Anda di halaman 1dari 7

1

RINGKASAN
Rodifan Maarij Firman Dwi Putro. 145040200111179. Studi Budidaya dan Pengamatan
Hama pada Tanaman Jarak Pagar di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo, Jawa
Timur. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Retno Dyah Puspitarini sebagai Pembimbing Magang
dan Drs. Dwi Adi Sunarto, MP. sebagai Pembimbing Lapang

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Energi merupakan kebutuhan dasar manusia yang terus meningkat seiring pertumbuhan
dan perkembangan zaman. Kebutuhan akan sumber energi yang berasal dari minyak bumi semakin
meningkat dan dikhawatirkan terjadi krisis minyak bumi di masa yang akan datang. Pada tahun
2011, produksi minyak bumi di Indonesia mengalami penurunan dan ketersediaan cadangan
minyak bumi di Indonesia saat ini hanya dapat memenuhi kebutuhan minyak bumi hingga 23 tahun
ke depan (ESDM, 2012). Indonesia memiliki potensi sumber energi alternatif dalam jumlah besar,
di antaranya ialah bioethanol, biodiesel, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga uap
air, dan sampah/limbah untuk pembangkit tenaga listrik (Umam, 2007). Biodiesel adalah bahan
bakar minyak alternatif yang terbuat dari bahan terbarukan yang berasal dari ekstrak biji tanaman
atau lemak hewan yang dapat digunakan pada mesin (Shurtleff dan Aoyagi, 2017). Tanaman yang
dapat menghasilkan minyak dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar adalah jarak pagar
(Heller, 1996).
Jarak pagar Jatropha curcas L. (Euphorbiaceae) merupakan tanaman berbunga yang
banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini dapat menghasilkan biji dan minyak yang dapat
dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar. Manfaat lain dari tanaman jarak pagar ini adalah
sebagai pupuk organik, pakan ternak, dan obat-obatan (Santoso, 2010)
Serangan hama terhadap tanaman jarak pagar telah menjadi kendala utama dalam
pembudidayaan tanaman jarak pagar. Di India, serangan hama pada tanaman ini telah
menghancurkan produksi biji jarak pagar dan berdampak secara ekonomi (Shanker dan Dhyani,
2006). Pengetahuan terhadap jenis-jenis serangga yang berpotensi menjadi hama pada tanaman
jarak pagar diperlukan guna mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan dan menyusun strategi
yang diperlukan untuk mengendalikan hama. Oleh sebab itu, diperlukan pengamatan terhadap
jenis-jenis hama dan bagaimana cara pengendaliannya untuk mencegah terjadinya kerusakan
tanaman akibat serangan hama tersebut.
Tujuan
Tujuan dari kegiatan magang kerja ini, yaitu: (1) mengkaji cara budidaya dan mengamati
keanekaragaman hama yang terdapat pada tanaman jarak pagar, (2) menerapkan ilmu yang telah
didapat selama di perkuliahan ke dalam praktik langsung di lapang, (3) membandingkan ilmu
pengetahuan yang telah didapatkan di perkuliahan dengan yang diterapkan di lapang dan (4)
melatih mahasiswa untuk bekerja mandiri dan beradaptasi dengan kondisi lapang.
Manfaat
Melalui kegiatan praktik magang kerja ini, akan akan diperoleh pengalaman langsung
terhadap budidaya jarak pagar, pengendalian hama dan mengetahui jenis-jenis hama yang terdapat
pada lahan jarak pagar di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.
2

