Anda di halaman 1dari 15

PAPER BIOTEKNOLOGI KELAUTAN

PRODUK FARMASETIKA

Ekstrak Kolagen Kasar Teripang Stichopus hermanii sebagai Produk


Farmasetika (Bahan Pelembab Kulit)

Disusun Oleh :
Evi Nurfitriani 230210120002
Wulan Cendra P 230210120042
Liqa Layalia 230210120055

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JATINANGOR

2014
DAFTAR ISI

BAB Halaman

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1

II. PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Umum Teripang .....................................................................3
2.2 Metode Pengujian ..................................................................................3
2.2.1 Persiapan Bahan dan Pembuatan Larutan Stok ...................................3
2.2.2 Ekstraksi Kolagen Kasar dariSampel Dindind Tubuh Teripang .........4
2.2.3Identifikasi Kolagen Kasar ...................................................................5
2.2.4 Sediaan Krim ......................................................................................5
2.2.5 Uji Stabilitas ........................................................................................6
2.2.5.1 Uji Stabilitas pada Suhu ..................................................................6
2.2.5..2 Cycling Test ...................................................................................7
2.2.5..3 Uji Mekanik ....................................................................................7
2.2.6 Pepsin ..................................................................................................7
2.3 Pemanenan Produk ................................................................................7
2.3.1 Jenis ....................................................................................................7
2.3.2 Karakteristik .......................................................................................8
2.4 Purifikasi Produk ...................................................................................8
2.4.1 Alasan Purifikasi ................................................................................8
2.4.2 Teknik Purifikasi ................................................................................9

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................13


1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumber daya laut yang tinggi memberikan manfaat yang besar untuk
kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut saat ini, bukan hanya sekedar untuk
konsumsi, tetapi mengarah kepada penelitian yang lebih maju seperti penemuan
obat-obatan berbahan dasar biota laut. Salah satu biota laut yang mempunyai nilai
ekonomis penting adalah teipang atau timun laut. Teripang merupakan komoditas
lokal hasil laut yang banyak tersebar di Indonesia. Jenis teripang yang dapat
dimakan dan mempunyai nilai ekonomis penting sampai saat ini terbatas pada
famili Holothuridae dan Stichopodidae, yang meliputi marga Holothuria,
Actinopyga, Bohadschia, Thelenota, dan Stichopus (Martoyo dkk., 2006).
Teripang mempunyai nilai ekonomis penting karena selain sebagai pangan
fungsional, teripang juga merupakan sumber biofarmaka dari hasil laut.
Kandungan nutrisi teriang kering, terdiri dari 86% protein, 3-5% karbohidrat dan
1-2% lemak (Arlyza, 2009). Teripang memiliki kandungan asam lemak seperti
EPA (asam eikosapentanoat) dan DHA (asam dekosaheksanoat) yang berperan
dalm perkembangan syaraf otak, agen penyembuh luka dan antitrombotik. Selain
itu, teripang juga mengandung bahan bioaktif yang bermanfaat sebagai
antihipertensi (Haug et al., 2002), antibakteri dan antifungsi (Kumar et al., 2007),
antikanker (Mayer & Gustafson, 2006) serta anti koagulan (Mojica & Merca,
2005).
Teripang tidak hanya dimanfaatkan untuk pengobatan tetapi juga dalam
industri kosmetik. Kandungan kolagen dalam tubuh teripang mencapai 80% dari
total protein yang dimilikinya. Penelitian mengenai kolagen yang berasal dari
teripang masih sangat jarang dilakukan. Hingga tahun 2007, hanya ditemukan dua
penelitian yaitu Saito et al. (2002) yang melaporkan bahwa kolagen merupakan
komponen utama dari teripang Stichopus japonicus dan Cui et al. (2007)
melakukan karakteristik dan komposisi subunit kolagen yang berasal dari teripang
Stichopus japonicus. Kolagen memiliki kemampuan untuk memberikan sifat

