Anda di halaman 1dari 90

PROYEK AKHIR

“Kajian teknis pengelolaan / penyaliran (mine dewatering / mine drainase) dan


pemompaan air tambang sump pit 1 pada bulan maret 2014 PT.Riung Mitra
Lestari job site rantau Kalimantan Selatan”

Di Ajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Dalam Menyelesaikan Program D-3 Teknik Pertambangan

Oleh :

ANGGA RAHMATULLAH
BP/NIM.2011/1105165

Konsentarasi : Tambang Umum


Program Studi: D-3 Teknik Pertambangan

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014
iv
BIODATA

I. Data diri
Nama lengkap : ANGGA RAHMATULLAH
BP/ NIM : 2011 / 1105165
Tempat/ Tanggal Lahir : Payakumbuh / 02 Agustus 1992
Nama Ayah : Syafrinal
Nama lbu : Hasrayenis (Almh)
Alamat Tetap : Jln. Kiwi, RT/RW.001/004 Koto Baru
Balai janggo. Payakumbuh
II. Data Pendidikan
Sekolah Dasar : SDN 02 BANJA LOWEH
Sekolah Menengah Pertama : MTsN Kota Payakumbuh
Sekolah Menengah Atas : MAN 2 Payakumbuh
Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang
III. Data Proyek Akhir
Tempat Kerja Praktek : PT. Riung Mitra Lestari
Tanggal Kerja Praktek : 3 Februari — 3 April 2014
Topik Studi : Kajian Teknis Pengolahan / Penyaliran
(Mine dewatering) dan pemompaan air
tambang Sump Pit 1 PT. Riung Mitra
Lestari
Tanggal Sidang : 15 Agustus 2014

Padang, 15 Agustus 2014

Angga Rahmatullah
2011 / 1105165

v
RINGKASAN

PT. Riung Mitra Lestari merupakan perusahaan tambang terbuka yang


berlokasi di Desa Pantai Cabe, Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin,
Provinsi Kalimantan Selatan dengan Izin Usaha Pertambangan seluas 6.955 Ha,
yang terdiri dari Tambang IUP KUB (Karya Utama Banua) seluas 1.990 Ha,
Tambang IUP BGM (Batu Gunung Mulia) seluas 4.965 Ha. Metode penambangan
di PT. Riung Mitra Lestari ialah menggunakan open pit mining methods.
Perencanaan pemompaan dengan menggunakan 6 unit pompa dengan
menggunakan metode multistage pump atau dengan sistem pemompaan seri.
Pompa yang digunakan untuk pengeringan front tambang di RML pada bulan
Maret 2014 adalah pompa jenis Multiflow 420, Multiflow 385, dan DND 200 KSB
(Diesel). Pompa pada sump yaitu pompa Multiflow 420 sebanyak 2 unit, dan
pompa Multiflow 385 sebanyak 1 unit dengan elevasi -75 mdpl dan panjang pipa
HDPE 468 meter. Dan pompa seri akan dipasangkan pompa jenis Multiflow 420
sebanyak 2 unit dan pompa DND 200 KSB (Diesel) sebanyak 1 unit dengan
elevasi +36 mdpl dan panjang pipa HDPE 338 meter.
Hasil analisa perhitungan penulis yaitu rencana debit air yang masuk ke dalam
sump RML ialah 35.954 m3/jam. Rencana debit pemompaan selama bulan Maret
2014 ialah 2,340 m3/jam.

vi
ABSTRACT

PT. Riung Mitra Lestari is an open-cut mining company located in the village
of Chilli Beach, Salam subdistrict Babaris, Tapin district, South Kalimantan
province with the Mining Permit area of 6955 ha, which consists of IUP Mine
KUB (Principal Work Banua) covering an area of 1,990 hectares, IUP Mine
BGM (Stone Mountain Majesty) covering an area of 4,965 Ha. Mining methods in
PT. Riung Mitra Lestari is using open pit mining methods.
Planning pumping using 6 units using multistage pump with pump or with a
series of pumping systems. The pumps are used for draining mines in RML front
in March 2014, is a pump type Multiflow 420, Multiflow 385, and DND 200 KSB
(Diesel). Pump in the sump pump 420 Multiflow 2 units, and pumps Multiflow 385
1 unit with elevation -75 meters above sea level and 468 meters long HDPE pipe.
And the series will be paired pump pump Multiflow type 2 units 420 and 200 KSB
pumps DND (Diesel) 1 unit with elevation +36 meters above sea level and 338
meters long HDPE pipe.
The result of the analysis is the calculation of the writer plan water discharge
into the sump RML is 35 954 m3 / hour.Pumping discharge plan during March
2014 was 2,340 m3 /hour.

vii
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur penulis mohonkan kehadirat Allah SWT atas

rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan Proyek Akhir ini dengan sebaiknya, dan seterusnya

sholawat dan salam penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, agar disampaikan

kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW , keluarga dan para Sahabatnya.

Penyelesaian Proyek Akhir ini berdasarkan kegiatan Praktek Lapangan

Industri yang penulis ikuti pada PT. Riung Mitra Lestari job site Rantau

Kalimantan Selatan.

Proyek Akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Program Diploma III pada Program Studi Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas

Teknik Universitas Negeri Padang (UNP). Studi Kasus dalam Proyek akhir ini

penulis beri judul “Kajian teknis pengelolaan / penyaliran (mine dewatering /

mine drainase) dan pemompaan air tambang sump pit 1 pada bulan maret

2014 PT. Riung Mitra Lestari job site rantau Kalimantan Selatan”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya

atas semua fasilitas, bantuan, bimbingan dan saran kepada penulis. Ucapan terima

kasih tersebut penulis tujukan kepada :

1. Teristimewa kepada kedua orang tua dan keluarga besar penulis yang telah

memberikan doa, cinta, kasih sayang dan dorongan baik moril maupun

material yang selalu menjadi penyemangat buat saya.

2. Bapak Drs. Bambang Heriyadi, MT selaku Ketua Jurusan Teknik

Pertambangan Universitas Negeri Padang,

viii
3. Bapak Drs. Raimon Kopa, MT selaku koordinator kegiatan Praktek

Lapangan Industri.

4. Bapak Mulya Gusman,ST, MT selaku Dosen Penasehat Akademis.

5. Bapak Ansosry S,T M,T selaku Dosen Pembimbing Penulis,

6. Bapak Drs. Bahrul Amir,ST.M.PD, Selaku Ketua Unit Hubungan Industri

Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang.

7. Bapak Patrias Rentak, selaku dept head engineering PT. Riung Mitra

Lestari sekaligus pembimbing lapangan.

8. Bapak Ari Murdiantoro selaku asisiten pembimbing lapangan.

9. Seluruh staff clan karyawan PT. Riung Mitra Lestari

10. Serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesain proyek akhir.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat

banyak kekurangan, oleh karena itu sangat berharap kritik dan saran yang

membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermamfaat bagi kita

semua.

Padang, 15 Agustus 2014

Penulis

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN PROYEK AKHIR ........................................ ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN PROYEK AKHIR .......................... iii

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ........................................... iv

BIODATA .................................................................................................... v

RINGKASAN .............................................................................................. vi

ABSTRAK ................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR ................................................................................. viii

DAFTAR ISI................................................................................................ x

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1


B. Identifikasi Masalah ................................................................... 2
C. Batasan Masalah ........................................................................ 2
D. Rumusan Masalah ...................................................................... 3
E. Tujuan Studi Kasus .................................................................... 3
F. Manfaat Studi Kasus .................................................................. 4

x
BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Daur Hidrologi ........................................................................... 5


B. Curah hujan.................................................................................. 14
C. Penyaliran Tambang .................................................................. 18
D. Pompa dan Pipa .......................................................................... 22
E. Kolam Pengendap Lumpur (Settling Pond) ................................ 32

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

A. Jadwal Kegiatan ......................................................................... 34


B. Jenis Studi Kasus ....................................................................... 34
C. Jenis Data ................................................................................... 34
D. Metodologi Pengambilan Data .................................................. 36
E. Metode Analisis Data ................................................................. 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian .......................................................................... 42


B. Pembahasan ................................................................................ 48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ................................................................................ 53
B. Saran .......................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xi
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 : Daur Hidrologi ..................................................................... 5

Gambar 2 : Penyaliran sistem jenjang ..................................................... 21

Gambar 3 : Penyaliran sitem terowong ................................................... 22

Gambar 4 : Pipa penyaliran air ............................................................... 32

Gambar 5 : KPL Tambang Riung ........................................................... 33

Gambar 6 : Metode analisa data ............................................................... 37

Gambar 7 : Genangan air ditambang ....................................................... 42

Gambar 8 : Peta situasi tambang .............................................................. 43

Gambar 9 : Peta fisografi regional kalimantan ........................................ 44

Gambar 10 : Pipa HDPE ........................................................................... 47

Gambar 11 : Rencana Pemompaan di Tambang ....................................... 50

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 : Koefisien Limpasan ..................................................................... 10

Tabel 2 : Hubungan Derajat dan Itensitas Curah Hujan............................... 16

Tabel 3 : Keadaan dan Curah Hujan ............................................................ 18

Tabel 4 : Jadwal Kegiatan ............................................................................ 34

Tabel 5 : Head Total Pompa ......................................................................... 51

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran A : Struktur Organisasi PT.Riung Mitra Lestari.......................... 57

Lampiran B : Stratigrafi Tambang Riung Mitra Letari................................ 58

Lampiran C : Peta Topografi tambang Riung Mitra Lestari....................... 59

Lampiran D : Data Curah Hujan................................................................. 60

Lampiran E : Perhitungan Rencana Curah Hujan Bulan Maret 2014........ 61

Lampiran F : Perhitungan Rencana Evapotranspirasi................................. 64

Lampiran G : Perhitungan Rencana Debit Air Limpasan (Run Off)............ 65

Lampiran H : Perhitungan Head Pompa...................................................... 67

Lampiran I : Spesifikasi Pompa................................................................. 73

Lampiran J : Koefisien Skewness............................................................... 76

xiv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tambang terbuka merupakan salah satu metode penambangan, dimana

kegiatan penambangannya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca atau udara,

bebas. Elemen-elemen dari pengaruh cuaca atau udara bebas itu diantaranya

adalah hujan, panas, tekanan udara dan sebagainya yang dapat mempengaruhi

kondisi tempat kerja, kondisi alat kerja dan pekerja itu sendiri yang

selanjutnya akan dapat mempengaruhi produktifitas penambangan.

Air tambang memiliki pengaruh besar terhadap produktifitas

penambangan, di PT. Riung Mitra Lesatari, aktivitas penambangan sering

terganggu karena banyaknya air yang terdapat di sekitar front penambangan.