METODE PELAKSANAAN MAGANG


Waktu dan Tempat
Kegiatan magang kerja dilaksanakan pada 19 Juli sampai dengan 20 September 2017
berlokasi di Kebun Percobaan (KP) Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.
Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan magang kerja dilakukan dengan mengikuti dan menjalankan setiap rangkaian
kegiatan yang dilakukan di KP. Asembagus. Metode kegiatan magang yang dilakukan yaitu
orientasi dan wawancara, studi literatur, studi budidaya, dan pengamatan hama.
Orientasi dan Wawancara. Orientasi lapang dilakukan untuk beradaptasi dalam
melakukan magang kerja di lapang. Orientasi yang akan dilakukan mulai dari pengenalan terhadap
pekerja lapang, staf perusahaan, dan pimpinan perusahaan, termasuk tata tertib perusahaan yang
harus dipatuhi. Selain itu pengenalan lokasi kebun jarak pagar KP. Asembagus juga diperlukan
untuk mempermudah dalam mengetahui lokasi kegiatan magang kerja. Wawancara dilaksanakan
melalui komunikasi secara langsung pada teknisi kebun dan pihak-pihak yang berkaitan dengan
kegiatan magang untuk menunjang perolehan data dan informasi di lapang.
Studi Literatur. Studi literatur atau studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca
literatur (buku) atau hasil penelitian-penelitian (jurnal, bulletin, atau laporan-laporan hasil
penelitian yang lain) yang sesuai.
Studi Budidaya. Studi budidaya terhadap jarak pagar dilakukan dengan cara
mengumpulkan data primer dan sekunder yang berkaitan dengan kegiatan budidaya jarak pagar
mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, dan pemanenan.
Persiapan meliputi pengolahan tanah, pengajiran dan pembuatan lubang tanam. Pembibitan
meliputi pembuatan bahan tanam. Penanaman yang dilakukan meliputi penentuan waktu tanam,
teknik penanaman bibit dan mengatur jarak tanam. Pemupukan meliputi teknik pemupukan, dosis,
waktu, dan jenis pupuk yang digunakan. Perawatan meliputi pemangkasan, penyiangan gulma
yang tumbuh di sekitar tanaman jarak, dan pengendalian hama. Pemanenan yang dilakukan
meliputi menentukan kriteria panen, teknik pemanenan tanaman jarak, dan penanganan pasca
panen.
Data primer diperoleh dengan cara mengikuti, mengamati, dan mencatat kegiatan secara
langsung di lapangan. Data sekunder digunakan sebagai penunjang dari data primer yang
didapatkan melalui wawancara dengan pihak dari kebun jarak pagar, membaca pustaka berupa
buku, jurnal, laporan hasil penelitian, serta literatur-literatur lainnya yang terdapat di arsip KP.
Asembagus.
Pengamatan Hama. Pengamatan hama pada tanaman jarak dilakukan dengan studi
pustaka dan mengamati setiap serangga yang terdapat pada tanaman jarak pagar di lapang.
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis hama yang terdapat pada tanaman jarak pagar
yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan menurunkan produksi. Serangga hama yang
ditemukan ditangkap dan dimasukkan wadah dan didokumentasikan menggunakan kamera dan
mikroskop Dino-lite. Identifikasi serangga hama dilakukan melalui literatur dan penelusuran
internet.
3

