Anda di halaman 1dari 15

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB TIM SUKSES

A. TIM MITRA
Tim Mitra ditugaskan khusus untuk membantu Kordes dalam melaksanakan kegiatan yang
berhubungan langsung dengan upaya pemenangan Pilkada, seperti penyediaan sarana/perlengkapan
kampanye, sosialisasi, pertemuan/rapat atau pun koordinasi antar tim. Sarana/perlengkapan
dimaksud misalnya, baliho, spanduk, pamphlet, brosur, leaflet, dan sejenisnya.
Tim Mitra bertanggung jawab langsung kepada Calon Bupati yang diusung melalui Ketua
Pemenangan Pilkada baik secara lisan maupun tertulis.
B. TIM KORDES ( KOORDINATOR DESA )
Tim Koordinator Desa (Kordes) bertugas untuk:
1. Merekrut Tim TPS, yakni sebanyak 2 orang di setiap TPS yang ada di Desa tempat ditugaskan.
2. Memberikan penjelasan kepada semua Tim TPS tentang tugas dan tanggung jawab Tim TPS
3. Meminta data wajib pilih yang ada di setiap TPS
4. Membantu/mendampingi Tim TPS dalam mendata wajib pilih di setiap TPS
5. Membantu dan/atau mendampingi Tim TPS dalam bersilaturrahim (kunjungan rumah) ke
masyarakat calon pemilih
6. Meminta perolehan Suara Calon sesaat setelah penghitungan Suara di tingkat TPS selesai untuk
selanjutnya dilaporkan kepada Ketua Tim Mitra
7. Memantau dan mengevaluasi kinerja setiap anggota Tim TPS.
8. Melaporkan hasil kerja dan perkembangan yang terjadi di setiap TPS kepada Ketua Tim Mitra
baik secara lisan maupun tertulis.
9. Mengadakan pertemuan secara berkala dengan Tim TPS dan berkoordinasi dengan Tim Mitra.
10. Melaksanakan kegiatan-kegiatan lain yang ditugaskan oleh Tim Mitra

C. TIM TPS
1) Mendata jumlah anggota keluarga masing-masing yang mempunyai hak pilih
2) Mendata jumlah wajib pilih di masing-masing TPS
3) Melakukan silaturrahim ke masing-masing wajib pilih selama 3 bulan
4) Memantau dan mengevaluasi berbagai perkembangan yang terjadi di wilayah TPS masing-masing
5) Melaporkan berbagai perkembangan yang terjadi di wilayah TPS masing-masing kepada Kordes
baik secara lisan maupun tertulis
6) Mengadakan pertemuan berkala secara rutin sekali seminggu dengan Kordes untuk
mendiskusikan berbagai perkembangan dan kendala yang dihadapi di wilayah TPS masing-
masing dan mencari pemecahannya secara bersama-sama
7) Menjaga elektabilitas Cabup dan Cawabup sampai menjelang hari H (Hari Pencoblosan)
8) Menjadi saksi di TPS pada hari H (Hari Pencoblosan)
9) Mencatat dan melaporkan perolehan suara calon kepada Kordes segera setelah penghitungan
suara di TPS selesai.

[1]
MEMBANGUN TIM SUKSES YANG HEBAT

 Caleg Hebat Dengan Tim Sukses Yang Lemah, Kegagalan Yang Didapat Caleg Lemah
Dengan Tim Sukses Kuat, Keberhasilan Diraih.
Dalam setiap tindakkan untuk merealisasikan rencana menjadi hasil yang diharapkan, pemimpin
harus fokus untuk mempekerjakan orang-orang yang kreatif, proaktif, strategis, disiplin, dan
optimistis di dalam sebuah tim sukses. Kecerdasan pemimpin dalam membangun tim sukses yang
efektif akan sangat membantu si pemimpin untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan strategis
yang membutuhkan konsentrasi dan fokus yang lebih intensif.
Kemampuan pemimpin untuk menempatkan pribadi-pribadi yang loyal, antusias, selalu berjuang
dalam motivasi yang tinggi, dan yang mau bekerja keras untuk menyelesaikan semua tugas dan
tanggung jawab, adalah sebuah syarat terpenting di dalam pembentukan tim sukses yang efektif.
Berikut ini ada tips untuk membangun tim sukses yang efektif dan yang dapat memberikan
keberhasilan buat si caleg.
 Caleg wajib menetapkan tujuan utama tim, kemudian memotivasi tim untuk
membangun mind set bahwa tujuan utama dari tim adalah membuat sukses setiap
program .
Tujuan utama adalah meraih kemenangan dengan jalan mendekati, mempengaruhi dan mengawal
pemilih agar menjatuhkan pilihannya kepada caleg. Untuk itu, caleg harus mampu memotivasi tim
dan meyakinkan tim bahwa apa yang mereka lakukan akan membawa perubahan pada diri
mereka. Sering berkunjung ke rumah tim, mengenal dekat istri dan anak-anak tim akan membuat
tim merasa bahwa si caleg seperti keluarga sendiri.
Jangan andalkan uang Anda dalam memotivasi tim. Tapi posisikan tim seperti keluarga besar
Anda. Bila uang menjadi alat memotivasi tim sukses, maka Anda harus memiliki financial yang
besar sekali. Tapi, bila pola kekerabatan yang Anda terapkan, maka dengan dana yang tak terlalu
besar tujuan akan tercapai. Gambarannya seperti ini, tim yang tidak begitu akrab dengan caleg
pasti akan berpikir imbalan bila tim diminta merekrut calon pemilih potensial. Berbeda dengan
tim yang akrab seperti keluarga, tim sukses akan berjalan sukarela merekrut saudara-saudara dan
tetangganya.
Tim sukses harus menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, terdefinisi, dan konsisten dan setiap
anggota tim sukses harus berkomitmen untuk menunaikan tanggung jawab mereka secara total.
Tujuan harus terukur. Atau dalam istilah Jawa timses jangan nggebyah uyah. Mungkin bisa
digambarkan seperti ini. Bila dalam satu kabupaten ada 20 kecematan, jangan semuanya digarap.
Hanya kecamatan yang tidak memiliki calon kuat yang digarap timses. Dari kecamatan yang
digarap, tentukan desa mana yang potensial untuk dikelola. Dari desa yang dikelola, pilih RW
mana saja yang menjadi kantong pemilih. Dari RW yang dipilih, wilayah RT berapa yang paling
potensial menyumbang suara by name.
Bila wilayah garapan sampai tingkat RT sudah dipetakan, timses memiliki tanggungjawab untuk
mendekati, mempengaruhi dan kemudian memastikan bahwa si pemilih akan menjatuhkan hak
pilihnya ke caleg yang didukung. Caranya, dengan mengunjungi rumahnya dan mengobrol meski
hanya 30 menit. Lakukan itu terus menerus.
 Caleg harus cerdas dalam memilih karakter dari pribadi-pribadi yang akan berada
di dalam tim sukses.
Tahap ini sangat penting. Sekali caleg salah memilih pribadi-pribadi yang menjadi timsesnya, maka
akan menyesal. Ada berbagai cara untuk mengetahui karakter calon timses, salah satunya dengan
mengajak bertemu dan mengobrol sekaligus mengajukan pertanyaan. Yang paling efektif tentu

