Anda di halaman 1dari 26

HASIL LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM PENGOPERASIAN, PENGOPTIMALAN, PERENCANAAN IPAL DI LABORATORIUM LINGKUNGAN POLITEKNIK AKA BOGOR

IPAL DI LABORATORIUM LINGKUNGAN POLITEKNIK AKA BOGOR Disusun oleh : Kelompok 3 Herman Fernando LG (1015280)

Disusun oleh :

Kelompok 3 Herman Fernando LG

(1015280)

Mudafar B Muhamad

(1015286)

Rona Safiera Aden

(1015294)

Tri Putri Nurlian

(1015298)

Wahyu Indriyati

(1015299)

KEMENTRIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK AKA BOGOR

2017

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

i

BAB I PENDAHULUAN

 

1

1.1. Latar Belakang

 

1

1.2. Rumusan Masalah

 

1

1.3. Tujuan

 

1

BAB II METODOLOGI

 

2

2.1. Waktu dan Tempat

 

2

2.2. Cara Kerja

 

2

BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

5

3.1. Kondisi IPAL Politeknik AKA Bogor

 

5

3.2. Data Pengamatan dan pembahasan

 

7

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

 

14

4.1. Kesimpulan

 

14

4.2. Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

 

15

LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

IPAL di laboratorium lingkungan Politeknik AKA Bogor ini terdiri dari bak ekualisasi, bak koagulasi, bak sedimentasi awal, bak aerasi, dan bak sedimentasi

akhir. Yang mana pada percobaan kali ini mengenai pengolahan IPAL pada laboratorium lingkungan dengan parameter yang akan diuji yaitu pH, suhu, penetapan debit, kekeruhan, kebutuhan oksigen kimia, pH optimum dan dosis optimum. Pengolahan ini memerlukan teknologi-teknologi yang mampu menurunkan zat-zat ataupun senyawa sehingga memenuhi baku mutu lingkungan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.

Bagaimana menganalisis kondisi dan proses IPAL di laboratorium lingkungan Politeknik AKA Bogor berdasarkan penelitian menggunakan teknik yang sesuai?

2.

Apakah analisis IPAL yang akan dilakukan tersebut sudah menggunakan alat yang sesuai?

3.

Bagaimana implementasi Peraturan Menteri LH No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah?

1.3

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

Menganalisis kondisi IPAL di laboratorium lingkungan Politeknik AKA Bogor sudah berjalan dengan baik apa belum;

Menganalisis parameter yang telah ditentukan menggunakan alat yang sesuai;

Mengetahui implementasi Peraturan Menteri LH No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah;

BAB II METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat Observasi dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2017 pukul 10.00 WIB di IPAL

Laboratorium Lingkungan Politeknik AKA Bogor.

2.2 Cara Kerja

2.2.1 Penetapan pH pada Instalasi Pengolahan Air Limbah

Ambil contoh air limbah cair dari bak menggunakan gelas piala

Ukur pH dengan kertas pH universal

Bandingkan dengan skala warna pH

2.2.2 Inlet(ekualisasi) Uji Jartes pada sampel air bak inlet

a.

Penetapan pH optimum

Isi 6 buah gelas piala 500 mL dengan contoh sebanyak 500 mL

Atur pH masing-masing gelas piala 5,6,7,8,9,10

Bubuhi tiap gelas dengan flokulan dan koagulan dengan jumlah yang sama(1 tetes)

Tempatkan pada alat jartes lalu turunkan pengaduk dan nyalakan lampu penerang

Putar pengaduk cepat selama 1 menit (80rpm)

Turunkan rpm putaran menjadi 20rpm selama 15 menit

Hentikan putaran dan angkat pengaduk. Biarkan selama 1 menit

Ukur kekeruhan tiap masing-masing gelas piala menggunakan turbidimeter

b.

