Anda di halaman 1dari 12

Karakteristik Arus Lalu Lintas 31

BAB 3
KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS

3.1 PENGERTIAN ARUS LALU LINTAS


Arus lalu lintas terbentuk dari pergerakan individu pengendara dan
kendaraan yang melakukan interaksi antara yang satu dengan yang lainnya pada
suatu ruas jalan dan lingkungannya. Karena persepsi dan kemampuan individu
pengemudi mempunyai sifat yang berbeda maka perilaku kendaraan di dalam arus
lalu lintas tidak dapat diseragamkan lebih lanjut, arus lalu lintas akan mengalami
perbedaan karakteristik akibat dari perilaku pengemudi yang berbeda yang
dikarenakan oleh karakteristik lokal dan kebiasaan mengemudi. Arus lalu lintas
pada suatu ruas jalan karakteristiknya akan bervariasi baik berdasarkan lokasi
maupun waktunya. Hasil inilah yang menjadikan tantangan bagi perencanaan dan
perancangan untuk memprediksi yang tidak hanya sekedar kondisi fisik semata
namun juga karakteristik perilaku manusia yang bersifat kompleks. Oleh karena
itu perilaku pengemudi akan berpengaruh terhadap perilaku arus lalu lintas.
Pengemudi pada suatu ruas jalan yang dirancang dengan kecepatan tertentu
misalnya 80 km/jam dimungkinkan bahwa pengemudi akan mempunyai
kecepatan yang bervariasi dari 30 km/jam sampai 120 km/jam.
Dalam menggambarkan arus lalu lintas secara kuantitatif dalam rangka
untuk mengerti tentang keberagaman karakteristiknya dan rentang kondisi
perilakunya. Untuk itu parameter yang penting harus didefinisikan dan terukur
insinyur lalu lintas akan menganalisa, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan
yang maksimum dalam hal fasilitas lalu lintas berdasarkan parameter dan
pengetahuan rentang normal perilakunya.
Parameter arus lalu lintas dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu
parameter makroskopit arus lalu lintas secara umum dan parameter mikroskopit
yang menunjukkan tentang perilaku kendaraan individu dalam suatu arus lalu
lintas yang terkait dengan antara yang satu dengan yang lainnya. Suatu arus lalu
lintas secara makroskopit dapat digambarkan tiga parameter utama, yaitu: volume
dan arus, kecepatan, dan kepadatan.
Karakteristik Arus Lalu Lintas 32

3.2 VOLUME DAN ARUS LALU LINTAS


Volume lalu lintas didefinisikan sebagai jumlah kendaraan yang lewat
pada suatu titik di ruas jalan, atau pada suatu lajur selama interval waktu tertentu.
Satuan dari volume secara sederhana adalah “kendaraan”, walaupun dapat
dinyatakan dengan cara lain yaitu satuan mobil penumpang (smp) tiap satu satuan
waktu.

Lalu lintas harian rata-rata (LHR)


Lalu lintas harian rata-rata (LHR) sering digunakan sebagai dasar untuk
perencanaan jalan raya dan pengamatan secara umum dan terhadap
kecenderungan pola perjalanan. Volume harian dinyatakan dalam satuan
kendaraan perhari atau smp perhari. Proyeksi volume lalu lintas sering
didasarakan pada volume harian terukur. LHR diperoleh dengan cara pengamatan
volume lalu lintas selama 24 jam pada suatu ruas jalan tertentu pengamatan ini
dilakukan dalam beberapa hari kemudian hasilnya di rata-ratakan sehingga
menjadi lalu lintas harian rata-rata oleh karena itu LHR hanya soheh selama
periode pengamatan tersebut. Namun demikian apabila pengamatan tersebut
dilakukan selama satu tahun penuh (365 hari) maka dapat diperoleh lalu lintas
harian tahunan rata-rata (LHTR) dengan menjumlahkan seluruh hasil pengamatan
dalam satu tahun dibagi dengan 365 hari. Satuan dari LHR adalah kendaraan
perhari atau smp perhari. Volume harian ini biasanya tidak ditetapkan perarah
atau perlajur namun demikian adalah keseluruhan lajur untuk kedua arah. Contoh
karakteristik arus lalu lintas harian (LHR) dalam satu bulan sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3.1.
Karakteristik Arus Lalu Lintas 33

