Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Luka bakar merupakan suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan
radiasi. Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan
rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga terlatih dan
terampil. Menurut Babur (2013), pasien dengan luka bakar yang dalam, 75%
membutuhkan rehabilitasi dan sekitar 35% dari pasien memerlukan perawatan bedah.
Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang
terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum),
intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi.
Dalam pengelolaan bekas luka bakar pun terdapat beberapa pedoman, seperti: tidak
adanya hal-hal yang membahayakan, menjaga sirkulasi, mencegah infeksi, penutupan
luka, pengembalian gerak pada tubuh, dan rehabilitasi (Chou et al., 2000).
Dengan adanya penanganan yang tepat, pasien dengan luka bakar diharapkan
dapat sembuh tanpa adanya kontraktur, mengingat tingginya kejadian kontraktur pasca
luka bakar yang cukup tinggi. Kontraktur adalah kontraksi yang menetap dari kulit dan atau
jaringan dibawahnya yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak. Kelainan ini
disebabkan karena tarikan parut abnormal pasca penyembuhan luka, kelainan bawaan
maupun proses degeneratif. Kontraktur juga merupakan hasil dari kombinasi dari beberapa
faktor, yaitu: posisi tungkai, durasi imobilisasi dan otot, jaringan lunak, dan patologi tulang.
Keseluruhan faktor tersebut berkontribusi pada pembentukan kontraktur di luka bakar
(Schneider et al., 2006).
Sebagian besar penanganan kasus kontraktur adalah pembebasan kontraktur,
eksisi parut dan penutupan skin grafting dengan atau tanpa flap lokal. Kontraktur leher
dan wajah dapat menimbulkan masalah fisik dan psikis. Perubahan fisik yang sering
terjadi berupa deformitas yang dapat menimbulkan masalah seperti nyeri, terbatasnya
gerakan fleksi, ekstensi dan rotasi area leher (Shehata et al., 2012). Disamping itu, luka
bakar derajat 2 dan 3 didaerah leher sekitar 50%nya akan menimbulkan kontraktur. Hal
ini dikarenakan jaringan parut pada leher dapat mengubah bentuk bibir atau struktur
wajah lainnya. Tidak hanya terbatasnya gerak mandibula dan bibir saja tetapi juga
berpengaruh terhadap bicara dan makan. Gangguan sekitar mulut selain gangguan
penampilan juga bisa timbul drolling dan ketidaknormalan pada gigi. Oleh karena itu,
penting bagi dokter untuk mengetahui dan memahami tentang pencegahan kontraktur
pasca luka bakar.

B. Tujuan
Untuk lebih memahami tentang definisi, patofisiologi, prevensi, dan terapi kuratif
kontraktur pada luka bakar.

C. Manfaat
Penulisan referat ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca sehingga
dapat membantu dalam mempelajari prinsip-prinsip dalam penanganan kontraktur pada
luka bakar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Kulit
Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai peranan
dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit
beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya
sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm
tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata,
penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat
pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit
berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan
lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm
adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat (David, 2008).
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh
kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di
dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas
menyebabkan oedem dan menimbulkan bula yang banyak elektrolit. Hal itu
menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka
bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya
cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari
keropeng luka bakar derajat tiga. Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya
mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20% akan
terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin,
berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurrang.
Pembengkakkan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi
kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terhisap. Oedem
laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala
sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak bewarna gelap akibat jelaga. Dapat
juga keracunan gas CO dan gas beracun lainnya. Karbon monoksida akan mengikat
hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda
keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang
berat terjadi koma. Bisa lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat
meninggal. Setelah 12 – 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan mobilisasi
serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini di tandai dengan
meningkatnya diuresis (James, 2008).
B. Definisi Kontraktur
Kontraktur adalah pemendekan jarak 2 titik anatomis tubuh sehingga terjadi
keterbatasan rentang gerak (range of motion). Kontraktur adalah kontraksi yang menetap
dari kulit dan atau jaringan dibawahnya yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan
gerak. Kelainan ini disebabkan karena tarikan parut abnormal pasca penyembuhan luka,
kelainan bawaan maupun proses degeneratif. Kontraktur yang banyak dijumpai adalah
akibat luka bakar (Perdanakusuma, 2009).

