Anda di halaman 1dari 69

PEDOMAN PEMULIHAN

SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI

NO. UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB

JANUARI 2007

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN JAWA BALI
UNIT BIDDING DAN OPERASI SISTEM
PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

I LEMBAR PENGESAHAN

No. Nama Pembuat Pedoman Jabatan Tanda Tangan Tanggal


1. Tim Pemutakhiran Tata Cara dto,
Operasi (SOP) Pemulihan Tim
Sistem sesuai SK General
Manager PT PLN (Persero)
Penyaluran Dan Pusat
Pengatur Beban Jawa Bali
No. 055.K/021/GM.P3B/2002
tanggal 23 Desember 2002.
2. R.B. Zainal Fatah Ttd, 21-11-2004
Yogi Surwiatmadi
Bambang Sugeng
Kusman
No. Nama Pelaksana Revisi Jabatan Tanda Tangan Tanggal
ASMAN Pengendalian
1 R. B. Zainal Fatah
Operasi Sistem
ASMAN Perencanaan
2 Suwandi
Operasi Sistem

DIPERIKSA

Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

Sunoto Manager Operasi Sistem

DISAHKAN

Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

Nur Pamudji Manager Unit Bidding Dan Operasi Sistem

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman iii


II DAFTAR DISTRIBUSI
No. Bidang / Unit / Pelaksana Personil
1 P3B Jawa Bali General Manager

2 Teknik Manager

3 Perencanaan Manager

4 SDM dan Organisasi Manager

5 Audit Internal Manager

6 Unit Bidding dan Operasi Sistem Manager, MOPSIS, ASMANOP,


Dispatcher

7 Region Jakarta dan Banten Manager, Dispatcher

8 Region Jawa Barat Manager, Dispatcher

9 Region Jawa Tengah dan DIY Manager, Dispatcher

10 Region Jawa Timur dan Bali Manager, Dispatcher

11 Region Jawa Timur dan Bali-Sub Region Bali Manager, Dispatcher

III NOMOR PENGENDALIAN DOKUMEN


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman v


IV CATATAN PERUBAHAN DOKUMEN
Revisi Disahkan Fungsi/ Tanda
Tanggal Halaman Paragraf Alasan
ke Oleh Jabatan Tangan
1 31/03/04 semua header Perubahan nomor dan I Made Ro Manager
nama dokumen Sakya UBOS
2 Gambar 1 Penambahan Jaringan
SUTET Paiton-Kediri,
GITET Kediri, koreksi
konfigurasi di Cirata,
penambahan diameter
dan unit pembangkit di
Muaratawar
17 2.1.19 Penambahan Jaringan
SUTET Paiton-Kediri
17 2.1.20 Penambahan Jaringan
GITET Kediri
43 4.2.4.4 Penambahan Jaringan
SUTET Paiton-Kediri &
GITET Kediri
52 4.3.8 Penambahan Jaringan
GITET Kediri
2 3/05/05 IV Perubahan jumlah
penerima dokumen di
UBOS
2 1.2 Penambahan diameter 2
(Gbr. 1) dan 3 di GITET
11 2.1.12 Mandirancan dan
(Gbr. 13) perubahan konfigurasi
11 2.1.13 SUTET Bandung Selatan-
(Gbr. 14) Ungaran menjadi SUTET
12 2.1.14 Bandung Selatan -
(Gbr. 15) Mandirancan 1 dan SUTET
18 3.6 (Gbr. Mandirancan-Ungaran 1
22)
43 4.3.6
(Gbr. 43)
43 4.3.7
(Gbr. 44)
44 4.3.8
(Gbr. 45)
48 4.4.4 Gambar dihapus karena
(Gbr. 48) perubahan konfigurasi
revisi 1 SUTET Ungaran-Bandung
Selatan menjadi SUTET
Ungaran-Mandirancan dan
SUTET Mandirancan-
Bandung Selatan
Semua Header & Semua penulisan Jawa
lainnya Madura Bali menjadi Jawa
Bali

3 1/01/07 6 2.1.3. Perubahan Bay SUTET


(Gbr. 4) Cibinong 1 dan 2 menjadi
Bay SUTET Depok 1 dan 2

8 2.1.6. Perubahan Bay SUTET


(Gbr. 7) Cibinong menjadi Bay
SUTET Muaratawar

8 2.1.7. Perubahan Bay SUTET


(Gbr. 8) Cawang menjadi Bay
SUTET Muaratawar, Bay
SUTET Gandul menjadi
Bay SUTET Depok
PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

10 2.1.11 Penambahan Bay SUTET


(Gbr. 12) Cawang Dan Cibinong

12 2.1.14 Penambahan Bay SUTET


(Gbr. 15) Tanjung Jati B

12 2.1.15 Penambahan Bay SUTET


(Gbr. 16) Tasikmalaya

15 2.1.21 Penambahan GITET


(Gbr. 16) Tanjung Jati B

16 2.1.22 Penambahan GITET


(Gbr. 23) Tasikmalaya

16 2.1.23 Penambahan GITET


(Gbr. 24) Depok

24 4.2.1.1 Penambahan GITET


(Gbr. 27) Depok

26 4.2.1.3 Penambahan GITET


(Gbr. 29) Depok

28 4.2.1.3 Penambahan GITET


(Gbr. 30) Depok

31 4.2.2.2 Penambahan GITET


(Gbr. 33) Depok

40 4.3 Penambahan GITET


Depok, Tasikmalaya

42 4.3.4 2 Alternatif pengiriman


(Gbr. 44) tegangan ke GITET Bekasi

46 4.3.8 Penambahan GITET


(Gbr. 48) Tanjung Jati B

*) Catatan : Ruang/Space formulir catatan perubahan dokumen ini dapat disesuaikan


dengan kebutuhan.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman vii


KATA PENGANTAR

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali ditujukan sebagai panduan bagi Pelaksana
Pengendali Operasi (dispatcher) di Pusat Pengatur Beban PT PLN (Persero) P3B Unit Bidding dan
Operasi Sistem untuk melaksanakan tindakan segera ( immediate action ) di dalam proses mengatasi
gangguan padam total (blackout) atau padam sebagian (partial blackout) agar sistem segera kembali
ke keadaan normal, sesuai SK General Manager PT PLN (Persero) Penyaluran Dan Pusat Pengatur
Beban Jawa Bali No. 055.K/021/GM.P3B/2002 tanggal 23 Desember 2002 tentang Pembentukan Tim
Pemutakhiran Tata Cara Operasi (SOP) Pemulihan Sistem.

Wewenang/kewajiban dispatcher Pusat Pengatur Beban (UBOS) dan interaksinya dengan


dispatcher Pusat Pengatur Region, operator gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) dan gardu
induk (GI) serta operator unit pembangkit dituangkan di dalam pedoman ini.

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali edisi ini merupakan hasil pemutakhiran dari
edisi sebelumnya yang disesuaikan dengan keadaan sistem mutakhir.

Pedoman ini harus dijalankan, meskipun di dalam pelaksanaan pemulihan sangat bergantung
kepada keadaan sistem dan kesiapan dari instalasi pasca gangguan.

Pedoman Pemulihan ini akan selalu dimutakhirkan mengikuti perubahan instalasi terpasang di
Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali.

Jakarta, Februari 2003


Tim Pemutakhiran SOP Pemulihan Sistem
PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman ix


KATA PENGANTAR
Edisi 2

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali ditujukan sebagai panduan bagi Pelaksana
Pengendali Operasi (dispatcher) di Pusat Pengatur Beban PT PLN (Persero) P3B Unit Bidding dan
Operasi Sistem untuk melaksanakan tindakan segera ( immediate action ) di dalam proses mengatasi
gangguan padam total (blackout) atau padam sebagian (partial blackout) agar sistem segera kembali
ke keadaan normal, sesuai SK General Manager PT PLN (Persero) Penyaluran Dan Pusat Pengatur
Beban Jawa Bali No. 055.K/021/GM.P3B/2002 tanggal 23 Desember 2002 tentang Pembentukan Tim
Pemutakhiran Tata Cara Operasi (SOP) Pemulihan Sistem.

Wewenang/kewajiban dispatcher Pusat Pengatur Beban (UBOS) dan interaksinya dengan


dispatcher Pusat Pengatur Region, operator gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) dan gardu
induk (GI) serta operator unit pembangkit dituangkan di dalam pedoman ini.

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali edisi ke dua merupakan hasil
pemutakhiran dari edisi pertama yang disesuaikan dengan keadaan sistem mutakhir. Pemutakhiran
meliputi perubahan pada GITET Paiton dan Pedan sehubungan dengan pengoperasian GITET Kediri,
pertambahan unit pembangkit dan konfigurasi GITET Muaratawar serta koreksi pada konfigurasi
Sistem Jawa Bali.

Pedoman ini harus dijalankan, meskipun di dalam pelaksanaan pemulihan sangat bergantung
kepada keadaan sistem dan kesiapan dari instalasi pasca gangguan.

Pedoman Pemulihan ini akan selalu dimutakhirkan mengikuti perubahan instalasi terpasang di
Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali. Dengan penerbitan Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa
Bali edisi 2 ini maka Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali edisi 1 tidak berlaku lagi.

Jakarta, November 2004


Manager Unit Bidding Dan Operasi Sistem

I Made Ro Sakya

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman x dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xi


KATA PENGANTAR
Edisi 2

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali ditujukan sebagai panduan bagi Pelaksana
Pengendali Operasi (dispatcher) di Pusat Pengatur Beban PT PLN (Persero) P3B Unit Bidding dan
Operasi Sistem untuk melaksanakan tindakan segera ( immediate action ) di dalam proses mengatasi
gangguan padam total (blackout) atau padam sebagian (partial blackout) agar sistem segera kembali
ke keadaan normal, sesuai SK General Manager PT PLN (Persero) Penyaluran Dan Pusat Pengatur
Beban Jawa Bali No. 055.K/021/GM.P3B/2002 tanggal 23 Desember 2002 tentang Pembentukan Tim
Pemutakhiran Tata Cara Operasi (SOP) Pemulihan Sistem.

Wewenang/kewajiban dispatcher Pusat Pengatur Beban (UBOS) dan interaksinya dengan


dispatcher Pusat Pengatur Region, operator gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) dan gardu
induk (GI) serta operator unit pembangkit dituangkan di dalam pedoman ini.

Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali edisi ke dua revisi 3 merupakan hasil
pemutakhiran dari edisi kedua revisi 2 yang disesuaikan dengan keadaan sistem mutakhir.
Pemutakhiran meliputi perubahan konfigurasi pada GITET Ungaran, GITET Pedan, Gandul, Interseksi
Muaratawar-Cawang-Cibinong, penambahan GITET Tasikmalaya, GITET Depok, GITET Tanjung Jati
B dan pertambahan unit pembangkit Tanjung Jati B serta koreksi pada konfigurasi Sistem Jawa Bali.

Pedoman ini harus dijalankan, meskipun di dalam pelaksanaan pemulihan sangat bergantung
kepada keadaan sistem dan kesiapan dari instalasi pasca gangguan.

Pedoman Pemulihan ini akan selalu dimutakhirkan mengikuti perubahan instalasi terpasang di
Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali. Dengan penerbitan Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa
Bali edisi 2 revisi 3 ini maka Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali edisi 2 revisi 2 tidak
berlaku lagi.