KARAKTERISTIK LHR DALAM SEBULAN


RUAS JALAN: LETJEN S. PARMAN
KOTA MALANG, APRIL 2006
180.000
Arah Selatan (masuk Kota)
Arah Utara (keluar Kota)
160.000

140.000

120.000
LHR (smp/hari)

100.000

80.000

60.000

40.000

20.000

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
HARI

Gambar 3.1 Karakteristik Arus Lalu Lintas Harian Rata Rata

Volume
Volume adalah banyaknya kendaraan yang lewat pada suatu arus jalan
selama satu satuan waktu jam. Namun demikian pengamatan lalu lintas ini
diharapkan selama 24 jam perhari yang biasanya untuk mengetahui terjadinya
volume jam puncak (VJP) sepanjang jam kerja baik itu pagi, siang maupun sore.
Biasanya volume jam puncak diukur untuk masing-masing arah secara terpisah.
VJP digunakan sebagai dasar untuk perancangan jalan raya dan bebagai macam
analisis operasional. Jalan raya harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu
melayani pada saat lalu lintas dalam kondisi VJP. Untuk analisa operasional,
apakah itu terkait dengan pengendalian, keselamatan, kapasitas, maka jalan raya
harus mampu mengakomodasi kondisi ketika VJP. Di dalam perancangan, VJP
kadang-kadang diestimasi dari proyeksi LHR sebegaimana ditunjukkan pada
Rumus 3.1.

VJRD = LHR x K x D Rumus 3.1


dengan:
VJRD = Volume rancangan berdasarkan arah (smp/hari),
LHR = Lalu lintas harian rata-rata (smp/hari),
Karakteristik Arus Lalu Lintas 34

K = Proporsi lalu lintas harian yang terjadi selama jam puncak,


D = Proporsi lalu lintas jam puncak dalam suatu arah tertentu.

Menurut McShane dan Roess (1990), dalam kegunaan untuk perancangan


nilai K sering dinyatakan dalam bentuk proporsi LHTR pada jam puncak tertinggi
yang ke 30 selama satu tahun. Volume jam puncak tertinggi yang ke 30 sering
digunakan untuk perancangan dan analisis pada jalan raya luar kota, namun
demikian untuk jalan perkotaan digunakan volume jam puncak tertinggi yang ke
50. Faktor D lebih bervariasi dimana tergantung kepada kepadatan pembangunan
dan hubungan khusus dengan pembangkit lalu lintas utama pada suatu kawasan
untuk kawasan perkotaan misalnya nilai D berkisar antara 0,5 sampai dengan 0,6.

Arus lalu lintas


Pengamatan volume selama periode kurang dari satu jam biasanya
dinyatakan dalam bentuk ekivalen arus jaman. Suatu misal bila diamati selama 15
menit terdapat 1000 smp maka akan didapatkan arus lalu lintas jaman sebesar
1000 smp
= 4000 smp / jam
15 / 60 jam
Fluktuasi arus lalu lintas dalam jangka pendek dapat menjadi sangat
penting untuk mengetahui kondisi operasional lalu lintas dengan rentang waktu
pengamatan 15 menitan maka dapat diketahui volume jam puncak pada rentang
waktu yang sangat spesifik. Dengan demikian kondisi kritis yang lebih rinci
tentang arus lalu lintas menjadi bahan yang sangat bermanfaat untuk melakukan
analisis dan perancangan lalu lintas. Namun demikian tidak ada standar yang pasti
tentang berapa rentang pengamatan yang diperlukan, apakah cukup 15 menitan,
lebih dari 15 menit atau berada dibawahnya. Itu semua sangat bergantung pada
alasan dan kepentingan dalam melakukan analisis dan perancangan (secara
statistik). Biasanya untuk ruas jalan dipergunakan rentang waktu pengamatan 15
menitan sedangkan pada simpang dipergunakan lima menitan.
Hubungan antara volume jaman dan maksimum arus dalam satu jam
didefinisikansebagai faktor jam puncak (FJP). FJP adalah merupakan pembagian
Karakteristik Arus Lalu Lintas 35

