Anda di halaman 1dari 105

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KETIDAKTERATURAN

SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR DI KECAMATAN

LEIHITU BARAT

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

OLEH:

FRANDITA IVANA TANISIWA

NIM. 2013-83-037

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2017
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Frandita Ivana Tanisiwa

NIM : 2013-83-037

Fakultas : Kedokteran

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang telah saya susun dengan judul:

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KETIDAKTERATURAN

SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR

DI KECAMATAN LEIHITU BARAT

Adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dan bukan merupakan plagiat dari

Skripsi orang lain. Apabila di kemudian hari terdapat bahwa pernyataan yang saya

buat ini tidak benar adanya, maka saya bersedia untuk menerima sanksi akademis

yang berlaku (dicabut predikat kelulusan dan gelar sarjana yang saya dapatkan).

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Ambon, 20 Juli 2017

Pembuat pernyataan,

Frandita Ivana Tanisiwa

NIM. 2013-83-037

iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,

tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan

permohonan dengan ucapan syukur”

(Amsal 16 : 9)

Skripsi ini kupersembahkan

Bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus

Dan untuk Orang tua tercinta :

Fransiscus Xaverius Tanisiwa dan Kafiana Diana Rahantoknam/T

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih
dan tuntunan-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi
dengan judul “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Ketidakteraturan Siklus
Menstruasi pada Wanita Usia Subur di Kecamatan Leihitu Barat” dengan baik berkat
adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Skripsi ini disusun guna
memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas Kedokteran
Universitas Pattimura.

Untuk itu penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. M. J. Saptenno, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Pattimura.

2. Dr. dr. Bertha J. Que, Sp.S., M.Kes sebagai Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Pattimura.

3. dr. Theresia N Seimahuira, M.Kmrepro selaku pembimbing pertama yang telah

bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dalam proses pembimbingan

mulai dari perencanaan penelitian hingga penulisan skripsi selesai, juga untuk

ilmu yang telah dibagikan sehingga penulis lebih mengerti.

4. dr. Rif‟ah Zafarani Soumena sebagai pembimbing kedua yang telah bersedia

meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dalam proses pembimbingan penulisan

skripsi ini.

5. M.W. Talakua, M.Si selaku pembimbing statistik yang telah mengajarkan dan

membantu penulis dalam mengolah data hasil penelitian sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan.

v
6. dr. Novy Riyanti, Sp.OG, M.Kes sebagai penguji utama yang telah berkenan

menguji dan memberikan saran untuk menyempurnakan skripsi ini.

7. dr. Marissa Matinahoru selaku penguji kedua yang telah berkenan menguji dan

memberikan saran untuk menyempurnakan skripsi ini.

8. dr. Laura B. S. Huwae, Sp.S, M.Kes selaku penguji tiga yang telah berkenan

menguji dan memberikan saran untuk menyempurnakan skripsi ini.

9. dr. Marliyati Sanaky, M.Si sebagai pembimbing akademik, atas dukungan dan

bimbingan selama penulis berada dalam proses perkuliahan hingga penyelesaian

skripsi ini.

10. Seluruh Wakil Dekan, Staf Dosen dan Pegawai di lingkup Fakultas Kedokteran

Universitas Pattimura atas dukungan dan bantuan selama penulis berada dalam

proses perkuliahaan hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.

11. Papa tercinta Fransiscus Xaverius Tanisiwa dan Mama tersayang Kafiana Diana

Rahantoknam, adik-adik tersayang Fransisca Villia Tanisiwa dan Jesica

Stiphanie Tanisiwa yang senantiasa memberikan doa, kasih sayang, motivasi,

bantuan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan di

Fakultas Kedokteran.

12. Teman dekat Erland Ferrary Arius Ambon yang senantiasa memberikan doa,

dukungan serta semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan di

Fakultas Kedokteran

13. Sahabat sahabat Exainier (Kelas XII IPA 4 SMANSA 2013) tersayang,

terkhususnya Albfrets David Rumtily, Arvenia Julia Amahoru, Leonardo

vi
Jeverson Sipahelut, Angga Dewa Sudin dan Elvata Minoa Kakisina yang selalu

memberi semangat bagi penulis.

14. Teman-teman sepembimbingan Josafat Karel R Souhoka dan Eli Ezer

Simangunsong yang senantiasa memberikan dukungan, motivasi dan bantuan

kepada penulis hingga penyelesaian penyusunan skripsi ini.

15. Keluarga Bapak Ari Dulhasyim dan Ibu Asmunah Dulhasyim di Laha, yang

selalu memberikan dukungan dan doa bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini.

16. Teman-teman FK Angkatan 2013 (SOLEUS) yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu, terkhususnya Prisilia Sampe atas dukungan, motivasi dan bantuan

kepada penulis hingga penyelesaian penyusunan skripsi ini.

17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah

memberikan bantuan, saran dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk

itu segala saran dan masukan sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan

skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua

pihak yang membutuhkan.

Ambon, 20 Juli 2017

Penulis

vii
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KETIDAKTERATURAN

SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA USIA SUBUR

DI KECAMATAN LEIHITU BARAT

ABSTRAK
Pendahuluan: Gangguan menstruasi merupakan masalah yang cukup sering
ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Gangguan menstruasi yang tidak
ditangani dapat mempengaruhi kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari sehingga
gangguan menstruasi memerlukan evaluasi yang saksama. Menurut data World
Health Organization (WHO) tahun 2010, terdapat 75% remaja yang mengalami
gangguan haid dan hal ini merupakan alasan terbanyak remaja wanita mengunjungi
dokter spesialis kandungan. Gangguan siklus menstruasi pada wanita merupakan
salah satu faktor dapat terjadi infertilitas pada wanita tersebut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara indeks massa
tubuh dengan siklus menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat
Maluku Tengah.
Metode: Penelitian bersifat deksriptif analitik dengan menggunakan pendekatan
cross sectional. Variabel yang digunakan adalah usia, tinggi badan, berat badan,
ketidakteraturan siklus menstruasi. Penelitian ini menggunakan data primer langsung
dari responden. Data diolah menggunakan SPSS versi 24.0.
Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kelompok usia terbanyak adalah
kelompok usia 18 tahun (54,0%), kelompok indeks massa tubuh terbanyak adalah
kelompok berat badan normal (41,0%), dan kelompok siklus menstruasi tidak teratur
(46,0%) merupakan kelompok terbanyak. Hasil analisis bivariat didapatkan
hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh dengan ketidakteraturan siklus
menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat (p= 0,000).
Kesimpulan: Dari penelitian ini didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara
indeks massa tubuh dengan siklus menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan
Leihitu Barat. Diperlukan penelitian selanjutnya untuk mengidentifikasi faktor resiko
lain, sehingga dapat menurunkan angka kejadian ketidakteraturan siklus menstruasi.
Kata Kunci : indeks massa tubuh, ketidakteraturan siklus menstruasi

viii
RELATIONSHIP BODY MASS INDEX WITH SPECIFICATION OF
THE MENSTRUAL CYCLE IN WOMEN OF REPODUCTIVE AGE
IN WEST LEIHITU DISTRICT

ABSTRACT

Introduction: Menstrual disorders are a fairly common problem in primary health


care. Untreated menstrual disorders can affect quality of life and daily activities so
that menstrual disorders require careful evaluation. According to World Health
Organization (WHO) data in 2010, there are 75% of adolescents who experience
menstrual disorders and this is the reason most teenage girls visit obstetricians.
Menstrual cycle disorders in women is one factor can occur infertility in women.

Purpose: This study aims to determine the relationship between body mass index and
menstrual cycle in women of reproductive age in West Leihitu District Central
Maluku Regency.

Methods: The research was an analytical descriptive study using cross sectional
technique. Variables were age, height, weight, irregularity of menstrual cycle. This
study uses primary data directly from the respondents. Data were analyzed using
SPSS version 24.0

Results: Based on the results of the study, the most age group was 18 years old
(54.0%), the most body mass index was the normal weight group (41.0%), and the
irregular menstrual cycle group (46.0%) Is the largest group. The result of bivariate
analysis showed a significant correlation between body mass index and irregularity
of menstrual cycle in women of reproductive age in West Leihitu District (p= 0.000).

Conclusion: From this research, there is a relationship significantly between body


mass index and menstrual cycle in women of reproductive age in West Leihitu
District. Further research is needed to identify other risk factors, thus reducing the
incidence of irregularity of the menstrual cycle.

Keywords: body mass index, irregularity of menstrual cycle


.

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL…………………………………………………. i
TANDA PENGESAHAN…………………………………………….... ii
SURAT PERNYATAAN…………………………………………….... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………… iii
KATA PENGANTAR…………………………………………………. iv
ABSTRAK……………………………………………………………... vii
ABSTRACT…………………………………………………………….. viii
DAFTAR ISI…………………………………………………………... ix
DAFTAR SINGKATAN………………………………………………. xii
DAFTAR TABEL…………………………………………………....... xiii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………... xiv
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………... xvi
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………… 1
1.1 Latar Belakang……………………………….…………… 1
1.2 Rumusan Masalah………………………………….……. 5
1.3 Tujuan Penelitian………………………………………… 5
1.3.1 Tujuan Umum………………………………………… 5
1.3.2 Tujuan Khusus……………………………………….. 5
1.4 Manfaat Penelitian………………………………………. 6
1.4.1 Manfaat Teoritis........…………………………………. 6
1.4.2 Manfaat Praktis..................................…………………. 6
1.4.2.1. Bagi Mahasiswa FK Universitas Pattimura....... 6
1.4.2.2. Bagi Institusi Pendidikan................................... 6
1.4.2.3. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.............. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………. 8
2.1 Landasan Teori.………………………………………....... 8
2.1.1 Siklus Menstruasi............................................................ 8
2.1.1.1 Defenisi Menstruasi dan Siklus Menstruasi........... 8

x
2.1.1.2 Regulasi Hormonal pada Siklus Reproduksi
Wanita..................................................................... 10
2.1.1.3 Fisiologi Siklus Menstruasi...............……………. 12
2.1.1.4 Gangguan Siklus Menstruasi..………………… 16
2.1.2 Indeks Massa Tubuh…………………………………… 19
2.1.2.1 Definisi Indeks Massa Tubuh……………………. 19
2.1.2.2 Cara Mengukur Indeks Massa Tubuh……………. 19
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus
Menstruasi........................................................................ 22
2.1.3.1. Stres......................................................................... 23
2.1.3.2. Status Gizi................................................................ 25
2.1.3.3. Pola Hidup............................................................... 27

2.1.3.4. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus


Menstruasi.............................................................. 28
2.2 Kerangka teori……………………………………………... 30
2.3 Hipotesis ………………………………………………….. 31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN…………………………........ 32
3.1 Desain penelitian…………………………………………... 32
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.............................………….. 32
3.3 Populasi dan sampel penelitian……………………………. 32
3.3.1 Populasi penelitian……………………………………... 32
3.3.2 Jumlah Subjek.....………………………………………. 33
3.4 Kriteria Subjek Penelitian.....……………………………… 35
3.4.1 Kriteria inklusi………………………………………… 35
3.4.2 Kriteria eksklusi………………………………………... 35
3.5 Variabel penelitian……………………………………........ 35
3.5.1 Variabel Independen ……………………………...….... 35
3.5.2 Variabel Dependen…………………………………...... 36
3.6 Kerangka konsep…………………………………………... 36
3.7 Definisi operasional……………………………………….. 37

xi
3.8 Instrumen penelitian………………………………………. 38
3.9 Teknik pengambilan data…………………………………. 38
3.10 Pengolahan data…………………………………………… 39
3.11 Analisis data……………………………………………...... 39
3.12 Alur penelitian…………………………………………….. 41
3.13 Jadwal penelitian…………………………………………... 42
3.14 EtikaPenelitian...................................................................... 42
3.15 Penelitian Sebelumnya.......................................................... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………. 45
4.1. Hasil.....................................………………………………. 45
4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………………..... 45
4.1.2. Hasil Penelitian..........………………………................ 47
4.1.2.1.Analisis Univariat……………………………....... 47
4.1.2.2. Analisis Bivariat...................................................... 50
4.2. Pembahasan........................……………………………….. 53
4.3. Keterbatasan Penelitian……………………………………. 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………………….. 57
5.1. Kesimpulan………………………………………………... 57
5.2. Saran………………………………………………………. 58
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….. 59
LAMPIRAN…………………………………………………………… 66

xii
DAFTAR SINGKATAN

IMT : Indeks Massa Tubuh

WUS : Wanita Usia Subur

WHO : World Health Organization

DIII : Diploma Tiga

Poltekkes : Politeknik Kesehatan

FSH : Follikel Stimulazing Hormone

LH : Leutinizing Hormone

PMS : Premenstrual Syndrome

DM : Diabetes Melitus

PCOS : Polycystic Ovary Syndrome

SPSS : Statistical Package for the Social Science

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

Tabel 2.1. Indeks Massa Tubuh menurut Asia Pasifik ..................... 20

Tabel 2.2. Indeks Massa Tubuh menurut WHO ............................... 20

Tabel 3.1. Defenisi Operasional ........................................................ 37

Tabel 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian dan Penyusunan Skripsi

........................................................................................... 42

Tabel 3.3. Matriks Elaborasi ............................................................. 44

Tabel 4.1. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Usia......... 47

Tabel 4.2. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Indeks

Massa Tubuh.................................................................... 48

Tabel 4.3. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Indeks

Massa Tubuh Berat Badan Lebih..................................... 48

Tabel 4.4. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Siklus

Menstruasi......................................................................... 49

Tabel 4.5. Hubungan IMT dan Siklus Menstruasi............................. 50

Tabel 4.6. Perbandingan Penelitian Ini dengan Penelitian

Sebelumnya....................................................................... 55

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

Gambar 2.1. Siklus Menstruasi…………….……………………… 14

Gambar 2.2. Kerangka Teori ........................................................... 30

Gambar 3.1. Kerangka Konsep …………………………………… 36

Gambar 3.2. Alur Penelitian ………………………………………. 41

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik..................... 66

Lampiran 2. Surat Keterangan Hasil Pengujian............................... 67

Lampiran 3. Lembaran Permohonan Menjadi Responden ............. 69

Lampiran 4. Lembaran Persetujuan Responden............................... 71

Lampiran 5. Kuesioner Penelitian.................................................... 72

Lampiran 6. Data Hasil Penelitian................................................... 78

