Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Kota Sabang adalah salah satu kota di Aceh, Indonesia. Kota ini berupa
kepulauan di seberang utara pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau
terbesar (05°46'28"-05°54'-28" Lintang Utara dan 95o13’02”-95o22’36” Bujur
Timur). Wilayah kota Sabang meliputi Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau
Seulako dan Pulau Rondo dengan luas sebesar 153 Km2, terdiri dari dua kecamatan
yaitu Kecamatan Sukakarya 73 Km2 dan Kecamatan Sukajaya 80 Km2. Wilayah kota
Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di sebelah utara, Samudera Hindia di sebelah
Timur, Selat Malaka di sebelah selatan dan Samudera Hindia di sebelah Barat.
Kota Sabang memiliki topografi datar hingga bergunung. Secara umum Kota
Sabang berada pada ketinggian ± 28 m di atas permukaan air laut (dpl). Kondisi
morfologinya didominasi oleh pegunungan, yakni sekitar 50% dari luas kawasan
keseluruhan, dataran 25%, landai 3,54%, dataran bergelombang 8,01% dan berbukit
13,45%.
Masyarakat Kota Sabang mengalami persoalan ganda di bidang kesehatan.
Pada satu sisi, masyarakat rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular akibat
kondisi lingkungan dan fasilitas sanitasi yang belum memadai. Pada sisi yang lain,
kasus-kasus penyakit degeneratif pun meningkat tajam. Transisi epidemiologi ini
sejalan dengan gaya hidup masyarakat Aceh yang mulai berubah. Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) Aceh berada pada urutan 18 dari 33 provinsi di
Indonesia.
Status kesehatan masyarakat adalah indikator penting dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka menciptakan masyarakat
yang sehat maka dilakukan peningkatan pelayanan kesehatan. Jika pelayanan
kesehatan tidak tersedia, tidak tercapai, tidak terjangkau, tidak berkesinambungan,
tidak menyeluruh, terpadu dan bermutu, tentunya sulit diharapkan keadaan sehat
tersebut. Untuk itu diperlukan adanya dokter keluarga.
Dokter keluarga melakukan pelayanan secara komprehensif. Dokter keluarga
menilai perkembangan sebuah penyakit yang dialami pasien dalam keluarga serta
peran keluarga dalam pencegahan penyakit dan perawatan pasien, melihat pola
penyakit tertentu dalam keluarga terkait dengan kebiasaan keluarga tersebut,
meninjau faktor sosial, ekonomi dan pendidikan keluarga terkait kebiasaan keluarga
tersebut. Melalui peran tersebut, dokter keluarga memiliki keunggulan ditinjau dari
kedudukan dan peranannya dalam sistem pelayanan kesehatan, yaitu melayani
kepentingan semua anggota keluarga serta berhubungan dengan semua anggota
keluarga dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga diperlukan usaha promotif
dan preventif untuk mencapai setiap anggota yang sehat. Oleh karena itu saya ingin
membagun suatu klinik kedokteran keluarga yang lebih mudah dijangkau oleh
masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih mudah menjangkau tempat pelayanan
kesehatan dan diharapkan dapat menekan angka kesakitan masyarakat dan
mengurangi kemungkinan komplikasi yang dapat timbul.

2. Tujuan
A. Tujuan Umum
 Memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif berlandaskan praktik
kedokteran keluarga.
B. Tujuan Khusus
 Mengupayakan prinsip kedokteran dalam melakukan pelayanan kesehatan.
 Mengupayakan derajat kesehatan masyarakat melalui health promotion and
prevention.
 Mengupayakan early detection masyarakat melalui praktik dokter keluarga.
3. Visi dan Misi
A. Visi
 Menciptakan pelayanan kesehatan secara komprehensif berlandaskan praktik
kedokteran keluarga.
B. Misi
 Menerapkan prinsip kedokteran dalam melakukan pelayanan kesehatan.
 Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui health promotion and
prevention.
 Melakukan early detection masyarakat melalui praktik dokter keluarga.

4. Analisis Situasi
A. Kekuatan (Strenght)
 Mempunyai lokasi yang strategis karena terletak di kawasan pantai.
 Terdapat pabrik semen PT.SAI.
 Belum adanya klinik kedokteran keluarga di tempat pendirian klinik.
 Terdapat banyak menara (tower) jaringan telepon seluler.
 Distribusi sarana dan tenaga kesehatan yang kurang memadai dan kurang
merata, sehingga membantu pemerataan kesehatan.
 Terdapat lapangan golf.
 Tersedianya banyak wahana rekreasi.
 Tidak memiliki rumah sakit dan klinik 24 jam.
 Pelayanan kesehatan puskesmas hanya terbatas pada jam kerja.
B. Kelemahan (Weakness)
 Belum adanya SDM, equipment, sistem, SOP dan protab
 Keterbatasan dana untuk pelaksanaan dan operasional
 Belum memiliki pengalaman dalam pengolahan klinik
 Belum adanya standar pembayaran untuk petugas medis
 Jumlah penduduk Lhoknga menurun
 Masyarakat lebih memilih berobat ke pengobatan yang lebih terjangkau
seperti Mantri dan perawat.
 Lemahnya koneksi/kerja sama
C. Kesempatan (Opportunity)
 Adanya BPJS-K terhitung 01 Januari 2014
 Perkembangan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya
kesehatan serta kebutuhan konsultasi ke dokter umum atau spesialis
 Banyaknya kondisi masyarakat yang rentan terhadap penyakit
 Rumah Sakit membutuhkan jejaring (klinik dokter keluarga)
 Pelayanan kesehatan preventif dan promotif yang kurang di rumah sakit dan
puskesmas
 Kecamatan Lhoknga adalah wilayah dengan sarana antar transportasi dan
rekreasi yang baik.
D. Ancaman (Threat)
 Semakin kritisnya masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan yang
diberikan.
 Pesaing global yang mempunyai segmentasi pasar dan positioning sama.
 Berjamurnya klinik-klinik yang memberikan pelayanan kesehatan dengan
biaya yang relatif murah dan terjangkau.
 Terletak di kawasan yang rawan bencana.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dokter Keluarga


