Anda di halaman 1dari 32

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS OBSTETRI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus:
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA

Nama Mahasiswa : Nia Vebriyani Tanda Tangan


Nim : 11.2016.119 ……………..

Dr. Pembimbing/Penguji : dr.Bram Pradipta,Sp.OG Tanda Tangan

……………..

I.IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny.M Nama Suami : Tn. MA
Umur : 24Tahun Umur : 28 Tahun
Status Perkawinan : Menikah Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Pegawai swasta Pekerjaan : Wiraswasta
Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Alamat : Kp. Rawa Indah RT 03 RW 02 Alamat : Kp. Rawa Indah RT 03 RW 02
Tanggal Masuk : 29 Desember 2017
Status Obstetrik : G2 P0 A1

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 29 desember 2017 pukul 16.00 WIB

Keluhan Utama:
Pasien datang dengan membawa rujukan dari RS Firdaus, dengan keluhan nyeri perut bagian
bawah.

Hal 1
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien seorang wanita berusia 24 tahun dengan riwayat lapatotomy KET 2 bulan yang
lalu. Pasien rujukan dari RS Firdaus dengan keluhan nyeri perut sejak pagi hari, dan keluar flek-flek
darah sejak 2 minggu yang lalu. Saat ini pasien mengeluhkan nyeri perut bawah (+), mual ( -), pusing
(-), masih keluar flek-flek darah dari jalan lahir (+), lendir (-).

Pasien hamil+ 8 minggu,ini merupakan kehamilan kedua pasien, riwayat keguguran 1x.

Riwayat Haid

Menarche : 15 tahun
Siklus Haid : Teratur, 28 hari/bulan
Lama Haid : 5-7 hari
Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut per hari
Dismenore : Tidak ada

Riwayat Perkawinan

Status : Menikah 1x
Usia saat Menikah : 20 tahun
Lama Perkawinan : 4 tahun

Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan nifas yang lalu

Pasien pernah operasi laparotomy KE pada tuba kiri.

Riwayat Keluarga Berencana KB

( − ) Pil KB ( - ) Suntik KB 3 bulanan ( − ) IUD


( − ) Susuk KB ( − ) Lain-lain

Riwayat Penyakit Dahulu (Tahun, diisi bila ya (+), bila tidak (-))

(-) Cacar (-) Malaria (-) Batu Ginjal / Saluran Kemih


(-) Cacar air (-) Disentri (-) Burut (Hernia)
(-) Difteri (-) Hepatitis (-) Batuk Rejan
(-) Tifus Abdominalis (-) Wasir (-) Campak

Hal 2
(-) Diabetes (-) Sifilis (-) Alergi (asma)
(-) Tonsilitis (-) Gonore (-) Tumor
(-) Hipertensi (-) Penyakit Pembuluh (-) Demam Rematik Akut
(-) Ulkus Ventrikuli (-) Perdarahan Otak (-) Pneumonia
(-) Ulkus Duodeni (-) Psikosis (-) Gastritis
(-) Neurosis (-) Tuberkulosis (-) Batu Empedu
Lain-lain : (+) Operasi (-) Kecelakaan

Riwayat Penyakit keluarga

Darah tinggi (-), DM (-), Jantung (-), Asma (-), Alergi (-), Gastritis (-).

Riwayat Sosial dan Pribadi

Sebelum hamil pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronik seperti hipertensi, DM,
penyakit tiroid maupun riwayat atopi. Pasien juga tidak ada riwayat penyakit jantung maupun
paru. Di keluarga, tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit kronik.
Pasien tidak ada riwayat merokok, minum minuman beralkohol dan mengkonsumsi narkoba
sebelum maupun selama masa kehamilan. Pasien mengaku makan secara rutin setiap harinya dan
mengkonsumsi makanan yang cukup gizi.

Kesulitan
Keuangan : Tidak diketahui
Pekerjaan : Tidak diketahui
Keluarga : Tidak diketahui
Lain-lain : Tidak diketahui

Hal 3
III.PEMERIKSAAN FISIK

a. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 95/65 mmHg
Nadi : 104 x/menit, teratur, kuat angkat
Suhu : 36oC
Pernapasan : 20x/menit, teratur, simetris
Kepala : normocepali, deformitas (-)
Mata : CA+/+, SI-/-
Mulut : mukosa tampak pucat, karies (-), mukosa intak
Leher : kelenjar getah bening tidak teraba membesar, tiroid tidak
teraba membesar.
Thorax
Mammae : Simetris, payudara kanan dan kiri mengencang, hiperpigmentasi
pada kedua areola, retraksi puting -/-
Cor : BJ I-II normal, reguler, murmur(-), gallop (-)
Pulmo : suara nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

Inspeksi : Perut datar, simetris, striae (-), linea nigra (-), pembuluh darah
kolateral (-), bekas luka operasi (+)
Palpasi : Supel, nyeri tekan perut bagian bawah (+), turgor baik,
ballottement (-).
TFU : Tidak teraba
His : tidak ada
DJJ :-
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ektremitas atas : akral hangat +/+, edema -/-. varises -/-, luka -/-
Ektremitas bawah : akral hangat +/+, edema -/-, varises -/-, luka -/-

Hal 4
Pemeriksaan Dalam :

o Portio tebal, pembukaan tidak ada, tidak teraba jaringan, nyeri goyang portio
(+)

IV.PEMERIKSAAN PENUNJANG

LABORATORIUM
Laboratorium tanggal 29 Desember 2017 pukul 17.58 WIB

Pemeriksaan darah

Hemoglobin : 8,0 g/dL

Hematokrit : 24,5 %

Leukosit : 9,090/µL

Trombosit : 213.000/µL

Masa perdarahan (BT) : 10,1 detik

Masa pembekuan (CT) : 36,1 detik

Pemeriksaan Serologi

Anti HIV : Non reaktif

Pemeriksaan Hepatitis Marker

HbsAg : Non Reaktif

V. RESUME
Pasien seorang wanita berusia 24 tahun dengan riwayat lapatotomy KET 2 bulan yang lalu.
Pasien rujukan dari RS Firdaus dengan keluhan nyeri perut sejak pagi hari, dan keluar flek-flek darah
sejak 2 minggu yang lalu. Saat ini pasien mengeluhkan nyeri perut bawah (+), dan masih keluar flek -
flek darah dari jalan lahir (+). Pasien hamil+ 8 minggu,ini merupakan kehamilan kedua pasien,
riwayat keguguran 1x dengan KET.

