Anda di halaman 1dari 27

KELOMPOK VIII

ANDI NITA AYUNINGSIH


SUDARMI
NURHIDAYATULLAH

PENDIDIKAN EKONOMI

PENGEMBANGAN
EVALUASI
PERENCANAAN
PEMBELAJARAN

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)


MUHAMMADIYAH BONE

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga proses penulisan tugas Perencanaan Pengajaran ini dapat terselesaikan
tepat pada waktunya.
Penulis sadar bahwa apa yang telah penulis peroleh tidak semata-mata hasil
dari jerih payah penulis sendiri tetapi hasil dari keterlibatan semua pihak. Oleh
sebab itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. A. M. Irfan Taufan Asfar, MT.,M.Pd selaku dosen pengampu mata
kuliah Perencanaan Pengajaran yang telah mengarahkan dan
membimbing penulis; dan
2. Orang tua penulis, Andi Mappasissing dan Mahfia yang senantiasa
mendukung, mendoakan dan telah membiayai penulis dalam
perkuliahan.
Tidak lupa penulis juga menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih
kepada teman-teman serta semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan
namanya satu persatu. Semoga bantuan dan motivasi yang diberikan kepada penulis
mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT.
Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Kahu, 17 Desember 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
BAB II. PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A. Perencanaan Evaluasi ........................................................................... 5
B. Pelaksanaan Evaluasi ........................................................................... 12
C. Monitoring Pelaksanaan Evaluasi ........................................................ 15
D. Pengolahan Data ................................................................................... 16
E. Pelaporan Hasil Evaluasi ...................................................................... 17
F. Penggunaan Hasil Evaluasi .................................................................. 18
G. Prinsip Prosedur Penilaian .................................................................... 19
BAB III. PENUTUP ........................................................................................... 21
A. Simpulan ............................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 22

ii
DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman


1 Analisis Kebutuhan ...................................................................... 5
2 Komponen Matriks Evaluasi ....................................................... 9

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman


1 Langkah-Langkah Menyusun Kisi-Kisi ....................................... 5

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya merupakan kebutuhan dan tuntunan yang
signifikan untuk menjamin perkembangan dan kelangsungankehidupan bangsa
dan negara demi tercapainya sumber daya manusia yang berintelektualitas dan
berkualitas tinggi. Intelektualitas dan kualitas tersebut sangat bergantung dari
keberhasilan penyelenggaraan sistem pendidikan. Setiap bangsa akan maju
karena pendidikannya, pendidikan maju merupakan jantung dan denyut nadi
bangsa. Dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, tujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggungjawab. (Bhakti, 2017)
Pembelajaran di sekolah merupakan proses kegiataan terencana dan
teroganisir yang terdiri atas kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini bertujuan
untuk mengembangkan intelektual siswa. Guru dituntut untuk menyampaikan
segala macam pengetahuan dan pemahaman ke pada anak didik. Hal ini
dimaksudkan untuk menjadikan anak didik sebagai generasi penerus yang cerdas,
terampil, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dapat
menyongsong masa depan yang lebih baik.Sistem Pendidikan Nasional yang
berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan tanggung jawab bersama
antara guru, orang tua dan pemerintah. Untuk mewujudkan semua itu guru dan
orang tua memegang peranan penting dalam meningkatkan kemajuan belajar anak
didik. (Wahida, Lestari, Alibasyah, & Jura, 2015)
Pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan rumusan-
rumusan tentang apa yang akan dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam
2

proses pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi dasar yang telah
ditentukan, sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan.
Dasar pengembangan pembelajaran merupakan desain pembelajaran atau
tahun 1975 istilahnya disebut sebagai Prosedur Pengembangan Sistem
Pembelajaran (PPSI). Sebagai suatu prosedur, desainpembelajaran dapat diartikan
sebagai langkah yang sistematis untuk menyusun rencana atau persiapan
pembelajaran dan bahan pembelajaran.
Dalam sutau proses belajar mengajar terdapat kegiatan evaluasi. Evaluasi
adalah suatu kegiatan untuk mengetahui apakah proses belajar mengajar itu
telah mencapai tujuan yang sudah ditetapkan atau belum, dengan kata lain
proses belajar mengajar belum diketahui berhasil tidaknya sebelum evaluasi
dilakukan. Karena itu evaluasi harus diperlukan dalam proses belajar mengajar.
Dengan evaluasi yang baik, dan menyeluruh akan dapat mengetahui apa yang
diinginkan dari kegiatan belajar mengajar. (Bhakti, 2017)
Perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan
yang akan dilaksanakan pada masayang akan datang untuk mencapai tujuan yang
akan ditentukan.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi antara
sumber belajar dan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Salah satu
cara agar informasi dapat diserap dan kemudian dimasukkan kedalam
memori angka panjang adalah apabila informasi tersebut mengandung kekuatan
emosi, baik suka (emosi positif) maupun duka (emosi negatif). Semua guru
sangat mengharapkan agar materi yang disampaikan kepada semua siswanya
dapat dimasukkan ke memori jangka panjang dan bahkan tidak terlupakan
seumur hidup. Untuk itu harapkan guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar harus
selalu meningkatkan kualitas profesionalnya yaitu dengan memberikan
kesempatan belajar kepada siswa dengan melibatkan siswa secara aktif dalam
proses belajar mengajar. Juga usahakan siswa untuk memiliki hubungan yang erat
dengan guru, teman-temannya dan sumber belajar. (Suherdiyanto, Mawardi, &
Anggela, 2016)
3