1
2

elastis pada kulit serta dapat mengurangi keriput yang terjadi sebagai efek dari
penuaan. Kulit yang menua terjadi karena semakin banyak ikatan silang kovalen
yang terbentuk di dalam dan diantara unit tropokolagen. Hal tersebut
mengakibatkan fibril kolagen rapuh dan kaku sehingga kulit aan tampak kering.
Salah satu cara yang mengatasi kulit kering adalah dengan pemberian pelembab
pada permukaan kulit. Pelembab dengan bahan dasar kolagen menjadi salah satu
cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan kulit. Kolagen berkerja
sebagai bahan yang bersifat oklusif, yaitu menghambat penguapan air yang
berlebihan sehingga tetap menjaga kelembaban kulit (Zhai & Maibach, 2002 ;
Elsner et al., 2005).

2
BAB II
ISI

2.1 Tinjauan Umum Teripang


Teripang merupakan salah satu hewan yang termasuk binatang berkulit
berduri (Echinodermata). Teripang mempunyai tubuh bulat panjang, bentuk
tubuhnya menyerupai timun sehingga dikenal juga sebagai timun laut atau sea
cucumber. Teripang memiliki kandungan senyawa aktif yang potensial.
Kandungan aktif yang dimilik oleh teripang yaitu lektin, mineral, saponin,asam
amino, gamapeptide, protein 86,8%, kolagen 80,0%, mukopolisakarida, antiseptik
alamiah, omega-3, 6, dan 9, cell growth facto, vitamin dan mineral,
glucasaminoglycans (GAGs) dan glucosamine dan chondroitin. Kolagen
merupakan kandungan aktif yang paling banyak dalam teripang. Dengan
kandungan kolagen yang dimilikinya, teripang dapat digunakan untuk pelembab
kulit. Kolagen adalah protein utama yang menyusun komponen matrik
ekstraseluler dan merupakan protein yang banyak ditemukan di dalam tubuh
mansia. Kolagen tersusun atas triple helix dari tiga rantai α polipetida.

2.2 Metode Pengujian


2.2.1 Persiapan Bahan dan Pembuatan Larutan Stok
Teripang Stichopus hermanni dibersihkan bagian dalam tubuhnya.
Dinding tubuh teripang tersebut kemudian dipotong dengan ukuran 2x2 cm.
sampel dinding tubuh teripang tersebut kemudian disimpan di dalam lemari es
dengan suhu 4°C sampai sampel tersebut aka digunakan. Larutan stok yang
dibutuhkan terdiri dari bahan kimia Tris HCl 1 M (Merck) dan EDTA 1 M
(Merck). Kedua larutan tersebut akan digunakan sebagai larutan ekstraksi
kolagen. Larutan stook Tris HCl 1 M dibuat dengan cara menimbang sejumlah
15.67 g Tris HCl lalu dimasukkan kedalam labu takar 100 mL, kemudian
menambahkan aquades hingga volume 100 mL. larutan stok EDTA 1 M dibuat
dengan cara menimbang sejumlah 20.25 g EDTA lalu memasukkan larutan
tersebut ke dalam labu takar 100 mL, kemudian menambahkan akuades hingga

3
4

volume 100 mL. larutan estraksi yang dibutuhkan yaitu 1.000 mL yang dibuat
dengan mencampurkan 100 mL larutan Tris HCl, 4 mL larutan EDTA (I M) dan
896 mL akuades.