Hal 5
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 95/65 mmHg , nadi 104 x/menit , suhu 36° C,
pernapasan 20 kali/menit. Terdapan nyeri tekan pada bagian perut bawah, TFU tidak teraba, dan nyeri
goyang portio saat dilakukan pemeriksaan dalam. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil Hb : 8,0
g/dL dan Ht : 24,5 %.

VI. DIAGNOSA
Diagnosis Kerja :
G2P0A1Hamil 7-8 minggu Janin Tunggal Hidup Intrauterine dengan KET + anemia

Dasar diagnosis :
 Flek darah dari jalan lahir, sedikit, riwayat trauma (-)
 Nyeri perut bawah (+)
 Pada pemeriksaan dalam terdapat nyeri goyang portio (+)
 Konjungtiva anemis +/+, Mukosa bibir tampak pucat, Hb : 8,0 g/dL

Diagnosis Banding :
1. Abortus iminens

VIII. RENCANA TATALAKSANA


Medika Mentosa:
- Loading infus RL 500 cc
- Transfusi PRC 3 kantong

Non Medikamentosa :
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya mengenai keadaan pasien yaitu
memiliki kehamilan ektopik terganggu.
- Menjelaskan kepada pasien dan keluarganya mengenai tindakan laparotomi yang
akan dilakukan serta tujuan dilakukan laparotomi.
- Istirahat yang cukup
- Makan yang cukup dengan gizi yang baik
- Meminum obat secara teratur.

Hal 6
IX. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam: ad bonam

X. FOLLOW UP
Follow Up VK 29/12/2017 – 19.00

S : Pasien mengeluhkan nyeri perut sejak pagi, keluar darah (+)

O:

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 95/65 mmHg
Nadi : 81 x/menit, teratur, kuat angkat
Suhu : 36oC
Pernapasan : 20x/menit, teratur, simetris

PF Abdomen

Inspeksi : Perut datar, simetris, striae (-), linea nigra (-), pembuluh darah
kolateral (-), luka operasi (+)
Palpasi : Supel, nyeri tekan perut bawah (+), turgor baik.
Auskultasi : bising usus (+) normal
- Pemeriksaan Dalam :
o Portio tebal, pembukaan tidak ada, nyeri goyang portio (+)

A : G2P0A1Hamil 7-8 minggu Janin Tunggal Hidup Intrauterine dengan KET + anemia

P : konsul dr spesialis : USG dan rencana laparotomy

Hal 7
Follow Up RPKK 30/12/2017 – 09.00

S : Os mengatakan pusing

O:

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 96/47 mmHg
Nadi : 96 x/menit, teratur, kuat angkat
Suhu : 36oC
Pernapasan : 18x/menit, teratur, simetris

PF Abdomen

Inspeksi : Perut datar, simetris, striae (-), linea nigra (-), pembuluh darah
kolateral (-), luka operasi (+)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), turgor baik, ballottement (-).
Lab : Hb : 7,5 g/dL
A : Post operasi laparotomy a/i KET tuba kanan + anemia

P:

 Ceftriaxone 2x1
 Transamin 3x500mg
 Alinamin F 3x1
 Primperon 2x1
 Pronalges supp 3x1
 Transfusi sampai Hb > 10%

Follow Up RPKK 31/12/2017 – 08.45

Hal 8
S : Os mengatakan nyeri bekas luka jahitan berkurang

O:

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/76 mmHg
Nadi : 78x/menit, teratur, kuat angkat
Suhu : 36,5oC
Pernapasan : 20x/menit, teratur, simetris

PF Abdomen

Inspeksi : Perut datar, simetris, striae (-), linea nigra (-), pembuluh darah
kolateral (-), luka operasi (+)
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), turgor baik, ballottement (-).
A : Post operasi laparotomy a/i KET tuba kanan + anemia

P:

 Cefixime 2x1 tab


 Mefinal 3x1 tab
 SF 2x1 tab

Hal 9
Hal 10
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi kehamilan ektopik terganggu


Kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar
endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sama dengan kehamilan ektopik karena
kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis serviks masih termasuk dalam uterus, tetapi
jelas bersifat ektopik.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. Sangat jarang terjadi implantasi pada
ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimenter, dan divertikel
pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars
interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba, dan kehamilan
infundibulum tuba.1
Kehamilan di luar tuba ialah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan
servikal, dan kehamilan adominal yang bisa primer atau sekunder.1
Kehamilan intrauterine dapat ditemukan bersamaan dengan kehamilan ekstrauterin.
Dalam hal ini dibedakan dua jenis, yaitu combined ectopic pregnancy dimana kehamilan
intaruterin terdapat pada waktu yang sama dengan kehamilan ekstrauterin dan compound ectopic
pregnancy yang merupakan kehamilan intrauterin pada wanita dengan kehamilan ekstrauterin
lebih dahulu dengan janin sudah mati dan menjadi litopedion.