[2]
saja mengajak psikolog untuk mendampingi saat berbincang-bincang dengan calon tim sukses.
Memfungsikan structural partai juga bisa dilakukan. Bagi caleg DPR RI, hal paling utama adalah,
sosok ketua timses kabupaten yang membawahi kecamatan-kecamatan harus bisa diterima oleh
oleh para pengurus PAC. Karenanya, usulan PAC terkait sosok yang akan menjadi ketua timses
bisa menjadi pertimbangan. Bisa dari unsure PAC atau dari unsur DPC.
 Caleg harus memiliki pemahaman yang jelas tentang bakat dan potensi dari masing-
masing pribadi tim sukses tersebut.
Manusia ada dua katagori, pekerja dan pemikir. Caleg harus menempatkan sosok timses sesuai
bakat dan potensinya. Mereka yang tipe pemikir jangan dipercaya sebagai perekrut massa. Pemikir
ditugaskan menyusun strategi pemenangan dan memantgau sekaligus memastikan bahwa strategi
tersebut berjalan sesuai track. Begitu juga sebaliknya. Tim yang kurang jujur tapi memiliki keahlian
mempengaruhi massa jangan dipercaya memegang keuangan. Intinya MAN BEHIND THE
GUN.
 SOP, aturan, dan kebijakan wajib ditetapkan sebagai fondasi dasar untuk membangun
etos kerja tim sukses yang efektif.
Setiap anggota tim sukses harus tahu tentang fungsi dan peran mereka di dalam tim sukses.
Tim sukses harus bekerja melalui sebuah proses kerja yang selalu fokus dalam menjaga keutuhan
dan kekompakkan tim sukses.
Setiap melakukan tindakan, tim harus melakukan pertemuan di antara anggota dan Caleg, baru
kemudian membuat keputusan yang tepat sasaran, dan mendefinisikan semua perkembangan baru
dalam sebuah rencana kerja yang disetujui oleh semua anggota dalam tim.
Apapun perbedaan di antara anggota tim. Setiap orang wajib saling menghormati, saling
mendengar, dan saling peduli.
Setiap konflik harus dikelola dengan besar hati dan penuh empati, kemudian diselesaikan dengan
menghormati semua pihak secara profesional.
Pemimpin harus menggunakan kekuatan intuisi untuk melihat hal-hal yang tak terlihat oleh panca
indera. Lalu, membuat tindakan-tindakan yang memotivasi anggota tim untuk bekerja dengan
emosi baik dan pikiran terang.
 Tim sukses dan pemimpin harus membangun hubungan dan komunikasi positif dalam
sebuah suasana yang saling menguntungkan.
Tim sukses harus membuat tabel rencana kerja dengan memasukan semua tips di atas sebagai
faktor-faktor kerja tim yang harus diperhatikan secara terus-menerus.
Keberadaan tim sukses disamping para caleg atau calon pemimpin bangsa, membuat kegiatan
kampanye menjadi lebih teratur, lebih tertib, terencana, dan efektif.
Namun nampaknya, banyak caleg kita yang akan mengikuti kegiatan pemilu beberapa puluh hari
lagi, masih lebih memilih untuk berjuang tanpa dukungan suatu tim sukses yang dapat bekerja
secara profesional membantu mereka mendapatkan satu tempat di parlemen.
Pada masa kampanye, sebagian besar caleg yang akan mengikuti kegiatan pemilu 2014 cenderung
lebih memilih untuk menggunakan konsepsi berkampanye dengan cara-cara konvensional, yaitu
dengan memasang bendera partai yang disisipi nama caleg serta spanduk/baliho berukuran besar
diberbagai lokasi, dan menempelkan stiker-stiker di dinding pagar rumah warga, di pintu angkutan
umum, atau di tiang listrik.
Padahal, penggunaan konsepsi berkampanye dengan cara-cara konvensional seperti itu,
cenderung hanya “mengotori” ruang terbuka publik, seperti yang dapat kita lihat dan temui di
hampir seluruh penjuru wilayah pemukiman di Indonesia saat ini.

[3]
Bagaimana mau mengundang animo dan simpati masyarakat kalau dalam waktu yang bersamaan,
seluruh caleg yang akan mengikuti kegiatan pemilu 2019, menerapkan konsepsi berkampanye
yang sama?
Terlihat jelas kalau para caleg tidak kreatif karena hanya terpaku pada model-model kampanye
yang sama, yaitu model kampanye konvensional, yang sudah lama dipakai sebagai konsepsi
berkampanye oleh para caleg yang mengikuti pelaksanaan kegiatan pemilu di Indonesia selama ini,
tanpa ada upaya lain yang sekiranya dapat membawa manfaat dan sisi pembelajaran positif bagi
dunia politik kita.
Kreatifitas para caleg memang dituntut, mengingat setiap caleg memiliki kesempatan yang sama
besar, semenjak Mahkamah Konstitusi (MK) telah membuat keputusan, bahwa penentuan
seorang caleg dapat menjadi anggota parlemen tidak lagi didasarkan pada nomor urut yang telah
ditetapkan partai politik.
Artinya, keberhasilan dari seorang caleg untuk bisa duduk sebagai anggota parlemen tergantung
pada seberapa besar animo masyarakat untuk memilih caleg yang mereka kehendaki untuk
menjadi wakil rakyat mereka di parlemen.
Nilai lebih yang terdapat didalam diri seorang caleg, dapat lebih ditampilkan kepada seluruh
kelompok masyarakat, yang memiliki dimensi pemikiran berbeda-beda atau tidak seragam,
sehingga mobilitas kekuatan massa pendukung, dapat dilakukan tanpa harus mendatangkan massa
dalam jumlah besar, atau menghambur-hamburkan dana kampanye untuk bendera, baliho, atau
stiker dalam jumlah besar.
Dalam hal ini, para caleg seharusnya tidak lagi bersikap pasif dalam memperkenalkan diri serta
agenda kerja mereka, karena sikap pasif tidak akan mendorong adanya peningkatan jumlah
simpatisan yang serius ingin mendukung dan memiliki kedekatan emosional atau pemikiran
dengan seorang caleg.
Salah satu terobosan membangun komunikasi dengan calon pemilih adalah dengan mengirimkan
surat kepada pemilih. Isi surat selain pengenalan diri, visi dan misi juga harus berisi solusi apa
problem yang dihadapi masyarakat di daerah itu. Dalam surat itu juga cantumkan nomor telepon
anggota tim yang bertugas sebagai humas, bila ada pertanyaan dari masyarakat calon pemilih.
Untuk itu, humas harus diisi oleh orang yang memahami benar siapa caleg dan visi misi caleg.
Siapa yang membagikan surat itu? Caleg bisa mempercayakan kepada timses tingkat RT dan
tokoh pemuda di ke RT an itu. Mengapa tokoh pemuda? Dengan mempercayai tokoh pemuda,
maka secara tidak langsung akan ada kedekatan emosional antara si caleg dengan tokoh pemuda
yang imbasnya diharapkan si tokoh pemuda mampu mempengaruhi para pemuda di wilayahnya.
Kehadiran tim sukses membuat para caleg bisa mendelegasikan banyak kegiatan yang sulit untuk
dilakukan sendiri, yaitu mempersiapkan segenap detail rencana kegiatan kampanye yang
diperlukan selama kampanye, membangun jaringan komunikasi antar simpatisan, merekrut
relawan yang ingin membantu kemenangan pemilu, serta upaya untuk mengumpulkan dana
kampanye.
 Pencalegan tak terlepas dari proposal yang diajukan pihak tertentu untuk mendapatkan
bantuan. Entah itu bantuan dana atau barang.
Caleg dan timses harus merumuskan apakah proposal tersebut layak dibantu atau tidak. Lihat
dulu, apakah bantuan tersebut berupa alat produktif yang manfaatnya dirasakan orang banyak dan
bersifat kontinyu atau tidak. Kemudian juga, apakah si penerima bantuan termasuk tokoh yang
memiliki massa banyak atau tidak.
Bantuan berupa dana atau barang yang tidak produktif akan sia-sia. Salah satu teman saya yang
menjadi caleg tahun 2019 mengatakan kepada saya, bahwa dia membantu pembangunan masjid

