Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Hiperplasia endometrium merupakan prekursor terjadinya kanker


endometrium yang terkait dengan stimulasi estrogen yang tidak terlawan
(unopposed estrogen) pada endometrium uterus. Stimulasi estrogen yang tidak
terlawan dari siklus anovulatory dan penggunaan dari bahan eksogen pada wanita
postmenopause menunjukkan peningkatan kasus hiperplasia endometrium dan
karsinoma endometrium. Kelainan ini biasanya muncul dengan perdarahan uterus
abnormal. Resiko terjadinya progresifitas sangat terkait dengan ada atau tidak
adanya sel atipik.
The American Cancer Society (ACS) memperkirakan ada 40.100 kasus
baru dari kanker rahim yang didiagnosis pada tahun 2010, dimana 95 % berasal
dari endometrium. Sistem klasifikasi dari hiperplasia endometrium sudah dibuat
berdasarkan kompleksitas dari kalenjar endometrium dan sel-sel atipik pada
pemeriksaan sitologi. Hiperplasia atipikal sangat terkait dengan progresifitas
menjadi karsinoma endometrium.Progresifitas dari hiperplasia endometrium,
menjadi kondisi patologis yang lebih agresif sangat terkait dengan diagnosis awal
pada endometrium.
Hiperplasia sederhana (simple hyperplasia) lebih sering mengalami
regresi jika sumber estrogen eksogen dihilangkan. Bagaimanapun, hiperplasia
atipikal seringkali berkembang menjadi adenokarsinoma kecuali diintervensi
dengan terapi medis. Terapi dengan penggantian hormon sedang dalam penelitian
untuk menentukan dosis dan tipe dari progestin untuk melawan efek stimulasi
berlebihan estrogen pada endometrium. Hiperplasia endometrium biasanya
didiagnosis dengan biopsy endometrium atau kuretase endometrium setelah
seorang wanita menemui dokter kandungan dengan perdarahan uterus abnormal.
Modalitas terapi tergantung dengan usia pasien, keinginan untuk
memiliki anak, dan keberadaan dari sel atipik pada bahan endometrium. Progestin
telah sukses digunakan pada wanita dengan hiperplasia endometrium yang
memilih untuk tidak dilakukan pembedahan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Endometrium

Gambar 1. Anatomi uterus

Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang terletak
di dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di posterior.
Uterus biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. Korpus dilapisi oleh
endometrium dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan tahap siklus
menstruasi. Endometrium tersusun oleh kelenjar-kelenjar endometrium dan
sel-sel stroma mesenkim, yang keduanya sangat sensitif terhadap kerja
hormon seks wanita. Hormon yang ada di tubuh wanita yaitu estrogen dan
progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang
pertumbuhan dan progesteron mempertahankannya.1
Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan
kanalis endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis.
Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya
menempelnya ovum yang telah dibuahi. Di dalam lapisan Endometrium
terdapat pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke
lapisan ini. Saat ovum yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi)
menempel di lapisan endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung
dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada
bayi.
Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka
mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan agar hasil konsepsi bisa
tertanam. Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma,
maka korpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan
berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan sedikit hormon diikuti
meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena
hormon estrogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini,
biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.3,4