Penentuan dosis optimum

Isi 6 buah gelas piala 500mL dengan limbah cair sebanyak 500 mL

Atur pH masing-masing piala gelas sesuai dengan pH optimum

Bubuhi piala gelas dengan PAC antara 1-6 tetes

Tempatkan pada alat jartes, lalu turunkan pengaduk dan nyalakan lampu penerang

Putar pengaduk cepat selama 1 menit (80rpm)

Turunkan putaran menjadi 20rpm selama 15 menit

Hentikan dan angkat pengaduk biarkan 15 menit

Ukur kekeruhan masing-masing gelas piala dengan turbidimeter

2.2.3 Uji kekeruhan air limbah pada unit IPAL

Mengkalibrasi alat terlebih dahulu, kemudian cuci dan bilas kuvet

Masukkan sampel ke kuvet

Melakukan pengukuran dengan menyelaraskan nilai pengukuran dengan cara memutar tombol nilai tertera pada layar sesuai nilai standar

2.2.4 Pengukuran suhu pada unit IPAL

Termometer dimasukkan kedalam bak ekualisasi dan outlet dengan membelakangi sinar matahari

Skala termometer ditunggu sampai stabil

Nilai suhu dibaca pada skala termometer

Cek suhu udara

Bandingkan suhu udara dengan suu air limbah

2.2.5 Penetapan kadar COD dalam air limbah

a.

Standarisasi FAS

Timbang 0.0245 gram K 2 Cr 2 O 7 dengan erlenmeyer dan larutkan dengan air suling

Tambahkan 10 mL H 2 SO 4 . Dinginkan lalu tambah 4 tetes indikator feroin

Titrasi dengan FAS 0.02 N

Titik akhir dari warna hijau biru menjadi merah kecoklatan

b.

Penetapan COD

Tambahkan 2 mL contoh, K 2 Cr 2 O 7, dan Ag 2 SO 4. H 2 SO 4 ke tabung ulir

Panaskan didalam COD reaktorpada suhu 180 o c selama 30-60 menit. Lalu dinginkan dan tuangkan ke erlenmeyer

Tambahkan 4 tetes indikator feroin

Titrasi dengan FAS 0.02 N

Titik akhir dari warna hijau biru menjadi merah kecoklatan

c.

Blanko

Tambahkan 2 mL aquadest, K 2 Cr 2 O 7, dan Ag 2 SO 4. H 2 SO 4 ke tabung ulir

Panaskan didalam COD reaktorpada suhu 180 o c selama 30-60 menit. Lalu dinginkan dan tuangkan ke erlenmeyer

Tambahkan 4 tetes indikator feroin

Titrasi dengan FAS 0.02 N

Titik akhir dari warna hijau biru menjadi merah kecoklatan Pengamatan, Penentuan Debit limbah cair, dan Penentuan waktu tinggal limbah cair unit IPAL Politeknik AKA Bogor

2.2.6

a.

Pengamatan IPAL

Amati unit-unit IPAL, Ukur dimensi ruang IPAL, dan Buat sketsa unit-unit IPAL

b.

Penentuan Debit

Gelas piala yang berisi 250 ml diisi dengan air limbah yang berasal dari bak koagulasi dan bak outlet

Catat waktu untuk mengisi piala gelas 250 ml dan hitung debit air limbah

c.

Penentuan waktu tinggal

Tentukan volume setiap bak pengolahan air limbah

Hitung waktu tinggal dan tetapkan

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi IPAL Politeknik AKA Bogor Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Politeknik AKA Bogor merupakan suatu proses pengolahan yang dipergunakan untuk mereduksi kadar bahan kimia pada air limbah yang berasal dari kegiatan-kegiatan laboratorium. IPAL tersebut terdiri atas beberapa perlakuan yang dikelompokkan pada berbagai pengolahan yaitu pra-pengolahan berupa bak ekualisasi, pengolahan pertama berupa bak koagulasi dan sedimentasi 1, pengolahan primer berupa bak aerasi serta pengolahan tersier berupa bak sedimenrasi 2 dan bak kontrol.

3.1.1 Bak Ekualisasi

Bak Ekualisasi merupakan bak pengumpulan air limbah. Bak ini bertujuan untuk menyeragamkan debit dan karakteristik air limbah menjadi satu kesatuan. Bak ekualisasi Politeknik AKA Bogor terdiri dari dua bak silinder yang ditutupi oleh seng sebagai pelindung untuk menghindari masuknya kotoran atau faktor lingkungan lain yang mempengaruhi air limbah.

atau faktor lingkungan lain yang mempengaruhi air limbah. Gambar 3.1.1 Bak Ekualisasi 3.1.2 Bak Koagulasi Bak

Gambar 3.1.1 Bak Ekualisasi

3.1.2

Bak Koagulasi Bak Koagulasi bertujuan untuk menghilangkan zat

Koagulasi Bak Koagulasi bertujuan untuk menghilangkan zat Gambar 3.1.2 Bak Koagulasi terlarut dan padatan tersuspensi

Gambar 3.1.2 Bak Koagulasi

terlarut dan padatan tersuspensi melalui pembentukan flok-flok hasil proses pengadukan koagulan terhadap air limbah. Bak koagulasi Politeknik AKA Bogor memiliki bentuk silinder dengan mesin pengaduk yang dipasang pada bagian atasnya.