Air yang terdapat di sekitar front penambangan ini berasal dari air hujan dan

air tanah. Di samping menggenangi lokasi kerja air juga membuat jalan

menjadi licin sehingga alat berat yang beroperasi menjadi terganggu. Dengan

terganggunya aktivitas alat berat maka dapat membuat target produksi tidak

tercapai.

Untuk dapat mengetahui cara pengendalian air yang benar tentu harus

mengetahui sumber dan perilaku air terlebih dahulu karena tambang akan

berbentuk cekungan (pit) maka operasi penambangan akan selalu dihadapkan

pada masalah air. Penanganan masalah air di dalam tambang terbuka dapat

dibedakan menjadi dua jenis yaitu mine drainage dan mine dewatering. Mine

drainage merupakan usaha untuk mencegah masuknya air ke dalam tambang,

1
2

sedangkan mine dewatering merupakan usaha yang dilakukan untuk

mengeluarkan air yang telah masuk ke areal penambangan. Pada saat ini PT.

Riung Mitra. Lesatri telah melakukan sistem mine dewatering dengan

menggunakan pompa, maka dari itu penulis ingin mengamati dan menganalisa

apakah sistem mine dewatering sekarang ini sudah bisa dikatakan dapat

menyelesaikan masalah air yang ada pada tambang atau belum dilihat dari

sumber dan perilaku air yang ada di tambang itu sendiri.

Seperti yang telah dijelaskan tersebut di atas maka penulis mencoba untuk

mengkaji lebih dalam permasalahan tersebut yang akan penulis tuangkan

dalam bentuk tulisan dengan judul "Kajian teknis pengelolaan / penyaliran

(mine dewatering) dan pemompaan air tambang sump pit 1 pada bulan

maret 2014 PT. Riung Mitra Lestari job site Rantau Kalimantan

Selatan"

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang penelitian ini dapat diindentifikasi masalah sebagai

berikut:

1. Banyaknya genangan air pada Front penambangan.

2. Kegiatan penambangan terganggu.

C. Batasan Masalah

Untuk lebih fokusnya penelitian ini, maka penulis membatasi masalah

penelitian ini sebagai berikut:

1. Perencanaan teknis sistem penyaliran dan pemompaan air tambang pada

bulan Maret 2014 di sump 1.


3

2. Perencanaan ekonomis sistem pemompaan air tambang pada bulan Maret

2014 di sump 1.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang telah

diuraikan di atas maka untuk lebih terarahnya penelitian ini, maka penulis

merumuskan permasalahan ditinjau dari beberapa aspek diantaranya:

1. Berapa jumlah debit air yang masuk ke dalam front penambangan sump 1?

2. Bagaimana sistem pemompaan di pit tambang sump 1?

3. Berapakah jumlah dan spesifikasi pompa yang dibutuhkan dalam proses

pemompaan selama bulan Maret 2014 di sump 1 ?

E. Tujuan Studi Kasus

Tujuan studi kasus adalah untuk mengkaji permasalahan yang timbul pada

suatu objek pengamatan, sehingga dalam studi kasus pada tambang Riung

Mitra Lestari job site Rantau bertujuan untuk :

1. Menentukan debit air yang masuk ke dalam front penambangan di pit

sump 1.

2. Merencanakan bentuk sistem pemompaan di pit tambang sump 1.

3. Menentukan jumlah pompa dan spesifikasi pompa yang dibutuhkan dalam

proses pemompaan.
4

F. Manfaat Studi Kasus

Manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dan pembaca mengenai

sistem dewatering tambang.

2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pihak PT. Riung Mitra

Lestari dalam merencanakan sistem pemompaan tambang di tambang

RML job site Rantau.


5

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Daur Hidrologi

Air yang berada di dalam maupun di permukaan bumi mengalami proses

yang membentuk daur. Secara umum daur hidrologi terjadi karena air yang

menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut akan terkondensasi dan

kembali jatuh ke bumi. Kejadian ini disebut presipitasi yang dapat berbentuk

hujan , salju, atau embun. Peristiwa perubahan air menjadi uap air dan bergerak

dari permukaan tanah ke udara disebut evavorasi, sedangkan penguapan air

dari tanaman disebut transipirasi. Jika kedua proses ini terjadi secara bersama-

sama maka disebut evapotranspirasi. Untuk lebih jelasnya daur hidrologi dapat

dilihat pada gambar 1.

Sumber: www.googlesearch.com

Gambar 1. daur hidrologi

5
6

1) Presipitasi

Presipitasi adalah proses perubahan uap air menjadi bentuk salju,

air hujan dan lain-lain di atmosfer yang kemudian jatuh keatas

vegetasi, batuan, pennukaan tanah, permukaan air dan saluran-saluran

sungai.

Presipitasi dapat terdiri dari beberapa bentuk, yaitu:

a) Hujan yang merupakan bentuk presipitasi yang paling penting.

b) Embun yang merupakan hasil kondensasi di permukaan tanah atau

tumbuhan.

c) Salju dan es.

Untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropis, bentuk presipitasi

yang paling penting adalah hujan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persipitasi adalah:

(1). Adanya uap air di atmosfer.

(2). Faktor-faktor meteorologic suhu air, suhu udara, kelembaban,

kecepatan angin, tekanan dan sinar matahari.

(3). Lokasi daerah berhubungan dengan sistem sirkulasi secara umum.

(4). Rintangan yang disebabkan oleh gunung dan lain-lain.

2) Infiltrasi

Proses infiltrasi terjadi karena hujan yang jatuh di atas permukaan

tanah sebagian dan seluruhnya akan mengisi pori-pori tanah. Curah


7

hujan yang mencapai permukaan tanah akan bergerak sebagai air

limpasan. permukaan (run off ) atau sebagai infiltrasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi adalah:

a) Faktor tanah

Merupakan faktor -faktor yang berkaitan dengan sifat fisik tanah,

antara lain:

(1). Ukuran butir

Semakin besar ukuran butir atau partikel tanah, maka

kapasitas infiltrasi akan semakin besar pula, begitu juga

sebaliknya.

(2). Derajat penggumpalan

Pengaruh derajat penggumpalan terhadap infiltrasi yaitu

dengan semakin kecil kompaknya butir-butir tanah, maka

kapasitas infiltrasi akan semakin kecil dan sebaliknya.

(3). Struktur tanah

Pori-pori tanah berpengaruh terhadap infiltrasi, semakin

besar pori-pori tanah maka akan menyebabkan infiltrasi

semakin besar pula dan sebaliknya.

b) Vegetasi

Tumbuh-tumbuhan berpengaruh terhadap keadaan tanah.

Keberadaan tumbuh-tumbuhan menyebabkan tanah permukaan


8

menjadi semakin berpori-pori. Hal ini menyebabkan air mudah

meresap ke dalam tanah. Tumbuh-tumbuhan juga menyebabkan

pengurangan kelembaban tanah lewat transip irasi sehingga derajat

penggumpalan akan semakin kecil.

c) Faktor-faktor lain

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi infiltrasi adalah

kemiringan tanah, kelembaban tanah dan suhu. Kemiringan tanah

berpengaruh terhadap laju infiltrasi , karena dengan semakin

miringnya permukaan tanah maka kapasitas infiltrasi akan semakin

berkurang. Besarnya kelembaban tanah akan berpengaruh kepada

derajat penggumpalan. Bila kelembaban air tinggi maka akan

menaikkan derajat penggumpalan tanah dan sebaliknya.

Pengaruh suhu terhadap infiltrasi adalah terhadap

kelembaban tanah. Semakin tinggi suhu permukaan tanah maka

semakin tinggi pula suhu tanah yang mengakibatkan kelembaban

tanah menjadi berkurang. Kondisi tanah permukaan sangat

berpengaruh pada pergerakan air dalam profil tanah,tinggi

rendahnya pergerakan air yang melalui profil tanah bergantung

pada sifat fisik tanah yang dimilikinya. Bila kelembaban tanah

berkurang maka laju infiltrasi akan naik begitu juga sebaliknya.

Tanah terdiri dari butir -butir dengan ruangan-ruangan yang

disebut pori (Void) antara butir-butir tersebut. Pori-pori ini selalu


9

berhubungan satu dengan yang lain sehingga air dapat mengalir

melalui ruangan pori tersebut. Proses ini disebut rembesan

(seepage) dan kemampuan tanah untuk dapat dirembes air disebut

daya rembesan.

3) Limpasan (Run off)

Limpasan adalah semua air yang mengalir akibat hujan yang

bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang paling rendah

tanpa memperhatikan asal atau jalan yang ditempuh sebelum mencapai

saluran. Koefisien limpasan tersaji pada tabel 1.

Debit limpasan dapat dihitung dengan persamaan sebagai

berikut:

Q= IxA

Q = Debit Limpasan (m3/jam)

C = Koefisien limpasan

I = Intensitas curah hujan (m/jam)

A = Luas catchment area (m2)


10

Tabel 1. Koefisien Limpasan (c) Pada Kondisi Tertentu

No Kemiringan Tata guna lahan Nilai c

1 Datar , < 3 % a. sawah dan rawa 0,2

b. hutan dan kebun


0,3
c. pemukiman dan taman
0,4

2 Menengah, 3% - 5% a. hutan dan kebun 0,4

b. pemukiman
0,5
c. tumbuhan yang jarang
0,6
d. tanpa tumbuhan dan

daerah penimbunan 0,7

3 Curam, > 15% a. hutan 0,6

b. pemukiman dan kebun


0,7
c. tumbuhan yang jarang
0,8
d. tanpa tumbuhan dan

daerah penimbunan 0,9-1

(Sumber : Diktat Kuliah Penyaliran Tambang oleh Dr.1r. Rudy Sayoga Gautama)

Air limpasan disebut juga air permukaan, yaitu air yang mengalir

dipermukaan tanah. Limpasan hanya akan terjadi bila laju hujan

melebihi laju infiltrasi (sebagian air hujan memasuki bawah

permukaan tanah). Setelah laju infiltrasi terpenuhi, air mulai mengisi


11

cekungan-cekungan kecil atau besar pada permukaan tanah, setelah

cekungan terpenuhi maka terjadilah limpasan.

4) Air tanah

Air tanah adalah air yang keterdapatannya berada di dalam tanah

(di bawah permukaan), air tersebut berada di bawah ruang pori antara

butir dan di dalam rekahan-rekahan batuan (air celah). Uap air yang

mengembun dapat masuk ke dalam tanah secara, langsung untuk

membentuk air tanah. Banyaknya air yang tertampung di bawah

permukaan tergantung pada keseragaman lapisan di bawah tanah. Di

atas permukaan air tanah, biasanya ada suatu daerah jenuh yang tipis

karena kapilaritas. Uap air akan ditahan pada celah-celah tanah

terhadap gaya grafitasi oleh gaya yang disebut tegangan permukaan

(surface tension).