[4]
di sebuah desa dan menghabiskan dana Rp 50 juta. Apa yang terjadi, kawan tersebut hanya
mendapatkan 20 suara di desa itu.
Mengapa bisa terjadi? Dari penelusuran saya, mayoritas masyarakat desa tersebut mengatakan
bahwa mereka tidak minta bantuan masjid dan tidak kenal si caleg. Jadi biar saja yang meminta
bantuan yang memilih si caleg yang menyumbang. Masyarakat akan memilih si caleg bila
masyarakat mendapatkan azas manfaat langsung dari si caleg. Ternyata, si pemohon bantuan
memang tokoh di desa tersebut, tapi kurang akrab dengan masyarakatnya. Selain itu, si caleg
sendiri ketika datang ke desa tersebut tidak mau berkunjnung ke rumah-rumah timsesnya dan
timses juga enggan mengakrabkan dirinya kepada masyarakat.
Saran saya. Bila memang caleg ingin membantu, bantulah dengan alat produktif.
Keberhasilan Barack Hussein Obama memenangkan kursi jabatan Presiden Amerika Serikat yang
ke-44, merupakan sebuah puncak pencapaian yang diraih melalui kerja keras dan kerja sama yang
teramat baik dengan para anggota tim sukses pemenangan pemilu, dalam menggalang dana
kampanye serta dalam mengoptimalisasi kekuatan massa simpatisan ataupun relawan pendukung.
Pada saat mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden mewakili Partai Demokrat, Barack
Obama nampaknya menyadari, apabila dibandingkan dengan sejumlah nama calon presiden lain
yang turut serta mencalonkan diri sebagai kandidat calon Presiden Amerika Serikat, baik dari
Partai Demokrat atau dari Partai Republik, dirinya masih belum cukup dikenal luas oleh rakyat
Amerika Serikat.
Jalan menuju kursi kepresidenan terasa semakin sulit dicapai, karena dirinya berasal dari kaum
masyarakat minoritas di Amerika Serikat, yaitu kaum Afro-Amerika.
Hanya pertolongan tangan Tuhan saja yang membuat Barack Obama pada akhirnya dapat
menjadi seorang Presiden. Sebab, apabila hanya mengandalkan optimisme atau kemampuan diri
semata, tidaklah cukup, karena untuk meyakinkan kaum mayoritas kulit putih rakyat Amerika
Serikat agar bersedia memilih seorang kulit hitam sebagai Presiden di negeri tersebut, bukanlah
perkara yang mudah.
Oleh sebab itu, dipilihnya para pekerja profesional sebagai anggota tim sukses Barack Obama,
yang bekerja secara efektif dan maksimal untuk bisa memberikan hasil yang terbaik sesuai
bidangnya masing-masing, merupakan salah satu keputusan tepat dari titik awal langkah
keberhasilan Barack Obama mencapai puncak kekuasaan di negara adidaya tersebut.
Wujud profesionalitas kerja yang ditunjukkan oleh para anggota tim sukses Barack Obama,
diwujudkan dengan mampu memformulasikan dengan baik, berbagai issue dan agenda politik
nasional yang akan diangkat Barack Obama dalam kampanyenya, dengan menghasilkan solusi
serta agenda penyelesaian masalah yang tepat sasaran, yang sekiranya bisa dengan cepat
melepaskan Amerika Serikat dari belenggu krisis ekonomi dan mengembalikan kepercayaan
masyarakat dunia (khususnya kepercayaan dari negara-negara sahabat) yang sempat pudar karena
arogansi kebijakan politik pada masa pemerintahan Presiden George Bush.
Adanya sejumlah program kerja yang berisikan sejumlah solusi dan agenda-agenda penyelesaian
masalah krisis ekonomi dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dipersiapkan tim sukses
pemenangan pemilu Barack Obama, ternyata tidak hanya mampu memikat hati simpatisan Partai
Demokrat, namun juga hati rakyat Amerika Serikat, untuk kemudian memilih Barack Obama
sebagai Presiden mereka.
Hasil kerja anggota tim sukses, mampu membalikkan keadaan, yang cenderung masih belum
berpihak pada Obama, terutama saat masa-masa awal kampanye pemilihan kandidat calon tunggal
Partai Demokrat yang akan maju menghadapi calon presiden dari Partai Republik, John McCain.
Kemenangan Barack Obama pada saat bersaing dengan Hillary Rodham Clinton pada saat
konfensi Partai Demokrat, merupakan sebuah kesuksesan besar dari tim sukses Barack Obama,

[5]
karena Hillary merupakan seorang pesaing pintar yang memiliki banyak pendukung, sehingga
berat langkah kemenangan yang harus dilalui.
Baiknya kinerja para anggota tim sukses Barack Obama, terlihat dari baiknya usaha dan
kemampuan mereka, untuk membangun image serta karakter diri Barack Obama, yang dapat
diterima dengan baik oleh mayoritas masyarakat kulit putih, kelompok masyarakat Yahudi,
kelompok masyarakat hispanik dan orang-orang kaya Amerika, untuk memilih Barack Hussein
Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44, mengalahkan pesaingnya Hillary Rodham
Clinton dengan persentase kemenangan tipis, serta mengalahkan John McCain, dengan persentase
angka kemenangan mutlak.
Upaya untuk membangun image dan karakter seorang calon pemimpin memiliki arti penting
karena dapat mempengaruhi penilaian para calon pemilih, apakah sang calon pemimpin
merupakan orang yang tepat serta memang layak atau pantas untuk dipilih sebagai seorang
pemimpin negara.
Langkah Barack Obama membangun sebuah tim sukses yang terdiri dari orang-orang media,
pakar komunikasi publik, dan sejumlah eks pejabat di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton,
merupakan sebuah langkah tepat, karena mereka adalah bagian orang-orang yang berpengalaman
dan berkemampuan baik untuk mendukung upaya Barack Obama agar bisa diterima oleh seluruh
kalangan komunitas masyarakat.
Barack Obama memang tidak salah dalam memilih orang-orang yang membantunya mencapai
puncak kekuasaan pemerintahan Amerika Serikat. Tanpa adanya dedikasi, kerja keras, dan
loyalitas tinggi para anggota tim sukses, mungkin, Obama hanya bisa bermimpi untuk menjadi
Presiden Amerika Serikat.
Belajar dari keberhasilan yang diraih Barack Obama, seluruh calon anggota legislatif (caleg) serta
calon pemimpin bangsa Indonesia yang akan mengikuti kegiatan pemilu 2014, selayaknya pula
menyiapkan suatu tim sukses pemenangan pemilu.

