Anda di halaman 1dari 2

Kekuasaan PETAHANA pada PILGUB PAPUA 2018, Akankah Ada KOTAK KOSONG?

Sang petahana kembali menunjukan taring mautnya pada PILGUB PAPUA 2018. Begitu berkuasa sehingga
pasangan yang lain dibuat malu hati untuk tampil.

Kekuarangan mahar politik kah?

Atau orang Papua tidak banyak yang pintar bermain politik?

Memasuki tahun politik, banyak sekali baliho yang muncul di pinggiran jalan di Kota Jayapura, sebut saja
Pak Mambaya, Pak Waterpauw, Pak Jhon Wempi Wetipo serta salah satu calon incumbent. Suasana ini
terus berlangsung dengan berbagai deklarasi yang dilakukan untuk menunjukan eksistensi masing-masing
tokoh sementara sang petahana diam seribu bahasa. Disaat yang bersamaan muncul berbagai kasus dari
pemindahan Kapolda Papua ( Pak Waterpauw) kemudian sang petahana diperiksa karena kasus korupsi
dana pendidikan hingga harus bolak balik Jakarta. Isu ini begitu hangat di Papua dan menimbulkan
berbagai pertanyaan terkait,”siapakah yang akan menjadi calon gubernur di tanah Papua”.

Hingga isu diatas hilang dan tak tahu kemana arahnya dan entah kemana juga para bakal calon yang
tadinya heboh, lenyap dan ditelan oleh waktu. Disaat semuanya mulai sunyi senyap muncullah sang
petahana dengan mendeklarasikan dirinya maju kembali pada PILGUB Papua 2018.

Siapa menyangkah? Tapi memang sudah ketebak.

Bukan hanya mendeklarasikan dirinya tetapi petahana membuktikan dengan tindakan nyata yaitu
memborong partai yang ada di DPR. Hingga tersisa PDIP dan Gerindra yang belum menentukan arah walau
isu beredar bahwa akan mendukung JWW-HMS.

Isu kembali memanas dengan pernyataan “Calon Tunggal vs Kotak Kosong”…

Apakah sudah tidak ada harapan bagi pasangan lain?

Satu minggu saya mencoba menjadi Mbah Dukun untuk meralkan peta politik di Papua tapi sayang politik
itu susah untuk diramal ternyata. Seperti halnya meramalkan kemenangan AHOK-DJAROT yang faktanya,
data membuktikan elektabilitas mereka dilapangan tinggi namun seribu kali terbalik fakta perhitungan
suara. Atau seperti pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Jayapura yang mana petahana kembali
merebut kursi kekuasaan tanpa ada saingan atau melawan kotak kosong saja dengan cara yang sama yaitu
memborong partai. Atau bisa saja seperti di PATI, yang mana kotak kosong menang sehingga pemilu
diulang. Saya sulit memprediksinya..

Mayoritas masyarakat di Papua tidak mengindahkan pilihan dengan adanya kotak kosong, logika politik
masyarakat di Papua lebih pada bersaing (head to head) sehingga akan melahirkan pemimpin yang
bersaing keras untuk suatu jabatan. Walau sebenarnya “kotak kosong” adalah produk dari demokrasi
sebab sudah di putuskan di MK terkait calon tunggal sehingga lawan dari calon tunggal adalah kotak
kosong dan memang sudah terjadi dibeberapa daerah di Indonesia.

Untuk sampai pada calon tunggal disebabkan karena adanya pemborongan partai oleh pasangan calon
untuk meraih dukungan sebanyaknya bukan dengan sembarangan para partai politik memberikan
dukungan tetapi dengan mahar yang diberikan oleh pasangan calon. Dengan demikian bahwa kalau ada
satu pasangan yang punya mahar besar pastinya goalllllll dengan cepat. Karena partai butuh uang apalagi
tahun berikutnya ada PILPRES 2019.
Itulah sebabnya saya katakan bahwa Petahana begitu berkuasa, karena sampai ada kotak kosong
menyatakan bahwa mahar politik dengan memborong partai politik bukalah dengan mahar recehan. Tidak
ada pasangan yang hari ini mau maju hanya dengan modal dengkul. Apalagi bermodalkan jual tanah bisa
miskin mendadak tuh. Kenapa? Karena ngajakin ketua partai ngopi saja mungkin harus membawa 50jt
loh….hahahahaa

Pemilihan Kepala Daerah tahun ini merupakan pemilihan yang saya pikir mengalami kemunduran karena
sampai saat ini pasangan calon kepala daerah tertatih-tatih padahal dahulu ada 6 pasangan calon
gubernur papua, 4 dari partai politik, 2 incumbent.

Sehingga arahnya begitu susah ketebak…

Tetapi sekarang juga walau isu beredar demikian masih saja sulit ketebak siapa sebenarnya lawan-lawan
politik ditanah Papua hari ini.

Bila dicermati hari ini seakan ada kekuasaan yang tak terbatas sehingga meruntuhkan pasangan lain.
Sehingga mereka bukan takut tapi sepertinya malu hati untuk tampil. Kenapa malu? Ya partai saja sudah
diborong oleh petahana. Sebab sang petahana bukan orang baru dalam dunia politik Lukas Enembe ada
mantan wakil bupati kemudian menjadi bupati dua periode di pedalaman. Pasanganya Klemen Tinal
adalah orang berpengaruh terkait PT Freeport. Dan mereka berdua pun saat ini adalah pemimpin di tanah
Papua yang mengelola dana otsus dan dana Freeport. Berapa saldo mereka? hehehehe

Gimana gak buat para pesaingnya malu hati deluan kan..

Mau maju incumbent?

Uang berapa banyak ya?

Lalu masih adakah kesempatan kepada pasangan lain?

Yang pasti dari banyak masyarakat Papua adalah pemimpin yang maju adalah mereka yang punya
program yang jelas terhadap kesejaterahan rakyat. Sebab kalau sudah pernah maju lalu mau maju lagi
benarkah ingin menuntaskan program yang belum usai? Atau karena enaknya kekuasaan?