Anda di halaman 1dari 29

NORMA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA di BIDANG LISTRIK

MAKALAH

Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kuliah Sanitasi Industri dan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Disusun oleh :
Anisa Kusuma D.F. P17333113422
Fani Nur Ilhami P17333113434
Haifannisa Mahran Noviyani P17333113426
Indah Permatasari P17333113428
Kinanti Ligar Tresnami P17333113435
Syara Noor Ikhsani P17333113410

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG
CIMAHI
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-
Nya yang melimpah, sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.

K3 Listrik merupakan merupakan salah satu bagian dari keselamatan dan


kesehatan kerja yaitu merupakan upaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang
aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran
lingkungan dan penyakit akibat kerja terutama yang ditimbulkan oleh kesalahan atau
konselting listrik.

Adapun makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Sanitasi Industri dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”. Pada kesempatan ini pula
penyusun menayampaikan rasa terima kasih kepada seluruh dosen mata kuliah
Sanitasi Industri dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Dalam penyusunan makalah ini kami sadar bahwa banyak kekurangan dan
ketidaksempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan masukan dan saran yang
bersifat membangun sehingga tercapainya kesempurnaan isi maupun penulian
makalah ini.

Cimahi, Maret 2017

Tim Penyusun
Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1. Latar Belakang................................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3. Tujuan.............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................4
2.1. Landasan Hukum Mengenai K3 Listrik..............................................................4
2.1.1. Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja..............4
2.1.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 12 tahun 2015 tentang K3 Listrik
di Tempat Kerja......................................................................................................4
2.1.3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 33 tahun 2015 tentang perubahan
atas Permenaker No. 12 tahun 2015.......................................................................5
2.1.4. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
dan K3 No. 47 tahun 2015 tentang Pembinaan Calon Ahli K3 bidang Listrik......6
2.1.5. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
dan K3 No. 48 tahun 2015 tentang Pembinaan Teknisi K3 Listrik........................7
2.1.6. PUIL 2011................................................................................................7
2.2. Persyaratan dan Prosedur Pengawasan K3 Listrik.......................................12
2.3. Bentuk Bahaya Listrik..................................................................................13
2.4. Persyaratan Dasar Proteksi Untuk Keselamatan Listrik...................................16
A. Proteksi dari kejut listrik...............................................................................17
B. Proteksi dari efek termal...............................................................................20
C. Proteksi dari arus lebih.................................................................................21
D. Proteksi terhadap arus gangguan..................................................................22
E. Proteksi terhadap gangguan voltase dan tindakan terhadap pengaruh
elektromagnetik....................................................................................................23
F. Proteksi perlengkapan dan instalasi listrik....................................................23

ii
BAB III PENUTUP...................................................................................................25
3.1. Kesimpulan...................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................27

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya untuk menciptakan
lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera, bebas dari kecelakaan, kebakaran,
peledakan, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja
dapat menimbulkan kerugian bagi tenaga kerja, pengusaha, pemerintah dan
masyarakat, yang dapat berupa korban jiwa manusia, kerusakan harta benda dan
lingkungan, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah nyata untuk mencegah dan
mengurangi terjadinya kecelakaan kerja secara maksimal. Program Pembangunan
Nasional dalam era industrialisasi dan globalisasi yang ditandai dengan makin
meningkatnya pertumbuhan industri yang mempergunakan proses dan teknologi
canggih, perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja dan penerapan
keselamatan dan kesehatan kerja yang baik dan benar (Menakertrans RI, 2007).
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1970 tentang
keselamatan kerja dituliskan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan
perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan kesejahteraan
hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Begitu juga
dengan setiap orang lain yang berada di tempat kerja terutama di perusahaan,
perlu terjamin pula keselamatannya. Oleh karena itu, sesuai dengan peraturan
yang berlaku setiap perusahaan yang didalamnya terdapat pekerja dan resiko
terjadinya bahaya wajib untuk memberikan perlindungan keselamatan.
Listrik merupakan salah satu energi yang paling banyak digunakan.
Pelanggaran terhadap panduan keselamatan selama menggunakan peralatan listrik
misalnya; saat proses desain, praktek-praktek kerja, perawatan dan perbaikan
serta pengabaian terhadap prosedur keselamatan listrik, sering menyebabkan
kecelakanaan yang mengakibatkan cidera (bahkan kematian), kerugian harta
benda, atau tanggungannya suatu proses produksi. Khusus untuk bidang K3
kelistrikan di Industri Tekstil menjadi bagian yang juga perlu di perhatikan untuk
keamanan bagi pekerja dalam menghindari terjadi konsluiting yang bisa berakibat

1
terhadap tersengat listrik yang berdampak ringan terpapar listrik dan dampak
berat berupa kematian, sedangkan terjadinya konsluiting sebagai sumber potensi
bahaya kebakaran kepada alat produksi dan fasilitas lainnya yang akan
mengakibatkan terhentinya produksi dan kerugian bagi perusahaan.
Penempatan panel-panel listrik perlu diperhatikan, agar tidak dalam posisi
terbuka harus dilakukan dalam ruang khusus (panel room) dan melalui kendali
yang baik dengan operator pengendali kelistrikan. Data kecelakaan dari sumber
buku seabat K3 terbitan dewan K3 nasional, di sektor listrik (PLN) dari tahun
1995-1999, tercatat 1458. Kasus kecelakaan yang mengakibatkan korban tewas
818 orang, terdiri dari karyawan PLN 183 orang dan masyarakat 635 orang.
Kasus kebakaran sebanyak 741 kali, gangguan teknis 2720 kasus. Akibat dari
kasus- kasus tersebut PLN menderita kerugian sebesar Rp. 25,5 Milyar. Data dari
sumber Puslabfor Mabes Polri mengindikasikan listrik sebagai pemicu kebakaran
kurang lebih 30%.
Listrik mengandung potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan
tenaga kerja atau orang lain yang berada di dalam lingkungan tempat kerja, dan
mengancam keamanan bangunan beserta isinya. Undang – undang yang mengatur
tentang kelistrikan adalah No.1 Tahun 1970, serta bahwa untuk menjamin
keamanan dan keselamatan terhadap instalasi listrik, harus di rencanakan,
dipasang, diperiksa dan diuji oleh orang yang berkompeten dan memiliki izin
kerja sebagaimana dimaksud dalam Standar Nasional Indonesia SNI
0225:2011/Amd 1:2013 Tahun 2011 tentang persyaratan Umum Instalasi Listrik
Tahun 2011 (PUIL) 2011.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaiamana landasan hukum mengenai K3 listrik?
1.2.2. Bagaimana persyaratan dan prosedur pengawasan K3 listrik?
1.2.3. Bagaiamana bentuk bahaya listrik?
1.2.4. Bagaimana persyaratan dasar proteksi untuk keselamatan listrik?

