Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH GASIBU TERHADAP MANUSIA DAN

LINGKUNGAN SEKITARNYA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Arsitektur II

MAKALAH

Oleh:
AMAKARELIA TANDI SERU MATASAK
21.2016.221

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan nikmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “Pengaruh Lapangan Gasibu Terhadap Lingkungan Sekitarnya”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori
Arsitektur II. Diharapkan makalah ini dapat membantu pembaca untuk lebih mengerti
bagaimana pengaruh suatu benda, alam, dan lingkungan saling terkait terhadap
lingkungan sekitarnya.
Kami sangat menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan dan jauh dari
kata sempurna, sehingga kritik dan saran dari pembaca sangat penulils perlukan untuk
memperbaiki makalah yang akan dibuat berikutnya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam
proses pembuatan makalah ini, baik yang memberikan dukungan moril maupun dukungan
materil.

Penuis

Amakarelia Tandi Seru Matasak


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa
dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling
sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara
turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian –
kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Definisi Kebudayaan itu
sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi
sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam
kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga
dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, bahasa dan arsitektur
merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan. Hubungan
kedudayaan manusia, salah satunya dengan arsitektur. Arsitektur sebagai unsur
kebudayaan merupakan salah satu bentuk bahasa nonverbal manusia. Arsitektur
itu sendiri dapat dipahami melalui wacana keindahan, sebab dari sanalah akan
muncul karakteristiknya. Arsitektur disuatu daerah mempunyai ciri khasnya
sendiri dibanding daerah lain karena dipengaruhi kebudayaan yang berkembang,
contohnya rumah gadang di sumatera barat berbeda dengan rumah joglo di jawa
tengah.
1.2. Rumusan masalah
- Bagaimana pengaruh Gasibu terhadap manusia dan lingkungan
disekitarnya
- Bagaimana hubungan manusia, alam, dan benda (arsitektur) yang terdapat
di gasibu
1.3. Tujuan
- Mengetahui pengaruh Gasibu terhadap manusia dan lingkungan
disekitarnya
- Mengetahui hubungan manusia, alam, dan benda (arsitektur) yang terdapat
di Lapangan gasibu.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Manusia, alam, dan arsitektur


2.2.1 Pengertian manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens”
(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi
(mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah
konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus)
atau seorang individu Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia
merupakan suatu organisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan,
setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika,
tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang
bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh kaena itu
ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu
tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi
kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan
untuk hidup. Manusia dengan kebudayaan merupakan dua hal yang saling
berhubungan satu sama lain. Keduanya disatukan dalam satu ikatan, yang tidak
bisa lepas sampai manusia itu mati atau sebuah kebudayaan lenyap tanpa
keberadaan manusia untuk melestarikannya. Karena tanpa ada manusia
kebudayaan tidak akan berkembang dan disamping itu peranan pokok manusia
dalam kebudayaan yaitu melestarikannya.
2.2.2 Pengertian Alam
Alam mencakup segala materi hidup dan materi bukan hidup yang berada
secara alami dibumi. Dalam pengertiannya yang paling murni, alam adalah
lingkungan yang tanpa kegiatan manusia. Alam semesta termasuk bumi seisinya
adalah ciptaan Tuhan dan diciptakan dalam keseimbangan, proporsional dan
terukur atau mempunyai ukuran-ukuran, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Bumi yang merupakan planet di mana manusia tinggal dan melangsungkan
kehidupannya terdiri atas berbagai unsur dan elemen dengan keragaman yang
sangat besar dalam bentuk, proses dan fungsinya. Berbagai unsur dan elemen
yang membentuk alam tersebut diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia
dalam menjalankan kehidupannya di muka bumi, sekaligus merupakan bukti ke
Mahakuasaan dan Kemahabesaran Sang Pencipta dan Pemelihara alam.
2.2.3 Arsitektur
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian
yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan
lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan
perkotaan,arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain
perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses
perancangan tersebut. Arsitektur sebagai unsur kebudayaan merupakan salah satu
bentuk bahasa nonverbal manusia, alat komunikasi manusia nonverbal ini
mempunyai nuansa sastrawi dan tidak jauh berbeda dengan sastra verbal.
Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana keindahan, sebab dari
sanalah akan muncul karakteristiknya. Dan menurut Amos Rappoport (1981) :
Arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia yang lebih dari sekedar fisik, tapi
juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini meliputi tata atur
kehidupan sosial dan budaya masyarakat, y ang diwadahi dan sekaligus
mempengaruhi arsitektur.

