Anda di halaman 1dari 21

Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid

Bambang Noorsena, SH, MA

1. Prawacana

Dalam berbagai publikasi kaum Unitarian di Indonesia akhir ini mereka menyebut diri "Kristen Tauhid".
Maksud mereka mndah ditebak, dengan menolak ajaran keilahian Yesus dan ketritunggalan Allah, mereka
merasa diri "memurnikan keesaan Allah". Bagi orang Kristen awam, kampanye "anti-Trinitas" mereka,
mnngkin saja bisa membingungkan. Malahan, ada pendeta yang merasa diri menjadi pembela ajaran
Trinitas, meskipun sebenarnya mereka "tidak mengerti apa-apa", hanya meladeni mereka dengan "perang
ayat-ayat Alkitab". Tidak ada pembahasan teologismetafisik disana, misainya apa makna yang dimaksud
bapa-bapa konsili mengenai kata "persona" (Latin), "hypostasis" (yunani), "Qnoma" (Aramaik), dan
bagaimana perubahan makna kata itu daJam era modern. Memahami term-term teologis ini mutlak
penting, sebab dari tulisan-tulisan kaum Unitarian, sejak para pendirinya sendiri: Michael Servetus, Francis
David, John Biddle, hingga para pengikutnya di Indonesia, memahami kata"persona" itu dalam makna
oknum secara psikologis, padahal yang dimaksudnya bapa-bapa gereja adalah "persona secara metafisik
(meta = "di sebalik", fisik = "yang kelihatan").

2. Sekilas Pandang Sejarah Kaum Unitarian


Unitarisnisme muncul di Eropa. Berbereng dengan munculnya gerakan Reformasi Protestan. Aliran ini
tumbuh bersama fajar rasionalisme yang mulai menggoncang Eropa, tak terkecuali menggerogoti otoritas
Gereja Katolik yang waktu itu memang cenderung otoriter. Rasionalisme mula-mula dipelopori oleh Rene
Descartes (1596-1650), yang terkenal dengan dalilnya: Cogito erqo sum (Aku ragu-ragu, maka aku ada).
Dalam perkembangan selanjutnya, Unitarianisme banyak dipengaruhi juga oleh paham
Positivisme Auguste Comte (1798-1857)·

Pada masa sekarang, rasionalisme abad pertengahan ini sudah dipandang "ketinggalan kereta". Masa
Positivisme a la August Cornte, yang banyak mengiJhami pemikir-pemikir rasionalis zaman itu, sudah
berlalu. Dapat dieontohkan, menurut Comte, pemikiran manusia berkembang pada 3 tahap : tahap
teologis, tahap ontologis atau metafisis, dan tahap positivistis, Pada tahap positivistis, segala sesuatu
yang tidak bisa dibuktikan ada seeara fisik dapat dihiraukan saja [1]. Tidak ada kenyataan yang diakui
kecuali kenyataan riil. Dalam konteks ini, maka bukan hanya Tritunggal yang ditolak, tetapi semua ide soal
ketuhanan juga dianggap tidak masuk akal. Karena itu, dalam perkembangannya, selain kaum unitarian
tradisional yang masih mengaitkan diri dengan kekristenan, ada juga unitarian universalis, bahkan ada
yang sudah menjurus kepada Atheisme [2].

Francis David, salah seorang penggagas uniterianisme, misalnya,memahami kata "persona" yang
dikaitkan dengan ajaran tritunggal sebagai "pribadi terpisah" dari pribadi Jainnya. Nah, kalau Bapa
adalah pribadi, Putra adalah Pribadi, begitu juga Roh Kudus, maka memang dalam positivistis a la
Comte memang mustahil satu adanya. Padahal ada kenyataan di balik kenyataan riil ini. Sedangkan
Tritunggal berbicara "persona" sebagai kenyataan metafisik, sehingga satu substance (Yunani: ousia)
sekaligus dapat memiliki persona-persona ilahi(Yunani: hypostasis) itu tanpa merusak kesatuan Dzat-
Nya. Lebih jelasnya, di bawah ini diuraikan sekilas beberapa pemikir gerakan "anti-Trinitas" ini pada awal
perkembangannya di Eropa:

2.1. Michael Servetus (1511-1553)

Michael Servetus dilahirkan pada tahun 1511 di Villanueva, Spanyol. Jadi waktu Martin Luther
melancarkan reformasinya terhadap gereja Katolik Roma tahun 1517, Servetus baru berusia 6 tahun. Selain
peristiwa Reformasi Protestan, zaman ini ditandai dengan menegangnya hubungan Kristen-Islam karena
gereja Katolik melakukan "kristenisasi" besar-besaran terhadap orang Muslim Spanyol melalui
politik inkuisisi. Hal itu merupakan dampak buruk dari Perang Salib, karena orang-orang Kristen Eropa
pada waktu itu melampiaskan kemarahan mereka kepada orang-orang Muslim Spanyol.

Berdasarkan pengalaman traumatisnya atas akibat konflik fisik Islam-Kristen, Servetus mengaku
terpanggil meneliti ajaran Alkitab langsung, dan hasil temuannya ia tidak menemukan ajaran Trinitas
didalamnya. Servetus menuangkan pemikirannya dalam beberapa buku, antara lain: The Error of
Trinity dan Two Dialogues on Trinity yang terbit tahun 1831. Reformator Calvin menilai pemikiran
Servetus "kekanak-kanakan", dan Luther menolak ajaran-ajarannya tahun 1539. Dengan demikian, bukan
hanya Gereja Katolik, tetapi para perintis gerakan reformasi juga menolak pemikiran-pemikiran
servetus. [3]

Akhirnya, gara-gara bukunya yang berjudul The Restoration of Christianity, pada tahun 1553, Servetus
dieksekusi oleh Gereja Katolik yang waktu itu memang sangat kejam. Jadi, praktek-praktek kekerasan yang
bisa terjadi pada agama apapun juga, tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak ajaran-ajaran pokok
Kristiani, seperti yang sering dijadikan argumentasi sekte-sekte penolak Trinitas.

Rupa-rupanya, Servetus memahami Trinitas sebagai "tiga wujud Allah", karena karena persona secara
salah dipahaminya seeara psikologis sebagai wujud yang terpisah-pisah dan membentuk satu substansi.
Tidak ada ajaran seperti yang dituduhkan Servetus - yang memang tidak pernah belajar teologi ini - yang
ditetapkan . dalam konsili ekumenis manapun sejak gereja purba. "Berapa banyak tradisi dari Trinitas
ini telah menjadi bahan tertawaan kaum Muslim", tulis Servetus pedas, "orang·orang Yahudi juga
rnenolak doktrin lucu ini milik kita ini, dan rnenertawakan kebodohan kita tentang Trdnitas" [4].
Menghukum orang yang berpandangan berbeda adalah bagian dari lembaran hitam sejarah gereja yang
tidak boleh terjadi lagi. Seandainya gerakan semacam ini dibiarkan saja, ajaran seperti ini pasti tidak akan
laku. Sebaliknya, karena gereja menindasnya, kaum Unitarian justru mendapat simpati.

2.2. Francis David (1510-1879)

Francis David dilahirkan tahun 1510 di Kolozsar, Transylvania. Mula-mula. David bergabung dengan
gerakan Reformasi Luther. Meskipun tidak perJu disayangkan kalau ia akhirnya keluar dari gerakan
Protestan, gara-gara titik tolak berpikirnya yang salah ia menyalahpahami ajaran Trinitas. David, seperti
kaum rasionalis abad pertengahan yang hanya mengaku kenyataan riil sebagai satusatunya kenyataan,
gagal mengerti ajaran Tritunggal yang mungkin baginya terlampau metafisik.

Bayangkan saja, dalam pemikirannya yang serba wadag Davis menuduh bahwa orang Kristen telah
menyembah kepada empat atau lima Allah. "Ajaran Trinitas yang dipegang teguh Paus di Roma", tulis
Francis David ngawur, "adalah sungguhsungguh sebuah keyakinan kepada ernpat Allah atau lima
Allah" [5]. Luar biasa! Siapa empat atau lima Allah yang dikritik David itu? "Satu substansi, tiga pribadi
yang terpisah yang masih-masing disebut Allah, plus seorang manusia Yesus yang juga dipandang
sebagai Allah". [6]

Dari pemikirannya yang sangat sederhana ini, orang bisa menilai titik pijak mula-mula kaum yang mengaku
diri memurnikan keesaan Allah ini. Semua orang yang belajar teologi, tahu persis yang yang dimaksud
dengan Tritunggal adalah "una substansia, tres personae" (Satu Substansi dalam tiga
persona) [7]. Persona dalam ajaran Trinitas bukan personalitas manusiawi yang terpisah-pisah,
melainkan personalitas metafisik yang mengatasi jarak mang dan waktu. Bapa adalah Sumber keilahian
yang dari wujud-Nya yang Esa itu mengeluarkan Firman-Nya (Yohanes 8:42), laksana "terang dari
sumber terang" (rumusan konsili Nicea), dan Roh Kudus juga "keluar dari Bapa" (Yohanes 15:26).

Sedangkan sebagai Firman yang abadi, keilahian Kristus dibedakan dengan wujud inkarnasi Yesus sebagai
Manusia, Putra Maryam, yang secara manusiawi "dilahirkan dari seorang perempuan yang tunduk
kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4), sehingga dalam kemanusiaan Yesus disebut "buah rahim" Maryam
(Lukas 1:43). Jadi, tidak ada konsili manapun yang mengajarkan bahwa tubuh kemanusiaan Yesus
masuk dalam Tritunggal. Yang menjadi "persona kedua" adalah keilahian-Nya sebagai Firman Allah
(Yohanes 1:1). Dan karena Allah itu hanya Satu, maka Firman itu bukan "suatu allah" selain Allah,
melainkan satu dalam keesaan Dzat-Nya [8].

2.3. John Biddle (1615-1662)

John Biddle dilahirkan tahun 1615, dikenal sebagai "bapa Unitarianisme" Inggris. Katanya, Biddle dikenal
cerdas diantara para pengikutnya. Mungkin ia dikenal sebagai seorang cerdas dalam ilmu matematika,
tetapi sudah barang tentu bukan dalam ilmu teologi. "Saya percaya kepada satu Allah sebagai esensi
ilahi yang Mahakuasa, dan hanya ada satu persona dalam satu esensi Ilahi", tulisnya untuk
mempertanggung jawabkan imannya di depan pengadilan pada tahun 1644·

Selain ia menuliskan "Dua Belas Argumentasi" untuk menolak keilahian Roh Kudus, dan pada tahun 1648
Biddle menulis artikel berjudul "A Confenssion of Faith Touching the Holy Trinity According to the
Scriptures". Pola pikir John Biddle tidak lebih cerdas dari para pendahulunya, misalnya ketika ia
merumuskan dalil pertama mengenai Keilahian Roh Kudus diantara "Dua Belas Dalil Menolak Keilahian
Roh Kudus", sebagai berikut:

• Yang berbeda dengan Allah bukan Allah.

• Roh Kudus berbeda dengan Allah.

• Jadi Roh Kudus bukan Allah.

"Premis major di atas sangat jelas", tulis Biddle menjelaskan penolakannya, "apabila kita mengatakan
bahwa Roh Kudus adalah Allah, tetapi berbeda dengan Allah, maka premis tersebut mengandung
pertentangan. Premis major bahwa Roh Kudus dibedakan dari Allah dibenarkan oleh semua ayat-ayat
Alkitab. Argumentasi yang mengatakan bahwa Roh Kudus dibedakan dari Allah· tersebut, jika diarnbil dari
seeara "person" dan bukan dalam arti "esensi Allah", maka hal itu bertentangan penalaran rasional [9].