HASIL DAN PEMBAHASAN


Profil Kebun Percobaan (KP) Asembagus
Profil KP. Asembagus. KP. Asembagus terletak di Desa Banyuputih, Kecamatan
Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Bentuk tropografi datar dengan elevasi 5,5 mdpl. yang
memanjang dari arah utara-selatan sepanjang 1100 m pada posisi garis bujur 7o39-43 LS dan posisi
garis bujur 114o121 BT, dengan luas areal 40,0626 ha. dengan petakan lahan bertopografi datar
dengan luas persil 0,3736 sampai dengan 1,9261 ha/persil.
Fungsi KP. Asembagus. KP. Asembagus berfungsi sebagai tempat penelitian dan
pengembangan beberapa tanaman yang menjadi mandat BALITTAS antara lain, Jarak Pagar, Jarak
Kepyar, Kapas, Tebu, dan Rosella. Sebagai penyuplai benih varietas unggul ke BALITTAS seperti
benih kapas, jarak pagar, dan jarak kepyar. Sebagai tempat kebun induk jarak pagar. Sebagai
tempat konservasi plasma nutfah. Sebagai show window. Sebagai tempat pembuatan pupuk
organik. Sebagai tempat pembuatan biogas. Dan sebagai tempat kawasan wisata ilmiah.
Kegiatan KP. Asembagus. Tiap tahunnya lahan KP. Asembagus digunakan untuk
penelitian dan perbanyakan benih. Pada tahun 2012, terdapat 15 judul penelitian yang terdiri dari
4 judul kegiatan perbanyakan benih (UPBS) yaitu, kapas seluas 4 ha, jarak pagar seluas 4 ha, jarak
kepyar dengan varietas Asb.81 seluas 4 ha, dan wijen varietas Sbr.1 seluas 2 ha.
Fasilitas KP. Asembagus. KP. Asembagus memiliki beberapa fasilitas untuk mendukung
penelitian dan pengembangan berbagai percobaan. Fasilitas tersebut berupa luasan lahan,
bangunan dan alat-alat mekanisasi.
Budidaya Tanaman Jarak Pagar
Budidaya jarak pagar di Kebun Percobaan Asembagus merupakan salah satu kegiatan
perakitan varietas unggul jarak pagar dan tanaman penghasil minyak lainnya. Lahan tempat
kegiatan budidaya digunakan sebagai aktivitas uji daya hasil klon jarak pagar dan pengadaan
benihnya. Lahan ini memiliki luas 0,8 ha yang terdiri atas 56 petak dengan ukuran tiap petak 10x8
m, dan jarak tanam 2x2 m. Setiap petak terdiri dari 20 tanaman.
Kegiatan budidaya jarak pagar yang dipelajari dan dilakukan meliputi persiapan lahan,
pembuatan bibit stek jarak pagar, penanaman di lapang, penyiangan, pemupukan, pemangkasan,
pengairan, pengendalian hama, pemanenan, dan pemrosesan biji.
Persiapan Lahan. Sebelum penanaman, lahan disiapkan dengan cara membajak lahan
secara kering dari arah barat ke timur dan dari utara ke selatan. Alur pembajakan ditandai
menggunakan kapur dolomit. Lahan dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman sebelumnya.
Pada tanah yang bertekstur lebih berat dilakukan pembajakan sebanyak tiga kali. Setelah dilakukan
pembajakan kemudian dilakukan pemplotan jarak tanam menggunakan ajir.
Pembuatan Bibit Stek Jarak Pagar. Bibit yang digunakan adalah bibit stek yang dipilih
dari cabang yang memiliki tunas pada tanaman yang berumur 2-3 tahun. Stek dengan panjang 15-
20 cm dipotong dari bagian tanaman yang memiliki tunas menggunakan gunting stek kemudian
ditanam di polybag yang berisi tanah. Pemeliharaan bibit terdiri atas penyiraman dan pengendalian
hama-penyakit. Penyiraman dilakukan setiap hari dan pengendalian hama-penyakit dilakukan
