Anda di halaman 1dari 24

BAB II

EFEKTIVITAS MINDFULNESS-BASED COGNITIVE THERAPY (MBCT)

DALAM TATALAKSANA GANGGUAN HIPOKONDRIASIS

MENURUT TINJAUAN ILMU KEDOKTERAN

2.1. GANGGUAN HIPOKONDRIASIS

2.1.1. Definisi

Hipokondriasis didefinisikan sebagai kekhawatiran berlebihan bahwa

penderita mengalami penyakit serius dan preokupasi morbid terhadap tubuh atau

keadaan sehat, yang tidak sebanding dengan penyakit medis sebenarnya, serta

yang muncul hampir setiap saat (Benjamin dan Virginia, 2010). Istilah

hipokondriasis berasal dari terminology medis kuno yang menyatakan bahwa

keadaan tersebut disebabkan oleh gangguan fisik nyata pada organ-organ di

bawah (hipo-) tulang rusuk (kondrika) dan mencerminkan seringnya keluhan

abdomen yang dimiliki penderita (Creed dan Barsky, 2004).

Hipokondriasis disebabkan dari kesalahan interpretasi penderita yang pada

dasarnya tidak realistik dan tidak akurat terhadap gejala atau sensasi fisik yang

dialami, yang menyebabkan preokupasi dan ketakutan bahwa mereka menderita

penyakit yang serius, kendati pun tidak ditemukan penyakit medis yang diketahui.

Preokupasi pasien menyebabkan penderitaan yang bermakna bagi pasien dan

mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi di dalam peranan personal,

sosial, dan pekerjaan (Welch et.al, 2009).

1
2.1.2. Epidemiologi

Suatu penelitian terbaru menunjukan bahwa prevalensi hipokondriasis

dalam enam bulan terakhir mencapai 4-6% dari keseluruhan populasi medis

umum, namun demikian angka presentase ini dapat mencapai 15%. Laki-laki dan

wanita mempunyai perbandingan yang sama untuk menderita hipokondriasis.

Walaupun onset penyakit dapat terjadi pada keseluruhan tingkatan umur,

hipokondriasis paling sering terjadi pada umur 20-30 tahun (Creed dan Barsky,

2004).

Gangguan hipokondrial primer lebih sering terjadi pada orang-orang

golongan sosial ekonomi lebih rendah, orang muda, lansia dan bangsa Yahudi.

Hipokondriasis juga didapatkan pada 3% mahasiswa kedokteran terutama pada

dua tahun pertama, namun keadaan ini hanyalah hipokondriasis yang bersifat

sementara. Beberapa bukti menyatakan bahwa diagnosis hipokondriasis lebih

sering pada kelompok kulit hitam dibandingkan kulit putih. Status perkawinan

tidak mempengaruhi diagnosis (Benjamin dan Virginia, 2010).

2.1.3. Etiologi

Menurut DSM-IV-TR, gejala yang timbul pada gangguan hipokondriasis

merupakan misinterpretasi pada gejala fisik yang dirasakan. Banyak data

menunjukkan bahwa penderita hipokondriasis memperkuat dan memperberat

sensasi somatik yang mereka rasakan. Penderita mempunyai batasan toleransi

yang rendah terhadap ketidak nyamanan fisik. Sebagai contoh, pada individu

normal merasakan stimulus berupa tekanan pada perut, sementara penderita

hipokondriasis menganggap stimulus tersebut sebagai suatu nyeri pada perut.

2
Penderita hipokondriasis menginterpretasikan sensasi pada tubuh mereka secara

salah dan selalu teringat oleh sensasi tersebut karena kesalahan skema kognitifnya

(Benjamin dan Virginia, 2010).

Teori yang lain mengemukakan bahwa hipokondriasis adalah suatu sifat yang

dipelajari sejak masa kanak-kanak dimana pada anggota keluarganya sering

terpapar oleh suatu penyakit (Creed dan Barsky, 2004). Etiologi lain yang

diajukan adalah bahwa hipokondriasis adalah bagian dari gangguan depresi atau

obsesif-kompulsif dengan fokus gejala pada keluhan fisik (Welch et.al, 2009).

Gejala hipokondriasis dipandang sebagai keinginan untuk mendapatkan peranan

sakit oleh seseorang untuk menghadapi masalah yang tampaknya berat dan tidak

dapat dipecahkan.

Teori psikodinamika mengenai hipokondriasis menyatakan bahwa harapan

agresif dan permusuhan terhadap orang lain dipindahkan (melalui represi dan

pengalihan) kepada keluhan fisik. Kemarahan penderita hipokondriakal berasal

dari kekecewaan, penolakan dan kehilangan di masa lalu tetapi penderita

mengekspresikan kemarahannnya saat ini dengan meminta pertolongan dan

perhatian dari orang lain dan selanjutnya menolak karena tidak efektif.

Hipokondriasis juga dipandang sebagai rasa bersalah, rasa keburukan yang

melekat, suatu ekspresi yang rendah dan tanda perhatian terhadap diri sendiri

(self-concern) yang berlebihan. Penderitaan nyeri dan somatik selanjutnya

menjadi alat untuk menebus kesalahan dan membatalkan (undoing) dan dapat

dialami sebagai hukuman yang dapat diterimanya atas kesalahan di masa lalu

3
(baik nyata maupun khalayan) dan perasaan yang jahat dan memalukan (Michalak

et.al, 2011).