2
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Dapat mengetahui dasar-dasar Kesematan dan Kesehatan Kerja di
bidang Listrik

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui landasan hukum mengenai K3 listrik
2. Mengetahui persyaratan dan prosedur pengawasan K3 listrik
3. Memahami bentuk bahaya listrik
4. Memahami persyaratan dasar proteksi untuk keselamatan listrik

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Landasan Hukum Mengenai K3 Listrik
2.1.1. Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Yang diatur oleh Undang-Undang ini ialah keselamatan kerja dalam
segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di
dalam air maupun udara, yang berada di wilayah kekuasaan hukum
Republik Indonesia. Ketentuan-ketentuan tersebut berlaku dalam tempat
kerja dimana salah satunya ialah dibangkitkan, diubah, dikumpulkan,
disimpan, dibagi-bagi atau disalurkaan listrik, gas, minyak atau air. Diputar
film, dipertunjukan sandiwara atau diselenggarakan rekreasi lainnya yang
memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.
Pada pasal 3 disebutkan bahwa ditetapkannya syarat-syarat keselamatan
kerja untuk mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.Materi yang
diatur dalam Undang-undang ini mengikuti perkembangan masyarakat dan
kemajuan teknik, teknologi serta senantiasa akan dapat sesuai dengan
perkembangan proses industrialisasi Negara kita dalam rangka
Pembangunan Nasional. Selanjutnya akan dikeluarkan peraturan-peraturan
organiknya, terbagi baik atas dasar pembidangan teknis maupun atas dasar
pembidangan industri secara sektoral.
Setelah Undang-undang ini, diadakanlah Peraturan-peraturan
perundangan Keselamatan Kerja bidang Listrik, Uap, Radiasi dan
sebagainya, pula peraturan perundangan Keselamatan Kerja sektoral, baik di
darat, di laut maupun di udara.

2.1.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 12 tahun 2015 tentang K3


Listrik di Tempat Kerja
Berdasarkan peraturan ini ada beberapa definisi mengenai kelistrikan
diantaranya:

4
1. Pembangkit listrik adalah kegiatan untuk memproduksi dan
membangkitkan tenaga listrik berbagai sumber tenaga.
2. Transmisi listrik adalah kegiatan penyaluran tenaga listrik dari tempat
pembangkit tenaga listrik sampai ke saluran distribusi listrik.
3. Distribusi listrik adalah kegiatan menyalurkan tenaga listrik dari sumber
daya listrik besar sampai ke pemanfaat listrik.
4. Pemanfaatan listrik adalah kegiatan mengubah energy listrik menjadi
energy bentuk lain.
5. Instalasi listrik adalah jaringan perlengkapan listrik yang
membangkitkan, memakai, mengubah, mengatur, mengalihkan,
mengumpulkan atau membagikan tenaga listrik.
Pengusaha dan/atau pengurus wajib melaksanakan K3 listrik di tempat
kerja. Pelaksanaan K3 listrik bertujuan:
1. Melindungi keselamatan dan kesehatan kerja dan orang lain yang berada
di dalam lingkungan tempat kerja dari potensi bahaya listrik.
2. Menciptakan instalasi listrik yang aman, handal dan
3. Memberikan keselamatan bangunan beserta isinya dan menciptakan
tempat kerja yang selamat dan sehat untuk mendorong produktivitas.
Ruang lingkup peraturan ini adalah pada pelaksanaan K3 listrik yang
meliputi kegiatan perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan,
pemeliharaan, pemasangan dan pengujian. Sedangakn pada persyaratan K3
dilaksanakan pada kegiatan pembangkitan listrik, transimisi listrik,
distribusi listrik dan pemanfaatan listrik.

2.1.3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 33 tahun 2015 tentang


perubahan atas Permenaker No. 12 tahun 2015
Terdapat beberapa perubahan dari peraturan yang sebelumnya
perubahan tersebut terletak pada pasal 10 sehingga berbunyi:
1. Pemeriksaan dan pengujian dilakukan oleh: pengawas ketenagakerjaan
spesialis K3 listrik, ahli K3 bidang listrik pada perusahaan dan Ahli K3
bidang Listrik pada PJK3.
2. Pemeriksaan dan pengujian dilakukan: Sebelum penyerahan kepada
pemilik.pengguna, setelah ada perubahan/perbaikan dan secara berkala.

5
3. Hasil pemeriksaan dan pengujian digunakan sebagai bahan
pertimbangan pembinaan dan/atau tindakan hukum oleh pengawas
ketenagakerjaan.
4. Pasal 4 dan pasal 5 dihapus atau tidak diberlakukan lagi.