Berikut ini merupakan jenis-jenis lapisan pembawa air:

a) Akuifer

Adalah lapisan batuan atau tanah yang permeabel atau lulus,

sehingga dapat meluluskan air. Akuifer dapat dibedakan menjadi

empat kelompok utama yaitu:

1) Akuifer tertekan

Adalah akuifer yang seluruhnya bersifat jenuh air dan

diapit oleh lapisan kedap air. Dalam akuifer tertekan biasanya

mempunyai tekanan air yang lebih tinggi dari tekanan atmosfer


12

dan kedudukan muka air di dalam sumur yang menembus

akuifer tertekan ini berada di atas lapisan akuifer dan bila muka

air berada di atas permukaan tanah maka disebut air artesis.

2) Akuifer tak tertekan

Adalah lapisan lulus air yang hanya bagian bawahnya saja

bersifat jenuh air dilapisi oleh lapisan kedap air dan batas

atasnya adalah muka air tanah. Air tanah tak tertekan disebut

pula sebagai air tanah bas.

3) Semi-confined aquifer

Adalah akuifer yang seluruhnya bersifat jenuh air dialasi

oleh lapisan kedap air ataupun oleh lapisan semi lulus air dan

dibagian atasnya ditutupi oleh aquitar.

4) Semi confined aquifer

Adalah akuifer dimana kelulusan lapisan berbutir halus

pada semi confined aquifer sangat besar sehingga komponen

aliran horizontal pada lapisan penutup tidak dapat diabaikan.

b) Aquifug

Aquifug adalah lapisan batuan atau tanah tidak lulus air

sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan dan

meluluskan air.
13

c) Aquiclude

Aquiclude adalah lapisan batuan atau tanah yang dapat

menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkannya.

d) Aquitar

Aquitar merupakan aquifer secara regional mempengaruhi

neraca air tetapi tidak cukup untuk dimanfaatkan.

Pengaruh atau efek tidak langsung dari air tambang (air tanah

maupun limpasan) terhadap aktifitas penambangan sebenarnya

dengan mudah dapat dilihat. Kebanyakan efeknya menyangkut

biaya dan keselamatan kerja.

Berikut ini diuraikan efek langsung maupun tidak langsung dari

air terhadap aktifitas penambangan maupun di luar areal

penambangan.

a. Efek langsung terhadap kegiatan penambangan

1) Biaya penyaliran, mungkin menjadi biaya yang prinsip,

misalnya air digunakan untuk proses pengolahan bahan galian

atau keperluan lainnya.

2) Longsoran lereng akibat resapan air dapat menghentikan

aktifitas produksi dan merusak front penambangan, perolehan

batubara rendah, atau mungkin dapat menjadi penyebab

terjadinya kecelakaan tambang.

b. Efek tidak langsung terhadap kegiatan penambangan


14

1) Mengurangi efisiensi kerja karyawan, peralatan dan

menghambat penanganan material.

2) Menambah waktu dan biaya perawatan (maintenance) alat,

ban, atau kecelakaan akibat penggunaan listrik.

3) Mengganggu aktifitas peledakan.

4) Terjadi penyumbatan pada pipa-pipa akibat pompa senantiasa

menghisap air lumpur.

B. Curah Hujan

Curah hujan adalah banyaknya hujan yang terjadi pada suatu. Daerah.

Curah hujan merupakan 14illim yang sangat penting dalam perencanaan

14illim penirisan, karena besar kecilnya curah hujan pada suatu daerah

tambang akan mempengaruhi besar kecilnya air yang masuk ke daerah

tambang.

Curah hujan merupakan data yang paling utama dalam perencanaan,

kegiatan penirisan tambang terbuka. Data curah hujan dapat diukur dengan

pengamatan curah hujan, pengamatan curah hujan ini dilakukan dengan

alat pengukur curah hujan, ada dua jenis alat pengukur curah hujan, alat

ukur manual dan otomatis. Alat pengukur curah hujan ini harus diletakkan

di tempat terbuka agar air hujan yang jatuh tidak terhalangi oleh

pepohonan ataupun bangunan. Satuan curah hujan adalah 14illimeter

(mm) yang berarti jumlah air hujan yang jatuh pada satuan luas tertentu,

jadi 1 mm curah hujan berarti pada luas 1 m2 area jumlah air hujan yang

jatuh sebanyak 1 liter.


15

1) Daerah Tangkapan Hujan (catchment area)

Daerah tangkapan hujan (catchment area) adalah luas permukaan

dimana jika terjadinya hujan, maka air hujan tersebut akan mengalir ke

daerah yang lebih rendah dan menuju titik pengaliran. Air hujan yang

jatuh ke permukaan sebagian akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi),

sebagian ditahan oleh tumbuhan (intersepsi), dan sebagian lagi akan

mengisi cekungan-cekungan di permukaan, setelah cekungan-

cekungan terisi maka terjadi air limpasan dan akan mengalir ke tempat

yang paling rendah. Daerah tangkapan hujan dibatasi oleh bukit-bukit

dan pegunungan.

2) Intensitas Curah Hujan

Intensitas curah hujan adalah besar curah hujan (mm) yang terjadi

dalam waktu tertentu (jam). Berdasarkan tinggi rendahnya nilai

intensitas suatu curah hujan, dapat diklasifikasikan ke dalam lima

tingkatan dapat dilihat pada tabel 2.


16

Tabel 2. Hubungan Derajat dan Intensitas Curah Hujan

Intensitas
Derajat
Curah Hujan Kondisi
Hujan
(mm/menit)

Hujan lemah 0,02 – 0,05 Tanah basah semua

Hujan
0,05 – 0,25 Bunyi hujan terdengar
normal

Air tegenang diseluruh

Hujan deras 0,25 – 1,00 permukaan dan terdengar

bunyi dari genangan

Hujan seperti
Hujan sangat
> 1,00 ditumpahkan, saluran
deras
pengairan meluap

Sumber : Diktat Kuliah Penyaliran Tambang oleh Rudy Sayoga Gautama

Intensitas curah hujan dapai dihitung dengan rumus:

2
𝑅 24 3
𝐼= ( ) Juanda, 2004
24 𝑡𝑐

I = Intensitas hujan (mm/jam)

R = Curah hujan rancangan (mm/hari)

tc = Lama waktu konsentrasi (jam)


17

tc dapat dihitung dengan rumus:

tc = 0,0195 x L 0,77 x S -3,85 (Juanda, 2004)

dimana:

tc = Waktu konsentrasi (menit)

L = Panjang aliran (m)

S = Kemiringan

3) Periode Curah Hujan

Priode curah hujan adalah hujan yang turun dalam waktu tertentu

atau hujan yang turun dalam waktu n tahun. Jika suatu data curah

hujan mencapai nilai tertentu (x) yang diperkirakan terjadi dalam n

tahun, maka n tahun adalah priode ulang (x). Dalam perhitungan curah

hujan rancangan periode ulang tertentu dapat dihitung dengan metode

Log Person.
18

Tabel 3. Keadaan dan Curah Hujan

Curah hujan (mm)


Keadaan curah hujan
1 jam 24 jam

Hujan sangat ringan <1 <5

Hujan ringan 1-5 5-20

Hujan normal 5-10 20-50

Hujan lebat 10-20 50-100

Hujan sangat lebat > 20 >100

Sumber : Diktat Kuliah Penyaliran Tambang oleh Rudy Sayoga Gautama

Rumus metoda Log person yaitu:

𝐿𝑜𝑔 𝑅𝑡 = 𝐿𝑜𝑔 𝑥𝑖
̅ + 𝐺𝑥. 𝑆𝑖

Dimana:

Log Rt = Curah hujan rancangan metode Log Person

Log xi = Curah hujan maksimum rata-rata selama tahun pengamatan

Gx = Kala ulang

Si = Harga simpangan baku

C. Penyaliran Tambang

Penyaliran tambang adalah upaya atau kegiatan penataan air yang

masuk ke dalam tambang agar tidak mengganggu kegiatan penambangan.

Penanganan air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan menjadi


19

dua jenis yaitu mine drainage dan mine dewatering. Mine drainage adalah

kegiatan untuk mencegah air masuk dalam lokasi tambang, sedangkan

mine dewatering adalah upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk

ke dalam areal penambangan.

Pembuangan air pada daerah tambang (mine dewatering) dapat

dilakukan dengan dua sistem yaitu:

1. Sistem kolam penampung (sump)

Kolam penampung adalah tempat dimana untuk menampung air

hujan ataupun air tanah yang masuk ke daerah tambang sebelum air

dipompakan. Kolam penampung ini dapat berfungsi sebagai tempat

pengendapan lumpur. Sistem ini diterapkan untuk membuang air di

daerah kerja penggalian/penambangan. Pemasangan jumlah pompa

tergantung pada kedalaman penggalian, bisa satu unit, dua unit, tiga

unit atau lebih. Kapasitas pompa harus disesuaikan dengan debit air

yang masuk ke dalam tambang tersebut.

Berdasarkan tata letak kolam penampung (sump), dapat dibedakan

menjadi 2 sistem yaitu:

a. Sistem penyaliran tidak terpusat

Sistem penyaliran tidak terpusat digunakan jika daerah

tambang relatif dangkal dengan keadaan geografis daerah luar

tambang yang memungkinkan air langsung dialirkan dari sump ke

luar tambang.
20

b. Sistem penyaliran terpusat

Pada sistem penyaliran terpusat dibuat sump-sump pada setiap

jenjang atau bench. Sistem pengaliran dilakukan dari jenjang yang

paling atas menuju jenjang yang bawah, sehingga air akan terpusat,

air akan terpusat pada sump akan di alirkan ke kolam

pengendapan.

