Anda di halaman 1dari 7

Makalah: Filsafat Ibnu Sina*

7 MEI 2011 / SAHALHUMAMY

1. Pendahuluan
Filsafat itu membingungkan. Namun dari filsafat itulah kita dapat mengetahui esensi
suatu hal. Hingga kini, filsafat masih saja menjadi kajian wajib di berbagai ajang
pendidikan. Dalam islam juga ada filsafat Islam, filsafat yang mengupas tentang
keberadaan Islam itu sendiri. Dan salah satu pengembangnya adalah Ibnu Sina,
seorang dokter, ulama’, psikolog, seniman, bahkan politisi.

Namun menariknya Ibnu Sina juga seorang filosof muslim yang berani melawan
kekangan filsafat Yunani, bahkan buah pemikirannya ini pun juga dikonsumsi oleh
para pelajar barat. Lalu seperti apakah filsafatnya Ibnu Sina itu? Berikut kami
mencoba menyajikan makalah yang ‘sedikit’ membahas mengenai filsafat Ibnu Sina.
Selamat membaca.

1. Rumusan Masalah
2. Siapakah Ibnu Sina?
3. Bagaimana pemikiran filsafat Ibnu Sina?
4. Bagaimana filsafat ketuhanan Ibnu Sina?
Keyword: Ontologia, Fisika, Metafisika.

1. Pembahasan
2. Biografi Ibnu Sina
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada
tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Ayahnya berasal dari Kota
Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa Raja Nuh ibnu Manshur dan diangkat
oleh raja sebagai penguasa di Kharmaitsan, satu wilayah dari kota Bukhara. Di kota
ini ayahnya menikah Sattarah dan dikaruniai tiga orang anak; Ali, Husein (Ibnu Sina),
dan Muhammad.

Ia mempunyai ingatan dan kecerdasan yang luar biasa sehingga dalam usia 10 tahun
telah mampu menghafal al-Qur’an, sebagian sastra Arab, dan ia juga hafal kitab
metafisika karangan aristoteles, setelah membacanya 40 kali. Ia juga mempelajari
ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Dalam usianya yang belum
melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal
orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Tidak hanya
teori – teori kedokteran yang ia pelajari, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati
orang – orang sakit. ketika berumur 17 tahun ia pernah mengobati pangeran Nuh Ibn
Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat
sambutan baik sekali dikalangan masyarakat.[1]
Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan
sebelum dan sesudahnya, dan dia pun dikenal sebagai penyair, sehingga Ilmu – ilmu
pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia, ada yang ditulisnya dalam
bentuk syair. Begitu pula didapati buku – buku yang dikarangnya untuk ilmu logika
dengan syair.

Ibnu Sina juga dikenal produktif dalam berkarya. Karya – karya Ibnu Sina yang
ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al-Isyarat wat-
Tanbihat. An-Najatadalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat wat-Tanbihat,
dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari itu, karyanya yang paling
masyhur adalah Al-Qanun (di barat terkenal dengan sebutan Canon of Medicine)
yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini. Selain itu,
masih banyak lagi karangan-karangan lain di bidang filsafat, etika, logika, dan
psikologi.[2]
1. Pemikiran Filsafat Ibnu Sina
Ibnu Sina sangat mengutamakan logika, justru fikiran adalah satu jalan pengetahuan
yang diberikan dengan satu aturan tertentu kepada suatu yang tidak diketahui.[3]Jalan
fikirannya bertolak dari konsepsi makhluk dan mengembangkan dengan argumentasi
ontologia.
Menurut dia, ada tiga macam sesuatu yang ada. Pertama, pentingnya dalam diri
sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiannya selain dirinya sendiri (yakni
Tuhan). Kedua, berkehendak kepada yang lain, yaitu makhluk yang butuh kepada
yang menjadikannya. Ketiga, makhluk mungkin, yaitu bisa ada dan bisa tidak ada, dan
dia sendiri tidak butuh kepada kejadiannya (benda-benda yang tak berakal seperti
pohon-pohon, batu, dan sebagainya).[4]
Secara garis besar Ibnu Sina membagi menjadi dua segi yaitu[5]:
1. Segi fisika, yang membicarakan tentang macam – macam jiwa (jiwa
tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Jiwa tumbuh-tumbuhan dengan
daya – daya: Makan (nutrition), Tumbuh (growth), Berkembang biak
(reproduction).
Jiwa binatang dengan daya-daya: Gerak (locomotion), Menangkap (perception)
dengan dua bagian: Menagkap dari luar dengan panca indera dan Menangkap dari
dalam dengan indera – indera dalam:

 Indera bersama, yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera.
 Representasi, yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama.
 Imajinasi, yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi.
 Estimasi, yang dapat menangkap hal – hal abstraks yang terlepas dari materi
umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.
 Rekoleksi yang menyimpan hal – hal abstrak yang diterima oleh estimasi.[6]
Jiwa manusia dengan daya-daya:

 Praktis, yang hubungannya dengan badan.