2.1.4. Manifestasi Klinis

Penderita gangguan hipokondriasis secara khas datang dengan ketakutan

dan perhatian terhadap penyakitnya, dibandingkan dengan gejala yang dirasakan.

Mereka meyakini bahwa mereka sedang menderita suatu penyakit serius yang

belum pernah dideteksi dan tidak dapat menerima penjelasan akan gangguan yang

dideritanya. Mereka terus menyimpan keyakinan tersebut meski telah diberikan

bukti-bukti kuat dan penjelasan medis yang menyangkal keyakinan mereka.

Gangguan hipokondriasis biasanya disertai dengan gejala depresi dan ansietas

(Benjamin dan Virginia, 2010; Creed dan Barsky, 2004).

Penderita hipokondriasis mempunyai ketakutan yang hebat dan menetap

terhadap preokupasi penyakit serius. Mereka mewaspadai indikasi penyakit yang

bahkan sangat ringan, tetapi bagi mereka menjadi sinyal yang sangat kuat.

Preokupasi tubuh mereka sangat berat dan meluas ke status kesehatan umum

mereka. Penderita meneliti tubuh mereka sendiri secara intens. Penderita

mempunyai kebiasaan mengunjungi dokter umum dari berbagai klinik dan rumah

sakit berbeda serta menumpuk riwayat perawatan medis yang banyak. Akhirnya

mereka tetap saja tidak puas akan kontak mereka dengan profesi kedokteran yang

sering mereka kritik dan salahkan atas keluhannya yang berkelanjutan. Hubungan

dokter-pasien yang buruk seringkali terjadi (Michalak et.al, 2011).

Walaupun DSM-IV-TR membatasi gejala hipokondriasis yang timbul

minimal selama 6 bulan, namun kondisi hipokondriasis yang sementara dapat

4
muncul setelah stres yang berat, paling sering adalah akibat kematian atau

penyakit yang sangat serius dari seseorang yang sangat penting bagi pasien

ataupun penyakit serius yang pernah diderita oleh pasien namun telah sembuh

yang dapat meninggalkan keadaan hipokondrial sementara pada kehidupan

pasien. Apabila keadaan diatas berlangsung selama kurang dari enam bulan, maka

didiagnosis sebagai gangguan somatoform yang tak tergolongkan (Benjamin dan

Virginia, 2010).

2.1.5. Kriteria Diagnosis

Diagnosis hipokondriasis (F45.2) berdasarkan PPDGJ-III yaitu adanya dua

gejala berikut ini : (Maslim, 2001)

i. Keyakinan yang menetap mengenai sekurang-kurangnya satu penyakit

fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun

pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik

yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan

deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai

waham);

ii. Tidak mau menerima nasihat atau dukungan penjelasan dari beberapa

dokter bahwa tidak ditemukannya penyakit atau abnormalitas fisik yang

melandasi keluhan-keluhannya.

Sementara itu, berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder

(DSM-IV-TR) mendefinisikan hipokondriasis (F45.2) berdasarkan kriteria berikut

ini : (Benjamin dan Virginia, 2010)

5
i. Preokupasi berupa ketakutan atau pikiran menderita penyakit serius

berdasarkan interprestasi yang keliru mengenai gejala yang dirasakan.

ii. Preokupasi untuk memastikan kondisinya dengan pemeriksaan medis

tertentu.

iii. Kepercayaan pada kriteria 1 bukanlah intensitas delusi (seperti gangguan

delusi, tipe somatik) dan tidak terpusat pada satu kelainan yang tampak

(seperti pada gangguan dismorfik).

iv. Preokupasi yang menyebabkan distres yang signifikan secara klinis atau

gangguan dalam hubungan sosial, pekerjaan dan area penting lainnya.

v. Durasi gangguan tersebut minimal dalam 6 bulan.

Preokupasi tidak dapat diklasifikasikan dalam gangguan ansietas menyeluruh,

gangguan obsesif -kompulsif, gangguan panik, episode depresif mayor, ansietas

perpisahan atau gangguan somatoform yang lainnya.

2.1.6. Diagnosis Banding

Kelainan fisik pertama-tama harus segera disingkirkan yaitu kelainan

dalam bidang neurologis, endokrinologi dan penyakit sistemik lainnya. Diagnosis

banding pada psikiatri untuk hipokondriasis adalah gangguan somatoform

lainnya, gangguan mood, ansietas dan gangguan psikotik (Michael et.al, 2000).

Gangguan somatik ditandai dengan onset yang dini (< 30 hari), berulang

dan mencakup keluhan fisik yang multipel. Penderita mempunyai preokupasi

tentang beberapa gejala yang timbul, bukan tentang penyakit yang mendasarinya.

Gejala yang timbul haruslah memenuhi pola yang spesifik untuk gangguan

somatisasi yaitu perasaan nyeri yang terjadi pada empat tempat yang berbeda, 2

6
gejala gastrointestinal yang berbeda, 1 gejala seksual dan 1 gejala neurologi

(Basant et.al, 2002).