Sump dapat dibedakan berdasarkan penempatannya, yaitu:

a) Travelling sump

Sump ini dibuat pada daerah front tambang. Sump ini

bertujuan untuk menanggulangi air permukaan dan jangka

waktu penggunaan sump ini relatif singkat dan selalu

ditempatkan sesuai kemajuan tambang.

b) Sump jenjang

Sump jenjang merupakan sump yang dibuat secara

terencana dengan baik dalam pemilihan lokasi ataupun

volumenya. Untuk lebih jelasnya, sump jenjang dapat dilihat

pada gambar 2 .
21

Sumber: Diktat Kuliah Penyaliran Tambang

Gambar 2. penyaliran dengan sistem sump jenjang

Sump ini dibuat pada jenjang-jenjang atau bench

tambang dan biasanya dibagian lereng tepi tambang. Sump

jenjang merupakan sump permanen karna sump jenjang ini

dibuat untuk jangka waktu yang cukup lama. Sump jenjang ini

dibuat dari bahan kedap air dengan tujuan untuk mencegah

meresapnya air ke dalam tanah yang dapat mengakibatkan

terjadinya longsor jenjang.

c) Main sump

Main sump merupakan tempat penampungan terakhir dan

biasanya digunakan sebagai cadangan air. Main sump dibuat

pada elevasi terendah dari dasar tambang.


22

2. Sistem terowongan (adit)

Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada tambang

terbuka sistem open cut. Saluran horizontal yang dibuat dari tempat

kerja menembus, ke shaft yang dibuat disisi bukit untuk pembuangan

air yang masuk ke dalam tempat kerja. Adit ini dibuat pada setiap

jenjang. Pembuangan air dengan sistem adit sangat mahal, disebabkan

tingginya biaya pembuatan saluran-saluran horizontal tersebut dan

juga pembuatan shaft. Sistem terowongan (adit) dapat dilihat pada

gambar 3.

Sumber: Diktat Kuliah Penyaliran Tambang

Gambar 3.sistem penyaliran menggunakan terowongan (adit)

D. Pompa dan pipa

1. Pompa

1) Pengertian Pompa

Pompa pada tambang merupakan alat yang digunakan untuk

memindahkan air di daerah tambang, baik itu air tanah maupun air
23

bawah tanah. Dalam sistem penyaliran tambang, pompa sangat

diperlukan untuk mencegah maupun mengeluarkan air yang masuk

ke lokasi tambang. Jenis pompa yang banyak digunakan dalam

kegiatan penyaliran tambang adalah pompa sentrifugal. Pompa ini

banyak digunakan di daerah tambang karena mampu mengalirkan

lumpur, perawatannya mudah dan kapasitasnya besar.

2) Konstruksi pompa

Menurut soelarso ( 2000 : 75 ) yaitu sesuai dengan gerakan-

gerakan bagian penyusunnya maka pompa dapat diklasifikasikan

menjadi empat jenis, yaitu :

a) Pompa torak ( Plunyer )

Meruapakan pompa yang dipengaruhi oleh gerakan torak

yang bolak balik dengan suatu plunyer rapat. Pada ujung

silinder ditempatkan katup-katup untuk mengatur keluar

masuknya zat.

b) Pompa Putar

Meruapakan pompa yang diprngaruhi oleh 2 roda gigi yang

ditempatkan dalam suatu silinder rapat zat cair yang dihisap

masuk antara celah-celah roda gigi ( rotor) dan silinder (rumah

pompa), karena berputar zat cair terdesak oleh bagian rotor

yang lain, sehingga dapat memindahkan zat cair dari tempat

bertekanan statis rendah ke tempat bertekanan statis tinggi.


24

c) Pompa Centrifugal

Merupakan pompa yang dipengaruhi oleh gerakan sebuah

kipas yang tersusun oleh sudu-sudu yang ditempatkan pada

suatu rumah pompa. Aliran zat cair di antara sudu padat kipas

yang berputar, mendapat gaya luar pusat ( centrifugal) dan

mendapat tambahan tekanan, sehingga zat cair terhisap dan

terlempar keluar. Ditampung oleh selongsong yang berbentuk

gelung membungkus kipas dan keluar dari selongsong sebagai

penghasil pompa.

d) Pompa Khusus

Merupakan pompa yang digunakan pada keperluan

khusus, sehingga prinsip kerja dan kontruksi bagian-bagiannya

bermacam-macam. Seperti :

(1) Pompa dengan motor benam ( submersible motor pump ),

digunakan untuk memompa air yang sangat dalam. Pompa

yang sering dipakai adalah pompa yang tergabung satu unit

dengan motor penggeraknya, dimana keduanya terbenam

dibawah permukaan air. Pompa jenis ini dipakai pada

pengairan dan drainase, dimana pompa ini harus

mempunyai kontruksi yang kokoh karena, harus mampu

memompa air yang sering kali berlumpur, serta beroperasi


25

pada lingkungan kerja luas dengan kondisi lingkungan yang

buruk.

(2) Pompa lumpur, yaitu pompa yang digunakan untuk

mengangkat zat cair yang mengandung pasir atau butiran

zat padat dalam jumlah besar. Pompa yang khusus dipakai

untuk butiran dengan diameter <0,3 mm, sering disebut

pompa lumpu ( slurry pump )

(3) Pompa motor terselubung (menjadi satu unit dengan

motornya), yaitu pompa yang pada bagian celah antara

rotor dan stator motor terdapat selubung rotor dari logam

anti magnet. Ruangan di dalam selubung ini dihubungkan

dengan ruang dalam pompa.

3) Pengaruh kapasitas pompa

Kapasitas pompa dapat dipengaruhi beberapa faktor yaitu

sebagai berikut :

a) Beda elevasi anatara tempat penampungan dengan tempat

pembuangan.

b) Kecepatan fluida yang mengalir.

c) Gesekan anatara fluida dengan pipa


26

d) Belokan-belokan dan perubahan aliran yang terjadi.

e) Ukuran butiran material dalam cairan dan densitas cairan.

4) Pemilihan pompa

Dalam pemilihan pompa, kita harus menyesuaikan dengan

beberapa faktor, yaitu:

a) Lokasi Pemindahan air

Dalam pemilihan pompa, lokasi pemindahan air tambang

harus diketahui terlebih dahulu. Sehingga ketinggian buangan,

kemiringan, belokan, dan lain-lain dapat diketahui.

b) Debit air yang dipindahkan

Debit air yaitu jumlah air atau volume air yang dipindahkan

/ dikeluarkan dari tempat yang satu ke tempat yang lainya

selama waktu tertentu dengan satuan m3/jam atau m3/detik.

c) Karakteristik air

Pada umumnya air tambang mempunyai tingkat keasaman

yang tinggi dengan PH 5-7, biasanya berasal dari air resapan

yang ada pada lapisan permukaan tanah. Dengan tingginya

tingkat keasaman air tambang dapat menyebabkan kerusakan

alat pompa seperti rumah pompa, pipa (hose) dan dapat

menyebabkan menurunya produkfitas kerja pompa.


27

d) Kapasitas motor

Kapasitas motor yaitu besarnya daya listrik yang dipakai

untuk menggerakkan motor tersebut (kw).

e) Spesifikasi pompa

Spesifikasi pompa adalah tipe nomor pompa, nama pompa

dan jenis pompa.

f) Kapasitas pompa

Kapasitas pompa yaitu jumlah volume air yang dapat di

hisap/dialirkan oleh pompa tersebut persatuan waktu. (m3/

jam).

g) Head pompa

Ada 2 pengertian head pompa, yaitu:

(1) Tinggi tekan (Delivery head)

Tinggi tekan pompa (delivery head) adalah jarak

vertikal antara sumbu pompa dengan titik buangan tertinggi

yang diukur dalam satuan meter.

(2) Tinggi hisap (suction head)

Tinggi hisap (suction head) adalah jarak vertikal dari

permukaan air sampai kesuatu pompa.


28

Dalam perhitungan head total pompa dapat menggunakan

rumus: HT=Hs+Hf+Hsv+Hv+∆HPa (Sularso,1983,hal40)

Dimana HT adalah Head total pompa yang merupakan

penjumlahan dari head statis dan kerugian-kerugian yang ada pada

kondisi direncanakan seperti adanya belokan, sambungan, katup

dan aksesoris lainya.

(1) Hs (head statis) yaitu perbedaan elevasi pipa hisap dengan

elevasi pipa buang (m).

Hs = HI – H2

(2) Hf (head friction) yaitu kerugian energi akibat gesekan pada,

pipa (joule).

𝐿 𝑉2
𝐻𝑓 = 𝑓 𝑥 𝑥 (Sularo, 1983)
𝐷 2𝑔

Keterangan:

Hf = Head kerugian gesekan pada pipa (joule)

f = Faktor kekasaran

L = Panjang pipa aliran (m)

D = Diameter pipa (m)


29

V = Kecepatan (m/detik)

g = Gravitasi (m/detik2)

(3) Hv merupakan head kecepatan keluar (m).

𝑉2
𝐻𝑣 = 2𝑔

Keterangan:

V = Kecepatan (m/dt)

g =.Gravitasi (m/dt2)

(4) Hsv merupakan kehilangan energi akibat fitting-fitting dan

pemasangan konstruksi pada instalasi.

Hsv = Le x Hf

Keterangan:

Hsv = Head akibat fitting-fitting

Le = Panjang ekivalen (m)

Hf = Head friction (m)

(5) Perhitungan head akibat energi potensial (∆ Hpa).

∆ Hpa = Hpa.1 – Hpa2

0,0065 𝑥 𝐻2 5,256
𝐻𝑝𝑎 1 = 10,33 (1 − 288
)
30

0,0065 𝑥 𝐻1 5,256
𝐻𝑝𝑎 2 = 10,33 (1 − )
288

5) Jumlah Pompa

Untuk menentukan jumlah pompa dapat dilakukan dengan

membandingkan antara debit air yang masuk ke areal tambang

dengan debit pemompaan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan

yaitu:

a) Kapasitas pompa

Ada beberapa aspek yang perlu diketahui dalam

menentukan kapasitas pompa, yaitu:

(1) Berat dan ukuran pompa yang akan diangkut dari pabrik ke

tempat pemakaian pompa.

(2) Lokagi pemasangan pompa dan transportasi pengangkutan.

(3) Jenis penggerak pompa yang harus disesuaikan dengan

keadaan lokasi pemasangan pompa.

(4) Pengadaan suku cadang pompa.

(5) Resiko dan keselamatan kerja dalam pemasangan dan

pengangkutan pompa.

b) Pertimbangan ekonomi

Dalam menentukan jumlah pompa yang akan

dipergunakan, terlebih dahulu kita harus mempertimbangkan

keadaan perekonomian perusahaan untuk membeli dan


31

perawatan pompa. Dalam pertimbangan ekonomi, terdapat

perhitungan biaya dalam pemilihan pompa, yaitu:

(1) Biaya pemasangan instalasi

Dalam pemasangan instalisasi pompa membutuhkan

biaya yang besar, mulai dari biaya pengangkutan sampai

biaya pembangunan fasilitas mekanik untuk perawatan dan

perbaikan pompa.