Jakarta, Januari 2007


Manager Unit Bidding Dan Operasi Sistem

Nur Pamudji

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xii dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

DAFTAR ISI

Halaman
I LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................................................iii

II DAFTAR DISTRIBUSI...............................................................................................................v

III NOMOR PENGENDALIAN DOKUMEN.........................................................................................v

IV CATATAN PERUBAHAN DOKUMEN..........................................................................................vii

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................ix

KATA PENGANTAR Edisi 2.............................................................................................................xi

KATA PENGANTAR Edisi 2...........................................................................................................xiii

DAFTAR ISI................................................................................................................................xiv

DAFTAR GAMBAR......................................................................................................................xviii

V ISI PEDOMAN.........................................................................................................................1

1 PENDAHULUAN.......................................................................................................................1

1.1 U m u m........................................................................................................................1

1.2 Konfigurasi Jaringan Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV.......................................................2

1.3 Wewenang / Kewajiban Pemulihan.................................................................................2

1.4 Keadaan Sistem dan Sarana Pengendalian.......................................................................3

1.5 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan......................................................................................3

2 PEMUTUS TENAGA YANG DIBUKA PADA SAAT GANGGUAN TOTAL............................................5

2.1 Pemutus Tenaga Yang Dibuka........................................................................................5


2.1.1 GITET Suralaya.................................................................................................5
2.1.2 GITET Cilegon...................................................................................................6
2.1.3 GITET Gandul....................................................................................................6
2.1.4 GITET Kembangan.............................................................................................7
2.1.5 GITET Bekasi.....................................................................................................7
2.1.6 GITET Cawang..................................................................................................8
2.1.7 GITET Cibinong.................................................................................................8
2.1.8 GITET Saguling..................................................................................................9
2.1.9 GITET Cirata.....................................................................................................9
2.1.10 GITET Cibatu...................................................................................................10
2.1.11 GITET Muaratawar...........................................................................................10
2.1.12 GITET Bandung Selatan...................................................................................11
2.1.13 GITET Mandirancan..........................................................................................11
2.1.14 GITET Ungaran................................................................................................12
2.1.15 GITET Pedan...................................................................................................12
2.1.16 GITET Surabaya Barat......................................................................................13

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xiii


2.1.17 GITET Gresik...................................................................................................13
2.1.18 GITET Grati.....................................................................................................14
2.1.19 GITET Paiton...................................................................................................14
2.1.20 GITET Kediri....................................................................................................15
2.1.21 GITET Tanjung Jati B.......................................................................................15
2.1.22 GITET Tasikmalaya..........................................................................................16
2.1.23 GITET Depok...................................................................................................16

3 ASUT GELAP DAN LINE CHARGING........................................................................................17

3.1 Asut Gelap...................................................................................................................17

3.2 Line Charging...............................................................................................................17

3.3 Pusat Listrik Dengan Sarana Asut Gelap........................................................................17

3.4 Asut Gelap dan Line Charging PLTA Saguling.................................................................17

3.5 Asut Gelap dan Line Charging PLTA Cirata.....................................................................18

3.6 Membangun Subsistem PLTA Saguling dan Bandung Selatan..........................................19

3.7 Membangun Subsistem PLTA Cirata..............................................................................20

3.8 Menghubungkan Subsistem PLTA Saguling dan Bandung Selatan dengan PLTA Cirata......21

4 PEMULIHAN SISTEM SETELAH GANGGUAN............................................................................22

4.1 Pelaksanaan Pengiriman Tegangan...............................................................................22

4.2 Memasok Tegangan Ke GITET Berpembangkit...............................................................23


4.2.1 Pengiriman Tegangan ke PLTU Suralaya............................................................23
4.2.1.1 Pengiriman Tegangan ke GITET Cibinong Dan Gandul Dari PLTA Saguling
..........................................................................................................24
4.2.1.2 Pengiriman Tegangan ke PLTU Suralaya Dari GITET Gandul..................25
4.2.1.3 Pengiriman Tegangan ke GITET Cibinong Dan Cilegon Dari PLTA Saguling
..........................................................................................................26
4.2.1.4 Pengiriman Tegangan ke PLTU Suralaya Dari GITET Cilegon..................29
4.2.2 Pengiriman Tegangan Ke PLTGU Muaratawar....................................................30
4.2.2.1 Pengiriman Tegangan ke GITET Cibatu Dari PLTA Cirata.......................30
4.2.2.2 Pengiriman Tegangan ke PLTGU Muaratawar dari GITET Cibatu.............31
4.2.3 Pengiriman Tegangan ke PLTU Paiton...............................................................32
4.2.3.1 Pengiriman tegangan Ke GITET Surabaya Barat Dari PLTGU Gresik........33
4.2.3.2 Pengiriman Tegangan ke PLTGU Grati Dari GITET Surabaya Barat.........33
4.2.3.3 Pengiriman Tegangan ke PLTU Paiton Dari GITET Grati.........................35
4.2.4 Pengiriman Tegangan Ke PLTGU Gresik Blok 2 Dan 3........................................36
4.2.4.1 Pengiriman Tegangan ke PLTGU Grati Dari PLTU Paiton........................37
4.2.4.2 Pengiriman Tegangan ke GITET Surabaya Barat Dari PLTGU Grati.........38
4.2.4.3 Pengiriman Tegangan ke PLTGU Gresik Dari GITET Surabaya Barat.......39

4.3 Memasok Tegangan Ke GITET Tidak Berpembangkit......................................................40


4.3.1 Pengiriman Tegangan ke GITET Cilegon Dari Suralaya.......................................40

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xiv dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

4.3.2 Pemberian Tegangan SUTET Cilegon – Cibinong................................................41


4.3.3 Pengiriman Tegangan ke GITET Kembangan.....................................................42
4.3.4 Pengiriman Tegangan Ke GITET Bekasi.............................................................42
4.3.5 Pengiriman Tegangan ke GITET Cawang...........................................................44
4.3.6 Pengiriman Tegangan ke GITET Mandirancan....................................................45
4.3.7 Pengiriman Tegangan ke GITET Ungaran..........................................................45
4.3.8 Pengiriman Tegangan ke GITET Tanjung Jati B.................................................45
4.3.9 Pengiriman Tegangan ke GITET Pedan..............................................................45
4.3.10 Pengiriman Tegangan ke GITET Kediri dari GITET Paiton...................................48

4.4 Menghubungkan Subsistem 500 kV Dan Antar Region....................................................49


4.4.1 Menghubungkan Subsistem 500 kV Dengan Subsistem Jakarta Banten................50
4.4.2 Menghubungkan Subsistem 500 kV Dengan Subsistem Jawa Barat.....................50
4.4.3 Menghubungkan Subsistem 500 kV Dengan Subsistem Jawa Tengah DIY............51
4.4.4 Menghubungkan Subsistem 500 kV Dengan Subsistem Jawa Timur Bali..............51
4.4.5 Menghubungkan GITET Surabaya Barat Dengan GITET Ungaran........................51

5 P E N U T U P.......................................................................................................................53

KOSAKATA..................................................................................................................................54

DAFTAR SIMBOL.........................................................................................................................55

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xv


Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xvi dari 53
PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Konfigurasi Jaringan Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV Sistem Jawa Bali...........................2
Gambar 2. Pmt yang dibuka di GITET Suralaya...............................................................................5
Gambar 3. Pmt yang dibuka di GITET Cilegon.................................................................................6
Gambar 4. Pmt yang dibuka di GITET Gandul.................................................................................6
Gambar 5. Pmt yang dibuka di GITET Kembangan..........................................................................7
Gambar 6. Pmt yang dibuka di GITET Bekasi..................................................................................7
Gambar 7. Pmt yang dibuka di GITET Cawang................................................................................8
Gambar 8. Pmt yang dibuka di GITET Cibinong...............................................................................8
Gambar 9. Pmt yang dibuka di GITET Saguling...............................................................................9
Gambar 10. Pmt yang dibuka di GITET Cirata.................................................................................9
Gambar 11. Pmt yang dibuka di GITET Cibatu..............................................................................10
Gambar 12. Pmt yang dibuka di GITET Muaratawar......................................................................10
Gambar 13. Pmt yang dibuka di GITET Bandung Selatan...............................................................11
Gambar 14. Pmt yang dibuka di GITET Mandirancan.....................................................................11
Gambar 15. Pmt yang dibuka di GITET Ungaran...........................................................................12
Gambar 16. Pmt yang dibuka di GITET Pedan...............................................................................12
Gambar 17. Pmt yang dibuka di GITET Surabaya Barat.................................................................13
Gambar 18. Pmt yang dibuka di GITET Gresik...............................................................................13
Gambar 19. Pmt yang dibuka di GITET Grati.................................................................................14
Gambar 20. Pmt yang dibuka di GITET Paiton...............................................................................14
Gambar 21. Pmt yang dibuka di GITET Kediri...............................................................................15
Gambar 22. Tahapan membangun Subsistem PLTA Saguling dan Bandung Selatan.........................19
Gambar 23. Tahapan membangun Subsistem Cirata......................................................................20
Gambar 24. Pengiriman tegangan ke GITET Cibinong dan Gandul..................................................25
Gambar 25. Pengiriman tegangan ke Suralaya dari GITET Gandul..................................................26
Gambar 26. Pengiriman tegangan ke GITET Cibinong dan Cilegon (Gandul dan Cibinong belum
bertegangan)............................................................................................................27
Gambar 27. Pengiriman tegangan ke GITET Cilegon dari Cibinong (Gandul dan Cibinong sudah
bertegangan)............................................................................................................28
Gambar 28. Pengiriman tegangan ke Suralaya dari GITET Cilegon.................................................29
Gambar 29. Pengiriman tegangan ke GITET Cibatu dari Cirata.......................................................30
Gambar 30. Pengiriman tegangan ke Muaratawar dari GITET Cibatu..............................................31
Gambar 31. Pengiriman tegangan ke GITET Surabaya Barat dari PLTGU Gresik..............................33
Gambar 32. Pengiriman tegangan ke Grati dari GITET Surabaya Barat...........................................34
Gambar 33. Pengiriman tegangan ke PLTU Paiton dari GITET Grati................................................35
Gambar 34. Pengiriman tegangan ke PLTGU Grati dari PLTU Paiton...............................................37
Gambar 35. Pengiriman tegangan ke GITET Surabaya Barat dari PLTGU Grati................................38
Gambar 36. Pengiriman tegangan ke PLTGU Gresik dari GITET Surabaya Barat..............................39
Gambar 37. Pengiriman tegangan ke GITET Cilegon dari Suralaya.................................................40
Gambar 38. Pemberian tegangan SUTET Cilegon-Cibinong dari Cibinong........................................41
Gambar 39. Pemberian tegangan SUTET Cilegon-Cibinong dari Cilegon..........................................41
Gambar 40. Pemberian tegangan ke GITET Kembangan................................................................42
Gambar 41. Pemberian tegangan ke GITET Bekasi........................................................................42

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xvii


Gambar 42. Pengiriman tegangan ke GITET Cawang.....................................................................44
Gambar 43. Pengiriman tegangan ke GITET Mandirancan..............................................................45
Gambar 44. Pengiriman tegangan ke GITET Ungaran....................................................................45
Gambar 45. Pengiriman tegangan ke GITET Pedan dari Ungaran...................................................47
Gambar 46. Pengiriman tegangan ke GITET Pedan dari Kediri.......................................................48
Gambar 47. Pengiriman tegangan ke GITET Kediri dari GITET Paiton.............................................49

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman xviii dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

V ISI PEDOMAN

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 1 dari 53


1 PENDAHULUAN
1.1 Umum Pedoman pemulihan sistem ini digunakan
sebagai panduan bagi Pelaksana Pengendali
Operasi (selanjutnya disebut Dispatcher) Unit
Bidding dan Operasi Sistem (UBOS) untuk
melaksanakan tindakan segera (immediate
action) di dalam proses mengatasi gangguan
padam total (blackout) atau padam sebagian
(partial blackout) agar sistem segera kembali ke
keadaan normal.

Padam total adalah keadaan gangguan dimana


seluruh unit pembangkit berhenti bekerja ( trip)
sehingga seluruh konsumen padam.

Padam sebagian adalah kondisi sistem dimana


sebagian sistem mengalami gangguan yang
berakibat padam.

Sasaran utama pemulihan adalah menormalkan


sistem segera mungkin. Tujuan awal proses
pemulihan sistem adalah :

a. Memberi pasokan daya ke PLTU dan


pembangkit termal skala besar lainnya
yaitu PLTU Suralaya, PLTU/GU
Muarakarang, PLTGU Priok, PLTGU
Muaratawar, PLTU/GU Tambaklorok,
PLTU/GU Gresik, PLTGU Grati dan PLTU
Paiton.

b. Memberi pasokan daya ke Gardu-Gardu


Induk terutama GITET untuk mencatu
pemakaian sendiri.

