Anda di halaman 1dari 3

Sampah dan Pengelolaanya

Sampah adalah buangan yang


dihasilkan dari suatu proses produksi baik
industri maupun domestik (rumah tangga).
Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan
sampah adalah sisa kegiatan sehari hari
manusia atau proses alam yang berbentuk
padat atau semi padat berupa zat organik
atau anorganik bersifat dapat terurai atau
tidak dapat terurai yang dianggap sudah
tidak berguna lagi dan dibuang
kelingkungan.

Walikota Bandung Ridwan Kamil pengelolaan sampah agar sampah ini tidak
menjelaskan, saat liburan, produksi sampah hanya menjadi penyebab masalah melainkan
meningkat dan 90% sampah disumbangkan sebagai salah satu penyumbang pendapatan.
oleh warga luar Kota Bandung atau
Menurut Undang-undang No. 18
wisatawan. "Peningkatan jumlah sampah
Tahun 2008 pengelolaan sampah
90% disumbangkan oleh wisatawan yang
didefinisikan sebagai kegiatan yang
berkunjung ke Kota Bandung. Kalau warga
sistematis, menyeluruh, dan
Kota Bandungnya sendiri menurut saya
berkesinambungan yang meliputi
sudah tersentuh kepedulian terhadap
pengurangan dan penanganan sampah.
kebersihan," kata Ridwan Kamil, Kamis 23
Kegiatan pengurangan meliputi:
Juli 2015.
 Pembatasan timbulan sampah
Orang nomor satu di Kota Bandung
ini menyebut, peningkatan jumlah sampah di  Pendauran ulang sampah, dan/atau
beberapa lokasi dinilai wajar dan
menandakan lokasi tersebut populer, serta  pemanfaatan kembali sampah
menjadi salah satu destinasi wisata."Banyak
tidaknya sampah relatif, tergantung
Sedangkan kegiatan penanganan meliputi:
manusianya. Semakin populer sebuah
tempat semakin banyak manusia dan pasti  Pemilihan
membawa volume sampah yang berbanding
lurus," terang dia.  Pengumpulan

Oleh karena itu ini menjadi salah  Pengangkutan


satu kewajiban kita sebagai mahasiswa  Pengolahan
untuk menciptakan inovasi inovasi baik itu
berupa teknologi maupun regulasi mengenai  Pemrosesan akhir sampah
Dilihat dari keterkaitan terbentuknya Pendekatan reaktif, yaitu konsep yang
limbah, khususnya limbah padat, ada 2 (dua) dianggap perlu diperbaiki, adalah konsep
pendekatan yang dapat dilakukan untuk dengan upaya
mengendalikan akibat adanya limbah, yaitu:
pengendalian yang dilakukan setelah limbah
a. Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar terbentuk, dikenal sebagai pendekatan end-
dalam proses penggunaan bahan akan of-pipe.
dihasilkan limbah yang seminimal mungkin,
dengan tingkat bahaya yang serendah Konsep ini mengandalkan pada teknologi
mungkin. pengolahan dan pengurugan limbah, agar
emisi dan residu
b. Pendekatan reaktif: yaitu penanganan
limbah yang dilakukan setelah limbah yang dihasilkan aman dilepas kembali ke
tersebut terbentuk lingkungan. Konsep pengendalian limbah
secara reaktif
Pendekatan proakatif merupakan
strategi yang diperkenalkan pada akhir tahun tersebut kemudian diperbaiki melalui
1970-an dalam dunia kegiatan pemanfaatan kembali residu atau
industri, dikenal sebagai proses bersih atau limbah secara langsung
teknologi bersih yang bersasaran pada (reuse), dan/atau melalui sebuah proses
pengendalian terlebih dahulu sebelum dilakukan
atau reduksi terjadinya limbah melalui pemanfaatan (recycle)
penggunaan teknologi yang lebih bersih dan
yang akrab lingkungan. Konsep ini secara terhadap limbah tersebut.
sederhana meliputi:
Secara ideal kemudian pendekatan proses
− Pengaturan yang lebih baik dalam
bersih tersebut dikembangkan menjadi
manajemen penggunaan bahan dan enersi
konsep hierarhi
serta limbahnya melalui good house keeping
− Penghematan bahan baku, fluida dan urutan prioritas penanganan limbah secara
enersi yang digunakan umum, yaitu :
− Pemakaian kembali bahan baku tercecer
yang masih bisa dimanfaatkan a. Langkah 1 Reduce (pembatasan):
− Penggantian bahan baku, fluida dan enesi mengupayakan agar limbah yang dihasilkan
− Pemodifikasian proses bahkan kalau perlu sesedikit mungkin
penggantian proses dan teknologi yang
b. Langkah 2 Reuse (guna-ulang): bila
digunakan agar emisi atau limbah yang
limbah akhirnya terbentuk, maka upayakan
dihasilkan seminimal mungkin dan dengan
memanfaatkan limbah tersebut secara
tingkat bahaya yang serendah mungkin
langsung
− Pemisahan limbah yang terbentuk
berdasarkan jenisnya agar lebih mudah c. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu
penanganannya atau limbah yang tersisa atau tidak dapat
dimanfaatkan secara langsung, kemudian
diproses atau diolah untuk dapat
dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku
maupun sebagai sumber enersi

d. Langkah 4 Treatment (olah): residu yang


dihasilkan atau yang tidak dapat
dimanfaatkan kemudian diolah, agar
memudahkan penanganan berikutnya, atau
agar dapat secara aman dilepas ke
lingkungan

e. Langkah 5 Dispose (singkir):


residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu
dilepas ke lingkungan secara aman, yaitu
melalui rekayasa yang baik dan aman seperti
menyingkirkan pada sebuah lahan-urug
(landfill) yang dirancang dan disiapkan
secara baik

f. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan


(khusunya media air dan tanah) yang sudah
tercemar akibat limbah yang tidak terkelola
secara baik, perlu direhabilitasi atau
diperbaiki melalui upaya rekayasa yang
sesuai, seperti bioremediasi dan sebagainya.

Oleh karena itu marilah olah sampah


yang ada disekitar kita agar menjadi barang
yang dapat berguna bagi lingkungan.