Kondisi medis non psikiatri khususnya gangguan yang tampak dengan

gejala yang tidak mudah didiagnosis. Penyakit-penyakit tersebut adalah AIDS,

endokrinopati, miastenia gravis, sklerosis multiple, penyakit degeneratif pada

sistem saraf, lupus eritematosus sistemik dan gangguan neoplastik yang tidak jelas

(Maramis, 2009).

Gejala-gejala hipokondrial paling sering terlihat pada gangguan depresif.

Waham somatik penyakit fisik dapat timbul pada gangguan psikotik, termasuk

depresi dan skizofrenia. Pada hipokondriasis, keyakinan khasnya tidak

mempunyai intensitas waham, yaitu pada keadaan ini seseorang mungkin akan

menerima bahwa penyakitnya tidak ada, meskipun ini sulit dibedakan, terutama

pada awal penyakit. Kekhawatiran hipokondriasis juga dapat timbul pada

gangguan ansietas menyeluruh, gangguan panik dan gangguan somatisasi (Nakao

et.al, 2011).

2.1.7. Tatalaksana

Penatalaksanaan biasanya dilakukan oleh seorang dokter umum, karena

penderita sering tidak dapat menerima rujukan ke seorang psikiater. Jelas,

penyakit organik sebaiknya disingkirkan dan gangguan psikiatri primer apapun

seperti depresi harus diobati (Basant et.al, 2002). Perlu diperhatikan dengan

seksama bahwa hipokondriasis adalah gejala yang disebabkan faktor psiko-sosial,

tidak ada terapi medis spesifik maupun terapi bedah yang dapat menyembuhkan

keluhan sakit pasien. Tujuan terapi adalah agar dapat fokus terhadap pasien secara

7
menyeluruh. Pasien harus dipantau secara teratur dan perhatian harus diberikan

pada keadaan sosial dan personal apapun yang dianggap menyebabkan timbulnya

keluhan pasien (Glen dan David, 2011).

Terapi medis spesifik sebaiknya dikurangi, misalnya pemeriksaan fisik

sederhana. Terapi utama adalah perhatian personal seorang dokter. Prosedur

terapeutik diagnostik invasif dan rumit sebaiknya hanya dilakukan bila terdapat

manfaat nyata penggunaannya, dan kelainan insidental serta temuan bermakna

sebaiknya tidak diterapi (Lovas dan Barsky, 2010). Obat antidepresan, terutama

tipe SSRI, dianjurkan oleh beberapa orang ahli untuk semua penderita

hipokondriasis, terutama jika sebagian besar gejala hipokondrial disebabkan oleh

depresi. Terapi antidepresan tentu saja merupakan pilihan terapi lini kedua jika

terapi CBT gagal atau jika terdapat penyakit penyerta yang bermakna atau gejala-

gejala yang berat (Segal et.al, 2010).

Psikoterapi spesifik dapat berguna jika individu tersebut menyadari

kesulitan emosional yang menyebabkan timbulnya keluhan fisik. Terapi psikiatri

lebih baik diberikan dalam suasana klinis non-psikiatri, dengan penekanan pada

pengurangan stres psikososial dan pendidikan mengenai peranan faktor-faktor

psikologis terhadap timbulnya gejala hipokondriasis dan cara mengatasi gejala

tersebut. Dokter harus berhati-hati jika gejala jelas tampak berperan sebagai

pertahanan psikologis yang kuat. Terapi perilaku-kognitif atau CBT merupakan

psikoterapi yang paling banyak dilakukan (Nakao et.al, 2011). Psikoterapi

kelompok merupakan pendekatan psikoterapi terpilih meskipun tujuan utama

terapi ini biasanya suportif bukan untuk kuratif (Maramis, 2009).

8
Manajemen stres bisa difokuskan pada keadaan dimana stres berkontribusi

menyebabkan kekhawatiran berlebihan pada kesehatan pasien. Pasien diminta

untuk mengidentifikasikan stresor yang ada pada dirinya dan diajarkan teknik

manajemen stres untuk membantu pasien agar mampu menghadapi stresor yang

ada. Teknik yang diajarkan kepada pasien adalah teknik relaksasi dan kemampuan

untuk memecahkan masalah. Walaupun teknik ini tidak secara langsung

difokuskan terhadap terapi hipokondriasis, namun teknik ini mampu mengurangi

gejala yang muncul (Glen dan David, 2011).

2.1.8. Prognosis

Hipokondriasis biasanya berlangsung episodik di mana setiap episode

berlangsung selama beberapa bulan sampai beberapa tahun dan dipisahkan oleh

episode tenang yang sama panjangnya. Prognosis yang baik berhubungan dengan

status sosial-ekonomi penderita yang tinggi, onset gejala akut, tidak adanya

gangguan kepribadian dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyetai

(Benjamin dan Virginia, 2010).

Pasien dengan riwayat psikologi premorbid yang baik, yang hanya

mengalami hipokondriasis sementara pada penyakit akut atau ketika stres,

mempunyai prognosis yang baik dan dapat mengalami kesembuhan yang

sempurna. Sedangkan bila gejala disebabkan oleh gangguan ansietas menyeluruh

atau depresi, prognosis menjadi kurang baik (Basant et.al, 2002).