2.2 Siklus Endometrium Normal


Endometrium normal menunjukkan perubahan siklik yang disebabkan
oleh perubahan terkait dalam produksi hormon ovarium.Pemeriksaan
histologik endometrium pada specimen biopsy atau kuretase memungkinkan
evaluasi fase siklus endometrium. Bersama dengan riwayat menstruasi
pasien, hal ini dapat memberikan informasi penting mengenai kemungkinan
penyebab perdarahan uterus abnormal.1,5
Siklus endometrium terbagi menjadi fase proliferative praovulasi yang
merupakan akibat stimulasi estrogen dan fase sekresi pascaovulasi yang
diatur oleh sekresi progesterone korpus luteum. Hari pertama siklus adalah
mulainya menstruasi.
Pada fase proliferative, terjadi pembentukan kembali endometrium
yang terlepas dari basal dan gambaran mitotic pada sel-sel stroma maupun
kelenjar.Endometrium menebal, dan kelenjar mulai menjadi berkelok-
kelok.Fase sekretori dimulai setelah ovulasi dengan sekresi progesterone
luteum. Bukti histologis pertama bahwa endometrium berada dalam fase
sekretorik terlihat 2 sampai 4 hari setelah ovulasi, ketika vakuol sekretorik
subinti muncul di dalam kelenjar. Kemudian, sekresi hal tersebut bergerak ke
puncak sel inti bergerak kembali ke dasar. Edema stroma tampak pada hari ke
tujuh pascaovulasi. Kelenjar tersebut menjadi lebih berkelok-kelok secara
progresif dan secara tipikal ujungnya berbentuk seperti gerigi pada siklus.
Arteriol spiral menjadi menonjol pada hari ke sembilan setelah
ovulasi. Mulai pada hari ke sembilan setelah ovulasi, sel-sel stroma menjadi
lebih besar, dengan peningkatan kandungan glikogen dan banyaknya sitoplas
(perubahan pradesidua). Pada saat fertilisasi tidak terjadi, neutrofil tampak di
dalam stroma sekitar 13 hari setelah ovulasi, disertai dengan meningkatnya
perdarahan dan nekrosis fokal kelenjar. (fase pramenstruasi). Dalam fase
sekretorik siklus ini, histology endometrium memungkinkan penilaian yang
sangat akurat (dalam 2 hari) mengenai tanggal siklus tersebut dalam kaitan
dengan ovulasi.
Menstruasi terjadi akibat penurunan mendadak estrogen dan
progesterone akibat degenerasi korpus luteum. Arteriol spiral kolaps,
menyebabkan degenerasi iskemik pada endometrium. Endometrium
menstrual menunjukkan terlepasnya kelenjar, perdarahan, dan infiltrasi oleh
leukosit neutrofil. Keseluruhan permukaan endometrium hingga lapisan basal
terlepas selama menstruasi, keseluruhan proses ini memerlukan waktu 3-5
hari.1,6
Gambar 2. Siklus Menstruasi

2.3 Hiperplasia Endometrium


2.3.1 Definisi

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari


kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan
infiltrasi limfosit pada endometrium. Bersifat noninvasif, yang
memberikan gambaran morfologi berupa bentuk kelenjar yang irreguler
dengan ukuran yang bervariasi. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian
maupun seluruh bagian endometrium.3,7
Gambar 3. Perbedaan endometrium normal dan hiperplasia

Hiperplasia endometrium juga didefinisikan sebagai lesi praganas


yang disebabkan oleh stimulasi estrogen yang tanpa lawan. Hal ini
biasanya terjadi sekitar atau setelah menopause dan terkait dengan
perdarahan uterus berlebihan dan ireguler.1
Menurut referensi lain, hiperplasia endometrium adalah suatu
masalah dimana terjadi penebalan/pertumbuhan berlebihan dari lapisan
dinding dalam rahim (endometrium), yang biasanya mengelupas pada saat
menstruasi.3
Hiperplasia endometrium biasa terjadi akibat rangsangan /
stimulasi hormon estrogen yang tidak diimbangi oleh progesteron. Pada
masa remaja dan beberapa tahun sebelum menopause sering terjadi siklus
yang tidak berovulasi sehingga pada masa ini estrogen tidak diimbangi
oleh progesteron dan terjadilah hiperplasia. Kejadian ini juga sering terjadi
pada ovarium polikistik yang ditandai dengan kurangnya kesuburan (sulit
hamil).4
2.3.2 Klasifikasi
Risiko keganasan berkorelasi dengan keparahan hiperplasia,
sehingga diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Hiperplasia sederhana (hiperplasia ringan). Dicirikan dengan peningkatan
jumlah kelenjar proliferatif tanpa atipia sitologik. Kelenjar tersebut,
meskipun berdesakan dipisahkan oleh stroma selular padat dan memiliki
berbagai ukuran. Pada beberapa kasus, pembesaran kelenjar secara kistik
mendominasi (hiperplasia kistik). Risiko karsinoma endometrium sangat
rendah.
2) Hiperplasia kompleks tanpa atipia (hiperplasia sedang/hiperplasia
adenomatosa). Menunjukkan peningkatan jumlah kelenjar dengan posisi
berdesakan. Epitel pelapis berlapis dan memperlihatkan banyak gambaran
mitotic. Sel-sel pelapis mempertahankan polaritas normal dan tidak
menunjukkan pleomorfisme atau atipia sitologik. Stroma selular padat
masih terdapat di antara kelenjar.

