essensi (Dzat Hakekat) Allah dan Energi Allah

Pada abad keempat belas kita jumpai perdebatan theologia yang menarik di Gereja Timur, sekitar theologia
Aghios Gregorios Palamas. Dia adalah seorang rahib di Gunung Athos, dimana praktek Doa Yesus : ‘Tuhan
Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah hamba orang berdosa ini” dengan menyatukan pikiran dan hati
melalui disiplin tubuh yang ketat. dan berfokuskan pada “Nama Yesus” itu dilaksanakan. Sehingga mereka
mengalami keteduhan batin (“hesykhia”) tenggelam dalam hadirat Roh Kudus dalam penyatuan dengan
Yesus Kristus. Itulah sebabnya metode doa yang sampai sekarang tetap digunakan oleh ummat Orthodox
ini, disebut sebagai“hesykhasme” Banyak dari para rahib ini maupun ummat awam Orthodox dalam
pengalaman doa mereka secara demikian mengalami persekutuan dan panunggalan yang nyata dengan
Allah, termasuk mendapatkan penglihatan rohani akan Terang Ilahi yang Tak Tercipta., seperti yang dilihat
para murid ketika Yesus dimuliakan diatas gunung. Pada tahun 1326 pengalaman melihat Terang Ilahi Tak
Tercipta dalam praktek Doa Yesus itu dikecam oleh Barlaam dari Kalabria, Itali. Dia adalah orang Yunani
namun yang mengikuti faham humanisme dari “renaissance” Gereja Barat yang menggunakan filsafat dan
ide theologia Barat dimana kemungkinan bagi manusia untuk mengalami persekutuan dan pengalaman
panunggalan dengan Allah itu disangkal. Kecaman dari Barlaam ini dihadapi oleh Gregorios Palamas yang
membela posisi Iman Kristen Orthodox bahwa manusia dapat mengalami persekutuan dan panunggalan
dengan Allah secara sungguh-sungguh melalui Kristus dan oleh Roh Kudus di dalam Gereja.

Suatu Konsili padsa tahun 1346 mendukung pengajaran Gregorios Palamas ini. Dalam pengajaran itu
ditegaskan bahwa panunggalan yang dimaksud bukanlah panunggalan secara “pantheistis” seperti yang
diajarkan filsafat kafir, namun panunggalan secara Kristologis, Pnevmatologis dan Ekklesiologis. Artinya
oleh iman melalui baptisan kita manunggal dengan kematian dan kebangkitan Kristus artinya manunggal
dalam kehidupan Kristus sendiri. Hidup Kristus itu disampaikan kepada manusia oleh Roh Kudus, dan
pengalaman hidup Kristus, yang adalah Hidup Allah sendiri, oleh Roh Kudus itu dialami dalam pengalaman
sakramental, ibadah dan doa dalam persekutuan Gereja.

Dengan demikian kita mengalami hidup Allah tadi secara nyata. Menyatu pada hidup
Allah bukanlah menyatu pada “Essensi” ( Dzat-Hakekat) Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh filsafat
“pantheisme” mistik, karena itu tidak mungkin. Namun menyatu dengan tindakan, hadirat dan energi
Allah yang memang tak tercipta dan bersifat ilahi.( misalnya yang nampak dalam wujud terang ilahi tadi).
Energi-energi Ilahi ini disalurkan atau dikaruniakan kepada manusia melalui Rahmat Ilahi atau Kasih
Karunia Allah,dan terbuka bagi partisipasi, ma’rifat dan pengalaman manusia.

Pada Konsili yang diadakan pada tahun 1347 dan 1351 sekali posisi Gregorios Palamas ini diteguhkan
persis seperti yang diajarkan Alkitab dan Tradisi Theologis Gereja Orthodox sepanjang segala abad. Sejak
saat itu perbedaan theologis mengenai “Essensi, Supra-Essensi”(“Adi Dzat-Hakekat”) dan “Energi-
energi” Ilahi menjadi bagian resmi dari Doktrin Gereja Orthodox.. Banyak orang karena tak mengerti
posisi Iman Kristen Orthodox akan perbedaan essensi dan energi ilahi ini menuduh Gereja Orthodox adalah
Gereja Mistik, dalam arti pantheisme, yang juga amat ditolak oleh Gereja Orthodox. Gereja Orthodox adalah
Gereja yang sangat kharismatis, dengan penekanannnya pada pengalaman Roh Kudus oleh Energi Ilahi
secara nyata, namun dengan corak yang amat berbeda sekali dari penghayatan Gerakan Kharismatik
modern. Sementara itu Kaisar Yohanes V Paleologos masih mengharapkan bahwa Gereja Barat akan
memberikan bantuan dari serangan Turki yang makin mendesak itu. Dia mengadakan persekutuan dengan
Gereja Roma tanpa ada usaha untuk penyatuan secara resmi. Pada abad keempat belas ini Gereja Barat
sendiri sedang mengalami masalah internal. Pausnya ditawan di Avignon, dan ada tiga orang yang
menyatakan diri sebagai Paus. Inilah yang disebut “Skisma Besar” dalam Gereja Barat.

e. Situasi di Rusia, Serbia dan Bulgaria

Rusia bagian selatan masih dibawah penjajahan Tartar pada abad keempat belas ini, namun bagian utara
merdeka dari penjajahan dan dibawah pimpinan Pangeran Yohanes Kalita sebagai bupati
dan Metropolitan ( Episkop Agung yang Berkedudukan di Ibu Kota ) Alexis sebagai pimpinan Gereja.
Orang yang sangat berjasa bagi pembangunan Rusia utara ini adalah Aghios Sergios Radonesh, yang lahir
tahun 1314 dan menjadi rahib tahun 1334. Dia hidup dalam segala kesederhanaan, melaksanakan puasa,
tinggal dalam hutan, hidup dalam doa yang mendalam. Akibatnya banyak orang yang menjadi muridnya,
Sehingga hutan itu menjadi perkampungan dan akhirnya berubah menjadi kota. Dia menjadi Bapa Rohani
dari Metropolitan Alexis. Dia dipenuhi karunia-karunia Roh Kudus: kesembuhan ilahi, penglihatan-
penglihatan yang luar biasa, serta mengetahui hati orang. Para pemimpin nasional selalu mohon
nasihatnya. Dan ketika pangeran Dimitri Donskoi akan mengusir penjajah Tartar, dia diberkati oleh
Aghios Sergios ini, sehingga dia mendapat kemenangan dan membebaskan Rusia sekali dan untuk
selamanya dari penjajahan Tartar.

Pada saat yang sama Aghios Stephanos dari Perm mengadakan penginjilan diantara suku-suku Zyria,
menterjemahkan kitab-kitab Gereja ke dalam bahasa mereka dengan menggunakan alfabet yang
diciptakannya untuk mereka. Usaha penginjilan ini akan menjadi fondasi bagi usaha penginjilan
selanjutnya dalam Gereja Orthodox Rusia baik di antara suku-suku Siberia, Jepang, Alaska, maupun Korea.

Serbia mengalami perkembangan yang pesat dibawah pimpinan rajanya Stefanus Dushan dan Gereja
Serbia menjadi keptriarkhan mandiri pada tahun 1346. Sedangkan Gereja Bulgaria dibawah
pimpinan Aghios Klemen dari Ochrid dan pertapaan kerahiban Zoografou bagi ummat Bulgaria dibangun
di gunung Athos, Yunani.

f. Usaha Penyatuan Yang Terakhir : Konsili Ferrara-Florence

Menginjak abad kelima belas Gereja Barat sedang mengalami gejolak mengenai hubungan antara Paus dan
Konsili-Konsili Gereja. Ada yang mengatakan kuasa Paus berada diatas Konsili-Konsili, ada yang
mengatakan Konsili-Konsili diatas Paus. Salah satu Konsili Gereja Barat pada saat ini, Ferrara –
Florence (1438-1439) didukung para paus. Wakil-wakil Gereja Timur ikut datang demi untuk meminta
bantuan lagi dalam perjuangannya melawan Turki. Yang ikut hadir dari Timur saat itu adalah
Kaisar Yohanes VIII, dan Patriarkh Yosef dari Konstantinopel dan Metropolitan dari Kiev, seorang
Yunani bernama Isidoros yang diterima dalam “derajat yang sama” dengan kaum Latin. Meskipun dalam
Konsili ini diputuskan suatu doktrin yang sangat keras mengenai kekuasan Paus, “filioque” dan “api
penyucian” , Kaisar Byzantium amat tak perduli dengan ajaran dan theologia, asalkan dia dibantu Gereja
Barat melawan Turki melalui penyatuan dengan Gereja Barat.

