Anda di halaman 1dari 48

ALAT BANTU PENANGKAPAN IKAN

MATA KULIAH METODOLOGI PENANGKAPAN IKAN

Dosen Pembimbing :

Dr. Sunarto, Spi., Msi

Disusun Oleh :

Kelompok 8

Anggota :

Nama NPM Penilaian


M. Fikri 230210140005
Wisnu P.U 230210140018
Naomi D.J.F 230210140033
Angga F 230210140053
Haifa H.J 230210140059

ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2015
KATA PENGANTAR

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan segala nikmatnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini hingga selesai. Terima kasih kepada orang tua yang
selalu memberikan dorongan dan doanya agar penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Terima kasih pula kepada dosen yang selalu memberikan arahan dan masukan-masukan
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini hingga selesai. Tidak lupa
penulis juga mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekeliruan yang terjadi,
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dalam
menyelesaikan makalah ini pasti ada saja kekurangan atau pun kesalahan yang penulis miliki,
oleh karena itu penulis mohon maaf apabila ada kekurangan ataupun kesalahan yang di
sengaja maupun yang tidak di sengaja. Seperti kata pepatah yang mengatakan tidak ada
gading yang tidak retak.

Jatinangor, 26 Februari 2016

Penulis

2
DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR ......................... ......................................................... ...... 2


DAFTAR ISI................................................................................................... .... .. 3
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang …… .............................................................................. ...... 4


1.2 Rumusan Masalah …… ......................................................................... ...... 4
1.3 Tujuan ......…… ..................................................................................... ...... 4

II PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Alat ...... .................................................................................. ...... 5


2.2 Bagian dan Dimensi Alat Bantu Penangkapan...................................... . 21
2.3 Metode Operasional ................................................................................ ...... 28
2.4 Ikan Target ....................................................................................... ...... 30
2.5 Tugas dan Kewajiban ABK..................................................................... 31

DAFTAR PUSTAKA … ................................................................................ ...... 48

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Mata kuliah Metode Penangkapan ikan berisi penjelasan tentang bahan, alat dan
sarana penangkapan ikan, kapal perikanan, cara menangkap ikan, metode penangkapan
ikan dengan jaring insang (gill net), pukat cincin (purse seine), rawai tuna (tuna long
line), trawl, huhate dan lain-lain. Makalah ini membahas pula mengenai alat bantu
penangkapan.
Mata kuliah ini bertujuan untuk memberi pengetahuan yang dapat digunakan
untuk menjelaskan berbagai metode penangkapan ikan. Dari penjelasan ini, kita dapat
memilih dan membedakan antara alat tangkap yang ramah lingkungan dengan alat
tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kesesuaian alat tangkap dengan konservasi
sumber daya laut saat ini sangat penting mengingat ada kecenderungan eksploitasi besar-
besaran terhadap sumber daya ikan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Sebagai mahasiswa bidang kelautan, melalui pemahaman yang diperoleh tentang
metode penangkapan ikan maka akan dapat menganalisis penggunaan alat tangkap dan
penanganan hasil tangkapan secara benar dan tepat. Di samping itu, pemahaman yang
diperoleh juga dapat digunakan sebagai dasar berpikir dalam merumuskan dan
menerapkan kebijakan-kebijakan di bidang perikanan khususnya penangkapan ikan
(Metode Penangkapan Ikan/MMPI5203).

1.2.Rumusan Masalah

1. Deskripsi alat bantu penangkapan?


2. Bagian dan dimensi dari alat bantu penangkapan?
3. Cara pengoperasian dari alat bantu penangkapan?
4. Target hasil tangkapan dengan penggunaan alat bantu penangkapan?

1.3.Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi alat bantu penangkapan.


2. Untuk mengetahui bagian dan dimensi dari alat bantu penangkapan.
3. Untuk mengetahui cara pengoperasian dari alat bantu penangkapan.
4. Untuk mengetahui target hasil tangkapan dengan penggunaan alat bantu penangkapan.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Deskripsi Alat

Untuk mendapat hasil tangkapan yang sesuai, di perlukan teknik penangkapan


yang sesuai dengan fish behavior, menurut Von Brandt, 1984 dalam Sudirman dan
Mallawa, 2004. Teknik penangkapan ikan dapat diklasifikasikan dalam 16 jenis, sebagai
berikut :
1. Penangkapan ikan dengan tidak menggunakan alat (misalnya menangkap dengan
menggunakan tangan secara langsung).
2. Penangkapan ikn dengan menjepit dan menggunakan alat untuk melukai (misalnya
dengan tombak)
3. Penangkapan ikan dengan memabukkan. (secara mekanik bisa denganmelakukan
pemboman, secara kimiawi dilakukan dengan racun dan arus listrik).
4. Penangkapan ikan dengan menggunakan pancing (semua jenis pancing)
5. Penangkapan ikan dengan menggunakan perangkap (misalnya sero, bubu)
6. Penangkaan ikan dengan menggunakan perangkap terapung (digunakan untuk
menangkap ikan-ikan yang sedang melompat).
7. Bagnets (misalnya dengan scoop net)
8. Penangkapan dengan menarik alat tangkap (misalnya jenis-jenis trawl)
9. Seine nets yaitu alat tangkap yang menggunakan sayap kemudi(misalnya jenis-
jenis trawl)
10. Surrounding nets yaitu alat tangkap yang melingkari gerombolan ikan dengan
menutup pada bagian tepi dan bagian bawah jaring, (misalnya pada alat tangkap
perse seine).
11. Drive in nets (biasanya alat tangkap skala kecil, misalnya jaring yang ditarik
dengan tangan untuk menangkap ikan).
12. Lift nets yaitu semua jenis jaring angkat (misalnya bagan)
13. Falling gear, yaitu alat tangkap yang cara penangkapannya dilakukan dengan
membuang alat dari atas kebawah (misalnya jala lempar)
14. Gill net, yaitu semua jenis jaring insang (misalnya jaring insang hanyut).
15. Tangle nets, yaitu penangkapan dengan alat tangkap jaring, dengan maksud agar
ikan terbelit misalnya jaring klitik.
16. Harvesting machinnes yaitu semua jenis alat tangkap yang disebutkan di atas yang
semua penanganannya denga mesin (misalnya fish pump).
Dengan mengetahui tingkah laku ikan, nelayan menggunakan alat bantu yang
berfungsi untuk menarik perhatian ikan agar mendekati alat tangkap ataupun mendekat
ke arah daerah penangkapan, seperti menggunakan rumpon, cahaya ataupun alat bantu
lainnya yang bisa menarik perhatian ikan (Sudirman dan Mallawa, 2000).
Dalam PER 50 MEN 2011, Alat bantu penangkapan ikan adalah sarana dan
perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan.

5
Pengadaan alat bantu penangkapan ikan ini diprioritaskan bagi nelayan yang tergabung
dalam Kelompok Usaha Bersama, memiliki kapal dan diprioritaskan berlokasi di
kawasan yang telah ditetapkan menjadi kawasan minapolitan atau lokasi Program
Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) dilakukan dengan syarat memiliki:

- Bukti kepemilikan kapal calon penerima; dan


- Spesifikasi teknis kapal calon penerima yang diketahui oleh dinas
kota/kabupaten setempat yang membidangi urusan perikanan.
Pengadaan alat bantu penangkapan ikan disesuikan dengan kebutuhan, dapat
berupa: rumpon, alat bantu navigasi/instrument nautika kapal perikanan, global
positioning system, alat bantu pendeteksi ikan (fish finder), lampu, radio komunikasi,
alat keselamatan awak kapal (life jacket, life buoy, pemadam kebakaran, dan lain-lain),
serta perlengkapan alat bantu penangkapan ikan.

2.1.1. Rumpon

Gambar 1. Rumpon

Rumpon adalah suatu alat bantu dalam kegiatan penangkapan ikan yang
dipasang dan ditempatkan di dalam perairan laut di lokasi daerah penangkapan
(fishing ground) agar ikan-ikan tertarik untuk berkumpul di sekitar rumpon sehingga
mudah untuk ditangkap dengan alat penangkapan ikan. Ikan-ikan kecil berkumpul di
sekitar rumpon karena terdapat lumut dan plankton yang menempel pada atraktor
rumpon. Ikan-ikan kecil ini mengundang ikan-ikan lebih besar pemangsanya dan
demikian seterusnya sampai ikan tuna juga berada di sekitar rumpon laut dalam pada
jarak tertentu.

Posisi letak rumpon, pemeliharaan rumpon dan jumlah rumpon sangat


menentukan tingkat produksi nelayan. Umumnya nelayan meletakkan rumpon di laut

6
dibantu menggunakan alat GPS Receiver (Global Positioning System) agar titik
koordinatnya di ketahui secara pasti, mudah dikenali dan dicari.

 Jenis-jenis rumpon

Rumpon terdiri dari rumpon hanyut dan rumpon menetap.


1. Rumpon hanyut adalah rumpon yang ditempatkan tidak menetap, tidak
dilengkapi dengan jangkar dan hanyut mengikuti arah arus.
2. Rumpon menetap, adalah rumpon yang ditempatkan secara menetap dengan
menggunakan jangkar dan/atau pemberat, yang terdiri dari :
a. Rumpon permukaan, merupakan rumpon menetap yang dilengkapi dengan
atraktor yang ditempatkan di kolom permukaan perairan untuk
mengumpulkan ikan pelagis.
b. Rumpon dasar, merupakan rumpon menetap yang dilengkapi dengan
atraktor yang ditempatkan di dasar perairan untuk mengumpulkan ikan
demersal.

 Wilayah Pemasangan Rumpon dan Perizinannya

Rumpon dapat dipasang diwilayah :

1. Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik
surut terendah ;
2. Perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai
pada titik surut terendah ;
3. Perairan diatas 12 mil laut dari Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Pemasangan rumpon tersebut baik oleh perorangan maupun perusahaan


berbadan hukum wajib memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat yang
berwenang. Pengajuan izin tersebut ditujukan kepada :

a) Bupati/Walikota atau Pejabat yang bertanggung jawab di bidang perikanan,


untuk pemasangan rumpon di wilayah perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil
laut ;
b) Gubernur atau Pejabat yang bertanggung jawab di bidang perikanan, untuk
pemasangan rumpon di wilayah perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12
mil laut ;
c) Direktur Jenderal (Perikanan Tangkap) atau Pejabat yang ditunjuk, untuk
pemasangan rumpon di wilayah perairan diatas 12 mil laut dan Zone Ekonomi
Eksklusif Indonesia

Ada beberapa prediksi mengapa ikan senang berada di sekitar rumpon :


1. Rumpon tempat berkumpulnya plankton dan ikan-ikan kecil lainnya, sehingga
megundang ikan-ikan yang lebih besar untuk tujuan feeding.
2. Merupakan suatu tingkah laku dari berbagai jenis ikan untuk berkelompok di
sekitar kayu terapung seperti jenis-jenis tuna dan cakalang (inoue 1963, dalam

7
Monintja,1993 dalam Sudirman, 2004). Dengan demikian, tingkah laku ikan ini
dimanfaatkan untuk tujuan penangkapan.

Kepadatan gerombolan ikan pada rumpon deketahui oleh nelayan berdasarkan


buih atau gelembung-gelembung udara yang timbul di permukaan air, warna air yang
gelap merupakan pengaruh gerombolan ikan atau banyaknya ikan –ikan kecil yang
bergerak di sekitar rumpon.