3) Hiperplasia kompleks dengan atipia (hiperplasia berat/hiperplasia


adenomatosa atipikal). Dicirikan dengan berdesakannya kelenjar dengan
kelenjar yang saling membelakangi dan nyatanya atipia sitologik yang
ditandai dengan pleomorfisme, hiperkromatisme dan pola kromatin inti
abnormal. Hiperplasia kompleks dengan atipia menyatu dengan
adenokarsinoma in situ pada endometrium dan menimbulkan risiko
karsinoma endometrium yang tinggi.1,2

2.3.3 Patogenesis

Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau


adanya stimulasi unopposed estrogene (estrogen tanpa pendamping
progesteron / estrogen tanpa hambatan). Kadar estrogen yang tinggi
ini menghambat produksi Gonadotrpin (feedback mechanism). Akibatnya
rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi
regresi dan diikuti perdarahan.
Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar
sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum
sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progesteron. Akibat dari keadaan
ini adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun
stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang
menyebabkan proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada
endometrium. Juga terjadi pada wanita usia menopause dimana sering kali
mendapatkan terapi hormon penganti yaitu progesteron dan estrogen,
maupun estrogen saja.
Estrogen tanpa pendamping progesterone (unopposed estrogene)
akan menyebabkan penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga
dipicu oleh adanya kista ovarium serta pada wanita dengan berat badan
berlebih.

2.3.4 Gejala Klinis


Siklus menstruasi tidak teratur, tidak haid dalam jangka waktu
lama amenorrhoe ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak
(metrorrhagia).
Selain itu, akan sering mengalami flek bahkan muncul gangguan
sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya. Dampak berkelanjutan dari
penyakit ini, adalah penderita bisa mengalami kesulitan hamil dan
terserang anemia berat. Hubungan suami-istri pun terganggu karena
biasanya terjadi perdarahan yang cukup parah.
2.3.5 Faktor Risiko
Hiperplasia Endometrium seringkali terjadi pada sejumlah wanita
yang memiliki resiko tinhggi:

1. Sekitar usia menopause


2. Didahului dengan terlambat haid atau amenorea
3. Obesitas ( konversi perifer androgen menjadi estrogen dalam jaringan
lemak )
4. Penderita Diabetes melitus
5. Pengguna estrogen dalam jangka panjang tanpa disertai pemberian
progestin pada kasus menopause
6. PCOS – polycystic ovarian syndrome
7. Penderita tumor ovarium dari jenis granulosa theca cell tumor

2.3.6 Diagnosis
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnosa hiperplasia endometrium dengan cara USG, Dilatasi dan
Kuretase, lakukan pemeriksaan Histeroskopi dan dilakukan juga
pengambilan sampel untuk pemeriksaan PA. Secara mikroskopis sering
disebut Swiss cheese patterns.

 Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

Gambar 4. Pemeriksaan USG


Pada wanita pasca menopause ketebalan endometrium pada
pemeriksaan ultrasonografi transvaginal kira kira < 4 mm. Untuk dapat
melihat keadaan dinding kavum uteri secara lebih baik maka dapat
dilakukan pemeriksaan histerosonografi dengan memasukkan cairan
kedalam uterus.

 Biopsy
Diagnosis hiperplasia endometrium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
biopsi yang dapat dikerjakan secara poliklinis dengan menggunakan
mikrokuret.Metode ini juga dapat menegakkan diagnosa keganasan uterus.
 Dilatasi dan Kuretase
Dilakukan dilatasi dan kuretase untuk terapi dan diagnosa perdarahan
uterus.
 Histeroskopi
Histeroskopi adalah tindakan dengan memasukkan peralatan teleskop kecil
kedalam uterus untuk melihat keadaan dalam uterus dengan peralatan ini
selain melakukan inspeksi juga dapat dilakukan tindakan pengambilan
sediaan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi.

Gambar 5. Sediaan histopatologi


2.3.7 Terapi
Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain
sebagai berikut:
1. Tindakan kuretase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai
terapi untuk menghentikan perdarahan.
2. Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar
hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek
samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan
sebagainya. Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan,
gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. Terapi progestin
sangat efektif dalam mengobati hiperplasia endometrial tanpa atipi, akan
tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi.
Terapi cyclical progestin (medroxyprogesterone asetat 10-20
mg/hari untuk 14 hari setiap bulan) atau terapi continuous progestin
(megestrol asetat 20-40 mg/hari) merupakan terapi yang efektif untuk
pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi. Terapi continuous
progestin dengan megestrol asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan
terapi yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia
atipikal atau kompleks. Terapi dilanjutkan selama 2-3 bulan dan dilakukan
biopsi endometrial 3-4 minggu setelah terapi selesai untuk mengevaluasi
respon pengobatan.
Tanda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus
haid kembali normal. Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa
mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan. Namun alangkah
baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter. Terutama
pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik,
apakah memiliki sel telur dan sebagainya.

3. Histerektomi. Metode ini merupakan solusi permanen untuk terapi


perdarahan uterus abnormal dan berulang. Khusus bagi penderita
hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan
satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan rahim. Penyakit
hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum perempuan
dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari
itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif.

2.3.8 Prognosis
Umumnya lesi pada hiperplasia atipikal akan mengalami regresi
dengan terapi progestin, akan tetapi memiliki tingkat kekambuhan yang
lebih tinggi ketika terapi dihentikan dibandingkan dengan lesi pada
hiperplasia tanpa atipi.
Penelitian terbaru menemukan bahwa pada saat histerektomi
62,5% pasien dengan hiperplasia endometrium atipikal yang tidak diterapi
ternyata juga mengalami karsinoma endometrial pada saat yang
bersamaan. Sedangkan pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi
yang di histerektomi hanya 5% diantaranya yang juga memiliki karsinoma
endometrial.

2.3.9 Pencegahan
Langkah-langkah yang bisa disarankan untuk pencegahan, seperti :
1. Melakukan pemeriksaan USG dan / atau pemeriksaan rahim secara rutin,
untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan
dinding rahim.
2. Melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar
menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang banyak
ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama.
3. Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan
pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
4. Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi
progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan.
Terapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi.
5. Rubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.
BAB II
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Isra Saleh
Umur : 26 tahun
Pendidikan : S1
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Martadinata
Tgl.Masuk RS : 20.40 WITA
No.RM : 416314

