Anda di halaman 1dari 12

PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS

Hilma Yuniar Thamrin

Pemeriksaan hemostasis dapat dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan


penyaring dan khusus. Pemeriksaan penyaring biasa dilakukan pada pasien yang akan
menjalani operasi, sedangkan pemeriksaan bila terjadi perdarahan maka permintaan
pemeriksaan hemostasis dilakukan berdasarkan atas diagnosis klinis. Bila ada
gangguan hemostasis, pemeriksaan dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan
seperti pemeriksaan klinik yang lebih teliti, riwayat pasien, penggunaan obat-obatan
yang dapat mempengaruhi hemostasis. Penentuan penyebab terjadinya perdarahan
memerlukan beberapa anamnesis yaitu karakteristik perdarahan (terlokalisir atau
menyebar), lama perdarahan dan riwayat keluarga jika ada gangguan perdarahan.
Kelainan hemostasis sekunder maupun prier tidak memperlihatkan gejala
klinis perdarahan sehingga kelainan hemostasis baru diketahui setelah timbul
komplikasi perdarahan akibat trauma, tindakan medis atau setelah pemeriksaan
penyaring. Pemeriksaan laboratorium akan menunjang diagnosis yang didasarkan
atas anamnesis, pemeriksaan fisik dan evaluasi klinik. Berikut akan dibahas jenis-jenis
pemeriksaan yang terkait dengan gangguan hemostasis berdasarkan tahapan-tahapan
hemostasis.

A. HEMOSTASIS PRIMER
1. Waktu Perdarahan (Bleeding Time)
Merupakan waktu lamanya proses perdarahan terjadi, yaitu dihitung
sejak keluarnya darah dari pembuluh darah hingga darah berhenti mengalir
ditempat tusukan.
Tujuan pemeriksaan ini adalah menilai kemampuan vaskuler dan
trombosit dalam menghentikan perdarahan.
Prinsip pemeriksaan ini dengan mengukur waktu antara tusukan yang
dibuat pada kapiler hingga berhentinya aliran darah. Faktor pembekuan

HEMATOLOGI II 1
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
darah yang berperan pada proses ini adalah pembuluh darah kapiler dan
trombosit. ada dua metode yang dapat digunakan :
a) metode duke dilakukan dengan membuat tusukan pada cuping telinga
menggunakan lancet. Waktu perdarahan mulai dihitung dengan
menggunakan stopwatch sampai dengan darah berhenti keluar. nilai
normal berkisar antara 1 – 3 menit.
b) metode ivy dilakukan dengan membendung peredaran darah pada lengan
bagian atas yang dipasang tensimeter dengan tekanan 40 mmHg.
Kemudian kulit lengan bawah ditusuk menggunakan lancet. nilai normal
berkisar 1-6 menit.

2. Perhitungan Platelet
Prinsipnya adalah perhitungan jumlah trombosit melalui mikroskop
setelah pengenceran sampel secara manual atau secara automatic. sampel
yang digunakan adalah darah dengan antikoagulan EDTA. Dalam keadaan
normal jumlah trombosit berkisar antara 150.000 – 450.000/µL darah.

B. JALUR KOAGULASI INTRINSIK


Untuk menilai ada tidaknya kelainan hemostasis pada jalur koagulasi intrinsik,
maka dapat dilakukan pemeriksaan berikut.
1. Whole Blood Clotting Time
Prinsipnya adalah menghitung waktu pembekuan darah ketika
bersentuhan dengan suatu permukaan yaitu saat sampel darah dimasukkan
kedalam tabung kaca kering. Nilai normal 8 – 10 menit.

2. Recalcification Clotting time


Prinsipnya adalah waktu pembekuan dari sampel plasma sitrat yang
mengandung trombosit setelah rekalsifikasi. hasil dari tes sederhana ini
menunjukkan semua faktor yang terlibat dalam endogenus koagulasi, tetapi
sensitivitasnya terlalu rendah untuk profil koagulasi.