Hal 11
Epidemiologi kehamilan ektopik terganggu
Telah terjadi peningkatan nyata jumlah absolut dan angka kematian ektopik di
Amerika Serikat selama dua dekade belakangan. Jumlah sebenarnya telah meningkat
melampaui proporsi pertumbuhan penduduk.2
Insiden kehamilan ektopikpada wanita bukan kulit putih lebih tinggi pada setiap
kategori usia dibanding pada wanita kulit putih, dan perbedaan ini meningkat sejalan dengan
pertambahan usia. Secara keseluruhan, pada tahun 1989 seorang wanita bukan kulit putih
memiliki peningkatan resiko kehamilan ektopik sebesar 1,4 kali dibanding dengan seorang
wanita kulit putih. Gabungan faktor ras dan peningkatan usia sekurang-kurangnya
merupakan faktor tambahan. Sebagai contoh, wanita bukan kulit putih berusia 35 sampai 44
tahun lima kali lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik daripada wanita kulit putih
berusia 15 sampai 24 tahun.2
Angka kehamilan ektopik per 1000 kehamilan yang dilaporkan meningkat empat kali
lipat dari tahun 1970 sampai 1992. Peningkatan ini lebih besar pada wanita bukan kulit putih
dibanding pada wanita kulit putih dan untuk keduanya, insiden meningkat seiring dengan
pertambahan usia. Dengan kata lain, pada tahun 1992 hampir 2 persen dari seluruh
kehamilan adalah kehamilan ektopik. Yang penting, kehamilan ektopik bertanggung jawab
terhadap 10 persen dari semua kematian yang disebabkan oleh kehamilan.2
Peningkatan angka KET adalah disebabkan oleh :
1. Meningkatnya prevalensi infeksi tuba akibat penularan seksual
2. Diagnosis lebih dini dengan pemeriksaan gonadotropin korionik yang sensitif dan
ultrasonografi transvaginal pada beberapa kasus terjadi resorpsi sebelum dilakukan
diagnosis pada masa lalu.
3. Popularitas kontrasepsi yang mencegah kehamilan intrauterine tetapi tidak untuk
kehamilan ekstrauterine.
4. Sterilisasi tuba yang gagal
5. Induksi aborsi yang diikuti dengan infeksi
6. Meningkatnya penggunaan teknik reproduksi dengan bantuan.
7. Bedah tuba, termasuk riwayat salpingotomi serta tuboplasti untuk kehamilan tuba

Hal 12
Etiologikehamilan ektopik terganggu
Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Tiap kehamilan dimulai
dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba, dan dalam perjalanan ke uterus telur
mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba
dipermudah. 1-6 Faktor – faktor yang memegang peranan dalam hal ini ialah sebagai berikut :
1. Faktor dalam lumen tuba 2-3 :
- endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen tuba
menyempit atau membentuk kantong buntu
- pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berlekuk – lekuk dan hal ini sering
disertai gangguan fungsi silia endosalping
- operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen
tuba menyempit
2. Faktor pada dinding tuba 2-3 :
- endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
- divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang
dibuahi di tempat itu
3. Faktor di luar dinding tuba 2-3
- perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan
telur
- tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4. Faktor lain 2-3 :
- migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri – atau sebaliknya
– dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus ; pertumbuhan telur
yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi prematur
- Faktor hormonal
Pada akseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat mengakibatkan
gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat menyebabkan terjadinya
ektopik.
- pemakai IUD di mana proses peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan
endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik. Faktor umum

Hal 13
penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga sering dihubungkan dengan
terjadinya kehamilan ektopik.

Bedasarkan tingkat resikonya, faktor resiko KET dapat dibagi menjadi 2-3 :
 Resiko tinggi
o Rekonstruksi tuba
o Sterilisasi tuba
o Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
o Paparan Dietilstilbestrol (DES) intrauterine
o Alat kehamilan dalam rahim (AKDR)
o Patologi tuba
 Resiko sedang
o Infertil
o Riwayat Infeksi genital
o Sering berganti pasangan
 Resiko ringan
o Riwayat operasi pelvik atau abdominal sebelumnya
o Merokok
o Douching
o Koitus sebelum umur 18 tahun

Patofisiologikehamilan ektopik terganggu


1. Kehamilan Tuba
Fertilisasi dapat terjadi di bagian mana saja di tuba falopi, sekitar 55% terjadi di
ampula, 25% di ismus, 17% di fimbria.Oleh karena lapisan submukosa di tuba falopii
tipis, memungkinkan ovum yang telah dibuahi dapat segera menembus sampai ke epitel,
zigot akan segera tertanam di lapisan muskuler. Trofoblas berproliferasi dengan cepat dan
menginvasi daerah sekitarnya. Secara bersamaan, pembuluh darah ibu terbuka
menyebabkan terjadi perdarahan di ruang antara trofoblas, atau antara trofoblas dan
jaringan di bawahnya. Dinding tuba yang menjadi tempat implantasi zigot mempunyai

Hal 14
ketahanan yang rendah terhadap invasi trofoblas. Embrio atau janin pada kehamilan
ektopik seringkali tidak ditemukan atau tidak berkembang.1-6

Pada yang pertama telur berimplantasi pada sisi atau ujung jonjot endosalping.
Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur
mati secara dini kemudian diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi
antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari
lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan
pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang
- kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke
dalam lapisan otot – otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah.
Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat
implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi
trofoblas. 1-6
Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum
graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek ; endometrium dapat berubah
pula menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan – perubahan pada endometrium
yang disebut fenomena Arias – Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik,
hiperkromatik, lobuler dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang – lubang

Hal 15
atau berbusa, dan kadang – kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut hanya
ditemukan pada sebagian kehamilan ektopik. 1-6
2. Abortus Tuba
Terjadinya abortus tuba bergantung pada lokasi implantasi. Umumnya terjadi bila
implantasi di ampulla, sebaliknya ruptur tuba terutama bila implantasi di daerah ismus.
Adanya perdarahan menyebabkan plasenta dan membran terlepas dari dinding tuba. Jika
plasenta terlepas seluruhnya, semua produk konsepsi dapat keluar melalui fimbria ke
rongga abdomen. Saat itu perdarahan dapat berhenti dan gejala umumnya menghilang.
Perdarahan akan tetap terjadi selama produk konsepsi tetap berada di tuba. Darah akan
menetes sedikit-sedikit melalui tuba dan berkumpul di kavum Douglasi. Jika fimbria
mengalami oklusi, darah akan terkumpul di tuba membentuk hidrosalfing. 1-6
3. Ruptur Tuba
Produk konsepsi yang melakukan invasi dapat menyebabkan tuba pecah pada
beberapa tempat. Jika tuba ruptur pada minggu-minggu oertama kehamilan, biasanya
implantasi terjadi di ismus, jika implantasi terjadi di pars intertitial, ruptur terjadi agak
lebih lambat. Ruptur umumnya terjadi spontan, tetapi dapat pula disebabkan oleh trauma
akibat koitus dan pemeriksaan bimanual. 1-6
Saat ruptur semua hasil konsepsi keluar dari tuba, atau jika robekan tuba kecil,
perdarahan hebat dapat terjadi tanpa disertai keluarnya hasil konsepsi dari tuba. Jika hasil
konsepsi keluar ke rongga abdomen pada awal kehamilan, implantasi dapat terjadi di
daerah mana saja rongga abdomen, asal terdapat sirkulasi darah yang cukup sehingga
dapat bertahan dan berkembang. Namun hal tersebut jarang terjadi. Sebagian besar hasil
konsepsi berukuran besar dapat tertahan di kavum Douglasi membentuk massa yang
berkapsul atau mengalami kalsifikasi membentuk lithopedon. 1-6