2.1.2. Lampu/ Light Fishing

Gambar 2. Lampu Penangkapan

Lampu merupakan Alat pengumpul ikan yang menggunakan pemikat/atraktor


cahaya atau lampu berfungsi untuk memikat ikan agar berkumpul. Pada mulanya
penggunaan lampu untuk penangkapan masih terbatas pada daerah-daerah tertentu
dan umumnya dilakukan hanya di tepi-tepi pantai dengan menggunakan jaring pantai
(beach seine), serok (scoop net) dan pancing (handline). Pada tahun 1953
perkembangan penggunaan lampu untuk tujuan penangkapan ikan tumbuh dengan
pesat bersamaan dengan perkembangan bagan (jaring angkat, lift net) untuk
penangkapan ikan. Saat ini pemanfaatan lampu tidak hanya terbatas pada daerah
pantai, tetapi juga dilakukan pada daerah lepaspantai yang penggunaannya
disesuaikan dengan keadaan perairan seperti alat tangkap payang, purse seine,
boukemi dan sebagainya. Penggunaan cahaya (lampu) untuk penangkapan ikan di
Indonesia dan siapa yang memperkenalkannya belumlah jelas. Meskipun demikian di
daerah-daerah perikanan Indonesia Timur, khususnya dimana usaha penangkapan
cakalang dengan pole and line dilakukan sekitar tahun 1950 ditemukan kurang lebih
500 buah lampu petromaks yang digunakan untuk penangkapan, dimana tempat-
tempat lain belum digunakan (Subani, 1983).

8
Penggunaan cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali
dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan,
kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia
penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni digunakan pada tahun
1948 (Nikonorov, 1975).

Setelah manusia mengetahui bagaimana membuat api, mereka jugga


menemukan bahwa beberapa jenis ikan ternyata tertarik oleh cahaya. Namun, tidak
diketahui dengan pasti kapan manusia memulai penangkapan ikan dengan
menggunakan alat bantu cahaya (Yami, 1987 dalam Sudirman, 2004). Berawal dari
sinilah penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya berkembang terus.
Penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya itulah yang disebut light
fishing. Dengan demikian, cahaya hanyalah merupakan alat bantu penangkapan ikan
yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan dalam suatu areal penangkapan (cathabel
area) kemudian ditangkap dengan berbagai jenis alat tangkap

 Penyebab Ketertarikan Ikan pada Cahaya


Pada dasarnya ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan
rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Peristiwa tertariknya ikan
terhadap cahaya disebut phototaxis (Sudirman and Mallawa 2004). Sehingga
dengan demikian ikan yang tertarik dengan cahaya adalah ikan yang mempunyai
sifat phototaxis, yang umumnya adalah ikan pelagis dan sebagian ikan demersal.
Sedangkan ikan yang tidak tertarik dengan cahaya atau menjau.hi cahaya biasa
disebut fotophobi, dan adapula yang menyebutnya dengan fototaxis negative.
Menurut penelitian tingkah laku ikan, telah diketahui bahwa rangsangan cahaya
antara 0,01-0,001 lux, ikan sudah memberikan reaksi, namun ambang cahaya
tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti. Ikan mempunya suatu
kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada siang hari dengan
kekuatan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali.
Kalau cahaya biru-hijau yuang mampu diterima oleh mata manusia hanya 30%
saja, maka mata ikan mampu menerimanya sebesar 75%, sedangkan retina mata
dari beberapa jenis ikan air laut dapat menerima sebesar 90%. Jadi bisa
disimpulkan bahwa batas ambang cahaya yang mampu diterima ikan lebih tinggi
daripada manusia. Cahaya yang masuk ke mata ikan akan diteruskan ke otak pada
bagian cone dan rod, yang sangat peka terhadap cahaya.

 Fungsi Cahaya pada Lampu


1. Search light, yaitu cahaya yang digunakan untuk mencari gerombolan ikan
dengan demikian jarak jangkauan dari lampu ini sangat jauh. Cahaya ini
digunakan pada tahap awal operasi penangkapan. Biasanya untuk jenis lampu
ini digunakan lampu yang memiliki cahaya dengan karakteristik panjang
gelombang pendek seperti cahaya biru. Lampu yang bercahaya biru
mempunyai panjang gelombang paling pendek namun daya embus ke dalam
perairan relatif paling jauh dibandingkan warna cahaya tampak lainnya,

9
sehingga baik secara vertikal maupun horizontal cahaya tersebut mampu
mengkover luasan yang relatif luas dibandingkan sumber cahaya tampak
lainnya.
2. Attracting fish shoal yaitu cahaya yang digunakan untuk menarik ikan ke
dekat kapal. Digunakan cahaya yang memiliki frekuensi yang relatif rendah.
3. Leading to fishable area yaitu cahaya yang digunakan untuk menggiring ikan
ketempat operasi penangkapan (di atas jaring).
4. Concentracting fish to middle area yaitu cahaya yang digunakan untuk
mengkonsentrasikan ikan diatas jaring. Cahaya ini digunakan ketika tahap
akhir pengoperasian penangkapan ikan. Adapun cahaya yang biasa digunakan
adalah cahaya berwarna merah. Cahaya merah memiliki panjang gelombang
yang relatif panjang diantara cahaya tampak lainnya, sehingga mempunyai
daya jelajah yang relatif terbatas.

2.1.3. Alat Bantu Navigasi

Sejak manusia mengenal sarana apung sebagai alat transportasi sarana


penangkapan, maka sejak itu pula tindakan navigasi telah dilakukan, yaitu suatu cara
yang dilakukan secara terus menerus untuk mengarahkan sarana apungnya menuju
suatu titik sasaran dengan tepat, hemat dan efisien. Untuk mencapai titik sasaran
tersebut selain dengan menggunakan cara yang telah disebutkan diatas, dapat juga
dengan menggunakan alat bantu agar memudahkan dalam pencapaian sasaran yang
dimaksud (Wahyono dan Sjarif, 2004).
Beberapa jenis alat bantu navigasi antara lain :

a. Kompas
Kompas adalah alat navigasi yang digunakan untuk menentukan arah atau
haluan kapal saat berlayar. Menurut bahan yang mengerakan jarum kompas,
kompas terbagi menjadi 2 macam yaitu kompas giro dan kompas magnet.
Sedangkan kompas terdapat 2 jenis berdasarkan penepataan piringan pedomaanya
yaitu kompas kering dan kompas basah, pada kapal ini mengunakan kompas basah.
Kompas berfungsi untuk menunjukan arah mata angin seperti arah Utara, Selatan,
Timur, dan Barat.
Sementara kompas yang digunakan pada kapal bagan perahu KM Lumba-
lumba 02 ini termasuk kompas basah dan hanya 1 unit.

10
Gambar 3. Kompas KM Lumba-lumba 02

Kompas magnet, berfungsi untuk menentukan arah pelayaran kapal dan


untuk menentukan arah baringan suatu benda terhadap kapal. Pedoman magnet di
kapal biasanya terdiri dari : Pedoman standart, Pedoman kemudi dan Pedoman
kemudi darurat.

b. Peta Laut
Peta laut merupakan semua jenis peta yang digunakan untuk keperluan
navigasi di lautan. Ia menggambarkan keadaan rinci tentang wilayah laut yang
aman dilayari kapal-kapal, denagn tanda-tanda kedalaman air, adanya bahaya-
bahaya navigasi baik yang kelihatan (di atas permukaan air) maupun yang terdapat
di bawah permukaan air, serta benda-benda petunjuk untuk bernavigasi.

c. Global Positioning System (GPS)


GPS yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan
gelombang radio dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi,
merekam arah haluan dan kecepatan kapal.
GPS adalah suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit. Tipe GPS
yang digunakan adalah Furuno GP 32 dan hanya 1 unit. Fungsi dari alat bantu
navigasi ini antara lain, menghitung jarak dan arah dari lokasi tempat kita berada,
mengarahkan kita dari satu lokasi ke lokasi lain dengan simbol berupa grafik,
menyimpan rute perjalanan kita dan mengantar kita kembali dengan rute sama,
berfungsi sebagai kompas yang dapat menuntun kita ke arah yang tepat, serta dapat
digunakan sebagai penunjuk arah di kapal, beberapa GPS dapat menunjukkan peta
jalan-jalan utama, sungai-sungai.

11
Gambar 4. GPS (Global Positioning System)

d. Radar
Radar digunakan untuk mendeteksi obyek (sasaran) berdasarkan prinsip
pengukuran waktu tempuh yang diperlukan untuk merambatkan pulsa (denyut)
sinyal gelombang elektromagnetik, sejak sinyal tersebut dipancarkan oleh
transmitter hingga gema (echo) yang dipantulkan oleh obyek diterima pada
receiver. Sinyal elektromagnetik yang dipantulkan oleh target (sasaran) ke pesawat
penerima tersebut selanjutnya tergambar pada Display unit.

e. Radio komunikasi
Radio komunikasi adalah keseluruhan sistem gelombang suara yang
dipancarkan dari suatu stasiun dan dapat diterima oleh pesawat-pesawat penerima
(receiver) seperti dikapal dll.pada kapal lumba-lumba 02 memiliki 2 radio
komunikasi, namun hanya 1 saja yang aktif digunakan.
Peralatan bantu ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang satu dan
kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar. Terdapat 3
frekuensi yaitu : VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF
(Medium Frequency). Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai
frekuensi. Tapi yang sering digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.

Gambar 5. Radio komunikasi

12
f. Fish finder
Fish finder yang dalam bahasa Indonesianya disebut Perm Gema adalah
merupakan salah satu peralatan elektronik yang terdapat dikapal, digunakan untuk
mendeteksi dan mengukur kedalaman air laut, serta dapat dimanfaatkan untuk
bernavigasi. Prinsip kerja fish finder adalah pengukuran kedalaman laut
berdasarkan pulsa getaran suara. Pulsa-pulsa getaran suara tersebut dipancarkan
dari transducer kapal merambat melalui media air laut secara vertikal kedasar laut,
kemudian dasar laut atau target lainnya seperti ikan dan lain-lain , akan
memantulkan pulsa tadi yang kemudian diterima oleh transducer kapal.
Selang waktu pulsa saat dipancarkan, hingga kembali kembali ke receiver
dapat dihitung, sedangkan kecepatan merambat suara diair laut dapat dikatakan
tetap, sehingga separuh waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara diair
dapat dihitung sebagai kedalaman air. Fungsi dari fish finder ini adalah selain
untuk mengukur kedalaman laut, dapat juga digunakan untuk mendeteksi dan
mencari gerombolan ikan terutama ikan-ikan demersal. Selain itu dapat digunakan
untuk melihat bentuk kontur dasar perairan serta jenis dasar perairan.

Gambar 6. Fish Finder

2.1.4. Bagan Perahu

Bagan perahu (lift net) ini menggunakan jaring dengan panjang total 30 m dan
lebar 30 m, berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran mata jaring 0,5cm dan
bahannya terbuat dari waring. Jaring ini dirangkai satu demi satu sehingga
membentuk segi empat besar, pada bagian tepi jaring terdapat tali ris yang berfungsi
untuk menguatkan tepi jaring sehingga tidak terbelit. Kemudian di tepi jaring
dilengkapi tali penggulung sebanyak 8 buah yang menghubungkan bingkai bagan
dengan net haulerr, panjang tali sekitar 60 m, dengan diameter 2,5 cm yang terbuat
dari polyethylene.

13
Gambar 7. Alat Tangkap Bagan KM Lumba-lumba 02

2.1.5. Net Haulerr


Net haulerr adalah alat bantu pada kapal bagan perahu yang digunakan untuk
penarikan jaring yang telah dioperasikan, agar jaring diangkat lebih ringan ditarik dan
mudah ditata kembali di atas geladak. Cara pengoperasian jaring angkat adalah hanya
dengan menarik tali ris jaring kemudian dibelitkan ke dalam roda pada net hauler
setelah itu net hauler di jalankan lagsung. Net hauler yang digunakan kapal
penagkapan ikan ini mengunakan tenaga pengerak mesin diesel dengan merek DJ
200, jumlah di kapal 1 unit.

Gambar 8. Net haulerr

2.1.6. Capstan

Capstan merupakan alat bantu penangkapan yang digunakan untuk membantu


meringankan dalam menarik dan mengulur tali jangkar, sehingga penarikan tali
jangkar tidak terlalu berat. Penempatan Capstan ini pada bagian depan sisi kanan dan
kiri rumah geladak kapal. Gambar dari Capstan yang digunakan pada alat tangkap
bagan perahu adalah sebagai berikut:

14
Gambar 9. Kepala capstan (Kiri) Gambar 10. Kepala capstan (Kanan)

Kapstan

Seperti yang terlihat pada gambar 10, Capstan tidak dilengkapi dengan katrol,
sehingga walaupun dapat membantu mempermudah penarikan dan penurunan
jangkar, tetapi masih tetap membutuhkan seorang nelayan agar tali penarik tidak
terbelit.