2.2.2 Ekstraksi Kolagen Kasar dari Sampel Dinding Tubuh Teripang


Proses ekstraksi kolagen kasar dilakukan berdasarkan perpaduan cara kerja
Trotter et al. (1995) dan Saito et al. (2002). Sebanyak 100 g sampel dinding tubuh
teripang ditambahkan dengan 1.000 mL akuades dan diaduk selama 30 menit pada
suhu 4°C. Campuran disaring dan akuades dibuang. Sampel dinding tubuh
teripang ditambahkan dengan akuades baru sebanyak 1.000 mL, kemudian diaduk
selama 1 jam pada suhu 4°C. Setelah itu campuran disaring dan akuades dibuang,
sampel dinding tubuh teripang ditambahkan dengan larutan ekstraksi sebanyak
1.000 mL, kemudian diaduk selama 24 jam. Setelah 24 jam, akan terbentuk
suspensi kental dan dinding tubuh teripang sudah tidak utuh. Suspensi kental
tersebut disaring dan disentrifugasi dengan kecepatan 4.500 rpm selama 30 menit.
Semua pelet hasil sentrifugasi dikumpulkan dan diliofilisasi untuk mendapatkan
crude collagen. Cara kerja tersebut dilakukan untuk teripang yang berasal dari
alam dan budidaya.

2.2.3 Identifikasi Kolagen Kasar dari Teripang Stichopus hermanni


Crude collagen yang telah diperolah dideteksi keberadaan proteinnya
menggunakan uji Biuret dan Uji Bradford. Selanjutnya, dilakukan deteksi
keberadaan kolagen menggunakan metode Dot Blot dengan langkah-langkahnya
yaitu pertama 0.1 g ekstrak kolagen kasar dicampur dengan 10 mL akuades dan
diauk homogen. Sebanyak 2 µL sampel diteteskan diatas membran nitroselulosa
dan dibiarkan mengering. Semua non spesifik binding sites pada permukaan
membran diblokir menggunakan larutan blocking (skin milk). Membran tersebut
kemudian diinkubaasi selama 1 jam pada suhu ruang. Membran dicuci dengan
menggunakan PBST (Phosphate Buffer Saline Twee). Pencucian diulangi
sebanyak tiga kali. Antibodi primer (antibody collagen 1) ditambahkan ke atas
membran dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37°C. Antibodi sekunder
5

(Horseradish Peroxidase) ditambahkan ke atas membran dan diinkubasi selama 1


jam pada suhu 37°C. Membran dicuci sehingga antibodi-enzim yang tidak terikat
dapat dibuang. Ditambahkan reagen kloronaftol dan diinkubasi selama 5 menit.
Dicuci dengan H2O2 dan selanjutnya dilihat warna yang dihasilkan dan
dibandingkan dengan standar.

2.2.4 Sediaan Krim


Sediaan krim memiliki fungsi sebagai bahan pembaa substansi obat untuk
pengobatan kulit, sebagai bahan pelumas untuk kulit dan sebagai pelindung untuk
kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan
rangsangan kulit (Arief, 2000). Sediaan krim dibuat dengan menggunakan
vanishing cream. Komposisi sediaan krim berdasarkan modifikasi dai Mitsui
(1997).

Tabel 1. Komposisi bahan-bahan dalam sediaan krim


Bahan Sediaan Kontrol (%) Sediaan Perlakuan (%)
Asam Stearat 5 5
Setil Alkohol 3 3
IPM 3 3
TEA 0.4 0.4
Metil Paraben 0.2 0.2
Propil Paraben 0.1 0.1
GMS 2 2
Propilen Glikol 15 15
BHT 0.1 0.1
Ekstrak Kolagen - 5
Kasar
Akuades Hingga 100 Hingga 100

Pada pembuatan sediaan krim, pertama-tama bahan yang akan digunakan


ditimbang terlebih dahulu. Fase minyak yang terdiri dari asam asetat, setil
alkohol, propilpraben, dan GMS dimasukkan kedalam cawan porselen lalu dilebur
dengan penangas uap hingga meleleh dan tercampur rata kemudian didiamkan
hungga 50°C. Selanjutnya, BHT ditambahkan kedalam fase minyak dan diaduk
6