3.1.3

Bak Sedimentasi 1

Flok yang telah terbentuk pada bak koagulasi akan dialirkan masuk ke bak sedimentasi 1 untuk diendapkan sebagai lumpur. Bak Sedimentasi Politeknik AKA Bogor pada bagian dalam didesain dengan beberapa sekat memiliki posisi miring sehingga flok yang terbentuk turun menuju arah pipa inlet lumpur pada bagian bawah bak.

3.1.4 Bak Aerasi

Bak Aerasi bertujuan untuk melakukan pengolahan penurunan parameter utama didalam air limbah Politeknik AKA Bogor. Bak aerasi ini, pada bagian bawahnya diberikan aerator untuk menyuplai sejumlah oksigen dalam proses pengolahannya.

3.1.5 Bak Sedimentasi 2

Lumpur yang terbentuk pada proses aerasi akan diendapkan pada bak sedimentasi 2 melalui prinsip perbedaan bobot jenis dan gravitasi. Bak sedimentasi 2 Politeknik AKA Bogor berbeda dengan bak sedimentasi 1 dimana dimensi bak ini lebih kecil dari bak sedimentasi sebelumnya.

dimensi bak ini lebih kecil dari bak sedimentasi sebelumnya. Gambar 3.1.3 Bak Sedimentasi 1 Gambar 3.1.4

Gambar 3.1.3 Bak Sedimentasi 1

bak sedimentasi sebelumnya. Gambar 3.1.3 Bak Sedimentasi 1 Gambar 3.1.4 Bak Aerasi Gambar 3.1.5 Bak Sedimentasi

Gambar 3.1.4 Bak Aerasi

Gambar 3.1.5 Bak Sedimentasi 2
Gambar 3.1.5 Bak Sedimentasi 2

3.1.6 Bak Outlet

Bak outlet Politeknik AKA Bogor berfungsi sebagai bak pemantau dimana hasil pengolahan air limbah perlu dicek ulang untuk memastikan bahwa air limbah yang dihasilkan sesuai dengan baku mutu lingkungan. Pada bak ini telah dilengkapi dengan jaring-jaring pada bagian atasnya yang bisa dibuka-tutup.

Pemasangan jaring bertujuan untuk menghalangi jatuhnya dedaunan dan dahan pohon kedalam bak outlet.

3.2. Data Pengamatan dan Pembahasan Adapun parameter-parameter pengujian yang dilakukan yaitu :

Parameter In situ : pH, suhu, debit dan waktu tinggal

Parameter Exsitu : Kekeruhan dan COD

a. Pengukuran Suhu dan pH Hasil pengukuran suhu dan pH IPAL Politeknik AKA dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

No

 

Suhu( 0 C)

 

Inlet

Sedimentasi

Outlet

Udara

1.

29,3

29,0

28,0

28,5

2.

29,0

29,3

28,3

29,0

3.

29,0

29,5

28,5

29,0

x

29,1

29,3

28,3

28,8

Tabel 1. Suhu

No

 

pH

Inlet

Sedimentasi

Outlet

1.

6

7

7

2.

6

7

7

3.

6

7

7

x

6

7

7

Tabel 2. pH

Dalam praktikum ini pengukuran suhu dilakukan di bak inlet, sedimentasi, outlet dan suhu udara. Pengukuran suhu udara berfungsi sebagai pembanding antara suhu air limbah dengan suhu udara yang ada di lingkungan IPAL. Dengan hasil pengukuran suhu masing masing yaitu 29,1°C di bak inlet, 29,3°C di bak sedimentasi, 28,1°C di bak outlet dan 28,8°C pada suhu udara. Berdasarkan analisis suhu menunjukkan bahwa suhu air limbah pada bak inlet, bak sedimentasi dan bak outlet telah memenuhi baku mutu lingkungan menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah, dimana suhu maksimum pada pengolaha IPAL sebesar 38°C. Selanjutnya pH, nilai pH suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. Pengukuran pH dilakukan di bak inlet, sedimentasi dan outlet masing masing sebesar pH 6, pH 7, dan pH 7. Pengukuran pH penting dilakukan pada air