2.1.7. Tangguk (Serok)


Penggunaan tangguk (serok) pada kapal bangan perahu tidak begitu optimal
untuk mengambil hasil tangkapan, karna ukuran tangguk yang kecil, sehingga nelayan
lebih memilih masuk kedalam waring dan mengangkat hasil tangkapan dengan
keranjang, tanggung hanya digunakan untuk mengeluarkan binatang berbahaya yang
ikut tertangkap dan berjumlah 1 unit.

Gambar 11. Tangguk (Serok)

2.1.8. Keranjang
15
Keranjang ini digunakan untuk memindahkan hasil tangkapan dari dalam Serok
kedalam palkah penyimpanan ikan. Keranjang terbuat dari anyaman rotan sementara
dan berjumlah 112 unit.
Dalam penggunaan keranjang seperti halnya tangguk, karena keranjang juga
digunakan pada saat mendapatkan hasil tangkapan dalam jumlah yang banyak. Jika
hasil tangkapan sedikit maka keranjang tidak akan digunakan untuk memindahkan
hasil tangkapan kedalam palkah penyimpanan ikan.

Gambar 12. Keranjang

2.1.9. Alat Bantu Penangkapan Pada Longliners


1. Line Thrower ( Line Caster)
Kapal-kapal long line berskala industri yang sudah dilengkapi dengan line
arranger, pada umumnya dilengkapi line thrower. Line thrower disebut juga line
caster merupakan alat bantu penangkapan sebagai alat pelontar tali utama yang
digerakkan dengan tenaga elektrik hidrolik, diletakkan di buritan kapal, digunakan
pada saat penebaran pancing (setting).
2. Line Hauler
Line hauler merupakan alat bantu penarik tali utama pada saat hauling
berlangsung. Keberadaan alat ini mutlak diperlukan, karena tali yang ditebar di
perairan tidak memungkinkan untuk ditarik menggunakan tangan biasa (manual),
selain berat dari gaya beban dan gaya tarikan dari seluruh rangkaian long line juga
akan memerlukan waktu yang lama sehingga dianggap tidak efisien. Line hauler
pada umumnya digerakkan dengan tenaga elektro hidrolik, dilengkapi dengan tuas
pengatur kecepatan tarik agar memudahkan penanganan penarikan tali utama,
terutama pada saat menaikkan ikan hasil tangkapan atau saat terjadi kekusutan
tali. Line hauler ditempatkan di geladag kerja hauling (hauling working space).
Kekuatan tarik dari line hauler disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya kapal
(Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).

16
Line Hauler

3. Line Arranger (Penyusun tali utama)


Pada kapal-kapal long line yang sudah modern peralatan bantu penangkapannya
dilengkapai peralatan lain selain line hauler. Line arranger ditempatkan diatas
main line tank (tangki penyimpanan tali utama) merupakan alat bantu
penangkapan yang berfungsi sebagai penarik dan penyusun tali utama agar tertata
rapi di dalam main line tank (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
4. Branch Line Ace dan Buoy Line Ace
Branch line ace ditempatkan pada geladag kerja di lambung kanan kapal
dibelakang line hauler, merupakan alat bantu penangkapan sebagai penarik dan
penggulung tali cabang (branch line) dengan menggunakan tenaga motor listrik.
Sedangkan buoy line ace yang digunakan untuk menarik tali pelampung (buoy
line) pada saat kegiatan hauling. Branch line dan buoy line yang sudah diangkat
dari air segera dilepas dari tali utama kemudian digulung dengan branch line ace
setelah tergulung dan diikat lalu ditempatkan dalam basket (keranjang)
(Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
5. Side Roller/ Line Guide Roller
Alat ini ditempatkan pada dinding atau tepi lambung kapal dan berfungsi untuk
menjadikan main line terarah alurnya sehingga dapat mengarah ke line hauler.
Bahan side roller terbuat dari baja stainless dan kerjanya secara aktif (Nur
Bambang et al, 1999).

Side Roller
17
6. Slow Conveyor
Slow conveyor merupakan alat bantu penangkapan berupa ban berjalan lamban,
ditempatkan melintang kapal di bawah line hauler. Fungsi line hauler adalah
menggeser tali utama yang telah ditarik line hauler agar tidak menumpuk dibawah
line hauler tersebut. Sementara main line bergeser mengikuti conveyor tersebut,
main line ditarik oleh line arranger untuk disusun dan diatur pada tangki
penyimpanan tali utama (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
7. Branch Line Conveyor
Branch line conveyor adalah alat bantu penangkapan berupa ban berjalan. Alat ini
ditempatkan di sisi kiri kapal yang berfungsi memindahkan atau menghantar
peralatan penangkapan seperti branch line, pelampung, tali pelampung dari
geladag kerja didepan ke gudang penyimpanan alat tangkap di buritan kapal. Pada
kapal-kapal long line modern berukuran kecil biasanya tidak dilengkapi ini,
karena jarak dari geladag kerja didepan dengan gudang penyimpanan alat tangkap
titik jauh (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).

2.1.10. Alat Bantu Penangkapan Pada Gill Netters


1. Winch

Gambar 13. Winch

Pada gillnet, mesin bantu winch digunakan untuk menarik jaring dengan
menggulung langsung keseluruhan badan jaring ke dalam drum penggulung
bertenaga hidrolik. Winch disebut juga dengan Net drum.
2. Cone Roler
Cone roller adalah alat penarik jaring yang tersusun dari dua buah silinder karet
yang berputar berlawanan arah, sehingga jaring berikut pelampung dan
pemberatnya dapat digiling bersama untuk menarik ke atas kapal. Cone roller
digerakkan dengan tenaga hidrolis dengan kecepatan antara 20-60 m/menit.
Kecepatan tarik, daya kuda, dan putaran kerja Cone roller sangat tergantung pada
ukuran kapal, jumlah gillnet yang selalu dioperasikan pada setiap setting, serta
kemampuan ekonomi nelayan yang bersangkutan untuk mengadakan alat tersebut.
3. Kapstan
Berdasarkan fungsi kerja, kapstan merupakan mesin bantu yang digunakan untuk
beragam keperluan penarikan, seperti menarik tali selambar pada gillnet.

18
Sedangkan tenaga penggerak yang digunakan untuk memutar sistem kapstan, pada
umumnya kapal nelayan di Indonesia menggunakan tenaga mesin diesel. Sebagian
besar mesin bantu kapstan langsung dihubungkan dengan mesin induk (motor
induk/utama penggerak kapal), dengan sistem penyambungan/transmisi
menggunakan gardan mobil sebagai transmisi. Mesin bantu kapstan dengan sistem
transmisi yang demikian sering disebut dengan “kapstan-gardan” oleh nelayan.
4. Net Hauler
Net hauler adalah alat bantu pada kapal gill net yang digunakan untuk
penarikan jaring yang telah ditabur di laut, agar jaring lebih ringan ditarik dan
mudah ditata kembali di atas geladak. Pada umumnya kecepatan tarik yang
dibutuhkan antara 30 m/s – 90 m/s. Cara pengoperasian Net hauler adalah hanya
dengan menarik jaring Gill net melalui drum berbentuk konikal dan jaring insang
tidak digulung langsung di dalam drum penggulung, melainkan bagian jaring yang
sudah ditarik di belakang Net hauler, kemudian diatur untuk persiapan penurunan
jaring kembali (setting).
Net hauler yang digunakan pada kapal Gill net dapat dibedakan atas 2 tipe.
Pada kapal yang dilengkapi dengan cone roller umumnya dilengkapi pula dengan
net hauler tipe memanjang, ditempatkan di tepi atas pagar kapal dengan tujuan
memperingan kerja cone roller dan memudahkan nelayan pada saat melepaskan
ikan yang terjerat mata jaring. Tipe ini lebih dikenal dengan side roller. Tipe
lainnya yaitu net hauler berbentuk blok (power block), ditempatkan di atas
geladak kerja pada sisi arah hauling, untuk menarik jaring pada waktu hauling,
pemberat, pelampung beserta jaringnya disisipkan pada blok (roller) yang
berputar digerakan dengan tenaga hidrolik. Alat ini hanya untuk menangkap ikan-
ikan tuna kecil.

2.1.11. Alat Bantu Penangkapan Pada Purse Seiners


1. Winch
Winch merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali
kolor. Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan,
adapula ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Winch ini sangat
berguna untuk menahan tali pada saat thowing. Berdasarkan fungsi kerja alat
bantu winch digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor dan untuk
penarikan bagian cincin dengan tenaga penggerak yang digunakan berupa tenaga
hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki daya serta bentuk yang
besar. Pada umumnya dipasang pada kapal-kapal ikan pada skala industri
(Syahasta dan Zaenal Asikin, 2004).

19
Winch
2. Power block
Menurut Syahasta dan Zaenal Asikin (2004), Power block merupakan mesin bantu
yang digunakan untuk menarik jaring pukat cincin dari dalam air ke atas deck
kapal. Mesin bantu ini sebagian besar bertenaga hidrolik serta memiliki daya
gerak besar. Power block yang berukuran kecil dan memiliki daya gerak kecil
selain bertenaga hidrolik, adapula yang menggunakan tenaga listrik. Power
bertenaga mesin diesel hampir tidak ada, kecuali hasil rekayasa sendiri pada kapal
ikan bukan skala industri.
3. Purse block dan dewi-dewi
Purse block dan dewi-dewi berfungsi untuk menahan, mengatur dan
mengumpulkan cincin jaring yang terletak disamping bagian haluan. Purse block
dan dewi-dewi ini terbuat dari bahan besi. Purse block dan dewi-dewi pada
intinya cocok untuk pertahanan pada saat penarikan jaring ke atas kapal. Dewi-
dewi purse seine biasanya akan mendukung block untuk penanganan dalam
pengambilan tali penyeret disamping purse block (John C. Sainsbury, 1975).
4. Purse ring stowage
Purse ring stowage adalah palang panjang yang digunakan untuk menahan atau
menyimpan semua ring sehingga dapat meluncur sebelum setting. Palang panjang
ini terbuat dari besi dengan panjang kira-kira mencapai dua meter. Alat ini
diletakkan di samping sebelah kiri agak ke buritan (John C. Sainsbury, 1975).
5. Fish pump
Fish pump digunakan untuk kapal industri perikanan, alat ini merupakan pipa air
yang panjang dan dihubungkan langsung ke ruang mesin untuk memompa air.
Fish pump terletak di tengah lambung kanan kapal. Dalam hal ini, sekat de-
watering mungkin ditempatkan berdampingan dengan lubang palka yang
digunakan untuk membersihkan atau mencuci ikan dan dapat juga digunakan
untuk membersihkan kapal dengan cara mengambil air dai laut. Alternatif lain
dengan membuat persediaan untuk saluran air dari palka yang kemudian dibangun
sebagai tangki untuk mata air diamana air ini mungkin dipompakan keluar kapal
(John C. Sainsbury, 1975).
6. Seine skiff
Seine skiff adalah alat bantu yang digunakan untuk menarik ujung jaring dan untuk
tempat pelampung dan pemberat atau ring pada waktu setting. Selain itu, dapat
pula diguanakan untuk menarik bagian belakang atau buritan kapal pada waktu
operasi penangkapan agar kapal selalu jauh dari posisi jaring dengan tujuan untuk
menghindari tersangkutnya jaring pada baling-baling kapal (John C. Sainsbury,
1975).
7. Capstant (Gypsy hoist)
Capstant (kapstan) pada kapal purse seine digunakan untuk menarik tali
pelampung (float line) atau tali kolor atas pada saat hauling, guna merapatkan
tangkapan kedua ujung bagian sayap jaring. Di samping itu kapstan berguna pula
untuk memperingan kerja pada saat pengangkatan ikan yang telah tertangkap
dalam cakupan jaring untuk dinaikkan di atas kapal (Brailling). Capstant terletak

20
di lambung kiri kapal ke arah buritan. Kapal purse seine merupakan kapal
pemburu kelompok ikan untuk itu dibutuhkan kecepatan kerja yang sangat tinggi
dan peralatan kerja yang mendukung perolehan hasil tangkapan (A. Farid. et al,
1989 )