9
2.2. MINDFULNESS-BASED COGNITIVE THERAPY (MBCT)

Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT) atau dikenal dengan terapi

kognitif berbasis kesadaran diri adalah intervensi berbasis mindfulness yang

mengintegrasikan aspek Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan aspek

pengelolaan kesadaran diri (pendekatan meditasi) dalam sesi yang berdurasi lebih

singkat. Intervensi ini awalnya digunakan terhadap pasien yang mengalami

depresi berat yang kronis. Intervensi ini menambahkan elemen tradisional seperti

psikoedukasi dan latihan untuk membedakan pikiran dan fakta. Namun berbeda

dengan psikoterapi lainnya, MBCT lebih berfokus pada mengajak pasien

menggunakan pendekatan decentered terhadap pengalaman internal daripada

mengajarkan klien untuk mengubah pikirannya (Williams et.al, 2011).

Emosi dan kognitif memerankan peran penting pada kemunculan ansietas

dalam arus kesadaran. Heeren dan Philippot (2011) mengungkapkan bahwa

respon afektif atau emosi ditentukan bagaimana seseorang memandang

pengalamannya sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Bila individu

mengalami situasi atau keadaan yang tidak menyenangkan, maka akan timbul

respon afektif atau emosi yang tidak menyenangkan sesuai dengan pemikirannya

mengenai keadaannya tersebut (kognitif). Pemikiran negatif ataupun pemikiran

yang terlalu mendalam (ruminatif) akan situasi yang dihadapi merupakan refleksi

untuk mengubah keadaannya dan mendapatkan kembali keseimbangannya

(Vollestad et.al, 2011). Pemikiran negatif ataupun pemikiran ruminatif akhirnya

akan meningkat menjadi kecemasan atau ansietas bila pemecahan masalah

(solusi) tidak ditemukan dan keyakinan menjadi negatif.

10
Pada prakteknya, MBCT memanfaatkan kesadaran penuh atau mindfulness

dalam membantu individu memperkuat sumber daya internalnya dan

meningkatkan kemampuan individu mengakses sumber daya tersebut (Welch

et.al, 2009). Selama proses MBCT, apabila kondisi mindfullness telah tercapai,

maka kesadaran individu tidak akan terfokus pada masa lalu ataupun masa depan,

dan individu tidak akan memberikan penilaian atau menolak apa yang sedang

terjadi saat ini. Kesadaran yang muncul akan membantu individu melihat situasi

saat ini secara lebih jelas, sehingga muncul sudut pandang baru dalam melihat

permasalahan maupun alternatif pemecahannya (McManus et.al, 2011). Jenis

kesadaran semacam ini akan membentuk energi, pikiran yang jernih, dan

kebahagiaan. Hal ini dapat tercapai karena mindfulness memiliki beberapa

kualitas positif yang muncul secara sadar antara lain: tanpa penilaian, tanpa

pemaksaan, timbulnya penerimaan, kesabaran, kepercayaan, keterbukaan,

pelepasan, kelembutan, empati, rasa syukur, dan kasih sayang (Lau dan McMain,

2005).

Kondisi mindfulness juga akan memberikan kesadaran penuh pada

individu bahwa ia memiliki kontrol terhadap pilihan-pilihannya sehingga

mendorong munculnya pemikiran responsif, bukannya reaktif terhadap situasi di

sekitarnya (Hofmann et.al, 2010). Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan para

ahli, komponen utama dalam pendekatan MBCT adalah: kesadaran (awareness),

pengalaman saat ini (present experience), dan penerimaan (acceptance).

McManus et.al (2011) menyebutkan lima kemampuan dalam mindfulness adalah:

Bertindak dengan kesadaran (acting with awareness), kemampuan mengobservasi

11
(observing), kemampuan mendeskripsikan (describing), sikap non-reaktif

terhadap pengalaman, dan sikap tanpa penilaian terhadap pengalaman. Aspek-

aspek dalam MBCT yaitu: (1) Acting with Awareness, (2) Present Focus, (3)

Responsiveness, (4) Social Awareness.

Kata mindfulness sendiri dapat diartikan sebagai konstruk psikologis,

proses psikologis (being mindful), bentuk psikoterapi, atau bentuk latihan yang

dapat membentuk mindfulness atau kesadaran penuh (seperti meditasi).

Mindfulness baik secara konstruk psikologis maupun dasar psikoterapi telah

terbukti secara efektif mempengaruhi penerimaan diri, komunikasi orang tua-

anak, regulasi emosi, kesejahteraan diri, dan problem solving, distres, depresi,

kecemasan, baik pada populasi klinis maupun non-klinis. MBCT mengajak

individu untuk mampu melewati pengalaman yang sulit atau tidak menyenangkan

tanpa menghindarinya (Williams et.al, 2011). Pada prakteknya MBCT dapat

membentuk terciptanya perasaan relaks, namun demikian MBCT bukanlah salah

satu teknik relaksasi, karena fokus MBCT adalah mengembangkan kapasitas

individu untuk mengamati perubahan fisiologis dan mental tanpa dengan sengaja

bertujuan untuk mencapai perasaan relaks.