2.1.4. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan


Ketenagakerjaan dan K3 No. 47 tahun 2015 tentang Pembinaan Calon
Ahli K3 bidang Listrik
Pembinaan calon Ahli K3 bidang listrik bertujuan:
1. Meningkatkan kemamuan dan keahlian serta keterampilan dalam
melaksanakan norma K3 listrik di tempat kerja,
2. Meningkatkan kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam
pembinaan dan pengawasan norma K3 listrik di tempat kerja dan
3. Meningkatkan kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam
perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, pemeliharaan dan
pemeriksaan serta pengujian instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik
secara aman di tempat kerja.
Untuk dapat mengikuti pembinaan calon ahli K3 bidang listrik harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sarjana atau Diloma III dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Sarjana dengan pengalaman kerja bidang kelistrikan sekurang-
kurangnya 2 tahun,
b. Diploma III dengan pengalaman kerja bidang kelistirkan sekurang-
kurangnya 4 tahun.
2. Berbadan sehat.
3. Berkelakuan baik dan
4. Bekerja penuh di instalasi/perusahaan yang bersangkutan.

6
2.1.5. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan
Ketenagakerjaan dan K3 No. 48 tahun 2015 tentang Pembinaan Teknisi
K3 Listrik
Pembinaan teknisi K3 listrik bertujuan: Meningkatkan kemampuan dan
keterampilan dalam pelaksanaan norma K3 listrik di tempat kerja.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam melakukan pemasangan
dan pemeliharaan terhadap instalasi, perlengkapan dan peraltan listrik secara
aman di tempat kerja.
Untuk dapat mengikuti pembinaan teknisi K3 bidang listrik harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Menegah Kejuruan bidang
listrik atau sederajat
2. Pengalaman kerja di idang kelistrikan sekurang-kurangnya 2 tahun
3. Berbadan sehat.
4. Berkelakuan baik dan
5. Bekerja penuh di instalasi/perusahaan yang bersangkutan.

2.1.6. PUIL 2011


PUIL memberikan persyaratan untuk desain, pemasangan dan verifikasi
instalasi listrik. Persyaratan ini dimaksudkan untuk menetapkan
keselamatan manusia, ternak dan harta benda terhadap bahaya dan
kerusakan yang dapat timbul pada pemakain secara wajar instalasi listrik
dan untuk menetapkan fungsi yang tepat dari instalasi tersebut.
PUIL berlaku untuk desain, pemasangan dan verifikasi instalasi listrik
sebagai berikut :
a. Kompleks (premises) perumahan;
b. Kompleks komersial;
c. Kompleks publik;
d. Kompleks industri;
e. Kompleks pertanian dan perkebunan;
f. Bangunan prafabrikasi;
g. Karavan, lokasi karavan, dan lokasi serupa;

7
h. Lokasi pembangunan, pameran, bazaar, dan instalasi lain untuk
keperluan temporer;
i. Marina;
j. Instalasi pencahayaan eksternal dan serupa;
k. Lokasi medik;
l. Unti portabel (mobile) atau dapat diangkut;
m. Sistem fotovoltaik;
n. Set pembangkit voltase rendah.
DESAIN
Dalam desain instalasi listrik, faktor berikut harus diperhitungkan untuk
memberikan :
a. Proteksi manusia, ternak dan harta benda
b. Fungsi yang tepat dari instalasi listrik sesuai dengan maksud
penggunaannya.
Faktor tersebut terdiri dari:
A. Karakteristik suplai yang tersedia
Ketika mendesain instalasi listrik sesuai dengan PUIL, perlu untuk
mengetahui karakteristik suplai.Informasi relevan dari operator jaringan
diperlukan untuk mendesain instalasi yang aman sesuaiPUIL.
Karakteristik suplai daya sebaiknya dicantumkan dalam dokumentasi
untuk memperlihatkan kesesuaian dengan PUIL. Jika operator jaringan
merubah karakteristik suplai daya, hal ini akan mempengaruhi
keselamatan instalasi.
a. Sifat arus : arus bolak-balik dan atau arus searah.
b. Fungsi konduktor
- untuk a.b.: konduktor lin; konduktor netral; konduktor proteksi.
- untuk a.s.: konduktor lin; konduktor titik tengah; konduktor proteksi.
c. Nilai dan Toleransi
- voltase dan toleransi voltase;
- pemutusan voltase, fluktuasi voltase dan kedip voltase;a
- frekuensi dan toleransi frekuensi;
- arus maksimum yang diizinkan;
- impedans lingkar gangguan bumi di hulu awal instalasi;
- arus hubung pendek prospektif.
B. Kondisi Lingkungan
Dalam menerapkan kondisi lingkungan penggunaan perlengkapan
isntalasi perlu diperhitungkan beberapa faktor dan parameter lingkungan

8
terkait dan dipilih tingkat keparahan akibat parameter lingkungan tersebut.
Faktor parameter lingkungan tersebut antara lain :
a. Kondisi Iklim : dingin ata panas, kelembaban, tekanan, gerakan media
sekeliling, penguapan, radiasi dan air selain dari hujan
b. Kondisi biologis : flora dan fauna seperti jamur dan rayap
c. Bahan kimia aktif : faram, sulfur dioksida, hidrogen sulfit, nitogen
oksida, ozon, amonia, klor, hidrogen klorida, hidrogen flor
d. Bahan mekanis aktif : hodrokarbon organik
e. Cairan pengotor : pasir, debu, debu melayang, sedimen debu, lumpur
dan jelaga.
f. Kondisi mekanis : berbagai minyak, cairan pendingin, gemuk, bahan
bakar dan air baterai
g. Gangguan listrik dan elektromagnet : getaran, jatuh bebas, benturan,
gerakan berputar, deviasi sudut, percepatan, beban statis dan roboh,
medan magnet, medan listrik, harmonik, tegangan sinyal, variasi
tegangan dan frekuensi dan tegangan induksi dan transien.
C. Luas penampang konduktor
Luas penampang konduktor harus ditentukan untuk kondisi operasi
normal dan untuk kondisi gangguan sesuai dengan :
a. Suhu maksimum yang diizinkan;
b. Drop voltase yang diizinkan
c. Stress elektromagnetik yang mungkin terjadi karena arus gangguan
bumi dan hubung pendek;
d. Stress mekanis lain yang mungkin mengenai konduktor
e. Impedan maksimum berkaitan dengan berfungsinya proteksi hubung
pendek;
f. Metode instalasi.
D. Jenis perkawatan dan cara pemasangan
Pada pemilihan jenis perkawatan dan metode instalasi, hal berikut
harus diperhitungkan :
a. Sifat lokasi;
b. Sifat dinding atau bagian lain bangunan yang menyangga perkawatan;
c. Voltase;
d. Stress elektromagnetik yang mungkin terjadi karena arus gangguan
bumi dan hubung pendek;
e. Interferens eletromagnetik;