2.1.12. Alat Bantu Penangkapan Pada Trawlers


Adapun peralatan alat bantu yang digunakan untuk alat tangkap Trawl yaitu sebagai
berikut :
1. Boom
Merupakan tempat melekatnya rig dan out rigger. Harus memiliki panjang yang
cukup untuk membawa cod end (kantong) pada posisi yang diharapkan dan
biasanya diletakkan pada center line (garis tengah kapal).
2. Rig
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang
agung (tiang gantung). Berfungsi sebagai alat bantu untuk menurunkan dan
mengangkat kantong trawl serta sebagai jalur untuk tali wire dari alat tangkap.
3. Outrigger
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang
agung (tiang gantung) dan dapat Digerakkan kekiri dan kekanan kapal. Berfungsi
sebagai jalur penarikan wire.
4. Winch
Terletak di belakang rumah geladak dan tepat di bawah rig dan outrigger. Posisi
winch menempel pada deck dengan diberi dudukan besi. Winch ini terdiri dari
drum dan hydraulic inofer.
5. Drum Trawl
Bentuknya harus besar untuk memutar agar Trawl naik. Salah satu contohnya
adalah drum dengan flat tunggal mempunyai kelemahan dapat merusak bagian
tengah dari drum itu sendiri dan bagian atas dari jaring.
6. Hydraulic inofer
Merupakan mesin untuk mengatur jalannya winch. Terdiri dari motor power
hidrolik yang diletakkan diruang mesin untuk mengalirkan oli ke pipa dimesin
pengatur yang terletak diatas bangunan kemudi dan setir pengontrol winch diatas
bangunan kemudi.
7. Towing Block
Menetap di buritan di sisi samping Trawl. Merupakan bagian yang menentukan
dimana warp dapat mengikuti kapal secara terarah selama proses towing. Towing
block adalah sebuah kumpulan tali yang terikat kencang menjadi sebuah bagian
yang diperkuat dengan rantai yang tepat panjangnya dan kuat. Ada berbagai tipe
yang banyak di jumpai.
8. Snatch Block
Dibuat untuk digunakan dalam berbagai tugas permanen pada suatu Trawl. Ada
berbagai bentuk rancangan, tapi pada umumnya yang perlu diperhatikan adalah
bagian depan yang digunakan untuk cantelan atau penyangga. Tergantung pada
jenis, kemanapun terhubung dengan baik atau bahkan diatas geladak untuk

21
mengangkat pada waktu tertangkap. Snatch block mempunyai suatu penutup yang
dapat diangkat sedemikian sehingga gulungan tali dapat ditempatkan di sekitar
katrol. Dan penutup tersebut di kunci atau tertutup kembali dengan menggunakan
penjepit.
9. Otter Board
Otter board merupakan alat bantu bukaan mulut jaring ke arah horizontal.
Pembukaan horizontal bentangan otter board merupakan jarak antara kedua otter
board yang terbentang pada saat dioperasikan.

2.2.Bagian dan Dimensi Alat Bantu Penangkapan

2.2.1. Rumpon

Gambar 14. Tanda pelampung rumpon

 Bahan dan Komponen Rumpon


Bahan dan komponen dari rumpon bermacam-macam, tetapi secara ringkas
setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen seperti pada tabel 2. Semakin
lengkap suatu rumpon maka komponen dan bahan yang digunakan semakin
lengkap pula. Di Indonesia, umumnya rumpon masih menggunakan bahan dari
bahan-bahan alami, sehingga daya tahannya juga sangat terbatas
Tabel 1. Komponen Pokok dan Bahan dari Sebuah Rumpon
No Komponen Bahan
1 Float - Bamboo
- Plastic
2 Tali tambat (mooring line) - Tali
- wali
- rantai
- swivel
3 Pemikat ikat (atractor) - daun kelapa
- jaring bekas

22
4 Pemberat (bottom sinker) - batu
- beton

 Konstruksi Rumpon
Walaupun secara prinsip konstruksi rumpon disetiap tempat hampir sama,
namun jika diamati secara seksama konstruksi rumpon ada yang sangat sederhana
seperti rumpon yang digunakan oleh nelayan di perairan pantai atau laut dangkal,
dan ada pula sudah yang sangat maju. Hal ini sangat tergantung pada ikan yang
menjadi tujuan penangkapan dan kedalaman perairan tempat pemasangannya.
Umumnya rumpon yang dipasang di perairan yang lebih dalam konstruksinya lebih
lengkap (Sudirman dan Mallawa, 2004).

2.2.2. Lampu/ Light Fishing

 Prinsip Light Fishing dan Peristiwa Tertariknya Ikan pada Cahaya.


Penangkapan ikan dengan menggunakan cahaya sebagai alat bantu untuk
mengumpulkan ikan di suatu fishing ground pada umunya hanya memanfaatkan
behavior ikan yang tertarik akan cahaya. Menurut Ayodhyoa, 1976;1981 dalam
Sudirman, 2004, bahwa peristiwa tertariknya ikan di bawah cahaya dapat dibagi
menjadi 2 macam, yaitu:
 Peristiwa langsung, dimana ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul. Ini
tentunya berhubungan langsung dengan peristiwa fototaxis seperti jenis ikan
sardinella, kembung, dan layang.
 Peristiwa tidak langsung, dimana karena adanya cahaya maka plankton, ikan-
ikan kecil dan sebagainya berkumpul, dengan tujuan “feeding”. Beberapa jenis
ikan yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti ikan tenggiri, cendro, dan
lain-lain.

 Persyaratan dalam light fishing


Pada light fishing tidak semua kondisi dapat dilakukan, tetapi melalui
persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan-persyaratan tersebut dapat dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu :
1. Persyaratan lingkungan
Persyaratan lingkungan mencakup :
 Fase bulan
 Tingkat kejernihan air dan
 Cuaca (arus)
2. Persyaratan penangkapan
Menurut Ayodhyoa, 1981 dalam Sudirman, 2004 persyaratan
penangkapan mencakup :
 Cahaya harus mampu menarik ikan pada jarak yang lebih jauh, baik secara
vertikal maupun horizontal

23
 Ikan-ikan tersebut hendaklah kesekitar sumber cahaya yang masih berada pada
areal penangkapan
 Setelah ikan berkumpul, hendaklah ikan tersebut tetap senang berada disana
pada suatu jangka waktu tertentu, minimun sampai saat fishing gear mulai
beroprasi
 Sekali ikan berkumpul, hendaklah ikan-ikan tersebut jangan melarikan diri atau
menyebarkan diri.
Tabel 3. Panjang gelombang pada berbagai warna cahaya tampak
No Warna cahaya Panjang gelombang (Angstrom)
1 Violet 3.900 - 4.550
2 Biru 4.550 - 4.920
3 Hijau 4.920 - 5.770
4 Kuning 5.770 – 5.970
5 Orange 5.970 – 6.220
6 Merah 6.220 – 7.700
Visible light

6 5 4 3 2 1

Gambar 15. Ilustrasi perbedaan penetrasi cahaya tampak yang masuk kedalam
peiraran. (Yami, 1987, dalam Sudirman dan Mallawa)

- Lampu Permukaan

Keuntungan :

 Perawatannya tidak sulit


 Mudah didapat/dibeli
 Pemasangan dan pengoperasiannya tidak rumit

Kerugian:

 Sinar yang masuk ke air tidak efektif karena defleksi


 Tenaga yang digunakan lebih besar
 Ikan yang berkumpul ikan pelagis alat yang digunakan Purse Seine, Pancing cumi

- Lampu Celup Bawah Air

Keuntungan :

 Sinar yang terpancar efektif


 Tenaga yang diperlukan lebih kecil

Kerugian :

24
 Pengoperasiannya rumit
 Memerlukan ekstra perawatan
 Belum tentu ada di pasaran
 Ikan yang berkumpul dan alat yang digunakan sama dengan lampu permukaan

2.2.3. Kapal Bagan Perahu 1

5
6
4

Rumah Kapal
7
18

8
9
11
10

12

15
14 13
17 16

Keterangan :

1. Lampu 9. Mesin roller 17. Tali waring


2. Keranjang 10. Net Hauller 18. Lampu neon
3. Tangguk 11. Palkah
4. Kepala capstan 12. Ceruk (palkah depan)
5. Waring 13. Jangkar
6. Pemberat 14. Tali jangkar
7. Fiber 15. Bingkai waring

25
8. Roller 16. Anjang-anjang

2.2.4. Winch

 Tenaga Penggerak Winch


Gerakan berputar winch merupakan hasil perpindahan gerak berputar dari
sumber tenaga penggerak. Adapun sumber penggerak winch yaitu motor listrik, mesin
uap, transmisi elektro hidrolik dan ada juga menggunakan mesin diesel.
Pada umumnya penggunaan winch di kapal-kapal perikanan untuk membantu
operasi penangkapan rata-rata menggunakan tenaga penggerak motor winch berupa
tekanan minyak hidrolik.

 Komponen Utama Winch Hidrolik


Suatu sistem hidrolik pada dasarnya adalah suatu cara memindahkan daya dan
sumber daya ke mesin atau komponen yang dioperasikan. Daya yang sama dapat
dipindahkan ke serana sabuk, poros atau sambungan lain. Media yang digunakan
untuk memindahkan daya dalam sistem hidrolik adalah fluida (cairan) yang terdapat
dalam pipa antara penggerak dan anggota yang digerakan. Keuntungan utama sistem
hidrolik dibandingkan dengan cara lain adalah cara ini menyediakan cara yang
sederhana untuk memindahkan daya ke bagian mesin yang jauh dan dengan mudah
merubah gerak putar dari sumber daya menjadi gerak dalam bentuk lain seperti gerak
bolak-balik dan gerak berputar. Dalam sistem terdapat beberapa komponen yang
bekerja saling mendukung satu sama lain, yaitu diantaranya :

1. Penyambung dan Pemutus Winch

Penyambung dan pemutus winch berfungsi untuk menyalurkan tenaga putar yang
ditransferkan langsung dari mesin induk dengan As mesin induk. Tenaga yang
ditransferkan adalah 1 : 1 maksudnya kecepatan putar yang dihasilkan oleh mesin
induk sebanding dengan kecepatan putar dari winch tersebut.

2. Drum Penggulung

Drum penggulung berfungsi untuk menggulung dan mengulur tali atau (warp).
Dalam kapal-kapal penangkapan ikan, drum penggulung ini mempunyai bentuk
dan ukuran yang berbrda-beda tergantung dari operasi penangkapanya, sedangkan
pada trawl winch drum penggulung ini biasanya mempunyai ukuran yang besar
dan mampu menampung talli baja (warp) dengan kapasita 2 sampai 3 kubik.

3. Kapstan (gypsi head)

Kapstan atau (gypsi head) pada trawl winch berungsi untuk membantu dalam
penarikan tali dalam kapal-kapal ikan khususnya kapal trawl, gypsy head sanagt
penting untuk membantu dalam penarikan kantong jarring.

26
4. Kopling (handel)

Kopling adalah suatu alat yang berfungsi sebagai penghubung atau penerus
putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakan. Kopling dibagi
dalam dua bagian pokok, yaitu kopling tetap dan kopling tak tetap. Kopling tetap
merupakan komponen yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari
poros penggerak ke poros yang dogerakan secara pasti tanpa terjadi slip. Kopling
tidak tetap adalah suatu komponen yang menghubungkan poros yang digerakan
dengan poros penggerak dengan putaran yang sama dalam meneruskan gaya,
serta dapat melepaskan hubungan kedua poros tersebut baik keadaan diam
maupun berputar.