Hal 16
BEBERAPA JENIS KEHAMILAN EKTOPIK LAIN
1. Kehamilan Abdominal
Kehamilan abdominal dapat terjadi akibat implantasi langsung hasil konsepsi di
dalam kavum abdomen yang disebut sebagai kehamilan abdominal primer, atau awalnya
dari kehamilan tuba yang ruptur dan hasil konsepsi yang terlepas selanjutnya melakukan
implantasi di kavum abdomen yang disebut sebagai kehamilan abdominal sekunder. 1-6
Efek kehamilan tuba yang ruptur terhadap kelangsungan kehamilan bervariasi,
tergantung pada luasnya kerusakan plasenta. Janin akan mati bila plasentanya rusak
cukup luas. Akan tetapi, jika sebagian besar plasenta tertahan di tempat perlekatannya
rusak cukup luas. Akan tetapi, jika sebagian besar plasenta tertahan di tempat
perlekatanya di tuba, perkembangannya lebih lanjut bisa terjadi. Selain itu, plasenta dapat
pula terlepas dari tuba dan mengadakan implantasi dapat struktur panggul, termasuk
uterus, usus, ataupun dinding panggul. 1-6
Keluhan yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, nausea, muntah, malaise,
dan nyeri saat janin bergerak. Gambaran klinik yang paling sering ditemukan adalah
nyeri tekan abdomen, presentasi janin abnormal dan lokasi serviks yang berubah. USG
merupakan metode pemeriksaan yang akurat untuk menegakkan diagnosis, tetapi yang
dapat didiagnosis sebelum terjadi perdarahan intraabdominal kurang dari setengah kasus.

Hal 17
Pilihan penanganan adalah segera melakukan pembedahan, kecuali pada beberapa kasus
tertentu, seperti usia kehamilan mendekati viabel. Jika memungkinkan jaringan plasenta
sebaiknya dikeluarkan, jika tidak, dapat dilakukan pemberian metrotreksat. 1-6
2. Kehamilan Ovarial
Gejala klinik hampir sama dengan kehamilan tuba. Kenyatannya, kehamilan
ovarial seringkali dikacaukan dengan perdarahan korpus luteum saat pembedahan,
diagnosis seringkali dibuat setelah pemeriksaan histopatologi. Kriteria diagnosis
termasuk tuba ipsilateral utuh, jelas terpisah dari ovarium, kantong gestasi berada di
ovarium, kantong kehamilan berhubungan dengan uterus melalui ligamentum ovarium,
jaringan ovarium di dinding kantong gestasi. 1-6
3. Kehamilan Servikal
Riwayat dilatasi dan kuret merupakan faktor predisposisi kehamilan serviks,
ditemukan pada lebih dari 2/3. Selain itu, tindakan In vitro fertilization (IVF) dan riwayat
seksio sesarea sebelumnya juga meningkatkan risiko. Gejala yang umum ditemukan
adalah perdarahan pervaginam tanpa disertai nyeri. Pada umumnya serviks membesar,
hiperemis atau sianosis. Seringkali diagnosis ditegakkan hanya secara kebetulan saat
melakukan pemeriksaan USG rutin atau saat kuret karena dugaan abortus inkomplit.
Diagnosis awal ditegakkan dengan observasi kantong kehamilan di sekitar serviks saat
melakukan pemeriksaan USG. Bila kondisi hemodinamik stabil, penanganan koservatif
untuk mempertahankan uterus merupakan pilihan. Pemberian metroteksat dengan cara
lokal dan atau sistemik menunjukkan keberhasilan sekitar 80%. Histerektomi dianjurkan
jika kehamilan telah memasuki trimester kedua akhir ataupun ketiga. 1-6

Diagnosis dan gejala klinis kehamilan ektopik terganggu


1. ANAMNESIS
Amenorea
Amenore yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau
hanya haid yang tidak teratur. Kadang – kadang dijumpai keluhan hamil muda dan
gejala hamil lainnya. Sekitar seperempat wanita tidak melaporkan amenore, mereka
menyalahkan perdarahan uterus yang sering terjadi pada kehamilan tuba sebagai
menstruasi yang sebenarnya. Ketika dukungan endokrin untuk endometrium menurun,

Hal 18
perdarahan biasanya sedikit, bewarna coklat tua, dan dapat intermiten atau kontinu.
Meskipun perdarahan per vaginam yang banyak lebih sugestif untuk abortus inkomplet
daripada kehamilan ektopik, perdarahan semacam itu kadang kala ditemukan pada
kehamilan tuba. 1-6
Nyeri Tekan Abdomen dan Pelvis 97%
Pada abortus tuba keluhan dan gejala kemungkinan tidak begitu berat, hanya
rasa sakit di perut dan perdarahan pervaginam. Hal ini dapat dikacaukan dengan abortus
biasa. Bila tejadi ruptur tuba, maka gejala akan lebih hebat dan dapat membahayakan
jiwa si ibu. Perasaan nyeri dan sakit yang tiba – tiba di perut, seperti diiris dengan pisau
dan disertai muntah dan bisa jatuh pingsan. 1-6
Perdarahan pervaginam 79%
Tanda - tanda akut abdomen
Nyeri tekan yang hebat (defiance musculer), muntah, gelisah, pucat, anemis,
nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok). 1-6
Nyeri bahu
Karena perangsangan subdiafragma karena adanya darah pada cavum
abdominale.1-6
2. PEMERIKSAAN FISIK
1. Pada pemeriksaan fisik
Tekanan darah dan Denyut Nadi
Sebelum ruptur, tanda-tanda vital umumnya normal. Respon dini terhadap
perdarahan sedang dapat berkisar dari tanpa perubahan tanda vital hingga sedikit
peningkatan tekanan darah, atau respon vasovagal disertai bradikardia dan
hipotensi. Tekanan darah akan turun dan denyut nadi meningkat hanya jika
perdarahan berlanjut dan hipovolemianya menjadi nyata. 1-6
Suhu
Setelah perdarahan akut, suhu dapat normal atau bahkan rendah. Suhu dapat
mencapai 38oC, tetapi suhu yang lebih tinggi jarang bila tidak ada infeksi. Demam
penting untuk membedakan kehamilan tuba yang mengalami ruptur dengan
beberapa kasus salpingitis akut. 1-6
a. Palpasi dan Perkusi abdomen

