Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Undang – Undang No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, menjelaskan
bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat,
diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan,
peningkatan kesehatan (promoyif) pencegahan penyakit (preventif)
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang
diulaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan beresinambungan.

Dalam Peratura Pemerintah No 32 Tahun 1992 Tentang Tenaga Kesehatan


dijelaskan bahwa tenaga kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam
pelaksanaan upaya kesehatan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan yang
profesional, dan perawat giugi termasuk dalam rumpun tenaga keperawatan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No


1392/Menkes/SK/XII/2001, tentang Registrasi dan ijin kerja Perawat gigi,
perawat gigi mempunyai tugas pokok merencanakan, mempersiapkan dsan
melaksanakan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut pada individu,
kelomp[ok dan masyarakat di sarana pelayanan kesehatan.

Berkaitan dengan upaya pelayanan kesehatan gigi dsan mulut, maka oerlu
disusun Pedoman Pelayan Asuhan Gigi dan Mulut yang merupakan acuan bagi
perawat gigi dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan
mulut.

B. TUJUAN
1. Meningkatkan profesionalisme perawat gigi dalam pelayanan kesehatan gigi
dan mulut di Puskesmas Poncol.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut di wilayah kerja
Puskesmas Poncol.

C. Ruang Lingkup
Pedoman asuhan kesehatan gigi dan mulut oleh perawat gigi meliputi :
1. Administrasi.
2. Pengumpulan data kesehatan gigi :
a. Penjaringan data kesehatan giugi dan mulut.
b. Pemeriksaan OHIS.
c. Pemeriksaan DMF-T/def-t
3. Promotif :
a. Penyusunan rencana kerja penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.
b. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.
c. Pelatihan kader.
4. Preventif :
a. Sikat gigi masal.
b. Kumur-kumur dengan larutan flour.
c. Pembersihan karang gigi.
1
d. Pengolesan flour.
5. Kuratif :
a. Pencabutan gigi sulung derajat 2 atau lebih.
b. Atraomatic Restorative Treatment (ART).
c. Penumpatan gigi 1 – 2 bidang dengan bahan amalgam.
d. Penumpatan gigi 1 – 2 bidang dengan bahan sewarna gigi.
e. Pencabutan gigi permanen akar tunggal dengan infiltrasi anestesi.
f. Rujuakn.
g. Pencatatan dan Pelaporan.

D. Batasan Operasional
Pelaksanaan strategi operasional pelayanan kesehatan gigi dan mulut di
dasarkan pada kebijakan operasional kesehatan gigi dan mulut sebagai berikut
1. Memberikan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas
Poincol sesuai dengan kopetensinya.
2. Melakukan pembinaan kesehatan gigi anak sekolah (UKGS).
3. Melakukan pembinaan dan pelayanan kesehatan gigi di masyarakat desa
(UKGM).
4. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan.

E. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Republik Indonesia No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 1992, tentang Tenaga Kesehatan.
3. Keputusan Menteri Kesehatan No 1392/Menkes/SK/XII/2001 tentang
Regestari dan Ijin kerja Pereawat Gigi.
4. Permenkes No 75 Tahun 2014.

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Penangguyng jawab program pelayanan kesehatan gigi dan mulut Puskesmas
adalah Fungsional Perawat Gigi terampil, pendidikan minimal D III Keperawatam
gigi.
Pelaksanaan pelayanan program kesehatan gigi di Puskesmas dan jaringannya
adalah Fungsional Perawat Gigi terampil, pendidikan minimal D III Keperawatan
Gigi.
Setiap perawat gigi yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan wajib memiliki .
SIK ( Surat Ijin Kerja )

B. Distribusi Ketenagaan

2
Pengaturan dan penjadualan pelayanan program kesehatan gigi dan mulut
dikoordinir oleh penanggung jawab program sesuai dengan kesepakatan dan
bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas.

C. Jadual Kegiatan
Jadual pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut disepakati dan
disusun bersama dengan program terkait dalam pertemuan lokakarya mini
Puskesmas tiap bulan sekali (sesuai jadual).

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan
Berikut adalah denah ruang klinik gigi dan mulut Puskesmas Poncol
Utara
R Tunggu
1
2

Keterangan :
4
3
3
1. Meja komputer
2. Almari alat.
3. Wastafel.
4. Dental Unit (Kursi Gigi).
5. Meja kerja (administrasi).

B. Standar Fasilitas
1. Peralatan.
1.1. Alat Pemeriksaan
a. Kaca mulut.
b. Pinset.
c. Sonde.
d. Excafator.
1.2. Alat Penambalan
a. Bor
b. Spatel, terdiri dari :
b.1. Semen Spatel
b.2. Agate Spatel.
c. Mixing
d. Plastis.
e. Semen Stopper / semen plugger.
f. Amalgam Stopper.
g. Amalgam Pistol.
h. Amalgam Carver.
i. Burnisher.
j. Mortar dan pestel / Amalgam mator.
k. Timbangan Amalgam.
l. Matrix Holder.
m. Matrix Retainer.
n. Tomgue Holder.
o. Chip Blower.
1.3. Alat Poles
a. Batu Poles.
b. Brush Poles.
c. Karet Poles.
d. Selulloid Strip.
e. Finishing Strip.
1.4. Alat untuk pembersihan karang gigi
a. Manual scaller.
b. Ultra sonic scaller.
1.5. Tang cabut gigi sulung
a. Tang rahang atas.
b. Tang rahang bawqah.
1.6. Alat penambalan untuk ART
1.7. Alat untuk sikat gigi masal
a. Sikat gigi.
b. Gelas kumur.
c. Pasta gigi.
2. Bahan.
2.1. Bahan pemeriksaan
a. Alkohol.
b. Kapas.
c. Khloretil.
2.2. Bahan penambalan
a. Glasionomer (GI).
2.3. Bahan Scalling
a. Betadin.
4
b. Pasta gigi.
c. Pumis.
d. Alkohol.
e. Kapas.

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Konsep Pelayanan
Perawat gigi dalam menjalankan pekerjaannya harus sesuai dengan :
a. Standar pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut.
b. Mematuhi standar profesi.
c. Harus memiliki SIPG dan SIK.
d. Adanya sarana pelayanan kesehatan.
e. Sasaran.
f. Adanya SOP pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

B. Tata Laksana Pelayanan


a. Melaksanakan upaya peningkatan kesehatan giugi dan mulut (Promotif) :
1. Penyuluhan giugi dan mulut kepada individu, kelompok dan masyarakat.
2. Pelatihan kader.
3. Pembuatan dan penggunaan alat peraga penyuluhan.
b. Melaksanakan upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut ( Preventif) :
5
1. Pemeriksaan plak.
2. Tehnik sikat gigi yang baik.
3. Pemeriksaan karang gigi.
4. Pencegahan karies gigi denganb fluor dengan tehnik kumur-kumur dan
pengolesan fluor pada gigi.
5. Penumpatan pit.
6. Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pasien umum.
c. Melakukan tindakan penyembuhan penyakiy gigi :
1. Pengobatan darurat sesuai dengan standar pelayanan.
2. Pencabutan gigi sulung dengan topikal anestesi.
3. Penumpatan gigi sulung dan gigi tetap satu bidang dengan bahan
sewarna gigi.
4. Perawatan pasca tindakan.
d. Melakukan pelayanan hygiene kesehatan gigi :
1. Hygiene petugas kesehatan gigi dan mulut.
2. Sterilisasi alat-alat kesehatan gigi.
3. Pemeliharaan alat-alat kesehatan gigi.
4. Lingkungan kerja.

C. Prosedur Pelayanan
1. Melakukan pencabutan gigi sulung
a. Melakukan identifikasi kasus sesuai dengan indikasi pencabutan gigi
sulung goyang derajat 2 atau lebih.
b. Melakukan komunikasi terapiotik untuk tindakan pencabutan gigi sulung
goyang derajat 2 atau lebih.
c. Melakukan anestesi topical pada mukosa sekitar gigi yang akan dicabut.
d. Melakukan pencabutan gigi.
e. Meletakan tampon dengan antiseptiuk pada luka bekas cabutan.
f. Memberikan instruksi sesudah pencabutan gigi.
2. Melakukan penambalan dengan metode Atraumatic Restorative Treatment
(ART) :
a. Melakukan identifikasi kasus dengan indikasi ART.
b. Melakukan komunikasi terapeutic untuk tindakan ART.
c. Memposisikan pasien dengan posisi mendatar diatas dental unit/meja
datar.
d. Melakukan eksavasi gigi yang bersangkutan.
e. Melakukan manipulasi bahan glass ionomer.
f. Menumpat dan menekan dengan jari pada gigi yang bersangkutan.
g. Mengambil kelebihan tumpatan menggunakan ekskavator.
h. Melakukan polising.
i. Mengintruksiukan tidak makan/minum selama kurang lebih satu jam.