5. Tangki Minyak Hidrolik

Menurut Hartono (1988), fungsi utama dari tangki minyak hidrolik adalah untuk
menyimpan minyak hidrolik dan melindungi minyak dari pencemaran. Adapun
fungsi tangki lainya adalah :

a. Tangki menyimpan fluida sehabis dipakai dari sistem hidrolik, dan bekerja
sebagai penahan terhadap fluktuasi (gejolak) fluida yang disebabkan oleh
pemindah aliran yang tidak sama pada elemen penggerak (sistem)
b. Tangki mampu membuang panas yang ditimbulkan oleh tenaga yang hilang
hingga pada elemen penggerak dan elemen pengatur (katup).
c. Tangki dapat menetralisir adanya buih dan gelembung yang ditimbulkan,
sehingga buih dan gelembung dapat terpisah dari fluida hidroliknya.
d. Tangki dapat mengendapka kotoran-kotoran fluida, endapan itu berada di bagain
bawah tangki, sehingga bebas dari fluidanya.

Untuk melaksanakan fungsi-fungsi di atas, persyaratan rancang tertentu hampir


untuk setiap pemakaian di industri. Tangki dikonstruksi dari pelat baja yang
disambung dengan sambungan las, dengan kaki mengangkat tangki di atas lantai
(landasan). Dengan cara ini akan memberikan pendingin oleh sirkuasi udara
sekitar ke seluruh dinding tangki dan bagian bawahnya, sehingga pemindahan
panasnya menjadi optimal.

6. Elemen Penggerak Hidrolik (Motor Hidrolik)

Menurut Hartono (1988), motor hidrolik disebut juga elemen penggerak rotary
mengubah energi hidrolik ke dalam torsi dan kemudian menjadi bentuk tenaga.
Motor-motor hidrolik adalah mirip-mirip menyerupai pompa hidrolik dalam
konstruksinya dan sebenarnya beberapa pompa hidrolik dapat juga digunakan
sebagai motor. Sebagai penggantinya dari fluida yang mendorong ke dalam
sistem sebagaimana yang dilakukan pompa, untuk motor adalah didorong oleh
fluida melewati bagian yang menimbulkan torsi dan meneruskan gerakan putar
(putaran).

27
7. Pompa Hidrolik

Pompa hidrolik adalah media untuk mentransfer energi mekanik atau energi
listrik menjadi energi hidrolik. Di kapal-kapal kecil seperti kapal perikanan
pompa biasanya digerakan oleh main engine, motor bantu atau motor llistrik
(Czekaj, 1989).

Menurut Hartono (1988), Pompa hidrolik merupakan suatu alat untuk


menimbulkan atau membangkitkan aliran fluida (untuk memindahkan sejumlah
volume fluida) dan untuk memberikan gaya sebagaimana diperlukan.

Dari bermacam-macam komponen yang ada dalam sistem hidrolik, boleh


dikatakan bahwa pompa adalah komponen yang paling dominan. Fungsi dari
pada pompa adalah untuk mengubah energi mekanik menjadi energi hidrolik
dengan cara menekan fluida hidrolik ke dalam sistem.

2.3.Metode Operasional

2.3.1. Lampu
Lampu merupakan salah satu alat bantu yang sangat penting dalam proses
pengumpulan ikan pada malam hari, karena lampu merupakan sumber cahaya dan
cahaya lampu ini dapat mempengaruhi ikan-ikan yang memiliki sifat phototaksis
positif (jenis ikan yang menyukai atau tertarik dengan cahaya lampu), sehingga ikan
tersebut berkumpul disekitar lampu atau daerah penangkapan yang sudah ditentukan.
Jenis lampu yang digunakan yaitu lampu Galaksi (LED) dan lampu Neon.
Lampu Galaksi terletak pada bagian atas rumah geladak kapal dengan cahaya lampu
berwarna kekuningan dan jumlah lampu galaksi sebanyak 77 unit, masing-masing 24
unit dibagian samping kanan dan 24 unit disamping kiri rumah geladak dengan
besaran daya 450 watt, 13 unit pada bagian belakang dengan daya 450 watt dan 2 unit
1000 watt, 6 unit pada bagian haluan kapal dengan daya 450 watt. Juga terdapat
lampu galaksi dengan ukuran yang lebih kecil, yaitu 10 unit lampu dengan besaran
daya 64 watt yang terdiri dari 2 unit lampu setiap bingkainya, posisi lampu ini berada
di samping kanan dan kiri rumah geladak, tepatnya di bawah lampu galaksi 450 watt,
lampu neon berjumlah 6 buah terletak di sisi kiri dan kanan kapal.
Untuk lampu ukuran 450 watt dan 1000 watt, digunakan lampu dari produk
philiphs, dan untuk lampu galaksi ukuran 64 watt, digunakan lampu dari produk
philiphs dan hanocks. Penggunaan lampu 1000 watt pada bagian belakang kapal di
maksudkan untuk lebih menarik perhatian ikan, dikarenakan persaingan sesama
nelayan bagan perahu atau purse seine yang memiliki daerah pengoperasian yang
kadang cukup berdekatan.
Pada pengoperasian yang pertama, lampu dihidupkan secara bertahap, mulai
dari pukul 18:00 wib, dimulai dari lampu bagian samping kanan dan kiri kemudian ±
1 jam lampu depan dan belakang dihidupkan, lalu lampu galaksi kecil yang berada di
samping kanan kiri kapal, ± 4 jam lampu dihidupkan jika gerombolan ikan sudah

28
mulai terlihat (terdeteksi oleh echofishfinder) lampu galaksi yang berada di haluan
dan buritan kapal dimatikan, kemudian lampu neon dipersiapkan lalu di pasang,
fungsinya agar ikan terfokus berada di sisi kanan dan kiri kapal, kemudian jaring
diangkat dengan net haulerr seiring di matikannya lampu galaksi di sisi kanan dan kiri
kapal yang memiliki daya 450watt.
Saat jaring semakin dekat kepermukaan, lampu galaksi yang berukuran kecil
pun di matikan, yang hidup hanya lampu neon, bermaksud untuk memfokuskan ikan
pada sisi kapal dan menggiringnya naik permukaan. Setelah jaring sudah naik
kepermukaan, lampu-lampu galaksi kembali dihidupkan dan lampu neon dimatikan,
(sekaligus untuk persiapan setting selanjutnya). Proses pembongkaran hasil tangkapan
ini memakan waktu sekitar ½ jam (tergantung jumlah hasil tangkapan).
Untuk menaikkan hasil tangkapan ke geladak, nelayan langsung turun
mengambil ikan hasil tangkapan ke jaring yang sudah di posisikan sedemikian rupa di
samping kiri atau kanan kapal, nelayan tidak menggunakan tangguk/serok, tetapi
langsung menggunakan keranjang, karna ukuran tangguk/serok yang terlalu kecil,
setelah ikan naik keatas geladak, jaring kembali setting untuk penangkapan
selanjutnya. Untuk penangkapan selanjutnya waktu yang digunakan tidak selama
proses penangkapan pertama kali, kira-kira hanya memakan waktu 2 jam (tergantung
keberadaan gerombolan ikan).

Gambar 16. Lampu Galaksi a(450 watt) b (64 watt) KM Lumba-lumba 09

Gambar 17. Lampu Neon KM Lumba-lumba 02

29
Akan tetapi, pengoperasian alat tangkap menggunakan lampu tidak
dioperasikan pada saat terang bulan, karena jika terang bulan maka ikan-ikan tidak
lagi tertarik dengan cahaya lampu yang dipasang tersebut.

2.3.2. Rumpon

Metode operasional dari rumpon yaitu :


1. Harus melakukan penetapan ukuran ikan yang layak ditangkap.
2. Setelah itu penetapan lokasi pemasangan rumpon. Berdasarkan pemahaman terhadap
kondisi dan aturan pemasangan rumpon, maka penempatan rumpon yang tepat adalah
yang memiliki variabilitas klorofil-a dan suhu permukaan laut serta
mempertimbangkan aturan yang termuat dalam Kepmen KP No.30/2004. Desain
jarak masing-masing rumpon adalah 10 mil laut, dipasang sejajar garis pantai dan
tidak zig zag agar tidak mengganggu alur pelayaran.
3. Penetapan peraturan dan kebijakan

2.4.Ikan Target

2.4.1. Trawl
Yang menjadi tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-kan dasar (
bottom fish ) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang ( shrimp trawl,
double ring shrimp trawl ) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk periran laut
jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis ikan patek, kuniran, pe, manyung,
utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur,
remang, kembung, cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.
Catch yang dominan untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala
usaha, yang kelanjutannya akan juga menetukan besar kapal dan gear yang akan
dioperasikan.

2.4.2. Purse Seine


Hasil tangkapan yang diharapkan tertangkap adalah ikan cakalang, tetapi jenis
ikan lain tertangkap juga. Dari hasil penelitian pada akhir-akhir ini komposisi hasil
tangkapan adalah 60% ikan cakalang dan 40% selain ikan cakalang. Ikan lainnya
terdiri dari anak ikan tuna 10%, Tongkol 20% dan 10% ikan campuran.

2.4.3. Long line


Jenis- jenis ikan hasil tangkapan menggunakan long line antara lain : Jenis-
jenis ikan tuna yang didapat terdiri atas yellowfin (Thunnus thynnus), bigeye
(Thunnus obesus) , southern bluefin (Thunnus maccoyii) dan albacore (Thunnus
alalunga). Adapun jenis-jenis ikan tangkapan sampingannya meliputi cucut moro
(Isurus oxyrinchus), setan (Sarda chiliensis lineolata), sailfish (Istiophorus
platypterus), setuhuk (Tetrapturus sp.), pedang (Xiphias gladius), cakalang
(Katsuwonus pelamis), alu-alu (Sphyraena barracuda), layur (Trichiurus lepturus),
dan tongkol (Auxis thazard) (Gumelar, 2003).

30
2.4.4. Rumpon
Tidak semua jenis ikan dapat berasosiasi dengan rumpon, hanya beberapa jenis
tertentu yang sering berada di daerah rumpon. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh (Monintja, 1993 dalam Sudirman, 2004), ditemukan ada 16 sepesies ikan seperti
pada tabel. 3, jika diperhatikan, maka jenis-jenis ikan pelagis merupakan jenis yang
dominan.
Tabel.2. Jenis-Jenis Ikan yang Sering Berasosiasi dengan Rumpon (Monintja, 1993
dalam Sudirman 2004)
No. Nama Indonesia Nama Inggris Nama Latin
1. Cakalang Skipjack Katsuwonus pelamis
2. Tongkol Frigate tuna Auxis thazard
3. Tongkol pisang Frigate tuna Euthynnus affinis
4. Tenggiri King mackeret Scomberomorus sp
5. Madidihang Yellow fin tuna Thunnus albacares
6. Tembang Frigate sardin Sardinella fimbriata
7. Japuh Rainbow sardin Dussumeria hasselti
8. Silvestripe Spratteloides delicatuladi
9. Thyssa baelana
10. Sardin Sardinella Sardinella schanum
11. Layang Scad Decapterus sp
12. Tuna mata besar Big eye tuna Thunnus obesus
13. Cumi-cumi Squida Loligo sp
14. Hiu Shark Spiraena sp
15. Layaran Sailfish Istiophorus gladius
16. Ikan kwe Jack Caranx sp

2.4.5. Lampu

Ikan yang tertarik pada cahaya lampu adalah ikan phototaxic positif, jadi
setiap ada cahaya lampu golongan ikan tersebut akan mendekati cahaya tersebut.
Menurut jurnal unpad ikan yang tertarik pada cahaya lampu adalah ikan pelagis
contohnya adalah ikan kekek (Leiognathus sp), ikan teri (Stholephorus commersoni),
ikan tamban (Clupea fimbriata), ikan rinyau (Datnioides microlepis), ikan beliak
mata, dan sotong (Loligo sp) dan lumba-lumba.