 Teoritis, yang hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak. Daya ini
mempunyai tingkatan:
1. Akal materil, yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum
dilatih sedikitpun.
2. Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal
abstrak.
3. Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.
4. Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak
dengan tak perlu pada daya upaya.[7]
5. Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian
jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.
Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas
segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat
dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi
yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar
artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi.

Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :

1. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh
Ibnu Sina mumtani’ yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Sebagai contoh adanya
kosmos lain disamping kosmos yang ada.

2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud.
Yang serupa ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi
mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak
ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
3. Essensi yang mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari
wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh
tidak berwujud dan kemudian berwujud, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai
wujud selama – lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan. Dan
wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.[8]
1. Filsafat Ketuhanan Ibnu Sina
Ibnu Sina merupakan murid al Farabi, jadi tidak mengherankan apabila banyak
pemikiran yang memiliki kesamaan antara pemikiran Ibnu Sina dengan al Farabi.
Dalam teori ketuhanan, keduanya membedakan wujud dari esensi dan menetapkan
bahwa wujud sesuatu bukan merupakan bagian dari esensinya.

Kita bisa membayangkannya tanpa bias mengetahui ia ada atau tidak. Sebab, wujud
merupakan salah satu aksidensia bagi substansi bukan sebagai unsur pengadanya.
Prinsip demikian berlaku bagi Yang Maha Esa SWT, yang wujudnya tidak berpisah
dari substansinya.

Berdasarkan jalan pikiran semacam ini, al Farabi dan Ibnu Sina menyimpulkan bahwa
kita tidak membutuhkan pembuktian yang panjang untuk menetapkan eksistensi
Allah. Kita cukup mengetahui zat-Nya sekaligus. Bukti ontologis ini lebih bersifat
metafisis dibandingkan fisis.[9]
Hamzah Ya’kub menambahkan bahwa Ibnu Sina menganggap Tuhan adalah sebab
yang efficient dari alam. Dengan kata lain, Ibnu Sina memandang hubungan sebab
akibat dan betapakah sebab itu, datang pula Tuhan sebagai sebab. Tuhan bertindak
dalam alam yang bergerak terus-menerus dalam wujud yang ada, sebagai sebab
dirinya sendiri atau dibutuhkan oleh yang lain.[10]
1. Kesimpulan
 Ibnu Sina adalah ilmuan muslim yang mahir di banyak bidang seperti
kedokteran, politik, kesenian, dan filsafat. Ia juga seorang yang produktif
menelurkan karya. Salah satu karyanya adalah as-Syifa’ yang memuat tentang
filsafat.
 Jalan fikiran ibnu Sina bertolak dari konsepsi makhluk dan mengembangkan
dengan argumentasi ontologia. Secara garis besar, ia membagi sesuatu yang ada
atas dua sisi. Yaitu Fisika dan Metafisika.
 Ibnu Sina menganggap Tuhan adalah sebab yang efficient dari alam. Tuhan
bertindak dalam alam yang bergerak terus-menerus dalam wujud yang ada,
sebagai sebab dirinya sendiri atau dibutuhkan oleh yang lain.
1. Penutup
Demikian makalah yang kami sajikan. Saran dan kritik diharapkan sebagai bahan
evaluasi. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Cet.VI,1996


Madkour, Ibrahim, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Penj. Yudian Wahyudi Asmin,
Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, Cet. III, 2004
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pertama, 2002
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia, 1985
Ya’kub, Hamzah, Filsafat Agama: Titik Temu Akal Dengan Wahyu, Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya, 1992

[1] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1996, hal: 115
[2] Ibid, hal: 116-117
[3] Hamzah Ya’kub, Filsafat Agama: Titik Temu akal dengan Wahyu, Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1992, hal: 41
[4] Ibid
[5] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia, 1985, Cet.V, hal: 34-35
[6] Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Penerbit Gaya Media Pertama, Cet. VI, 2002,
hal: 72-73
[7] Ibid
[8] Hasyimsyah, Op.Cit., hal. 69
[9] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Penj. Yudian Wahyudi Asmin,
Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, Cet. III, 2004, hal: 120-121
[10] Hamzah Ya’kub, Op.Cit, hal: 42