Anda di halaman 1dari 37

Cairan pengganti

- Kristaloid 2-4 kali dari jumlah perdarahan.


- Koloid 1 kali dari jumlah perdarahan
- Darah (WB) 1 kali dari jumlah perdarahan

JENIS CAIRAN INFUS


Berdasarkan Partikel dlm Cairan dibagi menjadi:
I. KRISTALOID
A. Cairan Hipotonik
 Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum ( 285 mOsmol/L)  cairan
“ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya
 Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci
darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah
tinggi) dengan ketoasidosis diabetik.
 Komplikasi : kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intracranial
 Contoh NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
B. Cairan isotonik
 osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari
komponen darah) = 285 mOsmol/L, sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
 Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh,
sehingga tekanan darah terus menurun).
 Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit
gagal jantung kongestif dan hipertensi.
 Contoh: Ringer-Laktat (RL), dan normal saline / larutan garam fisiologis (NaCl
0,9%)
C. Cairan Hipertonik
 Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum ( 285 mOsmol/L), sehingga
“menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
 Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan
mengurangi edema (bengkak).
 Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate,
Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin
 eberapa Contoh Cairan Infus
 1. Asering (Ringer Asetat/Asering)
 Keunggulan:
 - Asetat dimetabolisme di otot  aman bagi pasien dg gangguan liver
 - Pd kasus bedah  mempertahankan suhu tubuh
 - Efek vasodilator
 - Efektif mengatasi asidosis
 Komposisi :
Na+ = 130
Cl- = 108.7
K+ = 4
Ca++ = 2.7
Asetat = 28
 2. KAEN 1B
 Komposisi :
Mengandung elektrolit mEq/L
Na+ = 38.5
Cl- = 38.5
Dekstrosa = 37.5 gr/L
 3. KAEN 3A
 Komposisi :
Mengandung elektrolit mEq/L
Na+ = 60
Cl- = 50
K+ = 10
Laktat = 20
Dekstrosa = 27 gr/L
 4. KA-EN 3B
 Mengandung elektrolit mEq/L
Na+ = 50
Cl- = 50
K+ = 20
Laktat = 20
Dekstrosa = 27 gr/L
 indikasi:
 Kasus-kasus baru di mana status gizi tidak terlalu jelek, antara lain:
 - Pneumonia
 - Pleural Effusion
 - Ketoasidosis diabetik (setelah rehidrasi dg NaCl 0,9%)
 - Observasi Tifoid
 - Observasi demam yang belum diketahui penyebabnya
 - Status asthmaticus
 - Fase pemulihan dari DBD
 5. KA-EN 4A
 Mengandung elektrolit mEq/L
 Na+ = 30
Cl- = 20
Laktat = 10
Dekstrosa = 40 gr/L
 6. KA-EN 4B
 Mengandung elektrolit mEq/L
 Na+ = 30
Cl- = 28
K+ = 8
Laktat = 10
Dekstrosa = 37.5 gr/L
 7. Ringer Laktat
 Tiap 100 ml terdiri atas:
 NaCl 0,6 g
 NaLaktat 0,312 g
 KCl 0,04 g
 CaCl 0.027 g

 Osmolaritas:
 Na+ 131
+
 K 5
 Ca2+ 2
-
 Cl 111
-
 HCO3 (laktat) 29
 8. NS (Normal Salin/ NaCl 0,9%)
 Tiap 500ml mengandung NaCl 4,5g
 Osmolaritas:
 Na+ 154
-
 Cl 154
 9. Glukosa 5%
 Tiap 500ml mengandung glukosa 25g
 Osmolaritas 280 mOsm/l setara dengan 800kJ/l atau 190kkal/l
 10. Glukosa 10%
 Tiap 500ml mengandung glukosa 55g
 Osmolaritas 555 mOsm/l setara dengan 1680kJ/l atau 400kkal/l
 11. D5 ½ NS
 Tiap 500ml mengandung
 glukosa 25g
 NaCl 2,25g
 Kandungan elektrolit
 Na+ 77
 Cl- 77
 Setara dengan 840kJ/200kkal
 11. D5 ¼ NS
 Tiap 500ml mengandung
 glukosa 27,5g
 NaCl 1,125g
 Kandungan elektrolit
 Na+ 38,5
 Cl- 38,5
 Setara dengan 840kJ/200kkal
 12. HES 6%
 Tiap 500 ml terdiri atas:
 HES 30 g
 NaCl 3,45 g
 NaLaktat 2,24 g
 KCl 0,15 g
 CaCl 0.11 g

 Osmolaritas (mmol/l):
 Na+ 138
+
 K 5
2+
 Ca 3
 Cl- 125
 HCO3- (laktat) 20
 Osmolaritas berkisar 280 mOsm/l
 pH: +6


 Catatan: kandungan antar merek dagang dapat berbeda-beda. Namun dalam
rentang yang hampir mirip.