Menurut Slameto (2010) proses pembelajaran dipengaruhi dua faktor yaitu


faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal
dari dalam diri guru dan siswa seperti rasa malas, bosan dan gembira.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari guru dan siswa
seperti lingkungan sekolah, ruang belajar, model pembelajaran, dan sebagainya.
Pada proses pembelajaran berlangsung, guru harus pandai memilih penggunaan
model pembelajaran yang tepat. Guru perlu memilih model pembelajaran yang
cocok untuk model pembelajaran yang diterapkan menurut caranya sendiri.
(Gintoe, Kendek, & Hatibe, 2014)
Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh keberhasilan
evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah
langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Dalam
literature evaluasi banyak dijumpai prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya
masing-masing. Namun, sekalipun ada perbedaan langkah, bukanlah suatu yang
prinsip karena prosedur intinya hampir sama. Dalam buku ini prosedur
pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas : (1) perencanaan evaluasi, yang
meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi, menyusun kisi-kisi,
mengembangkan draft instrument, uji coba dan analisis, merevisi dan menyusun
instrument final, (2) pelaksanaan evaluasi dan monitoring, (3) pengolahan data dan
analisis, (4) pelaporan hasil evaluasi, dan (5) pemanfaatan hasil evaluasi.
Disamping itu, baik buruknya evaluasi ada ditangan evaluator, yaitu guru yang
melaksanakan proses pembelajaran dalam suatu bidang studi / mata pelajaran atau
tim khusus yang dibentuk untuk melakukan evaluasi program pembelajaran secara
keseluruhan. Artinya, guru harus bertanggung jawab juga dalam pelaksanaan
evaluasi pembelajaran. Tanggung jawab tersebut dapat ditunjukan dengan
melaksanakan prosedur evaluasi yang baik, dapat dipertanggung jawabkan dan
bermakna bagi semua pihak
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang dibutuhkan dalam prosedur pengembangan evaluasi?
2. Bagaimana perencanaan suatu evaluasi?
3. Bagaimana pelaksanaan suatu evaluasi?
4

4. Bagaimana monitoring pelaksanaan evaluasi?


5. Bagaimana pengolahan data dalam evaluasi?
6. Bagaimana pelaporan hasil evaluasi?
7. Bagaimana penggunaan hasil evaluasi?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan dalam prosedur
pengembangan evaluasi.
2. Untuk mengetahui perencanaan suatu evaluasi.
3. Untuk mengetahui pelaksanaan suatu evaluasi.
4. Untuk mengetahui monitoring pelaksanaan evaluasi.
5. Untuk mengetahui pengolahan data dalam evaluasi.
6. Untuk mengetahui pelaporan hasil evaluasi.
7. Untuk mengetahui penggunaan hasil evaluasi
5

BAB II
PEMBAHASAN

Prosedur evaluasi dimaksudkan sebagai langkah-langkah terurut yang harus


ditempuh dalam melaksanakan evaluasi. Langkah-langkah tersebut merupakan
tahapan dari kegiatan permulaan sampai kegiatan akhir dalam rangka pelaksanaan
evaluasi pendidikan (Erman, 2003: 13).
A. Perencanaan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang
direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal.
Namun, banyak juga orang yang melaksanakan suatu kegiatan tanpa perencanaan
yang jelas sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Oleh sebab itu, seorang
evaluator harus dapat membuat perencanaan evaluasi dengan baik. Langkah
pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan evaluasi adalah membuat
perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan memengaruhi langkah-langkah
selanjutnya, bahkan memengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh
(Zainal Arifin, 2010:88).
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan
spesifik, terurai dan komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam
menentukan langkah-langkah selanjutnya. Melalui perencanaan evaluasi yang
matang inilah kita dapat menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral
objective) atau indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan
data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat.
Tahap perencanaan meliputi kegiatan merumuskan tujuan evaluasi yang akan
dilaksanakan. Tujuan ini harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai
dalam program pendidikan tersebut. Tentunya tujuan evaluasi berbeda satu sama
lain, tergantung pembuatnya. Tujuan evaluasi yang dibuat oleh panitia seleksi akan
berbeda dengan tujuan evaluasi yang dibuat oleh seorang guru bidang studi. Tujuan
yang di buat oleh guru bidang studi yang sama pun akan berbeda pula sesuai dengan
tingkat sekolah dan jurusannya. Tujuan evaluasi yang dibuat oleh guru bidang studi
haruslah disesuaikan tujuan instruksional yang telah ditetapkan dalam satuan
6

