Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Di Ruang 18 Bedah Wanita RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

PKRS (PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT)


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SAIFUL ANWAR
MALANG
LEMBAR PENGESAHAN

PAKET PENYULUHAN
Akses Vaskular Hemodialisa ( AV SHUNT)
Tanggal, 19 Januari 2018

Oleh :
Mahasiswa Universitas Kadiri
Kelompok 8 :
1. Darwadi
2. Cicik Kurniawati
3. Ifa Karimatun Nisak

Mengetahui,

Pembimbing Lahan Pembimbing Institusi

Kepala Ruang 15
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Akses Vaskular Hemodialisa


Sub topik : AV shunt
Sasaran : Pasien dan Keluarga Pasien
Tempat : Ruang 18 bedah wanita RSUD.dr. Saiful Anwar Malang
Hari/Tanggal : Jumat, 19 Januari 2018
Waktu : 30 Menit (10.00 s/d 11.00 WIB)
Penyuluh : Mahasiswa praktik di ruang 18

1. Tujuan
 Tujuan Umum :
Setelah dilakukan pembelajaran selama 30 menit, klien dan keluarga mampu memahami
dan mengetahui cara perawatan pasien dengan A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa di
rumah.

 Tujuan Khusus :
Klien dan keluarga mampu :
1. Menjelaskan pengertian hemodialisa
2. Menjelaskan pengertian A-V Shunt
3. Menguraikan tujuan A-V Shunt
4. Menguraikan siapa saja yang diperbolehkan melakukan operasi A-V Shunt
5. Menguraikan komplikasi A-V Shunt
6. Menguraikan cara perawatan A-V Shunt di rumah

2. Sasaran
Sasaran penyuluhan adalah pasien, keluarga pasien dan pengunjung

3. Metode
Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi

4. Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan laptop, power point, LCD dan leaflet
5. Strategi pendidikan kesehatan
Tahap
Waktu Kegiatan Perawat Kegiatan Peserta Metode Media
Kegiatan
Pembukaan 5 Menit 1. Membuka dengan 1. Menjawab salam Ceramah
salam 2. Mendengarkan
2. Memperkenalkan 3. Memperhatian
diri 4. Menjawab
3. Menjelaskan pertanyaan
masksud dan
tujuan
penyuluhan.
4. Melakukan
kontrak waktu.
5. Menanyakan
kepada peserta
tentang materi
yang akan
disampaikan
Penyajian 15 Menit  Menyampaikan 1. Mendengarkan Ceramah Power Point
materi : Memberikan Tanya dan leaflet
jawab
o Pengertian tanggapan dan
hemodialisa
pertanyaan
o Definisi A-V mengenai hal
Shunt
yang kurang di
o Indikasi dan mengerti
kontra indikasi
operasi A-V Shunt 2. Memberikan
pemaparan
o Komplikasi
operasi A-V Shunt penjelasan

o Perawatan A-V dengan baik


Shunt di rumah

 Diskusi/Tanya
jawab
Penutup 10 Menit 1. Menanyakan 1. Menjawab Ceramah Power Point
pengetahuan pertanyaan tanya
pada peserta 2. Memberikan jawab
setelah tanggapan baik
dilakukan
penyuluhan
2. Menyimpulkan
hasil kegiatan
penyuluhan
3. Menutup dengan
salam
6. Kriteria Pemantauan dan Evaluasi
1. Pemantauan
a. Input
1) Kegiatan penyuluhan dihadiri minimal oleh 5 orang
2) Paket penyuluhan yang digunakan sesuai dengan SPO dan Up to date
3) Waktu kegiatan penyuluhan adalah 30 menit
4) Tempat penyuluhan adalah di ruang penyuluhan
5) Pengorganisasian penyuluhan dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan
penyuluhan
b. Proses
1) Peserta aktif dan antusias dalam mengikuti kegiatan penyuluhan
2) Tidak ada peserta yang meninggalkan kegiatan penyuluhan
3) Narasumber menguasai materi dengan baik
c. Output
Setelah dilakukakn kegiatan penyuluhan peserta mengerti dan memahami materi
penyuluhan
d. Outcome
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan ada peningkatan perilaku kesehatan yang
lebih baik.

2. Evaluasi
Indikator dampak (dampak peningkatan perilaku kesehatan dalam hal ini peningkatan
PHBS)
MATERI
A-V SHUNT (CIMINO) HEMODIALISA (BRECIA – CIMINO)

a. Definisi

Hemodialisis adalah suatu upaya untuk membersihkan sisa-sisa metabolisme tubuh dan
kelebihan cairan dari darah yang menggunakan mesin berfiltrasi (Morton, Fontaine, Hudak dan
Gallo, 2005). HD bekerja dengan menggunakan prinsip osmosis dan filtrasi. Untuk pelaksanaan
HD diperlukan suatu akses jangka panjang yang adekuat.
1. Akses Vaskular Akut, dibagi menjadi :
Kateter Double-Lumen Hemodialisis
Kateter double-lumen hemodialisis merupakan alat akses vaskular hemodialisis akut. Kateternya
terbuat dari polyurethane, polyethylene atau polytetrafluoethylene.

