Anda di halaman 1dari 8

Pertimbangan Ekonomis dalam Produksi

Ekonomi Desain
• Ekonomi desain bermula dari kebutuhan untuk memperoleh produktivitas maksimum dengan biaya yang serendah
mungkin.

Prinsip Ekonomi Desain


•Sederhana (simplicity); desain harus dibuat sesederhana mungkin (tidak rumit)
Untuk setiap part harus dipikirkan penghematan waktu, material, dan biaya yang dimungkinkan. Desain yang berlebihan
hanya akan meningkatkan biaya tanpa memberikan penambahan performansi alat secara signifikan
•Pemakaian material yang sudah terbentuk (preformed material); material awal dengan bentuk yang sesuai (profil) akan
menurunkan ongkos karena menghemat berbagai operasi pemesinan
•Pemakaian komponen standar;pemakain komponen standar (tersedia di pasaran) akan meningkatkan kualitas alat dan
menurunkan biaya pengerjaan dan material
• Hindarkan operasi tambahan; hindarkan pengerjaan tambahan pada bagian yang tidak perlu

Lakukan pengerjaan tambahan hanya pada bagian yang memerlukan kualitas/toleransi/suaian yang presisi
• Toleransi dan suaian secukupnya; toleransi yang berlebihan hanya akan menaikkan biaya.

Analisis Ekonomi Biaya

•Dalam memilih altenatif tool yang akan digunakan perlu dipertimbangkan:


Biaya yang dikeluarkan Penghematan yang diperoleh Kondisi khusus (aspek lain) yang mendasari pemilihan tool, misal
kualitas, volume dan laju produksi

• Perkiraan biaya dan produktivitas ditinjau dari aspek: material, tenaga kerja, dan laju produksi; banyaknya part yang
diproses (menggunakan tool) per satuan waktu

Biaya total = biaya material total + biaya tenaga kerja

Catatan: tidak boleh ada bagian yang terlupakan karena akan mempengaruhi biaya total

Pertimbangan Ekonomis untuk pembuatan benda kerja


Contoh soal:

Langkah-langkah Untuk Mengidentifikasi Biaya Total


1. Berikan nomor pada seluruh bagian ( komponen) tool
2. Buat daftar komponen yang bersesuaian dengan nomor yang diberikan
3. Buat lembar rencana proses (process sheet); untuk setiap komponen. Waktu operasi pemesinan juga meliputi
waktu setup, loading, dan unloading
4. Buat lembar biaya (cost worksheet); untuk setiap komponen, hitung biaya material dan tenaga kerja yang
dibutuhkan dalam seluruh operasi
5. Tambahkan biaya yang sebanding dengan waktu desain

1
Langkah-langkah Untuk Mengidentifikasi Biaya Total

2
Perhitungan Laju Produksi, Biaya, Titik Impas (Break-Even Point/BEP)

Petunjuk:
– persamaan pertama mengacu pada penghematan relatif yaitu selisih penghematan antara dua metoda tooling yang
akan digunakan
– Persamaan kedua merupakan penghematan mutlak terhadap kondisi tanpa tool/ kondisi saat ini

•Dari persamaan-persamaan di atas dapat ditentukan titik impas pemakaian tool (break-even point)

• Titik impas menyatakan banyaknya produksi yang akan menghasilkan penghematan sedemikian sehingga
penghematan itu dapat menutup biaya yang telah dikeluarkan untuk pengadaan tool. (penghematan = biaya tooling)

• Sebelum menentukan penerapan suatu metoda, harus dilakukan perbandingan dengan alternatif yang lain untuk
sehingga diperoleh keyakinan bahwa metoda/tool yang dipilih merupakan alternatif terbaik yang mungkin dilakukan,
terutama dibandingkan dengan kondisi yang telah ada

Contoh
• Jika suatu benda kerja memerlukan waktu pemesinan 0,0167 jam, waktu loading dan unloding masing-masing sebesar
0,0027 jam maka laju produksi sebesar:

• Jika hendak diproduksi 5000 komponen dengan fixture yang berkapasitas 60 komponen per jam dan upah per jam
sebesar $ 6,75, berapa biaya tenaga kerja yang harus dikeluarkan?

3
• Untuk pembuatan 7000 komponen dengan biaya fixture sebesar $ 55 diperlukan biaya tenaga kerja $ 784,12, berapa
biaya per unit komponen?

• Seorang desainer harus menentukan proses pada 700 komponen yang akan dimilling. Alternatif
yang mungkin adalah:

Mempekerjakan operator ahli dengan biaya $ 20 per jam dan laju produksi 20 komponen per jam

Menggunakan tool sederhana seharga $ 80dengan tenaga kerja “biasa” dengan upah $7 per jam
dan laju produksi 1
komponen per 0.5 menit

Menggunakan tool canggih seharga $250 dengan tenaga kerja“biasa” dengan upah $7per jam dan
laju produksi 1
komponen per 10 detik.

Lengkapi tabel di bawah ini, jika faktor yang dipertimbangkan hanyalah biaya, alternatif mana yang
harus dipilih? Berapa titik impasnya?