HEMATOLOGI II 2
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
3. Activated Partial Tromboplastin Time (aPTT)
Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui ada tidaknya defisiensi
aktivasi faktor pembekuan jalur intrinsik. Faktor-faktor yang masul dalam jalur
intrinsik adalah FI, FVIII, FIX, FXI, FXII. Selain itu juga, digunakan untuk
skrining preoperasi dan memonitor terapi antikoagulan oral, misalnya heparin
yang memberikan hasil aPTT memanjang pada unit 0,1 dan diatasnya.
Prinsip pemeriksaan yaitu dengan mengukur waktu penggumpalan plasma
sitrat yang kekurangan platelet atau trombosit dengan adanya kalsium,
fosfolipid serta activator dari slaah satu faktor-faktor kontak yang berbentuk
kental maupun cair.
Tes aPTT mengukur waktu pembekuan dari plasma tes setelah
penambahan reagen tromboplastin parsial yang diikuti dengan activation time
kemudian ditambahkan kalsium klorida. Adanya defisiensi FVIII, FIX,FXI, dan
FXII pada konsentrasi 40% dan lebih rendah dari itu akan memberikan hasil
aPTT yang memanjang. Heparin merupakan salah satu contoh yang dapat
memberikan hasil aPTT memanjang.

C. JALUR KOAGULASI EKSTRINSIK


Protrombin Time (PT)
Pemeriksaan jalur koagulasi ekstrinsik dapat dilakukan dengan
pengukuran masa protrombin plasma atau Protrombin Time (PT).
Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ada tidaknya defisiensi aktivitas
faktor pembekuan jalur ekstrinsik, yaitu FI, FII, FV, FVII dan FX. Waktu
pembekuan yang memanjang menunjukkan adanya defisiensi pada salah satu
faktor tersebut.
Prinsip pemeriksaan yaitu mengukur waktu terbentuknya bekuan bila
kedalam plasma yang diinkubasi pada suhu 37’C ditambahkan reagen
tromboplastin jaringan yang mengandung ion kalsium dalam bentuk kalsium
klorida. Tromboplastin jaringan yang terdapat dalam reagen akan
mengaktifkan FVII sehingga menjadi sensitive terhadap FII dan FIII.

HEMATOLOGI II 3
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
Hasil pemeriksaan dilaporkan dalam bentuk detik, aktivitas protrombin
dan INR. Rasio (INR) yaitu nilai PT pasien dan nilai rata-rata PT plasma
normal. Hasil ini dipengaruhi oleh kepekaan tromboplastin yang dipakai dan
teknik pemeriksaan. Karena itu pemeriksaan yang dilakukan harus selalu
disertai control dengan plasma normal. Nilai normal PT tergantung dari
reagen, cara pemeriksaan dan alat yang digunakan.

D. PEMBENTUKAN FIBRIN
1. Masa Trombin (Trombin Time / TT)
Enzim Trombin merupakan protein yang berperan dalam proses
pembekuan dengan mengubah fibrinogen larut menjadi fibrin yang tidak
larut. Reagen thrombin telah terbukti sangat berguna dalam evaluasi
laboratorium pada diagnosa penyakit yang disebabkan oleh kelainan
fibrinogen, termasuk hipofibrinogenemia dan disfibrinogenemia.
Prinsip pemeriksaan yaitu dengan mengukur lamanya terbentuk bekuan
bila kedalam plasma ditambahkan reagen thrombin. Waktu pembekuan
thrombin yang memanjang akan terjadi pada sampel dengan kadar fibrinogen
sekitar 100 mg/dl dan kurang dari 10 mg/dl. Beberapa hal yang dapat
menyebabkan thrombin time memanjang seperti nonfunctional fibrinogen
molecules (disfibrinogenemia), kehadiran heparin dll.