Dari penjelasannya ini, jelas bahwa Biddle memahami kata "persona" dalam Tritunggal dipahami secara
personalitas manusiawi, dimana satu persona harus terpisah dengan persona Iainnya. Itulah letak
kesalahan Biddle, bukan sillogisme untuk menarik kesimpulan yang salah, tetapi premis awalnya yang
tidak tepat, karena anggapannya bahwa Tritunggal adalah tiga pribadi yang terpisah. Sebaliknya,
kesimpulan akan jadi berbeda kalau kita berangkat dari titik tolak berpikir bahwa Bapa, Putra dan Roh
Kudus adalah satu. Satu dalam Substansi, dan persona yang berbeda-beda itu berada dalam kesatuan
substansiaI Allah, karena memang sesuatu yang metafisik "tidak bisa dipisah-pisahkan". Jadi, benarlah
sillogisme di bawah ini:

• Yang berbeda dengan sinar matahari bukan sinar matahari.

• Panas matahari berbeda dengan sinar matahari.

• Jadi sinar matahari bukanlah matahari.

Masalahnya, penalarannya tidak berhenti sampai disini. Sebab meskipun sinar matahari berbeda
dengan panas matahari, tetapi sinar matahari maupun panas matahari adalah satu dengan wujud
matahari itu sendiri. Begitu juga, penalaran ini akan benar apabila Biddle berangkat dari premis yang
benar. Misalnya, Firman Allah berbeda dengan Roh Allah, tetapi baik Firman maupun Roh Kudus
sama-sama keluar dari Allah (Yohanes 8:42; 15:26; 1 Korintus 2:10-11). Jadi, sekalipun Firman dan Roh
Allah dibedakan dari Wujud Allah (Bapa), tetapi baik Firman dan Roh Kudus sama-sama berasal dan satu
dengan Bapa, Sang Sumber (1 Korintus 8 :6) [10].

Apalagi kalau berangkat dari wujud atau keberadaan Allah yang metafisik, sillogisme seperti di atas tidak
semuanya bisa diterapkan. Misalnya, kalau kita berkata : Allah beserta orang sabar. Selanjutnya, ambillah
suatu contoh, di Surabaya ada 1000 orang yang sabar yang tinggal terpisah di 1000 tempat yang berbeda-
beda. Kalau Allah pada saat yang sama harus beserta dengan 1000 orang di 1000 tempat yang
berbeda-beda, apakah Allah menjadi 1000? Tentu saja tidak! Dimanakah letak "kerancuan
berpikirnya?"Karena berbeda dengan manusia, Allah bukan wujud fisik yang terikat oleh ruang dan
waktu, sedangkan manusia karena wujud fisik terbatas yang terikat ruang dan waktu, pada pada saat yang
sama tidak bisa berada di lebih dari satu tempat yang berbeda-beda.

------------------------
[1]Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Fllsafat Barat. Jilid II (Jakarta: BPK. Gunung Mulla, 1982), him. 111-112.

[2] Herlianto, Op. cn., hlm.16-17.

[3] "Kenylenehan" kaum Unitarian dari gereja pada umumnya ini, dimanfaatkan oleh kaum polemikus
Muslim untuk menyerang Iman Kristiani, seolah-olah dikesankan bahwa Unitarinisme yang baru tumbuh
abad XVI ini adalah ajaran asli Yesus dan Rasul-rasul-Nya. Biografi para tokoh Unitarian diabadikan dalam
buku polemikus Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus daJam Sejarah. Alih Bahasa: Masyhur Abadi
(Jakarta: Pustaka Da'i, 1998), hlm. 179-196.

[4] Ibid, hlm. 190.

[5] Ibid, hlm. 200.

[6] Ibid.

[7] 'Abd al-Masih Basith Aba al-Khafr, Syuhud Yahuwa: Man Hum? Wa Ma Hiya 'Aqaiduhum? Dirasat
Tahliliyyat Ii Fikr wa Tarikh wa 'Aqaid SyuhiJd Yahuwa (Cairo: Alqush 'Abd al-Mas1h Basith AbO al-
Khair, 2000), hlm. 177.

[8] Jadi, kalau Moffat menerjemahkan Yohanes 1:1c "...and the Word was divine", bisa blsa saja, teteapi
artinya bukan "was a divine except the One God", tetapi "was divine in One God". Frans Donald, seperti:
kaum Saksi-saksi Yehuwa pada umumnya, mengutip terjemahan Moffat dan memahami "divine" sebagai
personalitas yang terpisah darl Allah. Lih Frans Donald, Menjawab Doktrin Tritunggal (Semarang:
Bodobudur Indonesia Publishing, 2007), hlm. 7.

[9] Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus dalam Sejarah (Jakarta: Pustaka Da'i, 1998), him. 222-225.

[10] Baba Shenouda III, Qanun al-Iman (Subhra, Cairo: Maktabah al-Mahhabah, 2001), him. 15-16.

3. Kristen Tauhid di Indonesia: Merasa Bisa, Tak Bisa Merasa


3.1. Miskin Literatur, Tak: Paham Sejarah

Mengenai kaum Unitarian di Indonesia, yang mengaku diri "Kristen Tauhid" tadi, lebih mempribatinkan
lagi. Penguasaan teologi, sejarah gereja dan bahasa-bahasa asli Kitab Suci sangat minim, tetapi mereka
begitu "percaya diri" mengkampanyekan ajaran-ajaran mereka di forum-forum lintas agama. Tjahjadi
Nugroho, sang pendiri Unitarian di Indonesia, mendemontrasikan keawamannya dalam
bukunya Keluarga Besar Umat Allah[11], mengatakan bahwa sebelum tahun 313 gereja hanya mengakui
Yesus adalah manusia biasa. Saya meneoba mengerti apa maksud pernyataan Nugroho, ternyata ia
menyangka bahwa keilahian Yesus baru muncul setelah kaisar Konstantin menjadi Kristen tahun 313. Dan
karena kekuasaan tangan besinya, Sang Kaisar memaksakan pendapat pada Konsili Nikea tahun 325.

Pernyataan ini sungguh-sungguh ngawur, memang Konstantin berperan pada konsili ekumenis pertama
itu, bukan untuk campur tangan dalam ajaran, tetapi lebih didorong oleh politik stabilitas di wilayah
kekaisarannya ketika terjadi konflik teologis gereja dengan kaum Arian. Lebih ngaco lagi, Nugroho
menyangka bahwa Arianisme kaJah karena ditindas Kaisar, padahal Arianisme justru pudar saat mereka
didukung penuh oleb Kaisar. Harus dicatat pula, bahwa Kaisar Konstantin yang akhirnya mampu
diyakinkan oleh Eusebius dari Nieomadea untuk mendukung ajaran Arius, waktu itu gagal menekan
Patriark Alexandria untuk mengembalikan jabatan keimamatan bagi Arius, lalu mengirimkan Arius dan
para pendukungnya ke Konstantinopel untuk memaksa agar Patriarkh Alaxander di Konstantinopel
menerima Arius.

Alkisah, Arius dan para pendukungnya, menggedor-gedor pintu gereja yang ditutup Patriarkh Alexander,
sementara sang Patriarkh yang berdoa di ruang pribadinya berdoa memohon pertanda dari Tuhan, karena
Sang Patriarkh tidak mau ber-ekaristi dengan orang yang menolak keilahian-Nya. Di tengah-tengah
khotbahnya yang berapi-api menyangkal keilahian Yesus, saat itu tibatiba Arius sakit perut, lalu ia
menghentikan khotbahnya sementara waktu untuk pergi ke kamar mandi. Para pendukungnya lama
menanti, tetapi Arius tidak kunjung keluar. Dan setelah kamar mandi itu didobraknya, sang jawara
pentangkal keilahian Firman Allah itu kedapatan mati secara mengenaskan dengan tubuh yang
mengejang dan tertelungkup di karnar mandi [12]. Sejak saat itu, Arianisme surut, justru ketika Sang
Kaisar mati-matian mendukungnya. Setelah peristiwa itu, paham Arius masih tersebar tetapi hanya secara
sporadis saja.
Selanjutnya, penyataan bahwa sebelum tahun 313 gereja hanya mengakui kemanusiaan Yesus,
membuktikan bahwa ia tidak tahu sejarah gereja awal. Seperti salah satu kelemahan para penulis Protestan
lain, mereka tidak pernah membaca langsung sumber-sumber seiarah gereja purba, kbususnya pada masa-
masa pra-Nicea. Padahal masa-masa setelah rasul-rasul, yaitu murid-murid para rasul lalu murid dari
murid-murid para rasul - yang biasanya lazim disebut sebagai zaman Aba' ar-Ra-suliyyun (The Patristic
Fathers) - sampai dengan konsili Nikea [13], sama sekali tidak pernah dirujuknya. Kalaupun disinggung,
pastilah mereka tidak pernah membacanya dari sumber primer. Misalnya, mereka tidak membaca langsung
ketujuh surat kirim Ignatius, murid Rasul Petrus dan Rasul Yohanes di Antiokhia, atau membaca catatan
sejarah awal mengenai "Kemartiran Policarpus" (Yun. Martyrion Polycarpoi), murid Rasul Yohanes.

Policarpus menerima kematian syahidnya dengan ikhlas karena imannya kepada Kristus, dan di tengah-
tengah api membara yang membakar tubuhnya, ia berdoa kepada Allah Bapa, Yesus Kristus Imam Surgawi
yang kekal, dan memuliakan Roh KudusNya [14]. Bukan banya itu, dalam bentuk rumusan-rumusan
teologis, Ignatius dari Antiokia (30-107) yang jelas-jelas berasal dari masa rasuli [15], dengan tegas
menekanksn keilahian Yesus: "Sabda kekal yang keluar dari keheningan abadi", maksudnya ''yang
keluar dari Allah" [16]. Selain itu, diakui pula dalam wujud nuzulnya ke dunia, Yesus secara manusia
"keluar dari Maryam". Dengan rumusan itu, jelas-jelas Ignatius mengakui kedua kodrat Yesus, yang secara
eksplisit disebutnya "Ilahi-insani" atau "Manuggalnya Allah dan Manusia" (en anthropotheo) [17].

Selain itu, masih banyak tulisan murid-murid para rasul, seperti Klemens dari Roma, dan penulis-penulis
dan dokumendokumen yang sezaman dengan itu, misalnya: Surat Barnabas [18], Yustinus Martyr [19],
dan masih banyak lagi. Mereka tidak ada yang menyangkal keilahian Yesus, sampai muncuinya Arius pada
abad keempat Masehi. Jadi, yang dilakukan gereja dengan menggelar konsili Niea hanyalah
mempertanggung jawabkan ajaran rasuli yang diterus-sampaikan seeara tanpa putus sampai zaman itu:
mulai dari Rasul-rasul, murid-murid para Rasul (Klemens dari Roma, Ignatius dari Antiokia, Papias
dari Hieropolis, Polycarpus uskup Smyrna), murid-murid dari para murid Rasul-rasul (Irenaeus,
Hagesipus, Klemens dari Alexandria, dan sebagainya), dan sama sekali tidak membawa ajaran yang
baru. Konsili hanya merumuskan, tetapi iman mengenai Allah Bapa, yang berdiam kekal dalam Diri-Nya
Firman dan Roh Allah itu, sudah ada sebelumnya. Iman mendahului perumusan, dan bukan menciptakan
iman yang baru [20].

Karena pendekatan saya yang tidak hanya teologis, tetapi sekaligus historis, karena itu saya tidak pernah
meladeni mereka "perang ayat-ayat Alkitab", menurut "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi
Yehuwa dan "kaum sempalan lain", yang semua Jabir di Barat, jauh dari "tanah air Kristen mula-
mula" yang nota bene menyimpan segudang bukti sejarah mengenai pokok-pokok iman yang mereka
persoalkan. Dengan menempuh pendekatan ilmiah seperti ini, ayat-ayat Alkitab yang mereka ajukan
sebagai "ayat-ayat bukti", menjadi lebib jelas maknanya, dan sama sekali tidak mendukung paham-paham
ganjil yang mereka kampanyekan itu.

