Anda di halaman 1dari 6

FREKUENSI NAFAS NORMAL MENURUT USIA

UMUR FREKUENSI (X/Mnt)


Neonatus 30 – 60

1 – 6 bulan 30 – 50
6 – 12 bulan 24 – 46
1 – 4 tahun 20 – 30
4 – 6 tahun 20 – 25
6 – 12 tahun 16 – 20
 12 tahun 12 - 20

TEKANAN DARAH NORMAL MENURUT USIA


UMUR SISTOLIK (mmHg) DIASTOL
Neonatus 60 – 90 20 – 60
Bayi 87 – 105 53 – 66
Toddler 95 – 105 53 – 66
Usia sekolah 97 – 112 57 – 71
Remaja 112 – 120 66 - 80

FREKUENSI NADI NORMAL MENURUT USIA


UMUR FREKUENSI
< 1 TAHUN 110 – 60
2 – 5 TAHUN 95 – 140
5 – 12 TAHUN 80 – 120
 12 Tahun 60 – 100
NILAI GCS
EYE NILAI
4 SPONTAN
3 TERHADAP SUARA
2 TERHADAP NYERI
1 TIDAK ADA RESPON

MOTORIK NILAI
6 IKUT PERINTAH
5 LOKALISASI NYERI
4 MENGHINDARI SAKIT
3 FLEKSI ABNORMAL
2 EKSTENSI ABNORMAL
1 TIDAK ADA RESPON

VERBAL NILAI
5 ORIENTASI BAIK
4 MENANGIS, TANGGAP
3 REWEL
2 MENANGIS,
1 DISORIENTASI
TIDAK ADA RESPON

RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) USIA < 1 – 8


LOKASI KEDALAMAN TEKNIK PENOLONG VENTILASI :
COMPRESI
1 jari 1/3 – ½ dari 2 ibu jari 1 penolong 2 : 20
dibawah grs ketebalan dada overlapping / 2 orang
imajir (< 1 (1,3 – 2,5 cm) berdampingan 2 : 15
tahun) atau jari manis
telunjuk
berdampingan

1/3 – ½ dari 1 tangan atau 2 1 orang 2 : 30


ketebalan dada tangan 2 orang 2 : 15
2-3 jari diatas (1,3 – 2,5 cm)
px
(prosesus
xypoideus)
(1 – 8 tahun) 3 – 5 cm 2 tangan 1 orang 2 : 30
overlapping 2 orang

2 – 3 jari
diatas px ( >
8 tahun )

Sumber :http://edisuhedi-edi.blogspot.co.id/2012/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Suhu normal anak : 36,3 – 37,7 derajat Celcius Suhu normal bayi : 36,1 – 37,7 derajat
Celcius Suhu normal dewasa : 36,5 – 37,5 derajat celcius
Sumber: Suhu Tubuh Normal Manusia (Bayi – Dewasa) - Mediskus

B. Pemeriksaan Suhu Tubuh

Pemeriksaan suhu tubuh akan memberikan tanda/hasil suhu inti yang secara ketat dikontrol
karena dapat dipengaruhi oleh reaksi kimiawi. Pemeriksaan suhu tubuh dapat dilakukan di
beberapa tempat, yaitu:

a. Aksila/Ketiak, dilakukan selama 5-10 menit (Eoff dan Joyce, 1981


b. Oral/mulut, dilakukan selama 2 menit (Baker et.al, 1984)
c. Rectal/Anus, dilakukan selama 2 menit (Kucha, 1972)
d. Timpanik/Telinga, dilakukan selama 2 detik (Erickson et.al,1991)

Nilai standar untuk mengetahui batas normal suhu tubuh manusia dibagi menjadi empat yaitu :

a. Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C. Untuk mengukur suhu hipotermi diperlukan
termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25 derajat
Celcius.
b. Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36,5 - 37,5°C
c. Febris / pireksia / panas, bila suhu tubuh diatas 37,5 - 40°C
d. Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

a. Kecepatan metabolisme basal


Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang
diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Suhu tubuh sangat terkait dengan laju metabolisme.

b. Rangsangan saraf simpatis


Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat.
Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan
untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya,
rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi
epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.

c. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan (growth hormone) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme
sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.

d. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga
peningkatan kadar tiroksin dapat memengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.

e. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria (testosterone)dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15%
kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih
bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan
suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.

f. Demam (peradangan)
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap
peningkatan suhu 10°C.

g. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena
di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian,
orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu,
individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak
merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga
kecepatan jaringan yang lain.

h. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot
/ organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3
– 40,0 °C.

i. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme
regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi
dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit
juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.

j. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau
berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat memengaruhi
suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui
kulit. Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh
darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang
mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi
sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu
tubuh.
C. Pemeriksaan Frekuensi Nadi

Pemeriksaan denyut nadi merupakan pemeriksaan pada pembuluh nadi atau arteri, dengan cara
menghitung kecepatan/loncatan aliran darah yang dapat teraba pada berbagai titik tubuh melalui
perabaan. Pemeriksaan nadi dihitung selama satu menit penuh, meliputi frekuensi, keteraturan
dan isi. Selain melalui perabaan dapat juga diperiksa melalui stetoskop.