2. Pengujian Plasma Fibrinogen


Pemeriksaan ini terbukti sangat berguna dalam membantu diagnosa
penyakit hemoragik yang berhubungan dengan plasma fibrinogen.
pemeriksaan dilakukan dengan membuat standar kurva menggunakan
referensi plasma yang sudah diketahui konsentrasinya. Pada saat penambahan
thrombin, waktu pembekuan yang dihasilkan berbanding terbalik dengan
konsentrasi fibrinogen. Untuk plasma pasien, waktu pembekuan ditentukan
dengan menggunakan pengenceran plasma sampel kemudian direaksikan
dengan reagen thrombin. Waktu pembekuan yang dihasilkan digunakan

HEMATOLOGI II 4
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
untuk mengetahui kadar fibrinogen berdasarkan kurva standar. Kadar plasma
fibrinogen normal berkisar antara 200-400 mg.dl

E. FIBRINOLISIS
D-Dimer
Produk akhir dari proses fibrinolysis berupa FDP (Fibrin Degradation
Product) dapat dibagi menjadi beberapa fragmen dan salah satunya addalah
D-Dimer. Oleh karena itu D-Dimer dapat digunakan untuk pemeriksaan tahap
fibrinolysis dengan menentukan secara kuantitatif jumlah D-Dimer dalam
plasma.
Adanya D-Dimer dalam sampel akan bereaksi dengan partikel lateks
membentuk agregat. Kemudian Agregat ini akan membesar dan menyebabkan
penurunan penyebaran sinar. Perubahan proses ini sebanding dengan jumlah
D-Dimer dalam sampel. Partikel lateks yang dilapisi dengan antibody
monoclonal yang akan bereaksi dengan fibrin D-Dimer, namun tidak akan
bereaksi dengan fibrinogen, sehingga dapat menentukan adanya D-Dimer
dalam plasma manusia.
Nilai normal D-Dimer adalah kurang dari 100 ng/ml, nilai tersebut
didapat bila preanalitik dan alat pemeriksanya tidak memiliki faktor
kesalahan.

HEMATOLOGI II 5
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
Tes Activated Partial Tromboplastin Time (APTT)

Uji ini dilakukan pada spesimen darah yang telah diberi sitrat. Plasma dikeluarkan
dan diletakkan di tabung sampel, tempatzat ini direkalsifikasi, dan ditambahkan
reagen yang mengandung suatu faktor aktif permukaanseperti kaolin dan fosfolipid.
Uji ini dapat dilakukan secara manual atau dapat dievaluasi dengan menggunakan
instrument otomatis yang mengeluarkan reagen yang bersangkutan.

Pemeriksaan masa tromboplastin parsial atau APTT (activated parsial


tromboplastin time) berujuan untuk menilai aktifitas faktor koagulasi intrinsik, yaitu
faktor VII, IX, XI, XII, pre-kalikrein, kininogen, X, V, protrombin dan fibrinogen. Tes
ini untuk memonitor terapi heparinatau dapat juga untuk mengetahui adanya
circulatin anticoagulant.

APTT lebih sensitive dalam mendeteksi kelainan faktor pembekuan daripada PPT
karena aktivator yang ditambahkan secara invitro memperpendek waktu
pembekuan. Dengan memperpendek waktu pembekuan, kelainan pembekuan minor
dapat dideteksi.

PRA ANALITIK
1. Persiapan pasien
Tidak lakukan persiapan khusus

2. Persiapan sampel
a. Sampel darah dapat diperoleh melalui vena punksi
b. Anti koagulan yang dipakai adalah sodium citrate 3,2 % atau 3,8 %
dengan perbandingan 9 : 1 (9 bagian darah : 1 bagian natrium sitrat).
Sampel darah disentrifus selama 10 - 15 menit dengan kecepatan 2000
rpm.

HEMATOLOGI II 6
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
c. Penampung tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menginduksi
aktivasi kontak seperti gelas berlapis silicon atau plastik.

3. Prinsip
Tes APTT adalah tes yang dilakukan dengan menambahkan reagen APTT yang
mengandung aktivator plasma dan fosfolipid pada sampel tes.
Fosfolipidberfungsi sebagai pengganti platelet. Campuran diinkubasi selama
3 - 5 menit untuk aktivasi optimum, kemudian direkalsifikasi dengan kalsium
klorida dan beberapa saat terbentuk bekuan.

4. Alat
a. Tabung reaksi
b. Incubator
c. Rak tabung
d. Batang pengaduk
e. Stopwatch

5. Bahan
a. Plasma sitrat
b. Reagen APTT
c. Kalsium klorida (CaCl2) 0,025 M

ANALITIK
Cara Kerja
a. CaCl2 0,025 M secukupnya diinkubasi dalam waterbath 370C
b. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 0,1 ml (100 µl) plasma penderita,
kemudian tabung dimasukkan kedalam waterbath dan dibiarkan selama 1
menit.
c. Ditambahkan 0,1 ml (100 µl) tromboplastin parsial (fosfolipid), dikocok
sebentar dan dibiarkan dalam waterbath selama 2 - 3 menit.

HEMATOLOGI II 7
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
d. Ditambahkan 0,1 ml (100 µl) larutan CaCl2 0,025 M yang telah diinkubasi dan
pada saat yang sama stopwatch dihidupkan.
e. Dicek adanya bekuan fibrin dengan menggunakan ose tumpul/bulat. Tepat
pada saat terlihat benang fibrin stopwatch dimatikan dan dicatat waktu
pembekuaannya. Atau dengan mengangkat tabung dari waterbath kemudian
menggoyangkan tabung ke muka dan ke belakang sampai tampak bekuan.
f. Dengan cara yang sama, dikerjakan pula control plasma normal.

PASCA ANALITIK
Nilai Rujukan : 30 - 45 detik

Tes Protrombin Time

Masa protrombin adalah uji koagulasi yang sering dilakukan. Masa protrombin
plasma (plasma protrombin time, PPT) menilai kemampuan faktor koagilasi
ekstrinsik, yaitu faktor I (fibrinogen), faktor II (protrombin), faktor V (proakselerin),
faktor VII (prokavertin) dan faktot X (faktor stuart).

Telah direkomendasikan bahwa PPT dijadikan sebagai Internatonal Normalized


Ratio (INR). INR merupakan rancangan untuk memperbaiki proses pemantauan
terhadap terapi antikoagula warfarin. Respon penderita bervariasi terhadap dosis
yang sama dari warfarin sehingga INRdigunakan sebagai uji yang terstandarisasi
Internasional untuk PPT.

PRA ANALITIK
1. Persiapan pasien
Tidak dilakukan persiapan khusus

HEMATOLOGI II 8
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
2. Persiapan sampel
a. Sampel darah dapat diperoleh melalui vena punksi
b. Anti koagulan yang dipakai adalah sodium citrate 3,2% atau 3,8% dengan
perbandingan 9 : 1 (9 bagian darah : 1 bagian natrium sitrat). Sampel
darah disentrifus selama 10-15 menit dengan kecepatan 2000 rpm.
c. Penampung tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menginduksi
aktivasi kontak seperti gelas berlapis silicon atau plastic.

3. Prinsip
Protrombin time, PT tahap pertama mengukur waktu bekuan dari
plasma setelah penambahan faktor jaringan (trombolastin) dan kalsium.
Rekalsifikasi dari plasma dengan adanya faktor jaringan menimbulkan aktivasi
faktor X, akibatnya membentuk thrombin dan berakhir menjadi bekuan fibrin.