II.1.1 Pendahuluan
Secara umum, bentuk dan jenis pelayanan kesehatan dapat dibedakan atas dua
macam. Pertama, pelayanan kesehatan personal (personal health services). Kedua,
pelayanan kesehatan lingkungan (environmental health services) atau sering disebut
pula sebagai pelayanan kesehatan masyarakat (public health services) (Hodgetts dan
Cascio, 1983).
Menurut Leave and Clark (1953), kedua bentuk pelayanan kesehatan ini
mempunyai ciri-ciri tersendiri. Jika pelayanan kesehatan tersebut ditujukan untuk
menyembuhkan penyakit (curative) dan memulihkan kesehatan (rehabilitative)
disebuut dengan nama pelayanan kedokteran. Sedangkan jjika pelayanan kesehatan
tersebut teruttama ditujukan untuk meningkatkan kesehatan (promotive) dan
mencegah penyakit (preventive) disebut dengan nama pelayanan kesehatan
masyarakat.
Sasaran kedua unntuk pelayanan kesehatan ini juga berbeda. Sasaran untama
kedokteran adalah perseorangan dan keluarga. Sedangkan sasaran utama pelayanan
kesehatan masyarakat adalah kelompok dan masyarakat. Pelayanan kedokteran yang
sasaran utamanya adalah keluarga disebut dengan nama pelayanan dokter keluarga
(family practice).

II.1.2 Definisi
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab
dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu.
llmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu
kedokteran tingkat yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan
individu, keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan,
ekonomi dan sosial budaya (IDI 1983).
Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan
pelayanan primer yang komperhensif, kontinyu, mengutamakan ppencagahn,
koordinatif, mempertimbankan keluarga, komunitas dan lingkungannya yang
dilandasi keteerampilan dan keilmuan yang mapan.
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit
keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi
penderita atau keluarganya (IDI 1982).
Pelayanan Dokter Keluarga melibatkan Dokter Keluarga (DK) sebagai
penyaring di tingkat primer, dokter Spesialis (DSp) di tingkat pelayanan sekunder,
rumah sakit rujukan, dan pihak pendana yang kesemuanya bekerja sama dibawah
naungan peraturan dan perundangan. Pelayanan diselenggarakan secara
komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan mengutamakan
pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya.
Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin, usia
ataupun jenis penyakitnya.
Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada
seorang lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. kompetensi yang harus dimiliki
oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besarnya ialah :
a. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran
keluarga.
b. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam
pelayanan kedokteran keluarga.
c. Menguasai ketrampilan berkomunikasi, dan diharapkan dapat
menyelenggarakan hubungan profesional dokter-pasien untuk :
 Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota
keluarga dengan perhatian khusus terhadap peran dan risiko
kesehatan keluarga.
 Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk
berkerjasana menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan
kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta
pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan keluarga.
 Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu
tim pada penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.
II.1.3 Tujuan
II.1.3.1 Tujuan Umum
Terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga.
II.1.3.2 Tujuan Khusus
Pemerataan pelayanan yang manusiawi, bermutu , efektif, efisien dan merata
bagi seluruh rakyat Indonesia (kemenkes RI, 2015).
a. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efektif.
Dibandingkan dengan pelayanan kedoteran lainnya, pelayanan
dokter kelarga memang lebih efektif. Ini disebabkan karena dalam
menangani suatu masalah kesehatan, perhatian tidak hanya ditujukan
pada keluhan yang disampaikan saja, tetapi pada pasien sebagai manusia
seutuhnya, dan bahkan sebagai bagian anggota keluarga dengn
lingkungannya masing-masing. Dengan diperhatikannya berbagi faktor
yang seperti ini, maka pengelolaan suatu masalah kesehatan akan dapat
dilakukan secara sempurna dan karena ini pennyelesaian suatu masalah
kesehatan akan dapat pula diharapkan lebih memuaskan.
b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efisien.
Dibandingkan dengan pelayanan kkedokteran lainnya, pelayana
dokter keluarga juga lebih efisien. Ini disebabkan karena pelayanan
dokter keluarga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit
serta diselanggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Dengan diutamakannya pelayanan pencegahan penyakit, maka berarti
angka jatuh sakit akan menurun, yang apabila dapat dipertahankan, pada
gilirannya akan berperan besar dalam menurunkan biaya kesehatan.
Karena salah satu keuntungan dari pelayanan yang seperti ini ialah dapat
dihinndarkannya tindakan dan atau pemeriksaan kedokteran yang
berulang-ulang.
II.1.4 Manfaat
a. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia
seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan.
b. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin
kesinambungan pelayanan kesehatan.
c. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik dan
terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat
ini.
d. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan pelbagai masalah
lainnya.
e. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanani maka segala
keterangan tentang keluarga tersebut, baik keterangan kesehatan ataupun
keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah
kesehatan yang sedang dihadapi.
f. Akan dapat diperhitungkan pelbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
g. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara
yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan
meringankan biayakesehatan.
h. Akan dapat dicegah pemakaian pelbagai peralatan kedokteran canggih
yang memberatkan biaya kesehatan.
II.1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pelayanan dokter keluarga mencakup bidang amat luas
sekali.Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam :
A. Kegiatan yang dilaksanakan :
Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus memenuhi
syarat pokok yaitu pelayanan kedokteran menyeluruh (Comprehensive
Medical Services). Karakteristik CMC :
 jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis
pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.
 Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotak-kotak
ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan secara terpadu
(integrated) dan berkesinambungan (continu).
 Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan pelayanan
kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada keluhan
dan masalah kesehatan yang disampaikan penderita saja,
melainkan pada penderita sebagai manusia seutuhnya.
 Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati hanya
dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi yang terkait
(comprehensive approach) yaitu sisi fisik, mental dan sosial
(secara holistik).
B. Sasaran Pelayanan :
Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu unit.
Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan dan tuntutan
kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan, harus memperhatikan
pengaruhmasalah kesehatan yang dihadapi terhadap keluarga dan harus
memperhatikan pengaruh keluarga terhadap masalah kesehatan yang
dihadapi oleh setiap anggota keluarga.
II.1.6 Batasan Pelayanan
Secara umum batasan untuk pelayanan kedokteran keluarga banyak macam
nya, namun disini akan dibahas 2 pandangan terkemuka dari The America Academy
of Family Physician (1969) mengenai kedokteran keluarga, yaitu :
a. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh
yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai satu unit, dimana
tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh
golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak oleh organ tubuh atau
jenis penyakit tertentu saja.
b. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang
bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari berbagai
disiplin ilmu lain nya terutama ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak,
ilmu kebidanan dan kandungan, ilmu bedah, serta ilmu kedokteran jiwa,
yang secara keseluruhan membentuk kesatuan yang terpadu, diperkaya
dengan ilmu perilaku, biologi, dan ilmu-ilmu klinik, dan karenanya mampu
mempersiapkan dokter untuk mempunyai peranan yang unik dalam
menyelenggarakan penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah,
pelayanan konseling, serta dapat bertindak sebagai dokter pribadi yang
mengkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan.
Walaupun kedua bahasan ini berasal dari sumber yang sama, namun untuk
pembahasan pertama lebih menekankan pada karakteristik pelayanan, lebih ditujukan
untuk kepentingan penyelenggaraan pelayanan. Sedangkan pembahasan kedua lebih
menekankan pada penerapan disiplin ilmu, lebih ditujukan untuk kepentingan
pendidikan dan pelatihan. Kedua pernyataan ini secara tidak langsung menyatakan
perbedaan praktik kedokteran umum dan keluarga. Dibawah ini adalah tabel
perbedaan dokter keluarga dan dokter praktek umum.
Tabel 1 Perbedaan Dokter Umum dan Dokter Keluarga