Tipe-tipe cairan:

1. Isotonik

Suatu cairan yang memiliki tekanan osmotik yang sama dengan yang ada

didalam plasma.

a. NaCI normal 0,9 %

b. Ringer laktat

c. Komponen -komponen darah (albumin 5 %, plasma)

d. Dextrose 5 % dalam air (D 5 W)

2. Hipotonik

Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih kecil daripada

yang ada didalam plasma darah. Pemberian cairan ini umumnya

menyebabkan dilusi konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk

kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan di intrasel dan ekstrasel,

sel-sel tersebut akan membesar atau membengkak.

a. Dextrose 2,5 % dalam NaCI 0,45 %

b. NaCI 0,45%Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Modul SkillabA-JILID I 4

c. NaCI 0,2 %
3. Hipertonik

Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih tinggi daripada

yang ada di dalam plasma darah. Pemberian cairan ini meningkatkan

konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk kedalam sel untuk

memperbaiki keseimbangan osmotik, sel kemudian akan menyusut.

a. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,9 %

b. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,45 % ( hanya sedikit hipertonis karena

dextrose dengan cepat dimetabolisme dan hanya sementara

mempengaruhi tekanan osmotik).

c. Dextrose 10 % dalam air

d. Dextrose 20 % dalam air

e. NaCI 3% dan 5%

f. Larutan hiperalimentasi

g. Dextrose 5 % dalam ringer laktat

h. Albumin 25

Komposisi CairanLab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Modul SkillabA-JILID I 5

a. Larutan NaCl, berisi air dan elektrolit (Na+

, Cl -

),

b. Larutan Dextrose, berisi air atau garam dan kalori

c. Ringer laktat, berisi air dan elektrolit (Na+

, K-, Cl -, Ca++, laktat)

d. Balans isotonik, isi bervariasi : air, elektrolit, kalori ( Na+

, . K Mg CI-

.HCO3
-

.glukonat).

e. Whole blood (darah lengkap) dan komponen darah.

f. Plasma expanders, berisi albumin, dextran, fraksi protein plasma 5 %

plasmanat), hespan yang dapat meningkatkan tekanan osmotik, menarik

cairan dari interstisiall kedalam sirkulasi dan meningkatkan volume

darah sementara.

g. Hiperalimentasi parenteral (cairan, elektrolit, asam amino, dan kalori).

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang
dilimpahkan kepada saya sehingga makalah tentang Komposisi Cairan Infus ini dapat
terselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai penyempurna tugas pada mata kuliah Ilmu Dasar
Keperawatan II. Makalah ini disusun juga sebagai bahan acuan dan tambahan pengetahuan
kita tentang Komposisi Cairan Infus, sehingga kita dapat mengetahui betapa pentingnya
cairan infus untuk tubuh.
Terima kasih saya sampaikan kepada Dosen Pembimbing, yang telah memberikan
kesempatan kepada saya untuk menularkan pengetahuan saya kepada para pembaca.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah tentang Komposisi Cairan Infus ini
masih jauh dari sempurna. Karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak baik itu ibu Dosen
Pembimbing kami maupun para pembaca sangat diharapkan demi lengkapnya makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi pembaca.
Terima kasih.

Penyusun,

Daftar Isi
Halaman Judul..............................................................................................i
Kata Pengantar.............................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................iii
BAB I : Pendahuluan.........................................................................1
1. Latar Belakang...............................................................1
2. Tujuan...........................................................................1
3. Manfaat.........................................................................1
BAB II : Pembahasan.........................................................................2
1. Pengertian.....................................................................2
2. Tujuan Komposisi cairan infus........................................2
3. Berbagai regimen infus...................................................2
4. Jenis-jenis cairan infus....................................................4
BAB III : Penutup..............................................................................10
1. Kritik...........................................................................10
2. Saran...........................................................................10
Daftar Pustaka.............................................................................................11