4. Alat
a. Tabung reaksi
b. Incubator
c. Rak tabung
d. Batang pengaduk

5. Bahan
a. Plasma sitrat
b. Reagen tromboplastin dan CaCl2

ANALITIK
Cara Kerja
a. Reagen tromboplastin 200 µl dimasukkan dalam tabung 1
b. Plasma sitrat 200 µl dimasukkan dalam tabung 2

HEMATOLOGI II 9
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
c. Tabung 1 dan 2 diinkubasi selama 3 menit dalam inkubator yang bersuhu
370C
d. Ambil plasma 100 µl pada tabung 2, masukkan dalam tabung 1
e. Jalankan stopwatch, aduk amati hingga terjadi bekuan
f. Hentika stopwatch ketika sudah tampak bekuan fibrin
g. Tes diulang pada plasma control

PASCA ANALITIK
Nilai Rujukan : 10 – 14 detik
INR 2,0 – 3,0

Waktu Perdarahan (BT=Bleeding Time)

Masa perdarahan (bleeding time, BT) adalah uji laboratorium untuk menentukan
lamanya tubuh menghentikan perdarahan akibat trauma yang dibuat secara
laboratoris. Waktu perdarahan tergantung atas ketepatgunaan cairan jaringan dalam
memacu koagulasi, fungsi pembuluh darah kapiler dan trombosit. Metode yang
digunakan yaitu metode Duke dan metode Ivy.

PRA ANALITIK

1. Persiapan Pasien

a. Jelaskan bahwa tes waktu perdarahan digunakan untuk mengukur waktu


berhentinya perdarahan atau terjadinya koagulasi.

b. Jelaskan bahwa tidak ada larangan makan atau minum sebelum tes.

HEMATOLOGI II 10
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
c. Jelaskan hal yang diperlukan.seperti dipasangi alat pengukur tekanan
darah, diinsisi kecil dua garis dan akan nada perdarahan sekitar 10-20
menit.

d. Ditanyakan apakah pasien mengkomsumsi obat sebelum tes yang dapat


memperpanjang perdarahan seperti thiazid, sulfonamide, antineoplastik,
antikoagulan atau anti inflamasi, aspirin.

2. Alat dan Bahan


a. Lanset

b. Kapas Alkohol

c. Kertas saring atau tissue

d. Plester

e. Stopwatch

f. Tensimeter

ANALITIK
1. Cara Duke

a. Disinfeksi cuping telinga dengan kapas alkohol 70% dan biarkan kering.

b. Tusuklah pinggir anak daun telinga dengan lanset sedalam 2-4 mm jika
terlihat darah mulai keluar jalankan stopwatch.

c. Lap dengan kertas saring atau tissue tiap 30 detik sampai perdarahan
berhenti, tanpa menyentuh permukaan kulit.

d. Hentikan stopwatch pada waktu darah tidak keluar lagi.

e. Catat waktu perdarahan tersebut.

HEMATOLOGI II 11
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS
2. Cara Ivy
a. Bersihkan bagian voler lengan bawah dengan alcohol 70% dan biarkan
kering lagi.

b. Kenakan ikatan sfigmomamometer pada lengan atas dan pompalah


sampai tekanan 40 mmHg. Selama percobaan berlangsung tekanan harus
tetap.

c. Tegangkanlah kulit lengan bawah dengan sebelah tangan dan tusuklah


dengan lanset darah pada satu tempat kira-kira 3 jari dibawah siku sampai
3 mm dalamnya.

d. Jika darah mulai keluar jalankan stopwatch.

e. Isaplah tetes darah yang keluar jalankan stopwatch.

f. Isaplah tetes darah yang keluar tiap 30 detik memakai tissue atau kertas
saring, jagalah jangan sampai menekan kulit waktu mengisap darah.

g. Hentikan stopwatch pada waktu darah tidak dapat diisap lagi dan catatlah
waktunya.

PASCA ANALITIK
Nilai Rujukan
1. Metode Duke : 1-7 menit
2. Metode Ivy : 1-8 menit

HEMATOLOGI II 12
PROFIL PEMERIKSAAN HEMOSTASIS