Lampiran 7. Hasil Analisis dengan SPSS 23.0................................ 85

xvi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Setiap orang memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda, tergantung dari

seberapa besar tingkat pertumbuhan dan aktivitas fisiknya. Sebelum masa remaja,

kebutuhan nutrisi anak lelaki dan anak perempuan tidak dibedakan, tetapi pada

masa remaja terjadi perubahan biologik dan fisiologik tubuh yang spesifik sesuai

jenis kelamin sehingga kebutuhan nutrisi menjadi berbeda. Sebagai contoh,

remaja perempuan membutuhkan zat besi lebih banyak karena mengalami

menstruasi setiap bulan sehingga remaja wanita memiliki kebutuhan nutrisi yang

spesial.1,2,3

Pada masa remaja, bukan hanya tumbuh menjadi lebih tinggi dan lebih

besar, tetapi juga terjadi perubahan-perubahan di dalam tubuh yang

memungkinkan untuk bereproduksi, masa inilah yang disebut dengan masa

pubertas. Disaat kebutuhan nutrisi pada masa remaja tidak terpenuhi maka proses

pematangan seksual dan hormonal juga turut terhambat. 1,2,3,4

Dalam beberapa tahun terakhir, prevalensi obesitas di dunia terus

meningkat. Hal ini juga didukung oleh data yang dikutip dari WHO, diperoleh

bahwa indeks massa tubuh pada kelompok usia 12 sampai 17 tahun meningkat

5,7% pada 2009 dan mencapai 11,1% pada 2011 yang berpengaruh pada

kesehatan reproduksi wanita.5

Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan Profil Kesehatan

Indonesia tahun 2016 diketahui bahwa masalah kesehatan yang umumnya

1
2

ditemukan pada remaja yang berusia kurang dari 18 tahun yaitu obesitas,

walaupun masalah underweight pada kelompok usia ini juga tergolong cukup

tinggi. Data ini juga didukung oleh hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS)

tahun 2013 yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prevalensi obesitas

pada perempuan dewasa dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 persentase obesitas

pada perempuan dewasa di Indonesia mencapai 18,1% dan terus meningkat

hingga tahun 2013 dengan persentase sebesar 32,9%.6,7

Pada remaja putri, pubertas ditandai dengan permulaan menstruasi

(menarche). Menarche merupakan menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam

rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja di tengah masa pubertas

sebelum memasuki masa reproduksi. Menstruasi merupakan perdarahan periodik

dan siklik pada uterus yang disertai pelepasan endometrium dan dimulai sekitar 14

hari setelah ovulasi. Interaksi kompleks yang melibatkan sistem hormon dan

organ tubuh, yaitu hipotalamus, hipofisis, uterus dan ovarium serta faktor lain di

luar organ reproduksi menyebabkan perdarahan haid.6,8

Wanita usia reproduksi mengalami keluhan yang berkaitan dengan siklus

menstruasi berupa hipermenorea, hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, dan

amenorea dan dismenorea.4

Gangguan menstruasi merupakan masalah yang cukup sering ditemukan

pada pelayanan kesehatan primer. Penelitian pada mahasiswi sebuah universitas di

Jakarta tahun 2004 dikemukakan bahwa 83,5% mahasiswi mengalami

dismenorea. Penelitian lainnya, didapatkan 76% dokter menerima kasus


3

perdarahan yang banyak pada menstruasi dan mengangganggapnya sebagai kasus

yang perlu dirujuk.3

Gangguan menstruasi yang tidak ditangani dapat mempengaruhi kualitas

hidup dan aktivitas sehari-hari sehingga gangguan menstruasi memerlukan

evaluasi yang saksama. Sebuah studi yang dilakukan terhadap mahasiswa

didapatkan data bahwa dismenorea (33%) dan sindrom pramenstruasi (67%)

merupakan keluhan yang dirasakan paling mengganggu. Waktu istirahat yang

memanjang (54%) dan menurunnya kemampuan belajar (50%) merupakan efek

gangguan siklus menstruasi yang dilaporkan.3

Salah satu dampak gangguan menstruasi adalah infertilitas. Infertilitas

merupakan masalah yang terjadi pada sebagian wanita. Data di Amerika

mengemukakan bahwa terjadi 25% sampai 36% kasus infertilitas tiap tahunnya.

Masalah infertilitas telah mencapai 45% dari jumlah populasi wanita dewasa dan

merupakan hal yang sangat mengganggu bahkan bisa mengancam keutuhan suatu

rumah tangga.8

Data yang didapat dari World Health Organization (WHO) tahun 2010,

terdapat 75% remaja yang mengalami gangguan haid dan hal ini merupakan

alasan terbanyak remaja wanita mengunjungi dokter spesialis kandungan. Studi

juga dilakukan di Lebanese ditemukan prevalensi ketidakteraturan siklus

menstruasi adalah 53,5%. Penelitian ini juga dilakukan di Venezuela, didapatkan

11% mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi.9,10


4

Beberapa penelitian epidemiologi mengemukakan bahwa siklus

menstruasi pada wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia, berat badan,

tinggi badan, pola hidup, stres, status gizi dan lain-lain.11,12,13,14

Penelitian yang dilakukan di Nepal oleh Binu Thapal dan Tripti Shrestha

dalam penelitian mereka yang berjudul “Relationship between Body Mass Index

and Menstrual Irregularities among the Adolescents”, mendapat hasil positif.

Penelitian ini memiliki jumlah sampel yang cukup banyak dan diambil dari tiga

populasi berbeda, namun metode penelitian yang digunakan kurang tepat karena

menggunakan quantitative descriptive correlational padahal judul yang

digunakan merupakan penelitian analitik. Di Indonesia, Tri Suwarni juga

melakukan penelitian pada Prodi DIII Kebidanan Poltekkes Bhakti Mulia

Sukoharjo tentang “Faktor Determinan yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi”,

akan tetapi jumlah sampel yang digunakan juga masih kurang banyak untuk

mewakili populasi. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Hazanah, Rahmawati

Shoufiah dan Nurlaila di Indonesia juga meneliti “Relation Between Stress And

Menstrual Cycle At 18-21 Years Of Age” pada 197 mahasiswa di Borneo. Jumlah

sampel yang diambil dianggap cukup banyak untuk mewakili populasi.5,9,15

Kecamatan Leihitu Barat merupakan kecamatan yang terletak di

Kabupaten Maluku Tengah dengan luas wilayah Kecamatan Leihitu Barat kurang

lebih 84,47 Km2 dan jumlah penduduk 17.030 jiwa. Persebaran penduduk

Kecamatan Leihitu Barat sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan luas dari

Negeri. Dengan luas wilayah 84,47 Km² maka tahun 2015, tingkat kepadatan

penduduk di Kecamatan Leihitu Barat sebesar 201,6 jiwa untuk setiap km².
5

Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi terjadi di Negeri Larike, diikuti Negeri

Wakasihu. Sedangkan kepadatan penduduk terkecil Negeri Lilibooi memiliki

kepadatan penduduk terkecil sebesar 190 jiwa/km². Secara Keseluruhan negeri–

negeri di Kecamatan Leihitu Barat Terletak di kawasan Pesisir Pantai, akan tetapi

ada juga pemukiman penduduk tersebar di daerah dataran tinggi seperti di Negeri

Allang.16

Hingga saat ini masih belum ada penelitian yang membahas secara khusus

tentang hubungan indeks massa tubuh dengan siklus menstruasi. Oleh karena itu

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini di Maluku, terkhususnya pada

Kecamatan Leihitu Barat.3,16

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara Indeks

Massa Tubuh (IMT) dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia

subur di Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah.

1.3.Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Melihat ada tidaknya hubungan antara indeks massa tubuh dengan siklus

menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah.

1.3.2 Tujuan khusus

1.3.2.1. Melihat prevalensi wanita usia subur yang mengalami gangguan siklus

menstruasi di Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah


6

1.3.2.2. Melihat prevalensi wanita usia subur berdasarkan indeks massa tubuh di

Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah

1.3.2.3. Melihat dan menganalisis ada tidaknya hubungan antara indeks massa

tubuh dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia subur di

Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan nantinya dapat menambah pengetahuan peneliti

mengenai hubungan indeks massa tubuh dengan gangguan siklus menstruasi pada

wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah.

1.4.2. Manfaat Praktis

1.4.2.1. Bagi Mahasiswi FK Universitas Pattimura

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi data awal apabila

nantinya ada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura yang

berminat untuk melakukan penelitian klinis tentang indeks massa tubuh dengan

gangguan siklus menstruasi. Selain itu, mahasiswi dapat mengetahui bahwa

indeks massa tubuh bisa mempengaruhi gangguan siklus menstruasi, dan dapat

melakukan perubahan gaya hidup.

1.4.2.2. Bagi Institusi Pendidikan

Dari hasil penelitian ini, diharapkan institusi dapat mempertimbangkan

untuk membentuk suatu program yang berperan dalam melakukan pemeriksaan


7

secara rutin pada status gizi mahasiswa serta melakukan pengaturan gizi dan pola

hidup yang tepat bagi mahasiswa.

1.4.2.3. Bagi Dinas Kesehatan Provinsi Maluku

Diharapkan hasil penelitian ini sebagai tambahan pengetahuan tentang

hubungan antara indeks massa tubuh dengan siklus menstruasi sehingga petugas

kesehatan dapat memberikan penyuluhan dan pelayanan yang lebih efektif kepada

masyarakat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Siklus Menstruasi

2.1.1.1. Defenisi Menstruasi dan Siklus Menstruasi

Menstruasi meupakan perdarahan periodik dari uterus yang dimulai sekitar

14 hari setelah ovulasi secara berkala yang melibatkan peluruhan sebagian

endomerium uterus. Wanita yang tidak hamil dan sehat mengalami menstruasi

setiap bulan secara teratur dengan mengeluarkan darah dari alat kandungannya,

Pada remaja putri, permulaan menstruasi (menarche) adalah suatu tanda dari

pubertas. Menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun

atau pada masa awal remaja di tengah masa pubertas sebelum memasuki masa

reproduksi disebut dengan istilah menarche. Seorang perempuan yang pertama

kali mendapat haid adalah pertanda bahwa ia siap bereproduksi atau menghasilkan

keturunan.2,6,17,18

Siklus yang kompleks dan berkaitan dengan psikologis panca indra,

korteks serebri, aksis hipotalamus-hipofisis-ovarial, dan endrogen (uterus-

endometrium dan alat seks sekunder) yang berpadu menghasilkan menstruasi.6,19

Pola haid merupakan suatu siklus menstruasi normal, dengan menarche

sebagai titik awal. Usia 10 hingga 16 tahun merupakan usia umumnya datangnya

haid pertama kali. Jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid

8
9

berikutnya merupakan panjang siklus menstruasi. Hari mulainya perdarahan

dinamakan hari pertama siklus.6,19

Interaksi antara hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-

perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal akan

menghasilkan menstruasi. Ovarium mempunyai peran penting dalam proses ini,

karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan

siklik maupun lama siklus menstruasi.6,19

Menstruasi dinilai berdasarkan tiga hal pada pengertian klinik. Pertama,

jarak antara hari pertama haid sampai hari pertama haid berikutnya atau yang

disebut siklus menstruasi. Kedua, yaitu jarak antara hari pertama haid sampai

perdarahan haid berhenti dan biasanya disebut lama haid. Terakhir, jumlah darah

yang keluar selama satu kali haid. Haid dapat dikatakan normal, apabila siklus

haid tidak kurang dari 24 hari, tetapi tidak melebihi 35 hari, dan lama haid yaitu 3

sampai 7 hari, dengan jumlah darah selama haid tidak melebihi 80 ml, ganti

pembalut 2-6 kali per hari.2

Selama masa reproduksi secara umum, siklus haid teratur dan tidak banyak

mengalami perubahan. Semakin bertambah usia, variasi panjang siklus semakin

menyempit, semakin mengecil variasi panjang siklusnya, dan rata-rata panjang

siklus pada usia 40 sampai 42 tahun mempunyai rentang variasi yang paling

sedikit. Sedangkan, pada waktu 8 sampai 10 tahun sebelum menopause,

didapatkan hal kebalikannya, didapatkan variasi panjang siklus haid yang semakin

melebar, akibat dari ovulasi yang makin jarang. Hal tersebut dapat terjadi pada

wanita usia subur, didapatkan beberapa pola siklus menstruasi, yaitu menorrhagia,
10

hypomenorrhea, metrorrhagia, polymenorrhea, oligomenorrhea dan

amenorrhea.2,20

Menorrhagia merupakan perdarahan berat selama menstruasi yang terjadi

pada satu episode dan atau dapat terjadi secara kronik. Hypomenorrhea adalah

menstrual flow yang tidak biasanya, kadang-kadang hanya dapat berupa

“spotting”. Metrorrhagia adalah perdarahan uterus yang tidak teratur diantara

periode menstruasi. Polymenorrhea menggambarkan frekuensi menstruasi yang

berlebihan. Sedangkan, oligomenorrhea adalah frekuensi menstruasi yang

abnormal dengan hanya 3 sampai 6 kali siklus menstruasi per tahunnya. Dan

terakhir, amenorrhea adalah tidak terjadinya haid selama 3 bulan atau lebih pada

wanita yang sebelumnya pernah haid.2,20

2.1.1.2. Regulasi Hormonal pada Siklus Reproduksi Wanita

Hipotalamus mensekresi Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang

berfungsi mengkontrol siklus ovari dan uterus. Pelepasan follicle-stimulating

hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dari pituitari anterior distimulasi

oleh GnRH. FSH menginisiasi pertumbuhan folikel, dimana perkembangan lanjut

folikel distimulasi oleh LH. Kedua hormon FSH dan LH menstimulasi folikel

ovari untuk mensekresi estrogen.3,4,6,21

Sel teka pada folikel yang sedang berkembang menghasilkan androgen

yang distimulasi oleh LH. Di bawah pengaruh FSH, androgen digunakan oleh sel

granulosa pada folikel dan dikonversikan menjadi estrogen. Dipertengahan siklus,


11

terjadi ovulasi yang dipicu oleh LH dan seterusnya menyebabkan adanya

pembentukan korpus luteum. LH menstimulasi korpus luteum untuk mensekresi

estrogen, progesteron, relaksin dan inhibin.3,4,6.21

Estrogen yang disekresi oleh folikel ovari memiliki peran penting yaitu

memicu dan mempertahankan perkembangan struktur reproduktif wanita,

karakteristik seks sekunder dan payudara. Distribusi jaringan adiposa termasuk

dalam karakteristik seks sekunder, yang terdapat pada payudara, abdomen, mons

pubis dan pinggul, kenyaringan suara, pelebaran pinggul dan pertumbuhan rambut

di kepala dan tubuh. 3,4,6.21

Anabolisme protein yang meningkat juga disebabkan oleh estrogen.