pelajaran. Hal lain yang harus dilakukan dalam tahap perencanaan adalah
menentukan aspek-aspek yang akan di evaluasi.
Erman (2003:13) juga mengatakan bahwa hal lain yang termasuk dalam tahap
perencanaan adalah metode evaluasi yang akan dipakai, seperti inventori, check list,
interview, observasi, atau tes: menyusun alat evaluasi yang akan digunakan,
misalnya pedoman observasi dan wawancara, kisi-kisi tes hasil belajar; menentukan
kriteria penilaian yang akan digunakan.
1. Pentingnya Analisis Kebutuhan
Pada dasarnya, analisis kebutuhan merupakan bagian integral dari sistem
pembelajaran dari keseluruhan. Analisis kebutuhan dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat
digunakan dalam melakukan analisis kebutuhan adalah pendekatan sistem sehingga
model analisisnya disebut analisis sistem. Langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam analisis sistem dapat mengikuti langkah-langkah metode pemecahan
masalah, yaitu mengidentifikasi dan mengklarifikasi masalah, mengajukan
hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan kesimpulan. Melalui analisis
kebutuhan, evaluator akan memperoleh kejelasan masalah dalam pembelajaran
sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pembuat atau penentu kebijakan.
Sehubungan dengan hal tersebut, evaluator harus memahami dengan tepat apa,
mengapa, bagaimana, kapan, di mana dan siapa yang melakukan analisis
kebutuhan.
Analisis kebutuhan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk
mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan skala prioritas pemecahannya. Dalam
program pembelajaran, kebutuhan yang dimaksud merupakan suatu kondisi
kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi nyata. Kebutuhan
tersebut dapat terjadi pada diri peserta didik dan guru, baik secara perseorangan
maupun kelompok atau juga pada institusi. Dasar pemikirannya dalah sering sekali
sekolah dan guru sudah melakukan berbagai upaya maksimal untuk memanfaatkan
sumber daya dalam sistem pembelajaran.
Namun kenyataannya, masih ada saja keluhan, kekecewaan atau kekurangan,
seperti prestasi belajar peserta didik yang kuarang optimal. Analisis kebutuhan
7

merupakan alat yang tepat untuk melakukan perubahan yang rasional dan
fungsional. Perbandingan antara upaya pemecahan masalah secara tradisional
dengan cara yang inovatif, yaitu menggambarkan proses penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam sebuah diagram atau bagan proses yang
menunjukan posisi analisis kebutuhan. Dibawah ini adalah posisi analisis
kebutuhan dalam program pembelajaran:
Tabel 1. Analisis Kebutuhan
Untuk apa pembelajaran dan Mengapa materi tersebut Bagaimana
apa yang akan diajarkan? penting untuk diajarkan? mengerjakannya?
Tujuan dan materi Analisis kebutuhan Pendekatan dan
Strategi
Ketika guru ingin mengembangkan program pembelajaran, tentu seorang
guru harus merumuskan tujuan pembelajaran. Guru kemudian memilih materi apa
saja yang nantinya akan disampaikan dalam rangka mencapai tujuan tersebut.
Setelah itu, guru menelaah kembali materi yang dipilih sudah sesuai dengan
kebutuhan peserta didik, maka guru menentukan pendekatan dan strategi yang tepat
untuk menyampaikan materi. Pendekatan dapat digunakan secara individual atau
kelompok, sedangkan strategi akan menentukan metode, media, dan sumber belajar
yang akan digunakan. Hal penting yang harus dipahami oleh evaluator adalah ketika
melakukan analisis kebutuhan dalam pembelajaran hendaknya dimulai dari peserta
didik, kemudian komponen-komponen yang terkait dengannya. Perencanaan
evaluasi dapat ditinjau dari dua pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan program pembelajaran
Suatu program minimal terdiri atas tiga dimensi, yaitu input, proses, dan
output. Di sini evaluator harus menyusun desain evaluasi yang dituangkan dalam
bentuk proposal, karena melakukan evaluasi sama halnya dengan melakukan
penelitian. Kegiatan evaluasi sama dengan kegiatan penelitian. Bedanya, kegiatan
evaluasi bertitik tolak dari sebuah kriteria. Dengan demikian, proposal evaluasi
sama dengan proposal penelitian. Secara umum, sebuah proposal lengkap terdiri
atas tiga bagian besar, yaitu bagian pendahuluan, bagian metodologi dan bagian
administrasi. Perlu diketahui bahwa instrumen evaluasi yang digunakan harus
8

betul-betul memiliki karateristik instrumen yang baik, seperti validitas, reliabilitas


dan praktis. Untuk itu, proses pengembangan instrumen harus mengikuti
langkahlangkah standardisasi sebuah instrumen evaluasi. Begitu juga dengan
populasinnya, jika terlalu banyak dan luas, sebaliknya diambil dengan teknik
sampling.
b. Pendekatan hasil belajar
Pendekatan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu domain hasil belajar,
proses dan hasil belajar, dan kompetensi. Disini perencanaan evaluasi dilihat dalam
perspektif hasil belajar. Jika didalam penilaian itu sudah jelas akan menggunakan
test, maka ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti merumuskan tujuan
penilaian, mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar, menyusun kisi-kisi,
mengembangkan draft instrumen, uji coba dan analisis instrumen, revisi dan
merakit instrumen baru.
1) Menentukan tujuan Penilaian
Tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas serta ditentukan
sejak awal, karena menjadi dasar untuk menentukan arah, ruang lingkup materi,
jenis/model, dan karakter alat penilaian. Dalam penilaian hasil belajar, ada emapat
kemungkinan tujuan penelitian, yaitu untuk memperbaiki kinerja tau proses
pembelajaran ( formatif), untuk menentukan keberhasilan peserta didik (sumatif),
untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran
(diagnostik), atau untuk menempatkan posisi peseta didik sesuai dengan
kemampuannya (penempatan).
2) Mengidentifikasi Hasil Belajar
Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Peserta didik dianggap
kompeten apabila dia memiliki pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai untuk
melakukan sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam kurikulum
berbasis kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil belajar sudah dirumuskan
oleh tim pengembang kurikulum, seperti standar kompetensi, kompetensi dasar,
hasil belajar, dan indikator. Guru tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang
akan dinilai.
9

3) Menyusun Kisi-Kisi
Menyusun kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betulbetul
representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru
kepada peserta didik. Jika materi penilaian tidak relevan dengan materi pelajaran
yang telah diberikan, maka akan berakibat hasil penilaian itu kurang baik. Begitu
juga jika materi penilaian terlalu banyak dibandingkan dengan materi pelajaran,
maka akan berakibat sama. Untuk melihat apakah materi penilaian relevan dengan
materi pelajaran atau apakah penilaian terlalu banyak atau kurang, guru harus
menyusun kisi-kisi.
Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item
untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu.
Fungsi kisi-kisi adalah sebagai pedoman untuk menulis sosal atau merakit soal
menjadi perangkat test. Dalam konteks penilaian hasil belajar, kisi-kisi soal disusun
berdasarkan silabus setiap mata pelajaran. Jadi guru, harus melakukan analisis
silabus terlebih dahulu sebelum menyusun kisikisi soal. Perhatikan langkah-
langkah berikut ini:

ANALISIS SILABUS

MENYUSUN KISI-KISI

g
MEMBUAT SOAL

MENYUSUN LEMBAR JAWABAN

MEMBUAT KUNCI JAWABAN

MENYUSUN PEDOMAN PENSKORAN

Gambar 1. Langkah-Langkah Menyusun Kisi-Kisi


10

Sebenarnya format kisi-kisi tidak ada yang baku, kerena itu banyak model
format yang dikembangkan para pakar evaluasi. Namun, sekedar untuk
memperoleh gambaran, format kisi-kisi soal dapat dibagi menjadi dua komponen
pokok, yaitu komponen identitas dan komponen matriks. Komponen identitas
ditulis dibagian atas matriks, sedangkan komponen matriks dibuat dalam bentuk
kolom yang sesuai. Komponen identitas meliputi jenis/jenjang sekolah,
jurusan/program, mata pelajaran, tahun ajaran/smt, kurikulum acuan, alokasi
waktu, jumlah soal keseluruhan, dan bentuk soal. Komponen matriks terdiri atas
kompetensi dasar, materi, jumlah soal, jenjang kemampuan, indikator, dan nomor
urut soal.

No. Kompetensi Hasil Indikator Jenjang Bentuk Nomor


Dasar Belajar Kemampuan Soal Soal

Manfaat adanya indikator yaitu:


a) Guru dapat memilih materi, metode, media, dan sumber belajar yang tepat,
sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
b) Sebagai pedoman dan pegangan bagi guru untuk menyusun soal atau
instrumen atau penilaian lain yang tepat, sesuai dengan standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Untuk mengukur pencapaian
target dalam indikator, sebaiknya disusun butir soal dalam format khusus.
Selain format kisi-kisi di atas, ada juga format kisi-kisi terurai, dalam hal ini
setiap tingkah kesukaran soal harus ditetapkan jumlah soal yang termasuk sukar,
sedang, dan mudah. Adapun besar-kecilnya jumlah soal untuk tiap-tiap tingkat
kesukaran tidak ada yang mutlak. Biasanya, jumlah soal sedang lebih banyak
daripada jumlah soal mudah dan sukar,sedangkan jumlah soal mudah dan soal sukar
sama banyaknya.
4) Mengembangkan draf instrument
Mengembangkan draf instrumen penilaian merupakan salah satu langkah
penting dalam prosedur penilaian. Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk
tes maupun nontes, dalam bentuk tes, berarti guru harus membuat soal. Penilaian
sosial adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang
11

karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan
terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun
bentuk jawabannya. Kualitas butir soal akan menentukan kualitas tes secara
keseluruhan. Setelah semua soal ditulis, sebaiknya soal tersebut dibaca lagi, jika
perlu didiskusikan kembali dengan tim penelaah soal, baik dari ahli bahasa, ahli
bidang studi, ahli kurikulum, dan ahli evaluasi. Dalam bentuk notes, guru dapat
membuat angket, pedoman observasi, pedoman wawncara, studi dokumentasi,
skala sikap, penilaian bakat, minat, dan sebagainya.
5) Uji coba dan analisis soal
Jika semua soal sudah disusun dengan baik, maka perlu di uji cobakan
terlebih dahulu dilapangan. Tujuannya untuk mengetahui soal-soal mana yang perlu
diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali, serta soal-soal mana yang baik
untuk dipergunakan selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami
beberapa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis empiris dan rasional.
Analisis empiris dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan setiap soal
yang diginakan. Dalam melaksanakan uji coba soal, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, anatara lain:
a) Ruangan tempatnya tes hendaknya diusahakan seterang mungkin, jika
perlu dibuat papan pengumuman diluar agar orang lain tahu bahwa ada tes
yang sedang berlangsung.
b) Perlu disusun tata tertib pelksanaan tes, baik yang berkenaan dengan
peserta didik itu sendiri, guru, pengawas, maupun teknis pelksanaan tes.
c) Para pengawas tes harus mengontrol pelaksanaan tes dengan ketat, tetapi
tidak mengganggu suasana tes. Peserta didik yang melanggar tata tertib tes
dapat dikeluarkan dari ruang tes.
d) Waktu yang digunakan harus sesuai dengan banyaknya soal yang
diberikan sehingga peserta didik dapat bekerja dengan baik. Kecepatan
waktu sangat mempengaruhi nilai kelompok dan cara-cara dalam
mengusahakan supaya kelompok tetap bekerja sebagai suatu kesatuan.
e) Peserta didik harus benar-benar patuh mengerjakan semua petunjuk dan
perintah dari penguji. Sikap ini harus tetap dipelihara meskipun diberikan
12

kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apabila


ada soal yang tidak dimengerti atau kurang jelas. Tanggung jawab penguji
dalam hal ini adalah memberikan petunjuk dengan sikap yang bersifat
lugas, jujur, adil dan jelas. Namun, antara penguji dan peserta didik
hendaknya dapat menciptakan suasana yang kondusif.
f) Hasil uji coba hendaknya di olah, dianalisis, dan di administrasikan dengan
baik sehingga dapat diketahui soalsoal mana yang lemah untuk selanjutnya
dapat diperbaiki kembali.
6) Revisi dan merakit soal (instrumen baru)
Setelah soal diuji coba dan dianalisis, kemudian direvisi sesuai dengan
proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Dengan demikian, ada soal yang
masih dapat diperbaiki dari segi bahasa, ada juga soal yang harus direvisi total, baik
yang menyangkut pokok soal (stem) maupun alternatif jawaban (option), bahkan
ada soal yang harus dibuang atau disisihkan. Berdaarkan hasil revisi soal ini,
barulah dilakukan perkaitan soal menjadi suatu instrumen yang terpadu. Untuk itu,
semua hal yang dapat mempengaruhi validitas skor tes, seperti nomor urut soal,
pengelompokan bentuk soal, penataan soal, dan sebagainya haruslah diperhatikan.
B. Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan sautu evaluasi
sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah disinggung
semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Artinya, tujuan evaluasi, model dan
jenis evaluasi, objek evaluasi, inastrumen evaluasi, sumber data, semuanya sudah
dipersiapkan pada instrumen evaluasi, sumber data, semuanya sudah dipersiapkan
pada tahap perencanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sangat bergantung pada
jenis evaluasi yang digunakan. Jenis evaluasi yang digunakan akan mempengaruhi
seorang evaluator dalam menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu
pelaksanaan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan tes (tes tertulis, tes
lisan, dan tes perbuatan) maupun notes (angket, observasi, wawancara, studi
dokumentasi, skala sikap, dan sebagainya). Perbandingan alokasi waktu dengan
jumlah soal harus sesuai dengan proposional. Begitu juga tempat duduk peserta
didik harus direnggangkan satu dengan yang lainnya untuk menghindari peserta
13

didik saling menyontek. Pengawas boleh berjalan-jalam, tetapi tidak boleh


mengganggu suasana ujian.
Pembagian soal hendaknya dilakukan secara terbaik agar peserta didik tidak
ada yang lebih dahulu membaca. Semua ini harus diatur sedemikian rupa agar
pelaksanaan tes tertulis dapat berjalan dengan baik, tertib dan lancer. Pada
prinsipnya ketentuan-ketentuan di atas tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan tes
perbuatan, hanya dalam tes perbuatan terkadang diperlukan alat bantu khusus,
misalnya untuk lompat jauh dibutuhkan meteran, untuk tes renang dibutuhkan
kolam renang, untuk tes praktik shalat dibutuhkan tempat shlata (mushalla), dan
sebagainya. Untuk itu, dalam pelaksanaan tes pebuatan diperlukan tempat tes yang
terbuka dan suasanya bebas.
Pelaksanaan nontes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan
tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta
didik terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi
belajar dan mengajar, dan sebagainya. Realitas menunjukkan bahwa tidak adapun
satu teknik dan bentuk evaluasi yang dapat mengumpulkan data tentang keefektifan
pembelajaran, prestasi dan kemajuan belajar peserta didik secara sempurna.
Pengukuran tunggal tidak cukup untuk memeberikan gambaran atau informasi
tentang keefektifan pembelajaran dan tingkat penguasaan kompetensi
(pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai) peserta didik. Tujuan
pelaksanaan evaluasi adalah untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai
keseluruhan aspek kepribadian dan prestasi belajar peserta didik yang meliputi:
1. Data pribadi (personal) peserta didik, seperti nama, tempat dan tanggal
lahir, jenis kelamin, golongan darah, alamat, dan lain-lain.
2. Data tentang kesehatan peserta didik, seperti penglihatan, pendengaran,
penyakit yang sering di derita, dan kondisi fisik.
3. Data tentang prestasi belajar (achievement) peserta didik di sekolah.
4. Data tentang sikap (attitude) peserta didik, seperti sikap terhadap sesame
teman sebaya, sikap terhadap kegiatan pembelajaran, sikap terhadap guru
dan kepala sekolah, dan sikap terhadap lingkungan social.
14

5. Data tentang bakat (aptitude) peserta didik, seperti ada tidaknya bakat di
bidang olahraga, keterampilan mekanis, manajemen, kesenian, dan
keguruan.
6. Persoalan penyesuaian (adjustment), seperti kegiatan anak dalam
organisasi disekolah, forum ilmiah, olahraga, dan kepanduan.
7. Data tentang minat (interest) peserta didik.
8. Data tentang rencana masa depan peserta didik yang dibantu oleh guru
dan orang tua sesuai dengan kesangguapan anak.
9. Data tentang latar belakang keluarga peserta didik, seperti pekerjaan
orang tua, penghasilan tetap tiap bulan, kondisi lingkungan, serta
hubungan peserta didik dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
Dari jenis-jenis di atas jelas kiranya bahwa banyak data yang harus
dikumpulkan dari lapangan melalui kegiatan evaluasi. Ada kecenderungan
pelaksanaan evaluasi selama ini kurang begitu memuaskan (terutama) bagi peserta
didik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain:
1. Proses dan hasil evaluasi kurang member keuntungan pada peserta didik,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Penggunaan teknik dan prosedur evaluasi yang kurang tepat berdasarkan
apa yang sudah dipelajari peserta didik.
3. Prinsip-prinsip umum evaluasi kurang dipertimbangkan dan pemberian
skor cenderung tidak adil.
4. Cakupan evaluasi kurang memperhatikan aspek-aspek penting dari
pembelajaran.
Jika semua data sudah dikumpulkan, maka data itu harus diseleksi dengan
teliti sehingga dapat diperoleh data yang baik dan benar. Namun tidak semua data
yang diperoleh pasti mempunyai kesalahan, jika guru sendiri yang melaksanakan
evaluasi itu, tentu guru akan lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan
teknik dan instrument evaluasi.
1. Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan karena kurang
sempurnanya instrument evaluasi. Misalnya, pada data yang berupa
hasilhasil observasi, mungkin
15

2. Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang


sempurnanya prosedur pelaksanaan evaluasi yang dilakukan. Misalnya,
pada data yang berupa skor tes, mungkin pada waktu pelaksanaan tes
tersebut terjadi peristiwa-peristiwa yang berlawanan dengan kelaziman-
kelaziman yang biasa, pengawasan kurang ketat, kondisi tempat tes
kurang nyaman, cahaya kurang terang, dan sebagainya.
3. Kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya cara
pencatatan hasil evaluasi. Misalnya, pada data yang berupa skor tes
kemungkinan kita sudah menjumlahkan skor yang dicapai peserta didik.
Prosedur verifikasinya adalah meneliti kembali pencatatan skor yang
telah dilakukan, seperti ada tidaknya kekeliruan pada waktu mencatat
hasil evaluasi, ada tidaknya kekeliruan dalam pemberian skor dan ada
tidaknya kekeliruan dalam menjumlahkan skor tiap peserta didik.
C. Monitoring Pelaksanaan Evaluasi
Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan evaluasi
pembelajaran telah sesuai dengan perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan atau
belum. Tujuannya adalah untuk mencegah hal-hal yang negatife dan meningkatkan
efesiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertama,
untuk melihat relevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedua,
untuk melihat hal-hal apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi.
Jika dalam pelaksanaan evaluasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka
evaluator harus mencatat, melaporkan, dan menganalisis factor-faktor
penyebabnya. Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar sering terjadi peserta didik
menyontek jawaban dari temannya, peserta didik mendapat bocoran jawaban soal,
ada juga peserta didik yang tiba-tiba sakit ketika mengerjakan soal, dan sebagainya.
Disinilah pentingnya monitoring pelaksanaan evaluasi.
Untuk melaksanakan monitoring, evaluator dapat menggunakan beberapa
teknik, seperti observasi partisipatif, wawancara (bebas atau terstruktur), atau studi
dokumentasi. Untuk itu, evaluator harus membuat perencanaan monitoring
sehingga dapat dirumuskan tujuan, sasaran, data yang diperlukan, alat yang
digunakan, dan pedoman analisis hasil monitoring. Data yang diperoleh dari hasil
16