DEFINISI TIM SUKSES sbb :

 TIM SUKSES adalah orang yang sangat berpengaruh dalam usaha pemenangan calon pasangan
Walikota, diutamkan orang yang sudah memiliki kemampuan secara manejerial serta loyalitas dan
tidak dapat diragukan serta mempunyai Visi dan Misi Jangka panjang untuk orientasi dalam
pemenangan calon, tanpa mengenal waktu dalam melaksanakan kegiatan “ sebagai tim sukses.
 TIM SUKSES adalah pemegang tugas dan tanggung jawab dalam Pemilihan Umum Kepala
Daerah untuk pasangan Calon Walikota.
 TIM SUKSES adalah orang kepercayaan pasangan calon Walikota, untuk itu perlu kehati-hatian
dalam melakukan kegiatan aktifitas, untuk merealisasikan program kerja serta dapat
mensosialisasikan Visi dan Misi pasangan calon, agar dapat dipahami secara lebih jelas oleh
masyarakat pemilih suara.
TUGAS UTAMA TIM SUKSES :
 Tim Sukses adalah tim kerja dalam semua aspek untuk seorang calon kandidat Walikota dalam
Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA) untuk dapat menjabarkan program secara
teknis seluruh pelaksananaan kegiatan, mengenai penanganan Pemilihan Umum Kepala Daerah,
tingkat kabupaten / kota.
 Tugas utama tim sukses dalam (PEMILUKADA) harus memiliki kapasitas leadersip, Semangat
serta kemampuan untuk menjalankan program dan semua kegiatan (Tim sukses) harus memiliki
daya ikat dan daya padu, untuk dapat bekerjasama di dalam memperjuankan PROGRAM Calon,

[6]
untuk dapat memenangkan calon Kandida Walikota dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah-
Kabupaten / Kota.
 Tim Sukses dituntut untuk dapat menjalankan program serta dapat meningkatkan Kesadaran
masyarakat agar partisipasi dan kepedulian dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah
(PEMILUKADA) Tentang perlunya perubahan baru dalam pemerintahan yang akan datang.
 Tim Sukses diharuskan proaktif didalam proses identifikasi masalah, Karakter dan Budaya
masayarakat daerah, agar program tim sukses tepat sasaran, untuk kegiatan pelaksanaan kampanye
calon kandidat, agar dukungan dari masyarakat pemilih sesuai dengan yang diharapkan.
 Dalam program tim sukses, harus menitik beratkan mengenai, Membangun Kesadaran kritis
untuk pemerintahan yang akan datang agar tercipta kesejahtraan dan rasa keadilan masyarakat dan
mendatangkan Investor untuk Investasi agar mengurangi pengangguran dan tercipta lapangan
pekerjaan bagi masyarakat daerah setempat.
 Tim Sukses diwajibkan membangun kesadaran kritis buat seluruh tim sukses agar motifasi untuk
bekerja serta memegang teguh komitmen yang telah dibuat Sejak awal sesuai rencana kerja tim
sukses dan berorientasi pada pemenangan Pasangan Calon Kandidat Walikota dan Wakil
Walikota.
 Tim Sukses harus Dapat Menyusun Rencana kerja dan mensosialisasikan Program, VISI dan
MISI yang berbasis pada masalah Kebutuhan masyarakat dalam rangka mensukseskan Pasangan
Calon Kandidat, menjadi Walikota terpilih.
 Membangun tim kerja yang solid, serta dapat bekerja maksimal sesuai dengan Fungsi masing-
masing bidang yang ada dalam tim sukses dan dapat melakukan aksi, Repleksi atas pelaksanaan
seluruh kegiatan, termasuk menkondisikan seluruh “ pemilih suara dalam berbagai elemen “
masyarakat di daerah wilayah kerja tim sukses.
 Salah satu Program tim sukses agar dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi
secara aktif dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA), membangun komitmen
dan loyalitas masyarakat terhadap pembangunan yang akan datang.
 Ketua tim sukses diwajibkan memantau seluruh kegiatan dan aktifitas dalam pelaksanaan kerja
lapangan seluruh elemen tim sukses agar dapat mengetahui tingkat elektabilitas calon kandidat.
 Ketua tim sukses, dapat setiap saat melakukan pemantauan/Monitoring agar dapat mengevaluasi
kerja keberhasilan tim sukses untuk mengetahui kesiapan dan kelemahan, serta dapat
menjabarkan dan meperbaharui system kerja dalam tim sukses.
Jakarta, CNN Indonesia -- Hubungan antara tim sukses (timses) dengan kandidat yang dicalonkan
dalam pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah bagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Timses akan melakukan berbagai cara untuk memenangkan kandidat yang mereka dukung dari balik
layar.
Sedangkan kandidat, akan menjadi aktor yang dilihat oleh publik untuk menentukan pilihannya.
Seperti yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, Anies Baswedan-
Sandiaga Uno, dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni sebagai pasangan calon gubernur
dan calon wakil gubernur DKI Jakarta.
Baik timses maupun pasangan calon bekerja keras untuk memenangkan pilkada. Tetapi, bukan
berarti timses selalu menguntungkan pasangan calon. Strategi yang kurang matang dari timses
berpeluang merugikan pasangan calon.
"Memang sering kali timses jadi beban. Misalnya, partai sering kali tidak bergerak kalau tidak ada
dana operasional yang turun. Itu masih jadi pekerjaan rumah," kata pengamat politik Yunarto Wijaya
saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. Yunarto menjelaskan dana
operasional yang dianggap sebagai biaya politik itu bukanlah biaya yang murah. Biaya politik itu
seakan jadi prasyarat bagi timses untuk bergerak.

