Anda di halaman 1dari 6

Faktor-faktor resiko jatuh pada lansia digolongkan menjadi dua yaitu faktor intrinsik dan faktor

ekstrinsik sebagaimana diuraikan berikut ini.

 Intrinsik :
 Kondisi fisik dan neuropsikiatrik
 Penurunan visus dan pendengaran
 Perubahan neuromuskuler, gait dan reflek postural karena proses menua
 Ekstrinsik :
 Obat-obatan yang diminum
 Alat bantu jalan
 Lingkungan yang tidak mendukung

1. Faktor Intrinsik

Faktor-faktor intrinsik hal yang berasal dari dalam tubuh lansia sendiri, antara lain yaitu
gangguan jantung dan sirkulasi darah, gangguan sistem anggota gerak seperti kelemahan otot
ekstremitas bawah dan kekuatan sendi, gangguan sistem susunan saraf seperti neuropati perifer,
gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan psikologis, infeksi telinga, gangguan
adaptasi gelap, pengaruh obat-obatan yang dipakai (diazepam, antidepresi, dan anti hipertensi),
vertigo, atritis lutut, sinkop dan pusing, penyakit-penyakit sistemik.

Gangguan jantung adalah tanda dan gejala gangguan jantung pada lanjut usia nyeri pada
daerah prekordial dan sesak napas seringkali dirasakan pada penderita penyakit jantung diusia
lanjut, rasa cepat lelah yang berlebihan seringkali ditemukan sebagai dampak dari sesak napas
yang biasanya terjadi ditengah malam. Gejala lainnya adalah kebingungan, muntah-muntah
dan nyeri pada perut karna pengaruh bendungan hepar atau keluhan insomnia. Bising sinsolik
banyak dijumpai pada penderita lanjut usia, sekitar 60% dari jumlah penderita, dalam
penemuan lain juga dilaporkan bahwa bising sistolik tanpa keluhan ditemukan pada 26%
penderita yang berusia 65 tahun keatas. Gangguan jantung dapat dijumpai kekakuan pada
arteria koroner, cincin katup miral, katup aorta, miokardiuGangguan jantung pada lansia seperti
hipertensi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan
diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada
proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakkan
pembuluh darah (arteri osclerosis), serangan/gagal jantung sehingga dapat menyebabkan
kejadian jatuh pada lansiam, dan pericardium, kelainan-kelainan tersebut selalu merupakan
keadaan yang abnormal Gangguan sistem anggota gerak merupakan bagian sindroma
neurologik berupa gerakkan berlebihan yang tidak berkaitan dengan kelemahan (paresis).
Gangguan gerak bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini diakibatkan karena
proses penuaan itu sendiri serta penggunaan obat-obatan yang dapat mencetuskan terjadinya
gangguan tersebut Pengobatan pada pasien geriatrik penting untuk diperhatikan apakah
gangguan tersebut berasal karena proses penuaan atau sungguh merupakan gangguan gerak
disebabkan karena kelainan pada ganglia basal, dibagi menjadi 2 yaitu hipokinetik dan
hiperkinetik. Gangguan hipokinetik diartikan adanya hipokinesia (berkurangnya amplitude
gerakkan), bradikinesia (melambatnya gerakkan), akinesia (hilangnya gerakkan), seperti pada
penyakit Parkinson. Gangguan hiperkinetik terjadi gerakkan berlebih, abnormal, dan
involunter, seperti pada tremor, athetosis, dystonia, hemibalismus, chorea, myoclonus, dan tic.
Gangguan sistem saraf pusat sering dialami para lansia dengan potensial resiko 10%
kehilangan yang diketahui pada usia 80 tahun. Perubahan sistem sensorik terdiri dari sentuhan,
pembauan, perasa, penglihatan, dan pendengaran. Perubahan pada indra pembauan dan
pengecapan dapat mempengaruhi lansia dalam mempertahankan nutrisi yang adekuat,
penurunan sensivitas sentuhan terjadi pada lansia seperti berkurangnya neuron sensori yang
secara efisien memberikan sinyal deteksi, lokasi, dan identifikasi sentuhan atau tekanan yang
dialami pada area kulit. Lansia juga sering mengalami kehilangan sensasi dan persepsi
informasi yang mengatur pergerakkan tubuh dan posisi serta hilangnya fiber sensori, reseptor
vibrasi dan sentuhan dari ekstremitas bawah yang menyebabkan berkurangnya kemampuan
untuk memperbaiki pergerakkan sendi pada lansia yang pada akhirnya dapat mengakibatkan
ketidakseimbangan tubuh sehingga terjatuh Gangguan penglihatan adalah perubahan yang
terjadi pada ukuran pupil menurun dan reaksi terhadap cahaya berkurang dan juga terhadap
akomodasi, lensa menguning dan berangsur-rangsur menjadi lebih buram mengakibatkan
katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan untuk melihat menerima dan membedakan
warna-warna. Gangguan sistem penglihatan pada lansia merupakan salah satu masalah penting
yang dihadapi oleh lansia ini terjadi akibat penuruna fungsi penglihatan pada lansia membuat
kepercayaan diri lansia berkurang dan mempengaruhi dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari.
Perubahan sistem penglihatan dan fungsi mata yang dianggap normal dalam proses penuaan
termasuk penurunan kemampuan untuk melakukan akomodasi, kontraksi pupil akubat
penuaan, dan perubahan warna serta kekeruhan lensa mata (katarak). Mata adalah organ
sensorik yang berfungsi untk mentransmisikan rangsang melalui jarak pada otak ke lobus
oksipitalis dimana rasa penglihatan ini diterima sesuai dengan proses penuaan yang terjadi,
tentunya banyak perubahan yang terjadi diantaranya garis berubah kelabu, dapat menjadi kasar
pada peria, dan menjadi tipis pada sisi temporalis baik pada pria maupun wanita. Kunjungtiva
menipis dan berwarna kekuningan, produksi air mata oleh kelenjar lakrimaris yang berfungsi
untuk melembabkan dan melumasi konjungtiva akan menurun dan cenderung cepat menguap,
sehingga mengakibatkan konjungtiva lebih kering. Kondisi ini memungkinkan terjadi
ketidakawasan klien lansia dalam beraktifitas.

Mata bagian dalam, perubahan yang terjadi adalah ukuran pupil menurun dan reaksi
terhadap cahaya berkurang dan juga terhadap akomodasi. Lensa mongering dan berangsur-
angsur menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan
untuk menerima dan membedakan warna-warna. Warna gelap seperti coklat, hitam dan marun
tampak sama, pandangan dalam area yang suram dan adaptasi terhadap kegelapan berkurang
(sulit melihat dalam cahaya gelap) menempatkan pada lansia resiko cedera, sementara cahaya
menyilaukan dapat menyebabkan nyeri dan membatasi kemampuan untuk membedakan objek-
objek dengan jelas, semua hal diatas dapat mempengaruhi kemampuan fungsional pada lansia.
Gangguan ketajaman pada penglihatan dapat disebabkan oleh presbiop kelainan lensa mata
(refleksi lensa mata kurang), kekeruhan pada lensa (katarak), tekanan dalam mata yang
meninggi (glaucoma), radang saraf mata Gangguan pendengaran merupakan suatu keadaan
yang menyertai lanjutnya usia dengan penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun
kedua telinga sehingga dapat mengakibatkan resiko jatuh pada lansia. Proses penuaan
seringkali ditandai dengan menurunnya fungsi berbagi organ tubuh, salah satunya adalah
fungsi pendengaran. Sekitar 30-35% orang berusia antara 65-75 tahun akan mengalami
gangguan pendengaran secara perlahan-lahan akibat proses penuaan yang dikenal dengan
istilah presbicusis, akibat adanya gangguan pendengaran ini, seringkali orang-orang
disekitarnya akan berbicara dengan suara yang lebih lantang dan keras dengan para lansia,
namun dengan demikian bukan berarti semakin keras suara yang diucapkan akan terdengar
lebih baik bagi mereka karena ternyata suara yang terlalu keraspun akan terdengar menyakitkan
ditelinga mereka. Lanjut usia dengan bertambahnya usia, wajar saja bila kondisi dan fungsi
tubuh pun makin menurun, tak heran bila pada usia lanjut, semakin banyak keluhan yang
dilontarkan karena tubuh tidak lagi mampu melakukan pekerjaan tertentu sehingga
kesepakatan kerja sama dengan pihak pihak terkait Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan
berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari
kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh
adalah fraktur pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak.
Dampak psikologis walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan
jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri,
pembatasan dalam aktivitas sehari-hari atau fobia jatuh Postur tubuh dan mobilitas beresiko
tinggi terhadap jatuh, mobilitas tinggi dan postur tubuh yang tidak stabil beresiko jatuh 4,5 kali
dibandingkan dengan yang tidak aktif atau aktif tetapi dengan postur tubuh yang stabil.
Penelitian terhadap 4.862 klien di panti jompo, didapatkan resiko jatuh paling tinggi adalah
penderita aktif dengan gangguan keseimbangan. Selanjutnya penelitian Barnedh (2006)
terhadap 300 lansia di Puskesmas Tebet bahwa lansia dengan aktivitas rendah (tidak teratur
berolahraga) beresiko 7,63 kali menderita gangguan keseimbangan dibandingkan lansia
dengan aktivitas tinggi. Lansia yang tidak melakukan kebiasaan berolahraga beresiko tinggi
mengalami jatuh Obat-obatan merupakan faktor bermakna terhadap resiko jatuh diantaranya
obat golongan sedatif dan hipnotik yang dapat mengganggu stabilitas postur tubuh, yang
mengakibatkan efek diuretik pada anti hipertensi, antidepresan, dan antipsikotik.Obat-obat
yang menyebabkan hipotensi, hipoglikemi, mengganggu vestibular, neuropati hipotermi dan
menyebabkan kebingungan seperti phenothiazine, barbiturat dan benzodiazepin juga
meningkatkan resiko jatuh. Lansia yang memiliki tiga faktor resiko seperti kelemahan otot
paha, gangguan koordinasi, ketidakseimbangan, dan mendapat lebih dari 4 jenis pengobatan
beresiko jatuh sebesar 100%.

2. Faktor Ekstrinsik

Faktor lingkungan memiliki resiko terhadap jatuh sebesar 31%. Lingkungan rumah
termasuk situasi yang berpotensi terhadap resiko terjatuh pada lansia, diantaranya karpet yang
tidak rata, pencahayaan ruangan tidak memadai, tangga tanpa pagar, kondisi tempat tidur, kursi
cukup tinggi, dan alat bantu jalan yang tidak tepat. Selain itu kondisi toilet yang terlalu rendah
dan permukaan kamar mandi menurun, licin dan tidak adanya anti-selip pada lantai, serta
dinding kamar mandi tidak memiliki pedoman dinilai sebagai resiko penyebab jatuh di rumah.
Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya resiko jatuh pada lansia adalah faktor gizi yang
mengakibatkan penurunan fungsi keseimbangan atau kelemahan fisik. Lansia dengan asupan
makanan yang rendah kalsium dan vitamin D, fosfor, protein dan besi beresiko untuk jatuh.
Asupan makanan yang tidak memadai berupa protein, air dan tidak melakukan aktivitas fisik
yang cukup untuk menangkal hilangnya massa otot atau kehilangan kepadatan tulang
meningkatkan resiko jatuh dan cedera pada lansia.

Penggunaan alat bantu jalan memang meningkatkan keseimbangan, namun disisi lain
menyebabkan langkah yang terputus dan kecenderungan tubuh untuk membungkuk, terlebih
jika alat bantu tidak menggunakan roda, karena itu penggunaan alat bantu ini haruslah
direkomendasikan secara individual. Lansia apabila pada kasus gangguan berjalannya tidak
dapat ditangani dengan obat-obatan maupun pembedahan, maka salah satu penanganannya
adalah dengan alat bantu jalan seperti tongkat, crutch (tongkat ketiak) dan walker, ketika
memilih alat bantu jalan , anatomi tubuh dan sudut siku harus diperlihatkan, banyak dari
mereka yang tidak mendapatkan bantuan professional dalan memilih alat bantu jalan sehingga
pemilihan alat bantu jalan yang tidak tepat dapat mengakibatkan bertambah buruknya
koordinasi gerakan dan gaya berjalan klien sehingga dapat meningkatkan resiko untuk jatuh.

Perawat harus memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga lansia bahwa


keluarga harus sering memperhatikan lansia dirumah karena selain kebutuhan fisik yang harus
diperlukan, kebutuhan psikologis dan social juga harus diperhatikan, mengamati kemampuan
dan keseimbangan dalam berjalan, dan membantu stabilitas tubuh. Keluarga juga harus
memperbaiki kondisi sekitar lingkungan rumah yang dianggap tidak aman, misalnya dengan
memindahkan benda berbahaya, peralatan rumah dibuat yang aman (stabil, ketinggian kursi
disesuaikan, pegangan pada, dinding dan tangga) serta lantai yang tidak licin dan penerangan
ruangan yang cukup. Lingkungan merupakan faktor yang dapat memepengaruhi keseimbangan
dan berkontraksi pada resiko jatuh, kejadian jatuh didalam ruangan lebih sering terjadi dikamar
mandi, kamar tidur dan toilet. Jatuh sering terjadi sekitar 10% terutama saat turun tangga
karena lebih berbahaya dari pada saat naik tangga. Lingkungan yang tidak aman dapat dilihat
pada lingkungan luar rumah, ruang tamu, kamar tidur, toilet, dan tangga atau lorong
Lingkungan yang tidak aman pada area luar seperti kondisi lantai yang retak, jalan depan rumah
sempit, pencahayaan yang kurang, kondisi teras atau halaman, bahaya lingkungan pada area
ruang tamu adalah kurangnya pencahayaan, area yang sempit untuk berjalan, kondisi lantai
yang retak dan berantakkan, kaki kursi yang miring dan tinggi kursi yang tidak sesuai dengan
tinggi kaki lansia dan sandaran lengan pada kursi tidak kuat. Kamar tidur berbahaya dapat
dilihat dari kondisi lantai, tinggi tempat tidur, seprai yang tergerai dilantai, penempatan barang
dan perabotan yang mudah dijangkau, pencahayaan, dan sempit atau luasnya area kamar untuk
berjalan. Kamar mandi dapat menyebabkan gangguan keseimbangan atau resiko jatuh
diantaranya pencahayaan kurang, kondisi lantai licin, posisi bak dan toilet tidak aman, dan
peletakkan alat mandi yang tidak mudah dijangkau oleh lansia. Lingkungan area tangga dan
lorong dapat dilihat dari kondisi lantai, pencahayaan, peganggan, lis tangga, dan lebar tangga.

Penyebab jatuh pada Lansia :

 Kecelakaan
 Nyeri kepala mendadak dan atau vertigo
 Hipotensi orthostatik : hipovolumia,disfungsi otonom,preload menurun , obat , lama
berbaring, post prandial
 Obat-obatan : a.hipertensi, a.depresan, a. psikotik, OAD, allkohol
 Proses penyakit yang spesifik : Kardiovask : aritmia, AMI, stenosis a
 Neurologi : TIA, stroke, kejang dll
 Idiopatik
 Sinkope : Drop attack, penurunan darah ke otak mendadak, terbakar matahari.