Prosedur MBCT meliputi pengembangan kesadaran diri tanpa penilaian

akan seluruh aspek dari sebuah pengalaman saat ini (present moment) dan

merespon pengalaman tersebut dengan penerimaan. Dengan berlatih

mengobservasi sensasi tubuh (body scan meditation), individu dapat mencapai

kondisi sadar dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk ketika melakukan

aktivitas rutin seperti berjalan, makan, berdiri, dll. MBCT bertujuan mengubah

12
hubungan individu dengan situasi dan pikiran yang penuh distres. Hal ini dicapai

dengan cara menurunkan reaksi emosional dan meningkatkan penilaian kognitif

secara positif (Vollestad et.al, 2011).

Pelatihan MBCT bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kesadaran

diri sebagai salah satu strategi koping terhadap distres sehingga peningkatan pada

variabel ini dapat diasosiasikan dengan penurunan tingkat distres penderita

ansietas. Fokus pelatihan MBCT adalah melatih kemampuan individu dalam

menyadari segala reaksi fisik dan psikologis yang dialami dari waktu ke waktu.

Diharapkan hasil penelitian ini selanjutnya dapat menjadi alternatif intervensi

sekunder bagi penanganan hipokondriasis (Segal et.al, 2010).

Ketika kesadaran diri muncul, maka individu akan mempunyai perasaan

mengetahui mengenai keberadaannya, sehingga memungkinkan baginya untuk

mengontrol emosinya dengan pemahamannya (reasoning). Kemampuan individu

untuk mengontrol keadaan emosinya terjadi karena meningkatnya kualitas

kesadaran diri. Kualitas kesadaran diri muncul sebagai mindfulness (kesadaran

penuh) yang didasari atas meningkatnya keadaan sadar terjaga dan perhatian akan

keadaan di sini pada saat ini (McManus et.al, 2011). Mindfulness merupakan

kualitas lebih jelas dan jernihnya pengalaman sadar individu mengenai keadaan di

sini pada saat ini (here & now) dengan secara efektif menyadari ingatan masa lalu

dan terlebih lagi memungkinkan mengantisipasi masa depan.

Mindfulness didasari oleh meningkatnya keadaan sadar terjaga

(awareness) yang terus-menerus memonitor keadaan diri dan lingkungan luar; dan

adanya perhatian (attention) yang memusat sehingga menghasilkan kesadaran

13
penuh akan pengalamannya secara lebih terbuka. Keadaan sadar terjaga adalah

pengalaman subjektif dari phenomena internal dan eksternal yang merupakan

representasi dan persepsi murni dari semua realitas peristiwa yang terjadi setiap

saat. Perhatian merupakan pemusatan keadaan sadar terjaga untuk memperjelas

aspek tertentu dari realitas (Lau & McMain, 2005).

Peningkatan fokus perhatian menghasilkan kesadaran non-elaboratif dan

non-judgemental akan pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul sehingga

kesadaran penuh merupakan pengalaman langsung akan realitas. Keadaan

penerimaan dalam mindfulness muncul sebagai pengalaman terbuka akan realitas

yang terjadi disini pada saat ini (Vollestad et.al, 2011). Perkembangan

mindfulness terkait dengan kemampuan untuk lebih melihat hubungan antara

pikiran, perasaan, dan aktivitasnya sehingga makna dan penyebab dari

pengalaman dan perilaku disadari sepenuhnya. Hasil penelitian Hofmann et.al

(2010), menunjukkan bahwa meningkatnya kesadaran penuh sebagai pengalaman

langsung akan realitas berhubungan negatif dengan depresi.

Kesadaran diri merupakan perasaan mengetahui keberadaan diri, sehingga

memungkinkannya untuk mampu mengontrol emosi dengan pemahaman

(reasoning). Kemampuan remaja untuk mengontrol keadaan emosinya terjadi

karena meningkatnya kualitas kesadaran diri. Kualitas kesadaran diri muncul

sebagai kesadaran penuh yang didasari meningkatnya kualitas keadaan sadar

terjaga dan perhatian akan keberadaannya disini-saat ini (Lovas dan Barsky,

2010).

14
Mindfulness terkait dengan kemampuan untuk lebih melihat hubungan

antara pikiran, perasaan, dan aktivitasnya sehingga makna dan penyebab dari

pengalaman dan perilaku disadari sepenuhnya. Pengalaman terbuka dan

penerimaan memungkinkan perspektif yang lebih luas akan pikiran dan

perasaannya sehingga resiko depresi dapat dikurangi bersama dengan

meningkatnya kesadaran akan pikiran negatif sebagai peristiwa mental yang

muncul dalam arus kesadaran (Lovas dan Barsky, 2010; Hargus et.al, 2010;

Hofmann et.al, 2010).

Penelitian Vollestad et.al (2011) menunjukkan bahwa pendekatan MBCT

efektif dalam menurunkan gejala-gejala ansietas. Kunci penting MBCT adalah

mengenali dan melepas pemikiran negatif dari pada menolak atau hanyut di dalam

pemikiran tersebut. Mindfulness atau kesadaran merupakan pengalaman langsung

individu akan realitas yang terjadi. Keadaan mindfulness diartikan bahwa pikiran

dan perasaan merupakan peristiwa mental yang muncul di pikiran tanpa perlu

mengidentifikasikannya secara berlebihan (ruminasi), dan bereaksi secara

otomatis dengan kebiasaan perilaku yang cenderung terdorong secara emosional.