[7]
Tak Merata
Biaya politik bukan satu-satunya faktor yang bisa membuat timses menjadi beban. Kerja timses yang
tidak merata di lapangan juga menjadi salah satu faktor.
"Sering terjadi penumpukan hanya pada satu daerah. Sementara daerah lain tidak ada timses yang
bisa mewakili kandidat, ini sering jadi masalah," kata Yunarto.
Menurut Yunarto hal itu terjadi karena timses sering terbentuk berdasarkan kader partai yang
mengajukan diri. Hal itu membuat struktur timses tidak berjalan dengan baik. Bantuan dari relawan
pun akhirnya tidak terlalu efektif.
Dalam pandangan Yunarto timses yang baik adalah yang bisa mengoptimalkan kepengurusan partai
sampai ke anak ranting. Menjangkau simpatisan partai yang benar-benar ada di sekitar masyarakat
pemilih.
"(timses) Yang paling ideal ada koordinator per TPS (Tempat Pemungutan Suara). Betul-betul timses
ini menjangkau secara menyeluruh pemilih yang ada di daerah tersebut sehingga sosialisasi bisa
merata," tutur Yunarto.
Bagi Yunarto hanya partai yang bisa melakukan hal itu. Oleh karena itu timses harus bisa
memanfaatkan jaringan partai sampai bawah. Melihat kondisi saat ini, kata Yunarto, partai yang
paling bisa melakukan hal itu adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai
Keadilan Sejahtera (PKS).
Dalam Pilkada DKI Jakarta, dua partai itu berada dalam koalisi yang berbeda. PDIP mengusung
Ahok-Djarot bersama Golkar, NasDem, dan Hanura. Sedangkan PKS mengusung Anies-Sandi
bersama Gerindra.
Tetap Dibutuhkan
Walau begitu, Yunarto menyatakan timses tetap dibutuhkan oleh pasangan calon di Pilkada DKI
Jakarta. Baik pasangan calon yang sudah dikenal warga atau pun yang belum dikenal warga tetap
membutuhkan keberadaan timses.
"Karena keterbatasan waktu tidak mungkin (pasangan calon) bisa menjangkau semua pemilih. Di
situlah fungsi sebenarnya timses," ucap Yunarto.
Yunarto menilai timses sebagai perpanjangan tangan dari pasangan calon. Timses harus
menyampaikan pesan-pesan pasangan calon kepada masyarakat seperti pogram bila terpilih nanti.
Oleh karena itu timses juga harus turun ke lapangan.
Di sisi lain, pekerjaan timses juga akan terbantu bila pasangan calon sudah memiliki popularitas yang
tinggi di masyarakat. Begitu juga dengan pasangan calon yang sudah memiliki personal branding
positif.
"Jika begitu, fungsi dari mereka (timses) akan menjadi corong suara. Tapi kalau kandiddat masih
mengalami masalah popularitas atau mengalami permasalahan isu negatif, akhirnya (pekerjaan)
timses menjadi berat," kata Yunarto.
Konsultan politik dari Cyruss Network Hasan Nasbi Batupahat menilai petahana Gubernur DKI
Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tidak perlu dipoles untuk membuatnya terpilih kembali dalam
Pilkada 2017 DKI Jakarta.
Menurutnya, Ahok atau Basuki justru akan kehilangan jati dirinya.
Dalam kampanye, Hasan mengatakan, Ahok tidak memiliki konsultan politik. Ahok lebih memilih
dibantu daripada harus membayar konsultan politik.

[8]
Pemetaan Wilayah
Hasan yang turut membantu Ahok menuturkan, calon gubernur nomor urut dua itu hanya perlu
dibekali soal pemetaan wilayah dalam melakukan kampanye. Sejauh ini, menurutnya, Ahok akan
berusaha meyakinkan kelompok yang masih menolaknya.
"Kalau dipoles justru aneh, diketawain orang. Cuma Ahok nanti perlu dibekali dengan peta daerah
mana yang masih mungkin dimasuki dan sejauh ini belum mendukung dia," ujarnya dalam
perbincangan dengan CNNIndonesia.com baru-baru ini.
Peran dan fungsi timses memang tak bisa dipungkiri dalam memberi berbagai masukan dan strategi
bagi kandidat, termasuk hasil-hasil survei. Besarnya peran dan fungsi timses ditekankan oleh Saiful
Mujani Research & Consulting.
Sebagai lembaga swasta, SMRC kerap menggelar survei tentang keadaan saat ini. Pada 1-9 Oktober
lalu mereka baru saja menyelesaikan survei mengenai Pilkada DKI Jakarta.
SMRC sendiri bukan lembaga kemarin sore yang melakukan survei. Nama SMRC sebagai lembaga
survei sudah dipercayai banyak kalangan. Selain itu mereka juga merupakan lembaga konsultasi bagi
yang ingin berkonsultasi.
"Kami hadir untuk membantu para pemimpin dan pengambil kebijakan di tingkat nasional dan
daerah," begitu kata SMRC seperti tertulis dalam situs resmi SMRC. (obs)

[9]
Komunikasi politik kajian pilkada “STRATEGI TIM SUKSES EFISIEN & EFEKTIF”
Oleh: Bahrin Rambe,SHI

Tidak dipungkiri bahwa Pilkada adalah suatu pristiwa politik, namun proses dan hasil Pilkada dapat
pula dicapai melalui analisis mekanisme pasar dan pendekatan makro-mikro ekonomi. Mensukseskan
Pilkada (KPUD) dan memenangkan Pilkada (kandidat Gubernur/Bupati/Walikota) membutuhkan
analisis untung rugi dan kalkulasi ekonomi yang akurat yakni bagaimana mengurangi resiko-biaya
sosio-ekonomi dan sosio-politik. Efisiensi penting dalam berbagai bidang baik dalam pelaksanaan
Pilkada (KPU/Desk Pilkada) maupun cara memenangkan Pilkada (kandidat/ koalisi/non koalisi
partai pendukung). Tim sukses kandidat Pilkada seharusnya berpikir strategik-efisien bagaimana
mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan/manfaat (”to minimize risks and to maximizize
profits”). Hal ini diperlukan agar Pilkada dapat dilaksanakan secara efisien bukan sekedar efektif
dengan mengurangi beban (”economic burdens”) dibandingkan dengan manfaat politik (”political
benefits”). Dua kerugian dan kemubaziran yang timbul pertama pelaksanaan Pilkada tidak dijalankan
dengan efisien dan yang kedua biaya ekonomi dan ongkos politik dari kandidat Gubernur/Bupati/
Walikota akan semakin besar.
SURVEY.
Pilkada adalah proses demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi, dan diprediksi dalam proses maupun
hasilnya.
Survei merupakan salah satu pendekatan penting dan lazim dilakukan untuk mengukur,
mengkalkulasi, dan memprediksi bagaimana proses dan hasil pilkada yang akan berlangsung,
terutama menyangkut peluang kandidat. Sudah masanya meraih kemenangan dalam pilkada
berdasarkan data empirik, ilmiah, terukur, dan dapat diuji.
Sebagai salah satu aspek penting strategi pemenangan kandidat pilkada, survei bermanfaat untuk
melakukan pemetaan kekuatan politik. Dalam hal ini, tim sukses semestinya membuat survei untuk:
1) memetakan posisi kandidat di mata masyarakat;
2) memetakan keinginan pemilih;
3) mendefinisikan mesin politik yang paling efektif digunakan sebagai vote getter; serta
4) mengetahui media yang paling efektif untuk kampanye.
Tim sukses harus mengandalkan survey untuk menentukan strategi pemenangan kandidat.
Untuk mengetahui bagaimana peta/sebaran dukungan dan preferensi pemilih terhadap kandidat
berdasarkan aspek: wilayah, usia, jenis kelamin, pekerjaan, agama, afiliasi keagamaan dan organisasi
sosial, serta tingkat sosial-ekonomi.
Untuk mengetahui bagaimana tingkat popularitas kandidat di masyarakat, baik pada masa pra-
kampanye maupun pada masa kampanye menjelang pemilihan. Melalui survei, tim sukses akan dapat
memperkirakan seberapa besar dana yang diperlukan untuk membiayai kampanye.
Melalui survei tim sukses dapat mengemas pencitraan kandidat sesuai dengan ideal yang diharapkan
pemilih dan dapat menggunakan media kampanye yang tepat. Untuk mengidentifikasi isu-isu
strategis yang berkembang di masyarakat sebagai bahan kampanye kandidat dan dapat menyusun
program kampanye sesuai kehendak pemilih. Untuk mengetahui besaran peluang atau probabilitas
menang kandidat dalam pilkada.
Sarana ”sosialisasi” kandidat kepada masyarakat.
Survey perlu diadakan minimal 3 kali sebelum hari H pilkada dilakukan. Survey pertama, sebaiknya
dilakukan secepat mungkin. Sebab kandidat yang tahu situasi lebih cepat memiliki kemungkinan
menang lebih besar. Survei pertama ini digunakan untuk mengukur modal dasar yang dimiliki
kandidat dan mengukur harapan masa pemilih. Survei pertama dipakai sebagai dasar pencitraan

