Anda di halaman 1dari 1

Tema “Gedung Perkantoran Berkonsep Sustainable Desain” menjadi acuan dasar yang penting mengingat

akhir-akhir ini sudah jarang diperhatikan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan dalam
pembangunan karena kurangnya kesadaran segenap pihak tentang berbagai isu lingkungan global.

Desain berkelanjutan lebih menitikberatkan pada konsep filosofi perancangan obek fisik, lingkungan
binaan, dan layanan untuk mematuhi prinsip-prinsip ekonomi, social, dan ekologi yang berkelanjutan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa desain berkelanjutan adalah desain untuk mengatasi kondisi-
kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan
ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangna
keanekaragaman hayati manusia. Desain berkelanjutan berusaha untuk mengurangi dampak negatif pada
lingkungan, kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan, sehingga meningkatkan kinerja bangunan.

Pada dasarnya pelaksanaan desain berkelanjutan ini dapat diaplikasikan dalam bentuk:

a. Mikrokosmos : yang diwujudkan dalam bentuk benda untuk penggunaan sehari-hari


b. Makrokosmos : yang diwujudkan dalam bentuk bangunan, dan fisik permukaan bumi.

Bentuk inilah yang nantinya akan diterapkan dalam desain arsitektur hijau berkelanjutan dalam
pembangunan gedung perkantoran.

Tujuan utaman dari arsitektur hijau adalah menciptakan eco-design, arsitektur ramah lingkungan,
arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan. Arsitektur hijau juga dapat diterapkan dengan
menginkatkan efisiensi pemakaian energy, air dan pembakaian bahan-bahan yang mereduksi dampak
bangunan terhadap kesehatan. Perancangan arsitektur meliputi tata letak, kontruksi, opreasi dan
pemeliharaan bangunan.

Sebagai pemahaman dasar dari arsitektur hijau yang berkelanjutan, elemen-elemen yang terdapat
didalamnya adalah lansekap, interior, yang menjadi satu kesaturan dalam segi arsitekturnya. Dalam
contoh kecil, arsitektur gedung perkantoran ini diterapkan di area pemukiman warga. Dan menerapkan
komposisi 60 : 40 antara bangunan rumah dan lahan hijau, membuat atap dan dinding dengan konsep
roof garden atau green wall. Dinding bukan sekadar beton atau batu alam, melainkan dapat ditumbuhi
tanaman rambat.

Prinsip sustainable green design dibagi menjadi 3 area (Febriany, dkk, 2013) yaitu:

1. Low-impact material: memanfaatkan bahan non-toxic dan diproduksi secara ramah lingkungan
2. Efisiensi energy : menggunakan atau membuat produk yang hanya membutuhkan sedikit energy
3. Kualitas dan daya tahan: produk yang berfungsi baik (memiliki umur pakai) secara lama berrti
mengurangi perawatan atau penggantian.
4. Reuse dan recycle: rancangan produk harus mempertimbangkan pemanfaatan secara
berkelanjutan hingga setelah masa pakai berakhir (after life)
5. Renewability: bahan berasala dari wilayah terdekat, diproduksi dari sumberdaya terbarukan,
serta (bila memungkinkan) bias diolah menjadi kompos
6. Sehat:produk tidak berbahaya bagi pengguna/penghuni dan lingkungan sekitarnya, bahkan bias
menunjang aspek kesehatan secara luas.