apabila terjadi serangan.
Penanaman di Lapang. Penanaman jarak pagar di lapang menggunakan bibit hasil stek
yang telah berumur 1,5-2 bulan. Lubang tanam dibuat berukuran 40x40x40 cm. Lubang tanam
4

kemudian diisi dengan pupuk organik dan Phonska dengan dosis 30-50 gr per lubang tananm.
Pupuk kemudian ditutup dengan tanah setinggi 10 cm. Setelah itu bibit jarak pagar ditanam
langsung ke dalam lubang tanam.
Penyiangan. Penyiangan terhadap dilakukan 3-4 kali setahun menggunakan cangkul, sabit
dan herbisida. Penyemprotan gulma dengan herbisida dilakukan saat penutupan gulma mencapai
30%. Apabila perlakuan menggunakan herbisida belum berhasil, maka perlu dilakukan
penyiangan secara selektif pada jarak 50 cm dari tanaman.
Pemupukan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk Phonska dengan dosis 450 kg/ha
ditambah dengan Urea 100 kg/ha. Pupuk Phonska diberikan setiap dua bulan sekali. Pupuk Urea
diberikan pada akhir musim penghujan. Pupuk organik (kompos) dengan dosis 2,5 kg/tanaman
diberikan pada saat musim penghujan. Pemupukan dilakukan dengan cara dibenamkan 50 cm di
sisi tanaman sedalam 15-20 cm.
Pemangkasan. Pemangkasan perlu dilakukan apabila tanaman sudah mencapai 2 m untuk
memudahkan pemanenan. Pemangkasan dilakukan setinggi 40 cm dari atas permukaan tanah.
Setiap kali pemangkasan sebaiknya disisakan sedikitnya 1 tunas yang dibiarkan tumbuh untuk
menanggulangi staknasi pertumbuhan. Setelah pemangkasan, selambat-lambatnya dilakukan
pengaturan jumlah tunas dengan menyisakan maksimum 3 tunas per cabang yang arah
pertumbuhannya menyebar. Pemangkasan juga dilakukan pada cabang-cabang yang sudah tidak
lagi produktif secara selektif pada awal musim penghujan. Untuk tanaman yang berumur lebih dari
2 rahun tidak perlu dilakukan apabila jumlah cabang cukup banyak (>40 cabang) dan tinggi
tanaman belum mencapai 2 m, yang perlu dilakukan hanya membuang tunas air atau mewiwil
secara periodik.
Pengairan. Pengairan dilakukan sekali dalam 3 minggu di musim kemarau. Teknik
pengairan pada lahan adalah dengan cara mengalirkan air dari mesin pompa melalui parit-parit di
pinggir dan di sela-sela tanaman. Lahan jarak pagar diirigasi dengan cara membuka dan menutup
saluran-saluran pada tiap petak secara bergantian. Saluran irigasi dibuka dan ditutup mengunakan
cangkul. Pengairan dilakukan sampai parit di sela-sela tanaman penuh dengan air.
Pengendalian Hama. Pengendalian hama tungau pada tanaman jarak pagar
menggunakanz akarisida dengan bahan aktif Piridaben dengan konsentrasi 135 g/l bersamaan
dengan waktu pengairan. Pengendalian pada hama thrips menggunakan pestisida kapur belerang
dengan konsentrasi 10-15 ml/l dengan larutan semprot 300-400 l/ha.
Pemanenan. Tanaman jarak pagar baru bisa dipanen setelah 3 bulan sejak pindah tanam.
Pemanenan dilakukan secara selektif yaitu apabila buah sudah masak dengan tanda berwarna
kekuningan, kuning sampai kecoklatan. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah yang
telah masak di tandan dan memungut buah yang telah rontok di bawah tanaman. Buah yang terlalu
masak berwarna coklat dan mengering sehingga kulit buahnya pecah dan biji di dalamnya terlihat.

