Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PERCOBAAN

SHORT CIRCUIT
Untuk Memenuhi Tugas Mata KuliahLab Sistem Tenaga Listrik II

Yang dibimbing oleh Ibu Rohmanita Duanaputri,S.ST., MT

Disusun oleh Kelompok 1 :

Andaz Jihatullah A (1441150013)


Febri Dwi Purwanto (1441150016)
Lenanda Habib Z (1441150009)
Nasrudin ma’ruf (1441150064)
Valdy Demas N (1441150090)
Yuyun Dwi R (1441150026)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tenaga Listrik disalurkan ke konsumen melalui Sistem Tenaga Listrik. Sistem


Tenaga Listrik terdiri dari beberapa subsistem, yaitu Pembangkitan, Transmisi, dan
Distribusi. Tenaga listrik disalurkan ke masyarakat melalui jaringan distribusi. Oleh
karena itu, jaringan distribusi merupakan bagian jaringan listrik yang paling dekat
dengan masyarakat.Jaringan distribusi dikelompokkan menjadi dua, yaitu jaringan
distribusi primer dan jaringan distribusi sekunder. Dalam operasi sistem tenaga listrik
sering terjadi gangguan – gangguan yang dapat mengakibatkan terganggunya
penyaluran tenaga listrik ke konsumen. Gangguan adalah penghalang dari suatu
sistem yang sedang beroperasi atau suatu keadaan dari sistem penyaluran tenaga
listrik yang menyimpang dari kondisi normal. Suatu gangguan di dalam peralatan
listrik didefinisikan sebagai terjadinya suatu kerusakan di dalam jaringan listrik yang
menyebabkan aliran arus listrik keluar dari saluran yang seharusnya.
Penyebabnya bermacam-macam antara lain kelebihan beban, jaringan yang
terganggu, dan lain-lain, untuk meminimalisir area gangguan dan mempersingkat
waktu terjadinya gangguan maka perlu dipasang peralatan proteksi yang cocok untuk
mengatasi gangguan yang muncul. Sistem proteksi bertujuan untuk mengurangi
terjadinya gangguan serta mengurangi akibat gangguan tersebut.Sistem Proteksi yang
digunakan haruslah mampu melindungi Sistem Transmisi baik SUTT maupun
SUTET secara optimal, handal serta memiliki sensitifitas tinggi.

Hubung singkat yang terjadi pada sistem tenaga listrik tiga fasa sesuai dengan
seringnya gangguan adalah gangguan satu fasa ke tanah (single line to ground), fasa
ke fasa (line to line), dua fasa ke tanah (double line to ground), dan tiga fasa
seimbang. Jalur arus gangguan mungkin mempunyai impedansi nol yang disebut
hubung singkat, atau impedansi yang mempunyai nilai.Ketika suatu gangguan tidak
seimbang terjadi, maka jaringan urutan hanya disambungkan pada lokasi
gangguan.Karena itu komputasi arus gangguan tersederhanakan oleh penggunaan
jaringan urutan.
Perhitungan arus hubung singkat ini sangat dibutuhkan sebagai acuan
menentukan proteksi yang akan digunakan dalam suatu saluran. Sebelum menginjak
pada perhitungan dan penentuan proteksi penulis ingin mempelajari, mengulas,
mempraktikan, danmenganalisa hubung singkat pada saluran transmisi yang akan
dibahas pada makalah berikut ini. Makalah yang penulis susun mencakup empat
percobaan gangguan transmisi seperti yang telah disebutkan diatas.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat disusun rumusan masalah sebagai
berikut:

1. Apa saja gangguan yang bisa terjadi pada saluran transmisi?


2. Bagaimana perhitungan arus hubung singkat pada gangguan asimetris dan
simetris?
3. Bagaimana analisa gangguan hubung singkat pada gangguan asimetris dan
simetris pada saluran transmisi?