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui
intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan
dan pemberian makanan. Infus merupakan tindakan yang dilakukan pasien dengan cara
memasukan cairan melalui intra vena dengan bantuan infus set, dengan tujuan memenuhi
kebutuhan cairan dan elektrolit, sebagai tindakan pengobatan dan pemberian nutrisi
parenteral.
Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, memiliki kandungan atau komposisi yang harus
sesuai tubuh manusia. Pemberian ini tidak boleh salah, karena bisa berakibat fatal. Misalnya
saja flebitis. Flebitis adalah radang dinding vena. Oleh sebab itu, kita sebagai perawat terlebih
dahulu harus bisa memahami komposisi dari tiap- tiap infus. Dengan adanya kita mengenali,
maka kecelakaan terhadap perawat kepada pasien. Hal inilah akan dibahas secara
menyeluruh.
1.2 Tujuan
Untuk menjelaskan tentang komposisi cairan infus kepada semua tenaga medis, terutama
perawat agar lebih mengenal secara mendalam tentang komposisinya.

1.3 Manfaat
 mengetahui pengertian komposisi dan infus
 mengetahui tujuan komposisi cairan infus
 mengetahui berbagai regimen
 mengetahui jenis- jenis cairan infus
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui
intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus.

2. Tujuan Komposisi Cairan Infus


Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai
tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

3. Berbagai Regimen Infus

Pada pasien trauma akibat kecelakaan lalu lintas atau karena sebab lainnya, kita
sering menjumpai keadaan syok hipovolemik alias suatu kondisi dimana terjadi kehilangan
cairan darah dengan cepat dalam jumlah yang cukup banyak sehingga komponen darah yang
berfungsi untuk mengangkut oksigen ke organ organ tidak lagi adekuat, menyebabkan
gangguan perfusi pada jaringan dan berkontribusi terhadap metabolisme anaerob dan
akumulasi asam laktat.
Namun, maha besar Allah selalu ada upaya homeostasis untuk melindungi terlebih
dahulu organ yang dianggap penting yaitu otak dan jantung, dengan cara vasokonstriksi dan
mengorbankan perfusi di ginjal, otot, usus, dan kulit.
Kasus kematian pada syok hemoragik disebabkan sebagai hasil dari pola perfusi dan
hipoksia jaringan yang progresif juga karena asidosis. Berbagai regimen yang kita kenal
untuk penanganan resusitasi cairan yaitu diantaranya adalah koloid, kristaloid, whole blood
dan komponen-komponen darah.

a. Cairan Kristaloid
Larutan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrosa, yang tidak
mengandung molekul besar. Dalam waktu yang singkat, kristaloid sebagian besar akan keluar
dari intravaskular . Sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak ( 3:1 dengan volume
darah yang hilang). Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstitial berlangsung
selama 30-60 menit, dan akan keluar sebagai urin dalam 24-48 jam. Secara garis besar
kristaloid bertujuan untuk meningkatkan volume ekstrasel, tanpa peningkatan volume intra
sel. Meskipun banyak jenis cairan kristaloid yang tersedia, namun NaCl 0,9% dan Ringer
laktat adalah pilihan pertama yang paling masuk akal.

 NaCl 0,9%

Keuntungannya yaitu murah dan mudah didapat, cairan infus ini juga kompatibel
untuk dicampurkan dengan produk-produk darah dan merupakan pilihan yang terbaik untuk
resusitasi volume.
Kekurangannya. NaCl 0,9% dapat berkontribusi menyebabkan asidosis hipercloremik
ketika resusitasi cairan jumlah besar diperlukan. (untuk menggantikan setiap liter volume
darah, maka kita membutuhkan sekitar 3 liter Nacl 0,9% ) jadi perbandingan cairan ini
dengan volume darah yang hilang adalah 3 : 1.

 Ringer Laktat

Keuntungannya: murah dan mudah didapat, memiliki komposisi isotonis yang lebih
fisiologis dengan cairan tubuh, menghasilkan pergantian elemen kalsium dan pottasium, ion
sodium dan chlor yang dihasilkan juga lebih fisiologis.
Kekurangannya: Relatif tidak kompatibel terhadap produk-produk darah, kandungan
Ca pada Ringer laktat dapat mengaktifasi cascade koagulasi pada produk-produk darah, serta
kandungan laktat dalam infus ringer laktat ini juga dapat memperburuk koreksi terhadap
metabolik asidosis yang sedang berlangsung.