Estrogen juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Hal ini dapat

dibuktikan pada wanita yang berusia 50 tahun kurang beresiko mendapat penyakit

arteri koroner dibandingkan dengan laki-laki pada usia tersebut. Pelepasan GnRH

dari hipotalamus dan sekresi LH dan FSH dari pituitari anterior dapat dihambat

pelepasannya oleh kadar estrogen yang moderat. 3,4,6.21

Sel-sel dari korpus luteum terutama mensekresi progesteron. Estrogen dan

progesteron membantu persediaan dan pertahanan endometrium untuk implantasi

ovum. Estrogen dan progesteron juga membantu menghasilkan air susu pada

kelenjar mamae. Kadar progesteron yang tinggi juga akan menginhibisi sekresi

GnRH dan LH. 3,4,6.21

Relaksin dalam jumlah sedikit akan dihasilkan oleh korpus luteum setiap

siklus bulanan. Relaksin yang dihasilkan akan menginhibisi kontraksi

miometrium dan menghasilkan efek relaksasi pada uterus. Inhibin pula disekresi
12

oleh sel granulosa dari folikel yang berkembang selepas ovulasi. Sekresi FSH dan

LH akan dihambat oleh inhibin. 3,4,6.21

2.1.1.3. Fisiologi Siklus Menstruasi

A. Siklus Ovarium

Sejak saat lahir, terdapat banyak folikel primordial di dalam kapsul

ovarium. Tiap-tiap folikel mengandung sebuah ovum imatur. Beberapa folikel

akan membesar dan terbentuk suatu rongga di sekitar ovum (pembentukan

antrum) pada awal setiap daur. Kemudian rongga ini akan terisi oleh cairan

folikel. Biasanya hanya satu folikel saja dari salah satu ovarium mulai tumbuh

cepat pada sekitar hari ke-enam dan berkembang menjadi folikel dominan,

sementara folikel yang lainnya akan mengalami regresi, dan membentuk folikel

atretik. Proses atresia ini merupakan proses apoptosis. Sampai sekarang, belum

diketahui secara pasti bagaimana cara pemilihan satu folikel untuk menjadi folikel

dominan pada fase folikular siklus menstruasi. Namun, diperkirakan bahwa hal ini

tampaknya berkaitan dengan kemampuan folikel menghasilkan estrogen yang

terkandung di dalamnya yang diperlukan untuk proses pematangan akhir. Pada

folikel didapatkan adanya sel teka interna folikel yang merupakan sumber utama

estrogen dalam darah. Namun, cairan folikel juga memiliki kandungan estrogen

yang tinggi, dan banyak dari estrogen ini berasal dari sel granulosa.2,22

Folikel akan membesar dan kemudian pecah pada sekitar hari ke-14 siklus

menstruasi sehingga ovum dapat terlepas ke dalam rongga abdomen. Proses ini
13

merupakan proses ovulasi. Ovum yang terlepas kemudian diambil oleh ujung-

ujung tuba uterina (oviduk) yang berfimbria. Ovum kemudian disalurkan ke

uterus, dan keluar melalui vagina bila tidak terjadi pembuahan.2,22

Folikel yang pecah pada saat ovulasi akan segera terisi oleh darah, dan

kemudian membentuk sesuatu yang kadang dapat disebut sebagai korpus

hemoragikum. Perdarahan ringan dari folikel ke dalam rongga abdomen dapat

menimbulkan iritasi peritoneum dan nyeri abdomen bawah yang berlangsung

singkat atau yang disebut mittelschmerz. Sel granulosa dan sel teka akan melapisi

folikel yang mulai beproliferasi, dan bekuan darah dengan cepat diganti oleh sel

luteal yang kaya lemak dan berwarna kekuningan, membentuk korpus luteum. Hal

ini mencetuskan fase luteal siklus menstruasi, saat sel luteum menyekresikan

estrogen dan progesteron. Pertumbuhan korpus luteum bergantung pada

kemampuannya membentuk vaskularisasi untuk mendapatkan darah, dan terbukti

bahwa VEGF penting untuk proses ini.2,3

Bila terjadi kehamilan, korpus luteum akan bertahan dan apabila tidak

terjadi kehamilan, korpus luteum mulai mengalami proses degenerasi sekitar 4

hari sebelum haid berikutnya dan akhirnya digantikan oleh jaringan ikat, yang

membentuk korpus albikans.22


14

Rata-rata durasi siklus ovarium adalah sekitar 28 hari, dengan kisaran 25

hingga 32 hari. Ovulasi terjadi akibat urutan peristiwa hormonal yang merupakan

pengendali siklus menstuasi. Pada setiap siklus ovulatorik, histologi endometrium

juga mengalami perubahan.22,23

Gambar 2.1. Siklus Menstruasi.


sumber: https://medicineg.wikispaces.com/file/view/Physiology+of+the+Menstrual+Cycle.pdf 20

Selaput lendir rahim pada siklus menstruasi mengalami perubahan dari

hari ke hari terjadi perubahan yang berulang selama satu bulan dan mengalami

empat fase. Fase-fase pada siklus menstruasi terdiri dari stadium menstruasi,

stadium post-menstrual, stadium intermenstruum dan stadium pramenstruum.20,24

Stadium Menstruasi (desquamasi) merupakan fase dimana endometrium

terlepas dari dinding rahim disertai perdarahan pada masa ini, yang tertinggal
15

hanya lapisan tipis yang disebut stratum basale dan berlangsung selama empat

hari. Darah, potongan endometrium dan lendir serviks keluar pada saat

menstruasi. Darah yang keluar ini tidak membeku karena ada biokatalisator yang

mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan mukosa, banyaknya

perdarahan selama haid kira-kira 50 cc. Stadium ini berlangsung 3 sampai 7

hari.22,24

Stadium Post-Menstrual (regenerasi) yaitu fase pelepasan endometrium

menyebabkan luka yang secara berangsur-angsur ditutup kembali oleh selaput

lendir yang baru dari sel epitel kelenjar endometrium. Pada masa ini tebal

endometrium kira-kira 0,5 mm dan berlangsung selama empat hari. Endometrium

menjadi tebal hingga mencapai 3,5 mm. Kelenjar-kelenjar tumbuh menjadi lebih

cepat dari jaringan lain, stadium ini berlangsung sekitar 5-14 hari dari hari

pertama haid, fase ini disebut sebagai stadium intermenstruum (proliferasi).22,24

Stadium terakhir merupakan stadium Pramenstruum (sekresi), dimana

endometrium tetap tebal, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan

berliku-liku dan mengeluarkan getah. Glikogen dan kapur tertimbun di dalam

endometrium dan dipakai sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini untuk

mempersiapkan endometrium menerima telur. Endometrium sudah dapat

dibedakan lapisan atas yang padat (stratum kompaktum) yang hanya dapat

ditembus oleh saluran-saluran keluar dari kelenjar, lapisan stratum spongeosum

yang banyak lubang-lubangnya karena disini terdapat rongga dari kelenjar dan

lapisan bawah disebut stratum basale. Stadium ini berlangsung 14-28 hari, kalau
16

tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepas dengan perdarahan dan

berulang lagi siklus menstruasi.22,24

2.1.1.4. Gangguan Siklus Menstruasi

Sebelum mencapai umur 18 tahun menstruasi terjadi secara tidak teratur

dan setelah umur 18 tahun harus sudah teratur. Menstruasi dengan interval 22

hingga 35 hari dari hari pertama sampai pada permulaan periode menstruasi

dengan pengeluaran darah menstruasi berlangsung 1 sampai 8 hari dianggap

menstruasi normal. Jumlah darah yang hilang selama menstruasi kurang lebih 50

ml dengan rentang 20 ml sampai 80 ml atau 2 sampai 5 kali pergantian

pembalut/hari.6,25

Pada awal dan akhir reproduktif menstruasi umumnya terjadi gangguan

menstruasi, yaitu di bawah usia 19 tahun dan di atas 39 tahun. Gangguan ini

mungkin berkaitan dengan lamanya siklus haid, atau jumlah dan lamanya

menstruasi. Seorang wanita dapat mengalami kedua gangguan itu.8,25,26

Gangguan haid dan siklusnya khususnya dalam masa reproduksi dapat

digolongkan dalam perubahan pada siklus haid dan gangguan jumlah darah

menstruasi dan lamanya perdarahan. Perubahan pada siklus haid meliputi

polimenorea, oligomenorea, dan amenorea. Polimenorea merupakan siklus

menstruasi yang pendek dari biasanya, yaitu kurang dari 21 hari pendarahan.

Gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi dapat menyebabkan

polimenorea dengan memendeknya masa luteal. Kongesti ovarium karena

peradangan, endometritis dan sebagainya dapat menyebabkan polimenorea.


17

Oligomenorea merupakan siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari disebut

oligomenorea. Perdarahan pada oligomenorea biasanya berkurang. Penyebabnya

adalah gangguan hormonal, ansietas dan stress, penyakit kronis, obat-obatan

tertentu, bahaya di tempat kerja dan lingkungan, status penyakit nutrisi yang

buruk, olah raga yang berat, penurunan berat badan yang signifikan. Amenorea

merupakan perubahan umum yang terjadi pada beberapa titik dalam sebagian

besar siklus menstruasi seorang wanita dewasa menyebabkan amenorea. Tidak

adanya menstruasi dapat berkaitan dengan kejadian hidup yang normal seperti

kehamilan, menopause, atau penggunaan metode pengendalian kehamilan.

Beberapa keadaan atau kondisi juga berhubungan dengan amenorea yang

abnormal. Amenorea dibagi menjadi dua, yaitu amenorea primer dan sekunder.

Amenorea primer merupakan suatu keadaan dimana seorang wanita tidak pernah

mendapatkan sampai umur 18 tahun. Amenorea primer mengalami gangguan

terutama pada poros hipotalamus, hipofisis, ovarium, dan tidak terbentuknya alat

genitalia. Amenorea primer dialami oleh 5% wanita amenorea, penyebabnya

mungkin oleh defek genetik seperti disgenesis gonad yang biasanya merupakan

ciri seksual sekunder yang tidak berkembang. Keadaan ini dapat terjadi akibat

kelainan duktus Muller, seperti tidak ada uterus, agenesis vagina, himen

imperforata dan septum vagina transversal. Amenorea sekunder merupakan suatu

keadaan dimana seorang wanita pernah beberapa kali mendapat menstruasi

sampai umur 18 tahun dan diikuti oleh kegagalan menstruasi yang melebihi waktu

3 bulan atau lebih. Penyebab yang paling umum pada amenore sekunder adalah

kehamilan.6,8,27
18

Gangguan jumlah darah menstruasi dan lamanya perdarahan meliputi

hipomenore dan hipermenore atau menoragia. Hipomenore merupakan perdarahan

haid yang lebih pendek dan atau kurang dari biasa dengan discharge menstruasi

sedikit atau ringan merupakan pengertian dari hipomenore. Kesuburan

endometrium yang kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun

gangguan hormonal menyebabkan hipomenore. Adanya hipomenore tidak

mengganggu fertilitas. Hipermenore atau menoragia adalah perdarahan haid yang

lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal, atau lebih dari 8 hari.

Kelainan pada hipermenore terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya

mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan

kontraktilitas yang terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan

endometrium pada waktu haid, dan sebagainya. Pada gangguan pelepasan

endometrium biasanya terdapat juga gangguan dalam pertumbuhan endometrium

yang diikuti dengan pelepasannya pada waktu haid. Menoragia mungkin terjadi

disertai dengan suatu kondisi organik uterus, atau mungkin terjadi tanpa ada

kelainan yang nyata pada uterus. Hal ini disebut perdarahan uterus disfungsional,

dengan kata lain disebabkan oleh perubahan endokrin atau pengaturan

endometrium lokal pada menstruasi. Menstruasi yang berhubungan dengan

adanya gangguan pada siklus dan jumlah darah menstruasi yaitu metroragia. Pada

keadaan metroragia, terdapat gangguan siklus menstruasi dan sering berlangsung

lama, perdarahan terjadi dengan interval yang tidak teratur, dan jumlah darah

menstruasi sangat bervariasi. Pola menstruasi seperti ini disebut metroragia.

Kondisi patologik di dalam uterus atau organ genitalia interna menyebabkan


19

metroragia. Kondisi ini memerlukan investigasi lebih lanjut bagi bagi dengan

melakukan histeroskopi dan biopsy endometrium atau kuretase diagnostic.6,8,27

2.1.2. Indeks Massa Tubuh

2.1.2.1. Defenisi Indeks Massa Tubuh

Cara sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa adalah dengan

mengukur indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI) yang berkaitan

dengan kekurangan dan kelebihan berat badan khususnya. Indeks massa tubuh

merupakan indikator alat ukur paling sering digunakan dan praktis dilakukan

untuk mengukur tingkat populasi berat badan lebih dan obesitas. IMT hanya dapat

diukur pada orang dewasa berumur lebih dari 18 tahun dan tidak dapat diterapkan

pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan.10,28

Pada berat badan yang kurang, risiko terhadap penyakit infeksi akan

meningkat, sedangkan pada berat badan berlebih maka akan terjadi peningkatan

risiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mengetahui berat badan

normal dan mempertahankannya memungkinkan seseorang dapat mencapai usia

harapan hidup yang lebih panjang. 10,28

2.1.2.2. Cara Mengukur Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indeks yang dapat dihitung dengan

membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter

dikuadratkan. Seseorang dikategorikan dalam kelompok berat badan kurang

(underweight) bila memiliki indeks massa tubuh <18,5 kg/m2, berat badan normal
20

(normoweight) 18,5-22,9 kg/m2 dan berat badan berlebih (overweight) >23

kg/m2, yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.28,29

Tabel 2.1. Indeks Massa Tubuh menurut Asia Pasifik

IMT (Kg/M2) Resiko Komorbiditas

BB Kurang <18,5 Rendah

BB Normal 18,5-22,9 Normal

BB Lebih ≥23

Beresiko 23-24,9 Meningkat

Obes I 25-29,9 Moderate

Obes II ≥30 Berat

Sumber: Asia Pacific 200030

Tabel 2.2. Indeks Massa Tubuh menurut WHO

Classification BMI (Kg/M2)

Principal cut-off points Additional cut-off points

Underweight <18,50 <18,50

Severe thinness <16,00 <16,00

Moderate thinnes 16,00-16,99 16,00-16,99

Mild thinness 17,00-18,49 17,00-18,49


21

Normal range 18,50-24,99 18,50-22,9

23,00-24.99

Overweight ≥25,00 ≥25,00

Pre-obese 25,00-29,99 25,00-27,49

27,50-29,99

Obese ≥30,00 ≥30,00

Obese class I 30,00-34,99 30,00-32,49

32,50-34,99

Obese class II 35,00-39,99 35,00-37,49

37,50-39,99

Obese class III ≥40,00 ≥40,00

Sumber: World Health Organization 200431

Penggunaan indeks massa tubuh hanya berlaku untuk orang dewasa yang

berusia 18 tahun ke atas. Indeks massa tubuh tidak diterapkan pada bayi, anak,

remaja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu indeks massa tubuh tidak dapat

diterapkan dalam keadaan khusus lainnya, seperti edema, asites, hepatomegali.28

Meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi pada negara akan membawa dampak

perubahan pola diet dan tingkah laku. Perubahan ini misalnya konsumsi makanan

tinggi lemak, tinggi energi dan cara hidup santai atau aktivitas kurang sehingga

akan meningkatkan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas.28


22

2.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi pada wanita usia reproduktif menjadi ireguler

disebabkan oleh beberapa faktor termasuk kehamilan, penyakit endokrin dan juga

kondisi medik. Semua faktor ini berhubungan dengan pengaturan fungsi endokrin

hipotalamik-pituitari.2,6,8,27

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan penyebab yang paling

sering menyebabkan perpanjangan interval antara dua siklus menstruasi terutama

pada pasien dengan gejala peningkatan endrogen. 2,6,8,27

Faktor-faktor lain juga turut mempengaruhi siklus menstruasi. Faktor-

faktor tersebut adalah gangguan pada sentral Gonadotropin-releasing Hormone

(GnRH), penurunan berat badan yang nyata, aktivitas yang berlebihan, perubahan

pada waktu tidur, dan tingkat stress yang berlebihan. 2,6,8,27

Penyakit kronik seperti Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol, kondisi

genetik atau kongenital seperti Turner Syndrome dan disgenesis gonadal dapat

menyebabkan gangguan siklus menstruasi.2,3,6,8,27

Perubahan siklus menstruasi berhubungan dengan ketidakseimbangan

fisik atau hormonal diungkapkan pada beberapa penelitian. Berat badan yang

rendah bisa menyebabkan interval antara dua siklus menstruasi menjadi lebih

lama. Berat badan yang berlebihan pula bisa menyebabkan perdarahan abnormal.