Pemeriksaan denyut nadi bertujuan untuk mengetahui keadaan umum pasien, mengetahui
integritas system kardiovaskuler, dan mengikuti perkembangan jalannya penyakit.

Titik denyut, misalnya: denyut arteri temporalis dan arteri frontalis pada kepala, arteri karotis
pada leher, arteri brachialis pada lengan atas/siku bagian dalam, arteri radialis dan ulnris pada
pergelangan tangan, arteri poplitea pada belakang lutut, dan arteri dorsalis pedis atau arteri
tibialis posterior pada kaki.

Frekuensi denyut nadi sangat bervariasi, tergantung jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan usia.
Demikian juga halnya waktu berdiri, sedang makan, mengeluarkan tenaga atau waktu emosi.

Batasan dan Klasifikasi (Whaley dan Wong, 1993)

Bayi yang baru dilahirkan (1-3 bulan): 120-140 kali/menit, bayi 4 bulan-2 tahun: 80-150
kali/menit, anak 2-10 tahun: 70-110 kali/mnit, anak anak >10 tahun: 55-90 kali/menit, dewasa:
60-90 kali/menit, dan usia lanjut yang sehat: 60/100 kali/menit.

Nadi yang cepat disebut tathicardia atau pulsus frekuens, dan nadi yang lambat disebut
bradicardia atau pulsus rarus. Pulsus frekuens dijumpai pada demam tinggi, tirotoksikosis,
infeksi streptokokus, difteria dan berbagai jenis penyakit jantung. Nadi yang lambat terdapat
pada penyakit miksudema (kekurangan tiroksin), penyakit kuning dan tifoid. Irama nadi sifatnya
teratur pada orang sehat, akan tetapi nadi yang tidak teratur belum tentu abnormal. Aritmia sinus
adalah gangguan irama nadi, dimana frekuensi nadi menjadi cepat pada saat inspirasi dan
melambat waktu ekspirasi. Hal demikian adalah normal dan mudah dijumpai pada anak-anak.
Jenis nadi tidak teratur lainnya adalah abnormal.

D. Pemeriksaan Frekuensi Pernafasan

Pemeriksaan frekuensi pernafasan dilakukan dengan menghitung jumlah pernafasan, yaitu


inspirasi yang diikuti ekspirasi dalam satu menit penuh. Selain frekuensi, pemeriksa juga menilai
kedalaman dan irama gerakan ventilasi (jenis/sifat pernafasan). Selain itu, pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui keadaan umum klien, mengikuti perkembangan penyakit, dan
membantu menegakkan diagnosa.

Jenis Pernafasan

1. Chyne Stokes: pernafasan yang sangat dalam yang berangsur-angsur menjadi dangkal
dan berhenti sama sekali (apnoe) selama beberapa detik untuk kemudian menjadi dalam
lagi. (keracunan obat bius, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit ginjal kronis, dan
perdarahan pada susunan saraf pusat)
2. Biot : pernapasan dalam dan dangkal yang disertai masa apnoe yang tidak teratur.
(meningitis)
3. Kusmaul : pernapasan yang inspirasi dan ekspirasi sama panjangnya dan sama dalamnya,
sehingga keseluruhan pernafasan menjadi lambat dan dalam. (keracunan alkohol dan obat
bius, koma, diabetes, uremia

Batasan Normal

Batasan normal beraneka ragam tergantung usia. Pada bayi: 30 – 60 kali/menit, anak-anak: 20 –
30 kali/menit, remaja: 15 – 24 kali/menit, dan dewasa: 16 – 20 kali/menit.

Jenis Ketidaknormalan Bunyi Pernafasan

1. Crackel (bunyi nafas seperti retakan/pecahan)


2. Friction (bunyi nafas seperti ada tarikan dinding dada ke dalam)
3. Grunting (bunyi nafas seperti rintihan)
4. Ronchi (bunyi nafas seperti terengah-engah)
5. Stridor (bunyi nafas kasar)
6. Wheezing (bunyi nafas seperti siulan).

Sumber: https://oshigita.wordpress.com/2013/10/16/pemeriksaan-tanda-tanda-vital-vital-
sign/