Hal 19
Ada tanda – tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness). 1-6
2. Pemeriksaan ginekologik (periksa dalam) terdapat :
- Adanya nyeri goyang porsio : dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu akan
merasa sakit yang sangat.1-6
- Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan cavum douglasi.1-6
- Kavum Douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba
masa retrouterin (masa pevis).1-6
- Massa Pelvis
Massa pelvis dapat diraba pada sekitar 20% wanita. Ukuranya berkisar antara 5
sampai 15 cm, dan massa seperti ini sering kali lunak dan elastis. Bila infiltrasi
darah ke dalam dinding tuba luas, massanya mungkin keras. Massa ini hampir
selalu terletak di posterior atau lateral dari uterus. Nyeri dan nyeri tekan sering
menghalangi identifikasi massa tersebut melalui palpasi. 1-6
- Pervaginam keluar desidual cast
- Kuldosentesis (Douglas pungsi)
 Untuk mengetahui adakah darah dalam kavum Douglasi
 Bila keluar darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau
hanya berupa bekuan – bekuan kecil di atas kain kasa maka hal ini dikatakan
positif (fibrinasi) dan menunjukkan adanya hematoma retrouterina
 Bila darah segar berwarna merah dan dalam beberapa menit membeku ; hasil
negatif karena darah ini berasal dari arteri atau vena yang kena tusuk
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan lab
i. Hemoglobin, Hematokrit dan Hitung Leukosit
Setelah terjadi perdarahan, volume darah yang berkurang dipulihkan
menjadi normal dengan hemodilusi dalam waktu satu hari atau lebih. Oleh
karena itu, setelah perdarahan banyak sekalipun, pembacaan nilai hemoglobin
atau hemotokrit pada awalnya mungkin hanya menunjukkan sedikit penurunan.
Untuk beberapa jam pertama setelah perdarahan akut, penurunan kadar
hemoglobin atau hematokrit saat wanita tersebut sedang diobservasi

Hal 20
merupakan petunjuk kekurangan darah observasi merupakan petunjuk
kekurangan darah yang lebih bermanfaat daripada pembacaan awal. 1-6
Derajat leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan ektopik yang
mengalami ruptur. Pada sekitar setengah dari para wanita ini, leukosit normal,
tetapi sisanya dapat ditemukan leukosit dengan berbagai derajat sampai
30.000/µl. 1-6
ii. Pemeriksaan Gonadotropin korionik
Kehamilan ektopik tidak dapat didiagnosis hanya dengan uji kehamilan
positif saja. Namun, masalah kuncinya adalah apakah wanita tersebut hamil
atau tidak. Hampir pada semua kasus kehamilan ektopik, gonadotropin
korionik manusia (hCG) dapat terdeteksi di dalam serum, tetapi biasanya
konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kehamilan normal. 1-6
iii. Tes Urin untuk kehamilan
Tes urin paling sering menggunakan tes slide inhibisi aglutinasi dengan
sensitivitas untuk gonadotropin korionik dalam kisaran 500 sampai 800
mlU/ml. Kesederhanaan tes ini diimbangi oleh kemungkinan untuk positif pada
kehamilan ektopik hanya 50 sampai 60 persen. Kalaupun digunakan tes jenis
tabung, deteksi gonadotropin korionik berkisar antara 150 sampai 250 mlU/ml,
dan tes ini hanya positif pada 80 sampai 85 persen kehamilan ektopik. Tes
yang menggunakan ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assays) sensitif
untuk kadar 10 sampai 50 mIU/ml, dan positif pada 95 % kehamilan ektopik. 1-
6

iv. Pemeriksaan β-hCG serum


Radioimmunoassay adalah metode yang paling tepat, dan hampir semua
kehamilan dapat terdeteksi. Bahkan, karena sensitivitas pemeriksaan ini, suatu
kehamilan dapat dipastikan sebelum terjadi perubahan yang dapat terlihat pada
tuba Fallopii. Tidak adanya kehamilan dapat ditegakkan hanya jika terdapat
hasil negatif pada pemeriksaan gonadotropin serum yang mempunyai
sensitivitas 5 sampai 10 mIU/ml.1-6
Karena pemeriksaan serum tunggal yang positif tidak menyingkirkan
kehamilan ektopik, beberapa metode yang berbeda telah dirancang untuk

Hal 21
menggunakan nilai serum kuantitatif serial dalam menegakkan diagosis.
Metode ini dapat digunakan tersendiri, tetapi lebih sering digunakan bersamaan
dengan sonografi. 1-6
v. Progesteron Serum
Pengukuran progesteron tunggal sering dapat digunakan untuk memastikan
bahwa terdapat kehamilan yang berkembang normal. Nilai di atas 25ng/ml
menyingkirkan kehamilan ektopik dengan sensitivitas 97,5%. Nilai kurang dari
5ng/ml menunjukkan bahwa janin-embrio sudah mati, tetapi tidak
menunjukkan lokasinya. Kadar progesteron antara 5 sampai 25 ng/ml,
sayangnya sering tidak konklusif. 1-6
Menurut DeCherney, 10 persen wanita yang mengalami kehamilan normal
mempunyai nilai progesteron serum kurang dari 25 ng/ml. Hahlin melaporkan
bahwa bahwa tidak ada wanita dengan kehamilan intrauterine yang mempunyai
kadar progesteron di bawah 10 ng/ml, sedangkan 88 persen diantara mereka
yang hemil ektopik dan 83 persen yang mengalami abortus spontan
mempunyai nilai yang lebih rendah. 1-6
vi. Pencitraan Ultrasonografi
- Sonografi abdomen
Identifikasi produk kehamilan tuba falopii sulit dilakukan dengan
menggunakan sonografi abdomen. Jika kantong gestasi teridentifikasi
dengan jelas di dalam rongga uterus, kecil kemungkinan adanya kehamilan
ektopik yang terjadi bersamaan. Lebih lanjut, bila tidak ditemukan
kehamilan uterus dengan sonografi, hasil tes kehamilan yang positif,
adanya kehamilan ektopik hampir dapat dipastikan. Sayangnya, temuan-
temuan ultrasonografi yang sugestif untuk kehamilan uteri dini dapat
tampak pada beberapa kasus kehamilan ektopik. 2-7