Penanganan Pascapanen. Buah yang telah dipanen kemudian dikupas untuk memisahkan
biji dari kulitnya. Biji kemudian dipisahkan dari kotoran, biji hampa, dan biji pecah. Biji kemudian
dikumpulkan dalam kantong jaring dan dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa jam
hingga kadar air mencapai 6-8%. Biji yang telah dijemur kemudian ditimbang dan disimpan di
dalam gudang yang kering dengan suhu maksimum 27 C dan kelembaban maksimum 70%.
Dalam produksi benih jarak pagar, benih yang telah disortasi dipilih sebagai sampel
sebanyak 0,5 kg setiap tahapan panen untuk uji daya kecambah. Setelah diketahui hasil uji daya
5

kecambah, benih dipacking dalam plastik setebal 0,08 mm berkapasitas 2 kg. Benih yang dikemas
adalah benih yang memilik daya kecambah >80 %. Kemasan benih disimpan pada rak di dalam
gudang benih yang dikontrol seminggu sekali untuk memastikan kemasan tidak rusak akibat
gudang bocor atau terkena serangan hama gudang.
Hama Pada Tanaman Jarak Pagar
Beberapa jenis hama yang ditemukan di tanaman jarak pagar berpotensi untuk merusak
tanaman dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Hama tersebut yaitu tungau merah
laba-laba Tetranychus sp. (Acari: Tetranychidae), tungau laba-laba palsu Brevipalpus sp. (Acari:
Tenuipalpidae), thrips Selenothrips rubrocinctus Giard (Thysanoptera: Thripidae), kutu putih
Ferrisia virgata Cockrell (Hemiptera: Pseudococcidae), kepik hijau Nezara viridula Linnaeus
(Hemiptera: Pentatomidae), dan kepik Chrysocoris sp. (Hemiptera: Scutelleridae).
Tungau Merah Laba-laba Tetranychus sp. Tungau laba-laba ditemukan di bagian
bawah permukaan daun. Tungau ini berwarna merah dan di sekitarnya terdapat benang-benang
seperti sarang laba-laba. Telur berbentuk bundar dengan warna kekuningan transparan dan
diletakkan di bawah permukaan daun. Serangan tungau ini berada di daun dekat pucuk tanaman,
bekas serangan berupa bintik-bintik coklat, tetapi tidak sampai menyebabkan daun mati. Menurut
Zhang (2003), tungau laba-laba adalah tungau penting yang menyerang tanaman. Sebagian besar
spesies tungau laba-laba bersifat polifag. Serangan umumnya terjadi pada tanaman pangan dan
tanaman hias. Tungau laba-laba bertubuh lunak, berukuran 400 µm untuk rata-rata betina dewasa,
dan berwarna merah, hijau, jingga atau kuning. Tungau laba-laba lebih menyukai berada di
permukaan bawah daun dan mengkonsumsi tanaman dengan menghisap cairan tanaman melalui
alat mulutnya. Penyebarannya dari tanaman ke tanaman dapat terjadi melalui udara, tanaman lain
yang terserang, atau peralatan dan pakaian pekerja kebun. Tungau juga bisa merayap ke tanaman
yang di dekatnya, khususnya ketika terjadi serangan parah dan menyebabkan daun menjadi kering.
Tungau Laba-laba Palsu Brevipalpus sp. Tungau ini ditemukan di bagian bawah dan atas
permukaan daun hampir di semua petak di bagian timur. Tungau berwarna jingga kemerahan dan
tubuhnya tampak pipih. Gejala yang diakibatkan oleh tungau ini adalah munculnya bercak
kecoklatan di bawah permukaan daun, daun menjadi tampak kaku dan berwarna kekuningan.
Menurut Zhang (2003), tungau Brevipalpus sp. bersifat fitofag. Pergerakan tungau ini terbilang
lambat dan biasanya ditemukan di permukaan bawah daun dan sering berkumpul di tepian tulang
daun. Tungau ini memiliki ukuran yang kecil. Sebagian besar spesies berukuran antara 200 dan
400 µm dan berwarna jingga kemerahan ketika hidup.
Thrips Selenothrips rubrocinctus. Thrips ditemukan berkoloni di permukaan bawah daun.
Hama ini menyerang daun jarak pagar. Gejala dari serangan ini adalah terdapat bercak keperakan
pada daun, selanjutnya daun mengering dan gugur. Selain gejala, thrips juga meninggalkan tanda
berupa bintik-bintik berwarna hitam di permukaan bawah daun yang merupakan hasil ekskresi
serangga ini. Menurut Asbani (2008), S. rubrocinctus biasanya hidup di permukaan bawah daun
dan lebih menyukai daun-daun yang tua. Hama ini menyerang dengan cara mengisap cairan dari
sel-sel permukaan daun menggunakan alat mulut yang berupa stilet. Gejala dan tanda dari serangan
hama ini mudah dikenali yaitu adanya lapisan keperakan pada permukaan daun dan adanya bercak
coklat kehitaman yang merupakan cairan ekskresi hama. Thrips bersifat polifag yang memiliki
inang dari beberapa genus tumbuhan. Selain menyerang jarak pagar, serangga ini juga menjadi
hama pada beberapa jenis tanaman budidaya lain. Serangan thrips pada tanaman jarak pagar
utamanya terjadi pada daun, selain itu juga menyerang pada bunga dan buah.
6