limbah, disebabkan air limbah dalam suasana asam dapat menyebabkan kandungan oksigen terlarut akan berkurang dan terjadi pembentukan kerak, serta korosi dalam bak air limbah. Berdasarkan data penentuan pH menunjukkan bahwa air limbah yang dihasilkan bisa langsung dibuang ke lingkungan karena telah memenuhi baku mutu lingkungan menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah, dengan pH air limbah yang dihasilkan yaitu pH 7. Dimana baku mutu lingkungan (BML) untuk air limbah sebesar pH 6-9.

b. Pengukuran Debit Berikut hasil pengukuran debit limbah di IPAL Politeknik AKA dapat dilihat

pada Tabel 3 dan Tabel 4.

 

No.

Volu

Waktu

Debit

 

me

(s)

(mL/s)

(mL)

 

1.

250

2,84

88,02

 

2.

250

2,79

89,60

 

3.

250

2,81

88,96

Rata-Rata

 

88,86

 

Tabel 3. Debit Outlet

 

No.

Volu

Waktu

Debit

me

(s)

(mL/s)

(mL)

1.

250

2,37

105,48

2.

250

2,31

108,22

3.

250

2,46

101,62

Rata-Rata

 

105,10

Tabel 4. Debit Koagulasi

Pada praktikum yang telah dilakukan, pengukuran debit dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan gelas piala dan stopwatch. Pengukuran debit dilakukan di bak koagulasi dan bak outlet. Berdasarkan hasil pengukuran, debit pada bak koagulasi sebesar 9,08 m 3 /hari sedangkan pada bak outlet sebesar 7,67 m 3 /hari. Setelah debit diketahui, maka waktu tinggal dapat ditentukan. Waktu tinggal digunakan untuk menentukan volume bak pengolahan untuk mengindari terjadinya overload air limbah pada suatu bak pengolahan. Dari hasil praktikum, diperoleh waktu tinggal pada bak koagulasi yaitu 0,026 hari atau 37 menit 26,4 detik, pada bak sedimentasi 1 yaitu 0,104 hari atau 2 jam 29 menit 45,6 detik, pada bak aerasi yaitu 0.104 hari atau 2 jam 29 menit 45,6 detik, dan bak sedimentasi 2 yaitu 0.045 hari atau 1 jam 4 menit 48 detik. Sehingga diperoleh waktu tinggal total bak yaitu 0,279 hari atau 6 jam 41 menit 45,6 detik.

c. Penetapan Kadar COD Hasil standarisasi dan penetapan kadar COD dari limbah di IPAL Politeknik AKA dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6.

No

Massa

Indikator

 

Volume

 

N FAS

Perubahan warna

(g)

(ml)

(mgrek/ml)

1.

0,0247

 

Ferroin

 

24,20

 

0,0208

Jingga > kuning gelap> kuning kehijauan> hijau bening > hijau kebiruan > biru > merah kecoklatan

2.

0,0246

 

Ferroin

 

24,47

 

0,0205

Jingga > kuning gelap> kuning kehijauan> hijau bening > hijau kebiruan > biru > merah kecoklatan

Tabel 5. Standarisasi FAS dengan K 2 Cr 2 O 7 0,02 N

 

No.

Volume

Volume

Volume

Indikator

Perubahan warna

blanko

Inlet

Outlet

(ml)

(ml)

(ml)

 

1. 6,13

5,80

6,05

Ferroin

hijau kebiruan > biru > merah kecoklatan

 

2. 6,13

6,00

6,10

Ferroin

hijau kebiruan > biru > merah kecoklatan

Tabel 6. Kadar COD

Pada praktikum ini dilakukan pengujian kadar COD pada bak inlet dan outlet dengan faktor pengencer 10x dan 50x. Kadar COD dengan pengenceran 10x pada bak inlet sebesar 271,92 ppm dan pada bak outlet yaitu 65,92 ppm. Untuk kadar COD dengan faktor pengencer 50x pada bak inlet sebesar 535,6 ppm dan pada bak outlet yaitu 123,6 ppm. Sehingga didapatkan efisiensi pengolahan air limbah berdasarkan kadar COD yang didapatkan pada bak inlet dan outlet dengan faktor pengencer 10x sebesar 75,75% sedangkan dengan faktor pengencer 50x sebesar 76,92%. Perbedaan efisiensi pengolahan air limbah dengan faktor pengencer 10x dan 50x ini, disebabkan karena pembacaan tanda tera pada saat pengambilan sampel kurang teliti, penuangan sampel setelah proses COD reaktor yang tidak