1.2 Konfigurasi Jaringan Tegangan Konfigurasi jaringan tegangan ekstra tinggi 500
Ekstra Tinggi 500 kV kV Sistem Jawa Bali dalam keadaan normal
(sebelum terjadi gangguan) adalah seperti pada
Gambar 1.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 2 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Gambar 1. Konfigurasi Jaringan Tegangan Ekstra Tinggi 500 kV Sistem Jawa Bali
1.3 Wewenang / Kewajiban Pemulihan Wewenang/kewajiban dalam proses pemulihan
adalah sebagai berikut:

Pusat Pengatur Beban (UBOS) berwenang


melaksanakan:
a. Asut gelap (black start)
pembangkit di jaringan 500 kV.
b. Pemulihan jaringan 500 kV.
c. Pemulihan/merangkai antar
subsistem.

Pusat Pengatur Region dan Subregion


berwenang melaksanakan :
a. Asut gelap pembangkit di
jaringan 150 kV dan 70 kV di wilayahnya
baik pada padam total maupun parsial.
b. Pemulihan jaringan 150 kV
dan 70 kV di wilayahnya baik pada
padam total maupun parsial.
Buku pedoman ini berisi uraian wewenang/kewajiban dalam proses pemulihan yang
dilakukan oleh dispatcher UBOS, sedangkan proses pemulihan yang dilakukan oleh
dispatcher Region dan Subregion dituangkan di dalam pedoman tersendiri yang dikeluarkan

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 3 dari 53


oleh masing-masing Region.
1.4 Keadaan Sistem dan Sarana Prakiraan keadaan sistem dan sarana
Pengendalian pengendalian adalah :

a. Sistem Jawa Bali dalam kondisi padam


total (blackout).
b. Tidak ada unit pembangkit yang me-
masok daya ke sistem.
c. Tidak ada degradasi dalam sistem
tenaga, baik pada pembangkitan maupun
penyaluran.
d. Sarana telekomunikasi dan SCADA
bekerja baik.
1.5 Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Tindakan yang dilakukan oleh Pelaksana
Pengendali Operasi (Dispatcher) UBOS di dalam
proses pemulihan adalah sebagai berikut :

a. Segera melakukan pemantauan kondisi


seluruh sistem, lakukan pencatatan unit-
unit pembangkit yang masih siap
beroperasi atau segera dapat
dioperasikan.

b. Mencatat kondisi jaringan serta hal-hal


penting lainnya (kesiapan jaringan
terutama yang digunakan sebagai jalur
pengiriman tegangan) yang dapat
mempengaruhi proses pemulihan sistem.

c. Memberi informasi ke Region-Region


bahwa sistem dalam kondisi darurat
(padam total) dan memerintahkan untuk
bertindak sesuai dengan Pedoman
Pemulihan Sistem yang berlaku.

d. Memberi informasi ke GITET/ Pusat


Listrik 500 kV bahwa sistem dalam
padam total dan memerintahkan untuk
bertindak sesuai dengan Pedoman
Operasi Gardu Induk/Pusat Listrik yang
berlaku.

e. Memastikan sifat dan lokasi gangguan


sebagai penyebab gangguan sistem
dengan meminta informasi ke GITET,
Region dan pusat listrik atau sumber
informasi lainnya.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 4 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

f.Memastikan bahwa pasokan daya untuk


subsistem 500 kV dapat diperoleh dari
PLTA Saguling dan PLTA Cirata.

g. Meminta konfirmasi dari Region tentang


pelaksanaan pemulihan di subsistem
masing-masing sebelum paralel dengan
subsistem 500 kV.

h. Pada saat pemulihan dari padam total,


diberi keleluasaan dalam mengatur
pembebanan unit pembangkit, sesuai
kesiapan pembangkit tanpa
pertimbangan merit order atau Rencana
Operasi Harian (ROH), sampai kondisi
sistem dinyatakan normal.

i. Proses pemulihan diawali dengan


pembangkit yang mempunyai sarana
asut-gelap untuk mengirim tegangan ke
pusat-pusat listrik yang tidak memiliki
sarana asut-gelap (prioritas ke PLTU).

j. Pemulihan dilakukan secara cermat dan


hati-hati, disesuaikan dengan
kemampuan unit pembangkit yang sudah
beroperasi dan kondisi penyalurannya.

2 PEMUTUS TENAGA YANG


DIBUKA PADA SAAT
GANGGUAN TOTAL
2.1 Pemutus Tenaga Yang Dibuka Pemutus tenaga (Pmt) yang harus dibuka pada
jaringan 500 kV saat terjadi padam total adalah
sebagai berikut :

2.1.1 GITET Suralaya


Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Gandul 1
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Gandul 2
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Cilegon 1
Pmt 7B6, 7AB6 : bay SUTET Cilegon 2
Pmt 7A1, 7AB1 : bay Generator 1
Pmt 7A2 : bay Generator 2
Pmt 7A3 : bay Generator 3
Pmt 7A4, 7AB4 : bay Generator 4
Pmt 7A5 : bay Generator 5

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 5 dari 53


Pmt 7A6 : bay Generator 6
Pmt 7A7, 7AB7 : bay Generator 7
Pmt 5A1, 5AB1 : bay IBT 2
Pmt 5A4, 5AB4 : bay IBT 1

Gambar 2. Pmt yang dibuka di GITET


Suralaya

2.1.2 GITET Cilegon


Pmt 7A3, 7AB3 : bay SUTET Suralaya 1
Pmt 7A4, 7AB4 : bay SUTET Suralaya 2
Pmt 7A2, 7AB2 : bay SUTET Cibinong 1
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Gambar 3. Pmt yang dibuka di GITET


Cilegon

2.1.3 GITET Gandul


Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Suralaya 2
Pmt 7B4, : bay SUTET Depok 1
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Depok 2
Pmt 7A1, 7AB1 : bay SUTET Kembangan
1
Pmt 7A2, 7AB2 : bay SUTET Kembangan
2
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 6 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Gambar 4. Pmt yang dibuka di GITET Gandul

2.1.4 GITET Kembangan


Pmt 7A1, 7AB1 : bay SUTET Gandul 1
Pmt 7A2, 7AB2 : bay SUTET Gandul 2
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Gambar 5. Pmt yang dibuka di GITET


Kembangan

2.1.5 GITET Bekasi


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Cawang
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Cibinong
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 7 dari 53


Gambar 6. Pmt yang dibuka di GITET
Bekasi

2.1.6 GITET Cawang


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Muaratawar
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Bekasi
2 1
Pmt 150 kV : bay IBT 1
A Pmt 150 kV : bay IBT 2

B
1 2

Mtawar Bekasi

Gambar 7. Pmt yang dibuka di GITET


Cawang

2.1.7 GITET Cibinong


Pmt 7A1, 7AB1 : bay SUTET Bekasi
Saguling
Bekasi Mtawar 2 1
Pmt 7A2, 7AB2 : bay SUTET Muaratawar
Pmt 7A3, 7AB3 : bay SUTET Saguling 2
A Pmt 7A4 : bay SUTET Saguling 1
Pmt 7B3 : bay SUTET Depok 2
Pmt 7B4 : bay SUTET Depok 1
Pmt 7B5 : bay SUTET Cilegon
Pmt 150 kV : bay IBT 1
B Pmt 150 kV : bay IBT 2
1 2 3 4 5
1 2 2 1
Depok Cilegon

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 8 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Gambar 8. Pmt yang dibuka di GITET


Cibinong

2.1.8 GITET Saguling


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Cibinong 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Cibinong 2
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Cirata 2
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Cirata 1
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Bandung
Selatan 1
Pmt 7A3 : bay SUTET Bandung
Selatan 2
Pmt 7A1 : bay MTR 1 (PLTA unit 1
dan 2)
Pmt 7A2 : bay MTR 2 (PLTA unit 3
dan 4)
Pmt generator : Unit 1, 2, 3 dan 4.

Gambar 9. Pmt yang dibuka di GITET


Saguling

2.1.9 GITET Cirata


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Saguling 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Saguling 2
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Cibatu 2
Pmt 7B6, 7AB6 : bay SUTET Cibatu 1
Pmt 7A1 : bay MTR 1 (PLTA unit 1
dan 2)
Pmt 7A2 : bay MTR 2 (PLTA unit 3
dan 4)
Pmt 7A3 : bay MTR 3 (PLTA unit 5
dan 6)
Pmt 7A4 : bay MTR 4 (PLTA unit 7
dan 8)
Pmt 7B3, 7AB3 : bay IBT 1
Gambar 10. Pmt yang dibuka di GITET
Cirata Pmt 7AB4 : bay IBT 2
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 9 dari 53


Pmt generator : Unit 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
dan 8.

2.1.10 GITET Cibatu


Pmt 7A1, 7AB1 : bay SUTET Cirata 1
Pmt 7A2, 7AB2 : bay SUTET Cirata 2
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Muaratawar
1
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Muaratawar
2
Pmt 7B2 : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2

Gambar 11. Pmt yang dibuka di GITET


Cibatu

2.1.11 GITET Muaratawar


Pmt 7B1, 7AB1 : bay Cawang
Pmt 7B2, 7AB2 : bay Cibinong
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Cibatu 1
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Cibatu 2
Pmt 7A1 : bay MTR 1 (GT unit 1.1
dan 1.2)
Pmt 7A2 : bay MTR 2 (GT unit 1.3)
Pmt 7A3, 7AB3 : bay MTR 3 (ST unit 1.0)
Pmt 7A4 : bay MTR 4 (GT unit 2.1
dan 2.2)
Pmt 7A5 : bay MTR 5 (GT unit 2.3)
Pmt 7A7, 7AB7 : bay MTR 7 (GT unit 3.1
Gambar 12. Pmt yang dibuka di GITET dan 3.2)
Muaratawar Pmt 7A8, 7AB8 : bay MTR 8 (GT unit 3.3)
Pmt 7A9, 7AB9 : bay MTR 9 (GT unit 4.1
dan 4.2)
Pmt 7A10, 7AB10 : bay MTR 10 (GT unit
4.4)
Pmt generator : Unit 1.1, 1.2, 1.3, 2.1,
2.2, 3.1, 3.2, 3.3, 4.1,
4.2, dan 4.3.

2.1.12 GITET Bandung Selatan


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Saguling 1

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 10 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Pmt 7A1 : bay IBT 1


Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Saguling 2
1 2 1 2
Pmt 7B3, : bay SUTET Mandirancan
A
1
Pmt 7B4, : bay SUTET Mandirancan
2
Pmt 7A3 : bay Reaktor 7R1
Pmt 7A4 : bay Reaktor 7R2
B
1 2 3 4 Pmt 150 kV : bay IBT 1
1 2 1 2 Pmt 150 kV : bay IBT 2
Saguling Mandirancan Pmt 66 kV : bay Reaktor 4R1 dan
4R2
Gambar 13. Pmt yang dibuka di GITET
Bandung Selatan

2.1.13 GITET Mandirancan


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Ungaran 2
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Ungaran 1
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Bandung
Selatan 1
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Bandung
Selatan 2
Pmt 150 kV : bay IBT

Gambar 14. Pmt yang dibuka di GITET


Mandirancan

2.1.14 GITET Ungaran


Pmt 7B1 : bay SUTET Mandirancan
Tj Jati B 1
1 2
2 1
1 Pmt 7B5 : bay SUTET Mandirancan
A
2
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Pedan
Pmt 7A6, 7AB6 : bay SUTET Tj Jati B 1
Pmt 7A5, 7AB5 : bay SUTET Tj Jati B 2
B Pmt 7A1 : bay Reaktor 7R1
1 2 3 4 5
2 Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pedan Mandirancan 2
Mandirancan 1 1 2 Pmt 150 kV : bay IBT 2
Sby Barat
Pmt 66 kV : bay Reaktor 4R1 dan
4R2
Gambar 15. Pmt yang dibuka di GITET
Ungaran

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 11 dari 53


2.1.15 GITET Pedan
Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Ungaran
Pmt 7B4, 7AB4 : bay Kediri 2 dan
Reaktor 7R2
Pmt 7B5, 7AB5 : bay Kediri 1 dan
Reaktor 7R1
Pmt 7A2, 7AB2 : bay IBT 2
Pmt 150 kV : bay IBT 1 dan 2
Pmt 7A4 : bay Tasikmalaya 1
Pmt 7A5 : bay Tasikmalaya 2

Gambar 16. Pmt yang dibuka di GITET


Pedan

2.1.16 GITET Surabaya Barat


Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Grati 2
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Grati 1
Pmt 7A3, 7B3 : bay SUTET Ungaran 1
dan Reaktor 7R1
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Ungaran 2
Pmt 7B5, 7AB5 : bay SUTET Gresik 1
Pmt 7B6, 7AB6 : bay SUTET Gresik 2
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 150 kV : bay IBT 2
Pmt 66 kV : bay Reaktor 4R1

Gambar 17. Pmt yang dibuka di GITET


Surabaya Barat

2.1.17 GITET Gresik


Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Surabaya
Barat 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Surabaya
Barat 2
Pmt 7AB1, 7A1 : bay MTR 1
Pmt 7A2 : bay MTR 2 (GT unit 2.3)
Pmt 7A3 : bay MTR 3 (GT unit 3.1
dan 3.2)
Pmt 7A4, 7AB4 : bay MTR 4 (GT unit 3.3)
Pmt 7A5, 7AB5 : bay MTR Unit 2.0

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 12 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Pmt 7A6, 7AB6 : bay MTR Unit 3.0


Pmt 150 kV : bay IBT
Pmt generator : Unit 2.1, 2.2, 3.1 dan
3.2.