3.2 Tak Paham Bahasa Kitab Suci

Ketika seorang mahasiswa seminari pertama kali membaca buku Nugroho, dan membaca kutipannya atas
Kitab Taurat (Ulangan 6:4) dalam bahasa asli Ibrani, ia pasti langsung mengetahui bahwa salah satu
kelemahan pendiri sekte Unitarian di Indonesia ini adalah tidak paham bahasa-bahasa asli Alkitab.
Perhatikanlah, ia mengutip ayat yang mestinya: Shema Yisra'el, YHWH Elohenu, YHWH Ehad,
dibacanya: Shema o Israel, YHWH Elohim, YHWH Ehad [21]. Artinya: "Dengarlah, hai Israel, TUHAN
Bah kita, TUHAN itu Esa"(Ulangan 6:4). Dalam bahasa Ibrani tidak ada seruan "o", seperti dalam bahasa
Inggris, juga "our God" dalam bahasa Ibrani 'Elohenu, bukan hanya "Elohim".

Selanjutnya, dengan penguasaan ilmu agama-agama yang pas-pasan, seharusnya Nugroho jangan
terlalu "pede" menulis soal agama lain, khususnya mengenai Islam [22]. Karena itu, meskipun bukunya itu
diberi "Kata Pengantar" oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, yang pada saat penerbitan buku Nugroho
menjabat Rektor IAIN "Syarif Hidayatullah" Jakarta, buku ini tidak dapat dijadikan referensi dalam
hubungan Kristen-Islam. Saya malah tidak percaya kalau Pak Azyumardi membaca sampai habis buku
Nugroho. Mengapa? Dalam "Kata Pengantar"-nya itu, Pak Azyumardi mengutip Frithjof
Schuon dan Seyyed Husein Nasr, yang jelas-jelas menganjurkan untuk memahami agama lain
dalam ''presuposisi" agamanya sendiri [23], tetapi yang dilakukan Nugroho justru melanggar batas-batas
itu, dan mencampuradukkan penafsiran Alkitab dengan penafsiran Al-Qur'an, sesuatu yang jelas-jelas
bertentangan dengan prinsip dialog yang jujur dan jauh dari "buruk sangka". Apalagi, deskripsinya
mengenai ajaran-ajaran Kristen mainstream yang dikritiknya, didasarkan atas keterbatasan literatur yang
dibaeanya, yang tentu saja sangat jauh dari memadai secara iImiah sebagai modal seorang yang berlagak
ahli, sampai berani "mengritisi ajaran-ajaran gereja yang sebenarnya tidak dipahaminya".

3.3. "Memanfaatkan" Para Teolog

3.3.1. Seminar Mencari Dukungan

Terus terang, pada mulanya saya tidak terlalu menghiraukan gerakan kaum Unitarian itu. Sewaktu wacana
Kristen Syria yang saya bawa sedang menjadi "booming" di media masa beberapa tahun lalu, Nugroho dan
kawan-kawannya pernah mengunjungi "markas kami", waktu itu masih di JI. Dinoyo 19B, Surabaya. Saya
sedang tidak ada di tempat, Pak Henney Sumali yang waktu itu menemui mereka, dan sekaligus
memberikan klarifikasi bahwa pandangan kristologi kami sangat jauh berbeda dengan mereka. Tetapi
setelah mereka semakin berani mengkampanyekan ajaran-ajaran mereka, dengan seringnya
mengejek "ajaran-ajaran gereja tradisional", terpaksalah kami "mengangkat pena" meluruskan
pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dari standar ortodoksi.

Malahan, ketika seorang rekan menyodorkan buku Frans Donald, Allah dalam Alkitab dan Al-Qur'an:
Sesembahan yang Sama atau Berbeda [24] saya hanya mengirimkan SMS yang membodoh-
bodohkankan mereka. Kalau bukan begitu, lalu dengan kata apa lagi yang tepat? Mungkin saja Donald
merasa terpukul dengan ''bahasa Jawa Timuran" saya, dan balas mengritik saya dan menyebut
saya "kemaki". Untuk itu harus saya katakan, siapakah yang sebenarnya "kemaki"? Saya atau Donald?
Coba baca bukunya, bahasanya seperti "bahasa orang jual jamu": "Buku tajam dan berani yang pernah
terbit", tulisnya, "menggoncang para teolog", dan beberapa promosi bombastis lain. "Kesombongan
picik" dari buku itu sendiri, yang melatar-belakangi reaksi SMS saya yang keras kala itu.

Rupanya, serangan demi serangan terhadap mereka, yang khususnya mengritik kemiskinan Iiteratur
mereka, seperti yang juga dilakukan Herlianto [25], dan yang selama ini saya lakukan "secara tidak
langsung" - karena saya justru khawatir akan jadi promosi gratis bagi kelompok Unitarian itu - mereka
reaksi dengan menggelar seminar yang menghadirkan Rm. Toms Jacob, Rm. Banawirat-ma, Hortensins
F. Mandaru dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), dan Nugroho sendiri, di Semarang, 28 April 2007.
Tujuan seminar itu jelas, untuk mencari dukungan para ahli seolah-olah membenarkan ajaran mereka, Hal
itu tampak dari pertanyaan "menggiring" pewawancara, Hana Lie, salah satu penganut ajaran Unitarian
yang menjadi wartawan Crescendo.

Dalam beberapa hal, saya yang menganut teologi Kristen Timur, memang berbeda pendapat dengan
beberapa pendapat "para teolog Barat" itu. Meskipun demikian, saya membaca nuansa pemikiran para
teolog tersebut yang jauh berbeda dengan kaum Unitarian itu. Mereka jauh dari kesan "melecehkan iman
Kristen", dibanding dengan kaum Unitarian yang berani kurang ajar "mengentengkan" ajaran bapa-bapa
konsili itu dengan "berlindung pada ayat-ayat Alkitab". Para teolog yang saya sebut, memang lebih
cenderung dengan "bahasa Alkitab" yang lebih sederhana, tetapi mereka "tidak menolak bahasa
dogma", mereka hanya mengontekstualisasikannya, yang dalam batas-batas tertentu, tentu saja bisa
saya setujui.

3.3.2. Tom Jacobs

Rm. Tom mengakui bahwa Yesus itu Firman Allah, tetapi pewawancara menggiringnya untuk
membenarkan pendapatnya sendiri. "Jadi maksudnya Yesus itu murni manusia?" "Ya", jawab Rm. Tom,
"tetapi didalamnya Firman Allah dinyatakan. Dan ini perbedaan dengan nabi-nabi dan bisa dieek pada
semua nabi, Mereka selalu menyampaikan Firman Allah, tetapi Yesus adalah
"Firman Allah". Rm Tom Jacobs juga mengakui bahwa Anak Allah adalah co-eternaldengan Allah,
tetapi bukan dalam kemanusiaan Yesus, tetapi Firman Allah [26].

Memang apa yang disampaikan Tom Jacobs itu yang diimani gereja dan bapa-bapa konsili.
Menegaskan "keilahian Yesus" berarti menegaskan "keilahian Firman Allah", yang kekal bersama-sama
dan satu dengan Allah (Yohanes 1:1), dan bukan menunjuk kepada kemanusiaan-Nya. Yang perlu dikritisi
dari pandangan Rm. Tom Jacobs, ketika mengomentari Wahyu 3:14 - tetapi kalau itu benar-benar
pandangannya, dan bukan salah pengalimatan oleh pewawancara - Yesus adalah "ciptaan di benak Allah".
Apa maksud ucapan yang absurd ini? Bukanlah ungkapan seperti ini malah lebih rumit dan sulit dipahami,
bila dibandingkan dengan bahasa dogma? Sebab kalau Firman itu ciptaan, berarti Ia diawali oleh waktu.
Padahal Kitab Suci menegaskan bahwa ".... bahwa oleh Firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan
juga bumi... " (1 Petrus 3:5). "Oleh Finnan TUHAN langit telah dijadikan... " (Mazmur 33:6).

Kalau Firman Allah itu ciptaan, padahal Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya, lalu Firman
mana lagi yang menciptakan Firman Allah? Itulah problem yang hendak ditegaskan oleh konsili Nicea,
bukan untuk mengangkat manusia Yesus menjadi Allah. Berdasarkan pertimbangan teologis ini, konsili
menegaskan bahwa Anak (Firman) Allah itu "dilahirkan, tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa,
yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan" (teks asli: "... gennethenta, ou poiethenta, homousion to
Patri, di ao ta panta egeneto) [27].

"Dilahirkan", karena Firman itu keluar dari Allah untuk menyatakan siapakah Allah, atau oleh Firman itu
Allah menyatakan diri-Nya (Yohanes 1:18). ''Tidak diciptakan", karena sebelum Firman itu dilahirkan
dari Bapa, Ia sudah ada bersama-sama Allah, dan laksana pikiran seseorang berada dan satu dalam diri
seseorang, Firman Allah itu tentu saja sehakikat dengan-Nya dalam keabadian. Nah, karena pada saat yang
bersamaan tidak boleh ada dua entitas yang kekal, sebab hal itu bertentangan dengan Tauhid Yahudi, maka
ditegaskan "... kai theos en ho logos - dan Allah sendirilah Firman itu" (teks asli Yohanes 1:1).

Rupanya, frasa ini yang sulit dipahami oleh "logika Barat" Rm. Tom Jacobs, sehingga penjelasannya menjadi
berbelit-belit. "Firman itu Allah", sudah barang tentu berbeda dengan "yang berfirman adalah Allah",
tetapi diakuinya bahwa Kristus itu Firman Allah, meskipun disangkalnya kalau Firman itu adalah Allah.
Padahal kalau Firman itu bukan Allah, lalu mengapa Firman disebut sebagai penyebab ciptaan? (Yohanes
1 :3). Jadi jelaslah, bahwa "arche" dalam Wahyu 3:14 secara tepat diartikan "sumber", seperti tampak dari
terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari (BIS) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI, 1985). Konteks
keseluruhan ajaran Alkitab mengenai keabadian Firman Allah, yang kekal bersma-sama Allah dan oleh-Nya
segala sesuatu telah diciptakan itu (Yohanes 1:1-3), mendukung terjemahan ini.

3.3.3. Prof. Dr. Banawiratma

Ketika digiring oleh pewawancara, apakah Kekristenan awal menyimpulkan Yesus itu Allah, Rm. Bana tegas
menjawab: "Menyimpulkan, tapi daIam arti apa ?" [28]Artinya, diakui fakta bahwa gereja purba sudah
menyimpulkan bahwa Kristus adalah Allah. Lebih jelasnya, sebagai Firman Allah, Yesus adalah Allah
sendiri. Tetapi yang dipersoalkan oleh Rm. Bana, bahwa gereja pada saat itu menyimpulkan demikian
karena kalau Yesus bukan Allah maka Ia tidak mnngkin bisa rnenyelamatkan kita. Jadi, keilahian Yesus
seolah-olah "terpaksa" ditetapkan, karena adanya pandangan pada zaman itu bahwa banya Allahlah yang
bisa menyelamatkan manusia.

Karena itu, kalau disebut sebagai Juru Selamat, maka Yesus harus Allah. Mengapa begitu? "Itulah kita
tidak mengerti", jawabnya, "Karena itu kebudayaan sana pada waktu Itu", Pandangan Banawiratma
ini tidak sepenuhnya benar. Sebab tidak ada pandangan bapa-bapa konsili yang mengharuskan bahwa
Yesus menjadi Allah sebagai syarat keselamatan, sebaliknya justru ditekankan bahwa Firman Allah
menjadi manusia agar manusia bisa diselamatkan. Prinsip penting ini, misalnya diungkapkan
oleh Athanasius dari Alexandria (wafat 373) sebagai berikut: "Tidak ada seorang pun yang dapat
menciptakan kembaIi manusia dalam Gambar Allah dan Rupa-Nya, kecuali Rupa Sang Bapa itu
sendiri" (cf. terjemahan bahasa Arab: "wa lam yakun mumkinan 'an ya'ida li al-basyar shurat Allah
matsalihi illa shurat al-abi) [29].