Semua Episkop Orthodox mau menandatangani keputusan ini, kecuali Markus Evgenikus, Episkop dari
Efesus. Tiga keputusan doktrinal Konsili ini sangat berlawanan dengan ajaran Orthodox mengenai
kedudukan Paus, mengenai “filioque” dan sekaligus mengenai “api penyucian” yang memang tak dipercayai
adanya oleh Gereja Orthodox. Hasil usaha penyatuan di Florence ini tidak diumumkan sampai tahun 1452
di Konstantinopel di Gereja Aghia Sofia.

F. Zaman Penjajahan

Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Turki (1453) dan Masa Turkokratia (abad 15 s/d abad 19)

1. Orthodoxia di bawah Islam

Serangan pasukan Turki yang terus menerus, serta bantuan Gereja Barat yang selalu diharapkan namun
tak pernah terbukti itu, akhirnya dampaknya tak dapat dibendung lagi. Dibawah pimpinan Sultan
Muhammad II, pada tanggal 29 Mei 1453, pasukan Turki Muslim berhasil menyerbu Konstantinopel dan
menjebolnya. Konstantinopelpun jatuh ke tangan Turki, dan ini menandai runtuhnya Kekaisaran
Byzantium.. Dan Muhammad II merebut kota itu serta menamakannya “Istanbul” sampai saat ini. Gereja
Aghia Sophia dijadikan Mesjid. Berturut-turut Serbia pada tahun 1459, Yunani pada tahun 1459-60, Bosnia
pada tahun 1463 (dimana banyak kaum “Bogomil” yang keluar dari Gereja itu akhirnya menjadi Muslim),
dan akhirnya Mesir pada tahun 1517, jatuh ke tangan Turki. Selama 400 tahun sesudah itu bangsa Turki
Muslim menjajah ummat Kristen Orthodox di seluruh bekas wilayah Kerajaan Byzantium. Inilah masa yang
terkenal dalam sejarah Gereja Orthodox sebagai masa "Turkokratia" atau masa “Kekuasan Penjajahan
Turki”.

Pada saat ini Patriarkh Konstantinopel dalam keadaan yang sangat sulit, karena sekarang harus berada
dibawah kekuasaan Penguasa yang bukan Kristen. Dari waktu ke waktu Sultan yang berbeda-beda
memperlakukan para Patriarkh dengan cara yang berbeda-beda juga. Sering mereka dipecat dan diganti
sekendak Sultan, banyak diantaranya yang mati digantung tanpa sebab-sebab yang jelas.. Tak jarang pula
Sultan memperjual-belikan kedudukan Patriarkh ini bagi siapa yang mau membayar paling mahal kepada
Sultan. Patriarkh dijadikan sebagai “Ethnarkh” yaitu pemimpin masyarakat Kristen Orthodox, yang harus
menarik pajak pada ummat Kristen yang ada di seluruh wilayah Turki. Ummat Kristen Orthodox dilarang
menjadi tentara, namun mereka ditarik pajak untuk hal itu. Mereka tidak diijinkan menjadi saksi dalam
pengadilan, serta tidak diperkenankan untuk mengajukan orang Muslim ke pengadilan. Mereka dilarang
membangun Gereja yang baru, hanya kadang-kadang dijinkan membangun Gereja lama yang telah rusak.
Mereka dilarang membangun rumah lebih tinggi dari rumah-rumah kaum Muslimin, dilarang naik kuda
yang hanya diperuntukkan bagi kaum Musliminm saja, mereka hanya boleh naik keledai saja. Mereka harus
mengenakan pakaian dan topi yang berbeda dari Kaum muslimin.

Dengan berlalunya waktu, anak-anak mereka banyak yang diambil secara paksa oleh pemerintah untuk di-
Islamkan dan dijadikan pasukan pemerintah yang disebut “Jannisari”. Sering mereka menjadi korban
amukan massa tanpa ada perlindungan hukum, gereja-gereja mereka dirusak, atau rumah-rumah mereka
diserbu. Meskipun tidak selalu terjadi demikian. Ummat Kristen diijinkan murtad ke Islam dan akan diberi
prioritas-prioritas tertentu jika mereka melakukan, namun ummat Islam diancam hukum mati jika sampai
menjadi Kristen. Dan dalam keadaan semacam ini penginjjilan sangat mustahil dilakukan. Memang ada
disana-sini pertobatan dari Islam ke Iman Kristen Orthodox, namun segera hal itu ketahuan orang tadi pasti
akan dibunuh. Demikianlah situasi Ummat Kristen Orthodox pada zaman Turkokratia Muslim ini.

Sesudah kejatuhan Konstantinopel itu hal yang pertama dilakukan oleh Patriarkh Gennadios
Skholarios adalah menolak akta penyatuan Florence. Dia dibawah tekanan yang kuat dari Agios Markos
dari Efesus dalam tindakannya ini. Aghios Markos adalah pembela yang amat kokoh dari Iman Orthodox.,
dan menyebut usaha persatuan di Florence itu sebagai “penyatuan fasik”. Demikianlah kejatuhan
Byzantium tidak berarti kejatuhan Orthodoxia. Biarpun secara manifestasi kesejarahan Gereja Orthodox
mengalami kegoncangan-kegoncangan, namun iman dan kehidupan Gerejawinya sama sekali tak tersentuh
oleh perubahan-perubahan luar ini. Imannya tetap utuh terlindungi asli dan murni tanpa ada pengurangan
ataupun penambahan, sejak zaman rasul sampai masa abad keruntuhan Byzantium ini, dan bahkan sampai
abad modern inipun.

2. Kerajaan Rusia Orthodox

Dengan jatuhnya Byzantium ke tangan kaum Muslimin, benih terbentuknya kekaisaran Rusia mulai
berakar di Moskow. Ivan III Yang Agung (1462-1505), Pangeran dari Moskow, dapat mengalahkan Rusia
utara dan menyatukan dengan daerah Rusia lainnya. Dia menikah dengan puteri Sophia Paleologos dari
Byzantium pada tahun 1472, serta menerima gelar Tsar ( bentuk bahasa Slavia untuk kata “Kaisar”) dan
mengambil alih lambang Garuda Berkepala Dua dari Byzantium, serta menyebut Moskow sebagai Roma
Ketiga , sebagaimana Konstantinopel disebut sebagai Roma Kedua (Roma Baru).

Di Rusia pada abad kelima belas ini terjadi permasalahan mengenai peranan Gereja dalam kehidupan
politik dan sosial dari bangsa itu. Kelompok “bukan pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Nilus dari Sora
( Nil Sorsky) mengajarkan bahwa Gereja terutama biara tak boleh memiliki dan menguasai tanah yang
luas, serta harus bebas dari pengaruh dan kendali langsung dari pemerintah, demi semangat kemiskinan
dan kerendahan hati. Sedangkan kelompok “pemilik” yang dipimpin oleh Aghios Yosef dari Volotsk,
sehingga kelompok ini sering disebut “Yosefit”, mengajarkan bahwa Gereja dan negara harus memiliki
hubungan yang erat, dan bahwa Gereja harus melayani kebutuhan sosial dan politik dari bangsa Rusia yang
sedang muncul ini. Kedua pemimpin ini adalah sama-sama murid dari Aghios Sergius dari Radonesh.
Akhirnya meskipun semangat kaum “bukan pemilik “ itu yang selalu tinggal dalam Orthodoxia di Rusia,
namun cara kaum “pemilik” itulah yang mendominasi kehidupan kegerejaan serta perkembangan
kebangsaan pada abad-abad berikutnya di Rusia.