9
f. Stress lain yang mungkin mengenai perkawatan itu selama
pemasangan instalasi listrik atau waktu pelayanan.
PEMILIHAN PERLENGKAPAN LISTRIK
Setiap jenis perlengkapan listrik yang digunakan dalam instalasi listrik
harus memenuhi standar SNI/IEC dan/atau standar lain yang berlaku. Jika
tidak ada standar yang dapat diterapkan, maka jenis perlengkapan terkait
harus dipilih dengan kesepakatan khusus antara orang yang menentukan
spesifikasi instalasi dan instalatur.
Umumnya perlengkapan listrik yang digunakan dalam instalasi listrik
sudah ada SNI nya (khususnya untuk instalasi rumah tangga dan sejenis) dan
sudah diberlakukan sebagai SNI wajib, misalnya untuk antara lain kabel PVC,
kotak kontak dan tusuk kontak, sakelar, GPAS (gawai proteksi arus sisa),
luminer. Jadi seharusnya digunakan perlengkapan listrik yang bertanda SNI.
PEMASANGAN DAN VERIFIKASI INSTALASI LISTRIK
A. Pemasangan
a. Pengerjaan yang baik oleh personel yang kompeten dan bahan yang
tepat harus digunakan pada pemasangan instalasi listrik. Perlengkapan
listrik harus dipasang sesuai dengan petunjuk yang disediakan oleh
pabrikan perlengkapan.
b. Pengawatan harus dilakukan sehingga bebas dari hubung pendek dan
hubung bumi.
c. Perlengkapan listrik yang dipasang harus bermutu laik pasang dan/atau
memenuhi persyaratan standar.
d. Perlengkapan listrik harus dirawat dengan baik untuk mencegah
kemungkinanmenurunnya mutu perlengkapan listrik akibat proses
tertentu dalam masa penyimpanan, persiapan, pelaksanaan pekerjaan
dan masa penggunaan.
e. Jika tidak ada ketentuan lain, perlengkapan listrik tidak boleh
ditempatkan di:
- daerah lembab atau basah;
- ruang yang mengandung gas, uap, debu, cairan, atau zat lain yang
dapat merusakkan perlengkapan listrik;

10
-ruang yang suhunya melampaui batas normal
f. Selama masa pembangunan, perlengkapan listrik yang hanya boleh
dipasang di ruang kering harus dilindungi terhadap cuaca untuk
mencegah perlengkapan tersebut mengalami kerusakan yang
permanen
g. Perlengkapan listrik harus dipasang dengan rapi dan dengan cara yang
baik dan tepat.
h. Perlengkapan listrik harus dipasang kokoh pada tempatnya sehingga
letaknya tidak berubah oleh gangguan mekanis.
i. Semua peranti listrik yang dihubungkan pada instalasi harus dipasang
dan ditempatkan secara aman dan, jika perlu, dilindungi agar tidak
menimbulkan bahaya.
j. Karakteristik tertentu dari perlengkapan listrik seperti tersebut dalam
133, tidak boleh memburuk selama pemasangannya.
k. Konduktor harus diidentifikasi sesuai IEC 60446. Bila identifikasi
terminal diperlukan, terminal harus diidentifikasi sesuai IEC 60445.
B. Verifikasi awal
a. Instalasi listrik harus diverifikasi (diperiksa dan diuji) sebelum
dioperasikan dan/atau setelah mengalami perubahan penting untuk
membuktikan bahwa pekerjaan pemasangan telah dilaksanakan
sebagaimana semestinya sesuai dengan PUIL dan/atau standar lain
yang berlaku.
b. Instalasi dalam pabrik atau bengkel, instalasi dengan 100 titik beban
atau lebih, dan instalasi dengan daya lebih dari 5 kW, sebaiknya
keadaan resistans insulasinya diperiksa secara berkala, dan jika
resistans insulasinya tidak memenuhi ketentuan atau terlihat adanya
gejala penurunan, instalasi itu harus diperbaiki.
C. Verifikasi periodik
Direkomendasikan bahwa setiap instalasi listrik dikenai verifikasi
periodik.

11
2.2. Persyaratan dan Prosedur Pengawasan K3 Listrik
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 33 Tahun 2015 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Listrik di Tempat Kerja mencantumkan bahwa
kegiatan penilaian dan pengukuran terhdap instalasi, perlengkapan dan peralatan
listrik untuk memastikan terpenuhnya standar bidang kelistrikan dan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Selain itu juga pengujian merupakan kegiatan
penilaian, perhitungan, pengetesan dan pengukuran terhadap instalasi,
perlengkapan dan peralatan listrik untuk terpenuhinya standar bidang kelistrikan
danketentuan peraturan perundang-undangan. Pemeriksaan dan pengujian ini
dilakukan pada kegiatan perencanaan, pemasangan, penggunaan, perubahan, dan
pemeliharaan untuk kegiatan pembangkitan, transmisi, distribusi dan pemanfaatan
listrik.
Pemeriksaan dan pengujian dilakukan yang pertama oleh Pengawas
Ketenagakerjaan spesialis bidang K3 Listrik, lalu ahli K3 bidang listrik pada
perusahaan dan / atau ahli K3 bidang listrik pada PJK3. Pengawasan dan
pengujian dilakukan sebelum diserahkan kepada pemilik/pengguna lalu
dilaksanakan setelah ada perubahan atau perbaikan dan dilakukan secara berkala.
Hasil dari pemeriksaan digunakan sebagai bahan pertimbangan pembinaan
dan/atau tindakan hukum oleh pengawas Ketenagakerjaan. Pengawasan
pelaksanaan K3 ditempat kerja dilakukan oleh Pengawas Ketenagakerjaan.
Pengusaha atau pengurus yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan
Menteri ini akan di kenakan sanksi sesuai dengan Undang-undang no 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.

