Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

ANSIETAS (KECEMASAN)

OLEH :
ANNISA RAHMA TRISTIAN

SI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS KADIRI
2015
ANSIETAS

A. Definisi
Ansietas merupakan pengalaman individu yang bersifat subyektif yang sering
bermanifestasi sebagai perilaku yang disfungsional yang diartikan sebagai perasaan
“kesulitan” dan kesusahan tehadap kejadian yang tidak diketahui dengan pasti
(Varcarolis, 2007), menurut Kaplan (2005), adalah sebagai “kesulitan” atau
“kesusahan” dan merupakan konsekuensi yang normal dari pertumbuhan, perubahan,
pengalaman baru, penemuan identitas dan makna hidup dan menurut Asmadi
(2008)ansietas adalah gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu di
luar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan.
Berdaasarkan teori diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ansietas atau sering
disebut kecemasan adalah perasaan kesulitan yang diakibatkan dari proses
pertumbuhan seseorang yang berhubungan dengan sesuatu yang terjadi di dalam
dirinya atau diluar dirinya yang digunakan dalam mengatasi masalah.

B. Penyebab Ansietas
Stuart & Sundeen (2008) mengatakan bahwa faktor yang memepengaruhi
gangguan ansietas dibagi menjadi 2 yaitu predisposisi dan presipitasi.

1. Predisposisi
Berdasrkan Asmadi (2008) penyebab ansietas adalah

a) Teori psikoanalisi
Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua alemen kepribadian yaitu superego dan id, dimana
superego disini mewakilihait nurani seseorang yang dikendalikan oleh norma-
norma budaya dan id mewakili insting dan impuls seseorang. Ego berfungi
sebagai penengah dari uda elemen tersebut dan ansietas berfungsi
meningnatkan ego bahwa ada bahaya.
b) Teori interpersonal
Dalam pandangan interpersonal ansietas disebabkan karena adanya
perasaan takut seseorang terhadap penolakan saat berrhubungan dengan orang
lain akan menyebabkan individu yang bersangkutan mengalami kecemasan
akan tetapi bila keberadaaanya diteriman oleh orang lain maka dia tidak akan
merasa cema. Penolakan terhadap ekstensi diri oleh orang Hal ini juga ada
kaitanya dengan trauma pada masalalu dimana seseorang mengalami
perpisahan dan kehilangan dengan seseorang. Dengan demikian dapat dapat di
artikan bahwa ansietas adalah hubungan antara manusia.

c) Teori perilaku
Menurut pandangan perilaku ansietas adalah akibat dai frustasi,
ketidak mampuan seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan
akan menimbulkan frustasi atau keputusasaan. Keputusasaaan inlah yang
menyebabkan seseorang menjadi ansietas.

d) Teori perspektif keluarga


Kecemasan dapat timbul karena ada pola interaksi yang tidak adaptif
dlam keluarga (Stuart, 2007).

e) Teori biologi
Fungsi biologis menunjukan bahwa otak menggandung reseptor
khusus Benzidiapine. Reseptor ini mungkin membantuk mengatur kecemasan.
Penghambat asam amino butirik-gamma neuro regulator (GABA) juga
mugnkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan
dengan kecemasan sebagian endomorfin.

2. Presipitasi
Stuart (2007)mengatakan bahwa faktor presipitasi atau faktor pencetus
seseorang mengalami kecemasana dapat berasal dari diri sendiri atau dari luar diri
seseorang. Pencetus ansietas dikelompokan kedalam dua kategori yaitu :
a) Internal
Ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidak mampuan fisiologis
atau gangguan dalam melakukanaktivitas sehari-hari guna pemenuhan
terhadap kebutuhan dasarnya.

b) Eksternal
Ancaman terhadap system diri yaitu adanya sesuatu yang dapat
mengancam terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan status/peran diri, dan
hubungan interpersonal.

C. Tanda dan gejala ansietas


Keliat (2011)mengatakan bahwa tanda dan gejala seseorang mengalami
kecemasan dibedakan men jadi 4 yaitu :

1. Fisik (fisiologis)
Yaitu kecemasan yang sudah memepengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala
fisik terutama pada fungsi system saraf. Ciri-cirinya yaitu ujung jari terasa dingin,
pencernaan tidak teratur, detak jantung cepat, keringat bercucuran, tekanan
daraah meningkat, tidur tidak nenyak, nafsu makan hilang, kepala pusing, nafas
sesak dan mudah lelah (Darajat, 2009).

2. Koqnitif
Lapangan persepsi menyempit, tidak mampu menerima rangsangan dari luar,
berfokus pada apa yang menjadi perhatianya.

3. Perilaku
Gerakan tersentak-sentak bicara berlebihan dan perasaan tidak aman.

4. Emosi
Menyesal, gugup, tatuk, kesedihan yang mendalam, meningkatnya
kekhawatiran, prihatin.
D. Tingkat kecemasan
Asmadi (2008) mengatakan bahwa tingakat kecemasan dibagi menjadi 4 dan
setiap ansietas memilik karakteristik yang berbeda satu sama yang lain. Karakteristik
ini juga dipengaruhi oleh kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi
ketegangan, harga diri, dan mekanisme koping yang digunakan

Tabel 1. Tingkat ansietas dan karakteristik


No Tingkat Ansietas Karakteristik
1 Ansietas riingan 1. Berhubungan dengan ketegangandalam kehidupan
sehari-hari
2. Kewaspadaan menigkat
3. Dapatmenjadi motivasi positif untuk belajar dan
menghasilakn kreativitas
4. Respon fisiologis : sesekali nafas pendek, nadi dan
tekanan darah sedikit meningkat, gejala ringan pada
lambung
5. Respon kognitif : mampu menerima rangsangan yang
kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan
masalah secara efektif, dan terangsang untuk melakukan
tindakan
6. Respon perilaku dan emosi : tidak dapat duduk tenag,
tremor halus pada tangan, dan dan suara kadang-
kadnag meniggi.
2 Ansietas sedang 1. Respon fisiologis : sering mengalami nafas pendek,
tekana darah meningkat, mulut kering, sakit kepala,
anoreksia
2. Respon kognitif : memusatkan perhatianya padad hal
yang penting dan mengesampingkan yang lain, lapang
persepsi menyempit, rangsangan dari luar tidak mampu
diterima
3. Rspon emosi dan perilaku : gerakan tersentak-sentak,
terlihat lebih tegang, bicara banyak biicara dan lebih
banyak, susah tidur, dan perasaan tidak aman
3 Ansietas berat 1. Seseorang cenderung memikirkan hal yang kecil saja
dan mengabaikan hal yang lain
2. Respon fisiologis : nafas pendek, nadi dan tekanana
darah meningkat, berkeringat, sakit kepala,
pengelihatan kabur, mimik muka tampak tegang
3. Respon kognitif : tidak mampu berfikir berat lagi dan
membutuhkan banyak pengarahan serta lapang
persepsinya menyempit
4. Respon perilaku dan emosi : perasaan terancam
meningkat dan komunikasi menjadi terganggu
4 Panik 1. Respon fisiologis : nafas pendek, rasa tercekik, sakit
dada,pucat, rendahnya koordinasi motoric
2. Rspon kognitif : gangguan realitras, tidak dapat berfkir
logis, persepsi pada lingkungan menjadi distorsi dan
penuruna dalam memahamis situasi
3. Respon perilaku dan emosi : mengamuk dan marah,
ketakutan,berteriak-teriak, kehilangan kendali, perasan
terancam, serta dapat melakukan hal yang dapat
membahaykan diri sendiri atau orang lain.

E. Mekanisme koping ansietas


Pada kecemasan tingkat ringan tidak ada membutuhkan penanganan yang
serius Karen pada tingakt ringan seseorang masih bisa mengatasi kecemasannya
sendiri hanya kita perlu mengarahkan pada koping yang daptif. koping yang bias any
dilakukan pada saat seesorang mengalami kecemasan ringan adalah tidur, makan,
olahraga, merokok dan membatasi diri dengan orang lain (Suliswati, 2005).
Menurut Asmadi (2008) koping terhadap ansietas diklasifikasikan ke dalam
dua kategori yaitu pemecahan masalah dan mekanisme pertahanan diri.

1. Strategi Pemecahan Masalah


Strategi pemecahan masalah bertujuan untuk mengatasi masalah atau ancaman
yang ada dengan kemampuan pengamatan secara realistas. Beberapa contoh
strategi pemecahan masalah adalah
a) Meminta bantuan kepada orang lain
b) Mencari lebih banyak informasi yang terkait dengan masalah yang dihadapi,
sehingga maslah tersebut dapat diatasi realistis.
c) Menyusun bebrapa rencan untuk memecahkan masalah.
d) Meluruskan pikiran atau perrsepsi terhadap masalah

2. Mekanisme Pertahanan diri


Mekanisme pertahanan dir merupakan mekanisme penyesuaian ego yaitu
usaha untuk melindungi diri perasaan tidak adekuat. Beberapa ciri mekanisme
pertahanan diri antara lain :
a) Hanya bersifat sementara karena berfungsi hanya untuk bertahan dari hal-hal
yang tidak menyenangkan dan secara tidak langsung mengatasi masalah.
b) Mekanisme pertahanan diri terjadi di luar kesadaran. Individu tidak menyadari
bahwa mekanisme pertahanan diri tersebut.

F. Penatalaksanaan Ansietas
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan
terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup
fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius.
Selengkpanya seperti pada uraian berikut :
1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
a. Makan makan yang bergizi dan seimbang.
b. Tidur yang cukup.
c. Cukup olahraga.
d. Tidak merokok.
e. Tidak meminum minuman keras.
2. Terapi psikofarmaka.
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai
obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal
penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka
yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam,
clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam. Commented [S1]: INDIKASI
3. Terapi somatik
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan
atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-
keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ
tubuh yang bersangkutan.
4. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain :
a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar
pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta
percaya diri.
b. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai
bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
c. Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-
konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.
d. Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.
e. Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika
kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi
stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan.
f. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor
keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan
sebagai faktor pendukung.
5. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan
kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang
merupakan stressor psikososial.
G. Asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ansietas
1. Pengkajian Commented [S2]:

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi (2008). Teknik Prosedural Keperawtan: konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Pasien. Jakarta : Salemba.

Benjamin J. Sadock, Virginia A. Sadock, & Harold I. Kaplan (2005). Kaplan and Sadock's
Comprehensive Textbook of Psychiatry. NewYork : Lippincott Williams & Wilkins.

Darajat (2009). Dasar-Dasar Kecemasan Klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.

Hawari, Dadang. (2008). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : FK Universitas.
Indonesia.

Keliat, Budi Ana. Akemat Prawiro. Susanti, Herni (2011). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa
:CHMN. Jakarta : EGC.

Stuart, G.W. & Sundeen, S.J (2007). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St.
Louis: Mosby Year Book.

(2008). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St.


Louis: Mosby Year Book.

Suliswati. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC

Varcarolis, E.M (2007). Manual of Psychiatric Nursing Care Planning: Assessment Guides,
Diagnoses, Psychopharmacology. USA : ELSAVIER SAUNDERS.