hingga rata. Sementara itu, TEA dilarutkan kedalam 10 mL air. Campuran fase
minyak dengan BHT dimasukkan secara bersamaa dengan TEA kedalam beaker
glass kemudian diaduk menggunakan homogenizer dengan kecepatan 3.500 rpm
hingga terbentuk korpus emulsi. Selanjutnya, IPM dimasukkan kedalam korpus
emulsi dan diaduk hingga homogen. Metilparaben dilarutkan terlebih dahulu
kedalam propilen glikol kemudian campuran tersebut dimasukkan kedalam
emulsi. Ekstrak kolagen kasar yang berasal dari teripang budidaya didispersikan
kedalam 50 mL air kemudian dimasukkan kedalam emulsi dan diaduk hingga
homogen. Sisa air ditambahkan kedalam emulsi dan diaduk hingga homogen.
Sediaan krim yang sudah jadi didinginkan hingga mencapai suhu ruang untuk
kemudian dimasukkan kedalam wadah. Sediaan tersebut merupakan sediaan
perlakuan atau disebut sediaan krim ekstrak kolagen kasar. Pembuatan krim
kontrol atau disebut sediaan krim plasebo dilakukan dengan cara yang sama hanya
saja tidak ditambahkan dengan ekstrak kolagen kasar teripang tetapi ditambahkan
sisa air.

2.2.5 Uji Stabilitas


Nilai kestabilan suatu sediaan kosmetik dalam waktu yang singkat dapat
diperoleh melalui uji stabilitas dipercepat. Pengujian ini dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi yang diinginkan dalam waktu yang sesingkat mungkin
dengan cara menyimpan sampel pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat
terjadinya perubahan yang biasanya terjadi pada kondisi normal.

2.2.5.1 Uji stabilitas pada Suhu 4 ± 2°C, 28 ± 2°C dan pada suhu 40 ± 2°C
Uji ini biasanya digunakan untuk menguji kemasan produk. Jika terjadi
pada perubahan produk dalam kemasan karena pengaruh kelembaban, maka hal
ini menandakan bahwa kemasannya tidak memberikan perlindungan yang cukuo
terhadap atmosfer. Pengujian ini dilakukan dengan cara sediaan krim ekstrak
kolagen kasar dan krim plasebo disimpan pada suhu 4 ± 2°C, 28 ± 2°C dan pada
suhu 40 ± 2°C. Kemudian diukur parameter kestabilannya seperti bau, warna, pH
serta dievaluasi selama 12 minggu dengan pengamatan 2 minggu.
7

2.2.5.2 Cycling Test


Uji ini digunakan sebagai simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun
bahan setiap hari. Maka uji ini dilakukan pada suhu dan kelembaban pada interval
waktu tertentu sehingga produk dalam kemasan akan mengalami stres yang
bervariasi daripada stres statis. Sediaan krim ekstrak kolagen kasar dan krim
plasebo disimpan pada suhu 4 ± 2°C selama 24 jam lalu dipindahkan kedalam
lemari uji stabilitas bersuhu 40 ± 2°C selama 24 jam, waktu selama penyimpanan
dua suhu tersebut dianggap satu siklus. Cycling test dilakukan sebanyak 6 siklus
kemudian dilihat perubahan warna dan apakah terjadi pemecahan emulsi atau
tidak.

2.2.5.3 Uji Mekanik (sentrifugal test)


Uji ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya pemisahan fase dari emulsi.
Masing-masing sediaan krim disentrifugasi pada kecepatan 3.800 rpm selama 5
jam kemudian diamati apakah terjadi pemisahan fase dari emulsi. Hal ini
dilakukan karena perlakuan tersebut sama besarnya dengan pengaruh gaya
gravitasi terhadap penyimpanan krim selama setahun (Djadjadisastra, 2004).

2.2.6 Pepsin
Enzim pepsin merupakan agen biologi dalam mengekstraksi kolagen dari
teripang. Kandungan protein dan kolagen yang tinggi dari teripang diuraikan
dapat diuraikan oleh enzim ini. Ektrak kasar dibutuhkan oleh enzim pepsin dalam
metode pepsin-solubilized collagen untuk purifikasi kolagen dalam teripang.