Gambar 1
2. Akses Vaskular Permanen
Fistula Arteriovenousus Primer
AV fistula primer pertama-tama diperkenalkan oleh Cimino dan Brescia pada tahun 1961. Fistula
ini dibuat dengan membuat anastomosis end to side vena ke arteri pada vena cephalika dan arteri
radialis dan memerlukan waktu 2-6 bulan untuk matur sehingga dapat digunakan. Jenis fistula
primer lainnya adalah fistula brachiocephalica pada siku dan diubah menjadi fistula
brachiobasilica. Perubahan fistula brachiobasilica dibuat dengan membuat insisi dari lengan bawah
ke axial sepanjang rute vena basilica dan dibuat anastomosis dengan arteri brachialis.
Keuntungannya adalah pemakaian AV fistula dapat digunakan untuk waktu beberapa tahun, sedikit
terjadi infeksi, aliran darahnya tinggi dan memiliki sedikit komplikasi seperti thrombosis.
Sedangkan kerugiannya adalah memerlukan waktu cukup lama sekitar 6 bulan atau lebih sampai
fistula siap dipakai dan dapat gagal karena fistula tidak matur atau karena gangguan masalah
kesehatan lainnya.
Gambar 2
b. Ruang lingkup

Operasi A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa yang dilakukan merupakan implementasi dari
panduan Dialisis Outcomes Quality Initiative (DOQI) pada manajemen penatalaksanaan
akses vaskular tahun 1997. Melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain ahli nefrologi,
ahli bedah, dan ahli radiologi intervensi.

Operasi A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa dilakukan secara side to side anastomosis
atau side to end anastomosis atau end to end anastomosis antara arteri radialis dan vena
cephalica pada lengan non dominan terlebih dahulu. Operasi dilakukan pada lokasi paling
distal sehingga memungkinkan dilakukan operasi lebih proksimal jika gagal. Dapat
dilakukan pada ekstremitas bawah jika operasi gagal atau tidak dapat dilakukan pada
ekstremitas atas.

Persyaratan pada pembuluh darah arteri:

a. Perbedaan tekanan antara kedua lengan < 20 mmHg


b. Cabang arteri daerah palmar pasien dalam kondisi baik dengan melakukan tes Allen.
c. Diameter lumen pembuluh arteri ≥ 2.0 mm pada lokasi dimana akan dilakukan
anastomosis.

Persyaratan pada pembuluh darah vena:

a. Diameter lumen pembuluh vena ≥ 2.0 mm pada lokasi dimana akan dilakukan
anastomosis.
b. Tidak ada obstruksi atau stenosis
c. Kanulasi dilakukan pada segmen yang lurus

c. Indikasi operasi

Pasien dengan End Stage Renal Disease (ESRD) yang memerlukan akses vaskular untuk
dialisis berulang dan jangka panjang

d. Kontra indikasi operasi

1. Lokasi pada vena yang telah dilakukan penusukan untuk akses cairan intravena, vena
seksi atau trauma.
2. Pada vena yang telah mengalami kalsifikasi atau terdapat atheroma.
3. Tes Allen menunjukkan aliran pembuluh arteri yang abnormal.

Algoritma
Berdasarkan K/DOQI guidelines tahun 2000, pemilihan AV shunt dilakukan pada
arteri radialis dengan vena cephalica (Brescia Cimino)
arteri brachialis dengan vena cephalica
bahan sintetik A-V graft (ePTFE = expanded polytetrafluoroethylene)
arteri brachialis dengan vena basilika
kateter vena sentral dengan “cuff”

e. Komplikasi operasi

Komplikasi pasca pembedahan ialah terjadi stenosis, trombosis, infeksi, aneurysma,


sindrom “steal” arteri, gagal jantung kongestif:

a. Stenosis

Stenosis dapat terjadi akibat terjadinya hiperplasia intima vena cephalica distal
dari anastomosis pada A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa radiocephalica sehingga A-V Shunt
(Cimino) Hemodialisa tidak berfungsi. Sedangkan pada penggunaan bahan sintetis ePTFE
terjadi stenosis akibat hiperplasia pseudointima atau neointima. Stenosis merupakan faktor
penyebab timbulnya trombosis sebesar 85%.

Hiperplasis intima timbul karena:


Terjadinya cedera vaskular yang ditimbulkan baik oleh karena operasinya ataupun kanulasi
jarum yang berulang yang kemudian memicu terjadinya kejadian biologis (proliferasi sel otot
polos vaskular medial à sel lalu bermigrasi melalui intima àproliferasi sel otot polos vaskular
intima à ekskresi matriks ekstraselular intima).
Tekanan arteri yang konstan pada anatomosis vena, khususnya jika terjadi aliran turbulen,
dapat menyebabkan cedera yang progesif terhadap dinding vena tersebut.