II. Anamnesis
a. Keluhan Utama :
Nyeri perut

b. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke RSU Anutapura Palu dengan keluhan nyeri perut
yang dirasakan sejak tanggal 2 hari sebelum masuk RS, nyeri dirasakan
hilang timbul. Pasien juga mengeluh darah haid tidak berhenti selama 15
hari yang dialami 1 minggu sebelum masuk RS, darah yang keluar selama
haid biasanya bergumpal berwarna merah kehitaman. Perdarahan yang
terjadi sebanyak 4-5 kali ganti handuk kecil yang dilipat membentuk seperti
pembalut. Haid juga tidak teratur. Mual (-), mumtah (-), pusing (-), sakit
kepala (-). BAK lancar, BAB biasa. Riwayat Trauma (-)

c. Riwayat Penyakit Dahulu


- Pasien pernah dioperasi tahun 2009 dengan gondok.
d. Riwayat Haid :
- Menarche : usia 15 tahun.
- Sikus : Tidak teratu
- Lama : 7-16 hari.

e. Riwayat KB :
- Menggunakan (-)
f. Riwayat Pernikahan :
Perkawinan pertama dengan usia perkawinan 2 tahun

g. Riwayat Kebiasaan

- Riwayat merokok (-)

- Mengonsumsi alkohol (-)

III. PEMERIKSAAN FISIK


STATUS GENERALIS

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Berat Badan : 82 Kg

Tinggi Badan : 160 cm

IMT : 32,03 (Obesitas)

Tanda Vital

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Nadi : 100 x/menit, reguler, cukup, simetris


kanan kiri
Suhu : 37 °C

Pernapasan : 28 x/menit, teratur

Kulit : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-),


turgor normal, kelembaban normal, pucat

Kepala dan Leher

Kepala : Normosefali, ubun-ubun normal, rambut


warna hitam, distribusi merata, tidak
mudah dicabut, pucat

Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Hidung : Bentuk normal, nafas cuping hidung -/-,


sekret -/-,

Mulut : kering (-), sianosis (-), trismus (-),

Lidah : Tidak dinilai

Tonsil : Tidak dinilai

Tenggorokan : Tidak dinilai

Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar


tiroid tidak teraba membesar.

Thorax

Paru

Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, gerak


pernapasan simetris, irama cepat, tipe
abdomino-thorakal, retraksi (-)

Palpasi : Gerak napas simetris, vocal fremitus


simetris

Perkusi : Sonor di semua lapang paru


Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronchi -/-, wheezing
-/-

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-)

Perkusi : Redup

Auskultasi : SISII reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar

Palpasi : Teraba supel, nyeri tekan di seluruh


kuadran abdomen

Auskultasi : normal

Status Ginekologi:

1. Pemeriksaan luar
INSPEKSI :

Perut cembung, tidak tampak massa, bekas operasi (-)

PALPASI :

TFU : tidak terraba

Nyeri Tekan : (-)

2. Pemeriksaan Dalam
Vulva, perineum, anus: peradangan (-), massa (-), fistel (-), sekret
(-)

Kelenjar bartholini: peradangan (-), abses (-)

Dinding vagina: ruggae (+), polip (-), massa (-), septum (-), fistel ()
Porsio: arah ke belakang, bentuk bulat, terraba membesar,
konsistensi kenyal, permukaan licin, canalis cervicalis tidak dapat
dilalui oleh jari

Parametrium & adneksa: massa (-), nyeri tekan (-)

Kavum douglas: massa (-), nyeri tekan (-)

3. Inspekulo
Tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium : DL dan HbSAg

USG :

V. DIAGNOSIS KERJA
hiperplasia endometrium

VI. RENCANA PENATALAKSANAAN


- IVFD RL 10 tpm
- Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam (IV)
- Pronalgest supp 1/ rectal
- Rencana USG gynekologi
VII. PROGNOSIS
Ad vitam : Bonam

Ad fungsionam : Dubia ad bonam

Ad sanasionam : Dubia ad bonam


FOLLOW UP

20-07-2015 S : Nyeri perut (+)


Keluar darah pervaginam (-)
Mual (-), muntah (-), pusing
(-), sakit kepala (-), BAK
lancar, BAB biasa.
O : Konjungtiva anemis -/-
Nyeri tekan suprapubik (+)
A : Hiperplasia endometrium
P : Terapi lanjut
USG Obsetri