Gambar 18. Pmt yang dibuka di GITET


Gresik

2.1.18 GITET Grati


Pmt 7B1, 7AB1 : bay kosong
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Surabaya
Barat 2
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Surabaya
Barat 1
Pmt 7B6, 7AB6 : bay SUTET Paiton 1
Pmt 7B7, 7AB7 : bay SUTET Paiton 2
Pmt 7AB2 : bay IBT 1
Pmt 7A3 : bay MTR 1 (GT unit 1.1)
Pmt 7A4 : bay MTR 2 (GT unit 1.2
dan 1.3)
Pmt 7A5, 7AB5 : bay MTR 3 (ST unit 1.0)
Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt generator : Unit 1.2 dan 1.3.
Gambar 19. Pmt yang dibuka di GITET
Grati

2.1.19 GITET Paiton


Pmt 7B1, 7AB1 : bay IBT 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay IBT 2
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Grati 1
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Grati 2
Pmt 7A1 : bay MTR 1 (PLTU Paiton
unit 1)
Pmt 7A2 : bay MTR 2 (PLTU Paiton
unit 2)
Pmt 7A5, 7AB5 : bay MTR PLTU unit 5

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 13 dari 53


5 6 7 8
(Jawa Power)
1 2 Pmt 7B5 : bay SUTET Kediri 1
Pmt 7B6 : bay SUTET Kediri 2
Pmt 7A6, 7AB6 : bay MTR PLTU unit 6
A C (Jawa Power)
Pmt 7A7, 7AB7 : bay MTR PLTU unit 7
(Paiton Energy)
Pmt 7A8, 7AB8 : bay MTR PLTU unit 8
(Paiton Energy)
B D
1 2 3 4 5 6 7 8 Pmt 150 kV : bay IBT 1
1 2
Pmt 150 kV : bay IBT 2
1 2
Pmt generator : Unit 5, 6, 7 dan 8.
Kediri
1 2
Grati

Gambar 20. Pmt yang dibuka di GITET


Paiton

2.1.20 GITET Kediri


Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Pedan 1
1 Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Pedan 2
A Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Paiton 2
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Paiton 1

B 3 4
1 2

1 2 2 1

Pedan Paiton

Gambar 21. Pmt yang dibuka di GITET


Kediri

2.1.21 GITET Tanjung Jati B


Pmt 7A1, 7AB1 : bay MTR 1 (Unit 1)
Pmt 7A2, 7AB2 : bay MTR 2 (Unit 2)
Pmt 7B1 : bay SUTET Ungaran 1
Pmt 7B2 : bay SUTET Ungaran 2
Pmt Generator : unit 1, unit 2

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 14 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

1 2

B
1 2
1 2
Ungaran

Gambar 22. Pmt yang dibuka di GITET


Tanjung Jati B

2.1.22 GITET Tasikmalaya


Pmt 150 kV : bay IBT 1
Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Pedan 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Pedan 2
Pmt 7A3, 7AB3 : bay SUTET Depok 2
Pmt 7A4, 7AB4 : bay SUTET Depok 1

Gambar 23. Pmt yang dibuka di GITET


Tasikmalaya

2.1.23 GITET Depok


Pmt 150 kV : bay IBT 2
Pmt 7B1, 7AB1 : bay SUTET Cibinong 1
Pmt 7B2, 7AB2 : bay SUTET Cibinong 2
Pmt 7B3, 7AB3 : bay SUTET Gandul 2
Pmt 7B4, 7AB4 : bay SUTET Gandul 1
Pmt 7A3 : bay SUTET Tasikmalaya
2
Pmt 7A4 : bay SUTET Tasikmalaya
1

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 15 dari 53


Gambar 24. Pmt yang dibuka di GITET
Depok

3 ASUT GELAP DAN LINE


CHARGING
3.1 Asut Gelap Asut gelap adalah kemampuan mengasut unit
pembangkit tanpa memerlukan pasokan daya
dari sistem.

3.2 Line Charging Karena besar arus kapasitif SUTET, maka pada
proses asut gelap PLTA dioperasikan dengan
modus line charging yaitu pada beban aktif
hampir 0 (nol) MW dan menyerap daya reaktif
(MVAr) dari charging current saluran udara
tegangan ekstra tinggi (SUTET) 500 kV.

3.3 Pusat Listrik Dengan Sarana Asut Pada Sistem Jawa Bali, beberapa pusat listrik
Gelap yang dilengkapi sarana asut gelap adalah:
a. PLTGU Muara Karang (satu unit GT)
b. PLTG Priok (Unit 1 dan 3)
c. PLTA Saguling (Unit 1, 2, 3 dan 4)
d. PLTA Cirata (unit 1 sampai 8)
e. PLTG Sunyaragi
f. PLTA Plengan, Lamajan, Cikalong
g. PLTGU Tambaklorok Blok 2 (satu unit
GT)
h. PLTA Mrica
i. PLTA Sutami (Unit 1 dan 2)
j. PLTG Gresik (Unit 1 dan 2)
k. PLTG/D Bali
l. PLTG Gilitimur

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 16 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Pada keadaan sistem padam total, asut gelap


pada jaringan 500 kV di Jawa bagian Barat
dilakukan dari PLTA Saguling dan PLTA Cirata.
Kedua PLTA tersebut berfungsi memberi
pasokan untuk keperluan mengasut unit-unit
pembangkit termal skala besar yang tidak
memiliki sarana asut gelap yaitu PLTU Suralaya,
PLTU Muarakarang dan PLTGU Muaratawar.

3.4 Asut Gelap dan Line Charging PLTA Keempat unit PLTA Saguling telah dilengkapi
Saguling dengan sarana operasi line charging, namun
kemampuan emergency generator hanya untuk
proses asut gelap 1 unit.

Modus operasi line charging PLTA Saguling


dilakukan hanya pada awal pemberian
tegangan ke salah satu sirkit SUTET Saguling-
Bandung Selatan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada asut


gelap dan line charging adalah

a. Urutan pengasutan unit (preparation


sequence unit), dilakukan dari meja
kendali di ruang kontrol PLTA.

b. Kemampuan emergency generator


untuk keperluan asut gelap PLTA
Saguling hanya untuk satu unit.

c. Pelaksanaan urutan asut gelap PLTA


Saguling sampai dengan modus operasi
line charging (posisi AVR auto)
dilaksanakan oleh operator PLTA.

d. Selanjutnya pemberian tegangan ke rel


dan ke SUTET Saguling-Bandung
Selatan dilaksanakan oleh dispatcher
UBOS.

e. Pada proses line charging pengaturan


tegangan rel 500 kV GITET Saguling
dilaksanakan dengan tahapan sebagai
berikut :
 Tegangan rel diatur 430-450 kV.
 Tegangan SUTET diatur dan
dipertahankan tidak lebih dari 490
kV.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 17 dari 53


 Setelah AVR pada posisi otomatis,
tegangan di pertahankan 490-500
kV.

3.5 Asut Gelap Dan Line Charging PLTA Kedelapan unit PLTA Cirata telah dilengkapi
Cirata dengan sarana operasi automatic line charging
namun unit yang telah diuji asut gelap dengan
modus operasi line charging adalah unit 1, 2, 3
dan 4, namun kemampuan emergency
generator hanya untuk proses asut gelap 1 unit.
Modus operasi line charging PLTA Cirata terdiri
dari dua tahap yaitu :

1. Line charging dari unit ke switchyard


dilanjutkan dengan pembebanan IBT Cirata,
modus dirubah ke operasi normal.

2. Bila pembebanan melalui IBT tersebut


gagal maka line charging dilanjutkan ke
salah satu sirkit SUTET Cirata–Saguling.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada asut


gelap dan line charging adalah :

a. Pelaksanaan asut gelap PLTA Cirata


dengan modus operasi line charging
(posisi AVR auto) dilaksanakan oleh
operator PLTA.

b. Kemampuan emergency generator


untuk keperluan asut gelap PLTA Cirata
hanya untuk satu unit.

c. Selanjutnya pemberian tegangan ke rel,


IBT dan SUTET Saguling dilaksanakan
oleh dispatcher UBOS.

d. Pada proses line charging tegangan


GITET Cirata diatur maksimum 485 kV
untuk persiapan pengiriman tegangan
ke Saguling.

3.6 Membangun Subsistem PLTA Tahapan membangun Subsistem PLTA Saguling


Saguling dan Bandung Selatan dan Bandung Selatan dilaksanakan sebagai
berikut.
a. Tutup Pmt unit PLTA Saguling

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 18 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

yang telah berhasil asut gelap.


b. Kirim tegangan ke rel A, atur
tegangan berkisar 490 kV.
c. Tutup Pmt 7A3 sehingga SUTET
Saguling-Bandung Selatan sirkit 2
bertegangan. Atur tegangan di Saguling
tidak lebih 490 kV atau di Bandung
Selatan 500 kV. Setelah itu AVR
diposisikan otomatis (loading mode) dan
pertahankan tegangan di Saguling tidak
Gambar 25. Tahapan membangun Subsistem
lebih dari 490 kV.
PLTA Saguling dan Bandung
Selatan d. Tutup Pmt 7AB2 di GITET
Bandung Selatan sehingga IBT 2 di
Bandung Selatan bertegangan (tanpa
beban). Apabila SUTET Saguling-
Bandung Selatan sirkit 2 tidak siap,
maka line charging dilakukan melalui
sirkit 1.

e. Tutup Pmt 150 kV IBT 2 dan


dibebani bertahap mulai 25 MW hingga
sekitar 70 MW (lihat Gambar 22)
berkoordinasi dengan dispatcher Region
2.

3.7 Membangun Subsistem PLTA Tahapan membangun Subsistem PLTA Cirata


Cirata dilaksanakan sebagai berikut.

a. Tutup Pmt unit PLTA Cirata


yang diasut, kirim tegangan ke rel A
dengan menutup Pmt 7A pada diameter
terkait. Atur tegangan di rel A berkisar
500 kV.

b. Tutup Pmt 7A4 dan 7AB4


sehingga IBT2 bertegangan.

c. Tutup Pmt 150 kV IBT 2 dan


bebani PLTA Cirata dari 30 MW sampai
40 MW.

d. Apabila pemberian tegangan ke


IBT atau pembebanannya gagal
dilaksanakan, maka PLTA Cirata
dioperasikan dengan mode line charging
Gambar 26. Tahapan membangun Subsistem
Cirata untuk pemberian tegangan ke SUTET
Cirata-Saguling sirkit 1.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 19 dari 53


3.8 Menghubungkan Subsistem PLTA Setelah proses asut gelap/line charging tersebut
Saguling dan Bandung Selatan dengan diatas selanjutnya akan dilanjutkan pengiriman
PLTA Cirata tegangan ke PLTU Suralaya dengan beberapa
alternatif, yaitu :

a. PLTA Saguling telah dibebani melalui IBT


Bandung Selatan, bila perlu asut lagi PLTA
agar Subsistem ini lebih kuat.

b. Subsistem PLTA Saguling yang telah


dibebani IBT Bandung Selatan digabung
dengan PLTA Cirata.

c. PLTA Cirata telah dibebani melalui IBT


Cirata digabung dengan PLTA Saguling
yang telah dibebani IBT Bandung Selatan,
kondisi ini paling ideal untuk proses
selanjutnya mengirim tegangan kearah
PLTU Suralaya.

4 PEMULIHAN SISTEM
SETELAH GANGGUAN
4.1 Pelaksanaan Pengiriman Tegangan Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam
pelaksanaan pengiriman tegangan adalah
sebagai berikut :

a. Sistem harus diberi tegangan tahap demi


tahap. Sebelum pemberian tegangan
dilanjutkan, pada setiap tahapan harus
diperhatikan bahwa cadangan daya aktif
dan reaktif dari pembangkitan yang
terhubung ke sistem masih mencukupi.

b. Bilamana mungkin, pemberian tegangan


pada bagian yang bebannya tinggi atau
pada saluran yang panjang, dilaksanakan
setelah sistem betul-betul stabil.

c. Pengaturan daya reaktif sekaligus


pengaturan tegangan dilaksanakan
dengan cara mengatur pembangkitan
daya reaktif dari PLTA Saguling dan PLTA
Cirata serta mengoperasikan reaktor
sesuai dengan prosedur pemberian

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 20 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

tegangan dalam rangka pemulihan


jaringan 500 kV.

d. Apabila ada peralatan instalasi yang


sudah jelas terlihat mengalami
kerusakan, maka peralatan tersebut
harus segera dibebaskan dari tegangan
tinggi.

e. Semua IBT dioperasikan secara manual


dan tap-changer ditempatkan pada posisi
tap maksimum (full winding).

4.2 Memasok Tegangan Ke GITET Pemulihan jaringan 500 kV pada dasarnya


Berpembangkit adalah pemulihan dari padam total di jaringan
500 kV yang dimulai dengan pengiriman
tegangan ke pusat pembangkit termal atau
pusat pembangkit yang tersambung ke sistem
500 kV, yang tidak dilengkapi atau tidak siap
asut-gelap (black-start), yaitu PLTU Suralaya,
PLTGU Muaratawar, PLTGU Gresik, PLTGU
Grati, PLTU Paiton (PJB, Paiton Energy dan
Jawa Power).

4.2.1 Pengiriman Tegangan ke PLTU Pengiriman tegangan untuk asut gelap PLTU
Suralaya Suralaya dilakukan apabila operasi islanding
PLTU Suralaya dan asut-gelap PLTG di GITET
Suralaya tidak berhasil.

Pengiriman tegangan ke PLTU Suralaya dapat


dilakukan dengan melalui beberapa jalur
alternatif yaitu :

a. Dari PLTU/GU Muarakarang Apabila operasi terpisah PLTU/GU


Muarakarang berhasil atau PLTGU
Muarakarang berhasil asut gelap, dan kondisi
pembangkitnya mampu mengirim pasokan
daya ke PLTU Suralaya, maka intruksikan
kepada Pusat Pengatur Region 1 untuk
melaksanakan pengiriman tegangan ke PLTU
Suralaya melalui sirkit 1 SUTT 150 kV
Durikosambi–Cengkareng–Tangerang–Jatake–
Cikupa–Balaraja–Cikande–Serang–
Cilegonbaru–Cilegonlama–Suralaya.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 21 dari 53


b. Dari PLTU Krakatau Daya Listrik Pengiriman tegangan ke PLTU Suralaya melalui
jalur SUTT 150 kV Krakatau Steel–
Cilegonbaru–Cilegonlama–Suralaya,
dilaksanakan oleh Pusat Pengatur Region 1.

c. Dari GITET Kembangan atau Apabila GITET Kembangan sudah mendapat


Cilegon tegangan dari GITET Gandul atau GITET
Cilegon sudah bertegangan dari GITET
Cibinong, maka intruksikan kepada Pusat
Pengatur Region 1 untuk melaksanakan
pengiriman tegangan ke PLTU Suralaya melalui
jalur 150 kV.

d. Dari PLTA Saguling dan PLTA Proses ini dilaksanakan oleh dispatcher Pusat
Cirata Pengatur Beban (UBOS) dengan langkah–
langkah asut gelap dan line charging pada
Bagian 3 untuk pengiriman tegangan ke PLTU
Suralaya.

Pengiriman tegangan 500 kV ke PLTU Suralaya dari PLTA Saguling dan PLTA Cirata
dilakukan dengan melalui SUTET Saguling–Cibinong, SUTET Cibinong–Gandul dan SUTET
Gandul–Suralaya atau SUTET Cibinong–Cilegon dan SUTET Cilegon–Suralaya.

4.2.1.1 Pengiriman Tegangan ke GITET Pengiriman tegangan dari GITET Saguling ke


Cibinong, Depok Dan Gandul GITET Cibinong, GITET Depok dan Gandul
Dari PLTA Saguling dilakukan melalui SUTET Saguling–Cibinong-
Depok-Gandul sirkit 1. Namun demikian dapat
pula dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak
siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 a. Atur tegangan di


GITET Saguling sekitar 490 kV, bila perlu
memasukkan reaktor 7R2 di GITET Bandung
Selatan . Tutup Pmt 7AB1 di GITET Saguling
(diasumsikan rel A bertegangan dan Pmt 7A1
GITET Saguling posisi tertutup) sehingga
SUTET Saguling-Cibinong sirkit 1, rel B GITET
Cibinong, IBT 1 dan IBT 2 GITET Cibinong,
SUTET Cibinong–Gandul sirkit 1, rel A GITET
Gandul, IBT 1 dan IBT 2 GITET Gandul
bertegangan.

b. Atur tegangan di
GITET Gandul hingga mencapai 500 kV

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 22 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

1 2 3 4
70 MW
dengan mengatur pembangkitan MVAr dari
d BANDUNG
SELATAN 1 2
PLTA Saguling dan PLTA Cirata, bila perlu
1 2
SAGULING
A A
mengoperasikan Reaktor 4R2 GITET Bandung
490 kV Selatan
a c. Tutup Pmt 150 kV
IBT 1 dan/atau 2 lalu bebani IBT 1 dan/atau
B
1 2 3 4 5
B
1 2 3 4 2 GITET Gandul secara bertahap dengan total
2 1 1 Ungaran
beban sekitar 80 MW.
Cirata Bandung
Saguling
Selatan
Bekasi Cawang 2
Mandirancan d. Asut satu unit PLTA
CIBINONG
A
Cirata atau PLTA Saguling.

e. Atur pembebanan
PLTA Cirata dan PLTA Saguling dengan
mengatur pembebanan di IBT Cirata, IBT
B
1 2 3 4 5 Bandung Selatan dan IBT Gandul.
1 2 2 Cilegon Kembangan c c
Gandul 1 2 1 2 f. Persiapkan untuk
GANDUL
A mengirim tegangan ke GITET Suralaya.
b 500 kV

B
1 2 3 4 5

1 2 1 2
Suralaya Cibinong

Gambar 27. Pengiriman tegangan ke GITET


Cibinong dan Gandul

4.2.1.2 Pengiriman Tegangan ke PLTU Pengiriman tegangan dari GITET Gandul ke PLTU
Suralaya Dari GITET Gandul Suralaya dilakukan melalui SUTET Gandul-
Suralaya sirkit 1. Namun demikian dapat pula
dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 a. Tutup Pmt 7B4 di GITET Gandul, sehingga
rel B GITET Gandul dan SUTET Gandul–
Suralaya sirkit 1 bertegangan.
b. Tutup Pmt 7B2 di GITET Suralaya untuk
memberi tegangan ke rel B, IBT 1 dan IBT
2.
c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan IBT 2 di
GITET Suralaya, dan bebani dengan
mengutamakan pasokan untuk pemakaian
sendiri PLTU Suralaya.
d. Pembebanan dilaksanakan oleh dispatcher
Region 1 dan disesuaikan dengan
kemampuan pembangkitan di PLTA
Saguling dan Cirata (perhatikan frekuensi).

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 23 dari 53


Gambar 28. Pengiriman tegangan ke
Suralaya dari GITET Gandul

4.2.1.3 Pengiriman Tegangan ke GITET Jalur pengiriman tegangan ini adalah jalur
Cibinong Dan Cilegon Dari alternatif apabila pengiriman tegangan ke PLTU
PLTA Saguling Suralaya melalui jalur Cibinong-Gandul-Suralaya
tidak dapat dilaksanakan. Pengiriman tegangan
ke PLTU Suralaya dari GITET Saguling ke GITET
Cibinong dan Cilegon dilakukan melalui SUTET
Saguling–Cibinong dan SUTET Cibinong-Cilegon
sirkit 1. Sebelum pengiriman tegangan, usahakan
PLTA Cirata dan Saguling telah beroperasi
minimal tiga unit.

Kondisi 1, GITET Cibinong, Pengiriman tegangan ke GITET Cibinong dari


Depok dan Gandul belum Saguling melalui SUTET Saguling–Cibinong sirkit
mendapat pasokan 1 dan ke GITET Cilegon dari GITET Cibinong
melalui SUTET Cibinong-Cilegon dilaksanakan
sebagai berikut :
a. Buka Pmt 7AB4 dan 7B4 di GITET
Cibinong.
b. Tutup Pmt 7AB1 di GITET Saguling,
sehingga SUTET Saguling-Cibinong sirkit 1
bertegangan.
c. Tutup Pmt 7B5 di GITET Cibinong. Atur

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 24 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

tegangan di GITET Saguling sekitar 490


kV.
d. Tutup Pmt 7A4 di GITET Cibinong,
sehingga IBT 1 dan 2 GITET Cibinong dan
SUTET Cibinong-Cilegon bertegangan.
e. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 atau IBT 2 GITET
Cibinong dan bebani sekitar 50 MW secara
bertahap.
f. Tutup Pmt 7AB2 di GITET Cilegon,
sehingga rel B, IBT 1 dan 2 bertegangan.
g. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan 2 di GITET
Cilegon lalu bebani sekitar 50 MW.
Pembebanan dilaksanakan oleh dispatcher
Region 1 dan disesuaikan dengan
kemampuan pembangkitan di PLTA
Saguling dan Cirata.
h. Atur tegangan di GITET Cilegon hingga
mencapai sekitar 500 kV dengan mengatur
pembangkitan MVAr dari PLTA Saguling,
PLTA Cirata dan bila perlu mengoperasikan
Reaktor 4R2 GITET Bandung Selatan.
i. Persiapkan untuk mengirim tegangan ke
GITET Suralaya.

Gambar 29. Pengiriman tegangan ke GITET


Cibinong dan Cilegon (Gandul
dan Cibinong belum
bertegangan)

Kondisi 2 , GITET Cibinong, Pengiriman tegangan ke GITET Cilegon dari


Depok dan Gandul sudah GITET Cibinong dilaksanakan sebagai berikut :
mendapat pasokan.
a. Tutup Pmt 7AB2 di GITET Cilegon.
b. Tutup Pmt 7A4 di GITET Cibinong,
sehingga rel A GITET Cibinong, SUTET
Cibinong-Cilegon, IBT 1 dan 2 GITET
Cilegon bertegangan.
c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan IBT 2 di
GITET Cilegon kemudian lakukan
pembebanan sekitar 50 MW.
d. Pembebanan dilaksanakan oleh dispatcher
Region 1 dan disesuaikan dengan
kemampuan pembangkitan di PLTA
Saguling dan Cirata (perhatikan frekuensi).

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 25 dari 53


Gambar 30. Pengiriman tegangan ke GITET
Cilegon dari Cibinong (Gandul
dan Cibinong sudah
bertegangan)

4.2.1.4 Pengiriman Tegangan ke PLTU Pengiriman tegangan dari GITET Cilegon ke PLTU
Suralaya Dari GITET Cilegon Suralaya dilakukan melalui SUTET Cilegon-
Suralaya sirkit 1. Namun demikian dapat pula
dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit a. Tutup Pmt 7AB3 di GITET Cilegon,


1: sehingga SUTET Cilegon–Suralaya sirkit 1
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B5 di GITET Suralaya,


sehingga rel B, IBT 1 dan IBT 2 GITET
Suralaya bertegangan.

c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan/atau IBT 2 di


GITET Suralaya, dan bebani dengan
mengutamakan pasokan untuk pemakaian
sendiri PLTU Suralaya.

d. Pembebanan dilaksanakan oleh dispatcher


Region 1 dan disesuaikan dengan
kemampuan pembangkitan di PLTA
Saguling dan Cirata (perhatikan frekuensi).

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 26 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Gambar 31. Pengiriman tegangan ke


Suralaya dari GITET Cilegon

4.2.2 Pengiriman Tegangan Ke PLTGU Pengiriman tegangan ke GITET Muaratawar dari


Muaratawar PLTA Cirata merupakan kelanjutan dari proses
asut gelap dan line charging PLTA Saguling dan
PLTA Cirata, kemudian melalui SUTET Cirata–
Cibatu dan SUTET Cibatu–Muaratawar.

4.2.2.1 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan dari PLTA Cirata ke GITET


GITET Cibatu Dari PLTA Cibatu dilakukan melalui SUTET Cirata-Cibatu
Cirata sirkit 1. Namun demikian dapat pula dilakukan
melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui a. Tutup Pmt 7B6 di GITET Cirata


sirkit 1 : (sebelumnya rel B dianggap sudah
bertegangan), sehingga SUTET Cirata-
Cibatu sirkit 1 langsung bertegangan.
b. Tutup Pmt 7AB1 di GITET Cibatu sehingga
IBT 2 bertegangan.
c. Tutup Pmt 150 kV IBT 2 di GITET Cibatu
dan dibebani dengan mengutamakan

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 27 dari 53


pasokan untuk pemakaian sendiri.
d. Pembebanan IBT dilaksanakan oleh
dispatcher Region 2 dan pembebanannya
disesuaikan dengan kemampuan
pembangkitan di PLTA Saguling dan Cirata
(perhatikan frekuensi).
e. Atur tegangan dari PLTA Cirata.

Gambar 32. Pengiriman tegangan ke GITET


Cibatu dari Cirata

4.2.2.2 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan dari GITET Cibatu ke


PLTGU Muaratawar dari GITET PLTGU Muaratawar dilakukan melalui SUTET
Cibatu Cibatu-Muaratawar sirkit 1. Namun demikian
dapat pula dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1
tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui a. Tutup Pmt 7AB4 di


sirkit 1 : GITET Cibatu (sebelumnya rel A dianggap
sudah bertegangan), sehingga SUTET
Cibatu-Muaratawar sirkit 1 langsung
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B4 di


GITET Muaratawar, sehingga rel B
bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB4 di


GITET Muaratawar.

d. Tutup Pmt 7A4 di


GITET Muaratawar sehingga rel A
bertegangan. Asut salah satu unit

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 28 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

pembangkit di PLTGU Muaratawar yang


siap baik unit 2.1 ataupun 2.2.

e. Sinkronkan unit
pembangkit dengan sistem.

Gambar 33. Pengiriman tegangan ke


Muaratawar dari GITET Cibatu

4.2.3 Pengiriman Tegangan ke PLTU Pengiriman tegangan ke PLTU Paiton dapat


Paiton dilakukan dengan alternatif :

a. Pengiriman ke PLTU Apabila PLTA Sutami sudah berhasil berdiri


Paiton dari PLTA Sutami sendiri, kirim tegangan ke PLTU Paiton melalui
jalur 150 kV dan semua kegiatan ini akan
dilakukan dispatcher Pusat Pengatur Region 4.

b. Pengiriman ke PLTU Proses pengiriman tegangan ke PLTU Paiton dari


Paiton dari PLTGU Gresik PLTGU Gresik diasumsikan bahwa PLTU/GU
Gresik sudah mampu mengirim tegangan dan
PLTGU Grati gagal host load atau belum dapat
beroperasi, dengan alternatif melalui :
Pasokan daya dari PLTU/GU Gresik melalui jalur
500 kV Gresik-Surabaya Barat-Grati-Paiton.
Pasokan daya dari PLTU/GU Gresik melalui jalur
150 kV yang panjang yaitu : Gresik-Waru-
Buduran-Bangil-Gondangwetan-Probolinggo-
Kraksaan-Paiton.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 29 dari 53


4.2.3.1 Pengiriman tegangan Ke GITET Pengiriman tegangan dari GITET Gresik ke
Surabaya Barat Dari PLTGU GITET Surabaya Barat dilakukan melalui SUTET
Gresik Gresik-Surabaya Barat sirkit 2. namun demikian
dapat pula dilakukan melalui sirkit 1 bila sirkit 2
tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui a. Tutup Pmt 7B2 di GITET


sirkit 2 : Gresik (diasumsikan rel B sebelumnya
sudah bertegangan) dan ini berarti SUTET
Gresik-Surabaya Barat sirkit 2
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7AB6 di GITET


Surabaya Barat sehingga rel A dan IBT 1
dan 2 GITET Surabaya Barat bertegangan.
Atur tegangan dari PLTGU Gresik.

c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 atau


2 di GITET Surabaya Barat dan dibebani
dengan mengutamakan pasokan untuk
pemakaian sendiri, sedangkan
pembebanan lainnya (sekitar 60 MW)
dilakukan dispatcher Region 4 disesuaikan
dengan kemampuan pembangkitan di
PLTGU Gresik (perhatikan frekuensi).

d. Tutup Pmt 7B6 di GITET


Surabaya Barat sehingga rel B
bertegangan.

e. Persiapkan untuk mengirim


tegangan ke GITET Grati.

Gambar 34. Pengiriman tegangan ke GITET


Surabaya Barat dari PLTGU
Gresik

4.2.3.2 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan dari GITET Surabaya Barat


PLTGU Grati Dari GITET ke GITET Grati dilakukan melalui SUTET
Surabaya Barat Surabaya Barat-Grati sirkit 2. Namun demikian
dapat pula dilakukan melalui sirkit 1 bila sirkit 2
tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 2 a. Tutup Pmt 7B1 di GITET Surabaya Barat

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 30 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

: (diasumsikan rel B sebelumnya sudah


bertegangan) dan ini berarti SUTET
Surabaya Barat-Grati sirkit 2 bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B3 di GITET Grati sehingga rel


B bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB2 di GITET Grati, sehingga


rel A dan IBT bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV IBT di GITET Grati, dan


bebani dengan mengutamakan pasokan
untuk pemakaian sendiri PLTGU Grati,
sedangkan pembebanan lainnya akan
dilakukan dispatcher Region 4 disesuaikan
dengan kemampuan pembangkitan di
PLTU/GU Gresik (perhatikan frekuensi).

e. Asut unit pembangkit di PLTGU Grati dan


sinkron dengan sistem.

Gambar 35. Pengiriman tegangan ke Grati


dari GITET Surabaya Barat

4.2.3.3 Pengiriman Tegangan ke PLTU Pengiriman tegangan ke PLTU Paiton dari GITET
Paiton Dari GITET Grati Grati dilakukan melalui SUTET Grati-Paiton sirkit
2, namun demikian dapat pula dilakukan melalui
sirkit 1 tergantung kesiapannya.

Pengiriman tegangan melalui a. Tutup Pmt 7B7 atau 7AB7 di GITET Grati
sirkit 2 : sehingga SUTET Grati-Paiton sirkit 2
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B4 di GITET Paiton, maka rel


B di GITET Paiton bertegangan.

c. Tutup Pmt 7B2 di GITET Paiton, sehingga


IBT 2 bertegangan.

d. Tutup Pmt 7AB7 dan 7A7 atau 7AB8 dan


7A8 di GITET Paiton, sehingga rel A
bertegangan.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 31 dari 53


e. Tutup Pmt 150 kV IBT 2 di GITET Paiton
dan dibebani dengan mengutamakan
pasokan untuk pemakaian sendiri PLTU
Paiton, sedangkan pembebanan lainnya
dilakukan oleh dispatcher Region 4
disesuaikan dengan kemampuan
pembangkitan di PLTGU Gresik dan Grati
(perhatikan frekuensi).

f. Asut unit pembangkit PLTU Paiton.

g. Tutup Pmt 7A5 dan 7A6 di GITET Paiton,


untuk persiapan sinkron dengan PLTU milik
Jawa Power dan PT Paiton Energy (PLTU
Unit 5, 6, 7 dan 8 tergantung
kesiapannya).

Gambar 36. Pengiriman tegangan ke PLTU


Paiton dari GITET Grati

4.2.4 Pengiriman Tegangan Ke PLTGU Pengiriman tegangan ke PLTGU Gresik Blok 2


Gresik Blok 2 Dan 3 dan 3 yang tersambung ke sistem 500 kV, dapat
dilakukan dengan alternatif :

a. Pengiriman ke PLTGU Apabila subsistem Gresik 150 kV sudah berdiri


Gresik Blok 2 dan 3 dari sendiri, maka pasokan daya ke PLTGU Gresik
Gresik 150 kV dapat diperoleh dari SST GI 150 kV Gresik, dan
tahapan ini akan dilakukan oleh PT PJB UP
Gresik dengan koordinasi Pusat Pengatur Region
4.

b. Pengiriman ke PLTGU Proses pengiriman tegangan ke PLTGU Gresik


Gresik Blok 2 dan 3 dari dari PLTU Paiton diasumsikan bahwa PLTU

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 32 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

PLTU Paiton Paiton sudah mampu mengirim tegangan dan


PLTGU Grati gagal host load atau belum dapat
beroperasi. Pasokan daya dari PLTU Paiton
melalui jalur 500 kV Paiton-Grati-Surabaya Barat-
Gresik.

Pengiriman tegangan 500 kV untuk asut gelap


PLTGU Gresik dilakukan apabila dari sistem 150
kV tidak bisa dilakukan. Pengiriman tegangan
dari PLTU Paiton atau PLTGU Grati dilakukan
melalui SUTET Paiton–Grati, SUTET Grati–
Surabaya Barat dan SUTET Surabaya Barat-
Gresik.

4.2.4.1 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan ke PLTGU Grati dari PLTU


PLTGU Grati Dari PLTU Paiton dilakukan melalui SUTET Paiton-Grati
Paiton sirkit 1. Namun demikian dapat pula dilakukan
melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 : a. Tutup Pmt 7B3 di


GITET Paiton (sebelumnya rel B dianggap
sudah bertegangan), sehingga SUTET
Paiton-Grati langsung bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B6 di


GITET Grati (rel B bertegangan). Atur
tegangan dari PLTU Paiton.

c. Tutup Pmt 7AB6 di


GITET Grati untuk memberi tegangan ke
rel A.

d. Tutup Pmt 150 kV


IBT di GITET Grati dan bebani dengan
mengutamakan pasokan untuk pemakaian
sendiri PLTGU Grati, sedangkan
pembebanan lainnya akan dilakukan
Region 4 disesuaikan dengan kemampuan
pembangkitan di PLTU Paiton (perhatikan
frekuensi).

e. Asut unit pembangkit


di PLTGU Grati dan sinkron dengan sistem.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 33 dari 53


1.2 1.3
1.1 1.0
d e
GRATI
A

b
B
1 2 3 4 5 6 7

2 1 2
Surabaya Paiton
Barat

5 6 7 8
1 2 Pedan

PAITON
A

a
B
1 2 3 4 5 6 7 8
1 2

Gambar 37. Pengiriman tegangan ke PLTGU


Grati dari PLTU Paiton

4.2.4.2 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan ke GITET Surabaya Barat


GITET Surabaya Barat Dari dari GITET Grati dilakukan melalui SUTET Grati-
PLTGU Grati Surabaya Barat sirkit 1. Namun demikian dapat
pula dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak
siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 : a. Tutup Pmt 7B4 di


GITET Grati (diasumsikan rel B
sebelumnya sudah bertegangan) dan ini
berarti SUTET Grati-Surabaya Barat
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B2 di


GITET Surabaya Barat sehingga rel B
GITET Surabaya Barat bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB2 di


GITET Surabaya Barat dengan demikian

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 34 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

IBT 1 dan 2 bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV


IBT 1 dan atau 2 di GITET Surabaya Barat
dan bebani dengan mengutamakan
pasokan untuk pemakaian sendiri,
sedangkan pembebanan lainnya akan
dilakukan dispatcher Region 4 disesuaikan
dengan kemampuan pembangkitan di
PLTU Paiton dan PLTGU Grati (perhatikan
frekuensi).

e. Persiapkan untuk
mengirim tegangan ke GITET Gresik.

Gambar 38. Pengiriman tegangan ke GITET


Surabaya Barat dari PLTGU Grati

4.2.4.3 Pengiriman Tegangan ke Pengiriman tegangan ke PLTGU Gresik dari


PLTGU Gresik Dari GITET GITET Surabaya Barat dilakukan melalui SUTET
Surabaya Barat Surabaya Barat-Gresik sirkit 1. Namun demikian
dapat pula dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1
tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 : a. Tutup Pmt 7B5 di


GITET Surabaya Barat (diasumsikan rel B
sebelumnya sudah bertegangan) sehingga
SUTET Surabaya Barat-Gresik sirkit 1
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B3 di


GITET Gresik, maka rel B dan IBT di
GITET Gresik bertegangan.

c. Tutup Pmt 150 kV


IBT di GITET Gresik, dan bebani dengan
mengutamakan pasokan untuk pemakaian
sendiri PLTGU Gresik, sedangkan

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 35 dari 53


pembebanan lainnya dilakukan oleh
dispatcher Region 4 disesuaikan dengan
kemampuan pembangkitan di PLTU Paiton
dan PLTGU Grati (perhatikan frekuensi).

d. Asut unit pembangkit


di PLTGU Gresik dan sinkronkan dengan
sistem.

Gambar 39. Pengiriman tegangan ke PLTGU


Gresik dari GITET Surabaya
Barat

4.3 Memasok Tegangan Ke GITET Setelah seluruh GITET yang mempunyai


Tidak Berpembangkit pembangkit di masing-masing subsistem sudah
bertegangan dan kemampuan pembangkitan
mencukupi, maka pemberian tegangan
dilanjutkan ke GITET-GITET yang tidak ada unit
pembangkitnya (GITET Cilegon, Cawang, Bekasi,
Kembangan, Depok, Tasikmalaya, Pedan, Kediri,
Mandirancan).

4.3.1 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Cilegon dari


Cilegon Dari Suralaya GITET Suralaya dapat dilakukan melalui SUTET
Suralaya-Cilegon sirkit 2 atau 1 tergantung
kesiapannya.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 2 : a. Tutup Pmt 7B6 di GITET


Suralaya, berarti SUTET Suralaya-Cilegon
sirkit 2 bertegangan.

b. Tutup Pmt 7AB4 di GITET

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 36 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Cilegon, sehingga rel B, IBT 1 dan 2 di


GITET Cilegon bertegangan.

c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan


2, selanjutnya bebani dengan
berkoordinasi dengan Region 1.

Gambar 40. Pengiriman tegangan ke GITET


Cilegon dari Suralaya

4.3.2 Pemberian Tegangan SUTET Pemberian tegangan SUTET Cilegon-Cibinong


Cilegon – Cibinong dapat dilakukan dengan dua alternatif, yaitu :

Alternatif 1, di GITET Cilegon a. Tutup Pmt 7B5 di GITET


belum ada tegangan Cibinong, berarti SUTET Cibinong-Cilegon
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7AB2 di GITET


Cilegon, sehingga rel B, IBT 1 dan 2
langsung bertegangan.

c. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan


2, di GITET Cilegon selanjutnya bebani
dengan berkoordinasi dengan Region 1.

Gambar 41. Pemberian tegangan SUTET


Cilegon-Cibinong dari Cibinong

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 37 dari 53


Alternatif 2, di GITET Cilegon a. Tutup Pmt 7AB2 di GITET
sudah ada tegangan dari GITET Cilegon, sehingga SUTET Cilegon-Cibinong
Suralaya. dan rel A GITET Cibinong bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B5 di GITET


Cibinong, sehingga rel B dan IBT 1 dan 2
bertegangan.

Gambar 42. Pemberian tegangan SUTET


Cilegon-Cibinong dari Cilegon

4.3.3 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Kembangan dari


Kembangan GITET Gandul dapat dilakukan melalui SUTET
Gandul-Kembangan sirkit 2. Namun demikian
dapat dilakukan melalui sirkit 1 bila sirkit 2 tidak
siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 2 : a. Tutup Pmt 7A2 atau 7AB2 di


GITET Gandul, berarti SUTET Gandul-
Kembangan sirkit 2 bertegangan.

b. Tutup Pmt 7A2 di GITET


Kembangan dan rel A langsung
bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB2 di GITET


Kembangan, maka IBT 1 dan 2
bertegangan.

Gambar 43. Pemberian tegangan ke GITET d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan
Kembangan 2, selanjutnya bebani berkoordinasi
dengan Region 1.

4.3.4 Pengiriman Tegangan Ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Bekasi dapat


Bekasi dilakukan dengan dua alternatif, yaitu :
Alternatif 1, pemberian tegangan Pemberian tegangan ke GITET Bekasi dari GITET
melalui SUTET Cibinong-Bekasi Cibinong dilakukan melalui SUTET Cibinong-
Bekasi.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 38 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

Pengiriman tegangan melalui SUTET Cibinong-


Bekasi :

a. Tutup Pmt 7A1 atau 7AB1 di


GITET Cibinong, sehingga SUTET
Cibinong-Bekasi bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B2 di GITET


Bekasi sehingga rel B bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB2 di GITET


Bekasi, sehingga rel A, IBT 1 dan 2
bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan


2, selanjutnya bebani berkoordinasi
dengan dispatcher Region 1.
Gambar 44. Pemberian tegangan ke GITET
Bekasi dari GITET Cibinong
Alternatif 2, pemberian tegangan Pemberian tegangan ke GITET Bekasi dari GITET
melalui SUTET Cawang-Bekasi Cawang dilakukan melalui SUTET Cawang-
Bekasi.

Pengiriman tegangan melalui SUTET Cawang-


Bekasi :

a. Tutup Pmt 7B1 atau 7AB2 di


GITET Cawang, sehingga SUTET Cawang-
Bekasi bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B1 di GITET


Bekasi sehingga rel B bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB1 di GITET


Bekasi, sehingga rel A, IBT 1 dan 2
bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan


2, selanjutnya bebani berkoordinasi
dengan dispatcher Region 1.
4.3.5 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Cawang dari
Cawang GITET Cibinong dilakukan melalui SUTET
Muaratawar-Cawang atau melalui jalur SUTET
Bekasi-Cawang tergantung kesiapannya.

Pengiriman tegangan melalui SUTET Muaratawar


-Cawang :

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 39 dari 53


a. Tutup Pmt 7B1 atau 7AB1 di
GITET Muaratawar, berarti SUTET
Muaratawar-Cawang bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B1 di GITET


Cawang sehingga rel B bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB1 di GITET


Cawang, sehingga rel A, IBT 1 dan 2
bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 dan


2, selanjutnya dibebani berkoordinasi
dengan dispatcher Region 1.

Gambar 45. Pengiriman tegangan ke GITET


Cawang

4.3.6 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Mandirancan dari


Mandirancan GITET Bandung Selatan melalui SUTET Bandung
Selatan-Mandirancan sirkit 2 atau 1, yang
merupakan bagian dari rangkaian atau persiapan
pengiriman tegangan ke GITET Ungaran. Atur
lebih dahulu tegangan di GITET Bandung Selatan
sekitar 500 kV. Pemberian tegangan melalui
sirkit 2 dilaksanakan sebagai berikut :

a. Tutup PMT 7A4 atau 7B4 di


GITET Bandung Selatan, sehingga SUTET
Bandung Selatan–Mandirancan 2
bertegangan.
b. Tutup Pmt 7AB4 di GITET
Mandirancan, sehingga IBT bertegangan.
c. Tutup Pmt 150 kV IBT dan
bebani, berkoordinasi dengan dispatcher
Region 2.
d. Tutup Pmt 7B4 di GITET
Mandirancan sehingga busbar B
bertegangan.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 40 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

BANDUNG
SELATAN 1 2 1 2

A
a

a
B
1 2 3 4

1 2 1 2
Saguling Mandirancan

MANDIRANCAN
c
Future
A

d
B
1 2 3 4
2 1 1 2
Ungaran Bandung Selatan

Gambar 46. Pengiriman tegangan ke GITET


Mandirancan

4.3.7 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Ungaran dari


Ungaran GITET Mandirancan melalui SUTET Mandirancan-
MANDIRANCAN UNGARAN d Ungaran sirkit 2 atau 1, merupakan bagian
1 2
1
A A
pemulihan beban serta merangkai Subsistem 500
kV dengan Subsistem Jawa Tengah DIY.
b Pastikan reaktor 7R2 di GITET Ungaran sudah
terhubung ke SUTET Mandirancan.
a c
B B 2
Atur lebih dahulu tegangan di GITET
1 2 3 4 2 1 3 4 5
2 1 1 2 Pedan Sby Tj Jati B2 Mandirancan sekitar 500 kV. Pemberian
Barat
Ungaran Bandung Selatan Mandirancan 1 tegangan melalui sirkit 2 dilaksanakan sebagai
berikut :
Gambar 47. Pengiriman tegangan ke GITET
Ungaran
a. Tutup Pmt 7B1 di GITET
Mandirancan, sehingga SUTET
Mandirancan-Ungaran 2 bertegangan.

b. Tutup Pmt 7AB5 di GITET


Ungaran sehingga rel A bertegangan.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 41 dari 53


c. Tutup Pmt 7B5 sehingga rel B
bertegangan.

d. Sinkronisasi dengan
Subsistem Jawa Tengah DIY dilakukan di
Pmt 150 kV IBT.

4.3.8 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Tanjung Jati B


Tanjung Jati B dapat dilaksanakan melalui SUTET Ungaran-
Tanjung Jati B dari GITET Ungaran. Pemberian
tegangan dari GITET Ungaran melalui sirkit 2
dapat dilaksanakan sebagai berikut :

Atur tegangan di GITET Ungaran sekitar 490


kV.

a. Tutup Pmt 7B4 di GITET Ungaran


sehingga SUTET Ungaran - Tanjung Jati B
bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B1 di GITET Tanjung


Jati B sehingga busbar B bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB1 di GITET


Tanjung Jati B sehingga busbar A dan MTR
1 bertegangan.

d. Tutup Pmt 7A1 di GITET Tanjung


Jati B untuk penormalan diameter 1.

e. Start unit pembangkit yang siap


operasi dan Sinkronkan unit pembangkit ke
sistem dengan menutup Pmt Generator.

f. Tutup Pmt 7AB4 di GITET


Ungaran untuk penormalan diameter.
Gambar 48. Pengiriman tegangan ke GITET
Tanjung Jati B dari GITET
Ungaran
4.3.9 Pengiriman Tegangan ke GITET Pemberian tegangan ke GITET Pedan
Pedan dilaksanakan melalui SUTET Ungaran-Pedan dari
GITET Ungaran atau melalui SUTET Kediri-Pedan
dari GITET Kediri, merupakan bagian pemulihan
beban Subsistem Jawa Tengah DIY.

Alternatif 1, Pemberian tegangan Atur tegangan di GITET Ungaran sekitar 500 kV.
dari GITET Ungaran
a. Tutup PMT 7B2 atau 7AB2 di
GITET Ungaran, sehingga SUTET Ungaran-

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 42 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

UNGARAN
1 2 Pedan bertegangan.
1
A
b. Tutup Pmt 7AB1 di GITET
Pedan, sehingga IBT bertegangan.
a

a c. Tutup Pmt 150 kV IBT Pedan


B 2 dan bebani dengan berkoordinasi dengan
1 2 3 4 5
Region 3.
1 Sby 2
Mandirancan Barat Mandirancan
Tj Jati B

c
PEDAN
A

B
1 2 4 5 1
2
2 1
Kediri

Gambar 49. Pengiriman tegangan ke GITET


Pedan dari Ungaran

Alternatif 2, Pemberian tegangan Pengiriman tegangan ke GITET Pedan dari


dari GITET Kediri melalui sirkit 1 GITET Kediri dapat dilakukan melalui SUTET
Kediri-Pedan sirkit 1. Namun demikian dapat
1
dilakukan melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.
KEDIRI
A
Di GITET Pedan, pastikan bahwa Reaktor 7R1
terhubung ke SUTET arah Kediri 1.

a a. Atur tegangan di GITET Kediri


B
1 2 3 4
sekitar 490 kV dengan mengatur daya
reaktif unit pembangkit Paiton. Tutup Pmt
50 MW
1 2 2 1
7B1 di GITET Kediri.
d
PEDAN Pedan Paiton
A
b. Tutup Pmt 7B5 di GITET Pedan sehingga
SUTET Kediri - Pedan dan rel B GITET
c Pedan bertegangan.
b
B c. Tutup Pmt 7AB5 GITET Pedan sehingga rel
1 2 4 5 1
2 A dan IBT 1 GITET Pedan bertegangan.
Ungaran 2 1
Kediri

d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1 GITET Pedan dan


Gambar 50. Pengiriman tegangan ke GITET
Pedan dari Kediri bebani 50 MW.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 43 dari 53


4.3.10 Pengiriman Tegangan ke GITET Pengiriman tegangan ke GITET Kediri dari GITET
Kediri dari GITET Paiton Paiton dilakukan melalui SUTET Paiton - Kediri
sirkit 1. Namun demikian dapat pula dilakukan
melalui sirkit 2 bila sirkit 1 tidak siap.