(2) Biaya pengoprasian pompa

Dalam pengoprasian pompa biaya yang digunakan

yaitu biaya dalam penyediaan energi, biaya perawatan

pompa , uang lelah untuk mekanik pompa.

2. Pipa

Pipa adalah saluran tertutup yang digunakan untuk mengalirkan

fluida. Pipa yang biaya digunakan pada pemompaan air tambang adalah

pipa high density poly ethylene (HDPE), pipa rubber hose, pipa besi cor

baru, dan pipa besi cor tua. Akan tetapi pipa HDPE merupakan pipa yang

paling sering digunakan dalam pertambangan. Pipa HDPE adalah pipa

yang terbuat dari bahan plastik yang bersifat elastis. Adapun keuntungan

dari pipa HDPE yaitu bebas korosi dan tahan terhadap larutan kimia.

Keuntungan lainnya dari pipa HDPE adalah peyambungan dengan panas

(heat fusion) fleksibel serta tahan retak.


32

Sumber. Dokumentasi PLI 2014

Gambar 4. pipa penyaliran air

E. Kolam pengendapan lumpur ( settling pond )

Kolam pengendapan lumpur ( settling pond ) merupakan sarana untuk

menghindari pencemaran perairan umum oleh air limpasan dari tambang

yang mengandung material padat akibat erosi. Kolam pengendapan

lumpur ditempatkan pada ujung pembuangan pipa yang pengendapan

lumpur ditempatkan pada ujung pembuangan pipa yang berfungsi untuk

mengendapkan air hasil pemompaan sebelum akhirnya dialirkan ke

perairan umum.
33

Sumber. Dokumentasi PLI 2014

Gambar 5. KPL ditambang RML

Selain berfungsi sebagai penampung air limpasan, kolam

pengendapan lumpur juga berfungsi untuk mengendapkan lumpur -

lumpur atau material padatan yang tersuspensi maupun yang terlarut

dalam limpasan yang disebabkan karena aktifitas penambangan maupun

karena erosi.
34

BAB III

METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

A. Jadwal Kegiatan

Kegiatan lapangan bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan

pengalaman praktis dilapangan tentang teknis perencanaan, pelaksanaan, dan

pengolahan pekerjaan teknik pertambangan dalam rangka melengkapi

pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkan dalam perkuliahan.

Adapun kegiatan yang dilakukan selama praktek di PT. Riung Mitra

Lestari dari tanggal 3 Februari sampai 3 april 2014 adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Jadwal Kegiatan


N 1 4 5 7
KEGIATAN 2 3 6 8
O
1 PENGENALAN LOKASI
2 PENGAMBILAN DATA
3 PENGOLAHAN DATA
Sumber: Kegiatan Penulis

B. Jenis Studi Kasus

Penelitian ini merupakan jenis penelitian terapan. Pada penelitian ini

dilakukan analisis teori, pengumpulan data dan kemudian dianalisis dengan

menggunakan rumus berdasarkan kajian teori lapangan.

C. Jenis Data

Jenis data yang dibutuhkan antara lain sebagai berikut:

34
35

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diambil langsung dari lapangan,

yaitu sebagai berikut.

a. Luas Catchment Area

Luas catchment area dapat dilakukan perhitungan dengan

melakukan pengamatan di daerah tambang secara langsung, kemudian

batas-batas titik daerah catchment area tersebut akan di input ke dalam

peta dan dihitung luasnya.

b. Panjang Pipa

Panjang pipa tersebut diperoleh dari hasil proses instalasi

pemasangan pipa secara langsung di daerah tambang.

c. Jumlah Pompa

Jumlah pompa yang dibutuhkan untuk mengurangi air pada front

penambangan. Jumlah pompa tersebut dapat diketahui sesuai dengan

kebutuhan air yang akan dikeluarkan dari front penambangan, serta

sesuai dengan alat yang tersedia pada perusahaan.

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari literatur-literatur

PT. Riung Mitra Lestari untuk mendukung data-data penelitian seperti:

a. Spesifikasi pompa, yaitu kapasitas pompa untuk menghisap air per jam

nya (m3/jam).
36

b. Data curah hujan, yaitu banyaknya hujan yang terjadi pada suatu

daerah tersebut,

c. Data yang mendukung Penelitian.

D. Metode Pengambilan Data

Metode pengambilan data yang penulis lakukan adalah sebagai berikut.

1. Studi Literatur

Dilakukan dengan mengumpulkan berbagai referensi kepustakaan

mengenai alat berat dan mempelajari laporan-laporan penelitian yang telah

dilakukan sebelumnya dengan tujuan untuk mengetahui daerah penelitian

secara umum.

2. Observasi Lapangan

Merupakan kegiatan pengamatan tentang lokasi studi kasus secara

langsung, sehinggga dalam melakukan studi kasus akan mempermudah

dalam pengambilan data dan menganalisis data.

E. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan pencarian solusi dari permasalahan

yang ada berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan Diagram analisis data

dapat dilihat pada gambar 6.


37

Kajian teknis penyaliran dan pompa air tambang sump 1 pada bulan maret
2014 PT.Riung Mitra Lestari Job Site Rantau, Kalimantan Selatan

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

Perhitungan kajian teknis


penyaliran dan pompa air
tambang

Instalasi pipa

Dan Pompa

SELESAI

Gambar 6. Metode Analisa Data


38

Tahapan analisa data:

Rumus yang digunakan dalam menghitung perencanaan teknis dan

ekonomis sistem penyaliran dan pemompaan air adalah sebagai berikut.

1. Perhitungan Perencanaan Teknis Sistem penyaliran Pemompaan

Perhitungan perencanaan sistem pemompaan antara lain sebagai

berikut.

a. Perhitungan Curah Hujan Rencana pada Bulan Maret 2014

Untuk perhitungan curah hujan rencana menggunakan metode Log

Person, yaitu sebagai berikut:

̅ + (𝐆𝐱 × 𝐒𝐢)
𝐋𝐨𝐠𝐑𝐭 = 𝐋𝐨𝐠𝐱𝐢

1) Logaritma Rata-Rata

∑ 𝐥𝐨𝐠 𝒙𝒊
̅̅̅
̅̅̅ =
𝑳𝒐𝒈𝒙𝒊
𝒏

2) Harga Simpangan Baku

𝟏/𝟐
̅̅̅) 𝟐
∑(𝐥𝐨𝐠 𝒙𝒊 − 𝐥𝐨𝐠 𝒙𝒊
̅̅̅ = [
𝑳𝒐𝒈𝒙𝒊 ]
𝒏−𝟏

3) Koefisien Kemiringan

̅̅̅) 𝟑
𝒏 ∑(𝐥𝐨𝐠 𝒙𝒊 − 𝐥𝐨𝐠 𝒙𝒊
̅̅̅ =
𝑳𝒐𝒈𝒙𝒊
(𝒏 − 𝟏)(𝒏 − 𝟐)(𝑺𝒊𝟑 )

Dengan:

Log Rt = Curah hujan rencana metode Log Person.

Log xi = Curah hujan rata-rata maksimum (mm/bulan).

Si = Harga simpangan baku.

Cs = Koefisien kemiringan.
39

Xi = Curah hujan rata-rata (mm/bulan).

n = Banyak data pengamatan curah hujan.

b. Perhitungan Debit Air yang Masuk (Run Off)

Debit air yang masuk ke dalam front penambangan dapat

menggunakan rumus-rumus oleh Rudy Sayoga Gautama, yaitu sebagai

berikut.

1) Debit Air Limpasan

𝐐 = 𝑰𝒙𝑨

Dengan:

Q = Debit air limpasan (m3/s)

C = Koefisien limpasan (tabel 3)

I = Intensitas curah hujan (mm/jam)

A = Luas catchment area (km2)

2) Intensitas Curah Hujan

Adalah besarnya intensitas hujan yang kemungkinan terjadi

dalam kurun waktu tertentu dihitung berdasarkan persamaan

Mononobe, yaitu:

𝐑𝐭 𝟐𝟒 𝟐/𝟑
𝐈= ×( )
𝟐𝟒 𝐓𝐜

Dengan:

I = Intensitas curah hujan (mm/jam)

Rt = Curah hujan rencana (mm)

Tc = Waktu konsentrasi (jam)


40

3) Waktu Konsentrasi

Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan hujan untuk

mengalir dari titik terjauh ke tempat penyaliran.Waktu konsentrasi

dapat dihitung dengan rumus “Kirpich”.

𝐋 𝟎.𝟕𝟕
𝐓𝐜 = 𝟎. 𝟎𝟏𝟗𝟓 × ( 𝟎.𝟓 )
𝐒

Dengan:

Tc = Waktu konsentrasi (jam)

L = Jarak terjauh dari daerah pengaliran (m)

S = Gradien (%)

c. Perhitungan Head Total Pompa

Untuk merencanakan pemompaan dapat dicari dengan

menghitung Head Totalpompa. Head total pada pompa merupakan

penjumlahan dari head angkat (statis) dan berapa kerugian dengan

kondisi yang direncanakan Sularso (2000:26).

𝑯𝑻 = 𝐡𝐬 + ∆𝐡𝐩 + 𝐡𝐟 + 𝐡𝐬𝐯 + 𝐡𝐯

Keterangan:

H = Head total pompa (m)

hs = Head statis merupakan perbedaan tinggi antara

tinggi air di sump dengan titik buangan (m)

∆hp = Perbedaan head tekan yang bekerja pada permukaan air (m)

hf = Kerugian pada jalur pipa yang sangat panjang (m)

hsv = Kerugian akibat fiting-fiting (belokan) pada pipa (m)

hv = Head kecepatan pada ujung pipa keluar (m)


41

1) Kebutuhan pompa
Mengitung kebutuhan pompa jika ingin meminalisir air dalam jangka
waktu pendek.

perubahan volume sump


wh pompa

jika sudah di dapatkan hasil Q1+Q2............Qn/ dpompa


42

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Perencanaan sistem perencanaan penyaliran dan pemompaan pada area

penambangan Riung Mitra lestari meliputi perhitungan besarnya curah hujan

maupun debit air yang masuk ke dalam lokasi penambangan, perencanaan

system penyaliran kebutuhan pompaan dan pemipaan, serta jumlah dan

spesifikasi pompa yang dibutuhkan dalam proses pemompaan selama bulan

Maret tahun 2014 di pit 1 sump 1. Perencanaan yang baik tidak hanya terfokus

pada masalah teknis saja, tetapi harus memperhatikan faktor ekonomis dari

perencanaan sistem pemompaan tersebut. Hal yang paling utama dari

penelitian ini adalah adanya akumulasi air di front penambangan, sehingga

aktifitas penambangan menjadi terganggu.