Sementara itu di Gereja Barat pada abad kelima belas, penolakan pada kekuasaan Paus makin keras, dalam
wujud:

1. Gerakan Konsiliar dimana ada 3 Paus sekaligus pada saat yang sama.

2. Munculnya kesadaran nasional bangsa-bangsa Eropa Barat

3. Munculnya gerakan-gerakan agamawi yang menjadi awal Gerakan Reformasi Protestan.

4. Munculnya Gerakan Renaissance.

Gerakan Renaissance yaitu bangkitnya ketertarikan pada budaya klasik Romawi-Yunani.Tokoh-tokoh


gerakan ini adalah : Erasmus, Lenardo da Vinci, Raphael. Juga harus disebut Yohanes Huss yang dibakar
hidup-hidup karena perlawanannya terhadap Paus dan praktek-praktek Gereja Roma pada tahun 1415.
Demikian juga Savonarola-pun dibakar hidup-hidup oleh perintah paus pada tahun 1498 karena
mengecam dan mengutuk kejahatan dan dosa-dosa dalam Gereja.

3. Gerakan Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Roma Katolik di Gereja Barat

Masuk ke dalam abad keenam belas di Gereja Barat kita menemukan Gerakan Reformasi Protestan dan
Kontra Reformasi Roma Katolik. Martin Luther, Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingli menyerang
penyimpangan-penyimpangan praktek Gerreja Roma serta pengajaran-pengajaran resminya. Pengaruh
reformasi di daratan Eropa ini dibawa ke Inggris sehingga Raja Henry VIIImendirikan Gereja Anglikan
pada tahun 1534, dan John Knox membawa ajaran Calvinisme ke Skotlandia.

Sebagai reaksinya Gereja Roma Katolik mengadakan Konsili di Trente ( 1561-1563) yang secara resmi
merumuskan doktrin khas Roma Katolik: Api Penyucian, Indulgensia, Transubstansiasi, dan posisi-posisi
lain yang diserang Protestantisme. Ajaran Protestan berkisar sekitar: Pembenaran oleh Iman saja,
Keselamatan oleh rahmat saja, serta dasar iman dan kehidupan hanya Kitab Suci saja. Sakramen hanya dua
saja: Baptisan dan Perjamuan Kudus, yang utamanya dimegerti hanya sebagai simbol atau kenangan saja.
Gereja Katolik Roma lebih menegaskan lagi Keunggulan Kekuasan Paus serta kekuasaan hierarkhi yang
juga sangat ditentang kelompok Protestan.

Gerakan Kontra-Reformasi Roma Katolik terutama dipimpin oleh Ignatius dari Loyola yang mendirikan
Ordo Yesuit, untuk membela Sri Paus dan doktrin-doktrin yang telah dirumuskan dalam Konsili Trente,
dengan membantah ajaran Protestantisme sekaligus menarik Ummat Orthodox untuk menyatu dengan
Roma.. Demikian juga Fransiscus Xaverius menyebarkan ajaran Katolik Roma itu sampai ke Asia (Timur
Jauh). Pada saat ini juga terjadi reformasi spiritual di dalam Gereja Roma Katolik yang dipimpim
oleh Teresa dari Avilla.

Sementara itu Luther ingin mengadakan hubungan dengan Patriarkh Konstantinopel: Yeremia II. Karena
permusuhan yang ada antara pemerintah Turki dan pemerintah Jerman, surat Luther dan terjemahan
Pengakuan Augsburg ke dalam bahasa Yunani, baru sampai kepada Patriarkh Yeremia di Konstantinopel
dua tahun kemudian, ketika Luther sudah meninggal. Namun korespondensi dilanjutkan antara Patriarkh
Yeremia II dengan pakar theologia Lutheran: Melanchton, Osiander dan beberapa orang yang lain
Korespondensi itu cukup lama dan panjang, namun akhirnya Patriarkh Yeremia meminta agar para pakar
theologia Lutheran itu menghentikan saja korespondensi itu, karena ketika diingatkan oleh Patriarkh
Yeremia bahwa beberapa ide dari Lutheranisme itu bersifat bidaah dan tak sesuai dengan Iman Rasuliah
Orthodox yang Katolik yang tetap dipertahankan oleh Gereja Orthodox itu, mereka tetap mempertahankan
diri. Maka korespondensipun berhenti sampai disitu. ..

4. Masa Pemerintahan “Ivan Yang Mengerikan” di Rusia

Ivan Yang Mengerikan memerintah Rusia dengan tangan besi. Dia dengan kejam menyiksa siapa saja yang
berani mengecam atau mengkritik tindakannya, termasuk diantaranya banyak rohaniwan Gereja yang
menjadi korban kekejamannya. Dia ingin membuktikan bahwa Rusia adalah sungguh Roma Ketiga dan
berada diatas negera-negara Orthodox yang lain. Bapak rohaninya sendiri Presbyter Sylvester dibuang
dalam tawanan olehnya. Ketika Ivan yang mengerikan ini turun takhta maka dia digantikan oleh
anaknya: Theodoros. Pada saat inilah Patriarkh dari Konstantinopel Yeremia II mengunjungi Rusia untuk
meminta bantuan karena kondisi tekanan yang dialami Gereja Konstantinopel dibawah Turki. Pada saat
kedatangannya inilah Episkop Ayub dari Moskow Patriarkh segenap Rusia pada tahun 1589. Kedudukan
Rusia sebagai Gereja Patriarkhat diakui oleh Patriarkh Alexandria, Patriakh Antiokia dan Patriarkh
Yerusalem pada tahun 1593. Sementara itu di perbatasan sebelah barat Rusia Kerajaan Polandia-Lithuania
mulai berdiri dan mengambil banyak wilayah Rusia. Sehingga penduduk di daerah itu kebanyakan
beragama Kristen Orthodox. Sedangkan pemerintahannya sendiri beragama Katolik Roma. Kaum Yesuit
datang ketempat itu dengan membawa ilmu-ilmu dari Barat sehingga akibatnya terjadilah apa yang disebut
sebagai Persatuan Brest-Litovsk dengan menggunakan persyaratan-persyaratan Konsili Florence
sebagai landasannya. Ummat Orthodox yang masuk dalam persatuan dengan Roma ini boleh menggunakan
cara ibadah dan tradisi Orthodox namun hierarkhinya dan ajarannya sama sekali harus tunduk pada Gereja
Latin di Roma. Mereka inilah yang akhirnya dikenal sebagai Gereja “Katolik Timur”, yaitu Gereja Roma
Katolik yang menggunakan Ritus dari Gereja Orthodox Timur, disamping itu mereka juga disebut sebagai
kaum “Uniat”. Gerakan uniatisme ini tentu saja mendapat perlawanan sengit dari banyak orang.
Perlawanan ini datangnya dari kaum awam yang membentuk lembaga persaudaraan yang mendapat restu
dari Patriarkh Yeremia dari Konstantinopel untuk membela Iman Katolik yang Orthodox melawan
usaha Gereja Roma Katolik ini.

Disamping kesulitan yang dihadapi oleh Gereja Orthodox dari pihak Roma Katolik, ummat Orthodox juga
menghadapi kesulitan dari Islam, dimana banyak ummat Orthodox yang menjadi martyr bagi mereka yang
hidup di wilayah Islam.