C. Klasifikasi
Klasifikasi kontraktur berdasarkan derajat keparahan (Adu, 2011)
1) I: gejala berupa keketatan namun tanpa penurunan gerakan ruang lingkup gerak
maupun fungsi.
2) II: sedikit penurunan gerakan ruang lingkup gerak atau sedikit penurunan fungsi
namun tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan, tanpa
penyimpangan arsitektur normal daerah yang terkena.
3) III: terdapat penurunan fungsi, dengan perubahan awal arsitektur normal pada
daerah yang terkena.
4) IV: kehilangan fungsi dari daerah yang terkena.
D. Penyebab
Kontraktur diakibatkan karena kombinasi berbagai faktor meliputi: posisi anggota
tubuh, durasi imobilisasi, otot, jaringan lunak, dan patologis tulang. Individu dengan luka
bakar sering diimobilisasi, baik secara global maupun fokal karena nyerinya, pembidaian,
dan posisinya. Luka bakar dapat meliputi jaringan lunak, otot, dan tulang. Semua faktor
ini berkontribusi terhadap kejadian kontraktur pada luka bakar (Schneider et al, 2006).
Berbagai hal yang dapat menyebabkan kontraktur adalah sebagai berikut (Adu, 2011):
1. Trauma suhu
2. Trauma zat kimia
3. Trauma elektrik
4. Post-trauma (Volkmann’s)
5. Infeksi ulkus buruli
6. Idiopatik (Dupuytren’s)
7. Kongenital (camptodactyly)
E. Penegakan Diagnosis Kontraktur
Penegakan diagnosis kontraktur akibat luka bakar dapat menggunakan bagan sebagai
berikut:

Bedakan antara kontraktur jaringan


lunak dan ankilosis persendian

Bedakan antara kontraktur jaringan ikat dan


kontraktur miogenik atau neurogenik

Diagnosis banding kontraktur dari struktur


anatomi:
a. Kontraktur kutan, subkutan, atau fasial
b. Kontraktur tendon
c. Kontraktur ligament
d. Kontraktur otot

Nilai dan klasifikasi parut kontraktur untuk


memutuskan metode terapi

Evaluasi secara fungsional dan estetika dari


sendi atau jaringan pada sebelum dan sesudah
terapi

Gambar 2.1 Bagan Diagnosis Banding Kontraktur Akibat Luka Bakar (Ogawa &
Pribaz, 2010)

F. Patofisiologi
Patofisiologi yang jelas terbentuknya parut hipertrofi belum diketahui namun
banyak faktor yang berkontribusi terhadap proses fibroproliferatif kulit tersebut.
Paradigm yang sering digunakan adalah “benih dan tanah”. Komponen selular seperti
fibroblast, keratinosit, sel induk, dan sel inflamasi merupakan benih sedangkan komponen
nonseluler seperti matriks ekstraseluler, kekuatan mekanik, tekanan oksigen, dan cytokine
milieu adalah tanah. (Wong & Gurtner, 2010).
Mekanisme dasar pembentukan kontraktur didapat dari berbagai macam etiologi
yaitu congenital, didapat, atau idiopatik. Proses ini disebabkan oleh aktifnya miofibroblas
(sebuah sel dengan fibroblas dan dengan karakteristik seperti otot polos yang
terdistribusinya granulasi di seluruh jaringan yang ada pada luka). Kontraksi dari
miofibroblas menyebabkan luka menyusut. Hal ini juga diikuti dengan deposisi kolagen
dan saling berhubungan untuk mempertahankan kontraksi. Pada embryogenesis,
kegagalan diferensiasi jari-jari menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang
menyebakan fleksi proksimal sendi interfalang yang mengakibatkan camptodactyly (Adu,
2011).
Kontraksi adalah proses aktif biologis untuk menurunkan dimensi area anatomi
dan jaringan yang dapat menyebabkan perlambatan kesembuhan dari luka terbuka.
Kontraktu adalah produk akhir dari proses kontraksi. Kontraktur mengganggu secara
fungsional dan estetik (Pandya, 2001)
G. Prevensi Kontraktur
Kontraktur dapat dicegah dari penyebab awal mulanya. Kontraktur banyak
disebabkan akibat luka bakar. Pencegahan luka bakar dibagi menjadi pencegahan primer,
sekunder dan tersier. Pencegahan primer bertujuan untuk menurunkan insidensi luka
bakar melalui cara memasak yang aman, pemadam kebakaran, dan edukasi tentang zat
yang menyebabkan trauma panas di sekolah atau komunitas. Pencegahan sekunder
bertujuan untuk menurunkan beratnya luka bakar melalui edukasi terhadap pertolongan
pertama. Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas
terhadap luka bakar (Schwarz, 2007).
Terdapat dua kunci penting dalam pencegahan kontraktur. Hal pertama adalah
area yang terbakar dibidai pada posisi anatomis dan berlatih maksimal lingkup gerak
sendi tiap persendian. Perkembangan bidai selama lima belas tahun terakhir berkontribusi
terhadap penurunan kejadian kontraktur dan hal ini semakin dikembangkan (Schwarz,
2007).