Perubahan yang tiba-tiba pada aktivitas atau berat badan juga bisa menyebabkan

perubahan pada siklus menstruasi yang sementara. Gangguan emosi atau stress

dan keadaan fisik yang tidak sehat secara optimal juga merupakan penyebab
23

tersering iregularitas siklus menstruasi walaupun perubahan siklus menstruasi

yang dialami tidak hanya pada saat wanita mengalami stres. 2,6,8,27

Perubahan pada interaksi dan transmisi hormon pada tubuh dapat

dipengaruhi oleh obat-obatan dan pengobatan alternatif seperti obat herbal

sehingga dapat mengganggu siklus menstruasi. Beberapa penelitian yang telah

dilakukan mengungkapkan bahwa stres sangat berperan dalam regulasi hormonal,

dimana akan turut berpengaruh pada menstruasi. 2,6,8,27

2.1.3.1. Stres

Untuk kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktor yang

berhubungan antara sistem saraf pusat dengan pancaindra, sistem hormonal,

perubahan pada ovarium dan uterus, serta rangsangan estrogen dan progesterone

yang berakibat pada system perubahan emosi, sedangkan kecemasan sebagai

rangsangan melalui system saraf diteruskan ke susunan saraf pusat yaitu bagian

otak yang disebut limbic system melalui tranmisi saraf. Selanjutnya melalui saraf

autonom (simpatis atau parasimpatis) akan diteruskan ke kelenjar-kelenjar

hormonal hingga mengeluarkan sekret neurohormonal menuju hiphofisis melalui

system prontal guna mengeluarkan gonadotropin dalam bentuk FSH (Follikel

Stimulazing Hormone) dan LH (Leutinizing Hormone) untuk selanjutnya

mempengaruhi terjadinya proses menstruasi atau haid. Adanya gangguan

kejiwaan berupa kecemasan, syok emosional dapat menimbulkan perubahan

siklus menstruasi atau haid. Stres atau kecemasan bisa mengacaukan siklus haid
24

perempuan karena pusat stres di otak sangat dekat lokasinya dengan pusat

pengaturan haid di otak. Semakin dewasa umur wanita semakin besar pengaruh

rangsangan emosi terhadap hipotalamus.10,14

Pada wanita dengan fase luteal siklus menstruasi (moderate estradiol dan

kadar progesteron yang tinggi), spada fase follicular (rendah estradiol dan

progesteron) dan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral (rendahnya

estradiol dan progesteron) yang dihasilkan oleh ovarium secara signifikan sedikit

menstimulasi kortisol salivary yang berespon terhadap stres sosial. 12,26

Banyak penelitan menunjukkan bahwa kontrasepsi hormonal juga

melemahkan salivary cortisol yang berespons pada stres berpengaruh terhadap

siklus menstruasi. Ditemukan bahwa tingginya progesteron selama fase menstrual

akan mengarah kepada kadar kortisol bebas yang tinggi pada respons terhadap

stres. 12,26

Beberapa penelitian, didapatkan progesteron lebih tinggi selama fase

tertentu siklus menstruasi sehingga kadar kortisol bebas meningkat dalam respon

terhadap stres. Pengaruh stres terhadap output yang dihasilkan adrenal pada

manusia telah menunjukkan bahwa kelenjar adrenal tidak hanya menghasilkan

kortisol, tetapi juga progesteron. 12,26

Sekresi progesteron pada stres penting untuk penelitian tentang siklus

menstruasi akibat respon stres. Jika wanita juga melepaskan progesteron oleh

adrenal dalam respon terhadap stres, maka pelepasan progesteron dalam

menanggapi stres dapat berkontribusi pada pola bioavailabilitas lebih besar

kortisol dalam menanggapi stres selama fase progesteron yang tinggi dari siklus
25

menstruasi. Meskipun kemungkinan ini, sedikit penelitian telah melakukan

pengujian terhadap hubungan antara estradiol (E2), progesteron, dan respon

kortisol terhadap stres pada siklus wanita muda secara alami.12,26

2.1.3.2. Status Gizi

Keadaan kesehatan tubuh seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi,

penyerapan, dan penggunaan zat gizi makanan merupakan status gizi. Status gizi

ini akan menunjukkan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat

keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran berdasarkan yang

dikonsumsi.17,26

Penilaian status gizi untuk dewasa yang lazim digunakan adalah metode

antropometri karena relatif sederhana, mudah dan praktis untuk dilakukan.

Metode antropometri dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan

kemudian menginterpretasikan status gizi dalam bentuk indeks massa tubuh, yang

didapat dari berat badan dan tinggi badan.17,26

Siklus menstruasi sangat dipengaruhi oleh status gizi. Setidaknya

diperlukan 22% lemak dan indeks massa tubuh yang lebih besar dari 19kg/m2

agar siklus ovulatorik dapat terpelihara dengan normal. Pada gangguan siklus

menstruasi, nutrisi yang berperan adalah vitamin B6, vitamin B12, magnesium,

vitamin A, vitamin C, besi, asam folat, dan asam lemak essential.17,20

Pertumbuhan cepat memasuki usia pubertas, kebiasaan jajan, menstruasi

dan perhatian terhadap penampilan fisik “body image” pada remaja putri
26

merupakan kondisi penting yang berpengaruh terhadap kebutuhan zat gizi

kelompok ini. Dengan demikian perhitungan terhdapa kebutuhan zat gizi pada

kelompok ini harus memperhatikan kondisi-kondisi tersebut. Terlebih khusus

ditekankan terhadap remaja putri sebelum mereka menikah.21,28

Dianjurkan untuk makan secara teratur 3 kali sehari, dimulai dengan

sarapan, makan siang dan makan malam, guna memenuhi kebutuhan zat gizi

selama 24 jam. Bagi remaja, sarapan setiap hari penting karena mereka sedang

tumbuh dan mengalami perkembangan otak yang sangat tergantung pada asupan

makanan secara teratur.21,28

Kebutuhan tubuh dalam 24 jam terhadap energi, protein, vitamin, mineral

dan juga serat disediakan dari makanan yang dikonsumsi. Dalam sistem

pencernaan manusia, makanan yang dibutuhkan tidak bisa sekaligus disediakan

tetapi dibagi dalam 3 tahap, yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam.21,28

Siklus menstruasi sangat bergantung pada mekanisme hormonal,

termasuk hormon estrogen yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

mekanisme feedback. Selain dihasikan di ovarium di bawah kontrol hipotalamus,

estrogen juga dapat dihasilkan dari jaringan lemak. Dengan demikian, produksi

estrogen juga bergantung pada berat badan dan komposisi lemak tubuh seorang

wanita.17

Gangguan siklus menstruasi juga dapat disebabkan oleh kelebihan berat

badan atau obesitas melalui jaringan adiposa yang secara aktif mempengaruhi

rasio hormon androgen dan estrogen. Pada wanita dengan obesitas terjadi

peningkatan produksi estrogen yang apabila terjadi secara terus-menerus secara


27

tidak langsung akan menyebabkan peningkatan hormon androgen yang dapat

mengganggu perkembangan folikel sehingga tidak dapat menghasilkan folikel

yang matang. Selain itu, pada wanita yang mengalami penurunan berat badan

maka sekresi LH akan terganggu dan juga menyebabkan gangguan siklus

menstruasi dengan pemendekan fase luteal.17,26

2.1.3.3. Pola Hidup

Olahraga secara teratur sangat penting pada wanita semua usia. Olahraga

secara signifikan akan menurunkan resiko pada banyak penyakit dan beberapa

kondisi termasuk penyakit jantung dan kanker. Olahraga secara teratur juga dapat

menurunkan keparahan gejala klinis pada premenstrual syndrome (PMS), atau

menstrual cramps. Banyak keuntungan dari olahraga selama periode menstruasi

karena olahraga dapat membantu menurunkan rasa nyeri dengan melepaskan

endorphins (natural painkillers), meningkatkan aliran darah dan merelaksasikan

otot abdomen bawah dan belakang. Selain itu, dapat mendukung dan

menstabilkan emosi, menurunkan kegelisahan, rasa marah dan depresi.32

Namun, pada penelitian lain didapatkan bahwa olahraga yang teratur

dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Terjadinya gangguan pada aksis

hypothalamus-hipofisis-ovarium akibat olahraga yang teratur yang menyebabkan

penekanan sekresi pulsatil GnRH dari hypothalamus. Penekanan pulsatil GnRH

ini juga diyakini akibat penggunaan energi yang berlebihan yang melebihi

pemasukan energi pada orang-orang yang berolahraga secara teratur. Akhirnya,


28

sekresi LH dan FSH akan berkurang dan membatasi stimulasi ke ovarium dan

produksi estradiol dan mengakibatkan pemanjangan siklus folikuler dan hilangnya

LH peak pada fase ovulasi.17

Olahraga yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada siklus

menstruasi. Gangguan yang terjadi dapat berupa gangguan ketidakteraturan siklus

menstruasi hingga amenorea, osteoporosis, perdarahan abnormal, dan infertilitas.

Sifat dan tingkat keparahan gejala tergantung pada beberapa hal, seperti jenis

olahraga, intensitas dan durasi olahraga.17,32

2.1.4. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi

Penelitian yang dilakukan oleh Taesiratur Rizkiah dapat diketahui bahwa

siswi yang mengalami status gizi underweight sebagian besar mengalami

ketidakteraturan menstruasi, yaitu sebanyak 7 siswi (12,7 %). Sebanyak 37 siswa

(67,3%) dari 41 siswi dengan status gizi normal mengalami menstruasi yang

teratur. Sedangkan dari 2 siswi yang mengalami obesitas, semuanya mengalami

ketidakteraturan menstruasi. Setelah dilakukan pengolahan data dengan uji chi

square didapatkan p = 0,000 < 0,05. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan

yang bermakna antara status gizi dengan keteraturan menstruasi pada siswi SMK

Negeri 1 Bantul Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Felicia (2015) dan

Ayudhia Prastiwi (2011) juga menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi

remaja dengan keteraturan menstruasi.19 Salah satu hormon yang berperan dalam

proses menstruasi adalah estrogen. Estrogen ini disintesis di ovarium, di adrenal,


29

plasenta, testis, jaringan lemak dan susunan saraf pusat. Menurut analisis

penyebab lebih panjangnya siklus mentruasi diakibatkan jumlah estrogen yang

meningkat dalam darah akibat meningkatnya jumlah lemak tubuh. Kadar estrogen

yang tinggi akan memberikan feed back negatif terhadap sekresi GnRh.3,6 Hasil

penelitian juga menunjukkan bahwa siswi yang mengalami overweight dan

obesitas cenderung untuk mengalami ketidakteraturan menstruasi. Pada penelitian

yang dilakukan oleh Caroline (2001), menyatakan bahwa ketidakteraturan siklus

menstruasi dapat disebabkan oleh obesitas karena kolesterol yang terdapat pada

lemak tubuh berlebihan dari remaja wanita dengan kelebihan berat badan

merupakan prekursor estrogen sehingga produksi estrogen cenderung berlebihan.

Remaja wanita dengan kelebihan berat badan dan mengalami gangguan

metabolisme estrogen akan menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Pola makan yang seimbang merupakan anjuran mendasar yang hakiki bagi semua

orang. Asupan gizi dan kandungan gizi yang dibutuhan terdapat dalam menu

seimbang, yang mana terdapat penjabaran makanan sesuai. Makanan seimbang

yang dimaksud haruslah makanan yang memiliki kandungan zat gizi karbohidrat,

protein, vitamin, mineral, dan lemak. Pola makan yang teratur dan baik harus di

perhatikan selain pemilihan kandungan nutrisi dan asupannya sehingga akan

memberikan banyak keuntungan pada tubuh ketika haid maupun tidak haid. Hasil

penelitian menunjukkan tingkat keeratan sedang yaitu 0,576 karena terdapat siswi

yang mempunyai status gizi normal tetapi mengalami ketidakteraturan menstruasi.

Hal ini dimungkinkan ada faktor lain selain nutrisi yang mempengaruhi siklus

menstruasi. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi antara
30

lain penyakit yang menyebabkan perubahan hormon seperti diabetes mellitus

(DM) yang tidak terkontrol, polycystic ovary syndrome (PCOS), kelainan

kelenjar tiroid, stress, konsumsi obat tertentu seperti kontrasepsi hormonal dan

obat yang dapat meningkatkan kadar hormone prolaktin, merokok serta aktifitas

fisik yang berlebihan. Pada hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa apabila remaja

memiliki status gizi yang baik dengan stabilitas emosi yang baik disertai gaya

hidup dan pola makan yang baik bisa membuat kerja hipotalamus menjadi baik

sehingga bisa memproduksi hormon-hormon yang dibutuhkan tubuh terutama

hormon reproduksi, sehingga siklus menstruasi bisa menjadi teratur.5,11,14,33

2.2. Kerangka Teori

Gambar 2.2. Kerangka teori


31

2.3. Hipotesis

Ha : Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan siklus

menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat

Maluku Tengah

H0 : Tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan siklus

menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat

Maluku Tengah
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan

cross sectional merupakan penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya hanya

satu kali dengan pengukuran sesaat atau dalam satu waktu.34

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan:

a. Tempat : Desa Hatu dan Desa Allang, Kecamatan Leihitu Barat,

Maluku Tengah

b. Waktu penelitian : Mei – Juli 2017

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1. Populasi Penelitian

a. Populasi Target

Subjek dengan karakteristik klinis dan demografis yang sesuai dengan kriteria

penelitian. Peneliti mengambil populasi target dalam penelitian ini adalah wanita usia

subur di Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah.

32
33

b. Populasi Terjangkau

Subjek yang selain dibatasi oleh karakteristik klinis dan demografis, juga

dibatasi oleh tempat dan waktu. Populasi terjangkau dalam penelitian ini yaitu wanita

usia subur yang berusia 18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu Barat Maluku

Tengah.

3.2.2. Jumlah Subjek

Peneliti menggunakan consecutive sampling, peneliti dalam memilih sampel

dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota populasi untuk

ditetapkan sebagai anggota sampel. Subjek yang diambil sebagai sampel adalah

wanita usia subur berusia yang 18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu Barat

Maluku Tengah dan telah bersedia untuk diambil datanya.