5. Masa-Masa Sulit di Rusia

a. Skisma Kaum Percaya Lama

Memasuki abad ketujuh belas Tsar Polandia yang baru saja dinobatkan menyerbu Rusia ketika Rusia baru
saja kehilangan pemimpinnya karena meninggal. Banyak pemimpin Rusia ditawan dan dibunuh oleh
pemerintah Polandia, termasuk Patriarkh Germogen.
Kesulitan ini diikuti dengan Skisma Kaum Percaya Lama di Rusia sebelah Utara. Patriarkh Nikon dari
Moskow ingin mengadakan keseragaman dalam praktek-praktek Liturgis Gereja Rusia agar seirama
dengan seluruh Gereja Orthodox yang lain, Dia ingin mengkoreksi ulang terjemahan-terjemahan buku-
buku Liturgis yang ada. Dia juga ingin mengkoreksi cara orang Orthodox Rusia selama ini membuat tanda
salib dengan dua jari: ibu jari dan telunjuk saja, harus dengan tiga jari: ibu jari, telunjuk dan jari tengah, dan
hal-hal serupa itu yang lain. Menurut ukuran kita saat ini, perubahan semacam itu hanya kecil saja artinya,
namun dalam mentalitas bangsa Rusia waktu itu, menyeragamkan praktek Rusia dengan praktek dari
wilayah-wilayah Patriarkh yang lain, berarti menyangkal kedudukan Rusia sebagai “Roma Ketiga” karena
harus tunduk pada patriarkh-patriarkh lain yang hidup dalam jajahan Islam, sehingga pembaruan yang
sifatnya kecil itu menjadi ledakan besar. Usaha untuk mencari jalan tengah tidak berhasil, sehingga mereka
yang menentang pembaharuan Nikon ini memisahkan diri dari Gereja Resmi, dan tetap mempertahankan
praktek-praktek ritual lama Gereja Rusia, sehingga mereka disebut“Kaum Percaya Lama” atau “Kaum
Ritualis Lama” . Nikon sendiri dipecat dan dipenjara Kaisar karena berani mengingatkan kesalahan Kaisar
di depan umum, sedangkan pemimpin “Kaum Percaya Lama” dihukum mati oleh Kaisar. Teori Moskow
sebagai Roma Ketiga, serta teori keunggulan Rusia atas Patriarkh-patriakh yang lainpun digugurkan. Pada
tahun 1682 Kaisar Petrus yang Agung sangat ingin menyeragamkan praktek-praktek Gereja Rusia dengan
Gereja Barat, namun untung ada Kaum Percaya Lama yang mempertahankan praktek-praktek Gereja
Orthodox Rusia secara murni, kalau tidak ada mereka, telah musnahlah ciri khas Gereja Rusia.

b. Gereja Orthodox Dalam Tawanan Pemikiran Barat (“Pseudomorphosis”)

Pada saat ini Seminari theologia di Kiev didirikan. Banyak pengaruh metode dan sistimatik skolastikisme
pemikiran Barat mempengaruhi Rusia pada saat ini akibat karya orang-orang Yesuit.. Sementara itu di
wilayah Islam, para pemimpin Orthodox tidak mempunyai kesempatan memperkembangkan pemikiran
theologisnya, karena mereka tak diijinkan keluar dari daerah mereka ataupun membuat sekolah theologia
mereka sendiri. Sehingga masa ini Gereja Orhodox mengalami apa yang disebut “ Tawanan Pikiran Barat”
atau “Pseudomorphosis “ selama dua ratus tahun. Artinya Gereja Orthodox tidak dapat berpijak pada
theologia Orthodox yang otentik.

Untuk melawan Katolik mereka menggunakan argumentasi Protestan, misalnya : Patriarkh Kyrillos
Lukaris dari Konstantinopel yang sangat Calvinist, sehingga ajarannya ditolak Gereja sebelum dia
meninggal ditenggelamkan pemerintah Turki ke dalam laut, serta Petrus dari Moghila yang untuk
melawan Protestantisme menggunakan argumentasi Roma Katolik. Pada saat ini pemerintah Turki
menghapuskan kemandirian Gereja-Gereja Orthodox yang lain dan dipaksa tunduk kepada kepatriarkhan
Konstantinopel di Turki agar mudah pengawasannya.

Eropa baru saja pulih dari kekacauan agama akibat reformasi-kontra reformasi. Amerika sudah ditemukan
dan banyak pengikut aliran baru akibat Reformasi Protestan mulai bertempat tinggal disana: Baptis,
Quaker, Puritan, Konggregasionalis, dan lain-lain. Perpecahan dalam denominasi-denominasi terus terjadi
dalam tubuh Protestantisme.

6. Masa pemerintahan Petrus Yang Agung di Rusia

a. Di wilayah Turki

Ummat Orthodox yang ada di wilayah Islam pada abad kedelapan belas mengalami banyak sekali kesulitan.
Sehingga dalam waktu 73 tahun di abad ini tahta kepatriarkhan Konstantinopel digantikan oleh patriarkh-
patriarkh sebanyak 48 kali. Ini menunjukkan kondisi yang mengenaskan dari ummat Kristen yang hidup
dibawah pemerintahan Turki. Ini adalah saat yang paling pekat bagi ummat Kristen Orthodox. Namun
ditengah situasi seperti ini tak berarti Gereja tak memiliki viatalitas dan kebenaranian untukl bersaksi.
Muncullah Aghios Kosmas Aitolos seorang misionari yang sangat berani ditengah situasi yang hampir
mustahil itu. Dia meninggalkan biaranya di Gunung Athos untuk mengajar Injil kepada ummat yang sedang
teraniaya itu. Dia adalah pengkhotbah dan guru serta pelaku mukjizat. Akhirnya apa yang dilakukan itu
harus ditebus dengan nyawanya sendiri dengan dibunuh sebagai martyr di tangan orang-orang
Turki. Aghios Makarios dari Korintus adalah pengkotbah dan missionari sekaligus, yang diangkat
menjadi Episkop di Korintus. Dia mentobatkan banyak orang yang sedang dalam tekanan pemerintah yang
memusuhi agama mereka itu. Aghios Nikodemas dari Gunung Athos, adalah orang yang bertanggung-
jawab bagi kebangunan rohani diantara ummat Orthodox ditengah-tengah jajahan Turki itu.

b. Situasi di Rusia: Sinode Suci yang Memerintah

Masa dalam “Tawanan Pikiran Barat” yang sangat skolastis itu masih mendominasi Rusia, terutama dalam
diri Tsar Petrus yang Agung. Dia ingin membuat Gereja Orthodox Rusia itu menjadi seperti Gereja Lutheran
di Jerman, sehingga dia memecat Patriarkh serta membubarkan sistim kepatriarkhan dan
menggantikannya dengan sistim synode, yang disebutnya : Synode Suci yang memerintah[b], yang
dirancang oleh [b]Theophan Prokopovichyang sangat Pro-Protestan. Synode Suci ini terdiri dari dari
para Episkop,. Para Presbyter, serta orang-orang awam yang ditunjuk oleh Kaisar dan harus tunduk kepada
Kaisar sebagai pimpinan duniawinya. Ini adalah masa yang paling sulit bagi Gereja Rusia. Sistim “Synode
Suci” yang sangat tidak Orthodox ini baru dibubarkan pada tahun 1918 (terlalu terlambat karena Revolusi
Bolshevik sudah terjadi dan pemerintah Komunis sudah berkuasa) ketika seorang Patriarkh dipilih lagi
untuk Gereja Rusia. Orang yang ditunjuk oleh Petrus Yang Agung menjadi pemimpin pertama dari Synode
Suci ini adalah Stefan Iavorskii, yang sangat Pro-Roma Katolik. Itulah sebabnya ummat Orthodox baik
yang dibawah Islam atau di Rusia terbagi menjadi Pro-Roma atau Pro-Protestan, dan harus membela salah
satu dari kedua posisi yang asing dari Tradisi Theologia Orthodox sendiri itu. Tradisi Gereja Orthodox yang
hidup hampir tak dikenal oleh situasi sejarah yang demikian ini. Orthodoxia betul-betul sedang dalam
“Tawanan Pikiran Barat” dan theologinya betul-betul sedang mengalami “Pseudomorphosis” (“Perubahan
Bentuk yang Palsu”). Namun suatu gerakan pembaharuan rohani yang otentik Orthodox sudah mulai juga
pada abad yang dekaden bagi Gereja Orthodox ini. Ini mulai dengan ditemukannya lagi untuk pertama kali
sumber tradisional Iman dan spiritualitas Orthodox diantara lingkungan kaum rahib. Paisii Velikovskii
(wafat 1794) , seorang rahib dari Moldavia, pergi ke Gunung Athos, dan pulang membawa
kitab “Philokalia” , yaitu kumpulan tulisan-tulisan spiritual dan theologis dari para Bapa Gereja Timur,
yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Rusia. Dari sinilah secara pelan-pelan pemikiran yang otentik
Orthodox mulai ditemukan kembali oleh Gereja. Pimpinan Gereja Rusia yang terkenal pada abad kedelapan
belas ini Platon dari Moskow , pengarang banyak buku theologia, pendukung studi kesejarahan, serta
perancang rencana yang membuat kembalinya Kaum Percaya Lama bersekutu dengan Gereja Orthodox.