 Dextrose atau glukosa

Tidak di indikasikan untuk pasien trauma karena memilki potensi bahaya. Stress
sebagai respon yang dipicu oleh trauma mayor atau pembedahan sering menyebabkan kadar
gula darah meningkat. Pemberian dextrose secara cepat dalam jumlah banyak selama
resusitasi dapat menyebabkan diuresis osmotik dan menjadi faktor perancu terhadap defisit
intravaskular. Penggunaan dextrose dapat menyebabkan hiperglikemi pada pasien trauma.
Namun glukosa dapat digunakan sebagai cairan maintainance selama fase post resusitasi.

b. Cairan Koloid

Penggunaan cairan koloid intra vena pada penanganan trauma masih kontroversi.
Pada jaman perang dulu, koloid yang digunakan hanyalah albumin dan plasma. Namun
sekarang, dikenal Dextran , haemacel, albumin, plasma dan darah. Koloid mengandung
molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam plasma, tinggal dalam intravaskular
cukup lama (waktu paruh koloid intravaskuler 3-6 jam), sehingga volume yang diberikan
sama dengan volume darah. Kekurangan dari koloid yaitu mahal.
Koloid mempunyai kelebihan yaitu dapat menggantikan dengan cepat dan dengan
volume cairan yang lebih sedikit,ekspansi volume plasma lebih panjang, dan resiko edema
pheripheral kecil. Secara umum koloid dipergunakan untuk :
 Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (syok hemoragik) sebelum
transfusi tersedia
 Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, misalnya pada luka bakar.

4. Jenis- Jenis Cairan Infus


ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam
berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.

Komposisi:

Setiap liter asering mengandung:


 Na 130 mEq
 K 4 mEq
 Cl 109 mEq
 Ca 3 mEq
 Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

 Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami

gangguan hati
 Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik
dibanding RL pada neonatus
 Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi
dengan isofluran
 Mempunyai efek vasodilator
 Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml
RA,
dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral.

KA-EN 1B
Indikasi:
 Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus
emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
 < 24 jam pasca operasi
 Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya
300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
 Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam

KA-EN 3A & KA-EN 3B


Indikasi:

 Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan
kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
 Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
 Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
 Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

KA-EN MG3
Indikasi :
 Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan
kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
 Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
 Mensuplai kalium 20 mEq/L
 Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L
KA-EN 4A
Indikasi :
 Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
 Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai
kadar konsentrasi kalium serum normal
 Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):


 Na 30 mEq/L
 K 0 mEq/L
 Cl 20 mEq/L
 Laktat 10 mEq/L
 Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B
Indikasi:

 Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
 Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
 Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

 Na 30 mEq/L
 K 8 mEq/L
 Cl 28 mEq/L
 Laktat 10 mEq/L
 Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS
Indikasi:

 Untuk resusitasi
 Kehilangan Na > Cl, misal diare
 Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium

(asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

Otsu-RL
Indikasi:

 Resusitasi
 Suplai ion bikarbonat
 Asidosis metabolik

MARTOS-10
Indikasi:

 Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik


 Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres
berat dan defisiensi protein
 Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
 Mengandung 400 kcal/L
AMIPAREN
Indikasi:
 Stres metabolik berat
 Luka bakar
 Infeksi berat
 Kwasiokor
 Pasca operasi
 Total Parenteral Nutrition
 Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:

 Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI


 Penderita GI yang dipuasakan
 Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar,
trauma dan pasca operasi)
 Stres metabolik sedang
 Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
PAN-AMIN G
Indikasi:
 Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik
ringan
 Nitrisi dini pasca operasi
 Tifoid

BAB 3
PENUTUP

Kritik
Banyak pengetahuan tentang komposisi cairan infus di berbagai tempat, seperti hal
nya buku keperawatan, namun masih saja para perawat melakukan kesalahan untuk
memasukan ke dalam tubuh. Masalah seperti itu sangat fatal sekali

Saran
Mencari dan mempraktekkan pengetahuan yang banyak, terutama komposisi cairan
infus. Dengan kita mengetahui semua, maka akibat kecelakaan di semua tempat terutama
rumah sakit tidak terulang lagi. Dan pasien menjadi lebih baik dalam penanganan kepada
perawat. Dengan adanya makalah ini, saya harapkan para perawat menjadi paham dan
mengerti

INFUS CAIRAN INTRAVENA DAN


INDIKASINYA
Infus cairan intravena (intravenous fluids
infusion) adalahpemberian sejumlah cairan ke
dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam
pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh.
Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat
memerlukanpemberian cairan infus adalah:
1. Perdarahan dalam jumlah banyak
(kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
2. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan
komponen darah)

3. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur


(paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
4. “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada
dehidrasi)

5. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)

6. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)

7. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan


cairan tubuh dan komponen darah)

Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain:


1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui
intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya
pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis).
Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan
obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika
intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit
memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi.
Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan
pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan
antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi
kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya
perawatan.
2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah
jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia
dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika
golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications”
dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur
gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah).
Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.