Mindfulness merupakan keadaan observasi diri yang memberi jarak antara

persepsi dan respon, sehingga memungkinkan pikiran untuk merespon situasi

lebih efektif pada realitas yang sesungguhnya.

Hargus et.al (2010) mengungkapkan bahwa keadaan mindfulness

mengenai dirinya akan memperjelas apa yang sebenarnya dirasakannya sehingga

mampu mengobati (memperbaiki) suasana hatinya dengan fleksibilitas

kognitifnya. Mindfulness akan dirinya memungkinkan individu untuk dapat

15
memahami dirinya dan mengantisipasi permasalahan yang dihadapi sehingga

adanya gejala-gejala ansietas dapat diminimalisir.

MBCT merupakan suatu program efisien biaya yang dilakukan selama 8

minggu, di mana individu diajarkan untuk menggali pikiran dan perasaan mereka

melalui latihan berulang dengan memusatkan kesadarannya atau perhatiannya

pada satu objek (misalnya pernafasan atau sensasi pada badan). Individu juga

diajarkan bagaimana caranya mengolah pengalaman sadarnya secara langsung dan

menciptakan penerimaan secara sukarela terhadap apapun yang akan terjadi di

setiap waktu (termasuk kondisi mood yang negatif yang mampu memicu

kecemasan dan pikiran negatif). Pengolahan kesadaran selama latihan MBCT

memungkinkan individu untuk mengenali kapan respons negatif dan pikiran

ruminatif muncul kemudian mengatasi respons tersebut dengan cara

menguraikannya dari pola pikiran tertentu, dan memandang respon tersebut

sebagai suatu peristiwa mental daripada gambaran realita yang sesungguhnya.

Berbeda dengan terapi perilaku kognitif (CBT) yang berfokus pada pengubahan

isi pikiran, terapi MBCT berfokus pada melatih kesadaran meta-kognitif dan

memodifikasi proses pikiran reaktif dan ruminatif yang pada dasarnya tidak

berguna menjadi suatu respon penerimaan (Surawy et.al, 2012).

MBCT merupakan pendekatan yang berakar dari filosofi Buddha dan

merupakan bentuk keterampilan yang dapat membantu individu agar memiliki

kesadaran penuh dan tidak bersikap reaktif akan apa yang terjadi saat ini, sebuah

cara untuk memaknai peristiwa baik positif, negatif, maupun netral sehingga

mampu mengatasi perasaan tertekan dan menimbulkan kesejahteraan diri (Lau

16
dan McMain, 2005). Heeren dan Philippot (2011) mendefinisikan mindfulness

sebagai kesadaran yang muncul akibat memberi perhatian terhadap sebuah

pengalaman saat ini secara disengaja dan tanpa penilaian agar mampu merespon

pengalaman yang dialami sehari-hari dengan penerimaan, bukannya bereaksi

terhadap pengalaman tersebut. MBCT berfokus pada peningkatan kemampuan

mengobservasi atau mengamati perubahan kondisi psikologis tanpa bertujuan

secara sengaja mencapai tingkatan tersebut.

Terapi kognitif berbasis kesadaran adalah terapi psikologis yang

dirancang untuk membantu mencegah berulangnya gejala depresi, gangguan

panik dan gejala-gejala ansietas. Dengan menggunakan metode terapi perilaku

kognitif (CBT) yang telah ada, MBCT menambahkan pengelolaan kesadaran diri

atau meditasi ke dalam strategi pendekatan psikologis baru. Pendekatan kognitif

dapat mencakup edukasi individu mengenai kecemasan. Perhatian dan meditasi

kesadaran, fokus pada menyadari pikiran dan perasaan yang masuk dan

menerima mereka, tetapi tidak melampirkan atau bereaksi terhadap

mereka. Sebagai CBT, fungsi MBCT didasarkan pada teori bahwa ketika

individu yang mengalami stimulus pada badannya, mereka kembali ke proses

kognitif yang salah dan secara otomatis memicu ansietas. Tujuan MBCT adalah

untuk membatalkan proses-proses otomatis tersebut dan mengajarkan individu

untuk mengurangi fokus perhatian dalam bereaksi terhadap stimulus, dan

sebaliknya mengamati dan menerima stimulus tersebut tanpa perlu menilai

(Hofmann et.al, 2010).

17
Menurut McManus et.al (2011), terdapat tiga aspek utama pendekatan

MBCT, yaitu :

1) Acting with awareness

Acting with awareness yaitu merepresentasikan kondisi di mana individu

mampu menyadari sensasi fisik dan psikologis, baik saat kondisi

menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Secara bersamaan hal ini

akan membawa individu pada present moment.

2) Present moment,

Present moment adalah kondisi kesadaran penuh individu mengenai

pengalaman di sini dan saat ini, diobservasi dan diperhatikan perubahan

pemikiran, perasaan, dan sensasi sehingga kesadaran menjadi pengalaman

langsung peristiwa yang terjadi antara tubuh dan pikiran. Keterbukaan

pada present moment akan membantu individu melihat situasi dalam

konteks yang lebih menyeluruh dan membuka sudut pandang baru dalam

melihat situasi tersebut. Pada akhirnya, kualitas ini akan membantu

individu bersikap aktif terhadap stimulus dan bukannya reaktif yang

ditandai dengan sikap responsiveness.

3) Responsiveness

Sikap responsiveness merupakan sikap penerimaan yang terjadi ketika

individu hanya memperhatikan setiap pemikiran, perasaan, dan sensasi

sebagai pengalaman terbuka akan realitas saat ini dan di sini yang muncul

dalam arus kesadaran. Pada tahap ini, individu mampu memaknai

18
peristiwa, baik yang positif, negatif, maupun netral, sehingga mampu

mengatasi perasaan tertekan dan menimbulkan kesejahteraan diri.

Lebih lanjut hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Model Mindfulness-based Cognitive Therapy (MBCT)

Sumber : McManus et.al (2011)

2.3. EFEKTIVITAS MBCT PADA GANGGUAN HIPOKONDRIASIS

Target terapi MBCT ditujukan untuk proses kognitif yang menyebabkan

penderita hipokondriasis mengalami kekambuhan berulang, yaitu akibat pikiran

ruminatif terhadap kesehatannya dan reaktivitas kognitif yang tinggi. MBCT

diketahui mampu menghambat proses yang mendasari psikopatologi gangguan

hipokondriasis dan mengurangi risiko kekambuhan ansietas yang sama efektifnya

dengan pengobatan rumatan antidepresan. Meskipun pada awalnya MBCT

ditujukan untuk tatalaksana penderita depresi, namun data-data menunjukkan

bahwa MBCT bisa juga mengatasi berbagai gangguan mental lainnya seperti

gangguan bipolar, gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik, sindrom fatigue

kronis, psikosis, serta depresi berat disertai kecenderungan bunuh diri yang kronis

dan resisten pengobatan (Michalak et.al, 2011).

19
Terapi MBCT terbukti efektif dalam meningkatkan afek positif,

menurunkan distres, kecemasan, dan afek negatif pada penderita hipokondriasis.

Terapi kognitif berbasis mindfulness atau kesadaran penuh telah terbukti

meningkatkan kesejahteraan psikologis penderita ansietas terhadap

kesehatannya. MBCT lebih berfokus untuk membantu individu merasakan

pengalaman subjektif melalui latihan-latihan sehingga manfaatnya dapat

langsung dirasakan oleh subjek intervensi. Peserta tidak dibebani dengan materi

psikoedukasi yang cukup padat, waktu pelaksanaan yang panjang, serta latihan

di rumah yang beragam sehingga limitasi intervensi penanganan distres dengan

pendekatan lain dapat diatasi dengan teknik ini (Segal et.al, 2010).

Beberapa teori mendukung penggunaan MBCT pada penderita

hipokondriasis. Pertama, tidak seperti terapi CBT pada umumnya, terapi MBCT

tidak bertujuan mengubah isi pikiran penderita dengan cara menyangkal segala

prediksi-prediksi yang ditakuti, namun mengurangi dampaknya pada individu

melalui pengubahan hubungan antara individu dengan pikirannya. Metode ini

mampu mematahkan kesulitan dalam menyangkal ketakutan dan kecemasan

akan kesehatan yang seringkali berlanjut jangka panjang, sehingga tidak

dibenarkan untuk menyangkal ketakutan tersebut melalui teknik CBT standar

seperti uji coba perilaku atau pikiran. Kedua, pikiran ruminatif diketahui sebagai

penyebab terpeliharanya gejala hipokondriasis, dan MBCT mampu mengurangi

pikiran ruminatif yang maladaptif. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa MBCT

kemungkinan besar dapat membantu penderita hipokondriasis untuk belajar

mengendalikan perhatian dan kesadaran penderita agar mereka mampu

20
meruntuhkan preokupasi mereka yang salah terhadap suatu sensasi somatik,

yang menyebabkan semakin tingginya derajat cemas melalui pikiran-pikiran

ruminatif dari sisi negatif suatu sensasi somatik (Surawy et.al, 2012; Vollestad

et.al, 2011; Williams et.al, 2011).

Beberapa studi menunjukkan bahwa latihan mengendalikan perhatian

dapat sangat menguntungkan bagi penderita hipokondriasis. Sehingga berbeda

dari CBT yang mengalihkan perhatian penderita dari sensasi pada badan, MBCT

justru menganjurkan penderita untuk penasaran terhadap sensasi pada badan

mereka, untuk mengenali kualitas afektif mereka, dan mengamati bagaimana

pikiran dan tubuh mereka bereaksi terhadap informasi tersebut (paling sering

adalah respon pikiran negatif dan ruminatif).