Pada abad keselapan belas ini missionari Rusia mulai menyebarang Siberia ke Alaska, terutama Aghios
Herman yang mentobatkan suku-suku Eskimo di Kutub Utara kepada Iman Kristen Orthodox, yang tetap
menjadi iman mereka sampai kini.

c. Gereja Barat

Abad kedelapan belas adalah abad kebangunan rohani dan perluasan misi bagi Gereja Barat. Yohanes
Wesley memulai Gerakan Methodisme di Inggris, dan dibawanya ke Amerika sampai mempengaruhi
“Kebangunan Besar” di Amerika, yang merobohkan tembok-tembok pemisah diantara kaum Protestan, dan
menjadi sumber theologia Evangelikal (Injili) nantinya. Jonathan Edwards (wafat 1758) dan George
Whitefield (wafat 1770) pemimpin dai Gerakan Kebangunan Rohani Protestan ini. Namun pada saat ini
juga semangat pencerahan dan romantisisme juga telah masuk ke dalam masyarakat Barat yang akan
menjadi sumber bagi theologia liberal dalam kalangan ummat Protestan dan juga Katolik Roma. David
Hume, Immanuel Kant, dan Frederich Schleimacher muncul pada saat ini pula Gereja Roma Katolik
pada abad kedelapan belas mengalami gerakan misioner yang amat besar namun juga konflik dengan
semangat pencerahan.

7. Kebangunan Rohani dan Gerakan Misi Gereja Orthodox Rusia

a. Kebangunan Rohani

Masuk kedalam abad kesembilan belas, kita masih menjumpai Gereja Rusia tetap dibawah tekanan
pemerintah dengan Synode Suci yang dipaksakan ke dalam Gereja Orthodox itu. Inilah penyebab
kelumpuhan Gereja sehingga tak mampu menghadapi Komunisme ketika itu muncul di Rusia, serta salah
satu penyebab kejatuhan Rusia ke tangan Komunis nantinya. . Gereja sangat dikendalikan dan disensor
dengan ketat oleh pemerintah, dimana Patriarkh tak dimilikinya, konsili-konsili Gereja tak pernah
dilakukannya. Namun benih kebangunan rohani yang sudah mulai ditanamkan pada abad ke delapan belas
itu mulai menghasilkan buah pada abad kesembilan belas ini. Pada saat ini muncullah seorang tokoh luar
biasa Aghios Serafim dari Sarov ( wafat 1833). Dia adalah seorang rahib yang selama 20 tahun tinggal
tersembunyi dalam hutan tenggelam dalam doa yang mendalam (terutama Doa Yesus), puasa, dan disiplin-
disiplin rohani. Pada tahun 1825 dia keluar dari pertapaannya, dan disitulah kebangunan rohani di mulai.
Ribuan orang datang untuk dijamah olehnya, dan ribuan orang disembuhkan. Dia mengetahui masalah
orang sebelum diberi tahu. Disaksikan oleh muridnya: Motovilov, badannya mengeluarkan sinar terang
yang menyilaukan seperti yang terjadi ketika Yesus dimuliakan diatas gunung. Ini meneguhkan kembali
apa yang telah dibela oleh Aghios Gregorius Palamas mengenai “Pengalaman Energi Ilahi” yang telah
dinyatakan sebagai bagian dari ajaran resmi Gereja Orthodox. Aghios Serafim mengajarkan bahwa tujuan
hidup Kristen adalah untuk mendapatkan Roh Kudus dan tenggelam di dalamnya, dan kalau Tuhan
karuniakan sampai mengalami “Terang Tak Tercipta” seperti yang dialaminya itu. Disamping Aghios
Serafim dari Sarov, tokoh pembaharuan dan kebangunan rohani Orthodox di Rusia adalah para tetua
rohani dari Pertapaan Kerahiban Optina.

Kebangunan rohani dalam Gereja Orthodox selalu terkait dengan kehidupan penyangkalan diri dan praketk
Doa Batin: Doa Yesus. Yang terkait dengan hal ini adalah pengalaman-pengalaman energi ilahi dalam
mukjizat-mukjizat, kesembuhan-kesembuhan, karunia pembeda-bedaan roh, karunia pemberitahuan hal
sebelum terjadi dan terutama munculnya para “tetua rohani” yang memiliki karunia mengetahui isi hati
seseorang ( “staretz” “yeronda”) , serta pengudusan kehidupan. Tokoh lain dalam gerakan kebangunan
rohani Orthodox pada saat ini adalah: Episkop-Rahib Ignatii Brianchaninoff (wafat 1867)
serta Theophan Sang Penyendiri (wafat 1867) yang menulis masalah-masalah rohani yang berjilid-jilid
banyaknya. Juga munculnya suatu buku populaer mengenai “Doa Yesus” oleh seorang penulis Rusia yang
tak dikenal namanya :“Jalan Si Pengembara” (Di Indonesia telah diterjemahkan oleh Gereja Roma Katolik
dari Yayasan Kanisius, dengan judul “Doa Tak Kunjung Putus”).

Tokoh lain dari masa kebangunan rohani abad kesembilan belas di Rusia ini adalah seorang presbyter yang
menikah : Romo Yohanes Sergieff dari Kronstadt ( wafat.1908). Dengan isterinya sendiri dia membuat
rumahnya sebagai pertapaan, mereka berdua telah berjanji untuk hidup sebagai rahib dan rahibah dan
mengubah kehidupan rumah tangga mereka menjadi kehidupan untuk Kristus. Romo Yohanes ini sangat
terkenal sebagai seorang gembala Gereja. Dia berkhotbah.mengajar, dan menyembuhkan banyak orang
melalui doa-doanya. Dia menekankan perlunya ambil bagian dalam Perjamuan Kudus sesering mungkin,
serta mengikuti Sakramen Pengakuan Dosa sesering mungkin.Buku bimbingan rohaninya yang amat
terkenal adalah : “Hidupku di dalam Kristus” .

Disamping di bidang rohani, di bidang theologipun Gereja Orthodox pada abad kesembilan belas ini
mengalami kebangunan. Tokoh-tokoh kebangunan theologia pada saat ini adalah Metropolitan Filaret
dari Moskow ( wafat 1867), serta pakar theologia awam : Alexei Khomiakov(wafat 1860) yang karya-
karya tulisnya - misalnya buku yang terkenal “Gereja Adalah Satu” - aslinya tidak diterbitkan di Rusia
karena sensor pemerintah. Dia adalah salah satu dari tokoh-tokoh pemikir original yang menemukan
kembali sumber otentik theologia Orthodox dari Iman Konsiliar dan Para Bapa Gereja Purba, serta
Kehidupan Sakramental Gereja, dan melepaskan Theologia Orthodox dari “Tawanan Pemikiran Barat” yang
berlandaskan pada kategori theologia Agustinian dan metode Skolastikisme, baik yang Roma Katolik (
sebagaimana yang dijabarkan oleh Thomas Aquinas) maupun yang Protestan ( sebagaimana yang
dijabarkan oleh Luther dan Calvin, yang metode dan kategori pemikirannya menjadi pijakan semua bentuk
aliran dan theologia Protestan selanjutnya ). Sejak saat itu sampai kini Gereja Orthodox telah menemukan
kembali jati dirinya dan berpijak kembali kepada Ajaran Rasuliah yang Orthodox dan Katolik dari Gereja
Purba, dan lepas dari “Tawanan Pemikiran Barat” dan dari penampakan palsu “Pseudomorphosis” itu.