2.3. Bentuk Bahaya Listrik


Instalasi listrik adalah jaringan yang tersusun secara terkoordinasi mulai dari
sumber pembangkit atau titik sambungan suplai daya listrik sampai titik-titik
pembebanan akhir. Peralatan listrik adalah semua alat, pesawat atau mesin yang
digerakan dengan tenaga listrik. Ex : Lift, escalator, mesin las, lemari es,dll.

12
Perlengkapan listrik adalah komponen-komponen yang diperlukan dalam
rangkaian instalasi listrik, misalnya pengendali, fiting, sakelar , dll
Seseorang yang bekerja dengan alat bertenaga listrik atau instalasinya terdapat
bahaya, terutama sengatan arus listrik. Seseorang dapat terkena bahaya listrik di
rumah, Pekerja terkena sengatan arus listrik di tempat kerja yang disebabkan
karena peralatan, bahan kerja,dan tergesa-gesa. Resiko besar juga diderita karena
pekerjaan menggunakan peralatan bertenaga listrik. Penyebab kematian karena
listrik menduduki ketiga di tempat kerja dengan usia antara 16 dan 17 tahun,
setelah kecelakaan karena kendaraan bermotor. Kematian karena arus listrik 12 %
di semua tempat kerja, satu diantaranya pekerja muda.
Sengat listrik dapat terjadi bila terdapat arus yang mengalir pada tubuh
manusia. Arus akan melewati tubuh dengan berbagai situasi. Jaringan Penghantar
Listrik, diantaranya :
1. Jaringan konduktor
a) Pembuluh darah
b) Otot
2. Jaringan Tidak Konduktor
a) Tulang
b) Kulit kering
c) Syaraf tepi
EFEK SENGATAN LISTRIK
BESAR ARUS YANG
KATEGORI AKIBAT YANG TIMBUL
MELEWATI TUBUH
1 mA, atau kurang Tidak ada akibat, tidak terasa
AMAN Sengatan terasa tetapi tidak sakit dan
1-8 mA
tidak mengganggu kesadaran
BERBAHAYA Sengatan terasa sakit, tetapi masih bisa
8-15 mA melepaskan diri, dan tidak hilang
kesadaran
15-20 mA Sengatan terasa sakit, bisa hilang
kesadaran dan tidak bisa melepaskan
diri

13
Kesakitan, susah bernafas, terjadi
20-50 mA kontraksi pada otot dan hilang
kesadaran
Kondisi mematikan langsung dan
100-200 mA
susah ditolong
200 mA atau lebih Terbakar dan jantung berhenti berdetak

Bahaya akibat listrik ada 3, yaitu :


1) Bahaya sentuhan langsung
Sentuhan langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif
yang secara normal bertegangan. Adapun proteksi dari arus kejut sentuhan
langsung:
a. Mencegah mengalirnya arus melalui tubuh
b. Membatasi arus yang dapat mengalir melalui badan sampai nilai yang
lebih kecil dari arus kejut
Proteksi bahaya sentuhan langsung:
a. Isolasi bagian aktif
b. Penghalang atau Selungkup
c. Rintangan
d. Jarak aman atau diluar jangkauan
e. Gawai proteksi arus sisa
f. Isolasi lantai kerja
2) Bahaya sentuhan tidak langsung
Sentuhan tidak langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian
konduktif yang secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan
karena terjadi kegagalan isolasi. Adapun proteksi dari arus kejut tidak
langsung:
a. Mencegah mengalirnya arus melalui tubuh
b. Membatasi arus yang dapat mengalir melalui badan sampai nilai yang
lebih kecil dari arus kejut
c. Pemutusan secara otomatis dalam waktu yang ditentukan pada saat
terjadi gangguan yang sangat mungkin menyebabkan arus melalui
badan yang bersentuhan dengan bagian konduktif terbuka, yang nilai
arusnya sama dengan atau lebih besar dari arus kejut listrik.
d. Penerapan metoda ikatan penyama potensial adalah salah satu prinsip
penting untuk keselamatan.

14
Proteksi bahaya sentuhan tidak langsung:
a. Pemutusan supply secara otomatis
b. Memasang grounding (pembumian)
c. Mempergunakan perlengkapan kelas ii atau dengan isolasi ekivalen
d. Proteksi dengan lokasi tidak konduktif
e. Proteksi dengan ikatan penyama potensial lokal bebas BUMI
f. Proteksi dengan separasi listrik. Memisahkan sirkit perlengkapan dari
g. jaringan sumber dengan menggunakan trafo pemisah atau motor
generator.
h. Mamasang tanda keselamatan
3) Bahaya kebakaran
Faktor penyyebab terjadinya kebakaran karena listrik, meliputi:
a. Pembebanan lebih
b. Sambungan tidak sempurna
c. Perlengkapan tidak standar
d. Pembatas arus tidak sesuai
e. Kebocoran isolasi
f. Sambaran petir
Faktor yang mempengaruhi Tingkat Keparahan Cidera Akibat Listrik
1. Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial)
2. Amper (Arus Listrik)
3. Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik)
4. Lama Kontak (banyaknya energi yang terserap)
5. Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan)
6. Jalan Arus
7. Banyaknya Jaringan Resistance
8. Kandungan Air Dalam Jaringan
9. Kondisi fisik dan kejiwaan (perubahan tahanan)

2.4. Persyaratan Dasar Proteksi Untuk Keselamatan Listrik


Prinsip proteksi bahaya listrik
1. Mencegah mengalirnya arus listrik melalui tubuh manusia
2. Membatasi nilai arus listrik dibawah arus kejut listrik
3. Memutuskan suplai secara otomatis pada saat terjadi gangguan
Pada instalasi listrik bahaya berikut dapat timbul, yaitu:
a) arus kejut listrik;
b) suhu berlebihan yang mungkin mengakibatkan kebakaran, luka bakar atau
efek cedera lain;
c) penyulutan atmosfer ledak yang potensial;

15
d) voltase kurang, voltase lebih dan pengaruh elektromagnetik yang mungkin
menyebabkancedera atau kerusakan;
e) pemutusan suplai daya dan/atau pemutusan pelayanan keselamatan;
f) busur api listrik, yang mungkin menyebabkan efek menyilaukan, tekanan
yang berlebihan atau gas racun;
g) gerakan mekanis perlengkapan yang digerakkan listrik.
A. Proteksi dari kejut listrik
1. Proteksi dari sentuh langsung
Sistem proteksi kejut listrik dari sentuhan langsung diaplikasikan
untuk instalasi dengan voltase rendah. Proteksi harus disediakan terhadap
bahaya yang dapat timbul karena bersentuhan dengan bagian aktif
instalasi listrik oleh manusia atau ternak. Proteksi dapat dilakukan dengan
salah satu metode berikut.
a. mencegah mengalirnya arus melalui badan manusia atau ternak;
b. membatasi arus yang dapat mengalir melalui badan ke nilai yang tidak
berbahaya.
2. Proteksi dari sentuhan tak langsung
Sistem proteksi kejut listrik dari sentuhan tidak langsung diaplikasikan
untuk instalasi voltase rendah serta proteksi terhadap gangguan yang
berkaitan dengan kegagalan insulasi dasar.
Proteksi dapat dicapai dengan salah satu metode berikut:
a. mencegah mengalirnya arus gangguan melalui badan manusia atau
ternak;
b. membatasi besarnya arus gangguan yang dapat mengalir melalui
badan ke nilai yang tidak membahayakan;
c. membatasi durasi arus gangguan yang dapat mengalir melalui badan
hingga periode waktu yang tidak membahayakan.
Dalam setiap bagian instalasi harus diterapkan satu atau lebih tindakan
proteksi, dengan memperhitungkan kondisi pengaruh eksternal. Tindakan
proteksi berikut biasanya diizinkan:
- diskoneksi otomatis suplai
- insulasi dobel atau diperkuat
- separasi listrik untuk suplai dari satu pemanfaat listrik
- voltase ekstra rendah (SELV atau PELV)

16
Tindakan proteksi yang diterapkan dalam instalasi harus
dipertimbangkan pada pemilihan dan pemasangan perlengkapan
Tindakan proteksi yang ditentukan dalam Lampiran B, yaitu
penggunaan perintang dan penempatan di luar jangkauan, hanya
digunakan dalam instalasi yang dapat diakses oleh - personel terampil atau
terlatih, atau - personel yang diawasi oleh personel terampil atau terlatih.
Tindakan proteksi, yang ditentukan dalam Lampiran C, yaitu - lokasi
nonkonduktif, - ikatan ekuipotensial lokal bebas bumi, - separasi listrik
untuk suplai lebih dari satu pemanfaat listrikt, dapat diterapkan hanya jika
instalasi berada di bawah supervisi personel terampil atau terlatih
sedemikian sehingga perubahan tidak sah tidak dapat dilakukan.
Ketentuan untuk proteksi dasar memberikan proteksi pada kondisi
normal dan diterapkan jika ditentukan sebagai bagian tindakan proteksi
yang dipilih.
1. Insulasi dasar bagian aktif
Insulasi dimaksudkan untuk mencegah sentuh dengan bagian aktif.
Bagian aktif harus tertutup seluruhnya dengan insulasi yang hanya
dapat dilepas dengan merusaknya. Untuk perlengkapan, insulasi harus
memenuhi standar relevan untuk perlengkapan listrik.
2. Penghalang atau selungkup
Penghalang atau selungkup dumaksudkan untuk mencegah sentuh
dengan bagian aktif.
- Bagian aktif harus berada di dalam selungkup atau di belakang
penghalang kecuali jika terdapat lubang selama penggantian
bagian, misalnya fiting lampu atau sekering tertentu. Untuk
menghindari tersentuhnya bagian aktif maka sebaiknya bagian
aktif tidak disentuh dengan sengaja dan ukuran lubang harus
sekecil mungkin.
- Permukaan bagian atas penghalang atau selungkup harus
memberikan tingkat proteksi
- Penghalang dan selungkup harus terpasang dengan kokoh di
tempatnya dan mempunyai daya tahan untuk mempertahankan