Pandangan bahwa Firman menjadi manusia agar supaya Ia menyelamatkan manusia, bukan berasal dari
filsafat Hellenisme, tetapi justru berusaha "menelanjangi Hellenisme" yang merendahkan tubuh. Dan
sejak zaman rasuli prinsip ini sudah ditekankan, bahwa justru ditekankan bahwa roh al-Masih ad-
Dajjal (Aram: Meshiha Daggala) yang menyangkal bahwa Yesus telah datang sebagai manusia: "Setiap
roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh
yang tidak mengaku Yesus telah datang sebagai manusia, tidak berasal dari Allah, melainkan berasaI
dari aI-Masih ad-Dajjal..." (Peshitta: "Kol ruha dmaudya di Yeshua Mashiha etta ba-bsar, min alaha
hi. Wakol ruha dla maudya di Yeshua etta ba-bsar, laytih min alaha, alIa hada min mashiha hi
daggala...) [30].

Soal pernyataan Banawiratma yang lebih menyebut Yesus Anak Allah, dan tidak menyebut Allah, memang
itu hanya soal eksplisitasi pengungkapan saja. Dan hal yang sama juga sangat hati-hati dinngkapan Rasul
Yohanes, karena ia tidak menulis: "Allah itu telah menjadi Manusia", melainkan: "Firman (Allah) itu
telah menjadi manusia" (Yohanes 1:14). Dan kalau pun Yohanes menyebut-Nya sebagai Allah, itu tidak
menunjuk kemanusiaan Yesus, melainkan kepada wujud pra-eksistensi-Nya sebagai Firman
Allah (Yohanes 1:1). Sebab sejauh menunjuk kepada Yesus sebagai Firnan Allah, seluruh Kitab Suci
mengarah kepada kesimpulan bahwa Firman Allah itu adaIah Allah sendiri.

Patut dicatat pula, kristologi Yobanes mengenai Logos (Firman), berasal dari targum-targum Yahudi pra-
Kristen yang menegaskan bahwa sejauh Allah menyatakan Diri kepada umat-Nya,. seperti digambarkan
dengan istilah "tangan Allah", "mata Allah", dan sebagainya, selalu disalinnya dengan Memra. Misalnya,
dalam Kitab Taurat disebutkan: Me'anah Elohe qedem umitahat zero'at olam. Artinya: "Allah yang abadi
tempat perlindunganmu, dan dibawahmu ada lengan-lengan yang kekal" (Ulangan 33:27). Targum
Onqelos menerjemahkan ayat ini: Medor Alaha d'milqadmin be Meimre mit'aved 'alama. Artinya:
"Inilah perlindungan Allah, yaitu Memra yang oleh-Nya telah dieiptakan alam raya ini" [31].

Selanjutnya, pandangan Yahudi pra-Kristen tiba pada kesimpulan bahwa Memra itu identik dengan Sang
Mesiah yang akan datang. Pandangan ini tidak hanya dijumpai dalam madzab Yahudi arus utama, tetapi
juga terdapat dalam madzab Esseni, yang mewariskan bagi kita naskah-naskah Alkitab Laut Mati (The
Dead Sea Scrolls) yang berusia lebih dari 2000 tahun. Bahkan pandangan mengenai "kelahiran ilahi
Putra Allah" (the divine bith of Jesus Christ), yang dikaitkan dengan konsep Sang Mesiah, juga dijumpai
dalam manuskrip Qumran yang disebut "Manuskrip Putra Allah" [32].

Jadi, saya setuju dengan kehati-hatian Banawiratma, khususnya dalam hal ini sangat penting untuk
memahami konteks masyarakat Muslim, tetapi justru dengan sikapnya itu Banawiratma tidak menolak
"bahasa dogma" yang harus dipahami menurut kon-teks zarnannya. Sebaliknya, kaum Unitarian yang ''buta
sejarah" dan "rata-rata kurang cerdas" itu, memanfaatkan pernyataan para teolog itu untuk '''menyerang
ajaran gereja", dan membenarkan ajaran-ajaran ganjil mereka. Jadi, para teolog itu banya "mereka
manfaatkan", mereka ingin menjadikannya sebagai antitesis dari argumentasi yang menyerang sengit
ajaranajaran mereka [33], padahal para teolog itu juga tidak sepenuhnya sependapat dengan mereka.

Sayang sekali, apakah para teolog itu sadar kalau mereka sedang dimanfaatkan? Tetapi ya sudahlah, atas
nama kebebasan berpikir, saya menghormati kebebasan mereka memilih, meskipun atas nama ke-eintaan
saya kepada ilmu, saya sungguh-sungguh menyayangkan kebodohan mereka. Betapa tidak? Membangun
sebuah pemikiran - yang mereka puji-puji sendiri sebagai "pemikiran tajam dan berani", "buku langka,
inovatif, revolusioner", "mendobrak dogma gereja" - tetapi tidak didasari literatur yang memadai.
Buku-buku rujukan mereka sama sekali tidak memadai dari sudut teologis maupun historis. Tetapi mereka
sangat gencar "menyerang ajaran gereja", bahkan untuk maksud itu Nugroho juga menjadi
pendiri Asosiasi Pendeta Indonesia (API), seolah mereka rancang sebagai tandingan KWI,
PGI atau PII yang mewadahi Kristen "mainstream". Dalam wadah API ini, agaknya mereka bisa leluasa
menggarap "para pendeta praktisi jemaat"yang menjadi anggotanya, dan pada gilirannya menyeretnya
ke ajaran-ajaran mereka.

------------------------
[11] D. Tjahjadi Nugroho, Keluarga Besar Umat Allah (Semarang: Yayasan Sadar, 1999). Kesalahan fatal
seperti ini, blasanya juga diulangulang oleh sekte Saksi-saksi Yehuwa, dan para polemikus Muslim yang
sering mengutipnya sejauh menguntungkan.

[12] Kematian Arius yang mengenaskan ini, diakui baik oleh para pendukungnya maupun oleh para lawan
pemikirannya, seperti Athanasius dan Maqarius. Karena itu, tidak ada yang bisa menyangkal fakta historis
kematian Arius di kamar mandi, justru ketika Kaisar sedang "all out" membelanya. Kamil Shalih
Nakhlah, Tar'ikh Athanasius ar-rasuli: Hama al-iman al-Qawim (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 1982),
him. 61-62. Lih. Juga: Ricard D. Rubenstein, Kala Yesus jadi Tuhan (Jakarta: Serambi, 2006), hlm. 300.
[13] Lihat: Ahad Ruhban Bariyyat AI-Qidis Maqariyus, [b]Dirasat fi Aba' a/-Kanisat[/b] (Subhra, Cairo: Dar
Majalat Marqus, 2000), him. 51-141.

[14] "Epistle of SI. Policarp", dalern J.B. Lighfoot - J.R. Hermer (ed.), The Apostolic Fathers. Greek texts with
Introduction and English Translations (Michigan: Baker Book House, 1984), him. 195.

[15] Menurut sumber sejarah abad kedua, seperti juga dirujuk dalam sejumlah Synaxarion,
mencatat:"Ignatius menjadi murid Rasul Yohanes, Sang Penulis lnjil, dan mengabarkan Injil
bersamanya di beberapa negeri, lalu meninggalkannya di Antiokia, negeri Syria" (kana talmidzu li
Yuhanna al-Besyir, wa basyara ma'ahu fi 'iddatin biladin, tsumma rasamahu 'ala Anthikiyyah bi Suriya). Rene
Bassett,Mukhthathun al-Synaksar al-Qibthi al-Ya'qubi. Tarjamah: MlkM'il M. Iskandar (Cairo: Muktabah
al-Mahabbah, 2003), hlm. 152-153.

[16] Igantius menulis: "Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan diri-Nya sendiri melalui
Yesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal (hos estin auto seges
proelton), "Epistle of St. Policarp", dalam 1.B. Lighfoot - J.R. Hermer (ed.), Ibid, him. 195.

[17] "Igantius sudah menyebut kodrat ganda Kristus, sebelum konsili-konsili gereja membicarakannya: "
... yang menurut daging dan menurut Roh, yang dilahirkan dan yang tidak dilahirkan, yang keluar
dari Maria, dan yang keluar dari Allah (kai sarkikos kai pneumatikos, gennetos kai agennetos, kal ek
marias kai ek theos), yang pertama terpikirkan dan yang kedua tak teirpikirkan". Lih. "The Epistle of
St. Ignatius to Ephesians (VII)", dalam Ibid, him. 107. cf. Tadros Ya'qub Malathi, AI-Qidis Ignatius al-
Anthaki (Cairo: Markaz al-Delta Ii al-Nasyr, 2003), hlm. 13.

[18] Dokumen yang disebut Risalah Barnaba ini sangat dihormati di gereja-gereja kuno, bersama dengan
dokurnen-cokumen post-rasuli yang lain, sepertl misalnya: Gembala Hermas, Didache, surat-surat
Ignatius, Kesyahidan Polikarpus, dan sebagainya. Risalah Barnaba/ Epistle of Barnabas (ditulis 90-
120 M) dan Qishah Barnabii/Acts of Barnabas (dari abad ke-5 M) harus dibedakan dengan dokumen
palsu berbahasa Itali dan Spanyol dart abad ke-16 M yang berjudul Injil Barnaba/The Gospel of
Barnabas. Aneh, Nugroho juga mencantumkan dokumen palsu The Gospel of Barnabas dalam "Daftar
Kepustakaan" bukunya, Lih. Pembahasan dokumen palsu Inl dalam buku saya: Bambang Noorsena, Telaah
Kritis Injll Barnabas (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1990).

[19] Yustln al-Syahid (100-167 M) menegaskan bahwa Yesus sebagai Firman "tidak diciptakan" (ghayr
al-makhluq). "Kami menyembah Allah", katanya, "tetapi kami juga mengasihi Firman yang keluar
darl Allah, yang tidak diciptakan dan kebesaran-Nya tidak terhingga". Alexander Robert - James
Donaldson (ed.),The Writings of the Father Down to AD. 325: Ante-Nicene Fathers. Vol. I (Peabody,
Massachusetts: Hedrickson Publishers, 1995). him. 193.

[20] Mahir Yunan 'Abd al-Lah, AI-Thawa'if a/-Masihiyyat fi Mishra wa al-'alam (al-Qahirah: al-Nasyir
Mahir Yunan 'Abd al-Lah, 2001), hlm. 35-36. Sedangkan hasil putusan lengkap konsili-konsili ekumenis
gereja, lihat: O. Cummings (ed.), The Rudder (Pedalion) of The Metaphorical Ship of the One Holy
Catholic and Apostolic Church of the Orthodox Christians or All the Sacred and Divine Canons (Illinois:
The Orthodox Christian Educational Society, 1957).

[21] Nugroho, Op. cit., 16.