3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak
dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada
keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur
lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di
bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).

4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat


masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain
dipertimbangkan.

5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga


diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh
balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah
tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat
dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan
ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui
infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika
memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar
adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena


(Peripheral Venous Cannulation)
1. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
2. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah)
dalam jumlah terbatas.

3. Pemberian kantong darah dan produk darah.

4. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).

5. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur


(misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang
jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk
memudahkan pemberian obat)

6. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya


risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa),
sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak
dapat dipasang jalur infus.

Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur


Pembuluh Darah Vena
1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan
infus.
2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini
akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt)
pada tindakan hemodialisis (cuci darah).

3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil


yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai
dan kaki).

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:


1. Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat
pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat
penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau
“tusukan” berulang pada pembuluh darah.
2. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar
(bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati
pembuluh darah.
3. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena,
terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan
benar.

4. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah,


terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke
dalam pembuluh darah.

Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:


• Rasa perih/sakit
• Reaksi alergi
Jenis Cairan Infus:
1. Cairan hipotonik:

osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+


lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan
menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam
pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah
dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi
sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi,
misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada
pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis
diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba
cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada
beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
1. Cairan Isotonik:

osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair


dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan
tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya
overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung
kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan
normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
1. Cairan hipertonik:

osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik”


cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan
mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan
hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%
+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan
albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
1. Kristaloid:

bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan


(volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat,
dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya
Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
1. Koloid:

ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan


keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah,
maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh
darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
JENIS-JENIS CAIRAN INFUS
ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis
akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik,
dehidrasi berat, trauma.
Komposisi:
Setiap liter asering mengandung:
 Na 130 mEq
 K 4 mEq

 Cl 109 mEq

 Ca 3 mEq

 Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

1. Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada
pasien yang mengalami gangguan hati

2. Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis


laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus

3. Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh


sentral pada anestesi dengan isofluran

4. Mempunyai efek vasodilator

5. Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak


10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan
infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema
serebral
KA-EN 1B
Indikasi:
1. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui,
misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak
memadai, demam)
2. < 24 jam pasca operasi

3. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV.


Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam
pada anak-anak

4. Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih
dari 100 ml/jam

KA-EN 3A & KA-EN 3B


Indikasi:
1. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air
dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti
ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
2. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

3. Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

4. Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

KA-EN MG3
Indikasi :
1. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air
dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti
ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
2. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

3. Mensuplai kalium 20 mEq/L

4. Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

KA-EN 4A
Indikasi :
1. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
2. Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien
dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal

3. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):


 Na 30 mEq/L
 K 0 mEq/L
 Cl 20 mEq/L

 Laktat 10 mEq/L

 Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B
Indikasi:
1. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3
tahun
2. Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan
risiko hipokalemia

3. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:
1.
o Na 30 mEq/L

o K 8 mEq/L

o Cl 28 mEq/L

o Laktat 10 mEq/L

o Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS
Indikasi:
1. Untuk resusitasi
2. Kehilangan Na > Cl, misal diare

3. Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis


diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

Otsu-RL
Indikasi:
1. Resusitasi
2. Suplai ion bikarbonat

3. Asidosis metabolik

MARTOS-10
Indikasi:
1. Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
2. Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti
tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
3. Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

4. Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN
Indikasi:
1. Stres metabolik berat
2. Luka bakar

3. Infeksi berat

4. Kwasiokor

5. Pasca operasi

6. Total Parenteral Nutrition

7. Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:
1. Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
2. Penderita GI yang dipuasakan

3. Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan


pasca operasi)

4. Stres metabolik sedang

5. Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

PAN-AMIN G
Indikasi:
1. Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan
2. Nitrisi dini pasca operasi

3. Tifoid

Cairan Infus (Komposisi, Indikasi)


Posted on 18 February 2012 by mangsholeh

Cairan Kristaloid

1. Normal Saline
Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.

Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.

Indikasi :

a. Resusitasi

Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah bocor, diikuti oleh keluarnya molekul
protein besar ke kompartemen interstisial, diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke
intertisial karena gradien osmosis. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan
elektrolit yang hilang pada intravaskuler.

b. Diare

Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak, cairan NaCl digunakan
untuk mengganti cairan yang hilang tersebut.

c. Luka Bakar

Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana terjadi kehilangan protein plasma
atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. Untuk
mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl, ringer laktat, atau
dekstrosa.

d. Gagal Ginjal Akut

Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh.
Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan
ekstra seluler dan elektrolit.

Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan. Digunakan dengan


pengawasan ketat pada CHF, insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer dan edema paru.

Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru),
penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium.

2. Ringer Laktat (RL)

Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 28-30


mEq/l.

Kemasan : 500, 1000 ml.

Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi
elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler.
Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik.
Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium merupakan kation terpenting di
intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan
untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok
perdarahan.

Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok


hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan
asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat
metabolisme anaerob.

Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.

Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paru-paru.

Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. Hati-hati
pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function &
pre-eklamsia.

3. Dekstrosa

Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).

Kemasan : 100, 250, 500 ml.

Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama
dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin
kurang dari 25 mg/100ml).

Kontraindikasi : Hiperglikemia.

Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi
pada pembuluh darah dan tromboflebitis.

4. Ringer Asetat (RA)

Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. Larutan RA
berbeda dari RL (Ringer Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati, sementara
asetat dimetabolisme terutama di otot. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki
komposisi elektrolit mirip dengan plasma, RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien
dengan dehidrasi berat dan syok, terlebih pada kondisi yang disertai asidosis. Metabolisme
asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Dengan profil seperti ini, RA
memiliki manfaat-manfaat tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif
yang terjadi pada diare.

Indikasi : Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan
pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Hal ini
dikarenakan adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat
karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.

Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Cairan ini terutama diindikasikan
sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka
bakar/syok hemoragik; pengganti cairan selama prosedur operasi; loading cairan saat induksi
anestesi regional; priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga
diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi.

Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi, misalnya ditunjukkan oleh
studi Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat
(dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-
parameter volume kinetik. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah
hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral, yang umum terjadi setelah anestesi
umum/spinal.

Untuk kasus obstetrik, Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus
cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal, serta keseimbangan asam basa
pada 20 pasien yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio
sesarea. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3
parameter di atas, karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum
terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia atau pre-eklampsia).

Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke iskemik/hemoragik akut,
sehingga umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik
karena kekhawatiran terhadap edema otak. Namun, Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan
pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel, karena itu dapat diberikan
pada stroke akut, terutama bila ada dugaan terjadinya edema otak.

Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding
RL secara signifikan pada menit ke 5, 50, 55, dan 65, tanpa menimbulkan perbedaan yang
signifikan pada parameter-parameter hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah
sistolik-diastolik).

Tabel I. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid

K Ca Glukosa Laktat Asetat


Cairan Tonusitas Na(mmol/l) Cl(mmol/l)
(mmol/) (mmol/l) (mg/dl) (mmol/l) (mmol/l)

NaCl 0,9 308


154 154
% (isotonus)

154
½ Saline 77 77
(hipotonus)
Dextrose 253
5000
5 % (hipotonus)

561
D5NS 154 154 5000
(hipertonus

330
D5 ¼NS 38,5 38,5 5000
(isotonus)

2/3 D &
Hipertonus 51 51 3333
1/3 S

Ringer 273
130 109 4 3 28
Laktat (isotonus)

273
D5 RL 130 109 4 3 50 28
(isotonus)

Ringer 273,4
130 109 4 3 28
Asetat (isotonus)

Cairan Koloid

Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran
kapiler, digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil,
onsetnya lambat, durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan lebih mahal.

Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak
keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah, bersifat hipertonik dan
dapat menarik cairan dari pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan
volume yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Digunakan untuk menjaga
dan meningkatkan tekanan osmose plasma.

1. Albumin

Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang
dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%).

Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang
dibutuhkan lebih kecil, efek koagulopati lebih rendah, resiko akumulasi di dalam jaringan
pada penggunaan jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya
anafilaksis lebih kecil.

Indikasi :
· Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia,
hipoalbuminemia, atau hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary bypass,
hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut, pancretitis, mediasinitis, selulitis luas dan luka bakar.

· Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome).


Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang
dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara
bersamaan.

· Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi,


kebakaran, operasi besar, infeksi (sepsis syok), berbagai macam kondisi inflamasi, dan
ekskresi renal berlebih.

· Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari


sirosis. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media
pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Terapi antibiotik adalah pilihan utama, sedangkan
penggunaan albumin pada terapi tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan
kematian. Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ
dysfunction syndrome (MODS), yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul
akibat infeksi langsung dari bakteri.

Kontraindikasi : gagal jantung, anemia berat.

Produk : Plasbumin 20, Plasbumin 25.

2. HES (Hydroxyetyl Starches)

Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin.

Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas
pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler.

Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass, dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah


operasi, hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg).
Sepsis, karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Penggunaan HES pada
sepsis masih terdapat perdebatan.

Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis, dimana suatu penelitian
menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :

· Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid, disamping itu HES
tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan
permeabilitas.

· Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin


menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid.
· Dengan menjaga COP, dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis
refraktori.

· HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan


pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler.

Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis
karena :

· Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid
(HES), yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli.

· HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan


gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia.

· HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi, ARF,


pruritus, dan liver failure. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik
reperfusi (contoh: transplantasi ginjal).

· Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin
pada pasien dengan sepsis.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan
dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan pruritus.

Contoh : HAES steril, Expafusin.

3. Dextran

Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc
mesenteroides, yang ditumbuhkan pada media sukrosa.

Indikasi :

· Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok sepsis, iskemia miokard,
iskemia cerebral, dan penyakit vaskuler perifer.

· Mempunyai efek anti trombus, mekanismenya adalah dengan menurunkan


viskositas darah, dan menghambat agregasi platelet. Pada suatu penelitian dikemukakan
bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan
gelatin dan HES.

Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia,


hipofibrinogenemia), tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria
yang parah.

Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran juga sering
dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada
tubulus renal. Pada dosis tinggi, dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.
Contoh : hibiron, isotic tearin, tears naturale II, plasmafusin.

4. Gelatin

Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine.

Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan,

Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin


memiliki efek antikoagulan, namun lebih kecil dibandingkan HES.

Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium, sehingga harus dihindari
pada keadaan hiperkalsemia.

Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada penelitian dengan 20.000
pasien, dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan
dengan starches.

Contoh : haemacel, gelofusine.

Cairan Khusus

MANNITOL

D-Manitol. C6H14O6

Indikasi

Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral, meningkatkan diuresis
pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan
tekanan intraokular, meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik, sebagai larutan irigasi
genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral.

ASERING

Indikasi:

Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam
berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.

Komposisi:

Setiap liter asering mengandung:

· Na 130 mEq

· K 4 mEq

· Cl 109 mEq

· Ca 3 mEq
· Asetat (garam) 28 mEq

Keunggulan:

· Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang
mengalami gangguan hati

· Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik
dibanding RL pada neonatus

· Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada
anestesi dengan isofluran

· Mempunyai efek vasodilator

· Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000


ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko
memperburuk edema serebral

KA-EN 1B

Indikasi:

· Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada
kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)

· <>

· Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan


sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

· Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100
ml/jam

Komposisi :

Tiap 1000 ml isi mengandung

- sodium klorida 2,25 g

- anhidrosa dekstros 37,5 g.

- Elektrolit (meq/L) :

a. Na+ 38,5

b. Cl- 38,5

c. Glukosa 37,5 g/L.


d. kcal/L : 150

KA-EN 3A & KA-EN 3B

Indikasi:

· Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas

· Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

· Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A

· Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

Kompisisi :

KA-EN 3A

Tiap liter isi mengandung

- sodium klorida 2,34 g

- potassium klorida 0,75 g, sodium laktat 2,24 g

- anhydrous dekstros 27 g.

- Elektrolit (mEq/L)

a. Na+ 60

b. K+ 10

c. Cl- 50

d. laktat- 20

e. glukosa : 27 g/L.

f. kcal/L : 108

KA-EN 3B

Tiap liter isi mengandung

- sodium klorida 1,75g,

- ptasium klorida 1,5g,


- sodium laktat 2,24g,

- anhydrous dekstros 27g.

- Elektrolit (mEq/L) :

a. Na+ 50,

b. K+ 20,

c. Cl- 50,

d. laktat- 20,

e. glukosa 27 g/L.

f. kcal/L. 108

KA-EN MG3

Indikasi :

· Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral
terbatas

· Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)

· Mensuplai kalium 20 mEq/L

· Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

Komposisi :

Tiap liter isi mengandung bahan :

- sodium klorida 1,75g,

- potassium klorida 1,5g,

- sodium laktat 2,24g,

- anhydrous dekstros 100g.

- Elektrolit (mEq/L) :

A. Na+ 50,

B. K+ 20,

C. Cl- 50,
D. laktat- 20,

E. glukosa 100 g/L;

F. kcal/L: 400

KA-EN 4A

Indikasi :

· Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak

· Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan


berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal

· Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi (per 1000 ml):

· Na 30 mEq/L

· K 0 mEq/L

· Cl 20 mEq/L

· Laktat 10 mEq/L

· Glukosa 40 gr/L

KA-EN 4B

Indikasi:

· Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun

· Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko


hipokalemia

· Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Komposisi:

· Na 30 mEq/L

· K 8 mEq/L

· Cl 28 mEq/L

· Laktat 10 mEq/L

· Glukosa 37,5 gr/L

Otsu-NS
Indikasi:

· Untuk resusitasi

· Kehilangan Na > Cl, misal diare

· Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum,


insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

Mengandung elektrolit mEq/L

· Na+ = 154

· Cl- = 154

Otsu-RL

Indikasi:

· Resusitasi

· Suplai ion bikarbonat

· Asidosis metabolik

Mengandung elektrolit mEq/L

· Na+ = 130

· Cl- = 108.7

· K+ = 4

· Ca++ = 2.7

· Laktat = 28

MARTOS-10

Indikasi:

· Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik

· Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi
berat, stres berat dan defisiensi protein

· Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

· Mengandung 400 kcal/L

AMIPAREN

Indikasi:
· Stres metabolik berat

· Luka bakar

· Infeksi berat

· Kwasiokor

· Pasca operasi

· Total Parenteral Nutrition

· Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

Komposisi

Setiap liter Amiparen isi mengandung

- L-leucine 14g,

- L-isoleucine 8g,

- L-valine 8g,

- lysine acetate 14,8g (L-lysine equivalent 10,5g),

- L-threonine 5,7g,

- L-tryptophan 2g,

- L-methionine 3,9g,

- L-phenylalanine 7g,

- L-cysteine 1g,

- L-tyrosine 0,5g,

- L-arginine 10,5g,

- L-histidine 5g,

- L-alanine 8g,

- L-proline 5g,

- L-serine 3g,

- aminoacetic acid 5,9g,

- L-aspartic acid 30 w/w%,


- total nitrogen 15,7g,

- sodium kurang lebih 2 mEq,

- acetate kira-kira 1220 mEq.

- Sodium bisulfit ditambahkan sebagai stabilisator.

AMINOVEL-600

Indikasi:

· Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI

· Penderita GI yang dipuasakan

· Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca
operasi)

· Stres metabolik sedang

· Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

Komposisi :

Tiap liter Aminovel 600 berisi

- amino acid (L-form) 50g,

- D-sorbitol 100g,

- ascorbic acid 400mg,

- inositol 500mg,

- nicotinamide 60mg,

- pyridoxine HCl 40mg,

- riboflavin sodium phosphate 2,5mg,

- Elektrolit :

a. Sodium 35 mEq,

b. potassium 25 mEq,

c. magnesium 5 mEq,

d. acetate 35 mEq,
e. maleate 22 mEq,

f. chloride 38 mEq.

- Setiap 50g asam amino berisi :

a. L-isoleucine 3,2gram,

b. L-leucine 2,4g,

c. L-lysine (calculated as base) 2g,

d. L-methionine 3g,

e. L-phenylalanine 4g,

f. L-threonine 2g,

g. L-tryptophan 1g,

h. L-valine 3,2g,

i. L-arginine (calculated as base) 6,2g,

j. L-histidine (calculated as base) 1g,

k. L-alanine 6g,

l. glycine 14g,

m. L-proline 2g

PAN-AMIN G

Indikasi:

· Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan

· Nutrisi dini pasca operasi

· Tifoid

Komposisi

Tiap liter infuse mengandung

- L-arginine HCl 2,7g,

- L-histidine HCl H2O 1,3g,

- L-isoleucine 1,8g,

- L-leucine 4,1g,
- L-lysine HCl 6,2g,

- L-methionine 2,4g,

- L-phenyilalanine 2,9g,

- L-threonine 1,8g,

- L-tryptophane 0,6g,

- L-valine 2g,

- glycine 3,4g,

- D-sorbitol 50g

- air.

TUTOFUSIN OPS

Per liter :

- Natrium 100 mEq,

- Kalium 18 mEq,

- Kalsium 4 mEq,

- Magnesium 6 mEg,

- Klorida 90 mEq,

- Asetat 38 mEq,

- Sorbitol 50 gram.

Indikasi :

o Air & elektrolit yang dibutuhkan pada fase sebelum, selama, & sesudah operasi.

O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit selama masa pra operasi, intra operasi dan pasca
operasi

O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit pada keadaan dehidrasi isotonik dan kehilangan
cairan intraselular

o Memenuhi kebutuhan karbohidrat secara parsial

Kontraindikasi :

O Insufisiensi ginjal

O intoleransi Fruktosa & Sorbitol


O kekurangan Fruktosa-1-6-difosfate

O keracunan Metil alkohol.

Hati-hati pada :

O Penyakit ginjal atau jantung

O retensi cairan

O hipernatremia.
About these ads