masuk secara keseluruhan dalam erlenmeyer karena tidak dilakukan pembilasan dengan aquabidest pada tabung ulir sehingga sampel masih ada yang tersisa di dalam tabung ulir, serta pembacaan volume titran yang kurang tepat. Sehingga kadar COD pada bak outlet dengan faktor pengencer 10x memenuhi baku mutu lingkungan, sedangkan kadar COD dengan faktor pengencer 50x tidak memenuhi baku mutu lingkungan menurut Permen LH No.05 Tahun 2014 golongan I, dimana kadar COD maksimum sebesar 100 ppm. Pemilihan golongan I untuk dijadikan kriteria pemenuhan baku mutu lingkungan karena hasil pengolahan pada bak inlet kadar COD nya < 3000 ppm.

d. Penetapan pH Optimum dan Dosis Koagulan Berikut hasil pengujian pH optimum dan dosis koagulan dalam pengujian

jartest dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

Jenis

Parameter

 

Konsentrasi

 

pH

 

Koagulan

Koagulan

             

Analisis

(tetes)

5

6

7

8

9

10

PAC

Turbidimeter

 

1 Tetes

85,2

90,2

71,2

73,1

75,1

107

 

NTU

NTU

NTU

NTU

NTU

NTU

Tabel 7. pH optimum

 

Jenis

Parameter

     

Konsentrasi Koagulan (tetes)

 

Koagulan

Analisis

pH

 

1

 

2

 

3

 

4

5

6

 

Turbidimeter

   

31,8

 

26,1

 

29,1

 

22,7

4,79

3,24

PAC

7

NTU

NTU

NTU

NTU

NTU

NTU

Tabel 8. Dosis Koagulan Optimum

Praktikum jartest ini mempunyai tujuan yaitu untuk menentukan dosis optimum koagulan yang ditambahkan untuk menggumpalkan partikel kecil dalam air limbah. Jenis koagulan yang digunakan yaitu Poly Alumunium Chloride (PAC). Limbah yang telah di koagulasi didiamkan selama 30 menit, agar flokulan yang

terbentuk mengendap sempurna. Kemudian, dilakukan pengukuran kekeruhan menggunakan turbidimeter. Berdasarkan percobaan, diperoleh pH optimum yaitu pH 7 dengan tingkat kekeruhan sebesar 71,2 NTU. Setelah pH optimum ditetapkan, maka dosis optimum PAC. Dapat dilihat adanya pengaruh dari variasi konsentrasi koagulan terhadap tingkat kekeruhannya. Dimana pH optimum menghasilkan nilai kekeruhan terkecil yaitu 3,24 NTU dengan penambahan 6 tetes koagulan. Hal ini menunjukkan bahwa pada bak ekualisasi kondisi optimum yaitu pada pH 7 dengan penambahan PAC sebanyak 6 tetes per 500 mL air limbah agar flok yang dihasilkan dapat mengendap sempurna.

e. Pengukuran Kekeruhan Berikut hasil pengukuran kekeruhan dengan turbidimeter dapat dilihat pada Tabel 9.

No.

Inlet(NTU)

Sedimentasi(NTU)

Outlet (NTU)

 

1 32,2

18,3

11.2

 

2 30,8

15,6

11,0

 

3 39,1

16.5

11,1

Rata-rata

34,1

16,8

11,1

Tabel 9. Kekeruhan (NTU)