Rumus yang digunakan sebagai berikut:

( )
( ) +3

Keterangan:
Zα = Deviat baku alfa = 1,64
Zβ = Deviat baku beta = 1,28
R = Korelasi minimal yang dianggap bermakna adalah 0,313 17
34

( )

( )

( )

( )

( )

Untuk mengantisipasi responden yang drop out atau tidak berminat mengikuti

penelitian, maka dilakukan koreksi besar sampel sebesar 10% yaitu 10 orang. Dengan

demikian, besar sampel minimal penelitian ini adalah 92 orang.

Jumlah populasi pada Desa Hatu Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah

yang berusia 18 tahun sampai 24 tahun pada periode Februari 2017 berjumlah 221

orang dan pada Desa Allang Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah yang berusia

18 tahun sampai 24 tahun pada periode Februari 2017 berjumlah 302 orang. Besar

sampel yang diperlukan adalah sebesar 92 orang sehingga sampel dapat mewakili

populasi pada Kecamatan Leihitu Barat Maluku Tengah di Desa Hatu dan Desa

Allang.
35

3.4. Kriteria Subjek Penelitian

3.4.1. Kriteria Inklusi

a. Wanita Usia Subur berusia 18-24 tahun

b. Belum pernah menikah

c. Tidak menggunakan alat kontrasepsi

d. Telah bersedia menjadi responden dalam penelitian ini

3.4.2. Kriteria Eksklusi

a. Tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini

b. Memberikan data yang tidak lengkap

c. Tidak mengetahui panjang siklus menstruasinya sendiri

d. Sedang menggunakan alat kontrasepsi

e. Sedang menderita penyakit yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi

f. Baru saja mengalami trauma yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi

3.5. Variabel Penelitian

3.5.1. Variabel Independen

Variabel independen (variabel bebas) merupakan variabel yang akan

mengakibatkan perubahan pada variabel lain.34 Variabel independen dalam penelitian

ini adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) yang terdiri dari tinggi badan dan berat badan
36

pada wanita usia subur berusia 18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu Barat

Maluku Tengah.

3.5.2. Variabel Dependen

Variabel dependen (variabel tergantung) adalah variabel yang akan berubah

akibat perubahan dari varsiabel bebas.34 Variabel dependen dalam penelitian ini

adalah Ketidakteraturan Siklus Menstruasi.

3.6.Kerangka konsep

TINGGI BADAN
KETIDAKTERATURAN
BERAT BADAN SIKLUS MENSTRUASI

Keterangan:

: Variabel Dependen

: Variabel Independen

Gambar 3.1. Kerangka Konsep


37

3.7.Defenisi Operasional

Tabel. 3.1. Defenisi Operasional

No Jenis Nama Defenisi Operasional Indikator Kategori Skala

Variabel Variabel Ukur

1 Indeks Indeks massa tubuh Timbangan 1. <18,5 = Rasio


kurus
Massa adalah tinggi badan berat badan dan 2. 18,5-22,9 =
Normal
Tubuh dibagi berat badan yang microtoise 3. ≥23 =
Berat
(IMT) akan dilakukan badan lebih
4. 23-24,9 =
Variabel
pengukuran dengan Beresiko
independen
5. 25-29,9 =
menggunakan Obes
6. ≥30 = Obes
timbangan berat badan II

dan microtoise oleh

peneliti sendiri.29

2 Variabel Ketidaktera- Ketidakteraturan siklus Terdapat 16 1. Teratur = Ordinal


21-35 hari
dependen turan Siklus menstruasi merupakan pertanyaan yang 2. Tidak
Teratur =
Menstruasi gangguan siklus berkaitan <21 hari
dan >35
menstruasi dengan jarak dengan siklus hari

antara hari pertama haid menstruasi.

terakhir dengan hari Hanya 2

pertama haid berikutnya pertanyaan yang

terganggu, yang diukur dipakai sebagai

dengan menggunakan tolak ukur

kuesioner nomor. 01 ketidaktera-

yang ditanyakan turan siklus

langsung oleh peneliti menstruasi

kepada responden.17
38

3.8.Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, instrumen penelitian yang digunakan adalah timbangan berat

badan, microtoise dan kuesioner terstruktur yang akan ditanyakan kepada responden

oleh peneliti sendiri secara langsung pada saat penelitian.

3.9.Teknik Pengambilan Data

Pengambilan data pada penelitian ini adalah data primer, dengan penelitian

menanyakan secara langsung kuesioner kepada responden yang sebelumnya telah

menandatangani lembar Informed Consent. Apabila ada subjek yang tidak

memberikan data secara lengkap pada saat penelitian, maka subjek tersebut akan di

ekslusi oleh peneliti. Setelah data selesai dikumpulkan, kemudian akan dilakukan

pengolahan data dengan menggunakan piranti lunak SPSS.


39

3.10. Pengolahan data

3.10.1. Pengolahan data

Data yang telah terkumpul akan diproses le\bih lanjut lagi sebagai berikut:

3.10.1.1. Editing

Pada bagian ini, data yang telah terkumpul akan dilihat kembali, apakah

kuesioner telah diisi dengan lengkap dan sudah sesuai dengan kriteria inklusi pada

penelitian.

3.10.1.2. Coding

Pada bagian coding, kuesioner yang telah dikumpulkan dan memenuhi kriteria

inklusi akan diberikan kode, sehingga memudahkan peneliti dalam mengolah data

tersebut.

3.10.1.3. Memasukkan data (data entry)

Pada tahap ini, dilakukan pemasukan kode yang merupakan jawaban dari

masing-masing responden ke dalam piranti lunak SPSS.

3.11. Analisis Data

Data yang sudah terkumpul kemudian akan dianalisis dengan menggunakan

program komputer Ms. Excel dan Statistical Package for the Social Science dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk Crosstable untuk melakukan analisis


40

univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk melihat persentase dan

memperoleh gambaran dari tiap-tiap variabel yang dinyatakan dalam bentuk persen

maupun angka-angka pasti seperti:

a. Untuk melihat distribusi frekuensi ketidakteraturan siklus menstruasi pada

wanita usia subur yang berusia 18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu

Barat

b. Untuk melihat distribusi frekuensi indeks massa tubuh pada wanita usia subur

berusia 18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu Barat

Perhitungan ini dilakukan agar mempemudah peneliti dalam menganalisis data

yang berkaitan dengan ketidakteraturan siklus menstruasi peneliti akan menggunakan

tabel 2x2 dalam analisis univariat. Jika tabel yang digunakan adalah tabel 2x2 dan

nilai expected <5 tidak lebih dari 20% dari total sel, dan tidak ada nilai expected <1,

maka akan dilakukan uji alternatif yaitu uji hipotesis Fisher Exact Test.

Analisis bivariat untuk melihat hubungan antara variabel independen dan

variabel dependen dengan menggunakan uji Chi-Square. Jika syarat tidak terpenuhi,

maka akan dilakukan uji alternatifnya yaitu penggabungan sel, setelah dilakukan

penggabungan sel, maka akan terbentuk suatu tabel BxK yang baru. Uji hipotesis

akan dilakukan sesuai dengan tabel BxK yang baru tersebut. Data yang telah

dianalisis kemudian akan disajikan dalam bentuk tabel.


41

3.12. Alur Penelitian

Berikut ini (Gambar 3.2) adalah alur jalannya penelitian yang akan

dilaksanakan.

Gambar 3.2. Alur penelitian


42

3.13. Jadwal Pelaksanaan Penelitian dan Penyusunan Skripsi

Tabel 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian dan Penyusunan Skripsi

2016 2017
KEGIATAN
9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Penyusunan proposal

Seminar proposal

Perbaikan proposal

Pengambilan data

Entry data

Analisis data

Penyusunan skripsi

Ujian Skripsi

3.14. Etika Penelitian

a. Informed Consent

Penelitian ini menggunakan kuesioner, dimana peneliti secara langsung

menanyakan pertanyaan yang terdapat pada kuesioner kepada reponden.

Namun, sebelum peneliti mengambil data dari responden, maka peneliti akan

memberitahukan tujuan dan maksud peneliti serta meminta persetujuan

responden untuk memberikan data dan penggunaan data oleh peneliti nantinya

dalam penelitian ini.


43

b. Anonimity (tanpa nama)

Dalam penelitian ini tidak mencantumkan nama lengkap pada lembar

kuesioner, penelitian ini hanya akan menggunakan nomor responden.

c. Kerahasiaan

Setiap informasi yang diberikan oleh responden dalam kuesioner ini

akan dirahasiakan. Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang telah

dikumpulkan, namun hanya data yang terkait variabel penelitian saja yang

akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

3.15. Penelitian Sebelumnya

Sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Binu Thapal dan Tripti Shrestha di

Nepal, dengan melihat hubungan antara indeks massa tubuh dan ketidakteraturan

menstruasi pada dewasa muda, hasilnya berhubungan erat. Penelitian tersebut juga

telah dilakukan di Indonesia pada tahun 2015 oleh Tri Suwarni, yang meneliti faktor

determinan yang mempengaruhi siklus menstruasi di Sukoharjo, salah satu hasil

penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara indeks massa tubuh

dengan siklus menstruasi. Selain Tri Suwarni, Sri Hazanah, Rahmawati Shoufiah dan

Nurlaila melakukan penelitian di Borneo dengan judul “Relation Between Stress And

Menstrual Cycle At 18-21 Years Of Age” dan juga mendapatkan hasil yang positif

terhadap hubungan kedua hal tersebut.5,9,15,35


Tabel 3.3. Matriks Elaborasi.

Peneliti Judul Tempat Kelebihan Desain Populasi Hasil


(tahun) Atau Kekurangan Penelitian

Binu Thapal, Relationship Dhulikhel Kelebihan : Quantitative descriptive 253 remaja dengan teknik stratified Positif
Tripti between Body municipality,Nepal Jumlah sampel yang diambil cukup correlational study proportio-
Shrestha Mass Index and banyak dan dari tiga populasi berbeda. nate random sampling
(2014) Menstrual
Irregularities Kekurangan:
among the Pemilihan metode penelitian yang
Adolescents kurang tepat, sebaiknya digunakan
metode penelitian analitik.
Tri Suwarni Faktor Determinan Prodi DIII Kelebihan: Observasi analitik dengan Simple random sampling Positif
(2015) yang Mempenga- Kebidanan Metode penelitian yang digunakan metode pendekatan cross
ruhi Siklus Poltekkes Bhakti adalah observasi analitik. sectional
Menstruasi Mulia, Sukoharjo
Kekurangan:
Jumlah sampel yang digunakan masih
sangat sedikit.
Sri Relation Between Department of Kelebihan: analytic descriptive stratified random sampling pada positif
Hazanah, Stress And Obstetrics Health dengan cross sectional remaja usia 18-21 tahun
Jumlah sampel yang digunakan dalam
Rahmawati Menstrual Cycle Polytechnic East
penelitian cukup banyak
Shoufiah, At 18-21 Years Of Borneo
Nurlaila Age

Kekurangan: -
Kesimpulan Kesenjangan 1. Metode penelitian yang kurang tepat
2. Jumlah sampel yang digunakan untuk penelitian tidak mewakili populasi.

44
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Desa Hatu dan Desa Allang. Desa Hatu dan Desa

Allang termasuk dalam wilayah Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku

Tengah, secara administratif. Desa Hatu dan Desa Allang merupakan Desa yang

terletak di wilayah pesisir pantai Pulau Ambon. Wilayah Desa Hatu dibagi menjadi 6

sektor, yaitu Sektor Efrata, Sektor Tiberias, Sektor Zaitun, Sektor Sion, Sektor Elim

dan Sektor Yarden. Sedangkan, wilayah Desa Allang dibagi menjadi 8 soa, yaitu Soa

Palya, Soa Kolya, Soa Tapela, Soa Acamami, Soa Baru, Soa Wara, Soa Kampung

Baru.

Jumlah penduduk di Kecamatan Leihitu Barat berdasarkan data Badan Pusat

Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tengah Tahun 2014 adalah sebanyak 16.982 jiwa,

dengan komposisi jenis kelamin terdiri dari laki-laki sebanyak 8.561 jiwa dan

perempuan sebanyak 8.421jiwa. Jumlah penduduk Desa Hatu sebanyak 4.685 jiwa

dengan komposisi jenis kelamin terdiri dari laki-laki sebanyak 2.397 jiwa dan

perempuan sebanyak 2.288 jiwa. Desa Hatu memiliki jumlah perempuan yang

berusia 18 sampai 24 tahun adalah sebanyak 221 jiwa. Sedangkan, jumlah penduduk

di Desa Allang adalah sebanyak 4.458 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 2.86

jiwa dan perempuan sebanyak 2.272 jiwa. Desa Allang memiliki jumlah perempuan

45
46

yang berusia 18 sampai 24 tahun adalah sebanyak 302 jiwa. Dengan demikian jumlah

penduduk Desa Hatu lebih banyak daripada Desa Allang, namun jumlah penduduk

perempuan yang berusia 18-24 tahun di Desa Allang lebih banyak daripada Desa

Hatu. Desa Hatu dan Desa Allang merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk

wanita berusia 18 sampai 24 tahun terbanyak di Kecamatan Leihitu Barat. Pada Desa

Liliboi hanya terdapat 98 jiwa wanita yang berusia 18 sampai 24 tahun, sedangkan

pada desa Larike terdapat 102 jiwa wanita yang berusia 18 sampai 24 tahun dan Desa

Wakasihu sebanyak 110 jiwa. Sehingga jumlah wanita yang berusia 18 sampai 24 di

Kecamatan Leihitu Barat sebanyak 833 jiwa.

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Hatu dan Allang adalah

petani. Penduduk Desa Hatu yang bekerja sebagai petani yaitu 545 orang dan diikuti

oleh karyawan swasta, pegawai negeri sipil (PNS), nelayan dan pensiun. Pada

penduduk Desa Allang yang bekerja sebagai petani adalah sebanyak 852 orang,

diikuti oleh tukang kayu, nelayan, pegawai negeri sipil (PNS), tukang batu,

wiraswasta, wira usaha, anyaman, penjahit, pensiun, pandai besi dan ukiran.

Pelayanan kesehatan di Desa Hatu ditunjang oleh petugas kesehatan yakni 10

orang bidan dan 3 orang perawat, serta hanya tersedia satu fasilitas kesehatan berupa

puskesmas pembantu yang melayani seluruh penduduk negeri Hatu. Apabila terjadi

keadaan darurat yang membutuhkan pertolongan dokter, maka pasien Desa Hatu akan

dikirim ke puskesmas non-rawat inap Allang. Desa Allang memiliki tenaga kesehatan

yang cukup memadai serta ditunjang dengan satu buah puskesmas rawat inap yang

masih terawat.
47

4.1.2. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini didapatkan dengan wawancara dan pengukuran tinggi

badan dan berat badan oleh peneliti. Dengan menggunakan teknik consecutive

sampling, didapatkan jumlah keseluruhan responden yang diteliti sebanyak 100

responden, dengan masing-masing desa 50 sampel, dari 523 penduduk perempuan

berusia 18 sampai 24 tahun yang berdomisili di Desa Hatu dan Desa Allang. Jumlah

keseluruhan responden dapat mewakili populasi Kecamatan Leihitu barat dengan

persentase 10-20% dari 833 penduduk perempuan yang berusia 18 sampai 24 tahun di

Kecamatan Leihitu Barat.