Sumber : Family Medicine Universitas Gajah Mada

II.1.7 Prinsip Pelayanan


Pada dasarnya dokter keluarga dan dokter yang bekerja di pelayanan kesehatan
primer memiliki prinsip-prinsip yang sulit untuk dibedakan. Hal ini berkaitan dengan
dituntut nya seorang dokter pelayanan primer untuk dapat mengusai prinsip-prinsip
yang dipegang oleh kedokteran keluarga. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
(PDKI) membuat suatu rancangan prinsip pelayanan kedokteran keluarga. yang
mengacu kepada World Health Organization (WHO). Prinsip-prinsip pelayanan
kedokteran keluarga adalah sebagai berikut :

a. Pelayanan yang holistik dan komperhensif :


Memberikan pelayanan secara paripurna berarti melakukan
pemeriksaan secara keseluruhan dengan menimbang rasionalitas dan
mafaatnya bagi pasien. Sebagai contoh misalnya, seorang yang sakit
kepala, pada awalnya mungkin saja hanya diberi parasetamol atau
analgetik lainnya. Jika sakit kepala berulang-ulang, harus digali sejauh
mungkin berbagai kemungkinan penyebabnya, dan bila dipandang perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis
penyebabnya. Tentu saja, rujukan harus dilakukan jika memang diperlukan,
sekalipun pasien ybs tidak memintanya. Selain itu, ancangan holistik harus
dilakukan juga agar terasa lebih manusiawi. Dokter keluarga lebih
mempertimbangkan siapa yang sakit daripada sekedar penyakit.
b. Pelayanan yang kontinyu :
Dokter keluarga merupakan ujung tombak pelayanan medis tempat
kontak pertama dengan pasien untuk selanjutnya harus menjaga kontinuitas
pelayanan dalam arti, pemantauan kepada pasien dilakukan secara terus-
menerus mengunakan rekam medis yang akurat dan sistem rujukan yang
terkendali.Untuk menunjang kesinambungan pelayanan, klinik harus
dilengkapi dengan rekam medis yang memadai dan sarana komunikasi
yang handal sehingga dokter dapat dihubungi sewaktu-waktu diperlukan.
Demikian pula, jangan lupa membuat surat rujuk pindah jika ada pasien
yang hendak pindah tempat tinggal misalnya pindah kota atau pindah
klinik. Dalam surat rujuk pindah itu harus dilengkapi dengan data
kesehatan yang penting, dengan data tambahan data yang diperlukan.
Boleh dikatakan pemantauan pada setiap pasien dilakukan mulai dari
konsepsi sampai mati.
c. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan :
Dokter Keluarga harus berusaha meningkatkan taraf kesehatan setiap
pasien yang menjadi tanggung-jawabnya. Bagaimanapun dokter keluarga
harus berupaya menerapkan seluruh tingkat pencegahan. Dengan demikian
ia harus memberikan ceramah kesehatan dan vaksinasi, menyelengarakan
KB dan KIA dan bahkan acara senam pagi secara rutin. Selain itu dokter
keluarga harus cepat dan tepat membuat diagnosis penyakit dan
mengobatinya.
d. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif :
Koordinasi ini dilakukan ketika pasien memerlukan beberapa
konsultasi spesialistis atau pemeriksaan penunjang dalam waktu yang
bersamaan. Selain itu koordinasi pun dilakukan dengan keluarga dan
lingkungannya guna meningkatkan efisiensi pengobatan.
Pelayanan kolaboratif artinya bekerja sama juga dengan berbagai
pihak yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, guna mengefektifkan
dan mengefisienkan pelayanan. Misalnya, bekerjasama dengan
labotarotium untuk memantau pasien dengan dugaan DHF tetapi belum
perlu dirawat. Untuk kasus seperti ini pihak laboratorium diminta untuk
memantau perubahan indikator perkembangan penyakit dan segera
melaporkan hasilnya sehinga pasien dapat istirahat di rumah tanpa bolak-
balik ke klinik. Dokter keluarga bukan hanya mempertimbangkan segi
medis tetapi juga ekonomi, sosial dan budaya sehingga sering perlu
melibatkan atau kerjasama dengan berbagai pihak.
e. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bahan integral dari
keluarga :