[22] Dalam banyak kutipan dalam bukunya, ta banyak mengutip ungkapan bahasa Arab tetapi banyak
melakukan kesalahan. Misalnya, Hablum minallah dan hablun minannas, diejanya: Hablo minallah,
Hablo minan nas. Juga, La Ilaha iIallah ditulisnya: Lailah hailalah, dan meskipun intinya paralel dengan
Alkitab (Keluaran 20:2,3), tetapi "Jangan ada ilah lain di hadapan-Ku", tidak bisa dicantumkan dalam
tanda kurung setelah ungkapan itu, karena bukan terjemahan darinya. Secara harfiah La Ilaha illallah,
artinya: "Tidak ada ilah selain Allah". Ini memang bukan pokok permasalahan, tetapi membaca
keamawan Nugroho, ktta dapat melihat bahwa ia sangat tidak memadai menjadi narasumber hubungan
agama-agama, kecuali kalau sekedar sebagai "seorang aktifis" yang peduli dengan kerukunan antar umat
beragama di Indonesia. Ibid, hlm. 31.
[23]Nasr mengkritik kecenderungan umat Islam pada umumnya, yang mengukur iman Kristen dari"frame
of reference" agamanya. Misalnya, menyamakan Yesus dengan Muhammad, atau Alkitab dengan AIQur'an.
Menurut Nasr, Yesus tidak sebanding dengan Muhammad, tetapi dengan AI-Qur'an. Sebab berbeda dengan
Nabi Muhammad yang sekedar "penerima Firman Allah", Yesus adalah Firman Allah sendiri (Yah. 1: 1).
Sedangkan dalam Islam Firman Allah adalah AI-Qur'an. Lalu apakah sulitnya memahami Firman menjadi
Manusia, sedangkan pada saat yang sama umat Islam bisa memahami Firman yang kekal dan "bukan
makhluk" itu bisa menjadi Kitab? Seyyed Husein Nasr, dengan sangat bagus menulis sebagai berikut: "The
Word of God in Islam is the Qur'an, In Christianity it is Christ. The vehicle of the divine message in Christianity
is the Virgin Mary, in Islam is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that
the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of the divine message must be pure and untained. The
Divine Word can only be written on the pure and "untouched" tablet of human receptivity. If this Word is the
form of flesh the purity is symblolized by the virginity of the mother who gives birth to the word, and if it is in
the form of a book this purity is symbolized by the unlettered nature of the person who ts chosen to announce
this word among men", Seyyed Husein Nasr, Ideals and Realities of Islam (Cairo: American University of
Cairo, 1989), hlm. 43-44.

[24] Frans Donald, Allah dalam Alkitab dan AI-Quran (Semarang:Penerbit Borobudur, 2005).

[25] Herlianto menilai bahwa penguasaan bahasa Yunani tokoh-tokoh Unitarian - yang saya keberatan bila
disebut "Kristen Tauhid" - sangat minim, sehingga mereka tidak layak mengadili penerjemahan Kristen
trinitarian. Lih. Herlianto, Kristen Tauhid: Siapa dan Bagaimana Ajaran mereka? Seri Buku Saku Yabina,
edisi 07 (Jakarta: YABINA Ministry, 2007), hlm. 26.

[26] Lihat Wawancara: "Romo Tom Jacobs: Membedah teks-teks Sulit dalam Alkitab", dimuat dalam
Majalah Crescendo, No. 323, 2007, hlm. 42-43.

[27] Teks "Qanun al~Iman" (Konstltusl Iman) putusan konsut Nicea-Konstantinopel, dikuitip darl The
Divine Liturgy of Saint James, Brother of the Lord (Brookline, Massachusetts: Holy Cross Orthodox Press,
1988), hlm. 18-19.

[28] Lih. Wawacara: "Prof. Dr. Banawiratma: Saya tidak mengatakan Yesus Allah, tapi Anak Allah", dimuat
dalam majalah Crescendo, No. 323, 2007, him. 38-41.

[29] Athanasius ar-RasuIi, Dhida al-Ariyusiyyin (Cairo: Mu'asasah al-Qidis AnthuniOs - al-Markaz al-
Urthuduks Ii at-Dtrasat al-Anba'iyyah, 2003), II:24,33, hlm. 54.

[30] Teks Peshitta dalam bahasa Aram dikutip dari: Qyama hadatsa - Ha Brit ha Hadasyah: The New
Covenant Aramaic Peshitta Text with Hebrew Translation (Jerusalem: The Bible Society in Israel and the
Aramaic Scriptures Research Society in Israel, 1986).

[31] Rabbi Nessen Scherman - Rabbi Meir Zlotowitz, Humash Humasi Torah 'im Targum Onqelos,
Farash" Haftarot wehumash Migilot (The Torah: Haftaros and Five Miggillos with A Commentary
Anthologized from the Rabbinic Writings. Hebrew-Aramaic-English (New York: The Mesorah Publishing,
Ltd., 1996), him. 375.

[32] Dalam teks 1 QSa 1,11 yang ditemukan di gua pertama Laut Mati, ada ungkapan Ibrani: 'Im yolid EI et
ha Mashiah. "Ketika Allah melahirkan Mesiah-Nya". R. Gordis, seorang sarjana beragama Yahudi,
terheran-heran membaca naskah ini, sebab ungkapan ini dengan terang membuktikan bahwa ide
"kelahiran ilahi Sang Mesiah dari Allah" itu ternyata tidak berasal dari luar Israel - seperti sering diduga
oleh para teolog Kristen Barat selama inl - melainkan - berakar pada pengharapan mesianis Yahudi sendiri.
Lihat jugai Risto Santala, AI-Masih fi AI-'Ahd al-Qadim (Cairo: AI-Jami'ah wa al-Kharaj al-Fani wa at-
Thaba'ah, 2003), him. 59. Llhat artikel saya: Bambang Noorsena, "Konsep keilahian Sang Mesias dalam
Naskah-naskah laut Mati", bahan untuk Kuliah Umum Program Pascasarjana Jurusan Sosloloqi Agama
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Slatiga, 19 Februari 2008.

[33] "Pemanfaatan" pendangan para teolog yang sering dicap liberal Itu, tampak sekali dar; buku Frans
Donald, Menjawab 'Ajaran Tritunggal, yang sedikit-sedikit "menurut Romo Tom", "menurut Prof.
Banawiratma", seolah-olah Donald mencari pembenaran pendapat Unitarian dari mereka (Op. Cit, him.
xxv-xix).

4. "Eisegese" Kecurigaan

Penafsiran Alkitab yang bertanggung-jawab mensyaratkan untuk menggali makna dari ayat-ayat, lengkap
dengan kajian babasa-bahasa asli, latar belakang historis dan konteks penulisannya,
barulah "mengeluarkan (Yun, "ek") makna yang sebenarnya dari sebuah ayat" (eksegese), dan
bukan sebaliknya" mempunyai prapaham terlebih dahulu, lalu "memasukkan pandangannya dengan
mencari pernbenaran dari sebuah ayat" (Eisegese). Bukan hanya itu, suatu eisegese mereka juga penuh
dengan kecurigaan, karena "pra-paham" mereka yang sebelumnya sudah "anti-Trinitas".

Sekedar sebagai contoh, di bawah ini akan saya kemukakan 2 ayat saja, yaitu Yesaya 63:8-9 dan Yohanes
20:28 yang dikutip oleh Donald sebagai berikut:

4.1. Yesaya 63:8-9

".... maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang Duta atau
utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelematkan mereka. Dialah yang menebus mereka dalam
kasih-Nya dan belas kasihan-Nya" (TB).

So, He became their Saviour in all their affliction. He was afflicted. And the Angel of His Presence saved
them, in His love and His pity He redeemed them" (KJV).

Membandingkannya dengan terjemahan King James Version (KJV), dalam bukunya itu Donald menuduh
Yesaya 63:8-9 terjemahan LAI sudah diubah "mungkin oleh oknum-oknum dalam upaya mengajarkan
Trinitas" [34]. Coba bandingkan dengan uraian-uraian sebelumnya, Donald memuji-muji Tom
Jacobs, Banawiratma dan Hortensius F. Mandaru, karena kebetulan pandangan mereka yang ingin
mengontekstualisasikan "bahasa dogma" (berbeda dengan kaum Unitarian yang "menyerang dogma
gereja"), dianggapnya menguntungkan pendapat kaum Unitarian.

Nah, tuduhan bahwa ayat ini diubah oleh oknum-oknum untuk menyisipkan ajaran Trinitas, sama sekali
tidak benar. Kedua terjemahan sama-sama menrujuk kepada teks asli bahasa Thrani, yang memang
memungkin keduanya. Bahkan terjernahan yang dituduh Donald telah "diubah derni ajaran Trinitas" itu,
ternyata malah dijumpai dalam terjemahan Yahudi yang notabene: tidak percaya kepada ajaran Trinitas.
Sebelum kita kutip terjernahn Yahudi yang dimaksud, marilah kita kutip Yesaya 63:9 dalam bahasa asli
Ibrani:

"Be kal tsareham, lo tsar u-melek phanu hosyi'im ... "

Artinya: "Dalam kesesakan mereka, bukan seorang Duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang
menyelamatkan mereka ... " (TB-LAI) [35].

atau, bisa juga berarti: "Dalam segala kepicikan mereka itu, Iapun kepicikan sertanya, dan Malak
alhadirat-Nya sudah memeliharakan mereka ... " (TL, Klinkert) [36]

Mengapa terjemahannya bisa berbeda? Jawabannya dapat kita ikuti dari catatan The Jewish Bible -
Tanakh: The Holy Scriptures, sebagai berikut:

"Ancient version read: So He was their deliverer! 9No ([i]so kethib) angel, or merssenger, His own
Presence delivered them .. [/i]" (Dalam teks kuno dibaca: Ia menjadi Juru Selamat mereka, 9Bukan
(demikian kethib, atau ''yang tertulis" dalam ayat ini) malaikat atau utusan, Dia sendirilah yang
menyelamatkan mereka) [37].

Seperti catatan terjemahan Yahudi di atas, justru "yang tertulis" (kethib) dalam teks tradisional yang
dikenal dengan naskah Masoretik: "Lo tsar" (Tidak ada utusan), sedangkan yang menerjemahkan: "He
was troubled" (Ia pun kepicikan sertanya, Klinkert), justru mendasarkan pada Qere (bacaan kira-kira).
Dan buktinya teks tradisional Masora itu dibuktikan kesahihannya dengan penemuan Qumran. yang
berusia 1000 tahun lebih tua, dan bacaanya sarna: "Lo tsar" (Tidak ada utusan) [38]. Karena itu, logislah
apabila ayat ini bersambung dengan kalimat berikutnya: "umelek" ("dan duta", atau "dan malaikat"), dan
ungkapan: "phanu" (''Wajah-Nya'', "Hadirat-Nya") menjadi pembuka kalimat baru, sehingga
berbunyi: "phanu hosyi'im" (Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka).

Ungkapan "phanu" dalam makna "Ia sendiri" - seperti dicatat selanjutnya dalam The Jewish Bible
tersebut - juga dijumpai dalam Keluaran 33:14; Ulangan 4:27.39 Terjemahan ini juga didukung oleh naskah
Septuagina, yang juga dibuat oleh orang Yahudi di Alexandria era pra-Kristen yang berbunyi: "Ou presbus
oude anggelos, all' autos esosen auto" (bukan seorang utusan atau malaikat, melainkan Ia sendiri yang
menyelamatkan mereka) [40].

Dalam hal ini terjemahan Septuaginta (LXX), seperti yang juga terjadi pada Yesaya 7:14 [41], lebih
menegaskan maksud yang sebenarnya dari teks asli Ibrani. Karena itu, "tuduhan lancang" bahwa
terjemahan itu dibuat oleh oknum-oknum untuk memasukkan ajaran Trinitas, sungguh tidak beralasan,
culas dan kurang pengetahuan. Lebih-lebih lagi, "ada udang dibalik batu" mengapa harus dipersoalkan
ayat ini, karena kalau yang Juru Selamat itu "malaikat alhadirat-Nya", tinggal satu langkang lagi untuk
menggiring kepada ajaran ganjil mereka, bahwa kalau begitu Yesus adalah Malaikat Mikhael.

4.2. Yohanes 20:28

Contoh kedua - dan kiranya ini eukup untuk membaca mutu seluruh tulisan Donald - diambil dari Yohanes
20:28. Dalam hal ini, argumentasi Donald hanya "menjiplak" Thomas Mc Elwain, tanpa mampu
memeriksa langsung "teks-teks bahasa asli", atau check and recheck dan membandingkannya deugan
pendapat puluhan ahli lain yang berbeda dengan Elwain. Menurut Elwain, teks asli Yohanes 20:28 pada
frasa: "My Lord and my God", dalam bahasa Yunani menggunakan bentuk nominatif, baik pada kata Lord
(Tuhan) maupun God (Allah). Dalam bahasa Yunani, bentuk sapaan lazim disebut "bentuk vokatif", yaitu
bentuk kata yang menunjuk kepada orang yang diajak bicara.