2.3 Pemanenan Produk


2.3.1 Jenis
Terdapat 19 jenis kolagen. Jenis I, II dan III merupakan kolagen interstisiil
atau kolagen fibriler. Kolagen tipe IV, V dan VI merupakan bentuk non fibriler
dan terdapat di jaringan interstisiil dan membran basalis. Kolagen tipe VII adalah
sebuah homopolimer yang memiliki rantai lebih panjang 467 nm atau lenih,
terletak pada lamina basalis dari dermal-dermal junction.
8

Jenis kolagen yang dihasilkan untuk pembuatan produk pelembab kulit


yaitu jenis kolagen fibriler atau kolagen tipe I, II dan III. Kolagen tipe I terdiri
dari tiga rantai α polipeptida. Dua rantai α polipeptida disebut tipe 1 dan rantai α
polipeptida yang ketiga adalah tipe 2 (αl[I]2α1[I]). Kolagen tipe II terdiri dari tiga
rantai polipeptida 1(αl[II]3). Kolagen tipe III juga terdiri dari tiga rantai α
polipeptida 1 (αl[III]3).

2.3.2 Karakteristik
Menurut Cui et al., (2007), kolagen dari teripang tersusun dari 3 rantai α
polipetide tipe 1 (αl[1]3), dimana rantai αl mempunyai rantai αl pada kolagen tipe
1 invertebrata. Hasil karakterisasi asam amino yang dilakukan oleh Trotter et al.
(1995) dan Cui et al. (2007) menunjukkan bahwa tubuh teripang mengandung
glisin, prolin, hidroksilisin dan hidroksiprolin yang tinggi sehingga kolagen
merupakan utama dari tubuh teripang.
Untuk mengetahui karakterisasi kolagen dari teripang umumnya
menggunakan metode SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate-Polyacryamide Gel
Electrophoresisi). Metode tersebut merupakan teknik elektroforesisi yang
menggunakan gel poliakriilamida untuk memisahkan protein bermuatan
berdasarkan perbedaan tingkat migrasi dan berat molekulnya (BM) daam sebuah
medan listrik. Saito et al. (2002) dan Cui et al. (2007) menggunakan metode SDS
PAGE untuk mengidentifikasi komposisi asam amino yang terdapat pada sampel
ekstrak kolagen sehingga dapat diketahui jenis kolagen yang terkandung dalam
sampel tersebut. Metode SDS PAGE tidak dapat mengukur kadar kolagen dalam
sampel. Presentase kandungan kolagen yang terdapat pada ekstrak kolagen kasar
beum pernah dilakukan sehingga tidak ada pembanding untuk menentukan besar
kecilnya kadar kolagen yang diperoleh.

2.4 Purifikasi Produk


2.4.1 Alasan Purifikasi
Purifikasi adalah metode untuk mendapatkan komponen bahan alam murni
bebas dari komponen kimia lain yang tidak dibutuhkan. Untuk tingkatan
9

kemurnian (purity) suatu struktur senyawa tertentu, kemurnian bahan harus 95-
100%. Maka dalam purifikasi atau pemurnian untuk mendapatkan kolagen dari
teripang dibutuhkan ekstrak kasar. Dalam hal ini purifikasi atau pemurnian
dilakukan untuk mendapatkan kolagen murni.