Titik tolak pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan personal
seorang individu sebagai bagian integral dari keluarganya. Seorang
individu, sekalipun menjadi bagian dari sebuah keluarga, dibenarkan
mempunyai dokter keluarga sendiri yang mungkin dapat berbeda atau sama
dengan anggota keluarga yang lain.
f. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan pekerjaan, dan
lingkungan tempat tinggal :
Dalam mengobati pasien, DK tidak boleh lupa bahwa pasien
merupakan bagian integral dari keluarga dan komunitasnya. Kesembuhan
penyakit sangat dipengaruhi lingkungannya dan sebaliknya penyakit pasien
dapat mempengaruhi lingkungannya juga.
g. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum :
Sadar etika dalam praktiknya diwujudkan dalam perilaku dokter dalam
menghadapi pasiennya tanda memandang status sosial, jenis kelamin, jenis
penyakit, ataupun sistem oragn ayng sakit. Semua dalah pasiennya dan
harus dilayani secara profesional. Demikian pula dengan sadar hukum,
sangat dekat dengan perilaku dokter untuk tetap bekerja dalam batas-batas
kewenanangan dan selalau mentaati kewajiban yang digariskan oleh
hukum yang berolaku di daerah tempat praktiknya.
h. Pelayanan yang dapat diaudit dan dipertanggung jawabkan :
Sebenanrya yang diaudit mencakup selurut strata pelayanan kesehatan
bukan hanya layanan DK. Kenyataannya sampai sekarang audit medis
masih jauh dari harapan terutamna di Indonesia. Namun demikian praktik
DK harus memulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu dapat diaudit
oleh pihak yang berwenang. Audit medis ini merupakan upaya peningkaan
kualitas pelayanan dan sala sekali bukan upaya untuk memata-matai
praktik dokter.
i. Pelayanan yang sadar biaya dan mutu :
Yang tidak kalah pentingnya adalah sadar biaya yang juga sebenarnya
menyangkut perilaku DK dalam pertimbangkan ”cost effectiveness” dari
biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Dengan kata lain biaya harus menjadi
pertimbangan akan tetapi tidak boleh menurunkan mutu pelayanan.
II.1.8 Karakteristik Pelayanan
Para ahli telah membuat karakteristik tertentu yang menjadi identitas dari
dokter keluarga. Dari banyaknya pendapat ahli, dibawah ini akan dibahas beberapa
karakteristik pelayanan kedokteran keluarga dari beberapa ahli.
a. Menurut Lynn P. Carmichael (1973) :
- Mencegah penyakit dan memelihara kesehatan.
- Pasien sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat.
- Pelayanan menyeluruh, mempertimbangkan pasien dan
keluarganya.
- Andal mendiagnosis, tanggap epidemiologi dan terampil menangani
penyakit.
- Tanggap saling-aruh faktor biologik-emosi-sosial, dan mewaspadai
kemiripan penyakit.
b. Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI – 1982) :
 Memandang pasien sebagai individu, bagian dari keluarga dan
masyarakat.
 Pelayanan menyeluruh dan maksimal.
 Mengutamakan pencegahan, tingkatan taraf kesehatan.
 Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya.
 Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas
kelanjutannya.
c. Menurut EURACT (2005) :

 Biasanya kontak pertama dengan sistem pelayan kesehatan yang


melayani akses terbuka dan tidak terbatas untuk pasien, berurusan
dengan semua masalah kesehatan terlepas dari umur, jenis kelamin
atau karakteristik lain dari orang yang bersangkutan

 Membuat efisien penggunaan sumber daya kesehatan dengan


pelayanan koordinatif, bekerja sama dengan profesional lainnya
dalam layanan primer dan dengan mengelola komunikasi dengan
spesialis, berperan memberikan advokasi kepada pasien jika
diperlukan.

 Melakukan pendekatan person–centred dan berorientasi kepada


individu dan keluarganya, dan komunitasnya

 Mempunyai proseskonsultasi yang berbeda, dimana dikembangkan


hubungan dari waktu ke waktu, melalui komunikasi efektif antara
dokter-pasien.