Lebih jelasnya, Yohanes 20:28 memakai bentuk nominatif "Kurios" dan "Theos" dan bukan dalam bentuk
vokatif "Kurie" dan "Thee". Karena itu, menurut Elwain, seruan: "Ya Tuhanku dan AIahku" (Yunani: "ho
kurios mou kai ho theos mou''), tidak membuktikan bahwa Tomas mengakui bahwa Yesus yang
dihadapannya adalah Tuhan dan Allah [42], melainkan lebih merupakan seruan kaget, seperti seruan
dalam bahasa Indonesia: ''Ya Allah, ya Tuhanku!", ketika seorang keget menyaksikan gelombang
Tsunami, misalnya, tetapi bukan berarti gelombang Tsunami itu Tuhan dan Allah. Demikianlah misalnya
argumentasi Donald menjiplak Elwain, mencoba menjabarkan "tafsiran aneh Elwain"yang dikutipnya.

Kenyataannya, teori Elwain ini justru asing dan tidak dapat dibuktikan dari Alkitab. Memang pada
umumnya bentuk vocative case lebih lazim dipakai sebagai seruan, tetapi nominative case sering dipakai
juga menggantikan vocative case, yang memberi kesan lebih khidmat. Contohnya, seruan bahasa
Aram: Eloi, eloi, Lamma Sabhaktani, atau: Eli, Eli, Lamma Shabakhtani, ternyata diterjemahkan dengan
bentuk bahasa Yunani yang berbeda dalam Matius dan Markus. Dalam Matius 27:46 diterjemahkan: Thee
mou, Thee mou, hinati me egkatelipes (digunakan bentuk vocatif Thee), berbeda dengan Markus 15 :34
yang berbunyi: Ho Theos mou, ho Theos mou, eis ti egkatelites me (digunakan bentuk
nominative: "Theos").

Demikian juga, bentuk seruan nominatif juga dipakaidalam Septuaginta (LXX) , misalnya dalam Mazmur
35:23, teks asli Ibrani: "Elohai we Adonay" diteIjemahkan: "Kurie, ho Theos mou" (bentuk vocative
case dan nominative case digabungkan). Jadi, teori Elwain tidak bisa dibuktikan, dan hanya mengada-ada.
Tampaknya, Elwain demi memaksakan kesamaan dalam rangka dialog Kristen-Islam, telah mngorbankan
iman Kristen agar diterima oleh Islam. Dialog sejati ternoda oleh cara-cara kompromistis semacam ini,
suatu yang juga dilakukan oleh "gerombolan Unitarian" di Indonesia yang suka bikin sensasi itu.

-------------------------------
[34] Frans Donald, Op. cit., hlm. 59-60.

[35] Terjemahan yang sama antara lain: "and He become their deliverer in their troubles, It was no
envoy, no angel! but he himself that delivered them ... " (Isaiah 63:9, NEB).

[36] Sebaliknya, New International Version menerjemahkan sama dengan Klikert: "In all their distress he
too was distressed, and the angel of his presence save them ... " (Isaiah 63:9, NIV).
[37] Dikutip dan Perjanjian Lama edisi . agama Yahudi : The Jewish Bible - Tanakh: The Holy Scriptures.
The New Jewish Publication Society Translation According to the Traditional Hebrew Text (Philadelphia,
New York: The Jewish Publication Society, 1968), him. 752.

[38] "Lihat "Crikicus Apparatus" pada Yesaya 63:9 dalam R. Kittel - H.P.
Ruger, Biblia Hebraeca Stuttgartensia (Stuttgart: Deutsche Bibelgesselshaft, 1990). Sedangkan buktl
manuskrlp Qumran, hasil foto halaman demi halaman Kitab Nabi Yesaya, lihat: John C. Trever, Shalosh
Megilot me Qumran: Megilot Yesyayahu ha Gedulah, Sefer Hayahad, Fasarh Habquq (Jerusalem: The
Alibright Institute of Archeological Research and The Shrine of the Book, 1972), him. 116.

[39] "The Jewish publication Society, Loc. Cit.

[40] Teks Yunani Septuaginta (LXX) dlkutlp darl: John R. Kohlenberger III, The NIV Triglot Old
Testament(Michigan: Zondervan Publishing House, 1961).

[41] Dalam teks Ibrani "almah" bisa berarti "perawan" maupun "perempuan muda", tetapi dalam LXX
tegas-tegas diterjemahkan "Perawan". Teks Yesaya 7:14 ini berkaitan dengan nubuat Imannuel yang akan
dilahirkan oleh seorang anak dara (Mat. 1:23).

[42] Thomas Me Elwain, Bacalah Bibel (Jakarta" Penerbit Citra, 2006), hlm. 92-93.

5. Apa Kata Yesus Kristus mengenai Diri-Nya sendiri?

5.1. Apakah Hikmat dalam Amsal 8:22 adalah Ciptaan?

Berakar dari Tauhid (Monoteisme) Yahudi pra Kristen, Allah berkarya melalui Firman-Nya yang dalam
tradisi kesusastraan disebut juga dengan Hokmah (Hikmat) yang bersifat pra-eksisten bersama Allah,
seperti misalnya disebut dalam Kitab Amsal di bawah ini:

‫אשית קָ נָנִ י יְ הוָה‬


ִ ‫דַּ ְרכֹּ ו ֵר‬

YHWH (Adonay) qenani reasith derekho ...

"TUHAN memiliki aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya ... " (Amsal 8:22, teks Vulgata).

Berbeda dengan dengan kata bara ("menciptakan"), yang menunjuk kegiatan Allah untuk "mengadakan
dari yang tidak ada menjadi ada" (creation ex nihilo), kata Ibrani qana("memiliki",
atau "memperoleh"), seperti kedua ayat lain dalam Kitab Amsal: " .... baiklah orang yang berpengertian
rnemperoleh (yigneh) bahan pertimbangan" (Amsal 1:5). Lagi, disebutkan dalam ayat lain:

‫בִ ינָה קְ נֵה חָ כְ מָ ה קְ נֵה‬

Qeneh hokmah, qeneh binah. "Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian" (Amsal 4:5).

Hikmat Allah, yang berperan dalam penciptaan itu, menyeru manusia untuk mengikuti jalan-Nya. Dalam
1 Korintus 1:24, Kristus disebut kekuatan Allah dan Hikmat Allah. Tentu saja, ini tidak menunjuk kepada
kemanusiaan Yesus, melainkan menunjuk kodrat ilahi-Nya sebagai Firman Allah, dan Firman Itu Allah
(Yohanes 1:1).

Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah anak-anak dari Hikmat. "Tetapi Hikmat dibenarkan oleh semua
orang yang menerimanya" (Lukas 7:35, teks asli: ton teknon autes panton, "oleh anak-anaknya").
Sebaliknya, dalam keilahian-Nya, Tuhan Yesus menyeru kepada manusia dengan seruan yang tidak pernah
diucapkan manusia biasa dimanapun juga, kecuali oleh Hikmat (Yunani: Sophia) Allah sendiri: "Marilah
kepada-Ku, sernua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan
kepadamu"(Matius 11:28). Meskipun demikian, patut dicatat pula bahwa dogma keilahian Yesus dan
ketritunggalan Ilahi tidak hanya cukup didasarkan atas ayat-ayat Perjanjian Lama saja, tetapi harus lebih
mengacu kepada ayat-ayat Perjanjian Baru. Sebab Perjanjian Lama "...hanya terdapat bayangan saja dari
keselamatan yang akan datang, dan bukan hakikat keselamatan itu sendiri" (Ibrani 10:1). Seperti
yang juga dikatakan Rasul Paulus, "... semuanya itu hanyalah bayangan dari apa yang harus datang,
sedang wujudnya adalah Kristus" (Kolose 1:17). Tidak bisa misalnya Yohanes 1:1 yang jelas dan tegas
malah ditafsir berdasarkan "ayat puitis" dari Amsal 8:22, sebab Kitab Amsal ditulis sebelum zaman Yesus,
sedangkan Injil Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes di Efesus, yang jelas-jelas berasal dari murid Yesus
langsung.

5.2. Sabda Kristus: Amin, Amin, amar Ana lekhon

Semua nabi mengajarkan firman yang diterima dari Allah, seperti ungkapan: wayomer Adonay alai.
"Berfirmanlah TUHAN kepadaku" (Yesaya 8:1): wayehi davar Adonay el Yonah. "Datanglah firman
TUHAN kepada Yunus" (Yunani 1:1), dan masib banyak contoh lain. Begitu pula, kata Amin selalu
diucapkan di belakang doa dan ucapan Nabi-nabi. Misalnya, doa Raja Daud:

"Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, Amin, ya Amin" (Mazmur
41:14).

Hanya Yesus yang mengawali sabda-Nya demi Nama-Nya sendiri, dan mengawali sabda tersebut dengan
kewibawaan Ilahi yang diawali dengan kata Amin. Meskipun Yesus membaca Kitab Taurat dan Kitab Nabi-
nabi dalam bahasa Ibrani, tetapi Dia mengajar murid-murid-Nya dalam bahasa Aram, Ketika sabda-sabda-
Nya dicatat para rasul dalam bahasa Yunani koine, ungkapan Amen yang mengawali sabda-sabda-Nya itu
tetap dipertahankan: "Amen, Amen lego hemin". Sabda Yesus ini pasti aslinya diucapkan dalam bahasa
Aram, seperti yang direkonstruksikan teks Peshitta: "Amin, Amin amar Ana lehon". Artinya:
"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu" (Yohanes 8:56) [43].

5.3. "... before Albraham come into being, I AM" (Yohanes 8:58)

Kepada orang-orang Yahudi yang mendebat-Nya, Yesus bersabda: "Abraham bapamu bersuka cita
bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersuka cita"(Yohanes 8:56). Orang-
orang Yahudi dalam beberapa tafsiran Taurat, benar-benar meyakini, - entah dengan cara bagaimana - pada
waktu Abraham masib hidup sudah rnempunyai penglibatan ke depan mengenai sejarah Israel dan
kedatangan Mesias. Kedatangan Sang Mesias itu, menggenapi janji Allah sendiri kepada Abraham "dan
oIehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3).

Dengan ungkapan di atas, Yesus hendak menegaskan bahwa Ia sendirilah Mesias yang dijanjikan kepada
Abraham. Ungkapan "ia akan melihat hari-Ku", menunjukkan bahwa Yesuslah yang akan menggenapi
penglihatan Abraham dahulu. Selanjutnya, dengan kedatangan-Nya ke dunia, Abraham "telah melihatnya
dan dla bersuka cita". Jadi, kini Abraham melibat Yesus dari Firdaus, dapat dipahami seperti
perumpamaan mengenai Lazarus dau Abraham (Luk, 16:22-31). Orang-orang Yahudi sulit memaharni
per.kataan Yesus, dan menyangka bahwa ''Aku''-nya Yesus itu terbatas dengan kemanusiaan-Nya di bumi
yang terbatas: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat
Abraham?" (Yohanes 8:57).

Untuk itulah Yesus menegaskan eksistensi Ilahi-Nya sebagai Firman Allah: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku ada" (Yohanes 8:58). Penegasan Yesus itu dalam bahasa aslinya
berbunyi: "Amen, Amen, lego hymin: Prin Abraham genesthai, Ego eimi". Sabda Yesus diawali dengan
ungkapan: "Amen, amen Aku berkata kepadamu", yang menjelaskan posisi-Nya sebagai Firman Allah.
Selanjutnya, ungkapan Ego eimi (I AM, "Aku ADA"), jelas mengacu kepada nama kekudusan Allah ketika
menyatakan diri kepada Musa dalam Keluaran 3:14. Ungkapan Ibrani: Ehyeh asyer ehyeh(Aku Ada yang
Aku Ada), diterjemahkan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani): Ego eimi ho on. Artinya: "Akulah
Dia Yang ADA" [44].