4.1.2.1. Analisis Univariat

a. Usia

Tabel 4.1. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jumlah
N %
18 tahun 54 54,0
19 tahun 8 8,0
20 tahun 9 9,0
21 tahun 10 10,0
22 tahun 8 8,0
23 tahun 2 2,0
24 tahun 9 9,0
Total 100 100,0
48

Dari hasil penelitian diketahui bahwa distribusi responden berdasarkan usia

dengan presentasi tertinggi terdapat pada kelompok usia18 tahun, yaitu sebanyak 54

responden (54,0%) dan presentase terendah terdapat pada kelompok usia 23 tahun

yaitu sebanyak 2 responden (2,0%). Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 4.1.

b. Indeks Massa Tubuh

Tabel 4.2. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh Frekuensi (N) Persen (%)


(Kg/M2)
Berat Badan Kurang (<18,5 38 38%
Kg/M2)
Berat Badan Normal (18,5- 41 41%
22,9 Kg/M2)
Berat Badan Lebih (≥23 21 21%
Kg/M2)
Total 100 100,0

Tabel 4.3. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Berat Badan Lebih

Indeks Massa Tubuh Berat Frekuensi (N) Persen (%)

Badan Lebih (Kg/M2)

Beresiko (23-24,9 Kg/M2) 12 57%

Obesitas I (25-29,9 Kg/M2) 7 33%

Obesitas II (≥30 Kg/M 2) 2 10%

Total 21 100%
49

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 100 responden perempuan

berusia 18-24 tahun didapatkan jumlah reponden dominan adalah responden indeks

massa tubuh (IMT) normal sebanyak 41 orang (41%), diikuti oleh responden indeks

massa tubuh (IMT) berat badan kurang sebanyak 38 orang (38%), dan indeks massa

tubuh (IMT) berat badan lebih sebanyak 21 orang (21%). Responden berat badan

lebih terbagi atas 3, yaitu 12 orang (12%) beresiko, 7 orang (7%) obesitas I dan 2

orang (2%) obesitas II.

c. Siklus Menstruasi

Tabel 4.4. Distribusi Responden Penelitian Berdasarkan Siklus Menstruasi

Siklus Menstruasi Frekuensi (N) Persen (%)

Tidak Teratur 54 54%

Teratur 46 46%

Total 100 100%

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa distribusi responden

berdasarkan siklus menstruasi dengan presentase tertinggi adalah responden yang

memiliki siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 54 responden (54,0%) dan sisanya
50

sebanyak 46 responden (46,0%) memiliki siklus menstruasi teratur. Data jumlah

responden dapat dilihat pada Tabel 4.4.

4.1.2.2. Hasil Analisis Bivariat

Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Ketidakteraturan Siklus Menstruasi

Tabel 4.5. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Siklus Menstruasi


Siklus Menstruasi Total Nilai p

Teratur Tidak
Teratur
IMT Berat Badan Count 41 0 41
Normal % within 100.0% 0.0% 100.0%
IMT
Berat Badan Count 2 19 21 0,000
Lebih % within 9.5% 90.5% 100.0%
IMT
Berat Badan Count 3 35 38
Kurang % within 7.9% 92.1% 100.0%
IMT
Total Count 46 54 100
% within 46.0% 54.0% 100.0%
IMT

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara

indeks massa tubuh dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia subur

18 sampai 24 tahun di Kecamatan Leihitu Barat. Uji yang dilakukan dalam analisis

bivariat ini adalah dengan metode analisis uji Chi-Square dan selanjutnya disajikan
51

dalam bentuk tabel untuk melihat hubungan variabel yang diteliti dengan

ketidakteraturan siklus menstruasi di Kecamatan Leihitu Barat.

Dari data yang diperoleh kemudian akan dilakukan pengujian hipotesis

dengan melalui hipotesis statistik sebagai berikut:

H0 : Tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan

ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia subur di

kecamatan Leihitu Barat

Ha : Ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan

ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia subur di

kecamatan Leihitu Barat

Dasar pengambilan keputusan hipotesis dapat dilihat pada nilai probabilitas

(p) dengan ketentuan sebagai berikut:

- Jika nilai p < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima

- Jika nilai p >0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak

Sebelumnya juga disajikan angka kejadian ketidakteraturan siklus menstruasi

berdasarkan usia dan indeks massa tubuh responden kemudian selanjutnya disajikan

hasil tabulasi silang dari data distribusi dan karakteristik responden yang mengalami

ketidakteraturan siklus menstruasi.


52

Dari hasil penelitian diketahui 59 responden (59,0%) yang mempunyai indeks

massa tubuh tidak normal, dengan 54 responden (54,0%) lebih banyak mengalami

siklus menstruasi tidak teratur dibandingkan 5 responden (5,0%) yang mengalami

siklus menstruasi teratur. Hasil tersebut berbanding terbalik pada responden yang

mempunyai indeks massa tubuh normal sebanyak 41 responden (41,0%) dengan 41

repsponden (41,0%) mengalami siklus menstruasi teratur dan tidak ada responden

yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur.

Tabel 4.5 menjelaskan Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan 3 kategori,

yaitu indeks massa tubuh berat badan normal, berat badan lebih dan berat badan

kurang. Dari hasil penelitian diketahui responden yang mempunyai berat badan

normal sebanyak 41 responden (41%) dengan semua responden mengalami siklus

menstruasi teratur. Sedangkan, responden yang memiliki berat badan lebih sebanyak

21 responden (21%) dengan 2 responden (9,5%) mengalami siklus menstruasi teratur

dan 19 responden (90,5%) mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Responden

yang memiliki berat badan kurang sebanyak 38 responden (38%) dengan responden

yang mengalami siklus menstruasi tidak teratur sebanyak 35 responden (92,1%) lebih

banyak dibandingkan dengan 3 responden (7,9%) yang mengalami siklus menstruasi

tidak teratur.

Tabel 4.5 juga memperlihatkan hasil uji Chi-Square yang menunjukkan

adanya hubungan yang bermakna atau signifikan secara statistik antara indeks massa

tubuh dengan siklus menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan Leihitu Barat
53

dengan nilai signifikasi 0,000 (p <0,005) dan nilai df = 1 sehingga Ha diterima dan

H0 ditolak.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, terbukti bahwa

indeks massa tubuh dan ketidakteraturan siklus menstruasi memiliki hubungan yang

bermakna atau signifikan dengan nilai p=0,000. Nilai p < 0,05 menunjukkan bahwa

adanya korelasi dan hipotesis penelitian diterima. Hal serupa dikemukakan oleh Binu

Thapa dan Tripti Shresta (2015) bahwa indeks massa tubuh memiliki peran penting

dalam siklus menstuasi (0,024 (p<0,05).5 Hasil penelitian ini juga mendukung hasil

penelitian yang dilakukan oleh Felicia, Esther Hutagaol, dan Rina Kundre (2015) di

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi

Manado pada 67 remaja putri dengan teknik purposive sampling yang menyimpulkan

terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan siklus menstruasi (p=

<0,000).33 Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Tri Suwarni (2015), dimana

subjek penelitian sebanyak 60 sampel diteliti dan disimpulkan bahwa indeks massa

tubuh berpengaruh terhadap siklus menstruasi dengan nilai p = 0,001.9

Terdapat beberapa teori mengapa indeks massa tubuh yang tidak normal

berkaitan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur. Teori pertama berkaitan

dengan jumlah estrogen yang meningkat dalam darah, dimana lebih panjangnya

siklus menstruasi disebabkan oleh jumlah estrogen yang meningkat dalam darah
54

akibat jumlah lemak tubuh yang berlebihan. Kadar estrogen yang tinggi akan

memberikan feed back negatif terhadap sekresi GnRH yang berpengaruh terhadap

siklus menstruasi.3,6 Teori kedua berkaitan dengan hipothalamus, dimana kelaparan,

extreme exercise dan stres dapat menjadi pemicu pada supresi hipothalamus. Wanita

yang memiliki berat badan kurang secara sederhana tubuhnya akan menghentikan

proses pembuatan estrogen. Lemak yang terganggu dapat menghentikan sel untuk

mengubah kolesterol menjadi estrogen ekstra. Hal ini akan menyebabkan siklus

menstruasi menjadi lebih panjang dan terganggu pada wanita.17

Pada penelitian ini terlihat bahwa responden indeks massa tubuh tidak normal

cenderung mempunyai siklus menstruasi tidak teratur. Dengan demikian, diperlukan

intervensi non-farmakologis yang lebih awal dan lebih intensif pada penderita indeks

massa tubuh tidak normal guna mencegah resiko infertilitas dan untuk mendapatkan

siklus menstruasi yang teratur. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi menurunkan

berat badan bagi penderita berat badan lebih dan menaikkan berat badan bagi

penderita berat badan kurang hingga tercapai berat badan ideal. Selain itu, pola

makan 3 kali sehari, makanan bernutrisi, olahraga teratur dan hindari stres berlebihan

dapat membantu memperbaiki siklus menstruasi.


55

Tabel 4.6 Perbandingan Penelitian Ini dengan Penelitian Sebelumnya


Faktor Pembanding Frandita, 2017 Binu Thapa, Tripti Felicia, Esther Hutagaol, Tri Suwarni, 2015
Shrestha, 2015 Rina Kundre, 2015
Judul Hubungan Indeks Massa Relationship between Body Hubungan Status Gizi Faktor Determinan yang
Tubuh dengan Mass Index and Menstrual dengan Siklus Menstruasi Mempengaruhi Siklus Menstruasi
Ketidakteraturan Siklus Irregularities among the pada Remaja Putri di PSIK (The Determinants of Menstrual
Adolescents Cycle)
Menstruasi pada Wanita FK UNSRAT Manado
Usia Subur di Kecamatan
Leihitu Barat

Desain Penelitian Cross sectional Cross sectional Cross Sectional Cross sectional
Besar sampel 100 253 67 144
Cara Pengambilan Comsecutive Sampling Proportionate Random Purposive Sampling Simple Random Sampling
Sampel Sampling
Kelompok sampel Remaja Putri Remaja Putri Remaja Putri Remaja Putri
Variabel yang diteliti 1.Variabel terikat ialah 1.Variabel terikat ialah 1.Variabel terikat ialah 1.Variabel terikat ialah
ketidakteraturan siklus ketidakteraturan siklus ketidakteraturan siklus ketidakteraturan siklus menstruasi
menstruasi menstruasi menstruasi 2.Variabel bebas ialah indeks massa
2.Variabel bebas ialah 2.Variabel bebas ialah indeks 2.Variabel bebas ialah tubuh
indeks massa tubuh massa tubuh indeks massa tubuh
Jenis data / Instrumen Primer/Kuesioner Primer/Kuesioner Primer/Kuesioner Primer/Kuesioner
Analisis data Bivariat (Uji Chi square) P value (Fisher exact test) Bivariat (Uji Chi square), P Product Moment Pearson, analisis
value Regresi ganda, P value

Hasil Analisis Terdapat hubungan yang Setengah remaja wanita Sebagian besar responden Ada pengaruh IMT terhadap siklus
bermakna atau signifikan memiliki indeks massa tubuh remaja putri di PSIK FK mentruasi terhadap siklus menstruasi
antara indeks massa tubuh abnormal. Masalah yang UNSRAT Manado dengan nilai P value 0,001 (p <
dan ketidakteraturan siklus paling sering dialami oleh memiliki status gizi normal 0,05).
menstruasi dengan nilai p = remaja wanita adalah dan siklus menstruasi
0,000 dysmenorrhea dan diikuti teratur. Ada hubungan yang
oleh ketidakteraturan siklus. bermakna antara status gizi
Sehingga, indeks massa dengan dengan siklus
tubuh mempunyai peran menstruasi pada remaja
penting dalam siklus putri di PSIK FK UNSRAT
menstruasi dengan nilai p = Manado. Nilai p= 0,000
0,024 (p<0,05).5

55
56

4.3.Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini hanya menggunakan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT)

untuk menentukan status gizi, tanpa disertai indikator status gizi lainnya,

seperti lingkar lengan atas, lingkar perut atau rasio antara lingkar perut dan

lingkar pinggang.

2. Penelitian ini menggunakan consecutive sampling dalam pengambilan sampel

dan bukan secara acak, disebabkan karena karakteristik lokasi penelitian yang

bervariasi.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dalam uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam penelitian

ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Didapatkan gambaran siklus menstruasi pada Wanita Usia Subur

(WUS) di Desa Hatu dan Desa Allang dengan kriteria terbanyak yaitu

siklus menstruasi tidak teratur (>35 hari)

2. Didapatkan gambaran karakteristik berdasarkan Indeks Massa Tubuh

(IMT) pada Wanita Usia Subur (WUS) di Desa Hatu dan Desa Allang

dari 100 responden, jumlah responden dominan adalah indeks massa

tubuh tidak normal yang terdiri dari indeks massa tubuh berat badan

lebih dan berat badan kurang.

3. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara Indeks

Massa Tubuh (IMT) dan Siklus Menstruasi. Persentase responde

dengan siklus mesnstruasi tidak normal lebih tinggi pada kelompok

Indeks Massa Tubuh tidak normal, dibandingkan kelompok Indeks

Massa Tubuh Normal (p<0,000).

57
58

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis ingin mengungkapkan beberapa

saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak. Adapun saran tersebut

yaitu:

1. Bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian serupa agar

melakukan penelitian dengan sampel yang lebih banyak dan faktor-

faktor resiko lainnya sehingga membantu menurunkan angka kejadian

ketidakteraturan siklus menstruasi.

2. Bagi institusi pendidikan agar dapat diupayakan untuk pengenalan lebih

terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi akibat terganggunya indeks

massa tubuh melalui pembentukan program yang melakukan

pemeriksaan rutin status gizi mahasiswa serta mengatur asupan gizi dan

pola hidup yang tepat bagi mahasiwa.

3. Bagi dinas kesehatan setempat, meningkatkan upaya menurunkan angka

ketidakteraturan siklus menstruasi di Provinsi Maluku melalui

penyuluhan mengenai pemeriksaan berat badan, tinggi badan secara

rutin dan faktor-faktor resiko ketidakteraturan siklus menstruasi

sehingga dapat membantu mengurangi angka kejadian ketidakteraturan

siklus menstruasi di Kecamatan Leihitu Barat.


59

DAFTAR PUSTAKA

1. Ikatan Dokter Anak Indonesia [Internet]. Indonesia Pediatric Society; C 2013.

Nutrisi pada Remaja [2017 Feb 02]. Available from:

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/nutrisi-pada-remaja

2. Anwar M, Baziad A, Prabowo R. Ilmu kandungan. 3rd ed. Jakarta: PT. Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2014.

3. Sianipar O, Bunawan C, Almazini P, Calista N, Wulandari P. Prevalensi

Gangguan Menstruasi dan Faktor-faktor yang Berhubungan pada Siswi SMU

di Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur. Majalah Kedokteran Indonesia.