D. Pencatatan dan Pelaporan


1. Pencatatan
1.1. Rekam medik
Rekam mediki menjelaskan keteranga/informasi yang cukup akurat
dan lengkap tentang :
a. Identitas (nama, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pekerjaan).
b. Anamnesa.
c. Perjalanan p[enyakit.
d. Hasil pemeriksaan klinis yang ditemukan.
e. Dokumentasi hasil pemeriksaan.
f. Diagnose penyakit dan rencana terapi.
6
g. Terapi dan tindakan medis yang diberikan serta proses pengobatan
h. Rujukan.
1.2. Inform consent
Inform consent adalah persetujuan tindakan medik yang akan
dilakukan oleh dokter gigi terhadap pasien. Persetujuan diberikan
pasien setelah yang bersangkutan mendapat penjelasan secara
lengkap dari tenaga medik yang sekurang-kurangnya mencakup :
a. Diagnosa dan tata cara tindakan medik.
b. Tujuan tindakan medik yang dilakukan.
c. Alternatif tindakan lain yang mungkin terjadi.
d. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
1.3. Pencatatan kegiatan pelayanan kesehatan gigi di luar gedung
Puskesmas.
2. Pelaporan
Laporan tribulan
Jenis pelaporan upaya kesehatan gigi dan mulut yang harus dilaporkan oleh
klinik gigi dan mulut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten bersamaan dengan
laporan kegiatan Puskesmas yang lainnya.

BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan logistik untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut dicukupi oleh
Puskesmas, diambilkan dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

7
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Standar keselamatan pasien menurut Permenkes Nomor :


1691/Menkes/Per/VIII/2011, meliputi :
1. Hak pasien, sebelum memberikan pelayan petugas harus menyampaikan
hak-hak pasien.
2. Mendidik pasien dsan keluarga, dalam memberikan pelayanan petugas harus
melibatkan peranserta pasien dan keluarganya, sehingga pasien tidak hanya
menjadi objek tetapi bisa menjadi subjek.
3. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan, memperhatikan
keselamatan pasien dari awal samp[ai akhir pelayanan.
4. Komunikasi yang efektif antara petugas dan pasien, komunikasi dua arah.
5. Ketepatan identifikasi pasien dengan penapisan sasaran pelayanan.
6. Kepastian tepat lokasi.
7. Tepat prosedur.
8. Tepat pasien dengan mematuhi SOP yang ada.
9. Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan.
10. Rekam medis dengan SOP.

8
.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan alat kerja, bahan
dan proses pengolahannya.
Landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaannya.
Dari pengertian diatas maka sudah seharusnya setiap petugas yang akan
melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut memperhatikan sbb :
1. Pencegahan infeksi (tempat dan alat).
2. Penyimpanan alat dan bahan yang lain (steril dan non steril).
3. Pengolahan limbah (medis dan non medis).
4. Kepatuhan terhadap penapisan.
5. Kepatuhan terhadap SOP.
6. Informed consent.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Akses terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang bermutu merupakan
syarat pemenuhan dan hak kesehatan individu.
Termasuk didalamnya hak setiap orang untuk memperoleh informasi dan akses
terhadap berbagai metode pelayanan yang aman, efektif, terjangkau dan
akseptabel.
9
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang bermutu harus memenuhi hal-hal
seperti berikut :
a. Petugas harus memenuhi syarat kompetensi.
b. Sarana dan prasarana harus memenuhi syarat standar.
c. Alat-alat harus memenuhi syarat standar.
d. Harus ada standar operasional prosedur dalm melakukan pelayanan.
e. Tercapainya target yang sudah ditentukan,.

BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Klinik Gigi dan Mulut UPTD Puskesmas Poincol ini
disusun untuk melengkapi buku-buku, peraturan-peraturan dan perundangh-
0undangan yang berlaku tentang pelayanan klinis.

Penyusunan buku Pedoman Pelayanan Klinik Gigi dan Mulut ini telah
diusahakan dengan sebaik-baiknya.
Namun demikian tentu masih terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam
penyusunan buku ini.
Untuk itu saran perbaikan dan penyempurnaan Buku Pedoman Pelayanan Klinik
Gigi dan Mulut ini sangat kami harapkam dari berbagai pihak yang terkait dengan
pelayanan dan pendidikan kesehatan demi kesempurnaan Pedoman Pelayanan
Kesehatan Gigi dan Mulut.

10