Secara umum terdapat berbagai cara pencegahan kontraktur, yaitu (Procter, 2010):
1. Posisi yang mencegah kontraktur
Posisi yang melindungi dari kontraktur harus dimulai dari hari pertama sampai
beberapa bulan setelah trauma. Posisi ini diaplikasikan terhadap semua pasien baik
yang mendapat terapi cangkok kulit maupun yang tidak. Posisi ini penting karena
dapat mempengaruhi panjang jaringan dengan menurunkan ruang lingkup gerak
sebagai akibat dari parut jaringan. Pasien diistirahatkan dengan posisi yang nyaman,
posisi ini biasanya adalah posisi fleksi dan juga merupakan posisi kontraktur. Tanpa
dorongan dan bantuan dari orang lain, pasien akan meneruskan posisi yang
menyebabkan kontraktur. Sekali kontraktur mulai terbentuk dapat terjadi kesulitan
untuk bergerak sempurna seperti sediakala. Penyesuaian awal memiliki esesnsi untuk
memastikan kemungkinan terbaik hasil terapi, selain itu pula untuk meringankan
nyeri.
Pasien harus selalu melakukan kebiasaan posisi pada stadium awal
penyembuhan. Pasien perlu dorongan untuk mempertahankan posisi yang mencegah
kontraktur (kecuali ketika program latihan dan aktivitas fungsional lain), dukungan
keluarga sangat penting.
Ketika luka bakar terjadi pada bagian fleksor tubuh, risiko kontraktur akan
semakin meningkat. Posisi yang mencegah terjadinya kontraktur berdasarkan luka
bakar adalah sebagai berikut:
a. Leher depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi leher, dagu ditarik ke arah
dada, kontur leher menghilang sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur
adalah ekstensi leher, tidak ada bantal di belakang kepala, putar balik leher. Kepala
dimiringkan bila posisi duduk (Guven et al., 2010).

Gambar 2.2. Kontraktur pada Leher Depan

Gambar 2.3. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur


b. Leher belakang
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah ekstensi leher dan pererakan leher
yang lain sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah duduk dengan
posisi leher fleksi, berbaring dengan menggunakan bantal di belakang kepala.

Gambar 2.4. Kontraktur pada Leher Belakang

Gambar 2.5. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

c. Aksila anterior, aksila posterior, maupun lipatan aksila


Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah terbatasnya abduksi dan juga
protraksi ketika luka bakar juga ada di dada sedangkan posisi yang mencegah terjadinya
fraktur adalah berbaring dan duduk lengan abduksi 900 ditopang dengan menggunakan
bantal atau alat lain diantara dada dan lengan.
Gambar 2.6. Kontraktur pada Aksila

Gambar 2.7. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

d. Siku depan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi siku sedangkan posisi
yang mencegah terjadinya fraktur adalah ekstensi siku.
Gambar 2.8. Kontraktur pada Siku

Gambar 2.9. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

e. Punggung tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah hiperekstensi
metacarpalphalangeal (MCP), fleksi interphalangeal (IP), adduksi ibu jari, dan
fleksi pergelangan tangan sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur
adalah pada pergelangan tangan diekstensi 30-40 derajat, fleksi MCP 60-70
derajat, ekstensi sendi IP, dan abduksi ibu jari.

Gambar 2.10. Kontraktur pada Punggung Tangan


Gambar 2.11. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada Punggung
Tangan

f. Telapak tangan
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah adduksi dan fleksi jari-jari
tangan, telapak tangan ditarik ke dalam sedangkan posisi yang mencegah
terjadinya kontraktur adalah ekstensi pergelangan tangan, fleksi minimal MCP,
ekstensi dan abduksi jari-jari tangan.