2.4.2 Teknik Purifikasi


Kolagen adalah protein yang berlimpah dalam jaringan hewan dan
memiliki berbagai aplikasi dalam industri biomedis, farmasi, kosmetik, dan
makanan (Kittiphattanabawon et al., 2005). Dinding tubuh teripang mengandung
sekitar 70% protein terdiri dari serat kolagen yang sangat tidak larut (Saito et al.,
2002). Hal ini berbeda dari protein lain dalam molekul terdiri dari tiga rantai
polipeptida (α-rantai), yang membentuk struktur heliks tiga yang unik. Dalam
jaringan hewan lebih dari 20 kolagen secara genetik berbeda ada. Kolagen tipe I,
II, III, V dan XI (fibril kolagen) yang merakit diri menjadi fibril lintas lurik D-
periodik (di mana D = 67 nm), periodisitas aksial karakteristik kolagen, dan secara
kolektif adalah kolagen yang paling banyak ditemukan dalam vertebrata.
(Lingham-Soliar dan Wesley-Smith, 2008;. Chapman et al, 1990). Di antara
semua kolagen fibril, kolagen tipe I adalah yang paling banyak ditemukan di
vertebrata (Kadler et al., 1996).
Tiga metode yang dikenal untuk menghasilkan produk ektraksi kolagen
yaitu neutral salt-solubilized collagen, acid-solubilized collagen dan pepsin-
solubilized collagen (Zhang et al., 2007). Pada teripang diperoleh hasil kolagen
yang tinggi (Liu et al., 2007). Berbagai senyawa bioaktif baru-baru ini
diidentifikasi dari teripang, salah satunya pepsin-solubilized collagen (PSC) dari
teripang untuk meningkatkan proliferasi keratinost manusia (Park et al, 2011).
Teknik acid-solubilized adalah untuk membebaskan tropocollagen monomer
dengan telopeptides utuh (gross dan kirk, 1958).
Kolagen murni didapatkan dari proses purifikasi. Proses purifikasi
dilakukan dengan beberapa metode. Saito et al (2002) melakukan purifikasi
kolagen dari teripang dengan cara menambahkan 1000 mL larutan NaOH (0,1 M)
pada 1 gram ekstrak kolagen kasar yang kemudian disentrifugasi dengan
10

kecepatan tinggi untuk memperoleh kolagen murni. Cui et al. (2007) melakukan
purifikasi kolagen dari teripang dengan cara menambahkan larutan NaOH (0,1 M)
pada ektrak kolagen kasar dengan perbandingan 1:20 dan dilanjutkan dengan
penambahan asam asetat (0,5 M) untuk memperoleh pepsin-solubilized collagen
(PSC).
Matsumura et al (1973) awalnya menunjukkan bahwa seluruh kolagen
fibril bisa terisolasi dari timun laut atau teripang dan bintang laut oleh paparan
jaringan solusi disaggregating yang mengandung 0,5 M NaCl, 0,2 M 2-
mercaptoethanol, 0,05 M EDTA, 0,1 M Tris HCl, pH 8,0. Mastumara juga
melaporkan bahwa EDTA adalah perlu bagi disaggregate jaringan teripang.
Kolagen PSC diisolasi dengan maksimal 65% dari berat kering dasar, yang
lebih tinggi dari isolater kolagen PSD dari dinding tubuh teripang (Stichopus
japonicas) yang 26,6% (Taman et al. 2011) dan dari bodywall raksasa teripang
merah 20% (Liu et al., 2009). Hasil tinggi dari PSC kolagen dari dinding tubuh
teripang bisa disebabkan oleh dinding tubuh tebal spesies ini, yang mungkin
mengandung jumlah tinggi protein kolagen. Silang hubungan tersebut bisa
dihilangkan dengan pepsin, yang menghasilkan pembentukan atelocollagen (tanpa
Telopeptide) tanpa mengubah integritas triple helix (Liu et al., 2009). Dalam
penelitian kami pepsin babi digunakan karena tidak tersedianya pepsin dari
sumber lain. Kolagen PSC adalah bentuk dimurnikan dan terlarut kolagen mentah.
Kolagen dari dinding tubuh tidak dapat dilarutkan oleh terbatas pepsin pencernaan
sama sekali. Hal ini mungkin disebabkan terjadinya bahan non-kolagen
glikosaminoglikan dan lainnya, yang secara luas didistribusikan antara serat
kolagen bundel dan antara serat kolagen (Kariya et al., 1990). Di sisi lain, itu
benar-benar tersebar ke fibril oleh pengobatan dengan larutan disaggregating
untuk memberikan suspensi sangat kental. Setelah pengobatan dengan 0,1 M
NaOH, rute fibril terpilah ditemukan harus benar-benar dilarutkan oleh pepsin
pencernaan dengan pengadukan kuat untuk membentuk larutan yang sangat kental
dan kolagen terlarut dengan mudah diisolasi dengan curah hujan selektif dengan
0,8 M NaCl. Pengaruh pepsin pada solubilisasi dari dinding tubuh kolagen adalah
sangat tergantung pada tingkat pengadukan, di bawah lembut aduk sekitar 90%
11