 Bertanggung jawab untuk menyediakan pelayanan


berkesinambungan yang longitudinal yang sesuai kebutuhan pasien
 Dalam pengambilan keputusan berdasarkan prevalensi dan
insidensi penyakit dalam komunitas

 Mengelola penyakit secara simultan baik akut maupun masalah


kesehatan yang kronis pada pasien

 Mengelola penyakit yang memberikan gejala undifferentiated pada


tahap awal perkembangannya, yang membutuhkan intervensi
secepatnya

 Promosi kesehatan dan kesejahteraan dengan intervensi yang tepat


dan efektif

 Memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat

 Siap dengan masalah kesehatan pasien dalam dimensi fisik,


psikologis, sosial, kultural dan eksistensial .
d. Menurut Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia :
 First Contact dalam pelayanan kesehatan
 Melayani penderita sebagai anggota keluarga (Family Based
Service)
 Doctor – Patient – Relationship (D – P – R) yang optimal
 Home Visite
 Family Folder

II.1.9 Standar Kompetensi Dasar


Berdasarkan prinsip-prinsip yang di pegang oleh kedokteran keluarga, maka
dokter keluarga pun memiliki beberapa standar kompetensi dasar yang harus dipenuhi
agar terbentuknya sistem kedokteran keluarga yang berkualitas.
Menurut European Academy of Teachers in General Practice (EURACT) tahun
2005, kompetensi dasar kedokteran keluarga diklasifikasikan menjadi 6 inti pokok.
Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
 Primary care management :
Kemampuan untuk memanajemen kontak pertama dengan pasien;
melakukan koordinasi dengan berbagai pihak dalam pelayanan primer dan
spesialis, menguasai kondisi kesehatan secara keseluruhan, menguasai
perawatan yang sesuai dan penggunaan sumber daya yang efektif,
pemberian pelayanan kesehatan yang sesuai kepada pasien dalam system
kesehatan, mampu menjadi pendamping pasien.

 Person-centred care :
Kemampuan untuk menciptakan hubungan baik dokter-pasien, dan mampu
mengembangkan pendekatan patient-centred dalam menghadapi
permasalahan kesehatan pasien, mampu mengaplikasikan model konsultasi
yang bersifat patient-centred, berkomunikasi dan bertindak dalam
hubungan dokter-pasien, dapat memberikan prioritas dalam komunikasi
dan hubungan dokter pasien , menyediakan perawatan kesehatan yang
kontinue.

 Specific problem solving :


Kemampuan untuk menghubungkan pembuatan keputusan yang spesifik
sesuai dengan prevalensi dan insidensi kasus dalam komunitas; membuat
efektif dan efisien penggunaan intervensi diagnostik dan terapeutik, dapat
mengumpulkan, menginterpretasi dan menyimpulkan informasi dari
anamnesis, pemeriksaan fisik dan tambahan kemudian mengaplikasikan
dalam rencana medis kepada pasien, menyadari ketidaksesuaian data,
investigasi, toleransi dan waktu, dapat memberikan intervensi yang urgen
bila dibutuhkan, memanajemen kondisi yang tidak menentu.

 Comprehensive approach :
Untuk memanajemen bermacam keluhan yang bersifat akut maupun kronis
pada seorang individu, memberikan pelayanan promotif dan preventif,
mampu mengkoordinasikan berbagai elemen perawatan preventif, kuratif,
rehabilitative pada pasien.

 Community orientation :
Kemampuan untuk merekonsialisasikan kebutuhan kesehatan individu
pasien dan masyarakat secara seimbang dengan memanfaatkan sumber
daya yang ada.

 Holistic approach :
Kemampuan untuk menggunakan model pendekatan bio-psiko-sosial
dalam dimensi kultural dan eksistensial.

Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) pada tahun 2006 juga


membuat rancangan tentang standar kompetensi dasar dokter keluarga di Indonesia.
Rancangan tersebut adalah :

 Kompetensi dasar :
- Keterampilan komunikasi efektif.
- Keterampilan klinis dasar.
- Keterampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedik, ilmu klinik,
ilmu perilaku, dan epidemiologi dalam praktek kedokteran
keluarga.
- Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu,
keluarga ataupun masyarakat dengan cara yang komperhensif,
holistik, berkesinambungan, terkoordinir, dan bekerja sama dalam
konteks pelayanan primer.
- Memanfaatkan, menilai secara kritis, dan mengelola informasi.
- Mawas diri dan pengembangan diri/ belajar sepanjang hayat.
- Etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik.
 Ilmu dan keterampilan klinis layanan primer cabang ilmu utama :
- Bedah.
- Penyakit dalam.
- Kebidanan dan penyakit kandungan.
- Kesehatan anak.
- THT.
- Mata.
- Kulit dan kelamin.
- Psikiatri.
- Saraf.
- Kedokteran komunitas.
 Keterampilan klinis layanan primer lanjut
- Keterampilan melakukan Health Screening.
- Menafsirkan hasil pemeriksaan laboraturium lanjut.
- Membaca hasil EKG.
- Membaca hasil USG.
- BTLS, BCLS, dan BPLS.
 Keterampilan pendukung :
- Riset.
- Mengajar kedokteran keluarga.
 Ilmu dan keterampilan klinis layanan primer cabang ilmu pelengkap :
- Semua cabang ilmu kedokteran lain nya.
- Memahami dan menjembatani pengobatan alternatif.
 Ilmu dan keterampilan manajemen klinik :
- Manajemen klinik dokter keluarga.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Struktur Organisasi Klinik