Hal 22
Gambaran ultrasonografi sebuah kantong kecil atau kantong yang
kolaps sebenarnya mungkin adalah bekuan darah atau massa desidua.
Kehamilan uterus biasanya belum terlihat dengan menggunakan
ultrasonografi abdomen sampai 5 sampai 6 minggu setelah haid berakhir
atau 28 hari setelah saat ovulasi. Sebaliknya, terlihatnya massa di adnexa
atau cul-de-sac dengan sonografi tidak begitu membantu. Kista korpus
luteum dan usus yang kusut kadangkala terlihat seperti kehamilan tuba
secara sonografi yang jelas-jelas berada di luar uterus adalah bukti yang
kuat akan adanya kehamilan ektopik. 2-7
- Sonografi vagina
Sonografi dengan transduser di vagina dapat digunakan untuk
mendeteksi kehamilan uteri sejak 1 minggu setelah terlambat menstruasi
bila β-hCG serum lebih dari 1500mIU/ml. Dalam penelitian oleh Banhard,
uterus yang kosong dengan konsentrasi β-hCG serum 1500mIU/ml atau
lebih, 100 persen akurat untuk mengidentifikasi kehamilan ektopik. 2-7
Sonografi vagina juga digunakan untuk mendeteksi massa adnexa.
Namun, cara ini dapat menyesatkan dan kehamilan ektopik dapat
terlewatkan kalau massa tubanya kecil atau tertutup oleh usus. /sensitivitas
dan spesifisitas ultrasonografi vagina untuk kehamilan ektopikmasing-
masing adalah 96 dan 99 persen, jika teridentifikasi cairan bebas di
peritoneum. Dengan terlihatnya massa tuba, sensitivitasnya 81 persen dan
spesifisitasnya 99 persen. 2-7

Hal 23
Sonografi vagina menghasilkan diagnosis kehamilan uterus yang
lebih dini dan lebih spesifik. Bila kadar β-hCG serum 1000 mIU/ml, 50
persen kantong gestasi dapat ditemukan. Kriterianya antara lain adalah
identifikasi kantong gestasi berukuran 1 sampai 3 mm ataulebih besar,
terletak eksentrik di uterus dan dikelilingi oleh reaksi desidua-korion.
Kutub janin di dalam kantong bersifat diagnostik, terutama bila disertai
dengan kerja jantung janin. 2-7
Sonografi vagina, dapat digunakan secara tersendiri untuk
mendiagnosis kehamilan ektopik pada lebih dari 90 persen kasus.
Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada dua kemungkinan :
o Diagnosis klinis yang akurat didasarkan pada dua kemungkinan :
 Kehamilan uteri teridentifikasi seperti yang telah diuraikan
 Uterus kosong dan kehamilan ektopik terlihat bedasarkan dari dua
ovarium yang teridentifikasi secara jelas
Massa tersebut harus kompleks atau mengandung cincin adnexa yang
menyerupai kantong gestasi dengan atau tanpa kutub janin (bayangan
janian atau yolk sac). 2-7
Tanpa kriteria tersebut, pemeriksaan tersebut mungkin tidak bersifat
diagnostik. Kehamilan heterotipik merupakan pengecualian. Bila
pemeriksaan tidak bersifat diagnostik, sebagian besar klinisi lebih
menyukai sonografi serial bersama dengan pengukuran β-hCG serial
karena perubahan konsentrasi penting artinya. 2-7
- Ultrasonografi Doopler bewarna dan berdenyut pada vagina
Teknik ini terdiri dari identifikasi lokasi warna vaskular di uterus
atau ekstrauterus dengan bentuk plasenta yang khas, yang disebut pola

Hal 24
cincin-api, dan pola aliran impedansi rendah berkecepatan tinggi yang
menggambarkan perfusi plasenta. Bila pola ini ditemukan di luar rongga
uterus, yang juga dianggap dingin dalam hal aliran darahnya, diagnosis
kehamilan sudah jelas. 2-7
Teknik ini secara signifikan memperbaiki diagnosis kehamilan uteri hidup serta kehamilan
ektopik atau abortus inkompletus yang benar. Teknik ini telah berhasil
digunakan untuk mendiagnosis kehamilan serviks untuk memonitor
regresinya setelah pemberian terapi metrotreksat. 2-7

Diagnosis banding kehamilan ektopik terganggu


- Infeksi pelvik.
- Abortus iminens atau insipiens
- Ruptur korpus luteum
- Apendisitis akut
- Salpingitis akut

Penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu


Penatalaksanaan kehamilan ektopik tergantung pada beberapa hal, antara lain lokasi
kehamilan dan tampilan klinis. Sebagai contoh, penatalaksanaan kehamilan tuba berbeda dari
penatalaksanaan kehamilan abdominal. Selain itu, perlu dibedakan pula penatalaksanaan
kehamilan ektopik yang belum terganggu dari kehamilan ektopik terganggu. Tentunya
penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik yang belum terganggu berbeda dengan
penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik terganggu yang menyebabkan syok. Pasien
yang mengalami kehamilan ektopik, bisanya :
1. Penderita yang disangka KET harus dirawat inap di rumah sakit untuk
penanggulangannya
2. Bila ibu dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian cairan
secukupnya dan tranfusi darah
3. Setelah diagnosa jelas atau sangat disangka KET, dan keadaan umum baik atau lumayan,
segera lakukan laparotomi untuk menghilangkan sumber perdarahan : dicari, diklem, dan
dieksisi sebersih mungkin (salpingektomi), kemudian diikat sebaik – baiknya