b. Gerakan Misi

Banyak orang Kristen Non-Orthodox menuduh Gereja Orthodox tidak pernah mengadakan misi keluar, dan
hanya terkungkung dalam faham “mistik” dalam lingkup dirinya sendiri saja. Entah apa pula yang dimaksud
mereka dengan “mistik” Gereja Orthodox ini. Namun mengenai tuduhan Gereja Orthodox tak pernah
melakukan misi itu hanyalah karena ketidak-tahuan sejarah Gereja Orthodox sejak zaman Purba, zaman
Konsili pertama oleh Ulfilas, pertobatan Eropa Timur dan Rusia, bahkan ditengah-tengah tekanan Islam,
serta karya Gereja Rusia yang sedang kita bahas ini. Sebagaimana di Gereja Barat, abad kesembilan belas
di Rusia adalah juga abad kegiatan misioner. Presbyter Makarii Glukharev (wafat 1847) mendedikasikan
dirinya bagi penginjilan suku-suku di Siberia. Dosen awam, Nikolai Ilminskii ( wafat 1891)
menterjemahkan Alkitab dan buku-buku Gereja ke dalam bahasa suku-suku ini. Akademi Theologia yang
didirikan di Kazan menjadi pusat kegiatan misioner dari Gereja Rusia. Pada saat ini, Episkop Nikolas
Kasatkin dari Tokyo (wafat 1912) mentobatkan beribu-ribu orang Jepang kepada Iman Orthodox, dan
pada saat meninggalnya, dia telah meninggalkan suatu gereja lokal yang mandiri ( sekarang Katedralnya
“Nikolai-Do” ada di Tokyo), dengan Kitab Suci dan buku-buku Gereja dalam bahasa setempat dengan
presbyter-presbyter orang-orang setempat. Aghios Herman yang telah kita sebutkan besama
Romo Yohanes Veniaminoff juga mengabarkan Injil kepada suku Eskimo: Aleut dan meinggalkan orang-
orang Eskimo mayoritasnya adalah pemeluk Iman Orthodox sampai kini. Pada saat ini pula banyak ummat
Orthodox yang pindah dari tanah asli mereka untuk tinggal di negara-negara yang lebih bebas, terutama
Amerika Serikat, Australia, Eropa Barat, Amerika Latin dan New Zealand. Mereka inilah yang akan menjadi
penggerak misi Gereja Orthodox pada abad kedua puluh nanti.

c. Masa Turkokratia Berakhir

Secara theologia selama dua ratus tahun Gereja Orthodox dalam “Tawanan Pikiran Barat” dan akhirnya
dapat melepaskan diri pada abad kesembilan belas. Demikian pula masa Turkokratia selama empat ratus
tahun itu berakhir pula pada abad kesembilan belas ini. Pada abad ini sejumlah besar ummat Orthodox
dapat merebut kemerdekaan mereka dari jajahan Turki Muslim. Perjuangan kemerdekaan Yunani pada
tahun 1821 menyebabkan Patriarkh Gregorius dari Konstantinopel mati digantung pemerintah Turki.
Sesudah Yunani merdeka menjadi negara mandiri, maka status mandiri dari Gereja Yunani
diproklamasikan pada tahun 1833, dan diteguhkan oleh Konstantinopel pada tahun 1850. Sekolah
theologia Halki di Konstantinopel didirikan, yang darinya, Theologia Otentik Orthodox disebarkan dan
diajarkan kembali, seta banyak para pemimpin Orthodox dihasilkan oleh sekolah ini. Namun pada tahun
1970an ditutup lagi oleh pemerintah Turki sampai sekarang belum boleh dibuka. Gereja umania dan Srrbia
serta Bulgariapun memperoleh status mendiri pada saat ini.

d. Gereja Barat

Pada abad kesembilan belas kita menemukan Protestantisme sedang mengalami konflik antara aliran
theologia liberal dan Neo-Orthodoxy dengan kaum Konservatif, Evangelikal dan Fundamentalis. Sedangkan
dalam Gereja Roma Katolik, pada awal abad ini dicanangkan Dogma Roma Katolik “Maria Terkandung
Tanpa Dosa Asal” oleh Paus Pius IX, tahun 1854. Sedangkan pada tahun 1870, Konsili Vatikan I,
menegaskan doktrin “Paus Tak dapat Salah” , suatu doktrin yang makin menjauhkan Gereja Roma Katolik
dari Gereja Orthodox. Pada tahun 1848 menanggapi sindiran-sindiran Paus Pius IX yang ditujukan kepada
Gereja Orthodox termasuk kedua doktrin baru yang dicanangkan oleh Gereja Roma Katolik, namun yang
tak dapat diterima oleh Gereja Orthodox itu, maka para Patriarkh dari Timur mengeluarkan Surat Edaran
yang menegaskan Sifat Konsiliar dari Gereja Orthodox.

G. Zaman Modern ( Abad 20-21)


Gereja Orthodox Masakini
a. Situasi Gereja Orthodox dalam Diaspora

Ada banyak hal terjadi selama abad kedua puluh dalam Gereja Orthodox. Terutama perpindahan ummat
Orthodox dari negera asli masing-masing ke daerah-daerah yang telah kita sebutkan diatas. Sehingga
terbentuk kelompok-kelompok ummat Orthodox yang berkumpul atas dasar kebangsaan. Dan mereka ini
loyal kepada patriarkhat asal mereka masing-masing, sehingga terbnentuklah yurisdiksi-yurisdiksi yang
bermacam-macam sesuai dengan asal negara mereka. Situasi ini sangat tidak sesuai dengan hukum Kanon.
Namun di Amerika untuk mengatasi kekacauan yuridiksi ini diadakan persekutuan para Episkop Orthodox
yang disebut “SCOBA” untuk pada akhirnya nanti membentuk satu Gereja Othodox Amerika. Keepiskopan
Orthodox Yunani, membentuk suatu “ Pusat Misi Orthodox” yang sekarang telah menjadi milik bersama
dari semua Gereja Orthodox yang ada di Amerika. Gereja di Yunani juga telah memiliki beberapa badan
misi, dan yang terutama adalah “Apotosliki Diakonia” ( Pelayanan Apostolik) yang juga merupakan badan
misi Gereja Orthodox.

Pada tahun 1917 Rusia jatuh ke tangan Komunis, dan beribu-ribu pemimpin Orthodox yang dibunuh,
dipenjarakan atau dibuang. Berjuta-juta ummat Orthodox mati dianiaya oleh propaganda atheisme di Rusia
dan Eropa Timur. Namun pada tahun 1988 ketika Presiden Mikhael Gorbachev mencanangkan glasnots
dan peretroiska, komunisme runtuh dan Gereja mengalami kebangkitan dan vitalitas kembali di Rusia.

Pada tahun 1920 Patriarkh Ekumenis mengeluarkan Surat Edaran untuk segenap ummat Kristen
mengadakan kerjasama. Dari situlah Gereja Orthodox akhirnya bersama Gereja-Gereja Protestan
membentuk Dewan Gereja –Gereja seDunia.

b. Misi Gereja Orthodox

1. Di Benua Afrika

Pada tahun 1960 ada sekelompok orang Kristen kulit hitam Afrika yang membentuk suatu denominasi baru
yang disebut “Gereja Orthodox Afrika.” Dengan berlalunya waktu mereka mengetahui bahwa Gereja
Orthodox yang sebenarnya itu masih ada di Alexandria. Lalu mereka menemui Patriarkh Alexandria
Kalsedon ( bukan Koptik ) dan menginginkan untuk menggabung dengan Gereja Orthodox. Dari permulaan
awal inilah, sampai sekarang misi Gereja Orthodox mengalami kemajuan pesat di Uganda, Kenya, Tanzania,
Kameroon, dan banyak daerah Afrika lainnya termasuk Afrika Selatan. Dua orang Episkop Orthodox Kulit
Hitam telah ditahbiskan sejak saat itu, dan presbyter-presbyter adalah orang lokal dengan liturgi dalam
bahasa lokal.

2. Amerika, Eropa dan Inggris

Perkembangan Gereja Orthodox di wilayah barat ini, tak lepas dari kehadiran ummat Orthodox Diaspora
yang ada di negara-negara itu. Namun baru mulai mengalami kemajuan pesat ketika 2000 orang mantan
pendeta Injili beserta ummatnya menemukan kembali Iman Orthodox itu, sehingga banyak orang-orang
Barat non-etnik Orthodox dari segala macam latar-belakang yang sekarang mencari Gereja Orthodox dan
dengan giat menyebarkan Iman Orthodox disitu. Tokoh-tokoh terkenal Gerakan ini adalah Peter Gilquist,
Gordon Walker dan lain-lain di Amerika, Sedangkan di Eropa dan Inggris tokoh terkenal terutama adalah
:Michael Harper, seorang mantan Imam Gereja Anglikan dan tokoh Kharismatik Internasional.