1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat tujuan pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut :

1. Mengetahui gangguan yang bisa terjadi pada saluran transmisi


2. Mengetahui perhitungan arus hubung singkat pada gangguan asimetris dan
simetris
3. Mengetahui analisa gangguan hubung singkat pada gangguan asimetris dan
simetris pada saluran transmisi
BAB II
LANDASAN TEORI

I. Dasar Teori
Hubung singkat merupakan suatu hubungan abnormal (termasuk busur api)
pada impedansi yang relatif rendah terjadi secara kebetulan atau disengaja antara dua
titik yang mempunyai potensial yang berbeda. Istilah gangguan atau gangguan
hubung singkat digunakan untuk menjelaskan suatu hubungan singkat.Untuk
mengatasi gangguan tersebut, perlu dilakukan analisis hubung singkat sehingga
sistem proteksi yang tepat pada Sistem Tenaga Listrik dapat ditentukan.Analisis
hubung singkat adalah analisis yang mempelajari kontribusi arus gangguan hubung
singkat yang mungkin mengalir pada setiap cabang didalam sistem (di jaringan
distribusi, transmisi, trafo tenaga atau dari pembangkit) sewaktu gangguan hubung
singkat yang mungkin terjadi di dalam sistem tenaga listrik.
Gangguan hubung singkat menyebabkan terjadinya interupsi kontinuitas
pelayanan daya kepada para konsumen apabi1a gangguan itu sampai menyebabkan
terputusnya suatu rangkaian (sircuit) atau menyebabkan keluarnya satu unit
pembangkit, penurunan tegangan yang cukup besar menyebabkan rendahnya kualitas
tenaga listrik dan merintangi kerja normal pada peralatan konsumen, pengurangan
stabilitas sistem dan menyebabkan jatuhnya generator, dan merusak peralatan pada
daerah terjadinya gangguan tersebut.
Gangguan dapat terdiri dari gangguan temporer atau permanent.Kebanyakan
gangguan temporer di amankan dengan circuit breaker (CB) atau pengaman
lainnya.Gangguan permanent adalah gangguan yang menyebabkan kerusakan
permanent pada sistem.Seperti kegagalan isolator, kerusakan penghantar, kerusakan
pada peralatan seperti transformator atau kapasitor.Pada saluran bawah tanah hampir
semua gangguan adalah gangguan permanen. Kebanyakan gangguan peralatan akan
menyebabkan hubung singkat. Gangguan permanen hampir semuanya menyebabkan
pemutusan/gangguan pada konsumen. Untuk melindungi jaringan dari gangguan
digunakan fuse, recloser atau CB.
Gangguan hubung singkat terdiri dari 2 jenis yaitu :
2.1 Gangguan hubung singkat simetris
Gangguan hubung singkat simetris didefinisikan sebagai gangguan yang
melibatkan ke tiga fasa , sehingga tidak mempengaruhi keseimbangan fasor arus dan
tegangan. Gangguan simetris merupakan gangguan dimana besar magnitude dari arus
gangguansama pada setiap fasa. Gangguan ini terjadi pada gangguan hubung singkat
tiga fasa.Perhitungan arus gangguan dihitung menggunakan persamaan sebagai
berikut :

𝑉𝑠𝑜𝑢𝑟𝑐𝑒
𝐼𝑓𝑎𝑢𝑙𝑡 =
𝑍𝑆 + 𝑍𝐿
Dimana
I fault : Arus gangguan
Vsource : tegangan sistem.
Zs : impedansi peralatan sistem.
ZL : impedansi saluran sistem.

Gambar 2.1 Diagram garis tunggal sederhana


Pada gambar di atas jika kita ingin mencari besarnya gangguan pada Ifault,
maka sesuaidengan persamaan besarnya arus gangguan hubung singkat tiga fasa adalah :
𝑉𝑠𝑜𝑢𝑟𝑐𝑒
𝐼𝑓𝑎𝑢𝑙𝑡 =
𝑍𝑆 + 𝑍𝐿 + 𝑍𝑓
2.1.1 Perhitungan Arus dan Tegangan Pada Gangguan Asimetris
2.1.1.a Gangguan Hubung Singkat 3 fasa

Gambar 2.2 gangguan hubung singkat 3 fasa


Kemungkinan terjadinya gangguan 3 fasa adalah putusnya salah satu kawat
fasa yang letaknya paling atas pada transmisi atau distribusi, dengan konfigurasi
kawat antar fasanya disusun secara vertikal.Kemungkinan terjadinya memang sangat
kecil, tetapi dalam analisanya tetap harus diperhitungkan. Kemungkinan lain adalah
akibat pohon yang cukup tinggi dan berayun sewaktu angin kencang, kemudian
menyentuh ketiga kawat pada transmisi atau distribusi. Gangguan hubung singkat 3
fasa dapat dihitung dengan menggunakan rumus hukum ohm yaitu:
𝑉
𝐼=
𝑍
Dimana,
I = Arus gangguan hubung singkat 3 fasa
20000
V = Tegangan fasa-netral system 20 kV = = 𝑉𝑝ℎ
√3