Hal 25
4. Sisa – sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan
lebih cepat
5. Berikan antibiotika yang cukup dan obat anti inflamasi
Seorang pasien yang terdiagnosis dengan kehamilan tuba dan masih dalam kondisi baik
dan tenang, memiliki 3 pilihan, yaitu penatalaksanaan ekspektasi (expectant management),
penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan bedah.4
Pembedahan
Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan kehamilan tuba yang
belum terganggu maupun yang sudah terganggu. Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu,
pembedahan harus dilakukan secepat mungkin.
Pada dasarnya ada 2 macam pembedahan untuk menterminasi kehamilan tuba, yaitu
pembedahan konservatif, di mana integritas tuba dipertahankan, dan pembedahan radikal, di
mana salpingektomi dilakukan. Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal
sebagai salpingostomi dan salpingotomi. Selain itu, macam-macam pembedahan tersebut di atas
dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi. Namun bila pasien jatuh ke dalam syok
atau tidak stabil, maka tidak ada tempat bagi pembedahan per laparoskopi.8-10

Salpingostomi

Hal 26
Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter
kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi
linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi, di perbatasan antimesenterik.
Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati.
Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. Insisi
kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. Prosedur ini
dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. Metode per laparoskopi saat ini
menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu. Sebuah penelitian di Israel
membandingkan salpingostomi per laparoskopi dengan injeksi methotrexate per laparoskopi.
Durasi pembedahan pada grup salpingostomi lebih lama daripada durasi pembedahan pada grup
methotrexate, namun grup salpingostomi menjalani masa rawat inap yang lebih singkat dan
insidens aktivitas trofoblastik persisten pada grup ini lebih rendah. Meskipun demikian angka
keberhasilan terminasi kehamilan tuba dan angka kehamilan intrauterine setelah kehamilan tuba
pada kedua grup tidak berbeda secara bermakna.8-10

Salpingotomi
Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi, kecuali bahwa pada salpingotomi
insisi dijahit kembali. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna
dalam hal prognosis, patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan
salpingotomi.
Jika hasil konsepsi masih berada di tuba, masih memungkinkan untuk mempertahankan
tuba dengan mengeluarkan produk konsepsi dan melakukan rekonstruksi tuba. Hal ini terutama
dilakukan bila tuba kontralateral rusak atau tidak ada. Sekitar 6% kasus membutuhkan
pembedahan ulang atau pengobatan bila jaringan trofoblas masih tertinggal. 1-7
Kesempatan hamil intrauterine untuk kedua tindakan tersebut menunjukkan angka yang
sama, walaupun risiko kehamilan ektopik berulang lebih besar pada tindakan salpingotomi.
Salpingotomi merupakan pilihan terutama bila tuba ruptur, mengurangi perdarahan dan operasi
lebih singkat. Kedua tindakan tersebut dapat dilakukan dengan laparotomi ataupun laparoskopi.
Keuntungan laparoskopi adalah penyembuhan lebih cepat, perlengketan yang terbentuk lebih
minimal, dam merupakan pilihan bila kondisi pasien masih baik. 1-7

Hal 27
Salpingektomi
Salphingektomi dilakukan jika tuba mengalami kerusakan hebat atau tuba kontralateral
baik. Jika implantasi terjadi di pars intertitial, mungkin dapat dilakukan reseksi kornu uterus. 1-7
Reseksi tuba dapat dikerjakan baik pada kehamilan tuba yang belum maupun yang sudah
terganggu, dan dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi. Salpingektomi
diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini:
1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu),
2) tuba kontralateral baik
3) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif,
4) terjadi kegagalan sterilisasi,
5) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya,
6) pasien meminta dilakukan sterilisasi,
7) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi,
8) kehamilan tuba berulang,
9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm.
Reseksi massa hasil konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada
kehamilan pars ismika yang belum terganggu. Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi,
sebab salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika
yang sebenarnya sudah sempit. Pada kehamilan pars interstitialis, sering kali dilakukan pula
histerektomi untuk menghentikan perdarahan masif yang terjadi. Pada salpingektomi, bagian
tuba antara uterus dan massa hasil konsepsi diklem, digunting, dan kemudian sisanya (stump)
diikat dengan jahitan ligasi. Arteria tuboovarika diligasi, sedangkan arteria uteroovarika
dipertahankan. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping.

Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi


Bila terjadi kehamilan di fimbrae, massa hasil konsepsi dapat dievakuasi dari fimbrae
tanpa melakukan fimbraektomi. Dengan menyemburkan cairan di bawah tekanan dengan alat
aquadisektor atau spuit, massa hasil konsepsi dapat terdorong dan lepas dari implantasinya.
Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak
dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan.8-10

Hal 28
Medikamentosa
Terapi medikamentosa untuk kehamilan ektopik dengan pemberian metrotreksat, baik
secara sistemik maupun dengan injeksi ke kehamilan ektopik melalui laparoskopi atau dengan
bantuan USG. 1-7
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas jaringan dan
sel hasil konsepsi. Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus memiliki syarat-syarat
berikut ini: keadaan hemodinamik yang stabil, bebas nyeri perut bawah, tidak ada aktivitas
jantung janin, tidak ada cairan bebas dalam rongga abdomen dan kavum Douglas, harus teratur
menjalani terapi, harus menggunakan kontrasepsi yang efektif selama 3-4 bulan pascaterapi,
tidak memiliki penyakit-penyakit penyerta, sedang tidak menyusui, tidak ada kehamilan
intrauterin yang koeksis, memiliki fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang normal, serta tidak
memiliki kontraindikasi terhadap pemberian methotrexate. Berikut ini akan dibahas beberapa
metode terminasi kehamilan ektopik secara medis. 1-7

1. Methotrexate
Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan,
termasuk penyakit trofoblastik ganas. Pada penyakit trofoblastik, methotrexate akan merusak
sel-sel trofoblas, dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik, methotrexate
diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan
tersebut. Seperti halnya dengan penatalaksanaan medis untuk kehamilan ektopik pada
umumnya, kandidat-kandidat untuk terapi methotrexate harus stabil secara hemodinamis
dengan fungsi ginjal, hepar dan profil darah yang normal. Harus diketahui pula bahwa terapi
methotrexate maupun medis secara umum mempunyai angka kegagalan sebesar 5-10%, dan
angka kegagalan meningkat pada usia gestasi di atas 6 minggu atau bila massa hasil konsepsi
berdiameter lebih dari 4 cm. Pasien harus diinformasikan bahwa bila terjadi kegagalan terapi
medis, pengulangan terapi diperlukan, dan pasien harus dipersiapkan untuk kemungkinan
menjalani pembedahan. Selain itu, tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu harus selalu
diwaspadai. Bila hal tersebut terjadi, pasien harus sesegera mungkin menjalani pembedahan.
Senggama dan konsumsi asam folat juga dilarang.7
Tentunya methotrexate menyebabkan beberapa efek samping yang harus diantisipasi,
antara lain gangguan fungsi hepar, stomatitis, gastroenteritis dan depresi sumsum tulang.

Hal 29
Beberapa prediktor keberhasilan terapi dengan methotrexate yang disebutkan dalam literatur
antara lain kadar β-hCG, progesterone, aktivitas jantung janin, ukuran massa hasil konsepsi
dan ada/tidaknya cairan bebas dalam rongga peritoneum. Namun disebutkan dalam sumber
lain bahwa hanya kadar β-hCG-lah yang bermakna secara statistik. Untuk memantau
keberhasilan terapi, pemeriksaan -hCG serial dibutuhkan. Pada hari-hari pertama setelah
dimulainya pemberian methotrexate, 65-75% pasien akan mengalami nyeri abdomen yang
diakibatkan pemisahan hasil konsepsi dari tempat implantasinya (separation pain), dan
hematoma yang meregangkan dinding tuba. Nyeri ini dapat diatasi dengan analgetik
nonsteroidal. Β-hCG umumnya tidak terdeteksi lagidalam 14-21 hari setelah pemberian
methotrexate. Pada hari-hari pertama pula massa hasil konsepsi akan tampak membesar pada
pencitraan ultrasonografi akibat edema dan hematoma, sehingga jangan dianggap sebagai
kegagalan terapi. Setelah terapi berhasil, kadar β-hCG masih perlu diawasi setiap minggunya
hingga kadarnya di bawah 5 mIU/mL.7
Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel. Dosis tunggal
yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular), sedangkan dosis multipel yang diberikan
adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama, ke-3, 5, dan hari ke-7. Pada terapi
dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen pengobatan dengan dosis
0.1 mg/kg (intramuskular), dan diberikan pada hari ke-2, 4, 6 dan 8. Terapi methotrexate dosis
multipel tampaknya memberikan efek negatif pada patensi tuba dibandingkan dengan terapi
methotrexate dosis tunggal 9. Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per
laparoskopi tepat ke dalam massa hasil konsepsi. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah
modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum terganggu. 7

2. Actinomycin
Neary dan Rose melaporkan bahwa pemberian actinomycin intravena selama 5 hari
berhasil menterminasi kehamilan ektopik pada pasien-pasien dengan kegagalan terapi
methotrexate sebelumnya. 7

3. Larutan Glukosa Hiperosmolar


Injeksi larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi juga merupakan alternatif terapi
medis kehamilan tuba yang belum terganggu. Yeko dan kawan-kawan melaporkan

Hal 30
keberhasilan injeksi larutan glukosa hiperosmolar dalam menterminasi kehamilan tuba.
Namun pada umumnya injeksi methotrexate tetap lebih unggul. Selain itu, angka kegagalan
dengan terapi injeksi larutan glukosa tersebut cukup tinggi, sehingga alternatif ini jarang
digunakan. 7,10

Komplikasikehamilan ektopik terganggu


1. Pada pengobatan konservatif, yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung (4 – 6
minggu), terjadi perdarahan ulang (reccurent bleeding). Ini merupakan indikasi operasi
2. Infeksi
3. Pecahnya tuba falopi
4. Sterilitas

Prognosiskehamilan ektopik terganggu


Kematian karena KET cenderung turun dengan diagnosis dini dan fasilitas yang cukup.

Hal 31
DAFTAR PUSTAKA

1. Sastrawinata S. Obstetri Patologi. Bagian obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran


Universitas Padjadjaran. Bandung: Eleman. 1983.
2. Wiknosastro H. Kehamilan ektopik. Editor Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachmihadhi
T, dalam Ilmu Kebidanan edisi kedua, cetakan keempat, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta.2005.h.323-8
3. Epidemiologi dan Patofisiologi KET. Diunduh dari www.unsri.ac.id. 18 Juli 2012.
4. Hauth. C. John, dkk: Kehamilan ektopik, Obstetri Williams, Ed 21, vol 2, 982 – 1013,
2006
5. Mochtar. R, Lutan. D. Kelainan letak kehamilan (kehamilan ektopik) : Sinopsis Obstetri.
Edisi kedua. 1998. Halaman 226 – 237.
6. Manuaba I.B.G, Manuaba I.B. Chandranita. Kehamilan ektopik : Pengantar Kuliah
Obstetri. 2007. Halaman 106-120.
7. Hauth. C. John, dkk. Kehamilan ektopik - Obstetri Williams. Edisi 21. vol 2. 2006.h.982
– 1013.
8. Sepllan VP. Ectopic Pregnancy. Edisi 2012. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/2041923-overview, 18 Januari 2018.
9. Dept. Of Health and Human Sevices office on Women’s health. Ectopic pregnancy. Edisi
2012. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ectopicpregnancy.html, 18
Januari 2018
10. Murray H, Bakdah H, Bardell T, Tullandi T. Diagnosis & Treatment of Ectopic
pregnancy. Edisi 2011.Diunduh dari
http://www.canadianmedicaljournal.ca/content/173/8/905.full, 18 Januari 2018.

Hal 32