Kutu Putih Ferrisia virgata. Kutu putih F. virgata ini memiliki tubuh berbentuk oval,
pipih, berwarna putih, dan dilapisi oleh tepung berwarna putih. Pada bagian posterior terdapat 2
benang yang memanjang ke arah belakang. Kutu putih ditemukan di permukaan bawah daun,
bunga, dan tangkai buah jarak pagar. Pada daun dan tangkai buah, serangan kutu putih tidak
menimbulkan kerusakan yang berarti. Tetapi serangan pada bunga jarak pagar menyebabkan
bunga tertutupi oleh kutu putih sehingga bunga mengering dan rontok. Akibatnya buah jarak pagar
tidak dapat terbentuk. Menurut Winarno (2015), kutu putih berukuran 4 mm, berbentuk oval dan
agak pipih. Kutu ini menghasilkan lilin berwarna putih untuk perlindungan diri. Nimfa dan kutu
dewasa menghisap cairan pada tanaman yang masih muda dan menghasilkan embun madu yang
disukai oleh semut-semut. Kutu F. virgata menyerang hampir semua bagian tanaman jarak. Kutu
mengkonsumsi tanaman dengan cara mengisap cairan tanaman sehingga menyebabkan daun
menjadi kuning dan layu. Serangan pada bagian bunga menyebabkan bunga jarak pagar tertutupi
oleh koloni kutu putih sehingga proses penyerbukan dapat terganggu dan menurunkan produksi
buah. Pada serangan berat dapat memunculkan gejala berupa embun jelaga berwarna hitam (sooty
mould). Bagian tanaman yang terserang parah tertutupi oleh kutu ini dan mengakibatkan daun
rontok.
Kepik Hijau Nezara viridula. Kepik hijau ditemukan sesekali di tanaman jarak pagar.
Kepik ini berwarna hijau sesuai dengan namanya. Menurut Dadang (2005), kepik hijau adalah
serangga polifag yang tersebar luas di dunia yang mudah dikenali dengan warna tubuhnya yang
hijau. Serangga dewasa dan nimfa mengkonsumsi tanaman jarak pagar dengan cara mengisap
cairan tanaman. Serangga ini kadang-kadang menyerang tanaman jarak pagar pada saat
pembungaan sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada kapsul buah yang sedang berkembang.
Kepik Chrysocoris sp. Kepik Chrysocoris memiliki warna hijau, merah dan jingga dengan
pola berwarna hitam di tubuhnya. Dari pengamatan di lapang, kepik ini sangat jarang dijumpai
pada tanaman jarak pagar sehingga tidak dijumpai adanya gejala kerusakan. Menurut Shanker dan
Dhyani (2006), kepik scutellerid Scutellera nobilis Fabr. telah menyebabkan kerusakan berupa,
rontoknya bunga, keguguran buah, dan biji yang tidak sempurna.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
KP. Asembagus merupakan salah satu kebun percobaan milik BALITTAS berfungsi
sebagai tempat penelitian dan pengembangan beberapa jenis tanaman pemanis, penghasil serat,
dan minyak. KP. Asembagus juga berfungsi sebagai penyuplai benih varietas unggul ke
BALITTAS seperti benih kapas, jarak pagar, dan jarak kepyar. Sebagai tempat kebun induk dan
konservasi plasma nutfah tanaman jarak pagar.
Tahapan budidaya tanaman jarak pagar yang dilakukan di KP. Asembagus meliputi
persiapan lahan, pembuatan bibit, penanaman di lapang, penyiangan, pemupukan, pemangkasan,
pengairan, pengendalian hama, pemanenan, dan penanganan pascapanen.
Beberapa hama pada tanaman jarak pagar yang ditemukan berpotensi merusak tanaman
budidaya hingga menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Hama tersebut yaitu tungau
merah laba-laba, tungau laba-laba palsu, thrips, kutu putih, kepik hijau, kepik Chrysocoris sp.
Saran
KP. Asembagus sebaiknya lebih mengintensifkan lagi tentang kegiatan budidaya jarak
pagar. Mulai dari pengamatan terjadwal terhadap intensitas serangan hama sebelum dilakukan
7

pengendalian, perawatan rutin pada tanaman, dan pemrosesan biji jarak pagar lebih lanjut
menggunakan peralatan yang lebih memadai agar dapat diperoleh pemahaman lebih banyak
tentang budidaya jarak pagar oleh mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Asbani, N. 2008. Selenothrips rubrocinctus: Hama Penting pada Jarak Pagar. Warta Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Industri. 14(3): 3-4.

Dadang. 2005. Pengendalian Hama dan Penyakit Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.). Prosiding
Seminar Nasional. Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor. Hlm: 96-
97.

ESDM. 2012. Kajian Suply-Demand Energy. Pusat Data dan Informasi dan Sumber Daya Mineral,
Kementerian Energi Sumberdaya Alam dan Mineral. Diunduh dari www.esdm.go.id. Pada
tanggal 29 Oktober 2017.

Heller, J. 1996. Physic nut. Jatropha curcas L. Promoting the Conservation and Use of
Underutilized and Neglected Crops. 1. Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research,
Gatersleben/ International Plant Genetic Resources Institute, Rome.

Karmawati, E., dan W. Rumini. 2009. Dinamika Populasi dan Pengendalian Hama Utama Jarak
Pagar. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 31(5):12-13.

Shanker, C. dan S. K. Dhyani. 2006. Insect of Jatropha curcas L. and The Potential for Their
Management. Prosiding National Research Centre for Agroforestry 30 April 2006. Hlm: 162-
163.

Shurtleff, W. dan A. Aoyagi. 2017. History of Biodiesel with Emphasis on Soy Biodiesel (1900-
2017): Extensively Annonated Bibliography and Sourcebook. Soyinfo Center, USA.

Winarno, D. 2015. Hama Kutu Putih pada Jarak Pagar. Warta Penelitian dan Pemgembangan dan
Pengembangan Tanaman Industri. 21(2):13-19.

Zhang, Z. Q. 2003. Mites of Greenhouse. Identification, Biology and Control. CABI Publishing,
USA.