17
tingkat proteksi yang disyaratkan dan sebagai pemisah dari bagian
aktif dari pengaruh eksternal.
- Jika diperlukan untuk melepaskan penghalang atau selungkup
dapat dilakukan dengan menggunakan kunci atau perkakas
- Jika di belakang penghalang atau di dalam selungkup terpasang
alat yang dapat menyimpan muatan listrik berbahaya maka
diperlukan label peringatan.
Tindakan proteksi rintangan dan penempatan di luar jangkauan hanya
memberikan proteksi dasar. Hal ini untuk penerapan dalan instansi
denngan atau tanpa proteksi gangguan yang dikendalikan atau disupervisi
oleh personel terampil atau terlatih.
Rintangan dimaksudkan untuk mencegah sentuh tak sengaja dengan
bagian aktif tetapi tidak mencegah sentuh sengaja dengan cara
menghindari rintang sengaja. Rintangan harus mencegah mendekatnya
tubuh dengan tidak sengaja ke bagian aktif dan mencegah terjadinya
sentuh tak sengaja dengan bagian aktif selama operasi perlengkapan aktif
dalam pelayanan normal.
Rintangan dapat dilepas tanpa menggunakan kunci atau perkakas,
tetapi harus aman sehingga tercegah lepasnya rintangan sengaja secara
tidak sengaja.
B. Proteksi dari efek termal
Untuk menghindari bahaya dari efek termal, proteksi dapat dilakukan
melalui instalasi listrik yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada
risiko tersulutnya bahan yang mudah terbakar karena tingginya suhu atau
busur api listrik. Selain itu, untuk menghindari bahaya efek termal maka tidak
boleh ada risiko luka bakar pada manusia maupun ternak selama perlengkapan
listrik beroperasi secara normal.
Perlengkapan listrik tidak boleh menimbulkan bahaya kebakaran pada
bahan yang berada di dekatnya, jika perlengkapan magun dapat mencapai
suhu permukaan yang dapat menyebabkan bahaya kebakaran pada bahan yang
didekatnya, maka perlengkapan harus:

18
- Dipasang pada atau dalam bahan yang tahan terhadap suhu tinggi dan
mempunyai konduktans termal yang rendah, atau
- Disekat dari elemen kontruksi bangunan, dengan bahan yang akan tahan
terhadap suhu tersebut dan mempunyai konduktans termal yang tendah,
atau
- Dipasang sedemikian agar memungkinkan disipasi bahan yang aman
pada jarak yang memadai dari setiap bahan yang dapat terkena efek
termal yang rusak karena suhu tersebut, dan setiap sarana penyangga
mempunyai konduktans termal yang rendah.
Jika busur api atau latu (sparks) dapat dipancarkan oleh perlengkapan
terhubung permanen dalam pelayanan normal, maka perlengkapan harus:
- Suluruhnya terselungkup dalam bahan tahan busur api, atau
- Disekat oleh bahan tahan busur api terhadap elemen bangunan dimana
busur api dapat member efek termal yang merusak, atau
- Dipasang untuk memungkinkan pemadaman busur api dengan aman
pada jarak yang memadai dari elemen bangunan dimana busur api dapat
member efek termal yang merusak.
bahan tahan busur api yang digunakan untuk tindakan proteksi ini harus
tidak dapat terbakar, berkonduktivitas termal rendah, dan mempunyai tebal
memadai untuk memberikan kestabilan mekanis.
Bila perlengkapan listrik dalam suatu lokasi tunggal berisi cairan yang
mudah terbakar dalam jumlah yang signifikan (terendah 25 liter, apabila
kurang, maka suatu susunan yang mencegah keluarnya cairan telah
memadai), maka harus diambil tindakan pencegahan untuk mencegah cairan
yang terbakar dan hasil pembakaran cairan (api, asap, gas beracun)
menyebar ke bagian bangunan yang lain.
Contoh tindakan pencegahan tersebut adalah:
- Lubang drainase untuk menampung kebocoran dan memastikan
pemadamannya saat terjadi kebakaran, atau
- Pemasangan kelengkapan dalam kamar tahan api yangn memadai dan
perlengkapan penghelang atau sarana lain untuk mencegah cairan yang
terbakar menyebar ke bagian bangunan lain, kamar tersebut berventilasi
hanya ke atmosfir luar.

19
Bahan selungkup yang disusun sekeliling perlengkapan listrik selama
pemasanngan harus tahan terhadap suhu tertinggi yang mungkinn dihasilkan
oleh perlengkapan listrik. Bahan yang mudah terbakarr tidak cocok untuk
kontruksi selungkup tersebut kecualli ambil tindakan preventif erhadap
penyulutan, sedemikian seperti menutupi dengan bahan yang tak mudah
terbakar atau tak dapat terbakar berkonduktivitas rendah.
C. Proteksi dari arus lebih
Arus lebih dapat terjadi ketika arus listrik melebihi kapasitas konduktor.
Ini dapat terjadi karena beban lebih atau hubungan pendek. Manusia atau
ternak harus diproteksi dari cedera, dan harta benda harus diproteksi dari
kerusakan karena suhu yang berlebihan atau stres elektromekanis yang
diakibatkan karena arus berlebih yang mungkin timbul pada konduktor.
Proteksi ini dapat dicapai dengan membatasi arus berlebih ke durasi yang
lebih aman. Proteksi dilakukan dengan cara memilih gawai proteksi yang
tepat untuk tetap sikrit, juga mencakup koordinasi proteksi beban lebih dan
proteksi hubungan pendek.
Gawai proteksi harus disediakan untuk mendiskoneksi setiap arus lebih
dalam konduktor sikrit sebelum arus tersebut menyebabkan bahaya akibat
efek mekanis atau termal yang merusak insulasi, sambungan, terminasi atau
bahan di sekitar konduktor.
Persyaratan menurut sifat sikrit:
1. Proteksi konduktor lin
Deteksi arus lebih harus disediakan untuk semua konduktor in, hal ini
menyebabkan diskoneksi konduktor dimana arus lebih terdeteksi tapi tidak
perlu terjadi diskoneksi pada konduktor aktif lainnya.
Jika diskoneksin fase tunggal dapat menyebabkan bahaya, missal pada
kasus motor trifase, harus diambil tindakan yang sesuai. Contoh tindakan
pencegahan yang sesuai yaitu harus menggunakan GPAL 3 kutub yang
beroperasi secara serentak.
2. Diskoneksi dan rekoneksi konduktor netral pada system multiphase
Bila diskoneksi konduktor netral disyaratkan, diskoneksi dan rekoneksi
harus sedemikian sehingga konduktor netral tidak boleh didiskoneksi