Compliance mismatch antara vena dengan graft pada lokasi anastomosis

Rusaknya integritas dan fungsi daripada sel endotelial

PDGF (platelet derived growth factor), bFGF (basic fibroblast growth factor), IGF-1 (insulin
growth factor-1) turut memicu terjadi hiperplasia intima dengan mekanismenya masing-
masing

b. Trombosis

Muncul beberapa bulan setelah dilakukannya operasi. Sering diakibatkan karena faktor
anatomi atau faktor teknik seperti rendahnya aliran keluar vena, tehnik penjahitan yang tidak
baik, graft kinking, dan akhirnya disebabkan oleh stenosis pada lokasi
anastomosis.Penanganan trombosis meliputi trombektomi dan revisi secara pembedahan.
Trombosis yang diakibatkan penggunaan bahan sintetik dapat diatasi dengan farmakoterapi
(heparin, antiplatelet agregasi), trombektomi, angioplasti dan penanganan secara pembedahan.
c. Infeksi

Kejadian infeksi jarang terjadi. Penyebab utama ialah kuman Staphylococcus aureus. Jika
terjadi emboli septik maka fistula harus direvisi atau dipindahkan. Infeksi pada penggunaan
bahan sintetik merupakan masalah dan sering diperlukan tindakan bedah disertai penggunaan
antibiotik. Pada awal infeksi gunakan antibiotik spektrum luas dan lakukan kultur kuman
untuk memastikan penggunaan antibiotik yang tepat. Kadang diperlukan eksisi graft.

d. Aneurysma

Umumnya disebabkan karena penusukan jarum berulang pada graft. Pada A-V fistula jarang
terjadi aneurysma akibat penusukan jarum berulang tetapi oleh karena stenosis aliran keluar
vena.

e. Sindrom “steal” arteri

Dikatakan sindrom “steal” arteri jika distal dari ekstremitas yang dilakukan A-V Shunt
(Cimino) Hemodialisa terjadi iskemik. Hal ini disebabkan karena perubahan aliran darah dari
arteri melalui anastomosis menuju ke vena yang memiliki resistensi yang rendah ditambah
aliran darah yang retrograde dari tangan dan lengan yang memperberat terjadinya iskemik
tersebut. Pasien dengan iskemik ringan akan merasakan parestesi dan teraba dingan distal dari
anastomosis tetapi sensorik dan motorik tidak terganggu. Hal ini dapat diatasi dengan terapi
simptomatik. Iskemik yang berat membutuhkan tindakan emergensi pembedahan dan harus
segera diatasi untuk menghindari cedera saraf.

f. Hipertensi vena

Gejala yang nampak ialah pembengkakan, perubahan warna kulit dan hiperpigmentasi. Paling
sering disebabkan karena stenosis dan obstruksi pada vena. Lama kelamaan akan terjadi
ulserasi dan nyeri. Manajemen penanganan terdiri dari koreksi stenosis dan kadang diperlukan
ligasi vena distal dari tempat akses dialisis.

g. Gagal jantung kongestif

A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa secara signifikan akan meningkatkan aliran darah balik ke
jantung. Akibatnya akan meningkatkan kerja jantung dan cardiac output, kardiomegali dan
akhirnya terjadi gagal jantung kongestif pada beberapa pasien. Penanganannya berupa koreksi
secara operatif.

f. Mortalitas

Angka kematian setelah tindakan A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa 0%. Kematian umumnya
dikarenakan penyakit penyebabnya yaitu end stage renal disease

g. Perawatan Pasca Bedah

Pasca bedah penderita dapat dipulangkan. Dilakukan pembebatan pada daerah yang di
operasi. Daerah yang dilakukan A-V Shunt (Cimino) Hemodialisa tidak diperkenankan untuk
IV line, ditekan atau diukur tekanan darahnya. Jahitan diangkat setelah hari ke 7
h. Follow-Up

Hari ke 7, ke 14 tentang adanya aliran ( thrill )

Yang dievaluasi:

Klinis adanya getaran seirama denyut jantung pada daerah yang dilakukan A-V Shunt
(Cimino) Hemodialisa

Tips perawatan Cimino dirumah :


1. Pastikan daerah sekitar akses selalu dalam keadaan bersih. Cuci dengan sabun anti bakteri

sebelum digunakan untuk terapi dialisis.


2. Jangan mengenakan pakaian ketat atau perhiasan di sekitar daerah Cimono
3. Jangan mengukur tekanan darah, mengambil darah, atau melakukan infus pada lengan
yang terpasang Cimino.
4. Komunikasikan dengan tim medis apabila akses terasa hangat, berwana kemerahan,

bernanah, atau menderita demam.


5. Pelajari adanya vibrasi dan suara dengung yang khas di akses klien. Adanya perubahan
pada vibras maupun suara dengung di akses dapat menandakan adanya sumbatan yang
mengganggu aliran darah di akses cimino klien.
6. Hindari adanya tekanan pada akses cimino saat tidur.
7. Latih akses cimino dengan menggunakan bola karet agar aliran darah bertambah kuat.
8. Jangan melakukan pemeriksaan tekanan darah pada tangan dimana akses cimino berada.
9. Jangan membebani tangan dimana akses cimino berada untuk mengangkat benda – benda
yang terlalu berat.