Sumber: Dokumentasi Tugas Akhir 2014

Gambar 7. Genangan Air di Pit Tambang

42
43

1. Catchment Area

Catchment area adalah merupakan suatu areal atau daerah tangkapan

hujan dimana batas wilayah tangkapannya ditentukan dari titik-titik elevasi

tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu poligon tertutup yang mana

polanya disesuaikan dengan kondisi topografi, dengan mengikuti

kecenderungan arah gerak air.

Dengan pembatasan catchment area maka diperkirakan setiap debit

hujan yang tertangkap akan terkonsentrasi pada elevasi terendah pada

catchment tersebut. Pembatasan catchment area biasa dilakukan pada peta

topografi, dan untuk perencanaan sistem penyaliran dianjurkan dengan

menggunakan peta rencana penambangan dan peta situsi tambang.

Sumber: Satuan Kerja Perencanaan Operasi

Gambar 8. Peta Situasi Tambang


44

2. Air Tanah

Air tanah merupakan air yang terdapat di bawah permukaan tanah

khususnya yang berada di dalam zona jenuh air (saturated zone).Air tanah

sangat berpengaruh terhadap sump di front penambangan.

Van Bemmelen (1949),mengelempokan fisiografi pulau Kalimantan

menjadi 5 zona, yang meliputi : zona cekungan kutai, zona tinggian

kuching, zona block schwaner, zona cekungan pasir selatan dan zona

block paternosfer.

Sumber.(http///psg.bgl.esdm.go.id)

Gambar 9. Peta fisiografi regoinal Kalimantan


45

Pulau Kalimantan memiliki bentukan fisiografi yang cukup kompleks,

terdiri dari daratan berawa, hutan bakau, plato, perbukitan terpisah, dan

perbukitan rendah. Litologinya pun bermacam-macam meliputi lempung,

lumpur, dan gambut untuk dataran rawa dan hutan bakau, batuan sedimen

klastik untuk daerah plato, serta batuan sedimen klastik, batuan vulkanik,

intrusi, dan karbonatan untuk daerah perbukitan terpisah dan perbukitan

rendah.

Secra fisiografi daerah telitian merupakan daerah perbukitan dengan

merfologi perbukitan rendah, tersusun litoligi batuan sedimen klastik dan

batuan vulkanik, dengan proses pembentukan melalui pengendapan

sedime klastik dan vulkanik klastik.

Berdasarkan geologi regional ( Heryanto dan Santoso, 1987 : Bioshop,

1980; Drmawan Sukardi, drr, 1980) daerah penyelidikan termasuk

kedalam anak cekungan pasir dari cekungan kutai dan anak cekungan

asam-asam bagian dari cekungan barito.

Cekungan kutai membentang di sepanjang timur tepian benua

(continental margin) Kalimantan. Di bagian barat cekungan kutai dibatasi

oleh tinggian kucing (kucing high) dan paparan sunda (sunda shield), dan

dipisahkan dari cekungan tarakan oleh pematang mangkaliha (mangkalihat

ridge). Dibagian selatan cekungan kutai dipisahkan dari anak cekungan

asam-asam dan anak cekungan pasir oleh pegunungan meratus (meratus

mountain).
46

Cekungan kutai terdiri atas batuan sedimen eosin dan sedimen resen.

tebal seluruhnya >9000 m, serta tersusun oleh batuan dasar cekungan

berupa batuan beku dan batuan sedimen berumur mesozoik/tersier awal

(Darmawan Sumardi, drr., 1988 ).

Proses penurunan cekungan (subsidence) yang terjadi selama Eosen

awal hingga oligosen bawah menyebabkan adanya akumulasi lapisan-

lapisan transgresi sedimen kedalam mencapai cekungan kutai. Proses

transgresi ini mencapai puncak pada oligosen akhir di bagian barat dan

miosen awal di bagian timur cekungan kutai. Proses pengangkatan tektnik

(tectonic uplift) tinggian kucing yang terjadi selama waktu oligosen akhir

menyebabkan pengendapan lapisan regresi sedimen di cekungan kutai.

Akhir dari proses ini, terjadi pengendapan sedimen resen terutama tersebar

di sepanjang garis pantai Kalimantan timur.

3. Pipa HDPE

Pipa adalah saluran tertutup yang digunakan untuk mengalirkan fluida.

Pipa yang biaya digunakan pada pemompaan air tambang adalah pipa high

density poly ethylene (HDPE), pipa rubber hose, pipa besi cor baru, dan

pipa besi cor tua. Akan tetapi pipa HDPE merupakan pipa yang paling

sering digunakan dalam pertambangan. Pipa HDPE adalah pipa yang

terbuat dari bahan plastik yang bersifat elastis. Adapun keuntungan dari

pipa HDPE yaitu bebas korosi dan tahan terhadap larutan kimia.
47

Keuntungan lainnya dari pipa HDPE adalah peyambungan dengan panas

(heat fusion) fleksibel serta tahan retak.

Sumber. Dokumentasi PLI 2014

Gambar 10. Pipa penyaliran

4. Curah Hujan

Curah hujan adalah banyaknya hujan yang terjadi pada suatu. daerah.

Curah hujan merupakan faktor yang sangat penting dalam perencanaan

sistem penirisan, karena besar kecilnya curah hujan pada suatu daerah

tambang akan mempengaruhi besar kecilnya air yang masuk ke daerah

tambang.
48

Curah hujan merupakan data yang paling utama dalam perencanaan,

kegiatan penirisan tambang terbuka. Data curah hujan dapat diukur dengan

pengamatan curah hujan, pengamatan curah hujan ini dilakukan dengan

alat pengukur curah hujan, ada dua jenis alat pengukur curah hujan, alat

ukur manual dan otomatis. Alat pengukur curah hujan ini harus diletakkan

di tempat terbuka agar air hujan yang jatuh tidak terhalangi oleh

pepohonan ataupun bangunan. Satuan curah hujan adalah milimeter (mm)

yang berarti jumlah air hujan yang jatuh pada satuan luas tertentu, jadi 1

mm curah hujan berarti pada luas 1 m2 area jumlah air hujan yang jatuh

sebanyak 1 liter.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian, maka penulis melakukan dua hal yang menjadi

studi kasus yaitu perencanaan teknis dan perhitungan debit dan kebutuhan

pompa.

1. Perhitungan Perencanaan Teknis penyaliran Pemompaan

Perencanaan sistem penyaliran dan pemonpaan pada PT. Riung Mitra

Lestari meliputi perhitungan besarnya curah hujan maupun debit air yang

masuk ke dalam lokasi penambangan, perencanaan sistem penyaliran,

serta jumlah dan spesifikasi pompa yang dibutuhkan dalam proses

pemompaan PT. Riung Mitra Lestari.


49

a. Debit Air yang Masuk ke Front Penambangan

Dalam perencanaan debit air yang masuk ke areal penambangan

antara lain berasal dari air limpasan dan penguapan air akibat dari

evapotranspirasi yang langsung menguap ke udara dipengaruhi oleh

intensitas cahaya matahari. Perhitungan debit air limpasan dapat dilihat

pada (lampiran G ).

𝐐 = 𝟎. 𝟐𝟕𝟖𝐂𝐈𝐀

= 𝟎. 𝟐𝟕𝟖 × 𝟎. 𝟗 × 𝟐𝟕. 𝟐𝟖 𝐦𝐦⁄𝐣𝐚𝐦 × 𝟓. 𝟐 𝐤𝐦𝟐

= 𝟑𝟓, 𝟒𝟗𝟐 𝐦𝟑 ⁄𝐣𝐚𝐦

b. Kebutuhan Pompa

Kebutuhan pompa merupakan berapa banyak pompa yang

dibutuhkan untuk mengeringkan air dilokasi penambangan. Kebutuhan

pompa sangat dipengaruhi oleh banyaknya air yang masuk ke lokasi

serta kapasitas debit pompa yang akan diperlukan untuk pengeringan

air di lokasi tambang.

Debit air yang begitu banyak yaitu 35,492 m3/jam. Sehingga PT.

RML menggunakan 3 unit pompa. Yaitu pompa jenis Multiflow 420

sebanyak 2 unit, multiflow 385 sebanyak 1 unit,. Hal tersebut namun

kurang untuk memenuhi kebutuhan PT. RML untuk pengeringan sump

dalam waktu dekat.


50

c. Rencana Pemompaan

Perencanaan pemompaan di PT. RML dengan menggunakan sistem

Multistage pump atau pompa yang dipasangkan secara seri.

Penggunaan sistem multistage pump karena elevasi daerah tersebut

sangat tinggi yaitu 156 meter, sehingga dipasangkan secara seri.

Pompa pada sump yaitu pompa Multiflow 420 sebanyak 2 unit, dan

pompa Multiflow 385 sebanyak 1 unit dengan elevasi -75 mdpl dan

panjang pipa HDPE 468 meter. Sedangkan pompa seri akan

dipasangkan pompa jenis Multiflow 420 sebanyak 2 unit dan pompa

DND 200 KSB (diesel) sebanyak 1 unit dengan elevasi +36 mdpl dan

panjang pipa HDPE 338 meter. Spesifikasi pompa dapat dilihat pada

(lampiran I).

Sumber: Analisa Penulis

Gambar 11. Recana aliran pompa


51

d. Perhitungan Head Total Pompa

Head total pada pompa merupakan penjumlahan dari head angkat (statis)

dan berapa kerugian dengan kondisi yang direncanakan Sularso (2000:26). Head

total pompa dapat dilihat pada tabel di bawah ini, sedangkan perhitungan head

total pompa dapat dilihat pada (lampiran H ).

Tabel 5. Head Total Pompa

Lokasi Head (m) Head

Jenis Pompa Total


From To Hs ∆Hp Hf Hsv Hv
(m)

Pompa Seri Selatan Multiflow 420 111 0.14 32.9 2.89 1.27 148.29

Sump Barat Multiflow 385 111 0.14 14.96 1.28 0.54 127.92

Multiflow 420 111 0.14 32.9 2.89 1.27 148.29

Seri KPL Multiflow 420 45 0.05 23.79 2.23 1.27 72.34

Selatan DND 200 45 0.05 10.82 1.02 0.54 57.43

Barat KSB (Diesel)

Multiflow 420 45 0.05 23.79 2.23 1.27 72.34

Sumber: Analisa Penulis

e. Perhitungan Rencana Volume Pemompaan yang Keluar Tambang

Berdasarkan data dari hasil perhitungan head total pompa, artinya

dengan debit rencana pemompaan yang akan dipompakan sesuai

dengan total maksimal head pompa (lihat lampiran H). Berdasarkan


52

pengamatan, debit pompa yang direncanakan adalah 2,340 m3/jam, dan

jam kerja pompa adalah 18 jam/hari, sehingga volume air yang keluar

adalah sebagai berikut.