20
sebelum konduktor lin dan harus direkoneksi pada waktu yang sama atau
sebelum konduktos lin.
D. Proteksi terhadap arus gangguan
Setiap konduktor aktif dan bagian lain yang dapat menghantarkan arus
gangguan maka bagian tersebut harus mampu menghantarkan arus tanpa
menimbulkan suhu yang berlebihan. Selain itu, perlengkapan listrik termasuk
konduktor harus dilengkapi dengan proteksi mekanis terhadap stres
elektromekanis arus gangguan, untuk mencegah cedera atau kerusakan pada
manusia, ternak dan harta benda.
E. Proteksi terhadap gangguan voltase dan tindakan terhadap pengaruh
elektromagnetik
Manusia dan ternak harus diproteksi dari cedera dan harta benda harus
diproteksi dari setiap efek yang berbahaya akibat adanya gangguan antara
bagian aktif sirkit yang disuplai pada voltase yang berbeda, kerusakan akibat
adanya voltase lebih sedemikian seperti yang berasal dari peristiwa atmosfer
atau dari penyakelaran, serta kerusakan akibat adanya voltase kurang dan
setiap pemulihan voltase sesudah itu.
Instalasi harus mempunyai tingkat perlindungan yang memadai terhadap
gangguan elektromagnetik sehingga berfungsi secara benar pada lingkungan
yang ditentukan. Desain instalasi harus mempertimbangkan emisi
elektromagnetik yang ditimbulkan oleh instalasi atau perlengkapan yang
terpasang dan disesuaikan sebagai pemanfaat listrik yang digunakan atau
dihubungkan dengan instalasi.
F. Proteksi perlengkapan dan instalasi listrik
1. Pada setiap perlengkapan listrik harus tercantum dengan jelas nama
pembuat dan atau merek dagang; daya, voltase, dan/atau arus pengenal;
serta data teknis lain seperti disyaratkan SNI atau standar yang relevan.
Dimana perlengkapan listrik yang memenuhi persyaratan adalah yang
memenuhi persyaratan standar perlengkapan tersebut, sudah lulus
pengujian sesuai SNI terkait dan mendapatkan sertifikat produk dari

21
Lembaga Sertifikasi Produk yang sudah diakreditasi oleh Komite
Akreditasi Nasional (KAN), serta diberi label SNI pada produknya.
2. Instalasi yang baru dipasang atau mengalami perubahan harus diperiksa
dan diuji dulu sesuai dengan ketentuan mengenai resistans insulasi,
pengujian sistem proteksi dengan diskoneksi otomatis suplai, serta
pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik, dimana instalasi listrik yang
sudah memenuhi semua ketentuan dapat dioperasikan setelah mendapat
izin atau pengesahan dari instansi/lembaga yang berwenang.
Instalasi listrik terpasang harus diverifikasi oleh KONSUIL (Komite
Nasional Keselamatan untuk Instalasi Listrik) atau PPILN (Perkumpulan
Pemeriksa Instalasi Listrik Nasional), yang saat ini telah mendapat izin
dan pengesahan dari instansi/lembaga yang berwenang, yaitu Direktorat
Jendral Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Setelah dinyatakan memenuhi syarat maka instalasi listrik dinyatakan laik
operasi dan akan diterbitkan Sertifikat Laik Operasi, sehingga instalasi
listrik dapat dioperasikan.

22
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Landasan Hukum Mengenai Norma K3 bidang Listrik terdiri dari:
a. UU No. 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
b. Permenaker No. 12 tahun 2015 tentang K3 Listrik
c. Permenaker No. 33 tahun 2015 tentang Perubahan Permenaker No.12
tahun 2015
d. Kepdirjen No. 47 tahun 2015 tentang Pembinaan Calon Ahli K3
Listrik
e. Kepdirjen No. 48 tahun 2015 tentang Pembinaan Teknisi K3 Listrik
f. PUIL 2011
2. Persyaratan dan prosedur pengawasan K3 Listrik
Pemeriksaan dan pengujian dilakukan yang pertama oleh Pengawas
Ketenagakerjaan spesialis bidang K3 Listrik, lalu ahli K3 bidang listrik
pada perusahaan dan / atau ahli K3 bidang listrik pada PJK3. Pengawasan
dan pengujian dilakukan sebelum diserahkan kepada pemilik/pengguna
lalu dilaksanakan setelah ada perubahan atau perbaikan dan dilakukan
secara berkala. Hasil dari pemeriksaan digunakan sebagai bahan
pertimbangan pembinaan dan/atau tindakan hukum oleh pengawas
Ketenagakerjaan. Pengawasan pelaksanaan K3 ditempat kerja dilakukan
oleh Pengawas Ketenagakerjaan
3. Bentuk bahaya listrik
Bentuk bahaya listrik ada tiga yaitu:
a. Bahaya sentuhan langsung
b. Bahaya sentuhan tidak langsung
c. Bahaya kebakaran
4. Persyaratan dasar proteksi untuk keselamtan listrik
Proteksi untuk keselamatan listrik terdiri dari:
a. Proteksi dari kejut listrik
b. Proteksi dari efek termal
c. Proteksi dari arus lebih
d. Proteksi terhadap arus gangguan
e. Proteksi terhadap gangguan voltase dan tindakan terhadap pengaruh
elektromagnetik
f. Proteksi perlengkapan dan instalasi listrik

23
DAFTAR PUSTAKA

Undang - Undang No. 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 12 tahun 2015 tentang K3 Listrik
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 33 tahun 2015 tentang Perubahan Permenaker
No.12 tahun 2015
Keputusan Direktur Jenderal No. 47 tahun 2015 tentang Pembinaan Calon Ahli K3
Listrik

24
Keputusan Direktur Jenderal No. 48 tahun 2015 tentang Pembinaan Teknisi K3
Listrik
PUIL 2011 (SNI No. 0225:2011/Amd 1:2013 tentang Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2011 Amandemen 1)

25