[Internet]. 2009 July 07. [cited 2017 Jan 15]. Available from: URL:

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&ve

d=0ahUKEwii04La87bRAhUMpI8KHThEAQkQFghQMAg&url=http%3A%

2F%2Findonesia.digitaljournals.org%2Findex.php%2Fidnmed%2Farticle%2F

download%2F653%2F648&usg=AFQjCNFTOgYk-

DK2MK_oaFNC8sEodWu3FA&sig2=BgMUsLavPOrak59kKsqOyg&bvm=b

v.143423383,d.c2I

4. Sifra A, Kaeng J, Tendean H. Hubungan malnutrisi dengan gangguan siklus

menstruasi dikawasan tempat pembungan akhir (TPA) Sumompo. Bagian

Obstetri Ginekologi Fakultas kedokteranUniversitas Sam Ratulangi Manado.

November 2012. Available: URL:

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=107435&val=1001
60

5. Thapa B, Shrestha T. Relationship between Body Mass Index and Menstrual

Irregularities among the Adolescents. International Journal of Nursing

Research and Practice. [Online]. 2015; (2): 2 (2015). Available from:

http://www.uphtr.com/issue_files/2015%20i2,%20v2%203%20Ms%20Binu.p

df

6. Universitas Sumatera Utara. Menstruasi Normal [Internet]. November 2012

[2017 January 17]. Available from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27264/4/Chapter%20II.pdf

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta:

2013. http://...(accessed 30 September 2016.

8. Universitas Udayana. Siklus Menstruasi [Lectures notes on internet].

Indonesia: Universitas Udayana, Fakultas Kedokteran; 2012 [cited 2017 Jan

20]. Available from:

http://erepo.unud.ac.id/9993/3/a149619cc2cf71dcd2b8e08ee32b2931.pdf

9. Suwarni T. Faktor Determinan yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi.

Indonesian Journal On Medical Science. [Online]. 2015; 1: 33-8 hal. Available

from: http://ejournal.ijmsbm.org/index.php/ijms/article/download/14/14

10. Rizkiah T. Hubungan status gizi dengan keteraturan menstruasi pada siswi

kelas xi jurusan akuntansi smk negeri 1 Bantul Yogyakarta [dissertation on the

Internet]. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan „Aisyiyah Yogyakarta;

2015. [cited 2016 Oct 20]. Available from:


61

http://opac.unisayogya.ac.id/774/1/NASKAP%20PUBLIKASI_TAESIRATU

R%20RIZKIAH_201410104314.pdf

11. Liu Y, Ellen B, Gold, Bill L, Lasley, Wesley O. Factors Affecting Menstrual

Cycle Characteristics. American Journal of Epidemiology 2004 Feb; 160(2):

131-140.

12. Herrera A, Shawn E. Nielsen, Mather M. Stress-induced increases in

progesterone and cortisol in naturally cycling women. Neurobiology of Stress.

[Online] 2016: 2352-2895. Available from: doi: 10.1016/j.ynstr.2016.02.006.

[Accessed 1st November 2016].

13. Ju H, Jones M, Mishra G. AU-shaped relationship between body mass index

and dysmenorrhea: a longitudinal study. [Online]. Plosone: 2015; 10(7).

doi:10.1371/journal.pone.0134187.

14. Cross, Bruna G, Marley, Ernest J, Miles, Barbara H, Willson, Jane K.

Changes in nutrient intake during the menstrual cycle of overweight women

with premenstrual syndrome. [Online]. British Journal of Nutrition: 2001;

85(4):475-482. doi: 10.1079/BJN2000283.

15. Hazanah S, Shoufiah R, Nurlaila. Relation Between Stress And Menstrual

Cycle At 18-21 Years Of Age. International Refereed Journal of Engineering

and Science. [Online]. June 2015; (4):6: 45-9p. Available from:

http://ejournal.ijmsbm.org/index.php/ijms/article/download/14/14
62

16. Badan Pusat Statistik. Statistik Daerah Kecamatan Leihitu Barat [serial

online]. 2016 [cited 2017 Jan 10]. Available from:

https://malukutengahkab.bps.go.id/backend_malteng/pdf_publikasi/Statistik-

Kecamatan-Leihitu-Barat-2016.pdf

17. Samir N, Fattah H, Sayed E. The correlation between body mass index and

menstrual profile among nursing students of Ain Shams University. Egyption

Nursing Journals. [Online]. 2012. Available from:

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ve

d=0ahUKEwj0vbHIr4vQAhUFRY8KHSFbCggQFghRMAU&url=http%3A%

2F%2Ferepository.cu.edu.eg%2Findex.php%2FEJN%2Farticle%2Fview%2F

4262%2F4194&usg=AFQjCNGiM-

rSz1_rsuXghudEaq8iJIP3Wg&sig2=ZDqHS-ilSMfQBGvZRIlYHQ

18. Universitas Negeri Gorontalo. Konsep Menstruasi [Internet]. Januari 2013

[2017 January 17]. Available from: http://eprints.ung.ac.id/4998/5/2013-1-

14201-841409068-bab2-27072013014417.pdf

19. Dars S, Sayed K, Yousufzai Z. Relationship of menstrual irregularities to BMI

and nutritional status in adolescent girls. Pak J Med Sci [Internet]. 2014 [cited

2017 Jan 12]; Vol. 30 (No. 1): P.140-144. Available from:

http://dx.doi.org/10.12669/pjms.301.3949

20. Joseph L. Mayo. A healthy menstrual cycle. Clinical Nutrition Insight.

[Online]. (5):7:1-8p. Available from:

http://acudoc.com/Healthy%20Cycle.PDF
63

21. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia

[Internet]. Iindonesia: Departemen Kesehatan; 2016 [cited 2017 January 16].

Available from: http://depkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-

pusdatin-profil-kesehatan.html

22. Cunningham G, Leveno K, Bloom S, Hauth J, Rouse D, Spong C. Obstetri

Williams. 23rd ed. Jakarta: EGC; 2012.

23. Alam T, Jiwane R, Choudhary A, Kishanrao S. Relationship between Body

Mass Index (BMI) and the Age at Menarche among Young Girls. IOSR

Journal of Dental and Medical Sciences [Internet]. 2015 [cited 2017 Jan 18];

Vol 14 (Issue 7): P.79-83. Available from: http://iosrjournals.org/iosr-

jdms/papers/Vol14-issue7/Version-1/P014717983.pdf DOI: 10.9790/0853-

14717983

24. Reswari A. Hubungan indeks massa tubuh dengan usia menarche pada siswi

sekolah dasar Ngoresan Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret;

2012. [cited 2017 Jan 23]. Available from:

file:///C:/Users/asus/Downloads/Amallia%20Ardana%20Reswari%20-

%20G0009012.pdf

25. Hoof M, Voorhost F, Kaptein M, Hirasing R, Koppenaal, et al. Predictive

value of menstrual cycle pattern, body mass index, hormone levels and

polycystic ovaries at age 15 years for oligo-amenorrhoea at age 18 years.

Human Reproduction [Internet]. 2004 [cited 2017 Jan 17]; Vol. 19 (No. 2) Pp.

383-392. Available from:


64

http://humrep.oxfordjournals.org/content/19/2/383.full.pdf+html DOI:

10.1093/humrep/deh079

26. Twig G, Yaniv G, Levine H, Goldberger N, Derazne E, et al. Body-Mass

Index in 2.3 Million Adolescents and Cardiovascular Death in Adulthood. The

New England Journals of Medicine [Internet]. 2016 [cited 2017 Jan 18]; Vol.

374. Pp. 2430-2440. Available from:

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa1503840#t=article DOI:

10.1056/NEJMoa1503840

27. Universitas Lampung. Siklus Menstruasi [Lectures notes on internet].

Indonesia: Universitas Lampung; 2012 [cited 2017 Jan 20]. Available from:

http://digilib.unila.ac.id/7043/16/BAB%20II.pdf

28. Departemen Kesehatan Gizi Republik Indonesia. Pedoman Praktis Memantau

Gizi Orang Dewasa [Internet]. Indonesia; 2011 [cited 2016 Nov 01]. Available

from: http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/10/ped-praktis-stat-

gizi-dewasa.doc

29. Madhubala C, Jyoti K. Relation between dysmenorrhea and body mass index

in adolescents with rural versus urban variation. The Journal of Obstetrics and

Gynecology of India [Internet]. 2012 [cited 2017 Jan 12]; Vol. 62 (No. 4):

P.442–445. Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3500946/pdf/13224_2012_Ar

ticle_171.pdf DOI 10.1007/s13224-012-0171-7


65

30. Weissel CR. Body mass index as an indicator of obesity. Asia Pacific J Clin

Nutr. Date of publication 2002 ;11:681-4 p.

31. Global Database on Body Mass Index [Internet]. Singapore: World Health

Organization; c2006. BMI classification; 2002 July 11 [cited 2016 Nov 5];

[about 3 screens]. Available from:

http://apps.who.int/bmi/index.jsp?introPage=intro_3.html

32. Sharma K. A comparative study of level of stress due to menstruation cycle

among physically active and non active females at drc college. International

Journal of Scientific and Research Publications. [Online]. 2014; 4(10).

Available from: http://www.ijsrp.org/research-paper-1014/ijsrp-p3402.pdf

33. Felicia, Hutagaol E, Kundre R. Hubungan status gizi dengan siklus

menstruasi pada remaja putri di psik fk unsrat manado. ejournal

Keperawatan (e-Kp). [Online]. 2015; (3):1. Available from:

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jkp/article/download/6694/6214

34. Sastroamoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 5th Ed.

Jakarta: CV. Agung Seto.

35. Karout N, Hawai S, Altuwaijri S. Prevalence and pattern of menstrual

disorders among Lebanese nursing students. Eastern Mediterranean Health

Journal. [Online]. 2012; Vol 18 No 4: 346-352p. Available from:

http://applications.emro.who.int/emhj/v18/04/18_4_2012_0346_0352.pdf?ua=

1
66

Lampiran 1
67

Lampiran 2
68
69

Lampiran 3

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS KEDOKTERAN
Jln. Ir. M. Putuhena, Poka- Ambon. Telp/Fax: (0911) 344982;
Email: fkunpatti@yahoo.com

LEMBARAN PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Judul Penelitian:
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Ketidakteraturan Siklus Menstruasi pada

Wanita Usia Subur di Kecamatan Leihitu Barat

Peneliti:
Nama : Frandita Ivana Tanisiwa

Status : Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon

Alamat : Wayame, Ambon

Peneliti memohon kesediaan untuk berpartisipasi menjadi responden tersebut di


atas. Sebelumnya peneliti akan menjelaskan tentang penelitian tersebut sebagai
berikut:

Tujuan:
Penelitian ini bertujuan agar dapat mengetahui hubungan indeks massa tubuh
dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada wanita usia subur di Kecamatan
Leihitu Barat
70

Manfaat:
Diharapkan dengan penelitian ini, dapat dijadikan masukan bagi masyarakat

dengan siklus menstruasi tidak teratur untuk dapat mengubah pola hidupnya.

Prosedur:
Peneliti akan meminta persetujuan responden untuk menjawab pertanyaan yang

akan ditanyakan oleh peneliti sesuai dengan pertanyaan yang tercantum pada

kuesioner yang nantinya akan dikumpulkan dan dianalisa oleh peneliti. Kuesioner

terdiri atas enam bagian, yaitu kuesioner mengenai pengenalan tempat, sosial dan

demografi, status gizi, siklus menstruasi, kuesioner DASS dan kuesioner pola

makan. Kuesioner status gizi akan diisi terlebih dahulu dengan melakukan

pengukuran tinggi badan dan berat badan sesuai dengan penjelasan yang diberikan

oleh peneliti mengenai prosedur pengukuran sebelumnya.

Segala informasi yang diperoleh selama penelitian ini dijamin kerahasiaannya dan

tidak ada sedikitpun biaya yang akan memberatkan responden. Demikian

informasi ini peneliti sampaikan. Atas bantuan dan partisipasinya peneliti ucapkan

terima kasih.

Ambon, Juni 2017


Peneliti

Frandita Ivana Tanisiwa


71

Lampiran 4

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS KEDOKTERAN
Jln. Ir. M. Putuhena, Poka- Ambon. Telp/Fax: (0911) 344982;
Email: fkunpatti@yahoo.com

LEMBARAN PERSETUJUAN RESPONDEN

Judul Penelitian :
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Ketidakteraturan Siklus Menstruasi pada

Wanita Usia Subur di Kecamatan Leihitu Barat

Peneliti
Nama : Frandita Ivana Tanisiwa

Status : Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon

Alamat : Wayame, Ambon

Responden
Nama :
Alamat :

Saya (responden) telah memahami tujuan, manfaat, prosedur dan penjaminan


kerahasiaan identitas saya dalam penelitian ini. Oleh karena itu, tanpa ada paksaan
dari pihak lain saya bersedia secara sukarela untuk menjadi responden dalam
penelitian ini, serta mengikuti semua proses yang dibutuhkan menjadi responden
dalam penelitian ini.
Ambon, …………. 2017
Tanda tangan peneliti Tanda tangan responden

Frandita Ivana Tanisiwa ………………………...