𝐕𝐨𝐥𝐮𝐦𝐞 𝐚𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫 𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠 = 𝐃𝐞𝐛𝐢𝐭 𝐩𝐨𝐦𝐩𝐚 × 𝐉𝐚𝐦 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚

𝐕𝐨𝐥𝐮𝐦𝐞𝐚𝐢𝐫 = (𝟐, 𝟑𝟒𝟎 𝐦𝟑 ⁄𝐣𝐚𝐦) × 𝟓𝟓𝟖 𝐣𝐚𝐦⁄𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧

= 𝟏, 𝟑𝟎𝟓, 𝟕𝟐𝟎 𝐦𝟑 ⁄𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧


53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya, maka penulis dapat

menyimpulkan sebagai berikut.

1. Sistem penambangan PT.Riung Mitra Lestari adalah Open Pit Mining

dengan metode penambangan system back filling.

2. Luas catchment area di tambang Riung Mitra Lestari adalah 52 hektar. Air

yang menggenangi front penambangan tersebut berasal dari air limpasan

dan air hujan.

3. Perencanaan pemompaan akan menggunakan metode multistage pump

atau dengan sistem pompa seri. Pompa pada sump yaitu pompa Multiflow

420 sebanyak 2 unit, dan pompa Multiflow 385 sebanyak 1 unit dengan

elevasi -75 mdpl dan panjang pipa HDPE 468 meter. Sedangkan pompa

seri akan dipasangkan pompa jenis Multiflow 420 sebanyak 2 unit dan

pompa DND 200 KSB (diesel) sebanyak 1 unit dengan elevasi +36 mdpl

dan panjang pipa HDPE 338 meter.

4. Hasil analisa data:

a. Debit air yang masuk : 35,492 m3/jam

b. Debit rencana pemompaan : 2,340 m3/jam

c. Total head pompa :

53
54

Lokasi Head (m) Head


Jenis Pompa Total
From To Hs ∆Hp Hf Hsv Hv (m)
Pompa Seri Multiflow 111 0.14 32.9 2.89 1.27 148.29
Sump Selatan 420
Barat Multiflow 111 0.14 14.96 1.28 0.54 127.92
385
Multiflow 111 0.14 32.9 2.89 1.27 148.29
420
Seri Selatan KPL Multiflow 45 0.05 23.79 2.23 1.27 72.34
Barat 420
DND 200 45 0.05 10.82 1.02 0.54 57.43
KSB (Diesel)
Multiflow 45 0.05 23.79 2.23 1.27 72.34
420

B. Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan untuk PT. Riung Mitra Lestari

agar produksi batubara yang diinginkan mencapai target produksi yaitu

sebagai berikut.

1. Perencanaan debit air tanah sebaiknya dilakukan penelitian, walaupun

hanya sebagai rembesan.

2. Agar tidak mengganggu proses penambangan, pencegahan air agar tidak

masuk ke front kerja sebaiknya membuat open chanel. Open chanel dibuat

pada permukaan tambang yang langsung dialirkan menuju ke aliran

sungai. Agar tidak banyaknya air yang masuk ke front tambang.

3. Agar menambahkan kapasitas jumlah pompa sesuai dengan kebutuhan

debit air yang masuk. Pompa tersebut berupa type Multiflow 420.
55

4. Sedangkan untuk perencanaan jam kerja pompa harus ditingkatkan, yang

awalnya 18 jam selama sehari menjadi 20 jam/hari. Sehingga pengeluaran

air dalam sehari menjadi lebih besar.

5. Pengiriman bahan bakar untuk pompa harus dilakukan secepat mungkin,

karena akan mengurangi waktu dan pengeluaran air sesuai perencanaan

pemompaan pada bulan ini.


56

DAFTAR PUSTAKA

Rudi Sayoga Gautama. 1999. Diktat Kuliah Sistem Penyaliran Tambang.


Bandung, Indonesia: FIKTM ITB.

Dedi Kusnadi Kalsim. 2002. “Irigasi Pompa”. Buku Ajar. Bogor: IPB.

Tamrin Kasim. 2002. “Sistem Penyaliran Tambang”. Buku Ajar. Padang: FT


UNP.

Raimon Kopa. 2012. “Buku Panduan Tugas Akhir”. Program Studi Teknik
Pertambangan Universitas Negeri Padang, Padang.

Rusli Har. 2011. “Hidrogeologi Tambang”. Buku Ajar. Padang: FT UNP.

Satuan Kerja Perencanaan Sipil dan Hidrologi.”Rencana Pemompaan”. PT. Bukit


Asam UPTE Sumatera Selatan.

Soewarno. 2000. Hidrologi Operasional.Citra Aditya Bakti.Bandung

Sularso. 1983. Pompa dan Kompresor. Pedya Pramita. Bandung

Awang Suwandhi. 2004. “Diklat Perencanaan Tambang Terbuka”. Perencanaan


Sistem Penyaliran Tambang. Bandung: UNISBA.

Syaiful. 2012. “Sistem Penyaliran Tambang”. (Online)


(http://syaiful049.blogspot.com, diakses 23 juli 2013 jam 10.29 wib).

www.goeglesearch.com

www.ptba.co.id
57

LAMPIRAN A

STRUKTUR ORGANISASI PT.RIUNG MITRA LESTARI ENGINERING


58

LAMPIRAN B

STRATIGRAFI TAMBANG RIUNG MITRA LESTARI


59

LAMPIRAN C

PETA TOPOGRAFI TAMBANG PT.RML


60

LAMPIRAN D

DATA CURAH HUJAN UPTE TAHUN 2004 s/d 2013

Juml
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
ah
2004 463 423 367 410 220 16 105 141 100 301 216 489 3251
2005 263 273 330 301 97 115 97 26 86 124 251 287 2250
2006 492 469 679 308 239 104 230 225 218 307 297 149 3717
2007 471 526 125 313 173 78 123 23 26 39 230 396 2523
2008 474 338 170 533 115 78 102 72 139 183 377 405 2986
2009 405 142 279 372 147 148 34 117 171 343 203 431 2792
2010 283 172 172 265 193 71 66 89 160 239 151 447 2308
2011 474 614 364 329 382 102 78 249 236 289 340 131 3588
2012 240 207 202 342 280 213 69 21 50 161 414 329 2528
2013 200 409 150 157 175 94 82 82 94 187 263 636 2529
Rata2 377 357 284 333 202 102 99 105 128 217 274 370 2847
Min 200 142 125 157 97 16 34 21 26 39 151 131 2250
Max 492 614 679 533 382 213 230 249 236 343 414 636 3717
Sumber: Satuan Kerja Rensihit
61

LAMPIRAN E

PERHITUNGAN RENCANA CURAH HUJAN BULAN MARET 2014

Perhitungan curah hujan rencana dengan metode Logperson. Curah hujan

yang direncanakan adalah kala ulang untuk 10 tahun yang akan datang pada bulan

Maret 2014.

Tahun CH (mm) ̅
𝐥𝐨𝐠 𝐗 ̅ )𝟐
(𝐥𝐨𝐠 𝐱𝐢 − 𝐥𝐨𝐠𝐱𝐢 ̅ )𝟑
(𝐥𝐨𝐠 𝐱𝐢 − 𝐥𝐨𝐠𝐱𝐢
2004 367 2.565 0.02832489 0.00476708
2005 330 2.519 0.01495729 0.00182928
2006 679 2.832 0.18948609 0.08248329
2007 125 2.097 0.08982009 -0.0269191
2008 170 2.230 0.02778889 -0.0046324
2009 279 2.446 0.00243049 0.00011982
2010 172 2.236 0.02582449 -0.00415
2011 364 2.561 0.02699449 0.00443519
2012 202 2.305 0.00840889 -0.0007711
2013 150 2.176 0.04870849 -0.01075
Jumlah 23.967
0.4627441 0.04641212
Rata - Rata 2.3967

Penyelesaian:

 Menghitung Logaritma rata-rata

∑ Log xi
̅
Log xi
̅=
n
23.967
=
10

= 𝟐. 𝟑𝟗𝟔𝟕
62

 Harga Simpangan Baku

1⁄
̅)2
∑(Log xi − Log xi 2
Si = [ ]
n−1

1⁄
0.4627441 2
= [ ]
10 − 1

= 𝟎. 𝟐𝟐𝟕

 Koefisien Kemiringan

̅)3
n ∑(Log xi − Log xi
CS =
(n − 1)(n − 2)(Si3 )

10 × (0.04641212)
=
(10 − 1)(10 − 2)(0.2273 )

0.08861
=
0.842

= 𝟎. 𝟓𝟓

 Mencari Gx, yaitu (CS dapat dilihat pada lampiran K)

CS = 0.5 = 1.323

CS = 0.6 = 1.328 -

CS = 0.1 = 0.005

Maka:
63

−0.11 + 0.6
Gx (0.11) = 1.328 − ( × 0.005)
0.1

Gx (0.11) = 𝟏. 𝟑𝟎𝟑𝟓atau,

−0.5 + 0.11
Gx (0.11) = 1.323 + ( × 0.005)
0.1

Gx (0.11) = 𝟏. 𝟑𝟎𝟑𝟓

Jadi, hujan rencana pada bulan maret adalah:

Log Rt = Log xi
̅ + (Gx × Si)

Log Rt = 2.3967 + (1.3035 × 0.227)

Log Rt = 2.692

𝐑𝐭 = 𝟒𝟗𝟐𝐦𝐦
64

LAMPIRAN F

PERHITUNGAN RENCANA EVAPOTRANSPIRASI

Evapotranspirasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus Turc :

𝐏
𝐄= 𝟎.𝟓
𝐏 𝟐
[𝟎. 𝟗 + ( ) ]
𝐋(𝐓)

Dimana :

E = Evapotranspirasi

P = Curah hujan tahunan (mm)

T = Temperatur rata-rata tahunan (oC)

L(T) = Fungsi suhu = 300 + 25T + 0.05T3

Curah hujan tahunan di PT. Riung Mitra Lestari unit Kalimantan selatan

adalah 2,847 mm/tahun. Sedangkan temperatur suhu rata-ratanya adalah 30.50C,

sehingga:

L(T) = 300 + 25(30.5) + 0.05(30.5)3 = 2,481.13

2,847 mm/tahun
𝐸= 0.5
2,847 mm/tahun 2
[0.9 + ( ) ]
2,481.13

2,840 mm/tahun
= 0.5
2,840 mm/tahun 2
[0.9 + ( ) ]
2,481.13

2,847
=
1.488

= 𝟏, 𝟗𝟏𝟑. 𝟑 𝐦𝐦⁄𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 = 𝟏𝟓𝟗. 𝟒𝟒 𝐦𝐦⁄𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧

= 𝟎. 𝟐𝟐 𝒎𝒎⁄𝒋𝒂𝒎
65

LAMPIRAN G

PERHITUNGAN RENCANA DEBIT AIR LIMPASAN (RUN OFF)

Perencanaan volume air limpasan dengan luas catchment area tambang

Riung Mitra Lestari adalah 52 hektar dengan curah hujan rencana pada bulan

Maret 2013 adalah 273 mm, yang mempunyai kemiringan rata-rata 19% sehingga

mempunyai koefisien limpasan adalah 0,9 (lihat tabel 3), dan jarak pengaliran

adalah 806 meter. Sedangkan rencana evapotranspirasi adalah 0.22 m/jam.Maka,

perhitungan volume air dapat dicari dengan menggunakan rumus-rumus sebagai

berikut.