3. Asia

Gereja Orthodox Jepang sudah kita singgung sejarahnya. Gereja Orthodox Korea, pada mulanya adalah misi
Gereja Rusia juga, namun ketika Rusia berperang dengan Jeang dan Jepang dikuasai Korea, semua milik
Gereja Orthodox disita pemerintah Jepang. Ketika Korea merdeka milik Jepang jadi milik pemerintah Korea.
Banyak ummat Orthodox yang meninggalkan Gereja, namun masih ada sedikit yang bertahan. Ketika
Perang Korea Utara dan Selatan tahun 1950an, tentara perdamaian PBB dikirim ke Korea. Diantara mereka
adalah tentara Yunani. Ummat Orthodox Korea yang masih sisa itu mendekati pasukan Yunani
inimenceritakan keadaan mereka. Hal itu dilaporkan ke Yunani, dan sejak saat itu Gereja Orthodox Korea
berada dalam wilayah Patriarkh Konstantinopel sampai sekarang. India disamping memiliki Gereja Syria
Monofisit (Oriental Orthodox) di sebelah Barat pantai India, juga memiliki Misi yang dilakukan oleh Gereja
Orthodox Kalsedonia di daerah Kalkuta. Ini juga berada di bawah Konstantinopel Demikian juga Gereja
Orthodox Filipina. Untuk tujuan perkembangan misi di Asia, Patriarkh Konstantinopel`membagi
Keepiskopan Agung Australia menjadi dua: Keepiskopan Agung New Zealand untuk Asia Pasifik dan
Keepiskopan Agung Australia sendiri untuk benua Australia.

4. Indonesia

a. Masa Sebelum GOI

Sudah kita sebutkan bahwa Gereja Timur dari Persia telah hadir di Indonesia pada abad ketujuh di Pancur
dan Barus, bahkan di Majapahit. Kisah mereka itu tidak ada kelanjutannya. Sejak zaman Belanda dan
terutama pada tahun 1950an terdapat pula Gereja Timur, meskipun itu adalah Gereja Orthodox Oriental
Armenia di Jakarta, namun dari anggota-anggotanya di dalamnya terdapat juga orang-orang Yunani.
Mereka memiliki Gereja di Jalan Thamrin sekarang dan telah dibongkar menjadi Bank Indonesia pada
tahun 1960an ketika zaman penerintahan Orde Lama., dan di Surabaya di Jalan Pacar 6, yang telah dibeli
oleh komunitas Kristen Protestan, etnis Tionghoa.. Namun ketika terjadi pemberontakan G-30-S banyak
mereka ini yang meninggalkan Indonesia pindah ke negara lain, dan sejak saat itu komunitas Armenia ini
tak ada lagi di Indonesia.
b. Munculnya GOI (Gereja Orthodox Indonesia)

Gereja Orthodox Indonesia bermula dengan perjumpaan seorang pemuda yang masih duduk di bangku
SMA dengan Kristus pada hampir pertengahan tahun 1970an. Pada saat pertobatannya dia belum begitu
banyak tahu tentang perbedaan macam-macam aliran Gereja. Pada pertengahan tahun 1970an dia
berkecimpung aktif dalam gerakan kharismatik. Namun dia mulai menyadari perbedaan-perbedaan yang
ada antara mereka yang non-kharismatis dan yang kharismatis. Demikian juga perbedaan yang ada antara
beberapa macam aliran Gereja, terutama perbedaan menyolok antara Katolik dan Protestan. Dia mulai
meragukan pilihannya sendiri, disamping mulai rindu akan cara-cara ibadah yang teratur. Dia ketemukan
dalam Alkitab ada puasa, sembahyang dengan sujud dan lain-lain. Dia ingin mencari Gereja seperti
diceritakan dalam Alkitab itu. Dia ingin tahu asal mula Gereja, dan keberadaan Gereja Purba. Pada tahun
1978 dia pergi ke Korea untuk belajar theologia. Disana selama kuliah pergumulannya belum selesai,
namun pada awal tahun 1982 dia membaca buku tentang “Gereja Orthodox” dan menemukan jawaban
pergumulannya. Dia mengunjungi Gereja Orthodox Korea. Singkat cerita pada tanggal 6 September 1983
dia telah diterima menjadi anggota Gereja Orthodox satu-satunya dan yang pertama dari Indonesia, dengan
restu langsung dari Patriarkh Konstantinopel. Dari Korea pergi ke Yunani terutama banyak di Gunung
Athos.

Disitu mulai mengadakan korespondensi dengan saudara-saudara di Indonesia. Sehingga beberapa orang
tertarik akan Iman Orthodox. Dari Yunani pergi ke Amerika melanjutkan kuliah di Holy Cross Greek
Orthodox School of Theology. Dari situ ia melanjutkan kuliah di Ohio State University mengambil bidang
study Anthropology Budaya namun juga pada saat yang bersamaan mengambil doktorat untuk bidang
Religious Study di “Bethany Theological Seminary”, Dothan, Alabama. Setelah ditahbiskan di Amerika oleh
Episkop Maximos dari Pittsburgh, PA, dia kembali ke Indonesia sebagai Presbyter Daniel Bambang Dwi
Byantoro (penulis buku ini)pada tanggal 8 Juni 1988. Ia mulai pelayanannya di Mojokerto, namun
kemudian pindah ke Solo. Di Solo ia mendirikan Yayasan “Suara Dharma Tuhu” sebagai wadhah
pelayannanya, kemudian diubah menjadi “Yayasan Orthodox Injili.’ Sedangkan ketika di Amerika melalui
korespendensi tadi, orang-orang yang tertarik kepada Iman Kristen Orthodox itu diundang ke Amerika dan
diterima sebagai anggota Gereja Orthodox disana melalui Sakramen Krisma, serta melanjutkan kuliah
theologia dan akhirnya mereka semua ditahbis sebagai presbyter dan sekarang sudah melayani di
Indonesia: Presbyter Yohanes melayani di Surabaya dan Krian, Presbyter Lazarus melayani daerah Jogya
dan Cilacap, Presbyter Matius membantu Romo Daniel di Jakarta. Disamping itu ada presbyter yang dididik
di Korea: prebyter Methodios melayani daerah Boyolali, Presbyter Alexios melayani daerah Solo, Diaken
Panteleimon melayani daerah Mojokerto. Yayasan Dharma Tuhu, yang kemudian diubah menjadi Yayasan
Orthodox Injili Indonesia di Solo sebagai awal Presbyter Daniel memulai karya misinya itu,.tugas utamanya
adalah menterjemahkan semua buku-buku liturgis Gereja ke dalam bahasa Indonesia disamping tugas
penginjilan. Di Solo Presbyter Daniel dibantu oleh beberapa orang termasuk yang sekarang menjadi
Presbyter Chrysostomos (Manalu), yang sesudah selesai kuliah di Yunani, dan melayani selama dua tahun
di New Zealand, kini melayani untuk daerah Medan dan Tarutung. Sedangkan di Singaraja dan Denpasar ,
Bali, dilayani oleh Romo Stefanus yang juga telah menyelesaikan pendidikannya di Amerika.