Gambar 2.12. Kontraktur pada Telapak Tangan


Gambar 2.13. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur pada Telapak Tangan

g. Groin
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi dan adduksi pangkal
paha sedangkan posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah berbaring
tengkurap dengan ekstensi tungkai, batasi duduk dan berbaring posisi
menyamping. Jika dengan posisi supine, berbaring dengan posisi ekstensi tungkai,
tanpa bantal di bawah lutut.
Gambar 2.14. Posisi yang Menyebabkan Kontraktur

Gambar 2.15. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

h. Belakang lutut
Posisi yang dapat menyebabkan kontraktur adalah fleksi lutut sedangkan posisi
yang mencegah terjadinya kontraktur adalah ekstensi tungkai pada saat berbaring
dan duduk.

Gambar 2.16. Kontraktur pada Belakang Lutut


Gambar 2.17. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

i. Kaki
Kaki adalah struktur komplek yang dapat ditarik dengan arah yang berbeda-beda
oleh jaringan yang telah menyembuh. Hal ini dapat mengakibatkan mobilitas yang
tidak normal. Posisi yang mencegah terjadinya kontraktur adalah pergelangan kaki
diposisikan 90 derajat terhadap telapak kaki dengan menggunakan bantal untuk
mempertahankan posisi. Jika pasien dalam keadaan duduk maka posisi kakinya
datar di lantai (tanpa edem).

Gambar 2.18. Kontraktur pada Kaki


Gambar 2.19. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

j. Wajah
Kontraktur pada wajah dapat meliputi berbagai hal termasuk ketiakmampuan
untuk membuka maupun menutup mulut dengan sempurna, ketidakmampuan
menutup mata dengan sempurna, dan lain sebagainya.posisi yang mencegah
terjadinya kontraktur adalah secara teratur merubah ekspresi wajah dan
peregangan seperlunya. Tabung empuk dapat dimasukkan ke dalam mulut untuk
melawan kontraktur mulut.

Gambar 2.20. Posisi yang Mencegah Terjadinya Kontraktur

2. Bidai
Pembidaian sangat efektif untuk membantu mencegah kontraktur dan
merupakan hal yang perlu dilakukan sebagai program rehabilitasi komprehensif.
Pembidaian membantu mempertahankan posisi yang mencegah kontraktur terutama
terhadap pasien yang mengalami nyeri hebat, kesulitan penyesuaian atau dengan area
luka bakar yang dengan menggunakan posisi pencegahan kontraktur saja tidak cukup.
Pembidaian dilakukan dengan posisi yang diregangkan sehingga memberikan
suatu latihan peregangan awal yang lebih mudah. Parut tidak hanya berkontraksi
namun juga mengambil rute terdekat, parut sering menimbulkan selaput atau anyaman
diantara jari-jari, leher, lutut, aksilda, dan lain-lain. Bidai membantu merenovasi
jaringan parutkarena membentuk dan mempertahankan kontur anatomis. Bidai adalah
satu-satunya modalitas terapeutik yang tersedia dan berlaku yang dapat mengatur
tekanan pada jaringan lunak sehingga dapat menimbulkan remodeling jaringan.
Bidai dapat dibuat dari berbagai macam bahan. Bahan yang ideal adalah yang
memiliki temperature rendah dan ringan, mudah dibentuk, dan disesuaikan kembali
kemudian juga sesuai dengan kontur.

Gambar 2.21. Contoh Pembidaian

3. Peregangan dan mobilisasi awal


Sendi yang terkena luka bakar harus digerakkan dan diregangkan beberapa
kali setiap harinya. Pasien membutuhkan pendamping baik dari tim medis maupun
keluarganya untuk mencapai pergerakan yang penuh terutama untuk anak-anak yang
memerlukan perhatian yang lebih dari orang tua. Pasien perlu mengembangkan
kebiasaan tersebut dari hari ke hari.
4. Melakukan aktivitas sehari-hari
Pasien luka bakar sering merasa kehilangan rasa dan kemampuan untuk
beraktivitas secara normal. Aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi sangat penting
untuk melatih pasien dapat hidup mandiri.
5. Pijat dan pemberian moisturiser
Pijatan pada parut sangat dianjurkan sebagai bagian dari penatalaksanaan luka parut
meskipun mekanisme efeknya belum begitu diketahui. Hal yang dapat dilakukan
adalah:
a. Pemberian moisturiser luka sering kehilangan kelembaban tergantung dari
dalamnya luka dan sejauh kerusakan struktur kulit. Luka tersebut dapat menjadi
sangat kering dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal ini dapat menimbulkan
retak dan pecahnya parut. Pemijatan dengan moisturizer atau minyak tanpa
parfum pada bagian teratas parut dapat melembutkan sehingga pasien merasa
lebih nyaman dan untuk mengurangi gatal.
b. Jika parut menjadi tebal dan meninggi dapat menggunakan pijatan kuat dan dalam
menggunakan ibujari atau ujung jari untuk mengurangi kelebihan cairan pada
tempat tersebut.
c. Parut akibat luka bakar mengandung kolagen empat kali dibandingkan dengan
luka parut biasa. Pijatan yang dalam dengan pola sedikit memutar dapat
meningkatkan kesegarisan luka parut.
d. Penurunan sensoris dan perubahan sensasi dapat terjadi. Pijatan rutin dan sentuhan
pada parut dapat membantu desensitisasi dari luka yang sebelumnya hipersensitif
e. Faktor psikologis dari seseorang yang memiliki kesulitan dan merasa tidak enak
dipandang dapat dikurangi dengan menyentuh parut dan belajar bagaimana
menerima keadaannya.

6. Terapi tekanan
Terapi tekanan adalah modalitas primer dalam penatalaksanaan parut akibat
luka bakar meskipun efektivitas klinis secara sains masih belum terbukti. Pemberian
tekanan pada area luka bakar diduga dapat mengurangi parut dengan mempercepat
maturasi parut dan mendorong reorientasi terbentuknya serta kolagen. Pola parallel
yang bertentangan dengan pola luka yang berputar pada parut. Mekanisme yang
diduga adalah, pemberian tekana dapat menciptakan hipoksia lokal pada jaringan
parut sehingga mereduksi aliran darah yang sebelumnya hipervaskuler pada luka
parut. Hal ini mengakibatkan menurunnya influks kolagen dan penurunan
pembentukan jaringan parut. Sesegera setelah luka menjadi tertutup dan dapat
menerima tekanan, pasien menggunakan pakaian tekanan.
7. Silicon
Silicon digunakan untuk mengobati parut hipetrofik. Mekanisme dalam mencegah dan
penatalaksanan parut hipertrofik masih belum jelas namun kemungkinan silicon
mempengaruhi fase penyembuhan remodeling kolagen (Bloemen et al., 2009; Dewey
et al., 2011; Fufa et al., 2014).
Ketika luka bakar telah sembuh, pasien dan keluarganya harus membiasakan
untuk latihan peregangan, pemijatan, moisturizer, dan mandi di air yang hangat. Semua
hal ini dapat membantu mencegah kontraktur. Pasien harus didorong untuk menggunakan
tangan sebisa mungkin untuk aktivitas dan kebutuhan sehari-hari. Jika mungkin
digunakan untuk kembali ke pekerjaan mereka (Pandya, 2001).
Obat-obatan antifibrogenik untuk mengatasi parut hipertrofi yang dapat
menyebabkan kontraktur adalah sebagai berikut:
1. Antagonis TGF-β
2. Interferon α, β, γ
3. Bleomycin
4. 5-fluorouracil
5. kortikosteroid
Interaksi yang rumit antara berbagai faktor berpengaruh terhadap penyembuhan
dan menentukan hasil fibrotic atau regeneratif pada luka. Terapi tunggal dalam melawan
parut bekas luka banyak yang tidak berhasil karena rumitnya interaksi antara sel luka
dengan lingkungannya (Wong & Gurtner, 2010).