monitoring haru cepat dianalisis monitoring ini dapat dijadikan landasan dan acuan
untuk memperbaiki pelaksanaan evaluasi selanjutnya dengan harapan akan lebih
baik dari pada sebelumnya.
D. Pengolahan Data
Setelah semua data dikumpulkan, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung, maka selanjutnya dilakukan pengolahan data. Data hasil evaluasi, ada
yang berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif. Kemudian kita buat
tabel atau daftar, dari tabel atau daftar distribusi frekuensi, dapat kita hitung
presentase, rata-rata kelompok, nilai median, modus, peringkat, dan sebagainya
sesuai dengan kebutuhan. Pengolahan data tersebut akan memberikan nilai kepada
peserta didik berdasarkan kualitas hasil pekerjaannya. Dalam pengolahan data
biasanya sering menggunakan analisis statistik. Analisis statistik digunakan jika ada
data kuantitatif, sedangkan untuk data kualitatif tidak dapat diolah dengan statistik.
Jika data kualitatif akan diolah dengan statistik, maka data tersebut harus diubah
terlebih dahulu menjadi data kuantitatif (kuantifikasi data). Dan tidak semua data
kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif, sehingga tidak dapat diolah dengan
statistik. Ada empat langkah pokok dalam mengolah hasil penilaian, yaitu:
1. Menskor, yaitu memberikan skor pada hasil evaluasi yang dapat dicapai
oleh peserta didik. Untuk menskor atau memberikan angka diperlukan
tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman
konversi.
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar seasuai dengan norma
tertentu.
3. Mengkonvesikan skor standar ke dalam nilai, baik berupa huruf atau
angka.
4. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat
validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda
(seperti dalam pilihan ganda).
Jika data yang diolah sudah dengan aturan, langkah selanjutnya adalah
menafsirkan data itu sehingga memberikan makna. Langkah penafsiran data
sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pengolahan data itu sendiri, karena setelah
17

mengolah data dengan sendirinya akan menafsirkan hasil pengolahan itu.


Memberikan interpretasi maksudnya adalah pembuatan pernyataan mengenai hasil
pengolahan data. Interpretasi terhadap sesuatu hasil evaluasi didasarkan atas
kriteria tertentu yang disebut norma. Norma dapat ditetapkan lebih dulu secara
rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan.
Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya kriteria bersumber pada tujuan setiap
mata pelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar). Ada dua jenis
penafsiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual:
1. Penafsiran kelompok, yakni penafsiran yang dilakukan untuk
mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hsil evaluasi,
seperti prestasi kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap
guru dan materi pelajaran yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok.
Tujuan utamanya adalah sebagai persiapan untuk melakukan penafsiran
kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok,
dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok.
2. Penafsiran individual, yani penafsiran hanya dilakukan perseorangan.
Tujuan utamanya untuk melihat tingkat kesiapan peserta didik,
pertumbuhan fisik, kemajuan belajar, dan kesulitan yang dihadapinya.
E. Pelaporan Hasil Evaluasi
Pelaporan hasil evaluasi harus diberikan kepada pihak yang berkepentingan,
seperti wali murid, kepala sekolah, pengawas, dan pemerintah. Maksudanya, agar
proses pembelajaran, termasuk proses dan hasil belajar yang dicapai peserta didik
serta perkembangannya dapat diketahui oleh berbagai pihak, sehingga orang tua
wali dapat menentukan sikap objektif terhadap perkembangannya. Laporan hasil
belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi antara sekolah, peserta didik,
dan orang tua dalam upaya mengembangkan dan menjaga hubungan kerja sama
yang harmonis diantara mereka. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:
1. Konsisten dengan pelaksanaan penilaian di sekolah.
2. Memuat perincian hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang
telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilain yang bermanfaat bagi
pengembangan peserta didik.
18

4. Menjamin orang tua akan informasi permasalahan peserta didik dalam


belajar.
5. Mengandung berbagai cara dan strategi komunikasi.
6. Memberikan informasi yang benar dan jelas.
Laporan kemajuan belajar peserta didik yang selama ini dilakukan oleh pihak
sekolah cenderung hanya bersifat kuantitatif, sehingga kurang dapat dipahami
maknanya. Oleh karena itu, laporan kemajuan peserta didik harus disajikan secara
sederhana, mudah dibaca dan difahami, komunikatif dan menampilkan profil atau
tingkat kemajuan siswa, sehingga peran serta masyarakat dan orang tua dlam dunia
pendidikan semakin meningkat. Peserta didikpun dapat menganalisa kekurangan
dan kelebihannya. Hanya sekedar gambaran, isi laporan hendaknya memuat hal-
hal, seperti profil belajar peserta didik di sekolah (akademik, fisik, sosial, dan
emosional), peran serta peserta didik dalam kegiatan sekolah (aktif, cukup, kurang,
atau tidak aktif), kemajuan hasil belajar belajar peserta didik dalam kurun waktu
tertentu (meningkat, biasa saja, atau bahkan menurun), imbauan terhadap orang tua.
Laporan kemajuan siswa dapat dikelompokan menjadi dua jenis yaitu, laporan
prestasi dlam mata pelajaran dan laporan pencapaian.
F. Penggunaan Hasil Evaluasi
Tahap akhir dari prosedur evaluasi adalah penggunaan atau pemanfaatan
hasil evaluasi. Salah satu penggunaannya adalah laporan. Laporan dimaksudkan
untuk memberikan feedback kepada semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dengan demikian, hasil evaluasi dapat digunakan untuk membantu
pemahaman peserta didik menjadi lebih baik, menjelaskan pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik kepada orang tua, dan membantu guru dalam
menyusun perencanaan pembelajaran. Evaluasi itu sendiri yang tentunya sudah
dirumusakn sebelumnya. Berdasarkan penjelsan tersebut, maka dapat dikemukakan
beberapa jenis penggunaan hasil evaluasi sebagai berikut:
1. Untuk keperluan laporan pertanggung jawaban
2. Untuk keperluan seleksi
3. Untuk keperluan promosi
19

4. Untuk keperluan diagnosis


5. Untuk keprluan memprediksi masa depan peserta didik.
G. Prinsip dan Prosedur Penilaian
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas pendidikan,
maka upaya merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan
beberapa prinsip dan prosedur penilaian sebagai berikut:
1. Dalam menilai hasil belajar, hendaknya dirancang sedemikian rupa
sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian,
dan interpretasi hasil penilaian.
2. Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses
belajar mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada tiap
saat proses belajar-mengajar sehingga pelaksanaannya
berkesinambungan.
3. Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pengertian
menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya,
penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya
komprehensif (mencakup berbagai ranah, sepesrti kognitif, afektif, dan
psikomotorik).
4. Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data
hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siapapun.
Prosedur adalah langkah-langkah teratur dan tertib yang harus ditempuh
seorang evaluator pada waktu melakukan evaluasi kurikulum. Adapun beberapa
prosedur evaluasi kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut:
1. Prosedur Evaluasi Kuantitatif
Kaedah evaluasi mengatakan bahwasannya evaluasi harus berkaitan dengan
pengembangan kurikulum yang terjadi. Prosedur untuk evaluasi kuantitatif yakni
sebagai berikut:
a. Penentuan masalah atau pertanyaan evaluasi
b. Penentuan variabel, jenis data dan sumber data
c. Penentuan metodologi
d. Pengembangan instrumen
20

e. Penentuan proses pengumpulan data


f. Penentuan proses pengolahan data.
2. Prosedur Evaluasi Kualitatif
Ada tiga hal pokok yang harus dilakukan evaluator ketika melakukan evaluasi
kurikulum dengan menggunakan prosedur sebagai berikut:
a. Menentukan fokus evaluasi
b. Perumusan masalah dan pengumpulan data
c. Proses pengolahan data
d. Menentukan perbaikan dan perubahan program
21

BAB IV
PENUTUP

Prosedur evaluasi dimaksudkan sebagai langkah-langkah terurut yang harus


ditempuh dalam melaksanakan evaluasi. Langkah-langkah tersebut merupakan
tahapan dari kegiatan permulaan sampai kegiatan akhir dalam rangka pelaksanaan
evaluasi pendidikan. seorang evaluator harus dapat membuat perencanaan evaluasi
dengan baik. Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan evaluasi
adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan memengaruhi
langkah-langkah selanjutnya, bahkan memengaruhi keefektifan prosedur evaluasi
secara menyeluruh. Perencanaan evaluasi dapat ditinjau dari dua pendekatan, yaitu:
Pendekatan Program Pembelajaran dan pendekatan Hasil Pembelajaran. Ada empat
langkah pokok dalam mengolah hasil penilaian, yaitu:
1. Menskor
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar seasuai dengan norma
tertentu.
3. Mengkonvesikan skor standar ke dalam nilai, baik berupa huruf atau
angka.
4. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat
validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda
(seperti dalam pilihan ganda).
22

DAFTAR PUSTAKA

Bhakti, Y. B. (2017). Evaluasi Program Model Cipp Pada Proses Pembelajaran


IPA. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika Dan Riset Ilmiah, 1(2), 75–82.

Gintoe, K. Y., Kendek, Y., & Hatibe, A. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Talking Stick Terhadap Hasil Belajar Ipa Fisika Pada Siswa
Kelas V11 SMP Negeri 9 Palu. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT),
3(4), 6–12.

Suherdiyanto, Mawardi, P., & Anggela, R. (2016). Pembelajaran Luar Kelas (Out
Door Study) Dalama Peningkatan Hasil Belajar Siswa Di SMA Negeri 1
Sungai Kakap. Jurnal Pendidikan Sosial, 3(1), 139–148.

Wahida, Lestari, Alibasyah, M. P., & Jura, M. R. (2015). Penerapan Metode


Diskusi Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Ipa Kelas IV SDN 4 Kombo Kecamatan Dampal Selatankabupaten
Tolitoli. Jurnal Kreatif Tadulako Online, 5(10), 133–144.