[10]
kandidat, dan strategi pemasaran dan pemenangan kandidat. Survey kedua diadakan 3-2 bulan
setelah tim sukses bergerak memasarkan kandidat (berkampanye). Survei ini digunakan untuk
mengetahui seberapa efektif strategi kampanye yang telah dilakukan. Survey ketiga diadakan pada
saat pelaksanaan kampanye pilkada. Survei ini digunakan untuk mengetahui seberapa efektif strategi
kampanye dan upaya pemenangan yang telah dijalankan. Juga untuk menilai berapa kira-kira
perolehan suara kandidat dalam pilkada nanti.
JARGON SINGKATAN NAMA CALON KANDIDAT
Orang Indonesia lebih cepat mengenal kata atau merek yang terdiri dari dua suku kata. Mirip dengan
strategi pembuatan merek yang menganjurkan menggunakan kata sederhana agar mudah diingat,
mudah dibaca dan ditulis.
Lantas bagaimana dengan merek yang menggunakan lebih dari dua suku kata? Tentu saja tetap bisa
sukses dipasar dengan menggunakan berbagai strategi. Yang pasti effort dan waktu yang digunakan
akan berbeda. Sebagai contoh, YAMAHA yang baru saja sukses menjadi market leader di awal tahun
ini setelah melewati masa yang cukup panjang menghadapi dominasi Honda.
Beberapa merek yang panjang menggunakan strategi singkatan agar lebih mudah dikenali dan
diingat. Presiden Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, merek Hawlett
Packard disingkat HP, Studio 21 disingkat TO, Mc Donald dikenal dengan McD, Kentucky Fried
Chicken menjadi KFC, jalan Botolempangan disingkat Botlem, Mal Ratu Indah menjadi MARI, Mal
Panakkukang menjadi MP, PT. Telekomunikasi Indonesia dikenal dengan TELKOM, Excelcomindo
disingkat XL, Ujungpandang Ekspress menjadi UPEKS dan lain sebagainya.
Tim Sukses Cagub telah memikirkan berbagai strategi untuk menguasai benak calon pemilih.
Termasuk strategi pemilihan singkatan bagi nama calon untuk menjadi materi promosi. Konsep
memasarkan Cagub adalah personal branding strategy. Karena nama Cagub juga sama dengan
merek. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan meng-implementasi-kan konsep personal
branding ini. Perlu diingat bahwa dalam pemasaran, tiada lain bertujuan menciptakan persepsi
terhadap merek untuk masuk ke benak pasar (mind share) hingga menguasai hati pemilih (heart
share).
Mengapa heart share? Karena para pemilih kita adalah pasar yang rasional dan akan bertindak sesuai
dengan hati nuraninya.
INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGI
pembahasan sekelumit tentang “kekuatan” Information and Communication Technology (ICT)
terhadap sebuah kekuatan politik, khususnya tentang kampanye. Bisa jadi, hal ini bukan sesuatu yang
baru. Pasalnya, pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 1944 saja, Franklin D Roosevelt telah
menggunakan teknologi yang cangih pada jamannya, yakni Radio, sebagai sarana untuk
mensukseskan pemilihannya.
Di Indonesia saat ini berbagai inovasi dalam berkampanye sudah dilakukan. Berbagai strategi
kampanye yang ada di luar negeri dicoba diterjemahkan dan diimplementasikan di Indonesia. Namun
sayangnya, banyak pihak belum menggabungkan dan membangun sejumlah perangkat kampanye
menjadi satu kesatuan. Melakukan sinergi antara item dan strategi kampanye modern dan tradisional
sehingga terbentuk sistem yang cantik dan cerdas. Yang terjadi saat ini justru “perang” item
kampanye konvensional. Seperti kaos, spanduk, baliho, stiker, dan lain-lain. Tidak hanya itu,
kekuatan/konflik fisik pun mewarnai dan mencoreng nilai kampanye. Sesuatu yang sangat tidak
diharapkan.
Jumlah daftar pemilih bagi kandidat bupati/walikota/gubenur tentu merupakan data yang sangat
penting. Dari data inilah nantinya bisa dijadikan informasi. Dan dari informasi yang ada akan dibuat
sebuah pemetaan. Yakni peta untuk mengetahui:

[11]
 yang menjadi kekuatan/pendukungnya
 yang kontra
 yang abstain
 yang mengambang
 yang ragu
 Dan lain-lain.
Pemanfaatan ICT, seperti SMS, Call Centre, Radio daerah dan Situs merupakan langkah awal untuk
bisa menjaring loyalis, mengenalkan sang kandidat sekaligus melakukan pemetaan awal. Untuk SMS,
khususnya di daerah yang penetrasi ponselnya sudah relatif tinggi, dengan melakukan “pancingan”
berupa Kuis SMS (dengan tema yang mengarah pada sang kandidat, tanpa melakukan black
campaign) yang berhadiah menarik, tentu data yang masuk menjadi point tersendiri bagi sang
kandidat. Data inilah yang harus diolah menjadi informasi yang bisa merebut hati dan pikiran calon
pemilih. Ini pula peluang/kesempatan sang kandidat untuk bisa menjadikan pertemuan maya
menjadi pertemuan nyata.
Dengan mencermati aturan yang ada, tanpa melanggar ketentuan, bagaimana caranya SMS Broadcast
dilakukan dengan pesan-pesan yang memikat calon pemilih. Atau dengan kata lain mulai melakukan
soft campaign. Data no HP dari SMS Quis merupakan aset mahal bagi sang kandidat. Begitupun saat
kampanye berlangsung, dibukanya kran untuk menyampaikan kritik, saran dan pendapat dari pemilih
dan bagaimana sang kandidat bisa menanggapi secara simpatik merupakan bagian dari strategi
kampanye yang perlu di cermati.
Bagi kandidat, penerapan ICT dalam masa pra kampanye dan saat kampanye, bahkan saat
perhitungan suara (yang dilakukan oleh tim sukses dan loyalis) untuk menjaga akuntabilitas KPUD
tentu merupakan point plus tersendiri. Dibukanya kran kritik, akan memberikan image terhadap
kandidat bahwa dirinya siap dikritik dan siap mendengarkan. Sementara masukan/data masyarakat
berupa kritik dan lainnya dapat dijadikan masukan untuk meningkatkan kualitas kampanye. Memang
benar, penetrasi ponsel tidaklah besar dibandingkan jumlah pemilih, Namun efek domino terhadap
lingkungan sekitar inilah yang diharapkan mampu mendongkrak popularitasnya dan pada akhirnya
memilih dirinya.
Lagi-lagi ini adalah cara jitu menangkap basah “pasar” potensial dalam melakukan pemetaan.
Sehingga bisa diketahui mana yang harus konsentrasi kampanyenya lebih besar, mana yang tidak.
Begitupun dengan pemanfaatan teknologi call centre. Dengan dibukanya akses telepon gratis/bebas
pulsa pada waktu-waktu tertentu sehingga ada komunikasi langsung antara calon pemilih dan sang
kandidat, menjadikan peluang untuk bisa mengetahui isu-isu apa yang paling penting di daerah satu
dengan yang lain. Inipun bisa dijadikan peluru dalam menyampaikan pesan-pesan yang “membumi”
saat kampanye berlangsung. Bukan pesan umum yang ada di awang-awang yang susah untuk
dicernah oleh calon pemilih. Lagi-lagi ini peluang untuk mencari pasar potensial loyalis. Fungsi yang
sama pun berlaku bagi situs.
KOMUNIKASI MASSA.
Memposisikan media sebagai sebuah kekuatan vital, sebagaimana tergambar dalam hypodermic
theory. Dengan anggapan bahwasannya massa itu bodoh, pasif dan bisa dimanipulasi, iklan gencar-
gencaran di pasang sebagaimana pamplet, spanduk dan baligo di pasang dimana-mana.
Tetapi apapun praktek komunikasi massa yang dilakukan, figure yang tampil tetap menjadi bahan
perhatian yang tidak akan pernah terlupakan. Karena elemen komunikasi massa tidak hanya media
penyampaian informasi dan khalayak saja, tetapi juga figure alias komunikator sebagai aktor utama.
Hal terakhir inilah yang mesti dicek kembali kelayakannya untuk dijadikan pilihan oleh masyarakat
banyak.

[12]
Disinilah kemudian faktor kredibilitas menjadi rujukan. Kredibilitas yang merujuk langsung kepada
kapasitas tekhnis, moral dan kepintaran sang kandidat. Secara teoritik kredibilitas memang bisa di
design sedemikian rupa. Apalagi di zaman dimana komputer sudah menjadi kehidupan keseharian
masyarakat.
Memakai tekhnik photo mutakhir, gambar yang garang bisa dimanipulasi. Hitam bisa jadi putih, hijau
jadi merah,muka garang bisa jadi muka manis, muka dingin bisa jadi sangat friendly. Pada pilpres
kemarin Tim sukses Amien Rais berusaha mati-matian untuk menghilangkan kesan muka licik pak
Amien. Dan itu sukses setelah beberapa kali photo Amien Rais di bolak-balik oleh sebuah biro
photographi di Jakarta.
Simbol sebagai kekuatan media massa, komponennya ada dua. Pertama kuantitas symbol itu
disosialisasikan kepada masyarakat. Semakin massif symbol itu disosialisasikan di tengah masyarakat,
maka semakin tinggi tingkat kemungkinan symbol itu merasuk kealam bawah sadar masyarakat
pemilih dan menjadi pegangan di bilik suara. Kedua tingkat kedekatan symbol itu di tengah
masyarakat. Semakin symbol itu menjadi keseharian kehidupan masyarakat, maka symbol itu akan
sangat mungkin untuk menang. Misalnya, pada pilkada D.K.I. Jakarta kalau Fauzi Bowo dengan ciri
kumisnya dapat diingat oleh para pemilih di bilik suara. Warna orange yang dipakai Adang sudah
menjadi keseharian kehidupan masyarakat Jakarta. Sudah tersosialisasikan begitu massif sebelum
pelaksanaan pilkada itu sendiri. Indikatornya bisa dilihat dari pendukung Persija, yang sudah menjadi
maskot warga ibukota, juga warna identitas pemda Ibu kota sendiri.
STRATEGI TWO STEP COMMUNICATION
Pada jurusan lain strategi two step communication pun dilaksanakan baik dengan cara manipulatif
maupun proses negosiasi politik yang elegant. secara manipulatif masing-masing calon
memanfaatkan posisinya sebagai pimpinan beberapa perkumpulan. Bahkan membuat komunitas
bikin-bikinan dan menyatakan sebagai pendukungnya. Sehingga tidak aneh bila masa pilkada ini
banyak organisasi yang tiba-tiba muncul dan menyatakan dukungan.
Secara elegan sejumlah prominent figure didekati dan diminta partisipasinya untuk mendukung
masing-masing kandidat. Keuntungannya kesuksesan citra bahwasannya mendapat dukungan dari
tokoh masyarakat juga bergeraknya komunitas dibawah bimbingan tokoh tersebut.
MEMAKAI JASA LEMBAGA STRATEGIC AND POLITICAL CONSULTING
Cara inilah mungkin yang paling mahal pada saat ini. Misalnya kita ambil dari pencitraan Soetrisno
Bachir atau biasa disingkat S.B. dia memakai jasa lembaga strategic and political consulting
profesional pertama di Indonesia yaitu Fox Indonesia .
Yang dimaksud professional disini dalam pengertian bisnis kampanye yang modern dan konsultan
murni, penggarapannya mulai hulu hingga hilir. Mulai pencitraan, iklan, pemberitaan di media,
kampanye, sampai strategi pemenangan suksesi.
Dalam pengerjaannya Fox Indonesia menggunakan sistem outsourching. Beberapa elemen dalam
proses produksi diserahkan kepada profesional. Misalnya pemenangan pilkada diperlukan elemen
survey. Untuk tugas itu, Fox Indonesia menyerahkan kepada LSI ( Lembaga Survei Indonesia ) milik
Saiful Mudjani. Begitu juga dalam pembuatan iklan di televisi. Sampai-sampai melibatkan sutradara
muda Ipang Wahid, urusan Fotografi dipercayakan pada fotografer kawakan Darwis Triadi. Bahkan
sebentar lagi sutradara terkenal seperti Garin Nugroho akan bergabung dengan Fox Indonesia.
Puncak demokrasi adalah sebuah festival tempat berbagai komunitas masyarakat bisa bergabung dan
menikmati kebebasan menuangkan kreasi, termasuk para seniman.
Untuk menunjang pekerjaan Fox Indonesia dibentuk beberapa divisi. Salah satunya yang paling
krusial adalah divisi Think thank yang menggagas ide-ide dalam membangun citra tokoh dalam iklan.
Termasuk pemilihan puisi Chairil Anwar dan ide memasang iklan di studio 21. Strateginya juga
termasuk memasang iklan di Koran-koran utama, media luar ruang pemasangan baliho di seluruh