H. Penatalaksanaan Kontraktur
Seperti yang telah dijelaskan pada klasifikasi kontraktur, terutama kontraktur
derajat III dan IV memerlukan tindakan operasi sedangkan untuk derajat I dan II tidak
memerlukan tindakan operasi. (Adu, 2011). Untuk menentukan terapi dari parut
kontraktur maka klasifikasi tempat terjadinya kontraktur harus dinilai. Bentuk dan
kedalaman luka sebelum atau dalam operasi. Penilaian setelah operasi juga penting untuk
mengevaluasi metode penatalaksanaan (Ogawa & Pribaz, 2010).
Prosedur operasi tidak boleh dilakukan selama fase aktif penyembuhan dan
pembentukan jaringan parut. Selama luka tersebut immature dan banyak baskularisasinya
tidak dilakukan operasi. Biasanya dibutuhkan waktu satu tahun atau lebih. Luka harus
menjadi matur, supel, dan avaskuler sebelum dilakukan operasi (Goel & Shrivastava,
2010).
1. Pembebasan kontraktur
Pembebasan kontraktur yang tuntas harus dilakukan dengan mencegah
kerusakan berbagai struktur penting seperti arteri, saraf, tendon, dan lain-lain. Insisi
dimulai di pada lintasan ketegangan yang maksimal yaitu daerah yang paling
kencang. Titik ini biasanya berlawanan dengan garis persendian. Insisi diperdalam
sampai jaringan yang tidak ada parutnya.
2. Penutupan kulit
Penutupan dengan menggunakan skin grafts atau skin flap. Umumnya area
dibuangnya setelah dibuangnya jaringan kontraktur akan ditutup dengan
menggunakan skin grafts. Penutupan menggunakan flap digunakan pada situasi yang
khusus. Lapisan grafts diusahakan dibuat luas dengan menggunakan tautan. Teknik
yang dapat digunakan adalah Full Thickness Skin Graft (FTSG) merupakan skin graft
yang menyertakan seluruh bagian dari dermis. Karakteristik kulit normal dapt terjada
setelah proses graft selesai karena komponen dermis dipertahankan selama proses
graft. Teknik lain yang dapat digunakan adalah Split Thickness Skin Graft (STSG).
Skin flap digunakan jika pembebasan kontraktur kemungkinan membuka
persendian terutama tangan dan kaki. Teknik yang dapat digunakan adalah Z plasty. Z
plasty adalah tindakan operasi yang bertujuan memperpanjang garis luka sehingga
dapat mencegah kontraktur terutama pada persendian. Tindakan ini dilakukan dengan
cara transposisi flap sehingga didapatkan garis luka yang lebih panjang. Teknik lain
yang dapat digunakan adalah V-Y plasty, V-M plasty, split skin fraft (SSG) dan lain
sebagainya (Sarker et al., 2013; Gumus, 2015; Grishkevich and Vishnevsky, 2013).
3. Perawatan post-operatif
Pemeliharaan dan posisi yang terlepas diharuskan sampai kurang lebih 3 minggu atau
sampai garis tepi flap sembuh. Perawatan postoperatif menggunakan bidai statis atau
dinamis dan juga terapi latihan fisik diperlukan untuk menjaga ruang lingkup gerak
persendian (Shakirov et al., 2013).
BAB III
KESIMPULAN

1. Kontraktur adalah kontraksi yang menetap dari kulit dan atau jaringan dibawahnya yang
menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak. Kelainan ini disebabkan karena tarikan
parut abnormal pasca penyembuhan luka, kelainan bawaan maupun proses degeneratif.
Kontraktur yang banyak dijumpai adalah akibat luka bakar.
2. Rehabilitasi luka bakar harus dilakukan dengan baik dan benar untuk mencegah terjadinya
kontraktur.
3. Penatalaksanaan perlu dilakukan dengan berbagai disiplin ilmu dan dukungan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Adu EJK. (2011). Management of contractures: a five-year experience at komfo anokye


teaching hospital in kumasi. Ghana Medical Journal 45(2):66-72.

Babur S (2013). Different surgical treatment of post-burn contracture of foot and ankle joint.
Journal of surgery 1(2): 32-36.

Bloeman MC, Veer WM, Ulrich MM, Zuijlen PP, Niessen FB, Middelkoop E (2009).
Prevention and curative management of hypertrophic scar formation. Burns 35(2009):
463-475.

Chou T, Chen S, Lee T, Cheng T, Lee C, Chen T, dan Wang H (2000). Reconstruction of
burn scar of the upper extremities with artificial skin. Reconstruction of burn scar 108:
2.

David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Dalam: Surabaya Plastic
Surgery. http://surabayaplasticsurgery.blogspot.com

Dewey WS, Richard RL, Parry IS (2011). Positioning, splinting, and contracture
management. Phys Med Rehabil Clin N Am 22: 229-247.

Fufa DT, Chuang S, Yang J (2014). Prevention and surgical management of postburn
contractures of the hand. Curr Rev Musculoskelet Med 7: 53-59.