Z = Impedansi urutan positif ( Z1 eq )


Sehingga arus gagguan hubung singkat 3 fasa dapat dihitung sebagai berikut :
20000
𝐸𝑓𝑎𝑠𝑎 𝑉𝑝ℎ 11547
𝐼3𝑓𝑎𝑠𝑎 = = = √3 =
𝑍1𝑒𝑞 𝑍1𝑒𝑞 𝑍1𝑒𝑞 𝑍1𝑒𝑞
2.2 Gangguan tidak simetris
Gangguan tidak simetris adalah gangguan yang melibatkan sebagian dari fasa
baik itu satu fasa ke tanah, dua fasa ke saluran maupun dua fasa ke tanah. Contoh
gangguan tidak simetris yaitu gangguan 3 fasa ke tanah, gangguan 2 fasa ke tanah,
gangguan 2 fasa line to line dan gangguan 1 fasa ke tanah.
Komponen simetris merupakan metode yang dikembangkan C.L. Fortescue
padatahun 1918.Metode ini memperlakukan tiga fasa yang tidak seimbang pada
sistem tenagalistrik seolah-olah sistem tersebut seimbang. Metode ini membuktikan
bahwa sistem yagtidak simetris dapat dijabarkan menjadi tiga buah set komponen
simetris. Ketiga komponenitu adalah :
1. Komponen urutan positif.
Komponen ini terdiri dari phasor yang besar magnitudenya sama dimana masing
– masingberbeda sebesar 120ᵒ. Komponen ini memiliki fasa yang sama dengan
fasasistem. Komponen ini biasanya ditulis menggunakan indeks 1.
2. Komponen urutan negatif .
Komponen ini terdiri dari tiga phasor yang besar magnitudenya sama dimana
masing – masingberbeda sebesar 120ᵒ. Komponen ini memiliki fasa yang
berkebalikan denganfasa sistem.Komponen ini biasanya ditulis menggunakan
indeks 2.
3. Komponen urutan nol.
Komponen ini terdiri dari tiga phasor yang memiliki magnitude dan fasa yang
sama.Komponen ini biasanya ditulis menggunakan indeks 0.
Total arus maupun tegangan pada sistem tenaga listrik merupakan penjumlahan
masing-masing komponen simetris. Seperti pada persamaan berikut:
𝑉𝐴 = 𝑉𝐴1 + 𝑉𝐴2 + 𝑉𝐴0
𝑉𝐵 = 𝑉𝐵1 + 𝑉𝐵2 + 𝑉𝐵0
𝑉𝐶 = 𝑉𝐶1 + 𝑉𝐶2 + 𝑉𝐶0

𝐼𝐴 = 𝐼𝐴1 + 𝐼𝐴2 + 𝐼𝐴0


𝐼𝐵 = 𝐼𝐵1 + 𝐼𝐵2 + 𝐼𝐵0
𝐼𝐶 = 𝐼𝐶1 + 𝐼𝐶2 + 𝐼𝐶0
Ketika kita menggunakan komponen simetris pada sistem yang tidak
seimbang, operasipenggeseran phasor adalah sebesar 120o. Operasi ini ekivalen
dengan mengalikan phasordengan 1∠1200 . Perkalian dengan 1∠1200 akan terjadi
berulang-ulang sehinggadiperkenalkan dengan konstanta α. Di mana:
α = 1∠1200
Setiap operasi perkalian dengan α akan merotasi phasor sebesar 120o tanpa
merubah besar magnitudenya. Sehingga :
α = 1∠1200
α2 = 1∠2400
α3 = 1∠3600

Gambar 2.3 konstanta α


Dengan menggunakan α maka komponen simetris dapat direpresentasikan
menjadifungsi dari α. Misalnya jika komponen positif mempunyai urutan abc, yang
berarti fasa akanmemiliki urutan a, b, c sehingga hubungan urutan komponen positif
menjadi:

𝑉𝐵1 = 𝛼 2 𝑉𝐴1
𝑉𝐶1 = 𝛼 2 𝑉𝐴1
Sedangkan pada komponen urutan negatif berarti memiliki urutan fasa acb, akan
mempunyaihubungan :
𝑉𝐵2 = 𝛼 2 𝑉𝐴2
𝑉𝐶2 = 𝛼 2 𝑉𝐴2

Sedangkan pada komponen urutan nol, persamaan akan sama karena urutan ini sama
besardan arahnya sehingga :
𝑉𝐵0 = 𝛼 2 𝑉𝐴0
𝑉𝐶0 = 𝛼 2 𝑉𝐴0

Ketiga komponen yang pada persamaan di atas dapat dijadikan sebuah persamaan
menjadi:
𝑉𝐴 = 𝑉𝐴1 + 𝑉𝐴2 + 𝑉𝐴0
𝑉𝐵 = 𝛼 2 𝑉𝐴1 + 𝛼 2 𝑉𝐴2 + 𝑉𝐴0
𝑉𝐶 = 𝛼 2 𝑉𝐴1 + 𝛼 2 𝑉𝐴2 + 𝑉𝐴0
Dengan menggunakan matriks maka persamaan menjadi :
𝑉𝐴 1 1 1 𝑉𝐴0
[𝑉𝐵 ] = [1 𝛼 2 𝛼 ] [𝑉𝐴1 ]
𝑉𝐶 1 𝛼 𝛼 2 𝑉𝐴2
Jika didefinisikan :
1 1 1
𝐴 = [1 𝛼 2 𝛼]
1 𝛼 𝛼2
Maka akan didapatkan persamaan :
𝑉𝐴 𝑉𝐴0
𝑉
[ 𝐵] = 𝐴 [𝑉𝐴1 ]
𝑉𝐶 𝑉𝐴2

𝑉𝐴0 𝑉𝐴
−1
[𝑉𝐴1 ] = 𝐴 [𝑉𝐵 ]
𝑉𝐴2 𝑉𝐶
karena

Persamaan akan menjadi :


Dari persamaan di atas, komponen simetris dari fasa A akan didapatkan sebagai
berikut :

Persamaan pada arus yang tidak seimbang memiliki bentuk yang sama dengan
persamaan pada tegangan. Arus pada setiap fasa dapat direpresentasikan sebagai[2] :

Substitusi hubungan antar fasa dengan komponen positif, negatif, dan nol akan
menghasilkan

Sehingga komponen simetris dapat direpresentasikan sebagai fungsi dari setiap arus
padamasing-masing fasa, yaitu :
2.2.1 Perhitungan Arus dan Tegangan Pada Gangguan Asimetris
2.2.1.a Gangguan Satu Fasa ke Tanah.
Gangguan satu fasa ke tanah terjadi ketika sebuah fasa dari sistem tenaga listrik
terhubung singkat dengan tanah.Kemungkinan terjadinya gangguan satu fasa ke tanah
adalah back flashover antara tiang ke salah satu kawat transmisi dan distribusi. Sesaat
setelah tiang tersambar petir yang besar walaupun tahanan kaki tiangya cukup rendah
namun bisa juga gangguan fasa ke tanah ini terjadi sewaktu salah satu kawat fasa
transmisi / distribusi tersentuh pohon yang cukup tinggi dll.

Gambar 2.4 Gangguan satu fasa ke tanah


Persamaan ketika gangguan ini terjadi adalah[2] :

Didapatkan :

Pada fasa generator (fasa A misalnya), jika kita mengaplikasikan hukum kirchoff
akanberlaku:
besarnya arus gangguan sebesar :

