Anda di halaman 1dari 4

UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA

FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
Jl. Kusumanegara 121 Yogyakarta Telp./Fax. (0274) 542224
www.mm.ustjogja.ac.id, e-mail : mm@ustjogja.ac.id

UJIAN TENGAH SEMESTER II


SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2016/2017

Mata Ujian : ETIKA BISNIS


Mata Ujian : ETIKA BISNIS
KERAKYATAN
KERAKYATAN
Hari/tanggal : KAMIS, 30 MARET 2017
Hari/tanggal : KAMIS, 30 MARET 2017
Waktu : 60 JAM
Waktu : 60 JAM
Dosen Penguji : Drs. SUTOYO, M.Si.
Dosen Penguji : Drs. SUTOYO, M.Si.
Sifat Ujian : TAKE HOME
Sifat Ujian : TAKE HOME
PETUNJUK :

1. Berdoalah Sebelum Mengerjakan Soal.


2. Cermati Seluruh Soal Yang Ada.
3. Soal diberi nama peserta dan dikembalikan bersama jawaban ujian.
4. Perhatikan waktu yang disediakan untuk mengerjakan.
5. Kerjakan secara pribadi yang mencerminkan kepribadian sebagai orang yang “credible”, segala
bentuk kecurangan langsung dicatat oleh pengawas.

Nama Mahasiswa :

Soal Kasus 1 (Kasus Bulog)

Bulog singkatan dari Badan Urusan Logistik lahir pada era Orde Baru di masa pemerintah
Soeharto. Ide awal pembentukan lembaga ini sebenarnya sangat mulia. Fungsi utama yang
dibebankan pemerintah ke Bulog adalah mengatur pengadaan dan distribusi barang-barang yang
menjadi kebutuhan pokok rakyat, terutama beras. Ada tiga tujuan pokok yang sekaligus ingin
dicapai oleh pemerintah melalui Bulog, yaitu: (1) pembelian gabah dari petani dengan harga
yang pantas sehingga petani tidak dirugikan saat petani memasuki masa panen; (2) menyalurkan
kelebihan produksi beras dari petani ke daerah-daerah yang masih mengalami defisit produksi
beras; dan (3) melakukan impor beras dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya bila
diperlukan, misalnya pada saat paceklik dan menyalurkannya kepada masyarakat melalui operasi
pasar.
Sebagaimana diketahui, Presiden Soeharto sangat peduli dengan nasib dan kesejahteraan
rakyat kecil yang kala itu sebagaian besar pekerjaan rakyat Indonesia masih sebagai petani.
Mengingat pola produksi hasil pertanian (terutama beras) bersifat musiman, sering kali para
petani dirugikan oleh jatuhnya harga gabah sampai tingkat yang sangat tidak wajar pada saat
menjelang panen raya. Kejatuhan harga tersebut disebabkan oleh dua hal, yaitu: (1) persediaan
jnpermintaan dan penawaran); atau (2) karena ada permainan dari tengkulak bermodal besar
yang mampu mempermainkan harga sehingga petani sebagai produsen beras selalu saja
dirugikan. Mengingat sebagaian besar makanan pokok rakyat Indonesia adalah beras, maka
untuk memotivasi para petani sekaligus untuk mencanangkan swasembada beras, pemerintah
melalui Bulog diintruksikan untuk membeli semua gabah petani saat panen raya dengan harga
yang pantas sehingga penghasilan petani dapat tercukupi untuk hidup layak. Sementara itu, untuk
menekan harga beras di daerah-daerah defisit beras, Bulog akan menyalurkan beras yang dibeli
dari petani di daerah-daerah surplus beras ke daerah-daerah defisit dengan patokan harga tidak
terlalu tinggi sehingga rakyat di daerah-daerah defisit ini mampu membeli beras untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila perlu, saat cadangan menipis terutama saat-saat paceklik,
Bulog akan mengimpor beras dan menjual kepada rakyat dengan harga yang terjangkau oleh
rakyat, termasuk kepada para petani yang telah kehabisan persediaan berasnya. Dalam kurun
waktu yang cukup lama, Bulog menjalankan fungsi ini sehingga hasilnya dapat dirasakan.
Dengan adanya Bulog, Indonesia sempat menjadi negara swasembada beras dan bahkan sempat
menjadi negara produsen pengekspor beras. Selain itu, stok dan harga beras juga relatif stabil.
Dengan keberhasilan dalam menjalankan fungsi pokok tersebut, petani beras masih dapat
menikmati keuntungan dari hasil produksinya sementara rakyat Indonesia selaku konsumen
yang sebagaian besar makanan pokonya adalah beras tidak dirugikan.
Namun belakangan ini fungsi Bulog mulai melenceng dan perannya bukan saja tidak lagi
dirasakan oleh rakyat, tetapi justru merugikan rakyat. Beberapa fakta yang dapat disebutkan
antara lain: (1) perubahan bentuk hukum Bulog dari lembaga pemerintahan yang murni bersifat
sosial menjadi Perusahaan Umum (Perum), yang tentunya sebagai perusahaan ada target
keuntungan yang harus dicapai; (2) terjadinya berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan
fungsi Bulog yang dilakukan oleh oknum pejabat tinggi di Bulog, termasuk oleh para mantan
Ketua Bulog (kasus Beddu Amang, Rahardi Ramelan, dan Widjanarko Puspoyo) yang kasusnya
telah dan sedang digelar di pengadilan; (3) Fungsi Bulog mulai bergeser dari fungsi awalnya
sebagai pengendali stok dan harga beras, padahal masalah beras berkaitan dengan kehidupan
para petani dan konsumen yang sebagaian besar tergolong penduduk berpenghasilan menengah
ke bawah. Bulog kini lebih berorientasi mencari keuntungan, misalnya dengan mengimpor
daging mahal dari luar negeri yang sebenarnya daging tersebut lebih berkaitan dengan kebutuhan
masyarakat golongan kaya.
Akibatnya sudah dapat dirasakan saat ini. Oknum pejabat tertentu dan kroninya kaya raya
dari hasil korupsi, sementara negara kita kembali menjadi pengimpor beras terbesar. Ketahanan
pangan juga menjadi rentan karena petani tidak lagi bergairah untuk memproduksi padi akibat
ulah oknum pejabat Bulog yang sering kali menolak untuk membeli gabah petani. Kalaupun
Bulog bersedia membeli gabah petani, Bulog membelinya dengan harga yang tidak lagi
menguntungkan para petani. Maka tidak heran bila saat ini harga beras terus bergerak naik tak
terkendali sehingga sebagaian besar rakyat tidak mampu lagi membeli beras.