Pembina Yayasan

Pengawas Klinik

Kepala Klinik

Koordinator
Administrasi
Koordinator Manajemen

Umum Pencatatan &


Pelaporan

Juru Masak &


Cleaning Service

Satuan Pengamanan
Unit Gawat
Darurat

Keterangan :
Unit Rawat Inap Unit Rawat Jalan

Poliklinik Laboraturium Farmasi

Poli Umum, Gigi Poli Kebidanan &


Poli Spesialisasi
& Gizi Kandungan

Poli Umum Poli Penyakit


Dalam
Unit Kedokteran
Keluarga
Poli Anak

Poli Gigi

Unit Gizi
III.2 Rancangan Bangunan Klinik dan Fasilitasnya
III.3 Jenis Standar Pelayanan Klinik

Berdasarkan Permenkes No. 9 Tahun 2014 Tentang Klinik dan Perda


Kabupaten Jepara No. 13 Tahun 2012 Tentang Perizinan Bidang Kesehatan,
persyaratan izin operasional klinik antara lain sebagai berikut.
a. Sarana dan Prasarana
1. Ruang pendaftaran/ruang tunggu
2. Ruang konsulatsi dokter
3. Ruang administrasi
4. Ruang tindakan
5. Ruang obat dan bahan habis pakai untuk klinik yang
menyelenggarakan pelayanan farmasi
6. Ruang/pojok ASI
7. Kamar mandi / WC
8. Ruang lain sesuai kebutuhan pelayanan
9. Instalasi sanitasi
10. Instalasi listrik
11. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran
12. Sistem gas medis
13. Sistem tata udara
14. Sistem pencahayaan
15. Prasarana lainya sesuai kebutuhan
Untuk Klinik Rawat Inap ditambah:
1. Ruang rawat inap yang memenuhi persyaratan minimal 5 tempat tidur
dan maksimal 10 tempat tidur
2. Ruang farmasi
3. Ruang laboratorium
4. Ruang dapur
5. Ambulan

b. Peralatan
1. Peralatan Umum
2. Peralatan Poliklinik
3. Peralatan Poliklinik Gigi (bila ada dokter gigi)
4. Peralatan Laboratorium Sederhana
Untuk Klinik Rawat Inap ditambah:
1. Peralatan Perawatan
2. Peralatan bedah minor dan gawat darurat
3. Peralatan Laboratorium tambahan
III.4 Kebutuhan Interior Klinik Pratama

Kebutuhan Interior Klinik Pratama


Nama Ruang sesuai denah Jenis Interior Jumlah
1. Ruang Tunggu - Kursi Bahan Metal 4 seat 5
Ruang Pendaftaran

- Tempat Sampah 3
2. Pendaftaran & - Lobi Pendaftaran 1
Farmasi
- Meja administrasi dalam 2
- Rak Rekam Medis 3
- Lemari Obat tinggi 2 Meter 4
- Meja racik 2
- Lobi farmasi 3
- Tempat sampah 3
3. Ruang dokter Gigi 1 - Meja dokter 1
- Kursi praktek 1
- Kursi pasien 2
- Tempat sampah 1
- Rak peralatan 2
4. Ruang dokter Gigi 2 - Meja dokter 1
- Kursi praktek 1
- Kursi pasien 2
- Tempat sampah 1
- Rak peralatan 2
5. Ruang manajemen - Meja kerja 5
- Kursi kerja 5
- Kursi rapat 6
- Meja tengah (rapat) 1
- Tempat sampah 1
6. Ruang jaga dokter - Kasur 120 cm dan ranjang 1
- Lemari buku 1
- Meja serbaguna 1
- Kursi diskusi 4
- Tempat sampah 1
- Lemari baju 1
- Sekat kasur dan meja diskusi 3
7. Ruang tunggu - Kuris metal 4 seat 5
tengah
- Tempat sampah 1
- Meja serbaguna (tempat Audio support) 1
8. Ruang praktek 1 - Meja dokter 1
- Kursi praktek 1
- Kursi pasien 2
- Tempat sampah 1
- Rak peralatan 2
- Bed exam 1
- Lampu exam 1
9. Ruang praktek 2 - Meja dokter 1
- Kursi praktek 1
- Kursi pasien 2
- Tempat sampah 1
- Rak peralatan 2
- Bed exam 1
- Lampu exam 1
- Rak emergency 1
10. Ruang edukasi - Meja dokter 1
- Kursi praktek 1
- Kursi pasien 2
- Tempat sampah 1
- Rak peralatan 2
- Relaxing chair 1
11. Ruang Edukasi 2 - Meja diskusi multipurpose 4
- Kursi diskusi 8
- White board 1
12. Aula - White board 1
- Kursi lipat 15
- Meja multipurpose 1

III.5 Standard Pelayanan Klinik

Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan klinik yang sesuai dengan


fasilitas pelayanannya yaitu pelayanan kedokteran di strata pertama (tingkat primer).
a. Peralatan Medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan medis yang minimal
harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia
layanan strata pertama.
I. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti setidaknya memiliki alat-alat pemeriksaan fisik
sebagai berikut.
1. Alat test sensasi kulit
2. Auriscope
3. Lampu senter atau lampu kepala
4. Opthalmoscope
5. Palu refleks
6. Peak flow meter
7. Penekan lidah
8. Pengukur tinggi badan
9. Snellen chart
10. Spekulum vagina
11. Stethoscope
12. Strip test urin
13. Tensimeter
14. Thermometer
15. Timbang badan
II. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti setidaknya memiliki alat-alat laboratorium
sebagai berikut.
1. Alat monitoring gula darah
2. Alat pengukur kadar hemoglobin darah
3. Alat pemulas sediaan gram
4. Alat pemulas sediaan basah
5. Gelas objek dan penutupnya
6. Mikroskop
III. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti setidaknya memiliki alat-alat tindakan sebagai
berikut.
1. Bak instrumen metal
2. Benang otot dan benang sutera
3. Forsep hemostatic
4. Gunting perban
5. Jarum kulit
6. Jarum suntik disposable (no. 12, 14, 22/23Q)
7. Kapas, perban, dan plester
8. Pemegang jarum bedah
9. Peralatan resusitasi, peralatan untuk mempertahankan jalan
napas, peralatan untuk membantu ventilasi, obat-obatan
emergensi dan oksigen dalam tabung
10. Pinset anatomis
11. Pinset hidung
12. Pinset sirurgis
13. Sarung tangan
14. Scalpel
15. Semprit (spuit) disposable (1, 3, dan 5 cc)
16. Set infus
17. Sterilisator basah/kering
18. Tiang infus/penggantung botol infus
19. Peralatan resusitasi:
- Mayo
- Sungkup muka
- Kateter oksigen
- Ambu-bag
- Intubasi set
- Laringoskop
- Spuit (1, 3, dan 5 cc)
- Obat-obat EMG (adrenalin, kortikosteroid, amidaron,
dsb)
b. Peralatan Penunjang Medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan penunjang medis
yang minimal harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai
penyedia pelayanan strata pertama.
I. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti setidaknya memiliki alat-alat medis tambahan
sebagai berikut.
1. Forsep dressing 6’’
2. Forsep spons
3. Kateter uretral
4. KB kit
5. Kotak kapas
6. Lampu spiritus
7. Loupe (kaca pembesar)
8. Piala ginjal (nierbeken)
9. Pipet
10. Pita pengukur
11. Serumen ekstraktor
12. Timbangan bayi
13. Box lampu untuk membaca hasil RO
II. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti setidaknya tas dokter untuk panggilan rumah
atau perawatan di rumah dilengkapi dengan alat-alat sebagai berikut.
1. Alat penekan lidah
2. Forsep hemostatic
3. Jarum suntik (no. 22 dan 23)
4. Kapas dan alkohol
5. Lampu senter
6. Obat-obatan
7. Palu refleks
8. Semprit/spuit (3 dan 5 cc)
9. Stetoskop
10. Tensimeter
11. Thermometer
12. Perlengkapan peralatan luka:
- Kasa
- Larutan antiseptik
- Larutan irigasi
- Perangkat terapi intravena
- Perlengkapan kateter
- Perlengkapan irigasi
III. Pelayanan dokter keluarga yang merupakan sarana pelayanan medis
strata pertama terbukti memiliki persediaan obat-obatan sebagai
berikut.
1. Obat suntik:
- Adrenalin bitatras
- Kortikosteroid
- Antihistamin
- Antiseptik/analgetik
- Anti asma
- Anti konvulsan
2. Cairan infus:
- Ringer laktat atau
- NaCl 0,9%
- Glukosa 5%
3. Obat (bukan obat suntik) guna diberikan untuk pertolongan
pertama, antara lain:
- ISDN
- Obat-obat luka
- Parasetamol
- Anti konvulsan
- Spasmolitik
4. Anestesi lokal: prokain HCl
5. Metode kontrasepsi:
- IUD
- Kondom
- Suntikan
- Implan
- Pil
c. Peralatan Non Medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan non medis yang minimal harus
dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik seebagai penyedia pelayanan
strata pertama.
I. Ruang pendaftaran dan administrasi pada pelayanan dokter keluarga
terbukti memiliki setidaknya perabotan sebagai berikut.
1. Meja (berlaci) pendaftaran dan administrasi
2. Lemari/rak penyimpanan rekam medik
3. Komputer
4. Printer
5. Kursi staf
6. Kursi pengunjung
7. Tempat sampah
II. Ruang penyimpanan obat-obatan pada pelayanan dokter keluarga
terbukti memiliki setidaknya perabotan sebagai berikut.
1. Lemari rak penyimpanan obat-obatan
2. Meja (berlaci)
3. Komputer
4. Printer
5. Kursi staf
6. Tempat sampah
7. Tempat/baskom cuci tangan atau wastafel
8. Lap pengering

III. Ruang tunggu pada pelayanan dokter keluarga terbukti memiliki


setidaknya perabotan sebagai berikut.
1. Kursi-kursi tunggu
2. Meja kecil
3. Rak tempat majalah, buku bacaan atau brosur info kesehatan
4. Tempat sampah
5. Meja ganti popokbayi
6. Pojok menyusui dengan kursi dan tirai/sekat penutup
7. Tempat/baskom cuci angan atau wastafel
8. Lap pengering
IV. Ruang praktik pada pelayanan dokter keluarga terbukti memiliki
setidaknya perabotan sebagai berikut.
1. Tempat tidur pemeriksa
2. Lampu senter
3. Lemari obat dan alat periksa fisik
4. Meja tulis dengan kursi dokter dan 2 kursi pasien
5. Meja peralatan dan cairan desinfektan
6. Baskom cuci tangan atau wastafel
7. Lap pengering
8. Bak sampah tertutup untuk benda tajam dan benda tumpul serta
terpisah antara sampah medis dan non medis
9. Termos/cold chain atau refrigerator
10. Tempat penyimpanan kartu status
11. Rak buku
12. Kotak/lemari/tempat untuk menyimpan emergensi kit
13. Komputer
14. Printer
III.6 RUANG TINDAKAN / PERAWATAN LUKA

1. Tempat Tidur Pasien 2 Unit @ Rp. 650.000 Rp. 1. 300.000


2. Lemari alat 1 Unit Rp. 2.750.000
3. Apron ( Celemek ) 2 Buah @ Rp. 25.000 Rp. 50.000
4. Bantal Pasien 3 buah @ Rp. 70.000 Rp. 210.000
5. Gunting aff hecting 3 buah @ Rp. 25.000 Rp. 75.000
6. Gunting Benang 3 buah @ Rp. 20.000 Rp. 60.000
7. Gunting Verban 3 Buah @ Rp. 25.000 Rp. 75.000
8. Handskun Non steril ukuran M 2 box @ Rp. 100.000 Rp.
200.000
9. Handuk Tangan 3 Buah @ Rp. 65.000 Rp. 195.000
10. Hecting Set 2 unit @ Rp. 250.000 Rp. 500.000
11. Hypafix 15x5 OM 3 buah @ Rp. 215.000 Rp. 645.000
12. Hypafix 20x5 OM 3 buah @ Rp. 265.000 Rp. 795.000
13. Kasa Rol 3 buah @ Rp. 170.000 Rp. 530.000
14. Kom Betadine Besar 3 buah @ Rp. 25.000 Rp. 75.000
15. Korentang 25 cm 2 Buah @ Rp. 50.000 Rp. 100.000
16. Lampu Sorot 1 Buah Rp. 800.000
17. Masker Ikat 2 box @ Rp. 27.000 Rp. 44.000
18. Nierbekken Besar 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
19. Nierbekken Kecil 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
20. Nierbekken Sedang 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
21. Perlak Tebal Lunak 3 buah @ Rp. 75.000 Rp. 225.000
22. Pinset Anatomis 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
23. Pinset Chirurgis 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
24. Pinset Telinga 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
25. Plester Chilli 5x4,5 Rp. 255.000
26. Sirkum Set Stainless 3 buah @ Rp. 215.000 Rp. 345.000
27. Spatel Plastik 5 buah @ Rp. 10.000 Rp. 50.000
28. Spoit 1 CC 1 box Rp. 60.000
29. Spoit 3 CC 1 box Rp. 60.000
30. Tempat Korentang Rp. 75.000
31. Tensi Air Raksa Meja Rp. 300.000
32. Tensi Air Raksa Berdiri Rp. 875.000
33. Tromol 15 cm 2 buah @ Rp. 150.000 Rp. 300.000
34. Tromol 18 cm 2 buah @ Rp. 200.000 Rp. 400.000
35. Tromol 27 cm 2 buah @ Rp. 300.000 Rp. 600.000
36. Underpad OM 20 x 30 cm isi 200 Rp. 300.000
37. Wadah Instrumen Stainles sedang 3 buah @ Rp. 60.000 Rp 180.000
38. Wadah Instrumen Stainles Besar 2 buah @ Rp. 125.000 Rp 250.000
39. Alkohol 70 % 2 Botol @ Rp. 25.000 Rp. 50.000
40. Aspetic 2 botol @ Rp. 45.000 Rp. 90.000
41. NaCl 0,9 % 1 box Rp. 350.000
42. Sabun Cair + Dispenser 3 Buah @ Rp. 30.000 Rp. 90.000
43. Povidone 1 L 2 botol @ Rp. 85.000 Rp. 170.000

TOTAL Rp.
14.329.000

RUANG PRAKTEK

1. Light Box 1 Unit Rp. 3. 750.000


2. Manset Bayi Rp. 35.000
3. Manset Anak Rp. 35.000
4. Manset Dewasa Rp. 35.000
5. Nebulizer Rp. 850.000
6. Masker Nebulizer Anak Rp. 60.000
7. Masker Nebulizer Dewasa Rp. 60.000
8. Pen Light Rp. 85.000
9. Spatel Plastik 5 buah @ Rp. 5000 Rp. 25.000
10. Stetoskop Littman Rp. 950.000
11. Termometer Digital 3 buah @ Rp. 50.000 Rp. 150.000
12. Kursi Tunggu Rp. 1.250.000

TOTAL Rp.
7.285.000

PERLENGKAPAN APOTIK

1. Obat-obatan Umum Rp. 5.000.000


2. Lemari Kaca ukuran kecil Rp. 750.000
3. Lemari Obat Narkotika Rp. 750.000
4. Timbangan Digital Rp. 200.000
5. Lumpang 3 buah @ Rp. 60.000 Rp. 180.000
TOTAL Rp.
6.880.000

ADMINISTRASI (Prakiraan)

1. Ijin Praktek (IDI dan DINKES Kota Makassar ) Rp. 1. 750.000


2. Ijin Klinik dan Apotik Rp. 2.500.000

TOTAL Rp.
4.250.000

RUANG TINDAKAN / PERAWATAN LUKA Rp. 14.329.000

RUANG PRAKTEK Rp. 7.285.000

PERLENGKAPAN APOTIK Rp. 6.880.000

ADMINISTRASI (Prakiraan) Rp. 4.250.000

TOTAL Rp. 32.744.000

DAFTAR PUSTAKA

PDKI. 2006. Standar Pelayanan Dokter Keluarga. Depok: FK UI.


https://id.scribd.com/doc/246081031/SOP-Klinik
https://id.scribd.com/doc/267494343/Kebutuhan-Interior-Klinik-Pratama.