72

Lampiran 5

KUESIONER

SURVEI INDEKS MASSA TUBUH, KETIDAKTERATURAN SIKLUS

MENSTRUASI, STRES DAN POLA MAKAN

NOMOR 01: DATA UMUM RESPONDEN

NOMOR RESPONDEN :

I. PENGENALAN TEMPAT

1. Kabupaten :

2. Kecamatan :

3. Desa/Kelurahan/Soa :

II. SOSIAL DAN DEMOGRAFI

4. Inisial Responden :

5. Telp/HP :

6. TTL/Umur :

III. STATUS GIZI

7. BB:.......... kg TB:.......... cm

IV. SIKLUS MENSTRUASI

8. Pada umur berapa anda pertama kali mendapatkan haid (menarche)?

a. 9 tahun c. 11 tahun e. Lainnya, sebutkan .....

b. 10 tahun d. 12 tahun

9. Tanggal berapakah anda haid pada bulan sebelumnya dan pada bulan ini?

- Bulan sebelumnya :

- Bulan ini :
73

10. Bagaimana siklus haid anda (dihitung dari awal anda mendapat haid

sampai haid berikutnya?

a. <21 hari b. 21-35 hari c. >35 hari

11. Waktu anda haid banyaknya pembalut yang digunakan dalam 1 hari?

a. 1-2 pembalut b. 3-4 pembalut c. ≥5 pembalut

12. Apakah anda mengalami perdarahan diluar haid?

a. Ya b. Tidak

13. Apakah pada saat anda haid mengalami nyeri/kram pada perut?

a. Ya b. Tidak

14. Berapa lama biasanya nyeri/kram perut terjadi saat haid?

a. 1 hari (hari pertama saja) b. 2 hari c. >2 hari

15. Bagaimana pola tidur anda pada saat mau haid?

a. Hipersomnia (lebih sering tidur)

b. Normal (sehari 6-8 jam)

c. Insomnia (sulit tidur)

16. Dalam satu tahun ini berapa kali anda mengalami gangguan haid

(perubahan siklus/lama/PMS/Dismemorhea)?

a. 1-2x b. 3-4x c. >4x


74

NOMOR 02: Kuesioner Stress - Tes DASS

Petunjuk pengisian:

Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan yang mungkin sesuai dengan pengalaman saudara/i

dalam menghadapi situasi hidup sehari-hari. Ada 4 pilihan jawaban yang disediakan

untuk setiap pertanyaan, yaitu:

 0 = Tidak sesuai dengan saya sama sekali, atau tidak pernah

 1 = Sesuai dengan saya sampai tingkat tertentu, atau kadang-kadang

 2 = Sesuai dengan saya sampai batas yang dapat dipertimbangkan, atau lumayan

sering

 3 = Sangat sesuai dengan saya, atau sering sekali

No Pertanyaan 0 1 2 3

1 Saya merasa bahwa diri saya menjadi marah karena

hal-hal sepele

2 Saya merasa bibir saya kering

3 Saya sama sekali tidak pernah merasakan perasaan

positif

4 Saya mengalami kesulitan bernafas (misalnya sering

terengah-engah atau tidak dapat bernafas padahal tidak

melakukan kegiatan fisik sebelumnya)

5 Saya sepertinya tidak kuat lagi untuk melakukan suatu

kegiatan

6 Saya cenderung bereaksi berlebihan terhadap suatu

situasi

7 Saya merasa cepat goyah (misalnya kaki terasa mau


75

copot)

8 Saya merasa sulit untuk bersantai

9 Saya menemukan diri saya berada dalm situasi yang

membuat saya merasa sangat cemas dan saya akan

merasa sangat lega jika semua ini berakhir

10 Saya merasa tidak ada hal yang dapat diharapkan di

masa depan

11 Saya menemukan diri saya mudah merasa kesal

12 Saya merasa telah menghabiskanbanyak energi untuk

merasa cemas

13 Saya merasa sedih dan tertekan

14 Saya menemukan diri saya menjadi tidak sabar ketika

mengalami penundaan (Misalnya kemacetan lalu lintas)

15 Saya merasa bahwa saya mudah tersinggung

16 Saya merasa sulit untuk beristirahat

17 Saya merasa putus asa dan sedih

18 Saya merasa bahwa saya sangat mudah marah

19 Saya merasa sangat ketakutan

20 Saya menemukan diri saya mudah gelisah

21 Saya merasa sulit untuk meningkatkan inisiatif dalam

melakukan sesuatu
76

NOMOR 03: KUISIONER POLA MAKAN

1 Dalam sehari berapa kali anda mengkonsumsi makanan


pokok? Sebutkan waktunya!
1. 1 kali/hari (pukul.........................................)
2. 2 kali/hari (pukul.........................................)
3. 3 kali/hari (pukul.........................................)
4. >3 kali/hari (pukul.......................................)
2 Apakah mengkonsumsi sarapan (minimal mengandung 300
kalori) sebelum beraktifitas sehari-hari?
1. Ya. Pada pukul.................................
2. Tidak. Alasan:..................................
(langsung ke nomor 4)
3 Jika Ya, seberapa sering anda mengkonsumsi sarapan per
minggu?
1. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
2. Sering (4-7 kali/minggu)
4 Apakah anda memiliki kebiasaan mengkonsumsi makan
siang?
1. Ya
2. Tidak. Alasan..................................
(langsung ke nomor 7)
5 Pada pukul berapa kebiasaan makan siang anda dalam 1
bulan terakhir?
Pukul..................................
1. Pukul 11.00-14.00
2. <Pukul 11.00 atau > pukul 14.00.
alasan.....................

6 Seberapa sering kebiasaan makan siang anda pada waktu


tersebut?
1. Sering (4-7 kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
7 Apakah anda memiliki kebiasaan mengkonsumsi makan
malam?
1. Ya
2. Tidak. Alasan................................
Langsung nomor 10
8 Pada pukul berapa kebiasaan makan malam anda dalam 1
bulan terakhir?
Pukul...........................................
1. <Pukul 17.00
2. Pukul 17.00-19.00
3. >Pukul 19.00. alasan.................................................

9 Seberapa sering makan malam anda pada waktu tersebut?


1. Sering (4-7 kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
10 Pada pukul berapa anda mengkonsumsi makanan terakhir
pada malam hari selama 1 bulan ini?
77

Pukul......................................................
1. <Pukul 18.00
2. ≥Pukul 18.00 (langsung ke nomor 12)
11 Jika anda memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan
terakhir pada malam hari<pukul 18.00, seberapa sering
kebiasaan tersebut?
1. Sering (4-7 kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
12 Jika anda memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan
terakhir pada malam hari ≥pukul 18.00, seberapa sering
kebiasaan tersebut?
1. Sering (4-7 kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
13 Berapa jam jarak antara makan terakhir dengan waktu tidur
anda? ................. jam
1. ≥3 jam
2. <3 jam
14 Seberapa sering anda mengemil/mengkonsumsi snack?
1. Sering (4-7 kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
Ket: *pilih salah satu Jenisnya: manis/gurih
15 Seberapa sering anda mengkonsumsi makanan
jadi/jajanan/fastfood?
1. Sering (4-7kali/minggu)
2. Tidak sering (≤3 kali/minggu)
Lampiran 6

HASIL SURVEY INDEKS MASSA TUBUH, KETIDAKTERATURAN SIKLUS MENSTRUASI, STRES DAN POLA MAKAN

DI DESA HATU DAN DESA ALLANG KECAMATAN LEIHITU BARAT

No. Kode Usia IMT Interpretasi Siklus Interpretasi Stres Frekuensi Makan
Mentruasi
1 001 24 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
2 002 24 berat badan normal teratur Tidak Stress <3 kali
3 003 21 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
4 004 22 berat badan kurang tidak teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
5 005 21 berat badan normal teratur Tidak Stress 3 kali
6 006 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
7 007 20 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
8 008 22 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
9 009 19 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
10 010 19 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress >3 kali
11 011 22 berat badan normal teratur Tidak Stress 3 kali
12 012 18 berat badan lebih tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali

78
13 013 22 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress >3 kali
14 014 20 berat badan normal teratur Berat - Sangat Berat 3 kali
15 015 20 berat badan normal teratur Tidak Stress >3 kali
16 016 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress >3 kali
17 017 18 berat badan normal teratur Berat - Sangat Berat >3 kali
18 018 19 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress >3 kali
19 019 19 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
20 020 20 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 2 kali
21 021 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
22 022 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
23 023 20 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 2 kali
24 024 22 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 2 kali
25 025 21 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
26 026 21 berat badan kurang teratur Ringan - Sedang 3 kali
27 027 21 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali
28 028 22 berat badan normal teratur Tidak Stress 3 kali
29 029 20 berat badan lebih tidak teratur Berat - Sangat Berat 3 kali
30 030 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang >3 kali
31 031 24 berat badan lebih teratur Tidak Stress 2 kali
32 032 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
33 033 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali

79
34 034 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
35 035 18 berat badan lebih tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali
36 036 18 berat badan kurang teratur Ringan - Sedang 3 kali
37 037 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
38 038 18 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 2 kali
39 039 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali
40 040 24 berat badan normal teratur Berat - Sangat Berat 3 kali
41 041 22 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 3 kali
42 042 18 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress >3 kali
43 043 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 2 kali
44 044 24 berat badan lebih tidak teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
45 045 20 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali
46 046 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 3 kali
47 047 21 berat badan normal teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
48 048 21 berat badan lebih tidak teratur Berat - Sangat Berat 3 kali
49 049 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
50 050 24 berat badan lebih tidak teratur Berat - Sangat Berat >3 kali
51 051 20 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress >3 kali
52 052 21 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
53 053 19 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 2 kali
54 054 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali

80
55 055 19 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang >3 kali
56 056 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 2 kali
57 057 24 berat badan normal teratur Tidak Stress 3 kali
58 058 18 berat badan kurang tidak teratur Berat - Sangat Berat 3 kali
59 059 18 berat badan lebih teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
60 060 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
61 061 22 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 3 kali
62 062 21 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang >3 kali
63 063 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
64 064 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
65 065 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
66 066 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
67 067 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
68 068 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang >3 kali
69 069 18 berat badan kurang tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
70 070 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
71 071 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 3 kali
72 072 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 2 kali
73 073 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
74 074 18 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 3 kali
75 075 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali

81
76 076 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
77 077 18 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 3 kali
78 078 18 berat badan kurang teratur Ringan - Sedang 2 kali
79 079 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 3 kali
80 080 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 2 kali
81 081 18 berat badan normal teratur Ringan - Sedang 3 kali
82 082 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
83 083 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
84 084 18 berat badan lebih tidak teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
85 085 18 berat badan normal teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
86 086 18 berat badan kurang tidak teratur Berat - Sangat Berat 2 kali
87 087 18 berat badan normal teratur Tidak Stress 2 kali
88 088 18 berat badan lebih tidak teratur Tidak Stress 3 kali
89 089 18 berat badan kurang tidak teratur Tidak Stress 3 kali
90 090 18 berat badan normal Teratur Ringan - Sedang 3 kali
91 091 18 berat badan normal Teratur Tidak Stress 3 kali
92 092 18 berat badan lebih tidak teratur Ringan - Sedang 3 kali
93 093 24 berat badan normal Teratur Tidak Stress 2 kali
94 094 19 berat badan lebih tidak teratur Ringan - Sedang 2 kali
95 095 19 berat badan normal Teratur Ringan - Sedang 2 kali
96 096 20 berat badan normal Teratur Ringan - Sedang 3 kali

82
97 097 21 berat badan normal Teratur Ringan - Sedang >3 kali
98 098 23 berat badan normal Teratur Tidak Stress 2 kali
99 099 24 berat badan normal Teratur Tidak Stress 3 kali
100 100 23 berat badan normal Teratur Tidak Stress 3 kali

83
84

Lampiran 7

HASIL PENGOLAHAN DATA DENGAN SPSS VERSI 23.0

ANALISIS UNIVARIAT

Frequencies

Statistics
Indeks Massa Siklus
Tubuh Menstruasi

N Valid 100 100


Missing 0 0

Frequency Table

Indeks Massa Tubuh


Frequency Percent Valid Cumulative
Percent Percent
Valid Tidak 59 59.0 59.0 59.0
Normal
Normal 41 41.0 41.0 100.0
Total 100 100.0 100.0

Siklus Menstruasi
Frequency Percen Valid Cumulative
t Percent Percent
Valid Teratur 46 46.0 46.0 46.0
Tidak 54 54.0 54.0 100.0
Teratur
Total 100 100.0 100.0
85

Stres
Frequency Percent Valid Cumulative
Percent Percent
Valid Tidak Stres 51 51.0 51.0 51.0
Stres Berat - 14 14.0 14.0 65.0
Sangat Berat
Stres Ringan – 35 35.0 35.0 100.0
Sedang
Total 100 100.0 100.0

FREQUENCIES VARIABLES=PM
/ORDER=ANALYSIS.

Pola Makan
Frequency Percent Valid Cumulative
Percent Percent
Valid 2 kali 45 45.0 45.0 45.0
sehari
3 kali 40 40.0 40.0 85.0
sehari
>3 kali 15 15.0 15.0 100.0
sehari
Total 100 100.0 100.0

CROSSTABS
/TABLES=IMT BY SM
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW COLUMN TOTAL
/COUNT ROUND CELL.
86

ANALISIS BIVARIAT

Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Indeks Massa 100 100.0% 0 0.0% 100 100.0%
Tubuh * Siklus
Menstruasi

Indeks Massa Tubuh * Siklus Menstruasi Crosstabulation


Siklus Menstruasi Total
Teratur Tidak
Teratur
Indeks Massa Tidak Count 5 54 59
Tubuh Normal Expected Count 27.1 31.9 59.0
% within Indeks 8.5% 91.5% 100.0
Massa Tubuh %
% within Siklus 10.9% 100.0 59.0%
Menstruasi %
% of Total 5.0% 54.0% 59.0%
Normal Count 41 0 41
Expected Count 18.9 22.1 41.0
% within Indeks 100.0% 0.0% 100.0
Massa Tubuh %
% within Siklus 89.1% 0.0% 41.0%
Menstruasi
% of Total 41.0% 0.0% 41.0%
Total Count 46 54 100
Expected Count 46.0 54.0 100.0
% within Indeks 46.0% 54.0% 100.0
Massa Tubuh %
% within Siklus 100.0% 100.0 100.0
Menstruasi % %
% of Total 46.0% 54.0% 100.0
%
87

Chi-Square Tests
Value df Asymptotic Exact Sig. Exact Sig.
Significanc (2-sided) (1-sided)
e (2-sided)

Pearson Chi-Square 81.577 1 .000


a

Continuity Correctionb 77.934 1 .000


Likelihood Ratio 103.74 1 .000
4
Fisher's Exact Test .000 .000
Linear-by-Linear 80.761 1 .000
Association

N of Valid Cases 100


a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18.86.
b. Computed only for a 2x2 table

CROSSTABS
/TABLES=IMT BY SM
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT ROW
/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs

Case Processing Summary


Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
IMT * Siklus Menstruasi 100 100.0% 0 0.0% 100 100.0%
88

IMT * Siklus Menstruasi Crosstabulation


Siklus Menstruasi
Teratur Tidak Teratur Total
IMT berat badan normal Count 41 0 41
% within IMT 100.0% 0.0% 100.0%
berat badan lebih Count 2 19 21
% within IMT 9.5% 90.5% 100.0%
berat badan kurang Count 3 35 38
% within IMT 7.9% 92.1% 100.0%
Total Count 46 54 100
% within IMT 46.0% 54.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymptotic
Significance (2-
Value df sided)
a
Pearson Chi-Square 81.591 2 .000

Likelihood Ratio 103.790 2 .000

Linear-by-Linear Association 67.731 1 .000

N of Valid Cases 100

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.66.
89

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS PATTIMURA

FAKULTAS KEDOKTERAN

Jln. Ir. M. Putuhena Kampus FK Unpatti Poka – Ambon 97233

Telp/fax : 0911 344982. Email fkunpatti@yahoo.com

BIODATA PENULIS

1. Nama : Frandita Ivana Tanisiwa


2. NIM : 2013-83-037
3. Tempat, Tanggal Lahir : Ambon, 09 Juli 1996
4. Alamat : Jl. Ir. Putuhena, Wayame
5. Agama : Kristen Katolik
6. Email : franditaivana@yahoo.com
7. Nama Orang Tua
a. Ayah : Fransiscus Xaverius Tanisiwa
b. Ibu : Kafiana Diana Rahantoknam/Tanisiwa
8. Pekerjaan Orang Tua
a. Ayah : Pegawai Swasta
b. Ibu :-
9. Riwayat Pendidikan
a. TK Xaverius Ambon (2000 – 2001)
b. SD Negeri 76 Wayame (2001 – 2007)
c. SMP Katolik Ambon (2007 – 2010)
d. SMA Negeri 1 Ambon (2010 – 2013)
e. Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura