Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KESEHATAN KERJA

SMK 3 KERJA PADA PERUSAHAAN ETALASE PUTRA TAMAN


USAHA

Dosen : Wiwin S. S.Kep.,Ns.M.Kep

Disusun Oleh :

Ari Ristianti

13620823

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KADIRI

2015

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya dan
petunjuk-Nya, penulis diberikan kemudahan sehingga dapat menyelesaikan
Makalah Kesehatan Kerja dengan “PERUSAHAAN ETALASE PUTRA
TAMAN USAHA”.
Makalah Kesehatan Kerja ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Kesehatan Kerja PSIK Semester VA, sekaligus sebagai cara untuk
meningkatkan pengetahuan. Makalah Kesehatan Kerja ini tidak akan selesai
tanpa adanya bantuan dari semua pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Wiwin S. S.Kep.,Ns.M.Kep sebagai dosen mata kuliah Keperawatan
Kesehatan dan Keselamatan kerja di PSIK Semester VA.
2. Hidayatul umroh selaku teman saya di PSIK Semester VA, Universitas
Kadiri yang telah membantu penyelesaian makalah ini.
3. Teman-teman PSIK Semester V, Universitas Kadiri yang telah
membantu penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
karena masih banyak keterbatasan pengetahuan penulis, untuk itu penulis
mengharapkan bagi pembuat Makalah selanjutnya akan lebih sempurna.
Semoga Makalah Kesehatan Kerja ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu
pengetahuan bagi pembuat Makalah Kesehatan Kerja dan bagi pembaca.

Kediri, 31 Oktober 2015

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulis ........................................................................................ 3
BAB 2 TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian ................................................................................................ 4
2.2 Teori Pendukung ...................................................................................... 4
2.3 Proses Produksi ........................................................................................ 6
2.4 Lingkungan Kerja ..................................................................................... 9
2.5 Menejemen Waktu ................................................................................... 9
2.6 Permasalahan Perusahaan ...................................................................... 10
BAB 3 PERMASALAHAN dan SOLUSI
3.1 Solusi Permasalahan ................................................................................. 17
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 19
4.2 Saran ....................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 21

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap aktifitas


pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun
kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa
mungkin dan sedini mungkin, potensi kecelakaan kerja harus dicegah atau
setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan masalah keselamatan
kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh
komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai
bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan.

Kecelakaan ditempat kerja merupakan penyebab utama penderita perorangan


dan penurunan produktivitas. Menurut ILO (2003), setiap hari rata-rata 6000
orang meninggal akibat sakit dan kecelakaan kerja atau 2,2 juta orang
pertahun sebanyak 300.000 orang pertahun, diantaranya meninggal akibat
sakit atau kecelakaan kerja.
Kondisi kerja yang buruk berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja,
mudah sakit, stres, sulit berkonsentrasi sehingga menyebabkan menurunnya
produktif kerja. Kondisi kerja meliputi variabel fisik seperti distribusi jam
kerja, suhu, penerangan, suara, dan ciri-ciri arsitektur tempat kerja lingkungan
kerja yang kurang nyaman, misalnya : panas, berisik, sirkulasi udara kurang,
kurang bersih, mengakibatkan pekerja mudah stress (Supardi, 2007).
Dari gambaran di atas, peneliti tertarik untuk mengidentifikasi faktor yang
berpengaruh terhadap pelaksanaan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja penelitian ini dilakukan pada Sistem Manajemen K3 di
perusahaan PUTRA TAMAN USAHA.
Perusahaan PUTRA TAMAN USAHA didirikan pada tahun 2012 dalam
bentuk perusahaan perorangan. Pertimbangan didirikannya perusahaan
tersebut adalah semakin banyaknya orang mem-bangun rumah maka semakin
besar pula orang akan membutuhkan etalase untuk menyimpan makanan

1
,penyimpanan alat-alat dapur dan sebagainya. jumlah tenaga kerja yang
bekerja diperusahaan tersebut adalah 3 orang.
Kondisi perusahaan etalase“PUTRA TAMAN USAHA”, kediri sampai
saat ini, terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Perusahaan menerima
banyak pesanan.
Lokasi bagi sebuah perusahaan merupakan salah satu faktor yang
menentukan kemajuan dan perkembangan serta menyangkut kelangsungan
hidup perusahaan. Lokasi perusahaan yang tepat dapat mempengaruhi biaya
yang dikeluarkan oleh perusahaan karena jika lokasi perusahaan menempati
posisi lokasi yang tepat maka biaya operasinya dapat ditekan dengan
serendah mungkin.
Struktur organisasi adalah suatu kerangka yang menun-jukkan pembagian
pekerjaan untuk mencapai tujuan yang didasarkan pada hubungan antara
fungsi, wewenang dan tanggung jawab tiap bagian perusahaan sesuai dengan
tugas dan posisinya. Struktur organisasi pada perusahaan etalase “ PUTRA
TAMAN USAHA”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah sudah tercipta SMK 3 dalam industri etalase ?
2. Apakah terdapat penyakit akibat kerja pada industri etalase?
3. Bagaimana sistem manajemen dalam industri etalase?
1.3.Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko pada kegiatan pembuatan
etalase.
2. Tujuan Khusus
1. Untuk menganalisis Masalah Pada pembuatan etalase Dan Strategi
Penanggulangannya.
2. Untuk mengetahui lingkungan pada pembuatan etalase.
3. Untuk mengetahui proses pembuatan etalase.
4. Untuk mengetahui sistem management dalam pembuatan etalase.
5. Untuk mengetahui masalah kesehatan yang muncul dalam pembuatan
etalase.

2
6. Untuk mengetahui pengendalian risiko dalam manajemem risiko
dalam pembuatan etalase.
1.4.Manfaat penulisan
a. Bagi Pegawai
1) Sebagai referensi bagi pekerja tentang masalah yang mungkin
muncul dalam melakukan pekerjaan sehari-hari
2) Dapat mengetahui cara pengendalian risiko guna mengurangi bahaya
kecelakaan kerja pada pegawai.
b. Bagi penulis
1) Menambah wawasan perawat mengenai masalah-masalah yang
muncul dalam perusahaan produksi etalase.
2) Menambah pengetahuan tentang manajemen risiko kesehatan pada
produksi etalase.

3
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Etalase (bahasa prancis :etalage, susunan, permanen) adalah sebutan
untuk lemari, kotak, atau rak berkaca yang dipakai untuk tempat
memamerkan berbagai barang dagangan di toko.
Tujuannya: untuk meletakkan barang yang perlu dilindungi dari
kelembapan, debu, dan sinar matahari
2.2 Teori pendukung
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan
kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa tetapi juga kerugian materi bagi
pekerja dan pengusaha, tetapi dapat mengganggu proses produksi secara
menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada
masyarakat luas. Visi Pembangunan Kesehatan di Indonesia yang
dilaksanakan adalah Indonesia Sehat 2010 dimana penduduknya hidup dalam
lingkungan dan perilaku sehat, mampu memperoleh layanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya (Depkes RI, 2002).
Kesehatan kerja dapat tercapai secara optimal jika tiga komponen berupa
kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja dapat berinteraksi baik dan
serasi (Suma’mur P.K, 1996).
Sehubungan dengan pemeliharaan kondisi yang telah ada, menurut
(Heidjarachman Ranupandjojo dan Suad Husnan : 1990 : 245)menjelaskan
bahwa “Program-program keselamatan dan kesehatan misalnya akan
membantu untuk memelihara kondisi fisik mereka, sementara program
pelayanan karyawan dan berbagai bentuknya membantumemelihara sikap
para karyawan.”

4
Kesehatan kerja merupakan lapangan kesehatan yang ditujukan kepada
pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja dilaku-kan
dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit,
pengaturan persediaan tempat. Cara-cara dan syarat yang memenuhi norma-
norma higiene perusahaan dan kesehatan kerja untuk mencegah penyakit,
baik sebagai akibat pekerjaan maupun penyakit umum.
Definisi tersebut menggambarkan tujuan yang harus dicapai di bidang
kesehatan dan mengenai masalah kesehatan yang mencakup seluruh aspek
kehidupan manusia termasuk lingkungan kerja. Dengan demikian berarti
kesehatan ini menyangkut keadaan fisik maupun mental. Kesehatan karyawan
bisa terganggu karena penyakit, ketegangan atau stress maupun kecelakaan.
Kesehatan kerja berhubungan dengan pekerjaan, Summa’ur
membaginya dalam dua aspek yaitu: higiene perusahaan dan kesehatan kerja.
Keduanya bisa merupakan kesatuan pengertian yang cenderung diartikan
sebagai lapangan kesehatan yang mengurus problematika kesehatan karyawan
secara menyeluruh. Menyeluruh berarti yang dilakukan mencakup seluruh
aspek terhadap pekerjaannya.
Dari beberapa pengertian tersebut jelaslah kesehatan kerja merupakan segi
penting dalam melindungi tenaga kerja agar memperoleh derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya. Dalam hubungan ini, bahaya dapat timbul dari mesin
pesawat alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, keadaan tempat kerja,
caramelakukan pekerjaan dan sebagainya harus sejauh mung-kin
dikendalikan. Keselamatan dan kesehatan yang baik dapat mempertinggi
efisiensi dan produktivitas kerja.
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (k3)
Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal
cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :

1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat


pekerja di semua lapangan kerja setinggitingginya baik fisik, mental
maupun kesejahteraan social.

5
2. mencegah timbulnya gangguan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor–
faktor yang membahayakan kesehatan
Menempatkan Hadi Setia Tunggal (2007 : 20) menjelaskan bahwa :
“Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah bagian dari
sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,
perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber
daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian,
pengkajian dan pemeliharaankebijakan keselamtan dan kesehatan kerja
dalam rangkapengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja
guna terciptanya tempat kerja yang aman, efesien dan produktif.”
4. Memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuan fisik psikis pekerjanya..
2.3 Proses produksi
Prose produksi etalase sebagai berikut :
1. Bahan yang digunakan :
1) spandriel
2) holow
3) penyambung/ spigot
4) reel/ set
5) roda pintu dan kunci
6) kaca
7) karet
8) lem
9) baut taping /sekrup
2. Alat yang digunakan:
1) Bor
2) Pemotong aluminunium
3) Pemotong kaca
4) Ampelas kaca

6
5) Katter kaca
6) Meteran
3. Langkah –langkah pembuatan :
a. Langkah 1
1. Tentukan design yang akan di buat
2. Pilih bahan yang akan di pakai
3. Siapkan bahan yang akan di pakai
b. Langkah ke 2
1. Potong aluminium sesuai dengan panjang etalase yang akan di
buat menggunakan alat pemotong kecil.

2. Mengebor stainles dengan menggunakan bor kemudian


pasangkan spigot untuk mrnyambungkan kemudian pasang mur
kembali untuk merangkai stainles tersebut dan haluskan ujung
stainles dengan menggunakan kikir tersebut agar mudah untuk

merangkai.

7
3. Ukur kaca sesuai dengan etalase yang akan di pasang kaca
kemudian potong dgn menggunakan cutter pemotong kaca, Lalu
patahkan. Setelah selesai, pasang kaca ke etalase.

4. Bentuk rangkain seperti design semula

8
5. Selanjutnya pasang karet agar kaca tetap pada tempatnya agar
tidak jatuh, dan untuk estetika.
6. Yang terakhir pasang kunci
2.4 Lingkungan Kerja
1. Ruangan terbuka sehingga ventilasi dan pencahayaan baik.
2. Penempatan bahan di sendirikan namun alat-alat yang di gunakan di
sembarang tempat sehingga dapat terjadi resiko untuk jatuh dan
menyulitkan pekerja saat melakukan pekerjaanya.
3. Pengelolaan limbah kurang baik, untuk limbah kaca disendirikan ,tetapi
pengelolaan sampah seperti kantong plastik dan sisa besi berserakan
4. Ruangan sempit sehingga gerak pekerja terbatas
2.5 Manajemen waktu
1. Jam kerja mulai pukul 08.00-16.00
2. istirahat siang kurang lebih sekitar 60 menit (jam 12.00-13.00)
3. Hari minggu libur dan tanggal merah libur
4. Pembagian tugas kerja( serabutan )
5. Ada 3 karyawan.
3.1.Permasalahan
A. Faktor Penyebab
1. Belum adanya penggunaan APD
APD ( Alat Perlindungan Diri) tidak dipakai dalam melaksanakan
pekerjaanya.
2. Kurangnya Pengetahuan Tentang Pentingnya Pengguaan APD
Banyak pekerja yang tidak mengetahui pentingnya pemakaian
APD,sehingga banyak diantara mereka yang tidak memakai APD
dalam melakukan pekerjaan selama ini. Pemilik perusahaan juga
tidak memperdulikan dan menyediakan APD kepada pekerja.
3. Menejemen lingkungan yang kurang baik berupa kebisingan dan
tempat kerja dengan benda-benda yang berserakan.
4. Tidak adanya panduan cara bekerja yang sesuai dengan keadaan
anatomi tubuh

9
5. Waktu istirahat yang kurang seimbang dengan beban kerja para
pekerja.
B. Resiko penyakit akibat kerja
1. Lingkungan dengan suara tinggi/bising : masalah yang
muncul berupa tuli. Berkurangnya pendengaran adalah penurunan
fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga.
Sedangkan Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat
berat yang bisa disebabkan oleh suatu masalah mekanis di dalam
saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi
penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif).
Selain itu disebabkan oleh kerusakan pada telinga dalam, saraf
pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak yang merupakan
penurunan fungsi pendengaran sensorineural (Billy Antony, 2008).
Bising dengan intensitas 85 dB atau lebih dapat mengakibatkan
kerusakan pada reseptor pendengaran corti ditelinga
dalam,terutama yang berfrekuensi 3.000-6.000Hz ( mansjoer
arif,1999).
Tuli timbul mendadak atau menahun secara tidak jelas,kadang
sementara atau berulang dalam serangan,tapi biasanya menetap.tuli
dapat unilateral atau bilateral,dapat di sertai tinitus dan vertigo.pada
infeksi virus timbul mendadak dan biyasanya pada satu telinga.
Bila sementara dan tidak berat mungkin disebabkan spasme (
Mansjoer arif,dkk : 1999 )

Menurut Mansjoer Arif ( 1999:90 ) Tugas perawat untuk mencegah


terjadinya tuli akibat bising di tempat kerja yaitu Pasien dianjurkan
memakai alat pelindung telinga yang dapat dilakukan dengan
tahapan tahapan :

1. Pemantauan:
Alat ukur untuk pengukuran kebisingan di tempat kerja adalah
Sound Level Meter (SLM) dan untuk personal
monitoring digunakan Noise Dosimeter.

10
Sound Level MeterGambar di atas adalah Sound Level Meter
(SLM)

Gambar diatas adalah Noise Dosimeter yang digunakan untuk


personal monitoring kebisingan.

Sebelum melakukan pengukuran yang pertama harus dilakukan


adalah identifikasi bahaya apakah di area kerja terdapat sumber
bahaya dari mesin atau aktifitas pekerjaan yang dapat
menimbulkan kebisingan, bisa juga dengan melakukan Work
Through Survey yaitu survey ke tempat kerja dan melakukan
identifikasi bahaya.Langkah selanjutnya melakukan
pengukuran kebisingan dengan SLM, perlu diketahui bahwa
noise adalah menggunakan fungsi logaritma, karena rentang
pendengaran manusia sangat lebar dengan satuan desible
(db).Lakukan pengukuran secara periodik baik tempat kerja
maupun personal monitoring, bandingkan data pengukuran
dengan Nilai Ambang Batas.

11
1. Test audiometri
Apabila hasil pengukuran di tempat kerja menunjukkan
intensitas kebisingan melebihi NAB maka lakukan
audiometri test kepada karyawan minimal 1 tahun
sekali.Audiometri test juga harus dilakukan pada karyawan
baru / rotasi / mutasi sebelum di tugaskan ke area dengan
intensitas kebisingan yang tinggi. Target dari audiometri
test adalah pemeriksaan gangguan pendengaran
persepsi,konduksi atau campuran.
2. Pengendalian Kebisingan
Langkah efektif untuk pencegahan gangguan pendengaran
adalah dengan melakukan pengendalian pada sumber
bahaya dengan melakukan eliminasi, subtitusi,
engineering,administrasi.Pada tahap perencanaan /
engineering pastikan memilih peralatan dengan efek
kebisingan paling rendah, mesin dengan intensitas
kebisingan tinggi jauhkan dari area yang terdapat banyak
pekerja disana. Jika mesin tersebut masih bising lakukan
pemasangan barier, pasang peredam jika perlu total
enclosure / partial enclosure.

Untuk Tahap Administrasi bisa melakukan hal-hal sebagai


berikut:
1. Berlakukan area tersebut sebagai area terbatas, hanya
boleh dimasuki personil yang terlatih, menggunakan
Alat Pelindung Pendengaran
2. Pengaturan jadwal kerja sesuai NAB, misal 85 dBA
bekerja selama 8 jam, 88 dBA bekerja selama 4 jam, dst.

3. Alat Pelindung Diri / Alat Pelindung pendengaran


Pemakaian Alat pelindung pendengaran adalah upaya terakhir
dalam upaya pencegahan gangguan pendengaran, ada 2 jenis :
1. Ear plug / sumbat telinga

12
2. Ear muff / tutup telinga

13
Setiap Alat Pelindung Pendengaran memiliki nilai NRR (Noise
Reduction Rate), secara prinsip Kebisingan yang akan diterima
telinga kita adalah :

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – NRR (dBC)

Namun pengurangan dengan rumus diatas tidak tepat, gunakan


safety faktor 50%, dengan mempertimbangkan kualitas serta
cara penggunaannya yang tidak tepat, sehingga rumus diatas
menjadi :

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – [(NRR-


7)*50%]

Apabila dengan rumus tersebut Kebisingan masih >85 dBA, maka


gunakan pelindung ganda yaitu ear plug dan ear muff, untuk
perhitungan
– pilih NRR terbesar dari Ear plug atau ear muff, kemudian
hitung dengan rumus :

Kebisingan (dBA) = Kebisingan area kerja (dBA) – [(NRR-


7)*50%] – 5

14
Hal yang penting dalam Alat Pelindung Pendengaran ini adalah
berikan pelatihan penggunaannya yang tepat.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan Alat Pelindung


Pendengaran adalah :

1. Dapat melindungi pekerja dari kebisingan


2. Nyaman diapakai dan efisien
3. Cocok dengan Alat Pelindung diri yang lainnya misal
helm dan kacamata
4. Masih bisa berkomunikasi ketika digunakan, karena jika
berlebihan dapat menimbulkan bahaya lainnya misal tidak
dapat mendengar isyarat atau sirene tanda bahaya.

2. Waktu istirahat yang kurang : masalahnya menyebabkan stress fisik


/ mental dan kelelahan.
3. Kelelahan / Lalai : masalah yang muncul berupa resiko cedera
karena tertimpa bor,kaca,dan aluminium dalam jumlah yang
banyak; stress fisik maupun mental karena fektor istirahat yang
kurang
4. Tidak memakai APD : masalah yangmuncul berupa iritasi mata
karena terkena debu,cedera pada tubuh karena terkena jatuhan alat.
5. Posisi yg tidak ergonomi :masalah yang muncul berupa kelelahan
fisik, nyeri otot, LBP, shoulder arm syndrome, neck stifness, HNP.

15
BAB 3
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
3.1.Solusi
A. Pengendalian Risiko
1. Ketulian
Untuk tidak terjadi ketulian bisa menggunakan APD berupa ear plug dan
ear muff dan sebagainya.
2. Stress fisik/mental
Cara mengatasi stress fisik maupun mental yaitu berikan istirahat yang
sesuai dengan tingkat pekerjaan para pekerja. Anjurkan kepada
pemilik perusahaan untuk memeriksakan para pekerjanya seiap 6
bulan sekali
3. Terkena cedera
1. Mengatur waktu istirahat untuk relaksasi
2. Mengguanakan APD yang sesuai
3. Memakai sarung tangan untuk melindungi tangan dari goresan
kaca.
4. Menggunakan sepatu bot untuk melindungi kaki
5. Karyawan lebih berhati-hati dan dianjurkan jangan bergurau saat
bekerja
4. Iritasi mata
Gunakan google agar tidak terjadi iritasi mata
5. kelelahan fisik, nyeri otot, LBP, shoulder arm syndrome, neck
stifness, HNP, myalgia.
1. Menjaga posisi tubuh yang ergonomic saat bekerja.
2. Melakukan ergonomic exercise saat sebelum,selama,dan
sesudah melakukan pekerjaan.
3. Mengatur waktu istirahat untuk relaksasi
6. Kesehatan Pekerja
a. Pencegahan Primer
1. Adanya promosi kesehatan yang dilakukanoleh tenaga
kesehatan kepada para pekerja setiap berapa bulan sekali.

16
2. Pemberian pelatihan dan informasi tentang cara kerja yang
tepat.
3. Pemilik perusahaan harus menyeimbangkan antara
ketrampilan pekerja dengan tuntutan produksi
4. Para pekerja Membudidayakan peraturan yang sesuai dg
dengan aturan cara kerja yang tepat.
5. Pemilik perusahaan memeriksaan kesehatan sebelum
bekerja (medical check up)
6. Penggunaan APD dalam bekerja
7. Melakukan ergonomic exercise
b. Pencegahan sekunder
1. Pemilik perusahaan harus peka jika ada karyawan yang
sakit.
2. Pekerja diharapkan segera mengkonsultasikan keluhan fisik
yang dirasakan kepada pemilik perusahaan sehingga
pemilik perusaan bisa memberikanijin kepada pekerja
tersebut untuk memeriksakan keluhannya ke tenaga
kesehatan.
3. Memeriksa status kesehatan para pekerja setiap 6-12 bulan.
4. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.
5. Melakukan perpindahan pasien dari tempat yang terpajan.
6. Meningkatkan status gizi pekerja.
7. Perlindungan pada tempat yang berpotensi mengakibatkan
kecelakaan
c. Pencegahan tersier
1. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.
2. Pencegahan kekambuhan penyakit .
3. Pemulihan kesehatan pekerja dengan mengistirahatkan
pekerja.

17
BAB 4

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sistem menejemen di etalase PUTRA TAMAN USAHA sangat kurang
baik dilihatdari faktor pekerja,lingkungan maupun menejemen K3 di
perusahan etalase PUTRA TAMAN USAHA.
Faktor yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan sistem manajemen di
etalase PUTRA TAMAN USAHA adalah sumber daya manusia. Sumber
daya manusia yang kurang mengetahui tentang penggunaan APD di tempat
kerja memungkinkan terjadinya resiko kecelakaan kerja.selain dari sumber
daya manusia,lingkungan juga berpengaruh,lingkungan yang kurang tertata
rapi dengan barang-barang yang berserakan juga akan menimbulkan resiko
kecelakaan di tempat kerja,dimana itu akan menyebabkan kerugian pada
pemilik perusahaan dan pekerja itu sendiri.
Kemudian faktor lain yang berpengaruh juga adalah program K3 merupakan
usaha suatu perusahaan untuk mebentuk peraturan kesehatan dan keselamatan
kerja, yaitu membentuk tempat kerja, perlengkapan serta peralatan kerja yang
aman dari segi kesehatan dan keselamatan kerja, memperbelakukan peraturan
kesehatan dan keselamatan kerja, menyusun prosedur kerja lengkap dan
terinci bagi pekerjaan yang dianggap berbahaya. Program K3 yang efektif
adalah hasil suatu perusahaan, koordinasi serta komitmen semua karyawan
suatu perusahaan dari tenaga kerja terbawah sampai pimpinan teratas.
Kemudian yang ketiga adalah proses manajemen, proses manajemen berada
dalam lingkup organisasi dan mencakup kebijakan, prosedur dan standar,
pelatihan, dan prosedur pemeriksaan. Proses tersebut harus mengalir baik
kebagian atas maupun ke bagian bawah organisasi.

4.2 Saran
1. Sebaiknya pihak perusahaan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan
dalam memberikan pelatihan K3 pada karyawannya.
2. Pemilik perusahaan harus mampu mengidentifikasi karyawan yang sakit
sehingga dapat segera dibawa ke tenaga kesehatan.

18
3. Unsur-unsur penilaian yang lain seperti kecakapan, kesungguhan kerja,
disiplin, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama dan ketentuan pada
perintah dinas, serta kehadiran juga harus disertakan dalam peningkatan
keselamatan dan kesehatan kerja para karyawannya.
4. Untuk lebih meningkatkan keselamatan dan kesehatan karyawannya,
pihak perusahaan sebaiknya membuka diri untuk menerima keluhan-
keluhan maupun saran terutama dari para karyawannya.

19
DAFTAR PUSTAKA

Bennet N.B Silalahi, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, (Jakarta :


Pustaka Binaman Pressindo, 1985) hlm. 90

Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius.

Agus Maulana, Manajemen Proyek Konstruksi (Jakarta : IPPM, 1991), hlm. 90.
Payaman J Simanjuntak, Manajemen Keselamatan Kerja, (Jakarta : HIPSMI,
1994), hlm.2
Daryanto, Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Bengkel, (Jakarta : Rineka Cipta,
2007) hlm. 20
Payaman J Simanjuntak, Manajemen Keselamatan Kerja, (Jakarta : HIPSMI,
1994), hlm. 34
Suma’mur Pk., Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, ( Jakarta : Pustaka Binaman
Pressindo, 1995) hlm. 57
http://www.kesehatankerjaperusahaanetalase.blogspot// diakses hari jumat tanggal
30 oktober 2015 pukul 19.00
http://sistemmanajemenkesehatankerjaperusahaanetalase.blogspot// diakses hari
jumat tanggal 30 oktober 2015 pukul 19.00

20