antara volume jam puncak dengan arus maksimum, yang dinyatakan dengan
Rumus 3.2.
V
FJP = Rumus 3.2
4 × Q15
dengan:
FJP = Faktor jam puncak,
V = Volume jaman (smp/jam),
Q = Arus lalu lintas (smp/15 menit).

3.3 KECEPATAN DAN WAKTU PERJALANAN


Kecepatan adalah parameter mendasar yang kedua (setelah volume lalu
lintas) yang menggambarkan tentang arus lalu lintas. Kecepatan didefinisikan
sebagai tingkat gerakan didalam suatu jarak tertentu dalam satu satuan waktu,
yang dinyatakan dengan Rumus 3.3.
d
S= Rumus 3.3
t
dengan:
S = Kecepatan (km/jam),
d = Jarak perjalanan (km),
t = Waktu perjalanan (jam).

Dalam suatu aliran lalu lintas yang bergerak setiap kendaraan mempunyai
kecepatan yang berbeda. Sehingga aliran lalu lintas tidak mempunyai sifat
kecepatan yang tunggal akan tetapi dalam bentuk distribusi kecepatan kendaraan
individual. Dari distribusi kecepatan kendaraan secara diskrit, suatu nilai rata-rata
atau tipikal digunakan untuk mengidentifikasi aliran lalu lintas secara
menyeluruh.
Rata-rata atau kecepatan tengah dapat dihitung dengan dua cara yaitu
berdasarkan waktu dan berdasarkan ruang kecepatan tengah berdasarkan waktu
(Time Mean Speed - TMS) didefinisikan sebagai rata-rata kecepatan semua
kendaraan yang lewat pada suatu titik terbentuk pada suatu ruas jalan dalam
beberapa periode waktu tertentu. Sedangkan kecepatan tengah ruang (Space Mean
Karakteristik Arus Lalu Lintas 36

Speed - SMS) didefinisikan sebagai rata-rata kecepatan semua kendaraan yang


berada dalam suatu ruas jalan selama beberapa periode waktu tertentu. Perumusan
tentang TMS dan SMS sebagaimana ditunjukkan pada Rumus 3.4 dan Rumus 3.5.
d

t
TMS = 1 Rumus 3.4
n
d nd
SMS = = Rumus 3.5
ti ∑ ti

n

dengan:
TMS = Kecepatan tengah berdasarkan waktu (km/jam),
SMS = Kecepatan tengah berdasarkan ruang (km/jam),
d = Jarak perjalanan (km),
ti = Waktu perjalanan (detik atau jam)

3.4 KEPADATAN
kepadatan adalah pengukuran ketiga terhadap kondisi arus lalu lintas yang
didefinisikan sebagai jumlah kendaraan yang menempati suatu ruas jalan tertentu
atau lajur, yang biasanya dinyatakan dalam satuan kendaraan per kilometer atau
smp per kilometer per lajur. Kepadatan sulit untuk mengukur secara langsung,
biasanya diperlukan titik ketinggian yang cukup sehingga kendaraan dapat diamati
dalam suatu ruas tertentu. Namun demikian kepadatan dapat dihitung dari
kecepatan dan volume, yang mempunyai bentuk hubungan sebagai ditunjukkan
pada Rumus 3.6 dan Rumus 3.7.
F=SxD Rumus 3.6
F
D= Rumus 3.7
S
dengan:
F = Arus lalu lintas (smp/jam atau kend/jam),
S = Kecepatan tengah berdasarkan ruang (km/jam),
D = Kepadatan (smp/km atau kend/km).
Karakteristik Arus Lalu Lintas 37

