Anda di halaman 1dari 5

MATERI PENYULUHAN

OSTEOPOROSIS

Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis adalah penyakit dengan ciri khas berupa rendahnya massa tulang yang
disertai perubahan-perubahan mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang,
yang menyebabkan tulang menjadi tipis, rapuh, dan keropos dengan risiko terjadinya patah
tulang. Patah tulang yang paling umum adalah tulang pinggul, tulang belakang dan tulang
pergelangan tangan.

Faktor Resiko Osteoporosis


Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dengan faktor risiko yang berbeda. Faktor
risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak dapat dikendalikan dan
yang dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan:
1. Jenis kelamin
Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar
dibandingkan kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai
menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
2. Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara
alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis
pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan
menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
3. Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis.
Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih
tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa
tulang lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot
yang lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar
hormon estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika.
4. Pigmentasi dan tempat tinggal
Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai
risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kulit putih
yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia.
5. Riwayat keluarga
Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa
tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena
osteoporosis.
6. Bentuk tubuh
Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis.
Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena
osteoporosis dibanding yang bertubuh besar.
7. Menopause
Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh tidak
lagi memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibutuhkan untuk pembentukan
tulang dan mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen
seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang
sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah. Menopause dini bisa
terjadi jika pengangkatan ovarium terpaksa dilakukan disebabkan adanya penyakit
kandungan seperti kanker, mioma dan lainnya. Menopause dini juga berakibat
meningkatnya risiko terkena osteoporosis.
8. Kadar testosteron rendah
Pada pria, hormon testosteron memperlambat resorpsi tulang dengan cara yang
sama seperti estrogen pada wanita.

Berikut ini faktor – faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan. Faktor-faktor
ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.
1. Aktivitas fisik
Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih
dan menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan
tulang. Untuk menghindarinya, dianjurkan melakukan olahraga teratur minimal tiga
kali seminggu (lebih baik dengan beban untuk membentuk dan memperkuat tulang).
2. Kurang kalsium
Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka
tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh
lain, termasuk yang ada di tulang. Kebutuhan akan kalsium harus disertai dengan
asupan vitamin D yang didapat dari sinar matahari pagi, tanpa vitamin D kalsium
tidak mungkin diserap usus.
3. Merokok
Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan
perokok. Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih
rendah dan mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan
perokok. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam
hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Akibatnya, pengeroposan tulang /
osteoporosis terjadi lebih cepat.
4. Minuman keras/beralkohol
Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung.
Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada
dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya menyebabkan
osteoporosis.
5. Minuman soda
Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein. Fosfor akan
mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein
meningkatkan pembuangan kalsium lewat urin. Untuk menghindari bahaya
osteoporosis, sebaiknya konsumsi soft drink harus dibarengi dengan minum susu atau
mengonsumsi kalsium ekstra.
6. Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang
diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan
meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan
tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.
7. Bahan kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan
(sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah
industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat
merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan
membuat pengeroposan tulang.
8. Penyakit lain
Beberapa penyakit dapat mempengaruhi regenerasi tulang normal. Penyakit
ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,
paratiroid, dan adrenal).
9. Obat-obatan
Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati kondisi lain juga dapat
mempengaruhi regenerasi tulang, seperti penggunaan obat-obat steroid, antitiroid,
barbiturat, antikejang.

Tanda dan Gejala Osteoporosis


Penyakit osteoporosis sulit untuk di deteksi karena proses kepadatan tulang berkurang
secara perlahan dan berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan
tanpa di sertai adanya gejala. Gejala-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut seperti:
– Patah tulang
– Bungkuk atau bentuk tubuh berubah
– Tinggi badan berkurang
– Nyeri tulang, terutama terasa pada tulang belakang yang ringan pada pagi hari dan
semakin nyeri jika beraktivitas atau melakukan pergerakan yang salah.

Penatalaksanaan Osteoporosis
1. Terapi Farmakologi
• Antiresorpsi kalsium misalnya: estrogen, kalsitonin, bisfosfonat.
• Kalsium dan Vitamin D diperlukan untuk meningkatkan kepadatan tulang.
1) Konsumsi kalsium perhari sebanyak 1200-1500 mg (melalui makanan
dan suplemen).
2) Konsumsi vitamin D sebanyak 600-800 IU diperlukan untuk
meningkatkan kepadatan tulang.
2. Terapi Non Farmakologi
• Latihan pembebanan/olah raga aerobik seperti jalan, joging, renang.
• Latihan rentang gerak sendi yaitu gerakan sederhana untuk melatih sendi
dan tulang yang berguna untuk mengembalikan kekuatan tulang dan
mencegah kekakuan pada sendi.

Pencegahan
a. Mengurangi asupan protein hewani: Protein hewani meningkatkan kehilangan kalsium.
b. Peningkatan konsumsi buah dan sayuran.
c. Mengurangi asupan natrium.
d. Pola makan rendah lemak.
e. Membatasi penggunaan kafein.
f. Kombinasi suplemen vitamin D dan kalsium.
g. Periksa kesehatan, cek kepadatan tulang.
h. Upayakan hindari cidera (jatuh).
Pencegahan terjadinya cidera untuk menghindari risiko patah tulang:
- Lingkungan yang bersih
- Lantai rumah tidak licin
- Pencahayaan terang
- Suasana nyaman dan tenang
- Tidak terdapat kondisi yang dapat menyebabkan pasien terjatuh

Komplikasi
Komplikasi osteoporosis yang mungkin meliputi:
a. Fraktur spontan ketika tulang kehilangan densitasnya dan menjadi rapuh serta lemah.
b. Syok, perdarahan, atau emboli lemak (komplikasi fraktur yang fatal).