MBCT merupakan program pelatihan keterampilan kelompok terpimpin

yang dilakukan tiap minggu selama 8 minggu. Setiap minggu sesi MBCT

berlangsung selama 2 jam, namun peserta akan diminta mengerjakan pekerjaan

rumah (PR), mendengarkan rekaman suara dan latihan meditasi di rumah selama

sekitar 45-60 menit setiap hari selama 6 hari dalam seminggu. Sesi terapi diawali

terlebih dahulu dengan penilaian per orangan, di mana pelatih memberikan

kesempatan bagi peserta untuk menggali apa yang mereka harapkan selama

terapi berlangsung dan mendiskusikan bagaimana kesadaran dapat membantu

mereka dengan segala riwayat penyakit mereka, gejala-gejala saat ini dan faktor-

faktor yang mendasarinya (Surawy et.al, 2012).

Selama sesi terapi berlangsung, peserta diajarkan berbagai teknik

meditasi dalam mengendalikan kesadaran diri, yang meliputi beberapa teknik

21
tertentu, antara lain : teknik pernafasn, teknik meditasi dalam posisi duduk,

meditasi body scan, teknik meditasi sambil berjalan, dan teknik yoga—

kemungkinan dapat membantu meningkatkan kesadaran diri peserta. Melalui

terapi MBCT, peserta juga diajarkan membangun konsep kognitif seperti

hubungan antara pikiran dengan perasaan, dan peserta juga seringkali mendapat

kesempatan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai

gejala kecemasannya terhadap kesehatannya sendiri (Vollestad et.al, 2011).

Studi yang dilakukan oleh Surawy et.al (2012) terhadap 74 penderita

hipokondriasis menunjukkan penurunan skoring gejala-gejala ansietas pada

kelompok penderita yang diberi intervensi MBCT dibandingkan dengan

kelompok yang diberikan intervensi dengan psikoterapi lainnya, baik setelah

diberikan intervensi maupun setelah 1 tahun follow up pasca intervensi. Studi ini

menunjukkan bahwa intervensi MBCT, difokuskan untuk mengurangi gejala-

gejala ansietas pada penderita hipokondriasis. Hasil studi ini tidak bermakna

apabila gejala ansietas semakin berkembang seiring berjalannya waktu,

menyebabkan terapi MBCT dan psikoterapi lainnya tidak banyak memberikan

manfaat pada perbaikan gejala hipokondriasis.

22
Gambar 2. Skoring gejala-gejala ansietas pada kelompok mindfulness-based
cognitive therapy (MBCT) dan kelompok unrestricted services (US)
berdasarkan pengukuran Short Health Anxiety Inventory (SHAI) saat
masa pra-intervensi, pasca intervensi, dan follow up 1-tahun (PP =
per-protocol; ITT = intention-to-treat) dengan interval kepercayaan
95%.

Sumber : Surawy et.al, 2012

Analisa terhadap studi tersebut menunjukkan bahwa terdapat perubahan

yang besar dan signifikan terhadap skoring gejala hipokondriasis pada kelompok

yang diberi terapi MBCT yang dipertahankan selama 1 tahun follow up.

Tatalaksana MBCT nampaknya sangat diterima oleh peserta. Dari 74 pasien

yang ikut pra intervensi MBCT, 70 peserta mengikuti intervensi MBCT, di mana

64 peserta melanjutkan terapi sampai follow up 1 tahun pasca terapi dan 6

peserta hanya sampai pasca intervensi, sedangkan 4 peserta tidak mengambil

intervensi MBCT. Dari 70 peserta yang mengikuti sesi kelas MBCT,

kehadirannya cukup baik, di mana rerata kehadiran peserta sebesar 7 dari 8 sesi

MBCT . Secara garis besar, angka kepatuhan terapi MBCT mencapai 91.4%, di

atas angka drop out mencapai kurang dari 9%. Angka kepatuhan tersebut cukup

tinggi bila dibandingkan dengan tatalaksana psikologi lainnya untuk

23
hipokondriasis seperti CBT (25%), terapi kognitif atau terapi exposure (28.2%)

(Surawy et.al, 2012).

Hal yang mengejutkan dari studi ini adalah bahwa intervensi berbasis

kesadaran melibatkan pemfokusan perhatian dan kesadaran penderita pada

tubuhnya, di mana hal ini merupakan faktor utama yang mempertahankan dan

memelihara gejala hipokondriasis penderita. Menghadapi hal ini, MBCT

seharusnya memperparah kondisi hipokondriasis penderita. Akan tetapi, menurut

teori, MBCT merupakan terapi berdasarkan atas 2 jenis self-focus yang berbeda

(Williams et.al, 2011). Pada jenis pemecahan masalah yang pertama, individu

yang terpapar oleh stimulus eksternal atau internal melalui representasi (pikiran

atau gambaran), dengan motivasi untuk mengubah kondisi saat ini menjadi

prioritas utama menggunakan pemrosesan berbasis kesenjangan yang

mengarahkan penderita pada dua proses—pikiran ruminasi dan menghindar—

keduanya dimaksudkan untuk mengurangi ketidaksesuaian antara kondisi saat ini

dengan kondisi yang diharapkan, yang menyebabkan meningkatnya distres.

MBCT mengajarkan penderita agar melihat pola pikiran maladaptifnya tersebut

ketika mulai timbul, menguraikan pikiran tersebut dan menukarnya dengan suatu

peristiwa pengalaman di mana pikiran dan sensasi pada badan dipandang sebagai

peristiwa biasa yang tengah berlalu (Lovas dan Barsky, 2010).

24