2.5.Tugas Dan Tanggung Jawab Abk


1. Master / Nahkoda

UU. No.21 Th. 1992 dan juga pasal 341.b KUHD dengan tegas menyatakan bahwa
Nakhoda adalah pemimpin kapal, kemudian dengan menelaah pasal 341 KUHD dan pasal 1
ayat 12 UU. No.21 Th.1992, maka definisi dari Nakhoda adalah sebagai berikut :

31
“Nakhoda kapal ialah seseorang yang sudah menanda tangani Perjanjian Kerja Laut (PKL)
dengan Pengusaha Kapal dimana dinyatakan sebagai Nakhoda, serta memenuhi syarat
sebagai Nakhoda dalam arti untuk memimpin kapal sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku “ Pasal 342 KUHD secara ekplisit menyatakan bahwa tanggung jawab atas
kapal hanya berada pada tangan Nakhoda, tidak ada yang lain. Jadi apapun yang terjadi diatas
kapal menjadi tanggung jawab Nakhoda, kecuali perbuatan kriminal. Misalkan seorang
Mualim sedang bertugas dianjungan sewaktu kapal mengalami kekandasan. Meskipun pada
saat itu Nakhoda tidak berada di anjungan, akibat kekandasan itu tetap menjadi tanggung
jawab Nakhoda. Contoh yang lain seorang Masinis sedang bertugas di Kamar Mesin ketika
tiba-tiba terjadi kebakaran dari kamar mesin. Maka akibat yang terjadi karena kebakaran itu
tetap menjadi tanggung jawab Nakhoda.

Dengan demikian secara ringkas tanggung jawab Nakhoda kapal dapat dirinci antara lain :

1) Memperlengkapi kapalnya dengan sempurna


2) Mengawaki kapalnya secara layak sesuai prosedur/aturan
3) Membuat kapalnya layak laut (seaworthy)
4) Bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran
5) Bertanggung jawab atas keselamatan para pelayar yang ada diatas kapalnya
6) Mematuhi perintah Pengusaha kapal selama tidak menyimpang dari peraturan
perundang-undangan yang berlaku

Jabatan-jabatan Nakhoda diatas kapal yang diatur oleh peraturan dan perundang-undangan
yaitu :

1) Sebagai Pemegang Kewibawaan Umum di atas kapal. (pasal 384, 385 KUHD serta
pasal 55 UU. No. 21 Th. 1992).
2) Sebagai Pemimpin Kapal. (pasal 341 KUHD, pasal 55 UU. No. 21 Th. 1992 serta
pasal 1/1 (c) STCW 1978)
3) Sebagai Penegak Hukum. (pasal 387, 388, 390, 394 (a) KUHD, serta pasal 55 No. 21
Th. 1992).
4) Sebagai Pegawai Pencatatan Sipil. (Reglemen Pencatatan Sipil bagi Kelahiran dan
Kematian, serta pasal 55 UU. No. 21. Th. 1992).
5) Sebagai Notaris. (pasal 947 dan 952 KUHPerdata, serta pasal 55 UU. No. 21, Th.
1992).
6) Nakhoda sebagai Pemegang Kewibawaan Umum

32
Mengandung pengertian bahwa semua orang yang berada di atas kapal, tanpa kecuali
harus taat serta patuh kepada perintah-perintah Nakhoda demi terciptanya keamanan
dan ketertiban di atas kapal. Tidak ada suatu alasan apapun yang dapat dipakai oleh
orang-orang yang berada di atas kapal untuk menentang perintah Nakhoda sepanjang
perintah itu tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan. Aetiap
penentangan terhadap perintah Nakhoda yang demikian itu merupakan pelanggaran
hukum, sesuai dengan pasal 459 dam 460 KUH. Pidana, serta pasal 118 UU. No.21,
Th. 1992. Jadi menentang perintah atasan bagi awak kapal dianggap menentang
perintah Nakhoda karena atasan itu bertindak untuk dan atas nama Nakhoda.
7) Nakhoda sebagai Pemimpin Kapal
Nakhoda bertanggung jawab dalam membawa kapal berlayar dari pelabuhan satu ke
pelabuhan lain atau dari tempat satu ke tempat lain dengan selamat, aman sampai
tujuan terhadap penumpang dan segala muatannya.
8) Nakhoda sebagai Penegak Hukum
Nakhoda adalah sebagai penegak atau abdi hukum di atas kapal sehingga apabila
diatas kapal terjadi peristiwa pidana, maka Nakhoda berwenang bertindak selaku
Polisi atau Jaksa. Dalam kaitannya selaku penegak hukum, Nakhoda dapat mengambil
tindakan antara lain :
 menahan/mengurung tersangka di atas kapal
 membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
 mengumpulkan bukti-bukti
 menyerahkan tersangka dan bukti-bukti serta Berita Acara
 pemeriksaan (BAP) pada pihak Polisi atau Jaksa di pelabuhan pertama yang
disinggahi.
9) Nakhoda sebagai Pegawai Catatan Sipil
Apabila diatas kapal terjadi peristiwa-peristiwa seperti kelahiran dan kematian maka
Nakhoda berwenang bertindak selaku Pegawai Catatan Sipil.
 Tindakan-tindakan yang harus dilakukan Nakhoda jika di dalam pelayaran
terjadi kelahiran antara lain :
- Membuat Berita Acara Kelahiran dengan 2 orang saksi (biasanya
Perwira kapal)
- Mencatat terjadinya kelahiran tersebut dalam Buku Harian Kapal

33
- Menyerahkan Berita Acara Kelahiran tersebut pada Kantor Catatan
Sipil di pelabuhan pertama yang disinggahi
 Tindakan-tindakan yang harus dilakukan Nakhoda jika di dalam pelayaran
terjadi kematian :
- Membuat Berita Acara Kematian dengan 2 orang saksi (biasanya
Perwira kapal)
- Mencatat terjadinya kematian tersebut dalam Buku Harian Kapal
- Menyerahkan Berita Acara Kematian tersebut pada Kantor Catatan
Sipil di pelabuhan pertama yang disinggahi.
10) Sebab-sebab kematian tidak boleh ditulis dalam berita acara kematian maupun buku
harian kapal, karena wewenang membuat visum ada pada tangan dokter Apabila
kelahiran maupun kematian terjadi di luar negeri, Berita Acaranya diserahkan pada
Kantor Kedutaan Besar R.I. yang berada di negara yang bersangkutan.
11) Tugas seorang Master atau nahkoda adalah untuk mengatur seluruh Perwira dan
ABK kapal agar mereka bekerja sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh
ISM Code dari Perusahaaan Perkapalan.

2. Tugas Mualim I
Mualim I adalah kepala dari dinas deck (geladak) dan pula membantu nahkoda dalam
hal mengatur pelayanan di kapal jika kapal tidak punya seorang penata usaha atau
jenang kapal.
1) Dinas geladak
2) Pemeliharaan seluruh kapal kecuali kamar mesin dan ruangan-ruangan lainnya yang
dipergunakan untuk kebutuhan dinas kamar mesin.
3) Muat bongkar muatan di palka-palka dan lain-lain.
4) Pekerjaan-pekerjaan administrasi yang berhubungan dengan pengangkutan muatan,
bagasi pos dan lain-lain.
5) Pengganti Nahkoda Pada waktu nahkoda berhalang maka Mualim I memimpin kapal
atas perintahnya.
6) Mualim I harus mengetahui benar peraturan-peraturan dinas perusahaan dan semua
instruksi-instruksi mengenai tugas perwakilan, pengangkutan dan lain-lain.
7) Mengatur muatan, persediaan air tawar, dan mengatur arah navigasi

3. Tugas Mualim II
34
Tugas mualim II disamping tugas jaga laut atau bongkar muat :
1) Memelihara (termasuk melakukan koreksi-koreksi) serta menyiapkan peta-peta laut
dan buku-buku petunjuk pelayaran.
2) Memelihara dan menyimpan alat-alat pembantu navigasi non elektronik (sextant
dsb); setiap hari menentukan chronometer’s error berdasarkan time signal.
3) Bertanggung jawab atas bekerjanya dengan baik pesawat pembantu navigasi
elektronik (radar, dsb)
4) Memelihara Gyro Kompas, berikut repeatersnya serta menyalakan/mematikannya atas
perintah nahkoda, bertanggung jawab atas pemeliharaan autopilot.
5) Memelihara magnetic kompas serta bertanggung jawab pengisian kompas error
register book oleh para mualim jaga.
6) Mengisi/mengerjakan journal chronometer dan journal-journal pesawat-pesawat
pembantu navigasi yang disebutkan pada c dan d.
7) Bertanggung jawab atas keadaan baik lampu-lampu navigasi, termasuk lampu jangkar
dan sebagainya, serta lampu semboyan Aldis.
8) Membuat noon position report.
9) Bertanggung jawab atas jalannya semua lonceng-lonceng di kapal dengan baik
10) Bertanggung jawab atas penerimaan, penyimpanan, pengiriman, dan administrasi
barang-barang kiriman (paket) serta pos.

4. Tugas Mualim III


Tugas mualim III disamping tugas jaga laut/bongkar muat :
1) Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan kelengkapan life boats, liferafts, lifebuoys
serta lifejackets, serta administrasi.
2) Bertanggung jawab pemeliharaan, kelengkapan dan bekerjanya dengan baik dari
botol-botol pemadam kebakaran, alat-alat pelempar tali, alat-alat semboyan bahaya
(parachute signal, dsb), alat-alat pernafasan, dll, serta administrasinya.
3) Membuat sijil-sijil kebakaran, sekoci dan orang jatuh kelaut, dan memasangnya
ditempat-tempat yang telah ditentukan.
4) Memelihara dan menjaga kelengkapan bendera-bendera (kebangsaan, bendera-
bendera semboyan internasional, serta bendera perusahaan).
5) Mengawasi pendugaan tanki-tanki air tawar/ballast dan got-got palka serta
mencatatnya dengan journal.
6) Membantu mualim II dalam menentukan noon position.

35
5. Tugas Mualim IV
Disamping tugas jaga laut/bongkar-muat:
1) Pekerjaan administrasi muatan.
2) Membantu mualim III dalam pemeliharaan inventaris, pemeliharaan sekoci-sekoci
dan alat pelampung dan lain-lain.
3) Membantu nahkoda di anjungan.

6. Markonis/Radio Officer/Spark
Markonis/Radio Officer/Spark bertugas sebagai operator radio/komunikasi serta
bertanggung jawab menjaga keselamatan kapal dari marabahaya baik itu yg di
timbulkan dari alam seperti badai, ada kapal tenggelam, dll.

7. Ratings atau Bawahan Bagian dek:


Boatswain atau Bosun atau Serang (Kepala kerja bawahan). Serang melaksanakan
tugas yang diberikan oleh Mualim I baik secara langsung maupun melalui perwira
jaga. Tugas serang mencakup hal – hal sebagai berikut :
1) Sebagai kepala kerja ABK dek, memimpin / mengarahkan ABK dek, mengambil
inisiatif kerja
2) Membagi tugas - tugas kepada ABK dengan baik setelah menerima perintah dari
mualim I.
3) Ronda dengan teratur, memelihara semua hal yang menjadi tanggung jawabnya dan
melaporkannya pada Nahkoda.
4) Memahami sungguh-sungguh pekerjaannya dan dpat bekerja sama dengan bagian –
bagian lain.
5) Menerima, mengelola dan merancang pemakaian store dengan ekonomis.
6) Melaksanakan tugas – tugas yang sehubungan dengan reparasi/ perbaikan di kapal.
7) Mencatat pekerjaan – pekerjaan yang telah dilakukan oleh bagian dek.
8) Mengoperasikan dan memelihara pompa – pompa dan alat – alat bongkar muat,
ventilator kedap air dan lobang – lobang lainnya dan alat – alat berlabuh jangkar.
9) Mengelola penerimaan air tawar
10) Melakukan ballaating dan de ballasting, segera setelah penerimaan instruksi Mualim I

8. Able Bodied Seaman (AB) atau Jurumudi


36
1) Melaksanakan tugas jaga dianjungan, jaga tangga ( gangway ) pegang kemudi dan
pengintaian ( look-out )
2) Menyiapkan bendera – bendera, alat pemadam di dek dan perlengkapan lainnya
seperti yang diperintahkan oleh mualim jaga.
3) Kebersihan anjungan dan gangway, menunaikan perintah dari perwira dek yang
bertugas sewaktu perawatan kapal atau penggunaan alat – alat navigasi, dan peralatan
anjungan lainnya.
4) Membimbing kelasi

9. Ordinary Seaman (OS) atau Kelasi atau Sailor


1) Mengembangkan keterampilan kerjanya
2) Merawat lambung.
3) Membantu penanganan muatan.
4) Dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan lain yang diperintahan kepadanya

10. Pumpman atau Juru Pompa, khusus kapal-kapal tanker (kapal pengangkut
cairan)
1) Merawat mesin dan seluruh peralatan pompa
2) Melaksanakan tugas pompa dan tugas – tugas lain yang di instruksikan kepadanya

11. Chief Engineer (C / E)


Chief Engineer (C/E) adalah di-charge dari departemen mesin, dia melaporkan ke
Master (sehari-hari kegiatan) dan Technical Manager-Comapany (kegiatan
teknis). Tanggung Jawabnya adalah :
1) Memastikan bahwa semua personil departemen mesin dibiasakan dengan prosedur
yang relevan.
2) Mengeluarkan perintah yang jelas dan ringkas untuk insinyur dan lain-lain di
departemen mesin.
3) Sesuaikan jam tangan ruang mesin untuk memastikan bahwa semua menonton
penjaga cukup beristirahat dan cocok untuk tugas.
4) Pastikan bahwa awak departemen mesin menjaga disiplin, kebersihan dan mengikuti
praktek kerja yang aman.
5) Evaluasi junior dan laporan kinerja kepada Master.

37
6) Mengidentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan operasi mesin dan
bertindak sesuai untuk menghilangkan mereka.
7) Selidiki ketidaksesuaian dan menerapkan tindakan korektif dan preventif.
8) Menjaga stand by peralatan dan sistem dalam ‘Selalu-Siap-Untuk-Gunakan’ negara.
9) Uji stand by peralatan dan sistem secara teratur dan sesuai dengan prosedur
Perusahaan.
10) Pastikan mesin yang kapal dan peralatan dipelihara sesuai jadwal.
11) Jadilah pada tugas dan mengendalikan engine selama manuver dan selama
memasuki / meninggalkan pelabuhan.
12) Jika pesawat Insinyur Keempat adalah tidak memegang sertifikat kompetensi yang
diperlukan, menjaga 08:00-0:00 menonton ruang mesin.
13) Mencoba untuk memperbaiki semua kerusakan mungkin menggunakan kru dan
fasilitas onboard, jika permintaan tidak yg dpt diperbaiki untuk bantuan pantai.
14) Setiap bulan, melaporkan semua cacat (diperbaiki / tidak diperbaiki) kepada
Perusahaan (melalui Guru).
15) Guru menyarankan sebelum semua persyaratan toko mesin dan suku cadang.
16) Mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh workshop pada mesin dan peralatan.
17) Pastikan bahwa buku catatan mesin dipelihara dengan baik.
18) Efisien mengoperasikan dan memelihara semua mesin dan peralatan kapal, terutama
yang berkaitan dengan pencegahan keselamatan dan polusi.
19) Efisien mengoperasikan mesin utama selama perjalanan.
20) Pastikan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk mencegah / mengurangi emisi
asap dari kapal.
21) Terus memantau dan mengevaluasi penggerak utama dan mesin bantu,
membandingkan mereka dengan catatan percobaan dan menginformasikan
Perusahaan dari setiap penyimpangan besar.
22) Pastikan bahwa semua peralatan keselamatan dalam keadaan baik.
23) Memelihara catatan dari semua rutin dan pemeliharaan tak terjadwal sesuai dengan
persyaratan kode dan prosedur Perusahaan.
24) Order dan batang bungker, dan mengawasi operasi pengisian bahan bakar.
25) Efektif mengontrol pemanfaatan dan toko suku cadang dan mempertahankan
persediaan yang tepat dari semua item.
26) Orde suku cadang dan toko (termasuk minyak pelumas) untuk departemen mesin.

38
27) Pribadi langsung pemeliharaan crane kargo, penyejuk udara, tanaman pendingin dan
pemisah minyak-air.
28) Memantau pemeliharaan kamar dingin, AC dan mesin terkait lainnya.
29) Segera memberitahukan kepada Guru cacat yang dapat mempengaruhi keselamatan
kapal atau menempatkan lingkungan laut beresiko

12. Tugas Masinis I


2/ E laporan ke C / E. Dalam ketiadaan C / E, 2 / E mungkin diperlukan untuk
memimpin sebagai C / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu dari DPA.
Tanggung Jawab :
1) Jauhkan pukul 04:00-8:00 mesin menonton kamar.
2) Mengatur kegiatan pemeliharaan dalam konsultasi dengan C / E.
3) Mengalokasikan pemeliharaan dan perbaikan untuk insinyur, dan mengawasi yang
sama.
4) Benar menjaga buku catatan ruang mesin.
5) Memantau jadwal pemeliharaan untuk mesin utama, mesin bantu, kompresor,
pembersih, pompa dan peralatan lainnya.
6) Co-ordinat dengan Electrical Engineer dan memastikan bahwa ia memelihara catatan
yang tepat pemeliharaan mesin di bawah tanggung jawabnya.
7) Pastikan bahwa ruang mesin yang bersih dan bebas dari residu berminyak.
8) Membantu C / E dalam mempertahankan persediaan suku cadang, toko habis
onboard.
9) Pastikan insinyur dan peringkat bekerja sesuai dengan prosedur perlindungan
keselamatan dan lingkungan.
10) Mengevaluasi junior dan laporan kinerja ke C / E.
11) Mengambil alih menonton dan kontrol dari ruang mesin selama manuver kapal,
terutama saat memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan bagian dibatasi.
12) Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi)
13) Melaporkan dan mencatat pemakaian bahan bakar dan minyak lumas kepada C/E
14) Merencanakan permintaan Bunker dan Minyak Pelumas.
15) Pengoperasian dan pencatatan indikator pesawat – pesawat kelistrikan
16) Pengoperasian, menjalankan sistem mesin pendingin, sistem air conditioni, panel
listrik dan elektro motor.

39
17) Menyiapkan dan mengganti lampu – lampu penerangan dan lampu – lampu navigasi
apabila ada yang padam.

13. Tugas Masinis 2 (2 / E)


2/E laporan ke C / E (melalui 1 / E). Dalam ketiadaan dari 1 / E, 2 / E mungkin
diperlukan untuk memimpin sebagai 1 / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu
dari DPA. Tanggung Jawabnya yaitu :
1) Jauhkan pukul 12:00-4:00 mesin menonton kamar.
2) Benar menjaga tambahan mesin, generator air tawar, mesin kerek, peralatan tambat,
sekoci motor, darurat kompresor, pompa kebakaran darurat dan insinerator.
3) Menganalisis air dan pengolahan kimia untuk pendingin mesin sistem air utama.
4) Melakukan pemeliharaan preventif pemadam kebakaran dan peralatan keselamatan
dalam ruang ruang mesin, dan menginformasikan C / E dari setiap kekurangan.
5) Menjaga catatan diperbarui pemeliharaan preventif rencana yang berkaitan dengan
kompresor, generator dll
6) Menginformasikan C / E di muka kebutuhan suku cadang dan toko untuk mesin
dikontrol.
7) Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi).

14. Tugas Masinis 3 (3 / E)


3/E laporan ke C / E (melalui 2 / E). Dalam ketiadaan dari 3 / E, 4 / E mungkin
diperlukan untuk memimpin sebagai 3 / E, tunduk pada persetujuan terlebih dahulu
dari DPA. Tanggung Jawab :
1) Jauhkan 08:00-0:00 mesin menonton ruang yang disediakan ia memegang sertifikat
kompetensi yang sesuai, yang lain C / E mempertahankan menonton ini.
2) Membantu C / E selama manuver kapal.
3) Benar menjaga bahan bakar minyak dan pemurni minyak pelumas dan filter.
4) Benar menjaga sistem bahan bakar transfer dan pabrik limbah.
5) Menjaga peralatan lainnya / mesin di ruang mesin seperti yang diperintahkan oleh C /
E.
6) Melakukan transfer bahan bakar dan minyak pelumas, mempertahankan
sounding tangki / catatan bunker dan membantu dalam pengisian bahan bakar.
7) Menjaga catatan diperbarui rencana pemeliharaan preventif pompa.

40
8) Menginformasikan C / E di muka kebutuhan suku cadang dan toko untuk mesin
dikontrol.
9) Lakukan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh C / E (tergantung situasi).

15. Ratings atau Bawahan Bagian Mesin


Mandor (Kepala Kerja Oiler dan Wiper)
1) Menjalankan perintah dari Masinis Jaga
2) Mengarahkan / mengontrol semua ABK mesin
3) Melaporkan dan Mencatat hasil kerja
4) Membantu Masinis jaga
5) Merawat semua peralatan Permesinan
6) Mengevaluasi hasil kerja mekanik bengkel dan juru mesin
7) Fitter atau Juru Las
8) Menjalankan Perintah Masinis jaga
9) Merawat perawatan las
10) Menyambung ( Las ) pipa, atau bagian – bagian mesin yang rusak dan selanjutnya
akan digunakan kembali.

16. Oiler atau Juru Minyak


1) Mencatat pemasukan atau pengeluaran bahan bakar dan Minyak Lumas.
2) Melaporkan kepada masinis jaga apabila ada kelainan pada pesawat – pesawat
indikator minyak.

17. Wiper
Seorang wiper adalah awak yang paling junior di ruang mesin kapal. Peran wiper
terdiri dari :
1) Membersihkan ruang mesin dan mesin,
2) Membantu para masinis seperti yang diarahkan.

18. Bagian Permakanan


1) Juru masak/ cook bertanggung jawab atas segala makanan, baik itu memasak,
pengaturan menu makanan, dan persediaan makanan.
2) Menerima tugas – tugas dari Perwira Radio

41
3) Membantu Perwira Radio merencanakan menu makanan harian dan rancangan
permintaan dan penerimaan bahan makanan dan store sipil.
4) Menjaga dan merawat keadaan / kebersihan dapur dan store kering.
5) Mess boy / pembantu bertugas membantu Juru masak

3. TUGAS DAN KEWAJIBAN ANAK BUAH KAPAL DINAS GELADAK


PASAL 1
a) Waktu kerja orang dinas jaga selama kapal berlayar baik pada hari kerja, maupun
pada hari minggu dan hari-hari libur resmi, adalah 8 jam sehari ditambah dengan
waktu yang dibutuhkan:
 Mengambil alih jaga dan buku harian deck.
 Tanpa memperhatikan peraturan-peraturan setempat, maka untuk dinas
harian, pembagian kerja adalah sebagai berikut:
07.00 – 12.00
13.00 – 16.00
b) Pekerjaan-pekerjaan di kapal dapat dibagi dalam:
 Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan dinas pada umumnya.
 Pekerjaan-pekerjaan dinas jaga.
 Pekerjaan-pekerjaan dalam keadaan luar biasa.
c) Waktu makan diatur oleh nahkoda dengan mengingat waktu-waktu kerja yang
telah ditetapkan, dengan catatan bahwa disamping itu diadakan coffee time 2 kali
sehari selama 15 menit masing-masing.
d) Peraturan umum untuk dinas dipelabuhan atau ditempat berlabuh. Jam kerja
adalah 7 jam pada hari-hari kerja, kecuali hari Sabtu 5 jam. Minggu dan hari-hari
libur resmi 0 jam.
e) Para mualim jika perlu wajib bekerja lembbur atas permintaan nahkoda. Mualim I
dengan kerja lembur diartikan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut.
 Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan setelah selesai tugas jaga selama
kapal berlayar.
 Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan diluar jam-jam kerja yang ditentukan
dalam no.5 pasal ini.
f) Pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk kerja lembur ialah:
 Pekerjaan-pekerjaan penting untuk keselamatan kapal, ABK dan muatan.

42
 Pekerjaan-pekerjaan untuk memegang sijil sekoci dan atau latihan sekoci,
sijil kebakaran, dan atau latihan kebakaran.
g) Dengan di berlakukannya fixed overtime (lembur tetap) maka semuaa awak kapal
harus dengan suka rela melakukan kerja lembur minimal dua setengah jam sehari
dan maksimal sesuai dengan kondisi dan situasi setempat, cuaca, muatan schedule
kapal dll. Atas pertimbangan dan perintah nahkoda.
1. JAGA PELABUHAN
Para mualim yang ditugaskan jaga pelabuhan dilarang meninggalkan kapal selama
waktu jaga. Ia bertanggung jawab atas keamanan kapal beserta muatan serta alat-alat
bantu untuk permuatan.Terutama ia dibebankan tugas menjamin dan
menyelenggarakan pekerjaan serta tata tertib diseluruh kapal dalam bidang teknis
yang lazim menjadi tanggung jawab deck umpamanya :
 Minta aliran listrik atau stroom untuk menjalankan derek-derek untuk dimuat.
 Memberitahu masinis apabila aliran listrik atau stroom tidak dipakai lagi.

PASAL 2

1) DINAS LAUT
Yang diartikan dengan dinas jaga dianjungan dan dinas jaga di kamar mesin:
a) Selama berlayar
b) waktu jangkar, diperairan ramai, waktu hujan lebaat, kabut, arus laut, dan bila
nahkoda anggap perlu :
 Terdapat 6 masa jaga selama 4 hari, dimulai jam 00.00
 Jaga anjungan : 8 jam sehari.
 Larut malam (middle watch) : 00.00 – 04.00 mualim II
 Dini hari (morning watch) : 04.00 – 08.00 mualim I/IV
 Pagi hari (forenoon watch) : 08.00 – 12.00 mualim III
 Siang hari (afternoon watch) : 12.00 – 16.00 mualim II
 Sore hari (dog watch) : 16.00 – 20.00 mualim I
 Malam hari (first watch) : 20.00 – 24.00 mualim III
c) Di perairan ramai atau berbahaya, waktu cuaca buruk, waktu kabut, atau setiap
keadaan lain yang mengurangi pengelihatan, masuk atau keluar pelabuhan atau
sungai, nahkoda diwajibkan berada di anjungan.

43
d) Mualim dinas (jaga) waktu melakukan jaga laut harus selalu berada di anjungan dan
tidak diperkenankan meninggalkan anjungan tanpa seizin nahkoda.
Sesudah jaga laut ia melakukan ronda dan melaporkan keadaan waktu ronda wajib
ditulis di Journal Kapal.
e) Jaga pelabuhan (berlabuh/sandar).
f) Jaga pelabuhan pada saat kapal sedang berlabuh/sandar diatur menurut
kepentingannya nahkoda:
 Jaga mencegah pencurian.
 Jaga di anjungan.
 Jaga Kebakaran.
 Jaga dok, reparasi, las, dll.

3. Tugas jaga ( Masinis ) di Laut


Masinis jaga harus melaksanakan berikut ini :
1) Memastikan bahwa penataan tugas jaga yang ditetapkan dipertahankan. Atas petunjuk
umum darinya, bintara mesin yang lekasanakan sebagaian tugas jaga, harus
membantu operasi mesin penggerak kapal dan mesin bantu secara aman dan efisien
2) Menjaga agar pengawasan dilakukan secara seksama terhadap sistem penggerak
utama dan bantu sampai ia digantikan tugas jaganya. Dilakukan ronda keliling yang
cukup pada permesinan dan ruang mesin kemudi guna mengamati dan melaporkan
adanya kelainan/kerusakan tertentu permesinan, melakukan atau memberi petunjuk
penyetelan parameter operasi permesinan bila perlu.
3) Memberi petunjuk kepada anggota jaga agar memberitahu kepadanya bila terjadi
kemungkinan keadaan berbahaya yang akan mempengaruhi permesinan dan
membahayakan keselamatan jiwa atau kapal
4) Memastikan bahwa kamar mesin selalu diawaki setiap saat. Bila beberapa dari
anggota jaganya dalam keadaan tidak cakap, ia harus mengatur penggantinya. Dalam
keadaan apapun kamar mesin tidak boleh tak berawak
5) Mengambil langkah yang diperlukan membatasi dampak kerusakan akibat kebakaran,
penggenangan, kerusakan mesin, pipa pecah, dsb.
6) Memastikan bahwa dirinya dan anggota jaganya mengetahui jumlah, jenis dan lokasi
perlengkapan pemadaman kebakaran dan sarana pengendalian kerusakan serta
penggunaannya.

44
7) Menjawab telegraph dan telephone dengan segera, setiap perintah dari anjungan harus
segera dilaksanakan. Segera beritahukan KKM bila terjadi perubahan kecepatan
mesin atau perintah penting lainnya dari anjungan.
8) Pastikan bahwa buku log diisi dan ditandatangani pada akhir tugas jaga Catatan :
Masinis Jaga bertanggung jawab atas operasi permesinan meskipun KKM atau
Masinis senior lainnya hadir di kamar mesin, kecuali diberitahukan secara khusus
oleh mereka bahwa mereka mengambil alih tanggung jawab tersebut.
9) Personil Tugas Jaga
Masinis Jaga harus memberi petunjuk dan informasi yang layak kepada personil jaga
guna menjamin kelayakan tugas jaga. Perawatan rutin permesinan, yang dilakukan
sebagai tugas insidentil dari bagian tugas jaga yang aman, harus dianggap sebagai
ketentuan tugas jaga.

4. Operasi Secara Ekonomis


1) Masinis Jaga harus mengoperasikan permesinan secara ekonomis, sejalan dengan
keselamatan, sebagaimana digaris bawahi oleh KKM. Seluruh kelengkapan yang
tidak perlu dihidupkan harus dimatikan kecuali diperintahkan oleh KKM.

5. Perawatan Pencegahan dan Perbaikan


Masinis Jaga harus bekerjasama dengan para Masinis lainnya dalam melaksanakan
perawatan pencegahan, pengendalian kerusakan atau perbaikan terhadap permesinan
tertentu. Ini meliputi, tetapi tidak terbatas pada :
1) Mengisolasi atau membypass permesinan yang akan dikerjakan.
2) Menyetel mesin lainnya agar berfungsi dengan cukup dan selamat selama periode
perawatan.
3) Mencatat dalam log mesin atau dokumen lainnya perlengkpan yang dikerjakan dan
personil yang terlibat, tindakan keselamatan yang dilakukan.
4) Pengujian dan menjalankan bilamana perlu, permesinan atau perlengkapan yang
diperbaiki.

6. Operasi yang Tidak Normal dan Gangguan


1) Bila terdapat petunjuk tidak berfungsinya permesinan, Masinis Jaga harus mengambil
langkah segera untuk mencegah kerusakan permesinan dan memberitahu Masinis I
atau KKM.

45
2) Jika gangguan akan menyebabkan perubahan kecepatan mesin, atau mempengaruhi
daya olah gerak kapal atau mengganggu perlengkapan navigasi, misalnya gangguan
atau variasi dalam pasokan tenaga listrik, maka Mualim Jaga harus segera diberitahu.
3) Pemberitahuan ini, bilamana memungkinkan, diberikan sebelum dilakukannya
perubahan guna memberikan waktu yang banyak bagi Mualim jaga untuk mengambil
langkah apa saja yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan pelayaran.

7. Memanggil Kepala Kamar Mesin


Masinis Jaga harus segera memberitahu KKM dalam keadaan berikut ini :
1) Bila terjadi kerusakan atau gangguan mesin yang menurut pendapatnya dapat
mengganggu keselamatan pengoperasian kapal.
2) Bila terjadi gangguan yang menurut pendapatnya dapat menyebabkan kerusakan atau
kemacetan permesinan penggerak kapal, mesin bantu atau sistem monitoring.
3) Kapan saja Nakhoda atau Mualim Jaga meminta siap mesin.
4) Dalam keadaan darurat atau situasi ia ragu untuk mengambil keputusan tertentu
5) Meskipun terdapat ketentuan untuk segera memberitahu KKM, namun demikian
Masinis Jaga tidak boleh ragu untuk segera mengambil langkah apa saja demi
keselamatan personil, kapal, lingkungan serta permesinan dan perlengkapannya

8. Isyarat Panggilan Darurat


1) Jika, dalam suatu keadaan darurat tidak cukup waktu untuk menggunakan telephone
atau sarana komunikasi lainya, Mualim Jaga atau Masinis Jaga yang memerlukan
bantuan dapat membunyikan TIGA DERING PENDEK pada lonceng alarm umum.
Bila mendengar isyarat ini, Nakhoda dan Mualim akan menuju ke anjungan , serta
KKM dan para masinis ke kamar mesin. Setelah menilai situasi, Nakhoda dan KKM
akan mengambil langkah yang diperlukan.

9. Buku Log dan Buku Lonceng (Bel)


1) Masinis Jaga harus mencatat semua perintah yang diterima dari anjungan dalam
waktu yang sebenarnya dalam Buku Lonceng. Masinis yang mengisi Buku Lonceng
harus memparaf isiannya.
2) Masinis Jaga harus mencatat data yang diperlukan dalam Buku Log Mesin,
memindahkan data penting dari bukulonceng dan menandatangani buku log mesin
setelah selesai tugas jaganya

46
Catatan : Tidak boleh ada coretan pada buku lonceng atau buku log mesin. Isian yang
tidak benar harus dicoret dan diparaf serta menulis isian yang benar.

10. Menggantikan Tugas Jaga di Laut


1) Masinis Jaga yang menggantikan serta juru jaganya harus melakukan keliling kamar
mesin dan kamar mesin kemudi paling sedikit 15 menit sebelum
2) memulai tugas jaganya. Ia harus memastikan dirinya sendiri mengenai hal berikut ini
sebelum mengambil alih tugas jaga :
a) Mengecek permukaan dan kondisi air atau minyak di bilga, tangki ballast, tangki slop,
tangki cadangan, tangki sludge, tangki ekspansi air tawar, tangki kotoran, dsb, dan
persyaratan khusus untuk menggunakan atau membuang isi tangki-tangki tersebut
b) Mengecek permukaan dan kondisi BBK dalam tangki harian, tangki settling, serta
tangki lain yang ditranfer atau digunakan selama tugas jaga.
c) Mengecek kondisi dan moda operasi sistem utama dan bantu.
d) Mengecek kondisi dan moda operasi sistem kontrol ketel (boiler), seperti pelindung
api,
e) Mengecek status konsol kontrol mesin, yang menunjukan perlengkapan mana yang
dioperasikan secara manual atau alarm yang dihidupkan.
f) Mengecek dan memastikan seluruh anggota jaganya hadir dan mampu
melaksanakan tugasnya secara efektif.
3) Mengecek dengan Masinis Jaga yang digantikan mengenai berikut ini :
a) Putaran mesin yang ditetapkan, perintah tetap atau petunjuk dari KKM atau anjungan
mengenai pengoperasian sistem atau permesinan kapal.
b) Pekerjaan tertentu yang sedang dikerjakan pada sistem atau permesinan, sipat
pekerjaan, orang yang terlibat dan kemungkinan bahayanya
c) Kemungkinan bahaya tertentu yang diakibatkan oleh cuaca buruk, kabut, air yang
kotor atau dangkal
d) Memeriksa seluruh isian log mesin dan sesuai dengan hasil pengamatan yang
dilakukan.

47
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Tinjauan Mata Kuliah. Universitas Terbuka Indonesia.


http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdftinjauan/MMPI5203/TINJAUAN.pdf diakses
26 Februari 2016.

Ayodhya, A. U. 1981. Fishing Boat. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor: Bogor 85
Hal.

Boa Hanadayani. 2013. Studi Pendapatan Pejala Rumpon Di Manggar Baru Balikpapan.
FPIK. Universitas Mulawarman.

Feliatra, 2004. Pembangunan Perikanan dan Kelautan Indonesia. Diktat Kuliah Ilmu
Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Pekanbaru. (http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-
konservasi/details/1/102) diunggah pada kamis 27 maret 2014 pukul 26.00 wib
Pekanbaru.

Muliana, I. 2012. Kapal Perikanan Alat Tangkap Bagan Perahu.Blogsppot, Kapal Perikanan
ALAT TANGKAP BAGAN.html. 24 Oktober 2013.

Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.50/Men/2011


Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kelautan Dan
Perikanan Tahun 2012, (12 Desember 2012). 151 halaman.

Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.

Sudirman, dan A. Mellawa.2004 Teknik Pengkapan Ikan. Rineka Cipta: Jakarta. 168 hal.

Syamsuddin, A.R, 1980. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara, Jakarta,. 58 hal.

Wahyono dan Sjarif, 2004. Sistem informasi (konsep dasar, analisis, desain dan
implementasi).

48