Kembali sama halnya dengan perhitungan arus gangguan 3 Fasa dan 2 Fasa,
Arus gangguan 1 Fasa ketanah juga dihitung untuk lokasi gangguan yang di
asumsikan terjadi pada 25%, 50%, 75% dan 100% panjang penyulang, sehingga
dengan rumus terakhir diatas dapat dihitung besarnya arus gangguan 1 fasa ke tanah
sesuai lokasi gangguannya.
Dengan perhitungan arus gangguan hubung singkat ini, ( 3 Fasa, 2 Fasa dan 1
Fasa ke tanah), dapat digunakan untuk koordinasi Relai Proteksi Arus Lebih,
terutama pada Over Current Relay ( OCR ) dari jenis Inverse, manfaatnya menjadi
amat terasa karena waktu kerja Relai dapat diketahui untuk setiap lokasi gangguan.
Lebih lanjut pada bab berikut akan dicoba menghitung nilai setelan Arus dan Waktu
(Td atau Tms) dari Over Current Relay ( OCR ).
2.2.1.b Gangguan Dua Fasa Ke Tanah
Gangguan dua fasa ke tanah terjadi ketika dua buah fasa dari sistem tenaga
listrikterhubung singkat dengan tanah.

Gambar 2.5 Gangguan dua fasa ke tanah


Persamaan setiap fasa ketika gangguan ini terjadi adalah :

dengan persamaan komponen simetris didapatkan :

sehingga untuk gangguan dua fasa ke tanah, dari persamaan di atas didapatkan :

pada gangguan ini, arus yang mengalir melalui fasa A dan B akan kembali ke netral
sehingga

Dari persamaan komponen arus :

Substitusi dengan persamaan di atas :

Diketahui bahwa :
Sehingga :

Serta :

Didapatkan:

2.2.1.c Gangguan Dua Fasa Hubung Singkat


Gangguan dua fasa hubung singkat terjadi ketika dua buah fasa dari sistem
tenagalistrik terhubung singkat.Kemungkinan terjadinya gangguan 2 fasa disebabkan
oleh putusnya kawat fasa tengah pada transmisi atau distribusi.Kemungkinan lainnya
adalah dari rusaknya isolator di transmisi atau distribusi sekaligus 2 fasa.Gangguan
seperti ini biasanya mengakibatkan 2 fasa ke tanah.
Gambar 2.6 Gangguan dua fasa
Persamaan setiap fasa ketika gangguan ini terjadi adalah :

Sehingga didapat :

Dari persamaan di atas :

Sehingga :

Seperti halnya gangguan 3 fasa, Gangguan Hubung Singkat 2 Fasa juga


dihitung untuk lokasi gangguan yang diasumsikan terjadi pada 25%, 50%, 75% dan
100% panjang penyulang.
BAB III
METODE DAN HASIL PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari, Tanggal : Kamis, 23 Maret 2017

Waktu : 14.00 – 16.30 WIB

Tempat : Gedung AL Lab Sistem Tenaga Listrik

3.2 Pelaksana Praktikum

Praktikum dilaksanakan oleh kelompok 1 kelas D4 3D dengan anggota sebagai


berikut :

1. Andaz Jihatullah A.
2. Febri Dwi Purwanto
3. Lenanda Habib Z.
4. Nasrudin Ma’ruf
5. Valdy Demas
6. Yuyun Dwi Rahayu

3.3 Jenis Percobaan


3.3.1 Percobaan Hubung Singkat 3 Fasa Line to Line

Tujuan Percobaan :
Mengukur dan menganalisa rasio arus dan tegangan pada saluran
transmisi selama hubung singkat 3 fasa
Alat dan Bahan yang Digunakan
1. Kabel Penghubung : secukupnya
2. Power Supply 3 Fasa DL 1013T1 : 1 unit
3. Amperemeter DL 2109T2A5 (2,5 A) : 2 unit
4. Voltmeter DL 2109T1PV (600 V) : 1 unit
5. Modul Simulator saluran transmisi DL 7901TT : 1 unit
6. Modul Simulator Transformator 3 Fasa DL 1080TT : 1 unit
7. Power Circuit Breaker DL 2108T02 : 1 unit
8. Watt meter 3 fasa DL 2109T26 : 1 unit
3.3.a.3 Langkah Percobaan
Gambar Rangkaian Hubung Singkat 3 Fasa Line to Line
1. Merakit rangkaian sesuai dengan gambar diatas
2. Atur sisi primer transformator tiga fasa dengan hubungan delta dan
menggunakan colokan penghubung di sisi sekunder dengan hubungan bintang
3. Hubungkan power supply 3 fasa dengan sumber tegangan.
4. Nyalakan CB pada power supply 3 fasa dan tekan tombol start CB
5. Mengatur tegangan suplai 155 V (menggunakan tegangan serendah mungkin!):
Tes pendek-sirkuit saat ini sekitar 1,4 A. Tekan tombol Start
6. Tekan tombol ON pada Power Circuit Breaker
7. Catat arus dan tegangan yang terukur pada Amperemeter dan Voltmeter
8. Karena arus beban tinggi pada komponen selama arus pendek, pengukuran harus
dilakukan dengan cepat.
9. Tekan tombol OFF pada Power Circuit Breaker
10. Atur tegangan pada Power supply sampai 0 kV dan tekan tombol stop pada
power supply
11. Tekan tombol stop pada CB power supply dan matikan CB
12. Cabut steker power supply 3 fasa dari stop kontak

Hasil Percobaan

I1 (A) U (V) I2 (A) P (Watt)


1,38 138 1,52 34

3.3.2 Percobaan Hubung Singkat 2 Fasa dengan Pembumian


Tujuan Percobaan :
Untuk membandingkan nilai yang diukur dari percobaan hubung singkat 2
fasa dengan pembumian

Alat dan Bahan yang Digunakan


1. Kabel Penghubung : secukupnya
2. Power Supply 3 Fasa DL 1013T1 : 1 unit
3. Amperemeter DL 2109T2A5 : 3 unit
4. Voltmeter DL 2109T1PV : 1 unit
5. Modul Simulator saluran transmisi DL 7901TT : 1 unit
6. Modul Simulator Transformator 3 Fasa DL 1080TT : 1 unit
7. Power Circuit Breaker DL 2108T02 : 1 unit
Langkah Percobaan
Gambar Rangkaian Percobaan Hubung Singkat 2 Fasa dengan Pembumian

1. Merakit rangkaian sesuai dengan gambar diatas


2. Atur sisi primer tiga fase transformator sehubungan delta dan menggunakan
colokan penghubung di sisi sekunder dengan hubungan bintang.
3. Hubungkan power supply 3 fasa dengan sumber tegangan.
4. Nyalakan CB pada power supply 3 fasa dan tekan tombol start CB
5. Tekan tombol start pada power supply 3 fasa dan atur tegangan sampai 155 V
6. Tekan tombol ON pada Power Circuit Breaker
7. Catat arus dan tegangan yang terukur pada Amperemeter dan Voltmeter
8. Short-circuit Ik saat ini lebih kecil dari arus hubung singkat antar 2 fasa tanpa ke
tanah.
9. Tekan tombol OFF pada Power Circuit Breaker
10. Atur tegangan pada Power supply sampai 0V dan tekan tombol stop pada power
supply
11. Tekan tombol stop pada CB power supply dan matikan CB
12. Cabut steker power supply 3 fasa dari stop kontak
Catatan: Hasil yang ditemukan tidak dapat diterapkan untuk jaringan yang nyata
tanpa syarat, karena fakta bahwa di sini lagi kita berhadapan dengan nilai yang
terukur diambil setelah respon dandengan tegangan suplai tetap.

Hasil Percobaan

I2 (A) I3 (A) Ik (A) U1 (V)


0,6 0,65 0,5 200

3.3.3 Percobaan Hubung Singkat 2 Fasa tanpa Pembumian


Tujuan Percobaan :
Untuk membandingkan nilai yang diukur dari percobaan hubung singkat
2 fasa dengan pembumian

Alat dan Bahan yang Digunakan

1. Kabel Penghubung : secukupnya


2. Power Supply 3 Fasa DL 1013T1 : 1 unit
3. Amperemeter DL 2109T2A5 : 2 unit
4. Voltmeter DL 2109T1PV : 1 unit
5. Modul Simulator saluran transmisi DL 7901TT : 1 unit
6. Modul Simulator Transformator 3 Fasa DL 1080TT : 1 unit
7. Power Circuit Breaker DL 2108T02 : 1 unit
Langkah Percobaan
Gambar Rangkaian Hubung Singkat 2 Fasa tanpa Pembumian

1. Merakit rangkaian sesuai dengan gambar diatas


2. Atur sisi primer tiga fase transformator sehubungan delta dan menggunakan
colokan penghubung di sisi sekunder dengan hubungan bintang.
3. Hubungkan steker power supply 3 fasa dengan stop kontak
4. Nyalakan CB padapower supply 3 fasa dan tekan tombol start CB
5. Tekan tombol start pada power supply 3 fasa dan atur tegangan sampai 155 V
6. Tekan tombol ON pada Power Circuit Breaker
7. Catat arus dan tegangan yang terukur pada Amperemeter dan Voltmeter
8. Membandingkan nilai diukur dengan orang-orang dari dua fase arus pendek
tanpa kontak bumi(Percobaan 3) dan dari tiga fase arus pendek (Percobaan 1).
9. Arus parsial dalam kasus dua-fase arus pendek dengan kontak bumi lebih besar
daripada untuk kesalahan tanpa kontak bumi.Arus kesalahan di bawah nilai dari
tiga fase arus hubung pendek
10. Tekan tombol OFF pada Power Circuit Breaker
11. Atur tegangan pada Power supply sampai 0 V dan tekan tombol stop pada power
supply
12. Tekan tombol stop pada CB power supply dan matikan CB
13. Cabut steker power supply 3 fasa dari stop kontak

Catatan: Hasil ditemukan di sini tidak dapat diterapkan untuk jaringan yang nyata
tanpa syarat, karena fakta bahwa di sini lagi kita berhadapan dengan nilai yang
terukur diambil setelah respon dandengan tegangan suplai tetap.

Hasil Percobaan

I2 (A) I3 (A) V1 (V) V2 (V)


0,6 0,65 100 140

3.3.4 Percobaan Hubung Singkat 1 Fasa ke Tanah


Tujuan Percobaan :
Untuk mengukur arus kesalahan asimetris short circuit dan membandingkan
hasil percobaan tersebut.

Alat dan Bahan yang Digunakan

1. Kabel Penghubung : secukupnya


2. Power Supply 3 Fasa DL 1013T1 : 1 unit
3. Amperemeter DL 2109T2A5 : 1 unit
4. Voltmeter DL 2109T1PV : 1 unit
5. Modul Simulator saluran transmisi DL 7901TT : 1 unit
6. Modul Simulator Transformator 3 Fasa DL 1080TT : 1 unit
7. Power Circuit Breaker DL 2108T02 : 1 unit
Langkah Percobaan
Gambar Rangkaian Hubung Singkat 1 Fasa

1. Merakit rangkaian sesuai dengan gambar diatas


2. Atur sisi primer tiga fase transformator sehubungan delta dan menggunakan
colokan penghubung di sisi sekunder dengan hubungan bintang.
3. Hubungkan steker power supply 3 fasa dengan stop kontak
4. Nyalakan CB pada power supply 3 fasa dan tekan tombol start CB
5. Tekan tombol start pada power supply 3 fasa dan atur tegangan sampai 220 V
6. Tekan tombol ON pada Power Circuit Breaker
7. Catat arus dan tegangan yang terukur pada Amperemeter dan Voltmeter
8. Membandingkan nilai yang diukur dari arus hubung singkat dengan bahwa dari
tiga fase arus pendek.Fasa tunggal sirkuit pendek saat ini jauh lebih kecil dari arus
diperoleh dalam kasus ini dari tiga fase arus pendek
9. Tekan tombol OFF pada Power Circuit Breaker
10. Atur tegangan pada Power supply sampai 0 V dan tekan tombol stop pada power
supply
11. Tekan tombol stop pada CB power supply dan matikan CB
12. Cabut steker power supply 3 fasa dari stop kontak
Catatan: Hasil ditemukan di sini tidak dapat diterapkan untuk jaringan yang nyata
tanpa syarat, karena fakta bahwa di sini lagi kita berhadapan dengan nilai yang
terukur diambil setelah respon dandengan tegangan suplai tetap.

Hasil Percobaan

Ik (A) U2 (V)
0,78 200
BAB IV
ANALISA
4.1 Analisa Percobaan

3 Fasa 2 Fasa Kontak 2 Fasa Tanpa 1 Fasa


Tanah Kontak Tanah
𝐼1 = 1,38 (A) 𝐼2 = 0,6 (A) 𝐼2 = 0,6 (A) 𝐼𝑘 = 0,78 (A)
𝐼2 = 1,52 (A) 𝐼3 = 0,65 (A) 𝐼3 = 0,65 (A)
𝐼𝑘 = 0,5 (A)