Goel A & Shrivastava P. (2010). Post-burn scars and scar contractures. Indian Journal of
Plastic Surgery 43(3):63-71.

Gumus N (2015). Repairing post burn scar contractures with a rare form of Z-plasty. Ulus
Travma Acil Cerrahi Derg 21(3): 187-192.

Grishkevich VM (2013). Postburn dorsal and palmar interdigital commissural contractures:


Anatomy and treatment. Advances in bioscience and biotechnology 4: 518-530.

Grishkevich VM, Vishnevsky AV (2013). Postburn knee flexions contractures: Anatomy and
methods of their treatment. Trop Med Surg 1:6.

Guven E, Ugurlu AM, Hocaoglu E, Kuvat SV, Elbey H (2010). Treatment of post-burn upper
extremity, neck and facial contractures: report of 77 cases. Turkish Journal of Trauma
and Emergency Surgery 16(5): 401-406.

James M Becker. 2008. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier. Philadelphia. p


118-129

Karwacinska J, Kiebzak W, Stepanek-Finda B, KowalskiIM, Protasiewicz-Faldowska H,


Trybulski R, Starczyriska M (2012). Effectiveness of kinesio taping on hypertrophic
scars, keloids and scar contractures. Polish annals of medicine 19: 50-57.
Liu H, Wang K, Wang Q, Sun S, Ji Y (2011). A modified surgical technique in the
management of eyelid burns: a case series. Journal of Medical Case Reports 5: 373.

Mody NB, Bankar SS, Patil A (2014). Post burn contracture neck: Clinical profile and
management. Journal of Clinical and Diagnostic Research Vol8(10): NC12-NC17.

Mukarramah DA, Atmodiwirjo P (2012). A thin anterolateral thigh free flap for severe hand
burn deformity. Jurnal Plastik Rekonstruksi 1(3): 298-301.

Ogawa R & Pribaz JJ. (2010). Diagnosis, assessment, and classification of scar contractures.
Color Atlas of Burn Reconstructive Surgery. Springer Heidelberg Dordrecht London
NewYork.

Olariu D, Mihajlovic D, Kaushal S, Crainiceanu Z, Motrescu E, Bodog F (2012).


Management of capsular contracture. AMT (1): p259.

Pandya AN. (2001). Burn injury. Repair & Recontruction 2(2):1-16.

Parry I, Sen S, Palmieri T, Greenhalgh D (2013). Nonsurgical scar management of the face:
Does early versus late intervention affect outcome. Journal of Burn Care and Research
34(5): 569-575.

Perdanakusuma, DS. (2009). Surgical management of contracture in head and neck. Annual
Meeting of Indonesian Symposium on Pediatric Anesthesia & Critical care, JW
Marriot Hotel Surabaya.

Procter F. (2010). Rehabilitation of the burn patient. Indian Journal of Plastic Surgery
43(Suppl):S101-S113.

Sarker B, Lenin LK, Hossain Z (2013). Various methods of reconstruction of axillary burn
contracture. BDJPS 4(1): 16-19.

Sarvesh, Chaudhary S (2015). Difficult airway management in patients with severe post burn
contracture of neck. International Journal of Anesthesiology and Research 3(3): 93-95.

Schneider JC, Holavanahalli R, Helm, P, Goldstein R, & Kowalske K. (2006). Contractures


in burn injury: defining the problem. Journal of Burn Care Research 27(4):508-514.

Schwarz RJ. (2007). Management of postburn contractures of the upper extremity. Journal
of Burn Care Research 28:212-219.

Shakirov BM, Ahmedov YM, Zohidova SH, Hakimov EA, Tagaev KR (2013). Treatment of
post burn scar extended deformity of the toes IV degree and using bridge cellular
cutaneous flap. Modern Plastic Surgery 3: 96-99.

Shehata I, Fekry M, Khalik MM, Abdullah AM (2013). Skin graft in post burn neck
contractures. J. Plast. Reconstr. Surg 36(2): 225-228.

Tucker SC (2011). Reconstruction of severe hand contractures: An illustrative series. Indian


Journal of Plastic Surgery 44: 59-67.
Wong VW & Gurtner GC. (2010). Strategies for skin regeneration in burn patients. Color
Atlas of Burn Reconstructive Surgery. Springer Heidelberg Dordrecht London
NewYork.