Penyelesaian:

A. Perhitungan Waktu Konsentrasi

𝐋 𝟎.𝟕𝟕
𝐓𝐜 = 𝟎. 𝟎𝟏𝟗𝟓 × ( )
𝐒 𝟎.𝟓

𝟖𝟎𝟔 𝐦 𝟎.𝟕𝟕
= 𝟎. 𝟎𝟏𝟗𝟓 × ( )
𝟎. 𝟏𝟗𝟎.𝟓

= 𝟎. 𝟎𝟏𝟗𝟓 × 𝟑𝟖𝟎. 𝟖𝟒

= 𝟔. 𝟒 𝐣𝐚𝐦

B. Perhitungan Intensitas Curah Hujan:

𝐑𝐭 𝟐𝟒 𝟐/𝟑
𝐈= ×( )
𝟐𝟒 𝐓𝐜
𝟐/𝟑
𝟐𝟕𝟑 𝐦𝐦 𝟐𝟒
= ×( )
𝟐𝟒 𝟔. 𝟒 𝐣𝐚𝐦

= 𝟏𝟏. 𝟑𝟕𝟓 × 𝟐. 𝟒𝟐

= 27.5 mm/jam
66

𝐈 = 𝑰𝒏𝒕𝒆𝒏𝒔𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑪𝒖𝒓𝒂𝒉 𝑯𝒖𝒋𝒂𝒏 − 𝑬𝒗𝒂𝒑𝒐𝒕𝒓𝒂𝒏𝒔𝒑𝒊𝒓𝒂𝒔𝒊

= 𝟐𝟕. 𝟓 𝐦𝐦⁄𝐣𝐚𝐦 − 𝟎. 𝟐𝟐 𝐦𝐦⁄𝐣𝐚𝐦

= 𝟐𝟕. 𝟐𝟖 𝐦𝐦⁄𝐣𝐚𝐦

C. Perhitungan Debit Air Limpasan:

𝐐 = 𝟎. 𝟐𝟕𝟖𝐂𝐈𝐀

= 𝟎. 𝟐𝟕𝟖 × 𝟎. 𝟗 × 𝟐𝟕. 𝟐𝟖 𝐦𝐦⁄𝐣𝐚𝐦 × 𝟐. 𝟕𝟗 𝐤𝐦𝟐

= 𝟏𝟗. 𝟎𝟒 𝐦𝟑 ⁄𝐬 = 𝟔𝟖, 𝟓𝟒𝟒 𝐦𝟑 ⁄𝐣𝐚𝐦


67

LAMPIRAN H

PERHITUNGAN HEAD POMPA

A. Data Rencana Pemompaan

Rencana pemompaan di lokasi sump tambang RML adalah dengan

sistem pemompaan seri.Luas catchment area adalah 52 Hektar.Pompa yang

digunakan adalah MFV 420, MFV 385, dan DND 200 KSB (Diesel). Pompa

yang digunakan pada genangan sump menuju Seri Selatan Barat adalah MFV

420 sebanyak 2 unit dan MFV 385 sebanyak 1 unit.

B. Perhitungan Head Total Pompa

1. Pompa pada lokasi sump menuju pompa seri selatan barat.

a. Pompa MFV 420

Diketahui

D = 10 inch = 0.250 m

L = 468 m

Pipa HDPE

Ha = -75 mdpl

Hb = 36 mdpl
3
𝑄 = 245 𝑙⁄𝑠 ≈ 0.245 𝑚 ⁄𝑠

Penyelesaian:

1) Menghitung Luas Penampang

1
𝐴= 𝜋 𝐷2
4
68

1
= × 3.14 × (0.25)2
4

= 0.049 𝑚2

2) Menghitung Kecepatan Rencana Pompa

𝑄
𝑣=
𝐴
3
0.245 𝑚 ⁄𝑠
=
0.049 𝑚2

= 5 𝑚⁄𝑠

3) Menghitung HeadStatis

𝐻𝑠 = 𝐻𝑏 − 𝐻𝑎

= 36 𝑚— (−75𝑚)

= 111 𝑚

4) Menghitung Head Akibat Tekanan Atmosfir

∆ 𝐻𝑝 = 𝐻𝑃𝑎 − 𝐻𝑝𝑏

5.256
0.0065
𝐻𝑝𝑎 = 10.33 (1 − × (−75))
288

= 10.33 × 1.0089

= 10.42 𝑚
5.256
0.0065
𝐻𝑝𝑏 = 10.33 (1 − × (36))
288

= 10.33 × 0.996

= 10.28 𝑚

∆𝐻𝑝 = 10.42 𝑚 − 10.28 𝑚

= 0.14 𝑚
69

5) Menghitung Head Akibat Kekerasan Dinding Rencana Pipa

10.666 × 𝑄1.85
𝐻𝑓 = ×𝐿
𝐶 1.85 × 𝐷4.85

10.666 × 0.2451.85
= × 468
1401.85 × 0.254.85

= 0.329 𝑚

6) Menghitung Head Akibat Kehilangan Energi oleh pemasangan

Fitting.

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑓
𝐿𝑓 = 𝑛
1000
20 (250)
 Elbow 450 :1× = 5𝑚
1000

32 (250)
 Elbow 900 :1× = 8𝑚
1000

75 (250)
 Ball non return :1× = 18.75 𝑚
1000

31.75
𝐻𝑠𝑣1 = 32.9 ×
468

= 2.23 𝑚

𝑣2
𝐻𝑠𝑣2 = 𝑓 ×
2 ×𝑔

52
= 0.5 × = 0.64 𝑚
2 × 9.8

𝐻𝑠𝑣 = 2.32 + 0.66 = 2.98 𝑚

7) Menghitung Head Akibat Kecepatan

𝑣2
𝐻𝑣 =
2 ×𝑔

5.12
= = 1.27 𝑚
2 × 9.8
70

8) Head Total Pompa

𝐻𝑇 = 𝐻𝑠 + ∆𝐻𝑝 + 𝐻𝑓 + 𝐻𝑠𝑣 + 𝐻𝑣

= 111 𝑚 + 0.14 𝑚 + 32.9 𝑚 + 2.98 𝑚 + 1.27 𝑚

= 148.29 𝑚

b. Pompa MFV 385

Diketahui:

D = 10 inch = 0.25 m

L = 468 m

Pipa HDPE

Ha = -75 mdpl

Hb = 36 mdpl
3
𝑄 = 160 𝑙⁄𝑠 ≈ 0.16 𝑚 ⁄𝑠

Penyelesaian:

1) Menghitung Luas Penampang

1
𝐴= 𝜋 𝐷2
4
1
= × 3.14 × (0.25)2
4

= 0.049 𝑚2

2) Menghitung Kecepatan Rencana Pompa

𝑄
𝑣=
𝐴
3
0.16 𝑚 ⁄𝑠
=
0.049 𝑚2

= 3.26 𝑚⁄𝑠
71

3) Menghitung HeadStatis

𝐻𝑠 = 𝐻𝑏 − 𝐻𝑎

= 36 𝑚— (−75𝑚)

= 111 𝑚

4) Menghitung Head Akibat Tekanan Atmosfir

∆ 𝐻𝑝 = 𝐻𝑃𝑎 − 𝐻𝑝𝑏

5.256
0.0065
𝐻𝑝𝑎 = 10.33 (1 − × (−75))
288

= 10.33 × 1.0089

= 10.42 𝑚
5.256
0.0065
𝐻𝑝𝑏 = 10.33 (1 − × (36))
288

= 10.33 × 0.996

= 10.28 𝑚

∆𝐻𝑝 = 10.42 𝑚 − 10.28 𝑚

= 0.14 𝑚

5) Menghitung Head Akibat Kekerasan Dinding Rencana Pipa

10.666 × 𝑄1.85
𝐻𝑓 = ×𝐿
𝐶 1.85 × 𝐷4.85

10.666 × 0.161.85
= × 468
1401.85 × 0.254.85

= 14.96 𝑚

6) Menghitung Head Akibat Kehilangan Energi oleh pemasangan

Fitting.
72

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑓
𝐿𝑓 = 𝑛
1000
20 (250)
 Elbow 450 :1× = 5𝑚
1000

32 (250)
 Elbow 900 :1× = 8𝑚
1000

75 (250)
 Ball non return :1× = 18.75 𝑚
1000

31.75
𝐻𝑠𝑣1 = 14.96 ×
468

= 1.01 𝑚

𝑣2
𝐻𝑠𝑣2 = 𝑓 ×
2 ×𝑔

3.262
= 0.5 × = 0.27 𝑚
2 × 9.8

𝐻𝑠𝑣 = 1.01 + 0.27 = 1.28 𝑚

7) Menghitung Head Akibat Kecepatan

𝑣2
𝐻𝑣 =
2 ×𝑔

3.262
= = 0.54 𝑚
2 × 9.8

8) Head Total Pompa

𝐻𝑇 = 𝐻𝑠 + ∆𝐻𝑝 + 𝐻𝑓 + 𝐻𝑠𝑣 + 𝐻𝑣

= 111 𝑚 + 0.14 𝑚 + 14.96 𝑚 + 1.28 𝑚 + 0.54 𝑚

= 127.92 𝑚
73

LAMPIRAN I

SPESIFIKASI POMPA
74
75

Model : LCC-H200-610.6H (WP019)

Weight ( KG) : 109

Head Meter (m) : 70

Max Speed belt Drive RPM : 1100

Max Operating Pressure KPA : 1000

Capacity : Q 420 m3/hour


76

LAMPIRAN J

KOEFISIEN SKEWNESS