Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

JURNAL - JURNAL PENELITIAN

Nama Kelompok:

Riqka Wahyuli Isnaini (1141400030)

Siska Avianti (1141400062)

INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

SERPONG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telahmemberikan rahmat, karunia,
serta kekuatan, sehingga kami selaku penulis dapatmenyelesaikan penyusunan makalah ilmiah
dengan judul “Jurnal Penelitian“. Peminatan Energi biomassa merupakan mata kuliah wajib
pilihan dan diajukan sebagai usaha untukmemenuhi salah satu persyaratan ujian semester ganjil
program pendidikan Strata Satu(S–1) Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Indonesia

Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan akan
tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak, tantangan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini.

Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari masih memiliki kekurangan.Diharapkan


kritik dan saran dari saudara sekalian memicu kami dalam penyempurnaan yang lebih baik.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiahini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Serpong, 5 Januari 2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………...…………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………….. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………………... 3

BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………………………………… 8

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………….. 13


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Energi merupakan kebutuhan dasar manusia, yang terus meningkat sejalan dengan
tingkat kehidupannya. Bahan bakar minyak atau energi fosil merupakan salah satu
sumber energi yang bersifat tak terbarukan (non renewable energy sources) yang selama
ini merupakan andalan untuk memenuhi kebutuhan energi di seluruh kegiatan. Kekayaan
sumber daya energi di Indonesia, yaitu tenaga air (Hydropower), panas bumi, gas bumi,
batu bara, biomassa, biogas, angin, energi laut, matahari dan lainnya dapat dimanfaatkan
sebagai energi alternatif, menggantikan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak,
yang semakin terbatas baik jumlah dan cadangannya. (Kholiq. 2015)

Di daerah perkotaan, sebagian besar kebutuhan akan pembangkitan listrik sudah


terpenuhi. Akan tetapi, di daerah terpencil di Indonesia masih ada 12.659 dari 74.754
desa di Indonesia yang sama sekali belum mendapatkan listrik. Dari jumlah itu, 65%
terletak di 6 provinsi pada kawasan Indonesia Timur. (Agustinus. 2016)
Minyak tanah masih digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
penerangan di daerah yang belum teraliri listrik, namun sekarang minyak tanah jarang
dijumpai dikota-kota maupun daerah terpencil. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah
adalah minyak nabati murni (Pure Plant Oil yang bahan bakunya dapat diperoleh dengan
mudah dan terbarukan (renewable). Salah satu bahan baku pembuatan minyak nabati
murni (Pure Plant Oil) berasal dari biji buah bintaro (Carberamanghas l). (Ekawati.
2011)
Tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai biodiesel
adalah pohon bintaro (Cerbera odollam Gaertn). Biji Bintaro mengandung minyak antara
35-50% (dibandingkan dengan biji jarak yang 14% dan kelapa sawit 20%). Semakin
kering biji bintaro semakin banyak kandungan minyaknya. Minyak ini termasuk jenis
minyak non pangan, diantaranya asam palmitat (22,1%), asam stearat (6,9%), asam oleat
(54,3%), dan asam linoleat (16,7%). (Trionosoesanto. 2011)
Minyak ini dapat dimanfaatkan langsung sebagai bahan lampu penerangan. Bahan
bakar ini dapat menggantikan minyak tanah sehingga dapat disebut dengan biokerosin
karena spesifikasinya mirip dengan kerosin. Minyak biji bintaro yang dapat disebut juga
sebagai biokerosin, pemanfaatannya masih kurang dibandingankan dengan
pemanfaatannya sebagai biodiesel. Biodiesel dari minyak biji bintaro lebih diminati
untuk diteliti karena produknya lebih banyak di aplikasikan dibanding dengan biokerosin
yang hanya sebagai bahan bakar rumah tangga.
Satu pohon bintaro secara optimal menghasilkan 300 kg buah bintaro setiap
tahurmya. Untuk mendapatkan 1 kg minyak bintaro mumi dibutuhkan 2,9 kg biji bintaro
kering yang dapat diperoleh dari 36,4 kg buah bintaro tua. Minyak biji bintaro memiliki
daya bakar selama 11,8 menit, sedangkan minyak tanah 5,6 menit dengan takaran 1 ml
minyak biji bintaro dan minyak tanah. Hal ini menunjukkan bahwa minyak biji bintaro
memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah (Dewanto, 2009).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 POHON BINTARO (Cerbera odollam Gaertn)


Bintaro (Gambar 1) termasuk tumbuhan mangrove yang berasal dari daerah tropis
di Asia, Australia, Madagaskar, dan kepulauan sebelah barat samudera pasifik. Pohon ini
memiliki nama yang berbeda di setiap daerah, seperti othalanga Maram dalam bahasa
Malayalam yang digunakan di Kerala, India; arali kattu di negara bagian selatan India
Tamil Nadu; famentana, kisopo, samanta atau tangena di Madagaskar; dan pong-pong,
buta-buta, bintaro atau nyan di Asia Tenggara (Gaillard et al. 2004).

Pohon bintaro mempunyai nama latin Cerbera odollam Gaertn, termasuk


tumbuhan non pangan atau tidak untuk dimakan. Dinamakan Cerbera karena bijinya dan
semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut “cerberin” yaitu racun yang
dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga
mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari
pembakaran kayunya dapat menyebabkan keracunan. Walaupun begitu, pohon bintaro
juga memiliki banyak potensi, antara lain kulit buah bintaro yang berserat dapat
digunakan sebagai bahan baku papan partikel atau dapat dijadikan sebagai bahan bakar
secara langsung atau diubah menjadi briket untuk bahan bakar tungku sedangkan minyak
biji bintaro dapat dijadikan sebagai salah satu sumber energi alternatif yaitu biodiesel.
Potensi ini juga didukung karena pohon bintaro menghasilkan buah sepanjang tahun dan
keberadaan pohon bintaro sangat banyak karena digunakan sebagai tanaman penghijauan
dan sebagai penghias taman kota serta tidak membutuhkan pemeliharaan khusus
(Purwanto 2011).
Gambar 1. Pohon Bintaro

(Sumber : Alamendah, 2011)

Menurut Smith, A. C et al. (1998), sistematika tanaman bintaro adalah sebagai


berikut:

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Carbera L.
Spesies : Carbera manghas L.

Tanaman bintaro dapat tumbuh mencapai 4-20 meter dengan struktur batang
tegak, berbentuk bulat, berkayu, dan berbintik hitam serta berakar tunggang. Kulit batang
tanaman bintaro bersifat keras, tebal dan berkerak. Daun yang dimilki pohon bintaro
berwarna hijau tua, berbentuk memanjang, simetris, tepi daun rata, pertulangan daun
menyirip, permukaan licin, bagian ujung tumpul dan memiliki ukuran panjang 15-20 cm,
serta lebar daun 3-5 cm. Bunga tanaman ini berwarna putih, berbau harum dan biasanya
terletak pada ujung batang. Bunga bintaro merupakan bunga majemuk berkelamin dua,
dengan panjang putik 2-2,5 cm dengan kepala sari berwarna coklat, sedangkan kepala
putik berwarna hijau keputih-putihan. Buah bintaro memiliki bentuk oval mirip dengan
buah mangga, daging buah bintaro memiliki struktuk yang berserat dan tidak dapat
dimakan karena beracun (Rohimatun dan Suriati, 2011).
Gambar 2. Biji Bintaro

(Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011)

2.2 Kandungan Minyak Pada Biji Bintaro


Biji bintaro mengandung minyak 46-64 %, minyaknya merupakan trigliserida
yang tersusun dari molekul gliserol dan molekul asam lemak (Imahara et al. 2006).
Adapun komposisi asam lemak penyusun trigliserida minyak biji bintaro dapat dilihat
pada tabel 2.1. berikut ini :

Tabel 2. 1. Komposisi Asam Lemak Minyak Bintaro

Asam Lemak Nama Sistematik Hasil Analisis (%)

Palmitat Heksadekanoat 17,67

Palmitoleat cis-9-heksadekenoat 4,91

Stearat Oktadekanoat 4,38

Elaidat tr-9-oktadekenoat 8,54

Oleat cis-9-oktadekenoat 34,02

Linolelaidat Tr-9,12-oktadekadienoat 4,49

Linoleat cis-9,12-oktadekadienoat 16,74

ὰ-Linolenat cis-9,12,15 oktadekatrienoat 0,40

(Sumber: Endriana, 2007)


Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa minyak bintaro memiliki kandungan asam
lemak tidak jenuh yang tinggi sehingga memiliki titik leleh yang rendah dan minyak akan
berbentuk cair pada suhu kamar. Total asam lemak penyusun trigliserida minyak biji
bintaro yaitu sebesar 89,98%. Hal ini disebabkan tidak adanya puncak pembanding pada
stándar asam lemak (Endriana 2007).
Diketahui bahwa untuk membuat 1 kg minyak CCO dengan proses pengepresan
membutuhkan 25 kg biji bintaro basah. Rendemen minyak akan semakin tinggi apabila
diekstraksi dengan pelarut n-heksana, dimana rendemen dapat mencapai kurang lebih
50% dari berat biji kering (Towaha, 2011). Karakteristik sifat fisiko-kimia dari miyak biji
bintaro yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut ini.

Tabel 2. 2 Karakteristik Sifat Fisiko-Kimia Minyak Biji Bintaro


Sifat fisko-kimia
Sifat Fisika Nilai
1. Berat jenis (g/ml) 0,9084
2. Indeks bias 1,4659
3. Kadar air (%) 0,30
4. Viskositas (cP) 63,25
Sifat Kimia Nilai
1. Bilangan asam (mg KOH/g) 1,19
1. Bilangan iod (g I2/100g) 76,30
1. Bilangan penyabunan (mg KOH/g) 202,90
1. Bilangan ester (mg KOH/g) 201,71
(Sumber: Herwanda, 2011)

2.3. Biokerosin
Dalam Upaya mengatasi krisis energi terutama minyak tanah, pemerintah
menerapkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Namun, konversi ini memerlukan
proses dn sosialisasi yang panjang, selain itu membutuhkan dana besar serta pengelolaan
yang profesional. Untuk menyiasati kelangkaan minyak tersebut masyarakat pedesaan
lebih memilih menggunakan kayu bakar. Jika hal ini terus berlanjut maka dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan. Salah satu cara untuk mengurangi konsumsi minyk
tanah adalah substitusi dengan biokerosin. Biokerosin adalah minyak tanah yang
bersumber dai bahan-bahan hayati yang sifatnya terbarukan. Biokerosin diperoleh dari
berbagai biji-bijian termasuk biji bintaro. Biji bintaro berpotensi menjadi biokerosin
dapat dipertimbangkan sebagai substitusi minyak tanah. Hal ini juga dapat meningkatkan
nilai tambah perkebunan pohon bintaro bagi pendapatan masyarakat dan dapat
dimanfaatkan sebagai bahan masukan dalam mengembangkan pengelolaan bioenergi
ditingkat pedesaan, serta mendorong kegiatan ekonomi produktif yang memanfaatkan
bahan bioenergi dari biji bintaro dan produk sampingnya. (reyzafisika, 2011)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan Dari Jurnal-Jurnal Penelitian
3.1.1. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat kempa hidrolik
panas, labu leher tiga, hot plate and magnetic stirrer, neraca analitik, pendingin
tegak, rotary evaporator, labu pemisah, termometer, piknometer, oven, alat
pengujian titik nyala, GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectromatry), tanur,
penangas air, desikator, tabung ostwald, alat sentrifugasi, kertas/indikator pH, pipet
(mohr dan volumetrik), labu kjedhal, soxhlet, erlenmeyer, cawan alumunium, cawan
porselen, otoklaf, buret, gelas ukur dan gelas piala.

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari soxlet extractor
bervolume 250 ml, water bath, reaktor stainless steel 1 L, mantel pemanas,
Magnetic Stirrer , pemisah vakum, corong pemisah, statip, klem, buret, piknometer,
viskosimeter otswald dan alat- alat gelas lainnya.

3.1.2. Bahan

Bahan baku utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah dan biji
bintaro yang berasal dari wilayah Bogor, sedangkan bahan-bahan kimia yang
diperlukan untuk reaksi dan analisis antara lain heksan, aquades, H2SO4 pekat,
katalis (CuSO4 dan Na2SO4), H3PO4 20%, metanol, NaOH, KOH 0.1 N, alkohol
netral 95%, HCl 0.5 N, KOH 0.5 N, indikator phenolpthlaein, kloroform, pereaksi
hanus, asam asetat, KI jenuh, larutan KI 15%, Na2S2O3 0.1 N dan indikator amilum
1%.

Bahan yang dibutuhkan pada penelitian ini adaiah bahan baku minyak biji
bintaro yang diperoleh dengan cara ekstraksi biji bintaro, heksan sebagai pelarut
organik, asam posfat (H3PO4) 20 % untuk proses deguming, metanol (CH3OH),
katalis zink oksida (ZnO) untuk proses transesterifikasi, etanol (C2H5OH) 96 %,
indikator pp, indikator pH universal produksi merk, kalium hidroksida (KOH) 0,1
N, asam oksalat (H2C2O4.2H2O) 0,1 N , dan aquades (H2O) 1 kali pemumian.

3.2 Cara Kerja


Prosedur Penelitian dari berbagai jurnal penelitian

3.2.1 Prosedur Penelitian Kajian Proses Produksi Biodiesel Dari Minyak Biji
Bintaro (cerbera odollan gaertn) dengan Metode Transesterifikasi

Metode penelitian yang dilakukan dibagi menjadi dua, yaitu penelitian


pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan yang dilakukan pada
penelitian ini meliputi karakterisasi bahan baku berupa buah dan biji bintaro.
Setelah itu dilakukan proses ekstraksi dan karakterisasi minyak biji bintaro serta
dilakukan proses degumming minyak biji bintaro dan karakterisasi minyak hasil
degumming. Sedangkan untuk penelitian utama dilakukan proses pembuatan
biodiesel dari minyak biji bintaro dengan metode transesterifikasi.

a. Karakterisasi bahan baku

Bahan baku berupa buah dan biji bintaro. Buah bintaro dilakukan
analisis fisik berupa bobot dan penampakan, sedangkan biji bintaro
dilakukan uji proksimat untuk mengetahui karakteristik dari biji tersebut.
Uji proksimat yang dilakukan berupa kadar air, kadar abu, kadar protein,
kadar lemak, kadar serat dan kadar karbohidrat (by different). Metode uji
proksimat dapat dilihat pada Lampiran 3.

b. Ekstraksi dan karakterisasi minyak biji bintaro

Metode yang dilakukan untuk mengekstrak minyak dari biji bintaro


adalah dengan metode hot pressing, yaitu metode pengepresan dimana
bahan yang akan dipres bersuhu 60-70oC (cukup panas) sehingga
memudahkan proses pengeluaran minyak dari bahan. Biji bintaro awalnya
dikupas terlebih dahulu dari kulitnya, kemudian dimasukkan ke dalam
oven blower selama 2 hari dengan suhu 40-60oC untuk menghindari
adanya kandungan air sebelum dipres. Biji bintaro yang telah kering
dikecilkan ukurannya (size reduction) untuk mempermudah proses
pengeluaran minyak pada saat dipres. Selanjutnya biji yang telah
dikecilkan ukurannya dilakukan proses pengepresan menggunakan mesin
hot press hidrolik yang terdapat di Laboratorium Biodiesel, Balitbang
Kehutanan. Setelah minyak didapatkan, maka tahap selanjutnya adalah
dengan menganalisis sifat fisiko kimia minyak bintaro diantaranya
bilangan asam, kadar asam lemak bebas, bilangan iod, bilangan peroksida,
bilangan penyabunan, viskositas, densitas, kadar air dan rendemen minyak
itu sendiri.

c. Degumming

Degumming bertujuan untuk memisahkan minyak dari komponen


pengotor minyak seperti getah/lendir, fosfatida, protein, resin, air, residu
dan asam lemak bebas. Proses degumming dilakukan dengan penambahan
H3PO4 (asam fosfat). Minyak bintaro ditimbang kemudian dipanaskan
hingga mencapai suhu 70-75oC. Setelah itu asam fosfat ditambahkan
sebanyak 0.3% dari bobot minyak. Suhu minyak dipertahankan selama 10
menit sambil diaduk. Gum dan kotoran dipisahkan dari minyak dalam labu
pemisah dengan cara mencucinya dengan air hangat 60oC. Pencucian
dilakukan hingga pH air buangan netral. Minyak hasil degumming
ditimbang dan diukur bilangan asam, kadar asam lemak bebas, bilangan
iod, bilangan peroksida, bilangan penyabunan, viskositas, densitas, kadar
air dan rendemen.
3.2.2 Prosedur Penelitian Rekayasa Proses Produksi Biodiesel
a. Percobaan Pendahuluan
 Persiapan Bahan Baku Minyak Biji Bintaro [Putro, 2010]
1. Biji bintaro dipisahkan dari kulitnya kemudian dikeringkan
dalam oven selama 3 jam pada suhu 105°C hingga kadar
aimya kecil.
2. Biji bintaro yang telah dikeringkan dicacah kemudian
dilumat untuk kemudian diekstrak.
3. Proses degumming dilakukan dengan penambahan asam
fosfat 20% sebesar 0,5% (b/b) terhadap minyak pada suhu
80°C selama 15 menit sampai terjadi endapan.
4. Minyak biji bintaro dicuci dengan menambahkan air hangat
30% (b/b) minyak, dengan suhu 60°C. Proses pencucian
dilakukan berulang kali hinvja air pencucian jemih.
5. Minyak biji bintaro dikeringkan dalam oven selama 30 menit
pada suhu 105°C
6. Minyak biji bintaro disimpan dalam wadah yang kedap udara
untuk mencegah oksidasi untuk menghindari terjadinya
peningkatan kadar FFA
7. Analisis minyak biji bintaro: Kadar air, FFA (titrasi)

 Persiapan Rangkaian Alat


Pada tahap ini dirangkai alat penelitian transesterifikasi.
Setelah dirangkai, dilakukan pengujian kebocoran dan distribusi
suhu.
b. Percobaan Pengumpulan Data
 Persiapan Katalis
Katalis digerus, lalu diayak untuk mendapatkan partikel
berukuran 20 mesh.
 Aktifasi Katalis
Katalis berukuran 40 mesh sebanyak 30 mg, dimasukkan
ke dalam tube furnace. Katalis diaktifasi dengan gas nitrogen
sebanyak 500 ml/ menit, selama 5 jam, pada temperatur 500 "C.
 Transesterifikasi
1. Minyak biji bintaro sebanyak 30 gram dimasukkan ke dalam
reaktor batch stainlless steel 1 L.
2. Metanol dan zink oksida ditambahkan ke dalam minyak biji
bintaro, direaksikan selama 4 jam pada 100°C.
3. Rasio metanol/lemak = 1/12 (mol/mol).
4. Rasio zink oksida/minyak biji bintaro = 0,05 (w/w) (0,05x 30
gr = 1,5 gr) Setelah reaksi selesai, campuran reaksi disaring
dengan menggunakan pemisah vakum untuk memisahkan
katalis.
5. Filtrat ditampung di dalam corong pemisah dan didiamkan
selama 24 jam untuk memisahkan crude biodiesel dari air.
6. Lapisan atas dicuci hingga pH netral. Setelah pencucian dan
netralisasi, lapisan atas dikeringkan.
7. Analisis: densitas, viskositas, danflash point.
8. Diulangi langkah 1-8 dengan variasi waktu 5, dan 6 jam.
Suhu 150 dan 200''C.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 2011. Potensi Tanaman Bintaro (Cerbera
manghas) Sebagai Alternatif Sumber Bahan Bakar nabati. Vol 17, Nomor1.

Greg Iman, Tony Handoko. 2011. Pengolahan Buah Bintaro sebagai sumber Bioetanol dan Karbon
Aktif. Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia,
Yogyakarta.

Alamendah. 2011. Bintaro (Cebera Manghas) Pohon Penghijauan yang Beracun.


http://alamendah.wordpress.com/2011/01/10/bintaro-cerbera-manghas-pohon-penghijauan-yang-
beracun/. Diakses pada 15 Oktober 2016.

Endriana, D. 2007. Sistesis Biodiesel dari Minyak Bintaro (Carbera manghas) Hasil Ekstraksi. Laporan
Penelitian. Jurusan Kimia, Fakultas MIPA UI : Depok

Herwanda, Anita Ekawati. 2011. Kajian Proses Pemurnian Minyak Biji Bintaro (Cerbera Manghas L.)
Sebagai Bahan Bakar Nabati. Laporan Penelitian. Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Pertanian Bogor: Bogor.

Towaha, Juniarty dan Indiarti, Gusti. 2011. Potensi Tanaman Bintaro (Carbera manghas l) Sebagai
Alternatif Sumber Bahan Bakar Nabati. Dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri. Vol. 17 nomor 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan:Bogor.
perkebunan.litbang.pertanian.go.id/.../perkebunan_Warta1712011-1.pd