Kepadatan lalu lintas adalah mungkin yang terpenting diantara ketiga


parameter aliran lalu lintas tersebut, karena terkait dengan permintaan lalu lintas
yang dibangkitkan dari berbagai tata guna lahan, bangkitan sejumlah kendaraan
yang terdapat pada suatu segmen tertentu dari jalan raya. Kepadatan juga
merupakan ukuran yang penting untuk mengetahui kualitas arus lalu lintas,
dimana hal tersebut mengukur perkiraan kendaraan, faktor-faktor yang
mempengaruhi kebebasan manuver dan kenyamanan psikologis dari pengendara.

3.5 RUANG JARAK ANTAR KENDARAAN


Arus, kecepatan, dan kepadatan adalah ukuran makroskopit yang mana
lalu lintas dalam suatu interval waktu tertentu digambarkan dengan nilai tunggal
dari masing-masing yang membentuk aliran lalu lintas secara keseluruhan. Ruang
(spacing) dan jarak antar kendaraan (headway) adalah ukuran mikroskopik, sebab
hal tersebut menggambarkan tentang pasangan individual kendaraan dalam aliran
lalu lintas. Ruang adalah didefinisikan sebagai jarak antar kendaraan yang lewat
dalam suatu lajur lalu lintas, diukur dari beberapa titik rujukan pada kendaraan,
seperti bemper bagian depan atau roda bagian depan. Jarak antar kendaraan adalah
waktu antar kendaraan yang lewat pada suatu titik sepanjang lajur, yang diukur
antar titik rujukan pada suatu kendaraan. Nilai rata-rata ruang dan jarak antar
kendaraan mempunyai hubungan parameter mikroskopik sebagaimana
ditunjukkan pada Rumus 3.8, Rumus 3.9, dan Rumus 3.10.
5280
D= Rumus 3.8
da
3600
F= Rumus 3.9
ha

da
S= Rumus 3.10
ha

dengan:
D = kepadatan lalu lintas (smp/km/lajur),
S = kecepatan rata (km/jam),
F = arus lalu lintas (smp/jam/lajur),
Da = ruang rata-rata (m),
ha = jarak antara kendaraan rata-rata (detik).
Karakteristik Arus Lalu Lintas 38

Ukuran mikroskopik berguna untuk beberapa analisis lalu lintas. Hal ini
karena ruang dan jarak antar kendaraan diperoleh dari pasangan setiap kendaraan,
sejumlah data dapat dikumpulkan dalam periode yang singkat. Penggunaan
ukuran mikroskopik juga memberikan informasi tentang berbagai jenis
kendararaan untuk dipilah. Mobil penumpang maupun truk dapat dipilah-pilah
untuk di bandingkan tentang karakteristiknya dengan menggunakan pengukuran
ruang dan jarak antar kendaraan.

3.6 HUBUNGAN KECEPATAN, ARUS DAN KEPADATAN


Hubungan antara ketiga parameter utama: kecepatan, arus dan kepadatan
menggambarkan tentang aliran lalu lintas tak terinterupsi (uninterrupted traffic
stream) dimana arus merupakan hasil dari kecepatan dan kepadatan. Sementara itu
hubungan tersebut untuk lalu lintas yang stabil, kombinasi variabel tersebut
menghasilkan hubungan dua dimensi. Gambar 3.2 mengilustrasikan tentang
bentuk umum hubungan tersebut. Kalibrasi nyata terhadap hubungan tersebut
tergantung kepada kondisi yang sebelumnya, dengan berbagai variasi lokasi serta
waktu yang berbeda.