Pada penelitian ini, mengalami penurunan tingkat kekeruhan dari proses inlet, sedimentasi dan otlet. Dengan penurunan tingkat kekeruhannya yaitu 34,1 NTU pada proses inlet, 16,8 NTU pada proses sedimentasi, dan 11,1 NTU pada proses outlet. Rendahnya nilai kekeruhan yang diperoleh menunjukkan bahwa air limbah yang dihasilkan setelah proses pengolahan sedimentasi menjadi bening atau tidak keruh, sehingga baik untuk lingkungan yang dipengaruhi oleh berkurangnya koloid dan total padatan tersuspensi lainnya. Sehingga pengoperasian IPAL Politeknik AKA Bogor memiliki efisiensi yang baik di setiap prosesnya.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari setiap parameter yang diuji dihasilkan nilai yang memenuhi Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Industri menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.05 Tahun 2014. Untuk parameter COD, didapatkan efisiensi pengolahan air limbah berdasarkan kadar COD yang didapatkan pada saat inlet dan outlet dengan faktor pengencer 10x sebesar 75,75% sedangkan efisiensi pengolahan air limbah dengan faktor pengencer 50x sebesar 76,92%. Kadar COD pada outlet dibandingkan dengan baku mutu lingkungan Permen LH No.05 Tahun 2014 dimana pada kelas II kadar COD maksimum yakni sebesar 300 ppm. Sehingga proses pengolahan air limbah pada IPAL Politeknik AKA Bogor masih memenuhi baku mutu lingkungan.

5.2. Saran

Adapun saran perbaikan untuk IPAL Politeknik AKA yaitu :

1. Melakukan perawatan pada alat-alat pengujian, dan terutama pada bak-bak IPAL. 2. Melakukan pengecekan secara berkala pada kualitas air hasil olahan. 3. Mempunyai operator yang ahli dalam melakukan perawatan dan pengoperasian IPAL. 4. Mempunyai analis yang kompeten untuk memantau dan menganalisis jalannya IPAL.

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.5 tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Usaha dan/atau Kegiatan Pelayanan Kesehatan

N.Iskandar,Tony. Pengelola Instalasi Air Limbah Politeknik AKA.Bogor.

Sugiharto, 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI-PRESS Jakarta

Asmadi, Suharno., 2012, Dasar-dasar Teknologi Pengolahan Air Limbah, Goysen Publishing, Yogyakarta

LAMPIRAN

Lampiran1:PERHITUNGAN

1. Penentuan Kadar COD

a. Standardisasi FAS dengan K 2 Cr 2 O 7

Bobot K2Cr2O7

=NFAS

x

BEK 2 Cr 2 O 7

x

VK 2 Cr 2 O 7

yg ditimbang

=0,02

mgrek/mL x 49 mgram/mgrek x 25 mL

=24,5mg

 

=

0,0245 gram

N

FAS (1)

=

 

=

=

0,0208 mgrek/mL

 

FAS (2)

 

N

=

 

=

=

0,0205 mgrek/mL

RPD

=

=

=

1,45%

N

FAS rata-rata

=

 

=

0,0206 mgrek/mL

b. Penetapan Sampel Volume FAS untuk Blanko

=6,13mL

Volume FAS untuk Inlet fp10x

= 5,80mL

Volume FAS untuk Outlet fp10x

=6,05Ml

Volume FAS untuk Inlet fp50x Volume FAS untuk Outlet fp50x

= 6,00 mL = 6,10 mL

Kadar COD fp10x

Kadar COD inlet = (

)

x 1000 mL/L

 

(

)

x 1000 mL/L

=

=

27,192 mg/L

 

Kadar COD inlet dlm sampel

= Kadar COD inlet x fp

= 27,192 mg/L x 10

= 271,192 mg/L

Kadar COD outlet = (

)

x 1000 mL/L

 

(

)

x 1000 mL/L

=

=

6,592 mg/L

Kadar COD inlet dlm sampel

= Kadar COD inlet x fp

 

=

6,592 mg/L x 10

=

65,92 mg/L

Kadar COD fp50x

 

Kadar COD inlet = (

 

)

x 1000 mL/L

 
 

(

)

x 1000 mL/L

=

=

10,712 mg/L

 

Kadar COD inlet dlm sampel

= Kadar COD inlet x fp

= 10,712 mg/L x 50

= 535,6 mg/L

Kadar COD outlet = (

)

x 1000 mL/L

 

(

)

x 1000 mL/L

=

=

2,472 mg/L

Kadar COD outlet dlm sampel= Kadar COD outlet x fp

Efisiensi Penurunan COD

Efisiensi dengan fp10x

Efisiensi dengan fp50x

= 2,472 mg/L x 50

= 123,6 mg/L

=

=

x 100 %

(

)

x 100 %

= 75,75 %

=

=

x 100 %

(

)

x 100 %

= 76,92 %

2. Penentuan Debit dan Waktu Tinggal

Debit =

Debit Koagulasi

Ulangan 1 =

Ulangan 2 =

Ulangan 3 =

Debit rata-rata

= (

Konversi Debit

= 105,48 mL/detik

= 108,22 mL/detik

= 101,63 mL/detik

)