Pengiriman tegangan melalui sirkit 1 : Di GITET Kediri, pastikan bahwa Reaktor 7R1
terhubung ke SUTET arah Paiton 1.

a. Atur tegangan di GITET


Paiton sekitar 490 kV dengan mengatur
daya reaktif unit pembangkit. Tutup Pmt
7B5 di GITET Paiton sehingga SUTET
Paiton-Kediri bertegangan.

b. Tutup Pmt 7B4 di GITET


Kediri sehingga rel B GITET Kediri
bertegangan.

c. Tutup Pmt 7AB4 GITET Kediri


sehingga rel A dan IBT 1 GITET Kediri
bertegangan.

d. Tutup Pmt 150 kV IBT 1


GITET Kediri dan bebani 50 MW.

Gambar 51. Pengiriman tegangan ke GITET


Kediri dari GITET Paiton

4.4 Menghubungkan Subsistem 500 Kegiatan merangkai atau interkoneksi antar


kV Dan Antar Region Region dimaksudkan untuk memulihkan sistem
Jawa Bali apabila masing-masing Region telah
berdiri sendiri sebagian atau seluruhnya.

Sedangkan pemberian tegangan antar Region


dimasudkan untuk memberi tegangan Region
yang gagal melakukan pemulihan di subsistem.

4.4.1 Menghubungkan Subsistem Kegiatan yang dilaksanakan:


500 kV Dengan Subsistem
Jakarta Banten a. Pengiriman tegangan ke

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 44 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

PLTU/GU Muarakarang dari GITET Gandul


apabila PLTU/GU Muarakarang gagal asut
atau gagal membangun sistem sendiri.

b. Pengiriman tegangan ke
PLTGU Priok dari GITET Bekasi apabila
PLTGU Priok gagal membangun sistem
sendiri.

c. Mensinkronkan subsistem 500


kV dengan Subsistem Jakarta Banten
(setelah Muarakarang membangun sistem
sendiri).

Seluruh kegiatan diatas dilakukan oleh dispatcher


Region 1 dan pelaksanaan lebih rinci tertuang di
dalam Pedoman Pemulihan Subsistem Jakarta
Banten.

4.4.2 Menghubungkan Subsistem Kegiatan yang dilaksanakan :


500 kV Dengan Subsistem
Jawa Barat a. Apabila Region 2 sudah
berhasil membangun Subsistem Jawa
Barat, maka segera paralel dengan
subsistem 500 kV melalui Pmt 150 kV IBT
di GITET Bandung Selatan.

b. Bila Subsistem Jawa Barat


tidak berhasil dibangun, GITET Bandung
Selatan mengirim tegangan ke Subsistem
Jawa Barat sesuai pedoman pemulihan.

Seluruh kegiatan di atas dilakukan oleh


dispatcher Region 2 berkoordinasi dengan
dispatcher UBOS.

4.4.3 Menghubungkan Subsistem Kegiatan yang dilaksanakan :


500 kV Dengan Subsistem Jawa
Tengah DIY a. Apabila Region 3 sudah
berhasil membangun Subsistem Jawa
Tengah DIY, maka segera paralel dengan
subsistem 500 kV yang memperoleh
tegangan melalui SUTET Mandirancan–
Ungaran atau Surabaya Barat-Ungaran
melalui Pmt 150 kV IBT di GITET Ungaran.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 45 dari 53


b. Bila Subsistem Jawa Tengah
DIY tidak berhasil dibangun, GITET
Ungaran mengirim tegangan ke Subsistem
Jawa Tengah DIY yang dilaksanakan oleh
Region 3 sesuai Pedoman Pemulihan.

4.4.4 Menghubungkan Subsistem Kegiatan yang dilaksanakan :


500 kV Dengan Subsistem
Jawa Timur Bali a. Apabila Region 4 sudah berhasil
membangun subsistem Jawa Timur Bali,
maka segera paralel dengan subsistem 500
kV yang memperoleh tegangan melalui
SUTET Ungaran-Surabaya Barat sirkit 1
atau 2 dengan menutup Pmt 150 kV IBT di
GITET Surabaya Barat.

b. Bila Subsistem Jawa Timur Bali tidak


berhasil dibangun, tegangan dikirim dari
GITET Surabaya Barat ke subsistem Jawa
Timur Bali, yang dilaksanakan oleh
dispatcher Region 4 sesuai Pedoman
Pemulihan.

4.4.5 Menghubungkan GITET Menghubungkan GITET Surabaya Barat dengan


Surabaya Barat Dengan GITET GITET Ungaran dilaksanakan dengan alternatif
Ungaran

Alternatif 1, melalui SUTET a. Tutup Pmt 7B3 di GITET


Ungaran–Surabaya Barat sirkit 1 Surabaya Barat, agar tegangan yang
dikirim dari GITET Ungaran dapat tampil
pada layar SCADA di Pusat Pengatur Beban
(UBOS).

b. Masukkan reaktor di GITET


Ungaran, sehingga tegangan di GITET
Ungaran tidak lebih dari 500 kV atau
berkisar 490 kV.

c. Tutup Pmt 7B3 di GITET


Ungaran sehingga SUTET Ungaran-
Surabaya Barat sirkit 1 dan rel B di GITET
Surabaya Barat bertegangan.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 46 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

d. Tutup Pmt 7A3 di GITET


Surabaya Barat sehingga rel A, IBT 1 dan
2 bertegangan.

e. Sinkronisasi subsistem 500 kV


dengan Subsistem Jawa Timur Bali
dilakukan dengan menutup Pmt 150 kV
IBT 1 di GITET Surabaya Barat,
berkoordinasi dengan dispatcher Region 4.

Alternatif 2, melalui SUTET a. Pastikan reaktor 7R2 di


Ungaran – Surabaya Barat sirkit 2 GITET Surabaya Barat sudah tersambung
dengan SUTET Ungaran sirkit 2.

b. Tutup Pmt 7B4 di GITET


Surabaya Barat, agar tegangan yang
dikirim dari GITET Ungaran dapat tampil
pada layar SCADA di Pusat Pengatur
Beban.

c. Masukkan reaktor di Ungaran,


sehingga tegangan di GITET Ungaran tidak
lebih 500 kV atau berkisar 490 kV.

d. Tutup Pmt 7B4 di GITET


Ungaran sehingga SUTET Ungaran-
Surabaya Barat sirkit 2 dan rel B di GITET
Surabaya Barat bertegangan.

e. Tutup Pmt 7AB4 di GITET


Surabaya Barat sehingga rel A, IBT 1 dan
2 bertegangan.

f. Sinkronisasi subsistem 500 kV


dengan Subsistem Jawa Timur Bali
dilakukan dengan menutup Pmt 150 kV
IBT 1 di GITET Surabaya Barat,
berkoordinasi dengan dispatcher Region 4.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 47 dari 53


5 PENUTUP
a) Semua perubahan konfigurasi sistem yang terjadi sebagai akibat dari pedoman pemulihan
harus secepat mungkin dikembalikan kedalam kondisi normal.
b) Bila terjadi penyimpangan-penyimpangan pada Pedoman Pemulihan Sistem Tenaga Listrik
Jawa Bali ini, masing-masing Pusat Pengatur Region dapat melakukan tindakan-tindakan
seperlunya setelah berkonsultasi dengan Pusat Pengatur Beban (UBOS).
c) Pedoman pemulihan masing-masing Region serta proses sinkronisasi antara subsistem
Region dengan jaringan 500 kV tercantum dalam Pedoman Pemulihan Subsistem bagi
masing-masing Region.
d) Hal-hal yang belum termasuk dalam pedoman ini akan ditentukan kemudian.
e) Semua Pedoman Pemulihan yang terdahulu yang bertentangan dengan makna dari Pedoman
Pemulihan Sistem Tenaga Listrik Jawa Bali ini dinyatakan tidak berlaku lagi.

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 48 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

KOSAKATA
Asut start
Asut gelap Black start
Blackout padam
Charging current Arus pemuatan
Dispatcher Pelaksana pengendali operasi
GI Gardu induk
GITET Gardu induk tegangan ekstra tinggi 500 kV
GT Gas turbine generator

Host load Unit pembangkit berbeban pemakaian sendiri


IBT Interbus transformer 500 kV/150 kV
Island operation Pembangkit terpisah dari sistem beroperasi dengan beban di
sekitarnya
Line charging Pemberian tegangan ke penghantar
PLTA Pusat Listrik Tenaga Air
PLTG Pusat Listrik Tenaga Gas
PLTGU Pusat Listrik Tenaga Gas Uap
PLTP Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi

PLTU Pusat Listrik Tenaga Uap


Pmt Pemutus tenaga (circuit breaker)
Pms Pemisah (disconnecting switch)
Pms tanah Earthing switch
Pusat Pengatur Beban Jawa Bali Control Centre (JCC) di UBOS
Pusat Pengatur Region Region Control Centre (RCC)
Region 1 Region Control Centre (RCC) Jakarta dan Banten (Cawang)
Region 2 Region Control Centre (RCC) Jawa Barat (Cigereleng)

Region 3 Region Control Centre (RCC) Jawa Tengah dan DIY (Ungaran)
Region 4 Region Control Centre (RCC) Jawa Timur dan Bali (Waru)
Rel Busbar, bus
SCADA Supervisory Control And Data Acquisition
SKTT Saluran kabel tegangan tinggi
SKLT Saluran kabel laut tegangan tinggi
Subregion Group switching centre (GSC)
ST Steam turbine generator
SUTT Saluran udara tegangan tinggi
SUTET Saluran udara tegangan ekstra tinggi 500 kV

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 49 dari 53


DAFTAR SIMBOL

SIMBOL ARTI / PENJELASAN


Generator

Transformator unit (MTR) dua belitan ke tegangan 500 kV

Transformator unit (MTR) tiga belitan ke tegangan 500 kV

Transformator unit (MTR) dua belitan ke tegangan 150 kV

Transformator unit (MTR) tiga belitan ke tegangan 150 kV

Transformator (IBT) 500 kV/150 kV dua belitan

Transformator (IBT) 500 kV/150/66 kV tiga belitan

Reaktor 66 kV

Reaktor 500 kV

SUTET 500 kV

SUTT / SKTT / SKLT 150 kV

SUTT / SKTT / SKLT 70 kV

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 50 dari 53


PT PLN (PERSERO) P3B UBOS
PEDOMAN PEMULIHAN No. Dokumen : UBOS/PED/OPSIS/R01/PPSJB
SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA BALI Berlaku Efektif : JANUARI 2007

SUTET/SUTT tidak bertegangan

Rel 500 kV

Rel 150 kV

Rel 70 kV

Rel tidak bertegangan

Pmt sisi tegangan generator terbuka

Pmt sisi tegangan generator tertutup

Pmt 70 kV terbuka

Pmt 70 kV tertutup

Pmt 150 kV terbuka

Pmt 150 kV tertutup

Pmt 500 kV terbuka

Pmt 500 kV tertutup

Pmt 500 kV / 150 kV terbuka tidak bertegangan

Pmt 500 kV / 150 kV tertutup tidak bertegangan

Edisi : 02 Revisi: 02 Halaman 51 dari 53