[13]
Indonesia, dan roadshow ke berbagai daerah di Indonesia. Harga yang dipatok memang mahal,
untuk iklan di televisi saja bisa mencapai 180 kali tayang dalam sehari dan ditayangkan di jam-jam
utama atau prime time. Belum lagi iklan di radio dan TV lokal, maka dari itu diperlukan anggaran
yang sangat besar untuk menggunakan jasa konsultan seperti Fox Indonesia.
KESIMPULAN.
Dari strategi diatas diharapkan selain efektif dan mengena, juga efisiensi biaya di perhitungkan. Selain
itu waktu dan kesempatan juga diperhitungkan mengingat persaingan sesama kandidat semakin
kompleks. Jika tim sukses telat mengambil langkah dan kalah dengan tim sukses calon kandidat lain
jelas merugikan tim sukses ini. Selain ongkos biaya yang terbuang percuma, juga calon kandidat yang
diperjuangkan akan menerima hujatan dari masyarakat yang membela kandidat lain, serta massa yang
sebelumnya mendukung kandidat ini akan balik menghujat karena beralih mendukung kandidat lain.
Dari strategi yang tertulis adalah suatu opsi yang harus juga diperhitungkan. Mengingat strategi
tersebut juga tidak sedikit ongkos biaya yang dikeluarkan, dan mewajibkan tim sukses agar selalu
berfikir efisien dan efektif dalam memperjuangkan kandidat.

STRATEGI PEMENANGAN KANDIDAT PILKADA


Pertama, pembuatan tim sukses. Tim sukses akan mengorganisir segala kebutuhan pencalonan
kandidat, pemetaan kekuatan politik, perencanaan pencalonan, dan marketing kandidat. Tim sukses
terbagi dalam beberapa bagian yang penting 1) survei popularitas kandidat dan perencanaan
kampanye, 2) penggalangan dana, 3) hukum dan pemantauan pilkada, 4) pencitraan kandidat, 5)
penguatan mesin politik (training), 6) kampanye dan media massa
Kedua, survei untuk pemetaan kekuatan politik. Tim sukses semestinya membuat
survei untuk:1) memetakan posisi kandidat di mata masyarakat, 2) memetakan keinginan pemilih, 3)
mendefinisikan mesin politik yang paling efektif digunakan sebagai vote getter, 4) mengetahui media
yang paling efektif untuk kampanye.
Ketiga, follow up hasil survei. Follow up hasil survei menjadi agenda kerja tim sukses yaitu:
1) Penguatan mesin politik. Riset dapat mengetahui mesin politik yang paling dekat dengan massa
i.e. lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan, lsm dll. Tugas tim sukses khususnya bagian
training adalah melakukan penguatan terhadap mesin politik tersebut agar menjadi vote getter
yang efektif.
2) Candidat positioning. Riset dapat menggambarkan citra kandidat yang diharapkan, dan agenda
kerja yang diinginkan. Dari hasil riset ini tim sukses, khususnya bagian pencitraan, dapat
merencanakan citra dan posisi kandidat agar sesuai dengan keinginan pemilih.
3) Marketing. Riset dapat mengetahui posisi kandidat di mata masyarakat, citra gubernur yang
diinginkan masyarakat, agenda kerja yang diinginkan masyarakat. Tim sukses (bagian kampanye
dan media massa) harus memfollow-up dengan membuat visi misi, membuat materi kampanye,
strategi kampanye, dan merencanakan media kampanye.
Ada sedikit tips untuk anda yang mungkin sedang terjun di dunia politik, misalnya anda sebagai tim
sukses dalam PILKADA. Dalam politik kita tak tahu kita berhadapan dengan siapa meskipun orang
tersebut dalam Tim kita. Semua serba mungkin dalam dunia perpolitikan. Mungkin dia mata-mata
dari lawan politik kita. Tapi kalau kita bisa mengindentifikasi siapa mata-mata dan siapa memang
benar-benar Tim kita. Bisa aja mata-mata itu dalam Tim kita akan mungkin menguntungkan kita,
kalau kita dia itu mata-mata. Kasih aja info yang berseberangan dengan strategi politik kita, agar juga
salah dengan strategi mereka. Menemukan mata-mata itu juga gampang-gampang susah. Caranya
kasih info kepada tim kita yang berbeda-beda, misal info 1, 2, 3 dst. Yang sampai pada lawan politik
info yang mana. Bila itu info 2 maka tim kita yang kita beri info 2 itulah mata-mata, tapi harus cek
duluan lho mungkin 3 test baru ketahuan benar. Tinggal anda memanfaatkannya.

[14]
Waduh jadi ngelantur kemana-mana nich. OK berikut Strategi pemenangan calon :
1. Sukses itu berkat kerja keras.
2. 'Serang' strategi lawan
3. 'Hancurkan' Aliansi lawan
4. 'Seran'g lawan
5. 'Kepung' kubu pertahanan lawan
6. Tentukan strategi anda
7. Kenali karateristik 'medan perang'
8. Temukan keuntungan strategi anda
9. Manfaatkan kekuatan lawan
10. Saring topik anda
11. Tentukan tujuan taktis anda
12. Kendalikan strategi anda
13. Menciptakan imej yang lebih baik
14. Menampilkan figur kepemimpinan yang kharismatik dan menyakinkan
15. Propagandakan bidang atau bagian program partai yang unggul/kuat (atau dianggap kuat)
16. Memindahkan pengambilan keputusan ke sebuah organ atau sekelompok orang yang bersedia
memimpin dan bersedia mengambil alih
17. Mengaburkan perbedaan pendapat/pandangan dengan melakukan strategi Disinformasi
18. Mempreteli imej personel partai lawan
19. Menciptakan 'musuh eksternal'
20. Masuk lebih dalam ke dalam 'pasar' agar dapat menyerap kelompok sasaran partai
21. Menjaga agar jumlah lawan tetap kecil, melalui strategi langkah-langkah kecil
22. Memperluas 'pasar' agar dapat memenangkan kelompok-kelompok pemilih baru
23. Memperluas 'pasar' agar dapat menyakinkan dan memenangkan kelompok-kelompok pemilih
baru
24. Buat 'kontroversi' biar fifty-fifty kedalam pilihan setuju atau tidak efektif lawan bila lebih dari 3
25. Bila bingung berlanjut hubungi 'Admin'

[15]