2.2. Gasibu Bandung


Gasibu di jalan Diponegoro
tepat berada di seberang Gedung
Sate, Bandung Jawa Barat. Setelah
Pemprov Jawa Barat melakukan LAPANGAN
revitalisasi gasibu dengan GASIBU

mengembalikan ke fungsi awal.


Fungsi Gasibu adalah merupakan
sarana olahraga rekreasi bagi
masyarakat bandung dan kini juga
telah dilengkapi dengan fasilitas
modern seperti jogging track,
musolah, perpustakaan, toilet. Bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya,
sebelumnya kawasan ini lebih dikenal sebagai area “sogo” alias shoping jongkok
yang pada setiap hari minggu dulu tempat ini merupakan salah satu tempat favorit
untuk belanja dengan harga yang sangat terjangkau.
Area lapangan ditanami rumput dengan Jogging track berwarna putih biru.
Selain itu ada taman air mancur
yang mulai jadi tempat selfie favorit
wisatawan. Teknik air mancur Dry
musical fountain di Lapangan
Gasibu merupakan teknologi dari
Jerman dan sekarang menjadi daya
tarik wisatawan. Total anggaran
untuk air mancur menari ini
mencapai sekitar Rp 6,5 miliar.
Adapun sumber dananya dari CSR
Bank BJB dan PT Telkom.
Air mancur tersebut diklaim sebagai air mancur terbesar dan tercanggih yang ada
di Kota Bandung. Air mancur tersebut bisa menari dan semprotan air yang
dihasilkan bisa mencapai 2 hingga 6 meter dari 62 lubang. Pertunjukan air mancur
dengan backsound musik di Lapangan Gasibu ini hanya bisa dinikmati pada sore
hari pukul 17.00 WIB serta malam hari pukul 19.00 WIB dan pukul 21.00 WIB.
Selain itu yang membedakan lapangan gasibu yang sekarang adalah
tersedianya fasilitas perpustakaan dan musollah. Perpustakaan lapangan gasibu
yang dikelolah oleh Bapusipda Jawa Barat ini memiliki koleksi buku yang cukup
lengkap. Mulai dari buku anak, buku umum, buku remaja, dan buku ensiklopedia.
Di perpustakaan cukup nyaman terutama untuk anda yang bawa keluarga. Di
tempat ini kita bisa menggunakan delapan komputer untuk kebutuhan mengakses
e-book ataupun e-library. Perpustakaan lapangan gasibu buka setiap hari dari
pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB. Fasilitas penunjang lainnya adalah
musollah yang terdapat di depan lapangan gasibu yang menjadi penunjang
lapangan gasibu.

Eksterior perpustakaan

Musollah
2.3. Hubungan lapangan Gasibu dengan manusia, alam, dan arsitektur
Manusia dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah
kebudayaan. Secara biologis,
manusia diklasifikasikan sebagai
Homo sapiens, sebuah spesies
primata dari golongan mamalia
yang dilengkapi otak
berkemampuan tinggi. Dalam hal
kerohanian, mereka dijelaskan
menggunakan konsep jiwa yang
bervariasi dimana, dalam agama,
Kondisi terkini lapangan gasibu
dimengerti dalam hubungannya
dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga
seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dari semua pengertian tersebut maka
dapat diartikan bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang kompleks terhadap
alam maupun benda disekitarnya. Adapun kebutuhan manusia atau khususnya
masyarakat bandung yang
kompleks ini dikaitkan
dengan tersedianya sarana
rekreasi masyarakat yaitu
Lapangan Gasibu yang
dapat meredam tingkat stres
masyarakat Bandung oleh
kepenatan kota yang terjadi.