Gambar 3.2: Hubungan antar Kecepatan, Arus, dan Kepadatan


Karakteristik Arus Lalu Lintas 39

Perlu diketahui arus “nol” (tidak ada arus) terjadi dalam dua kondisi.
Ketika tidak ada kendaraan di jalan raya berarti kepadatannya nol, dimana
kecepatan teoritis didasarkan kepada “kecepatan arus bebas” (free-flow speed)
yang merupakan kecepatan tertinggi bagi kendaraan yang sendirian. Namun
demikian arus “nol” juga terjadi ketika kepadatan begitu tinggi sehingga
kendaraan yang akan bergerak harus berhenti sehingga terjadi kemacetan lalu
lintas yang disebut dengan istilah traffic jam. Pada kondisi ini semua kendaraan
berhenti sehingga tidak ada kendaraan yang lewat pada suatu ruas jalan tersebut.
Puncak dari kurva kecepatan-arus dan kepadatan-arus adalah arus
maksimum yang mungkin atau yang disebut dengan istilah kapasitas. Kecepatan
dan kepadatan yang terjadi pada saat mencapai kapasitas disebut dengan istilah
kecepatan kritis (critical speed) dan kepadatan kritis (critical density).

3.7 KARAKTERISTIK VOLUME LALU LINTAS


Volume lalu lintas pada dasarnya terbagi atas waktu dan ruang, yang
biasanya lebih difokuskan kepada volume jam puncak seperti jam sibuk kerja,
komuter, dan perjalanan yang lain. Permintaan lalu lintas dapat bervariasi
berdasarkan musim dalam setahun, bulanan dalam setahun, hari dalam sebulan,
hari dalam seminggu, maupun jam-jaman dalam sehari. Permintaan lalu lintas
juga dapat bervariasi dari berbagai arah baik pada saat pagi, siang maupun petang.
Variasi volume lalu lintas yang berupa bulanan dalam setahun
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.3. Pada gambar tersebut ada saat-saat
dimana bulan tertentu mengalami puncak volume tertentu (LHR) sekitar bulan
juli, tetapi juga sebaliknya ada bulan dimana terjadi penurunan volume yaitu
sekitar bulan januari.
Karakteristik Arus Lalu Lintas 40

Gambar 3.3 Volume Lalu Lintas Bulanan dalan setahun

KARAKTERISTIK LHR DALAM SEMINGGU


RUAS JALAN: LETJEN S. PARMAN
KOTA MALANG, MINGGU-SABTU, 17-23 APRIL 2006
180.000

160.000 Arah Selatan (masuk Kota)


Arah Utara (keluar Kota)
140.000

120.000
LHR (smp/hari)

100.000

80.000

60.000

40.000

20.000

0
Minggu

Senin

Jum'at
Kamis
Rabu
Selasa

Sabtu

HARI

Gambar 3.4: Volume Lalu Lintas Harian Dalam Seminggu


Karakteristik Arus Lalu Lintas 41

KARAKTERISTIK VOLUME LALU LINTAS (PIAS WAKTU 1 JAM)


RUAS JALAN: LETJEN S. PARMAN
KOTA MALANG, SELASA 18 APRIL 2006
12.000

10.000 Arah Selatan (masuk Kota), Volume=104.649 smp/hari


Arah Utara (keluar Kota), Volume=132.622 smp/hari
VOLUME (smp/jam)