= 105,11 mL/detik

= 105,11 mL/detik x

= 9,08 m 3 /hr

Debit Outlet

Ulangan 1 =

Ulangan 2 =

Ulangan 3 =

Debit rata-rata

= (

Konversi Debit

 

=

Debit Akhir

=

(

=

=

Volume IPAL

= 88,02 mL/detik

= 89,60 mL/detik

= 88,96 mL/detik

)

= 88,86 mL/detik

= 88,86mL/detik x

7,67 m 3 /hr

)

8,37 m 3 /hr

V

Bak Koagulasi (Circular)= V silinder + V kerucut

 

=

=

3,14.(0,25m) 2 .1m +

.3,14.(0,25m) 2 . 0,36m

=

0,196m 3 + 0,024m 3

=

0,22 m 3

 

V

Bak Sedimentasi 1 (Balok)

= p x l x t

 

=

1,139m x 0,6m x 1,275m

=

0,87 m 3

V

Bak aerasi (Balok)

= p x l x t

 
 

=

1,139m x 0,6m x 1,275m

=

0,87 m 3

V

Bak Sedimentasi 2 (Balok)

= p x l x t

 

= 0,587m x 0,515m x 1,275m

V Bak Total Bak

= 0,38 m 3

= V Bak Koagulasi + V Bak Sedimentasi 1 + V Bak Aerasi + V Bak Sedimentasi 2

 

=

0,22 m 3 + 0,87 m 3 + 0,87 m 3 + 0,38 m 3

=

2,34 m 3

Waktu Tinggal ( T )

=

T

Bak Koagulasi

=

 

=

0,026hari atau 37 menit 26,4 detik

T

Bak Sedimentasi 1

=

 

=

0,104 hari atau 2jam 29menit 45,6 detik

T

Bak Aerasi

=

 

=

0,104 hari atau 2jam 29menit 45,6 detik

T

Bak Sedimentasi 2

=

 

=

0,045 hari atau 1jam 4 menit 48 detik

Waktu Tinggal Total Bak = T Bak Koagulasi + T Bak Sedimentasi 1 +

T Bak Aerasi + T Bak Sedimentasi 2

= 0,026hari + 0,104 hari + 0,104 hari + 0,045 hari

= 0,279 hari atau 6jam 41menit 45,6detik

3.

Penentuan pH optimum dan dosis koagulan

Untuk

menurunkan

tingkat

kekeruhan

sampel

pH

optimum

yang

digunakan

ialah pH 7 sedangkan dosis koagulan yang digunakan ialah :

Penentuan dosis koagulan

= 6 tetes x = 0,3 ml ( dosis untuk 500 ml), kebutuhan PAC untuk 1 L

yaitu:

=

=

Kebutuhan PAC dalam sehari yaitu :

=

x

x

= 5448 ml/hari = 5,448 L/hari

Lampiran2:BAKU MUTU LINGKUNGAN

Lampiran2:BAKU MUTU LINGKUNGAN

Lampiran3:DESAIN IPAL POLITEKNIK AKA BOGOR

Keterangan : A. Bak Koagulasi B. Bak Sedimentasi 1 C. Bak Aerasi D. Bak Sedimentai
Keterangan :
A. Bak Koagulasi
B. Bak Sedimentasi 1
C. Bak Aerasi
D. Bak Sedimentai 2

Lampiran4:FOTO PRAKTIKUM

Penentuan pH dan Dosis Optimum Koagulan pada Jartest Penetapan Kekeruhan menggunakan Turbidimetri
Penentuan pH dan Dosis Optimum
Koagulan pada Jartest
Penetapan Kekeruhan menggunakan
Turbidimetri

Pengampilan Sampling dari Bak Ekualisasi

Penetapan Nilai COD metode Titrasi

Penentuan nilai pH air limbah

Nilai COD metode Titrasi Penentuan nilai pH air limbah Kondisi Eksisting IPAL Politeknik AKA Bogor Penentuan

Kondisi Eksisting IPAL Politeknik AKA Bogor

Titrasi Penentuan nilai pH air limbah Kondisi Eksisting IPAL Politeknik AKA Bogor Penentuan Debit Air Limbah

Penentuan Debit Air Limbah pada IPAL