Tahun 1989 adalah pembaptisan pertama kepada Iman Orthodox dari orang-orang yang tertarik kepada
iman Orthodox ini. Mulai dari saat itulah Gereja berkembang secara pelan-pelan di Solo, sampai kini telah
memiliki Gedung Gereja yang permanen. Sejak semula usaha untuk mendaftarkan ke Departemen Agama
dilakukan. Pada tahun 1991 secara resmi Gereja Orthodox Indonesia yang berpusat di Solo telah di daftar
di Departemen Agama Pusat,.dengan Keputusan No: 189/th.1991, dan diperbarui lagi dengan nomor :
F/Dep.Kep./ Hk 005/ 19/637/ 1996 Tanggal 12 Maret 1996. Dari tahun 1989 s/d 1996 Gereja Orthodox
Indonesia berada dalam wilayah Keepiskopan Agung New Zealand. Namun pada bulan Agustus 1996
Patriarkh Bartholomeus I pengganti ke 269 dari Rasul Andreas, berkunjung ke Hong Kong, dan
Keepiskopan New Zealand dibagi dua. New Zealand hanya untuk Korea, Jepang dan Pasifik, sedangkan
Hong Kong untuk China Raya dan Asia Tenggara dan bertanggung jawab untuk Indonesia atas nama
Konstantinopel.. Episkop Agung Hong Kong yang sekarang adalah Metropolitan Nikitas Lulias. Gereja
Orthodox Indonesia sekarang (tahun 2000) memiliki 7 presbyter Indonesia asli, dua orang diaken, seperti
yang telah kita sebut diatas.
Sedangkan Diaken Gabriel Raul masih sedang belajar di Amerika. Masih ada empat orang lagi pemuda
Orthodox yang sedang belajar di luar negeri: Timotheos dan Margaretha di Athena, Yunani, Gregorios Eko
di Tesalonika serta Yosua Waluyo Utamo di Amerika Serikat. Gereja Orthodox di Jakarta tadinya
mengadakan pertemuannya sekali sebulan di Kedutaan Yunani. Kemudian ada perkembangan baru dimana
pada tanggal 18 April 1997 diadakan baptisan yang menandai terbentuknya jemaat Gereja Orthodox di
Jakarta. Pada tanggal 5 Oktober 1997 secara resmi Jemaat lokal (paroikia) Gereja Orthodox ini diberi nama
“Aghia Epiphania” suatu nama yang diberikan oleh Episkop sendiri. Sambil menunggu dibangunnya
“Orthodox Christian Center” di tanah milik Gereja di Cinere, saat ini Gereja Orthodox beribadah tiap
minggunya di rumah Bapak Roy Martin. Pada tahun 1994 Presbyter Daniel diangkat
sebagai “Arkhimandrit” ( gelar jenjang tertinggi untuk presbyter yang tidak menikah) oleh Metropolitan
Dionysios dari New Zealand, serta ditetapkan sebagai Vikaris (Wakil) Episkop Agung untuk Indonesia,
dan bertanggung jawab kepadanya. Karena perkembangan yang ada di Asia dan karya yang makin meluas
dari Gereja Orthodox di Asia, maka Patriarkh Konstantinopel, Bartholomeus I, memutuskan untuk
mendirikan suatu Ke-Episkopan Agung yang baru untuk Asia. Itulah sebabnya pada bulan Agustus tahun
1997, maka telah diciptakan suatu wilayah Ke-Metropolitan-an Hong Kong dan Asia Tenggara yang
berkantor pusat di Hong Kong. Wilayah Gerejawi yang baru ini bertanggung-jawab atas semua Gereja-
Gereja Orthodox di Asia: India, Singapura, Thailand, Filipina, China, Taiwan dan Hong Kong. Jepang dan
Korea termasuk dalam wilayah New Zealand. Episkop Agung yang menjabat pada saat ini adalah
Metropolitan Nikitas Lulias berkedudukan di Hong Kong.

Dengan demikian Gereja Orthodox Indonesia ini dibawah penggembalaan rohani dari Metropolitan Nikitas
Lulias tersebut.Perkembangan selanjutnya yang terjadi pada tahun 2000 ini adalah, untuk pertama kalinya
wakil-wakil rohaniwan dan wakil-wakil pengurus dari Gereja Orthodox Indonesia secara resmi
bersilaturahmi dengan Presiden Republik Indonesia: Bapak K.H. Abdurrahman Wahid di gedung Bina
Graha, Jakarta pada tanggal 13 Maret 2000. Serta diikut-sertakannya Gereja Orthodox Indonesia secara
resmi dalam dialog interaktif dengan Presiden bersama-sama dengan tokoh-tokoh agama lain serta tokoh-
tokoh masyarakat di Gedung Pola, pada tanggal 20 Maret 2000. Dan yang tak kalah pentingnya adalah
keikut-sertaan Gereja Orthodox Indonesia dalam Sidang Raya XIII PGI di Palangka Raya, Kalimantan
Tengah pada tanggal 20-31 Maret 2000, yang dengan demikian makin mengokohkan tempat Gereja
Orthodox dalam hubungan kemasyrakatan maupun ke-Gereja-an di bumi Indonesia ini. Ini penting bagi
Gereja Orthodox Indonesia karena PGI itu terkait dengan WCC atau DGD (Dewan Gereja-Gereja seDunia)
yang berpusat di Geneva Swiss. Sedangkan berdirinya WCC itu awal-mulanya berasal dari inisiaytif dari
Patriarkh Athenagoras dari Konstantinopel, yiatu Patriarkh dari Gereja Orthodox melalui Surat Edarannya
yang dikeluarkan pada tahun 1920an. Padahal Gereja Orthodox Indonesia adalah bagian dari wilayah
Patriarkh Ekumenis Konstantinopel ini. Dan di WCC Geneva, Gereja Orthodox adalah merupakan bagian
yang integral dari lembaga persekutuan Gereja-Gereja secara internasional itu.

Demikianlah sejarah Gereja Orthodox Indonesia, yang merupakan bagian resmi dari seluruh Gereja
Orthodox di dunia ini.

Kesimpulan
Dari bukti-bukti sejarah yang kita bahas diatas terbuktilah bahwa Gereja Orthodox mempunyai sejarah
yang tak terputus dengan Gereja Purba dan bahkan Gereja Perjanjian Baru itu sendiri. Gereja Orthodox
tetap memelihara ajaran Rasuliah Gereja Purba itu tanpa tambahan ataupun pengurangan, serta
mempraktekkan ibadah yang sama dengan Gereja Purba, dan tetap memiliki pusat-pusat dimana asal mula
Kekristenan itu berada. Bahkan para patriarkh dan episkop serta presbyternya memiliki mata-rantai
pentahbisan yang dapat dilacak ke belakang langsung kepada para rasul itu sendiri. Gereja Orthodox tak
pernah mengalami dan tak memerlukan Reformasi ataupun Kontra-Reformasi, karena ajarannya tak ada
satupun yang asing dari Injil itu sendiri. Pandangan theologinya bukanlah pandangan perorangan,
misalnya:Agustinus atau yang lain, para sarjana Skolastik dalam Gereja Roma Katolik, ataupun pandangan
perorangan seperti Luther atau Calvin dalam pihak Protestan, namun pandangannya bersifat konsiliar dari
segenap Gereja. Iman Orthodox tidak tunduk pada negosiasi atau perubahan-perubahan keinginan filsafat
manusia. Singkat kata Gereja Orthodox bukanlah hanya ingin meniru-niru Gereja Perjanjian Baru namun
adalah Gereja Perjanjian Baru itu sendiri yang tetap hadir sepanjang dua puluh abad ini. Biarpun
sejarahnya mengalami jatuh bangun dan derita, namun imannya, ajarannya, ibadahnya, dan ethosnya tak
mengalami perubahan serambutpun. Ini tak berarti Gereja Orthodox tak pernah berkembang, namun
perkembangan Gereja Orthodox selalu berlandaskan dan mengacu kepada Iman Rasuliah yang satu dan
yang sama yang memangtak pernah berubah dalam hakekat isinya itu. Dengan kata lain dapat dikatakan
Gereja Orthodox tetap setia memelihara kepenuhan dan keutuhan kehidupan dan Iman Perjanjian Baru itu
tak terkoyakkan ataupun tergeserkan. Seutuh-utuhnya dan sepenuh-penuhnya Injil itu dipelihara tak
berubah tanpa pengurangan ataupun penambahan selama 2000 tahun ini oleh Gereja Orthodox.

Daftar Pustaka

- Daniel, David , “The Orthodox Church in India” , Miss Rachel David, New Delhi, 1986

- Hopko, Thomas Father, “ The Orthodox Faith, Volume III, Bible and Church History, An Elementary
Handbook on the Orthodox Church” , The Departement of Religious Education, he Orthodox Church in
America, 1979

- Hill, Henry, The Right Reverend, “Light From The East, A symposium On The Oriental Othodox and
Assyrian Churches” , Anglican Book Centre, Toronto, Canada, 1988

- Moffet , Samuel Hugh, “History of Christianity in Asia” Harper, San Fransisco, 1992

- Ruck, Anne Dr., “Sejarah Gereja Asia” , P.T. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997