Kondisi terkini lapangan gasibu

Lapangan gasibu sebelum di renovasi


Dalam sisi budaya gasibu
hadir akibat adanya cara hidup
yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok
orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Sedikit
sejarah lapangan gasibu Sekitar
tahun 1953 berdiri lapangan

Lapangan gasibu sebelum di renovasi sepak bola yang berlokasi di


Jalan Badaksinga. Di sana sering diselenggarakan pertandingan antar persatuan
sepak bola (PS) . Berhubung lokasi lapangan akan dibangun projek air bersih
dengan nama HBM (sekarang PDAM), para pengurus PS berembuk dan meminta
izin kepada pemerintah untuk memakai lokasi di depan Gedung Sate yang pada
saat itu masih berupa semak belukar. Setelah mendapat izin dari pemerintah, para
pencinta sepak bola waktu itu melakukan kerja bakti untuk membangun lapangan
sepak bola tersebut dan pada tahun 1955 lapangan sepak bola yang sangat
sederhana terbentuk dan diberi nama Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia
Bandung Utara). Sehingga akibat dari adanya cara hidup yang sama sehingga
lapangan gasibu berkembang dan tetap menjadi sarana olahraga bagi masyarakat
dan tetap menjadi daya tari bagi masyarakat walaupun terdapat beberapa
perubahan didalamnya.
Gasibu juga berperan serta dalam hubungaannya dengan alam dan arsitektur
yaitu sebagai lahan terbuka hijau. Arsitektur sebagai lingkungan binaan manusia
Pada dasarnya kembali lagi setiap manusia memiliki kebutuhan. Suatu karya
arsitektur merupakan wujud kebudayaan sebagai hasil kelakuan manusia dalam
rangka memenuhi hasrat kebutuhan mereka. Diwujudkan dalam bentuk fisik
seperti Lapangan Gasibu yang didalamnya terdapat beberapa fungsi yang
digunakan untuk memenuhi hasil dari kebutuhan masyarakat Bandung. Fasilitas
jogging track digunakan untuk masyarakat berolahraga, area taman digunakan
masyarakat untuk rekreasi atau sekedar menghabiskan waktu senggang mereka.
Selama melakukan hal tersebut tidak lupa kebutuhan rohani mereka juga
terpenuhi berkat adanya fasilitas penunjang yaitu musollah. Serta adapula fasilitas
lain seperi edukasi bagi mereka yang tidak berolahraga.
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
Sejak manusia diciptakan dibumi ini, dia selalu berdampingan dengan alam,
yang disini dijabarkan sebagai iklim dan lingkungan. Kemana saja manusia
melangkah, alam selalu didekatnya. Manusia memang tak akan dapat melepaskan
diri dari pelukannya, dari batasan-batasan dan hukum-hukumnya. Oleh sebab itu
alam (iklim dan lingkungan) memegang peranan yang amat besar dalam
membentuk segala cara hidup manusia: pola tingkah laku serta hasil tingkah laku
manusia itu sendiri. Secara singkat dapat dikatakan bahwa: iklim dan
lingkungannlah yang membentuk kebudayaan manusia. Keadaan alam yang
berbeda melahirkan jenis kebudayaan yang berbeda pula. Perbedaan alam yang
kecil saja sudah cukup kuat untuk melahirkan kebudayaan yang bercorak lain.
Kebudayaan dengan warna tertentu, mempunyai corak arsitektur yang tertentu
pula. Karena itu dapat dikatakan. Arsitektur adalah cermin kebudayaan. Seperti
halnya lapangan gasibu yang terbentuk dari kebutuhan masyarakat akan tempat
untuk melakukan olahraga ataupun refeshing, dan Lapangan gasibu untuk menjadi
satu komponen kota dimana disitu terdapat banyak interaksi manusia, alam, benda
(arsitektur) yang semuanya saling berhubungan satu sama lain.

3.2. Saran
Adapun saran dari penulis adalah :
- Semoga masyarakat dapat terus menjaga dan melestarikan budaya masing-
masing terutama bentuk fisik dari segi arsitektur.
- Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca