Anda di halaman 1dari 27

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point)

1. Pengertian HACCP
Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) adalah suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah
yang didasarkan atas identifikasi titik-titik kritis di dalam tahap penanganan dan proses produksi. HACCP merupakan salah satu bentuk
manajemen resiko yang dikembangkan untuk menjamin keamanan pangan dengan pendekatan pencegahan (preventive) yang dianggap
dapat memberikan jaminan dalam menghasilkan makanan yang aman bagi konsumen.
2. Tujuan HACCP
a. Tujuan Umum
Mencegah terjadinya bahaya sehingga dapat dipakai sebagai jaminan mutu pangan guna mengurangi keracunan makanan dan
penyakit melalui makanan.
b. Tujuan Khusus
1) Memantau dan mengevaluasi cara-cara dalam pengolahan makanan serta penetapan sanitasi dalam memproduksi makanan.
2) Mengevaluasi cara memproduksi makanan untuk mengetahui bahan yang mungkin timbul dari makanan.
3) Memperbaiki cara pengolahan makanan dengan cara memberikan perhatian khusus pada proses-proses yang dianggap kritis.
3. Kegunaan HACCP
Mencegah dan mengendalikan timbulnya bahaya pada makanan, serta menjamin keamanan pangan dengan pendekatan pencegahan
(preventive) yang dianggap dapat memberikan jaminan dalam menghasilkan makanan yang aman bagi konsumen.
4. Prinsip HACCP
a. Identifikasi Bahaya
1) Pengelompokkan Bahaya
Tabel 1. Penggolongan pengelompokkan bahaya
Kelompok Bahaya Karakteristik
Kelompok makanan khusus yang terdiri dari makanan
non steril yang ditujukan untuk konsumen beresiko
A
tinggi, seperti bayi, balita, orang sakit/pasien, orang
tua, ibu hamil, ibu menyusui, usia lanjut
Makanan yang mengandung bahan / ingridien yang
B
sensitif terhadap bahaya biologis, kimia, atau fisik
Di dalam proses pengolahan makanan tidak terdapat
tahap yang dapat membunuh mikroorganisme
C
berbahaya atau mencegah / menghilangkan bahaya
kimia / fisik
Makanan kemungkinan mengalami pencemaran
D kembali setelah pengolahan sebelum pengemasan /
penyajian
Kemungkinan dapat terjadi kontaminasi kembali atau
penanganan yang salah selama distribusi, penanganan
E
oleh konsumen / pasien, sehingga makanan menjadi
berbahaya bila dikonsumsi
F Tidak ada proses pemanasan setelah pengemasan /
penyajian atau waktu dipersiapkan di tingkat
konsumen / pasien yang dapat memusnahkan /
menghilangkan bahaya biologis.
- Atau tidak ada cara bagi konsumen untuk
mendeteksi, menghilangkan, atau menghancurkan
bahaya kimia atau fisik

2) Kategori Resiko
Tabel 2. Penggolongan tingkat resiko berdasarkan karakteristik bahayA
Kategori Karakteristik
Keterangan
Resiko Bahaya
0 0 (tidak ada bahaya) Tidak mengandung bahaya A s.d F
1 (+) Mengandung satu bahaya A s.d F
2 (++) Mengandung dua bahaya A s.d F
3 (+++) Mengandung tiga bahaya A s.d F
4 (++++) Mengandung empat bahaya A s.d F
5 (+++++) Mengandung lima bahaya A s.d F
A + kategori khusus Kategori resiko palinh tinggi (semua
6 makanan yang mengandung bahay A,
baik dengan/tanpabahay B s.d F)
b. Penentuan Titik Kendali Kritis (CCP)
CCP (Critical Control Point) adalah suatu titik, tahap, atau prosedur dimana bahaya yang berhubungan dengan pangan dapat
dicegah, dieliminasi, atau dikurangi hingga ke titik yang dapat diterima (diperbolehkan atau titik aman). Terdapat dua titik
pengendalian kritis yaitu Titik Pengendalian Kritis 1 sebagai titik dimana bahaya dapat dihilangkan, dan Titik Pengendalian Kritis 2
dimana bahaya dapat dikurangi.
c. Penentuan Batas Kritis
Batas kritis merupakan kriteria yang memisahkan sesuatu yang bisa diterima dengan yang tidak bisa diterima. Pada setiap titik
pengendalian kritis, harus dibuat batas kritis dan kemudian dilakukan validasi. Kriteria yang umum digunakan dalam menentukan
batas kritis HACCP pangan adalah suhu, pH, waktu, tingkat kelembaban, Aw, ketersediaan klorin, dan parameter fisik seperti tampilan
visual dan tekstur.
d. Menentukan Prosedur Monitoring
Sistem pemantauan (monitoring) CCP adalah suatu sistem pemantauan (observasi) urutan, operasi, dan pengukuran selama
terjadi aliran makanan. Hal ini termasuk sistem pelacakan operasi dan penentuan kontrol mana yang mengalami perubahan ketika
terjadi penyimpangan. Biasanya, pemantauan harus menggunakan catatan tertulis.
e. Penetuan Tindakan Koreksi
Melakukan tindakan korektif apabila pemantauan mengindikasikan adanya CCP yang tidak berada di bawah kontrol. Tindakan
korektif spesifik yang diberlakukan pada setiap CCP dalam sistem HACCP untuk menangani penyimpangan yang terjadi. Tindakan
korektif tersebut harus mampu mengendalikan membawa CCP kembali dibawah kendali dan hal ini termasuk pembuangan produk
yang mengalami penyimpangan secara tepat.
f. Penentuan prosedur Verifikasi
Menetapkan prosedur verifikasi untuk mengkonfirmasi bahwa sistem HACCP bekerja secara efektif. Prosedur verifikasi yang
dilakukan dapat mencakup peninjauan terhadap sistem HACCP dan catatannya, peninjauan terhadap penyimpangan dan pengaturan
produk, konfirmasi CCP yang berada dalam pengendalian, serta melakukan pemeriksaan (audit) metode, prosedur, dan uji. Setelah itu,
prosedur verifikasi dilanjutkan dengan pengambilan sampel secara acak dan menganalisanya. Prosedur verifikasi diakhiri dengan
validasi sistem untuk memastikan sistem sudah memenuhi semua persyaratan Codex dan memperbaharui sistem apabila terdapat
perubahan di tahap proses atau bahan yang digunakan dalam proses produksi.
g. Penentuan prosedur Pemeliharaan Catatan
Melakukan dokumentasi terhadap seluruh prosedur dan catatan yang berhubungan dengan prinsip dan aplikasinya. Beberapa
contoh catatan dan dokumentasi dalam sistem HACCP adalah analisis bahaya, penetapan CCP, penetapan batas kritis, aktivitas
pemantauan CCP, serta penyimpangan dan tindakan korektif yang berhubungan.
HACCP TAHU KUNING
1. Tahu kuning
Tahu adalah salah satu lauk hewani yang dibuat dari bahan pokok kedelai dengan jalan memekatkan protein kedelai dan
mencetaknya melalui proses pengendapan protein dengan atau tanpa penambahan unsur-unsur lain yang diijinkan, sehingga dihasilkan
produk tahu berbentuk kotak, kenyal dalam keadaan basah.
Komposisi zat gizi dalam tahu cukup baik. Tahu mempunyai kadar protein sebesar 8-12%, sedangkan mutu proteinnya yang
dinyatakan sebagai NPU sebesar 65% (Shurtleff dan Aoyagi 2001). Tahu juga mempunyai daya cerna yang sangat tinggi karena serat dan
karbohidrat yang bersifat larut dalam air sebagian besar terbuang pada proses pembuatannya. Dengan daya cerna sekitar 95%, tahu dapat
dikonsumsi dengan aman oleh semua golongan umur dari bayi hingga orang dewasa, termasuk orang yang mengalami gangguan
pencernaan (Shurtleff dan Aoyagi 2001).

PENERAPAN HACCP
A. Analisis Permasalahan
Penyelengaraan makan bagi karyawan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai perencanaan menu sampai distribusi makanan
kepada konsumen, dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yg tepat.
Pengendalian bahaya tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan HACCP. Dalam pelaksanannya telah diterapkan
beberapa pengawasan mutu makanan dari proses penerimaan bahan makan sampai distribusi makanan. Karena di PT Asia Pasific Fiber
Tbk Belum melakkan pengujian HACCP.

B. Pengamatan dan Aplikasi HACCP


Tabel 1. Daftar Bahan Mentah dan Igredien
No Bahan mentah/
Ingridien
1 Tahu Putih
2. Bawang Putih
3 Garam

5 Air

1. Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahan


Table 7. Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahan
Bahan Makanan/ Bahaya Biologi/ Jenis Bahaya Cara Pencegahan
Ingridien Fisik/ Kimia
Tahu Putih Kimia Formalin, Organoleptik
sebelum membeli
Fisik Kotoran (debu, Penyortiran dan
kerikil, penerimaan sesuai
potongan spesifikasi.
plastic,kayu)
Biologi Salmonella Penggorengan
dengan suhu stabil
2. Analisis Resiko bahaya
Table 8. Analisis resiko bahaya pada bahan
BAHAN Mentah/Ingridien/Bahan Kelompok bahaya Kategori
Tambahan A B C D E F Resiko

Bahan Mentah
Tahu putih + + - + + + VI

3. Analisis Resiko Bahaya Proses


Tabel 9. Pengelompokkan bahaya berdasarkan kategori risiko
Bahan Kelompok Bahaya Kategori
No Makanan A B C D E F Risiko
Proses
1 Penerimaan + + - + + + VI
2 Penyimpanan + + - + + + VI
3 Pencucian + + - + + + VI
4 Penghalusan + + - + + + VI
5 Pencampuran + + - + + + VI
6 Pencetakan + + - + + + VI
7 Pengukusan + + - + + + VI
8 Pemorsian + + - + + + VI
9 Pendistribusian + + - + + + VI
Keterangan:
A = Produk nonsteril untuk konsumen beresiko tinggi
B = Mengandung bahan yang sensitif terhadap bahaya biologis/kimia/fisik
C = Tidak ada tahap untuk mencegah/menghilangkan bahaya
D = Kemungkinan mengalami kontaminasi kembali setelah pengolahan
E = Kemungkinan penanganan yang salah selam distribusi, penjualan dan konsumsi
F = Tidak ada cara mencegah/menghilangkan bahaya oleh konsumen
LEMBAR DATA ANALISIS BAHAYA PADA TITIK PENGENDALIAN KRITIS TAHU GORENG
TITIK PROSES BAHAYA CARA PARAME BATAS NILAI PEMANTAU TINDAKA
PENGEND PENGENDALIAN TER TKK KRITIS TARGET AN N
ALIAN KOREKSI
Penerimaan Tahu jelek Pada waktu Jenis Tahu, Jenis tahu Jenis tahu Observasi Tahu kurang
Tahu berbau pembelian Produsen baik, baik, Jenis dan bagus diganti
tahu, produsen produsen produsen dengan yang
tahu terpercaya lebih bagus
terpercaya dan terjamin
Perendaman Kontaminasi Cara,wadah dan Lama Bumbu Bumbu Observasi tahu Segera
bumbu bakteri lama waktu perendama meresap meresap dilakukan
sallmonela perendaman bumbu n, wadah dengan dengan baik penngirenga
dan serangga dengan tepat yang baik pada dan warna n
digunakan, tahu tahu masih
dan cara segar
perendama
n
Tahu Putih
Penggoreng 1.Bacillus Penggorengan Pengoreng Menghilan Menghilang Observasi Penanakan
an cereus an g kan Bacillus Perubah an dilanjutkan
2. Jamur dengansuh kan cereus dan konsisten si hingga jadi
u stabil dan Bacillus jamur beras masak
warna cereus dan
berubah jamur
Penyimpana Terkontamin Wadah/tem pat Air cucian Wadah/te Wadah/temp Observasi Wadah/temp
n pada asi dari dicuci bersih dan dg air m pat at bersih wadah/ tempat at tahu yang
wadah/temp tempat/wada tertutup bersih, cara bersih dan dan tertutup kurang
at tahu h dan air tertutup bersih
bekas diganti,
cucian dicuci
jernih kembali
Penerimaan Bawang Pembelian(beli Bawang Bawang Bawang Observasi Pilih bawang
Putih Jelek bawang putih baik dan putih baik putih baik putih yang
segar&baik) segar dan segar dan segar baik dan
segar
Pencucian Pestisida Cara/lam mencuci Cara dan Bawang Bawang Observasi Cuci kembali
dengan air bersih / air bekas bersih putih bersih sampai
air garam cucian bersih
bersih dengan air
Bawang
bersih
Putih
Diulek Terkontamin Alat ulek dicuci Air bekas Alat ulek Alat ulek Observasi Gunakan
bersama asi dari alat dengan air bersih cucian bersih bersih selalu alat
garam ulek bersih ulek yang
bersih
Pewadahan Terkontamin Cara,lama mencuci Air bekas Wadah Wadah Observasi Gunakan
asi dari wadah dengan air cucian bersih dan bersih dan selalu wadah
wadahnya bersih jernih dan tertutup tertutup yang bersih
wadah dan tertutup
terttup
Penerimaan Pembelian Garam dipilih Kadarluars Kadarluars Kadarluarsa, . Observasi Beli garam
dengan dengan kemasan a,merek, a,merek, merek, yang tdk
kemasan yang baik warna dan warna dan warna dan kadarluarsa,
Garam dan yang rusak kemasan kemasan kemasan merek,warna
penyedap baik. baik. baik dan kemasan
baik
Penerimaan Air Gunakan air bersih Jernih,tida Memenuhi Memenuhi Observasi Gunakan
kotor,baud an k bau,tidak syarat syarat selalui air
berasa berasa(me yang bersih
menuhi memenuhi
syarat) syarat

Air

Penyimpana Terkontamin Alat bersih dan Alat bersih Alat bersih Alat bersih Observasi Gunakan
n asi dari alat tertutup dan dan dan tertutup selalu alat
dan tdk tertutup tertutup bersih dan
tertutup tertutup.

DIAGRAM ALIR
HACCP TELUR BALADO
2. Telur Balado
Telur adalah alah satu bahanmakanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Umumnya telur yang dikonsumsi
berasal dari jenis-jenis burung, sepertiayam, bebek, dan angsa,
Telur Ayam adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Telur Ayam mengandung energi sebesar
162 kilokalori, protein 12,8 gram, karbohidrat 0,7 gram, lemak 11,5 gram, kalsium 54 miligram, fosfor 180 miligram, dan zat besi 3
miligram. Selain itu di dalam Telur Ayam juga terkandung vitamin A sebanyak 900 IU, vitamin B1 0,1 miligram dan vitamin C 0
miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukanpenelitian terhadap 100 gram Telur Ayam, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak
90 %

PENERAPAN HACCP
C. Analisis Permasalahan
Penyelengaraan makan bagi karyawan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai perencanaan menu sampai distribusi makanan kepada
konsumen, dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yg tepat.
Pengendalian bahaya tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan HACCP. Dalam pelaksanannya telah diterapkan
beberapa pengawasan mutu makanan dari proses penerimaan bahan makan sampai distribusi makanan. Karena di PT Asia Pasific Fiber Tbk
Belum melakkan pengujian HACCP.

D. Pengamatan dan Aplikasi HACCP


Tabel 1. Daftar Bahan Mentah dan Igredien
No Bahan mentah/ Ingridien
1 Telur Ayam

4. Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahan


Table 7. Identifikasi Bahaya dan Cara Pencegahan
Bahan Makanan/ Bahaya Biologi/ Jenis Bahaya Cara Pencegahan
Ingridien Fisik/ Kimia
Telur Ayam Kimia

Fisik Cangkang Penyortiran dan


retak,kotor,bau penerimaan sesuai
spesifikasi.dan
organoleptik
Biologi Salmonella Penggorengan
dengan suhu stabil

5. Analisis Resiko bahaya


Table 8. Analisis resiko bahaya pada bahan
BAHAN Mentah/Ingridien/Bahan Kelompok bahaya Kategori
Tambahan A B C D E F Resiko

Bahan Mentah
Telur ayam + + - + + + VI
Cabe merah + + - + + + VI
Tomat + + - + + + VI
Serai + + - + + + VI
Daun jeruk + + - + + + VI
Daun salam + + - + + + VI
Garam + + - + + + VI
Penyedap rasa + + - + + + VI
Air + + - + + + VI
Minyak + + - + + + VI

6. Analisis Resiko Bahaya Proses


Tabel 9. Pengelompokkan bahaya berdasarkan kategori risiko
Bahan Kelompok Bahaya Kategori
No Makanan A B C D E F Risiko
Proses
1 Penerimaan + + - + + + VI
2 Penyimpanan + + - + + + VI
3 Pencucian + + - + + + VI
4 Penghalusan + + - + + + VI
5 Pencampuran + + - + + + VI
6 Pencetakan + + - + + + VI
7 Pengukusan + + - + + + VI
8 Pemorsian + + - + + + VI
9 Pendistribusian + + - + + + VI
Keterangan:
A = Produk nonsteril untuk konsumen beresiko tinggi
B = Mengandung bahan yang sensitif terhadap bahaya biologis/kimia/fisik
C = Tidak ada tahap untuk mencegah/menghilangkan bahaya
D = Kemungkinan mengalami kontaminasi kembali setelah pengolahan
E = Kemungkinan penanganan yang salah selam distribusi, penjualan dan konsumsi
F = Tidak ada cara mencegah/menghilangkan bahaya oleh konsumen
1. DIAGRAM ALIR PROSE PENGOLAHAN BELUM

2. LEMBAR DATA ANALISIS BAHAYA PADA TITIK PENGENDALIAN KRITIS BELUM


Formulir 1. Identifikasi bahaya dan cara pencegahannya
Nama makanan : Telur Balado
No Bahan Bahaya B(M)/K/F Jenis bahaya Cara pencegahan
mentah/ingridien/bahan
tambahan
1. Telur ayam Fisik Kotoran menempel pada Tes organoleptik
telur (mengamati secara fisik)
Mikrobiologi Salmonella gastro Penyimpanan pada suhu
0°C
Pengolahan langsung
pemanasan sempurna
>100°C
2. Cabai Fisik Kotor Pemilihan, Melakukan
Busuk uji organoleptik
(mengamati secara fisik,
warna, tekstur)
Kimia Residu pestisida Pencucian dengan benar
dengan menggunakan air
mengalir
3. Tomat Fisik Kotor Pemilihan, Melakukan
Busuk uji organoleptik
(mengamati secara fisik,
warna, tekstur)

Kimia Residu pestisida Pencucian dengan benar


dengan menggunakan air
mengalir
4. Garam Fisik Kotoran, kerikil Dibersihkan dan dilihat
terlebih dahulu sebelum
dicampurkan ke
makanan
Mikrobiologi Bakteri Halofilik Spesifikasi,
Halobacterium Penyimpanan tidak
Halococcuc terlalu lama dan tempat
kering
5. Air Fisik Bau, warna Lakuka proses
pengolahan air sepert
filtrasi, sedimentasi,
desinfeksi
Kimia Fe, Mn, Kesadahan Lakukan pengolahan Fe,
dengan filtrasi, karbon
aktif, arang aktif
Mikrobiologi E.coli, Coliform Pengolahan dengan
menggunakan desinfeksi
Memasak air dengan
suhu yang sesuai
sehingga bakteri mati.
Menggunakan air minum
yang memenuhi syarat
6. Daun jeruk Fisik Kotoran menempel pada Melakukan pemilihan
daun dengan uji organoleptik
Bintik-bintik pada daun
Kimia Residu pestisida Pencucian dengan air
mengalir
9. Minyak Kimia Ketengikan Spesifikasi,
Penyimpanan minyak
pada tempat yang
tertutup, penggunaan
maksimal minyak goreng
hanya 2 kali.
10. Daun salam Fisik Kotoran menempel pada Melakukan pemilihan
daun dengan uji organoleptik
Bintik-bintik pada daun
Kimia Residu pestisida Pencucian dengan air
mengalir
11. Serai Fisik Kotoran menempel Melakukan pemilihan
padaa serai dengan uji organoleptik
Bintik-bintik pada daun
Kimia Residu pestisida Pencucian dengan air
mengalir

Identifikasi bahaya dan cara pencegahan proses produksi


No Proses produksi Bahaya Jenis bahaya Cara pencegahan
1. Penerimaan dan pemilihan bahan makanan Fisik Busuk Spesifikasi
2. Penyimpanan bahan makanan Fisik Busuk Spesifikasi,
Penyimpanan bahan
makanan yang vurnarable
dan non vurnarable
Mikrobiologi Salmonella Penyimpanan pada suhu
Clostridium 0°C
3. Pengolahan makanan Fisik Kotor
Debu
Mikrobiologi Mikroba udara
4. Penyimpanan makanan jadi Fisik Debu, Kotoran, kerikil Disimpan dalam keadaan
tertutup, kedap udara,
kedap air, tahan panas
Kimia Logam berat Penggunaan alat
penyimpan makanan jadi
yang tidak menyebabkan
migrasi bahan kimia dari
alat, ketika kontak
langsung dengan
makanan
Mikrobiologi Mikrobiologi udara Menggunakan alat
penyimpan makanan jadi
yang tertutup, kedap
udara, kedap air.
5. Penyajian Fisik Debu Makanan yang telah
diolah dan disajikan

Bagan proses produksi


CCP Bahaya Cara Batas kritis Prosedur Tindakan Catatan Prosedur
pengendalaian pemantauan koreksi HACCP verifikasi
Penerimaan Fisik Jaminan mutu Memenuhi Pengujian Penolakan Mutu bahan Pemeriksaan
bahan baku Kimia pemasok, persyaratan di mutu bahan bahan baku baku dan BTP catatan hasil
(Telur, tomat, Mikrobiologi analisis bawah batas baku pada yang tidak cukup kualitas fisik,
cabai, daun mikrobiologi, kontaminan setiap memenuhi konsisten kimia dan
jeruk, serai, kimia dan dan cemaran penerimaan syarat mikrobiologi
daun salam) pengamatan bahan bahan baku
visual
Penyimpanan Fisik Alat Memenuhi Pemeriksaan Pembersihan
bahan Kimia penyimpanan persyaratan di penyimpanan penyimpanan
makanan Mikrobiologi bahan makanan bawah batas bahan bahan
hygienis, kontaminan makanan makanan
penyimpanan dan cemaran secara berkala
bahan makanan
seperti telur
Fisik Alat
Pengangkutan Kimia pengangkutan
Mikrobiologi makanan
tertutup, kedap
air
Penyajian
Hazard Analyzis Critical Control Point (HACCP)
Hari/tanggal :
Tempat : Dapur PT. Asia Pacific Fibers, Tbk Karawang
Nama Masakan : Telur Balado
Bahan : Telur ayam, cabai merah, tomat, daun jeruk, serai, daun salam, garam, penyedap rasa, air
Konsumen : Karyawan
Cara penyimpanan : makanan disajikan dengan menggunakan wadah berbahan steinles, disajikan secara langsung dengan wadah tertutup
Cara distribusi : pendistribusian makanan menggunakan mobil yang tertutup
Cara mengkonsumsi : makanan disajikan secara prasmanan untuk karyawan dilakukan penakaran.
Proses pengolahan
Tahap 1 Telur ayam di rebus dalam panci
Tahap 2 Telur yang telah direbus dimasukan ke dalam wadah (baskom) lalu disiram air bersih, ditiriskan terlebih dahulu sebelum
cangkang telur dikupas
Tahap 3 Telur yang telah di tiriskan lalu cangkang telur dikupas dan telur yang telah dikupas di masukan ke dalam wadah
(conteiner)
Tahap 4 Telur di goreng dan ditiriskan pada wadah steinless
Tahap 5 Cabai merah dan tomat di goreng bersamaan lalu setelah matang di simpan pada wadah steinless
Tahap 6 Cabai merah dan tomat yang telah di goreng di blender dengan di tambahkan air
Tahap 7 Cabai merah dan tomat yang telah di blender lalu di tumis
Tahap 8 Tambahkan garam, penyedap rasa, daun salam, serai dan juga daun jeruk pada tumisan cabai merah dan tomat
Tahap 9 Setelah matang bumbu di masukan ke dalam wadah tertutup
TAHU
Tahap 10 Bumbu disiramkan ke dalam telur yang telah di goreng, lalu telur balado siap di sajikan.

LIMBAH DICUCI AIR PUTIH

GARAM

PERENDAMAN
DENGAN BUMBU
DIULEK

CCP

SUHU 1000 C

MINYAK DIGORENG WADAH SAJIKAN

SUHU > 600 CCP


CCP
TAHU

LIMBAH DICUCI AIR PUTIH

GARAM

PERENDAMAN

DENGAN BUMBU
DIULEK

CCP

SUHU 1000 C

MINYAK DIGORENG WADAH SAJIKAN

SUHU > 600 CCP


CCP