Pertanyaan :
1) Setujukah Anda bahwa awal pembentukan Bulog sebenarnya merupakan salah satu wujud
implementasi sistem ekonomi pancasila? Jelaskan jawaban Anda dengan mengemukan ciri
ciri ekonomi pancasila!
2) Mengapa peran Bulog saat ini tidak lagi dirasakan manfaatnya oleh sebagaian besar rakyat
Indonesia. Jelaskan jawaban Anda dikaitkan dengan berbagai konsep sistem ekonomi dan
konsep kesadaran!
3) Coba berikan pemikiran Anda, apakah menurut Anda keberadaan Bulog masih diperlkan?
4) Adakah isue etika dalam kasus di atas? Teori Etika yang mana yang relevan untuk membahas
kasus di atas? Jelaskan!

Sumber: Diolah dari berbagai sumber media massa.

Soal Kasus 2 (Kasus Kerusakan lingkungan)

Pemerintah dinilai “gelap mata” terhadap dampak kerusakan lingkungan dengan memberikan ijin
penambangan di wilayah hutan Toka Tindung, Kabupaten bitung, Sulawesi Utara pada awal
Maret 2008. Beberapa warga setempat dalam konferensi pers di Jakarta menyampaikan hal itu.
Selama ini tidak ada perhatian pemerintah terhadap kerugian warga akibat rusaknya lingkungan
yang disebabkan oleh kegiatan persiapan penambangan. Seumur-umur, sampai 35 tahun saya
tidak pernah mengalami banjir di kampung ini, baru kali ini terjadi banjir setelah hutan di atas
kampung kami dibabat untuk penambangan”, kata David Katang, salah seorang warga desa Batu
Putih Atas. Enam desa di wilayah lingkar rencana tambang PT Meares Soputan Mining itu
mengalami musibah banjir lumpur untuk pertama kalinya pada 11 Maret 2007. Enam desa itu
adalah Likupang Satu, Likupang Dua, Kampung Ambon, Rinondoran, Pinenek, dan desa Maen.
Perusahaan tambang ini sudah membangun tiga buah dam, fasilitas pabrik, perkantoran, dan
dermaga. Di hulu, perusahaan ini juga memotong dan membelokkan arus sungai Budo. Kapasitas
penampungan limbah bijih emas direncanakan sepuluh juta ton, sedangkan usia tambang hanya
6 tahun. Akibat kegiatan ini, terjadi banjir lumpur sehingga nelayan tidak dapat lagi memetik
kepiting di hutan bakau karena ketika hujan ada genangan lumpur.

Sumber: Kompas, 5 April 2008 (dimodifikasi)

1) Apakah ada hubungan antara etika dengan lingkungan hidup? Jelaskan pendapat Anda!
2) Sebutkan konsep-konsep etika apa saja yang yang relevan bisa diterapkan untuk kasus
lingkungan di atas?
3) Benarkah pemerintah tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan? Untuk mendukung
pendapat Anda berikan fakta-fakta.
4) Dalam kasus di atas apakah PT Meares Soputan Mining sudah menggunakan analisis dampak
lingkungan? Berikan pendapat Anda!
5) Apa ada hubungan analisis dampak lingkungan di atas dengan analisis stakeholders dan
Corporate Social Responsibility? Jelaskan!
6) Bila ingin mengkaitkan suatu proses keputusan atau tindakan dengan prinsip-prinsip etika
binis atau kode etik profesi, tunjukan dan jelaskan prinsip-prinsip mana atau unsur kode etik
yang mana yang relevan dengan kasus di atas?
7) Karena perusahaan dan pemerintah tidak lagi peduli terhadap keluhan masyarakat, maka
warga setempat kemudian menginformasikan keluhannya ke pihak luar melalui media massa
(jumpa pers). Apa nama istilah yang tepat terhadap tindakan warga setempat semacam ini?
Jelaskan!

Selamat mengerjakan semoga sukses