Penghematan

4
Contoh soal.

Perhitungan analis ekonomi biaya benda kerja 4 buah benda kerja berbentuk silindris untuk proses bubut.
Alternatif yang mungkin adalah:
 Mempekerjakan operator ahli dengan menggunakan mesin cnc lathe dengan biaya Rp 20.000
per jam dan laju produksi 22 komponen per jam
 Menggunakan mesin bubut konvensional dengan tenaga kerja”biasa” dengan upah Rp 10.000
per jam dan laju produksi 12 komponen per jam
Solusi:
a. laju produksi

mesin cnc
360
Ph = x4
65
= 22 per jam

Mesin bubut konvensional


360
Ragum biasa: Ph = x4
112
= 12 per jam

b. Biaya tenaga kerja


mesin cnc
LS
L= w
Ph
4
L= 20.000
22
L = Rp 3636

Mesin bubut konvensional


LS
L= w
Ph
4
L= 10.000
12
L = Rp 3333

c. Biaya per unit


mesin cnc
TC  L
Cp =
LS
22  3636
Cp=
4
Cp= Rp 914.5

Mesin bubut konvensional


TC  L
. Cp =
LS
12  3333
Cp=
4
Cp= Rp 836.25

5
LEMBAR PERBANDINGAN
Faktor ekonomi dan Alternatif
produktivitas CNC machine bubut konvensioanal
Lot size 4 4
Biaya tool 0 0
Laju produksi (per jam) 22 12
Biaya tenaga kerja per
20.000 10.000
jam
Biaya tenaga kerja (total) 3636 3333
Biaya per unit 914.5 836.25

Penghematan
 Alternatif 1 vs alternatif 2
TS = 4 x (914.5-836.25)
= Rp 313
- penghematan pengunaan alternatif 2 dibandingkan alternatif 1
BEP = (914.5-836.25)
= 78.25 unit

Analisa Titik Pulang Pokok (Break Even Point Analysis)

Merupakan cara untuk menetapkan kapasitas yang harus dimiliki oleh sebuah fasilitas untuk mendapatkan
keuntungan. Tujuan analisis ini adalah untuk menemukan sebuah titik dalam unit dan satuan nilai uang, dimana
biaya biaya sama dengan pendapatan. Titik tersebut disebut titik impas, perusahaan harus beroperasi di atas
tingkat ini untuk mencapai keuntungan.

Break Even Point (Titik Pulang Pokok) adalah suatu keadaan dimana perusahaan dalam operasinya tidak
memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian. Hal ini bisa terjadi jika volume penjualan hanya
cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya tetap (Fixed Cost) adalah biaya yang tidak terpengaruh oleh volume produksi. Biaya variabel (Variable
Cost) adalah biaya yang berubah sesuai volume produksi. Asumsi yang mendasari analisis titik impas adalah
biaya dan pendapatan ditunjukkan sebagai garis lurus sehingga berbentuk fungsi linear. BEP dalam
hubungannya dengan FC dan VC bisa dilihat pada gambar berikut.

Profit Total Pendapatan


Net Profit
(termasuk pajak) (TR)

Biaya Total (TC) Pajak


BEP
Biaya

Biaya Buruh
Langsung

Rugi (loss) Biaya Material Biaya Variabel


Langsung (V)

Biaya Energi
langsung, dll

Biaya Adm., Sales,


dll
Biaya Tetap
Overhead (F)

Depresiasi

vBEP v (Jumlah produk/voume)


yandibuat)
Gambar. Grafik dasar dari titik pulang pokok

6
Rumus yang berkaitan dengan titik impas adalah:
BEP x = Titik impas dalam unit
BEP rp = Titik impas dalam rupiah
P = Harga per unit
x = Jumlah unit yang diproduksi
TR = Pendapatan total Px
F = Biaya tetap
V = Biaya variable per unit
TC = Biaya total = F + Vx
Titik impas terjadi saat: TR = TC atau Px = F + Vx

Untuk menemukan nilai x didapatkan:

F
BEPx 
P V

F F F
BE Pr p  BEPxP  P 
P V ( P  V ) / P 1  (V / P)

Laba = TR – TC
= Px – ( F + Vx) = Px – F – Vx
= ( P – V )x – F

Dengan demikian ada dua rumus yang perlu diperhatikan yaitu:

Biaya Tetap Total


Titik impas dalam unit = -----------------------------------
Harga jual – Biaya Variabel

Biaya Tetap Total


Titik Impas dalam mata uang = -----------------------------------------
1 - Biaya Variabel/ Harga Jual

Contoh pengambilan keputusan dengan memakai break even point

Bila biaya-biaya pemrosesan berbagai metoda pengerjaan alternatif dapat diperinci menjadi komponen-
komponen biaya tetap dan variabel, alternatif yang paling ekonomis adalah alternatif dengan biaya terendah
pada volume tertentu. Sebagai contoh, kita gunakan sebuah kasus produksi sekrup yang dapat dilakukan
dengan salah satu dari tiga jenis mesin yang ada. Biaya-biaya ketiga mesin tersebut adalah sebagai berikut:

Mesin A Mesin B Mesin C

Biaya tetap Rp 10.000,- Rp 30.000,- Rp 60.000,-

Biaya variabel (per unit) 300,- 200,- 100,-

Dengan data tersebut di tentukan alternatif proses produksi yang seharusnya digunakan perusahaan untuk
volume produksi di bawah 400 unit.

Pertama, ubah data menjadi bentuk persamaan biaya ( X = volume produksi ) :

7
TCA = 10.000 + 300 X
TCB = 30.000 + 200 X
TCC = 60.000 + 100 X

Pada volume produksi sebesar 400 unit:


TCA = 10.000 + 300 (400) = 130.000.
TCB = 30.000 + 200 (400) = 110.000.
TCC = 60.000+100 (400) = 100.000.

Persamaan-persamaan biaya ini dapat digambarkan secara grafik seperti terlihat gambar diatas.

Berdasarkan perhitungan dan grafik "break-even points" mesin dapat disimpukan bahwa:

1. Untuk volume produksi di bawah 200 unit, proses produksi yang dipilih adalah dengan mesin A.
2. Untuk volume produksi antara 200 sampai dengan 300 unit, produksi dengan mesin B yang sebaiknya
digunakan.
3. Untuk volume produksi di atas 300 unit, proses produksi yang sebaiknya dipilih adalah dengan mesin C.