dari fibril terpilah tetap utuh (Saito et al., 2002). Kolagen yang dihasilkan dengan
menggunakan metode pepsin-solubilized collagen (PSC) lebih tinggi (20,8%)
dibandingkan hasil kolagen dengan menggunakan metode acid-sulobilized
collagen (ASC) yaitu 3,4% (Liu et al., 2009). Perbedaan hasil menunjukkan
bahwa merantaikan lintas-hubungan yang ada di wilayah Telopeptide dari
kolagen, yang membuat kolagen kurang larut dalam kondisi asam. Oleh karena
itu, peningkatan hasil dari kolagen dari kulit raksasa teripang merah diamati
menggunakan prosedur pepsin pencernaan (Liu et al., 2009).
Selama purifikasi kolagen ini diperlukan untuk menghilangkan komponen
antigenik protein, diwakili oleh fragmen Telopeptide daerah kolagen tipe I.
Purifikasi tersebut lebih efisien setelah treatmen dengan pepsin (Xiong, 2008).
Dalam penggunaan atelocollagen komersial (tanpa telopeptides) lebih disukai
karena terkait antigenisitasnya lintas spesies dari determinant terletak di
telopeptides dari hewani kolagen (Lynn et al., 2004). Namun, kolagen PSC
diambil dari sumber hewani hanya menyajikan tingkat kecil antigenisitas, dan
karena itu dianggap diterima untuk teknik jaringan pada manusia (Xiong, 2008).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Teripang merupakan biota laut yang potensial. Keberadaaan kandungan
aktif teripang sangat kaya. Kolagen merupakan salah satu kandungan aktif dalam
teripang dimana jumlah kandungannya merupakan kandungan paling banyak
diantara kandungan aktif lainnya. Kolagen dalam teripang dapat dimanfaatkan
sebagai produk farmasetika. Kolagen kolagen dari teripang tersusun dari 3 rantai α
polipetide tipe 1 (αl[1]3). Kandungan kolagen dalam teripang dapat dimanfaatkan
sebagai pembuatan produk pelembab kulit. Jenis kolagen yang dihasilkan untuk
pembuatan produk pelembab kulit yaitu jenis kolagen fibriler yang terdiri dari tiga
rantai α polipeptida.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anggi, Wanda. 2012. Uji Manfaat Ekstrak Kolagen Kasar Dari Teripang
Stichopus Hermanni Sebagai Bahan Pelembab Kulit. Depok : Universitas
Indonesia.

Cui, F., Xue, C., Li, Z., Zhang, Y., Dong, P., Fu, X., and Gao, X. 2007.
Characterization and Subunit Composition of Collagen from the Body
Wall od]f Sea Cucumber Stichopus japonicus.

Djadjadisastra, J. 2004. Cosmetic Stability. Departemen Farmasi Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Depok :
Seminar Setengah Hari HIKI.

Pasten, Consuelo., Rosa, Rey., Ortiz, Stephanie., Gonzales, Sebastian., and


Garcia-Arraras, Jose E. 2012. Characterization of Proteolytic Activities
During Intestinal Regenaration of the Sea Cucumber, Holothuria
glaberrima. The International Journal of Development Biology.

Siddiqui, Y. D., Arief, E. M., Yusoff, A., Suziana, A. H., and Abdullah, S.Y.
2013. Isolation of Pepsin-Solubilized Collagen (PSC) from Crude
Collagen Extracted from Body Wall of Sea Cucumber (Bohadschia spp).
Malaysia : Kelantan.

YD, Siddiqui., Em, Arief., A, Yusuf., SSA, Hamid., TY, Norami., and MYS,
Abdullah. 2013. Extraction, Purification and Physical Characterization of
Collagen from Body Wall of Sea Cucumber Bphadschia biviatta. Malaysia
: kelantan.

13