8.000

6.000

4.000

2.000

-
06.00-07.00

07.00-08.00

08.00-09.00

09.00-10.00

10.00-11.00

11.00-12.00

12.00-13.00

13.00-14.00

14.00-15.00

15.00-16.00

16.00-17.00

17.00-18.00

18.00-19.00

19.00-20.00

20.00-21.00

21.00-22.00

22.00-23.00

23.00-24.00

00.00-01.00

01.00-02.00

02.00-03.00

03.00-04.00

04.00-05.00

05.00-06.00
PIAS WAKTU

Gambar 3.5: Volume Lalu Lintas Jaman dalam sehari

Variasi volume lalu lintas yang menunjukkan harian dalam seminggu


sebagaimana dicontohkan pada Gambar 3.4. Pada gambar tersebut terdapat dua
bagian utama yaitu kondisi lalu lintas pada hari kerja (weekday) dan hari libur
kerja (weekend). Lalu lintas pada hari kerja untuk di Indonesia terdiri dari hari
Senin sampai hari Sabtu, walaupun beberapa kantor pemerintah menerapkan pola
lima hari kerja dengan dengan libur pada hari Sabtu. Sedangkan hari libur kerja
adalah hari Minggu serta beberapa bagian juga hari Sabtu. Dari gambar tersebut
nampak bahwa pada hari kerja volume lalu lintasnya relatif sama, akan tetapi
teerjadi perubahan yang berbeda pada hari libur. Perbedaan hari kerja dan hari
libur bukan berarti hari libur lebih rendah dari hari kerja untuk ruas-ruas jalan
tertentu, terutama untuk akses menuju kawasan wisata pada hari libur kerja justru
terjadi kenaikkan.
Variasi volume lalu lintas jam-jaman dalam sehari juga mengalami
Fluktuasi sesuai dengan karakteristik pengguna jalan. Hal ini terjadi terkait
dengan berangkat beraktivitas, saat beraktivitas maupun pulang beraktivitas.
Aktivitas bisa berupa kerja kantor, pendidikan, perdagangan, sosial, dan lain
sebagainya. Karakteristik volume jam-jaman dalam sehari sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3.5. karakteristik volume jam-jaman ini sangat
Karakteristik Arus Lalu Lintas 42

tergantung kepada kebijakan suatu instansi untuk menerapkan jam aktivitas.


Kegiatan pendidikan (sekolah) biasanya dimulai sekitar jam tujuh pagi, sedangkan
aktivitas perkantoran biasanya dimulai sekitar jam delapan. Untuk aktivitas bisnis
terutama supermarket dan pertokoan biasanya mulai beraktivitas mulai sekitar jam
sembilan, kecuali pasar yang bersifat tradisional yang menjual barang dagangan
kebutuhan sehari-hari biasanya dimulai sekitar jam lima pagi.

KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS (PIAS WAKTU 15 MENIT)


RUAS JALAN: LETJEN S. PARMAN
KOTA MALANG, SELASA 18 APRIL 2006
3.000

2.500

Arah Selatan (masuk Kota)


Arah Utara (keluar Kota)
VOLUME (smp/jam)

2.000

1.500

1.000

500

-
06.00-06.15

07.00-07.15

08.00-08.15

09.00-09.15

10.00-10.15

11.00-11.15

12.00-12.15

13.00-13.15

14.00-14.15

15.00-15.15

16.00-16.15

17.00-17.15

18.00-18.15

19.00-19.15

20.00-20.15

21.00-21.15

22.00-22.15

23.00-23.15

00.00-24.15

01.00-01.15

02.00-02.15

03.00-03.15

04.00-04.15

05.00-05.15
PIAS WAKTU

Gambar 3.6 Arus Lalu lintas dengan pias waktu pengamatan 15 menit.

Arus lalu lintas dapat juga diamati dengan pias waktu kurang dari satu
jam. Pengamatan ini dilakukan dengan pias waktu 15 menitan untuk ruas jalan
dan 5 menitan untuk simpang. Cara ini biasanya digunakan untuk mengetahui
karakteritik yang lebih rinci dari volume jam puncak. Contoh karakteristik
pengamatan arus dengan pias waktu 15 menitan sebagaimana ditampilkan pada
Gambar 3.6. Pada Gambar tersebut terlihat bahwa fluktuasi arus relative lebih
besar rentang simpangan yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa pias 15
menitan dapat menjelaskan lebih tajam tentang kondisi jam puncak.