21-07-2015 S : Nyeri perut (+)


Keluar darah pervaginam (-)
Mual (-), muntah (-), pusing
(-), sakit kepala (-), BAK
lancar, BAB biasa.
O : Konjungtiva anemis -/-
Nyeri tekan suprapubik (+)
A Hiperplasia endometrium
P : Kalnex 3x1
Meloxicam 3x 7,5 mg
Rencana Kuret Diagnostik

22-07-2015 S : Nyeri perut (+)


Keluar darah pervaginam (-)
Mual (-), muntah (-), pusing
(-), sakit kepala (-), BAK
lancar, BAB biasa.
Konjungtiva anemis -/-
Nyeri tekan suprapubik (+)
A : Hiperplasia endometrium
P : Intruksi post kuretase:
- IVFD RL 20
tetes/menit
- Cefadroxil 2x1 tab
- Meloxicam 7,5 mg x1
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan keluhan utama berupa nyeri


perut, perdarahan haid yang memanjang. Pasien mengeluhkan haidnya bertahan
hingga 15 hari. Hal tersebut dapat dikatakan memanjang karena pasien mengaku
pada siklus haid sebelumnya, lama haid hanya mencapai 7 hari. Begitupun dengan
jumlah pembalut yang dipakai. Keluhan tersebut mengarahkan diagnosis kearah
hipermenorea atau menoragia. Hal ini sesuai dengan definisi dari menoragia, yaitu
adalah terjadinya perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama
dari normal (lebih dari 8 hari).

Berdasarkan keluhan utama pasien, diagnosis banding yang dapat


dipikirkan adalah adanya kelainan anatomis seperti hiperplasia endometrium,
polip, leimioma, maupun karsinoma endometrium. Selain itu, apabila tidak
ditemukan kelainan anatomis, dapat dipikirkan kelainan fisiologis seperti
gangguan hormonal. Sedangkan etiologi trauma dapat disingkirkan karena pasien
menyangkal. Pada pasien ini, didapatkan berat badan 82 kg dan Tinggi badan 160
cm, IMT: 32,03 (Obesitas). Hal tersebut mendukung diagnosis hiperplasia
endometrium dimana biasanya pasien memiliki riwayat obesitas.

Pada pasien ini dilakukan tindakan kuretase. Tindakan yang dilakukan


kepada pasien dapat digunakan sebagai metode diagnostik maupun terapeutik.
Pada kasus ini, kuretase digunakan sebagai alat diagnostik dimana pada saat
dilakukan kuretase, dilakukan pengerokan dari endometrium dan diambil sebagian
jaringan yang mana nantinya akan dilakukan pemeriksaan histopatologi. Selain
itu, tindakan kuretase yang dilakukan pada pasien juga dapat dianggap sebagai
tindakan terapeutik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Chandrasoma, Parakrama dan Taylor, Clive. R. Patologi Anatomi. Edisi 2.


Jakarta : EGC. 2006.
2. Cotran dan Robbins. Dasar Patologis Penyakit. Edisi 7. Jakarta : EGC. 2008.
3. Wachidah Q, Salim IA, Adityono. Hubungan hiperplasia endometrium dengan
mioma uteri: studi kasus pada pasien ginekologi rsud prof. Dr. Margono
Soekardjo, Purwokerto. Purwokerto: Mandala of Health. 2011; 5 (3).
4. Branson KH. Gangguan Reproduksi Wanita. Dalam: Price SA, Wilson LM.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6.
Jakarta: EGC; 2006: 1292-93
5. Prajitno RP. Endometriosis. Dalam: Ilmu kandungan. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2008: 314-16
6. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.2010
7. Suryawan ID, Sastrawinata U. Hubungan kerapatan reseptor hormone
estrogen pada wanita perimenopause terhadap kejadian tipe hiperplasia
endometrium. Bandung: Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2007; 6 (2).