Ungkapan Ehyeh asyer Ehyeh, menegaskan bahwa Allah itu adalah yang ada, yang sudah ada, dan yang
akan datang (band. Wahyu 1:8), membuktikan keabadian Allah sendiri. Jadi, jelas bahwa sabda ini
menegaskan pengakuan Yesus bahwa adalah "Firman yangpada mulanya bersama-sama dengan
Allah", dan "Firman itu adalah Allah". Disini Yesus Kristus, sebagai Firman Allah, menuntut bahwa Dia
tidak terbatas pada waktu(timeless). "Tidak pernah ada suatu waktu dimana Firman Allah itu pernah
dijadikan (come into being), dan "tidak pernah ada suatu waktu dimana Dia tidak ada lagi" (not in
being).
5.4. "Ego Eimi" - Terjemahan dari "Ani Hu" (Akulah Dia)

Menurut argumentasi kaum anti-Trinitas, jawab Yesus dalam Yohanes 8:58 tersebut menjawab pertanyaan
orang-orang Yahudi berkenaan dengan usia, dan bukan identitas. Bantahan seperti ini hanya "debat kusir",
bukan argumentasi ilmiah sama-sekaJi. Mengapa? Sebab pertanyaan orang Yahudi "Usia-Mu belum
limapuluh tahun", memang berkaitan dengan usia lamanya Yesus hidup, tetapi jawaban Yesus tidak
sekedar mengemukakan praeksistensi-Nya "sebelum Abraham jadi", tapi kuncinya juga terletak pada
sabda: Ego eimi ("Aku ADA").

Selain Ego eimi (Akulab Dia) berkaitan dengan ungkapan Ego eimi ho on (Aku adalah Dia Yang
ADA) dari Septuaginta dari Keluaran 3:14, ungkapan ini juga merupakan terjemahan Yunani dari firman
TUHAN dalam Yesaya 43:10, yang dalam bahasa Ibrani: Ani Hu (Aku tetap DIA). Lebih jelasnya, demikian
firman TUHAN dalam Yesaya 43:10 tersebut: " ... supaya kamu tahu, dan percaya kepada-Ku, dan
mengerti bahwa Aku tetap DIA" (Ibrani: "le ma'an tad'u we taminu Ii we tavinu ki Ani Hu", dalam
Septuaginta diterjemahkan: "hina gnote kai pisteusete kai sunete hoti Ego Eimi". Jadi, ungkapan Ego
Eimi menjelaskan kesatuan Yesus sebagai Firman Allah dengan Wujud Allah dalam keabadian.

--------------------------------
[43] Lih. Teks Peshitta, Loc. Cit. Band. Juga: Alqus Abu Faraj, Tafsir Al-Masyriq lnji Yuhanna (Cairo:
Maktabah al-Mahabbah, 1991), hlm. 231- 237.

[44] Teks Septuaginta (LXX) dalam tulisan ini dikutip dari John R. Kohlenberger III, Loc. Cit.

6. Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid

6.1. Yesus bukan "suatu ilah" selain Allah Yang Maha Esa

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sama dengan Saksi-saksi Yehuwa, kaum Unitarian
menerjemahkan akhir ayat Yohanes 1:1 kai ho theos en ho logos "... and the Word was a god" (NW). Jadi,
dalam logika mereka, Yesus sebagai Firman bukanlah Allah, tetapi "suatu ilah". Jadi, Yesus adalah ilah
kedua yang berbeda dengan Allah Yang Maha Esa, dan karena itu berada di luar Allah, atau tidak sehakikat
dengan Allah dalam Dzat-Nya Yang Serba Esa.

Selanjutnya, marilah kita masuk dalam kajian linguistik, khususnya ditinjau dari kasus pemakaian bahasa
Arab di mana kata ilah, al-ilah dan Allah itu berasal. Karena kaum Unitarian di Indonesia mengaku diri
"Kristen Tauhid", maka mau tidak mau kita akan masuk dalam dalam konteks hubungan Kristen-Islam.
Dalam sub bahasan ini saya akau banyak mengutip Alkitab dalam bahasa Arab, dan sumber-sumber
literatur Kristen Timur Tengah. Perlu ditegaskan, bahwa bahasa Arab kita tidak mungkin menyebut adanya
suatu ilah lain selain Allah, tanpa mencederai keesaan-Nya. Sesuatu keyakinan yang lazim
disebut syrik atau mempersekutukan Allah.

Padahal, karena keawaman mereka dalam ilmu Tauhid, dengan terjemahan Yohanes 1:1 tersebut mereka
bermaksud mempertahankan keesaan Allah dengan menurunkan derajat Firman Allah. Tetapi argumentasi
itu, sebaliknya ibarat "senjata makan tuan". Sebab kalau Yesus, yang adalah Firman itu "suatu ilah", yang
kedudukannya lebih rendah dari Allah, dan berada diluar Dzat-Nya, itu berarti ada lebih dari satu ilah, yaitu
Allah dan "suatu ilah" yang bernama Firman. Justru karena alasan itu, dalam Konsili Nikea (325 M), Gereja
yang kudus dan am mengutuk ajaran bidat Arius, yang tidak lain "nenek kakek spiritual" Unitarian dan
Saksi-saksi Yehuwa.

Allah dan Firman- Nya harus sama-sama kekal, sebab apabila Firman yang kekal itu berada diluar Dzat-
Nya, maka keesaan Allah menjadi tidak jelas. Jadi, harus dikatakan bahwa Firman itu adalah Allah,
sebab "tidak ada sesuatu yang ilahi di luar Allah". Allah adalah satu-satunya ilah, dan tidak mungkin
mengatakan ada "suatu ilah" (a god) keeuali Allah. Itulah makna kalimat tauhid: "La ilaha illa llah":
Artinya: "Tidak ada ilah selain Allah". Ungkapan ini ternyata juga dijumpai dalam 1 Korintus 8:4, Good
News Arabic Bible. Dalam tata bahasa Arab, ungkapan: La ilah (Tidak ada ilah) adalah al-nafi, "negasi",
atau penyangkalan, yang segera harus disusul dengan al-isbat, "konfirmasi", atau pengecualian: illa
Allah (kecuali Allah).
Sebagai Firman Allah, Yesus memang biasa disebut ilahiyya (bersifat Ilahi), tetapi itu tetap bukan "di luar
Allah" [45]. Karena itu, menganggap Kristus sebagai "suatu ilah"selain Allah justru bertentangan dengan
prinsip Tauhid: - Allahu wahidun, wa la ilaha siwahu. Artinya: "Allah itu Esa, dan tidak ada ilah selain
Dia" (Markus 12:32, Good News Arabic Bible). Begitu juga, anggapan mereka bahwa Yesus "suatu
ilah" yang diciptakan oleh Allah, bertentangan dengan penegasan Allah: Ana al-awwalu wa ana al-
akhiru, wa la ilaha al-kauni ghairi. Artinya: "Akulah yang terdahulu, dan Akulah yang terkemudian,
tidak ada ilah selain Aku" (Yesaya 44:6).

Dalam Yesaya 43: 10, penegasan: "Sebelum Aku tidak ada ilah dibentuk (wa kana min qabli ilahun)",
menunjukkan bahwa Allah bersifat qidam (terdahulu). Sedangkan ungkapan: "dan tidak ada ilah lagi
sesudah-Ku" (wa lam yakun min ba'di), menutup rapat-rapat paham bahwa Yesus adalah "suatu ilah",
"a god", "suatu allah", "bersifat ilahi", dan semua pandangan serupa yang membuat "sekutu ilahi" Allah,
baik hal itu ada sebelum Allah, atau sesudah Allah, sebagaimana yang diyakini oleh kelompok Unitarian.

6.2. Firman itu "...suatu ilah": Sebuah Gelar Belaka?

Sebaliknya, mereka berdalih bahwa istilah "suatu ilah" yang diterapkan bagi Yesus itu sebagai gelar
belaka, sebab dalam Alkitab Perjanjian Lama tertulis: "Kamu adalah Ilah-ilah (antum alihatun), dan
anak-anak Yang Maha Tinggi kamu sekalian" (Mazmur 82:6). Argumentasi inipun sangat dangkal, sebab
kalau "suatu ilah" hanya diterapkan sebagai gelar, bagaimana mungkin seorang ciptaan dikaitkan dengan
karya Allah dalam menciptakan segala sesuatu? Bagaimana pula Allah bergantung ciptaan-Nya, yang
membantu-Nya dalam penciptaan?

Pandangan ganjil ini, jelas-jelas sebuah bentuk kemusyrikan (politeisme) di abad modern ini. "Akulah
TUHAN", tantang Allah kepada mereka yang mempersekutukan-Nya, "yang telah menjadikan segala
sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi, siapakah yang
mendampingi Aku?" (Yesaya 44:24). Sekali lagi, TUHAN "seorang diri membentangkan Iangit, dan
menghamparkan bumi", tanpa sekutu, tanpa teman, tanpa pedamping, semulia apapun pendamping itu,
tidak terkecuali apa mereka sebut sebagai "Juru Bicara Allah".

Harus ditekankan, baik Perjanjian Lama (Taurat dan Kitab Nabi-nabi), maupun Perjanjian Baru (Injil
dan surat-surat rasuli), mengatakan dengan tegas bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman
dan Roh-Nya (Kejadian 1:1-3; Mazmur 33:6; Yohanes 1:1-3; 15:26; 1 Korintus 2:10-11; 8:4-6; Kolose 1:15-
17) [46]. Karena Allah itu Maha Esa, maka Firman dan Roh Allah itu tidak boleh dipahami berada di luar
Dzat-Nya. Memang, Firman dan Roh adalah "Allah sendiri", daJam makna azali tidak berpermulaan,
dan qadim kekal tidak berkesudahan dalam Dzat-Nya (ilahan wa 'azaliyatan wa qadimatan fi al-
dzat) [47].

Merujuk Yohanes 1:14 bahwa Finnan itu telah menjadi manusia, Konsili Nikeamerumuskan bahwa Firman
Allah yang homoousios "satu dan sehakikat dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya" (teks Arab: wahid ma'a
al-Abi fi al-Dzat) itu, "telah menjadi manusia" (wa shara insanan). Konsili Konstantinopel (381 M),
selanjutnya mempertegas dalam rumusan: "dan telah turun dari surga dan menjelma oleh kuasa Roh
Kudus, dan dari Perawan Maryam dan menjadi Manusia" (teks Arab: nazala min as-sama'i wa
tajjasada bi ar-ruh al-quddus wa min maryam al-adzra'i wa shara insanan) [48].

Karena hubungan antara keilahian Yesus sebagai Firman Allah dan wujud nuzul-Nya sebagai Putra Maryam
itu sedemikian rupa "tidak bercampur, tidak berubah", tetapi juga "tidak terbagi, tidak terpisah",
maka kesatuan antara keduanya tidak membaurkan kemanusiaan dengan keilahian-Nya. Karena itu,
nuzuInya Firman menjadi Manusia,"sama sekali tidak memisahkan Firman dari Allah", dan tidak
pula "Allah turut mati karena kematian kemanusiaan-Nya" (1 Petrus 3:18).

Penjabaran seperti ini tidak sulit dipahami kalau kita menggunakan "Iogika metafisika", bukan
dengan "logika matematika". Masalahnya, kaum Unitarian memahami Tritunggal dengan "logika kaum
primitif" (yang tidak bisa membedakan "satu Allah" (secara metafisik) dengan kesatuan bilangan: "satu
batu", "satu bakpao", "satu pohon" (secara nurnerik), sehingga mereka membayangkan Tritunggal
sebagai "Monster Berkepala Tiga". Padahal sebaliknya, justru berdasarkan argumentasi untuk
mempertahankan keesaan Allah itu, konsili ekumenis (al-majma' al-maskuniyyat) di Nikea
menjatuhkan anathema terhadap ajaran bidat Arius. Anathema tersebut kira-kira berbunyi, bahwa Gereja
yang satu, kudus, katolik (am) dan rasuli, menyatakan sesat kepada mereka yang mengajarkan bahwa:
"pernah ada waktu dimana Firman Allah pernah tidak ada" (kana waqtun lam yakun fihi), "sebelum
dilahirkan Sang Putra tidak ada" (qabla 'an yulada lam yakun), dan "Firman itu ciptaan" (innahu
makhluqun), karena "Firman telah diciptakan dari tidak ada" (qad khuliqa milt al-'adam) [49].

Karena ajaran Rasuli ini akan sulit dipahami oleh "logika bakpao" kaum Unitarian dan Saksi-saksi
Yehuwa, disini akan dijelaskan dalam bahasa yang sesederhana mungkin, Logika bapa-bapa gereja
dalam konsili Nikea pada waktu itu kira-kira sebagai berikut: Kalau Yesus sebagai Firman Allah yang kekal
(bukan dalam kemanusiaan-Nya) "pernah tidak ada", padahal Allah menciptakan segala sesuatu dengan
Firman-Nya" (Mazmur 33:6). Itu berarti TUHAN bukanlah Allah Yang Maha Sempurna. Mengapa? Karena
ada suatu waktu dimana Allah pernah ada tanpa Firman-Nya. Allah pernah tidak memiliki Firman? Allah
semacam apakah ini? Selanjutnya, kalau Firman Allah itu sekedar ciptaan belaka, padahal Allah
menciptakan dengan Firman-Nya, lalu patut dipertanyakan secara kritis: "Lalu dengan Firman mana lagi
Allah menciptakan "firman"-Nya sendiri?

6.3. "Creatio ex Nihilo" atau "Emanasi" dari Dzat Allah?

Sebagaimana sudah dikemukakan, berbicara mengenai Logos, dan untuk memahami apa yang dikehendaki
oleh Yohanes dalam InjiInya, memang harus sangat hati-hati. Mengapa? Karena penulis Injil keempat itu -
demi alasan kontekstualisasi - meminjam istilah Yunani yang sangat sarat dengan makna Neo-Platonis,
meskipun tujuannya justru menghantam alam pikiran Yunani itu. Jadi, Rasul Yohanes hanya "meminjam
istilah", yang sebelumnya sudah muncul di Septuaginta, lalu mengisinya dengan konsep Ibrani pra-Kristen
mengenai Firman atau Sabda Allah (Ibrani: Davar; Aramaik: Memra).

Harus dicatat, perbedaan konsep antara Logos Neo-Platonis dengan Memra atau DavarIbrani sangat
berbeda jauh. Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam pandangan kedua alam pikiran tersebut mengenai
terjadinya dunia, Dalam alam pikiran Alkitab jelas bahwa dunia ini dieiptakan oleh Allah dengan
FirmanNya "dari tidak ada menjadi ada" (Creatio ex Nihilo), Alkitab membedakan seeara mutlak antara
Allah sebagai Sang Pencipta (al-Khaliq) dan alam semesta sebagai Ciptaan-Nya (makhluq), Antara
keduanya tidak ada persamaan daIam zat, Alam semesta adalah "ciptaan yang diawali oleh waktu",
dan Allah adalah Sang Pencipta, yang tidak diawali dan tidak diakhiri oleh waktu. Semua ciptaan terjadi
dengan Firman Allah: "Hendaklah ada Terang, maka Terang itu ada" (Kejadian 1:3).

Sebaliknya, dalam alam pikiran Neo-Platonisme segenap jagat raya ini mengaIir dari to Hen (yang Esa).
"Yang Esa" ini juga bukan Pribadi, tetapi sebuah realitas tanpa gerak, tanpa kehendak, lalu mengalir dari
Yang Esa itu semua realitas lain. Karena itu, tidak dikenal konsep penciptaan "dari tidak ada menjadi
ada", yang ada emanasi (pengaliran) "dari keberadaan tunggal kepada keberadaan-keberadaan lain yang
banyak". Dunia ini ibarat sarang laba-laba yang mengalir dari air liur laba-laba itu sendiri. Laba-Iaba itu "to
Hen" (yang Esa), dan "sarang laba-Iaba" itu "kosmos" (alam semesta). Singkat kata, alam semesta ini satu
zat dengan "Yang Esa". Alam semesta ini bukan ciptaan Allah, tetapi pancaran-pancaran dari "Yang Esa".
Panearan pertama disebut Logos, yang darinya lalu mengalir menjadi wujud-wujud lainnya di jagat raya
ini.

Nah, kembali ke konsep penciptaan. Dalam Alkitab kata Ibrani bara ("menciptakan")hanya diterapkan
bagi TUHAN. Makna kata ini adalah menciptakan sesuatu "dari tidak ada menjadi ada". "Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi" - Ibrani: ‫אשית‬ ִׁ ֱ‫ הָּ אָּ ֶרץ וְּ אֵ ת הַ ָּשמַ יִׁ ם אֵ ת א‬- Bereshit bara Elohim
ִׁ ‫ֹלהים בָּ ָּרא ְּב ֵר‬
et hasyamayim we'et ha'arets (Kejadian 1:1). Sebaliknya, untuk menjadikan dari bahan yang sudah ada
digunakan kata Ibrani 'asah. Makna kata 'asah. adalah "menjadikan dari bahan yang sudah ada dan
membuatnya menjadi suatu yang lain". Misalnya, manusia "menjadikan meja dan kursi dari kayu jati",
atau "membuat sambaI pedas dari cabai merah".

Perlu dicatat pula, bahwa dalam bahasa aslinya, Kejadian 1:3 berbunyi: ‫ֹלהים ַוי ֹּאמֶ ר‬
ִׁ ֱ‫ וַיְּ ִׁהי־אֹּ ור אֹּ ור יְּ ִׁהי א‬-
[b]Wayomer Elohim: Yehi or wayehi or[/b]. - Dan berfirmanlah Allah:

"Jadilah terang!", laIu Terang itu jadi". Kata perintah "Jadilah!" - yehi, mempunyai akar kata yang sama
dengan nama ilahi YHWH, yaitu HYH - artinya "ada". Bandingkan juga: "Lo yihye leka..." - "Jangan ada
padamu ... " (Keluaran 20:3). Jadi, aktivitas penciptaan adalah hak Allah semata-mata, karena tidak seorang
makhlukpun dapat menciptakan, dalam makna "men-ada-kan", atau "membuat ada, yang
sebelumnya tidak ada". Jadi, sesuatu yang tidak mungkin dilaksakan oleh seorang ciptaan, semulia apapun
ciptaan itu.

Lebih jelasnya, dalam konteks pemikiran alkitabiah Sang Pencipta haruslah "tidak diawali oleh waktu",
padahal Yesus Kristus itu mempunyai permulaan. "Ada suatu waktu dimana Anak Allah pernah tidak
ada", kata Arius, yang ajarannya diwarisi kaum Unitarian. Pertanyaan kritis bisa dimajukan disini,
"Bagaimanakah mungkin Yesus Kristus - bersama-sama Allah - dikatakan "menciptakan", atau "menjadi
pengantara dalam penciptaan", padahal menciptakan adalah "meng-ada-kan sesuatu dari tidak ada
menjadi ada", sedangkan sebagai seorang eiptaan Yesus Kristus sendiri diawali oleh waktu? Tidak dapat
diterima aksl sehat, seorang ciptaan yang "pernah tidak ada" dapat menciptakan segala sesuatu
dari "tidak ada".

Jadi, seorang ciptaan belaka bagaimana pun juga, tidak akan mampu mencipta, tidak pula berperan
membantu dalam penciptaan. Namun kaurn Unitarian mungkin saja bertanya, apakah tidak muugkin kedua
konsep mengenai terjadinya dunia itu didamaikan? Philo, seorang filosof Yahudi dari Alexandria, pernah
mengusahakan perkawinan dun konsep yang saling kontradiktif tersebut. Menurutnya, Logos adalah
"makhluk yang tertua", dan in adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menciptakan dunia dan seluruh
isinya ini.

Bagi Philo, Allah sebagai pengendali jagat raya, memegang Logos, laksana "seorang pembajak sawah".
Logos adalah perantara antara theos (Allah) dan kosmos (alam semesta), dan juga sebagai imam yang
membawa jiwa-jiwa kepada-Nya. Sejarah mencatat, Philo gagal mendamaikan kedua konsep tersebut.
Sistem pemikiran filsafatnya tidak bisa menjawab, bagaimana pada suatu pihak Allah "menciptakan dari
tidak ada menjadi ada", tetapi pada pihak lain melibatkan seorang "demiurgos" (sang arsitek)[50] -
menurut istilah Plato - yang juga seorang makhluk dan memiliki wujud yang sama dengan yang hendak
diciptakannya.

Jadi, hanya ada 2 pilihan bagi kaum Unitarian dan Saksi-saksi Yehuwa. Kalau mereka bersikukuh bahwa
Logos itu hanya "seorang ciptaan", tetapi menyebabkan terjadinya "segala ciptaan lain (Kolose 1:16-17,
NW), maka paham penciptaan "creatio ex nihilo"harus ditolak. Sebagai gantinya, mereka harus
menerima "ajaran emanasi", yaitu bahwa dunia mengalir (Jawa: "ndlewer") dari Allah. Dari Allah mengalir
menjadi Logos, selanjutnya dari Logos menjadi "all of (other) things". Sebaliknya, kalau mereka
menerima ajaran "Creatio ex Nihilo", mereka harus mengakui bahwa Logos (Firman) itu adalah Allah
sendiri (Yohanes 1:1- 3; Kolose 1:15-17; 1 Korintus 8:4-6). Hanya dengan mengatakan bahwa
Firman "tidak tercipta" (ghayr al-makhluq), maka Firman Allah itu dapat menciptakan segala
yang kumelip di jagat raya ini "dari tidak ada menjadi ada".

---------------------------
[45] 'Abd al-Masih Basith Abu al-Khair, Op. Cit., hlm. 173.

[46] Anthoni M. Coniarls, AI-Urthuduksiyya: Qanun al-Iman Ii Kulli al-'Ushur. Allh Bahasa: Athanasius
al-Bani (Cairo: Dar Yusif Kamal Ii al- Thaba'ah, 2005), hlm. 77-82.

[47] Ibid.

[48] Isodorus al-Baramus (ed.), AI-Agbeya: Shalawat al-Sa'at wa Ruh al-Tadhra'at (Subhra, Cairo:
Maktabah Mar Girgis Svalkulani, 1993), hlm. 79-80.

[49] Maurice Yuqarin, Tarikh AI-Kaisah. Juz II: AI-Majami' AI-Maskuniyyat al-Awwal wa al-Ghazawat AI-
Kubra (Ma'adi, Cairo: Mansyurat AI-Ma'had, 1966), hlm. 15.

[50] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani Dari Thales Hingga Aristoteles (Yogyakarta: Kanisius, 1999),
hlm 140.
• Targum Onqelos bahasa Aramaik yang memuat Kejadian 33. Dalam tafsir Yahudi pra-kristen Ini sejauh
Allah menyatakan diri disebut Memra (Firman).
• Surat Ignatius (30·107), salah seorang dari murid rasul-rasul di Antiokhia, yang menegaskan keilahian
Kristus dan tabiat lIahi-lnsani-Nya, membuktikan bahwa ajaran ini bukan baru muncul pada Konsili Nikea
tahun 325.

======================
*) Makalah disajikan dalam "Forum Kajian Injil" Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), di Gedung
Keuskupan, Jl. W.R. Supratman No.4, Surabaya, 11 Maret 2008.